<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#124; Syi&#039;ah Indonesia &#124; Syiah Indonesia &#124; Syi&#039;ah &#124; Syiah &#124; Syi&#039;ah 12 Imam &#124; Syi&#039;ah Imamiyah Itsna Asyar &#124; Ahlulbait Indonesia &#124; Ahlulbayt Indonesia &#124; Video Ceramah &#124; Video doa &#124; Audio Ceramah &#124; Audio Do&#039;a &#124; Artikel Islam &#187; Perspektif</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/perspektif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 03:24:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.2</generator>
		<item>
		<title>SIAPA AHLUL BAYT DALAM AYAT 33 SURAT AL-AHZAB??</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/siapa-ahlul-bayt-dalam-ayat-33-surat-al-ahzab/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/siapa-ahlul-bayt-dalam-ayat-33-surat-al-ahzab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 10:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bayt AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan penafsiran terhadap Al-Qur’an nampaknya menjadi sebuah keniscayaan di zaman ini. Antara mufassir yang satu dengan mufassir yang lain, sering kali terjadi perbedaan penafsiran atas suatu ayat Al-Qur’an tertentu. Termasuk perbedaan penafsiran terhadap surat Al-Ahzab ayat 33 tentang siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/AHL_KISA.GIF"><img class="alignleft size-medium wp-image-73" title="AHL_KISA" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/AHL_KISA-300x300.GIF" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan penafsiran terhadap Al-Qur’an nampaknya menjadi sebuah keniscayaan di zaman ini. Antara mufassir yang satu dengan mufassir yang lain, sering kali terjadi perbedaan penafsiran atas suatu ayat Al-Qur’an tertentu. Termasuk perbedaan penafsiran terhadap surat Al-Ahzab ayat 33 tentang siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً</strong></p>
<p style="text-align: justify;">dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab ayat 33)</p>
<p style="text-align: justify;">Masing-masing orang menafsirkannya dengan cara pandang yang berbeda dan dengan metode yang berbeda. Perbedaan cara pandang dan metode yang digunakan itu biasanya menghasilkan kesimpulan yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun beberapa metode penafsirannya ialah tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits, tafsir ayat dengan asbabun nuzul, tafsir ayat dengan ra’yu, dll.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada seorang kawan saya yang memiliki gaya diskusi yang sangat aneh, menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut dengan metode tafsir ayat dengan ayat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa saya katakan gaya diskusinya aneh? Karena saat dia berdiskusi dan kehabisan argumen, sering kali dia menyerang pribadi lawan diskusinya. Tentu segala cara pun ia tempuh untuk menyerang pribadi lawan diskusinya. Biasanya sih banyak orang yang tak tahan berdiskusi dengan dia. Bukan persoalan kalah argumen, tetapi karena tak tahan dirinya dijelek-jelekin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke pendapat kawan saya diatas. Dia berpendapat bahwa kata Ahlulbayt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut berkenaan dengan istri-istri Nabi saja. Pendapat dia ini berdasarkan ayat Al-Qur’an yang lain yang juga berbicara tentang Ahlulbayt, dan kata ahlulbayt disitu berbicara tentang perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ambil contoh dalam surat Hud ayat 72-73, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخاً إِنَّ هَـذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>قَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kata Ahlulbayt dalam ayat diatas, menurutnya, berbicara soal istri dari Ibrahim.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula dalam surat Al-Qashash ayat 12:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ</strong></p>
<p style="text-align: justify;">dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah ia hadapkan surat Al-Ahzab ayat 33 dengan kedua ayat diatas, kemudian dia mengambil sebuah kesimpulan bahwa Ahlulbayt yang terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut ditujukan ke perempuan dalam hal ini ialah istri-istri Nabi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah Tanggapan</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tergerak untuk sekedar menanggapi pendapat kawan saya tadi. Semoga tanggapan ini tidak dimaknai sebagai sikap merasa diri paling benar sendiri. Apa yang saya lakukan ini hanyalah sebuah usaha untuk memahami dan memaknai ayat-ayat Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;">Metode yang digunakan oleh beliau tidaklah salah. Tetapi, menurut saya, proses penafsirannya yang masih cacat. Ada hal yang sama sekali tidak ia singgung, salah satunya ialah persoalan penggunaan kata ganti.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita simak Surat Al-Ahzab tersebut dari ayat 30-34.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai dari Surat-Ahzab ayat 30-34 memang Allah berbicara soal istri-istri Nabi. Tetapi jika kita jeli, dalam surat Al-Ahzab ayat 33 itu sebetulnya terdiri dari dua kalimat:</p>
<p style="text-align: justify;">1. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kalimat yang pertama, Allah berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak perempuan.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ</strong></p>
<p style="text-align: justify;">wa qarna fii buyutikunna. Dan hendaknya kamu (perempuan) tetap dirumahmu (perempuan).</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi pada kalimat yang kedua, Allah berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak laki-laki perempuan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرا</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Antara kalimat pertama dan kedua, terdapat perbedaan penggunakan kata ganti. Kalimat pertama menggunakan kata ganti “kunna” sedangkan kalimat kedua menggunakan kata ganti “kum”.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita hadapkan ini pada pendapat kawan saya diatas bahwa surat Al-Ahzab ayat 33 itu turun kepada perempuan, maka tidak sepenuhnya benar. Karena dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut ada kalimat yang menggunakan kata ganti laki-laki perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">JADI ANGGAPAN BAHWA SURAT AL-AHZAB AYAT 33 YANG BERBICARA TENTANG AHLULBAYT ITU TURUN KEPADA PEREMPUAN ATAU ISTRI-ISTRI NABI, MAKA SUDAH DAPAT DIPASTIKAN ITU MENGADA-NGADA…ALIAS NGAWUR…</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menggunakan pendekatan bahasa terlebih dahulu untuk menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut. Selain itu, saya juga menggunakan metode lain untuk mengetahuai siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, ayat “Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.” (QS Al Ahzab 33) adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya.  Apa alasannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menggunakan metode penafsiran ayat dengan asbabun nuzul yang itu ada dalam kitab-kitab hadits standar Ahlulsunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani</p>
<p style="text-align: right;"><strong>عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jelaslah sudah bahwa kata Ahlulbayt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 itu merujuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Anggapan bahwa Ahlulbayt dalam ayat tersebut itu turun kepada perempuan atau istri-istri Nabi, maka itu adalah anggapan yang teramat sangat ngawurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah menjauhkan diri kita dari berbagai macam kengawuran seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: al-shia.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/siapa-ahlul-bayt-dalam-ayat-33-surat-al-ahzab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ali bin Abi Thalib di Mata Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/25/ali-bin-abi-thalib-di-mata-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/25/ali-bin-abi-thalib-di-mata-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 23:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu taimiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muchtar Luthfi Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta &#8220;ajaran resmi&#8221; Ahlussunah wal Jamaah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/ibnu-taimiyah1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-555" title="ibnu taimiyah" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/ibnu-taimiyah1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Oleh: Muchtar Luthfi</p>
<div style="text-align: justify;">Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta &#8220;ajaran resmi&#8221; Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah.</div>
<div style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
ALI BIN ABI THALIB adalah satu sosok sahabat terkemuka Rasulullah saw. Terlampau banyak keutamaan yang disematkan pada diri Ali, baik melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, maupun melalui hadis yang secara langsung disampaikan oleh Rasul. Keutamaan Ali dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Dilihat dari proses kelahiran[2] hingga kesyahidannya.[3] Dari kedekatannya dengan Rasulullah, hingga kecerdasannya dalam menyerap semua ilmu yang diajarkan oleh Rasul kepadanya. Dari situlah akhirnya ia mendapat banyak kepercayaan dari Rasul dalam melaksanakan tugas-tugas ritual maupun sosial keagamaan.</p>
<p>Dengan menilik berbagai keutamaan Ali[4], maka sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin –baik Ahlussunnah, maupun Syiah- bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu khalifah pasca Rasulullah.[5] Walaupun terdapat perbedaan pendapat antara Ahlussunah dan Syiah tentang urutan kekhilafahan pasca Rasul, tetapi yang jelas mereka sepakat bahwa Ali termasuk salah satu jajaran khalifah Rasul.</p>
<p>Pada tulisan ringkas ini akan dibahas perihal pendapat Ibnu Taimiyah tentang keutamaan Ali, yang berlanjut pada pendapatnya tentang kekhalifahan beliau.</p>
<p>Kelemahan Ali di Mata Ibnu Timiyah:</p>
<p>Di sini akan disebutkan beberapa pendapat Ibnu Taimiyah dalam melihat kekurangan pada pribadi Ali:</p>
<p>Disebutkan dalam kitab Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyah, bahwa Ibnu Taimiyah meremehkan kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fikih (hukum agama). Ia mengatakan: “Ali memiliki banyak fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)”. Bahkan Ibnu Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan-segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia mengatakan: “As-Syafi’i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah”[6].</p>
<p>Berkenaan dengan ungkapan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa banyak ungkapan Ali yang bertentangan dengan nash (teks agama), hal itu sangatlah mengherankan, betapa tidak? Apakah mungkin orang yang disebut-sebut sebagai ‘syeikh Islam’ seperti Ibnu Taimiyah tidak mengetahui banyaknya hadis dan ungkapan para salaf saleh yang disebutkan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah sendiri perihal keutamaan Ali dari berbagai sisinya, termasuk sisi keilmuannya. Jika benar bahwa ia tidak tahu, maka layakkah gelar syeikh Islam tadi baginya? Padahal hadis-hadis tentang keutamaan Ali sebegitu banyak jumlahnya. Jika ia tahu, tetapi tetap bersikeras untuk menentangnya-padahal keutamaan Ali banyak tercantum dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah yang memiliki sanad hadis yang begitu kuat sehingga tidak lagi dapat diingkarinya- maka terserah Anda untuk menyikapinya! Lantas, apa kira-kira maksud dibalik pengingkaran tersebut? Karena kebodohan Ibnu Taimiyah? Ataukah karena kebencian Ibnu Taimiyah atas Ali? Ataukah karena kedua-duanya? Bukankah Ali termasuk salah satu Ahlul Bait Nabi,[7] dimana sudah menjadi kesepakatan antara Sunnah-Syiah bahwa pembenci Ahlul-Bait Nabi dapat dikategorikan Nashibi atau Nawashib? Lantas manakah bukti bahwa Ibnu Taimiyah adalah pribadi yang getol menghidupkan kembali ajaran salaf saleh, sedang ungkapannya banyak bertentangan dengan ungkapan salaf saleh?</p>
<p>Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hadis yang membahas tentang keilmuan Ali sesuai dengan pengakuan para salaf saleh yang diakui sebagai panutan oleh Ibnu Taimiyah:</p>
<p>Sabda Rasulullah saw: “Telah kunikahkan engkau –wahai Fathimah- dengan sebaik-baik umatku yang paling tinggi dari sisi keilmuan dan paling utama dari sisi kebijakan…”.[8]</p>
<p>1. Sabda Rasulullah saw: “Ali adalah gerbang ilmuku dan penjelas bagi umatku atas segala hal yang karenanya aku diutus setelahku”.[9]</p>
<p>2. Sabda Rasulullah saw: “Hikmah (pengetahuan) terbagi menjadi sepuluh bagian, maka dianugerahkan kepada Ali sembilan bagian, sedang segenap manusia satu bagian (saja)”.[10]</p>
<p>3. Berkata ummulmukminin Aisyah: “Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah”.[11]</p>
<p>4. Berkata Umar bin Khattab: “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku dalam kesulitan tanpa putera Abi Thalib (di sisiku)”.[12]</p>
<p>5. Berkata Ibnu Abbas: “Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki”.[13] Dalam nukilan kitab lain ia berkata: “Tidaklah ilmuku dan ilmu para sahabat Muhammad saw sebanding dengan ilmu Ali, sebagaimana setetes air dibanding tujuh samudera”.[14]</p>
<p>6. Berkata Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya al-Quran turun dalam tujuh huruf. Tiada satupun dari huruf-huruf tadi kecuali didalamnya terdapat zahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib memiliki ilmu tentang zahir dan batin tersebut”.[15]</p>
<p>7. Berkata ‘Adi bin Hatim: “Demi Allah, jika dilihat dari sisi pengetahuan terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka dia –yaitu Ali- adalah pribadi yang paling mengetahui tentang dua hal tadi. Jika dari sisi keislamannya, maka ia adalah saudara Rasul dan memiliki senioritas dalam keislaman. Jika dari sisi kezuhudan dan ibadah, maka ia adalah pribadi yang paling nampak zuhud dan paling baik ibadahnya”.[16]</p>
<p>8. Berkata al-Hasan: “Telah meninggalkan kalian, pribadi yang kemarin tiada satupun dari pribadi terdahulu dan akan datang yang bisa mengalahi keilmuannya”.[17]<br />
Dan masih banyak lagi hadis-hadis pengakuan Nabi beserta para sahabatnya yang menyatakan akan keluasan ilmu Ali dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah.</p>
<p>Adapun tentang ungkapan Ibnu Taimiyah yang menukil pendapat orang lain perihal Ali tersebut merupakan kebohongan atas pribadi yang dinukil tadi. Karena maksud al-Maruzi yang menulis karya besar tadi, ialah dalam rangka mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Hanifah –pendiri mazhab Hanafi- yang bertentangan dengan pendapat sahabat Ali dan Ibnu Mas’ud. Jadi topik utama pembahasan kitab tersebut adalah fatwa Abu Hanifah dan ungkapan sahabat, yang dalam hal ini berkaitan dengan Ali dan Ibnu Mas’ud. Tampak, betapa terburu-burunya Ibnu Taimiyah dalam membidik Ali dengan menukil pendapat orang lain, tanpa membaca lebih lanjut dan teliti tujuan penulisan buku tersebut. Ini merupakan salah satu contoh pengkhianatan Ibnu Taimiyah atas beberapa pemuka Ahlussunah.</p>
<p>Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah ternyata bukan hanya meragukan akan kemampuan Ali dari sisi keilmuan, bahkan ia juga mengingkari banyak hal yang berkaitan dengan keutamaan Ali.[18] Di sini akan disebutkan beberapa contoh ungkapan Ibnu Taimiyah perihal masalah tersebut:</p>
<p>1. Kebencian terhadap Ali: “Ungkapan yang menyatakan bahwa membenci Ali merupakan kekufuran, adalah sesuatu yang tidak diketahui (asalnya)”.[19]</p>
<p>2. Pengingkaran hadis Rasul: “Hadis ana madinatul ilmi (Aku adalah kota ilmu…) adalah tergolong hadis yang dibikin (maudhu’)”.[20]</p>
<p>3. Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: “Hadis “aqdhakum Ali” (paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum dapat ditetapkan (kebenarannya)”.[21]</p>
<p>4. Keilmuan Ali: “Pernyataan bahwa Ibnu Abbas adalah murid Ali, merupakan ungkapan batil”.[22] Sehingga dari pengingkaran itu ia kembali mengatakan: “Yang lebih terkenal adalah bahwa Ali telah belajar dari Abu Bakar”.[23]</p>
