<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#124; Syi&#039;ah Indonesia &#124; Syiah Indonesia &#124; Syi&#039;ah &#124; Syiah &#124; Syi&#039;ah 12 Imam &#124; Syi&#039;ah Imamiyah Itsna Asyar &#124; Ahlulbait Indonesia &#124; Ahlulbayt Indonesia &#124; Video Ceramah &#124; Video doa &#124; Audio Ceramah &#124; Audio Do&#039;a &#124; Artikel Islam &#187; Ushuluddin</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/ushuluddin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 03:24:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.2</generator>
		<item>
		<title>IMAM ALI BIN ABI THALIB AS. (1)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 01:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Inilah Imam Ali bin Abi Thalib as. Seorang figur dan pribadi agung di kalangan umat manusia. Dikenal akrab dengan nilai-nilai kedermawanan, kecerdasan, keadilan, kezuhudan, dan jihad. Dalam dunia Islam, tak seorang dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat menandingi sebagian karakteristiknya ini, apalagi seluruh karakteristik tersebut. Karakteristik dan sikap-sikapnya mengungguli seluruh bangsa dunia, baik dari kalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ImamAli.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-354" title="ImamAli" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ImamAli-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Inilah Imam Ali bin Abi Thalib as. Seorang figur dan pribadi agung di kalangan umat manusia. Dikenal akrab dengan nilai-nilai kedermawanan, kecerdasan, keadilan, kezuhudan, dan jihad. Dalam dunia Islam, tak seorang dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat menandingi sebagian karakteristiknya ini, apalagi seluruh karakteristik tersebut. Karakteristik dan sikap-sikapnya mengungguli seluruh bangsa dunia, baik dari kalangan muslimin maupun selain muslimin. Mereka seluruhnya sepakat bahwa di sepanjang sejarah dunia Arab maupun non-Arab, tak ada seorang pun yang dapat menandinginya kecuali saudara dan putra pamannya, Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini akan kami paparkan sebagian dimensi kehidupan dan karakteristik Imam Ali bin Abi Thalib as. secara ringkas.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link2"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Putra Ka‘bah</h3>
<p style="text-align: justify;">Sejarawan sepakat bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. lahir di dalam Ka‘bah yang suci.<a name="_ftnref1" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn1">[1]</a> Tak seorang pun di dunia ini yang lahir di dalam Ka‘bah. Hal ini adalah pertanda keagungan dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah swt. Sehubungan dengan itu, Abdul Bâqî Al-‘Amrî, seorang penyair berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Engkaulah sang agung dijunjung tinggi,</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih agung darimu di kota Mekah tiada lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau dilahirkan di Baitullah yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudara Rasulullah saw. dan pintu kota ilmunya ini lahir di dalam rumah Allah yang paling suci. Dengan demikian Imam Ali as. dapat menerangi jalan penduduk sekitarnya, menegakkan bendera tauhid, dan menyucikan Baitullah itu dari setiap berhala dan patung. Di sana ia menjadi pengayom orang-orang asing, saudara orang-orang fakir, dan tempat berlindung orang-orang yang ditimpa kesusahan ini lahir di dalam rumah yang agung dan suci. Dalam rangka inilah Imam Ali as. dapat menebarkan keamanan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan mereka, serta memus-nahkan kemiskinan dari dunia mereka. Ayahnya, sang mukmin Quraisy dan singa padang pasir, menamainya Ali. Sebuah nama yang paling bagus dan indah. Sebuah nama yang tinggi dalam kedermawanan dan keje-niusan, dan tinggi pula dalam kekuatan dan potensi cemerlang di bidang ilmu pengetahuan, adab, dan keutamaan yang dianugerahkan Allah kepa-danya. Penegak keadilan Islam ini dilahirkan pada hari Jumat, 13 Rajab, 30 tahun setelah tahun Gajah, atau 12 tahun sebelum pengangkatan Rasulullah saw. sebagai nabi.<a name="_ftnref2" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link3"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Gelar Kehormatan</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. memiliki banyak gelar. Semua itu meref-leksikan keunggulan karakteristiknya. Di antara gelar-gelar itu adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Ash-Shiddîq (Orang yang Jujur)<a name="_ftnref3" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. memiliki delar Ash-Shiddîq (orang yang jujur), karenanya adalah orang pertama yang membenarkan Rasulullah saw. dan yang beriman kepada seluruh ajaran yang dibawanya dari sisi Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. pernah berkata: “Aku adalah Ash-Shiddîq Al-Akbar (orang jujur yang teragung). Aku telah beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku masuk Islam sebelum ia masuk Islam.”<a name="_ftnref4" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Al-Washî (Penerima Wasiat)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. juga memiliki gelar Al-Washî (penerima wasiat), karenanya adalah washî Rasulullah saw. Gelar ini diberikan langsung oleh Rasulullah saw. kepadanya. Rasul saw. bersabda: “Sesungguhnya washî-ku, tempat rahasiaku, orang yang terbaik dan terutama yang kutinggalkan setelahku, pelaksana janjiku, dan yang melunasi utang-utangku adalah Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref5" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong> Al-Fârûq (Pembeda Hak dan Batil)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. diberi gelar Al-Faruq, karena beliaulah pembeda antara yang hak dan yang batil. Gelar ini disimpulkan dari beberapa hadis Rasulullah saw. yang menekankan masalah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dzar dan Salman Al-Farisi meriwayatkan bahwa Nabi Mu-hammad saw. menggandeng tangan Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya orang ini—yaitu Ali bin Abi Thalib—adalah orang pertama yang beriman kepadaku. Ia adalah orang pertama yang akan bersalaman denganku di Hari Kiamat nanti. Ia adalah Ash-Shiddîq Al-Akbar, dan ia adalah Al-Faruq umat ini yang membedakan antara yang hak dan yang batil.”<a name="_ftnref6" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong> Ya‘sûbuddin (Tonggak Agama)</p>
<p style="text-align: justify;">Secara etimologis, Al-ya‘sûb berarti pemimpin lebah. Kemudian nama ini diberikan kepada seseorang yang menjadi pemimpin sebuah kaum. Ya‘sûb adalah sebuah gelar yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang ini—sembari menunjuk Ali bin Abi Thalib—adalah tonggak dan pemimpin (ya‘sûb) orang-orang yang beriman, sedang harta adalah tonggak dan pemimpin orang-orang yang zalim.”<a name="_ftnref7" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.</strong> Amirul Mukminin (Pemimpin Orang-Orang Beriman)</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu gelar Ali bin Abi Thalib as. yang terkenal adalah Amirul Mukminin. Gelar ini diberikan oleh Rasulullah saw. kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nu‘aim meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bahwa Rasu-lullah saw. bersabda: “Hai Anas, tuangkanlah air wudu untukku!” Setelah berwudu, Rasulullah saw. mengerjakan salat dua rakaat. Seusai salat, be-liau bersabda: “Hai Anas, orang yang pertama kali masuk menjumpaimu melalui pintu ini adalah Amirul Mukminin, Sayidul Muslimin, pemimpin orang-orang yang putih bercahaya, dan penutup para washî.”</p>
<p style="text-align: justify;">Anas berkata: “Aku memanjatkan doa: ‘Ya Allah, pilihlah ia kaum Anshar.’ Aku menyembunyikan keinginanku itu. Tidak lama berselang, datanglah Ali bin Abi Thalib as. Rasulullah saw. Bertanya: ‘Siapakah orang itu, hai Anas?’ ‘Ali bin Abi Thalib, ya Rasulullah’, jawabku pendek. Mendengar jawAbânku itu, Rasulullah saw. segera bangkit untuk me-nyambut dan memeluk Ali bin Abi Thalib. Lantasnya mengusap seluruh keringat yang mengalir di wajahnya dan juga mengusap seluruh keringat yang mengucur di wajah Ali bin Abi Thalib. Ali as. bertanya (terheran-heran): ‘Hai Rasulullah, kali ini aku melihatmu tengah menerimaku sengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Apakah yang menghalangiku untuk melakukan itu? Engkau adalah orang yang akan memenuhi seluruh amanatku, menyampaikan seruanku kepada masyarakat, dan menjelaskan segala pertikaian yang mereka lakukan sepeninggalku.’”<a name="_ftnref8" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.</strong> Hujjatullah (Hujah Allah)</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu gelar agung Ali bin Abi Thalib as. adalah Hujatullah (hujah Allah). Ia adalah hujah Allah swt. untuk seluruh umat manusia yang ber-tugas memberi petunjuk mereka ke jalan yang lurus. Gelar ini pun juga diberikan langsung oleh Rasulullah saw. kepadanya. Rasulullah bersabda: “Aku dan Ali adalah hujah Allah swt. untuk seluruh hamba-Nya.”<a name="_ftnref9" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah sebagian gelar mulia yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. Kami telah menyebutkan enam gelarnya yang lain dalam kitab kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensiklopedia Imam Ali bin Abi Thalib as.), jilid pertama. Dalam buku ini, kami juga memaparkan julukan dan karakteristiknya secara mendetail.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link4"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Masa Pertumbuhan</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada masa kanak-kanak, Imam Ali bin Abi Thalib as. diasuh oleh ayahnya, Abu Thalib, sang singa padang pasir dan mukmin Quraisy itu. Sang ayah adalah seorang figur dalam setiap kemuliaan, keutamaan, dan keagungan. Di samping itu, Imam Ali as. juga mengenyam pendidikan dari Ibunda tercinta, Fathimah binti Asad. Pada masa hidupnya, Fathimah adalah teladan kaum wanita dalam kehormatan, kesucian dan keluhuran budi pekerti. Sang ibunda telah mendidik anaknya dengan akhlak yang mulia, adat istiadat yang terpuji, dan tata krama yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link5"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Di Bawah Asuhan Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. mengasuh Imam Ali as. sejak masih kanak-kanak. Ketika Abu Thalib, paman Rasulullah saw., tengah mengalami kesulitan ekonomi, Rasulullah pergi menjumpai dua pamannya yang lain, Hamzah dan Abbâs. Rasulullah saw. menjelaskan kondisi ekonomi Abu Thalib kepada kedua paman itu. Ia meminta agar mereka dapat membantu menanggung beban hidup yang sedang diderita oleh Abu Thalib. Kedua paman memenuhi permintaan Rasulullah. Abbâs mengambil Thalib dan Hamzah mengambil Ja‘far. Sedangkan Rasulullah saw. sendiri mengambil Ali untuk diasuh. Sejak saat itu, Ali berada di bawah asuhan dan kasih sayang Rasulullah saw. Rasulullah saw. menanamkan dasar-dasar keyaki-nan, nilai-nilai yang luhur, dan suri teladan yang terpuji dalam jiwa Ali as. Dengan demikian, Ali as. telah mengenal Islam dengan baik dan beriman kepadanya dari sejak usia muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Karena itu, ia memiliki akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah saw. dan paling mengerti tentang risalah yang ia emban. Ali as. pernah mencerita-kan bagaimana Rasulullah merawat dirinya dan betapa dekat hubungan-nya dengannya. Ali as. berkata: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui kedudukanku di sisi Rasululah. Aku memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dan kedudukan yang istimewa di sisinya. Ia mele-takkanku di pangkuannya ketika aku masih kecil. Ia mendekapku ke dadanya, menidurkanku di tempat tidurnya, menempelkanku ke badan-nya, dan mencium keningku. Ia mengunyah makanan untukku kemudian menyuapkannya ke mulutku. Aku sama sekali tidak pernah mendapati ia berdusta dan melakukan kesalahan dalam tingkah lakunya. Aku senantiasa mengikutinya seperti seekor anak unta mengikuti induknya. Setiap hari, ia menunjukkan kepadaku akhlak-akhlaknya yang mulia dan menyuruhku untuk mengikutinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa erat hubungan Rasulullah saw. dengan Imam Ali as. Nabi Muhammad saw. telah mengasuh Imam Ali as. dengan penuh kelem-butan dan kasih sayang, dan dengan pendidikan yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link6"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Pembelaan Imam Ali Terhadap Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. menciptakan sebuah revolusi spektakuler yang memporak-porandakan dan menghancurkan kultur dan adat istiadat Jahiliyah, bangsa Quraisy bangkit untuk menentangnya. Mereka berusaha untuk memadamkan revolusi ini dengan berbagai sarana dan prasarana yang mereka miliki. Bahkan, mereka pun menggerakkan anak-anak kecil untuk melempari Rasulullah saw. dengan batu. Ketika itu, Imam Ali as—yang masih kanak-kanak—berada di sisi Rasulullah saw. Ia berusaha menjaga Rasulullah dari serangan mereka sembari menghalau mereka dengan pukulan dan tangkisan. Begitu anak-anak kecil itu melihat Imam Ali berada di sisi Rasulullah sedang membelanya, mereka kabur men-jumpai ayah mereka dengan perasaan takut dan malu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link7"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Sang Muslim Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan dan perawi hadis sepakat bahwa Imam Ali as. adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah saw. dan memenuhi panggilannya dengan suara lantang. Ali as. mendeklarasikan kepada masyarakat bahwa ia adalah orang pertama yang menyembah Allah swt. kala itu. Ia berkata: “Sungguh aku menyembah Allah swt. sebelum se-orang pun dari umat ini menyembah Allah.”<a name="_ftnref10" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan dan perawi hadis juga sepakat bahwa Imam Ali sama sekali tidak pernah disentuh oleh kotoran Jahiliyah. Ia juga sama sekali tidak pernah sujud kepada berhala, sedangkan selainnya pernah sujud kepada berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Muqrizî berkata: “Ali bin Abi Thalib Al-Hâsyimî sama sekali tidak pernah menyekutukan Allah swt. Hal itu karena Allah swt. Meng-hendaki kebaikan atasnya. Karena itu, Dia menentukan supaya Ali diasuh oleh putra pamannya, junjungan para nabi, Rasulullah saw.”<a name="_ftnref11" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu ditegaskan di sini bahwa Ummul Mukminin Sayidah Khadijah memeluk Islam bersamaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. menganut Islam. Ali as. bercerita tentang keimanan dirinya dan keimanan Khadijah kepada Islam seraya berkata, ”Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menghimpun penghuninya untuk memeluk Islam selain Rasu-lullah dan Khadijah, dan aku adalah orang yang ketiga.”<a name="_ftnref12" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Ishâq berkata: “Ali as. adalah orang pertama yang beriman kepada Allah swt. dan kepada Muhammad Rasulullah saw.”<a name="_ftnref13" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika memeluk agama Islam, Ali as. masih berusia tujuh tahun. Menurut sebagian pendapat, ia sudah berusia sembilan tahun.