<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Akhlak Pecinta Ahlulbait</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/24/akhlak-pecinta-ahlulbait/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/24/akhlak-pecinta-ahlulbait/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 14:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Shaduq

1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Oleh: Syaikh Shaduq<br />
<em><br />
1. </em>Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: <em>“Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya,  Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan,  kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang,  anak-anak yatim, jujur, membaca Quran,  menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”.</em> Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw,  kami mengenal  mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. ikh Shâduq (305-381)</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau  bermazhab kepada orang-orang yang hanya mengatakan aku cinta Ali as dan berwali kepadanya, dan jika ada yang mengatakan  aku cinta kepada rasul dan dan Rasulullah lebih baik dari Ali as,  tapi kemudian tidak mengikuti jalannya tidak mengamalkan sunnahnya maka kecintaannya itu tidak bermanfaat sedikitpun. Maka bertakwalah kepada Allah dan beramalah karena Allah,  karena tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapapun.  Hamba yang paling dicintai dan dihormati di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang paling mentaati-NYA.Wahai Jabir seseorang hamba tidak bisa mendekati Tuhannya kecuali dengan mentaati-NYA.  Arti dibebaskan dari Neraka tidak ada artinya dan tidak ada satupun diantara kalian yang menjadi hujjah bagi Allah. Siapa yang ta’at  itulah bagian dari kami dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah maka itu musuh kami, wilayah (kesetian) kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan dan kewara’an.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>2. </em>Imam Shadiq as mengatakan,: <em>“Syiah kami adalah ahli wara’, ahli ijtihad, penunai janji, amanah,  ahli zuhud, ahli ibadah,  suka sholat 51 raka’at sehari semalam, tahajud di malam hari,  shaum di siang hari,  membersihkan harta-harta mereka dan haji ke tanah suci.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>3. </em>Dari Muhammad bin Musa Al-Mutawakil dari Ahmad bin Abdullah dari Abi Abdillah ia mengatakan<em>,:“Tiada lain syiah Ali kecuali yang bersih perut dan kemaluannya,  beramal untuk tuhannya, mengharapkan pahala dan takut kepada siksa-NYA.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>4. </em>Muhammad bin Azlan mengatakan  aku bersama Aba Abdillah, kemudian seseorang masuk dan mengucapkan salam. Ia ditanya bagaimana orang-orang yang engkau tinggalkan.  Si lelaki yang datang tadi memuji-mujinya. Kemudian Aba Abdillah bertanya seberapa sering orang-orang kaya mereka mendatangi orang-orang miskin. Lelaki tadi menjawab sangat jarang. Kemudian ia ditanya lagi sejauhmana orang-orang kayanya menjenguk orang-orang miskin? . Lelaki tadi menjawab, <em>:“Tuan menyebutkan sifat-sifat yang tidak dimiliki mereka.  Abu Abdillah kemudian balik mengatakan,” Kenapa pula engkau menyebut mereka sebagai syiah?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">5.  Semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, Seorang rawi mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Aabadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far<em>,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait, demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-NYA,  Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan,  kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang,  anak-anak yatim, jujur, membaca Quran,  menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”.  Jabir kemudian mengatakan, “Wahai putra Rasulullah saw,  kami mengenal  mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Lalu aku bertanya,”Dimana bisa kutemukan orang-orang seperti itu?” Imam menjawab, “Mereka ada di pinggiran diantara pasar-pasar Itulah mereka yang dimaksud dengan firman </em><em>Allah</em><em> “merendahkan </em><em> hati  terhadap orang-orang mukmin dan berwibawa di depan orang-orang kafir.”