<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#187; Sejarah-Tokoh</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/sejarah-tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 2)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-2/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAWW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Masa Muda Al-Amin dan Risalah Ilahiyah
Sejak kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa, Muhammad dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki kepribadian agung, jujur, penyantun, gemar menolong mereka yang memerlukan dan berhati besar. Ketinggian akhlak beliau membuat kagum bangsa Arab khususnya suku Quresy di Mekah. Berbeda dengan para pemuda dan masyarakat di zaman itu, Muhammad tidak tertarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="184" height="177" /></a>Masa Muda Al-Amin dan Risalah Ilahiyah</strong><br />
Sejak kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa, Muhammad dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki kepribadian agung, jujur, penyantun, gemar menolong mereka yang memerlukan dan berhati besar. Ketinggian akhlak beliau membuat kagum bangsa Arab khususnya suku Quresy di Mekah. Berbeda dengan para pemuda dan masyarakat di zaman itu, Muhammad tidak tertarik kepada kehidupan yang hanya mengejar kesenangan duniawi.<br />
Pemuda putra Abdullah bin Abdul Mutthalib ini gemar menyendiri di lereng-lereng gunung atau di gua Hira untuk menghindari kehidupan syirik dan menyibukkan diri dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah. Muhammad biasanya pergi ke gua Hira dengan membawa bekal dan akan turun ke kota jika perbekalan habis. Pergi ke gua Hira, menyendiri dan bermunajat di tempat yang sepi itu seorang diri akhirnya menjadi kegiatan rutin pemuda bergelar Al-Amin ini.<br />
Di Hira, Muhammad menemukan ketenangan tersendiri yang tidak ia dapatkan di Mekah. Akhirnya, pada suatu hari ketika usianya menginjak 40 tahun, saat berada di dalam gua hira, Muhammad mendengar suara yang mengajaknya untuk membaca. Untuk pertama kalinya, Muhammad menerima ayat yang turun dari Allah swt. Iqra bismi rabbikalladzi khalaq, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ayat ini adalah yang pertama kalinya turun kepada Muhammad yang menandai kenabiannya.<br />
Tidak sedikit orang yang mempersoalkan mengenai agama Nabi Muhammad SAW sebelum menerima risalah kenabian. Permasalahan mengusik hati ketika menyaksikan bahwa di zaman jahiliyyah, bangsa Arab khususnya di kota Mekah, tempat Rasulullah SAW menjalani kehidupannya, adalah bangsa penyembah berhala. Masing-masing kelompok dan kabilah memiliki berhala tersendiri yang diletakkan di dalam ka&#8217;bah atau di komplek masjidul haram. Sementara masing-masing orang memiliki berhala yang khusus yang disimpan di rumah masing-masing atau di kantong khusus agar bisa dibawa ke mana-mana.<br />
Masalah inilah yang lantas melahirkan pertanyaan mengenai agama yang dianut oleh Rasulullah SAW sebelum diangkat menjadi nabi. Masalah kondisi di zaman jahiliyah dan penyembahan berhala yang dianut oleh bangsa Arab secara umum, adalah fakta sejarah yang tidak mungkin ditolak. Namun harus diingat bahwa di jazirah Arabia juga ada agama lain semisal agama Nasrani, Yahudi dan agama Ibrahimi.<br />
Penduduk Najran rata-rata beragama nasrani, sementara di kota Yasrib, nama lain kota madinah, terdapat beberapa kabilah yang menganut agama Yahudi. Selain dua agama itu, tidak sedikit pula yang menganut ajaran Nabi Ibrahim as. Agama Ibrahimi ini dianut oleh sebagian besar bani Hasyim. Bukankah ketika Abdul-Muththalib menamakan anaknya dengan nama Abdullah yang berarti hamba Allah, menunjukkan bahwa tuhan yang sebenarnya di mata Abdul Mutthalib adalah Allah, bukan selain-Nya.<br />
Ketika Allah mengangkatnya menjadi nabi dan utusan-Nya, Muhammad mengatakan kepada umat bahwa dia membawa ajaran Ibrahim. Seruan ini dikarenakan umat mengenal akan keberadaan ajaran yang demikian. Amalan ibadah seperti haji, umrah dan semisalnya yang juga dianut oleh bangsa Arab Jahiliyyah merupakan sisa-sisa ajaran Ibrahim as yang terus dijalankan meski dengan cara yang berbeda dengan ajaran sebenarnya. Semua ini menunjukkan bahwa tidak semua orang Arab di zaman itu menyembah berhala. Jika hal ini bisa diterima, muncul pertanyaan;<br />
Masuk akalkah, orang yang bakal membawa ajaran agama ilahi yang paling sempurna, tetapi tidak mengikuti ajaran Ibrahim dan terjerumus ke dalam kesyirikan penyembahan berhala?<br />
Jika Muhammad pernah menyembah berhala, tentunya, saat beliau menyeru kaum Quresy dan bangsa Arab untuk meninggalkan berhala, mereka akan mengingatkan bahwa dia sendiri pernah menyembah berhala. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah, &#8220;Ya rasulullah, apakah engkau pernah menyembah berhala?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Sama sekali tidak.&#8221;<br />
&#8220;Apakah engkau pernah meminum khamar?&#8221;<br />
beliau juga menjawab, &#8220;Sama sekali tidak pernah.&#8221;<br />
Dengan turunnya firman ilahi kepadanya dan turunnya perintah untuk mengajak kaumnya kepada penyembahan tuhan yang maha esa, Nabi Muhammad SAW menyampaikan misi mulia dan agung ini kepada sanak keluarganya. Orang yang pertama-tama menerima ajakan ini adalah Khadijah istri setia Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib yang hidup dalam bimbingan dan asuhan beliau. Ajakan dan seruan Nabi ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan kepada keluarga dekatnya.<br />
Proses dakwah secara sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama tiga tahun, sampai akhirnya Allah swt menurunkan ayat yang berisi perintah untuk secara terbuka menyampaikan risalah ilahi ini kepada umat.<br />
Dengan berdiri di atas sebuah bukit, Rasulullah SAW bertanya kepada kaumnya, &#8220;Wahai sekalian suku Quresy, jika akan katakan bahwa di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang datang menyerang, apakah kalian akan mempercayai kata-kataku?&#8221;<br />
Mereka menjawab, &#8220;Ya, pasti, sebab engkau adalah orang yang paling jujur.&#8221;<br />
Rasulullah berkata lagi, &#8220;Jika demikian, ketahuilah bahwa aku membawa risalah dan ajaran dari Tuhan untuk kalian semua.&#8221; Rasulullah menjelaskan risalah yang beliau pikul kepada kaum Quresy. Akan tetapi berbeda dengan pernyataan awal mengenai kejujuran Muhammad Al-Amin, kali ini kaum Quresy yang dimotori oleh para pemukanya yang kafir semisal Abu Sufyan, Abu Jahal dan lainnya menuduh putra Abdullah ini telah membuat kebohongan besar.<br />
Sejak saat itulah, dakwah kepada agama Islam dilakukan secara terbuka. Seiring dengan sambutan orang-orang yang berhati bersih kepada ajaran ini, sikap penentangan dan permusuhan kaum kafir terhadap ajaran ilahi ini juga semakin meningkat. Para pemuka Quresy yang merasa posisi dan kedudukan mereka terancam dengan adanya ajaran ilahi ini, serta merta megambil sikap frontal terhadap Muhammad, para pengikut dan ajarannya. Dengan memanfaatkan kedudukan, uang dan kekuatan, kaum kafir melakukan penyiksaan terhadap para pengikut ajaran islam.<br />
Bilal bin Rabbah bekas budak Umayyah bin Khalaf, juga Yasir, istrinya Sumayyah dan anaknya Ammar adalah contoh dari kaum muslimin lemah yang menjadi korban penyiksaan. Bahkan Sumayyah dan Yasir gugur syahid setelah menjalani penyiksaan kaum kafir Quresy yang tidak mengenal batas kemanusiaan. Sementara Ammar terpaksa mengeluarkan kata-kata syirik dari mulutnya meski hatinya tetap memegang teguh keimanan.<br />
Gangguan kaum kafir Quresy tidak hanya ditujukan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada pemimpin dan nabi pembawa risalah, Muhammad bin Abdillah SAW. Hanya saja, gangguan itu seberapa karena sikap Abu Thalib yang mati-matian membela Muhammad dan ajarannya. Bagaimanapun juga, Abu Thalib adalah figur yang sangat dihormati oleh kaum Quresy di Mekah. Berkali-kali para pembesar Quresy mendatangi Abu Thalib agar menghentikan aktifitas dakwah Muhammad yang menistakan berhala dan mengajak masyarakat kepada Tuhan yang esa. Meski demikian, Abu Thalib tetap pada pendiriannya untuk membela Muhammad dan ajarannya. Sikap Abu Thalib ini telah menyulut kemarahan para pembesar Quresy yang lantas memutuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan para pengikut ajaran Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber: irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rasulullah SAWW (Bagian 1)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-1/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 10:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad saww]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Kelahiran Muhammad
Bangsa Arab di zaman dahulu memiliki kebiasaan menjadikan kejadian besar yang ada sebagai patokan penanggalan. Peristiwa penyerangan pasukan Gajah pimpinan Abrahah yang berniat menghancurkan Kabah di kota Mekah, dianggap sebagai sebuah peristiwa besar yang layak dijadikan patokan penanggalan. Di tahun pertama penanggalan Gajah ini, di kota Mekah dan di tengah keluarga Abdul Mutthalib, lahir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-504" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/03/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="200" height="194" /></a>Kelahiran Muhammad</strong><br />
Bangsa Arab di zaman dahulu memiliki kebiasaan menjadikan kejadian besar yang ada sebagai patokan penanggalan. Peristiwa penyerangan pasukan Gajah pimpinan Abrahah yang berniat menghancurkan Kabah di kota Mekah, dianggap sebagai sebuah peristiwa besar yang layak dijadikan patokan penanggalan. Di tahun pertama penanggalan Gajah ini, di kota Mekah dan di tengah keluarga Abdul Mutthalib, lahir seorang bayi yang kelak akan mengubah perjalanan sejalah manusia. Dialah Muhammad putra Abdullah bin Abdul Mutthalib.<br />
Kelahiran bayi ini disambut dengan suka cita oleh keluarga bani Hasyim. Di negeri Persia, kelahiran Muhammad bin Abdillah memadamkan api keramat yang selama seribu tahun tidak padam. Kelahiran Muhammad juga menggoyahkan sendi-sendi istana kaisar Rumawi. Muhammad lahir dengan membawa janji risalah terakhir dari Allah untuk umat manusia.<br />
Masa sebelum kenabian lazim disebut nama jahiliyyah. Kata jahiliyyah diambil dari kata jahl yang berarti bodoh. Dengan demikian, zaman jahiliyyah berarti zaman kebodohan. Memang, bangsa Arab di zaman itu layak mendapat sebutan ini. Karena selain memang tidak mengenal baca tulis, bangsa yang hidup di jazirah Arabia ini juga memiliki kebiasaan dan perilaku bodoh.<br />
Menjadikan berhala-berhala buatan sendiri sebagai tuhan untuk disembah dan dipuja, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan bertawaf mengelilingi Kabah dengan cara bertelanjang, merupakan salah satu contoh dari perbuatan bodoh bangsa ini di zaman itu. Muhammad lahir untuk mengikis kebodohan bangsa Arab dan umat manusia secara umum dengan cahaya iman dan ilmu.<br />
Sejak lahir, Muhammad telah menunjukkan kelebihan yang khusus. Kehidupannya yang dimulai dengan keyatiman karena ayahnya telah meninggal dunia sebelum beliau lahir, penuh dengan kesusahan. Kesusahan inilah yang menempa diri Muhammad dan mempersiapkannya untuk menjadi manusia besar dan pemuka bagi seluruh umat sepanjang zaman. Empat tahun, Muhammad hidup terpisah dari sang ibu, Aminah binti Wahb dan tinggal di tengah keluarga Halimah as-Sa&#8217;diyah. Setelah berumur empat tahun dengan berat hati, Halimah melepas Muhammad dan mengembalikannya kepada sang ibu.<br />
Yatim Piatu<br />
Dua tahun kemudian, Aminah wafat, dan Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib yang amat menyintai dan menghormatinya. Abdul Mutthalib yang juga pemuka kaum Quresy telah meramalkan bahwa cucunya ini kelak akan menjadi pemimpin besar bagi umat manusia. Karena itulah, kakek tua yang amat berwibawa ini menghormati dan menyintai Muhammad lebih dari cucu-cucunya yang lain.<br />
Diriwayatkan bahwa suatu hari Muhammad duduk di tempat yang dikhususkan untuk Abdul Mutthalib. Orang-orang bangkit untuk melarangnya, tetapi Abdul Mutthalib mengatakan bahwa Muhammad sangat layak untuk duduk di tempat itu.<br />
Namun keteduhan payung Abdul Mutthalib tidak berumur panjang. Menginjak usia delapan tahun, Muhammad harus merelakan kepergian kakeknya itu. Akhirnya Muhammad tinggl dan diasuh oleh Abu Thalib pamannya yang menyintainya lebih dari anak-anak sendiri. Di rumah Abu Thalib inilah, beliau tumbuh hingga menginjak usia remaja remaja.<br />
Saat berusia 12 tahun, Muhammad ikut menyertai pamannya, pergi ke Syam untuk berniaga. Sudah menjadi kebiasaan kafilah dagang dari Mekah untuk singgah beristirahat di tempat pendeta Buhaira. Kafilah Abu Thalib pun singgah di sana. Pendeta Buhaira menyambut kedatangan kafilah itu dengan tangan terbuka. Namun sang pendeta merasa ada keanehan. Kepada Abu Thalib dia mengatakan bahwa dirinya menyaksikan sesuatu yang menakjubkan di kafilah ini.<br />
Abu Thalib yang tidak mengetahui apa maksud sang pendeta menyatakan bahwa dirinya tidak merasakan adanya keanehan. Hanya saja dia meninggalkan kemenakannya yang bernama Muhammad di dalam kemah.<br />
Mendengar hal itu, Buhaira meminta Abu Thailb untuk membawa Muhammad masuk ke rumahnya. Melihat remaja tampan dan sopan itu, Buhaira meminta izin Abu Thalib untuk mengajaknya berbicara secara khusus. Sang pendeta membawa Muhammad ke tempatnya. Gerak-gerik, tutur kata dan jengkal demi jengkal tubuh Muhammad diperhatikannya. Selanjutnya Buhaira memanggil Abu Thalib dan berkata, &#8220;Wahai Abu Thalib, kelak kemenakanmu ini akan diangkat menjadi nabi. Dialah nabi yang dinanti-nantikan kedatangannya. Karena itu, bawalah dia kembali ke Mekah dan jangan biarkan kaum Yahudi di negeri Syam menyakitinya.&#8221;<br />
Sesuai dengan anjuran pendeta Buhaira, Abu Thalib membawa Muhammad kembali ke Mekah.<br />
Gelar al-Amin<br />
Muhammad tumbuh besar menjadi pemuda yang dikenal dengan kejujuran, sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin yang berarti orang yang terpercaya. Bagi masyarakat kota Mekah, tidak ada orang yang bisa dipercaya lebih dari Muhammad Al-Amin. Karena itu, ketika Abu Thalib mengusulkan kepada Khadijah binti Khuwailid untuk menjadikan Muhammad sebagai kepercayaan dalam perniagaannya, usulan itu disambut dengan merta merta. Pada usia 25 tahun, Muhammad melakukan perjalanan niaga ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Khadijah, wanita kaya di kota Mekah yang amat disegani.<br />
Untuk memudahkan pekerjaan, Khadijah mengirimkan suruhannya bernama Maisarah untuk menyertai dan membantu Muhammad. Kesopanan pemuda bergelar Al-Amin ini, kejujuran dan kepiawaiannya dalam berdagang menarik perhatian Maisarah. Perniagaan ini, membawa keuntungan yang banyak meski dalam berdagang, Muhammad sangat memperhatikan masalah kejujuran. Seluruh kisah perjalanan ini diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah.<br />
Menikah Dengan Siti Khadijah AS<br />
Dengan usul Abu Thalib dan sambutan Khadijah, Muhammad datang meminang wanita mulia ini. Perkawinan antara Muhammad Al-Amin dan Khadijah, disaksikan oleh para malaikat di langit dan bumi. Dari dua manusia mulia ini, kelak akan lahir seorang putri yang menjadi penghulu wanita seluruh jagat, yaitu Fatimah Az-Zahra.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber : irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/03/08/sejarah-rasulullah-saww-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sayyidah Zainab Al-Kubra Simbol Keindahan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 14:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidah zainab]]></category>
		<category><![CDATA[zainab al-kubra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Sayyidah Zainab as lahir tanggal 5 Jumadil Awwal tahun ke-6 Hijriah di kota Madinah. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad saw sedang berada di perjalanan. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/sayyidah-zainab.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-499" title="sayyidah zainab" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/sayyidah-zainab.jpg" alt="" width="180" height="122" /></a>Sayyidah Zainab as lahir tanggal 5 Jumadil Awwal tahun ke-6 Hijriah di kota Madinah. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad saw sedang berada di perjalanan. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang baru lahir itu. Namun Imam Ali as memutuskan untuk menanti Nabi Muhammad saw kembali dari perjalanan dan memberinya nama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliu begitu gembira saat dikabarkan kelahiran cucunya ini dan berkata, &#8220;Allah swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya.&#8221; Rasulullah saw kemudian menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, &#8220;Saya mewasiatkan kepada kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip Sayyidah Khadijah as.&#8221; Sejarah menjadi bukti bahwa Sayyidah Zainab as sama seperti Sayyidah Khadijah yang menanggung banyak kesulitan demi memperjuangkan Islam. Dengan kesabaran dan pengorbanannya ia mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan kesempurnaan agama ilahi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as dibesarkan dalam keluarga yang penuh spiritual dan kemuliaan. Karena keluarga ini dihiasi oleh pribadi-pribadi agung seperti Rasulullah saw, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Mereka adalah orang-orang suci dan yang membangun keutamaan manusia. Sayyidah Zainab as sejak kecil punya pemahaman yang dalam dan jiwa yang dipenuhi makrifat. Sayyidah Zainab as sejak kecil telah menghapal khutbah historis ibunya Sayyidah Fathimah as yang penuh dengan pengetahuan Islam, sekaligus sebagai perawi khutbah ini. Setelah dewasa dengan kematangan berpikirnya ia akhirnya dikenal dengan sebutan &#8216;Aqilah yang berarti seorang ilmuwan wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kejadian dan peristiwa besar pernah disaksikannya. Sejak kecil Sayyidah Zainab as telah kehilangan kakeknya Nabi Muhammad saw dan tidak berapa lama beliau harus kehilangan ibu tercintanya Sayyidah Fathimah as. Setelah itu, tanggung jawab pendidikannya berada di pundak ayahnya Imam Ali as. Dalam didikan ayahnya Imam Ali as, beliau mencapai derajat keilmuan yang tinggi dan keutamaan akhlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua posisi itu diraihnya ketika mayoritas wanita dimasa itu buta huruf dan tidak punya kesempatan untuk belajar. Sayyidah Zainab as setelah menimba ilmu dari ayahnya kemudian mulai menyebarkan agama Islam dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dikuasainya kepada kaum hawa waktu itu. Para wanita berduyun-duyun memintanya untuk diperbolehkan hadir dalam majelis pelajaran dan tafsir Al-Quran. Kehadirannya di Madinah dan setelah itu selama tinggal di Kufah berhasil menyampaikan ilmu-ilmu Islam kepada kaum hawa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika Sayyidah Zainab as mencapai usia perkawinan, beliau kemudian menikah dengan Abdullah bin Jakfar saudara misannya. Abdullah dikenal sebagai orang kaya Arab. Namun Sayyidah Zainab as menjadi isterinya bukan karena hartanya. Ketinggian derajatnya membuat beliau tidak membatasi dirinya dalam kehidupan lahiriah. Beliau telah belajar untuk tidak pernah mengorbankan hakikat dalam kondisi apa pun. Itulah mengapa Sayyidah Zainab as senantiasa bersama saudaranya Imam Husein as demi menghidupkan kembali agama dan spiritual manusia serta berusaha untuk memperbaiki masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as sewaktu menikah dengan suaminya Abdullah mensyaratkan untuk bisa tetap bersama saudaranya Imam Husein as. Abdullah menerima syarat tersebut dan menikahi cucu Rasulullah saw ini. Dengan syarat inilah Sayyidah Zainab as dapat mengikuti perjalanan bersejarah Imam Husein as dari kota Madinah hingga Karbala dan bangkit menghadapi Yazid penguasa zalim dan korup.