<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#124; Syi&#039;ah Indonesia &#124; Syiah Indonesia &#124; Syi&#039;ah &#124; Syiah &#124; Syi&#039;ah 12 Imam &#124; Syi&#039;ah Imamiyah Itsna Asyar &#124; Ahlulbait Indonesia &#124; Ahlulbayt Indonesia &#124; Video Ceramah &#124; Video doa &#124; Audio Ceramah &#124; Audio Do&#039;a &#124; Artikel Islam &#187; Sejarah-Tokoh</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/sejarah-tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 03:24:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.2</generator>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 6)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2011/06/17/sejarah-rasulullah-saww-bagian-6/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2011/06/17/sejarah-rasulullah-saww-bagian-6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 09:32:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAWW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/2011/06/17/sejarah-rasulullah-saww-bagian-6/</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 6) Perang Mu&#8217;tah Setelah tentara muslimin berhasil menundukkan kekuatan kaum Yahudi di Kheibar, dan setelah keamanan dan stabilitas berhasil ditegakkan di Hijaz, maka Rasul Allah saaw berpikir untuk memusatkan dakwahnya kepada penduduk di kawasan-kawasan perbatasan dengan Syam. Untuk itu Rasul Allah saaw mengutus salah seorang sahabat, bernama Harits bin Umair Al-Azdi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg" alt="" width="320" height="310" /></a></p>
<p><strong>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 6)</strong></p>
<p><strong>Perang Mu&#8217;tah </strong></p>
<p>Setelah tentara muslimin berhasil menundukkan kekuatan kaum Yahudi di Kheibar, dan setelah keamanan dan stabilitas berhasil ditegakkan di Hijaz, maka Rasul Allah saaw berpikir untuk memusatkan dakwahnya kepada penduduk di kawasan-kawasan perbatasan dengan Syam. Untuk itu Rasul Allah saaw mengutus salah seorang sahabat, bernama Harits bin Umair Al-Azdi, dengan membawa sepucuk surat untuk diserahkan kepada pemimpin Ghasasinah, bernama Al-Harits bin Abi Syimr Al-Ghassani.</p>
<p>Akan tetapi, setelah menerima dan membaca surat Rasul Allah, pemimpin Ghasasinah ini menangkap dan membunuh utusan Nabi di suatu tempat bernama Mu&#8217;tah. Perbuatan membunuh utusan ini dianggap sebagai pelanggaran besar terahdap peraturan yang berlaku saat itu, yang melarang membunuh utusan yang datang dari pihak musuh sekalipun. Hal ini membuat Nabi marah dan beliau memutuskan akan menghukum pembunuh utusan beliau.</p>
<p>Selain itu, sebelumnya pun Rasul Allah saaw telah mengutus 15 orang dari sahabat beliau ke kawasan Syam, untuk mengajak penduduk negeri itu kepada Islam. Akan tetapi penduduk setempat menangkap mereka semua. Kemudian terjadi perlawanan dan pertempuran diantara mereka. Oleh karena kekuatan yang sangat tidak seimbang, maka semua sahabat Nabi tersebut gugur syahid, kecuali satu orang yang terluka dan berhasil kembali kepda Nabi di Madinah dan memberitakan peristiwa tersebut.</p>
<p>Dua peristiwa tersebut telah menciptakan kondisi politik yang panas diantara kedua belah pihak. Kemudian pada bulan Jumadil Awal, Rasul Allah saaw memerintahkan kaum muslimin untuk berjihad, dan beliau mengutus tentara berjumlah 3000 orang. Rasul Allah saaw menunjuk Ja&#8217;far bin Abitalib sebagai panglima perang, dengan catatan, jika ia gugur, maka Zaid bin Harits, menggantikannya. Jika Zaid gugur pula, maka Abdyullah bin Rawwahah menggantikannya. Jika Abdullah juga gugur, maka mereka harus mengambil kesepakatan untuk mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai panglima.</p>
<p>Rasul Allah saaw pun menyempatkan diri untuk menghantarkan mereka dan mengucapkan selamat jalan kepada tentara muslimin tersebut, seraya mendoakan : Semoga Allah membela kalian, dan mengembalikan kalian dalam keadaan selamat, dan dengan kemenangan. Di Syam, Al-Harits bin Abi Syimr Al-Ghassani, yang berkuasa di Bashro, telah mempersiapkan pasukan berjumlah 100.000 orang untuk menahan langkah maju tentara muslimin.</p>
<p>Sementara itu, Kaisar Syam sendiri juga mempersiapkan 100.000 tentara untuk berjaga-jaga, dan akan turun ke medan pertempuran jika diperlukan. Sebagaimana diketahui, saat itu Syam dikuasi oleh kekaisaran Romawi, dan ada beberapa penguasa Arab yang dijajah dan menyatakan tunduk kepada kaisar Romawi. Mereka ini adalah negara-negara blok Romawi. Sebagaimana di zaman kita ini kita mengenal ada blok barat dan blok timur, maka saat itu pun ada blok Romawi dan blok Persia. Negeri Syam yang merupakan blok Romawi tentu didukung oleh kekuatan Romawi.</p>
<p>Kekuatan dua pasukan yang akan bertempur ini jelas tidak seimbang. Peperangan pun berlangsung selama beberapa hari. Di pihak muslimin, satu persatu panglima tentaranya gugur. Mulai dari Ja&#8217;far, Zaid dan Abdullah bin Rawahah. Kemudian pasukan muslimin sepakat mengangkat Khalid bin Walid sebagai penglima. Khalid pun menyusun taktik perang yang tidak dikenal sebelumnya. Ia membagi tentara muslimin menjadi dua bagian. Bagian pertama tetap berada di garis peperangan, sedangkan bagian kedua diminta untuk memisah dan menempatkan diri di jarak yang cukup jauh. Semua itu dilakukan di malam hari dan dengan kerahasiaan yang ketat.</p>
<p>Pasukan yang kedua ini diminta untuk bergabung dengan pasukan pertama yang berada di medan perang, di pagi hari begitu peperangan telah dimulai lagi. Maka persis sebagaimana yang tekah diatur, ketika besok paginya perang berkobar lagi antara pasukan muslimin yang bertahan di medan perang dengan pasukan musuh dari Syam, pasukan muslimin yang tadi malam memisahkan diri di suatu tempat, berdatangan untuk bergabung.</p>
<p>Pasukan musuh menyangka bahwa yang datang itu adalah bala bantuan baru dari Madinah, yang menambah jumlah pasukan muslimin. Hal itu menyebabkan pasukan musuh kehilangan nyali, sehingga pasukan muslimin kemudian berhasil mengalahkan mereka dan kembali ke Madinah dengan kemenangan. Rasul Allah saaw sangat sedih ketika mendengar bahwa Ja&#8217;far bin Abi Thalib gugur di medang perang Mu&#8217;tah. Dan tiap kali mengingat peristiwa tersebut beliau menangis.</p>
<p>Dalam sejarah disebutkan bahwa kedua tangan Ja&#8217;far terpotong oleh pedang musuh, sebelum kemudian beliau gugur syahid. Rasul Allah saaw mengatakan bahwa Ja&#8217;far mendapat hadiah berupa dua sayap yang membuatnya dapat terbang di surga. Untuk itulah kemudian Rasul Allah saaw menjulukinya dengan Ja&#8217;far At-Thayyar yang artinya kira-kira Ja&#8217;far yang Terbang . Selain itu, Rasul Allah saaw, tentu saja atas perintah Allah swt, juga memberikan hadiah sebagai cara untuk mengenang Ja&#8217;far At-Thayyar, dengan mensyareatkan suatu amalan sunnah berupa salat, yang dinamai sebagai salat Ja&#8217;far At-Thayyar. Salat ini dikenal di kalangan Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah dengan nama salat Tasbih. Meskipun di kalangan Syiah saja salat ini dikenal dengan nama salat Ja&#8217;far, akan tetapi ia dilakukan bukan untuk Ja&#8217;far At-Thayyar. Namanya saja salat Ja&#8217;far, tetapi fadlilah, keutamanan dan pahalanya yang sangat besar, adalah bagi siapa saja yang melakukannya.</p>
<div id="ui-resize" class="ui-resize" style="position: absolute; z-index: 1000; width: 180px; height: 174px; top: -1px; left: -1px; display: none;">
<p><br class="spacer_" /></p>
</div>
<div id="ui-resize" class="ui-resize" style="position: absolute; z-index: 1000; width: 180px; height: 174px; top: -1px; left: -1px; display: none;">
<p><br class="spacer_" /></p>
</div>
<div id="ui-resize" class="ui-resize" style="position: absolute; z-index: 1000; width: 180px; height: 174px; top: -1px; left: -1px; display: none;">
<p><br class="spacer_" /></p>
</div>
<div id="ui-resize" class="ui-resize" style="position: absolute; z-index: 1000; width: 180px; height: 174px; top: -1px; left: -1px; display: none;">
<p><br class="spacer_" /></p>
</div>
<div id="ui-resize" class="ui-resize" style="position: absolute; z-index: 1000; width: 180px; height: 174px; top: -1px; left: -1px; display: none;">
<p><br class="spacer_" /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2011/06/17/sejarah-rasulullah-saww-bagian-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 5)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/21/sejarah-rasulullah-saww-bagian-5/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/21/sejarah-rasulullah-saww-bagian-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2010 18:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAWW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 5) Perang Khandaq Setelah terjadinya perang Uhud yang merupakan pembalasan dendam suku Quresy atas kekalahan telaknya pada perang Badr, kekuatan kaum muslimin di Madinah mulai diperhitungkan. Munculnya kekuatan baru yang membawa simbol keagamaan baru dirasa oleh banyak suku Arab sebagai ancaman yang serius. Untuk itu, ketika Abu Sufyan meminta dukungan dana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="300" height="290" /></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 5)</strong></p>
<p><strong>Perang Khandaq</strong></p>
<p>Setelah terjadinya perang Uhud yang merupakan pembalasan dendam suku Quresy atas kekalahan telaknya pada perang Badr, kekuatan kaum muslimin di Madinah mulai diperhitungkan. Munculnya kekuatan baru yang membawa simbol keagamaan baru dirasa oleh banyak suku Arab sebagai ancaman yang serius. Untuk itu, ketika Abu Sufyan meminta dukungan dana dan tentara dari suku-suku tersebut untuk memerangi Madinah dan menghancurkan kaum muslimin, segera terkumpul pasukan dan dana yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">
Pada tahun kelima hijriyah, sekelompok orang Yahudi datang ke Mekah untuk memprovokasi kaum kafir Quresy agar menyerang kaum muslimin di Madinah. Untuk memperkuat pasukan, Quresy meminta bantuan suku-suku Arab lainnya yang memendam permusuhan dengan Rasulullah SAW. Dalam perang ini, Quresy juga meminta bantuan suku-suku Arab yang memiliki perjanjian militer dengannya. Akhirnya, Abu Sufyan berhasil menghimpun kekuatan sebesar 10 ribu tentara. Jumlah ini dipandang amat besar untuk menyerang sebuah kota yang jumlah penduduknya baik laki-laki, perempuan, anak kecil maupun orang lanjut usia, hanya sekitar 10 ribu orang.</p>
<p style="text-align: justify;">
Ketika berita rencana serangan pasukan besar yang dikenal dengan Ahzab ini sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau mengumpulkan para sahabatnya untuk meminta pendapat mereka. Pada saat itu, Salman Al-Farisi, sahabat Nabi yang berasal dari negeri Persia mengatakan, bahwa orang-orang di negerinya biasa menggali parit ketika mengkhawatirkan serangan musuh. Pendapat ini akhirnya disetujui oleh Nabi SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">
Rasul memerintahkan para sahabatnya untuk menggali parit di sepanjang wilayah utara kota Madinah. Sebab, daerah utaralah satu-satunya pintu yang mudah untuk memasuki kota Madinah, mengingat bukit-bukit bebatuan yang membentengi kawasan timur dan barat kota ini sehingga musuh tidak mungkin menyerang dari sana. Bukit-bukit itu juga relatif menutupi kawasan selatan kota Madinah, meski tetap meninggalkan celah-celah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">
Selama enam hari, seluruh kaum muslimin termasuk pemimpin mereka, yaitu Rasulullah SAW bahu membahu menggali parit. Setelah parit siap, pasukan kaum muslimin mengambil posisi pertahanan di dalam kota Madinah. Dan pasukan pemanah juga telah siap di posisi masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">
Di saat seperti itu, Yahudi bani Quraidhah yang tinggal di Madinah merobek isi perjanjian damai dengan Rasulullah. Tidak hanya itu, mereka juga bersiap-siap melakukan pengkhianatan dan membantu pasukan Ahzab untuk menghabisi kaum muslimin. Akibatnya, umat Islam menghadapi musuh yang besar di luar dan musuh di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">
Pasukan kafir terperangah ketika menyaksikan bentangan parit yang menghalangi gerak maju mereka. Bangsa Arab saat itu tidak mengenal strategi pertahanan dengan membuat parit. Di luar parit pasukan Ahzab mendirikan kemah. Beberapa kali pasukan berkuda Ahzab berusaha menyeberang parit, namun usaha mereka gagal setelah pasukan muslimin menghalau mereka dengan hujan anak panah.<br />
Suatu ketika, beberapa jawara Ahzab termasuk Amr bin Abdi Wad berhasil menyebrangi parit melalui bagian yang relatif sempit. Di sanalah, Amr dengan congkaknya menantang siapa saja yang berani untuk bertarung dengannya. Hanya Ali bin Abi Thalib yang menjawab tantangan itu, karena Amr bin Abdi Wad dikenal sebagai pahlawan Arab yang keberaniannya paling kesohor. Nabi SAW melilitkan serbannya di kepala Ali dan mendoakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Ali yang mewakili kaum muslimin kini berhadap-hadapan dengan Amr yang mewakili kubu kaum kafir. Debu-debu beterbangan dan serunya pertarungan itu hanya bisa didengar dari dentingan suara pedang. Semua menantikan hasil pertarungan itu dengan hati berdebar-debar. Tak lama kemudian terdengar pekik takbir Ali yang menandakan terbunuhnya Amr di tangan pahlawan muslim ini. Kemenangan Ali atas Amr dipuji oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya. Beliau bersabda, pukulan Ali pada perang parit lebih mulia dari ibadah seluruh manusia dan jin.</p>
<p style="text-align: justify;">
Kekalahan Amr telah menebar kekecewaan dan keputus-asaan di hati kaum kafir. Bertiupnya badai yang memporakporandakan perkemahan mereka dan minimnya persediaan rumput untuk binatang ternak dan kuda-kuda mereka telah mengendurkan tekad untuk menyerang kota Madinah. Akhirnya Abu Sufyan yang menjadi komandan pasukan Ahzab memerintahkan untuk berkemas dan kembali ke Mekah.<br />
Kisah perang Ahzab secara cukup detail diceritakan oleh Allah swt dalam Al-Qur&#8217;an surah Al-Ahzab.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sebagaimana yang telah disinggung sebelum ini, ada tiga kabilah Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya. Mereka adalah kabilah Bani Qainuqa, bani Nadhir dan Bani Quraidhah. Dengan mereka inilah Nabi SAW mengikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Perjanjian ini dibuat untuk menciptakan suasana damai di Madinah antar beberapa kelompok untuk bisa hidup berdampingan dengan damai.</p>
<p style="text-align: justify;">
Namun ketiga kabilah Yahudi tersebut akhirnya melakukan pengkhianatan dan pelanggaran terhadap kesepakatan. Kabilah Bani Qainuqa dan kabilah bani Nadhir diusir dari Madinah kerena pengkhianatan mereka. Sedangkan bani Quraidhah mendapatkan hukuman yang lebih berat karena pengkhianatan mereka yang amat besar. Seperti yang telah dijelaskan tadi, di saat kaum muslimin Madinah menghadapi ancaman serangan pasukan Ahzab yang berjumlah sepuluh ribu orang, Yahudi bani Quraidhah merobek isi perjanjian damai mereka dengan Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok sedemikian besar sehingga mengancam keamanan seluruh Madinah. Setelah berakhirnya perang Ahzab atau perang Khandaq yang diwarnai dengan kepulangan pasukan kafir ke negeri masing-masing, Allah swt memerintahkan Nabi-Nya untuk mengepung dan menyerang bani Quraidhah. Dengan posisi yang terjepit dan mental yang telah melemah karena kepergian pasukan Ahzab, bani Quraidhah menyerah di tangan Nabi SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">
Nabi SAW memberikan wewenang kepada Saad bin Mu&#8217;adz, pemimpin Aus yang dulu sekutu dekat kelompok ini, untuk memutuskan hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap bani Quraidhah. Saad memutuskan untuk memenggal kepala orang-orang lelaki dari kelompok ini dan menawan anak kecil dan kaum wanitanya. Vonis ini disebut oleh Rasulullah sebagai vonis ilahi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/21/sejarah-rasulullah-saww-bagian-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Konsep Mahdiisme</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/karakteristik-konsep-mahdiisme/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/karakteristik-konsep-mahdiisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 14:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mahdiisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Setelah pembuktian teologis atas konsep Mahdiisme menurut Ahlul Bait a.s., kita akan memasuki tahap lain dari pembahasan ini, yaitu tahap pembahasan ciri-ciri konsep ini, dan pembuktian bahwa ciri-ciri tersebut adalah kenyataan yang berbasis pada fakta sejarah dan landasan syariat, dan bahwa kepercayaan pada konsep ini tidak melazimkan kerusakan akidah dan menentang  sejarah. Ciri-ciri tersebut adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/al-mahdi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-455" title="al-mahdi" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/al-mahdi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pembuktian teologis atas konsep Mahdiisme menurut Ahlul Bait a.s., kita akan memasuki tahap lain dari pembahasan ini, yaitu tahap pembahasan ciri-ciri konsep ini, dan pembuktian bahwa ciri-ciri tersebut adalah kenyataan yang berbasis pada fakta sejarah dan landasan syariat, dan bahwa kepercayaan pada konsep ini tidak melazimkan kerusakan akidah dan menentang  sejarah. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ciri Pertama: Kelahiran Imam  Mahdi a.s. Terjadi dalam Keserbarahasiaan yang Dikehendaki dan tak Terelakkan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan terbuktinya konsep Mahdiisme versi Ahlul Bait, tampak jelas salah satu konsekuensi yang paling menonjol dari konsep ini, yaitu bahwa kelahiran Imam Kedua Belas serbarahasia, sehingga memungkinkan beliau untuk mengalami kegaiban dari pandangan manusia dan tersembunyi di tempat aman yang telah ditentukan oleh Allah swt. sampai beliau diizinkan muncul sebagai bintang terakhir di langit Imamah. Beliau adalah imam kaum muslimin yang tidak ada lagi imam setelahnya. Fakta ini melazimkan suatu kehidupan yang serbarahasia pula dan umur yang panjang. Dengan demikian, ihwal prinsip Imamah tetap ada sepanjang sejarah melalui wujud seorang dari dua belas imam, apakah ia hidup ataupun gaib.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, tidak tepat jika dikatakan; kenapa kelahiran Imam Mahdi a.s. dan wujud suci beliau?setelah wafat sang ayah?tidak disaksikan dan tersentuh oleh orang yang ingin melihat beliau, sehingga kita dapat mempercayai wujud suci beliau? Karena jika demikian, kegaiban dan kesembunyian beliau dari pandangan mata tidak lagi memungkinkan beliau, dan beliau bukan lagi imam kedua belas, di samping jumlah para imam akan melebihi angka dua belas. Semua ini bertentangan dengan dalil-dalil hadis yang telah kami sebutkan. Maka itu, kelahiran serbarahasia beliau adalah konsekuensi yang lazim dari dalil-dalil tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah dijelaskan bahwa pembuktian atas fakta objektif suatu masalah, seperti masalah kelahiran, wujud dan kehidupan Imam Mahdi, tidak bisa hanya bersandar pada sejarah, selagi dari awal kita meyakini bahwa masalah ini sangat dirahasiakan, akan tetapi diperlukan pembuktian teologis sekaligus historis yang di dalamnya akidah memerankan tugas utama, sedang sejarah ber-fungsi sebagai pelengkap saja. Karena, kita sejak awal mengakui adanya para pengingkar dan peragu masalah ini selama masalah kelahiran Imam ini masih serba-rahasia, sedang mereka yang mengetahui kelahiran beliau adalah sedikit, sehingga terbuka lebar bagi pihak lain untuk mengingkari dan meragukan, bahkan pihak-pihak yang masih menjadi kerabat dekat beliau dan para pengikut khusus. Dan selama mereka tertutup dari hakikat yang misterius ini, maka tatkala mereka ditanya tentang kelahiran Imam Mahdi a.s., wujud suci dan kehidupan beliau, mereka akan mengingkarinya dan menuturkan apa yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa mereka tidak pernah melihat dan mendengar berita dan wujud sucinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, di sini kita tidak membicarakan ihwal materi yang bisa diindra dan dikenali, juga tidak mendiskusikan masalah yang tunduk secara penuh kepada pena sejarah, sehingga dalam kerangka pembuktian atau pengingkarannya kita menunggu data-data ahli sejarah dan perawi. Akan tetapi, kita akan membahas pokok masalah kegaiban itu sendiri, kendati bukan kegaiban mutlak, karena kita juga masih merasakan percikan-percikan yang dapat dirasakan dan diketahui oleh orang-orang terbatas; yaitu mereka yang mengetahui kelahiran beliau kemudian bersaksi, dan mereka yang mengetahui kegaiban panjang. Oleh karena itu, telah kami tegaskan bahwa sudut pandang Ahlul Bait terhadap konsep Mahdiisme adalah teologis.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, pengingkaran sebagian orang atas Mahdiisme tidak bisa dijadikan sebagai bukti historis dan alasan logis untuk memastikan ketiadaan wujud beliau selama kita meyakini sejak awal, bahwa masalah ini sangat rahasia. Dengan demikian, kita hanya dapat membahasnya dari sisi sejarah melalui kesaksian orang-orang yang pernah melihat dan mendengar beliau, dan percaya kepadanya, tanpa peduli lagi pada ungkapan para pengingkar yang menganggap masalah ini sebagai fenomena yang biasa dan tidak rahasia.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, pada pasal ini, kita akan mendudukkan pembahasan pada dua tema: pertama, menelaah bukti-bukti atas kelahiran dan keberlangsungan wujud suci beliau, dan kedua, mengkaji dalil-dalil para pengingkar.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Bukti-Bukti Sejarah atas Wujud</h3>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Mahdi a.s.</h3>
<p style="text-align: justify;">Tema ini adalah bagian yang sangat luas dari lembaran sejarah. Kita akan mengklasifikasikannya ke dalam beberapa poin:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. Kesaksian Imam Hasan Askari atas Kelahiran </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Putra Beliau; Imam Mahdi a.s.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini, terdapat riwayat yang sangat banyak yang dinukil oleh para perawi Syi’ah. Di antaranya, hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn Yahya dari Ahmad ibn Ishak dari Abi Hasyim Al-Ja’fari berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku berkata kepada Abu Muhammad; Imam Hasan Al-Askari a.s.: ‘Keagunganmu sungguh telah membuatku segan untuk bertanya kepadamu, maka izinkanlah aku bertanya!’ Beliau berkata: ‘katakan-lah!’ Aku berkata: “Wahai tuanku! Apakah kamu memiliki seorang anak?” Ia menjawab: “Ya”.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai hadis ini, kita tidak perlu lagi membahas sanad dan kandungannya. Kitab-kitab Rijal telah membuktikan kredibilitas Muhammad ibn Yahya, Abu Ja’far Al-Atthar Al-Qumi yang pusaranya sampai saat ini sangat terkenal dan selalu dikunjungi. Kitab-kitab itu juga memberikan kesaksian atas ketinggian posisi Ahmad ibn Ishak ibn Abdillah ibn Sa’ad ibn Malik ibn Al-Ahwash Al-Asy’ari, dan Abu Ali Qumi di sisi Imam Hasan Askari a.s, serta menegaskan kedudukan Dawud ibn Al-Qasim ibn Ishak ibn Abdillah ibn Ja&#8217;far ibn Abi-Thaib, dan Abu Hasyim Al-Ja’fari.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian lihatlah sedikitnya perawi di dalam sanad hadis ini, sehingga ia disebut dengan Qurbul Isnad (sanad yang pendek). Tentunya ini merupakan salah satu penguat bagi kesahihan sebuah hadis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>b. Kesaksian Sang Bidan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dia adalah saudari Imam, bibi seorang Imam dan putri seorang Imam, wanita Alawiyah yang suci, bernama Hakimah putri Muhammad Al-Jawad dan saudari Imam Hadi, bibi Imam Hasan Askari, saudari Imam Hadi a.s., bibi Imam Hasan Askari  a.s. yang telah menegaskan kesaksiannya atas kelahiran Imam Mahdi a.s. pada malam kelahiran beliau.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn2">[2]</a> Wanita inilah yang mengurusi persalinan Sayyidah Narjis, ibunda Imam Mahdi a.s. dengan izin ayahanda beliau, Imam Al-Askari a.s.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>c. Puluhan Saksi yang Melihat Imam Mahdi a.s.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat daftar panjang dari nama orang-orang  yang pernah melihat dan berhubungan dengan Imam Mahdi a.s., sebagaimana telah dicatat oleh sumber-sumber sejarah dan dikumpulkan oleh sebagian penulis dalam karangan khas mereka, seperti kitab Tafsiratul wali fi man ra’a al-Qaim al-Mahdi, karya Sayyid Hasyim Al-Bahrani. Ia  menyebutkan 79 nama yang telah melihat langsung Imam Mahdi di masa kanak-kanak dan di masa kegaiban singkat. Al-Bahrani juga menyebutkan sumber-sumber rujukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam catatan Syah Abu Thalib At-Tajlil At-Tabrizi, tak kurang dari tiga ratus empat orang yang telah melihat Imam Mahdi a.s. Syeikh Shaduq (wafat 381 H)?ulama besar yang hidup dekat dengan masa kegaiban singkat Imam?telah menghitung enam puluh empat orang yang pernah bersaksi melihat Imam. Mayoritas mereka adalah para wakil Imam<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn4">[4]</a> sendiri yang  berasal dari berbagai negeri.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara wakil-wakil Imam Mahdi ialah Al-Qasim ibn Al-‘Ala dari Azarbaijan, Muhammad ibn Ibrahim ibn Mahziyar dari Ahwaz, Hajiz al-Bilali dan Usman ibn Said Al-‘Amri, Muhammad ibn Usman ibn Said Al-‘Amri dan Al-Atthar dari Baghdad, Al-‘Ashimi dari Kufah, Ahmad ibn Ishaq dari kota Qum, Muhammad ibn Shadzan dari Naysabur, dan Al-Basami Muhammad ibn Abi Abdillah Al-Kufi Al-Asadi serta Muhammad ibn Shaleh dari Hamadan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun yang bukan wakil Imam  Mahdi dan telah melihat beliau ialah Ibnu Basyadzalah dari Isfahan, Al-Hashini dari Ahwaz, Ahmad ibn Al-Hasan, Ishaq penulis keluarga Bani Nubakht, Abu Abdillah Al-Khiabari, Abu Abdillah ibn Farukh, Abu Abdillah Al-Kindi, Abu Qasim ibn Abi Halis, Abu Qasim ibn Dabis, Masrur Ath-Thabbah budak Abu Hasan a.s., Neili dan Harun Al-Fazari dari Baghdad, Ahmad ibn Akhi Al-Hasan ibn Harun dan pamannya Hasan ibn Harun dari Dainawar,  Abu Ja&#8217;far Ar-Raffa’, Ali ibn Muhammad, Qasim ibn Musa, Ibnu Qasim ibn Musa, Abu Muhammad ibn Harun dan Muhammad ibn Muhammad Al-Kulaini dari kota Ray, Ali ibn Ahmad dan Mirdas dari kota Qazwin, Al-Hasan ibn An-Nader Husain ibn Ya’qub, Ali ibn Muhammad ibn Ishak, Muhammad ibn Ishak, dan Muhammad ibn Muhammad dari Qom, dan Abu Raja’ dari Mesir, Ja&#8217;far ibn Hamdan, Muhammad ibn Kisy-mard dan Muhammad ibn Harun dari Hamadan, lalu Ibnul A’jami, Ja’fari, Hasan ibn Al-Fadhl ibn Yazid dan ayahnya Al-Fadhl ibn Yazid serta Simsyathi dari Yaman. Sementara dari kaum Nasibi adalah Muhammad ibn Al-Wajna’. Syeikh Shaduq juga menyebutkan orang-orang yang telah melihat Imam dari negeri Syahrezur, Shaimarah, Fars Qabis dan Moro.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, Apakah mungkin puluhan nama yang kita sebutkan di atas telah bersepakat untuk berdusta, padahal kitab-kitab Rijal telah menetapkan ke-tsiqah-an mereka?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>d. Perlakuan Penguasa Dinasti Abbasiyah </strong></p>