<p>5. Keadilan Ali: “Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)”.[24]</p>
<p>Dari pengingkaran-pengingkaran tersebut akhirnya Ibnu Taimiyah menyatakan: “Adapun Ali, banyak pihak dari pendahulu tidak mengikuti dan membaiatnya. Dan banyak dari sahabat dan tabi’in yang memeranginya”.[25]</p>
<p>Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa’i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: “Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada”.[26]</p>
<p>Dalam masalah kekhilafahan Ali, Ibnu Taimiyah pun dalam beberapa hal meragukan, dan bahkan melecehkannya. Di sini dapat disebutkan contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah tentang kekhalifahan Ali:</p>
<p>1. “Kekhilafahan Ali tidak menjadi rahmat bagi segenap kaum mukmin, tidak seperti (yang terjadi pada) kekhilafahan Abu Bakar dan Umar”.[27]</p>
<p>2. “Ali berperang (bertujuan) untuk ditaati dan untuk menguasai atas umat, juga (karena) harta. Lantas, bagaimana mungkin ia (Ali) menjadikan dasar peperangan tersebut untuk agama? Sedangkan jika ia menghendaki kemuliaan di dunia dan kerusakan (fasad), niscaya tiada akan menjadi pribadi yang mendapat kemuliaan di akherat”.[28]</p>
<p>3. “Adapun peperangan Jamal dan Shiffin telah dinyatakan bahwa, tiada nash dari Rasul.[29] Semua itu hanya didasari oleh pendapat pribadi. Sedangkan mayoritas sahabat tidak menyepakati peperangan itu. Peperangan itu, tidak lebih merupakan peperangan fitnah atas takwil. Peperangan itu tidak masuk kategori jihad yang diwajibkan, ataupun yang disunahkah. Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya banyak pribadi muslim, para penegak shalat, pembayar zakar dan pelaksana puasa”.[30]</p>
<p>Untuk menjawab pernyataan Ibnu Taimiyah tadi, cukuplah dinukil pernyataan beberapa ulama Ahlusunnah saja, guna mempersingkat pembahasan.</p>
<p>Al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir dalam menukil ungkapan al-Jurjani dan al-Qurthubi menyatakan: “Dalam kitab al-Imamah, al-Jurjani mengatakan: “Telah sepakat (ijma’) ulama ahli fikih (faqih) Hijaz dan Iraq, baik dari kelompok ahli hadis maupun ahli ra’yi semisal imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan Auza’i dan mayoritas para teolog (mutakallim) dan kaum muslimin, bahwa Ali dapat dibenarkan dalam peperangannya melawan pasukan (musuhnya dalam) perang jamal. Dan musuhnya (Ali) dapat dikelompokkan sebagai para penentang yang zalim”. Kemudian dalam menukil ungkapan al-Qurthubi, dia mengatakan: “Telah menjadi kejelasan bagi ulama Islam berdasar argumen-argumen agama, bahwa Ali adalah imam. Oleh karenanya, setiap pribadi yang keluar dari (kepemimpinan)-nya, niscaya dihukumi sebagai penentang yang berarti memeranginya adalah suatu kewajiban hingga mereka kembali kepada kebenaran, atau tertolong dengan melakukan perdamaian”.[31]</p>
<p>Jelas bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah dengan mengatasnamakan salaf saleh tidaklah memiliki dasar sedikitpun, apalagi jika ia mengatasnamakan para imam mazhab Ahlusunnah. Lantas, bagaimana mungkin pribadi seperti Ibnu Taimiyah dapat mewakili pemikiran Ahlusunnah, padahal begitu banyak pandangan ulama Ahlusunnah sediri yang secara jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyah? Lebih-lebih pendapat Ibnu Taimiyah tadi hanya sebatas pengakuan saja, tanpa memberikan argumen maupun rujukan yang jelas, baik yang berkaitan dengan hadis (Rasul saw), maupun ungkapan para salaf saleh (dari sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) termasuk nukilan pendapat para imam mazhab empat secara cermat, apalagi bukti ayat al-Quran.</p>
<p>Yang lebih parah lagi, setelah ia meragukan semua keutamaan Ali bin Abi Thalib, dari seluruh ungkapannya tersebut, akhirnya ia pun meragukan Ali sebagai khalifah. Hal itu merupakan konsekuensi dari semua pernyataan yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Mengingat, dalam banyak kesempatan Ibnu Taimiyah selalu meragukan kemampuan Ali dalam memimpin umat. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan pula ia menyebarkan keragu-keraguan atas kekhilafan Ali. Tentu saja, metode yang dipakainya dalam masalah inipun sama sebagaimana yang ia terapkan sebelumnya -seperti yang telah disinggung di atas, yaitu; dengan cara menukil beberapa pendapat yang sangat tidak mendasar, dan tidak jujur sembari mengajukan pendapat pribadinya sebagai pendapat tokoh-tokoh salaf saleh.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah dalam masalah tersebut:</p>
<p>1. “Diriwayatkan dari Syafi’i dan pribadi-pribadi selainnya, bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman”.[32]</p>
<p>2. “Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat bahwa ia (Ali) bukanlah imam, akan tetapi Muawiyah-lah yang menjadi imam. Sebagian lagi menyatakan, bahwa pada zaman itu tidak terdapat imam secara umum, bahkan zaman itu masuk kategori masa (zaman) fitnah”.[33]</p>
<p>3. “Dari mereka terdapat orang-orang yang diam (tidak mengakui) atas (kekhalifahan) Ali, dan tidak mengakuinya sebagai khalifah keempat. Hal itu dikarenakan umat tidak memberikan kesepakatan atasnya. Sedang di Andalus, banyak dari golongan Bani Umayyah yang mengatakan: Tidak ada khalifah. Sesungguhnya khalifah adalah yang mendapat kesepakatan (konsensus) umat manusia. Sedang mereka tidak memberi kesepakatan atas Ali. Sebagian lagi dari mereka menyatakan Muawiyah sebagai khalifah keempat dalam khutbah-khutbah jum’atnya. Jadi, selain mereka menyebutkan ketiga khalifah itu, mereka juga menyebut Muawiyah sebagai (khalifah) keempat, dan tidak menyebut Ali”.[34]</p>
<p>4. “Kita mengetahui bahwa sewaktu Ali memimpin, banyak dari umat manusia yang lebih memilih kepemimpinan Muawiyah, atau kepemimpinan selain keduanya (Ali dan Muawiyah)…maka mayoritas (umat) tidak sepakat dalam ketaatan”.[35]<br />
Jelas sekali di sini bahwa Ibnu Taimiyah selain ia berusaha menyebarkan karaguan atas kekhalifah Ali bin Abi Thalib kepada segenap umat, ia pun menjadi corong dalam menyebarkan kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sedang hal itu jelas-jelas bertentangan dengan akidah Ahlusunnah wal Jama’ah.</p>
<p>Untuk menjawab pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah di atas tadi, mari kita simak beberapa pernyataan pembesar ulama Ahlusunnah tentang kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, dan ungkapan mereka perihal Muawiyah bin Abu Sufyan, termasuk yang bersumber dari kitab-kitab karya imam Ahmad bin Hambal yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dalam pola pikir dan metode (manhaj)-nya.</p>
<p>1. Dinukil dari imam Ahmad bin Hambal: “Barangsiapa yang tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka jangan kalian ajak bicara, dan jangan adakan tali pernikahan dengannya”.[36]</p>
<p>2. Dikatakan bahwa imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan: “Barangsiapa yang tidak menetapkan imamah (kepemimpinan) Ali, maka ia lebih sesat dari Keledai. Adakah Ali dalam menegakkan hukum, mengumpulkan sedekah dan membagikannya tanpa didasari hak? Aku berlindung kepada Allah dari ungkapan semacam ini…akan tetapi ia (Ali) adalah khalifah yang diridhai oleh para sahabat Rasul. Mereka melaksanakan shalat dibelakangnya. Mereka berperang bersamanya. Mereka berjihad dan berhaji bersamanya. Mereka menyebutnya sebagai amirulmukminin. Mereka ridha dan tiada mengingkarinya. Maka kami pun mengikuti mereka”.[37]</p>
<p>3. Dalam kesempatan lain, sewaktu putera imam Ahmad bin Hambal menanyakan kepada ayahnya perihal beberapa orang yang mengingkari kekhalifahan Ali, beliau (imam Ahmad) berkata: “Itu merupakan ungkapan buruk yang hina”[38].</p>
<p>4. Dari Abi Qais al-Audi yang berkata: “Aku melihat umat manusia di mana mereka terdapat tiga tahapan; Para pemilik agama, mereka mencintai Ali. Sedang para pemilik dunia, mereka mencintai Muawiyah, dan Khawarij”.[39]</p>
<p>Adapun riwayat-riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Ali terlampau banyak untuk disampaikan di sini. Untuk mempersingkat pembahasan, kita nukil beberapa contoh riwayat yang khusus berkaitan dengan keilmuan dan kekhilafan Ali dari kitab-kitab standar Ahlusunnah wal Jamaah:</p>
<p>1. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain karya al-Hakim an-Naisaburi dijelaskan dari Hayyan al-Asadi; aku mendengar Ali berkata: Rasul bersabda kepadaku: “Sesungguhnya umat akan meninggalkanmu setelahku (sepeninggalku), sedang engkau hidup di atas ajaranku. Engkau akan terbunuh karena (membela) sunahku. Barangsiapa yang mencintaimu, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang memusuhimu, maka ia telah memusuhiku. Dan ini akan terwarnai hingga ini (yaitu janggut dari kepalanya)”.[40]</p>
<p>2. Dalam Shahih at-Turmudzi yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id, ia berkata: “Kami (kaum Anshar) tiada mengetahui orang-orang munafik kecuali melalui kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib”.[41]</p>
<p>3. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam yang menyebutkan; Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan hidup sebagaimana kehidupanku, dan mati sebagaimana kematianku, dan menempati sorga yang kekal yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, maka hendaknya ia menjadikan Ali sebagai wali (pemimpin/kecintaan). Karena ia tiada akan pernah mengeluarkan kalian dari petunjuk, dan tiada akan menjerumuskan kalian kepada kesesatan”.[42]</p>
<p>4. Dalam kitab Tarikh al-Baghdadi diriwaytkan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasul bersabda: “Di malam sewaktu aku mi’raj ke langit, aku melihat di pintu sorga tertulis: Tiada tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasul Allah, Ali kecintaan Allah, al-Hasan dan al-Husein pilihan Allah, Fathimah pujian Allah, atas pembenci mereka laknat Allah”.[43]</p>
<p>5. Juga dalam kitab Tarikh al-Baghdadi disebutkan sebuah hadis tentang penjelmaan Iblis untuk menggoda Rasul beserta para sahabat sewaktu bertawaf di Ka’bah. Setelah Iblis itu sirna, Rasul bersabda kepada Ali: “Apa yang aku dan engkau miliki wahai putera Abu Thalib. Demi Allah, tiada seseorang yang membencimu kecuali ia (Iblis) telah campur tangan dalam pembentukannya (melalui sperma ayahnya .red).” Lantas Rasul membacakan ayat (64 dari surat al-Isra’): “Wa Syarikhum fil Amwal wal Awlad” (Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak)”.[44]</p>
<p>6. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain disebutkan, diriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasul bersabda: “Aku adalah kota hikmah, sedang Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki hikmah hendaknya melalui pintunya”.[45] Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu hendaknya melalui pintunya”.[46]</p>
<p>7. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain disebutkan, diriwayatkan dari al-Hasan dari Anas bin Malik, ia berkata; Nabi bersabda kepada Ali: “Engkau (Ali) penjelas (atas permasalahan) yang menjadi perselisihan di antara umatku setelahku”.[47]</p>
<p>8. Dalam kitab as-Showa’iq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar disebutkan, sewaktu Rasul sakit lantas beliau mewasiatkan kepada para sahabatnya, seraya bersabda: “Aku meninggalkan kepada kalian Kitab Allah (al-Quran) dan Itrah (keturunan)-ku dari Ahlul Baitku”. Kemudian beliau mengangkat tangan Ali seraya bersabda: “Inilah Ali bersama al-Quran, dan al-Quran bersama Ali. Keduanya tiada akan berpisah sehingga pertemuanku di al-Haudh (akherat) kelak, maka carilah kedua hal tersebut sebagaimana aku telah meninggalkannya”.[48] Dalam hadis lain disebutkan: “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali. Keduanya tiada akan pernah berpisah hingga pertemuanku di Haudh kelak di akherat”.[49]</p>
<p>9. Dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir disebutkan, diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri, ia berkata; Rasul memerintahkan kami untuk memerangi kelompok Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan). Lantas kami berkata: “Wahai Rasulullah, engkau memerintahkan kami memerangi mereka, lantas bersama siapakah kami?”, beliau bersabda: “Bersama Ali bin Abi Thalib, bersamanya akan terbunuh (pula) Ammar bin Yasir”.[50]</p>
<p>Pernyataan Resmi Ahlusunnah Perihal Kekhalifahan Ali:</p>
<p>Lihat, bagaimana Ibnu Taimiyah tidak menyinggung nama Ali dalam masalah kekhalifahan? Dan bagaimana ia berdusta atas nama imam Syafi’i tanpa memberikan dasar argumen yang jelas? Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari Ali, tetapi bahkan memberikan kemungkinan kekhalifahan buat Muawiyah. Padahal tidak ada kelompok Ahlusunnah pun yang meragukan kekhalifahan Ali. Berikut ini akan kita perhatikan pernyataan resmi beberapa ulama Ahlussunah perihal pandangan mazhab mereka berkaitan dengan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib:</p>
<p>1. Dari Abbas ad-Dauri, dari Yahya bin Mu’in, ia mengatakan: “Sebaik-baik umat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar dan Umar, kemudian Usman, lantas Ali. Ini adalah mazhab kami, juga pendapat para imam kami. Sedang Yahya bin Mu’in berpendapat: Abu Bakar, Umar, Ali dan Usman”.[51]</p>
<p>2. Dari Harun bin Ishaq, dari Yahya bin Mu’in: “Barangsiapa yang menyatakan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali (Radhiyallahu anhum) –dan mengakui Ali sebagai pemilik keutamaan, maka ia adalah pemegang as-Sunnah (Shahib as-Sunnah)…lantas kusebutkan baginya oknum-oknum yang hanya menyatakan Abu Bakar, Umar dan Usman, kemudian ia diam (tanpa menyebut Ali .red), lantas ia mengutuk (oknum tadi) mereka dengan ungkapan yang keras”.[52]</p>
<p>3. Berkata Abu Umar –Ibnu Abdul Bar- perihal seseorang yang berpendapat sebagaimana hadis dari Ibnu Umar: “Dahulu, pada zaman Rasul, kita mengatakan: Abu Bakar, kemudian Umar, lantas Usman, lalu kami diam –tanpa melanjutkannya)”. Itulah yang diingkari oleh Ibnu Mu’in dan mengutuknya dengan ungkapan kasar. Karena yang menyatakan hal itu berarti telah bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh Ahlussunah, baik mereka dari pendahulu (as-Salaf), maupun dari yang datang terakhir (al-Khalaf) dari para ulama fikih dan hadis. Sudah menjadi kesepakatan (Ahlussunah) bahwa Ali adalah paling mulianya manusia, setelah Usman. Namun, mereka berselisih pendapat tentang, siapakah yang lebih utama, Ali atau Usman? Para ulama terdahulu (as-Salaf) juga telah berselisih pendapat tentang keutamaan Ali atas Abu Bakar. Namun, telah menjadi kesepakatan bagi semuanya bahwa, sebagaimana yang telah kita sebutkan, semua itu telah menjadi bukti bahwa hadis Ibnu Umar memiliki kesamaran dan kesalahan, dan tidak bisa diartikan semacam itu, walaupun dari sisi sanadnya dapat dibenarkan”.[53]</p>
<p>Jadi jelaslah bahwa menurut para pemuka Ahlussunah, Ali adalah sahabat terkemuka yang termasuk jajaran tokoh para sahabat yang menjadi salah satu khalifah pasca Rasul. Berbeda halnya dengan apa yang diyakini oleh Ibnu Taimiyah, seorang ulama generasi akhir (khalaf) yang mengaku sebagai penghidup pendapat ulama terdahulu (salaf), namun banyak pendapatnya justru berseberangan dengan pendapat salaf saleh.</p>
<p>Pernyataan Ulama Ahlusunnah Perihal Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Ali:</p>
<p>Pada bagian kali ini akan kita nukil beberapa pernyataan ulama Ahlusunnah perihal pernyataan Ibnu Taimiyah yang cenderung melecehkan Ali bin Abi Thalib:</p>
<p>1. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menjelaskan tentang pribadi Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ia terlalu berlebihan dalam menghinakan pendapat rafidhi (Allamah al-Hilli seorang ulama Syiah. red) sehingga terjerumus kedalam penghinaan terhadap pribadi Ali”.[54]</p>
<p>2. Allamah Zahid al-Kautsari mengatakan: “…dari beberapa ungkapannya dapat dengan jelas dilihat kesan-kesan kebencian terhadap Ali”.[55]</p>
<p>3. Syeikh Abdullah Ghumari pernah menyatakan: “Para ulama yang sezaman dengannya menyebutnya (Ibnu Taimiyah) sebagai seorang yang munafik dikarenakan penyimpangannya atas pribadi Ali”.[56]</p>
<p>4. Syeikh Abdullah al-Habsyi berkata: “Ibnu Taimiyah sering melecehkan Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan: Peperangan yang sering dilakukannya (Ali) sangat merugikan kaum muslimin”.[57]</p>