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi paling tepat untuk mengenal lebih jauh kepribadian Sayyidah Zainab as adalah dengan mempelajari sejarah Asyura dan tertawannya keluarga Rasulullah saw. Kondisi paling genting bagi sejarah Islam terjadi dalam peristiwa Asyura di mana pada waktu itu siapa saja dapat menyaksikan keagungan semangat Sayyidah Zainab as. Seorang perempuan yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah Islam. Mengingat Allah dan shalat menjadi penenangnya. Cahaya ilahi begitu menerangi hatinya, sehingga segala penderitaan yang dihadapinya menjadi tidak berarti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepribadian hakiki seseorang oleh sains dan ilmu psikologi disebutkan bakal muncul di saat orang tersebut dalam kondisi marah atau sangat emosional. Sayyidah Zainab as di puncak kesulitan dan penderitaan setelah syahadah saudara dan orang-orang tercintanya masih tetap tegar berkata dan derajat kesabaran, keberanian, dan tawakkalnya kepada Allah yang telah tertanam dalam dirinya didemonstrasikan dengan indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan para pemimpin zalim dan haus darah dinasti Umayyah, Sayyidah Zainab as berdiri dan tanpa takut mengecam sikap mereka serta membela kebenaran Ahlul Bait Nabi Muhammad saw. Beliau menilai Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya sebagai pemenang. Pidatonya yang lugas, fasih dan mematikan di istana Yazid begitu mempengaruhi hadirin yang membuat mereka kembali mengenang ayahnya Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tegas Sayyidah Zainab as berpidato dengan bersandarkan pada ayat-ayat Al-Quran. Kemampuan beliau dalam menjelaskan kebenaran begitu mempesonakan, sehingga pribadi seperti Ibnu Katsir terpengaruh ucapan-ucapan Sayyidah Zainab as. Beliau dengan suara lantang dan dalam kondisi menangis berkata, &#8220;Ayah dan ibuku menjadi tebusan kalian orang-orang tua terbaik di antara mereka yang lanjut usia, anak-anak kecil terbaik di antara mereka yang masih kecil dan wanita-wanita kalian adalah yang terbaik. Generasi kalian lebih tinggi dan lebih baik dari semua generasi yang ada dan kalian tidak pernah terkalahkan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as pernah mendengar dari ayahnya Imam Ali as bahwa &#8220;Manusia tidak akan pernah mampu mengenal hakikat iman tanpa memiliki tiga hal dalam dirinya; pengetahuan akan agama, kesabaran di tengah kesulitan dan pengelolaan yang baik urusan kehidupannya.&#8221; Wanita mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya. Menurut Sayyidah Zainab as, ketegaran di jalan kebenaran dan pengorbanan di jalan Allah senantiasa indah dan selamanya bakal dipuji oleh manusia. Demikianlah setelah peristiwa Asyura Sayyidah Zainab as kepada orang-orang zalim beliau berkata, &#8220;Saya tidak menyaksikan sesuatu kecuali keindahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber : irib</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM ALI BIN ABI THALIB AS. (1)</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 01:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Inilah Imam Ali bin Abi Thalib as. Seorang figur dan pribadi agung di kalangan umat manusia. Dikenal akrab dengan nilai-nilai kedermawanan, kecerdasan, keadilan, kezuhudan, dan jihad. Dalam dunia Islam, tak seorang dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat menandingi sebagian karakteristiknya ini, apalagi seluruh karakteristik tersebut. Karakteristik dan sikap-sikapnya mengungguli seluruh bangsa dunia, baik dari kalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ImamAli.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-354" title="ImamAli" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ImamAli-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Inilah Imam Ali bin Abi Thalib as. Seorang figur dan pribadi agung di kalangan umat manusia. Dikenal akrab dengan nilai-nilai kedermawanan, kecerdasan, keadilan, kezuhudan, dan jihad. Dalam dunia Islam, tak seorang dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat menandingi sebagian karakteristiknya ini, apalagi seluruh karakteristik tersebut. Karakteristik dan sikap-sikapnya mengungguli seluruh bangsa dunia, baik dari kalangan muslimin maupun selain muslimin. Mereka seluruhnya sepakat bahwa di sepanjang sejarah dunia Arab maupun non-Arab, tak ada seorang pun yang dapat menandinginya kecuali saudara dan putra pamannya, Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini akan kami paparkan sebagian dimensi kehidupan dan karakteristik Imam Ali bin Abi Thalib as. secara ringkas.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link2"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Putra Ka‘bah</h3>
<p style="text-align: justify;">Sejarawan sepakat bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. lahir di dalam Ka‘bah yang suci.<a name="_ftnref1" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn1">[1]</a> Tak seorang pun di dunia ini yang lahir di dalam Ka‘bah. Hal ini adalah pertanda keagungan dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah swt. Sehubungan dengan itu, Abdul Bâqî Al-‘Amrî, seorang penyair berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Engkaulah sang agung dijunjung tinggi,</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih agung darimu di kota Mekah tiada lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau dilahirkan di Baitullah yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudara Rasulullah saw. dan pintu kota ilmunya ini lahir di dalam rumah Allah yang paling suci. Dengan demikian Imam Ali as. dapat menerangi jalan penduduk sekitarnya, menegakkan bendera tauhid, dan menyucikan Baitullah itu dari setiap berhala dan patung. Di sana ia menjadi pengayom orang-orang asing, saudara orang-orang fakir, dan tempat berlindung orang-orang yang ditimpa kesusahan ini lahir di dalam rumah yang agung dan suci. Dalam rangka inilah Imam Ali as. dapat menebarkan keamanan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan mereka, serta memus-nahkan kemiskinan dari dunia mereka. Ayahnya, sang mukmin Quraisy dan singa padang pasir, menamainya Ali. Sebuah nama yang paling bagus dan indah. Sebuah nama yang tinggi dalam kedermawanan dan keje-niusan, dan tinggi pula dalam kekuatan dan potensi cemerlang di bidang ilmu pengetahuan, adab, dan keutamaan yang dianugerahkan Allah kepa-danya. Penegak keadilan Islam ini dilahirkan pada hari Jumat, 13 Rajab, 30 tahun setelah tahun Gajah, atau 12 tahun sebelum pengangkatan Rasulullah saw. sebagai nabi.<a name="_ftnref2" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link3"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Gelar Kehormatan</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. memiliki banyak gelar. Semua itu meref-leksikan keunggulan karakteristiknya. Di antara gelar-gelar itu adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Ash-Shiddîq (Orang yang Jujur)<a name="_ftnref3" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. memiliki delar Ash-Shiddîq (orang yang jujur), karenanya adalah orang pertama yang membenarkan Rasulullah saw. dan yang beriman kepada seluruh ajaran yang dibawanya dari sisi Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. pernah berkata: “Aku adalah Ash-Shiddîq Al-Akbar (orang jujur yang teragung). Aku telah beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku masuk Islam sebelum ia masuk Islam.”<a name="_ftnref4" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Al-Washî (Penerima Wasiat)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. juga memiliki gelar Al-Washî (penerima wasiat), karenanya adalah washî Rasulullah saw. Gelar ini diberikan langsung oleh Rasulullah saw. kepadanya. Rasul saw. bersabda: “Sesungguhnya washî-ku, tempat rahasiaku, orang yang terbaik dan terutama yang kutinggalkan setelahku, pelaksana janjiku, dan yang melunasi utang-utangku adalah Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref5" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong> Al-Fârûq (Pembeda Hak dan Batil)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. diberi gelar Al-Faruq, karena beliaulah pembeda antara yang hak dan yang batil. Gelar ini disimpulkan dari beberapa hadis Rasulullah saw. yang menekankan masalah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dzar dan Salman Al-Farisi meriwayatkan bahwa Nabi Mu-hammad saw. menggandeng tangan Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya orang ini—yaitu Ali bin Abi Thalib—adalah orang pertama yang beriman kepadaku. Ia adalah orang pertama yang akan bersalaman denganku di Hari Kiamat nanti. Ia adalah Ash-Shiddîq Al-Akbar, dan ia adalah Al-Faruq umat ini yang membedakan antara yang hak dan yang batil.”<a name="_ftnref6" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong> Ya‘sûbuddin (Tonggak Agama)</p>
<p style="text-align: justify;">Secara etimologis, Al-ya‘sûb berarti pemimpin lebah. Kemudian nama ini diberikan kepada seseorang yang menjadi pemimpin sebuah kaum. Ya‘sûb adalah sebuah gelar yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang ini—sembari menunjuk Ali bin Abi Thalib—adalah tonggak dan pemimpin (ya‘sûb) orang-orang yang beriman, sedang harta adalah tonggak dan pemimpin orang-orang yang zalim.”<a name="_ftnref7" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.</strong> Amirul Mukminin (Pemimpin Orang-Orang Beriman)</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu gelar Ali bin Abi Thalib as. yang terkenal adalah Amirul Mukminin. Gelar ini diberikan oleh Rasulullah saw. kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nu‘aim meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bahwa Rasu-lullah saw. bersabda: “Hai Anas, tuangkanlah air wudu untukku!” Setelah berwudu, Rasulullah saw. mengerjakan salat dua rakaat. Seusai salat, be-liau bersabda: “Hai Anas, orang yang pertama kali masuk menjumpaimu melalui pintu ini adalah Amirul Mukminin, Sayidul Muslimin, pemimpin orang-orang yang putih bercahaya, dan penutup para washî.”</p>
<p style="text-align: justify;">Anas berkata: “Aku memanjatkan doa: ‘Ya Allah, pilihlah ia kaum Anshar.’ Aku menyembunyikan keinginanku itu. Tidak lama berselang, datanglah Ali bin Abi Thalib as. Rasulullah saw. Bertanya: ‘Siapakah orang itu, hai Anas?’ ‘Ali bin Abi Thalib, ya Rasulullah’, jawabku pendek. Mendengar jawAbânku itu, Rasulullah saw. segera bangkit untuk me-nyambut dan memeluk Ali bin Abi Thalib. Lantasnya mengusap seluruh keringat yang mengalir di wajahnya dan juga mengusap seluruh keringat yang mengucur di wajah Ali bin Abi Thalib. Ali as. bertanya (terheran-heran): ‘Hai Rasulullah, kali ini aku melihatmu tengah menerimaku sengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Apakah yang menghalangiku untuk melakukan itu? Engkau adalah orang yang akan memenuhi seluruh amanatku, menyampaikan seruanku kepada masyarakat, dan menjelaskan segala pertikaian yang mereka lakukan sepeninggalku.’”<a name="_ftnref8" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.</strong> Hujjatullah (Hujah Allah)</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu gelar agung Ali bin Abi Thalib as. adalah Hujatullah (hujah Allah). Ia adalah hujah Allah swt. untuk seluruh umat manusia yang ber-tugas memberi petunjuk mereka ke jalan yang lurus. Gelar ini pun juga diberikan langsung oleh Rasulullah saw. kepadanya. Rasulullah bersabda: “Aku dan Ali adalah hujah Allah swt. untuk seluruh hamba-Nya.”<a name="_ftnref9" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah sebagian gelar mulia yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. Kami telah menyebutkan enam gelarnya yang lain dalam kitab kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensiklopedia Imam Ali bin Abi Thalib as.), jilid pertama. Dalam buku ini, kami juga memaparkan julukan dan karakteristiknya secara mendetail.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link4"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Masa Pertumbuhan</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada masa kanak-kanak, Imam Ali bin Abi Thalib as. diasuh oleh ayahnya, Abu Thalib, sang singa padang pasir dan mukmin Quraisy itu. Sang ayah adalah seorang figur dalam setiap kemuliaan, keutamaan, dan keagungan. Di samping itu, Imam Ali as. juga mengenyam pendidikan dari Ibunda tercinta, Fathimah binti Asad. Pada masa hidupnya, Fathimah adalah teladan kaum wanita dalam kehormatan, kesucian dan keluhuran budi pekerti. Sang ibunda telah mendidik anaknya dengan akhlak yang mulia, adat istiadat yang terpuji, dan tata krama yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link5"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Di Bawah Asuhan Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. mengasuh Imam Ali as. sejak masih kanak-kanak. Ketika Abu Thalib, paman Rasulullah saw., tengah mengalami kesulitan ekonomi, Rasulullah pergi menjumpai dua pamannya yang lain, Hamzah dan Abbâs. Rasulullah saw. menjelaskan kondisi ekonomi Abu Thalib kepada kedua paman itu. Ia meminta agar mereka dapat membantu menanggung beban hidup yang sedang diderita oleh Abu Thalib. Kedua paman memenuhi permintaan Rasulullah. Abbâs mengambil Thalib dan Hamzah mengambil Ja‘far. Sedangkan Rasulullah saw. sendiri mengambil Ali untuk diasuh. Sejak saat itu, Ali berada di bawah asuhan dan kasih sayang Rasulullah saw. Rasulullah saw. menanamkan dasar-dasar keyaki-nan, nilai-nilai yang luhur, dan suri teladan yang terpuji dalam jiwa Ali as. Dengan demikian, Ali as. telah mengenal Islam dengan baik dan beriman kepadanya dari sejak usia muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Karena itu, ia memiliki akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah saw. dan paling mengerti tentang risalah yang ia emban. Ali as. pernah mencerita-kan bagaimana Rasulullah merawat dirinya dan betapa dekat hubungan-nya dengannya. Ali as. berkata: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui kedudukanku di sisi Rasululah. Aku memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dan kedudukan yang istimewa di sisinya. Ia mele-takkanku di pangkuannya ketika aku masih kecil. Ia mendekapku ke dadanya, menidurkanku di tempat tidurnya, menempelkanku ke badan-nya, dan mencium keningku. Ia mengunyah makanan untukku kemudian menyuapkannya ke mulutku. Aku sama sekali tidak pernah mendapati ia berdusta dan melakukan kesalahan dalam tingkah lakunya. Aku senantiasa mengikutinya seperti seekor anak unta mengikuti induknya. Setiap hari, ia menunjukkan kepadaku akhlak-akhlaknya yang mulia dan menyuruhku untuk mengikutinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa erat hubungan Rasulullah saw. dengan Imam Ali as. Nabi Muhammad saw. telah mengasuh Imam Ali as. dengan penuh kelem-butan dan kasih sayang, dan dengan pendidikan yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link6"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Pembelaan Imam Ali Terhadap Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. menciptakan sebuah revolusi spektakuler yang memporak-porandakan dan menghancurkan kultur dan adat istiadat Jahiliyah, bangsa Quraisy bangkit untuk menentangnya. Mereka berusaha untuk memadamkan revolusi ini dengan berbagai sarana dan prasarana yang mereka miliki. Bahkan, mereka pun menggerakkan anak-anak kecil untuk melempari Rasulullah saw. dengan batu. Ketika itu, Imam Ali as—yang masih kanak-kanak—berada di sisi Rasulullah saw. Ia berusaha menjaga Rasulullah dari serangan mereka sembari menghalau mereka dengan pukulan dan tangkisan. Begitu anak-anak kecil itu melihat Imam Ali berada di sisi Rasulullah sedang membelanya, mereka kabur men-jumpai ayah mereka dengan perasaan takut dan malu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link7"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Sang Muslim Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan dan perawi hadis sepakat bahwa Imam Ali as. adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah saw. dan memenuhi panggilannya dengan suara lantang. Ali as. mendeklarasikan kepada masyarakat bahwa ia adalah orang pertama yang menyembah Allah swt. kala itu. Ia berkata: “Sungguh aku menyembah Allah swt. sebelum se-orang pun dari umat ini menyembah Allah.”<a name="_ftnref10" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan dan perawi hadis juga sepakat bahwa Imam Ali sama sekali tidak pernah disentuh oleh kotoran Jahiliyah. Ia juga sama sekali tidak pernah sujud kepada berhala, sedangkan selainnya pernah sujud kepada berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Muqrizî berkata: “Ali bin Abi Thalib Al-Hâsyimî sama sekali tidak pernah menyekutukan Allah swt. Hal itu karena Allah swt. Meng-hendaki kebaikan atasnya. Karena itu, Dia menentukan supaya Ali diasuh oleh putra pamannya, junjungan para nabi, Rasulullah saw.”<a name="_ftnref11" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu ditegaskan di sini bahwa Ummul Mukminin Sayidah Khadijah memeluk Islam bersamaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. menganut Islam. Ali as. bercerita tentang keimanan dirinya dan keimanan Khadijah kepada Islam seraya berkata, ”Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menghimpun penghuninya untuk memeluk Islam selain Rasu-lullah dan Khadijah, dan aku adalah orang yang ketiga.”<a name="_ftnref12" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Ishâq berkata: “Ali as. adalah orang pertama yang beriman kepada Allah swt. dan kepada Muhammad Rasulullah saw.”<a name="_ftnref13" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika memeluk agama Islam, Ali as. masih berusia tujuh tahun. Menurut sebagian pendapat, ia sudah berusia sembilan tahun.<a name="_ftnref14" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan uraian ini jelas bahwa Imam Ali as. adalah orang pertama yang memeluk Islam, dan hal ini disepakati oleh kaum muslimin. Ini adalah sebuah kemuliaan dan kebanggaan tersendiri baginya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link8"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Kecintaan kepada Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib as. sangat mencintai Rasulullah saw. Seseorang pernah bertanya kepada Ali as. tentang sejauh mana kecintaannya kepada Rasulullah saw. Ali as. menjawab: “Demi Allah, Rasulullah saw. adalah orang yang lebih kami cintai daripada harta, anak, dan ibu kami. Bahkan, daripada air yang sejuk kami miliki ketika kehausan.”<a name="_ftnref15" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu manifestasi kecintaan Imam Ali as. kepada Nabi Muham-mad saw. adalah peristiwa berikit ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Imam Ali as. memasuki sebuah kebun kurma. Pemilik kebun kurma berkata kepadanya: “Maukah kamu menyirami pohon-pohon kurma ini, dan untuk setiap satu ember air, kamu akan mendapatkan upah satu biji kurma?” Imam Ali as. bergegas menyirami pohon-pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma memberikan upahnya, dan upah itu terkumpul sebanyak segenggam kurma. Lantas, Imam Ali as. bergegas menghadap Rasulullah saw. dan memberikan segenggam kurma itu kepadanya.<a name="_ftnref16" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Bukti kecintaan Imam Ali as. kepada Rasulullah saw. yang lain ialah  Imam Ali as. senantiasa berkhidmat dan berusaha untuk memenuhi seluruh hajat Rasulullah saw. Kami telah memaparkan sebagian bukti ini dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensklopedia Imam Amirul Mukminin as.).</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link9"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">e. Yawm Ad-Dâr (Hari Pembelaan)</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. senantiasa mengikuti Rasulullah saw. hingga ia dewasa. Pada suatu hari, Rasulullah saw. mendeklarasikan dakwah Islam dan mendapat perintah dari Allah swt. untuk memyampaikan risalah Ilahi kepada sanak keluarganya. Rasulullah saw. memanggil Ali as. dan menyuruhnya untuk mengundang mereka. Di antara para undangan itu terdapat paman-pamannya. Yaitu Abu Thalib, Hamzah, Abbâs, dan Abu Lahab. Ketika mereka telah hadir dan berkumpul, Ali as. menyajikan hidangan. Para undangan menikmati hidangan, dan hidangan itu tak sedikit pun berkurang. Setelah usai menikmati hidangan, Rasulullah saw. bangkit dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam dan mening-galkan penyembahan berhala. Ucapan Rasulullah diputus oleh Abu Lahab. Ia berkata kepada hadirin: “Sesungguhnya kamu semua telah disi-hir oleh Muhammad.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan ini berakhir tanpa membuahkan suatu hasil apapun. Pada hari berikutnya, Rasulullah saw. mengadakan pertemuan untuk yang kedua kalinya. Ketika para undangan telah hadir dan berkumpul, mereka menikmati hidangan yang disuguhkan. Setelah usai menikmati hidangan itu, Rasulullah saw. berdiri untuk menyampaikan pidato. Ia berkata: “Hai Bani Abdul Muthalib, demi Allah, sungguh aku belum pernah mengenal seorang pemuda Arab yang datang kepada kaumnya dengan membawa misi yang lebih baik daripada misi yang telah kubawa untuk kamu semua. Aku datang membawa kebaikan dunia dan akhirat untukmu. Allah swt. telah memerintahkan kepadaku untuk mengajakmu menggapai kebaikan itu. Siapakah di antara kamu yang siap membantuku atas urusan ini dan ia akan menjadi saudara, washî, dan khalifahku untuk kamu semua?”</p>