<p style="text-align: justify;">terhadap Anak Kecil</p>
<p style="text-align: justify;">Menyusul wafat Imam Hasan Al-Askari a.s., penguasa dinasti Abbasiyah memperlakukan keluarga beliau dengan penuh kewaspadaan akan berita kelahiran seorang bayi yang dirahasiakan. Mereka senantiasa menyelidikinya dengan berbagai cara dan kekuatan yang mereka miliki. Dalam rangka itu, Khalifah Al-Mu’tamid (meninggal 279 H) memerintahkan pasukannya untuk menginterogasi Imam Al-Askari a.s. dan menggeledah secara teliti untuk melacak ihwal Imam Mahdi a.s. Ia  juga memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang diwasiati oleh Imam Al-Askari a.s. Dalam misi ini, Al-Mu’tamid dibantu oleh Ja&#8217;far al-Kadzzab (pendusta) lalu melakukan penangkapan, intimidasi, diskriminasi, penghinaan dan pelecehan.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Semua ini terjadi ketika Imam Mahdi masih berusia lima tahun. Al-Mu’tamid tidak memandang umur dan tidak memperdulikan usia beliau setelah dia percaya  bahwa anak kecil ini akan menghancurkan kekuasaan dinasti. Sebagaimana telah tersebar dalam hadis, bahwa imam kedua belas dari Ahlul Bait a.s. akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi oleh kezaliman. Ihwal Al-Mu’tamid bagi Imam Mahdi seperti Fir’aun bagi Musa yang dilepaskan oleh ibunya di laut (sungai Nil) saat masih bayi lantaran takut kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya oleh Al-Mu’tamid, hal ini juga diketahui oleh penguasa sebelumnya seperti Al-Mu’taz dan Al-Muhtadi. Oleh karena itu, Imam Al-Askari bersikeras dan berusaha agar kabar kelahiran putranya, Imam Mahdi a.s., tidak tersebar kecuali di antara para sahabat-sahabat pilihan dan budak-budak beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap dan perlakuan penguasa itu menyingkapkan sebuah fakta bahwa mereka dan umat manusia telah memahami secara benar, bahwa hadis Jabir ibn Samarah tidak sesuai dengan harapan mereka dan harapan para pendahulu mereka dari dinasti Umawiyah, dan bahwa  satu-satunya mishdaq (personifikasi) dari hadis tersebut adalah Ahlul Bait Nabi a.s. sebagai bandara wahyu dan Al-Quran.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yakin bahwa anak itu adalah Mahdi yang dinantikan yang telah disinggung oleh hadis-hadis yang mutawatir. Kalau bukan karena keyakinan ini, lalu bahaya apa yang dapat mengancam eksistensi mereka dari wujud seorang anak kecil yang umurnya tak lebih dari lima tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ulama mengatakan, jika kelahiran itu memang betul tidak terjadi, lalu apa arti dari penangkapan budak-budak dan pengerahan para serdadu untuk mengawasi mereka dan menggeledah wanita mereka yang mengandung dalam tempo yang tidak bisa dibenarkan, di mana salah satu dari budak wanita Imam Al-Askari diawasi selama hampir dua tahun. Belum lagi pengusiran dan teror terhadap para sahabat Imam terhadap mereka, lalu penyebaran mata-mata untuk mencari kabar tentang Imam Mahdi dan pengawasan rumah beliau sedemikian ketat dan kerasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua ini, lalu kenapa para penguasa tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh Ja&#8217;far bahwa saudaranya mati tanpa meninggalkan keturunan? Tidakkah mereka lebih mampu memberikan hak waris kepadanya sehingga segala sesuatunya berakhir tanpa perlu melakukan tindakan bodoh yang menunjukkan ketakutan dan kekalutan mereka dari putra Imam Hasan Ajjalallah Ta’ala Farajahu Syarif (semoga Allah mempercepat kemunculannya)?.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang, ada yang mengatakan bahwa itikad kuat penguasa saat itu untuk memberikan hak-hak kepada pemiliknya adalah alasan yang membuat mereka untuk menyelidiki keberadaan putra beliau sehingga Ja&#8217;far tidak secara serta-merta mendominasi warisan imam Hasan hanya karena kesaksiannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami katakan bahwa tidak sewajarnya penguasa saat itu melakukan kontrol sebegitu ketatnya hanya untuk tujuan tersebut, bahkan seharusnya penguasa Abbasiyah memproses dan menyerahkan klaim Ja&#8217;far Al-Kadzzab kepada salah satu hakim, apalagi sekedar kasus warisan yang lumrah terjadi, sehingga ia secara leluasa dapat melakukan pemeriksaan dan penyelidikan, misalnya memanggil bibi Imam Hasan Askari  a.s., ibu, budak-budak wanita beliau dan kerabat dekat dari suku Bani Hasyim, lalu mendengarkan keterangan dan kesaksian mereka sehingga kasus itu menjadi tuntas.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, sampainya kasus ini ke tangan elit tertinggi kekuasaan sebegitu cepatnya sementara jenazah Imam Al-Askari belum dikebumikan, dan keluarnya kasus ini dari lingkungan pengadilan yang semestinya ditangani di dalamnya, serta sikap zalim penguasa sejauh yang telah kita sebutkan, semua ini meyakinkan kita bahwa para penguasa saat itu telah mengetahui wujud Imam Mahdi yang dijanjikan; mata terakhir dari silsilah suci yang tak akan terputus dengan kematian Imam Kesebelas, terlebih ketika hadis ‘Tsaqolain’ Rasul saw. ini diriwayatkan secara mutawatir, bahwa:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan keduanya (Al-Quran dan Ahlul Bait) tidak akan terpisah sehingga keduanya datang kepadaku di telaga surga kelak”.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, tidak lahirnya Imam Mahdi atau lenyapnya wujud beliau adalah sama dengan kepunahan ‘Al-Itrah’,  dan tidak seorang pun yang disebut dengan Imratul Mukminin dari dinasti Abbasiyah akan menerima konsekuensi ini; yaitu pengingkaran atas sabda Nabi yang agung, bahkan tidak pernah keluar dari mulut seorang muslim sekalipun kecuali mereka yang meremehkan ihwal pendustaan terhadap Nabi, atau mereka yang menipu diri sendiri dengan berupaya menakwil hadis ‘Tsaqalain’ dan menyimpangkannya dari maksud yang tidak sebenarnya.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>e. Pengakuan Ulama Ahli Sunnah atas </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lahirnya Imam Mahdi a.s.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyid Tsamir Al-‘Amidi berkata: ”Pengakuan para tokoh fiqih, tafsir, hadis, sejarah, sastra dan bahasa dari ulama Ahli Sunnah telah menyatakan seratus lebih pengakuan yang begitu tegas mengenai lahirnya Imam Mahdi a.s. Sebagian menandaskan bahwa Muhammad ibn Al-Hasan Al-Mahdi adalah imam yang dijanjikan kemunculannya di akhir zaman. Pengakuan ini disusun sesuai urutan kehidupan para pengaku. Maka itu, pengakuan tersebut berurutan dengan urutan zamannya, sehingga seluruh para pengaku itu hidup sezaman dengan pengaku yang sebelumnya. Hal tersebut dimulai semenjak masa kegaiban singkat dan berlanjut hingga masa kita sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada lembaran berikutnya, kami akan menyebutkan pengakuan sebagian dari mereka yang kami temukan dalam sumber-sumber mereka. Selebihnya, kami cukup menyebutkan nama-nama selain mereka, karena tidak mungkin kita mencatat semuanya dalam pasal ini, di mana pengakuan dua puluh sembilan dari mereka yang termuat dalam kitab Ilzamun Nashib telah mencapai seratus halaman.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu, apa yang akan kami bawakan tanpa menyinggung sumbernya di catatan pinggir adalah alasan rujukan kami dari kitab-kitab Syi’ah Imamiyah yang lebih dahulu mengkaji   topik ini dengan mencatat juz, halaman, tempat dan tahun cetaknya. Dapat dikatakan bahwa pembahasan paling luas dalam topik ini adalah kitab Al-Mahdi Al-Muntadhar fi Nahjul Balaghah karya Syeikh Mahdi Faqih Imani. Ia menyebutkan sekitar 102 orang dari perawi Ahli Sunnah yang menyatakan pengakuan dan kesaksian mereka.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn8">[8]</a> Syeikh Mahdi hanya menyebutkan nama mereka dan sumbernya termasuk juz dan halamannya, tanpa membahas redaksinya, dan boleh jadi terdesak untuk memastikan mediatornya secara definitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya terdapat sekitar tiga puluh nama yang luput dari analisis Syeikh Mahdi, padahal mereka adalah referensi kami yang paling baik. Namun, kami tidak akan meliputnya sedikit pun, karena ulama selain kami telah melakukannya,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn9">[9]</a> sehingga peran kami pada poin ini hanya sekedar upaya mengumpulkan dan menyusunnya menurut kurun waktu.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/01.htm#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Masih dari Syeikh Mahdi, bahwa terdapat 128 penulis dari ulama Ahli Sunnah yang mengulas Imam Mahdi a.s. dalam salah satu kitabnya; Al-Imam Ats-Tsani ‘Asyar min Aimmati Ahlil Bait. Jelas, kesaksian mereka memiliki nilai sejarah yang khas dan masyhur. Di antara nama-nama itu, ada yang hidup semasa dengan tahun kelahiran Imam Mahdi a.s. dan kegaiban singkatnya, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1</strong> Abu Bakar Ar-Ruyani, Muhammad ibn Harun,  wafat pada 307 H, dalam kitab Al- Musnad.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>Ahmad ibn Ibrahim ibn Ali Al-Kindi, salah satu murid Ibnu Jarir Ath-Thabari, wafat pada 310 H.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Ats-Tsalj, Abu Bakar Al-Baghdadi, wafat pada 322 H, dalam kitab Mawalidul Aimmah yang dicetak dalam kitab Al-Fusulu Al-Asratu lil Ghaibah, karya Syeikh Mufid, dan kitab Nawadir Ar-Rawandi, cetakan Najaf, tahun 1370 H.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>Mereka yang masa hidupnya dekat dengan ulama-ulama besar, seperti: Al-Kharazmi, wafat tahun 387 H dalam kitab Mafatihul Ulum, hal. 32-33, cetakan Leiden, 1895 M.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Sejenak Bersama  Para Pengingkar</h3>
<p style="text-align: justify;">Telah jelas dari yang kita uraikan, bahwa konsep Mahdiisme adalah masalah teologis sebelum menjadi masalah historis, dan argumentasi atasnya harus bersifat teologis sebelum merujuk argumentasi historis. Juga telah jelas sejumlah bukti sejarah yang mengindikasikan hal tersebut, sebagaimana telah jelas pula bahwa masalah misterius dan serbagaib seperti masalah Imam Mahdi sangat lumrah jika memang memunculkan para pengingkar, karena seseorang yang tersembunyi dari pandangan manusia karena satu dan lain hal bermaksud agar tidak seorang pun yang melihatnya, sehingga      jika manusia ditanya mereka akan menjawab “kami tidak melihatnya”, bahkan mereka yang masih termasuk kerabat dekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah kita sebutkan bahwa pengingkaran mereka terhadap masalah yang samar tidak bisa dijadikan sebagai bukti atas ketiadaan Imam Mahdi a.s. Inilah yang justru kekeliruan utama yang menjerat nalar para pengingkar kelahiran dan keberadaannya. Mereka berusaha mencari-cari bukti semacam itu dari sejarah. Dan tatkala menjumpai serangkaian data, mereka segera menganggapnya sebagai bukti atas ketaklahiran dan ketiadaan Imam Mahdi a.s., seperti data-data yang menyangkut perbedaan pendapat di dalam Syi’ah mengenai waktu kelahiran, nama Imam Mahdi, dan kesaksian Ja&#8217;far Al-Kadzzab; paman Imam Mahdi bahwa saudara-nya meninggal tanpa meninggalkan keturunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sanggahan utama kita terhadap klaim mereka ialah bahwa metode sejarah itu tepat digunakan untuk menengahi persoalan empirik yang sepenuhnya dapat diakses dan dianalisis oleh para perawi dan sejarawan, seperti peristiwa perang Shiffin, tragedi Karbala dan lain sebagainya. Namun, metode tersebut tidak cukup untuk menengahi persoalan teologis yang pada dasarnya bersifat abstrak, kendati memberikan isyarat indriawi bagi orang-orang tertentu, sehingga jika masyarakat  umum ditanya tentangnya, mereka mengingkarinya. Apakah logis pengingkaran rakyat umum dijadikan sebagai argumen atas ketiadaan duduk persoalan yang sejak dahulu dan turun temurun diyakini oleh para penganutnya; bahwa persoalan tersebut tidak bisa disentuh secara indriawi kecuali oleh beberapa pribadi pilihan?</p>
<p style="text-align: justify;">Seyogyanya, mereka yang ingin menelaah konsep Mahdiisme memulai dari metode teologis, bukan dari lorong sejarah, karena sebuah masalah yang disembunyikan dengan tujuan tertentu dari pandangan mata para kerabat dekat, tidak menutup kemungkinan munculnya perbedaan tentangnya, seperti tentang waktu kelahiran Imam dan nama ibunya, juga tidak tidak dapat digugurkan oleh sebuah kesaksian seperti kesaksian Ja&#8217;far al-Kadzdzab. Karena, jawabannya cukup jelas; bahwa dalam kondisi semacam ini, polemik seputar tahun kelahiran dan nama ibu Imam adalah fenomena alamiah yang muncul dari keinginan kuat Imam Hasan Al-Askari untuk menyembunyikan masalah ini serahasia mungkin dari pandangan kerabat dekat sebagai upaya waspada agar tidak tercium oleh penguasa dinasti Abbasiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan upaya ini terhitung berhasil, mengingat Ja&#8217;far Al-Kadzdzab bersaksi bahwa saudaranya telah mati  tanpa meninggalkan anak. Imam Hasan Al-Askari a.s. menghendaki agar kelahiran putranya tidak diketahui saudaranya, dan agar tampak secara lahiriah bahwa beliau tidak memiliki keturunan. Langkah beliau di hadapan saudaranya ini adalah logis, kendati saudara itu bukan pembohong atau fasik, apalagi di hadapan Ja’far Al-Kadzdzab yang jelas kebohongan dan kefasikannya.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<h3 style="text-align: justify;">Ciri Kedua: Kepemimpinan yang Masih Dini</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah satu konsekuensi konsep Mahdiisme menurut Ahlul Bait a.s. adalah keyakinan pada kepemimpinan dini Imam Mahdi a.s. Terkadang konsekuensi atau ciri ini ditinjau dari sudut pandang agama dalam rangka pembuktian dan penyanggahan atas berbagai kritik terhadap ajaran agama, terkadang juga ditinjau dari sudut realitas dalam rangka menjelaskan kepemimpinan itu, yakni kepemimpinan konkret yang dilengkapi oleh kriteria yang memadai, bukan kepemimpinan yang dipaksakan atau diklaim begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ditinjau dari sudut pandang agama, pertama-tama kita akan menyadari pentingnya penempatan duduk persoalan Imamah; apakah masalah akidah? Atau masalah hukum syar’ie? Jika benar ia masalah akidah ?sebagaimana yang diyakini oleh Syi’ah? maka kita mendapatkan Al-Quran sebegitu tegasnya menerangkan keniscayaan kenabian seorang anak kecil, padahal keniscayaan ini adalah masalah akidah. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai Yahya! Terimalah kitab itu dengan kekuatan dan  Kami telah memberikan kepadanya hukum dalam keadaan masih kecil.” (QS.19:12)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Imamah adalah masalah hukum syar’ie, maka salah satu hukum Islam yang paling jelas ialah adalah hukum ketakkuasaan anak kecil, dan siapa saja yang tidak memiliki hak kuasa, ia pun tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri. Lalu, bagaimana mungkin kekuasaan atas orang lain akan dilimpahkan kepadanya? Maka dari itu, kepemimpinan anak kecil menurut hukum syar’ie adalah ilegal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum muslimin berbeda pendapat dalam masalah ini. Empat mazhab Ahli Sunnah memandang khilafah dan Imamah sebagai perkara hukum syar’ie dan sejenis perbuatan hamba. Sementara Syi’ah memandangnya sebagai masalah teologis dan usuluddin; di mana ia termasuk urusan kekuasaan Allah swt., bukan dari urusan dan perbuatan hamba. Oleh sebab itu, tatkala mazhab Ahlul Bait a.s. meyakini kepemimpinan dini sejumlah imam mereka, termasuk Imam Mahdi a.s., pada dasarnya sesuai dengan cara pandang tersebut, dan   tidak bisa disanggah dari sisi teologis selama Al-Quran menegaskan kenabian dini Nabi Yahya a.s., juga tidak bisa dipermasalahkan dari sisi hukum syar’ie selagi masalah tersebut menurut Ahlul Bait a.s. keluar dari koridor syariat dan berada di dalam koridor akidah. Adapun hukum-hukum syariat mengenai hak kuasa anak kecil hanya berlaku atas hamba; tidak atas Allah swt., karena hukum-hukum syariat itu adalah ketentuan-ketentuan Allah swt. yang ditujukan kepada hamba.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, jelaslah tujuan kita mengetengahkan kenabian dini Nabi Yahya a.s. sebagai argumen, yakni untuk menjelaskan bahwa sebagaimana ihwal kenabian,  Imamah juga masalah teologis yang tidak bisa tunduk pada ukuran-ukuran manusia, tidak juga tunduk  pada batas-batas syariat yang diturunkan untuk mengatur perilaku hamba; tidak untuk diberlakukan ke atas Tuhan alam semesta. Maka itu, kenabian dini Nabi Yahya a.s. meyakinkan kita bahwa masalah teologis itu ditangani melalui argumentasi; jika argumentasi teologis membuktikan kepemimpinan seorang anak kecil, maka kita menerimanya sekuat kita menerima kenabian seorang anak kecil seketika ditemukan argumen teologis atasnya. Dan tidaklah tepat bila dikatakan bahwa berdalil dengan kenabian Nabi Yahya yang kecil tidaklah berarti apa-apa, karena kenabiannya secara gamblang telah dinyatakan dalam Al-Quran, sedangkan masalah Mahdiisme tidak pernah disinggung di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula, sanggahan Ibnu Hajar Al-Haitsami dan selainnya terhadap kepemimpinan Imam Mahdi tidak berdasar sama sekali, yaitu tatkala ia dengan cara yang tidak sopan sekali mengatakan: ”Telah ditentukan di dalam syariat yang suci, bahwa kepemimpinan anak kecil itu tidak legal. Jadi, bagaimana orang-orang dungu dan lalai itu bisa mempercayai kepemimpinan orang yang masih berumur lima tahun?!”<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn12">[12]</a> Sebab, telah jelas bahwa hukum di atas ini bukan ketentuan syariat agama, akan tetapi sejenis ketentuan fikih mereka yang tidak legal bila diberlakukan ke atas kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, jika meninjau Imamah dari sudut fakta sejarah, kita akan mendapatkan bahwa Imam Mahdi a.s. telah menggantikan posisi ayahanda beliau dalam rangka memimpin umat manusia ketika masih berusia lima tahun. Ini berarti bahwa beliau adalah seorang imam dengan segenap kapasitas dan kriteria kepemimpinan agama dan umat, baik dari segi intelektualitas dan spiritualitas di masa yang sangat dini sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Syahid Muhammad Baqir Ash-Shadr mengatakan: ”Kepemimpinan dini adalah sebuah fenomena yang telah dialami oleh kakek-kakek Imam Mahdi a.s. Sebagai contoh, Imam Muhammad Al-Jawad a.s. memangku imamah (kepemimpinan) dalam usia delapan tahun,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn13">[13]</a> Imam Ali Al-Hadi a.s. dalam usia sembilan tahun,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn14">[14]</a> dan ayahanda beliau; Imam Hasan Al-Askari a.s.,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn15">[15]</a> memegang imamah saat  masih berusia dua belas tahun. Puncak keunikan fenomena ini terjadi di masa Imam Mahdi a.s. dan Imam Al-Jawad a.s.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya menyebutnya sebagai fenomena karena hal tersebut terjadi pada sejumlah kakek Imam Mahdi dan tampak sebagai subjek indriawi dan praktikal yang dirasakan langsung oleh kaum muslimin, dan mereka telah merasakan hal yang sama sepanjang pengalaman mereka dengan Imam Mahdi dengan bentuk yang lain. Mengenai sebuah fenomena, kita tidak dapat menuntut dalil yang lebih gamblang dan lebih kuat dari pengalaman umat.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn16">[16]</a> Ini dapat dijelaskan dalam beberapa  poin berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kepemimpinan para imam dari Ahlul Bait a.s. bukan sebuah pusat kekuasaan dan pengaruh yang menjadi warisan seorang ayah untuk anaknya, bukan pula kepemimpinan yang didukung oleh sistem yang berkuasa seperti kepemimpinan para khalifah dinasti Fathimiyah dan dinasti Abbasiyah. Namun, kepemimpinan mereka bertumpu pada basis-basis masyarakat melalui pembinaan jiwa dan pencerahan pemikiran basis-basis tersebut tentang  kelayakan dan kompetensi mereka dalam memimpin Islam di atas dasar-dasar spiritualitas dan intelektualitas.</li>
<li>Basis-basis masyarakat itu telah dibangun  sejak permulaan Islam, dan mencapai puncak keemasannya di masa dua imam; Imam Al-Baqir a.s. dan Imam Ash-Shadiq a.s., dan madrasah yang dikelola oleh kedua imam ini telah membentuk arus pemikiran yang luas di dalam dunia Islam. Madrasah ini melahirkan ratusan ahli fikih, kalam, tafsir dan para pakar dari berbagai disiplin ilmu keislaman dan humaniora yang populer di zaman itu, sampai-sampai Hasan ibn Ali Al-Wasya me-ngatakan: “Aku pernah memasuki masjid Kufah, dan aku melihat sembilan ratus syeikh (guru)<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn17">[17]</a> yang seluruhnya mengatakan, bahwa kami mendengar demikian dari Ja&#8217;far ibn Muhammad”.</li>
<li>Kriteria-kriteria dan basis-basis sosial-politik umat Islam yang diyakini oleh madrasah ini secara konsekuen dalam menentukan seorang imam dan mengenali kelayakannya untuk memimpin adalah syarat-syarat begitu ketat, karena mereka percaya bahwa seseorang tidak akan menjadi imam kecuali ia adalah orang yang paling pintar dan saleh dari semua ulama di masanya.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn18">[18]</a></li>
<li>Madrasah dan basis-basis sosial-politiknya telah memberikan berbagai pengorbanan yang begitu besar dalam rangka mempertahankan keyakinan mereka pada prinsip Imamah, karena di mata para penguasa masa itu, hal ini telah membentuk arus dan jaringan perlawanan, setidaknya pada tataran pemikiran. Hal ini membuat penguasa masa itu melancarkan penekanan, pembersihan dan penyiksaan, hingga banyak yang dibunuh, ditahan, lalu betapa banyak yang gugur dalam operasi penangkapan. Ini menunjukkan bahwa keyakinan pada kepemimpinan Ahlul Bait a.s. membuat mereka tampak radikal.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn19">[19]</a> Tiada bujukan dan godaan untuk mengarah ke sana kecuali dirasakan oleh penganutnya sebagai peluang untuk selalu mendekat dan menyatu dengan Allah swt.</li>