</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><em>6. </em>Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Muhammad bin Husan bin Alwalid semoga Allah meridhai mereka dari Mufadhol bin Qais dan Abi Abdillah alaihi as. Beliau mengatakan, <em>: “Berapa syiah kami di Kufah?” Aku menjawab:” lima puluh ribu. Beliau lantas mengatakan: “Saya mengharapkan jumlahnya hanya 20</em>. Kemudian beliau mengatakan: <em>“Demi Allah aku harap di Kufah syiah kami hanya ada 25 orang yang mengetahui urusan kami dan  dan tidak berkata tentang kami kecuali dengan benar.”</em></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><em>7. </em>Meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Muhammad bin Majilwaih dari Abu Abdillah Berkata kepadanya Abu ja’far Ad-Dawaniqi di Hirah dimasa pemerintahan Abi Al-Abbas<em>,: ”Ya Aba Abdillah, bagaimana dengan Syiahmu yang mengeluarkan apa yang ada di dalam  hatinya  dalam satu majlis sehingga diketahui madzhabnya”.</em> Beliau mengatakan,: <em>“Itu karena memiliki kemanisan iman di dadanya dan karena manisnya  menjadi tampak sejelas-jelasnya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">8. Meriwayatkan sebuah hadis  kepadaku Ahmad bin Muhammmad bin Yahya al-‘Athor dari Muhammad bin Sadir  ia mengatakan Bahwa Abu abdillah mengatakan,: <em>“Jika tiba hari kiyamat makhluk-makhluk akan dipanggil dengan ibu-ibu mereka kecuali kami dan syiah kami karena tidak ada hubungan darah diantara kami.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">9. Meriwayatkan sebuah hadis dari  Muhammad bin Majilwaeh meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Umar bin Muhammad bin Abi Qosim dari Harun bin Muslim dari Musidah bin Shodaqo. Ia mengatakan Abu Abdilah ditanya tentang  syiah kami beliau menjawab<em>,:“Syiah kami yang mempelopori kebajikan dan menahan dari keburukan, menunjukkan hal-hal yang indah dan bersegera dalam melakukan perintah Tuhan, karena mengharapkan rahmatnya. Merekalah dari kami kembali kepada kami dan bersama kami dimana saja berada.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">10. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku  ia mengatakan telah meriwayatkan kepadanya Sa’ad bin Abdilllah dari Ali bin Abdul Aziz ia mengatakan Abu Abdillah mengatakan<em>,:“Ya Ali bin Abdil Aziz janganlah kau tertipu dengan tangisan mereka, karena ketakwaan itu adanya di hati.”</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><em>11. </em>Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Abdullah bin ja’far Alhumairi dari Mus’idah bin Shodaqoh dari Ashodiq, Rasulullah saw mengatakan,: <em>“Barang siapa yang   nestapa  karena perbuatan buruk dan memiliki perjalanan hidup yang baik  ialah orang mukmin.” </em></li>
<li><em>12. </em>Dengan sanad yang sama Abu  Abdilah mengatakan,: <em>“Alangkah jeleknya orang mukmin kalau dihinakan oleh keinginannnya.” </em>[Nano W]</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ket: Disadur dari kitab ‘Shifâtu as- Syiah’ karya Syaikh Shâduq (305-381)</p>
<p style="text-align: justify;">sumber ISLAT</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/24/akhlak-pecinta-ahlulbait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Kosmologi</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 22:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kosmologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Agama dan        Kosmologi
 Kosmologi        yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan        beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini        bisa dibangun?  Mungkinkan pengetahuan empiris dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/multiverse2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-485" title="multiverse" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/multiverse2-300x243.jpg" alt="" width="192" height="156" /></a>Agama dan        Kosmologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> Kosmologi        yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan        beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini        bisa dibangun?  Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan        masalah-masalah prinsipal kosmologis?  Dimanakah posisi tasawwuf        dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?  Artikel  ini        akan menjawabnya dengan penjelasan  yang lugas dan sesederhana        mungkin.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Definisi Agama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bicara soal agama, tidak bisa        tidak kita harus memahami terlebih dahulu devinisi agama.  