<p style="text-align: justify;">Para hadirin diam seribu bahasa seolah-olah di atas kepala mereka bertengger seekor burung. Imam Ali as. segera memjawab, sekalipun saat itu usianya masih sangat muda. Dengan penuh semangat ia berkata: “Aku, wahai nabi Allah. Aku siap menjadi pembelamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas Rasulullah saw. memegang pundak Ali seraya berkata kepada hadirin: “Sesungguhnya orang ini adalah saudara, washî, dan khalifahku untuk kamu semua. Karena itu, dengarkan dan taatilah segala perintah-nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan itu, seluruh hadirin serentak berteriak sembari mengejek Abu Thalib seraya berkata: “Muhammad telah menyuruhmu untuk mendengar dan menaati anakmu.”<a name="_ftnref17" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para perawi hadis sepakat atas kesahihan peristiwa ini. Peristiwa ini adalah dalil yang gamblang atas kepemimpinan (imâmah) Imam Ali bin Abi Thalib as. Hadis Rasulullah saw. dalam peristiwa ini menegaskan bahwa Imam Ali as. adalah wazir dan pembantu, washî dan khalifah Rasu-lullah saw. Kami telah memaparkan penjelasan hadis ini secara mendetail dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin (Ensklopedia Imam Amirul Mukminin as.), jilid 1.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link10"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">f. Di Syi‘ib (Lembah) Abu Thalib</h3>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Quraisy yang kafir sepakat untuk memboikot Nabi Muhammad saw. di Syi‘ib Abu Thalib. Mereka memaksanya untuk tinggal di sana agar tidak dapat melakukan interaksi dengan masyarakat. Tujuannya, agarnya tidak memiliki kesempatan untuk merubah keyakinan dan membersihkan otak masyarakat Arab dari kotoran Jahiliyah. Untuk melancarkan permu-suhan terhadap Bani Hâsyim, bangsa Quraisy telah mengambil beberapa keputusan berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">o   Tidak menikahkan anak-anak perempuan mereka dengan laki-laki yang berasal dari kalangan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">o   Orang laki-laki dari kalangan mereka tidak boleh menikah dengan wanita yang berasal dari kalangan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">o   Mereka tidak boleh melakukan transaksi jual beli dengan Bani Hâsyim.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Quraisy menggantungkan surat keputusan tersebut di tembok Ka‘bah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. terpaksa tinggal di Syi‘ib Abu Thalib dengan disertai orang-orang mukmin dari kalangan Bani Hâsyim, termasuk di antaranya adalah Imam Ali as. Mereka mengalami berbagai tekanan dan siksaan di Syi‘ib tersebut. Ummul Mukminin Khadijah senantiasa memberikan ban-tuan yang mereka butuhkan, hingga harta kekayaannya yang melimpah habis. Rasulullah saw. tinggal di Syi‘ib Abu Thalib bersama para pengikut setianya selama dua tahun lebih. Akhirnya, Allah swt. mengutus rayap untuk melahap surat keputusan yang telah digantung di tembok Ka‘bah itu. Rasulullah saw. memberitahukan peristiwa ini kepada Abu Thalib. Mendengar informasi itu, Abu Thalib bergegas menjumpai orang-orang kafir Quraisy dan memberitahukan peristiwa tersebut. Mereka tersentak kaget dan segera pergi untuk melihat surat keputusan itu. Ternyata peristiwa itu benar sesuai informasi yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Akhirnya, masyarakat menuntut agar beliau berserta para pengikut-nya dibebaskan dari pemboikotan itu. Bangsa kafir Quraisy pun terpaksa memenuhinya. Dengan kondisi fisik yang sangat lemah, beliau dan para pengikutnya keluar dari tempat pemboikotan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah bebas dari pemboikotan ini, Rasulullah saw. mulai mengajak umat manusia kepada tauhid dan menyingkirkan seluruh tradisi Jahiliyah. Di jalan ini, ia tidak merasa gentar sedikit pun terhadap ancaman dan kesepakatan orang-orang kafir Quraisy untuk menghabisi dirinya. Hal ini karenanya mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, Imam Ali as., dan putra-putra Abu Thalib yang lain. Abu Thalib dan keluarganya adalah benteng dan tempat berlindung Rasulullah saw. yang kokoh. Bahkan, Abu Thalib senantiasa mendorong Rasulullah saw. untuk mene-ruskan perjuangannya menyebarkan risalah Islam. Dalam sebuah syair yang indah, Abu Thalib berkata kepada beliau:</p>
<p style="text-align: justify;">Pergilah, anakku, dan sedikit pun jangan gusar, pergilah dengan gembira dan senang hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi Allah, mereka tak akan berani menyentuhmu, hingga aku terkubur dalam tanah nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau mengajakku dan kutahu engkau penasihatku, kau benar dan sebelum itu engkaulah sang al-Amîn.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu agama Muhammad adalah sebaik-baik agama, untuk manusia di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Laksanakanlah urusanmu dan sedikit pun jangan gusar, bergembira dan senang hatilah karennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syair ini mengungkapkan kedalaman imam Abu Thalib. Ia adalah pengayom Islam dan pejuang muslim pertama. Sungguh celaka orang yang berpendapat bahwa ia bukan muslim dan berada dalam siksa neraka. Padahal jelas bahwa putranya adalah pembagi (qâsim) surga dan nereka. Abu Thalib adalah tonggak akidah Islam. Seandainya bukan karena sikap dan pembelaannya yang sangat berani, niscaya Islam tidak berwujud lagi, melainkan namanya saja, dan orang-orang kafir Quraisy sudah dapat memberangus Islam sejak awal kemunculannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link11"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">g. Bermalam di Atas Ranjang Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kemuliaan Imam Ali as. yang paling menonjol adalah pengorbanannya untuk Nabi Muhammad saw. dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Di dunia Islam, Imam Ali as. adalah orang pertama yang mempertaruhkan jiwanya (demi kepentingan dakwah Islam). Saat itu orang-orang kafir Quraisy bertekad untuk membunuh dan mencabik-cabik tubuh Rasulullah saw. dengan tombak dan pedang. Di tengah malam yang gulita, mereka mengepung rumah Rasulullah saw. dengan tombak dan pedang yang terhunus. Rasulullah saw. telah mengetahui makar mereka sebelumnya. Untuk itunya memanggil putra pamannya dan memberitahu tentang rencana jahat bangsa Quraisy. Ia menyuruh Ali untuk tidur di atas ranjangnya. Ali as. menggunakan selimut berwarna hijau yang biasa dipakai Rasulullah saw. agar mereka menduga bahwa yang sedang tidur di atas ranjang itu adalah Rasulullah saw. Dengan senang hati, Ali as. menerima dan mematuhi perintah Rasulullah yang belum pernah terbersit di benaknya itu. Hal itu karena ia akan menjadi tebusan jiwa Rasulullah saw. Sementara itu, Rasulullah saw. keluar tanpa sepengetahuan para pengepung sedikit pun. Ia melemparkan segenggam debu ke wajah mereka yang keji sembari berkata: “Terhinalah wajah mereka itu.” Setelah berkata demikian, ia membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Kami jadikan di hadapan dan di belakang mereka dinding, kemudian Kami tutupi mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yâsîn [36]:9)</p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan Ali as. bermalam di tempat tidur Rasulullah saw. ini adalah sebuah jihad dan perjuangan cemerlang yang tidak ada tandingannya. Sehubungan dengan ini Allah swt. menurunkan ayat yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara manusia ada yang menjual jiwanya demi meraih keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]:207)</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini adalah babak penting dalam dakwah Islam yang belum pernah dilakukan oleh seorang muslim pun. Seorang penyair besar dan tenar, Syaikh Hâsyim Al-Ka‘bî pernah melantunkan beberapa bait syair yang ditujukan kepada Imam Ali as. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh pembelaanmu terhadap Ahmad tak mungkin terlukis dengan kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau tidur malam di ranjangnya sementara musuh mengintai dan mengancam.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau tidur dengan hati yang tenang seakan asyik mendengar kicauan burung.</p>
<p style="text-align: justify;">Engkau bak gunung kokoh dan penunggang kuda pemberani, telah kau lengkapi malamnya dengan tegar.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang pagi mereka menyerang bendera hidayah, mereka tak tahu bendera hidayah terjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. tidak tidur malam sembari berdoa kepada Allah swt. demi keselamatan saudaranya dari bencana yang dahsyat dan kejahatan para musuh. Ketika cahaya pagi muncul, mereka segera menyerang tempat tidur Rasulullah saw. sambil menghunuskan pedang. Ali as. segera bang-kit dari tidurnya bak harimau yang geram dengan menggenggam pedang terhunus. Melihat Ali as., mereka gemetar ketakutan seraya berteriak: “Mana Muhammad?” Ali as. menjawab dengan suara lantang: “Kalian telah membuatku sebagai penjaganya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, mereka mundur dengan penuh rasa malu dan kekesalan. Rasulullah saw. yang lahir untuk membebaskan mereka dan membangun kemuliaan yang agung itu telah terlepas dari incaran kejahatan mereka. Bangsa Quraisy betul-betul menaruh kedengkian yang dalam terhadap Ali as. Mereka memandangnya dengan mata yang tajam, tetapi Ali as. tidak menggubris dan berjalan di hadapan mereka dengan tenang sambil menghina dan mengejek mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link12"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">h. Hijrah ke Yatsrib (Madinah)</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. berangkat meninggalkan kota Mekah menuju kota Madinah, Ali as. menyampaikan semua amanatnya saw. kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan membayar seluruh utangnya, seperti diperintahkan oleh Nabi saw. Tidak lama kemudian, Ali as. menyusul saudara dan putra pamannya berhijrah ke Madinah. Bersama Ali as. turut serta beberapa orang wanita mulia yang bernama Fathimah. Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh tujuh orang kafir Quraisy. Ali mengadakan perlawanan terhadap mereka dengan penuh keberanian. Ketika ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, tak ayal lagi para penghadang yang masih hidup itu lari tunggang langgang. Ali as. melanjutkan perjalanan bersama rombongannya, sementara kalbunya dipenuhi oleh rasa rindu kepada Rasulullah saw. Setibanya di Madinah, ia berjumpa dengan Rasulullah saw. Menurut sebuah riwayat, ia berjumpa Rasulullah saw. di kota Quba sebelum memasuki kota Madinah. Nabi saw. sangat gembira dengan kedatangan saudara dan pembela setianya di setiap kesulitan dan peristiwa itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link13"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali dalam Kaca Mata Al-Qur’an</h3>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali as. dan memperkenalkannya sebagai peribadi Islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwa ia men-dapat perhatian yang tinggi di sisi Allah swt. Banyak sekali buku-buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Qur’an yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Iman Ali as.<a name="_ftnref18" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam manapun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link14"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Kategori Ayat Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali as. adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan . Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra‘d [13]:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abas. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, nabi saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalunya memegang pundak Ali as. sembari bersabda: ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”<a name="_ftnref19" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“.. dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]:12)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali as. berkata: “Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Rasulullah saw.”<a name="_ftnref20" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:274)</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, Imam Ali as. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah saw. bertanya kepa-danya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali as. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian ayat tersebut turun.<a name="_ftnref21" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftn21">[21]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]:7)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir bin Abdillah. Jâbir bin Abdillah berkata: “Ketika kami bersama nabi saw., tiba-tiba Ali as. datang. Seketika itu itu Rasulullah saw. Ber-sabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguh-nya Ali as. dan Syi‘ah (para pengikut)nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali as. datang, para sahabat Nabi saw. Menga-takan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”<a name="_ftnref22" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.</strong>      Allah swt. berfirman:.</p>
<p style="text-align: justify;">“&#8230; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai penge-tahuan [Ahl Adz-Dzikr] jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]:43)</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali as. berkata: “Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.”<a name="_ftnref23" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepada-mu dari Tuhanmu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Sesungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun kepada Nabi saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi saw. diperintahkan oleh Allah untuk mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepening-galnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali as. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali as. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang men-cintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali as.: “Selamat, hai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”<a name="_ftnref24" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah nabi saw. mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya.<a name="_ftnref25" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn25">[25]</a> Setelah ayat tersebut turun, Nabi saw. bersabda: “Allah Maha Besar lantaran penyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref26" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat ketika sedang rukuk.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 55)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku menger-jakan salat Dzuhur bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang membe-rikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali as. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian ia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi saw. Lalunya saw. Berdoa: ‘Ya Allah, sesung-guhnya saudaraku, Mûsâ as. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Hârûn. Kokohkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’ (QS. Thaha [20]:25–32)</p>
<p style="text-align: justify;">“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kokohkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin.’ (QS. Al-Qashash [28]:35) Ya Allah, aku ini adalah Muhammad nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kokohkanlah punggungku dengannya.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelumnya sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: ‘Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan &#8230;.’”<a name="_ftnref27" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn27">[27]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menempatkan wilâyah ‘kepemimpinan’ universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali as. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka mengagungkan kemuliaan Imam Ali as. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk kalimat afirmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demikian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair tersohor, Hassân bin Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.<a name="_ftnref28" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn28">[28]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link15"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Kategori Ayat Kedua</h3>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait as. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali as. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apapun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebaji-kan itu. Sesungguhnya Allah Maha Penghampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Asy-Syûrâ [42]:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah swt. kepada segenap hamba-Nya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain as., dan maksud dari “iqtirâf Al-hasanah” (me-ngerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Ibn Abas berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”<a name="_ftnref29" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn29">[29]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Seorang Arab Baduwi pernah datang menjumpai Nabi saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan rasul-Nya.’ Arab Baduwi itu segera menimpali: ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab: “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’. Orang Arab Baduwi itu bertanya lagi: ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi saw. Menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian orang Arab Baduwi itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu bahwa barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”<a name="_ftnref30" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Barang siapa yang menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepadanya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudain kita ber-mubâhalah agar kita jadikan kutukan Allah atas orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali ‘Imrân [3]:61)</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain as.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an-nisâ’ (wanita) yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ as., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).<a name="_ftnref31" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut &#8230;.” (QS. Ad-Dahr [76])</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis berpendapat bahwa surah ini diturunkan untuk Ahlul Bait nabi saw.<a name="_ftnref32" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn32">[32]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala noda dari kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:33)</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang penghuni Kisâ’.<a name="_ftnref33" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn33">[33]</a> Mereka adalah Rasulullah saw.; junjungan para makhluk, Ali as.; jiwa dan dirinya, Sayyidah Fathimah; buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah rida dengan keridaannya dan murka dengan kemurkaannya, dan Hasan dan Husain as.; kedua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keuta-maan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathimah, Hasan, Husain, dan Ali as. di rumahku. Kemudian Rasulullah saw. menutupi mereka dengan Kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku. Hilangkanlah dari mereka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat Kisâ’ tersebut untuk masuk bersama mereka. Tetapinya menarik Kisâ’ itu sembari bersabda: “Sesungguhnya eng-kau berada dalam kebaikan.”<a name="_ftnref34" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn34">[34]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyak-sikan Rasulullah saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib as. setiap kali masuk waktu salat selama tujuh bulan berturut-turut. Ia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersih-kan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan salat, semoga Allah merahmati kalian!”<a name="_ftnref35" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn35">[35]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah berkata: “Aku mengerjakan salat bersama Rasulullah saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, ia mendatangi pintu rumah Fathimah as. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”<a name="_ftnref36" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn36">[36]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait as. Lantaran Ahlul Bait as. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link16"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">c. Kategori Ayat Ketiga</h3>