<li>Para imam yang dipercayai oleh kekuatan basis-basis sosial-politik itu tidak pernah jauh dari jangkauan mereka, tidak juga menjaga jarak dan memilih tempat tertentu seperti kebiasaan  para penguasa terhadap rakyatnya. Mereka juga tidak bersembunyi dari khalayak umum kecuali akibat perlakuan penguasa yang memenjarakan dan mengasingkan. Ini dapat diketahui melalui ungkapan para perawi hadis dan ahli hadis yang meriwayatkan dari tiap-tiap sebelas imam, dan dari penukilan surat-menyurat yang terjadi antara para imam dan orang yang sezaman mereka. Sejumlah perjalanan yang dilakukan oleh mereka dari satu sisi, dan wakil-wakil mereka yang diutus ke berbagai negeri dari sisi yang lain, serta ihwal masyarakat Syi’ah yang sudah terbiasa mencari dan menziarahi para imam mereka ke kota Madinah dari sisi ketiga, yaitu ketika rombongan penduduk dari berbagai kawasan datang ke kota suci ini untuk menunaikan manasik haji,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn20">[20]</a> semua ini meniscayakan adanya kontak yang jelas dan interaksi yang intensif  antara para imam dan masyarakat yang tersebar di berbagai penjuru dunia dengan berbagai lapisan, baik ulama maupun awam.</li>
<li>Penguasa atau khalifah yang sezaman dengan para imam telah memandang imam dan kepemimpinan spiritual mereka sebagai sumber ancaman besar terhadap eksistensi dan kekuasaan mereka. Oleh karena itu, mereka mengerahkan segala daya dan upaya dalam rangka memberangus kepemimpinan ini. Mereka pun siap memikul berbagai resiko  yang muncul karenanya. Dalam kondisi terdesak, terkadang mereka melakukan kekerasan dan kekejian, bahkan siap membayar harga  sebesar apapun demi maksud tersebut. Mereka senantiasa menangkap dan mengisolasi para imam,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn21">[21]</a> kendati umat manusia sudah muak dan tersiksa karenanya.Mencermati enam poin di atas ini sebagai fakta sejarah yang tak dapat diragukan, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kepemimpinan dini seorang imam adalah fenomena historis; bukan sekedar mitos belaka, karena imam yang tampil di tengah kancah dalam kondisi masih kecil kemudian menyatakan bahwa dirinya seorang pemimpin spiritual dan intelektual kaum muslimin lalu dianut oleh arus yang begitu besar, tentu memiliki kapasitas keilmuan yang kaya dan keunggulan yang luar biasa di bidang-bidang seperti fikih, tafsir dan akidah. Karena, jika tidak demikian, masyarakat tidak akan puas pada kepemimpinannya, padahal sebagaimana  telah kami sebutkan, para imam harus berada pada posisi yang memungkinkan basis-basis masyarakat untuk berinteraksi dengan mereka dan mendapatkan perhatian serta pengelolaan individual dan sosial dari mereka.Pernahkah Anda menjumpai seorang anak kecil yang menyatakan dirinya sebagai imam dan pemegang panji Islam dan ia menjadi pusat kepatuhan khalayak umat yang percaya padanya dan menyerahkan ketenangan dan nasib hidup mereka kepadanya, tanpa memaksa diri mereka untuk berusaha mengenal dan menyingkap ihwal kepribadian anak kecil itu, dan tanpa menyadari hakikat dan nilai kedudukannya?<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn22">[22]</a> Anggaplah mereka tidak tergerak untuk menyelidiki ihwal para imam itu, lantas apakah mungkin masalah ini terus bertahan hari demi hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa tersingkap hakikat yang sesungguhnya, padahal telah terjalin interaksi alamiah yang terus menerus antara imam yang kecil dan masyarakat? Apakah masuk akal ia menjadi benar-benar seorang anak kecil biasa dalam pikiran dan keilmuannya namun ini tidak tampak dalam interaksi dan pengalaman yang sangat panjang itu?Kita asumsikan bahwa umat manusia yang meyakini kepemimpinan Ahlul Bait a.s. tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyingkap fakta yang sebenarnya, lalu kenapa khilafah yang berkuasa tidak berusaha menyingkap hakikat jika memang menguntungkan mereka? Adakah yang lebih menguntungkan penguasa jika imam yang kecil itu adalah kecil pikiran dan kepribadiaannya seperti layaknya anak-anak kecil seusianya? Dan adakah cara yang lebih baik jika saja mereka menyerahkan Imam yang kecil itu kepada para pengikutnya dan selainnya sebagaimana adanya, lalu membuktikan ketaklayakannya sebagai pemegang hak Imamah dan pemimpin spiritual dan pemikiran? Kalaulah begitu sulit menjelaskan ketakpatutan seorang pemimpin dalam usia empat puluh atau lima puluh tahun  karena dia sudah banyak memakan asam garam kehidupan dan mengenal kondisi zamannya, namun tidak sulit rasanya untuk menjelaskan ketaklayakan seorang anak kecil biasa, betapapun kecerdasan yang dimilikinya dengan arti yang telah didefinisikan oleh Syi’ah Imamiyah.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn23">[23]</a> Oleh karena itu, cara ini lebih mudah daripada cara-cara sulit dan aksi kekerasan yang telah diambil oleh para penguasa saat itu.
<p>Hanya tersisa satu tafsir atas diamnya para penguasa saat itu dalam memainkan kartu ini,<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn24">[24]</a> yaitu keyakinan mereka bahwa kepemimpinan dini adalah sebuah fakta konkret; bukan hal yang dibuat-buat. Demikian ini telah mereka sadari secara praktis setelah mereka mencoba memainkan kartu tersebut yang kemudian berakhir dengan kegagalan. Sejarah telah mengabarkan kepada kita tentang upaya-upaya dan kegagalan-kegagalan mereka ini.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn25">[25]</a> Pada saat yang sama, sejarah sama sekali tidak melaporkan sebuah gejala yang mengabarkan kepada kita terguncangnya kepemimpinan dini imam, ataupun sebuah kejadian yang di dalamnya imam yang masih kecil itu mengalami kesulitan yang di luar kemampuannya atau yang menggoyahkan kepercayaan manusia kepadanya.</p>
<p>Inilah penafsiran dari yang telah kami nyatakan; bahwa kepemimpinan dini seorang imam adalah fenomena konkret dalam kehidupan Ahlul Bait a.s., bukan sekedar asumsi. Fenomena ini juga memiliki akar sejarah dan keserupaan-keserupaannya dalam pusaka Langit yang terungkap melalui misi-misi dan kepemimpinan ilahiyah.</p>
<p>Cukuplah kita menyebutkan satu keserupaan dari fenomena wujud imam yang dini ini pada kasus Nabi Yahya a.s. Allah swt. berfirman: &#8221;</p>
<p>Wahai Yahya ambillah kitab itu dengan kekuatan dan telah Kita berikan kepadanya al-Hukm saat dia masih kecil”.</p>
<p>Tatkala telah terbukti bahwa kepemimpinan imam yang dini adalah fenomena yang nyata dalam kehidupan Ahlul Bait a.s., maka tidak bisa kita terima sanggahan-sanggahan atas kepemimpinan Imam Mahdi dan peralihan kepemimpinan ayahanda kepadanya saat beliau masih kecil.<a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftn26">[26]</a></p>
<h5>
<hr size="1" /><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref1">[1]</a> Ushul Kafi: 1/328, kitab ‘Al-Hujjah’, bab ‘Al-Isyarah wa Nash ila Shahib Dar’.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref2">[2]</a> Ushul Kafi: 1/330, kitab ‘Al-Hujjah’, Bab ‘Tasmiyatu man Ra’ahu a.s.’.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref3">[3]</a> Kamaluddin: 2/424, bab 42.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref4">[4]</a> Kamaluddin: 2/442 bab 43 dan Biharul Anwar: 52/30 bab 26.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref5">[5]</a> Al-Irsyad, Syeikh Mufid: 2/336.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref6">[6]</a> Difa’ ‘anil Kulaini, Hasan  Hasyim Tsamir Al-‘Amidi, 1/567-568.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref7">[7]</a> IIzamun Nashib fi Itsbatil Hujjah Al-Gaib, Syeikh Ali Yazdi Al-Hairi: 1/321-440.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref8">[8]</a> Al-Mahdi Al-Muntadhar fi Nahjil Balaghah, Syeikh Mahdi Faqih Imani: 16-30.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref9">[9]</a> Al-Imam Tsani ‘Asyar, Sayyid Muhammad Said Al-Musawi: 27-70 beliau telah menambahkan tiga puluh orang dari ulama Ahli Sunnah sebagaimana tersebut dalam lampiran indeksnya: 72-89, Al-Mahdi Al-Ma’ud Al-Muntadhar ‘inda Ahli Sunnah wal Imamiyah, Syeikh Najmudin Askari: 1/220-226.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref10">[10]</a> Difa’ Anil Kafi: 1/568.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref11">[11]</a> Lihat Ushul Kafi: 1/421, kitab ‘Al-Hujjah’, bab ‘Maulid Abi Muhammad al-Hasan ibn Ali a.s.’, Kamaluddin, Syeikh Shoduq: 1/40, Mukadimah Penulis atas Al-Irsyad: 2/ 321, A’lamu Wara Bi A’lami Huda, Al-Fadhl ibn Hasan Ath-Thabari: 357. Lihat juga Kamaluddin: 2/475, bab 43 dari para penyaksi Imam Mahdi a.s.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref12">[12]</a> Ash-Shawaiq Al-Muhriqah: 256, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref13">[13]</a> Al-Fushul Muhimmah, Ibnu Shibag Al-Maliki: 253 dan Al-Irsyad Syeikh Mufid: 2/274 dan selanjutnya.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref14">[14]</a> At-tatimmah fi Tawarikh Al-Aimmah, Sayyid Tajuddin Al-‘Amili dari ulama ternama abad 11 Hijriah, cet. Muassasah Bi’sah –Qum. Lihat juga As-Shawaiq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar: 312-313, saat ia menyebut sekelumit kehidupan Imam dan karamahnya.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref15">[15]</a> ibid.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref16">[16]</a> Al-Irsyad, Syeikh Mufid : 2/218 dan seterusnya, As-Shawaiq Al-Muhriqah : 312-313. Keduanya telah membawakan sebuah dialog yang terjadi antara Imam Al-Jawad a.s. dan Yahya ibn Aktsam di masa Khalifah Ma’mun, dan bagaimana Imam mampu mem-buktikan keunggulan ilmu beliau hingga  mampu menaklukkan  Yahya, padahal saat itu beliau masih sangat belia sekali.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref17">[17]</a> Lihat: Al-Majalis Saniyah , Sayyid Al-Amin Al-‘Amili: 2/468, demikian ini telah masyhur diperbincangkan oleh ulama Syi’ah dan Ahli Sunnah. Lihat juga: Shhahul Akbar, Muhammad Sirojuddin Ar-Rifai,: 44, dengan menukil dari Al-Imam Ash-Shadiq wal MAdzahibul Arba’ah, Asad Haidar: 1/55. Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah: 305, Ibnu Hajar juga mengatakan: “Ucapan Ja&#8217;far Ash-Shadiq telah dinukil oleh banyak orang dalam berbagai disipilin ilmu yang populer, namanya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, dan para imam dan guru-guru besar tak ketinggalan dalam menukil dan menimba ilmu darinya seperti: Yahya ibn Said, Ibnu Juraid, Malik, Sufyani, Abu Hanifah, Su’bah dan Ayyub As-Sakhtiyani&#8230;.”.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref18">[18]</a> Seorang Imam harus paling pandai dan paling alim di masanya. Ini hal yang tak dapat diragukan menurut Syi’ah Imamiyah, lihat: Bab Hadi Asyar, Allamah Hilli: 44. Dan para Imam telah mengalami berbagai ujian dalam hal ini, mereka selalu tampil unggul. Di dalam Ash-Shawaiq Muhriqah: 312, Ibnu Hajar secara detail menukil perdebatan Imam Al-Jawad a.s. dan Yahya ibn Aktsam.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref19">[19]</a> Sesungguhnya keyakinan pada kepemimpinan para Imam telah membuat para pengikutnya untuk selalu bertahan dan bangkit. Ini  dapat dipahami secara baik dari perjalanan sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Lihat: Maqatil Thalibin, Abul Faraj Isfahani.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref20">[20]</a> Sering kali para imam memesan hal ini untuk dilakukan olah para pengikut, sebagaimana dapat dijumpai dari riwayat-riwayat. Lihat Usul Kafi: 1/392, kitab ‘Al-Hujjah’ – bab ‘Sesungguhnya kewajiban seseorang setelah menyelesaikan ibadah hajinya adalah menjumpai imam kemudian menanyakan perkara agama mereka kepadanya, dan mengikrarkan komitmen dan kecintaan mereka terhadapnya’.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref21">[21]</a> Lihat sejarah para Imam as dan siksaan yang mereka alami mulai dari pengorbanan, penjara, pembunuhan dan lainnya. 1. al-Fushul Muhimmah, Ibn Shibag al-Maliki. 2. Maqatil Thaliibn, Abul Faraj Isfahani. 3. al-Irsyad, Syeikh Mufid.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref22">[22]</a> Yang dimaksud adalah Imam Mahdi, dan Imam Al-Jawad sebagai contoh kondisi imam-imam sebelum Imam Mahdi.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref23">[23]</a> Artinya, seorang imam harus menjadi sosok yang paling utama sebagaimana keyakinan Syi’ah imamaiyah. Lihat: Haqqul Yakin fi Ma’rifati Ushuludin, Sayyid Abdullah  Syubar, wafat tahun 1242, hal. 1/141, Bagian Ketiga.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref24">[24]</a> Maksudnya, dalam memperkenalkan dan menguji Imam yang masih dini di depan khalayak dan untuk tujuan penyingkapan fakta yang ada.</p>
<p><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref25">[25]</a> Makmun adalah orang pertama yang menguji hal ini, dan telah tersingkap bagi kaum khusus akan kedalaman fiqih dan ilmu-ilmu lain yang mereka saksikan dalam pribadi agung Imam Jawad a.s. Lihat Ash-Shawaiq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar : 312.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://al-shia.org/html/id/service/maqalat/013/02.htm#_ftnref26">[26]</a> Kalangan khusus dari Syi’ah telah menyaksikan, berhubungan langsung dan mendapat pengajaran dari beliau, sebagaimana hal ini juga telah berlangsung lewat jalur para empat wakil khusus beliau, lihat Tabshiratul Wali fi Man ra’a Al-Qaim Al-Mahdi a.s., Al-Bahrani, Al-Irsyad, Syeikh Mufid : 345,  lihat juga secara lebih detail di buku Difa’ anil Kafi, Sayyid Tsamri Al-Amidi: 1/535 dan halaman selanjutnya.</p>
</h5>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/karakteristik-konsep-mahdiisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Sayyidah Fatimah Zahra as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/khutbah-sayyidah-fatimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/khutbah-sayyidah-fatimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 13:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah Az-Zahra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Wahai ummat manusia yang bergegas ke arah ucapan batil Yang diam dan rela atas tindakan keji dan merugi Apakah kalian tidak merenungkan Al-quran atau ada gembok di hati kalian Tidak demikian yang sesungguhnya, melainkan perbuatan buruk kalian telah mengalahkan hati kalian Maka dia telah merampas telinga dan mata kalian Sejelek-jeleknya penakwilan adalah penakwilan kalian Seburuk-buruknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/ya-fatimah.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-585" title="ya-fatimah" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/ya-fatimah-216x300.gif" alt="" width="216" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Wahai ummat manusia yang bergegas ke arah ucapan batil</p>
<p>Yang diam dan rela atas tindakan keji dan merugi</p>
<p>Apakah kalian tidak merenungkan Al-quran atau ada gembok di hati kalian</p>
<p>Tidak demikian yang sesungguhnya, melainkan perbuatan buruk kalian telah mengalahkan hati kalian</p>
<p>Maka dia telah merampas telinga dan mata kalian</p>
<p>Sejelek-jeleknya penakwilan adalah penakwilan kalian</p>
<p>Seburuk-buruknya ganti adalah kebatilan yang kalian jadikan sebagai ganti dari kebenaran</p>
<p>Sungguh dan sungguh demi Allah kalian akan menerima beban yang berat dan akibat yang dahsyat (di hari kiamat nanti)</p>
<h2><strong>Khutbah Sayyidah Fatimah Zahra as</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rasulullah SAW bersabda: “wanita penghuni surga yang paling utama ada empat; Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, Asiyah bintu Muzahim –istri Fir’aun-, dan Maryam bintu Imran”[1]. Rasulullah SAW bersabda: “sebaik-baik wanita alam semesta ada empat; Maryam bintu Imran, Asiyah bintu Muzahim, Khadijah bintu Khuwailid, dan Fatimah bintu Muhammad”[2]. Rasulullah SAW bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang membuatnya marah niscaya telah membuatku marah” “Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang mengganggunya niscaya telah menggangguku” “sesungguhnya Allah murka dengan murka Fatimah dan rela dengan rela Fatimah”[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Puja bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan</p>
<p>Terima kasih pada Allah atas apa yang telah Dia ilhamkan (nikmat batin)</p>
<p>Puji bagi Allah atas apa yang telah Dia sodorkan;</p>
<p>Berupa nikmat-nikmat umum yang Dia mulai (sebelum ada hak sedikitpun pada manusia)</p>
<p>Berupa anugerah yang berlimpah dan sempurna</p>
<p>Dan berupa semua pemberian yang berturut-turut</p>
<p>Begitu banyak nikmat Allah sehingga tidak mungkin untuk menghitungnya</p>
<p>Tidak mungkin untuk menjangkau batasannya</p>
<p>Selamanya tidak akan mungkin untuk diketahui semua</p>
<p>Dia mengajak mereka untuk minta tambah dengan cara bersyukur, karena sambungan yang terdapat dalam nikmatNya</p>
<p>Mengharuskan makhluknya untuk memuja dengan limpahan nikmatNya</p>
<p>Sebagaimana Dia juga mengajak mereka pada hal-hal yang serupa</p>
<p>Aku bersaksi bahwa “tiada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tak bersetara”, sebuah kalimat yang kembali pada ketulusan (ikhlas)</p>
<p>Kalimat yang capaiannya telah ditanamkan di hati setiap orang</p>
<p>Kalimat yang rasionalisasinya tercerahkan dalam pikiran</p>
<p>Allah yang mata tak mampu melihatnya</p>
<p>Lidah tak sanggup menyifatiNya</p>
<p>Pikiran tak dapat menjangkau bagaimana Dia</p>
<p>Dia ciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu sebelumnya</p>
<p>Dia ciptakan tanpa menyontek contoh yang lain</p>
<p>Dia adakan dengan kekuasaanNya dan Dia ciptakan dengan kehendakNya</p>
<p>Tanpa Dia butuh pada penciptaan itu</p>
<p>Tanpa ada faidah dari penggambaran itu</p>
<p>Tiada lain hanya merupakan pembuktian atas hikmahNya, peringatan atas ketaatan padaNya, penjelasan kuasaNya, penyembahan hambaNya, dan penegasan ajakanNya</p>
<p>Kemudian Dia tetapkan pahala bagi ketaatan padaNya</p>
<p>Dia tentukan siksa bagi kemaksiatan padaNya</p>
<p>Untuk mencegah hamba-hambaNya dari murka</p>
<p>Dan mendorong mereka ke arah surgaNya</p>
<p>Aku bersaksi bahwa ayahku (Muhammad) adalah hamba dan utusanNya</p>
<p>Dia telah memilihnya sebelum menciptakan</p>
<p>Dia telah memilihnya sebelum mengutus</p>
<p>Di saat manusia masih tersembunyi dalam gaib</p>
<p>Di saat manusia masih terhalang oleh tabir yang menyeramkan</p>
<p>Di saat manusia masih sarat dengan ketiadaan</p>
<p>Atas dasar ilmu Allah terhadap tempat kembalinya segala sesuatu</p>
<p>Atas dasar pengetahuanNya terhadap segala hal yang akan terjadi</p>
<p>Atas dasar makrifatNya terhadap situasi dan kondisi serta maslahat segala hal yang Dia tentukan</p>
<p>Allah mengutus Muhammad untuk melengkapkan urusanNya</p>
<p>Sebagai tekad untuk menetapkan hukumNya</p>
<p>Sebagai penerapan takdir-takdirNya yang pasti</p>
<p>Kemudian Dia saksikan penduduk bumi berpecah belah dalam agama mereka</p>
<p>Mereka yang tunduk beribadah pada api</p>
<p>Mereka yang menyembah arca</p>
<p>Mereka yang mengingkari Allah di saat mereka mengetahuiNya</p>
<p>Maka Allah menerangi kegelapan itu dengan Muhammad SAW</p>
<p>Dia lapangkan hati dari problema</p>
<p>Dia jelaskan mata dari kesamaran</p>
<p>Dan Rasulullah bangkit di tengah ummat manusia dengan membawa hidayah</p>
<p>Menyelamatkan mereka dari kesesatan</p>
<p>Menyembuhkan mereka dari kebutaan (mata dan hati)</p>
<p>Menunjukkan mereka pada agama yang tegak</p>
<p>Mengajak mereka pada jalan yang lurus</p>
<p>Kemudian Allah menariknya karena cinta dan keinginan serta pilihan</p>
<p>Maka beliau tenang dan terlepas dari lelahnya kehidupan di dunia</p>
<p>Sungguh beliau dikelilingi oleh para malaikat yang suci</p>
<p>Diridloi oleh Allah Yang Maha Pengampun</p>
<p>Dekat di sisi Maha Raja Yang Perkasa</p>
<p>Shalawat dan salam serta rahmat dan barakat Allah semoga senantiasa tercurahkan pada ayahku</p>
<p>Muhammad nabiNya, manusia kepercayaanNya untuk menerima wahyu, manusia pilihanNya, manusia yang terbaik di antara ciptaanNya dan manusia yang diridloiNya.</p>
<p>Kemudian beliau mengalihkan perhatian pada hadirin seraya berkata:</p>
<p>Kalian, wahai hamba-hamba Allah, adalah maksud dari perintah dan laranganNya</p>
<p>Kalian adalah pemikul agama dan wahyuNya</p>
<p>Kalian adalah orang yang dipercaya Allah untuk menjaga agamaNya</p>
<p>Kalian adalah orang yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah ini pada ummat yang akan datang</p>
<p>Seorang pemimpin kebenaran ada di tengah kalian</p>
<p>Dia telah mengambil janji kalian atas kewajiban</p>
<p>Dia tinggalkan sesuatu pada kalian</p>
<p>Kitab Allah yang berbicara</p>
<p>Qur’an yang jujur dan benar</p>
<p>Cahaya yang berkilauan</p>
<p>Sinar yang terang benderang</p>
<p>Bukti-buktinya jelas dan rahasia-rahasianya terungkap</p>
<p>Lahirnya nampak</p>
<p>Membuat senang pendukungnya</p>
<p>Membawa pengikutnya menuju keridoan Allah</p>
<p>Mendorong pendengarnya ke arah keselamatan</p>
<p>Dengannya, dapat diperoleh hujjah-hujjah Allah yang bersinar, dan</p>
<p>Kewajiban-kewajibanNya yang sudah dijelaskan oleh Al-quran</p>
<p>Larangan-laranganNya yang telah diperingatkan</p>
<p>Bukti-buktiNya yang terang</p>
<p>Dalil-dalilNya yang cukup</p>
<p>Keutamaan-keutamaan yang dianjurkan</p>
<p>Keringanan-keringanan yang diberikan</p>
<p>Dan syariat yang diharuskan</p>
<p>Maka Allah menjadikan iman sebagai penyuci kalian dari kesyirikan</p>
<p>Shalat sebagai pembersih kalian dari kesombongan</p>
<p>Zakat sebagai penjernih diri dan pengembangan rejeki</p>
<p>Puasa sebagai pendalam ketulusan</p>
<p>Haji sebagai penguat agama</p>
<p>Keadilan sebagai pengatur kalbu</p>
<p>Ketaatan pada kami [Ahlulbait as] sebagai sistem untuk bangsa</p>
<p>Kepemimpinan kami sebagai jaminan aman dari pecah belah</p>
<p>Jihad dan perjuangan sebagai kehormatan Islam</p>
<p>Kesabaran sebagai penopang untuk meraih pahala</p>
<p>Amar makruf sebagai maslahat umum</p>
<p>Bakti pada kedua orang tua sebagai penghindar murka</p>
<p>Silaturahmi sebagai penambah jumlah</p>
<p>Qisas sebagai penjaga darah</p>
<p>Kesetiaan pada nadzar sebagai peluas ampunan</p>
<p>Jujur dalam tolok ukur dan timbangan sebagai perubah kikir</p>
<p>Larangan minum arak sebagai pembasmi noda</p>
<p>Larangan menuduh zina sebagai tabir penghalang kutukan</p>
<p>Larangan mencuri sebagai penjamin kesucian</p>
<p>Larangan syirik sebagai ketulusan padaNya dalam pengaturan</p>
<p>Maka bertaqwalah kalian pada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya, dan jangan kalian mati kecuali dalam kaadan muslim</p>
<p>Taatilah perintah dan laranganNya</p>
<p>Karena sesungguhnya hanya hamba-hamba Allah yang alim yang takut padaNya.</p>
<p>Wahai ummat manusia!</p>
<p>Ketahuilah bahwa aku adalah Fatimah!</p>
<p>Ayahku adalah Muhammad</p>
<p>Kukatakan untuk pertama dan terakhir kalinya</p>
<p>Aku tidak berkata salah dan tidak bertindak lalim</p>
<p>Sungguh-sungguh telah datang pada kalian utusan Allah dari jenis kalian sendiri, resah atas kesulitan yang menimpa kalian dan bersikeras untuk memberi petunjuk pada kalian serta lembut dan sayang terhadap orang-orang yang beriman[4]</p>
<p>Apabila kalian hendak menisbatkan asal usulnya maka kalian akan mendapatkan bahwa beliau adalah ayahku dan bukan ayah dari wanita kalian</p>
<p>Beliau adalah saudara misananku dan bukan saudara dari pria kalian</p>
<p>Maka sebaik-baik penisbatan adalah orang yang dinisbatkan padanya</p>
<p>Rasulullah menyampaikan misinya dengan menegaskan peringatan</p>
<p>Keluar dari jalur orang-orang musyrik</p>
<p>Menebas belikat mereka</p>
<p>Membungkam mulut mereka</p>
<p>Mengajak pada jalan Tuhannya dengan hikmah dan nasihat yang baik</p>
<p>Memecahkan arca dan menumbangkan kekafiran</p>
<p>Sampai akhirnya mereka kalah dan mundur</p>
<p>Malam terbelah oleh pagi (kedzaliman terpendam oleh Islam)</p>
<p>Terbitlah kebenaran yang murni</p>
<p>Pemimpin agama berbicara tentang agama dan perkara muslimin</p>
<p>Kicauan setan membisu</p>
<p>Pendukung kemunafikan runtuh</p>
<p>Jalinan kafir dan perpecahan terurai</p>
<p>Kalian berucap tulus</p>
<p>Dan orang-orang yang bercahaya putih karena lapar (puasa)</p>
<p>Di saat kalian sebelumnya berada di mulut api neraka</p>
<p>[kalian adalah] orang yang meneguk segala minuman walau bukan miliknya</p>
<p>Orang serakah yang tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menuruti kesrakusannya</p>
<p>Bara api orang yang tergesa-gesa</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: almawaddah.orgfree.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/khutbah-sayyidah-fatimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 4)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/04/16/sejarah-rasulullah-saww-bagian-4/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/04/16/sejarah-rasulullah-saww-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 05:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAWW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=560</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 4) Hijrah ke Madinah Hijrah yang berarti perpindahan dianggap sebagai salah satu ibadah dengan nilai pahala yang tinggi. Dalam banyak ayat Al-Qur&#8217;an Allah swt menjelaskan kemuliaan ibadah ini dan menjanjikan ganjaran yang berlipat ganda kepada mereka yang berhijrah. Sebab, selain kesulitan yang dihadapi seorang muhajir baik kesulitan karena meninggalkan negeri asal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="300" height="290" /></a>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 4)</strong></p>