Dalam        bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara bahasa berarti ketataan,        pahala dsb.  Dalam istilah, Din berarti  keyakinan kepada Sang        Pencipta manusia dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesuai        dengan keyakinan ini.  Atas dasar ini orang yang tidak meyakini        adanya Sang Pencita dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai        kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural        disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis).  Sebalik orang         yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang        beragama, sekalipun keyakinannya atau ritus-ritus agamanya mengalami        penyimpangan dan khurafat.  Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak        dan batil.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama        yang hak adalah agama yang mengandung keyakinan yang sesuai dengan        kenyataan serta membawa petunjuk kepada perilaku-perilaku yang memiliki        jaminan yang valid untuk menggapai kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ushul        dan Furu’</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dengan pengertian terminologis agama        tadi jelaslah bahwa agama setidaknya terdiri dari dua elemen.         <em>Pertama</em>, akidah atau keyakinan-keyakinan yang dilandasi dengan        prinsip dan dasar yang valid.   <em>Kedua</em>, hukum atau        perintah-perintah amaliah yang sesuai dengan dasar-dasar        akidah.   Dengan demikian, tepatlah kiranya jika elemen akidah        setiap agama disebut ‘ushul’  (pokok-pokok) sedangkan elemen hukum        amaliahnya disebut furu’ (cabang).  Dua istilah ini oleh para ulama        Islam juga lazim disebut akidah Islam dan hukum Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi dan        Ideologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Istilah kosmologi dan ideologi        artinya tak jauh berbeda satu dengan yang lain.   Arti kosmologi        antara lain ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang        tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai        ‘ke-ada-an’ (wujud).  Sedangkan arti ideologi antara lain ialah        serangkaian pandangan universal yang tersistematis mengenai perilaku        manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai        dua pengertian ini bisa dikatakan bahwa rangkaian akidah dan ushul setiap        agama adalah kosmologi agama ini sendiri, sementara sistem universal        hukum-hukum amaliahnya adalah ideologinya, dan keduanya diterapkan sesuai        ushul dan furu’ agama ini.  Patut diingat bahwa istilah ideologi        tidak mencakup hukum-hukum parsial sebagaimana kosmologi juga tidak        mencakup keyakinan-keyakinan parsial.  Selain itu, kata ideologi juga        sering diterapkan pada pengertian umum yang mencakup        kosmologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi Teisme dan Kosmologi        Materialisme </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Di tengah umat manusia terdapat aneka        ragam kosmologi.  Toh demikian, dengan pertimbangan diterima atau        tidaknya alam immateri atau supranatural semuanya bisa dibagi dalam        dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme.         Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis),        sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Ada banyak paham yang        membidani lahirnya materialisme, dan diantaranya yang paling kesohor ialah        Materialisme Dialektik yang menjadi elemen filosofis ajaran        Marxisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari        keterangan di atas jelas bahwa penerapan istilah kosmologi lebih luas        daripada istilah keyakinan atau akidah agama, karena kosmologi juga        meliputi paham-paham ateisme dan materialisme sedangkan akidah agama tidak        mencakupnya.  Ini serupa dengan istilah ideologi yang sebenarnya        hanya mencakup rangkaian hukum-hukum agama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Agama Samawi dan        Ushulnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Tentang proses munculnya berbagai        agama para ahli sejarah agama dan sosiolog berbeda pendapat.  Namun,        berdasarkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks keislaman (nash), agama        muncul sejak manusia itu ada.  