<p>5. Hasan bin Farhan al-Maliki menyatakan: “Dalam diri Ibnu Taimiyah terdapat jiwa ¬nashibi dan permusuhan terhadap Ali”.[58]</p>
<p>6. Hasan bin Ali as-Saqqaf berkata: “Ibnu Taimiyah adalah seorang yang disebut oleh beberapa kalangan sebagai ‘syeikh Islam’, dan segala ungkapannya dijadikan argumen oleh kelompok tersebut (Salafy). Padahal, ia adalah seorang nashibi yang memusuhi Ali dan menyatakan bahwa Fathimah (puteri Rasulullah. red) adalah seorang munafik”.[59]</p>
<p>Dan masih banyak lagi ungkapan ulama Ahlusunnah lain yang menyesalkan atas prilaku pribadi yang terlanjur terkenal dengan sebutan ‘syeikh Islam’ itu. Untuk mempersingkat pembahasan, dalam makalah ini kita cukupkan beberapa ungkapan mereka saja. Namun di sini juga akan dinukil pengakuan salah seorang ahli hadis dari kalangan wahabi (pengikut Ibnu Taimiyah sendiri .red) sendiri dalam mengungkapkan kebingungannya atas prilaku imamnya (Ibnu Taimiyah) yang meragukan beberapa hadis keutamaan Ali bin Abi Thalib. Ahli hadis tersebut bernama Nashiruddin al-Bani. Tentu semua pengikut Salafy (Wahabi) mengenal siapa dia. Seusai ia menganalisa hadis al-wilayah[60] (kepemimpinan) yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib, lantas ia mengatakan: “Anehnya, bagaimana mungkin syeikh Islam Ibnu Taimiyah mengingkari hadis ini, sebagaimana yang telah dia lakukan pada hadis-hadis sebelumnya (tentang Ali), padahal ia memiliki berbagai sanad yang sahih. Hal ini ia lakukan, tidak lain karena kebencian yang berlebihan terhadap kelompok Syiah”.[61]</p>
<p>Dari sini jelas bahwa akibat kebencian terhadap satu kelompok secara berlebihan menyebabkan Ibnu Taimiyah terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kesesatan, sehingga menyebabkan ia telah menyimpang dari ajaran para salaf saleh yang selalu diakuinya sebagai pondasi ajarannya. Bukankah orang yang disebut ‘syeikh Islam’ itu mesti telah membaca hadis yang tercantum dalam Shahih Muslim –kitab yang diakuinya sebagai paling shahihnya kitab- yang menyatakan: “Aku bersumpah atas Dzat Yang menumbuhkan biji-bijian dan Pencipta semesta, Rasul telah berjanji kepadaku (Ali); Tiada yang mencintaiku melainkan seorang mukmin, dan tiada yang membenciku melainkan orang munafik”.[62] Sedang dalam hadis lain, diriwayatkan dari ummulmukminin Ummu Salamah: “Seorang munafik tiada akan mencintai Ali, dan seorang mukmin tiada akan pernah memusuhinya”.[63] Dan dari Abu Said al-Khudri yang mengatakan: “Kami dari kaum Anshar dapat mengenali para munafik melalui kebencian mereka terhadap Ali”.[64]</p>
<p>Jika sebagian ulama Ahlusunnah telah menyatakan, akibat kebencian Ibnu Taimiyah terhadap Ali dengan ungkapan-ungkapannya yang cenderung melecehkan sahabat besar tersebut sehingga ia disebut nashibi, lantas jika dikaitkan dengan tiga hadis di atas tadi yang menyatakan bahwa kebencian terhadap Ali adalah bukti kemunafikan, maka apakah layak bagi seorang munafik yang nashibi digelari ‘Syeikh al-Islam’? ataukah pribadi semacam itu justru lebih layak jika disebut sebagai ‘Syeikh al-Munafikin’? Jawabnya, tergantung pada cara kita dalam mengambil benang merah dari konsekuensi antara ungkapan beberapa ungkapan ulama Ahlusunnah dan beberapa hadis yang telah disebutkan di atas tadi.</p>
<p>Penutup:</p>
<p>Dari sini jelaslah, bahwa para ulama Salaf maupun Khalaf -dari Ahlussunah wal Jamaah- telah mengakui keutamaan Ali, dan mengakui kekhalifahannya. Lantas dari manakah manusia semacam Ibnu Taimiyah yang mengaku sebagai penghidup mazhab salaf saleh namun tidak menyinggung-nyinggung kekhalifahan Ali, bahkan berusaha menghapus Ali dari jajaran kekhilafahan Rasul? Masih layakkah manusia seperti Ibnu Taimiyah dinyatakan sebagai pengikut Ahlusunnah wal Jama’ah, sementara pendapatnya banyak bertentangan dengan kesepakatan ulama salaf maupun khalaf dari Ahlussunah wal Jamaah? Ataukah dia hanya mengaku dan membajak nama besar salaf saleh? Tegasnya, pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah tadi justru lebih layak untuk mewakili kelompok salaf yang dinyatakan oleh kaum muslimin sebagai salaf thaleh (lawan dari kata salaf saleh), seperti Yazid bin Muawiyah beserta gerombolannya.</p>
<p>Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta &#8220;ajaran resmi&#8221; Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah. Sehingga mereka pun berusaha sekuat tenaga agar semua usaha pendekatan, pintu dialog ataupun persatuan antara Sunnah-Syiah harus ditentang, ditutup dan digagalkan. Karena, jika antara Sunnah-Syiah bersatu, maka kedok mereka akan tersingkap, dan hal itu akan mengakibatkan nasib mereka kian tidak menentu.[]</p>
<p>Penulis: Mahasiswa S2 Jurusan Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomeini, Qom-Republik Islam Iran,</p>
<p>Rujukan:<br />
________________________________________</p>
<p>[2] Dalam kitab Mustadrak as-Shohihain Jil:3 Hal:483 karya Hakim an-Naisaburi atau kitab Nuur al-Abshar Hal:69 karya as-Syablanji disebutkan, bahwa Ali adalah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam Baitullah Ka’bah. Maryam ketika hendak melahirkan Isa al-Masih, ia diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi tempat ibadah, sedang Fatimah binti Asad ketika hendak melahirkan Ali, justru diperintahkan masuk ke tempat ibadah, Baitullah Ka’bah. Ini merupakan bukti, bahwa Ali memiliki kemuliaan tersendiri di mata Allah. Oleh karenanya, dalam hadis yang dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:31 dinyatakan, Rasul bersabda: “Engkau (Ali) sebagaimana Ka’bah, didatangi dan tidak mendatangi”.</p>
<p>[3] Pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, dalam banyak kitab disebutkan sebagai paling celakanya manusia di muka bumi. Lihat kitab-kitab semisal Thobaqoot Jil:3 Hal:21 karya Ibnu Sa’ad, Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:135, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:24 karya Ibnu Atsir, Qoshos al-Ambiya’ Hal:100 karya ats-Tsa’labi.</p>
<p>[4] Dalam kitab Fathul-Bari disebutkan bahwa pribadi-pribadi seperti imam Ahmad bin Hambal, imam Nasa’i, imam an-Naisaburi dan sebagainya mengakui bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali lebih banyak dibanding dengan keutamaan para sahabat lainnya.</p>
<p>[5] Lihat Tarikh at-Tabari Jil:2 Hal:62</p>
<p>[6] Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al-Harrani</p>
<p>[7] Lihat Shohih Muslim Kitab: Fadho’il as-Shohabah Bab:Fadhoil Ahlul Bait an-Nabi, Shohih at-Turmudzi Jil:2 Hal:209/319, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirakan surat 33:33 Jil:5 Hal:198-199, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:330 atau Jil:6 Hal:292, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir Jil:2 Hal:20 atau Jil:3 Hal:413, Tarikh al-Baghdadi Jil:10 Hal:278…dsb</p>
<p>[8] Jamii’ al-Jawami’ Jil:6 Hal:398, karya as-Suyuthi</p>
<p>[9] Kanz al-Ummal Jil:6 Hal:156, karya al-Muttaqi al-Hindi</p>
<p>[10] Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65, karya Abu Na’im al-Ishbahani</p>
<p>[11] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi, atau Tarikh al-Khulafa’ Hal:115 karya as-Suyuthi</p>
<p>[12] Tadzkirah al-Khawash Hal:87, karya Sibth Ibn al-Jauzi</p>
<p>[13] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40</p>
<p>[14] Al-Ishobah Jil:2 Hal:509, karya Ibnu Hajar al-Asqolani, atau Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65</p>
<p>[15] Miftah as-Sa’adah, Jil:1 Hal:400</p>
<p>[16] Siar A’lam an-Nubala’ (khulafa’) Hal:239, karya adz-Dzahabi</p>
<p>[17] Al-Bidayah wa an-Nihayah Jil:7 Hal:332</p>
<p>[18] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:511 &amp; 461</p>
<p>[19] Ibid Jil:8 Hal:97</p>
<p>[20] Ibid Jil:7 Hal:515</p>
<p>[21] Ibid Jil:7 Hal:512</p>
<p>[22] Ibid Jil:7 Hal: 535</p>
<p>[23] Ibid Jil:5 Hal:513</p>
<p>[24] Ibid Jil:6 Hal:18</p>
<p>[25] Ibid Jil:8 Hal:234</p>
<p>[26] Dinukil dari Fathul Bari Jil:7 Hal:89 karya Ibnu Hajar al-Asqolani, Tarikh Ibnu Asakir Jil:3 Hal:83, Siar A’lam an-Nubala’ (al-Khulafa’) Hal:239</p>
<p>[27] Minhaj as-Sunnah Jil:4 Hal:485</p>
<p>[28] Ibid Jil:8 Hal:329 atau Jil:4 Hal:500</p>
<p>[29] Pernyataan aneh yang terlontar dari Ibnu Taimiyah. Apakah dia tidak pernah menelaah hadis yang tercantum dalam kitab Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:139 dimana Abu Ayub berkata pada waktu kekhilafahan Umar bin Khatab dengan ungkapan; “Rasulullah telah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memerangi kaum Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan)”. Begitu pula yang tercantum dalam kitabTarikh al-Baghdadi Jil:8 Hal:340, Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir Jil:4 Hal:32, Majma’ az-Zawa’id karya al-Haitsami Jil:9 Hal:235, ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat ke-41 dari surat az-Zukhruf, dsb? Ataukah Ibnu Taimiyah sudah tidak percaya lagi kepada para sahabat yang merawikan hadis tersebut? Bukankah ia telah terlanjur menyatakan bahwa sahabat adalah Salaf Saleh yang ajarannya hendak ia tegakkan?</p>
<p>[30] Ibid Jil:6 Hal:356</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">[31] Faidh al-Qodir Jil:6 Hal:336</div>
<div style="text-align: justify;">[32] Minhaj as-Sunnah Jil:2 Hal:404</div>
<div style="text-align: justify;">[33] Ibid Jil:1 Hal:537</div>
<div style="text-align: justify;">[34] Ibid Jil:6 Hal:419</div>
<div style="text-align: justify;">[35] Ibid Jil:4 Hal:682</div>
<div style="text-align: justify;">[36] Thobaqoot al-Hanabilah Jil:1 Hal:45</div>
<div style="text-align: justify;">[37] Aimmah al-Fiqh at-Tis’ah Hal:8</div>
<div style="text-align: justify;">[38] As-Sunnatu Halal Hal:235</div>
<div style="text-align: justify;">[39] Al-Isti’aab Jil:3 Hal:213</div>
<div style="text-align: justify;">[40] Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:142. Hadis serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain semisal; Tarikh al-Baghdadi Jil:13 Hal:32, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:383, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:131, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:213, dsb.</div>
<div style="text-align: justify;">[41] Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:299. Hadis serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab semisal; Shahih Muslim kitab al-Iman, Shahih an-Nasa’I Jil:2 Hal:271, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:84, Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:129, Tarikh al-Baghdadi Jil:3 Hal:153, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:133, dsb.<br />
[42] Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:128. Hadis semacam ini –walau dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab semisal; Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:23 atau Jil:6 Hal:101, al-Ishabah karya Ibnu Hajar Jil:3 Bagian ke-1 Hal:20, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:215, Tarikh al-Baghdadi Jil:4 Hal:102, dsb.</p>
<p>[43] Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:259.</p>
<p>[44] Ibid Jil:3 Hal:289-290</p>
<p>[45] Mustadrak as-Shahihain Jil:11 Hal:204. Hadis yang sama dengan sedikit perbedaan redaksi juga dapat ditemukan dalam Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:229.</p>
<p>[46] Ibid Jil:3 Hal:128. Hadis yang sama dapat juga ditemukan dalam kitab lain semacam; as-Showa’iq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar Hal:73, Tarikh al-Baghdadi Jil:2 Hal:377, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:193, Kunuz al-Haqa’iq karya al-Manawi Hal:43, dsb.</p>
<p>[47] Ibdi Jil:3 Hal:122. Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab Hilliyat al-Auliya’ karya Abu Na’im Jil:1 Hal:63.</p>
<p>[48] As-Showa’iq al-Muhriqoh Hal:75. Hadis semacam ini dapat pula dilihat dalam kitab-kitab semisal Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:124, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:134, dsb.</p>
<p>[49] Tarikh al-Baghdadi Jil:14 Hal:321. Hadis serupa juga dapat dijumpai dalam kitab Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:298, Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:119, Majma’ az-Zawa’id Jil:7 Hal:235, Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi Jil:6 Hal:157, dsb dengan sedikit perbedaan redaksi.</p>
<p>[50] Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:32-33. Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain seperti; Mustadrak as-Shahihain Jil:4 Hal:139, Tarikh Baghdadi Jil:8 Hal:340 atau Jil:13 Hal:186, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:235, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat 41 dari surat az-Zukhruf, dsb.</p>
<p>[51] Al-Isti’aab Jil:3 Hal:213</p>
<p>[52] Ibid</p>
<p>[53] Ibid Jil:3 Hal:214</p>
<p>[54] Lisan al-Mizan Jil:6 Hal:319-320</p>
<p>[55] Al-Hawi fi Sirah at-Thahawi Hal:26</p>
<p>[56] Ar-Rasail al-Ghomariyah Hal:120-121</p>
<p>[57] Al-Maqolaat as-Saniyah Hal:200</p>
<p>[58] Dinukil dari kitab Nahwa Inqod at-Tarikh al-Islami karya Sulaiman bin Shaleh al-Khurasyi hal:35</p>
<p>[59] At-Tanbih wa ar-Rad Hal:7</p>
<p>[60] Hadis yang mengatakan: Ali waliyu kulli mukmin min ba’dy (Ali adalah pemimpin setiap mukmin setelahku)</p>
<p>[61] Silsilah al-Ahadis as-Shohihah, Hadis no: 2223</p>
<p>[62] Shohih Muslim Jil:1 Hal:120 Hadis ke-131 Kitab: al-Iman, atau Shohih at-Turmudzi Jil:5 Hal:601</p>
<p>Hadis ke-3736, dan atau Sunan Ibnu Majah Jil:1 Hal:42 Hadis ke-114</p>
<p>[63] Shohih at-Turmudzi Jil:5 Hal:594 Hadis ke-3717</p>
<p>[64] Ibid Hal:593</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">sumber ISLAT</div>
<p><!--JOM COMMENT START--></p>
<p style="text-align: justify;"><a id="jc_allComments" name="jc_allComments"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/25/ali-bin-abi-thalib-di-mata-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Kosmologi</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 22:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[kosmologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Agama dan Kosmologi Kosmologi yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini bisa dibangun?  Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan masalah-masalah prinsipal kosmologis?  Dimanakah posisi tasawwuf dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?  Artikel  ini akan menjawabnya dengan penjelasan  yang lugas dan sesederhana mungkin. Definisi Agama Bicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Agama dan        Kosmologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/multiverse.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-483" title="multiverse" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/multiverse-300x243.jpg" alt="" width="300" height="243" /></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi        yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan        beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini        bisa dibangun?  Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan        masalah-masalah prinsipal kosmologis?  Dimanakah posisi tasawwuf        dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?  Artikel  ini        akan menjawabnya dengan penjelasan  yang lugas dan sesederhana        mungkin.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Definisi Agama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bicara soal agama, tidak bisa        tidak kita harus memahami terlebih dahulu devinisi agama.  Dalam        bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara bahasa berarti ketataan,        pahala dsb.  Dalam istilah, Din berarti  keyakinan kepada Sang        Pencipta manusia dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesuai        dengan keyakinan ini.  Atas dasar ini orang yang tidak meyakini        adanya Sang Pencita dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai        kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural        disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis).  Sebalik orang         yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang        beragama, sekalipun keyakinannya atau ritus-ritus agamanya mengalami        penyimpangan dan khurafat.  Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak        dan batil.