<a name="_ftnref14" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan uraian ini jelas bahwa Imam Ali as. adalah orang pertama yang memeluk Islam, dan hal ini disepakati oleh kaum muslimin. Ini adalah sebuah kemuliaan dan kebanggaan tersendiri baginya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link8"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Kecintaan kepada Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. sangat mencintai Rasulullah saw. Seseorang pernah bertanya kepada Ali as. tentang sejauh mana kecintaannya kepada Rasulullah saw. Ali as. menjawab: “Demi Allah, Rasulullah saw. adalah orang yang lebih kami cintai daripada harta, anak, dan ibu kami. Bahkan, daripada air yang sejuk kami miliki ketika kehausan.”<a name="_ftnref15" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu manifestasi kecintaan Imam Ali as. kepada Nabi Muham-mad saw. adalah peristiwa berikit ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Imam Ali as. memasuki sebuah kebun kurma. Pemilik kebun kurma berkata kepadanya: “Maukah kamu menyirami pohon-pohon kurma ini, dan untuk setiap satu ember air, kamu akan mendapatkan upah satu biji kurma?” Imam Ali as. bergegas menyirami pohon-pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma memberikan upahnya, dan upah itu terkumpul sebanyak segenggam kurma. Lantas, Imam Ali as. bergegas menghadap Rasulullah saw. dan memberikan segenggam kurma itu kepadanya.<a name="_ftnref16" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Bukti kecintaan Imam Ali as. kepada Rasulullah saw. yang lain ialah  Imam Ali as. senantiasa berkhidmat dan berusaha untuk memenuhi seluruh hajat Rasulullah saw. Kami telah memaparkan sebagian bukti ini dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensklopedia Imam Amirul Mukminin as.).</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link9"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">e. Yawm Ad-Dâr (Hari Pembelaan)</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. senantiasa mengikuti Rasulullah saw. hingga ia dewasa. Pada suatu hari, Rasulullah saw. mendeklarasikan dakwah Islam dan mendapat perintah dari Allah swt. untuk memyampaikan risalah Ilahi kepada sanak keluarganya. Rasulullah saw. memanggil Ali as. dan menyuruhnya untuk mengundang mereka. Di antara para undangan itu terdapat paman-pamannya. Yaitu Abu Thalib, Hamzah, Abbâs, dan Abu Lahab. Ketika mereka telah hadir dan berkumpul, Ali as. menyajikan hidangan. Para undangan menikmati hidangan, dan hidangan itu tak sedikit pun berkurang. Setelah usai menikmati hidangan, Rasulullah saw. bangkit dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam dan mening-galkan penyembahan berhala. Ucapan Rasulullah diputus oleh Abu Lahab. Ia berkata kepada hadirin: “Sesungguhnya kamu semua telah disi-hir oleh Muhammad.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan ini berakhir tanpa membuahkan suatu hasil apapun. Pada hari berikutnya, Rasulullah saw. mengadakan pertemuan untuk yang kedua kalinya. Ketika para undangan telah hadir dan berkumpul, mereka menikmati hidangan yang disuguhkan. Setelah usai menikmati hidangan itu, Rasulullah saw. berdiri untuk menyampaikan pidato. Ia berkata: “Hai Bani Abdul Muthalib, demi Allah, sungguh aku belum pernah mengenal seorang pemuda Arab yang datang kepada kaumnya dengan membawa misi yang lebih baik daripada misi yang telah kubawa untuk kamu semua. Aku datang membawa kebaikan dunia dan akhirat untukmu. Allah swt. telah memerintahkan kepadaku untuk mengajakmu menggapai kebaikan itu. Siapakah di antara kamu yang siap membantuku atas urusan ini dan ia akan menjadi saudara, washî, dan khalifahku untuk kamu semua?”</p>
<p style="text-align: justify;">Para hadirin diam seribu bahasa seolah-olah di atas kepala mereka bertengger seekor burung. Imam Ali as. segera memjawab, sekalipun saat itu usianya masih sangat muda. Dengan penuh semangat ia berkata: “Aku, wahai nabi Allah. Aku siap menjadi pembelamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas Rasulullah saw. memegang pundak Ali seraya berkata kepada hadirin: “Sesungguhnya orang ini adalah saudara, washî, dan khalifahku untuk kamu semua. Karena itu, dengarkan dan taatilah segala perintah-nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan itu, seluruh hadirin serentak berteriak sembari mengejek Abu Thalib seraya berkata: “Muhammad telah menyuruhmu untuk mendengar dan menaati anakmu.”<a name="_ftnref17" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para perawi hadis sepakat atas kesahihan peristiwa ini. Peristiwa ini adalah dalil yang gamblang atas kepemimpinan (imâmah) Imam Ali bin Abi Thalib as. Hadis Rasulullah saw. dalam peristiwa ini menegaskan bahwa Imam Ali as. adalah wazir dan pembantu, washî dan khalifah Rasu-lullah saw. Kami telah memaparkan penjelasan hadis ini secara mendetail dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensklopedia Imam Amirul Mukminin as.), jilid 1.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link10"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">f. Di Syi‘ib (Lembah) Abu Thalib</h3>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Quraisy yang kafir sepakat untuk memboikot Nabi Muhammad saw. di Syi‘ib Abu Thalib. Mereka memaksanya untuk tinggal di sana agar tidak dapat melakukan interaksi dengan masyarakat. Tujuannya, agarnya tidak memiliki kesempatan untuk merubah keyakinan dan membersihkan otak masyarakat Arab dari kotoran Jahiliyah. Untuk melancarkan permu-suhan terhadap Bani Hâsyim, bangsa Quraisy telah mengambil beberapa keputusan berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">o   Tidak menikahkan anak-anak perempuan mereka dengan laki-laki yang berasal dari kalangan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">o   Orang laki-laki dari kalangan mereka tidak boleh menikah dengan wanita yang berasal dari kalangan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">o   Mereka tidak boleh melakukan transaksi jual beli dengan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Quraisy menggantungkan surat keputusan tersebut di tembok Ka‘bah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. terpaksa tinggal di Syi‘ib Abu Thalib dengan disertai orang-orang mukmin dari kalangan Bani Hâsyim, termasuk di antaranya adalah Imam Ali as. Mereka mengalami berbagai tekanan dan siksaan di Syi‘ib tersebut. Ummul Mukminin Khadijah senantiasa memberikan ban-tuan yang mereka butuhkan, hingga harta kekayaannya yang melimpah habis. Rasulullah saw. tinggal di Syi‘ib Abu Thalib bersama para pengikut setianya selama dua tahun lebih. Akhirnya, Allah swt. mengutus rayap untuk melahap surat keputusan yang telah digantung di tembok Ka‘bah itu. Rasulullah saw. memberitahukan peristiwa ini kepada Abu Thalib. Mendengar informasi itu, Abu Thalib bergegas menjumpai orang-orang kafir Quraisy dan memberitahukan peristiwa tersebut. Mereka tersentak kaget dan segera pergi untuk melihat surat keputusan itu. Ternyata peristiwa itu benar sesuai informasi yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Akhirnya, masyarakat menuntut agar beliau berserta para pengikut-nya dibebaskan dari pemboikotan itu. Bangsa kafir Quraisy pun terpaksa memenuhinya. Dengan kondisi fisik yang sangat lemah, beliau dan para pengikutnya keluar dari tempat pemboikotan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah bebas dari pemboikotan ini, Rasulullah saw. mulai mengajak umat manusia kepada tauhid dan menyingkirkan seluruh tradisi Jahiliyah. Di jalan ini, ia tidak merasa gentar sedikit pun terhadap ancaman dan kesepakatan orang-orang kafir Quraisy untuk menghabisi dirinya. Hal ini karenanya mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, Imam Ali as., dan putra-putra Abu Thalib yang lain. Abu Thalib dan keluarganya adalah benteng dan tempat berlindung Rasulullah saw. yang kokoh. Bahkan, Abu Thalib senantiasa mendorong Rasulullah saw. untuk mene-ruskan perjuangannya menyebarkan risalah Islam. Dalam sebuah syair yang indah, Abu Thalib berkata kepada beliau:</p>
<p style="text-align: justify;">Pergilah, anakku, dan sedikit pun jangan gusar, pergilah dengan gembira dan senang hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi Allah, mereka tak akan berani menyentuhmu, hingga aku terkubur dalam tanah nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau mengajakku dan kutahu engkau penasihatku, kau benar dan sebelum itu engkaulah sang al-Amîn.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu agama Muhammad adalah sebaik-baik agama, untuk manusia di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Laksanakanlah urusanmu dan sedikit pun jangan gusar, bergembira dan senang hatilah karennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syair ini mengungkapkan kedalaman imam Abu Thalib. Ia adalah pengayom Islam dan pejuang muslim pertama. Sungguh celaka orang yang berpendapat bahwa ia bukan muslim dan berada dalam siksa neraka. Padahal jelas bahwa putranya adalah pembagi (qâsim) surga dan nereka. Abu Thalib adalah tonggak akidah Islam. Seandainya bukan karena sikap dan pembelaannya yang sangat berani, niscaya Islam tidak berwujud lagi, melainkan namanya saja, dan orang-orang kafir Quraisy sudah dapat memberangus Islam sejak awal kemunculannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link11"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">g. Bermalam di Atas Ranjang Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kemuliaan Imam Ali as. yang paling menonjol adalah pengorbanannya untuk Nabi Muhammad saw. dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Di dunia Islam, Imam Ali as. adalah orang pertama yang mempertaruhkan jiwanya (demi kepentingan dakwah Islam). Saat itu orang-orang kafir Quraisy bertekad untuk membunuh dan mencabik-cabik tubuh Rasulullah saw. dengan tombak dan pedang. Di tengah malam yang gulita, mereka mengepung rumah Rasulullah saw. dengan tombak dan pedang yang terhunus. Rasulullah saw. telah mengetahui makar mereka sebelumnya. Untuk itunya memanggil putra pamannya dan memberitahu tentang rencana jahat bangsa Quraisy. Ia menyuruh Ali untuk tidur di atas ranjangnya. Ali as. menggunakan selimut berwarna hijau yang biasa dipakai Rasulullah saw. agar mereka menduga bahwa yang sedang tidur di atas ranjang itu adalah Rasulullah saw. Dengan senang hati, Ali as. menerima dan mematuhi perintah Rasulullah yang belum pernah terbersit di benaknya itu. Hal itu karena ia akan menjadi tebusan jiwa Rasulullah saw. Sementara itu, Rasulullah saw. keluar tanpa sepengetahuan para pengepung sedikit pun. Ia melemparkan segenggam debu ke wajah mereka yang keji sembari berkata: “Terhinalah wajah mereka itu.” Setelah berkata demikian, ia membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Kami jadikan di hadapan dan di belakang mereka dinding, kemudian Kami tutupi mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yâsîn [36]:9)</p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan Ali as. bermalam di tempat tidur Rasulullah saw. ini adalah sebuah jihad dan perjuangan cemerlang yang tidak ada tandingannya. Sehubungan dengan ini Allah swt. menurunkan ayat yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara manusia ada yang menjual jiwanya demi meraih keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]:207)</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini adalah babak penting dalam dakwah Islam yang belum pernah dilakukan oleh seorang muslim pun. Seorang penyair besar dan tenar, Syaikh Hâsyim Al-Ka‘bî pernah melantunkan beberapa bait syair yang ditujukan kepada Imam Ali as. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh pembelaanmu terhadap Ahmad tak mungkin terlukis dengan kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau tidur malam di ranjangnya sementara musuh mengintai dan mengancam.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau tidur dengan hati yang tenang seakan asyik mendengar kicauan burung.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau bak gunung kokoh dan penunggang kuda pemberani, telah kau lengkapi malamnya dengan tegar.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang pagi mereka menyerang bendera hidayah, mereka tak tahu bendera hidayah terjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. tidak tidur malam sembari berdoa kepada Allah swt. demi keselamatan saudaranya dari bencana yang dahsyat dan kejahatan para musuh. Ketika cahaya pagi muncul, mereka segera menyerang tempat tidur Rasulullah saw. sambil menghunuskan pedang. Ali as. segera bang-kit dari tidurnya bak harimau yang geram dengan menggenggam pedang terhunus. Melihat Ali as., mereka gemetar ketakutan seraya berteriak: “Mana Muhammad?” Ali as. menjawab dengan suara lantang: “Kalian telah membuatku sebagai penjaganya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, mereka mundur dengan penuh rasa malu dan kekesalan. Rasulullah saw. yang lahir untuk membebaskan mereka dan membangun kemuliaan yang agung itu telah terlepas dari incaran kejahatan mereka. Bangsa Quraisy betul-betul menaruh kedengkian yang dalam terhadap Ali as. Mereka memandangnya dengan mata yang tajam, tetapi Ali as. tidak menggubris dan berjalan di hadapan mereka dengan tenang sambil menghina dan mengejek mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link12"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">h. Hijrah ke Yatsrib (Madinah)</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. berangkat meninggalkan kota Mekah menuju kota Madinah, Ali as. menyampaikan semua amanatnya saw. kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan membayar seluruh utangnya, seperti diperintahkan oleh Nabi saw. Tidak lama kemudian, Ali as. menyusul saudara dan putra pamannya berhijrah ke Madinah. Bersama Ali as. turut serta beberapa orang wanita mulia yang bernama Fathimah. Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh tujuh orang kafir Quraisy. Ali mengadakan perlawanan terhadap mereka dengan penuh keberanian. Ketika ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, tak ayal lagi para penghadang yang masih hidup itu lari tunggang langgang. Ali as. melanjutkan perjalanan bersama rombongannya, sementara kalbunya dipenuhi oleh rasa rindu kepada Rasulullah saw. Setibanya di Madinah, ia berjumpa dengan Rasulullah saw. Menurut sebuah riwayat, ia berjumpa Rasulullah saw. di kota Quba sebelum memasuki kota Madinah. Nabi saw. sangat gembira dengan kedatangan saudara dan pembela setianya di setiap kesulitan dan peristiwa itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link13"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali dalam Kaca Mata Al-Qur’an</h3>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali as. dan memperkenalkannya sebagai peribadi Islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwa ia men-dapat perhatian yang tinggi di sisi Allah swt. Banyak sekali buku-buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Qur’an yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Iman Ali as.<a name="_ftnref18" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam manapun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link14"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Kategori Ayat Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali as. adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan . Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra‘d [13]:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abas. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, nabi saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalunya memegang pundak Ali as. sembari bersabda: ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”<a name="_ftnref19" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“.. dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]:12)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali as. berkata: “Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Rasulullah saw.”<a name="_ftnref20" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:274)</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, Imam Ali as. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah saw. bertanya kepa-danya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali as. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian ayat tersebut turun.<a name="_ftnref21" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftn21">[21]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir bin Abdillah. Jâbir bin Abdillah berkata: “Ketika kami bersama nabi saw., tiba-tiba Ali as. datang. Seketika itu itu Rasulullah saw. Ber-sabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguh-nya Ali as. dan Syi‘ah (para pengikut)nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali as. datang, para sahabat Nabi saw. Menga-takan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”<a name="_ftnref22" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.</strong>      Allah swt. berfirman:.</p>