<p style="text-align: justify;">Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali as. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan ter-kemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan di atas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘raf [7]:46)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi dari Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali bin Abi Thalib as., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pecinta mereka dengan wajah mereka bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”<a name="_ftnref37" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn37">[37]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa telah yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara ia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah bin Hârist. Adapun ‘Ubaidah, ia telah gugur sebagai syahid di medan Badar dan Hamzah juga telah gugur di medan perang Uhud. Sementara aku masih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini—sembari ia menunjuk jenggot dan kepalanya.”<a name="_ftnref38" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn38">[38]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link17"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">d. Kategori Ayat Keempat</h3>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali as. dan mengecam para musuhnya yang senantiasa berusaha untuk meng-hapus segala keutamaannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah kamu menyamakan pekerjaan memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]:19)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as., Abbâs, dan Thalhah bin Syaibah ketika mereka saling menunjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah berkata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusan tabirnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beribadah haji.” Ali as. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan salat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan salat dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian turunlah ayat tersebut.<a name="_ftnref39" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn39">[39]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong>      Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah [32]:18)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun memuji Imam Ali as. dan mengecam Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali as. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajan daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali as. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik”. Kemudian turunlah ayat tersebut.<a name="_ftnref40" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn40">[40]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link18"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali dalam Kaca Mata Hadis</h3>
<p style="text-align: justify;">Buku-buku literatur hadis, baik Shihâh maupun Sunan, dipenuhi oleh hadis-hadis Nabi saw. yang bagaikan bintang-gumintang gemilang mene-gaskan keutamaan pelopor keadilan Islam, Imam Ali as., dan mengang-katnya tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis yang masyhur dan telah tersebar di kalangan para perawi hadis itu pasti memahami tujuan utama Nabi saw. di balik hadis-hadis tersebut. yaitu ia ingin mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya sehingga ia menjadi penerus tong-kat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapak jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa dunia yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita mencermati hadis-hadis Nabi saw. mengenai keutamaan Imam Ali as. itu, niscaya kita temukan sekelompok hadis dikhususkan untuk dia secara khusus dan sekelompok hadis yang lain dikhususkan untuk Ahlul Bait Nabi as., yang secara otomatis kelompok hadis kedua ini juga meliputi Imam Ali as. Hal itu lantaran ia adalah junjungan ‘Itrah.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kami nukilkan beberapa hadis tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link19"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Kelompok Hadis Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis kelompok ini memuat berbagai macam bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali as. dan penegasan atas keutamaan-nya. Hadis-hadis tersebut adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link20"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">a. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali as. adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Ali as. adalah ayah untuk kedua cucunya dan pintu kota ilmunya. Nabi saw. sangat menghormati dan mencintai Ali as. Beberapa hadis Nabi saw. menegaskan betapa kecintaannya saw. kepada Ali as. sangat besar. Mari kita simak bersama beberapa hadis berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link21"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Diri Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat Mubâhalah menegaskan kepada kita bahwa Imam Ali as. adalah diri dan jiwa Nabi saw. Kami telah memaparkan hal ini pada pembahasan yang lalu. Nabi saw. sendiri telah menjelaskan dalam berbagai hadis bah-wa Ali as. adalah diri dan jiwanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Walîd bin ‘Uqbah memberikan informasi kepada Nabi saw. bahwa Bani Walî‘ah telah murtad dari Islam. Mendengar itu, Nabi saw. sangat murka dan bersabda: “Apakah Bani Walî‘ah menghen-tikan perbuatan mereka itu atau aku akan utus kepada mereka seorang laki-laki yang merupakan diri dan jiwaku; ia akan memerangi mereka dan menyandera kaum wanita mereka. Laki-laki itu adalah orang ini.” Setelah bersabda demikian, Nabi saw. menepuk pun-dak Imam Ali as.<a name="_ftnref41" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn41">[41]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, ‘Amr bin ‘Ash berkata: “Ketika aku kembali dari perang Dzâtus Salâsil, aku mengira bahwa tidak seorang pun yang lebih dicintai oleh Rasulullah saw. daripada aku. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah yang paling Anda cintai?’ Rasulullah saw. menyebutkan nama beberapa orang. Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulallah, di manakah Ali?’ Nabi saw. menoleh kepada para sahabat seraya bersabda, ‘Sesungguhnya ia bertanya kepadaku tentang jiwaku.’”<a name="_ftnref42" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn42">[42]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link22"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Saudara Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. pernah mengumumkan di hadapan para sahabat bahwa Ali as. adalah saudaranya. Masalah ini telah direkam oleh banyak hadis. Antara lain ialah:</p>
<p style="text-align: justify;">At-Turmudzî meriwayatkan dengan sanad dari Ibn Umar. Ibn Umar berkata: “Rasulullah saw. telah mempersaudarakan para sahabatnya. Ke-mudain datanglah Ali as. dengan air mata yang berlinang seraya berkata: ‘Ya Rasulallah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu. Tetapi mengapa Anda tidak mempersaudarakanku dengan siapa pun?’ Rasulu-llah saw. Bersabda: ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.’”<a name="_ftnref43" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn43">[43]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mempersaudarakan Ali dengan dirinya bukan hanya di dunia ini saja. Tetapi persaudaraan antaranya Imam Ali as. ini berlanjut hingga hari akhirat yang tak berbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw. naik ke atas mimbar. Setelah usai berpidato, ia bertanya, ‘Di manakah Ali bin Abi Thalib?’ Ali as. segera bangkit dan berkata: “Aku di sini, ya Rasulullah.’ Tak lama kemudian Nabi saw. memeluk Ali as. dan mencium keningnya seraya bersabda dengan suara yang lantang: ‘Wahai kaum Muslimin, Ali adalah saudaraku dan putra pamanku. Dia adalah darah dagingku dan rambutku. Dia adalah ayah kedua cucuku Hasan dan Husain, penghulu para pemu-da penghuni surga.’”<a name="_ftnref44" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn44">[44]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda pada saat melaksanakan haji Wadâ‘ semen-taranya menunggangi unta sembari menepuk pundak Ali as.: “Ya Allah, saksikanlah. Ya allah, aku telah menyampaikan seruan-Mu bahwa orang ini adalah saudaraku, putra pamanku, menantuku, dan ayah kedua cucu-ku. Ya Allah, sungkurkanlah orang yang memusuhinya ke dalam api ne-raka.’”<a name="_ftnref45" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn45">[45]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Nabi saw. dan Imam Ali as. Berasal dari Satu Pokok</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. pernah menegaskan bahwa ia saw. dan Ali as. berasal dari satu pohon yang sama. Hal ini telah disebutkan dalam beberapa hadis. Berikut ini adalah contoh dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali as.: ‘Hai Ali, sesungguh-nya umat manusia berasal dari berbagai pohon yang berbeda. Sementara engkau dan aku berasal dari satu pohon yang sama.’ Kemudian beliau membacakan ayat:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdam-pingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercAbâng dan yang tidak bercAbâng, disirami dengan air yang sama &#8230;” (QS. Ar-Ra’d [13]:4)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Aku dan Ali as. berasal dari satu pohon, se-dangkan umat manusia berasal dari pohon yang berbeda-beda.”<a name="_ftnref46" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn46">[46]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh betapa agung dan mulia pohon tersebut yang telah melahirkan junjungan alam semesta, Rasulullah saw., dan pintu kota ilmunya, Amirul Mukminin Ali as. Pohon ini adalah pohon yang penuh berkah; pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan ranting-ran-tingnya menjulang ke langit, dan membuahkan hasil bagi umat manusia pada setiap generasi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Wazîr Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam beberapa hadis, Nabi saw. sangat menekankan bahwa Ali as. adalah wazîrnya. Di antara hadis-hadis tersebut ialah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis, Asmâ’ binti ‘Umais berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku ber-kata sebagaimana saudaraku, Mûsâ berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu saudaraku Ali. Kokohkanlah aku dengannya, sertakanlah dia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan senantiasa mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui kondisi kami”.<a name="_ftnref47" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn47">[47]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Khalifah Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. memproklamasikan bahwa Ali as. adalah khilafah sepeninggal-nya dari sejaknya memulai dakwah. Hal itu terjadi Ketika ia mengundang kaum Quraisy agar memeluk Islam. Di akhir pertemuan tersebut, ia saw. berkata kepada mereka: “Dengan demikian, orang ini—yaitu Ali as.—adalah saudaraku, washî-ku, dan khalifahku setelahku untuk kalian. De-ngarkan dan taatilah dia!”<a name="_ftnref48" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn48">[48]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. telah menggandengkan kekhalifahan Ali as. sepe-ninggalnya dengan permulaan dakwah Islam. Ia juga telah menying-kirkan kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Banyak sekali riwayat yang telah menegaskan kekhalifahan Ali as. ini. Berikut ini seba-gian darinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululllah saw. bersabda: “Hai Ali, engkau adalah khalifahku untuk umatku.”<a name="_ftnref49" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn49">[49]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau saw. juga bersabda: “Di antara mereka, Ali bin Abi Thalib paling dahulu memeluk Islam, paling banyak ilmu pengetahuannya, dan dia adalah imam dan khalifah setelahku.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. di Sisi Nabi saw. Sepadan Hârûn di Sisi Mûsâ</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis dan riwayat telah diriwayatkan dari Nabi saw. yang memiliki kandungan yang sama. yaitu ia bersabda kepda Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harus di sisi Mûsâ as. &#8230;” Berikut ini kami nukilkan sebagian hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. bersabda kepada Ali as.: “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku?”<a name="_ftnref50" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn50">[50]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sa‘îd bin Mûsâyyib meriwayatkan hadis dari ‘Âmir bin Sa‘d bin Abi Waqqâsh, dari ayahnya, Sa’d. Sa‘d berkata: “Rasulullah saw. pernah ber-sabda kepada Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Sa‘îd berkata: “Aku ingin menyampaikan informasi tersebut kepada Sa‘d. Aku menjumpainya dan kuceritakan apa yang diceritakan oleh ‘Âmir. Sa‘d berkata: “Aku pun telah mendengarnya.’ Aku bertanya: “Sungguh engkau telah mendengarnya?” Ia meletakkan jarinya di kedua telinganya seraya berkata: “Ya, aku telah mendengarnya. Jika tidak, berarti aku tuli.’”<a name="_ftnref51" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn51">[51]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Gerbang Kota Ilmu Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Satu hal lagi tentang ketinggian dan keagungan kedudukan Ali as. yang ditegaskan oleh Nabi saw. adalah bahwa ia telah menjadikannya sebagai pintu kota ilmunya. Hadis-hadis mengenai hal ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur sehingga mencapai peringkat qath‘î (meyakinkan). Hadis-hadis ini telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. pada beberapa kesempatan. Di antaranya adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Jâbir bin Abdillah berkata: “Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mende-ngar Rasulullah saw. bersabda sambil memegang tangan Ali as.: “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalunya mengeraskan suaranya: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya.’”<a name="_ftnref52" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn52">[52]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki kota, maka hendaklah ia mendatangi pintunya.”<a name="_ftnref53" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn53">[53]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas risalahku kepada umatku sepeninggalku nanti. Mencintainya adalah iman, memurkainya adalah kemunafikan, dan memandangnya adalah kasih sayang.”<a name="_ftnref54" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn54">[54]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali as. adalah pintu kota ilmu Nabi saw. Setiap ajaran agama, hukum syariat, akhlak yang mulia, dan tata krama luhur yang datang darinya, semua itu bersumber dari Nabi saw. Konse-kuensinya, kita harus mematuhi dan mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Nabi saw. telah meninggalkan sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi kehidupan ini dengan hikmah dan kesejahteraan. Sumber itunya titipkan kepada Ali as. agar umat ini dapat menimba darinya. Tetapi sangat sekali, kekuatan zalim yang dengki kepada Imam Ali as. telah menutup jendela cahaya tersebut, mencegah umat untuk mengambil manfat darinya, dan membiarkan mereka terperosok ke dalam kebodohan hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link23"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. Serupa dengan Para Nabi</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Nabi saw. berada di tengah-tengah para sahabat. Ia berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin melihat ilmu pengetahuan Adam as., kesedihan Nuh as., ketinggian akhlak Ibrahim as., munajat Mûsâ as., usia Isa as., dan petunjuk serta kelembutan Muhammad saw., maka hendaklah kalian melihat orang yang akan datang sebentar lagi.” Setelah agak lama mereka menanti-nanti siapa yang akan datang, tiba-tiba Amirul Mukmini Ali as. muncul.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair terkenal, Abu Abdillah Al-Mufajji‘, telah banyak menyusun bait- bait syair tentang keagungan dan kemuliaan Imam Ali as. Ketika mengungkapkan realita tersebut di atas, ia menulis:</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai pendengki kekasihku Ali, masuklah ke dalam neraka Jahim dengan terhina.</p>
<p style="text-align: justify;">Masihkah engkau menyindir manusia terbaik, sedang engkau tersingkir-kan dari petunjuk dan cahaya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah yang mirip para nabi di kala kanak dan muda, di kala menyusu, disapih dan di kala makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmunya bagai Adam di kala ia menjelaskan nama-nama dan alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagai Nuh di kala selamat dari maut ketika ia turun di bukit Jûdî.<a name="_ftnref55" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn55">[55]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link24"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Mencintai Ali as. adalah Keimanam; Membencinnya adalah  Kemunafikan</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. menegaskan kepada umat bahwa mencintai Ali as. adalah tanda keimanan dan ketakwaam. Sementara membencinya adalah kemunafikan dan maksiat. Beriktu ini sebagian riwayat yang telah diri-wayatkan darinya tentang hal ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Ali as. berkata: “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan mencip-takan manusia, sesungguhnya janji Nabi yang ummî kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak membenciku melainkan orang munafik.”<a name="_ftnref56" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn56">[56]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Musâwir Al-Humairî meriwayatkan hadis dari ibunya. Ibunya berkata: “Ummu Salamah datang menjumpaiku dan aku mendengar ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan orang mukmin tidak akan membencinya.’”<a name="_ftnref57" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn57">[57]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Abbâs pernah meriwayatkan sebuah hadis. Ia berkata: “Rasu-lullah saw. memandang kepada Ali as. seraya bersabda: “Tidak mencin-taimu melainkan orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik. Barang siapa yang mencintaimu, berarti ia mencintaiku. Barang siapa yang membencimu, berarti ia membenciku. Kekasihku adalah kekasih Allah dan pendengkiku adalah pendengki Allah. Sungguh celaka orang yang mendengkimu setelahku nanti.’”<a name="_ftnref58" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn58">[58]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali as., ‘Mencintaimu adalah keimanan dan membencimu adalah kemunafikan. Orang yang pertama masuk surga adalah pecintamu dan orang pertama yang masuk neraka adalah pen-dengkimu.’”<a name="_ftnref59" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn59">[59]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis di atas telah tersebar luas di kalangan para sahabat nabi saw. Mereka menerapkan hadis-hadis tersebut kepada orang yang mencintai Ali as. dan menyebutnya sebagai orang mukmin. Sementara orang yang mendengkinya mereka sebut sebagai orang munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat terkemuka yang bernama Abu Dzar Al-Gifârî pernah berkata: “Kami tidak mengenal orang-orang munafik, kecuali ketika mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan salat, dan mendengki Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref60" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn60">[60]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat Nabi terkemuka lainnya yang bernama Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî juga pernah berkata: “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali ketika mereka mendengki Ali bin Abi Thalib as.”<a name="_ftnref61" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn61">[61]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link25"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">b. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Allah swt.</h3>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya kita beralih menjelaskan sebagian hadis yang telah diriwa-yatkan dari Nabi saw. berhubungan dengan keagungan Imam Ali as. di sisi Allah swt. dan kemuliaan-kemuliaan yang ia miliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah hadis yang telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. Ber-hubungan dengan kemuliaan Imam Ali as. di sisi Allah di akhirat kelak. Sebagian hadis tersebut adalah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pembawa Bendera Pujian</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis sahih dari Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. pada Hari Kiamat kelak akan diberikan kemuliaan oleh Allah swt. untuk membawa bendera pujian. Hal ini adalah anugerah khusus yang tidak diberikan kepada siapa pun selainnya. Di antara hadis-hadis terse-but adalah hadis berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda kepada Imam Ali as.: “Pada Hari Kiamat kelak, engkau akan berada di hadapanku. Ketika itu aku diberi bendera pujian, lalu bendera tersebut kuserahkan kepadamu. Sementara engkau sedang mengusir orang-orang (yang tidak berhak) dari telagaku.”<a name="_ftnref62" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn62">[62]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link26"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pemilik Telaga Haudh Nabi saw.</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. adalah pemilik telaga Haudh Nabi saw., sungai di surga yang paling sejuk, paling manis, dan sangat indah dipandang mata itu. Tak seorang pun da-pat meneguk airnya kecuali orang yang ber-wilâyah dan mencintai Imam Ali as. Berikut ini kami paparkan sebagian hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Ali bin Abi Thalib as. adalah pemilik te-laga Haudh-ku kelak di Hari Kiamat. Di sekelilingnya berjejer gelas-gelas sebanyak bilangan bintang di langit. Luas telaga Haudh-ku itu sejauh antara Jâbiyah dan Shan’a.”<a name="_ftnref63" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn63">[63]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link27"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Ali as. sebagai Pemilah Surga dan Neraka</h3>