<p><strong>Hijrah ke Madinah</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><br />
Hijrah yang berarti perpindahan dianggap sebagai salah satu ibadah dengan nilai pahala yang tinggi. Dalam banyak ayat Al-Qur&#8217;an Allah swt menjelaskan kemuliaan ibadah ini dan menjanjikan ganjaran yang berlipat ganda kepada mereka yang berhijrah. Sebab, selain kesulitan yang dihadapi seorang muhajir baik kesulitan karena meninggalkan negeri asal, kesulitan di negara baru dan banyak hal lain, hijrah juga dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara agama dan risalah ilahi yang terakhir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
Di negeri yang baru, langkah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah membangun masjid yang merupakan pusat kegiatan Islam dan pemersatu umat. Masjid pertama yang dibangun di Madinah adalah masjid Quba&#8217; yang oleh Allah disebut sebagai masjid yang dibangun di atas pondasi ketaqwaan. Pembangunan masjid ini dilakukan oleh seluruh umat Islam baik penduduk asli maupun pendatang. Rasul-pun ikut ambil bagian dalam membangun masjid Quba&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Pemerintahan Nabawi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Langkah berikutnya yang dilakukan Nabi adalah memupuk persaudaraan di antara kaum muslimin. Beliau memerintahkan masing-masing sahabat untuk memilih orang yang akan dijadikan sebagai saudara. Sementara beliau sendiri memilih Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya. Dengan demikian, terciptalah suasana persaudaraan yang kuat di tengah umat Islam pada hari-hari pertama kehadiran Rasulullah SAW di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Berikutnya untuk melindungi Madinah dari ancaman yang mungkin datang dari umat lain, Rasulullah SAW mengadakan perjanjian damai dengan umat Yahudi yang berada di sekitar kota Madinah. Sebagaimana yang telah disinggung, suku Aus dan Khazraj sering mendengar janji kedatangan Nabi akhir zaman dari umat Yahudi yang hidup di dekat mereka. Ada tiga kabilah besar Yahudi di Madinah, yaitu, Bani Nadhir, Bani Qainuqa dan Bani Quraidhah. Dengan ketiga kelompok ini, Rasulullah SAW mengikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu.</p>
<p style="text-align: justify;">
Setelah langka-langkah awal diambil Rasulullah SAW menyibukkan diri dengan membimbing umat kepada ajaran yang diterimanya dari Allah swt. Di kota inilah, beliau mendapatkan wahyu-wahyu yang menjelaskan hukum-hukum syariat secara lebih luas. Wahyu inilah yang kemudian diajarkan Nabi SAW kepada umatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Perang Badr</strong><br />
Sementara itu, dengan kepergian Nabi ke Madinah, permusuhan kaum kafir Quresy kepada umat Islam masih belum reda. Penyiksaan dan gangguan mereka kepada kaum muslimin yang masih berada di Mekah dan tidak dapat keluar dari kota itu semakin menjadi. Di lain pihak harta benda yang ditinggalkan oleh mereka yang telah berhijrah ke Madinah dirampas oleh Quresy. Hal inilah yang mendasari perintah Rasulullah SAW untuk mencegat kafilah dagang Quresy yang melintas dekat Madinah dalam perjalanan perniagaan menuju Syam atau dari Syam menuju Mekah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Tahun kedua hijriyah, Rasulullah SAW bersama 313 sahabatnya bergerak menuju Badr untuk mencegat kafilah Quresy yang membawa harta berlimpah hasil dari perniagaan di Syam. Setelah mendengar berita itu, Abu Sufyan, yang memimpin kafilah ini, mengirimkan utusannya ke Mekah untuk meminta bantuan tentara Quresy dalam menghadapi ancaman ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
Bagi Quresy, pencegatan kafilahnya oleh kaum muslimin tidak hanya berarti kerugian harta tetap juga kehormatan suku besar di Mekah ini. Untuk itu, Abu Jahl yang merupakan salah satu bangsawan terkemuka Quresy bersama seribu orang lengkap dengan peralatan perang meninggalkan kota Mekah dan bergerak menuju Badr. Sementara kafilah pimpinan Abu Sufyan dengan melintasi jalan alternatif berhasil lolos dari sergapan kaum muslimin. Abu Sufyan mengirimakn kurirnya untuk meminta Abu Jahl kembali kep mekah karena bahaya telah berlalu. Namun pesan itu ditolaknya. Abu Jahl bersikeras untuk berhadapan dan terlibat perang dengan pasukan Madinah. Ia berpikir, dengan demikian, umat Islam akan jera atau bahkan terhabisi.</p>
<p style="text-align: justify;">
Di Badr, pasukan muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW telah bersiap siaga. Pasukan kecil berjumlah 313 orang dan peralatan yang ala kadarnya, siap menghadapi seribu orang di barisan Quresy yang bersenjata lengkap. Namun keimanan yang dimiliki oleh umat Islam lah yang menjadi mesin pendorong mereka untuk tegar dan siap menanti kematian di jalan Allah yang basalannya adalah surga.</p>
<p style="text-align: justify;">
Tanggal 17 Ramadhan tahun kedua hijriyah, perang di Badr berkecamuk setelah diawali dengan duel satu lawan satu antara tiga jawara dari dua barisan. Satu demi satu korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Darah bersimbah di sana sini. Tak lama, berita tersebar bahwa Abu Jahl yang oleh Rasul disebut sebagai Firaun di tengah umat ini tewas di tangan pasukan muslimin. Terbunuhnya Abu Jahal dan beberapa pemuka Quresy di medan perang Badr menjadi pukulan berat bagi pasukan Mekah yang akhirnya memilih untuk melarikan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">
Dalam perang Badr, pasukan Quresy menderita kerugian tujuh puluh tewas dan tujuh lainnya tertawan. Sementara barang rampasan perang yang ditinggalkan tidak sedikit. Diperkirakan sekitar 150 unta, sepuluh kuda, sejumlah kulit dan kain, serta peralatan perang ditinggalkan oleh pasukan Mekah yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Perang Uhud</strong><br />
Kekalahan Quresy dalam perang Badr menjadi pukulan berat bagi mereka. Betapa tidak, Muhammad dan pengikutnya yang belum lama ini menjadi bulan-bulanan tekanan dan penyiksaan kini telah memiliki kekuatan yang dapat melumpuhkan pasukan Quresy. Untuk itu, para pemuka Mekah merencanakan tindakan balas dendam. Akhirnya diputuskan, bahwa Quresy akan menyerang kaum muslimin di Madinah dengan segenap kekuatan yang ada. Maka dibuatlah persiapan yang matang. Setiap keluarga dari Quresy khususnya, mereka yang salah satu anggoatanya terbunuh di perang Badr dikenai kewajiban untuk mendanai perang besar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
Setelah segala sesuatunya dirasa matang, pasukan Quresy yang berjumlah 3.000 orang dengan senjata lengkap bergerak ke arah Madinah. Berita bergeraknya pasukan Quresy ke arah Madinah sampai ke telinga Rasul. Beliau lantas mengumpulkan para sahabatnya dan bermusyawarah dengan mereka. Beliau menanyakan pendapat mereka, apakah kaum kafir akan dihadapi di dalam Madinah atau di luar Madinah? Mereka yang lebih muda dan tidak hadir di perang Badr mengusulkan untuk menghadang pasukan Mekah di luar Madinah. Pendapat inilah yang lantas disahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
Kaum muslimin yang berjumah sekitar 1000 orang bergerak ke luar kota Madinah. Namun di tengah jalan sebanyak 300 orang termakan oleh tipu daya si munafik Abdullah bin Ubay, dan berpisah dari barisan Rasulullah. Sesampainya di kawasan gunung Uhud, Rasul memerintahkan 50 orang sahabtanya untuk mengambil posisi di bukit Ainain yang kemudian berubah nama menajdi Jabal Rumath atau gunung pemanah. Kepada mereka, beliau berpesan untuk tidak meninggalkan bukit itu, menang atau kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Perang berkecamuk. Pada awalnya, pasukan muslimin berhasil memukul mundur tentara Mekah. Di saat tentara kafir meningggalkan medan, para pemanah turun dari bukit untuk mengumpulkan rampasan perang. Imbauan Abdullah bin Jubair yang menjadi komandan para pemanah kepada anak buahnya untuk kembali ke posisi asal mereka tidak digubris. Kekosongan ini dimanfaatkan pasukan berkuda Quresy untuk menyerang di balik bukit. Melihat keadaan ini pasukan kafir yang asalnya melarikan diri, kembali ke medan perang. Dengan demikian, posisi kaum muslimin terjepit.</p>
<p style="text-align: justify;">
Barisan yang asalnya teratur dan mengendalikan jalannya pertempuran kini tercabik-cabik. Tidak sedikit pejuang muslim yang lari menuju Madinah, setelah isu terbunuhnya Nabi tersebar di tengah medan. Hanya sekelompok kecil yang terus bertahan dan bertarung habis-habisan. Ketangkasan Ali dan keberaniannya dipuji oleh para malaikat. Terdengar suara yang memuji Ali dan pedangnya yang bernama Dzul fiqar, ‘La Fata Illa Ali La Saifa illa Dzulfiqar&#8217;, tidak ada yang jantan seperti Ali dan tidak ada pedang seperti Dzul Fiqar.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sebanyak tujuh puluh orang dari barisan muslimin termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Mutthalib, gugur syahid dalam perang ini. Nabi sendiri mengalami luka yang cukup serius. Namun berkat kepemimpinan putra Abdullah ini, kaum muslimin kembali berhasil memegang kendali peperangan setelah merapikan barisan. Menyaksikan hal itu, Abu Sufyan memerintahkan kepada pasukan kafir Quresy untuk menghentikan perang dan kembali ke Mekah. Dengan demikian berakhirlah perang Uhud.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/04/16/sejarah-rasulullah-saww-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 3)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/04/13/sejarah-rasulullah-saww-bagian-3/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/04/13/sejarah-rasulullah-saww-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 05:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAWW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 3) Hijrah ke Habasyah Pada pembahasan yang lalu telah disinggung bahwa kaum muslimin di kota Mekah, khususnya mereka yang berasal dari kalangan budak atau orang-orang yang memiliki kedudukan sosial rendah, mendapat perlakuan buruk dari kaum kafir Quresy. Tidak sedikit dari mereka yang disiksa dan ada pula yang dibunuh. Kondisi ini sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="300" height="290" /></a>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 3)</strong></p>
<p><strong>Hijrah ke Habasyah</strong></p>
<p>Pada pembahasan yang lalu telah disinggung bahwa kaum muslimin di kota Mekah, khususnya mereka yang berasal dari kalangan budak atau orang-orang yang memiliki kedudukan sosial rendah, mendapat perlakuan buruk dari kaum kafir Quresy. Tidak sedikit dari mereka yang disiksa dan ada pula yang dibunuh. Kondisi ini sangat menyulitkan umat Islam. Akhirnya, untuk melepaskan diri dari penderitaan dan untuk menjaga agar umat yang baru terbentuk tidak bisa dihancurkan, Rasulullah SAW memerintahkan sekelompok umatnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah yang saat itu dipimpin oleh raja Najasyi.</p>
<p style="text-align: justify;">
Kelompok muhajirin ke Habasyah dipimpin oleh Ja&#8217;far putra Abu Thalib. Kepergian Ja&#8217;far dan rombongannya yang berjumlah kurang lebih delapan puluh orang ke Habasyah membuat berang kaum kafir Mekah. Merekapun mengirimkan utusan kepada raja Najasyi untuk menolak kehadiran kaum muslimin di negerinya. Permintaan Quresy tidak langsung dikabulkan oleh Najasyi. Raja yang beragama nasrani ini lantas memanggil Ja&#8217;far dan rombongannya ke istana.<br />
Di tempat inilah dan di hadapan raja beserta para penasehat agamanya, Ja&#8217;far menjelaskan maksud kedatangannya ke Habasyah. Putra Abu Thalib ini dengan tegas mengatakan bahwa dia dan rombongannya, bukanlah budak yang lari dari tuannya atau pembunuh yang lari dari tebusan darah. Mereka lari dari Mekah hanya untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan dan tekanan yang dilakukan para pemuka Quresy terhadap mereka. Mereka dianggap layak mendapat perlakuan buruk karena telah menyembah Tuhan yang Esa dan menolak sujud kepada berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">
Penjelasan Ja&#8217;far bin Abi Thalib berhasil mematahkan makar utusan Quresy. Raja Najasyi memerintahkan untuk mengembalikan semua hadiah yang dikirim Quresy kepadanya. Utusan Mekah-pun meninggalkan negeri Habasyah. Untuk kaum muhajirin ini, Najasyi memberikan izin tinggal di negerinya dengan aman dan damai sampai kapanpun juga.<br />
Pemboikotan Terhadap Bani Hasyim</p>
<p style="text-align: justify;">
Di Mekah, kaum kafir Quresy semakin kalap, kala menyaksikan jumlah mereka yang masuk agama Islam semakin bertambah. Pembesar-pembesar Mekah semisal Hamzah bin Abdul Mutthalib juga telah mengumumkan keislamannya. Hal ini membuat para pemuka Quresy berpikir untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi membunuh Muhammad tidaklah mudah. Sebab, bagaimanapun juga, bani Hasyim yang termasuk kelompok bangsawan Quresy tidak akan setuju.</p>
<p style="text-align: justify;">
Quresy membujuk Abu Thalib yang dipandang sebagai pelindung utama Rasulullah agar bersedia menerima uang tebusan dua kali lipat dari tebusan biasa, dan membiarkan Muhammad dibunuh. Pembunuhnya akan dipilih dari orang di luar Quresy. Dengan demikian, pembunuhan atas diri Muhammad tidak akan berbuntut pada perang saudara di Mekah. Usulan tersebut dipandang Abu Thalib sebagai tanda keseriusan Quresy untuk membunuh Nabi. Akhirnya Abu Thalib memanggil seluruh anggota keluarga bani Hasyim agar berkumpul di lembah Abu Thalib untuk melindungi Muhammad dari upaya teror yang direncanakan Quresy terhadapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Bulan Muharram tahun ke-7 kenabian, kaum kafir Quresy menyusun sebuah perjanjian yang berisi pemboikotan terhadap bani Hasyim. Berdasarkan perjanjian ini, segala bentuk jual beli, pernikahan dan hubungan dengan bani Hasyim dilarang. Pemboikotan ini telah menyebabkan bani Hasyim yang berada di lembah atau syi&#8217;b Abu Thalib kesulitan mendapatkan bahan pangan dan keperluan hidup lainnya.</p>
<p>Pemboikotan ini dimaksudkan untuk memaksa bani Hasyim khususnya Abu Thalib, agar bersedia menyerahkan Muhammad kepada Quresy untuk dibunuh. Tekad mereka untuk menghabisi nabi terakhir ini, sedemikian kuat sehingga Abu Thalib memperkuat penjagaan atas diri Rasulullah. Di malam hari, Abu Thalib memerintahkan salah seorang dari bani Hasyim untuk tidur di pembaringan Rasulullah, demi menjaga keselamatan Nabi bergelar Al-Amin ini.<br />
Kondisi serba sulit ini berlangsung selama tiga tahun. Selama itulah, mereka yang berada di dalam syi&#8217;b bergelut dengan rasa lapar dan keterasingan. Pekik tangis anak-anak bayi dari keluarga bani Hasyim yang kelaparan terkadang terdengar sampai ke luar lembah itu. Bagi sebagian orang Quresy, keadaan ini sungguh menyiksa batin mereka. Karena itu, mereka sepakat untuk mencabut boikot atas bani Hasyim.<br />
<strong>&#8216;Tahun Kesedihan (&#8216;Amul Huzn )<br />
</strong><br />
Tahun sepuluh kenabian, setelah bani Hasyim keluar dari syib Abu Thalib dan terlepas dari pemboikotan, Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid, paman dan istri Nabi yang selama ini menjadi pelindung dan pembela risalah kenabian, meninggal dunia. Wafatnya kedua manusia agung ini menjadi pukulan berat bagi Nabi. Betapa tidak, di saat kaum Quresy berniat membunuh beliau, Abu Thalib siap berkorban untuk melindungi Rasulullah. Di saat kaum kafir memboikot Nabi secara ekonomi, Khadijah menginfakkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Tahun 10 kenabian disebut oleh Rasulullah sebagai ‘amul huzn yang berarti tahun kesedihan karena kepergian dua insan pembela risalah kenabian.<br />
Setelah Abu Thalib dan Khadijah wafat, dan setelah menyaksikan penentangan kaum Quresy, Nabi SAW pergi ke kota Thaif untuk mengajak warga di kota itu kepada agama Islam. Tetapi warga Thaif menyambut Nabi dengan lemparan batu dan cacian. Akibat kekurangajaran warga Thaif, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan meminta izin untuk menghukum mereka. Tetapi nabi yang oleh Allah disebut sebagai orang yang penyayang ini menolak sambial mengatakan, &#8220;Ya Allah ampunilah kaumnya, karena mereka tidak mengetahui kebenaran yang aku bawa.&#8221;<br />
<strong>Keislaman Aus dan Khazraj<br />
</strong><br />
Setelah kembali ke kota Mekah, Nabi memfokuskan dakwahnya kepada suku-suku Arab lainnya yang berdatangan ke kota itu untuk melaksanakan ibadah haji. Dari situlah, beliau berkenalan dengan orang-orang Aus dan Khazraj, penduduk kota Yatsrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Di Yatsrib, suku Aus dan Khazraj merupakan musuh bebuyutan yang sejak lama terlibat perang saudara. Di kota itu, hidup pula suku-suku beragama Yahudi yang sering mengabarkan kepada mereka akan kedatangan Nabi di akhir zaman.<br />
Setelah berkenalan dengan Nabi Muhammad SAW dan ajara yang dibawanya, orang-orang dari Aus dan Khazraj menyatakan ikrar keimanan kepada beliau. Mereka bahkan mengingat janji dan baiat dengan Nabi. Orang-orang Aus dan Khazraj yang telah menemukan seorang pemimpin yang dapat mengakhiri permusuhan di antara mereka, menawarkan kepada Rasulullah SAW agar beliau bersedia berhijrah ke kota mereka.<br />
Sesuai dengan tawaran itu, dan dengan perintah Allah swt, Rasul SAW memerintahkan kaum muslimin Mekah untuk berhijrah ke Madinah. Rombongan demi rombongan kaum muslimin Mekah bergerak ke arah Yastrib. Gelombang hijrah ini terus berlanjut dan berpuncak pada hijrah Nabi ke kota itu.</p>
<p>Sumber: www.indonesian.irib.ir</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/04/13/sejarah-rasulullah-saww-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 2)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-2/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAWW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Masa Muda Al-Amin dan Risalah Ilahiyah Sejak kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa, Muhammad dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki kepribadian agung, jujur, penyantun, gemar menolong mereka yang memerlukan dan berhati besar. Ketinggian akhlak beliau membuat kagum bangsa Arab khususnya suku Quresy di Mekah. Berbeda dengan para pemuda dan masyarakat di zaman itu, Muhammad tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="184" height="177" /></a>Masa Muda Al-Amin dan Risalah Ilahiyah</strong><br />
Sejak kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa, Muhammad dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki kepribadian agung, jujur, penyantun, gemar menolong mereka yang memerlukan dan berhati besar. Ketinggian akhlak beliau membuat kagum bangsa Arab khususnya suku Quresy di Mekah. Berbeda dengan para pemuda dan masyarakat di zaman itu, Muhammad tidak tertarik kepada kehidupan yang hanya mengejar kesenangan duniawi.<br />
Pemuda putra Abdullah bin Abdul Mutthalib ini gemar menyendiri di lereng-lereng gunung atau di gua Hira untuk menghindari kehidupan syirik dan menyibukkan diri dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah. Muhammad biasanya pergi ke gua Hira dengan membawa bekal dan akan turun ke kota jika perbekalan habis. Pergi ke gua Hira, menyendiri dan bermunajat di tempat yang sepi itu seorang diri akhirnya menjadi kegiatan rutin pemuda bergelar Al-Amin ini.<br />
Di Hira, Muhammad menemukan ketenangan tersendiri yang tidak ia dapatkan di Mekah. Akhirnya, pada suatu hari ketika usianya menginjak 40 tahun, saat berada di dalam gua hira, Muhammad mendengar suara yang mengajaknya untuk membaca. Untuk pertama kalinya, Muhammad menerima ayat yang turun dari Allah swt. Iqra bismi rabbikalladzi khalaq, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ayat ini adalah yang pertama kalinya turun kepada Muhammad yang menandai kenabiannya.<br />
Tidak sedikit orang yang mempersoalkan mengenai agama Nabi Muhammad SAW sebelum menerima risalah kenabian. Permasalahan mengusik hati ketika menyaksikan bahwa di zaman jahiliyyah, bangsa Arab khususnya di kota Mekah, tempat Rasulullah SAW menjalani kehidupannya, adalah bangsa penyembah berhala. Masing-masing kelompok dan kabilah memiliki berhala tersendiri yang diletakkan di dalam ka&#8217;bah atau di komplek masjidul haram. Sementara masing-masing orang memiliki berhala yang khusus yang disimpan di rumah masing-masing atau di kantong khusus agar bisa dibawa ke mana-mana.<br />
Masalah inilah yang lantas melahirkan pertanyaan mengenai agama yang dianut oleh Rasulullah SAW sebelum diangkat menjadi nabi. Masalah kondisi di zaman jahiliyah dan penyembahan berhala yang dianut oleh bangsa Arab secara umum, adalah fakta sejarah yang tidak mungkin ditolak. Namun harus diingat bahwa di jazirah Arabia juga ada agama lain semisal agama Nasrani, Yahudi dan agama Ibrahimi.<br />
Penduduk Najran rata-rata beragama nasrani, sementara di kota Yasrib, nama lain kota madinah, terdapat beberapa kabilah yang menganut agama Yahudi. Selain dua agama itu, tidak sedikit pula yang menganut ajaran Nabi Ibrahim as. Agama Ibrahimi ini dianut oleh sebagian besar bani Hasyim. Bukankah ketika Abdul-Muththalib menamakan anaknya dengan nama Abdullah yang berarti hamba Allah, menunjukkan bahwa tuhan yang sebenarnya di mata Abdul Mutthalib adalah Allah, bukan selain-Nya.<br />
Ketika Allah mengangkatnya menjadi nabi dan utusan-Nya, Muhammad mengatakan kepada umat bahwa dia membawa ajaran Ibrahim. Seruan ini dikarenakan umat mengenal akan keberadaan ajaran yang demikian. Amalan ibadah seperti haji, umrah dan semisalnya yang juga dianut oleh bangsa Arab Jahiliyyah merupakan sisa-sisa ajaran Ibrahim as yang terus dijalankan meski dengan cara yang berbeda dengan ajaran sebenarnya. Semua ini menunjukkan bahwa tidak semua orang Arab di zaman itu menyembah berhala. Jika hal ini bisa diterima, muncul pertanyaan;<br />
Masuk akalkah, orang yang bakal membawa ajaran agama ilahi yang paling sempurna, tetapi tidak mengikuti ajaran Ibrahim dan terjerumus ke dalam kesyirikan penyembahan berhala?<br />
Jika Muhammad pernah menyembah berhala, tentunya, saat beliau menyeru kaum Quresy dan bangsa Arab untuk meninggalkan berhala, mereka akan mengingatkan bahwa dia sendiri pernah menyembah berhala. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah, &#8220;Ya rasulullah, apakah engkau pernah menyembah berhala?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Sama sekali tidak.&#8221;<br />
&#8220;Apakah engkau pernah meminum khamar?&#8221;<br />
beliau juga menjawab, &#8220;Sama sekali tidak pernah.&#8221;<br />
Dengan turunnya firman ilahi kepadanya dan turunnya perintah untuk mengajak kaumnya kepada penyembahan tuhan yang maha esa, Nabi Muhammad SAW menyampaikan misi mulia dan agung ini kepada sanak keluarganya. Orang yang pertama-tama menerima ajakan ini adalah Khadijah istri setia Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib yang hidup dalam bimbingan dan asuhan beliau. Ajakan dan seruan Nabi ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan kepada keluarga dekatnya.<br />
Proses dakwah secara sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama tiga tahun, sampai akhirnya Allah swt menurunkan ayat yang berisi perintah untuk secara terbuka menyampaikan risalah ilahi ini kepada umat.<br />
Dengan berdiri di atas sebuah bukit, Rasulullah SAW bertanya kepada kaumnya, &#8220;Wahai sekalian suku Quresy, jika akan katakan bahwa di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang datang menyerang, apakah kalian akan mempercayai kata-kataku?&#8221;<br />
Mereka menjawab, &#8220;Ya, pasti, sebab engkau adalah orang yang paling jujur.&#8221;<br />
Rasulullah berkata lagi, &#8220;Jika demikian, ketahuilah bahwa aku membawa risalah dan ajaran dari Tuhan untuk kalian semua.&#8221; Rasulullah menjelaskan risalah yang beliau pikul kepada kaum Quresy. Akan tetapi berbeda dengan pernyataan awal mengenai kejujuran Muhammad Al-Amin, kali ini kaum Quresy yang dimotori oleh para pemukanya yang kafir semisal Abu Sufyan, Abu Jahal dan lainnya menuduh putra Abdullah ini telah membuat kebohongan besar.<br />
Sejak saat itulah, dakwah kepada agama Islam dilakukan secara terbuka. Seiring dengan sambutan orang-orang yang berhati bersih kepada ajaran ini, sikap penentangan dan permusuhan kaum kafir terhadap ajaran ilahi ini juga semakin meningkat. Para pemuka Quresy yang merasa posisi dan kedudukan mereka terancam dengan adanya ajaran ilahi ini, serta merta megambil sikap frontal terhadap Muhammad, para pengikut dan ajarannya. Dengan memanfaatkan kedudukan, uang dan kekuatan, kaum kafir melakukan penyiksaan terhadap para pengikut ajaran islam.<br />