<p style="text-align: justify;">“&#8230; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai penge-tahuan [Ahl Adz-Dzikr] jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]:43)</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali as. berkata: “Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.”<a name="_ftnref23" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepada-mu dari Tuhanmu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Sesungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun kepada Nabi saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi saw. diperintahkan oleh Allah untuk mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepening-galnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali as. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali as. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang men-cintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali as.: “Selamat, hai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”<a name="_ftnref24" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah nabi saw. mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya.<a name="_ftnref25" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn25">[25]</a> Setelah ayat tersebut turun, Nabi saw. bersabda: “Allah Maha Besar lantaran penyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref26" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat ketika sedang rukuk.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 55)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku menger-jakan salat Dzuhur bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang membe-rikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali as. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian ia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi saw. Lalunya saw. Berdoa: ‘Ya Allah, sesung-guhnya saudaraku, Mûsâ as. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Hârûn. Kokohkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’ (QS. Thaha [20]:25–32)</p>
<p style="text-align: justify;">“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kokohkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin.’ (QS. Al-Qashash [28]:35) Ya Allah, aku ini adalah Muhammad nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kokohkanlah punggungku dengannya.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelumnya sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: ‘Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan &#8230;.’”<a name="_ftnref27" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn27">[27]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menempatkan wilâyah ‘kepemimpinan’ universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali as. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka mengagungkan kemuliaan Imam Ali as. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk kalimat afirmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demikian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair tersohor, Hassân bin Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.<a name="_ftnref28" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn28">[28]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link15"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Kategori Ayat Kedua</h3>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait as. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali as. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apapun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebaji-kan itu. Sesungguhnya Allah Maha Penghampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Asy-Syûrâ [42]:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah swt. kepada segenap hamba-Nya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain as., dan maksud dari “iqtirâf Al-hasanah” (me-ngerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Ibn Abas berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”<a name="_ftnref29" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn29">[29]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Seorang Arab Baduwi pernah datang menjumpai Nabi saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan rasul-Nya.’ Arab Baduwi itu segera menimpali: ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab: “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’. Orang Arab Baduwi itu bertanya lagi: ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi saw. Menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian orang Arab Baduwi itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu bahwa barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”<a name="_ftnref30" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Barang siapa yang menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepadanya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudain kita ber-mubâhalah agar kita jadikan kutukan Allah atas orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali ‘Imrân [3]:61)</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain as.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an-nisâ’ (wanita) yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ as., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).<a name="_ftnref31" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut &#8230;.” (QS. Ad-Dahr [76])</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis berpendapat bahwa surah ini diturunkan untuk Ahlul Bait nabi saw.<a name="_ftnref32" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn32">[32]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala noda dari kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:33)</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang penghuni Kisâ’.<a name="_ftnref33" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn33">[33]</a> Mereka adalah Rasulullah saw.; junjungan para makhluk, Ali as.; jiwa dan dirinya, Sayyidah Fathimah; buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah rida dengan keridaannya dan murka dengan kemurkaannya, dan Hasan dan Husain as.; kedua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keuta-maan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathimah, Hasan, Husain, dan Ali as. di rumahku. Kemudian Rasulullah saw. menutupi mereka dengan Kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku. Hilangkanlah dari mereka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat Kisâ’ tersebut untuk masuk bersama mereka. Tetapinya menarik Kisâ’ itu sembari bersabda: “Sesungguhnya eng-kau berada dalam kebaikan.”<a name="_ftnref34" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn34">[34]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyak-sikan Rasulullah saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib as. setiap kali masuk waktu salat selama tujuh bulan berturut-turut. Ia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersih-kan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan salat, semoga Allah merahmati kalian!”<a name="_ftnref35" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn35">[35]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah berkata: “Aku mengerjakan salat bersama Rasulullah saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, ia mendatangi pintu rumah Fathimah as. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”<a name="_ftnref36" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn36">[36]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait as. Lantaran Ahlul Bait as. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link16"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Kategori Ayat Ketiga</h3>
<p style="text-align: justify;">Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali as. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan ter-kemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan di atas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘raf [7]:46)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi dari Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali bin Abi Thalib as., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pecinta mereka dengan wajah mereka bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”<a name="_ftnref37" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn37">[37]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa telah yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara ia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah bin Hârist. Adapun ‘Ubaidah, ia telah gugur sebagai syahid di medan Badar dan Hamzah juga telah gugur di medan perang Uhud. Sementara aku masih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini—sembari ia menunjuk jenggot dan kepalanya.”<a name="_ftnref38" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn38">[38]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link17"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Kategori Ayat Keempat</h3>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali as. dan mengecam para musuhnya yang senantiasa berusaha untuk meng-hapus segala keutamaannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah kamu menyamakan pekerjaan memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]:19)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as., Abbâs, dan Thalhah bin Syaibah ketika mereka saling menunjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah berkata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusan tabirnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beribadah haji.” Ali as. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan salat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan salat dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian turunlah ayat tersebut.<a name="_ftnref39" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn39">[39]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah [32]:18)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun memuji Imam Ali as. dan mengecam Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali as. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajan daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali as. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik”. Kemudian turunlah ayat tersebut.<a name="_ftnref40" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn40">[40]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link18"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali dalam Kaca Mata Hadis</h3>
<p style="text-align: justify;">Buku-buku literatur hadis, baik Shihâh maupun Sunan, dipenuhi oleh hadis-hadis Nabi saw. yang bagaikan bintang-gumintang gemilang mene-gaskan keutamaan pelopor keadilan Islam, Imam Ali as., dan mengang-katnya tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis yang masyhur dan telah tersebar di kalangan para perawi hadis itu pasti memahami tujuan utama Nabi saw. di balik hadis-hadis tersebut. yaitu ia ingin mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya sehingga ia menjadi penerus tong-kat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapak jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa dunia yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita mencermati hadis-hadis Nabi saw. mengenai keutamaan Imam Ali as. itu, niscaya kita temukan sekelompok hadis dikhususkan untuk dia secara khusus dan sekelompok hadis yang lain dikhususkan untuk Ahlul Bait Nabi as., yang secara otomatis kelompok hadis kedua ini juga meliputi Imam Ali as. Hal itu lantaran ia adalah junjungan ‘Itrah.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kami nukilkan beberapa hadis tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link19"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Kelompok Hadis Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis kelompok ini memuat berbagai macam bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali as. dan penegasan atas keutamaan-nya. Hadis-hadis tersebut adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link20"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali as. adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Ali as. adalah ayah untuk kedua cucunya dan pintu kota ilmunya. Nabi saw. sangat menghormati dan mencintai Ali as. Beberapa hadis Nabi saw. menegaskan betapa kecintaannya saw. kepada Ali as. sangat besar. Mari kita simak bersama beberapa hadis berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link21"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Diri Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat Mubâhalah menegaskan kepada kita bahwa Imam Ali as. adalah diri dan jiwa Nabi saw. Kami telah memaparkan hal ini pada pembahasan yang lalu. Nabi saw. sendiri telah menjelaskan dalam berbagai hadis bah-wa Ali as. adalah diri dan jiwanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Walîd bin ‘Uqbah memberikan informasi kepada Nabi saw. bahwa Bani Walî‘ah telah murtad dari Islam. Mendengar itu, Nabi saw. sangat murka dan bersabda: “Apakah Bani Walî‘ah menghen-tikan perbuatan mereka itu atau aku akan utus kepada mereka seorang laki-laki yang merupakan diri dan jiwaku; ia akan memerangi mereka dan menyandera kaum wanita mereka. Laki-laki itu adalah orang ini.” Setelah bersabda demikian, Nabi saw. menepuk pun-dak Imam Ali as.<a name="_ftnref41" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn41">[41]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, ‘Amr bin ‘Ash berkata: “Ketika aku kembali dari perang Dzâtus Salâsil, aku mengira bahwa tidak seorang pun yang lebih dicintai oleh Rasulullah saw. daripada aku. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah yang paling Anda cintai?’ Rasulullah saw. menyebutkan nama beberapa orang. Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulallah, di manakah Ali?’ Nabi saw. menoleh kepada para sahabat seraya bersabda, ‘Sesungguhnya ia bertanya kepadaku tentang jiwaku.’”<a name="_ftnref42" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn42">[42]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link22"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Saudara Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. pernah mengumumkan di hadapan para sahabat bahwa Ali as. adalah saudaranya. Masalah ini telah direkam oleh banyak hadis. Antara lain ialah:</p>