<p style="text-align: justify;">Di antara posisi agung dan mulia yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada pintu kota ilmunya ini adalah bahwa ia adalah pemilah surga dan nereka. Ibn Hajar pernah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Imam Ali as. pernah berkata kepada anggota Dewan Syura yang telah dipilih oleh Umar: “Demi Allah, apakah di antara kalian ada seseorang yang pernah disebut oleh Rasulullah saw. dengan sabda: ‘Wahai Ali, engkau adalah pe-milah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, selainku?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak seorang pun”, jawab mereka pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Hajar memberikan catatan atas hadis ini. Ia menulis: “Maksud-nya ialah ucapan yang pernah diriwayatkan dari Imam Ar-Ridhâ as. Sabda Nabi saw. kepada Ali as.: ‘Engkau adalah pemilah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, berarti engkau, hai Ali, berkata kepada neraka: ‘Ini adalah bagianku dan yang ini adalah bagianmu.’”<a name="_ftnref64" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn64">[64]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dapat dipastikan bahwa tak seorang wali Allah pun, baik sebelum maupun setelah Islam, yang pernah memperoleh kemuliaan tak berbatas ini seperti yang pernah diperoleh oleh Imam Ali as. Allah swt. telah menganugerahkan kemulian itu kepadanya sebagai penghargaan atas jerih payah dan jihadnya di jalan Islam, dan atas usahanya dalam mengikis habis egoisme dan kerelaannya berkhidmat kepada kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link28"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Kelompok Hadis Kedua</h3>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit hadis yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. tentang keu-tamaan Ahlul Bait Nabi saw. yang suci, keharusan mencintai dan berpegang teguh kepada mereka. Berikut ini adalah sebagian dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link29"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Tsaqalain</h3>
<p style="text-align: justify;">Hadis Tsaqalain termasuk hadis Nabi saw. yang paling indah, paling sahih, dan paling tersebar luas di kalangan muslimin. Hadis ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Sahih (Al-Kutub As-Sittah), dan para ulama juga mene-rimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diingatkan di sini bahwa Nabi saw. telah menyampaikan hadis tersebut di beberapa tempat dan kesempatan. Di antaranya berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesung-guhnya aku tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya sepeninggalku nanti. Salah satunya lebih agung daripada yang lainnya. Yaitu Kitab Allah, tali yang membentang dari langit ke bumi, dan yang kedua adalah ‘Itrahku, Ahlul Baitku. Keduanya itu tidak akan per-nah berpisah sampai menjumpaiku di telaga Haudh kelak. Perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya itu sepeninggalku kelak.”<a name="_ftnref65" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn65">[65]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. juga pernah menyampaikan hadis ini ketika sedang melaksanakan haji Wada’ pada hari Arafah. Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî meriwayatkan hadis seraya berkata: “Aku melihat Rasulullah saw. pada haji Wada’ pada hari Arafah. Ketika itunya berpidato sedangnya berdiri di atas punggung untanya yang bernama Al-Qashwâ’. Aku mendengarnya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian mengikutinya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.’”<a name="_ftnref66" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn66">[66]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. juga pernah berpidato di hadapan para sahabat Ketika ia berada di atas ranjang pada saat mendekati wafat. Ia saw. Ber-sabda: “Wahai manusia, sebentar lagi nyawaku akan diambil dengan cepat, lalu aku pergi. Dan sebelum ini aku pernah menyampaikan suatu ucapan kepada kalian. Yaitu aku tinggalkan untuk kalian Kitab Tuhanku Yang Mulia nan Agung dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.” Kemudian ia saw. memegang tangan Ali as. seraya berkata: “Inilah Ali yang selalu bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an pun senantiasa bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mendatangiku di telaga Haudh.”<a name="_ftnref67" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn67">[67]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link30"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Bahtera Nuh as.</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh as. selamatlah orang yang menaikinya, dan bnasalah orang yang meninggalkannya, maka ia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan pintu Hiththah (pengampunan) bagi Bani Isra’il. Barang siapa yang memasukinya, dosanya akan diampuni.”<a name="_ftnref68" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn68">[68]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis tersebut menegaskan agar umat manusia berpegang teguh kepada ‘Itrah suci. Karena mereka adalah kunci keselamatan mereka dari tenggelam dan kebinggungan hidup ini. Ahlul Bait adalah bahtera penye-lamat dan pengaman bagi umat manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Syarafuddin menulis: “Anda tahu bahwa maksud dari penye-rupaan mereka dengan bahtera Nuh as. adalah bahwa barang siapa yang bersandar kepada mereka di dunia dan akhirat; yaitu mengambil ajaran agama, baik pondasi maupun cAbângnya, dari para imam suci, maka ia akan selamat dari azab api neraka. Dan barang siapa mem-belakangi mereka, maka ia seperti orang yang berlindung kepada bukit ketika topan bergemuruh kencang agar selamat dari ketentuan Allah. Perbedaannya, ia hanya tenggelam di air. Sedangkan orang yang mening-galkan para imam suci akan terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Semoga Allah melin-dungi kita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Adapun sisi penyerupaan mereka dengan pintu pengampunan, artinya adalah Allah swt. menjadikan pintu tersebut sebagai salah satu lambang kerendahan diri terhadap keagungan-Nya dan ketundukan kepa-da ketentuan-Nya. Dengan demikian pintu itu menjadi faktor pengam-punan dosa. Ini adalah rahasia penyerupaan tersebut”.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi Ibn Hajar berupaya mengutarakan rahasia yang lain di balik penyerupaan itu. Setelah memaparkan hadis tersebut dan hadis-hadis lainnya yang serupa, ia menuliskan: “Sisi penyerupaan mereka dengan bahtera Nuh as. yaitu bahwa barang siapa yang mencintai dan menghormati mereka karena mensyukuri nikmat kemuliaan mereka dan mengikuti petunjuk ulama mereka, maka ia akan selamat dari kegelapan pertentangan. Dan barang siapa yang meninggalkan mereka, maka ia akan tenggelam di lautan pengingkaran nikmat dan terjerumus ke dalam lembah kesesatan &#8230; Adapun faktor penyerupaan mereka dengan pintu Hiththah adalah bahwa sesungguhnya Allah swt. telah menjadikan masuk ke pintu Araiha atau Baitul Maqdis dengan rasa rendah hati dan beris-trigfar sebagai faktor pengampunan dosa, dan juga menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai sebab pengampunan dosa bagi umat ini, (tidak lebih dari itu).<a name="_ftnref69" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn69">[69]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a name="link31"></a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hadis Ahlul Bait Pengaman Umat</h3>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mewajibkan kecintaan kepada Ahlul Bait atas umat ini. Ia menegaskan bahwa berpegang teguh kepada mereka adalah faktor pengaman dari kehancuran. Ia saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam. Dan Ahlul Baitku adalah pengaman bagi umatku dari pertentangan dan pertikaian. Apabila salah satu kabilah Arab menentang mereka, ini berarti mereka telah bertikai. Akibatnya, mereka menjadi pengikut Iblis.”<a name="_ftnref70" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftn70">[70]</a></p>
<h5 style="text-align: justify;">
<hr /><a name="_ftn1" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref1">[1]</a>Murûj Adz-Dzahab, Jil. 2/3; Al-Fushûl Al-Muhimmah, karya Ibn Shabbâgh,  hal. 24; Mathâlib As-Sa’ûl, hal. 22; Tadzkirah Al-Khawwash, hal. 7; Kifâyah Ath-Thâlib, hal. 37; Nûr Al-Abshâr,  hal. 76; Nuzhah Al-Majâlis, Jil. 2/204; Syarh asy-Syifâ’, Jil. 2/15; Ghâyah Al-Ikhtishâr, hal. 97; ‘Abqariyyah Al-Imam, karya Al-‘Aqqâd, hal. 38; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/483. Dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim menegaskan: “Terdapat hadis-hadis mutawâtir yang menyatakan bah-wa Fathimah binti Asad melahirkan Ali bin Abi Thalib di dalam Ka‘bah.”<a name="_ftn2" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref2">[2]</a>Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., Jil. 1/32, menukil dari Manâqib Ali bin Abi Thalib, Jil.  3/ 90.<a name="_ftn3" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref3">[3]</a>Târîkh Al-Khamîs, Jil. 2/275.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref4">[4]</a>Al-Ma‘ârîf,  hal. 73; Adz-Dzakhâ’ir,  hal. 58; Ar-Rriyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/257.</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref5">[5]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.</p>
<p><a name="_ftn6" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref6">[6]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/102; Faidh Al-Qadîr, Jil. 4/358; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/156; Fa-dhâ’il Ash-Shahâbah, Jil. 1/296.</p>
<p><a name="_ftn7" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref7">[7]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/102.</p>
<p><a name="_ftn8" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref8">[8]</a>Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 1/63.</p>
<p><a name="_ftn9" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref9">[9]</a>Kunûz Al-Haqâ’iq, karya Al-Manâwî, hal. 43.</p>
<p><a name="_ftn10" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref10">[10]</a>Shifah Ash-Shafwah, Jil. 1/162.</p>
<p><a name="_ftn11" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref11">[11]</a>Imtâ‘ Al-Asmâ‘, Jil. 1/16.</p>
<p><a name="_ftn12" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref12">[12]</a>Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., Jil. 1/ 54.</p>
<p><a name="_ftn13" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref13">[13]</a>Syarh Nahjul Balaghah, karya Ibn Abil Hadid, Jil. 4/116.</p>
<p><a name="_ftn14" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref14">[14]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/301; Thabaqât Ibn Sa‘d, Jil. 3/21; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400; Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/55.</p>
<p><a name="_ftn15" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref15">[15]</a>Khazânah Al-Adab, Jil. 3/213.</p>
<p><a name="_ftn16" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref16">[16]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, Jil. 2/24; Musnad Ahmad bin Hanbal, hal. 263. Peristiwa ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadis.</p>
<p><a name="_ftn17" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref17">[17]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, Jil. 2/24; Musnad Ahmad, hal. 263.</p>
<p><a name="_ftn18" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref18">[18]</a>Târîkh Bagdad, Jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.</p>
<p><a name="_ftn19" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref19">[19]</a>Tafsir At-Thabarî, Jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musad-ak Al-Hâkim, Jil. 3/129.</p>
<p><a name="_ftn20" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref20">[20]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, Jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/267.</p>
<p><a name="_ftn21" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref21">[21]</a>Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 64.</p>
<p><a name="_ftn22" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/01.htm#_ftnref22">[22]</a>Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, Jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.</p>
<p><a name="_ftn23" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref23">[23]</a>Tafsir At-Thabarî, Jil. 8/145.</p>
<p><a name="_ftn24" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref24">[24]</a>Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.</p>
<p><a name="_ftn25" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref25">[25]</a>Târîkh Baghdad, Jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 6/19.</p>
<p><a name="_ftn26" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref26">[26]</a>Dalâ’il Ash-Shidq, Jil. 2/152.</p>
<p><a name="_ftn27" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref27">[27]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 6/186.</p>
<p><a name="_ftn28" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref28">[28]</a>Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 3/106; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/305.</p>
<p><a name="_ftn29" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref29">[29]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 7/348.</p>
<p><a name="_ftn30" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref30">[30]</a>Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 3/102.</p>
<p><a name="_ftn31" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref31">[31]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, Jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, Jil. 1/35; Shahîh Muslim, Jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, Jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 7/63; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, Jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, Jil. 3/193.</p>
<p><a name="_ftn32" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref32">[32]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, Jil. 6/ 546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, Jil. 1/93; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.</p>
<p><a name="_ftn33" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref33">[33]</a>Tafsir Ar-Râzî, Jil. 6/783; Shahîh Muslim, Jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, Jil. 2/264; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, Jil. 22/5; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4/ 107; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, Jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.</p>
<p><a name="_ftn34" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref34">[34]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, Jil. 5/521.</p>
<p><a name="_ftn35" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref35">[35]</a>Ad-Durr Al-Mantsâr, Jil. 5/199.</p>
<p><a name="_ftn36" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref36">[36]</a>Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.</p>
<p><a name="_ftn37" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref37">[37]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.</p>
<p><a name="_ftn38" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref38">[38]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al-Abshar, hal. 80.</p>
<p><a name="_ftn39" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref39">[39]</a>Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, Jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, Jil. 4/146; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.</p>
<p><a name="_ftn40" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref40">[40]</a>Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, Jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/206.</p>
<p><a name="_ftn41" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref41">[41]</a>Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/110. Ternyata Walîd berdusta. Maka turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan &#8230;.” (QS. Al-Hujurât [49]:6)</p>
<p><a name="_ftn42" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref42">[42]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400.</p>
<p><a name="_ftn43" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref43">[43]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/299; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/14.</p>
<p><a name="_ftn44" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref44">[44]</a>Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ,  hal. 92.</p>
<p><a name="_ftn45" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref45">[45]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 3/61.</p>
<p><a name="_ftn46" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref46">[46]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.</p>
<p><a name="_ftn47" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref47">[47]</a>Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/163.</p>
<p><a name="_ftn48" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref48">[48]</a>Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/127; Târîkh Ibn Atsîr, Jil. 2/22; Târîkh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/116; Mus-nad Ahmad, Jil. 1/331; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/399.</p>
<p><a name="_ftn49" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref49">[49]</a>Al-Murâja‘ât, hal. 208.</p>
<p><a name="_ftn50" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref50">[50]</a>Musnad Abu Daud, Jil. 1/29; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 7/195; Musykil Al-Âtsâr, Jil. 2/309; Mus-nad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/182; Târîkh Bagdad, Jil. 11/432; Khashâ’ish An-Nasa’î, hal. 16.</p>
<p><a name="_ftn51" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref51">[51]</a>Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/26; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 15; Shahîh Muslim, kitab Fadhâ’il Al-Ashhâb, Jil. 7/ 120.</p>
<p><a name="_ftn52" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref52">[52]</a>Târîkh Bagdad, Jil. 2/ 377.</p>
<p><a name="_ftn53" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref53">[53]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 401.</p>
<p><a name="_ftn54" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref54">[54]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 156; As-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 73.</p>
<p><a name="_ftn55" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref55">[55]</a>Mu‘jam Al-Udabâ’, Jil. 17/200.</p>