Bilal bin Rabbah bekas budak Umayyah bin Khalaf, juga Yasir, istrinya Sumayyah dan anaknya Ammar adalah contoh dari kaum muslimin lemah yang menjadi korban penyiksaan. Bahkan Sumayyah dan Yasir gugur syahid setelah menjalani penyiksaan kaum kafir Quresy yang tidak mengenal batas kemanusiaan. Sementara Ammar terpaksa mengeluarkan kata-kata syirik dari mulutnya meski hatinya tetap memegang teguh keimanan.<br />
Gangguan kaum kafir Quresy tidak hanya ditujukan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada pemimpin dan nabi pembawa risalah, Muhammad bin Abdillah SAW. Hanya saja, gangguan itu seberapa karena sikap Abu Thalib yang mati-matian membela Muhammad dan ajarannya. Bagaimanapun juga, Abu Thalib adalah figur yang sangat dihormati oleh kaum Quresy di Mekah. Berkali-kali para pembesar Quresy mendatangi Abu Thalib agar menghentikan aktifitas dakwah Muhammad yang menistakan berhala dan mengajak masyarakat kepada Tuhan yang esa. Meski demikian, Abu Thalib tetap pada pendiriannya untuk membela Muhammad dan ajarannya. Sikap Abu Thalib ini telah menyulut kemarahan para pembesar Quresy yang lantas memutuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan para pengikut ajaran Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber: irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 1)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-1/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 10:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad saww]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Kelahiran Muhammad Bangsa Arab di zaman dahulu memiliki kebiasaan menjadikan kejadian besar yang ada sebagai patokan penanggalan. Peristiwa penyerangan pasukan Gajah pimpinan Abrahah yang berniat menghancurkan Kabah di kota Mekah, dianggap sebagai sebuah peristiwa besar yang layak dijadikan patokan penanggalan. Di tahun pertama penanggalan Gajah ini, di kota Mekah dan di tengah keluarga Abdul Mutthalib, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="200" height="194" /></a>Kelahiran Muhammad</strong><br />
Bangsa Arab di zaman dahulu memiliki kebiasaan menjadikan kejadian besar yang ada sebagai patokan penanggalan. Peristiwa penyerangan pasukan Gajah pimpinan Abrahah yang berniat menghancurkan Kabah di kota Mekah, dianggap sebagai sebuah peristiwa besar yang layak dijadikan patokan penanggalan. Di tahun pertama penanggalan Gajah ini, di kota Mekah dan di tengah keluarga Abdul Mutthalib, lahir seorang bayi yang kelak akan mengubah perjalanan sejalah manusia. Dialah Muhammad putra Abdullah bin Abdul Mutthalib.<br />
Kelahiran bayi ini disambut dengan suka cita oleh keluarga bani Hasyim. Di negeri Persia, kelahiran Muhammad bin Abdillah memadamkan api keramat yang selama seribu tahun tidak padam. Kelahiran Muhammad juga menggoyahkan sendi-sendi istana kaisar Rumawi. Muhammad lahir dengan membawa janji risalah terakhir dari Allah untuk umat manusia.<br />
Masa sebelum kenabian lazim disebut nama jahiliyyah. Kata jahiliyyah diambil dari kata jahl yang berarti bodoh. Dengan demikian, zaman jahiliyyah berarti zaman kebodohan. Memang, bangsa Arab di zaman itu layak mendapat sebutan ini. Karena selain memang tidak mengenal baca tulis, bangsa yang hidup di jazirah Arabia ini juga memiliki kebiasaan dan perilaku bodoh.<br />
Menjadikan berhala-berhala buatan sendiri sebagai tuhan untuk disembah dan dipuja, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan bertawaf mengelilingi Kabah dengan cara bertelanjang, merupakan salah satu contoh dari perbuatan bodoh bangsa ini di zaman itu. Muhammad lahir untuk mengikis kebodohan bangsa Arab dan umat manusia secara umum dengan cahaya iman dan ilmu.<br />
Sejak lahir, Muhammad telah menunjukkan kelebihan yang khusus. Kehidupannya yang dimulai dengan keyatiman karena ayahnya telah meninggal dunia sebelum beliau lahir, penuh dengan kesusahan. Kesusahan inilah yang menempa diri Muhammad dan mempersiapkannya untuk menjadi manusia besar dan pemuka bagi seluruh umat sepanjang zaman. Empat tahun, Muhammad hidup terpisah dari sang ibu, Aminah binti Wahb dan tinggal di tengah keluarga Halimah as-Sa&#8217;diyah. Setelah berumur empat tahun dengan berat hati, Halimah melepas Muhammad dan mengembalikannya kepada sang ibu.<br />
Yatim Piatu<br />
Dua tahun kemudian, Aminah wafat, dan Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib yang amat menyintai dan menghormatinya. Abdul Mutthalib yang juga pemuka kaum Quresy telah meramalkan bahwa cucunya ini kelak akan menjadi pemimpin besar bagi umat manusia. Karena itulah, kakek tua yang amat berwibawa ini menghormati dan menyintai Muhammad lebih dari cucu-cucunya yang lain.<br />
Diriwayatkan bahwa suatu hari Muhammad duduk di tempat yang dikhususkan untuk Abdul Mutthalib. Orang-orang bangkit untuk melarangnya, tetapi Abdul Mutthalib mengatakan bahwa Muhammad sangat layak untuk duduk di tempat itu.<br />
Namun keteduhan payung Abdul Mutthalib tidak berumur panjang. Menginjak usia delapan tahun, Muhammad harus merelakan kepergian kakeknya itu. Akhirnya Muhammad tinggl dan diasuh oleh Abu Thalib pamannya yang menyintainya lebih dari anak-anak sendiri. Di rumah Abu Thalib inilah, beliau tumbuh hingga menginjak usia remaja remaja.<br />
Saat berusia 12 tahun, Muhammad ikut menyertai pamannya, pergi ke Syam untuk berniaga. Sudah menjadi kebiasaan kafilah dagang dari Mekah untuk singgah beristirahat di tempat pendeta Buhaira. Kafilah Abu Thalib pun singgah di sana. Pendeta Buhaira menyambut kedatangan kafilah itu dengan tangan terbuka. Namun sang pendeta merasa ada keanehan. Kepada Abu Thalib dia mengatakan bahwa dirinya menyaksikan sesuatu yang menakjubkan di kafilah ini.<br />
Abu Thalib yang tidak mengetahui apa maksud sang pendeta menyatakan bahwa dirinya tidak merasakan adanya keanehan. Hanya saja dia meninggalkan kemenakannya yang bernama Muhammad di dalam kemah.<br />
Mendengar hal itu, Buhaira meminta Abu Thailb untuk membawa Muhammad masuk ke rumahnya. Melihat remaja tampan dan sopan itu, Buhaira meminta izin Abu Thalib untuk mengajaknya berbicara secara khusus. Sang pendeta membawa Muhammad ke tempatnya. Gerak-gerik, tutur kata dan jengkal demi jengkal tubuh Muhammad diperhatikannya. Selanjutnya Buhaira memanggil Abu Thalib dan berkata, &#8220;Wahai Abu Thalib, kelak kemenakanmu ini akan diangkat menjadi nabi. Dialah nabi yang dinanti-nantikan kedatangannya. Karena itu, bawalah dia kembali ke Mekah dan jangan biarkan kaum Yahudi di negeri Syam menyakitinya.&#8221;<br />
Sesuai dengan anjuran pendeta Buhaira, Abu Thalib membawa Muhammad kembali ke Mekah.<br />
Gelar al-Amin<br />
Muhammad tumbuh besar menjadi pemuda yang dikenal dengan kejujuran, sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin yang berarti orang yang terpercaya. Bagi masyarakat kota Mekah, tidak ada orang yang bisa dipercaya lebih dari Muhammad Al-Amin. Karena itu, ketika Abu Thalib mengusulkan kepada Khadijah binti Khuwailid untuk menjadikan Muhammad sebagai kepercayaan dalam perniagaannya, usulan itu disambut dengan merta merta. Pada usia 25 tahun, Muhammad melakukan perjalanan niaga ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Khadijah, wanita kaya di kota Mekah yang amat disegani.<br />
Untuk memudahkan pekerjaan, Khadijah mengirimkan suruhannya bernama Maisarah untuk menyertai dan membantu Muhammad. Kesopanan pemuda bergelar Al-Amin ini, kejujuran dan kepiawaiannya dalam berdagang menarik perhatian Maisarah. Perniagaan ini, membawa keuntungan yang banyak meski dalam berdagang, Muhammad sangat memperhatikan masalah kejujuran. Seluruh kisah perjalanan ini diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah.<br />
Menikah Dengan Siti Khadijah AS<br />
Dengan usul Abu Thalib dan sambutan Khadijah, Muhammad datang meminang wanita mulia ini. Perkawinan antara Muhammad Al-Amin dan Khadijah, disaksikan oleh para malaikat di langit dan bumi. Dari dua manusia mulia ini, kelak akan lahir seorang putri yang menjadi penghulu wanita seluruh jagat, yaitu Fatimah Az-Zahra.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber : irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sayyidah Zainab Al-Kubra Simbol Keindahan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 14:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidah zainab]]></category>
		<category><![CDATA[zainab al-kubra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Sayyidah Zainab as lahir tanggal 5 Jumadil Awwal tahun ke-6 Hijriah di kota Madinah. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad saw sedang berada di perjalanan. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/sayyidah-zainab.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-499" title="sayyidah zainab" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/sayyidah-zainab.jpg" alt="" width="180" height="122" /></a>Sayyidah Zainab as lahir tanggal 5 Jumadil Awwal tahun ke-6 Hijriah di kota Madinah. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad saw sedang berada di perjalanan. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang baru lahir itu. Namun Imam Ali as memutuskan untuk menanti Nabi Muhammad saw kembali dari perjalanan dan memberinya nama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliu begitu gembira saat dikabarkan kelahiran cucunya ini dan berkata, &#8220;Allah swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya.&#8221; Rasulullah saw kemudian menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, &#8220;Saya mewasiatkan kepada kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip Sayyidah Khadijah as.&#8221; Sejarah menjadi bukti bahwa Sayyidah Zainab as sama seperti Sayyidah Khadijah yang menanggung banyak kesulitan demi memperjuangkan Islam. Dengan kesabaran dan pengorbanannya ia mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan kesempurnaan agama ilahi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as dibesarkan dalam keluarga yang penuh spiritual dan kemuliaan. Karena keluarga ini dihiasi oleh pribadi-pribadi agung seperti Rasulullah saw, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Mereka adalah orang-orang suci dan yang membangun keutamaan manusia. Sayyidah Zainab as sejak kecil punya pemahaman yang dalam dan jiwa yang dipenuhi makrifat. Sayyidah Zainab as sejak kecil telah menghapal khutbah historis ibunya Sayyidah Fathimah as yang penuh dengan pengetahuan Islam, sekaligus sebagai perawi khutbah ini. Setelah dewasa dengan kematangan berpikirnya ia akhirnya dikenal dengan sebutan &#8216;Aqilah yang berarti seorang ilmuwan wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kejadian dan peristiwa besar pernah disaksikannya. Sejak kecil Sayyidah Zainab as telah kehilangan kakeknya Nabi Muhammad saw dan tidak berapa lama beliau harus kehilangan ibu tercintanya Sayyidah Fathimah as. Setelah itu, tanggung jawab pendidikannya berada di pundak ayahnya Imam Ali as. Dalam didikan ayahnya Imam Ali as, beliau mencapai derajat keilmuan yang tinggi dan keutamaan akhlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua posisi itu diraihnya ketika mayoritas wanita dimasa itu buta huruf dan tidak punya kesempatan untuk belajar. Sayyidah Zainab as setelah menimba ilmu dari ayahnya kemudian mulai menyebarkan agama Islam dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dikuasainya kepada kaum hawa waktu itu. Para wanita berduyun-duyun memintanya untuk diperbolehkan hadir dalam majelis pelajaran dan tafsir Al-Quran. Kehadirannya di Madinah dan setelah itu selama tinggal di Kufah berhasil menyampaikan ilmu-ilmu Islam kepada kaum hawa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika Sayyidah Zainab as mencapai usia perkawinan, beliau kemudian menikah dengan Abdullah bin Jakfar saudara misannya. Abdullah dikenal sebagai orang kaya Arab. Namun Sayyidah Zainab as menjadi isterinya bukan karena hartanya. Ketinggian derajatnya membuat beliau tidak membatasi dirinya dalam kehidupan lahiriah. Beliau telah belajar untuk tidak pernah mengorbankan hakikat dalam kondisi apa pun. Itulah mengapa Sayyidah Zainab as senantiasa bersama saudaranya Imam Husein as demi menghidupkan kembali agama dan spiritual manusia serta berusaha untuk memperbaiki masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as sewaktu menikah dengan suaminya Abdullah mensyaratkan untuk bisa tetap bersama saudaranya Imam Husein as. Abdullah menerima syarat tersebut dan menikahi cucu Rasulullah saw ini. Dengan syarat inilah Sayyidah Zainab as dapat mengikuti perjalanan bersejarah Imam Husein as dari kota Madinah hingga Karbala dan bangkit menghadapi Yazid penguasa zalim dan korup.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi paling tepat untuk mengenal lebih jauh kepribadian Sayyidah Zainab as adalah dengan mempelajari sejarah Asyura dan tertawannya keluarga Rasulullah saw. Kondisi paling genting bagi sejarah Islam terjadi dalam peristiwa Asyura di mana pada waktu itu siapa saja dapat menyaksikan keagungan semangat Sayyidah Zainab as. Seorang perempuan yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah Islam. Mengingat Allah dan shalat menjadi penenangnya. Cahaya ilahi begitu menerangi hatinya, sehingga segala penderitaan yang dihadapinya menjadi tidak berarti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepribadian hakiki seseorang oleh sains dan ilmu psikologi disebutkan bakal muncul di saat orang tersebut dalam kondisi marah atau sangat emosional. Sayyidah Zainab as di puncak kesulitan dan penderitaan setelah syahadah saudara dan orang-orang tercintanya masih tetap tegar berkata dan derajat kesabaran, keberanian, dan tawakkalnya kepada Allah yang telah tertanam dalam dirinya didemonstrasikan dengan indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan para pemimpin zalim dan haus darah dinasti Umayyah, Sayyidah Zainab as berdiri dan tanpa takut mengecam sikap mereka serta membela kebenaran Ahlul Bait Nabi Muhammad saw. Beliau menilai Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya sebagai pemenang. Pidatonya yang lugas, fasih dan mematikan di istana Yazid begitu mempengaruhi hadirin yang membuat mereka kembali mengenang ayahnya Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tegas Sayyidah Zainab as berpidato dengan bersandarkan pada ayat-ayat Al-Quran. Kemampuan beliau dalam menjelaskan kebenaran begitu mempesonakan, sehingga pribadi seperti Ibnu Katsir terpengaruh ucapan-ucapan Sayyidah Zainab as. Beliau dengan suara lantang dan dalam kondisi menangis berkata, &#8220;Ayah dan ibuku menjadi tebusan kalian orang-orang tua terbaik di antara mereka yang lanjut usia, anak-anak kecil terbaik di antara mereka yang masih kecil dan wanita-wanita kalian adalah yang terbaik. Generasi kalian lebih tinggi dan lebih baik dari semua generasi yang ada dan kalian tidak pernah terkalahkan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as pernah mendengar dari ayahnya Imam Ali as bahwa &#8220;Manusia tidak akan pernah mampu mengenal hakikat iman tanpa memiliki tiga hal dalam dirinya; pengetahuan akan agama, kesabaran di tengah kesulitan dan pengelolaan yang baik urusan kehidupannya.&#8221; Wanita mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya. Menurut Sayyidah Zainab as, ketegaran di jalan kebenaran dan pengorbanan di jalan Allah senantiasa indah dan selamanya bakal dipuji oleh manusia. Demikianlah setelah peristiwa Asyura Sayyidah Zainab as kepada orang-orang zalim beliau berkata, &#8220;Saya tidak menyaksikan sesuatu kecuali keindahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber : irib</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM ALI BIN ABI THALIB AS. (1)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 01:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Inilah Imam Ali bin Abi Thalib as. Seorang figur dan pribadi agung di kalangan umat manusia. Dikenal akrab dengan nilai-nilai kedermawanan, kecerdasan, keadilan, kezuhudan, dan jihad. Dalam dunia Islam, tak seorang dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat menandingi sebagian karakteristiknya ini, apalagi seluruh karakteristik tersebut. Karakteristik dan sikap-sikapnya mengungguli seluruh bangsa dunia, baik dari kalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ImamAli.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-354" title="ImamAli" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ImamAli-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Inilah Imam Ali bin Abi Thalib as. Seorang figur dan pribadi agung di kalangan umat manusia. Dikenal akrab dengan nilai-nilai kedermawanan, kecerdasan, keadilan, kezuhudan, dan jihad. Dalam dunia Islam, tak seorang dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat menandingi sebagian karakteristiknya ini, apalagi seluruh karakteristik tersebut. Karakteristik dan sikap-sikapnya mengungguli seluruh bangsa dunia, baik dari kalangan muslimin maupun selain muslimin. Mereka seluruhnya sepakat bahwa di sepanjang sejarah dunia Arab maupun non-Arab, tak ada seorang pun yang dapat menandinginya kecuali saudara dan putra pamannya, Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini akan kami paparkan sebagian dimensi kehidupan dan karakteristik Imam Ali bin Abi Thalib as. secara ringkas.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link2"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Putra Ka‘bah</h3>
<p style="text-align: justify;">Sejarawan sepakat bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. lahir di dalam Ka‘bah yang suci.<a name="_ftnref1" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn1">[1]</a> Tak seorang pun di dunia ini yang lahir di dalam Ka‘bah. Hal ini adalah pertanda keagungan dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah swt. Sehubungan dengan itu, Abdul Bâqî Al-‘Amrî, seorang penyair berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Engkaulah sang agung dijunjung tinggi,</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih agung darimu di kota Mekah tiada lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau dilahirkan di Baitullah yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudara Rasulullah saw. dan pintu kota ilmunya ini lahir di dalam rumah Allah yang paling suci. Dengan demikian Imam Ali as. dapat menerangi jalan penduduk sekitarnya, menegakkan bendera tauhid, dan menyucikan Baitullah itu dari setiap berhala dan patung. Di sana ia menjadi pengayom orang-orang asing, saudara orang-orang fakir, dan tempat berlindung orang-orang yang ditimpa kesusahan ini lahir di dalam rumah yang agung dan suci. Dalam rangka inilah Imam Ali as. dapat menebarkan keamanan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan mereka, serta memus-nahkan kemiskinan dari dunia mereka. Ayahnya, sang mukmin Quraisy dan singa padang pasir, menamainya Ali. Sebuah nama yang paling bagus dan indah. Sebuah nama yang tinggi dalam kedermawanan dan keje-niusan, dan tinggi pula dalam kekuatan dan potensi cemerlang di bidang ilmu pengetahuan, adab, dan keutamaan yang dianugerahkan Allah kepa-danya. Penegak keadilan Islam ini dilahirkan pada hari Jumat, 13 Rajab, 30 tahun setelah tahun Gajah, atau 12 tahun sebelum pengangkatan Rasulullah saw. sebagai nabi.<a name="_ftnref2" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link3"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Gelar Kehormatan</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. memiliki banyak gelar. Semua itu meref-leksikan keunggulan karakteristiknya. Di antara gelar-gelar itu adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Ash-Shiddîq (Orang yang Jujur)<a name="_ftnref3" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. memiliki delar Ash-Shiddîq (orang yang jujur), karenanya adalah orang pertama yang membenarkan Rasulullah saw. dan yang beriman kepada seluruh ajaran yang dibawanya dari sisi Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. pernah berkata: “Aku adalah Ash-Shiddîq Al-Akbar (orang jujur yang teragung). Aku telah beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku masuk Islam sebelum ia masuk Islam.”<a name="_ftnref4" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Al-Washî (Penerima Wasiat)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. juga memiliki gelar Al-Washî (penerima wasiat), karenanya adalah washî Rasulullah saw. Gelar ini diberikan langsung oleh Rasulullah saw. kepadanya. Rasul saw. bersabda: “Sesungguhnya washî-ku, tempat rahasiaku, orang yang terbaik dan terutama yang kutinggalkan setelahku, pelaksana janjiku, dan yang melunasi utang-utangku adalah Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref5" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong> Al-Fârûq (Pembeda Hak dan Batil)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. diberi gelar Al-Faruq, karena beliaulah pembeda antara yang hak dan yang batil. Gelar ini disimpulkan dari beberapa hadis Rasulullah saw. yang menekankan masalah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dzar dan Salman Al-Farisi meriwayatkan bahwa Nabi Mu-hammad saw. menggandeng tangan Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya orang ini—yaitu Ali bin Abi Thalib—adalah orang pertama yang beriman kepadaku. Ia adalah orang pertama yang akan bersalaman denganku di Hari Kiamat nanti. Ia adalah Ash-Shiddîq Al-Akbar, dan ia adalah Al-Faruq umat ini yang membedakan antara yang hak dan yang batil.”<a name="_ftnref6" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong> Ya‘sûbuddin (Tonggak Agama)</p>
<p style="text-align: justify;">Secara etimologis, Al-ya‘sûb berarti pemimpin lebah. Kemudian nama ini diberikan kepada seseorang yang menjadi pemimpin sebuah kaum. Ya‘sûb adalah sebuah gelar yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang ini—sembari menunjuk Ali bin Abi Thalib—adalah tonggak dan pemimpin (ya‘sûb) orang-orang yang beriman, sedang harta adalah tonggak dan pemimpin orang-orang yang zalim.”<a name="_ftnref7" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.</strong> Amirul Mukminin (Pemimpin Orang-Orang Beriman)</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu gelar Ali bin Abi Thalib as. yang terkenal adalah Amirul Mukminin. Gelar ini diberikan oleh Rasulullah saw. kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nu‘aim meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bahwa Rasu-lullah saw. bersabda: “Hai Anas, tuangkanlah air wudu untukku!” Setelah berwudu, Rasulullah saw. mengerjakan salat dua rakaat. Seusai salat, be-liau bersabda: “Hai Anas, orang yang pertama kali masuk menjumpaimu melalui pintu ini adalah Amirul Mukminin, Sayidul Muslimin, pemimpin orang-orang yang putih bercahaya, dan penutup para washî.”</p>