<p style="text-align: justify;">At-Turmudzî meriwayatkan dengan sanad dari Ibn Umar. Ibn Umar berkata: “Rasulullah saw. telah mempersaudarakan para sahabatnya. Ke-mudain datanglah Ali as. dengan air mata yang berlinang seraya berkata: ‘Ya Rasulallah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu. Tetapi mengapa Anda tidak mempersaudarakanku dengan siapa pun?’ Rasulu-llah saw. Bersabda: ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.’”<a name="_ftnref43" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn43">[43]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mempersaudarakan Ali dengan dirinya bukan hanya di dunia ini saja. Tetapi persaudaraan antaranya Imam Ali as. ini berlanjut hingga hari akhirat yang tak berbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw. naik ke atas mimbar. Setelah usai berpidato, ia bertanya, ‘Di manakah Ali bin Abi Thalib?’ Ali as. segera bangkit dan berkata: “Aku di sini, ya Rasulullah.’ Tak lama kemudian Nabi saw. memeluk Ali as. dan mencium keningnya seraya bersabda dengan suara yang lantang: ‘Wahai kaum Muslimin, Ali adalah saudaraku dan putra pamanku. Dia adalah darah dagingku dan rambutku. Dia adalah ayah kedua cucuku Hasan dan Husain, penghulu para pemu-da penghuni surga.’”<a name="_ftnref44" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn44">[44]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda pada saat melaksanakan haji Wadâ‘ semen-taranya menunggangi unta sembari menepuk pundak Ali as.: “Ya Allah, saksikanlah. Ya allah, aku telah menyampaikan seruan-Mu bahwa orang ini adalah saudaraku, putra pamanku, menantuku, dan ayah kedua cucu-ku. Ya Allah, sungkurkanlah orang yang memusuhinya ke dalam api ne-raka.’”<a name="_ftnref45" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn45">[45]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Nabi saw. dan Imam Ali as. Berasal dari Satu Pokok</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. pernah menegaskan bahwa ia saw. dan Ali as. berasal dari satu pohon yang sama. Hal ini telah disebutkan dalam beberapa hadis. Berikut ini adalah contoh dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali as.: ‘Hai Ali, sesungguh-nya umat manusia berasal dari berbagai pohon yang berbeda. Sementara engkau dan aku berasal dari satu pohon yang sama.’ Kemudian beliau membacakan ayat:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdam-pingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercAbâng dan yang tidak bercAbâng, disirami dengan air yang sama &#8230;” (QS. Ar-Ra’d [13]:4)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Aku dan Ali as. berasal dari satu pohon, se-dangkan umat manusia berasal dari pohon yang berbeda-beda.”<a name="_ftnref46" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn46">[46]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh betapa agung dan mulia pohon tersebut yang telah melahirkan junjungan alam semesta, Rasulullah saw., dan pintu kota ilmunya, Amirul Mukminin Ali as. Pohon ini adalah pohon yang penuh berkah; pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan ranting-ran-tingnya menjulang ke langit, dan membuahkan hasil bagi umat manusia pada setiap generasi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Wazîr Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam beberapa hadis, Nabi saw. sangat menekankan bahwa Ali as. adalah wazîrnya. Di antara hadis-hadis tersebut ialah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Asmâ’ binti ‘Umais berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku ber-kata sebagaimana saudaraku, Mûsâ berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu saudaraku Ali. Kokohkanlah aku dengannya, sertakanlah dia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan senantiasa mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui kondisi kami”.<a name="_ftnref47" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn47">[47]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Khalifah Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. memproklamasikan bahwa Ali as. adalah khilafah sepeninggal-nya dari sejaknya memulai dakwah. Hal itu terjadi Ketika ia mengundang kaum Quraisy agar memeluk Islam. Di akhir pertemuan tersebut, ia saw. berkata kepada mereka: “Dengan demikian, orang ini—yaitu Ali as.—adalah saudaraku, washî-ku, dan khalifahku setelahku untuk kalian. De-ngarkan dan taatilah dia!”<a name="_ftnref48" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn48">[48]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. telah menggandengkan kekhalifahan Ali as. sepe-ninggalnya dengan permulaan dakwah Islam. Ia juga telah menying-kirkan kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Banyak sekali riwayat yang telah menegaskan kekhalifahan Ali as. ini. Berikut ini seba-gian darinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululllah saw. bersabda: “Hai Ali, engkau adalah khalifahku untuk umatku.”<a name="_ftnref49" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn49">[49]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau saw. juga bersabda: “Di antara mereka, Ali bin Abi Thalib paling dahulu memeluk Islam, paling banyak ilmu pengetahuannya, dan dia adalah imam dan khalifah setelahku.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. di Sisi Nabi saw. Sepadan Hârûn di Sisi Mûsâ</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis dan riwayat telah diriwayatkan dari Nabi saw. yang memiliki kandungan yang sama. yaitu ia bersabda kepda Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harus di sisi Mûsâ as. &#8230;” Berikut ini kami nukilkan sebagian hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. bersabda kepada Ali as.: “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku?”<a name="_ftnref50" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn50">[50]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sa‘îd bin Mûsâyyib meriwayatkan hadis dari ‘Âmir bin Sa‘d bin Abi Waqqâsh, dari ayahnya, Sa’d. Sa‘d berkata: “Rasulullah saw. pernah ber-sabda kepada Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Sa‘îd berkata: “Aku ingin menyampaikan informasi tersebut kepada Sa‘d. Aku menjumpainya dan kuceritakan apa yang diceritakan oleh ‘Âmir. Sa‘d berkata: “Aku pun telah mendengarnya.’ Aku bertanya: “Sungguh engkau telah mendengarnya?” Ia meletakkan jarinya di kedua telinganya seraya berkata: “Ya, aku telah mendengarnya. Jika tidak, berarti aku tuli.’”<a name="_ftnref51" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn51">[51]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Gerbang Kota Ilmu Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Satu hal lagi tentang ketinggian dan keagungan kedudukan Ali as. yang ditegaskan oleh Nabi saw. adalah bahwa ia telah menjadikannya sebagai pintu kota ilmunya. Hadis-hadis mengenai hal ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur sehingga mencapai peringkat qath‘î (meyakinkan). Hadis-hadis ini telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. pada beberapa kesempatan. Di antaranya adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Jâbir bin Abdillah berkata: “Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mende-ngar Rasulullah saw. bersabda sambil memegang tangan Ali as.: “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalunya mengeraskan suaranya: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya.’”<a name="_ftnref52" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn52">[52]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki kota, maka hendaklah ia mendatangi pintunya.”<a name="_ftnref53" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn53">[53]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas risalahku kepada umatku sepeninggalku nanti. Mencintainya adalah iman, memurkainya adalah kemunafikan, dan memandangnya adalah kasih sayang.”<a name="_ftnref54" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn54">[54]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali as. adalah pintu kota ilmu Nabi saw. Setiap ajaran agama, hukum syariat, akhlak yang mulia, dan tata krama luhur yang datang darinya, semua itu bersumber dari Nabi saw. Konse-kuensinya, kita harus mematuhi dan mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Nabi saw. telah meninggalkan sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi kehidupan ini dengan hikmah dan kesejahteraan. Sumber itunya titipkan kepada Ali as. agar umat ini dapat menimba darinya. Tetapi sangat sekali, kekuatan zalim yang dengki kepada Imam Ali as. telah menutup jendela cahaya tersebut, mencegah umat untuk mengambil manfat darinya, dan membiarkan mereka terperosok ke dalam kebodohan hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link23"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. Serupa dengan Para Nabi</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Nabi saw. berada di tengah-tengah para sahabat. Ia berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin melihat ilmu pengetahuan Adam as., kesedihan Nuh as., ketinggian akhlak Ibrahim as., munajat Mûsâ as., usia Isa as., dan petunjuk serta kelembutan Muhammad saw., maka hendaklah kalian melihat orang yang akan datang sebentar lagi.” Setelah agak lama mereka menanti-nanti siapa yang akan datang, tiba-tiba Amirul Mukmini Ali as. muncul.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair terkenal, Abu Abdillah Al-Mufajji‘, telah banyak menyusun bait- bait syair tentang keagungan dan kemuliaan Imam Ali as. Ketika mengungkapkan realita tersebut di atas, ia menulis:</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai pendengki kekasihku Ali, masuklah ke dalam neraka Jahim dengan terhina.</p>
<p style="text-align: justify;">Masihkah engkau menyindir manusia terbaik, sedang engkau tersingkir-kan dari petunjuk dan cahaya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah yang mirip para nabi di kala kanak dan muda, di kala menyusu, disapih dan di kala makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmunya bagai Adam di kala ia menjelaskan nama-nama dan alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagai Nuh di kala selamat dari maut ketika ia turun di bukit Jûdî.<a name="_ftnref55" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn55">[55]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link24"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Mencintai Ali as. adalah Keimanam; Membencinnya adalah  Kemunafikan</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. menegaskan kepada umat bahwa mencintai Ali as. adalah tanda keimanan dan ketakwaam. Sementara membencinya adalah kemunafikan dan maksiat. Beriktu ini sebagian riwayat yang telah diri-wayatkan darinya tentang hal ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. berkata: “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan mencip-takan manusia, sesungguhnya janji Nabi yang ummî kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak membenciku melainkan orang munafik.”<a name="_ftnref56" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn56">[56]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Musâwir Al-Humairî meriwayatkan hadis dari ibunya. Ibunya berkata: “Ummu Salamah datang menjumpaiku dan aku mendengar ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan orang mukmin tidak akan membencinya.’”<a name="_ftnref57" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn57">[57]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs pernah meriwayatkan sebuah hadis. Ia berkata: “Rasu-lullah saw. memandang kepada Ali as. seraya bersabda: “Tidak mencin-taimu melainkan orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik. Barang siapa yang mencintaimu, berarti ia mencintaiku. Barang siapa yang membencimu, berarti ia membenciku. Kekasihku adalah kekasih Allah dan pendengkiku adalah pendengki Allah. Sungguh celaka orang yang mendengkimu setelahku nanti.’”<a name="_ftnref58" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn58">[58]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali as., ‘Mencintaimu adalah keimanan dan membencimu adalah kemunafikan. Orang yang pertama masuk surga adalah pecintamu dan orang pertama yang masuk neraka adalah pen-dengkimu.’”<a name="_ftnref59" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn59">[59]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis di atas telah tersebar luas di kalangan para sahabat nabi saw. Mereka menerapkan hadis-hadis tersebut kepada orang yang mencintai Ali as. dan menyebutnya sebagai orang mukmin. Sementara orang yang mendengkinya mereka sebut sebagai orang munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat terkemuka yang bernama Abu Dzar Al-Gifârî pernah berkata: “Kami tidak mengenal orang-orang munafik, kecuali ketika mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan salat, dan mendengki Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref60" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn60">[60]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat Nabi terkemuka lainnya yang bernama Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî juga pernah berkata: “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali ketika mereka mendengki Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref61" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn61">[61]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link25"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Allah swt.</h3>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya kita beralih menjelaskan sebagian hadis yang telah diriwa-yatkan dari Nabi saw. berhubungan dengan keagungan Imam Ali as. di sisi Allah swt. dan kemuliaan-kemuliaan yang ia miliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah hadis yang telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. Ber-hubungan dengan kemuliaan Imam Ali as. di sisi Allah di akhirat kelak. Sebagian hadis tersebut adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pembawa Bendera Pujian</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis sahih dari Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. pada Hari Kiamat kelak akan diberikan kemuliaan oleh Allah swt. untuk membawa bendera pujian. Hal ini adalah anugerah khusus yang tidak diberikan kepada siapa pun selainnya. Di antara hadis-hadis terse-but adalah hadis berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda kepada Imam Ali as.: “Pada Hari Kiamat kelak, engkau akan berada di hadapanku. Ketika itu aku diberi bendera pujian, lalu bendera tersebut kuserahkan kepadamu. Sementara engkau sedang mengusir orang-orang (yang tidak berhak) dari telagaku.”<a name="_ftnref62" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn62">[62]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link26"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pemilik Telaga Haudh Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. adalah pemilik telaga Haudh Nabi saw., sungai di surga yang paling sejuk, paling manis, dan sangat indah dipandang mata itu. Tak seorang pun da-pat meneguk airnya kecuali orang yang ber-wilâyah dan mencintai Imam Ali as. Berikut ini kami paparkan sebagian hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Ali bin Abi Thalib as. adalah pemilik te-laga Haudh-ku kelak di Hari Kiamat. Di sekelilingnya berjejer gelas-gelas sebanyak bilangan bintang di langit. Luas telaga Haudh-ku itu sejauh antara Jâbiyah dan Shan’a.”<a name="_ftnref63" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn63">[63]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link27"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pemilah Surga dan Neraka</h3>