<p><a name="_ftn56" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref56">[56]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 301; Shahîh Ibn Mâjah, Jil. 12; Târîkh al-Baghdad, Jil. 1/255; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 4/ 185.</p>
<p><a name="_ftn57" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref57">[57]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 299.</p>
<p><a name="_ftn58" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref58">[58]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/ 133.</p>
<p><a name="_ftn59" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref59">[59]</a>Nûr Al-Abshâr, hal. 72.</p>
<p><a name="_ftn60" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref60">[60]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 129.</p>
<p><a name="_ftn61" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/02.htm#_ftnref61">[61]</a>Al-Istî‘âb, Jil. 2/ 464.</p>
<p><a name="_ftn62" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref62">[62]</a>Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 400.</p>
<p><a name="_ftn63" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref63">[63]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 1/ 367.</p>
<p><a name="_ftn64" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref64">[64]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.</p>
<p><a name="_ftn65" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref65">[65]</a>Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 308.</p>
<p><a name="_ftn66" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref66">[66]</a>Ibid; Jil. 2/ 308; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 1/ 84.</p>
<p><a name="_ftn67" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref67">[67]</a>Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.</p>
<p><a name="_ftn68" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref68">[68]</a>Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/168; Al-Mustadrak, Jil. 2/ 43; Târîkh al-Baghdad, Jil. 2/120; Al-Hilyah, Jil. 4/ 306; Adz-Dzakâ’ir, hal. 20.</p>
<p><a name="_ftn69" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref69">[69]</a>Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 149; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/116. Dalam kitab Faidh Al-Qadîr dan Majma‘ Az-Zawâ’id, Nabi saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi umatku.”</p>
<p><a name="_ftn70" href="http://www.al-shia.org/html/id/etrat/biog/001/03.htm#_ftnref70">[70]</a>Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/ 252. Hadis serupa terdapat dalam Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 319 dan Sunan Ibn Mâjah, Jil. 1/ 52.l</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : al-shia.org</p>
</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/23/imam-ali-bin-abi-thalib-as-1-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Hijrahnya Hazrat Sahr Banu as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-hijrahnya-hazrat-sahr-banu-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-hijrahnya-hazrat-sahr-banu-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali Zainal Abidin AS]]></category>
		<category><![CDATA[Sahr Banu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari kelabu tanggal 10 Muharram yang disebut hari Asyura itu, sesuai rencana Imam Husain as dan istrinya, Hazrat Sahr Banu, Dzuljanah sempat menunaikan tugasnya melarikan Shar Banu ke suatu tempat. Dalam sejarah dikisahkan sebagai berikut:
Tatkala Dzuljanah kembali ke perkemahan tanpa tuan yang telah menungganginya, seorang wanita yang mengenakan hijab tertentu turut mendekati Dzuljanah lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-308" title="Karbala-14" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-141-300x206.jpg" alt="Karbala-14" width="300" height="206" />Pada hari kelabu tanggal 10 Muharram yang disebut hari Asyura itu, sesuai rencana Imam Husain as dan istrinya, Hazrat Sahr Banu, Dzuljanah sempat menunaikan tugasnya melarikan Shar Banu ke suatu tempat. Dalam sejarah dikisahkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala Dzuljanah kembali ke perkemahan tanpa tuan yang telah menungganginya, seorang wanita yang mengenakan hijab tertentu turut mendekati Dzuljanah lalu menciuminya sambil meratap dan memeras air mata kesedihan. Wanita itu adalah Sahr Banu as, satu-satunya wanita non-Arab diantara wanita keluarga Imam Husain as yang mengerumuni Dzuljanah yang sudah penuh luka itu. Dia adalah puteri raja Persia yang telah mendapat anugerah Allah untuk menikah dengan cucu Rasul, Imam Husain as, dan setia kepadanya hingga akhir hayatnya sehingga dia tergolong wanita paling mulia. Tentang jatidirinya, ibu para imam suci sesudah Imam Husain ini berkisah sendiri sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di suatu malam aku pernah bermimpi berjumpa dengan Khatamul Anbiya Muhammad AlMustafa saww. Beliau singgah di beranda istanaku yang megah. Beliau bersabda kepadaku: &#8216;Hai puteri raja Persia, aku telah menjodohkan kamu dengan puteraku, Husain.&#8217;  Rasul kemudian pergi meninggalkan istana. Setelah itu aku didatangi oleh seorang wanita mulia, Fatimah Azzahra as yang diiringi oleh para bidadari. Beliau memelukku sambil berkata: &#8216;Kamu adalah calon isteri puteraku. Kamu adalah menantuku. Ketahuilah bahwa tak lama lagi umat Islam akan menaklukkan (kerajaan)-mu sehingga kamu akan menjadi tawanan. Tetapi janganlah kamu risau, karena di Madinah kamu akan berjumpa dengan (calon) suamimu.&#8217;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Benar, tak lama setelah itu terjadilah perang besar antara pasukan Islam dan pasukan imperium Persia. Prajurit Islam berhasil menaklukkan kerajaan besar ini. Sang raja[1] melarikan diri, sementara sebagian dari keluarga istana, termasuk puteri-puteri raja, tertangkap dan menjadi tawanan.  Mereka diboyong ke Madinah. Kedatangan puteri sang raja mengundang perhatian warga Madinah sehingga mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikannya. Saat itu, di dalam masjid khalifah Umar menyakan dimana puteri-puteri raja itu. Orang-orang lantas menunjukkan mereka. Rupanya, satu diantara mereka nampak sangat anggun dan seperti bercahaya. Umar meminta puteri anggun supaya memperlihatkan wajahnya yang tersembunyi di balik cadar. Namun, puteri ketakutan dan menolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Diperlakukan seperti itu, Umar sebagai khalifah tersinggung berat sehingga dia memerintahkan supaya tawanan yang satu ini dihukum mati. Untungnya, diantara hadirin terdapat Imam Ali bin Abi Thalib as. Sepupu Rasul ini bangkit menentang perintah eksekusi itu. &#8220;Dosa apa puteri sehingga kamu akan mengeksekusinya?&#8221;  Kilah Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Orang ajam (non Arab) ini telah menghinaku.&#8221; Jawab Umar.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as berkata: &#8220;Dia membenci kakeknya, Khusru, dan dia tidaklah seperti para pengeran sehingga kamu pantas memperlakukannya demikian. Bebaskanlah puteri-puteri ini agar mereka bisa mendapatkan jodohnya diantara para pemuda kita.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ide Imam Ali ini kemudian dipenuhi sehingga didatangkanlah para pemuda Muslim Madinah di aula masjid. Imam Ali as meminta kepada puteri-puteri bangsawan itu untuk bangkit dan memilih jodoh yang dikehendakinya diantara para pemuda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab AlKharaij Arrawandi dikisahkan bahwa saat itu puteri raja Persia yang paling anggun itu bangkit dan menatap satu persatu barisan pemuda yang menyatakan siap untuk menikah dengan puteri-puteri raja itu. Sampai pada giliran pemuda Husain bin Ali as, tatapan mata gadis bernama Jahan Syah itu terhenti dan tak berpijak ke arah lain. Setelah merasa yakin dengan pemuda putera Azzahra as itu, dia berkata: “Jika aku memang diberi pilihan, maka aku akan memilih pemuda ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dipilih gadis itu, Imam Husain as yang saat itu berusia 18 tahun memintanya supaya nama Jahan Syah diganti dengan nama Syahrbanu.[2] Imam Ali as kemudian meminta Imam Husain supaya segera membawa menantunya itu pulang. Beliau juga memberitahu Imam Husain bahwa perkawinan ini akan segera dianugerahi dengan kelahiran seorang putera yang sangat agung dan mulia. Putera itu tak lain adalah Ali Zainal Abidin Assajjad as. Putera yang berusia 23 tahun saat ayahandanya dibantai di padang Karbala pada hari Asyura, dan dia sendiri dalam keadaan sakit parah dan ditangisi oleh ibundanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang detik-detik perpisahan dengan suaminya, Imam Husain as, Sahr Banu bersimpuh dengan beliau. “Wahai putera Rasul.”  Ucap Shar Banu. “Demi ibundamu Fatimah Azzahra, pikirkanlah nasibku nanti, karena di sini aku akulah orang yang paling asing. Selama ini aku bernaung di bawahmu dan dengan ini aku menjadi mulia. Namun, katakanlah apa yang aku lakukan nanti setelah kepergianmu? Aku bukanlah orang Arab (‘ajam), dan engkau sendiri tahu besarnya permusuhan antara Arab dan ‘ajam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berlinang air mata, Imam Husain as menjawab: “Janganlah cemas, sebab Allah yang telah mengantarkanmu dari negeri ajam ke negeri Arab mampu mengembalikanmu ke negerimu lagi. Nantikanlah nanti sepeninggalku; Dzuljanah akan datang ke perkemahan. Naikilah Dzuljanah dan pergilah dari sini, dan ketahuilah pasukan musuh tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadapmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa ketika Dzuljanah kembali dalam keadaan tak bertuan, Shar Banu ikut menyambutnya dengan ratap tangis hingga kemudian mengendarainya untuk pergi ke negeri asalknya. Sebelum pergi, beliau sempat ditegur oleh Hazrat Zainab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai menantu Fatimah Azzahra, gerangan yang sedang engkau pikirkan? Adakah engkau akan menambah berat beban kesedihan kami dengan kepergianmu?” Ujar Hazrat Zainab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku harus pergi sesuai perintah suamiku, Husain.” Jawab Sahr Banu kepada adik iparnya itu</p>
<p style="text-align: justify;">Kepergian Hazrat Sahr Banu menuju negeri Persia itu dilepas dengan derai tangis orang-orang yang ditinggalkannya. Saat Dzuljanah sudah siap mengantarkan perjalanan jauh itu, Assajjad berkata lirih kepada ibundanya:</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibunda, bersabarlah hingga aku ucapkan salam perpisahan denganmu.”[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Assajad berusaha bangkit, namun tenaganya yang tersisa tak mendukungnya untuk berbuat itu sehingga sang ibu mendekati sendiri anaknya. Sambil memeluknya erat-erat beliau berucap: “Aku harus pergi dari sini sesuai perintah ayahmu. Aku telah menitipkanmu kepada bibimu, Zainab, karena aku tahu dia lebih penyayang daripada aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibunda Assajjad akhirnya pergi dibawa oleh Dzuljanah. Bebetapa orang pasukan musuh sempat melihat bayangannya dari kejauhan saat beliau bergerak pergi seorang diri. Mereka berusaha mengejarnya, namun mereka terpaksa kembali lagi setelah kecepatan kuda Dzuljanah tak terkejar oleh kuda-kuda pasukan musuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan, Hazrat Sahr Banu sempat berpapasan dengan kafilag yang sedang bergerak menuju Kufah. Orang-orang kafilah berhenti saat menyaksikan seorang wanita bercadar sendirian mengendarai kuda yang penuh luka. Seorang lelaki yang mengetuai kafilah mencegat beliau dan bertanya: “Hai siapa kamu? Mengapa kamu menempuh perjalanan seorang diri di tengah sahara?”</p>
<p style="text-align: justify;">Suara lelaki itu dikenal oleh Sahr Banu. Pria itu ternyata adik beliau dan setelah saling menyadari, beliau balik bertanya: “Adikku, hendak kemanakah kamu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu menjawab: “Aku hendak menemui suamimu. Karena dia telah menuliskan surat kepadaku dan menyatakan bahwa beliau akan berperang dengan sekelompok musuh, dan sekarang aku datang bersama teman-temanku untuk membantunya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sahr Banu menjawab: “Tak usah kamu pergi. Kembalilah karena Husain sudah terbunuh dalam keadaan kehausan, dan inilah kudanya sekarang aku kendarai.”</p>
<p style="text-align: justify;">Berita ini mengejutkan sang adik yang segera jatuh tersimpuh ke pasir. Sahr Banu kemudian melanjutkan perjalanan ke arah tujuan sebagaimana mereka juga melanjutkan perjalanan ke arah tujuan mereka, setidaknya untuk menyaksikan bagaimana nasib keluarga Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan dan perlindungan dari Allah, janda Imam Husain as berdarah bangsawan Persia itu akhirnya tiba di bumi leluhurnya. Beliau menetap di kota Rey dan meninggal di sana. Jasad suci beliau dikebumikan di sebuah gunung di pinggiran kota Teheran. Lokasi makamnya selalu disesaki para peziarah hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Raja itu adalah Yazdgard III. Disebutkan bahwa saat terjadi perang Qadisiah yang menewaskan lima puluh ribu pasukan Persia, Raja Yazdgard terpaksa melarikan diri. Sebelum melarikan diri dia sempat berdiri di beranda istana sambil berseru: &#8220;Selamat tinggal beranda! Ketahuilah bahwa aku akan kembali kepadamu, atau kalau bukan aku, maka yang kembali adalah seorang pria dari keturunanku.&#8221; Sulaiman Addailami pernah bertanya kepada Imam Jakfar Asshadiq as tentang  siapa yang dimaksud oleh Raja Persia itu.  Imam Asshadiq as menjawab: &#8220;Dia adalah Al-Qaim, yaitu salah seorang puteraku dari generasi keenam, dan dia juga termasuk keturunan Yazdgard III. (Kitab Malahim hal.149 menukil dari Ibnu Shar Asyub dalam bab Imamah; Setara-e Dirakhsyan juz 1 hal. 230)</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Arba’in Husaini hal.130</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Jami’ Annurain hal.228</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-hijrahnya-hazrat-sahr-banu-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Dzuljanah Menjadi Tempat Ratapan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-dzuljanah-menjadi-tempat-ratapan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-dzuljanah-menjadi-tempat-ratapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Dzul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Dzuljanah sudah bebas dari gangguan, secara ajaib kuda tunggangan manusia-manusia mulia itu berucap: “Betapa zalimnya umat yang telah membunuh putera nabisnya sendiri.”[1]
Dzuljanah kemudian kembali ke perkemahan sambil meringkik-ringkik nyaring sehingga kaum wanita Imam Husain as yang mengenal suara itu keluar dari dalam tenda dengan penuh rasa cemas dan tercekam ketakutan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-303" title="Karbala-16" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-16-300x203.jpg" alt="Karbala-16" width="300" height="203" />Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Dzuljanah sudah bebas dari gangguan, secara ajaib kuda tunggangan manusia-manusia mulia itu berucap: “Betapa zalimnya umat yang telah membunuh putera nabisnya sendiri.”[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Dzuljanah kemudian kembali ke perkemahan sambil meringkik-ringkik nyaring sehingga kaum wanita Imam Husain as yang mengenal suara itu keluar dari dalam tenda dengan penuh rasa cemas dan tercekam ketakutan. Di tengah mereka Hazrat Zainab AlKubra as berteriak histeris:</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh saudaraku! Oh junjunganku! Oh Ahlul Bait! Semoga langit ini runtuh menimpa bumi! Semoga gunung-gunung ini dihamburkan dan menimpa pedang sahara.”[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara mereka juga terdapat Ummu Kaltsum. Saat menyaksikan di atas punggung Dzuljanah sudah tidak ada ayahnya lagi, Ummu Kaltsum juga mendadak histeris.</p>
<p style="text-align: justify;">“Demi Allah, AlHusain telah terbunuh!” Jerit Ummu Kaltsum sambil menepuk-nepuk kepala dan merobek kain cadarnya. Sakinah yang tak kalah histerisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh kakekku! Oh Muhammad! Betapa terasingnya AlHusain!”[3] Ratap Sakinah. Sambil beratap dan tersedu-sedu, satu diantara mereka ada yang berucap kepada dzuljanah: “Mengapa engkau lepaskan AlHusain ke tengah-tengah kerumunan musuh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sakinah juga meratap: &#8220;Apa yang terjadi dengan ayahku? Dimana sang pemberi syafaat di hari kiamat itu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayahku tadi pergi dalam keadaan tercekik dahaga.&#8221;[4]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah mereka telah memberi ayahku air, ataukah dia telah gugur dengan bibir yang kering kehausan?&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-304" title="Karbala-14" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-14-300x206.jpg" alt="Karbala-14" width="300" height="206" />Namun demikian, Dzuljanah tetaplah seekor kuda yang tak mampu berbuat apa-apa di depan ratapan puteri-puteri Rasul ini. Disebutkan dalam riwayat bahwa hewan yang ikut membela para keturunan suci Rasul di depan manusia-manusia srigala itu ikut tertimpa stres hingga akhirnya roboh dan mati. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Dzuljanah telah menceburkan diri ke sungai ElFrat lalu hilang entah kemana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Maqtal Khawarizmi juz 2 hal.37</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Alluhuf hal.110</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Sugand Nameh hal. 270-271</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Alwaqayi&#8217; walhawadits juz hal.237</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Sugand Nameh hal.372</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-dzuljanah-menjadi-tempat-ratapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesakralan Syahadah Imam Husain as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kesakralan-syahadah-imam-husain-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kesakralan-syahadah-imam-husain-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Musa AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa tragedi pembantaian keluarga Rasul pimpinan Imam Husain ini  segera disusul dengan berbagai tanda alam dan lain yang menunjukkan kesakaralan syahadah beliau. Diantaranya disebutkan bahwa kematian suci cucu Rasul di tangan manusia-manusia sadis itu segera disusul dengan bertiupnya angin kencang, angkasa tiba-tiba gelap gulita, sehingga orang-orang tak dapat melihat apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-300" title="ashuraaaaa" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ashuraaaaa1-300x225.jpg" alt="ashuraaaaa" width="300" height="225" />Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa tragedi pembantaian keluarga Rasul pimpinan Imam Husain ini  segera disusul dengan berbagai tanda alam dan lain yang menunjukkan kesakaralan syahadah beliau. Diantaranya disebutkan bahwa kematian suci cucu Rasul di tangan manusia-manusia sadis itu segera disusul dengan bertiupnya angin kencang, angkasa tiba-tiba gelap gulita, sehingga orang-orang tak dapat melihat apa yang ada di depannya.[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu Zari’ Al-Asadi, seorang petani yang bercocok tanam di tepian sungai ‘Alqamah dalam kisahnya tentang Imam Husain mengatakan: Pukulan tongkat Nabi Musa as ke batu dapat memancarkan mata airm tetapi musibah Imam Husain telah memancarkan darah dari bebatuan, sebagaimana darah pernah mengucur  dari runtuhan batu-batu di Baitul Maqdis.[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan pula bahwa dari awal malam ke 11 Muharram hingga terbitnya fajar semua bebatuan dan bongkahan-bongkahan tanah mengucurkan darah dibawahnya.[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Periwayat menceritakan: “Hazrat Musa adalah pemilik Yad AlBaidha’ dan sering memancarkan cahaya ketika dia memperlihatkan suatu mukjizat. Namun, dari Imam Husain yang memancarkan cahaya cemerlang adalah dahi dan leher beliau.[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk Nabi Musa as Allah telah membelahkan laut agar Bani Israel dapat menyeberanginya. Namun, untuk Imam Husain as seluruh samudera bergemuruh hebat dan penghunipun meratap, sementara para bidadari juga turun dari alam Firdaus dan mendatangi samudera sambil berucap: “Hai para penghuni lautan, berdukalah atas terbunuhnya putera Rasulullah.” [5]</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Musa as telah menggali liang lahadnya dengan tangannya sendiri. Namun liang lahad Imam Husain as digali oleh Rasulullah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada hari 10 Muharram (Asyura), Ummu Salamah bermimpi menyaksikan Rasulullah bermandi debu dan berucap: “Orang-orang telah membantai dan mengugurkan puteraku. Aku melihatnya jasadnya dan aku sedang sibuk menggalikan lubang kubur untuk Husain dan para sahabatnya.”[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan pula bahwa tujuh hari sepeninggal Imam Husain as langit berwarna merah dari ujung ke ujung. Bahkan kendati tragedi Karbala sudah berlalu 14 abad, hingga kini masih terdapat keajaibaban-keajaiban yang berkaitan dengannya, khususnya pada hari Asyura. Satu diantara keajaiban itu ialah mengalirnya cairan seperti darah dari sebuah pohon di Zarabad, sebuah daerah di Qazwin. Pohon yang tumbuh di dekat benteng Alamut itu setiap tahun pada hari Asyura dikunjungi oleh ribuan orang untuk menyaksikan mengalirnya cairan seperti darah tersebut dari batang pohon yang disebut dengan pohon canar (plane tree) tersebut.[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam doa ziarah Imam AlMahdi as untuk Imam Husain as disebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaiamana aku dapat membayangkan adegan nyata dimana kudamu kembali ke tendamu sambil merundukkan kepala seperti menangis, dan kaum wanita (mu mendapatinya dalam keadaan mengenaskan dan pelananya terbalik sehingga mereka keluar tenda, rambut mereka terurai, wajah mereka dibanjiri air mata, dan tampak jelas, dan ratap tangis mereka terdengar keras, setelah mereka kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Mereka lantas bergegas menuju tempat pembantaianmu di saat Syimir menduduki dadamu sambil menghunus pedangnya di atas lehermu.”[8]</p>