<p style="text-align: justify;">Anas berkata: “Aku memanjatkan doa: ‘Ya Allah, pilihlah ia kaum Anshar.’ Aku menyembunyikan keinginanku itu. Tidak lama berselang, datanglah Ali bin Abi Thalib as. Rasulullah saw. Bertanya: ‘Siapakah orang itu, hai Anas?’ ‘Ali bin Abi Thalib, ya Rasulullah’, jawabku pendek. Mendengar jawAbânku itu, Rasulullah saw. segera bangkit untuk me-nyambut dan memeluk Ali bin Abi Thalib. Lantasnya mengusap seluruh keringat yang mengalir di wajahnya dan juga mengusap seluruh keringat yang mengucur di wajah Ali bin Abi Thalib. Ali as. bertanya (terheran-heran): ‘Hai Rasulullah, kali ini aku melihatmu tengah menerimaku sengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Apakah yang menghalangiku untuk melakukan itu? Engkau adalah orang yang akan memenuhi seluruh amanatku, menyampaikan seruanku kepada masyarakat, dan menjelaskan segala pertikaian yang mereka lakukan sepeninggalku.’”<a name="_ftnref8" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.</strong> Hujjatullah (Hujah Allah)</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu gelar agung Ali bin Abi Thalib as. adalah Hujatullah (hujah Allah). Ia adalah hujah Allah swt. untuk seluruh umat manusia yang ber-tugas memberi petunjuk mereka ke jalan yang lurus. Gelar ini pun juga diberikan langsung oleh Rasulullah saw. kepadanya. Rasulullah bersabda: “Aku dan Ali adalah hujah Allah swt. untuk seluruh hamba-Nya.”<a name="_ftnref9" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah sebagian gelar mulia yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. Kami telah menyebutkan enam gelarnya yang lain dalam kitab kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensiklopedia Imam Ali bin Abi Thalib as.), jilid pertama. Dalam buku ini, kami juga memaparkan julukan dan karakteristiknya secara mendetail.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link4"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Masa Pertumbuhan</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada masa kanak-kanak, Imam Ali bin Abi Thalib as. diasuh oleh ayahnya, Abu Thalib, sang singa padang pasir dan mukmin Quraisy itu. Sang ayah adalah seorang figur dalam setiap kemuliaan, keutamaan, dan keagungan. Di samping itu, Imam Ali as. juga mengenyam pendidikan dari Ibunda tercinta, Fathimah binti Asad. Pada masa hidupnya, Fathimah adalah teladan kaum wanita dalam kehormatan, kesucian dan keluhuran budi pekerti. Sang ibunda telah mendidik anaknya dengan akhlak yang mulia, adat istiadat yang terpuji, dan tata krama yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link5"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Di Bawah Asuhan Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. mengasuh Imam Ali as. sejak masih kanak-kanak. Ketika Abu Thalib, paman Rasulullah saw., tengah mengalami kesulitan ekonomi, Rasulullah pergi menjumpai dua pamannya yang lain, Hamzah dan Abbâs. Rasulullah saw. menjelaskan kondisi ekonomi Abu Thalib kepada kedua paman itu. Ia meminta agar mereka dapat membantu menanggung beban hidup yang sedang diderita oleh Abu Thalib. Kedua paman memenuhi permintaan Rasulullah. Abbâs mengambil Thalib dan Hamzah mengambil Ja‘far. Sedangkan Rasulullah saw. sendiri mengambil Ali untuk diasuh. Sejak saat itu, Ali berada di bawah asuhan dan kasih sayang Rasulullah saw. Rasulullah saw. menanamkan dasar-dasar keyaki-nan, nilai-nilai yang luhur, dan suri teladan yang terpuji dalam jiwa Ali as. Dengan demikian, Ali as. telah mengenal Islam dengan baik dan beriman kepadanya dari sejak usia muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Karena itu, ia memiliki akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah saw. dan paling mengerti tentang risalah yang ia emban. Ali as. pernah mencerita-kan bagaimana Rasulullah merawat dirinya dan betapa dekat hubungan-nya dengannya. Ali as. berkata: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui kedudukanku di sisi Rasululah. Aku memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dan kedudukan yang istimewa di sisinya. Ia mele-takkanku di pangkuannya ketika aku masih kecil. Ia mendekapku ke dadanya, menidurkanku di tempat tidurnya, menempelkanku ke badan-nya, dan mencium keningku. Ia mengunyah makanan untukku kemudian menyuapkannya ke mulutku. Aku sama sekali tidak pernah mendapati ia berdusta dan melakukan kesalahan dalam tingkah lakunya. Aku senantiasa mengikutinya seperti seekor anak unta mengikuti induknya. Setiap hari, ia menunjukkan kepadaku akhlak-akhlaknya yang mulia dan menyuruhku untuk mengikutinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa erat hubungan Rasulullah saw. dengan Imam Ali as. Nabi Muhammad saw. telah mengasuh Imam Ali as. dengan penuh kelem-butan dan kasih sayang, dan dengan pendidikan yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link6"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Pembelaan Imam Ali Terhadap Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. menciptakan sebuah revolusi spektakuler yang memporak-porandakan dan menghancurkan kultur dan adat istiadat Jahiliyah, bangsa Quraisy bangkit untuk menentangnya. Mereka berusaha untuk memadamkan revolusi ini dengan berbagai sarana dan prasarana yang mereka miliki. Bahkan, mereka pun menggerakkan anak-anak kecil untuk melempari Rasulullah saw. dengan batu. Ketika itu, Imam Ali as—yang masih kanak-kanak—berada di sisi Rasulullah saw. Ia berusaha menjaga Rasulullah dari serangan mereka sembari menghalau mereka dengan pukulan dan tangkisan. Begitu anak-anak kecil itu melihat Imam Ali berada di sisi Rasulullah sedang membelanya, mereka kabur men-jumpai ayah mereka dengan perasaan takut dan malu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link7"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Sang Muslim Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan dan perawi hadis sepakat bahwa Imam Ali as. adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah saw. dan memenuhi panggilannya dengan suara lantang. Ali as. mendeklarasikan kepada masyarakat bahwa ia adalah orang pertama yang menyembah Allah swt. kala itu. Ia berkata: “Sungguh aku menyembah Allah swt. sebelum se-orang pun dari umat ini menyembah Allah.”<a name="_ftnref10" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan dan perawi hadis juga sepakat bahwa Imam Ali sama sekali tidak pernah disentuh oleh kotoran Jahiliyah. Ia juga sama sekali tidak pernah sujud kepada berhala, sedangkan selainnya pernah sujud kepada berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Muqrizî berkata: “Ali bin Abi Thalib Al-Hâsyimî sama sekali tidak pernah menyekutukan Allah swt. Hal itu karena Allah swt. Meng-hendaki kebaikan atasnya. Karena itu, Dia menentukan supaya Ali diasuh oleh putra pamannya, junjungan para nabi, Rasulullah saw.”<a name="_ftnref11" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu ditegaskan di sini bahwa Ummul Mukminin Sayidah Khadijah memeluk Islam bersamaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. menganut Islam. Ali as. bercerita tentang keimanan dirinya dan keimanan Khadijah kepada Islam seraya berkata, ”Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menghimpun penghuninya untuk memeluk Islam selain Rasu-lullah dan Khadijah, dan aku adalah orang yang ketiga.”<a name="_ftnref12" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Ishâq berkata: “Ali as. adalah orang pertama yang beriman kepada Allah swt. dan kepada Muhammad Rasulullah saw.”<a name="_ftnref13" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika memeluk agama Islam, Ali as. masih berusia tujuh tahun. Menurut sebagian pendapat, ia sudah berusia sembilan tahun.<a name="_ftnref14" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan uraian ini jelas bahwa Imam Ali as. adalah orang pertama yang memeluk Islam, dan hal ini disepakati oleh kaum muslimin. Ini adalah sebuah kemuliaan dan kebanggaan tersendiri baginya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link8"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Kecintaan kepada Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. sangat mencintai Rasulullah saw. Seseorang pernah bertanya kepada Ali as. tentang sejauh mana kecintaannya kepada Rasulullah saw. Ali as. menjawab: “Demi Allah, Rasulullah saw. adalah orang yang lebih kami cintai daripada harta, anak, dan ibu kami. Bahkan, daripada air yang sejuk kami miliki ketika kehausan.”<a name="_ftnref15" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu manifestasi kecintaan Imam Ali as. kepada Nabi Muham-mad saw. adalah peristiwa berikit ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Imam Ali as. memasuki sebuah kebun kurma. Pemilik kebun kurma berkata kepadanya: “Maukah kamu menyirami pohon-pohon kurma ini, dan untuk setiap satu ember air, kamu akan mendapatkan upah satu biji kurma?” Imam Ali as. bergegas menyirami pohon-pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma memberikan upahnya, dan upah itu terkumpul sebanyak segenggam kurma. Lantas, Imam Ali as. bergegas menghadap Rasulullah saw. dan memberikan segenggam kurma itu kepadanya.<a name="_ftnref16" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Bukti kecintaan Imam Ali as. kepada Rasulullah saw. yang lain ialah  Imam Ali as. senantiasa berkhidmat dan berusaha untuk memenuhi seluruh hajat Rasulullah saw. Kami telah memaparkan sebagian bukti ini dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensklopedia Imam Amirul Mukminin as.).</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link9"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">e. Yawm Ad-Dâr (Hari Pembelaan)</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. senantiasa mengikuti Rasulullah saw. hingga ia dewasa. Pada suatu hari, Rasulullah saw. mendeklarasikan dakwah Islam dan mendapat perintah dari Allah swt. untuk memyampaikan risalah Ilahi kepada sanak keluarganya. Rasulullah saw. memanggil Ali as. dan menyuruhnya untuk mengundang mereka. Di antara para undangan itu terdapat paman-pamannya. Yaitu Abu Thalib, Hamzah, Abbâs, dan Abu Lahab. Ketika mereka telah hadir dan berkumpul, Ali as. menyajikan hidangan. Para undangan menikmati hidangan, dan hidangan itu tak sedikit pun berkurang. Setelah usai menikmati hidangan, Rasulullah saw. bangkit dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam dan mening-galkan penyembahan berhala. Ucapan Rasulullah diputus oleh Abu Lahab. Ia berkata kepada hadirin: “Sesungguhnya kamu semua telah disi-hir oleh Muhammad.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan ini berakhir tanpa membuahkan suatu hasil apapun. Pada hari berikutnya, Rasulullah saw. mengadakan pertemuan untuk yang kedua kalinya. Ketika para undangan telah hadir dan berkumpul, mereka menikmati hidangan yang disuguhkan. Setelah usai menikmati hidangan itu, Rasulullah saw. berdiri untuk menyampaikan pidato. Ia berkata: “Hai Bani Abdul Muthalib, demi Allah, sungguh aku belum pernah mengenal seorang pemuda Arab yang datang kepada kaumnya dengan membawa misi yang lebih baik daripada misi yang telah kubawa untuk kamu semua. Aku datang membawa kebaikan dunia dan akhirat untukmu. Allah swt. telah memerintahkan kepadaku untuk mengajakmu menggapai kebaikan itu. Siapakah di antara kamu yang siap membantuku atas urusan ini dan ia akan menjadi saudara, washî, dan khalifahku untuk kamu semua?”</p>
<p style="text-align: justify;">Para hadirin diam seribu bahasa seolah-olah di atas kepala mereka bertengger seekor burung. Imam Ali as. segera memjawab, sekalipun saat itu usianya masih sangat muda. Dengan penuh semangat ia berkata: “Aku, wahai nabi Allah. Aku siap menjadi pembelamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas Rasulullah saw. memegang pundak Ali seraya berkata kepada hadirin: “Sesungguhnya orang ini adalah saudara, washî, dan khalifahku untuk kamu semua. Karena itu, dengarkan dan taatilah segala perintah-nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan itu, seluruh hadirin serentak berteriak sembari mengejek Abu Thalib seraya berkata: “Muhammad telah menyuruhmu untuk mendengar dan menaati anakmu.”<a name="_ftnref17" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para perawi hadis sepakat atas kesahihan peristiwa ini. Peristiwa ini adalah dalil yang gamblang atas kepemimpinan (imâmah) Imam Ali bin Abi Thalib as. Hadis Rasulullah saw. dalam peristiwa ini menegaskan bahwa Imam Ali as. adalah wazir dan pembantu, washî dan khalifah Rasu-lullah saw. Kami telah memaparkan penjelasan hadis ini secara mendetail dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensklopedia Imam Amirul Mukminin as.), jilid 1.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link10"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">f. Di Syi‘ib (Lembah) Abu Thalib</h3>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Quraisy yang kafir sepakat untuk memboikot Nabi Muhammad saw. di Syi‘ib Abu Thalib. Mereka memaksanya untuk tinggal di sana agar tidak dapat melakukan interaksi dengan masyarakat. Tujuannya, agarnya tidak memiliki kesempatan untuk merubah keyakinan dan membersihkan otak masyarakat Arab dari kotoran Jahiliyah. Untuk melancarkan permu-suhan terhadap Bani Hâsyim, bangsa Quraisy telah mengambil beberapa keputusan berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">o   Tidak menikahkan anak-anak perempuan mereka dengan laki-laki yang berasal dari kalangan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">o   Orang laki-laki dari kalangan mereka tidak boleh menikah dengan wanita yang berasal dari kalangan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">o   Mereka tidak boleh melakukan transaksi jual beli dengan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Quraisy menggantungkan surat keputusan tersebut di tembok Ka‘bah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. terpaksa tinggal di Syi‘ib Abu Thalib dengan disertai orang-orang mukmin dari kalangan Bani Hâsyim, termasuk di antaranya adalah Imam Ali as. Mereka mengalami berbagai tekanan dan siksaan di Syi‘ib tersebut. Ummul Mukminin Khadijah senantiasa memberikan ban-tuan yang mereka butuhkan, hingga harta kekayaannya yang melimpah habis. Rasulullah saw. tinggal di Syi‘ib Abu Thalib bersama para pengikut setianya selama dua tahun lebih. Akhirnya, Allah swt. mengutus rayap untuk melahap surat keputusan yang telah digantung di tembok Ka‘bah itu. Rasulullah saw. memberitahukan peristiwa ini kepada Abu Thalib. Mendengar informasi itu, Abu Thalib bergegas menjumpai orang-orang kafir Quraisy dan memberitahukan peristiwa tersebut. Mereka tersentak kaget dan segera pergi untuk melihat surat keputusan itu. Ternyata peristiwa itu benar sesuai informasi yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Akhirnya, masyarakat menuntut agar beliau berserta para pengikut-nya dibebaskan dari pemboikotan itu. Bangsa kafir Quraisy pun terpaksa memenuhinya. Dengan kondisi fisik yang sangat lemah, beliau dan para pengikutnya keluar dari tempat pemboikotan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah bebas dari pemboikotan ini, Rasulullah saw. mulai mengajak umat manusia kepada tauhid dan menyingkirkan seluruh tradisi Jahiliyah. Di jalan ini, ia tidak merasa gentar sedikit pun terhadap ancaman dan kesepakatan orang-orang kafir Quraisy untuk menghabisi dirinya. Hal ini karenanya mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, Imam Ali as., dan putra-putra Abu Thalib yang lain. Abu Thalib dan keluarganya adalah benteng dan tempat berlindung Rasulullah saw. yang kokoh. Bahkan, Abu Thalib senantiasa mendorong Rasulullah saw. untuk mene-ruskan perjuangannya menyebarkan risalah Islam. Dalam sebuah syair yang indah, Abu Thalib berkata kepada beliau:</p>
<p style="text-align: justify;">Pergilah, anakku, dan sedikit pun jangan gusar, pergilah dengan gembira dan senang hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi Allah, mereka tak akan berani menyentuhmu, hingga aku terkubur dalam tanah nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau mengajakku dan kutahu engkau penasihatku, kau benar dan sebelum itu engkaulah sang al-Amîn.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu agama Muhammad adalah sebaik-baik agama, untuk manusia di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Laksanakanlah urusanmu dan sedikit pun jangan gusar, bergembira dan senang hatilah karennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syair ini mengungkapkan kedalaman imam Abu Thalib. Ia adalah pengayom Islam dan pejuang muslim pertama. Sungguh celaka orang yang berpendapat bahwa ia bukan muslim dan berada dalam siksa neraka. Padahal jelas bahwa putranya adalah pembagi (qâsim) surga dan nereka. Abu Thalib adalah tonggak akidah Islam. Seandainya bukan karena sikap dan pembelaannya yang sangat berani, niscaya Islam tidak berwujud lagi, melainkan namanya saja, dan orang-orang kafir Quraisy sudah dapat memberangus Islam sejak awal kemunculannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link11"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">g. Bermalam di Atas Ranjang Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kemuliaan Imam Ali as. yang paling menonjol adalah pengorbanannya untuk Nabi Muhammad saw. dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Di dunia Islam, Imam Ali as. adalah orang pertama yang mempertaruhkan jiwanya (demi kepentingan dakwah Islam). Saat itu orang-orang kafir Quraisy bertekad untuk membunuh dan mencabik-cabik tubuh Rasulullah saw. dengan tombak dan pedang. Di tengah malam yang gulita, mereka mengepung rumah Rasulullah saw. dengan tombak dan pedang yang terhunus. Rasulullah saw. telah mengetahui makar mereka sebelumnya. Untuk itunya memanggil putra pamannya dan memberitahu tentang rencana jahat bangsa Quraisy. Ia menyuruh Ali untuk tidur di atas ranjangnya. Ali as. menggunakan selimut berwarna hijau yang biasa dipakai Rasulullah saw. agar mereka menduga bahwa yang sedang tidur di atas ranjang itu adalah Rasulullah saw. Dengan senang hati, Ali as. menerima dan mematuhi perintah Rasulullah yang belum pernah terbersit di benaknya itu. Hal itu karena ia akan menjadi tebusan jiwa Rasulullah saw. Sementara itu, Rasulullah saw. keluar tanpa sepengetahuan para pengepung sedikit pun. Ia melemparkan segenggam debu ke wajah mereka yang keji sembari berkata: “Terhinalah wajah mereka itu.” Setelah berkata demikian, ia membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Kami jadikan di hadapan dan di belakang mereka dinding, kemudian Kami tutupi mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yâsîn [36]:9)</p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan Ali as. bermalam di tempat tidur Rasulullah saw. ini adalah sebuah jihad dan perjuangan cemerlang yang tidak ada tandingannya. Sehubungan dengan ini Allah swt. menurunkan ayat yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara manusia ada yang menjual jiwanya demi meraih keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]:207)</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini adalah babak penting dalam dakwah Islam yang belum pernah dilakukan oleh seorang muslim pun. Seorang penyair besar dan tenar, Syaikh Hâsyim Al-Ka‘bî pernah melantunkan beberapa bait syair yang ditujukan kepada Imam Ali as. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh pembelaanmu terhadap Ahmad tak mungkin terlukis dengan kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau tidur malam di ranjangnya sementara musuh mengintai dan mengancam.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau tidur dengan hati yang tenang seakan asyik mendengar kicauan burung.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau bak gunung kokoh dan penunggang kuda pemberani, telah kau lengkapi malamnya dengan tegar.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang pagi mereka menyerang bendera hidayah, mereka tak tahu bendera hidayah terjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. tidak tidur malam sembari berdoa kepada Allah swt. demi keselamatan saudaranya dari bencana yang dahsyat dan kejahatan para musuh. Ketika cahaya pagi muncul, mereka segera menyerang tempat tidur Rasulullah saw. sambil menghunuskan pedang. Ali as. segera bang-kit dari tidurnya bak harimau yang geram dengan menggenggam pedang terhunus. Melihat Ali as., mereka gemetar ketakutan seraya berteriak: “Mana Muhammad?” Ali as. menjawab dengan suara lantang: “Kalian telah membuatku sebagai penjaganya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, mereka mundur dengan penuh rasa malu dan kekesalan. Rasulullah saw. yang lahir untuk membebaskan mereka dan membangun kemuliaan yang agung itu telah terlepas dari incaran kejahatan mereka. Bangsa Quraisy betul-betul menaruh kedengkian yang dalam terhadap Ali as. Mereka memandangnya dengan mata yang tajam, tetapi Ali as. tidak menggubris dan berjalan di hadapan mereka dengan tenang sambil menghina dan mengejek mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link12"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">h. Hijrah ke Yatsrib (Madinah)</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. berangkat meninggalkan kota Mekah menuju kota Madinah, Ali as. menyampaikan semua amanatnya saw. kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan membayar seluruh utangnya, seperti diperintahkan oleh Nabi saw. Tidak lama kemudian, Ali as. menyusul saudara dan putra pamannya berhijrah ke Madinah. Bersama Ali as. turut serta beberapa orang wanita mulia yang bernama Fathimah. Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh tujuh orang kafir Quraisy. Ali mengadakan perlawanan terhadap mereka dengan penuh keberanian. Ketika ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, tak ayal lagi para penghadang yang masih hidup itu lari tunggang langgang. Ali as. melanjutkan perjalanan bersama rombongannya, sementara kalbunya dipenuhi oleh rasa rindu kepada Rasulullah saw. Setibanya di Madinah, ia berjumpa dengan Rasulullah saw. Menurut sebuah riwayat, ia berjumpa Rasulullah saw. di kota Quba sebelum memasuki kota Madinah. Nabi saw. sangat gembira dengan kedatangan saudara dan pembela setianya di setiap kesulitan dan peristiwa itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link13"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali dalam Kaca Mata Al-Qur’an</h3>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali as. dan memperkenalkannya sebagai peribadi Islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwa ia men-dapat perhatian yang tinggi di sisi Allah swt. Banyak sekali buku-buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Qur’an yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Iman Ali as.<a name="_ftnref18" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam manapun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link14"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Kategori Ayat Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali as. adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan . Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra‘d [13]:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abas. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, nabi saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalunya memegang pundak Ali as. sembari bersabda: ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”<a name="_ftnref19" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“.. dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]:12)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali as. berkata: “Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Rasulullah saw.”<a name="_ftnref20" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:274)</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, Imam Ali as. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah saw. bertanya kepa-danya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali as. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian ayat tersebut turun.<a name="_ftnref21" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftn21">[21]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir bin Abdillah. Jâbir bin Abdillah berkata: “Ketika kami bersama nabi saw., tiba-tiba Ali as. datang. Seketika itu itu Rasulullah saw. Ber-sabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguh-nya Ali as. dan Syi‘ah (para pengikut)nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali as. datang, para sahabat Nabi saw. Menga-takan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”<a name="_ftnref22" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.</strong>      Allah swt. berfirman:.</p>
<p style="text-align: justify;">“&#8230; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai penge-tahuan [Ahl Adz-Dzikr] jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]:43)</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali as. berkata: “Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.”<a name="_ftnref23" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepada-mu dari Tuhanmu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Sesungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun kepada Nabi saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi saw. diperintahkan oleh Allah untuk mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepening-galnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali as. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali as. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang men-cintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali as.: “Selamat, hai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”<a name="_ftnref24" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah nabi saw. mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya.<a name="_ftnref25" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn25">[25]</a> Setelah ayat tersebut turun, Nabi saw. bersabda: “Allah Maha Besar lantaran penyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref26" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat ketika sedang rukuk.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 55)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku menger-jakan salat Dzuhur bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang membe-rikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali as. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian ia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi saw. Lalunya saw. Berdoa: ‘Ya Allah, sesung-guhnya saudaraku, Mûsâ as. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Hârûn. Kokohkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’ (QS. Thaha [20]:25–32)</p>