<p style="text-align: justify;">Di antara posisi agung dan mulia yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada pintu kota ilmunya ini adalah bahwa ia adalah pemilah surga dan nereka. Ibn Hajar pernah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Imam Ali as. pernah berkata kepada anggota Dewan Syura yang telah dipilih oleh Umar: “Demi Allah, apakah di antara kalian ada seseorang yang pernah disebut oleh Rasulullah saw. dengan sabda: ‘Wahai Ali, engkau adalah pe-milah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, selainku?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak seorang pun”, jawab mereka pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Hajar memberikan catatan atas hadis ini. Ia menulis: “Maksud-nya ialah ucapan yang pernah diriwayatkan dari Imam Ar-Ridhâ as. Sabda Nabi saw. kepada Ali as.: ‘Engkau adalah pemilah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, berarti engkau, hai Ali, berkata kepada neraka: ‘Ini adalah bagianku dan yang ini adalah bagianmu.’”<a name="_ftnref64" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn64">[64]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dapat dipastikan bahwa tak seorang wali Allah pun, baik sebelum maupun setelah Islam, yang pernah memperoleh kemuliaan tak berbatas ini seperti yang pernah diperoleh oleh Imam Ali as. Allah swt. telah menganugerahkan kemulian itu kepadanya sebagai penghargaan atas jerih payah dan jihadnya di jalan Islam, dan atas usahanya dalam mengikis habis egoisme dan kerelaannya berkhidmat kepada kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link28"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Kelompok Hadis Kedua</h3>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit hadis yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. tentang keu-tamaan Ahlul Bait Nabi saw. yang suci, keharusan mencintai dan berpegang teguh kepada mereka. Berikut ini adalah sebagian dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link29"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Tsaqalain</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadis Tsaqalain termasuk hadis Nabi saw. yang paling indah, paling sahih, dan paling tersebar luas di kalangan muslimin. Hadis ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Sahih (Al-Kutub As-Sittah), dan para ulama juga mene-rimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diingatkan di sini bahwa Nabi saw. telah menyampaikan hadis tersebut di beberapa tempat dan kesempatan. Di antaranya berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesung-guhnya aku tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya sepeninggalku nanti. Salah satunya lebih agung daripada yang lainnya. Yaitu Kitab Allah, tali yang membentang dari langit ke bumi, dan yang kedua adalah ‘Itrahku, Ahlul Baitku. Keduanya itu tidak akan per-nah berpisah sampai menjumpaiku di telaga Haudh kelak. Perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya itu sepeninggalku kelak.”<a name="_ftnref65" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn65">[65]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. juga pernah menyampaikan hadis ini ketika sedang melaksanakan haji Wada’ pada hari Arafah. Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî meriwayatkan hadis seraya berkata: “Aku melihat Rasulullah saw. pada haji Wada’ pada hari Arafah. Ketika itunya berpidato sedangnya berdiri di atas punggung untanya yang bernama Al-Qashwâ’. Aku mendengarnya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian mengikutinya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.’”<a name="_ftnref66" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn66">[66]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. juga pernah berpidato di hadapan para sahabat Ketika ia berada di atas ranjang pada saat mendekati wafat. Ia saw. Ber-sabda: “Wahai manusia, sebentar lagi nyawaku akan diambil dengan cepat, lalu aku pergi. Dan sebelum ini aku pernah menyampaikan suatu ucapan kepada kalian. Yaitu aku tinggalkan untuk kalian Kitab Tuhanku Yang Mulia nan Agung dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.” Kemudian ia saw. memegang tangan Ali as. seraya berkata: “Inilah Ali yang selalu bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an pun senantiasa bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mendatangiku di telaga Haudh.”<a name="_ftnref67" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn67">[67]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link30"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Bahtera Nuh as.</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh as. selamatlah orang yang menaikinya, dan bnasalah orang yang meninggalkannya, maka ia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan pintu Hiththah (pengampunan) bagi Bani Isra’il. Barang siapa yang memasukinya, dosanya akan diampuni.”<a name="_ftnref68" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn68">[68]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis tersebut menegaskan agar umat manusia berpegang teguh kepada ‘Itrah suci. Karena mereka adalah kunci keselamatan mereka dari tenggelam dan kebinggungan hidup ini. Ahlul Bait adalah bahtera penye-lamat dan pengaman bagi umat manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Syarafuddin menulis: “Anda tahu bahwa maksud dari penye-rupaan mereka dengan bahtera Nuh as. adalah bahwa barang siapa yang bersandar kepada mereka di dunia dan akhirat; yaitu mengambil ajaran agama, baik pondasi maupun cAbângnya, dari para imam suci, maka ia akan selamat dari azab api neraka. Dan barang siapa mem-belakangi mereka, maka ia seperti orang yang berlindung kepada bukit ketika topan bergemuruh kencang agar selamat dari ketentuan Allah. Perbedaannya, ia hanya tenggelam di air. Sedangkan orang yang mening-galkan para imam suci akan terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Semoga Allah melin-dungi kita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Adapun sisi penyerupaan mereka dengan pintu pengampunan, artinya adalah Allah swt. menjadikan pintu tersebut sebagai salah satu lambang kerendahan diri terhadap keagungan-Nya dan ketundukan kepa-da ketentuan-Nya. Dengan demikian pintu itu menjadi faktor pengam-punan dosa. Ini adalah rahasia penyerupaan tersebut”.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi Ibn Hajar berupaya mengutarakan rahasia yang lain di balik penyerupaan itu. Setelah memaparkan hadis tersebut dan hadis-hadis lainnya yang serupa, ia menuliskan: “Sisi penyerupaan mereka dengan bahtera Nuh as. yaitu bahwa barang siapa yang mencintai dan menghormati mereka karena mensyukuri nikmat kemuliaan mereka dan mengikuti petunjuk ulama mereka, maka ia akan selamat dari kegelapan pertentangan. Dan barang siapa yang meninggalkan mereka, maka ia akan tenggelam di lautan pengingkaran nikmat dan terjerumus ke dalam lembah kesesatan &#8230; Adapun faktor penyerupaan mereka dengan pintu Hiththah adalah bahwa sesungguhnya Allah swt. telah menjadikan masuk ke pintu Araiha atau Baitul Maqdis dengan rasa rendah hati dan beris-trigfar sebagai faktor pengampunan dosa, dan juga menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai sebab pengampunan dosa bagi umat ini, (tidak lebih dari itu).<a name="_ftnref69" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn69">[69]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link31"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Ahlul Bait Pengaman Umat</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mewajibkan kecintaan kepada Ahlul Bait atas umat ini. Ia menegaskan bahwa berpegang teguh kepada mereka adalah faktor pengaman dari kehancuran. Ia saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam. Dan Ahlul Baitku adalah pengaman bagi umatku dari pertentangan dan pertikaian. Apabila salah satu kabilah Arab menentang mereka, ini berarti mereka telah bertikai. Akibatnya, mereka menjadi pengikut Iblis.”<a name="_ftnref70" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn70">[70]</a></p>
<h5 style="text-align: justify;">
<hr /><a name="_ftn1" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref1">[1]</a>Murûj Adz-Dzahab, Jil. 2/3; Al-Fushûl Al-Muhimmah, karya Ibn Shabbâgh,  hal. 24; Mathâlib As-Sa’ûl, hal. 22; Tadzkirah Al-Khawwash, hal. 7; Kifâyah Ath-Thâlib, hal. 37; Nûr Al-Abshâr,  hal. 76; Nuzhah Al-Majâlis, Jil. 2/204; Syarh asy-Syifâ’, Jil. 2/15; Ghâyah Al-Ikhtishâr, hal. 97; ‘Abqariyyah Al-Imam, karya Al-‘Aqqâd, hal. 38; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/483. Dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim menegaskan: “Terdapat hadis-hadis mutawâtir yang menyatakan bah-wa Fathimah binti Asad melahirkan Ali bin Abi Thalib di dalam Ka‘bah.”<a name="_ftn2" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref2">[2]</a>Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., Jil. 1/32, menukil dari Manâqib Ali bin Abi Thalib, Jil.  3/ 90.<a name="_ftn3" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref3">[3]</a>Târîkh Al-Khamîs, Jil. 2/275.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref4">[4]</a>Al-Ma‘ârîf,  hal. 73; Adz-Dzakhâ’ir,  hal. 58; Ar-Rriyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/257.</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref5">[5]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.</p>
<p><a name="_ftn6" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref6">[6]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/102; Faidh Al-Qadîr, Jil. 4/358; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/156; Fa-dhâ’il Ash-Shahâbah, Jil. 1/296.</p>
<p><a name="_ftn7" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref7">[7]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/102.</p>
<p><a name="_ftn8" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref8">[8]</a>Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 1/63.</p>
<p><a name="_ftn9" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref9">[9]</a>Kunûz Al-Haqâ’iq, karya Al-Manâwî, hal. 43.</p>
<p><a name="_ftn10" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref10">[10]</a>Shifah Ash-Shafwah, Jil. 1/162.</p>
<p><a name="_ftn11" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref11">[11]</a>Imtâ‘ Al-Asmâ‘, Jil. 1/16.</p>
<p><a name="_ftn12" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref12">[12]</a>Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., Jil. 1/ 54.</p>
<p><a name="_ftn13" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref13">[13]</a>Syarh Nahjul Balaghah, karya Ibn Abil Hadid, Jil. 4/116.</p>
<p><a name="_ftn14" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref14">[14]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/301; Thabaqât Ibn Sa‘d, Jil. 3/21; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400; Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/55.</p>
<p><a name="_ftn15" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref15">[15]</a>Khazânah Al-Adab, Jil. 3/213.</p>
<p><a name="_ftn16" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref16">[16]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, Jil. 2/24; Musnad Ahmad bin Hanbal, hal. 263. Peristiwa ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadis.</p>
<p><a name="_ftn17" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref17">[17]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, Jil. 2/24; Musnad Ahmad, hal. 263.</p>
<p><a name="_ftn18" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref18">[18]</a>Târîkh Bagdad, Jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.</p>
<p><a name="_ftn19" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref19">[19]</a>Tafsir At-Thabarî, Jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musad-ak Al-Hâkim, Jil. 3/129.</p>
<p><a name="_ftn20" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref20">[20]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, Jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/267.</p>
<p><a name="_ftn21" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref21">[21]</a>Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 64.</p>
<p><a name="_ftn22" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref22">[22]</a>Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, Jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.</p>
<p><a name="_ftn23" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref23">[23]</a>Tafsir At-Thabarî, Jil. 8/145.</p>
<p><a name="_ftn24" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref24">[24]</a>Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.</p>
<p><a name="_ftn25" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref25">[25]</a>Târîkh Baghdad, Jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 6/19.</p>
<p><a name="_ftn26" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref26">[26]</a>Dalâ’il Ash-Shidq, Jil. 2/152.</p>
<p><a name="_ftn27" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref27">[27]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 6/186.</p>
<p><a name="_ftn28" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref28">[28]</a>Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 3/106; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/305.</p>
<p><a name="_ftn29" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref29">[29]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 7/348.</p>
<p><a name="_ftn30" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref30">[30]</a>Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 3/102.</p>
<p><a name="_ftn31" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref31">[31]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, Jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, Jil. 1/35; Shahîh Muslim, Jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, Jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 7/63; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, Jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, Jil. 3/193.</p>
<p><a name="_ftn32" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref32">[32]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, Jil. 6/ 546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, Jil. 1/93; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.</p>
<p><a name="_ftn33" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref33">[33]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 6/783; Shahîh Muslim, Jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, Jil. 2/264; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, Jil. 22/5; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4/ 107; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, Jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.</p>
<p><a name="_ftn34" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref34">[34]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, Jil. 5/521.</p>
<p><a name="_ftn35" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref35">[35]</a>Ad-Durr Al-Mantsâr, Jil. 5/199.</p>