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama        yang hak adalah agama yang mengandung keyakinan yang sesuai dengan        kenyataan serta membawa petunjuk kepada perilaku-perilaku yang memiliki        jaminan yang valid untuk menggapai kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ushul        dan Furu’</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dengan pengertian terminologis agama        tadi jelaslah bahwa agama setidaknya terdiri dari dua elemen.         <em>Pertama</em>, akidah atau keyakinan-keyakinan yang dilandasi dengan        prinsip dan dasar yang valid.   <em>Kedua</em>, hukum atau        perintah-perintah amaliah yang sesuai dengan dasar-dasar        akidah.   Dengan demikian, tepatlah kiranya jika elemen akidah        setiap agama disebut ‘ushul’  (pokok-pokok) sedangkan elemen hukum        amaliahnya disebut furu’ (cabang).  Dua istilah ini oleh para ulama        Islam juga lazim disebut akidah Islam dan hukum Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi dan        Ideologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Istilah kosmologi dan ideologi        artinya tak jauh berbeda satu dengan yang lain.   Arti kosmologi        antara lain ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang        tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai        ‘ke-ada-an’ (wujud).  Sedangkan arti ideologi antara lain ialah        serangkaian pandangan universal yang tersistematis mengenai perilaku        manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai        dua pengertian ini bisa dikatakan bahwa rangkaian akidah dan ushul setiap        agama adalah kosmologi agama ini sendiri, sementara sistem universal        hukum-hukum amaliahnya adalah ideologinya, dan keduanya diterapkan sesuai        ushul dan furu’ agama ini.  Patut diingat bahwa istilah ideologi        tidak mencakup hukum-hukum parsial sebagaimana kosmologi juga tidak        mencakup keyakinan-keyakinan parsial.  Selain itu, kata ideologi juga        sering diterapkan pada pengertian umum yang mencakup        kosmologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi Teisme dan Kosmologi        Materialisme </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Di tengah umat manusia terdapat aneka        ragam kosmologi.  Toh demikian, dengan pertimbangan diterima atau        tidaknya alam immateri atau supranatural semuanya bisa dibagi dalam        dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme.         Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis),        sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Ada banyak paham yang        membidani lahirnya materialisme, dan diantaranya yang paling kesohor ialah        Materialisme Dialektik yang menjadi elemen filosofis ajaran        Marxisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari        keterangan di atas jelas bahwa penerapan istilah kosmologi lebih luas        daripada istilah keyakinan atau akidah agama, karena kosmologi juga        meliputi paham-paham ateisme dan materialisme sedangkan akidah agama tidak        mencakupnya.  Ini serupa dengan istilah ideologi yang sebenarnya        hanya mencakup rangkaian hukum-hukum agama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Agama Samawi dan        Ushulnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Tentang proses munculnya berbagai        agama para ahli sejarah agama dan sosiolog berbeda pendapat.  Namun,        berdasarkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks keislaman (nash), agama        muncul sejak manusia itu ada.  Manusia pertama adalah Nabi Adam as        yang merupakan nabi penyeru Tauhid (monoteisme), sedangkan keberadaan        agama–agama yang mengandung paham-paham syirik (politeisme) tak lain        adalah akibat penyelewengan, distorsi, dan tendensi-tendensi individual        maupun kelompok.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama-agama monoteisme yang merupakan        agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang        kolektif.  <em>Pertama</em>, keyakinan kepada Tuhan Yang Esa.        <em>Kedua</em>, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia        di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika        hidup di alam dunia.  <em>Ketiga</em>, keyakinan kepada        pengutusan  para Nabi oleh Allah SWT untuk menuntun umat manusia        kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga        prinsip ini pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan        fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak yaitu, apa dan siapakah        kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini?  Apakah akhir        dari kehidupan ini?  Dan apakah yang bisa dijadikan sebagai jalur        terbaik untuk menjalani program hidup?  Adapun kandungan program yang        dapat dipelajari dari jalur wahyu yang terjamin kebenarannya tak lain        ialah ideologi religius yang terbangun berlandaskan kosmologi        teisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan-keyakinan prinsipal        memiliki berbagai konsekwensi, korelasi, akses, dan rincian-rincian yang        keseluruhannya membentuk konsetalasi keyakinan religius.         Perselisihan dalam hal-hal inilah yang menumbuh-biakkan berbagai aliran        keagamaan, mazhab, dan sekte.  Perselisihan mengenai status kenabian        sebagian nabi serta penentuan kitab suci yang valid, misalnya, telah        memicu perselisihan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam.         Perselisihan ini kemudian membawa akses berupa perselisihan-perselihan        lain dalam keyakinan dan tradisi yang sebagian diantaranya tidak sejalan        dengan keyakinan-keyakinan prinsipal.  Contohnya adalah keyakinan        trinitas dalam agama Kristen yang jelas-jelas berseberangan dengan paham        monoteisme, walaupun umat Kristiani tetap berusaha mengemas keyakinan        trinitas ini dengan penjelasan-penjelasannya sendiri.  Dalam        Islampun, umat Nabi Besar Muhammad saww juga terpecah menjadi Ahlussunnah        dan Syiah akibat perselisihan mengenai mekanisme penentuan para pengganti        Rasul saww.  Syiah meyakini bahwa yang berhak menentukannya hanyalah        Allah SWT, sementara Ahlussunnah meyakini bahwa yang menentukannya adalah        umat Islam sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil,        Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan adalah keyakinan yang paling        fundamental dan prinsipal dalam semua ajaran agama        samawi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masalah Masalah Prinsipal        Kosmologis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Ketika manusia berniat memecahkan        berbagai persoalan fundamental kosmologis dan mengenal ushuluddin yang        benar, pertanyaan yang pertama kali mencuat ialah apakah jalan pemecahan        masalah-masalah ini?  Bagaimanakah pengetahuan-pengetahuan yang        fundamental bisa diserap dengan benar? Di tengah berbagai metode yang ada,        metode manakah yang valid untuk memperoleh pengatahuan-pengetahuan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua        pertanyaan ini dibahas secara rinci dalam epistemologi, yaitu satu        disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan        metode penalaran manusia dalam memperoleh pengetahuan.  Kita di sini        akan membicarakan masalah ini sekadarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbagai Jenis        Pengetahuan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dari satu aspek tertentu        pengetahuan-pengetahuan manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat        kategori:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, pengetahuan empiris. Pengetahuan        ini diperoleh manusia dengan mengandalkan organ-organ inderawi, kendati        akal juga berperan dalam eksepsi dan generalisasi pengetahuan-pengetahuan        empiris.  Pengetahuan empiris difungsikan dalam ilmu-ilmu empiris        semisal kimia, fisika, dan biologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, pengetahuan rasional.         Pengetahuan ini dibentuk oleh konsepsi-konsepsi yang diserap oleh akal        pikiran.  Dalam pengetahuan ini peranan akal sangat fundamental        kendati adakalanya persepsi-persepsi empiris masih digunakan sebagai        sumber serapan konsepsi atau digunakan sebagai bagian dari premis dalam        silogisme.  Ruang gerak pengetahuan ini meliputi ilmu logika, ilmu        filsafat, dan ilmu matematika.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>,  pengetahuan yang diterima        begitu saja (<em>ta’abbudi)</em>.  Pengetahuan ini memiliki aspek        sekunder dengan pengertian bahwa ilmu ini didapat berdasarkan        pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah dibuktikan sebagai sumber        yang valid dan punya otoritas. Dengan kata lain pengetahuan ini diperoleh        dari berita yang disampaikan oleh pembawa kabar yang terbukti bisa        dipercaya. Contoh kongretnya adalah pengetahuan yang diperoleh para        penganut agama dari pemuka agamanya.  Pengetahuan ini adakalanya        membentuk keyakinan yang jauh lebih kuat daripada keyakinan-keyakinan yang        diperolehnya dari pengalaman-pengalaman empiris.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat,        pengetahuan intuitif (<em>syuhudi</em>).  Tak seperti  tiga        kategori pengetahuan di atas, pengetahuan ini bersentuhan langsung dengan        obyeknya tanpa perantara gambaran subyetif.  Karena itu, ilmu atau        pengetahuan ini tidak mungkin salah.  Namun demikian, biasanya apa        diklaim sebagai ilmu syuhudi atau irfani pada hakikatnya adalah        interpretasi subyektif dari sesuatu yang telah disaksikan.         Interpretasi inilah yang bisa salah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbagai Jenis        Kosmologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Berdasarkan klasifikasi di atas,        kosmologi bisa dibagi dalam empat bagian sebagai  berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, kosmologi ilmiah.  Maksudnya        ialah manusia membangun kosmologi universalnya mengenai alam semesta        berdasarkan hasil-hasil ilmu pengetahuan empiris.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, kosmologi filosofis yang dicapai        melalui proses argumentasi-argumentasi rasional.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, kosmologi yang diperoleh melalui        keimanan kepada para pemimpin agama sehingga semua kata-kata mereka        diyakini sebagai kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>, kosmologi irfani yang diperoleh        melalui jalur intuisi atau <em>mukasyafah, syuhud, dan isyraq</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya sekarang ialah apakah        semua masalah fundamental kosmologis bisa dipecahkan secara seimbang        melalui semua bagian kosmologi di atas?  Ataukah ada satu diantaranya        yang harus diprioritaskan atas yang lain?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Evaluasi dan Tinjauan        Kritis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Seperti diketahui, ruang gerak        pengetahuan empiris hanya terbatas pada fenomena-fenomena alam materi.        Maka dari itu, hasil-hasil ilmu empiris tidak bisa mengenal        fondasi-fondasi kosmologi dan menyelesaikan masalah-masalah kosmologis        yang letaknya berada di luar peta ilmu pengetahuan empiris.  Ilmu        empiris tidak bisa mengisbatkan atau menafikannya. Hasil-hasil riset di        laboratorium, misalnya, tidak akan bisa mengkonfirmasikan atau menolak        keberadaan Tuhan.  Ini tak lain karena pengalaman empiris sama sekali        tidak akan bisa menjangkau alam immateri dan oleh sebab itu pengalaman ini        jelas tidak akan bisa mengisbatkan atau menafikan sesuatu yang berada di        luar zona alam materi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan        demikian, kosmologi empiris lebih menyerupai fatamorgana.  Karenanya,        kata-kata ‘kosmologi’ dalam pengertian yang sebenarnya tidak bisa        diterapkan pada pandangan-pandangan universal empiris.  Kita hanya        bisa menyebutnya sebagai  Ilmu Pengetahuan Alam Materi.  Jadi,        ilmu ini tidak akan bisa menjawab berbagai persoalan prinsipal menyangkut        kosmologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengetahuan-pengetahuan         ta’abbudi juga demikian.  Sebagaimana yang dijelaskan tadi,        pengetahuan ta’abbudi bersifat sekunder dalam pengertian bahwa pengetahuan        ini bisa diyakini setelah sumbernya bisa dibuktikan valid        sebelumnya.  Jadi, sebelumnya harus bisa dibuktikan kenabian        seseorang yang menjadi nara sumber pengetahuan itu.  Sebelum ini pun        harus pula dibuktikan keberadaan Tuhan, Zat yang mengutus nabi untuk        membawa kabar (baca: pengetahuan).  Dan keberadaan Pengutus nabi        serta kenabian orang yang diutus-Nya jelas tidak bisa dibuktikan dengan        pesan (baca: pengetahuan) yang dibawa oleh nabi.  Misalnya,        keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan dengan pernyataan        Al-Quran:“Tuhan itu ada”. Dengan demikian, metode ta’abbudi juga tidak        bisa menyelesaikan masalah-masalah prinsipal kosmologis.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun        berkenaan dengan motode irfani, syuhudi, intiusi, atau yang juga disebut        mistis kita perlu memberikan penjelasan secara agak detail melalui        beberapa poin sbb:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>,  Kosmologi adalah pengetahuan        yang terdiri dari konsepsi-konsepsi subyektif (<em>mafahim dzihniah</em>),        sementara dalam intuisi sama sekali tidak ada <em>mafahim        dzihniah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, untuk menjelaskan dan        menginterpretasi apa yang diketahui seseorang dengan jalan intuisi        sangatlah memerlukan kepiawaian yang besar dalam berpikir, dan ini tidak        akan bisa dicapai kecuali dengan latar belakang jerih payah berpikir dan        analisis-analisis filosofis yang panjang.  Jika tidak, maka seseorang        yang mengalami intuisi akan terjebak pada penggunaan kata-kata yang ambigu        sehingga bisa menjadi penyebab timbulnya kesesatan dan        penyelewenangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, dalam banyak kasus, hakikat yang        diketahui seseorang melalui intuisi bisa mengundang kebingungan bagi orang        ini sendiri manakala dia mencoba memberikan refleksi dan interpretasi        subyektif.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>, diketahuinya hakikat-hakikat yang        setelah diinterpretasikan oleh pikiran bisa kita sebut kosmologi        bergantung kepada proses penempuhan jalan suluk, sedangkan penerimaan        metode suluk ini sendiri juga memerlukan teori-teori dasar dan        masalah-masalah prinsipal dalam kosmologi.  Jadi, masalah-masalah ini        harus terpecahkan terlebih dahulu sebelum dimulai perjalanan suluk,        sedangkan pengetahuan-pengetahuan intiusi berada pada tahap yang paling        akhir. Suluk, irfan, atau yang disebut tasawwuf hanya akan bisa dialami        oleh seseorang jika dia benar-benar ikhlas berusaha menempuh jalan Allah        SWT,  dan usaha ini hanya bisa ditempuh oleh yang orang yang memiliki        pengetahuan sebelumnya tentang Allah dan jalan pengabdian        kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah        semua metode di atas terbukti tidak bisa difungsikan dalam penyelesaian        masalah-masalah prinsipal kosmologis, maka tinggallah satu jalan yang bisa        dijadikan alternatif, dan itu ialah jalan penalaran rasional.  Dengan        begitu, maka kosmologi yang yang valid dan realistis ialah kosmologi        filosofis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguhpun demikian, ini bukan        berarti bahwa untuk menemukan kosmologi  yang benar semua        persoalan-persoalan filosofis harus bisa dipecahkan.  Sebaliknya,        pemecahan beberapa persoalan filosofis yang sederhana dan mendekati        aksiomatis sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang merupakan        masalah yang paling fundamental dalam kosmologi.  Selain itu,        menjadikan metode penalaran rasional (<em>ta’aqqul</em>)  sebagai        satu-satunya alternatif  bukan berarti bahwa  metode-metode lain        tidak bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kosmologis,        karena banyak sekali argumentasi-argumentasi rasional yang bisa        dikemukakan melalui premis-premis yang didapat dari ilmu-ilmu empiris dsb.        (Artikel ini disadur dari buku Amuzashe Aqaid yang ditulis  Ayatullah        Misbah Yazdi untuk para pemula pelajar akidah.)</p>