Manusia pertama adalah Nabi Adam as        yang merupakan nabi penyeru Tauhid (monoteisme), sedangkan keberadaan        agama–agama yang mengandung paham-paham syirik (politeisme) tak lain        adalah akibat penyelewengan, distorsi, dan tendensi-tendensi individual        maupun kelompok.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama-agama monoteisme yang merupakan        agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang        kolektif.  <em>Pertama</em>, keyakinan kepada Tuhan Yang Esa.        <em>Kedua</em>, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia        di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika        hidup di alam dunia.  <em>Ketiga</em>, keyakinan kepada        pengutusan  para Nabi oleh Allah SWT untuk menuntun umat manusia        kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga        prinsip ini pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan        fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak yaitu, apa dan siapakah        kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini?  Apakah akhir        dari kehidupan ini?  Dan apakah yang bisa dijadikan sebagai jalur        terbaik untuk menjalani program hidup?  Adapun kandungan program yang        dapat dipelajari dari jalur wahyu yang terjamin kebenarannya tak lain        ialah ideologi religius yang terbangun berlandaskan kosmologi        teisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan-keyakinan prinsipal        memiliki berbagai konsekwensi, korelasi, akses, dan rincian-rincian yang        keseluruhannya membentuk konsetalasi keyakinan religius.         Perselisihan dalam hal-hal inilah yang menumbuh-biakkan berbagai aliran        keagamaan, mazhab, dan sekte.  Perselisihan mengenai status kenabian        sebagian nabi serta penentuan kitab suci yang valid, misalnya, telah        memicu perselisihan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam.         Perselisihan ini kemudian membawa akses berupa perselisihan-perselihan        lain dalam keyakinan dan tradisi yang sebagian diantaranya tidak sejalan        dengan keyakinan-keyakinan prinsipal.  Contohnya adalah keyakinan        trinitas dalam agama Kristen yang jelas-jelas berseberangan dengan paham        monoteisme, walaupun umat Kristiani tetap berusaha mengemas keyakinan        trinitas ini dengan penjelasan-penjelasannya sendiri.  Dalam        Islampun, umat Nabi Besar Muhammad saww juga terpecah menjadi Ahlussunnah        dan Syiah akibat perselisihan mengenai mekanisme penentuan para pengganti        Rasul saww.  Syiah meyakini bahwa yang berhak menentukannya hanyalah        Allah SWT, sementara Ahlussunnah meyakini bahwa yang menentukannya adalah        umat Islam sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil,        Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan adalah keyakinan yang paling        fundamental dan prinsipal dalam semua ajaran agama        samawi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masalah Masalah Prinsipal        Kosmologis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Ketika manusia berniat memecahkan        berbagai persoalan fundamental kosmologis dan mengenal ushuluddin yang        benar, pertanyaan yang pertama kali mencuat ialah apakah jalan pemecahan        masalah-masalah ini?  Bagaimanakah pengetahuan-pengetahuan yang        fundamental bisa diserap dengan benar? Di tengah berbagai metode yang ada,        metode manakah yang valid untuk memperoleh pengatahuan-pengetahuan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua        pertanyaan ini dibahas secara rinci dalam epistemologi, yaitu satu        disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan        metode penalaran manusia dalam memperoleh pengetahuan.  Kita di sini        akan membicarakan masalah ini sekadarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbagai Jenis        Pengetahuan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dari satu aspek tertentu        pengetahuan-pengetahuan manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat        kategori:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, pengetahuan empiris. Pengetahuan        ini diperoleh manusia dengan mengandalkan organ-organ inderawi, kendati        akal juga berperan dalam eksepsi dan generalisasi pengetahuan-pengetahuan        empiris.  