<p><a name="_ftn36" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref36">[36]</a>Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.</p>
<p><a name="_ftn37" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref37">[37]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.</p>
<p><a name="_ftn38" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref38">[38]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al-Abshar, hal. 80.</p>
<p><a name="_ftn39" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref39">[39]</a>Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, Jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, Jil. 4/146; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.</p>
<p><a name="_ftn40" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref40">[40]</a>Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, Jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/206.</p>
<p><a name="_ftn41" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref41">[41]</a>Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/110. Ternyata Walîd berdusta. Maka turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan &#8230;.” (QS. Al-Hujurât [49]:6)</p>
<p><a name="_ftn42" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref42">[42]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400.</p>
<p><a name="_ftn43" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref43">[43]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/299; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/14.</p>
<p><a name="_ftn44" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref44">[44]</a>Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ,  hal. 92.</p>
<p><a name="_ftn45" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref45">[45]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 3/61.</p>
<p><a name="_ftn46" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref46">[46]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.</p>
<p><a name="_ftn47" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref47">[47]</a>Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/163.</p>
<p><a name="_ftn48" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref48">[48]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/127; Târîkh Ibn Atsîr, Jil. 2/22; Târîkh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/116; Mus-nad Ahmad, Jil. 1/331; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/399.</p>
<p><a name="_ftn49" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref49">[49]</a>Al-Murâja‘ât, hal. 208.</p>
<p><a name="_ftn50" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref50">[50]</a>Musnad Abu Daud, Jil. 1/29; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 7/195; Musykil Al-Âtsâr, Jil. 2/309; Mus-nad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/182; Târîkh Bagdad, Jil. 11/432; Khashâ’ish An-Nasa’î, hal. 16.</p>
<p><a name="_ftn51" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref51">[51]</a>Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/26; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 15; Shahîh Muslim, kitab Fadhâ’il Al-Ashhâb, Jil. 7/ 120.</p>
<p><a name="_ftn52" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref52">[52]</a>Târîkh Bagdad, Jil. 2/ 377.</p>
<p><a name="_ftn53" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref53">[53]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 401.</p>
<p><a name="_ftn54" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref54">[54]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 156; As-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 73.</p>
<p><a name="_ftn55" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref55">[55]</a>Mu‘jam Al-Udabâ’, Jil. 17/200.</p>
<p><a name="_ftn56" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref56">[56]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 301; Shahîh Ibn Mâjah, Jil. 12; Târîkh al-Baghdad, Jil. 1/255; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 4/ 185.</p>
<p><a name="_ftn57" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref57">[57]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 299.</p>
<p><a name="_ftn58" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref58">[58]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/ 133.</p>
<p><a name="_ftn59" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref59">[59]</a>Nûr Al-Abshâr, hal. 72.</p>
<p><a name="_ftn60" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref60">[60]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 129.</p>
<p><a name="_ftn61" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref61">[61]</a>Al-Istî‘âb, Jil. 2/ 464.</p>
<p><a name="_ftn62" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref62">[62]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 400.</p>
<p><a name="_ftn63" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref63">[63]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 1/ 367.</p>
<p><a name="_ftn64" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref64">[64]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.</p>
<p><a name="_ftn65" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref65">[65]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 308.</p>
<p><a name="_ftn66" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref66">[66]</a>Ibid; Jil. 2/ 308; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 1/ 84.</p>
<p><a name="_ftn67" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref67">[67]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.</p>
<p><a name="_ftn68" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref68">[68]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/168; Al-Mustadrak, Jil. 2/ 43; Târîkh al-Baghdad, Jil. 2/120; Al-Hilyah, Jil. 4/ 306; Adz-Dzakâ’ir, hal. 20.</p>
<p><a name="_ftn69" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref69">[69]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 149; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/116. Dalam kitab Faidh Al-Qadîr dan Majma‘ Az-Zawâ’id, Nabi saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi umatku.”</p>
<p><a name="_ftn70" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref70">[70]</a>Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/ 252. Hadis serupa terdapat dalam Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 319 dan Sunan Ibn Mâjah, Jil. 1/ 52.l</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : al-shia.org</p>
</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMÂMAH</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/20/imamah/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/20/imamah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Ushuluddin]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Kapan Imâmah Menjadi Isu? Pasca wafatnya Nabi saw., perbincangan tentang pengganti beliau mengemuka. Sekelompok orang berkeyakinan bahwa Nabi saw. tidak menentukan pengganti selepas beliau, dan urusan ini dilimpahkan di atas pundak umat supaya mereka duduk bersama dan bermusyawarah untuk menentukan sendiri pemimpin mereka; pemimpin yang mengendalikan urusan pemerintahan dan bertindak sebagai wakil rakyat (umat) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imamah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-341" title="imamah" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imamah-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sejak Kapan Imâmah Menjadi Isu?</h3>
<p style="text-align: justify;">Pasca wafatnya Nabi saw., perbincangan tentang pengganti beliau mengemuka. Sekelompok orang berkeyakinan bahwa Nabi saw. tidak menentukan pengganti selepas beliau, dan urusan ini dilimpahkan di atas pundak umat supaya mereka duduk bersama dan bermusyawarah untuk menentukan sendiri pemimpin mereka; pemimpin yang mengendalikan urusan pemerintahan dan bertindak sebagai wakil rakyat (umat) untuk memerintah atas mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Musyawarah ini tidak pernah terwujud, karena pada suatu kesempatan, hanya satu kelompok kecil sahabat yang memilih seorang khalifah, dan pada kesempatan yang lain, pemilihan khalifah berbentuk penunjukan (intishâbi), serta pada kesempatan ketiga, pemilihan ini hanya diemban oleh enam orang yang keseluruhannya bersifat penunjukan juga (inti<span style="text-decoration: underline;">s</span>âbi).</p>
<p style="text-align: justify;">Para pendukung pemikiran ini disebut Ahli Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok lain berkeyakinan bahwa imam dan pengganti (khalifah) Nabi saw. harus ditentukan oleh Allah swt., lantaran ia mesti seperti Nabi saw.; maksum dari dosa dan kesalahan serta memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga ia dapat mengemban kepemimpinan material dan spiritual, menjaga pondasi agama, menjelaskan hukum-hukum Tuhan kepada umat, menguraikan Al-Qur’an secara detail, dan menjaga keutuhan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok ini dinamakan sebagai Imamiyah atau Syi&#8217;ah. Dan penamaan berasal dari hadis-hadis Nabi saw. yang masyhur.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Tafsir Ad-Durr Al-Mantsûr, salah satu buku referensi tafsir standar Ahli Sunnah yang terkenal, tentang penafsiran ayat “Ulâ`ika hum khoirul Bariyyah”, terdapat sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Ia berkata, “Suatu hari kami berada di hadirat Nabi saw. Tiba-tiba Ali datang ke arah kami. Nabi saw. bersabda, ‘Ia dan Syi&#8217;ahnya pada Hari Kiamat adalah orang-orang benar.’ Setelah itu, turunlah ayat ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka adalah sebaik-baik makhluk.’”.<a name="_ftnref1" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Hakim An-Naisyaburi, salah seorang ulama terkenal Ahli Sunnah yang hidup pada abad kelima Hijriah, menukil muatan riwayat yang sama dari Nabi saw. dalam kitabnya yang terkenal, Syawâhid at-Tanzîl dan jumlah riwayat ini melebihi  angka dua puluh. Di antaranya, riwayat Abbas yang berkata, “Ketika turun ayat ‘Innaladzîna Âmanû wa &#8216;amilush-Shôlihât &#8230;’, Nabi saw. bersabda kepada Ali, ‘Maksud dari ayat ini adalah engkau dan Syi&#8217;ahmu.’”<a name="_ftnref2" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis yang lain dari Abu Barzah, ketika Nabi saw. membacakan ayat ini, beliau bersabda, “Mereka adalah engkau dan Syi&#8217;ahmu.”<a name="_ftnref3" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Banyak lagi dari ulama Islam dan ulama Ahli Sunnah, seperti Ibn Hajar dalam Ash-Sawâ’iq Al-Muhriqah-nya dan Muhamamad Asy-Syablanji dalam Nûr Al-Abshâr-nya, juga menyebutkan hadis ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, dengan kesaksian riwayat-riwayat ini, Nabi saw. telah memilih nama Syi’ah sebagai pengikut jalan Ali dan pendukung beliau. Maka itu, sangat mengherankan sekali jika sebagian orang menggangap nama ini sebagai penanda kesialan dan keburukan. Mereka menganggap huruf syin pada awal kata Syi’ah merupakan hal yang mengingatkan kepada keburukan, kesialan, dan kata-kata buruk serta konotasi lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, ungkapan-ungkapan ini bagi seorang peneliti yang memiliki kecenderungan untuk menerima pelita argumentasi logis sangat mengherankan. Karena, untuk setiap huruf dari huruf-huruf abjad Hijaiyah (dari alif sampai ya’) dapat dipilihkan kata-kata baik atau buruk (sebagai ungkapannya).</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum, sejarah kemunculan Syi&#8217;ah tidak terjadi pasca wafatnya Rasulullah saw., tetapi bahkan pada masa hidup beliau. Dan kata ini dilekatkan kepada penolong dan pendukung Imam Ali a.s. Seluruh orang mengenal Nabi saw. sebagai Rasulullah. Mereka tahu bahwa beliau tidak berbicara atas dasar hawa dan nafsunya sendiri, wamâ yantiqu ‘anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâ. Dan jika beliau bersabda, “Engkau dan pengikutmu adalah orang-orang yang berjaya dan benar pada Hari Kiamat”, sabda beliau ini merupakan sebuah realitas.<a name="_ftnref4" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn4">[4]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Wilâyah Takwînî dan Tasyrî&#8217;î itu</h3>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana telah kita ketahui, wilâyah terbagi menjadi dua bagian: wilâyah Tasyrî’î dan wilâyah Takwînî .</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari wilâyah Tasyrî’î (tata-aturan) adalah pemerintahan dan pengurusan konstitusional dan Ilahi. Wilâyah ini terkadang dapat dijumpai dalam ukuran terbatas, seperti wilâyah bapak dan kakek atas anak kecil. Dan terkadang dalam ukuran yang luas, seperti wilâyah seorang penguasa umat Islam atas seluruh masalah-masalaah yang bertalian dengan pemerintahan dan penyelenggaraan negara Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun maksud dari wilâyah takwînî (tata-cipta) adalah pengaturan cipta seseorang terhadap alam semesta dan penciptaan berdasarkan perintah dan izin Tuhan. Wilâyah ini dapat berseberangan dengan kebiasaan dan proses natural semesta dan prosedur sebab-akibat. Misalnya, dengan izin dan kekuasaan Tuhan, ia dapat menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, atau menghidupkan orang-orang mati, dan pekerjaan-pekerjaan lain semacam ini. Dan setiap bentuk pengaturan spiritual (tasharruf ma‘nawî) adalah bersifat supranatural yang terdapat dalam jiwa-jiwa dan raga-raga setiap manusia, demikian juga pada dunia natural.</p>
<p style="text-align: justify;">Wilâyah Takwînî terbagi menjadi empat bagian. Sebagiannya dapat diterima, dan sebagian lainnya tidak.</p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Wilâyah Takwînî dalam Urusan Penciptaan Alam Semesta</h3>
<p style="text-align: justify;">Artinya, Tuhan memberikan kemampuan kepada para hamba atau malaikatnya sehingga ia dapat menciptakan hal tertentu, atau membatalkan halaman keberadaan, dengan keyakinan bahwa perkara ini bukanlah sebuah perkara yang mustahil dapat terwujud. Karena, Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu. Dan Ia mampu memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, segenap ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta; langit dan bumi-bumi, jin, manusia, malaikat, flora dan fauna, gunung-gunung, dan lautan, seluruhnya terlaksana dengan kekuasaan Allah Swt., bukan melalui perantara hamba atau malaikat tertentu. Oleh karena itu, seluruh penciptaan dinisbahkan kepada Allah Swt. Dan tidak satu pun urusan lepas dari hubungannya dengan Allah. Dengan demikian, pencipta tujuh langit, tujuh bumi, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia adalah Tuhan Yang Mahakuasa semata.</p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Wilâyah Takwînî sebagai Perantara Anugerah</h3>
<p style="text-align: justify;">Artinya, setiap bentuk pertolongan, rahmat, berkah, dan kekuasaan bersumber dari Tuhan. Semua itu sampai kepada hamba-Nya atau wujud-wujud lain yang berada di jagad raya ini melalui jalan para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang terpilih. Seperti air minum di rumah-rumah perkotaan, seluruhnya melalui jalan pipa utama. Pipa ini mengalirkan air dari sumber mata air dan mengantarkannya ke seluruh tempat. Pipa ini disebut sebagai perantara menebarkan anugerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut akal, makna ini bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Contohnya dapat ditemukan dalam alam mikro kosmos pada tubuh manusia dan pembagian materi (mâddah) kehidupan kepada sel-sel melalui jantung dan urat nadi. Apa kendalanya jika pada makro kosmos juga demikian nyatanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi tanpa syak, pembuktian hal ini memerlukan dalil yang cukup. Dan sekiranya dapat dibuktikan, tetap hal itu terjadi dengan izin Allah swt.</p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Wilâyah Takwînî Terbatas</h3>