<p style="text-align: justify;">sumber irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuktian Teologis atas Konsep Mahdiisme Menurut Ahlul Bait a.s.</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/pembuktian-teologis-atas-konsep-mahdiisme-menurut-ahlul-bait-a-s/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/pembuktian-teologis-atas-konsep-mahdiisme-menurut-ahlul-bait-a-s/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 15:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mahdiisme]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi AS]]></category>
		<category><![CDATA[Mahdawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Mahdi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Argumentasi teologis atas konsep Mahdiisme terungkap dalam ratusan riwayat yang datang dari Rasulullah[1] yang menunjukkan penentuan Imam Mahdi a.s. dan bahwa beliau dari Ahlul Bait a.s.[2]  Dinyatakan juga bahwa beliau adalah dari ke-turunan Fathimah a.s.[3], dari keturunan imam Husain a.s.[4], keturunan ketujuh dari imam Husain a.s.[5], dan bahwa beliau adalah khalifah dan pengganti Rasulullah adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-324" title="Imam Zaman2" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Imam-Zaman2-217x300.jpg" alt="Imam Zaman2" width="217" height="300" />Argumentasi teologis atas konsep Mahdiisme terungkap dalam ratusan riwayat yang datang dari Rasulullah<a name="_ftnref1" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn1">[1]</a> yang menunjukkan penentuan Imam Mahdi a.s. dan bahwa beliau dari Ahlul Bait a.s.<a name="_ftnref2" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;"> Dinyatakan juga bahwa beliau adalah dari ke-turunan Fathimah a.s.<a name="_ftnref3" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn3">[3]</a>, dari keturunan imam Husain a.s.<a name="_ftnref4" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn4">[4]</a>, keturunan ketujuh dari imam Husain a.s.<a name="_ftnref5" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn5">[5]</a>, dan bahwa beliau adalah khalifah dan pengganti Rasulullah adalah 12 orang.<a name="_ftnref6" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Lima kelompok dan kategori riwayat ini,<a name="_ftnref7" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn7">[7]</a> satu sama lain berlomba menjelaskan konsep Mahdiisme dan mendefinisikan Imam Mahdi a.s. Sedang yang perlu dicermati di sana adalah analisis atas hal tersebut dari topik umum ke topik yang lebih khusus sehingga sampai kepada topik penentuan personal.</p>
<p style="text-align: justify;">Sahid Baqir Shadr ra. menggarisbawahi riwayat-riwayat tersebut dan mengatakan: ”Riwayat ini sangat-lah banyak dan tersebar, kendati para imam telah berhati-hati untuk memaparkan konsep ini pada konteks umum, sebagai upaya penyelamatan bagi pelanjut mereka (Imam Mahdi a.s.) dari konspirasi dan pembunuhan”<a name="_ftnref8" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, perlu dipahami bahwa banyaknya riwayat bukan satu-satunya alasan yang cukup untuk menerima konsep ini. Akan tetapi di sana terdapat keistimewaan dan bukti-bukti lain yang menegaskan keabsahannya. Misalnya, hadis Rasulullah yang mulia tentang para imam dan khalifah atau amir setelah beliau dan ihwal mereka berjumlah 12 orang?dengan berbagai perbedaan riwayat yang datang dari jalur yang beragam?telah dihitung oleh sebagian para penulis hingga mencapai lebih dari 270 riwayat,<a name="_ftnref9" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn9">[9]</a> sebuah jumlah yang fantastik, di mana riwayat-riwayat tersebut diambil dari kitab hadis standar, baik dari kalangan Syi’ah maupun Ahli Sunnah, di antaranya Shahih Bukhari<a name="_ftnref10" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn10">[10]</a>, Shahih Muslim<a name="_ftnref11" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn11">[11]</a>, Sunan Tirmidzi<a name="_ftnref12" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn12">[12]</a>, Sunan Abu Daud<a name="_ftnref13" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn13">[13]</a> dan Musnad Ahmad<a name="_ftnref14" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn14">[14]</a> serta Mustadrak Hakim.<a name="_ftnref15" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Yang menarik di sini, Bukhari yang menukil riwayat ini adalah orang yang hidup sezaman dengan imam Al-Jawad a.s. dan dengan dua imam yang lain; Imam Al-Hadi dan Imam Al-Askari a.s. Ini  merupakan sebuah keunikan yang besar, karena ia berdalil bahwa hadis ini telah dinukil dari Rasulullah sebelum kandungannya terwujud dan sebelum konsep kepemimpinan dua belas Imam itu terjadi di dunia nyata. Tentunya, tidak bisa diragukan lagi, bahwa penukilan hadis ini tidak dipengaruhi oleh kondisi nyata di luar dari dua belas Imam ataupun refleksi darinya, sebab hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Rasulullah adalah cerminan atau justifikasi atas peristiwa yang nantinya akan terjadi di masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka itu, selagi kita memiliki dalil bahwa hadis yang disebutkan tadi telah melalui rentetan sejarah para  Imam dua belas dan tercatat dalam kitab-kitab hadis sebelum menyempurnanya para personnya fakta kedua belas Imam, maka dapat kita tegaskan bahwa hadis ini bukanlah gambaran dari fakta yang terjadi di luar, akan tetapi ungkapan dari hakikat rabbani yang diucapkan oleh orang yang tidak pernah berucap selain wahyu dari Tuhan<a name="_ftnref16" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn16">[16]</a>. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">”Sesungguhnya khalifah sepeninggalku adalah dua belas orang”.</p>
<p style="text-align: justify;">Fakta dua belas imam ini telah nyata; diawali oleh Imam Ali a.s. dan diakhiri oleh Imam Mahdi sebagai misdaq (personifikasi) logis dari hadis mulia tersebut.<a name="_ftnref17" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Qutaibah ibn Said, dari Jabir ibn Samarah, dia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">”Aku datang bertemu dengan Rasulullah bersama ayah-ku, maka aku mendengar beliau bersabda: ‘Sesungguhnya urusan ini (agama Islam) tidak akan berakhir kecuali dua belas khalifah berlalu”. Jabir berkata: “Kemudian beliau bersabda dengan kata-kata yang tidak aku dengar, maka aku bertanya kepada ayahku, apa yang beliau sabdakan? Ayah menjawab semuanya dari bangsa Quraisy.”<a name="_ftnref18" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Muslim meriwayatkan dari jalur Ibnu Abu Umar, dari Abu Umar dari Hadab ibn Khalid, dari Nashr ibn Jahdhami, dan dari Muhammad  ibn Rafi’e; semua dari satu jalur. Dia juga menguatkan riwayat Abu Bakar ibn Abu Syaibah dari dua jalur, dan riwayat Qutaibah ibn Said melalui dua jalur yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, terdapat sembilan jalur dari hadis tersebut yang hanya terdapat dalam kitab Sahih Muslim. Belum lagi kalau kita mau membawakan hadis ini dari jalur-jalur yang beragam yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang lain dari mazhab Syi’ah maupun Ahli Sunnah.<a name="_ftnref19" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn19">[19]</a></p>
<h3 style="text-align: justify;">Kerancuan Ahli Sunnah Dalam Menafsirkan Hadis</h3>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan di sini adalah, siapa mereka para khalifah tersebut? Sebelum memilih jawaban yang benar dari soal ini, kita akan memberikan dua alternatif yang dapat diasumsikan pada hadis itu dan maksud Rasul saw.  darinya. Maka, di sini hanya ada dua kemungkinan dan tidak ada pilihan ketiga di dalamnya. Kedua kemung-kinan tersebut adalah;</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>1. Maksud dari sabda Nabi tersebut adalah penjelasan fakta politik umat beliau yang akan terjadi sepe-ninggal beliau, dengan cara penyingkapan akan masa depan. Sebagaimana hal ini juga terjadi dalam berbagai hal yang lain. Dengan demikian maksud hadis ini adalah pemberitahuan beliau akan masa mendatang dan menimpa umat beliau, atau dapat kita istilahkan kemungkinan pertama ini dengan nama tafsir mustaqbali (futurologis).</li>
<li>2. Kemungkinan kedua adalah Nabi bermaksud menentukan kedua belas Imam dan penggantinya, maka tujuan hadis ini adalah pelantikan sesuai dengan tuntutan syariat bukan kabar akan masa mendatang. Kemungkinan ini disebut juga sebagai tafsir aqaidiyah (teologis).</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sejauh kajian ilmiah, kita dituntut untuk mencermati  dua kemungkinan ini dan memilih apa yang sesuai dengan bukti logis maupun dogmatis. Hanya saja, karena Ahli Sunnah sejak awal telah meyakini teori khilafah dan  menolak teori pelantikan serta membangun sistem akidah dan hukumnya di atas keyakinan ini, pada gilirannya mereka tidak menemukan alternatif selain kemungkinan atau tafsiran pertama, dan dengan segala cara berupaya menakwilkan apa-apa yang bertentangan dengannya. Kendati produk-produk penakwilan mereka itu jauh dari nalar yang lurus dan kearifan insani, namun demikian ini adalah konsekuensi yang tak terelakkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Semestinya, Ahli Sunnah memandang hadis ini secara ilmiah dan bebas dari asumsi sehingga kita dapat melihat kelemahan tafsir futuralistik itu. Maka, jika Nabi saw. bermaksud menjelaskan ihwal kejadian di masa depan, mengapa beliau hanya menentukan dua belas orang saja? Bukankah masa depan itu lebih panjang   dari sekedar jumlah dua belas pemimpin? Dan jika Rasulullah melihatnya dengan kaca mata khilafah yang sah yang sesuai dengan norma-norma syariat, maka  Ahli Sunnah tidak akan siap untuk meyakini Khulafa Rasyidin dan menolak legalitas kepemimpinan selain mereka. Oleh karena itu, mereka kebingungan dalam menentukan dua belas pribadi pengganti yang telah disinggung oleh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan ini, maka dua belas imam atau pemimpin?menurut Ibnu Katsir?adalah keempat khalifah awal, lalu Umar ibn Abdul Aziz, dan sebagian khalifah dari dinasti Abbasiyah, di mana Imam Mahdi yang dijanjikan berasal dari mereka.<a name="_ftnref20" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Qadhi Damaskus, mereka adalah Khulafa’ Rasyidin, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya (Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam), dan diakhiri oleh Umar ibn Abdul Aziz<a name="_ftnref21" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn21">[21]</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Waliyyullah, seorang Ahli Hadis dalam kitab Qurratul ‘Ainain, sebagaimana dinukil dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, mereka adalah empat khalifah pertama muslimin, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya, Umar ibn Abdul Aziz, Walid ibn Yazid ibn Abdul Malik. Kemudian Waliyyullah menukil dari Malik ibn Anas seraya memasukkan Abdullah ibn Zubair ke dalam dua belas orang tersebut, akan tetapi dia menolak perkataan Malik dengan dalil riwayat dari Umar dan Ustman dari Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Abdullah ibn Zubair adalah sebuah bencana dari sederet malapetaka yang diderita umat Islam. Ia juga menolak dimasukkannya Yazid dan menegaskan, bahwa dia adalah sosok yang berperilaku bejat.<a name="_ftnref22" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Qayim Jauzi mengatakan: “Sedangkan jumlah khalifah itu dua belas orang; sekelompok orang yang di antaranya; Abu Hatim, Ibnu Hibban dan yang lain mengatakan bahwa yang terakhir dari mereka adalah Umar ibn Abdul Aziz. Mereka menyebut khalifah empat pertama, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Muawiyah ibn Yazid, Marwan ibn Hakam, Abdul Malik ibn Marwan, Walid ibn Abdul Malik, Sulaiman ibn Abdul Malik, dan khalifah yang kedua belas Umar ibn Abdul Aziz. Khalifah yang terakhir ini wafat pada tahun seratus Hijriyah; di abad pertama dan paling awal dari abad-abad kalender Hijriah manapun, pada abad inilah agama  berada di puncak kejayaan sebelum terjadi apa yang telah terjadi”.<a name="_ftnref23" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nurbasyti mengatakan: ”Cara terbaik memaknai hadis ini adalah menerapkan maknanya pada mereka yang adil, karena pada dasarnya merekalah yang berhak menyandang gelar sebagai khalifah, dan tidak mesti mereka memegang kekuasaan, karena yang dimaksud dari hadis adalah makna metaforis saja. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Mirqat”.<a name="_ftnref24" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan menurut Maqrizi, jumlah dua belas imam adalah khalifah empat pertama dan Hasan cucunda Nabi saw.  Ia mengatakan: “Dan padanya (Imam Hasan a.s.), masa khalifah rasyidin pun berakhir”. Maqrizi tidak memasukkan satu pun dari penguasa dinasti Umawiyah. Masih menurut penjelasannya, khilafah setelah Imam Hasan a.s. telah menjadi sistem kerajaan yang di dalamnya telah terjadi kekerasan dan kejahatan. Lebih lanjut, ia juga tidak memasukkan satu penguasa pun dari dinasti Abbasiyah, karena pemerintahan mereka telah memecah belah kalimat umat dan persatuan Islam, dan membersihkan kantor-kantor administrasi dari orang Arab lalu merekrut bangsa Turki. Yaitu, pertama-tama bangsa Dailam memimpin, lalu disusul bangsa Turki yang akhirnya menjadi sebuah bangsa yang begitu besar. Maka, terpecahlah kerajaan besar itu kepada berbagai bagian, dan setiap penguasa suatu kawasan mencaplok dan menguasainya dengan kekerasan dan kebrutalan.<a name="_ftnref25" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn25">[25]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, tampak jelas bagaimana kebingungan madrasah Khulafa’ (Ahli Sunnah) dalam menafsirkan hadis tersebut; mereka tidak sanggup keluar dari keadaan ini selagi berpegang pada tafsir futuralistik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa, As-Suyuthi mengatakan: ”Sampai sekarang, belum ada kesepakatan dari umat Islam mengenai setiap pribadi dua belas imam.”<a name="_ftnref26" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, jika tafsir futuralistik tersebut memang benar dan sesuai dengan kenyataan, maka pertama kali yang akan mengimaninya adalah para sahabat nabi, bukan yang lain, dan kita akan mendengar dampaknya secara langsung dari para khalifah itu sendiri. Khalifah pertama akan mengatakan, akulah khalifah pertama dari dua belas khalifah, khalifah  kedua juga demikian, begitu pula khalifah ketiga hingga khalifah kedua belas. Tentunya, pengakuan senada ini akan menjadi kebanggaan dan bukti yang mendukung legalitas kedaulatan setiap khalifah. Namun, sejarah tidak pernah mencatat satu pengakuan pun dari nama-nama khalifah yang telah disebutkan di atas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, hadis juga mengatakan bahwa masa kepemimpinan mereka adalah mencakup sepanjang sejarah Islam hingga akhir gugusannya; di mana dunia akan hancur ketika mereka sudah tidak ada lagi di muka bumi. Ahli Sunnah meriwayatkan dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">”Agama ini akan senantiasa tegak dan langgeng selama ada kedua belas pemimpin dari bangsa Quraisy. Tatkala mereka tiada, dunia akan hancur lebur.”<a name="_ftnref27" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn27">[27]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping bukti sejarah, kita juga melihat dunia belum hancur kendati Umar ibn Abdul Aziz itu telah mati. Bahkan setelah ketiadaannya, ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu agama  berkembang pesat, seperti fikih, hadis dan tafsir di abad ketiga dan keempat Hijriah. Lebih dari itu, dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu keislaman berkembang dan menyebar setelah meninggalnya dua belas imam versi  Ahli Sunnah, sementara dunia masih saja tidak hancur lebur.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan juga dari Jabir ibn Samarah:</p>