Pengetahuan empiris difungsikan dalam ilmu-ilmu empiris        semisal kimia, fisika, dan biologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, pengetahuan rasional.         Pengetahuan ini dibentuk oleh konsepsi-konsepsi yang diserap oleh akal        pikiran.  Dalam pengetahuan ini peranan akal sangat fundamental        kendati adakalanya persepsi-persepsi empiris masih digunakan sebagai        sumber serapan konsepsi atau digunakan sebagai bagian dari premis dalam        silogisme.  Ruang gerak pengetahuan ini meliputi ilmu logika, ilmu        filsafat, dan ilmu matematika.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>,  pengetahuan yang diterima        begitu saja (<em>ta’abbudi)</em>.  Pengetahuan ini memiliki aspek        sekunder dengan pengertian bahwa ilmu ini didapat berdasarkan        pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah dibuktikan sebagai sumber        yang valid dan punya otoritas. Dengan kata lain pengetahuan ini diperoleh        dari berita yang disampaikan oleh pembawa kabar yang terbukti bisa        dipercaya. Contoh kongretnya adalah pengetahuan yang diperoleh para        penganut agama dari pemuka agamanya.  Pengetahuan ini adakalanya        membentuk keyakinan yang jauh lebih kuat daripada keyakinan-keyakinan yang        diperolehnya dari pengalaman-pengalaman empiris.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat,        pengetahuan intuitif (<em>syuhudi</em>).  Tak seperti  tiga        kategori pengetahuan di atas, pengetahuan ini bersentuhan langsung dengan        obyeknya tanpa perantara gambaran subyetif.  Karena itu, ilmu atau        pengetahuan ini tidak mungkin salah.  Namun demikian, biasanya apa        diklaim sebagai ilmu syuhudi atau irfani pada hakikatnya adalah        interpretasi subyektif dari sesuatu yang telah disaksikan.         Interpretasi inilah yang bisa salah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbagai Jenis        Kosmologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Berdasarkan klasifikasi di atas,        kosmologi bisa dibagi dalam empat bagian sebagai  berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, kosmologi ilmiah.  Maksudnya        ialah manusia membangun kosmologi universalnya mengenai alam semesta        berdasarkan hasil-hasil ilmu pengetahuan empiris.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, kosmologi filosofis yang dicapai        melalui proses argumentasi-argumentasi rasional.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, kosmologi yang diperoleh melalui        keimanan kepada para pemimpin agama sehingga semua kata-kata mereka        diyakini sebagai kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>, kosmologi irfani yang diperoleh        melalui jalur intuisi atau <em>mukasyafah, syuhud, dan isyraq</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya sekarang ialah apakah        semua masalah fundamental kosmologis bisa dipecahkan secara seimbang        melalui semua bagian kosmologi di atas?  Ataukah ada satu diantaranya        yang harus diprioritaskan atas yang lain?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Evaluasi dan Tinjauan        Kritis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Seperti diketahui, ruang gerak        pengetahuan empiris hanya terbatas pada fenomena-fenomena alam materi.        Maka dari itu, hasil-hasil ilmu empiris tidak bisa mengenal        fondasi-fondasi kosmologi dan menyelesaikan masalah-masalah kosmologis        yang letaknya berada di luar peta ilmu pengetahuan empiris.  Ilmu        empiris tidak bisa mengisbatkan atau menafikannya. Hasil-hasil riset di        laboratorium, misalnya, tidak akan bisa mengkonfirmasikan atau menolak        keberadaan Tuhan.  Ini tak lain karena pengalaman empiris sama sekali        tidak akan bisa menjangkau alam immateri dan oleh sebab itu pengalaman ini        jelas tidak akan bisa mengisbatkan atau menafikan sesuatu yang berada di        luar zona alam materi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan        demikian, kosmologi empiris lebih menyerupai fatamorgana.  Karenanya,        kata-kata ‘kosmologi’ dalam pengertian yang sebenarnya tidak bisa        diterapkan pada pandangan-pandangan universal empiris.  Kita hanya        bisa menyebutnya sebagai  Ilmu Pengetahuan Alam Materi.  Jadi,        ilmu ini tidak akan bisa menjawab berbagai persoalan prinsipal menyangkut        kosmologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengetahuan-pengetahuan         ta’abbudi juga demikian.  