<p style="text-align: justify;">Umpamanya, menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang-orang sakit yang tidak dapat disembuhkan lagi dan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh-contoh dari jenis wilâyah Takwînî ini terdapat secara gamblang dalam Al-Qur’an ihwal sebagian para nabi. Demikian juga pada riwayat-riwayat yang menjadi bukti atas jenis wilâyah ini. Oleh karena itu, tidak hanya dari sudut pandang rasional, bentuk Wilâyah Takwînî ini dapat terwujud, akan tetapi juga terdapat banyak dalil-dalil tekstual yang mendukung masalah ini.</p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Wilâyah Takwînî sebagai Doa untuk Terwujudnya Urusan-urusan Yang diharapkan</h3>
<p style="text-align: justify;">Aktualisasi wilâyah ini melalui perantara kekuasaan (qudrah) Tuhan. Dengan demikian, Nabi saw. dan para imam maksum a.s. berdoa, dan sesuai dengan kehendak Tuhan, doa tersebut terkabulkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis Wilâyah Takwînî ini juga dapat terlaksana menurut akal dan teks agama. Banyak ayat dan riwayat yang menjadi contoh wilâyah ini. Mungkin dari satu sisi, kita tidak dapat menamakan hal ini sebagai wilâyah Takwînî, lantaran terkabulkannya (istijâbah) doanya berasal dari sisi Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak riwayat yang mengisyaratkan asma Allah yang agung (al-ism al-a&#8217;zhâm) yang berada dalam penguasaan Nabi dan para imam a.s. atau sebagian dari wali-wali Allah. Dengan perantaraan asma ini, mereka dapat mengatur tata cipta jagad raya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari hakikat asma yang agung ini, riwayat-riwayat semacam ini dapat menjadi saksi atas adanya bagian ketiga dari wilâyah Takwînî ini, dan sesuai secara penuh dengan wilâyah tersebut.<a name="_ftnref5" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn5">[5]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">54. Apakah Hakikat Bai’at itu? Dan apakah Perbedaannya dengan Pemilihan Umum?</h3>
<p style="text-align: justify;">Bai’at adalah satu jenis perjanjian dan kontrak antara pemberi bai’at dari satu sisi, dan penerima bai’at dari sisi lain. Muatan bai’at ini adalah ketaatan, mengikuti, menolong, dan membela orang yang dibai’at. Dan sesuai dengan syarat yang disebutkan dalam bai’at, bai’at memiliki tingkatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis, bai’at merupakan sejenis kontrak yang mengikat (‘aqd lâzim) dari sisi pemberi bai’at. Ia wajib mengamalkan apa yang telah diikrarkannya dalam bai’at tersebut. Dengan demikian, hal ini termasuk bagian dari kaidah umum; “Aufû bil ‘Uqûd (Penuhilah akad-akad itu).” (QS.Al-Maidah [5]: 1)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, orang yang memberikan bai’at tidak berhak untuk meninggalkan bai’at-nya. Akan tetapi, apabila menurut penerima bai’at tidak baik, ia dapat mencabut dan meninggalkan bai’at tersebut. Ketika itulah pemberi bai’at baru terbebas dari keharusan menaati janji yang diikrarkannya.<a name="_ftnref6" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang beranggapan bahwa bai’at itu ibarat pemilihan atau sejenisnya. Padahal pemilihan persis kebalikan dari bai’at. Maksudnya, esensi pemilihan hanya mewujudkan satu jenis tugas, tanggung jawab, dan kedudukan bagi orang-orang yang dipilih. Dengan kata lain, pemilihan merupakan satu jenis perwakilan dan representasi dalam menunaikan sebuah pekerjaan. Sementara pemilih dalam pemilihan ini memiliki tugas-tugas, (seperti seluruh representasi), bai’at tidak demikian adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ungkapan lain, pemilihan adalah pemberian kedudukan, dan sebagaiamana yang telah kami sebutkan, seperti perwakilan dan representasi, sementara bai’at adalah pergikatan ikrar untuk taat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebagaian efeknya, mungkin kedua kategori ini memiliki kesamaan. Akan tetapi, kesamaan ini tidak berarti kesatuan esensi. Maka, dalam masalah bai’at, pemberi bai’at tidak dapat untuk meninggalkan bai’at-nya, sementara dalam urusan pemilihan, dalam banyak kasus, para pemilih memiliki hak untuk menanggalkan pemilihan sehingga mereka dapat mendepak secara kolektif orang yang dipilih. (Perhatikan baik-baik).<a name="_ftnref7" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Apakah Bai’at Memiliki Peran dalam Legitimasi Kepemimpinan Seorang Nabi atau Imam?</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. dan para imam maksum a.s. yang ditunjuk oleh Allah swt. secara langsung tidak pernah memerlukan bai’at. Maksudnya, ketaatan kepada Nabi saw. dan para imam maksum a.s. dan penunjukkan dari sisi Tuhan bersifat niscaya dan mesti, baik atas mereka yang berbai’at atau mereka yang tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kata lain, kedudukan kenabian dan imâmah adalah wajib untuk ditaati. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amr di antara Kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini munsul satu pertanyaan, yaitu mengapa Nabi saw. berulang kali mengambil bai’at dari para sahabat dan orang-orang yang baru memeluk Islam?, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an secara jelas: bai’at Ridhwân dalam surat Al-Fath [48], ayat 18, dan bai’at dengan penduduk Makkah dalam surat Al-Mumtahanah [60].</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita tekankan bahwa seluruh bai’at itu merupakan satu jenis pengukuhan atas loyalitas yang diambil pada kondisi-kondisi tertentu, dan digunakan khususnya dalam menghadapi keadaan kritis. Hal ini dilakukan supaya di bawah siluetnya, bai’at ini dapat menghembuskan berkahnya kepada setiap orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, bai’at yang dilakukan oleh para khalifah adalah sebagai penerimaan kedudukan khilafah (pemerintahan). Betapapun demikian, kami meyakini bahwa khilafah Nabi saw. bukan sebuah kedudukan yang diperoleh melalui bai’at, melainkan semata-mata dari sisi Allah swt. dan terwujud melalui persona Nabi saw. dan para imam maksum a.s.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Filsafat Intizhâr (Penantian) itu</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam ajaran Islam, keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi a.s. bukan produk impor ajaran agama lain. Konsep ini merupakan ajaran yang paling tegas dari seseorang yang meletakkan pondasi Islam (Nabi saw.). Umumnya aliran-aliran Islam dalam masalah ini bersepakat, dan hadis-hadis yang berkaitan dengannya adalah mutawâtir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, marilah kita melangkah ke kejadian-kejadian yang terjadi selama masa penantian ini pada kondisi aktual dan terkini komunitas Islam, dan kita lihat apakah kemunculan manusia seperti ini sebegitu fiktifnya sehingga lalai dari keadaan sekitarnya dan pasrah terhadap segala bentuk kondisi? Atau sebenarnya keyakinan ini adalah satu jenis seruan kepada kebangkitan dan pembangunan individu dan masyarakat?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah penantian ini dapat menciptakan gerakan (baca: dinamika) atau stagnasi? Apakah ia membawa beban responsibilitas atau malah membuat kita lari dari tanggung jawab? Dan akhirnya, apakah penantian ini merupakan pelelap atau pembangkit?</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, sebelum menjelaskan dan mengkaji pertanyaan-pertanyaan ini, seharusnya kita memperhatikan satu poin yang sangat penting, yaitu bahwa aturan-aturan yang paling maju dan pemahaman yang unggul sekalipun, jika jatuh ke tangan orang-orang yang tidak ahli atau tidak laik, mungkin akan menimbulkan penyelewengan yang sedemikian bermetamorfosis sehingga ia akan memberikan hasil yang sama sekali bertentangan dengan tujuan utama dan bergerak di atas jalan yang sebaliknya. Banyak contoh yang bisa dibawakan di sini. Dan masalah penantian—sebagaimana yang kita akan lihat—berada pada asumsi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di atas segalanya, untuk melepaskan diri dari setiap bentuk kesalahan dalm mengevaluasi pembahasan seperti ini, hendaknya kita mengambil air dari sumbernya sehingga tidak menyisakan kontaminasi yang barangkali datang dari sungai-sungai dan saluran-saluran di pertengahan jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekaitan dengan masalah “penantian”, sebagian kita secara langsung bertolak menuju teks-teks asli Islam, lalu kita jadikan berbagai redaksi riwayat yang menegaskan masalah ini sebagai objek kajian, sehingga kita mendapatkan banyak masukan dari tujuan utama kita, yaitu menulusuri masalah penantian (intizhâr) ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini mari kita renungkan baik-baik beberapa riwayat di bawah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">a. Seseorang bertanya kepada Imam Ash-Shadiq a.s. perihal seseorang yang beriman pada imamah para Imam dan menantikan munculnya pemerintahan hak, sedangkan ia akan meninggal. Imam Ash-Shadiq a.s. dalam menjawab pertanyaan ini berkata, “Ia ibarat orang yang menyertai pemimpin revolusi dalam kemah, dan setelah itu jeda beberapa waktu.” Beliau melanjutkan, “Ibarat orang yang bertempur di sisi Rasulullah saw.” Kandungan riwayat seperti ini banyak jumlahnya dengan redaksi yang berbeda-beda.<a name="_ftnref8" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;">b. Sebagian hadis lain menyatakan, “Ibarat pejuang yang mengayunkan pedang di jalan Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">c. Di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Seperti orang yang beserta Rasullah saw. dengan pedang yang menebas kepala musuh.”</p>
<p style="text-align: justify;">d. Dalam riwayat yang lain, “Ibarat orang yang berada di bawah panji Al-Qâ’im.”</p>
<p style="text-align: justify;">e. Dalam riwayat lain, “Ibarat orang yang berjihad di hadapan Rasulullah saw.”</p>
<p style="text-align: justify;">f. Dalam riwayat lain, “Sebagaimana orang yang syahid bersama Rasulullah saw.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuh perumpamaan atas penantian kemunculan Imam Mahdi a.s. terdapat dalam enam riwayat di atas. Semua itu dapat menjadi penjelas satu realita. Yaitu, adanya sebuah bentuk hubungan antara masalah penantian dari satu sisi, dan jihad melawan musuh di sisi yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">g. Hadis yang beragam juga menegaskan bahwa penantian akan pemerintahan seperti ini dinayatakan sebagai ibadah yang paling tinggi:</p>
<p style="text-align: justify;">Muatan riwayat ini berasal dari Nabi saw. dan Amirul Mukminin a.s. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda; “Sebaik-baik amal umatku adalah menantikan faraj (keluasan dan kebebasan) yang berasal dari sisi Tuhan”.<a name="_ftnref9" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis yang lain, Nabi saw. bersabda, “Sebaik-baik ibadah adalah menantikan faraj (keluasan dan kebebasan).”<a name="_ftnref10" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kita ketahui bahwa hadis ini mengindikasikan penantian faraj dengan makna yang luas atau dengan pengertian khusus, yaitu penantian kemunculan pembaru agung semesta. Dengan demikian, signifikansi penantian dalam pembahasan kita kali ini akan semakin terang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menyimak segenap redaksi riwayat ini, indikasinya adalah penantian revolusi sebesar itu senantiasa disertai dengan satu jihad yang menyeluruh dan ekstensif, sehingga kita dapat bertolak menuju pengertian penantian, lalu dari semua itu kita mengambil sebuah konklusi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Pengertian Penantian</h3>
<p style="text-align: justify;">Galibnya, Intizhâr (penantian) adalah kondisi seseorang yang berada dalam kesedihan dan ia berusaha untuk menciptakan keadaan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh, orang sakit yang menantikan datangnya kesembuhan atau orang tua yang menantikan anaknya kembali dari perjalanan. Dalam keadaan sakit dan berpisah dengan anak, seseorang merasa sedih, dan ia berupaya untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana juga seorang peniaga yang susah akibat gejolak pasar dan menantikan redanya krisis ekonomi. Peniaga ini menghadapi dua kondisi: “pasrah dengan kondisi yang ada” dan “upaya untuk menciptakan kondisi yang lebih baik”.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, masalah penantian pemerintahan hak dan adil (Mahdi) dan bangkitnya pembaru dunia sebenarnya terdiri dari dua unsur: unsur negasi (nafy) dan unsur afirmasi (itsbât). Unsur negasinya adalah menolak pasrah dengan kondisi yang ada dan unsur afirmasinya adalah kehendak kepada keadaan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila kedua unsur ini mengakar dalam ruh manusia, keduanya akan menjadi dua cabang amal yang ekstensif. Kedua cabang amal ini akan menolak seluruh koordinasi dan kerjasama dengan faktor-faktor tiran, korup, dan bahkan, berusaha untuk memerangi mereka, dari satu sisi. Dan dari sisi lain, ia akan membangun diri dan berswadaya, mempersiapkan diri dari sisi jiwa dan raga, materi dan maknawi untuk membentuk pemerintah tunggal universal dan komunal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hendaknya kita perhatikan baik-baik bahwa kita melihat kedua unsur yang telah disebutkan di atas bersifat konstruktif dan merupakan faktor penggerak, inspiratif dan pembangkit.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memperhatikan pengertian dasar intizhâr (penantian), makna pelbagai riwayat tentang ganjaran dan hasil kerja para penanti yang telah kami nukil di atas akan dapat dipahami dengan baik. Kini kita memahami bahwa mengapa para penanti sejati terkadang ibarat orang-orang yang terhitung berada dalam kemah Imam Mahdi a.s., di bawah panji imam, seperti seseorang yang mengayunkan pedang di jalan Allah, atau bersimbah dengan darah dalam meraih syahadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah semua ini bukan merupakan indikasi atas adanya tingkatan dan derajat perjuangan yang berbeda di jalan hak dan keadilan yang sesuai dengan derajat persiapan setiap orang?</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya, sebagaimana tolok ukur loyalitas para mujahid di jalan Allah dan peran mereka berbeda satu dengan yang lainnya, begitu pula penantian, persiapan, dan konstruksi diri juga memiliki derajat yang berbeda. Masing-masing dari sudut pandang “mukaddimah” dan “hasil” memiliki kesamaan. Masing-masing adalah perjuangan dan masing-masing menuntut persiapan dan konstruksi diri. Seseorang yang berada dalam tenda pemimpin pemerintahan seperti itu berarti ia berada pada sentral komando sebuah pemerintahan universal. Tidak ada tempat bagi seseorang yang lalai dan alpa. Tempat itu tidak diperuntukkan bagi setiap orang. Tempat itu adalah tempat bagi orang yang layak dan patut sesuai dengan keadaan dan signifikansi yang dimilikinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga seseorang yang memiliki kebaikan di hadapan pemimpin revolusi ini; berperang dengan para penentang pemerintahan keadilan dan kebaikan, memiliki persiapan ruhani, pikiran, dan kesiagaan tempur.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk keterangan lebih jauh tentang efek dan realitas-realitas penantian kemunculan Imam Mahdi a.s, silakan simak penjelasan di bawah ini.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penantian adalah Siaga Penuh</h3>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya aku dzalim dan korup, bagaimana mungkin aku menantikan seseorang yang pedangnya digunakan untuk menumpahkan darah orang-orang dzalim dan korup?</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya aku ini manusia busuk, bagaimana mungkin aku menantikan revolusi yang kobaran pertamanya membakar orang-orang yang busuk?</p>