<p style="text-align: justify;">”Umat ini akan tetap tegar menjalankan agamanya, menaklukkan para musuhnya sehingga dua belas khalifah berlalu; mereka semua dari bangsa Quraisy, kemudian tibalah  kekacauan yang dahsyat.”<a name="_ftnref28" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn28">[28]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika maksud dari al-maraj dalam hadis itu  kegalauan dan kemelut, maka ini seharusnya tidak terjadi sampai masa Umar ibn Abdul Aziz. Sejarah juga mencatat, tidak ada cobaan dan fitnah, kemelut yang sangat dahsyat, kekacauan antara hak dan batil yang lebih besar dari tampilnya Muawiyah sebagai khalifah kaum muslimin. Ini berarti bahwa maksud dari al-maraj ialah kegalauan terbesar dan kemelut akbar. Dan boleh jadi maksudnya adalah ditinggalkannya agama secara total. Tak syak lagi, kekacauan ini tidak akan terjadi kecuali saat Hari Kebangkitan telah dekat; yaitu kekacauan yang didahu-lui oleh kemakmuran yang dibawa oleh Imam Mahdi a.s.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, apa maksud mereka memasukkan para raja ke dalam kategori khalifah kaum muslimin, padahal telah diriwayatkan oleh Ahli Sunnah dari Sa’ad ibn Abi Waqash; satu dari sepuluh sahabat pemberi harapan dan seorang juru runding yang telah ditentukan oleh Umar, bahwa ia pernah menemui Muawiyah setelah, sementara ia juga orang yang terlambat berbaiat kepadanya, dan berkata: ”Salam sejahtera kepada rajaku!” Muawiyah menjawab: “Kenapa bukan orang lain? Kalian adalah hamba yang mukmin, dan akulah Amiril Mukminin kalian”. “Memang demikian kalau kita menerimanya, dan kita juga disebut sebagai orang-orang yang beriman, hanya saja kami tidak mengangkatmu sebagai Amirul Mukminin”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aisyah juga telah menolak klaim Muawiyah sebagai khalifah. Begitu pula Ibnu Abbas dan Imam Hasan a.s. melakukan hal yang sama. Bahkan, setelah perdamaian beliau dengannya,<a name="_ftnref29" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn29">[29]</a> Muawiyah adalah satu dari sekian manusia zalim yang disepakati umat, karena sabda nabi:</p>
<p style="text-align: justify;">”Wahai Ammar! kamu akan dibunuh oleh golongan yang zalim”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami juga tidak memahami kenapa orang zalim menjadi khalifah Rasul saw. atas umat Islam?!  Lalu, apa maksud mereka memasuk-masukkan anak Muawiyah; Yazid yang secara terbuka menyatakan maksiat dan kezaliman-nya, menginjak-injak kehormatan dan hukum Allah swt.?! Ini adalah hal yang sangat mengherankan sekali; bagaimana mungkin kaum muslimin menerima orang yang telah menumpahkan darah Ahlul Bait Nabi saw., orang yang bala tentaranya menghancurkan kota Madinah Munawwarah dan membantai sekitar sepuluh ribu penduduknya sehingga tidak tersisa lagi pejuang perang Badar setelah tragedi “Al-Hirrah”, lalu tetap saja diperkenalkan sebagai khalifah Rasulullah saw.?! Dan begitulah halnya dengan para penguasa yang menurut Al-Quran sebagai pohon yang terlaknat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah juga pernah melihat mereka dalam mimpinya?dan kita ketahui mimpi para nabi itu benar dan jujur sejujur sinar surya di pagi hari?bahwa mereka (pohon terkutuk tersebut) akan bertengger dan bergelantungan di mimbar beliau layaknya monyet-monyet. Demikian ini sesuai pendapat mayoritas ahli tafsir dari Ahli Sunnah, yaitu ketika mereka menafsirkan ayat ke-60 dari surat Al-Isra’, tanpa perlu dibawakan redaksi pernyataan mereka secara detail.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, akan tampak jelas bagi kita tiga poin penting dan jelas berikut ini:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>a. Kesalahan tafsir pemberitaan futuralistik atas hadis kepemimpinan dua belas orang imam.</li>
<li>b. Faktor dan motif politis yang memaksa dan mengarahkan Ahli Sunnah kepada tafsir tersebut.</li>
<li>c. Kebenaran tafsir teologis yang menjelaskan pelantikan Rasulullah saw. atas dua belas imam kaum muslimin. Tafsir ini bersandar pada dalil logis, quranik serta hadis yang banyak sekali dan sering kita jumpai dalam pusaka ajaran para imam, yang kuno maupun yang terbaru, di berbagai bidang tafsir, hadis, kalam dan sejarah.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, sejarah tetap bersikeras bahwa dua belas imam dari Ahlul Bait a.s. adalah manifestasi tunggal yang tak terbantahkan dari hadis tersebut, walaupun hanya melalui pengakuan tegas. Mereka diawali oleh Amirul Mukminin Ali ibn Abi Tahlib a.s. dan diakhiri oleh Imam Zaman, Al-Mahdi Al-Muntadzar a.s.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini, telah banyak hadis mulia yang tak terhitung jumlahnya, yang menunjukkan manifestasi tersebut. Di sini, kami akan menyebutkan satu di antara hadis-hadis itu, yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Juwaini As-Syafi’i dalam kitab Faraidus Samthain, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw.; beliau  bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">”Aku adalah penghulu para nabi, dan Ali ibn Abi Thalib penghulu para washi (khalifah), dan washi-washi setelahku berjumlah dua belas; yang pertama Ali ibn Abi Thalib, dan yang terakhir Al-Mahdi.”<a name="_ftnref30" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Atas dasar ini, sebagian para peneliti<a name="_ftnref31" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn31">[31]</a> mengasumsikan bahwa apa yang telah tertera dalam kitab-kitab hadis?yang menyebutkan bahwa tatkala Jabir ibn Samarah tidak mendengar dan tidak memahami sabda Nabi saw. kemudian bertanya kepada ayahnya yang segera  memberi jawaban, bahwa Rasulullah bersabda: ”Semuanya dari bangsa Quraisy”?telah mengalami tahrif dan penyensoran terhadap jawaban sang ayah. Demikian pula, sebagian riwayat telah membongkar sebab ketaktegasan jawaban tersebut, misalnya; “Lantas kaum muslimin yang hadir di sana gaduh dan berbicara satu sama lain”, atau “Orang-orang berteriak”, atau “Rasulullah mengatakan sesuatu yang membuat manusia hingga menulikan telingaku”, atau “Kemudian manusia berteriak sehingga aku tidak mendengar yang disab-dakan Nabi”, atau “Manusia bertakbir dan berteriak”, atau “Tiba-tiba orang-orang berdiri dan duduk”.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua sebab-sebab ketaktegasan jawaban itu tidak sesuai dengan apa yang didengar oleh perawi, karena penetapan kepemimpinan pada bangsa Quraisy adalah pernyataan yang mudah dan tidak perlu diteriakkan dan diherankan. Maka dari itu, apa yang sesuai dengan kondisi yang kita gambarkan dalam riwayat ialah bahwa kepemimpinan ilahi itu adalah kewenangan kelompok tertentu, bukan pada bangsa Quraisy secara umum. Inilah yang telah dibawakan oleh Al-Qanduzi dalam kitab Yanabiul Mawaddah. Di sana, ia menegaskan bahwa kalimat yang disabdakan oleh Rasulullah saw. menyata-kan bahwa semua pemimpin itu dari Bani Hasyim.<a name="_ftnref32" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftn32">[32]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Maka, tatkala tampak kesalahan tafsir pemberitaan futuralistik atas hadis kepemimpinan dua belas imam dari satu sisi, dan tampak kebenaran tafsir teologis dari sisi kedua, serta tampak nama Al-Mahdi dalam silsilah dua belas imam Ahlul Bait a.s. sebagai Imam Kedua Belas yang dengannya Allah swt. memperbaiki dunia setelah kehancurannya dari sisi ketiga, tentu tidak ada keraguan lagi mengenai validitas konsep Mahdiisme yang ditekankan oleh mazhab Ahlul Bait a.s. lantaran adanya relasi yang sangat erat antara prinsip Imamah Dua Belas Imam dan konsep Mahdiisme; di mana relasi ini memperlihatkan tiga poin di atas itu dari dalam konsep Mahdiisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya kegagalan tafsir futuralistik atas prinsip Imamah Dua Belas Imam berarti juga kegagalan  tafsir demikian ini atas konsep Mahdiisme, sebagaimana kebenaran acuan politis pada tafsir ini mengenai prinsip Imamah Dua Belas Imam merupakan kebenaran acuan tersebut sekaitan dengan konsep Mahdiisme. Sebab, selain kalangan Ahli Sunnah memandang hadis ‘Khilafah Itsna Asyariyah’ sebagai pemberitaan masa depan berdasarkan teori Saqifah dan Khilafah serta legalitasnya, mereka juga memandang perlunya meletakkan konsep Mahdiisme dalam kerangka tafsir futuralistik sebagai upaya menghindari konsekuensi dari hak kepemimpinan Ahlul Bait a.s. dan dari ilegalitas sistem khilafah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu sebaliknya juga benar, bahwa terbuktinya kebenaran tafsir teologis atas hadis ‘Imamah Itsna Asyariyah’ berarti juga terbuktinya kebenaran muatan teologis dari konsep Mahdiisme.[]</p>
<h5 style="text-align: justify;">
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Lihat Mu’jam Imam Mahdi a.s., juz 1 hadis-hadis Nabi saw.</p>
<p><a name="_ftn2" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Musnad Imam Ahmad juz 1, hal. 84, hadis ke-646 dan Ibnu Abi Syaibah juz 8 hal. 678, kitab ke-40, bab 2, hadis ke-90, Ibnu Majah dan Naim ibn Hamad di dalam fitnah-fitnah tentang Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Imam Mahdi dari kami Ahlul bait di mana Allah akan menyiapkan segalanya dalam semalam”. Lihat Sunan Ibnu Majah 2/ 1367, hadis ke-4085, Al- Hawi lil fatawa, karya As-Suyuthi: 2/213,  215. Di sana juga disebutkan, bahwa Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dan Abu Daud meriwayatkan dari Imam Ali a.s. dari Nabi saw.; beliau bersabda: “Jika zaman sudah tak tersisa lagi kecuali satu hari saja, maka Allah akan mengutus seorang hambanya dari Ahlul baitku yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan seperti telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.” Lihat Shahih Sunan al- Mustafa 2/207. Lihat juga Mu’jam Hadis Imam Mahdi: 1/147 dan setelahnya, di mana telah dinukil riwayat yang begitu banyak dari kitab-kitab Ash-Shihah dan musnad dengan kandungan seperti ini.</p>
<p>Lihat juga Ensiklopedia Imam Mahdi a.s. karya Mahdi Faqih Imani, juz pertama. Di sana terdapat penukilan dari puluhan kitab-kitab ulama Ahli Sunnah dan para Ahlul Hadis tentang Imam Mahdi a.s.  dan sifat-sifatnya dan apa yang berkaitan dengannya, di sana juga terdapat artikel yang telah dikopi dari keterangan Syeikh Al-‘Ibad tentang hadis-hadis yang dan karya-karya ihwal Imam Mahdi a.s.</p>
<p><a name="_ftn3" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Al-Hawi lil fatawa, Jalaludin As-Suyuthi; juz 2 hal. 214, dia berkata: “Abu Daud, Ibnu Majah, Thabrani, dan Hakim dari Ummi Salamah; beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Mahdi dari Itrahku dari keturunan Fatimah.” Lihat Sahih Sunanul Musthafa, karya Abi Daud: juz 2 hal. 208, dan Sunan Ibnu Majah: juz 2/1378 hadis ke-4086.  </p>
<p><a name="_ftn4" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> ‘Hadisul Mahdi min Durriyatil Husain a.s., sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber berikut ini, juga dinukil oleh Mu’jam Hadis Mahdi, dan itu 40 hadis dari Abu Nu’aim, Al-Isfahani sebagaimana disebutkan oleh ‘Aqdu Ad-Durar, Muqaddisi Syafii. Thabrani juga meriwayatkan dalam Al-Ausath seperti yang dinukil al-Manarul Munif karya Ibnu Qayyim, dan di Sirah Halabiyah juz 1 hal. 193, dan di Al-Qaul Al-Mukhtashar, Ibnu Hajar Al-Haitsami. Lihat Muntakhabaul Atsar, Syeikh Luthfullah Ash-Shafi tentang apa yang ia nukil dari kitab-kitab Syi’ah. Lihat pula dalil-dalil kelemahan riwayat yang mengatakan bahwa beliau dari keturunan Imam Hasan a.s., kitab Sayyid Al-‘Amidi, Difa’ ‘Anil Kafi; juz 1, hal. 296.</p>
<p><a name="_ftn5" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Lihat riwayat yang menandaskan bahwa beliau keturunan ke-tujuh dari Imam Husain a.s. di Yanabi’ul Mawaddah, Al-Qanduzi Al-Hanafi, hal. 492, Maqtalul Imam Husain  as Kharazmi juz 1 hal. 196, Faraidu Simthain Juwaini Syafii; juz 2 halaman 310-315, hadis-hadis dari 561-569, lihat pula Muntakhabul Atsar karya Ash-Shafi, di saat ia meriwayatkan dari dua jalur.</p>
<p><a name="_ftn6" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref6"></a> </p>
<p><a name="_ftn7" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Hadis “Para pengganti setelahku berjumlah dua belas orang, kesemuanya dari bangsa Quraisy”, atau hadis “Agama ini senan-tiasa akan langgeng dengan keberadaan 12 pemimpin yang berasal dari suku Quraisy” adalah mutawatir, dan diriwayatkan oleh kitab-kitab Shahih dan Musnad dengan berbagai jalan, kendati terdapat perbedaan sedikit dari sisi kandungannya. Memang mereka berbeda pendapat dalam penafsirannya dan tampak  kebingungan. Lihat Sahih Bukhari; juz 9, hal. 101, Kitabul Ahkam – bab ‘Al-Istikhlaf’, Sahih Muslim juz 6, halaman 4 kitab ‘Al-Imarah’, bab ‘Al-Istikhlaf’, Musnad Ahmad juz 5 hal. 90, 93 dan 97. </p>
<p><a name="_ftn8" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref8">[8]</a> Lihat Al-Gaibah Kubra, Sayyid Shadr: hal. 272, dan seterusnya.</p>
<p><a name="_ftn9" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref9">[9]</a> Lihat At-Tajul Jami’ lil Ushul: juz 3 halaman 40. dia berkata</p>
<p><a name="_ftn10" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref10">[10]</a> Shahih Bukhari, jild 3: 9/101, kitab ‘Al-Ahkam, bab Al-Istikhlaf’, cetakan Dar- Ihya’ Turats Al-Arabi, Beirut.</p>
<p><a name="_ftn11" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref11">[11]</a> Lihat At-Tajul Jami’ lil Usul 3/40.</p>
<p><a name="_ftn12" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref12">[12]</a> Lihat At-Tajul Jami’ lil Usul 3/40.</p>
<p><a name="_ftn13" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref13">[13]</a> Lihat At-Tajul Jami’ lil Usul 3/40.</p>
<p><a name="_ftn14" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref14">[14]</a> Musnad Ahmad; 6/ 99 hadis ke 20359.</p>
<p><a name="_ftn15" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref15">[15]</a> Al-Musatadrak: 3/ 618.</p>
<p><a name="_ftn16" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref16">[16]</a> Hal ini sesuai dengan firman Allah:”dia tidak pernah berbicara atas dasar hawa nafsu, akan tetapi wahyu semat”. An-Najm 3-4.</p>
<p><a name="_ftn17" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref17">[17]</a> Para ulama merasa kebingungan dalam menerapkan hadis tersebut, dan apa yang mereka bawakan dari person-person tidak dapat diterima, bahkan sebagian tidak masuk akal sama sekali seperti dimasuk-masukkannya Yazid putra Muawiyah orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan dan kefasikan, orang yang divonis sebagai murtad, kafir atau mereka yang selevel dengannya.</p>
<p><a name="_ftn18" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref18">[18]</a> Sahih Muslim: 6 / 3 kitab ‘Al-Imarah’.</p>
<p><a name="_ftn19" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref19">[19]</a> Lihat Sahih Bukhari 4: 164, kitab Al-Ahkam, bab Istiklaf, Musnad Ahmad: 6/94, hadis ke-325, 20366, 20367, 20416, 20443, 20503, 20534, Sunan Abi Daud 4:107  4279-4280, Al-Mu’jamul Kabir, Thabrani : 2/238/1996, Sunan Tirmizi: 4/501, Mustadrak Hakim : 3/618, Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim: 4/333, Fathul Bari: 13/211, Syarah Sahih Muslim karya Nawawi: 12/201, Al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir: 1/153, Tafsir Ibnu Katsir: 2/24 –dalam menafsirkan ayat ke-12 dari surat Al-Maidah, kitab Suluk fi Duali Muluk, Al-Maqrizi: 1/13–15 pada bagian pertama, Syarah Hafiz Ibnu Qayim Jauzi atas Sunan Ibnu Daud: 11/363, Syahrul Hadis 4259, Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyah: 2/736, Al-Hawi lil Fatawa, As-Suyuti: 2/85, ‘Aunul Ma’bud, Syarh Abi Daud, Al-‘Adhim Abadi: 11/362, Syarhul Hadis 4259, Misykatl Mashabih, At-Tabrizi: 3/327, 5983, As-Silsilatu Sahihah, Al-Albani, hadis ke-376, Kanzul Ummal: 12/32, 33484 dan 12/33/33858 dan 12/34/33861. Hadis ini juga diriwayatkan oleh para tokoh hadis Syi’ah. Di antara mereka adalah Syeikh Shaduq ra. dalam Kamaluddin, 1:172, Al-Khishal, 2:469 dan 475, dan telah diperiksa jalur-jalur hadis ini secara cermat, di mana para perawinya dari kalangan sahabat yang disebutkan dalam Ihqaqul Haq: 13/1-50.</p>
<p><a name="_ftn20" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref20">[20]</a> Tafsir Al-Quran Karim, Ibnu Kasir: 2/34, saat menafsirkan ayat ke 12 dari surah Maidah.</p>
<p><a name="_ftn21" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref21">[21]</a> Syarhul Aqidah Thahawiyah, Qadhi Damaskus: 2 / 736.</p>