Sebagaimana yang dijelaskan tadi,        pengetahuan ta’abbudi bersifat sekunder dalam pengertian bahwa pengetahuan        ini bisa diyakini setelah sumbernya bisa dibuktikan valid        sebelumnya.  Jadi, sebelumnya harus bisa dibuktikan kenabian        seseorang yang menjadi nara sumber pengetahuan itu.  Sebelum ini pun        harus pula dibuktikan keberadaan Tuhan, Zat yang mengutus nabi untuk        membawa kabar (baca: pengetahuan).  Dan keberadaan Pengutus nabi        serta kenabian orang yang diutus-Nya jelas tidak bisa dibuktikan dengan        pesan (baca: pengetahuan) yang dibawa oleh nabi.  Misalnya,        keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan dengan pernyataan        Al-Quran:“Tuhan itu ada”. Dengan demikian, metode ta’abbudi juga tidak        bisa menyelesaikan masalah-masalah prinsipal kosmologis.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun        berkenaan dengan motode irfani, syuhudi, intiusi, atau yang juga disebut        mistis kita perlu memberikan penjelasan secara agak detail melalui        beberapa poin sbb:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>,  Kosmologi adalah pengetahuan        yang terdiri dari konsepsi-konsepsi subyektif (<em>mafahim dzihniah</em>),        sementara dalam intuisi sama sekali tidak ada <em>mafahim        dzihniah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, untuk menjelaskan dan        menginterpretasi apa yang diketahui seseorang dengan jalan intuisi        sangatlah memerlukan kepiawaian yang besar dalam berpikir, dan ini tidak        akan bisa dicapai kecuali dengan latar belakang jerih payah berpikir dan        analisis-analisis filosofis yang panjang.  Jika tidak, maka seseorang        yang mengalami intuisi akan terjebak pada penggunaan kata-kata yang ambigu        sehingga bisa menjadi penyebab timbulnya kesesatan dan        penyelewenangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, dalam banyak kasus, hakikat yang        diketahui seseorang melalui intuisi bisa mengundang kebingungan bagi orang        ini sendiri manakala dia mencoba memberikan refleksi dan interpretasi        subyektif.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>, diketahuinya hakikat-hakikat yang        setelah diinterpretasikan oleh pikiran bisa kita sebut kosmologi        bergantung kepada proses penempuhan jalan suluk, sedangkan penerimaan        metode suluk ini sendiri juga memerlukan teori-teori dasar dan        masalah-masalah prinsipal dalam kosmologi.  Jadi, masalah-masalah ini        harus terpecahkan terlebih dahulu sebelum dimulai perjalanan suluk,        sedangkan pengetahuan-pengetahuan intiusi berada pada tahap yang paling        akhir. Suluk, irfan, atau yang disebut tasawwuf hanya akan bisa dialami        oleh seseorang jika dia benar-benar ikhlas berusaha menempuh jalan Allah        SWT,  dan usaha ini hanya bisa ditempuh oleh yang orang yang memiliki        pengetahuan sebelumnya tentang Allah dan jalan pengabdian        kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah        semua metode di atas terbukti tidak bisa difungsikan dalam penyelesaian        masalah-masalah prinsipal kosmologis, maka tinggallah satu jalan yang bisa        dijadikan alternatif, dan itu ialah jalan penalaran rasional.  Dengan        begitu, maka kosmologi yang yang valid dan realistis ialah kosmologi        filosofis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguhpun demikian, ini bukan        berarti bahwa untuk menemukan kosmologi  yang benar semua        persoalan-persoalan filosofis harus bisa dipecahkan.  Sebaliknya,        pemecahan beberapa persoalan filosofis yang sederhana dan mendekati        aksiomatis sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang merupakan        masalah yang paling fundamental dalam kosmologi.  Selain itu,        menjadikan metode penalaran rasional (<em>ta’aqqul</em>)  sebagai        satu-satunya alternatif  bukan berarti bahwa  metode-metode lain        tidak bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kosmologis,        karena banyak sekali argumentasi-argumentasi rasional yang bisa        dikemukakan melalui premis-premis yang didapat dari ilmu-ilmu empiris dsb.        (Artikel ini disadur dari buku Amuzashe Aqaid yang ditulis  Ayatullah        Misbah Yazdi untuk para pemula pelajar akidah.)</p>
<p style="text-align: justify;">sumber irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