<p style="text-align: justify;">“(Wahai kakekku), maka aku akan sungguh-sungguh meratapi dirimu setiap dan sore. Bukannya dengan air mata, tetapi dengan darahlah aku menangisinya dan meratapi bencana besar yang telah menimpamu hingga aku meninggal dunia nanti dalam keadaan menanggung beban duka cita.”[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam AlMahdi as juga bertutur kata untuk Imam Husain as:</p>
<p style="text-align: justify;">“Syimir telah duduk diatas dadamu sambil menghunus pedang pedang diatas lehermu dan menarik jenggotmu, lalu menyembelihmu dengan pedangnya. Sejak itu, panca inderamu redup, nafasmu reda, dan kepalamu ditancapkan di atas tombak.”[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ziarahnya untuk kakeknya, Imam Husain as, Imam Al-Mahdi as juga berkata: “Seandainyapun masa ini diakhirkan dan takdirkan telah menghalangiku untuk menolongmu, maka aku akan tetap sunguh-sungguh meratapimu dan menangisimu dengan darah, bukan bukan dengan air mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun salam beliau untuk Imam Husain as ialah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">“Salam atas putera Nabi Putera Terakhir, salam atas putera pemuka para washi, salam atas putera Fatimah  Azzahra, salam atas putera Khatijah Al-Kubra, salam atas putera Sidaratul Muntaha, salam atas putera surga Al-Ma’wa, salam atas putera Zamzam dan Safa, salam atas dia yang telah bermlumuran darah bercampur debu, salam atas dia yang kemahnya telah dihujani anak panah, salam atas orang kelima penghuni Al-Kisa’, salam atas dia,  orang yang paling terasing, salam atas pemuka para syuhada, salam atas manusia yang ditangisi oleh para malaikat di langit, salam atas manusia yang selalu didatangi oleh orang-orang yang menderita. Salam atas bibir-bibir yang kekeringan, salam atas jasad-jasad yang terlucuti, salam atas kepala-kepala yang terpenggal, salam atas wanita-wanita yang tertawan, salam atas hujjah Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas jasad yang bermandikan darah luka-luka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas jasad yang urat-urat jantungnya diputuskan oleh anak panah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas jasad yang tersalib.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas deretan gigi yang ditumbuk oleh tongkat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas bibir yang kering kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas kepala-kepala yang tertancap di ujung tombak dan pertontonkan di semua tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa setelah Imam Husain as terbunuh, Umar Bin Sa’ad di tengah pasukannya berseru: “Siapa yang siap melumat jasad Husain dengan injakan kaki kuda?!”[11] Dari sekian ribu pasukan yang ikut serta dalam pembantaian Imam Husain itu tak ada yang bersedia berbuat sesuatu sebiadab itu terhadap cucu rasul tersebut kecuali sepuluh orang. Mereka yang konon anak zina itu bergantian menghentak-hentakkan kudanya diatas tubuh Imam hingga tulang belulang jasad beliau yang suci dan mulia remuk. [12]</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka melakukannya sambil terkekeh-kekeh dan penuh kebanggaan seakan dengan perbuatan seperti itu mereka dapat menjatuhkan keagungan Imam Husain. Padahal, perlawanan pantang mundur beliau dan para pengikutnya di depan kezaliman dan pendurjana telah menjadi teladan  bagi umat manusia dan karena itu jutaan manusia di muka bumi telah menjadi pengikut dan atau setidaknya pengagum beliau. Sebaliknya, Muawiah dan Yazid tidak menyisakan bekas apapun kecuali ketercelaan, keterkutukan, dan laknat yang abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, selamat untuk Imam Husain as atas perjuangan dan jihadnya di Karbala yang beliau mulai dengan seruan “Adakah sang penolong yang akan menolongku?!” Kini,  hamba-hamba beriman sedang menantikan kedatangan Imam AlMahdi as untuk kita penuhi seruan firman allah: “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian, dan Dia akan mengokohkan langkah-langkah kalian.”[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Sayidah Fatimah Azzahra as pernah berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Jika kalian hendak membantu puteraku, AlMahdi, maka jadikanlah jiwa kalian seperti jiwa seorang ibu yang telah melepaskan anak salihnya pergi jauh dan tidak apakah hari ini, besok, atau tahun depan akan pulang.”         Imam AlMahdi as sendiri berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pasti akan kembali kepada orang yang paling lemah diantara kalian, agar rahmat Allah yang abadi tercurah kepada kalian.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan datang agar hati yang luka dapat terobati.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pasti datang untuk membebaskan orang-orang yang terbelenggu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pasti akan datang untuk menegakkan agama Muhammad di dunia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa Imam Al-Mahdi as nanti, sedemikian damainya muka bumi ini sehingga kambingpun dapat hidup tentram berdamping dengan srigala. Anakp-anak kecil dapat ebrmain dengan ular dan kalajengking. Dunia saat itu tidak lagi menyisakan keburukan. Yang tinggal hanyalah kebaikan.  Bumi mempersembahkan segala kekayaannya, dan langitpun mencurahkan segala berkahnya. Harta dari perut bumi melimpah, permusuhan reda di hati setiap orang, pintu-pintu kebahagiaan dan keamanan terbuka lebar, seorang wanita dapat bepergian ke mana saja di malam hari seorang diri tanpa ada rasa takut. Wajauh bumi serba hijau dan rindang, dan siapaun tidak akan takut lagi kepada binatang-binatang liar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari itu, Sang Penyelamat manusia-manusia yang teraniaya itu akan menyeret ‘dua berhala Bani Quraish; ke tiang gantungan, dan lalu beliau akan membawakan kisah lagi tentang syahadah kakeknya, Imam Husain as, tentang penyembelihan anak-anak kecil keturunan Rasul saww, dan tentang semua penderitaan dan keteraniayaan Ahlul Bait suci Rasul dan para pengikutnya.[14]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam AlMahdi as akan tampil dan membalas darah datuknya setelah berada di alam kegaiban selama sekian lama. Saat itu dia akan tampil di Mekah diantara Rukn dan Maqam lalu mengumandangkan suara:</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai para penghuni dunia, akulah Imam AlQaim, akulah pedang yang akan melakukan pembalasan.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai para penghuni dunia, sesungguhnya kakekku Husain telah dibunuh dalam keadaan tercekik kehausan.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai para penghuni dunia, sesungguhnya (jasad) kakekku Husain telah mereka gerus dengan injakan kaki-kaki kuda.”</p>
<p style="text-align: justify;">Baginda Nabi Besar Muhammad saww tentang Imam AlMahdi as bersabda: “AlMahdi adalah satu-satunya penyelamat umat manusia kelak dimana kedatangannya akan membawa kedamaian universal.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saww juga bersabda: “Selamat atas kalian dengan kedatangan puteraku, AlMahdi, kelak, karena janji Allah pasti akan terpenuhi. Ketahuilah bahwa AlMahdi dari keluarga Muhammad masih dalam perjalanan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa ketika Imam Husain as menggapai puncak derajat syahadah, kuda beliau, Dzuljanah, melepoti kepala dan lehernya lalu menghentak-hentakkan kakinya ke tanah sambil meringkik keras hingga memantul ke segenap penjuru Karbala. Saat kuda perkasa itu dilihat oleh Umar bin Sa’ad, manusia ambisius berseru kepada komplotannya: “Kuda milik AlMustafa itu serahkan kepadaku.” Sesuai perintah ini, beberapa pasukan penunggang kuda segera memacu kudanya untuk mendekati Dzul janah. Namun, kuda yang sebelumnya ditunggangi oleh Abu Fadhl Abbas itu tinggal diam oleh manusia-manusia kejam yang telah membantai habis tuannya. Dzuljanah tiba-tiba mengamuk dan menerjang siapapun yang mencoba mendekatinya. Beberapa orang tewas diamuk oleh kuda perkasa itu, sampai akhirnya Umar bin Sa’ad meminta anak buahnya membiarkan kuda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Maqtal Khawarizmi hal.201</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Muntakhab AT-Tharihi juz 2 hal.61 – Biharul Anwar juz 45 hal.204-205</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Biharul Anwar juz 2 hal. 209</p>
<p style="text-align: justify;">[4] ibid juz 44 hal.194</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Ibid juz 44 hal.194</p>
<p style="text-align: justify;">[6] ibid juz 45 hal.221</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Idhoh Al-hujjah juz 2 hal.209</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Bihar Al-Anwar juz 101 hal.240</p>
<p style="text-align: justify;">[9] Ibid</p>
<p style="text-align: justify;">[10] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[11] Biharul Anwar juz 45 hal.29</p>
<p style="text-align: justify;">[12] Darighatunnajah hal.155</p>
<p style="text-align: justify;">[13] Q:47:7</p>
<p style="text-align: justify;">[14] Nawaib Adduhur juz 3 hal. 129</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kesakralan-syahadah-imam-husain-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Perjuangan Ksatria Karbala Seorang Diri</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perjuangan-ksatria-karbala-seorang-diri/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perjuangan-ksatria-karbala-seorang-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Syimir]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Sa'ad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana yang sudah disepakati, terjadilah duel satu lawan satu. Singkat cerita, Imam Husain as adalah pendekar yang tak tertandingi oleh musuh-musuhnya dalam pertarungan secara jantan satu lawan satu. Akibatnya, satu persatu lawan-lawan beliau dalam duel bergelimpangan menjadi korban hantaman pedang beliau. Umar bin Sa&#8217;ad pun was-was dan cemas saat melihat sudah banyak pasukannya yang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-294" title="Husein sendiri" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Husein-sendiri-300x213.jpg" alt="Husein sendiri" width="300" height="213" />Sebagaimana yang sudah disepakati, terjadilah duel satu lawan satu. Singkat cerita, Imam Husain as adalah pendekar yang tak tertandingi oleh musuh-musuhnya dalam pertarungan secara jantan satu lawan satu. Akibatnya, satu persatu lawan-lawan beliau dalam duel bergelimpangan menjadi korban hantaman pedang beliau. Umar bin Sa&#8217;ad pun was-was dan cemas saat melihat sudah banyak pasukannya yang tak bernyawa setelah berani menjawab tantangan duel Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kesalnya, Umar bin Sa&#8217;ad menggerutu: &#8220;Keparat, tak ada seorangpun yang mampu bertanding dengan Husain. Jika begini terus, tak akan ada satupun diantara pasukanku yang tersisa nanti.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lantas berteriak kepada pasukannya: &#8220;Tahukah kalian dengan siapakah kalian hendak bertarung?!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Sa&#8217;ad rupanya baru menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan bukan sembarang orang, termasuk untuk urusan. Dia adalah putera pendekar Islam legendaris, Imam Ali bin Abi Thalib as. Dia adalah putera ksatria yang dijuluki dengan Haidar Al-Karrar, Singa Yang Pantang Mundur. Dia adalah putera si pemilik pedang Dzulfikar yang telah banyak menghabisi benggolan-benggolan pendekar kaum kafir dan musyrik. Dia adalah putera yang mewarisi semua kehebatan ayahnya. Karenanya, tak mengherankan jika Imam Husain as tak tertandingi oleh siapapun dalam pertarungan secara ksatria. Oleh sebab itu, begitu beliau tidak bisa dirobohkan dengan cara-cara jantan, pasukan musuh akhirnya mengepung beliau yang sendirian dari segenap penjuru. Mereka sudah siap merenggut nyawa beliau dengan cara mengeroyok habis-habisan. Di saat yang lebih menegangkan itu, beliau tiba-tiba didatangi oleh sehelai surat bertinta emas yang melayang jatuh dari angkasa dan hinggap di atas pelana kuda beliau, Dzul Janah. Surat diraihnya dan tertera sebuah pernyataan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atasmu wahai hamba-Ku yang salih, Husain. Rahmat dan berkat Allah atasmu, wahai Husain. (Ketahuilah bahwa) Kami tidak mewajibkan keterbunuhanmu.&#8221;[1]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika engkau menghendaki kehidupan di dunia, maka kembalilah ke sarangmu, dan urusilah dunia hingga kaum itu binasa.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Surat itu dicium oleh Imam Husain as, dan melayangkan kembali ke angkasa bak burung merpati. Beliau kemudian berucap kepada Allah: &#8220;Ya Allah, aku sudah berjanji kepada-Mu untuk memberi syafaat umat kakekku. Lantas bagaimana mungkin aku akan mencabut kembali janji itu, dan Engkaupun juga sudah memberitahuku bahwa sesungguhnya untuk memberikan syafaat itu terdapat suatu derajat mulia yang tak dapat dicapai kecuali dengan syahadah&#8230;&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Perjanjian untuk menggelar pertarungan secara ksatria akhirnya benar-benar diabaikan oleh musuh. Umar bin Sa&#8217;ad memerintahkan seluruh pasukannya untuk ramai-ramai mengerungi dan membantai Imam Husain as sedapat mungkin. Maka, sang Imam pun mulai menjadi bulan-bulan menghadapi sekian banyak manusia-manusia buas itu. Tubuh Imam semakin lemas dalam melakukan perlawanan sehingga saat demi saat tubuh beliau mulai menuai luka dan kucuran darah. Jasad beliau mulai terkoyak-koyak oleh berbagai jenis senjata pedang, tombak, dan panah yang sudah tak sabar untuk menghabisi riwayat Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat-saat Imam dalam posisi yang nyaris tak berdaya itu, beliau melihat seseorang bernama Syimir bin Dzil Jausyan bersama anak buahnya mengendap-mengendap diantara tempat Imam Husain bertahan dan lokasi perkemahan beliau. Di situ beliau berteriak lantang:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Celakalah kalian, hai pengikut keluarga Abu Sufyan! Jika kalian memang sudah tak beragama, tidak takut kepada hari kebangkitan, maka berpesta poralah kalian dengan urusan duniawi kalian!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu bicara apa, hai putera Fatimah!&#8221; Sergah Syimir.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawab: &#8220;Yang berperang adalah aku dan kalian. Jangan kalian ganggu kaum wanita. Janganlah kalian berbuat sesuatu yang sangat melanggar kehormatanku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir menjawab: &#8220;Kami tidak akan melanggar kehormatan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia kejam ini lalu berteriak kepada pasukannya: &#8220;Celakalah kalian! Apa yang kalian pelototi?! Cepat habisi dia!&#8221; Teriakan ini segera disusul dengan keroyokan yang lebih sengit terhadap Imam Husain yang nampak sudah kewalahan itu. Dari sekian pedang yang berebut untuk menghabisi nyawa cucu Rasul dan putera Fatimah itu, satu pedang yang digenggam Soleh bin Wahab berhasil menghunjam keras paha beliau. Hantaman ini menjatuhkan beliau dari atas kuda. Pelipis kanan beliau menghempas pasir Karbala yang panas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau tetap bangkit berdiri dan melanjutkan perlawanan sekuat tenaga. Dalam keadaan seperti itu beliau masih sempat menjatuhkan beberapa pasukan. Saat spirit beliau bertambah beliau selalu mengucap kalimat:</p>
<h2 style="text-align: center;">?? ??? ?????? ??? ????? ????? ??????</h2>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga sempat bersumbar kepada musuh bahwa mati terbunuh lebih baik daripada harus hidup terpedaya oleh kehinaan dan ketercelaan. Terbunuhnya para pengikut beliau seiring dengan jerit tangis anak-anak kecil yang meratap kehausan sama sekali tak menciutkan nyali beliau untuk terus melawan dan pantang mundur. Ketabahan dan tawakkal di depan Allah adalah prinsip yang tak tergoyahkan. Saat itu kepada Tuhannya beliau berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku sabar atas garis yang telah Engkau tentukan, tiada Tuhan Yang Patut Disembah kecuali Engkau, wahai Pelindung orang-orang yang memohon perlindungan.&#8221;[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam doa ziarah untuk beliau disebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan para malaikatpun terkesima menyaksikan kesabaranmu.&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Hati musuh sama sekali sudah buta dan mengenal belas kasih. Dalam perlawanan sekuat tenaga itu, tubuh Imam Husain as terpaksa semakin bermandi darah saat tombak-tombak dan panah musuh ikut menggerogoti daya pertahanan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari arah sana Hazrat Zainab tak kuasa menahan diri menyaksikan kakaknya menjadi sasaran pembantaian seganas itu. Wanita agung menjerit-jerit mengadukan penderitaan kepada kakek, ayah, dan pamannya yang sudah bersemayam di alam keabadian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh Muhammad! Oh Ayah! Oh Ali! Oh Jakfar!&#8221; Ratap Zainab tersedu-sedu. &#8220;Alangkah baiknya seandainya langit ini runtuh menimpa bumi! Alangkah baiknya seandainya gunung-gunung ini berhamburan menimpa sahara.&#8221;[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Puteri Fatimah Azzahra as mencoba mendekati ajang pembantaian kakaknya. Di saat yang sama, manusia biadab Umar bin Sa&#8217;ad dan gerombolannya bergerak menuju perkemahan keluarga dan rombongan Imam Husain as. Di saat tubuh Imam roboh dan nafasnya sudah tersengal-sengal menanti ajal, gerombolan manusia liar itu mengobrak-abrik perkemahan anak keturunan Rasul tersebut. Mereka melakukan aksi pembakaran, merampasi harta benda, dan menangkapi dan menggiring kaum wanita dan anak-anak kecil sebagai tawanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hazrat Zainab yang masih terbayang nasib kakak sekaligus pemimpin sucinya itu berteriak kepada Umar bin Sa&#8217;ad: &#8220;Hai Umar, apakah Abu Abdillah terbunuh dan kamu menyaksikannya sendiri?!&#8221; Entah mengapa, kata-kata wanita pemberani ini tiba-tiba menggedor perasaan putera Sa&#8217;ad itu sehingga tak berani menjawabnya dengan bentakan. Bagai binatang pandir, dia tak berani menjawab atau menatap wajah Zainab. Dia memaling muka.[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Zainab berteriak lagi: &#8220;Adakah seorang Muslim diantara kalian?!&#8221; Tak seorangpun menjawabnya. Saat gerombolan itu dibungkamkan oleh kata-kata Hazrat Zainab, tubuh Imam Husain as yang masih bernafas tiba-tiba bangkit lalu menerjang beberapa pasukan yang ada di dekatnya sehingga mereka mundur. Dengan tubuh yang sudah tercabik-cabik dan sengalan nafas yang masih tersisa itu, beliau berteriak:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai umat yang paling bejat, kalian telah memberikan perlakuan yang terburuk kepada Muhammad dengan menganiaya anak keturanannya. Ketahuilah bahwa setelahku nanti kalian tidak akan mungkin takut (berdosa) lagi dalam membunuh seseorang. Sesudah membunuhku kalian pasti akan gampang sekali berbuat itu. Demi Allah, aku sangat mendambakan kemuliaan dari Allah dengan syahadah, lalu Dia akan menuntut balas darahku dari kalian tanpa kalian sadari.