<p><a name="_ftn22" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref22">[22]</a> ‘Aunul Ma’bud fi Syarhi Sunani Abi Daud: 11/246, pada pen-jelasan hadis 427, kitab ‘Al-Mahdi’, cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah.</p>
<p><a name="_ftn23" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref23">[23]</a> ‘Aunul Ma’bud fi Syarhi Sunani Abi Daud:11/245.</p>
<p><a name="_ftn24" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref24">[24]</a> ‘Aunul Ma’bud fi Syarhi Sunani Abi Daud: 11/244.</p>
<p><a name="_ftn25" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref25">[25]</a> As-Suluk lima’rifati Dualil Muluk: 1 / 13-15 bagian pertama.</p>
<p><a name="_ftn26" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref26">[26]</a> Al-Hawi lil Fatawa: 2/85.</p>
<p><a name="_ftn27" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref27">[27]</a> Kanzul Ummal: 12.34, hadis ke-33861, diriwayatkan oleh Ibnu Najjar dari Anas.</p>
<p><a name="_ftn28" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref28">[28]</a> Kanzul Ummal: 12 / 32, hadis 32848.</p>
<p><a name="_ftn29" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref29">[29]</a> Lihat Al-Ghadir, Allamah Amini: 1/ 26-27.</p>
<p><a name="_ftn30" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref30">[30]</a> Faraidus Samthain: 2/313, hadis ke-564.</p>
<p><a name="_ftn31" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref31">[31]</a> Al-Ghadir wa Mu’aridhun, Sayyid Ja’far Murtadha Al-‘Amili:70-72.</p>
<p style="text-align: justify;"><a name="_ftn32" href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-admin/#_ftnref32">[32]</a> Yanabi’ul Mawaddah: 3/104, bab 77.</p>
</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/pembuktian-teologis-atas-konsep-mahdiisme-menurut-ahlul-bait-a-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FILSAFAT PENCIPTAAN MANUSIA</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/filsafat-penciptaan-manusia/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/filsafat-penciptaan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 14:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Penciptaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Tujuan dari Penciptaan Manusia? Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini? Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-318" title="av-1336" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/av-1336-300x300.jpg" alt="av-1336" width="300" height="300" />Apakah Tujuan dari Penciptaan Manusia?</h3>
<p style="text-align: justify;">Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, kira-kira bagian alam manakah yang akan rusak? Dan apakah masalah yang akan timbul? Apakah kita perlu untuk mengetahui; mengapa kita datang dan pergi? Dan untuk mengetahui makna dari semua ini, apakah kita punya kemampuan untuk itu? Dan beribu pertanyaan lain sebagai konsekuensi dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memenuhi pikiran manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kali kaum materialis mengutarakan pertanyaan semacam ini, sepertinya belum ada jawaban (yang dapat memuaskan). Karena, alam materi tidak memiliki akal dan perasaan sama sekali sehingga ia dapat memiliki sebuah tujuan. Dengan alasan inilah, mereka telah meloloskan diri dari persoalan ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia melangsungkan hidupnya di seluruh bidang seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila sebagian mereka setelah melakukan perenungan terhadap persoalan ini, merasa puas dengan kehidupan yang nihil dan tanpa tujuan ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, ketika pertanyaan ini dipertanyakan oleh seorang penyembah Tuhan kepada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menemui jalan buntu. Karena dari satu sisi, ia tahu bahwa pencipta dunia ini adalah Mahabijaksana dan pastilah apa yang Dia ciptakan mempunyai sebuah hikmah yang luar biasa, walaupun kita tidak tahu akan hal tersebut. Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa konyol jika kita meyakini kebertujuan semua anggota itu, tetapi keberadaan alam semesta (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan?</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa bodoh jika kita meyakini bahwa setiap bangunan di sebuah kota mempunyai tujuan dan filsafat, akan tetapi bangunan-bangunan itu (secara keseluruhan) tidak tidak memiliki tujuan sama sekali?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah mungkin seorang insinyur membangun sebuah bangunan besar yang seluruh ruangan, koridor, pintu, jendela, kolam, dekor, dan lain sebagainya, masing-masing dirancangnya dengan maksud dan tujuan tertentu, tetapi seluruh bangunan itu (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan sama sekali?</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberikan kepercayaan kepada seorang manusia mukmin bahwa penciptaan dirinya mempunyai tujuan yang sangat agung, yang untuk memahami hal tersebut, ia harus berusaha dan memanfaatkan kekuatan ilmu serta akal.</p>
<p style="text-align: justify;">Ironisnya, para penganut Nihilisme; ketakbermaknaan penciptaan ini malah masuk ke dalam semua bidang ilmu-ilmu alam untuk menginterpretasikan beragam fenomena yang ada untuk mencari suatu tujuan, dan mereka tidak bisa duduk tenang kecuali telah mendapatkan apa yang mereka maksudkan. Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran begitu kecil yang berada dalam bagian badan manusia tanpa mempunyai sebuah aktifitas pun, dan mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini. Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa sebuah kontroversial yang sangat menakjubkan!</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanapun, iman pada hikmah Allah Swt. dari satu sisi, dan beragam filsafat yang terdapat pada setiap bagian dari wujud insan pada sisi lain akan membentuk diri kita menjadi seorang mukmin. Hal ini merupakan sebuah tujuan agung dari penciptaan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini kita harus mencoba mencari apa tujuan tersebut, dan sejauh kemampuan kita akan mencoba menyingkapnya dan setelah itu, kita akan berusaha melangkahkan kaki ke arahnya secara bertahap. Perhatian terhadap satu masalah prinsip akan mampu membentuk pelita yang menerangi jalan yang gelap ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita senantiasa mempunyai tujuan dalam setiap apa yang kita lakukan. Tujuan tersebut biasanya dalam rangka menutupi kekurangan dan kebutuhan yang kita miliki. Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, semua ini pun merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan karena kita sering membandingkan sifat dan perbuatan Ilahi dengan sifat dan perbuatan diri kita, mungkin saja akan memunculkan sebuah pertanyaan; adakah kekurangan yang dimiliki oleh Allah Swt. sehingga menciptakan kita untuk menutupi kekurangan itu? Dan apabila di dalam salah satu ayat Al-Qur’an kita menemukan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk melakukan ibadah dan penghambaan, lalu apa perlunya Dia membutuhkan penghambaan dari kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Cara berpikir yang demikian ini muncul lantaran komparasi sifat Khaliq dengan makhluk, dan antara yang Wajib dengan yang mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Wujud kita adalah sebuah wujud yang terbatas, maka kita harus melakukan usaha untuk menutupi kekurangan yang ada dan semua amalan kita dalam rangka memenuhi kekurangan ini. Akan tetapi, pada sebuah wujud yang tanpa batas, penjelasan ini tidaklah bisa diterima. Kita harus mencari tujuan perbuatan-Nya dari selain wujud-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah Sang Awal dan Sumber kenikmatan. Segenap makhluk berada dalam genggaman kepedulian, perhatian dan pemeliharaan-Nya. Dia membawa mereka dari kekurangan kepada kesempurnaan. Inilah tujuan hakiki dari penghambaan (‘ubûdiyah) kita, dan inilah filsafat dari ibadah dan doa kita; dimana semua itu merupakan rangkaian pendidikan bagi kesempurnaan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk kesempurnaan wujud kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada prinsipnya, penciptaan merupakan satu langkah menuju kesempurnaan yang sangat agung yang akan membuat ketiadaan menjadi sebuah wujud; dari tidak ada menjadi ada, dan dari nol menuju angka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah tuntasnya proses kesempurnaan yang agung ini, tahapan kesempurnaan yang lain akan dimulai dan seluruh program agama dan Ilahi akan berada dalam rute ini.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mengapa Allah tidak Menciptakan Manusia secara sempurna dari Sejak Awal Penciptaannya?</h3>
<p style="text-align: justify;">Dasar pertanyaan muncul dari kelalaian terhadap satu hal, yaitu bahwa asas utama kesempurnaan (takamul) adalah kesempurnaan yang dicapai secara ikhtiyârî. Dengan kata lain, manusia melakukan perjalanannya berdasarkan kehendak, dan keputusannya sendiri. Apabila ia berjalan dengan dituntun atau ditarik paksa, ini bukan merupakan sebuah kebanggaan, bukan pula sebuah kesempurnaan. Apabila manusia menginfakkan satu rupiah dari kekayaannya dengan kesadaran dan kehendaknya sendiri, maka ia telah melangkahkan kakinya ke arah kesempurnaan hakiki. Sementara, apabila orang lain telah dipaksa mengeluarkan berjuta-juta dari kekayaannya untuk diinfakkan, ia tidak akan mengalami kemajuan dalam proses kesempurnaannya, hatta satu langkah sekali pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, berbagai ayat di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa apabila Allah swt. menghendaki keseluruhan manusia untuk beriman secara terpaksa, iman demikian ini tidak akan pernah membawa berguna bagi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang berada di muka bumi ini akan beriman seluruhnya &#8230;.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Tujuan dari Kesempurnaan Manusia</h3>
<p style="text-align: justify;">Sebagian mengatakan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk kesempurnaan manusia. Akan tetapi, apa tujuan dari kesempurnaan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Secara ringkas, jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa kesempurnaan merupakan tujuan akhir, atau dengan ibarat lain, kesempurnaan merupakan tujuan dari segala tujuan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjelasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Apabla kita bertanya dari seorang pelajar, “Untuk apa kamu belajar?”, pasti ia akan segera menjawab, “Karena aku ingin melanjutkan pelajaranku sampai ke perguruan tinggi.” Selanjutnya, apabila kita bertanya, “Untuk apa belajar di perguruan tinggi?”, ia akan menjawab, “Karena (misalnya) aku ingin menjadi seorang dokter, atau insinyur yang andal.” Ketika kita bertanya lagi, “Untuk apa kamu menginginkan gelar dokter atau insinyur tersebut?” Ia akan menjawab, “Supaya aku bisa melakukan aktifitas-aktvitas yang positif dan memperoleh income yang bagus”, Lalu, “Untuk apa kamu menginginkan income yang bagus itu?” Jawabannya adalah, “Untuk mendapatkan kehidupan yang senang dan terhormat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, jika kita bertanya, “Lalu, untuk apa kamu menginginkan kehidupan yang senang dan terhormat tersebut?” Di sini, kita akan melihat bahwa nada suaranya akan menjadi berubah dan menjawab, “Ya &#8230; untuk kehidupan yang senang dan terhormat itu tadi.” Tampak bagaimana ia mengulangi apa yang telah dikatakan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah dalil bahwa ia telah sampai pada jawaban terakhir. Dengan ungkapan lain, ia telah sampai pada sebuah aktifitas di mana ia tidak akan menemukan jawaban lain selain hal tersebut dan membentuk sebuah tujuan terakhir. Semua ini berkenaan dengan kehidupan materi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan maknawi pun masalah akan muncul sebagaimana di atas. Ketika ditanyakan; untuk apakah kehadiran para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, dan kewajiban serta rangkaian pendidikan ini, kita akan mengatakan; untuk kesempurnaan manusia dan taqarrub kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan apabila ditanyakan; untuk apakah kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. itu?, kembali kita akan mengatakan; ya, untuk kedekatan kepada Allah Swt. itu sendiri. Dengan demikian, bisa diketahui bahwa tujuan ini merupakan tujuan akhir dari kesempurnaan manusia. Dengan ungkapan lain, kita menginginkan segala sesuatu yang ada untuk kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. Akan tetapi, kedekatan kepada Allah Swt. adalah tujuan itu sendiri.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Ujian Tuhan Terhadap Manusia</h3>
<p style="text-align: justify;">Terdapat banyak pembahasan tentang masalah ujian Ilahi ini. Pertanyaan pertama yang akan muncul di dalam pikiran adalah bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt. -yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas- masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban atas pertanyaan penting ini (dapat dipecahkan) dengan merenungkan realita bahwa ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah —seperti yang telah dijelaskan di atas— untuk mengenal lebih banyak dan menyingkapkan kejahilan. Akan tetapi, ujian Ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjelasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari dua puluh macam ujian yang telah dinisbahkan kepada Allah Swt. Ini merupakan satu hukum universal dan sunah yang abadi dari Allah Swt. Dia menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak (dan mengubah sesuatu dari wujud potensi [quwwah] menjadi aktual [fi’liyah]) dan —pada akhirnya— untuk mendidik para hamba. Sebagaimana baja harus dimasukkan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan berkualitas baja dan tahan tempa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hakikatnya, ujian dari Allah Swt. ini mirip dengan pekerjaan seorang tukang kebun yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam menebarkan biji-biji yang berpotensi di atas tanah-tanah yang telah siap. Biji-biji ini akan memulai perkembangan dan pertumbuhannya dengan memanfaatkan sumber-sumber alami, dan secara bertahap, ia akan bertahan  melawan kesulitan dan perubahan yang ada di sekitarnya, berdiri tegak ketika berhadapan dengan topan besar, dingin yang mematikan dan panas yang membakar sehingga ia melahirkan bunga-bunga yang cantik, atau berubah menjadi pokok pohon yang rimbun dengan buah yang merumpun yang akan bisa membawanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi segala kesulitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan yang sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat lain, Al-Qur’an menjelaskan hakikat ini: “&#8230; dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)</p>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. memberikan penjelasan yang penuh makna tentang filsafat ujian Ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perrbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai olok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplementasikan ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt. memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila tidak ada ujian dari Allah Swt., potensi ini tidak akan pernah aktual, dan wujud sebuah pohon yang berbentuk seorang manusia tidak akan pernah membuahkan perbuatan yang nyata. Inilah filsafat cobaan Ilahi dalam logika Islam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/filsafat-penciptaan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karbala dan Perspektif Para Cendekia</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/karbala-dan-perspektif-para-cendekia/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/karbala-dan-perspektif-para-cendekia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 11:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Yazid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah dapat diumpamakan seperti samudera besar. Di samudera besar itu penuh dengan fenomena dan goncangan-goncangan yang dilalui ummat manusia di masa lalu. Salah satu goncangan besar yang tercantum dalam sejarah manusia adalah peristiwa Karbala. Hampir 14 abad lalu, tragedi Karbala telah berlalu, namun pengaruhnya tetap berlanjut hingga kini. Dalam peradaban ummat Islam, kebangkitan Imam Husein [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-222" title="karbala3  [SinaGraphic.persianblog]" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/karbala3-SinaGraphic.persianblog-300x225.jpg" alt="karbala3  [SinaGraphic.persianblog]" width="300" height="225" />Sejarah dapat diumpamakan seperti samudera besar. Di samudera besar itu penuh dengan fenomena dan goncangan-goncangan yang dilalui ummat manusia di masa lalu. Salah satu goncangan besar yang tercantum dalam sejarah manusia adalah peristiwa Karbala. Hampir 14 abad lalu, tragedi Karbala telah berlalu, namun pengaruhnya tetap berlanjut hingga kini.<span id="more-221"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam peradaban ummat Islam, kebangkitan Imam Husein as di Karbala merupakan kisah hero dan patriotis yang abadi. Rasulullah diutus di muka bumi ini untuk memberikan pencerahan ummat manusia, sedangkan Imam Husein as gugur syahid di Karbala untuk melanggengkan ajaran Islam dan membimbing manusia di jalan yang lurus. Terkait hal ini, sabda historis Rasulullah Saww terkait Imam Husein, menemukan makna sebenarnya. Rasulullah bersabda, &#8220;Husein dariku dan aku dari Husein as.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bersamaan dengan gugurnya Imam Husein as, peristiwa itu tersebar dengan cepat di kalangan ummat Islam. Bani Ummayah yang merupakan dalang di balik pembantaian terhadap cucu kesayangan Rasulullah Saww, mengerahkan kroni-kroninya untuk menyimpangkan peristiwa sebenarnya. Para ahli mimbar pun dikerahkan menyudutkan para pejuang anti-Yazid. Namun upaya itu ternyata gagal. Peristiwa Karbala sama sekali tidak dapat disimpangkan. Penguasa saat itu pun menyadari bahwa hati masyarakat bersama Imam Husein as. Masyarakat Irak dan Madinah merasa bersalah dengan membiarkan Imam Husein as dibantai di bumi Karbala. Mereka pun terpanggil untuk membalas kezaliman dinasti Bani Ummayah yang saat itu dipimpin Yazid. Pengorbanan Imam Husein as malah menjadi awal pergerakan anti-kezaliman.</p>