<p style="text-align: justify;">“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kokohkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin.’ (QS. Al-Qashash [28]:35) Ya Allah, aku ini adalah Muhammad nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kokohkanlah punggungku dengannya.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelumnya sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: ‘Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan &#8230;.’”<a name="_ftnref27" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn27">[27]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menempatkan wilâyah ‘kepemimpinan’ universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali as. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka mengagungkan kemuliaan Imam Ali as. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk kalimat afirmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demikian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair tersohor, Hassân bin Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.<a name="_ftnref28" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn28">[28]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link15"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Kategori Ayat Kedua</h3>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait as. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali as. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apapun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebaji-kan itu. Sesungguhnya Allah Maha Penghampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Asy-Syûrâ [42]:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah swt. kepada segenap hamba-Nya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain as., dan maksud dari “iqtirâf Al-hasanah” (me-ngerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Ibn Abas berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”<a name="_ftnref29" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn29">[29]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Seorang Arab Baduwi pernah datang menjumpai Nabi saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan rasul-Nya.’ Arab Baduwi itu segera menimpali: ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab: “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’. Orang Arab Baduwi itu bertanya lagi: ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi saw. Menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian orang Arab Baduwi itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu bahwa barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”<a name="_ftnref30" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Barang siapa yang menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepadanya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudain kita ber-mubâhalah agar kita jadikan kutukan Allah atas orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali ‘Imrân [3]:61)</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain as.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an-nisâ’ (wanita) yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ as., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).<a name="_ftnref31" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut &#8230;.” (QS. Ad-Dahr [76])</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis berpendapat bahwa surah ini diturunkan untuk Ahlul Bait nabi saw.<a name="_ftnref32" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn32">[32]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala noda dari kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:33)</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang penghuni Kisâ’.<a name="_ftnref33" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn33">[33]</a> Mereka adalah Rasulullah saw.; junjungan para makhluk, Ali as.; jiwa dan dirinya, Sayyidah Fathimah; buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah rida dengan keridaannya dan murka dengan kemurkaannya, dan Hasan dan Husain as.; kedua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keuta-maan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathimah, Hasan, Husain, dan Ali as. di rumahku. Kemudian Rasulullah saw. menutupi mereka dengan Kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku. Hilangkanlah dari mereka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat Kisâ’ tersebut untuk masuk bersama mereka. Tetapinya menarik Kisâ’ itu sembari bersabda: “Sesungguhnya eng-kau berada dalam kebaikan.”<a name="_ftnref34" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn34">[34]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyak-sikan Rasulullah saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib as. setiap kali masuk waktu salat selama tujuh bulan berturut-turut. Ia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersih-kan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan salat, semoga Allah merahmati kalian!”<a name="_ftnref35" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn35">[35]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah berkata: “Aku mengerjakan salat bersama Rasulullah saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, ia mendatangi pintu rumah Fathimah as. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”<a name="_ftnref36" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn36">[36]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait as. Lantaran Ahlul Bait as. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link16"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Kategori Ayat Ketiga</h3>
<p style="text-align: justify;">Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali as. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan ter-kemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan di atas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘raf [7]:46)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi dari Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali bin Abi Thalib as., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pecinta mereka dengan wajah mereka bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”<a name="_ftnref37" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn37">[37]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa telah yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara ia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah bin Hârist. Adapun ‘Ubaidah, ia telah gugur sebagai syahid di medan Badar dan Hamzah juga telah gugur di medan perang Uhud. Sementara aku masih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini—sembari ia menunjuk jenggot dan kepalanya.”<a name="_ftnref38" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn38">[38]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link17"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Kategori Ayat Keempat</h3>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali as. dan mengecam para musuhnya yang senantiasa berusaha untuk meng-hapus segala keutamaannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah kamu menyamakan pekerjaan memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]:19)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as., Abbâs, dan Thalhah bin Syaibah ketika mereka saling menunjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah berkata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusan tabirnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beribadah haji.” Ali as. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan salat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan salat dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian turunlah ayat tersebut.<a name="_ftnref39" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn39">[39]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah [32]:18)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun memuji Imam Ali as. dan mengecam Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali as. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajan daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali as. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik”. Kemudian turunlah ayat tersebut.<a name="_ftnref40" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn40">[40]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link18"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali dalam Kaca Mata Hadis</h3>
<p style="text-align: justify;">Buku-buku literatur hadis, baik Shihâh maupun Sunan, dipenuhi oleh hadis-hadis Nabi saw. yang bagaikan bintang-gumintang gemilang mene-gaskan keutamaan pelopor keadilan Islam, Imam Ali as., dan mengang-katnya tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis yang masyhur dan telah tersebar di kalangan para perawi hadis itu pasti memahami tujuan utama Nabi saw. di balik hadis-hadis tersebut. yaitu ia ingin mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya sehingga ia menjadi penerus tong-kat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapak jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa dunia yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita mencermati hadis-hadis Nabi saw. mengenai keutamaan Imam Ali as. itu, niscaya kita temukan sekelompok hadis dikhususkan untuk dia secara khusus dan sekelompok hadis yang lain dikhususkan untuk Ahlul Bait Nabi as., yang secara otomatis kelompok hadis kedua ini juga meliputi Imam Ali as. Hal itu lantaran ia adalah junjungan ‘Itrah.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kami nukilkan beberapa hadis tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link19"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Kelompok Hadis Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis kelompok ini memuat berbagai macam bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali as. dan penegasan atas keutamaan-nya. Hadis-hadis tersebut adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link20"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali as. adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Ali as. adalah ayah untuk kedua cucunya dan pintu kota ilmunya. Nabi saw. sangat menghormati dan mencintai Ali as. Beberapa hadis Nabi saw. menegaskan betapa kecintaannya saw. kepada Ali as. sangat besar. Mari kita simak bersama beberapa hadis berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link21"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Diri Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat Mubâhalah menegaskan kepada kita bahwa Imam Ali as. adalah diri dan jiwa Nabi saw. Kami telah memaparkan hal ini pada pembahasan yang lalu. Nabi saw. sendiri telah menjelaskan dalam berbagai hadis bah-wa Ali as. adalah diri dan jiwanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Walîd bin ‘Uqbah memberikan informasi kepada Nabi saw. bahwa Bani Walî‘ah telah murtad dari Islam. Mendengar itu, Nabi saw. sangat murka dan bersabda: “Apakah Bani Walî‘ah menghen-tikan perbuatan mereka itu atau aku akan utus kepada mereka seorang laki-laki yang merupakan diri dan jiwaku; ia akan memerangi mereka dan menyandera kaum wanita mereka. Laki-laki itu adalah orang ini.” Setelah bersabda demikian, Nabi saw. menepuk pun-dak Imam Ali as.<a name="_ftnref41" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn41">[41]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, ‘Amr bin ‘Ash berkata: “Ketika aku kembali dari perang Dzâtus Salâsil, aku mengira bahwa tidak seorang pun yang lebih dicintai oleh Rasulullah saw. daripada aku. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah yang paling Anda cintai?’ Rasulullah saw. menyebutkan nama beberapa orang. Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulallah, di manakah Ali?’ Nabi saw. menoleh kepada para sahabat seraya bersabda, ‘Sesungguhnya ia bertanya kepadaku tentang jiwaku.’”<a name="_ftnref42" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn42">[42]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link22"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Saudara Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. pernah mengumumkan di hadapan para sahabat bahwa Ali as. adalah saudaranya. Masalah ini telah direkam oleh banyak hadis. Antara lain ialah:</p>
<p style="text-align: justify;">At-Turmudzî meriwayatkan dengan sanad dari Ibn Umar. Ibn Umar berkata: “Rasulullah saw. telah mempersaudarakan para sahabatnya. Ke-mudain datanglah Ali as. dengan air mata yang berlinang seraya berkata: ‘Ya Rasulallah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu. Tetapi mengapa Anda tidak mempersaudarakanku dengan siapa pun?’ Rasulu-llah saw. Bersabda: ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.’”<a name="_ftnref43" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn43">[43]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mempersaudarakan Ali dengan dirinya bukan hanya di dunia ini saja. Tetapi persaudaraan antaranya Imam Ali as. ini berlanjut hingga hari akhirat yang tak berbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw. naik ke atas mimbar. Setelah usai berpidato, ia bertanya, ‘Di manakah Ali bin Abi Thalib?’ Ali as. segera bangkit dan berkata: “Aku di sini, ya Rasulullah.’ Tak lama kemudian Nabi saw. memeluk Ali as. dan mencium keningnya seraya bersabda dengan suara yang lantang: ‘Wahai kaum Muslimin, Ali adalah saudaraku dan putra pamanku. Dia adalah darah dagingku dan rambutku. Dia adalah ayah kedua cucuku Hasan dan Husain, penghulu para pemu-da penghuni surga.’”<a name="_ftnref44" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn44">[44]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda pada saat melaksanakan haji Wadâ‘ semen-taranya menunggangi unta sembari menepuk pundak Ali as.: “Ya Allah, saksikanlah. Ya allah, aku telah menyampaikan seruan-Mu bahwa orang ini adalah saudaraku, putra pamanku, menantuku, dan ayah kedua cucu-ku. Ya Allah, sungkurkanlah orang yang memusuhinya ke dalam api ne-raka.’”<a name="_ftnref45" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn45">[45]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Nabi saw. dan Imam Ali as. Berasal dari Satu Pokok</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. pernah menegaskan bahwa ia saw. dan Ali as. berasal dari satu pohon yang sama. Hal ini telah disebutkan dalam beberapa hadis. Berikut ini adalah contoh dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali as.: ‘Hai Ali, sesungguh-nya umat manusia berasal dari berbagai pohon yang berbeda. Sementara engkau dan aku berasal dari satu pohon yang sama.’ Kemudian beliau membacakan ayat:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdam-pingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercAbâng dan yang tidak bercAbâng, disirami dengan air yang sama &#8230;” (QS. Ar-Ra’d [13]:4)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Aku dan Ali as. berasal dari satu pohon, se-dangkan umat manusia berasal dari pohon yang berbeda-beda.”<a name="_ftnref46" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn46">[46]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh betapa agung dan mulia pohon tersebut yang telah melahirkan junjungan alam semesta, Rasulullah saw., dan pintu kota ilmunya, Amirul Mukminin Ali as. Pohon ini adalah pohon yang penuh berkah; pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan ranting-ran-tingnya menjulang ke langit, dan membuahkan hasil bagi umat manusia pada setiap generasi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Wazîr Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam beberapa hadis, Nabi saw. sangat menekankan bahwa Ali as. adalah wazîrnya. Di antara hadis-hadis tersebut ialah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Asmâ’ binti ‘Umais berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku ber-kata sebagaimana saudaraku, Mûsâ berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu saudaraku Ali. Kokohkanlah aku dengannya, sertakanlah dia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan senantiasa mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui kondisi kami”.<a name="_ftnref47" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn47">[47]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Khalifah Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. memproklamasikan bahwa Ali as. adalah khilafah sepeninggal-nya dari sejaknya memulai dakwah. Hal itu terjadi Ketika ia mengundang kaum Quraisy agar memeluk Islam. Di akhir pertemuan tersebut, ia saw. berkata kepada mereka: “Dengan demikian, orang ini—yaitu Ali as.—adalah saudaraku, washî-ku, dan khalifahku setelahku untuk kalian. De-ngarkan dan taatilah dia!”<a name="_ftnref48" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn48">[48]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. telah menggandengkan kekhalifahan Ali as. sepe-ninggalnya dengan permulaan dakwah Islam. Ia juga telah menying-kirkan kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Banyak sekali riwayat yang telah menegaskan kekhalifahan Ali as. ini. Berikut ini seba-gian darinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululllah saw. bersabda: “Hai Ali, engkau adalah khalifahku untuk umatku.”<a name="_ftnref49" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn49">[49]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau saw. juga bersabda: “Di antara mereka, Ali bin Abi Thalib paling dahulu memeluk Islam, paling banyak ilmu pengetahuannya, dan dia adalah imam dan khalifah setelahku.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. di Sisi Nabi saw. Sepadan Hârûn di Sisi Mûsâ</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis dan riwayat telah diriwayatkan dari Nabi saw. yang memiliki kandungan yang sama. yaitu ia bersabda kepda Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harus di sisi Mûsâ as. &#8230;” Berikut ini kami nukilkan sebagian hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. bersabda kepada Ali as.: “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku?”<a name="_ftnref50" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn50">[50]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sa‘îd bin Mûsâyyib meriwayatkan hadis dari ‘Âmir bin Sa‘d bin Abi Waqqâsh, dari ayahnya, Sa’d. Sa‘d berkata: “Rasulullah saw. pernah ber-sabda kepada Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Sa‘îd berkata: “Aku ingin menyampaikan informasi tersebut kepada Sa‘d. Aku menjumpainya dan kuceritakan apa yang diceritakan oleh ‘Âmir. Sa‘d berkata: “Aku pun telah mendengarnya.’ Aku bertanya: “Sungguh engkau telah mendengarnya?” Ia meletakkan jarinya di kedua telinganya seraya berkata: “Ya, aku telah mendengarnya. Jika tidak, berarti aku tuli.’”<a name="_ftnref51" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn51">[51]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Gerbang Kota Ilmu Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Satu hal lagi tentang ketinggian dan keagungan kedudukan Ali as. yang ditegaskan oleh Nabi saw. adalah bahwa ia telah menjadikannya sebagai pintu kota ilmunya. Hadis-hadis mengenai hal ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur sehingga mencapai peringkat qath‘î (meyakinkan). Hadis-hadis ini telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. pada beberapa kesempatan. Di antaranya adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Jâbir bin Abdillah berkata: “Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mende-ngar Rasulullah saw. bersabda sambil memegang tangan Ali as.: “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalunya mengeraskan suaranya: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya.’”<a name="_ftnref52" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn52">[52]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki kota, maka hendaklah ia mendatangi pintunya.”<a name="_ftnref53" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn53">[53]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas risalahku kepada umatku sepeninggalku nanti. Mencintainya adalah iman, memurkainya adalah kemunafikan, dan memandangnya adalah kasih sayang.”<a name="_ftnref54" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn54">[54]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali as. adalah pintu kota ilmu Nabi saw. Setiap ajaran agama, hukum syariat, akhlak yang mulia, dan tata krama luhur yang datang darinya, semua itu bersumber dari Nabi saw. Konse-kuensinya, kita harus mematuhi dan mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Nabi saw. telah meninggalkan sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi kehidupan ini dengan hikmah dan kesejahteraan. Sumber itunya titipkan kepada Ali as. agar umat ini dapat menimba darinya. Tetapi sangat sekali, kekuatan zalim yang dengki kepada Imam Ali as. telah menutup jendela cahaya tersebut, mencegah umat untuk mengambil manfat darinya, dan membiarkan mereka terperosok ke dalam kebodohan hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link23"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. Serupa dengan Para Nabi</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Nabi saw. berada di tengah-tengah para sahabat. Ia berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin melihat ilmu pengetahuan Adam as., kesedihan Nuh as., ketinggian akhlak Ibrahim as., munajat Mûsâ as., usia Isa as., dan petunjuk serta kelembutan Muhammad saw., maka hendaklah kalian melihat orang yang akan datang sebentar lagi.” Setelah agak lama mereka menanti-nanti siapa yang akan datang, tiba-tiba Amirul Mukmini Ali as. muncul.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair terkenal, Abu Abdillah Al-Mufajji‘, telah banyak menyusun bait- bait syair tentang keagungan dan kemuliaan Imam Ali as. Ketika mengungkapkan realita tersebut di atas, ia menulis:</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai pendengki kekasihku Ali, masuklah ke dalam neraka Jahim dengan terhina.</p>