<p style="text-align: justify;">Prajurit yang berada dalam penantian jihad agung akan selalu meningkatkan kesiagaan tempurnya. Spirit angin revolusi akan selalu berhembus ke arahnya dan ia akan selalu memperbaiki segala titik kelemahan yang dimilikinya. Hal itu lantaran kualitas penantian disertai dengan tujuan penantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Penantian datangnya musafir biasa dari perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penantian kembalinya seorang sahabat yang budiman.</p>
<p style="text-align: justify;">Penantian tibanya musim menuai hasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap penantian ini bergantung kepada satu jenis persiapan. Di antaranya, rumah harus tersedia dan alat-alat untuk menyambut orang yang selalu dinantikan harus dipersiapkan. Dan pada penantian yang lain, sarana-sarana yang diperlukan, seperti arit, cangkul, dan traktor, pun harus dipersiapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini pikirkanlah mereka yang menantikan kebangkitan seorang pembaru agung dunia, pada hakikatnya memiliki penantian revolusi dan perubahan radikal, yang merupakan revolusi yang paling fundamental dan luas di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Revolusi yang berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya yang tidak memiliki dimensi lokal, melainkan bersifat mendunia dan menyeluruh, dan bahkan termasuk seluruh dimensi kehidupan manusia. Revolusi ini adalah revolusi politik, kultur, ekonomi, dan moral.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Filsafat Pertama: Konstruksi Diri Setiap Individu</h3>
<p style="text-align: justify;">Sebelum segala sesuatunya, perubahan besar ini memerlukan unsur-unsur persiapan setiap orang sehingga ia mampu memikul beban berat revolusi yang menguasai dunia ini. Dan ini pada mulanya memerlukan peningkatan informasi, pemikiran, persiapan spiritual, dan intelektual untuk koordinasi dalam mengawali program agung ini. Pandangan parokial, wawasan sempit, pemikiran yang menyimpang, kedengkian, ikhtilaf yang tak sehat dan irasional, segala bentuk kemunafikan, dan ketercerai-beraian tidak sesuai dengan sikap penanti sejati.</p>
<p style="text-align: justify;">Poin penting di sini ialah bahwa untuk program sekrusial itu, penanti sejati tidak akan berperan sebagai penonton belaka. Ia sejadk dini harus berada pada barisan para revolusioner.</p>
<p style="text-align: justify;">Iman pada hasil dan akhir dari perubahan ini sekali-kali tidak melepaskannya berada pada barisan penentangnya. Dan menempatkan dirinya di barisan revolusi juga memerlukan perbuatan-perbuatan suci dan jiwa yang tulus dan mempersenjatai diri dengan informasi dan keprawiraan yang memadai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya aku bermental korup dan buruk, maka dalam penantian militeristik yang tidak membuat orang-orang buruk kecuali terhina dan terhempas, bagaimana mungkin aku menunggu dalam penantian?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah untuk menyuling spiritual, intelektual, dan penyucian jiwa dan raga dari polusi noda-noda, penantian ini tidak cukup?</p>
<p style="text-align: justify;">Prajurit yang berada dalam masa penantian sebuah jihad pembebasan, niscaya selalu dalam keadaan siaga sempurna dan memperoleh senjata yang pantas untuk memasuki medan tempur seperti ini. Ia akan membangun basis pertahanan dan meningkatkan kesiapan tempur orang-orangnya. Ia selalu mengokohkan semangat mereka dan senantiasa menjaga supaya  bara cinta dalam sanubari setiap prajurit untuk peperangan seperti ini tetap menyala. Prajurit yang tidak memiliki persiapan semacam ini, sekali-kali ia tidak akan pernah melewati masa penantian, dan kalau ia mengatakan dalam kondisi penantian, sungguh ia telah berkata dusta.</p>
<p style="text-align: justify;">Menantikan seorang Pembaru dunia berarti bersiaga secara penuh, baik dari sisi intelektual dan moral, maupun materi dan maknawi, untuk perbaikan tatanan seluruh jagad. Pikirkanlah betapa konstruktifnya kesiagaan semacam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Reformasi di seantero dunia dan mengakhiri segenap kezaliman bukanlah sebuah cerita komedi dan pekerjaan ringan. Bersiagalah untuk tujuan agung ini, dan Anda harus selaras dengan tujuan tersebut. Maksudnya, seluk dan beluk tujuan tersebut!</p>
<p style="text-align: justify;">mewujudkan revolusi semacam ini memerlukan seorang yang berjiwa besar, bertekad kuat, suci, bercita-cita tinggi, bersiaga penuh, dan memiliki pandangan yang dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan konstruksi diri demi tujuan seperti ini menuntut tersedianya program-program yang paling serius pada bidang moral, intelektual, dan sosial. Inilah makna penantian sejati. Apakah ada yang dapat mengatakan bahwa penantian semacam ini tidak konstruktif dan tidak membangun?</p>
<h3 style="text-align: justify;">Filsafat Kedua: Swadaya Masyarakat</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada saat menjalankan tugas, para penanti sejati tidak hanya berbuat untuk dirinya, tetapi ia juga memperhatikan keadaan yang lain. Di samping membenahi diri sendiri, ia juga berupaya memberbaiki orang lain. Sebab, misi agung dan berat sebesar &#8220;penantian&#8221; bukanlah sebuah agenda perseorangan. Agenda ini adalah sebuah program yang harus melibatkan seluruh unsur revolusi. Tugas harus dilakukan secara kolektif dan komunal. Pelbagai usaha dan upaya harus terkoordinasi. Seluk-beluk koordinasi ini harus seagung program revolusi semesta yang dinantikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sebuah medan luas peperangan kolektif, tidak seorang pun yang lalai dari memikirkan keadaan orang lain. Ia senantiasa berhati-hati. Setiap lini lemah yang ia lihat, segera diperbaiki. Setiap keadaan yang membawa petaka, secepatnya ia tanggulangi. Ia selalu menguatkan setiap bagian kelemahan dan ketidakmampuan yang ada. Karena, tanpa partisipasi aktif dan koordinatif, seluruh pejuang (mujâhid) tidak akan dapat mengemban misi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, selain berupaya memperbaiki diri, penanti sejati juga memiliki tugas untuk memperbaiki orang lain. Hal ini merupakan hasil konstruktif lainnya dalam menantikan kebangkitan seorang pembaru dunia, dan inilah filsafat seluruh keutamaan para penanti sejati yang telah diperhitungkan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Filsafat Ketiga: Penanti Sejati dalam Lingkungan Korup Tidak Akan Mendapatkan Solusi</h3>
<p style="text-align: justify;">Efek penting lain dari penantian Imam Mahdi a.s. ialah   bahwa hal ini tidak akan pernah terwujud dalam lingkungan yang korup dan ketidakpasrahan dalam menghadapi segala gejala busuk.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjelasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Manakala kerusakan merajalela dan mayoritas orang tertercemari, kerap orang-orang suci menemui jalan buntu yang pelik; jalan buntu yang bersumber dari gerakan-gerakan reformis yang putus asa.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang mereka berpikir, semuanya telah terjadi, dan tidak ada lagi harapan perbaikan. Upaya dan usaha dalam menjaga dirinya untuk tetap suci malah sia-sia. Putus asa seperti ini boleh jadi menggiring mereka secara bertahap kepada kerusakan dan pasrah pada lingkungan, mereka tidak dapat menjaga dirinya sebagai seorang saleh yang minoritas yang  melawan kesalahan mayoritas, lalu berbaur lenyap di dalamnya. Hal ini akan membuatnya kehilangan wibawa dan harga diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu-satunya hal yang dapat dilakukan sehingga harapan masih tersisa di dalam diri mereka dan mengajak untuk selalu bersikap resistan, konsisten, dan sabar, serta tidak membiarkan mereka larut dalam lingkungan korup adalah berharap pada reformasi akhir jaman, disertai dengan semangat untuk tidak menyerah dalam berusaha, untuk menjaga diri agar tetap suci, dan melakukan perbaikan atas orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila kita perhatikan ajaran-ajaran Islam, putus asa dari ampunan merupakan salah satu dosa besar. Barangkali orang-orang yang tidak ahli dalam bidang ini akan terkejut mengapa keputusasaan dari rahmat Tuhan dianggap sedemikian penting, bahkan lebih penting dari dosa-dosa yang lain? Jawabannya, karena para pendosa yang putus asa dari rahmat Tuhan tidak punya motivasi untuk menebus kesalahan atau—setidaknya—meninggalkan maksiatnya itu. Logika hidupnya adalah kini air telah dingin di hadapanku, persetan apakah segalon atau seratus galon? Kunodai duniaku, dan aku tidak merasa gundah. Tidak ada yang lebih legam melebihi warna hitam. Akhirnya adalah jahanam. Aku yang kini telah membelinya untuk diriku, kini aku takut apa lagi? Dan logika-logika lain semacam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, tatkala setiap hari harapannya tumbuh dan berharap maaf dari Tuhan, harapan terhadap perubahan kondisi yang ada ini akan menjadi  titik awal perubahan dalam hidupnya. Demikian ini akan membawanya untuk menghentikan dosa dan kembali kepada kesucian dan perbaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas dasar ini, asa dan harapan dapat dijadikan sebagai salah satu faktor determinan dalam pendidikan orang-orang korup. Demikian juga bagi seorang saleh yang hidup di lingkungan yang korup. Tanpa asa dan harapan, ia tidak dapat menjaga dirinya dari noda korupsi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya adalah, bahwa betapa pun rusaknya tatanan dunia, harapan terhadap kemunculan seorang pembaru dunia semakin besar dan ini menanamkan kesan mendalam pada jiwa orang-orang yang percaya pada kemunculannya. Harapan ini membantu mereka berhadapan dengan gelombang kerusakan. Ia tidak hanya tidak kehilangan asa dengan merajalelanya kerusakan, lebih dari itu ia juga melihat adanya sebuah titik harapan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Semakin Dekat datangnya Janji, Semakin Membara Api Cinta</h3>
<p style="text-align: justify;">Ia melihat dirinya sampai kepada tujuan dan berupaya berjuang melawan kerusakan atau menjaga dirinya dengan kerinduan dan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembahasan sebelumnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kesan penantian hanya dapat memberikan hasil konsep yang tidak direduksi atau diselewengkan, sebagaimana dilakukan kelompok penentang yang menyelewengkan maknanya atau kelompok pendukung yang mereduksi kandungannya. Sekiranya makna sejati penantian tersebut benar-benar dihayati dan diaktualkan secara individu dan sosial, ia akan menjadi sebuah faktor edukasi dan konstruksi diri, gerakan dan harapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara bukti-bukti jelas yang menegaskan subjek pembahasan kita kali ini adalah ayat “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh &#8230;.” Diriwayatkan dari para imam maksum a.s. bahwa maksud ayat ini adalah Imam Mahdi a.s. beserta para sahabatnya.<a name="_ftnref11" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan dalam hadis yang lain kita membaca, “Ayat ini turun berkenaan dengan Mahdi a.s.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada ayat ini, Imam Mahdi a.s. beserta sahabatnya dikenal sebagai “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh”. Dengan demikian, terealisirnya revolusi semesta ini tanpa iman yang kokoh yang dapat menjauhkan segala bentuk kelemahan dan kekejian, serta tanpa amal saleh yang menjadi kunci pembuka jalan untuk perbaikan semesta tidak akan mungkin dapat terwujud. Mereka yang berada dalam penantian memiliki agenda semacam ini. Di samping informasi yang dimilikinya harus ditingkatkan, ia juga harus berupaya untuk memperbaiki amalan-amalannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang seperti ini tidak hanya akan memberikan kabar gembira untuk selainnya demi terwujudnya pemerintahan Imam Mahdi a.s. dan tidak juga bekerja sama dengan kaum dzalim. Mereka selalu mengutamakan amal saleh. Mereka bukan penakut dan lemah yang takut kepada siapa saja, termasuk kepada bayangannya sendiri. Mereka juga bukan orang-orang malas, tanpa gairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah efek konstruktif keyakinan terhadap konsep kebangkitan Imam Mahdi a.s. dalam komunitas Islam.<a name="_ftnref12" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu, ia juga harus berusaha untuk meningkatkan ilmu dan imannya, dan berupaya maksimal untuk memperbaiki amal dan perbuatannya.</p>
<h5 style="text-align: justify;">
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref1">[1]</a> Ad-Durr al-Mantsûr, jilid 6, hal. 379 dalam penafsiran surat al-Bayyinah [98], ayat 7.</p>
<p><a name="_ftn2" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref2">[2]</a> Syawâhid at-Tanzîl, jilid 2, hal. 357.</p>
<p><a name="_ftn3" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref3">[3]</a> Idem, hal. 359.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref4">[4]</a> Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 9, hal. 22.</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref5">[5]</a> Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 9, hal. 161.</p>
<p><a name="_ftn6" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref6">[6]</a> Pada tragedi Karbala disebutkan bahwa Imam Husain a.s. pada malam Asyura membaca doa sembari menyatakan apresiasi dan respek terhadap para sahabat dan penolongnya. Imam Husain a.s. menarik bai’at mereka, sehingga mereka bebas ke mana pun mereka hendak pergi. (Akan tetapi, mereka tetap setia kepada Imam Husain a.s.). Silakan rujuk Al-Kâmil, karya Ibn Atsir, jilid 4, hal. 57.</p>
<p><a name="_ftn7" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref7">[7]</a> Tafsir Nemûneh, jilid 22, hal. 71.</p>
<p><a name="_ftn8" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref8">[8]</a> Al-Mahâsin sesuai dengan nukilan Bihâr al-Anwâr, cetakan lama, jilid 13, hal. 136.</p>
<p><a name="_ftn9" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref9">[9]</a> Al-Kâfî, sesuai dengan nukilan dari Bihâr al-Anwâr, jilid 13, hal. 137.</p>
<p><a name="_ftn10" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref10">[10]</a> Al-Kâfî, sesuai dengan nukilan dari Bihâr al-Anwâr, jilid 13, hal. 136.</p>
<p><a name="_ftn11" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref11">[11]</a> Bihâr al-Anwâr, cetakan lama, jilid 13, hal. 14.</p>
<p><a name="_ftn12" href="http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/020/01.htm#_ftnref12">[12]</a> Tafsir Nemûneh, jilid7, hal. 378.</p>
<p>Sumber al-shia.org</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/20/imamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