&#8221;[8]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-295" title="10Muharram-08" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/10Muharram-08-300x163.jpg" alt="10Muharram-08" width="300" height="163" />Setelah berusaha melakukan perlawanan sekian lama di depan pesta pembantaian itu, Imam Husain as mencoba menjauh dari pasukan lawan untuk mengatur nafas. Namun, tiba-tiba sebuah batu melayang dari arah musuh dan mengena kepala beliau. Darahpun mengucur deras lagi. Belum selesai beliau mengusap darahnya yang suci itu, dada beliau diterjang sebuah anak panah bermata tiga. Tertembus panah beracun itu, beliau berucap: &#8220;Bismillahi wa billahi wa ‘ala millati rasulillah.&#8221;Beliau menatap langit dan berdesah lagi:&#8221; Ilahi, sesunggungnya Engkau mengetahui mereka telah membunuh seseorang di muka bumi yang tak lain adalah putera Nabi.&#8221;[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat beliau semakin kehabisan tenaga itu, beliau mencabut anak panah itu dari dadanya. Darah kembali menggenang. Sebagian beliau hamburkan ke atas dan sebagian yang lain beliau usapkan ke wajahnya sambil berucap: &#8220;Beginilah aku jadinya hingga aku bertemu dengan kakekku Rasulllah dalam keadaan berlumuran darah lalu aku adukan kepada beliau: fulan, fulan telah membunuhku.&#8221;[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Puas menatap pemandangan seperti ini, balatentara musuh sejenak menghentikan kebrutalannya. Mereka terkekeh-kekeh menyaksikan Imam Husain as berdoa:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Rabbi, aku bersabar atas ketetapan-Mu, tiada Tuhan selain-Mu, wahai Penolong orang-orang yang memohon pertolongan. Tiada Tuhan Pemelihara kami selain-Mu, tiada Tuhan Yang Patut disembah kecuali Engkau. Aku bersabar atas ketentuan (humum)-Mu, wahai Pelindung orang-orang yang tak memiliki perlindungan, wahai Zat Yang Maha Kekal dan Tak Berpenghabisan, wahai Yang Menghidupkan orang yang sudah mati, wahai Zat Yang Menghakimi setiap jiwa sesuai perbuatannya, hakimilah antara aku dan mereka, sesungguhnya Engkau adalah yang terbaik diantara para hakim.&#8221;[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu sempat terjadi keheningan beberapa saat. Untuk sementara waktu masih belum ada seorangpun yang berani tampil sebagai pembunuh utama cucu Rasul itu di depan Allah SWT kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa saat itu pula tiba-tiba Imam Husain as didatangi bayangan ajab wajah kakek dan ayahnya. Wajah-wajah suci itu bertutur kepada beliau: &#8220;Cepatlah kemari, sesungguhnya kami sangat merindukanmu di surga.&#8221;[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Keheningan itu ternyata tak berlangsung lama. Umar bin Sa&#8217;ad kembali buas dan memerintahkan anak buahnya untuk segera menghabisi Imam Husain. Maka tampillah Shabats sebagai orang pertama yang berani mendaratkan mata pedangnya ke kepala Imam Husain as. Namun, saat mata Imam menatap tajam wajah Shabats, tubuh pria kurang ajar ini tiba-tiba gemetaran lalu menggigil keras sehingga pedang yang ditangannya terhempas ke tanah. Dengan wajah pucat pria itu berkata kepada Umar bin Sa&#8217;ad: &#8220;Hai Putera Sa&#8217;ad, kamu tidak mau membunuh sendiri Husain agar nanti akulah yang akan dibalas. Tidak. Aku tidak mau bertanggujawab atas darah Husain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syabats segera ditegur oleh seseorang bernama Sannan bin Anas. &#8220;Kenapa kamu tidak jadi membunuhnya?!&#8221; Tanya Samnan ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">Syabats menjawab: &#8220;Dia menatap wajahku, Sannan! Kedua matanya menyerupai mata Rasulullah. Sungguh, aku segan membunuh seseorang yang mirip dengan Rasul.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sannan dengan congkaknya berkata: &#8220;Berikan kepadaku pedangmu itu, karena akulah yang lebih patut untuk membunuhnya.&#8221; Begitu pedang itu pindah ke tangannya, Sannan segera menenggerkannya di atas kepala beliau. Imam yang sudah tak berdaya itu kembali menatap wajah orang yang berniat menghabisinya itu. Seperti yang dialami, Syabats, tubuh Sannan yang kotor itu tiba-tiba juga menggigil ketakutan setelah ditatap Imam dengan tajam. Sannan mengambil langkah mundur sambil berucap: &#8220;Aku berlindung kepada Tuhannya Husain dari pertemuan dengan-Nya dalam keadaan berlumuran darah Husain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kini tibalah giliran Syimir bin Dziljausan. Pria yang menutupi wajah dan hanya menyisakan celah untuk matanya ini menghampiri Sannan sambil mengumpat. &#8220;Semoga ibumu meratapi kematianmu, kenapa urung membunuhnya!?&#8221; Maki Syimir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sannan menjawab: &#8220;Tatapan matanya mengingatkanku pada keberanian ayahnya. Aku takut. Aku tak berani membunuhnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menyeringai Syimir berseru: &#8220;Berikan pedang itu kepadaku. Demi Allah, tak ada seorangpun yang lebih layak dariku untuk membunuh Husain. Akulah yang akan menghabisinya, walaupun dia mirip Al-Mustafa ataupun Al-Murtadha.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir berpaling ke arah pasukannya lalu membentak: &#8220;Hai, tunggu apa lagi?! Cepat bunuh dia!!&#8221; Tanpa basa-basi lagi, satu anak panah melesat ke arah Imam Husain dari Hissin bin Numair. Sejurus kemudian yang lain ikut ramai-ramai menghajar Imam Husain sehingga tak ada anggota tubuh suci cucu Rasul itu yang luput dari hantaman benda tajam, dan benda tumpul. Batu-batupun bahkan ikut meremukkan tubuh beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir bersumbar lagi: &#8220;Ha, ha, ha, tak ada orang yang lebih patut dariku untuk membunuh Husain&#8221; Dia bergerak mendekati Imam Husain yang terbaring di tanah lalu menduduki dada Imam Husain as yang masih bergerak turun turun naik. Imam mencoba membuka kedua kelompak matanya dan menatap wajah Syimir yang menyeringai di depan wajah beliau, namun tatapan beliau kali ini tak meluluhkan hati Syimir yang sudah sangat membatu. Bukannya ketakutan, dari mulut Syimir yang tertutup kain itu malah keluar kata-kata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku bukanlah seperti mereka yang mengurungkan niat untuk membunuhmu itu. Demi Allah, akulah yang akan menceraikan kepalamu dari jasadmu, walaupun aku tahu kamu adalah orang yang paling mulia karena kakek, ayah, dan ibumu itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai siapa kamu sehingga berani menduduki tubuh yang sering diciumi oleh Rasul ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku Syimir bin Dzil Jausyan!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah kamu tahu siapa aku?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku tahu persis. Ayahmu adalah Ali Al-Murtadha, ibumu Fatimah Azzahra, kakekmu Muhammad al-Mustafa, dan nenekmu Khadijah Al-Kubra.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Alangkah celakanya kamu. Kamu tahu siapa aku, tetapi mengapa akan membunuhku dengan cara seperti ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Supaya aku bisa mendapat imbalan besar dari Yazid bin Muawiah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu lebih menyukai imbalan dari Yazid daripada syafaat kakekku?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah, aku lebih menyukai imbalan Yazid.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Karena tidak ada pilihan lain bagimu kecuali membunuhku, maka berilah aku seteguk air.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh tidak! Itu tidak mungkin, kamu tidak mungkin bisa meneguknya sebelum kamu meneguk kematian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir kemudian menyingkap dan melepas kain penutup muka yang hanya menyisakan celah untuk kedua matanya yang juling itu. Maka, nampaklah seluruh wajah Syimir yang buruk, kasar, belang, dan ditumbuhi bulu-bulu keras itu. Mulutnya ditutup oleh penutup seperti penutup mulut anjing supaya tak menggigit. Melihat wajah Syimir, Imam Husain as segera berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apa yang dikatakan kakekmu itu?!&#8221; Tanya Syimir angkuh. &#8220;Kakekku pernah berkata kepada ayahku, Ali: ‘Sesungguhnya puteramu ini akan dibunuh oleh seseorang yang berkulit belang, bermata juling, bertutup mulut seperti anjing, dan berambut keras seperti bulu babi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kakekmu telah menyamakanku dengan anjing?! Demi Allah, aku memisahkan kepalamu dari lehermu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-296" title="10Muharram-09" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/10Muharram-09-300x163.jpg" alt="10Muharram-09" width="300" height="163" />Syimir mencabut pedang dari sarungnya dan tanpa membuang-buang waktu lagi, lelaki bengis mengayunkan pedangnya kuat-kuat ke leher cucu Rasul dan putera Fatimah Azzahra itu. Sekali tebas, kepala manusia mulia terlepas dari badannya. Terpisahnya kepala manusia suci itu disusul dengan suara takbir tiga kali dari liang mulut balatentara Umar bin Sa&#8217;ad yang busuk itu. Kepala yang dulu sering diciumi oleh Rasulullah SAWW itu ditancapkan ke ujung tombak. Dia antara mereka terdengar teriakan keras:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bergembiralah hai Amir! Inilah Syimir yang telah membunuh Husain!&#8221; Langitpun kelabu. Bumi meratap pilu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Anwar Assyahadah hal.52</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Dzari&#8217;at Annajah hal.145</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Biharul Anwar juz 98 hal.24</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Ibid juz 45 hal.54</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Lama&#8217;at AlHusain hal.75</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Ibid hal.358</p>
<p style="text-align: justify;">[9] Anwar Assyahadah hal.196</p>
<p style="text-align: justify;">[10] Biharul Anwar juz 45 hal.53</p>
<p style="text-align: justify;">[11] Maqtal AlHusain hal. 294-297</p>
<p style="text-align: justify;">[12] Anwar Assyahadah hal.190</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perjuangan-ksatria-karbala-seorang-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Perpisahan Terakhir</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perpisahan-terakhir/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perpisahan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali Zainal Abidin]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Sa'ad]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kaltsum]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Detik-detik terakhir kehidupan Imam Husain as telah semakin berdetak keras. Maka, kepada kaum wanita keluarga dan kerabatnya bintang ketiga dari untaian suci Imam Ahlul Bait as yang siap menyongsong kematian sakral itu berkata:
&#8220;Kenakanlah gaun duka cita kalian. Bersiaplah menanggung bencana dan ujian. Namun, ketahuilah bahwa Allah adalah Penjaga dan Pelindung kalian. Dia akan menyelamatkan kalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-290" title="09Muharram-2" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/09Muharram-2-300x163.jpg" alt="09Muharram-2" width="300" height="163" />Detik-detik terakhir kehidupan Imam Husain as telah semakin berdetak keras. Maka, kepada kaum wanita keluarga dan kerabatnya bintang ketiga dari untaian suci Imam Ahlul Bait as yang siap menyongsong kematian sakral itu berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenakanlah gaun duka cita kalian. Bersiaplah menanggung bencana dan ujian. Namun, ketahuilah bahwa Allah adalah Penjaga dan Pelindung kalian. Dia akan menyelamatkan kalian dari keburukan musuh, mendatangkan kebaikan dari persoalan yang kalian hadapi, mengazab musuh dengan berbagai macam siksaan, dan akan mengganti bencana kalian dengan berbagai macam kenikmatan dan kemuliaan. Maka janganlah kalian mengeluh dengan rintihan dan kata-kata yang dapat mengurangi keagungan kalian.&#8221; [1]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menatap wajah puteri-puterinya satu persatu sambil berkata: &#8220;Sakinah, Fatimah, Zainab, Ummu Kaltsum, salamku atas kalian. Inilah akhir pertemuan kita, dan akan segera tiba saatnya kalian dirundung nestapa.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Wajah Imam bersimbah air mata sehingga Hazrat Zainab memberanikan diri untuk bertanya: &#8220;Mengapa engkau menangis?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana aku akan dapat meredam tangis, sedangkan sebentar lagi kalian akan digiring oleh musuh sebagai tawanan?!&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Sakinah juga bertanya: &#8220;Ayahku, apakah engkau akan menyerah kepada kematian?&#8221; [4]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana tidak, sedangkan aku sudah tidak mendapati orang yang akan menolongku?!&#8221; Jawab Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sakinah berkata lagi: &#8220;Kalau begitu, lebih baik pulangkan kami ke tanah suci kakek.&#8221; [5]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain menjawab: &#8220;Mana mungkin aku bisa memulangkan kalian? Andaikan mereka mau melepaskan diriku, tidak mungkin aku akan menjerumuskan diriku kepada kebinasaan..&#8221;Dzariayat Annajah hal.138[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Sejurus kemudian Sang Imam bergerak untuk menjejakkan kakinya seorang diri menuju gerombolan musuh yang sudah haus akan darah beliau itu. Namun, gerakannya tertahan lagi oleh sisa-sisa jerit tangis anak-anak yang menahan dahaga. &#8220;Tak usah kalian menangis, demi kalian jiwaku akan aku korbankan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada adiknya, Hazrat Zainab as, beliau berpesan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku titipkan anak-anak dan kaum wanita ini kepadamu. Jadikanlah kamu sebagai ibu mereka sepeninggalku, dan tak perlu engkau mengurai-uraikan rambutmu (sebagai luapan dukacita) atas kepergianku. Apabila anak-anak yatimku merindukan ayahnya, biarlah putera Ali yang akan tampil sebagai ayah mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suara lirih, beliau akhirnya mengucapkan salam perpisahan: &#8220;Alwidaa&#8217;, alwidaa&#8217;, alfiraaq, alfiraaq.&#8221;[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Putera Ali bin Abi Thalib as itu kemudian mengendarai Dzul Janah, kuda yang sebelum ditunggangi oleh Abul adhl Abbas as. Anak-anak kecil dan kaum wanita tetap tak kuasa menahan ratapan duka lara. Gerakan Imam diiringi raung tangis mereka. Sebagian tersimpuh sambil memeluk kaki Dzul Janah. &#8220;Ayah! Ayah!&#8221; Panggil puteri beliau yang masih berusia tiga tahun. &#8220;Aku haus, aku haus! Mau kemana engkau ayah? Lihatlah aku, ayah. Aku sedang kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hati Sang Imam kembali menjerit. Imam sempat tersedu menahan tangis, tetapi kemudian tetap menarik kendali kudanya menuju laskar iblis kerajaan Bani Umayyah itu. Di situ beliau mencoba untuk mengajukan permohonan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai putera Sa&#8217;ad!&#8221; Seru beliau. &#8220;Aku menginginkan darimu satu diantara tiga pilihan. Pertama, kamu bebaskan aku untuk kembali kembali ke tanah suci kakekku dan menetap di sana.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu tidak mungkin!&#8221; Sergah Ibnu Sa&#8217;ad dengan raut muka yang angkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kedua,&#8221; Lanjut Imam. &#8220;Berilah kami air, karena keluargaku sedang tercekik dahaga.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini juga tidak bisa!&#8221; Teriak panglima pasukan Yazid dari Kufah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata lagi: &#8220;Kalau begitu, kalian tahu aku disini hanya seorang diri. Karenanya, sekarang aku minta satu diantara kalian maju berduel denganku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Sa&#8217;ad menjawab: &#8220;Ini pekerjaan gampang. Saya terima permintaanmu untuk memulai duel.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Jala&#8217; Al&#8217;Uyun hal.213</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Tazkiah Assyahadah hal.307</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Qiyam-e Salare Syahidan hal.214</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Biharul Anwar juz 45 hal.47</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Dzariat Annajaah hal.138</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Tazkiah Assyuhada hal.307</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perpisahan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Hujjah Terakhir Imam Husain as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-hujjah-terakhir-imam-husain-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-hujjah-terakhir-imam-husain-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 16:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali Zaenal Abidin AS]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan:
&#8220;Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?&#8221;
&#8220;Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?&#8221;
&#8220;Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-286" title="Karbala-19" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-191-300x193.jpg" alt="Karbala-19" width="300" height="193" />Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?&#8221;[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau berteriak lagi:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali Zainal Abidin Assajjad, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: &#8220;Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.&#8221; Dengan tubuhnya yang lemas Ali Assajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk tubuhnya yang nyaris tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba beranjak menuju gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarnya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. &#8220;Biarkan aku yang akan menolongnya. &#8221; Pinta Assajjad.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada para pengikut kita dan katakan kepada mereka: ayahku berkata; &#8216;Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salam atasmu, wahai Abu Abdillah AlHusain. Salam kami, para pengikutmu, atas engkau yang telah menumpah darah sucimu di jalan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu persatu. Beliau panggil satu persatu anak-anak beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. &#8220;Hai para pelipur hatiku sekalian,&#8221; Tutur Imam Husain as penuh harap, &#8220;Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhiratlah tempat pesinggahan yang abadi.&#8221; Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah) kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as antara lain berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan (kepadamu) sepulangmu dari Karbala.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Imam lalu mendekati adiknya, Zainab AlKubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil berucap: &#8220;Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.&#8221; Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: &#8220;Ya Allah, hanya inilah yang tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan ddijalan-Mu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil berseru:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh biadab, tak seorangpun diantara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati srigala bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat. Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian, lengkaplah penderitaan Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: &#8220;Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya yang sedang sakit, Assajjad as, beliau bertutur:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur seorang diri, maka ratapilah dia.&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Qiyam Salar-e Syahidaan hal.225</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Anwar Assyahadah hal.165</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ma&#8217;aali Asshibthain juz 2 hal.22-23</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-hujjah-terakhir-imam-husain-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