<p style="text-align: justify;">Masihkah engkau menyindir manusia terbaik, sedang engkau tersingkir-kan dari petunjuk dan cahaya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah yang mirip para nabi di kala kanak dan muda, di kala menyusu, disapih dan di kala makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmunya bagai Adam di kala ia menjelaskan nama-nama dan alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagai Nuh di kala selamat dari maut ketika ia turun di bukit Jûdî.<a name="_ftnref55" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn55">[55]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link24"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Mencintai Ali as. adalah Keimanam; Membencinnya adalah  Kemunafikan</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. menegaskan kepada umat bahwa mencintai Ali as. adalah tanda keimanan dan ketakwaam. Sementara membencinya adalah kemunafikan dan maksiat. Beriktu ini sebagian riwayat yang telah diri-wayatkan darinya tentang hal ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. berkata: “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan mencip-takan manusia, sesungguhnya janji Nabi yang ummî kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak membenciku melainkan orang munafik.”<a name="_ftnref56" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn56">[56]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Musâwir Al-Humairî meriwayatkan hadis dari ibunya. Ibunya berkata: “Ummu Salamah datang menjumpaiku dan aku mendengar ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan orang mukmin tidak akan membencinya.’”<a name="_ftnref57" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn57">[57]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs pernah meriwayatkan sebuah hadis. Ia berkata: “Rasu-lullah saw. memandang kepada Ali as. seraya bersabda: “Tidak mencin-taimu melainkan orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik. Barang siapa yang mencintaimu, berarti ia mencintaiku. Barang siapa yang membencimu, berarti ia membenciku. Kekasihku adalah kekasih Allah dan pendengkiku adalah pendengki Allah. Sungguh celaka orang yang mendengkimu setelahku nanti.’”<a name="_ftnref58" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn58">[58]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali as., ‘Mencintaimu adalah keimanan dan membencimu adalah kemunafikan. Orang yang pertama masuk surga adalah pecintamu dan orang pertama yang masuk neraka adalah pen-dengkimu.’”<a name="_ftnref59" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn59">[59]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis di atas telah tersebar luas di kalangan para sahabat nabi saw. Mereka menerapkan hadis-hadis tersebut kepada orang yang mencintai Ali as. dan menyebutnya sebagai orang mukmin. Sementara orang yang mendengkinya mereka sebut sebagai orang munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat terkemuka yang bernama Abu Dzar Al-Gifârî pernah berkata: “Kami tidak mengenal orang-orang munafik, kecuali ketika mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan salat, dan mendengki Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref60" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn60">[60]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat Nabi terkemuka lainnya yang bernama Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî juga pernah berkata: “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali ketika mereka mendengki Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref61" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn61">[61]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link25"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Allah swt.</h3>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya kita beralih menjelaskan sebagian hadis yang telah diriwa-yatkan dari Nabi saw. berhubungan dengan keagungan Imam Ali as. di sisi Allah swt. dan kemuliaan-kemuliaan yang ia miliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah hadis yang telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. Ber-hubungan dengan kemuliaan Imam Ali as. di sisi Allah di akhirat kelak. Sebagian hadis tersebut adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pembawa Bendera Pujian</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis sahih dari Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. pada Hari Kiamat kelak akan diberikan kemuliaan oleh Allah swt. untuk membawa bendera pujian. Hal ini adalah anugerah khusus yang tidak diberikan kepada siapa pun selainnya. Di antara hadis-hadis terse-but adalah hadis berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda kepada Imam Ali as.: “Pada Hari Kiamat kelak, engkau akan berada di hadapanku. Ketika itu aku diberi bendera pujian, lalu bendera tersebut kuserahkan kepadamu. Sementara engkau sedang mengusir orang-orang (yang tidak berhak) dari telagaku.”<a name="_ftnref62" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn62">[62]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link26"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pemilik Telaga Haudh Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. adalah pemilik telaga Haudh Nabi saw., sungai di surga yang paling sejuk, paling manis, dan sangat indah dipandang mata itu. Tak seorang pun da-pat meneguk airnya kecuali orang yang ber-wilâyah dan mencintai Imam Ali as. Berikut ini kami paparkan sebagian hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Ali bin Abi Thalib as. adalah pemilik te-laga Haudh-ku kelak di Hari Kiamat. Di sekelilingnya berjejer gelas-gelas sebanyak bilangan bintang di langit. Luas telaga Haudh-ku itu sejauh antara Jâbiyah dan Shan’a.”<a name="_ftnref63" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn63">[63]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link27"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pemilah Surga dan Neraka</h3>
<p style="text-align: justify;">Di antara posisi agung dan mulia yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada pintu kota ilmunya ini adalah bahwa ia adalah pemilah surga dan nereka. Ibn Hajar pernah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Imam Ali as. pernah berkata kepada anggota Dewan Syura yang telah dipilih oleh Umar: “Demi Allah, apakah di antara kalian ada seseorang yang pernah disebut oleh Rasulullah saw. dengan sabda: ‘Wahai Ali, engkau adalah pe-milah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, selainku?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak seorang pun”, jawab mereka pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Hajar memberikan catatan atas hadis ini. Ia menulis: “Maksud-nya ialah ucapan yang pernah diriwayatkan dari Imam Ar-Ridhâ as. Sabda Nabi saw. kepada Ali as.: ‘Engkau adalah pemilah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, berarti engkau, hai Ali, berkata kepada neraka: ‘Ini adalah bagianku dan yang ini adalah bagianmu.’”<a name="_ftnref64" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn64">[64]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dapat dipastikan bahwa tak seorang wali Allah pun, baik sebelum maupun setelah Islam, yang pernah memperoleh kemuliaan tak berbatas ini seperti yang pernah diperoleh oleh Imam Ali as. Allah swt. telah menganugerahkan kemulian itu kepadanya sebagai penghargaan atas jerih payah dan jihadnya di jalan Islam, dan atas usahanya dalam mengikis habis egoisme dan kerelaannya berkhidmat kepada kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link28"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Kelompok Hadis Kedua</h3>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit hadis yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. tentang keu-tamaan Ahlul Bait Nabi saw. yang suci, keharusan mencintai dan berpegang teguh kepada mereka. Berikut ini adalah sebagian dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link29"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Tsaqalain</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadis Tsaqalain termasuk hadis Nabi saw. yang paling indah, paling sahih, dan paling tersebar luas di kalangan muslimin. Hadis ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Sahih (Al-Kutub As-Sittah), dan para ulama juga mene-rimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diingatkan di sini bahwa Nabi saw. telah menyampaikan hadis tersebut di beberapa tempat dan kesempatan. Di antaranya berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesung-guhnya aku tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya sepeninggalku nanti. Salah satunya lebih agung daripada yang lainnya. Yaitu Kitab Allah, tali yang membentang dari langit ke bumi, dan yang kedua adalah ‘Itrahku, Ahlul Baitku. Keduanya itu tidak akan per-nah berpisah sampai menjumpaiku di telaga Haudh kelak. Perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya itu sepeninggalku kelak.”<a name="_ftnref65" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn65">[65]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. juga pernah menyampaikan hadis ini ketika sedang melaksanakan haji Wada’ pada hari Arafah. Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî meriwayatkan hadis seraya berkata: “Aku melihat Rasulullah saw. pada haji Wada’ pada hari Arafah. Ketika itunya berpidato sedangnya berdiri di atas punggung untanya yang bernama Al-Qashwâ’. Aku mendengarnya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian mengikutinya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.’”<a name="_ftnref66" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn66">[66]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. juga pernah berpidato di hadapan para sahabat Ketika ia berada di atas ranjang pada saat mendekati wafat. Ia saw. Ber-sabda: “Wahai manusia, sebentar lagi nyawaku akan diambil dengan cepat, lalu aku pergi. Dan sebelum ini aku pernah menyampaikan suatu ucapan kepada kalian. Yaitu aku tinggalkan untuk kalian Kitab Tuhanku Yang Mulia nan Agung dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.” Kemudian ia saw. memegang tangan Ali as. seraya berkata: “Inilah Ali yang selalu bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an pun senantiasa bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mendatangiku di telaga Haudh.”<a name="_ftnref67" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn67">[67]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link30"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Bahtera Nuh as.</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh as. selamatlah orang yang menaikinya, dan bnasalah orang yang meninggalkannya, maka ia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan pintu Hiththah (pengampunan) bagi Bani Isra’il. Barang siapa yang memasukinya, dosanya akan diampuni.”<a name="_ftnref68" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn68">[68]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis tersebut menegaskan agar umat manusia berpegang teguh kepada ‘Itrah suci. Karena mereka adalah kunci keselamatan mereka dari tenggelam dan kebinggungan hidup ini. Ahlul Bait adalah bahtera penye-lamat dan pengaman bagi umat manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Syarafuddin menulis: “Anda tahu bahwa maksud dari penye-rupaan mereka dengan bahtera Nuh as. adalah bahwa barang siapa yang bersandar kepada mereka di dunia dan akhirat; yaitu mengambil ajaran agama, baik pondasi maupun cAbângnya, dari para imam suci, maka ia akan selamat dari azab api neraka. Dan barang siapa mem-belakangi mereka, maka ia seperti orang yang berlindung kepada bukit ketika topan bergemuruh kencang agar selamat dari ketentuan Allah. Perbedaannya, ia hanya tenggelam di air. Sedangkan orang yang mening-galkan para imam suci akan terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Semoga Allah melin-dungi kita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Adapun sisi penyerupaan mereka dengan pintu pengampunan, artinya adalah Allah swt. menjadikan pintu tersebut sebagai salah satu lambang kerendahan diri terhadap keagungan-Nya dan ketundukan kepa-da ketentuan-Nya. Dengan demikian pintu itu menjadi faktor pengam-punan dosa. Ini adalah rahasia penyerupaan tersebut”.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi Ibn Hajar berupaya mengutarakan rahasia yang lain di balik penyerupaan itu. Setelah memaparkan hadis tersebut dan hadis-hadis lainnya yang serupa, ia menuliskan: “Sisi penyerupaan mereka dengan bahtera Nuh as. yaitu bahwa barang siapa yang mencintai dan menghormati mereka karena mensyukuri nikmat kemuliaan mereka dan mengikuti petunjuk ulama mereka, maka ia akan selamat dari kegelapan pertentangan. Dan barang siapa yang meninggalkan mereka, maka ia akan tenggelam di lautan pengingkaran nikmat dan terjerumus ke dalam lembah kesesatan &#8230; Adapun faktor penyerupaan mereka dengan pintu Hiththah adalah bahwa sesungguhnya Allah swt. telah menjadikan masuk ke pintu Araiha atau Baitul Maqdis dengan rasa rendah hati dan beris-trigfar sebagai faktor pengampunan dosa, dan juga menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai sebab pengampunan dosa bagi umat ini, (tidak lebih dari itu).<a name="_ftnref69" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn69">[69]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link31"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Ahlul Bait Pengaman Umat</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mewajibkan kecintaan kepada Ahlul Bait atas umat ini. Ia menegaskan bahwa berpegang teguh kepada mereka adalah faktor pengaman dari kehancuran. Ia saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam. Dan Ahlul Baitku adalah pengaman bagi umatku dari pertentangan dan pertikaian. Apabila salah satu kabilah Arab menentang mereka, ini berarti mereka telah bertikai. Akibatnya, mereka menjadi pengikut Iblis.”<a name="_ftnref70" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn70">[70]</a></p>
<h5 style="text-align: justify;">
<hr /><a name="_ftn1" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref1">[1]</a>Murûj Adz-Dzahab, Jil. 2/3; Al-Fushûl Al-Muhimmah, karya Ibn Shabbâgh,  hal. 24; Mathâlib As-Sa’ûl, hal. 22; Tadzkirah Al-Khawwash, hal. 7; Kifâyah Ath-Thâlib, hal. 37; Nûr Al-Abshâr,  hal. 76; Nuzhah Al-Majâlis, Jil. 2/204; Syarh asy-Syifâ’, Jil. 2/15; Ghâyah Al-Ikhtishâr, hal. 97; ‘Abqariyyah Al-Imam, karya Al-‘Aqqâd, hal. 38; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/483. Dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim menegaskan: “Terdapat hadis-hadis mutawâtir yang menyatakan bah-wa Fathimah binti Asad melahirkan Ali bin Abi Thalib di dalam Ka‘bah.”<a name="_ftn2" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref2">[2]</a>Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., Jil. 1/32, menukil dari Manâqib Ali bin Abi Thalib, Jil.  3/ 90.<a name="_ftn3" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref3">[3]</a>Târîkh Al-Khamîs, Jil. 2/275.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref4">[4]</a>Al-Ma‘ârîf,  hal. 73; Adz-Dzakhâ’ir,  hal. 58; Ar-Rriyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/257.</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref5">[5]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.</p>
<p><a name="_ftn6" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref6">[6]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/102; Faidh Al-Qadîr, Jil. 4/358; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/156; Fa-dhâ’il Ash-Shahâbah, Jil. 1/296.</p>
<p><a name="_ftn7" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref7">[7]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/102.</p>
<p><a name="_ftn8" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref8">[8]</a>Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 1/63.</p>
<p><a name="_ftn9" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref9">[9]</a>Kunûz Al-Haqâ’iq, karya Al-Manâwî, hal. 43.</p>
<p><a name="_ftn10" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref10">[10]</a>Shifah Ash-Shafwah, Jil. 1/162.</p>
<p><a name="_ftn11" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref11">[11]</a>Imtâ‘ Al-Asmâ‘, Jil. 1/16.</p>
<p><a name="_ftn12" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref12">[12]</a>Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., Jil. 1/ 54.</p>
<p><a name="_ftn13" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref13">[13]</a>Syarh Nahjul Balaghah, karya Ibn Abil Hadid, Jil. 4/116.</p>
<p><a name="_ftn14" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref14">[14]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/301; Thabaqât Ibn Sa‘d, Jil. 3/21; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400; Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/55.</p>
<p><a name="_ftn15" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref15">[15]</a>Khazânah Al-Adab, Jil. 3/213.</p>
<p><a name="_ftn16" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref16">[16]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, Jil. 2/24; Musnad Ahmad bin Hanbal, hal. 263. Peristiwa ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadis.</p>
<p><a name="_ftn17" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref17">[17]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, Jil. 2/24; Musnad Ahmad, hal. 263.</p>
<p><a name="_ftn18" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref18">[18]</a>Târîkh Bagdad, Jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.</p>
<p><a name="_ftn19" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref19">[19]</a>Tafsir At-Thabarî, Jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musad-ak Al-Hâkim, Jil. 3/129.</p>
<p><a name="_ftn20" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref20">[20]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, Jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/267.</p>
<p><a name="_ftn21" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref21">[21]</a>Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 64.</p>
<p><a name="_ftn22" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref22">[22]</a>Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, Jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.</p>
<p><a name="_ftn23" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref23">[23]</a>Tafsir At-Thabarî, Jil. 8/145.</p>
<p><a name="_ftn24" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref24">[24]</a>Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.</p>
<p><a name="_ftn25" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref25">[25]</a>Târîkh Baghdad, Jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 6/19.</p>
<p><a name="_ftn26" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref26">[26]</a>Dalâ’il Ash-Shidq, Jil. 2/152.</p>
<p><a name="_ftn27" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref27">[27]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 6/186.</p>
<p><a name="_ftn28" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref28">[28]</a>Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 3/106; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/305.</p>
<p><a name="_ftn29" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref29">[29]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 7/348.</p>
<p><a name="_ftn30" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref30">[30]</a>Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 3/102.</p>
<p><a name="_ftn31" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref31">[31]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, Jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, Jil. 1/35; Shahîh Muslim, Jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, Jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 7/63; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, Jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, Jil. 3/193.</p>
<p><a name="_ftn32" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref32">[32]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, Jil. 6/ 546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, Jil. 1/93; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.</p>
<p><a name="_ftn33" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref33">[33]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 6/783; Shahîh Muslim, Jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, Jil. 2/264; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, Jil. 22/5; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4/ 107; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, Jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.</p>
<p><a name="_ftn34" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref34">[34]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, Jil. 5/521.</p>
<p><a name="_ftn35" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref35">[35]</a>Ad-Durr Al-Mantsâr, Jil. 5/199.</p>
<p><a name="_ftn36" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref36">[36]</a>Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.</p>
<p><a name="_ftn37" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref37">[37]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.</p>
<p><a name="_ftn38" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref38">[38]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al-Abshar, hal. 80.</p>
<p><a name="_ftn39" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref39">[39]</a>Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, Jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, Jil. 4/146; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.</p>
<p><a name="_ftn40" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref40">[40]</a>Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, Jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/206.</p>
<p><a name="_ftn41" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref41">[41]</a>Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/110. Ternyata Walîd berdusta. Maka turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan &#8230;.” (QS. Al-Hujurât [49]:6)</p>
<p><a name="_ftn42" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref42">[42]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400.</p>
<p><a name="_ftn43" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref43">[43]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/299; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/14.</p>
<p><a name="_ftn44" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref44">[44]</a>Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ,  hal. 92.</p>
<p><a name="_ftn45" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref45">[45]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 3/61.</p>
<p><a name="_ftn46" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref46">[46]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.</p>
<p><a name="_ftn47" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref47">[47]</a>Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/163.</p>
<p><a name="_ftn48" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref48">[48]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/127; Târîkh Ibn Atsîr, Jil. 2/22; Târîkh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/116; Mus-nad Ahmad, Jil. 1/331; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/399.</p>
<p><a name="_ftn49" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref49">[49]</a>Al-Murâja‘ât, hal. 208.</p>
<p><a name="_ftn50" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref50">[50]</a>Musnad Abu Daud, Jil. 1/29; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 7/195; Musykil Al-Âtsâr, Jil. 2/309; Mus-nad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/182; Târîkh Bagdad, Jil. 11/432; Khashâ’ish An-Nasa’î, hal. 16.</p>
<p><a name="_ftn51" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref51">[51]</a>Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/26; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 15; Shahîh Muslim, kitab Fadhâ’il Al-Ashhâb, Jil. 7/ 120.</p>
<p><a name="_ftn52" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref52">[52]</a>Târîkh Bagdad, Jil. 2/ 377.</p>
<p><a name="_ftn53" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref53">[53]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 401.</p>
<p><a name="_ftn54" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref54">[54]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 156; As-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 73.</p>
<p><a name="_ftn55" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref55">[55]</a>Mu‘jam Al-Udabâ’, Jil. 17/200.</p>
<p><a name="_ftn56" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref56">[56]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 301; Shahîh Ibn Mâjah, Jil. 12; Târîkh al-Baghdad, Jil. 1/255; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 4/ 185.</p>
<p><a name="_ftn57" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref57">[57]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 299.</p>
<p><a name="_ftn58" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref58">[58]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/ 133.</p>
<p><a name="_ftn59" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref59">[59]</a>Nûr Al-Abshâr, hal. 72.</p>
<p><a name="_ftn60" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref60">[60]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 129.</p>
<p><a name="_ftn61" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref61">[61]</a>Al-Istî‘âb, Jil. 2/ 464.</p>
<p><a name="_ftn62" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref62">[62]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 400.</p>
<p><a name="_ftn63" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref63">[63]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 1/ 367.</p>
<p><a name="_ftn64" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref64">[64]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.</p>
<p><a name="_ftn65" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref65">[65]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 308.</p>
<p><a name="_ftn66" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref66">[66]</a>Ibid; Jil. 2/ 308; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 1/ 84.</p>
<p><a name="_ftn67" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref67">[67]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.</p>
<p><a name="_ftn68" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref68">[68]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/168; Al-Mustadrak, Jil. 2/ 43; Târîkh al-Baghdad, Jil. 2/120; Al-Hilyah, Jil. 4/ 306; Adz-Dzakâ’ir, hal. 20.</p>
<p><a name="_ftn69" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref69">[69]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 149; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/116. Dalam kitab Faidh Al-Qadîr dan Majma‘ Az-Zawâ’id, Nabi saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi umatku.”</p>
<p><a name="_ftn70" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref70">[70]</a>Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/ 252. Hadis serupa terdapat dalam Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 319 dan Sunan Ibn Mâjah, Jil. 1/ 52.l</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : al-shia.org</p>
</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