<p style="text-align: justify;">Abul Aswad Al-Duali yang disebut-sebut sebagai penggagas ilmu nahwu, setiap kali menyebut dan mengingat Imam Husein as dan Karbala membaca surat Al-A&#8217;raf ayat 23. Ayat itu menyebutkan, &#8220;Keduanya berkata; Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tragedi Karbala kini menjadi bagian sejarah yang tidak akan terlupakan bagi manusia. Para cendekiawan dan ulama sama sekali tidak dapat mengabaikan perjuangan besar Imam Husein as dalam menghadapi kezaliman saat itu. Mereka menyebut Imam Husein sebagai pahlawan kemuliaan dan kebebasan, dan menilai Asyura sebagai peristiwa heroik dan agung dalam sejarah manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Jahedz, seorang sastwaran dan penulis terkemuka Arab dalam catatannya mengenai pengaruh destruktif Bani Ummayah dalam sejarah Islam, mengatakan, &#8220;Setelah Muawiyah, penguasa selanjutnya adalah putra Muawiyah yang bernama Yazid. Yazid melakukan kebrutalan-kebrutalan yang di antaranya adalah menyerang kota Makkah, menghancurkan Kabah, menodai kota suci Madinah dan membantai Imam Husein as, cucu kesayangan Rasulullah Saww. Imam Husein as dan keluarganya yang merupakan pelita kebenaran dan tokoh-tokoh Islam, dibantai. Padahal sebelumnya, Imam Husein as meminta para sahabatnya untuk meninggalkannya. Imam tidak berkeinginan untuk perang. Meski demikian, para penguasaan Bani Umayah tetap tidak puas kecuali dengan membunuh Imam Husein as.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Jabbar Al-Muktazili dalam bukunya &#8220;Sharh Al Ushul Al-Khamsah&#8221; menulis, &#8220;Jika ammar makruf dan nahi munkar mengancam jiwa manusia, maka kewajiban itu gugur kecuali dalam rangka menegakkan kemuliaan agama.&#8221; Ia melanjutkan, &#8220;Kebangkitan Imam Husein as dapat ditafsirkan bahwa kesabaran dan pengorbanan beliau dipersembahkan untuk memuliakan agama Allah Swt. Kita sebagai ummat Islam juga membanggakan perjuangan Imam Husein as di hadapan para pengikut agama lain. Sebab, putra Rasulullah yang saat itu tinggal satu, tetap tidak meninggalkan kewajiban amar makruf dan nahi munkar hingga gugur syahid di jalan Allah Swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Jauzi Hanbali, seorang pakar tafsir dan sejarawan terkemuka Islam menulis, &#8220;Jika orang yang paling bodoh di kalangan masyarakat ditanya; Siapakah yang terbaik antara Imam Husein as dan Yazid?&#8221; Orang yang paling bodoh itu pasti menjawab, &#8220;Yang terbaik adalah Imam Husein as.&#8221; Para pengikut Yazid menyebut Imam Husein as sebagai sekelompok pembangkang. Terkait hal ini Ibnu Jauzi Hanbali menjawab, &#8220;Pembangkang adalah pihak yang menentang kebenaran. Akan tetapi Imam Husein as tak diragukan lagi bahwa beliau adalah penentang kebatilan dan penegak kebenaran.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Abil Hadid, seorang ulama Ahlu Sunnah, seringkali menyinggung kebangkitan Imam Husein as dalam berbagai kesempatan. Penafsiran Ibnu Abil Hadid mengenai Asyura mengandung penghormatan luar biasa kepada Imam Husein as. Ibnu Abil Hadid menulis, &#8220;Pemimpin agung yang pantang menyerah dan pahlawan para pejuang yang berjuang melawan kehinaan, senantiasa memberikan pelajaran keperkasaan, kemuliaan dan kematian dalam kondisi mulia kepada generasi- generasi di sepanjang sejarah. Pemimpin agung itu telah memilih kematian dalam kondisi mulia dari pada bertoleransi dengan kezaliman dan penipuan. Ia adalah Imam Husein as, pembimbing para monotheis yang juga putra Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Abbar Andalusi, seorang sejarawan dan pakar hadis juga menyingging kepribadian Imam Husein as dan Yazid. Ia menulis, &#8220;Husein selalu menyibukkan diri dengan membaca dzikir dan Al-Quran pada malam hari hingga pagi. Sementara itu, Yazid menghabiskan umurnya dengan kebatilan dan pesta-pora. Dengan perbedaan yang mencolok ini, bagaimana mungkin Imam Husein as dan Yazid disetarakan?!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Morbin seorang peneliti asal Jerman mengatakan, &#8220;Sekitar 14 abad lalu, Imam Husein as berjuang melawan pemerintah lalim dan kezaliman saat itu. Beliau adalah seorang politisi yang hingga kini tidak ada sosok yang menyetarainya. Imam Husein as melihat bahwa langkah Bani Umayah hampir menghancurkan landasan-landasan Islam. Jika kondisi saat itu masih ditoleransi, Islam tidak akan tersisa. Imam Husein as dengan mengorbankan diri dan keluarga tercinta, memberikan pelajaran pengorbanan kepada umat dunia dan mengangkat nama Islam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Morris, seorang sejarawan asal AS ketika berbicara tentang Imam Husein as, mengatakan, &#8220;Jika para penulis sejarah kami mengenal hakekat hari Asyura, mereka pasti menganggap peringatan duka kepada Imam Husein as sebagai hal yang luar biasa. Para pengikut Imam Husein as dengan menggelar pawai duka menyatakan tidak akan tunduk di bawah kehinaan kekuasaan lalim. Sebab, slogan perjuangan Imam Husein as adalah menentang kezaliman. Imam Husein as mengorbankan diri, harta bahkan keluarganya demi kemuliaan dan keagungan Islam. Untuk itu, bergabunglah untuk menempuh jalan Imam Husein as dan melepaskan diri dari kezaliman para pengikut Yazid. Kita sudah sepatutnya memilih kematian dengan mulia daripada kehidupan dengan hina. Ini adalah ringkasan ajaran Islam sebenarnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, fakta-fakta tragedi Asyura menunjukkan bahwa Imam Husein as dan para pengikutnya berjuang melawan kezaliman di bawah terik matahari di tengah padang pasir. Para musuh pun tidak mengenal belas kasih mengepung Imam Husein, keluarganya dan para sahabat setianya, bahkan tak memberikan peluang kepada mereka untuk mengambil air minum di telaga yang ada di sekitar mereka. Imam Husein, keluarganya dan para sahabatnya dibiarkan kehausan. Pada puncaknya, para musuh dengan keji membantai Imam Husein as. Inilah puncak kezaliman di sepanjang sejarah sehingga tidak ada seorang pun yang menoleransi kekejian Bani Umayah. Imam Husein as adalah pelita hidayah dan kebenaran bagi setiap manusia yang mempunyai hati nurani.</p>
<p style="text-align: justify;">Assalamu Alaika Ya Aba Abdillah Al-Husein as.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : http://indonesian.irib.ir</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/karbala-dan-perspektif-para-cendekia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa al-Mahdi Harus Gaib?</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2009/11/23/mengapa-al-mahdi-harus-gaib/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2009/11/23/mengapa-al-mahdi-harus-gaib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 12:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahdi AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Eksistensi memancar pada segala sesuatu dalam dua sisi: yang tak-tampak dan yang tampak. Eksistensi tak-tampak seperti ruh, jiwa, akal, perasaan, dan sebagainya adalah dimensi yang tak-terbatasi; sedangkan perwujudan lahiriah seperti lembaran yang sedang Anda baca ini, tubuh Anda yang sedang menggigil kedinginan atau berkeringat kegerahan…adalah sisi yang terbatas dan terukur. Jadi, semua yang terlihat atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-14" title="Mahdi" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Mahdi.jpg" alt="Mahdi" width="300" height="408" />Eksistensi memancar pada segala sesuatu dalam dua sisi: yang tak-tampak dan yang tampak. Eksistensi tak-tampak seperti ruh, jiwa, akal, perasaan, dan sebagainya adalah dimensi yang tak-terbatasi; sedangkan perwujudan lahiriah seperti lembaran yang sedang Anda baca ini, tubuh Anda yang sedang menggigil kedinginan atau berkeringat kegerahan…adalah sisi yang terbatas dan terukur. Jadi, semua yang terlihat atau terindra adalah sisi terbatas, terukur dan terkecil dari eksistensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sampai pada dua sisi eksistensi ini, sebagian orang tak mampu memahami apa yang di luar alam yang terbatas dan terindra ini. Orang itu lalu sesumbar bahwa materialitas identik dengan keseluruhan eksistensi. Tapi klaim semacam ini di ranah ilmu pengetahuan dianggap tak lebih dari kebodohan dan kesombongan. Satu-satunya “alasan” di balik klaim semacam itu adalah ketiadaan bukti akan adanya sesuatu di luar yang mereka bisa indrai. Padahal, secara logika, ketiadaan-bukti bukanlah suatu bukti, melainkan keadaan negatif yang hanya menyatakan ketidaktahuan atau kebodohan dan tidak bisa menghasilkan kesimpulan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip ilmu menandaskan “premis negatif tidak bisa memberikan kesimpulan afirmatif”. Yakni, orang yang tidak mengetahui X tidak bisa secara afirmatif menafikan X. Sialnya, dengan kesombongannya, manusia sering beranggapan bahwa apa yang diketahuinya sama dengan apa yang ada dan apa yang tidak diketahuinya sama dengan ketiadaan. Kerancuan berpikir ini sering kita temukan dalam banyak bidang kemanusiaan dan keagamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan sehari-hari, sebetulnya kita selalu mengalami efek dari sisi gaib eksistensi. Gravitasi, gelombang, virus, molekul, sel, atom, sumber-sumber energi, dan lain2 adalah dimensi “gaib” yang senantiasa mempengaruhi kita. Jadi, ada banyak hal gaib yang sungguh-sungguh mempengaruhi kita. Tiap saat, di tiap tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari itu, dalam struktur realitas, alam fisik material ini justru menempati posisi paling rendah (ad-dunyâ). Energinya paling redup; ruang dan waktunya juga paling terbatas. Dibanding dengan “ruang dan waktu” yang terdapat dalam imajinasi kita saja alam material ini sudah kalah hebat. Sebaliknya, alam non-material adalah energi murni yang tidak “terpenjara” dalam suatu bentuk dan berada dalam samudera lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli fisika kuantum menyebut alam non-material itu dengan chaos, para filosof menyebutnya dengan Wujud Abstrak, kaum empiris menyebutnya dengan ketiadaan, dan agama menyebutnya dengan kegaiban sebagai lawan dari ketampakan atau alam batin sebagai lawan dari alam lahiriah. Sebutlah sesuka Anda, karena sisi gaib itu memang pasti ada dan selalu mempengaruhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Alam Gaib itu adalah kampung asal dan tempat kembali manusia. Kehidupan fisik sesungguhnya berarti pemenjeraan dan pembatasan ruh. Di alam fisik ini, ruh terkurung dalam terali tubuh yang tidak dapat dilanggarnya. Pada saat ruh terlepas dari alam fisik ini, ia akan kembali bebas dan tidak lagi terbebani. Kata rû<span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">h</span></span><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;"> </span></span>dalam bahasa Arab mempunyai akar kata yang sama dengan râ<span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">h</span></span>ah, yakni keadaan lapang atau bebas dari beban (relief).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah mengutus para nabi, rasul dan imam untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan keterjeratan ini. Mereka berjuang keras untuk menyampaikan pesan-pesan Allah agar manusia ingat pada hampung halamannya yang sejati. Mereka mengajak manusia untuk berpikir akan kehidupan selanjutnya, kehidupan setelah kehancuran tubuhnya dan kemusnahan dunia. Tidak hanya itu, mereka secara langsung mencontohkan perilaku dan sikap yang harus diambil oleh seseorang dalam rangka mengarungi perjalanan menuju kehidupan abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu demi satu nabi, rasul dan imam dipilih dan diutus untuk umat manusia. Baginda Nabi al-Musthafa saw telah menyempurnakan tugas semua nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu Allah kepada semua manusia. Ajaran dan pesan Allah telah sempurna bagi semua manusia. Rasulullah saw juga telah menyebutkan imam-imam yang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia mengarungi jalan menuju kampung yang abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun manusia tetap tak sadar diri, bergeming dalam kekafiran dan pengingkaran. Tidak segan-segan mereka memanipulasi agama suci ini demi kepentingan-kepentingan duniawi. Mereka memutarbalikkan ayat-ayat Allah untuk mencapai hasrat-hasrat egoistik-materialistik. Imam-imam yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin manusia diingkari, ditindas dan dibantai satu demi satu. Kegelapan dan kelaliman pun puncaknya benar-benar memenuhi dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala benda yang ada di dunia inikini menjerit kesakitan. Perusakan manusia sudah berlangsung melampaui batas. Jika saja Allah bolehkan, dunia mungkin akan meledakkan dirinya sendiri dalam erangan amarah. Matahari pun sudah tak lagi memancarkan cahaya yang menyehatkan, cuaca tidak lagi beraturan, langit menurunkan hujan2 tangisan yang penuh asam, tanah penuh racun, hutan mengering dan terbakar, laut tercemar polusi, udara pengap dan terkontaminasi, binatang-binatang punah, burung-burung tidak lagi bernyanyi, makhluk-makhluk tidak terlihat berubah menjadi virus-virus mematikan. Orang-orang bijak yg berjalan di garis kebenaran pun perlahan dipinggirkan. Mereka diolok-olok layaknya tikus-tikus di got.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh…dunia ini sudah benar-benar tidak layak untuk ditinggali oleh seorang imam yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah Allah yang Maha Bijak menyembunyikan Imam al-Mahdi, imam terakhir dan pembebas pamungkas umat manusia dalam pelukan-Nya di alam gaib. Beliau didekap-Nya dalam balutan cahaya rahmat, pengetahuan, kekeramatan dan kemampuan gaib. Inilah Imam yang kelak bangkit untuk menindak dan membalas, memenuhi bumi manusia dengan keadilan dan kebenaran setelah dipenuhi dengan kelaliman dan kebejatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam banyak riwayat beliau diberi gelar al-Qâim, yakni seseorang yang bangkit untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Tugas beliau bukan lagi untuk mengajar atau menyampaikan kebenaran, melainkan menghakimi dan menindak tegas semua bentuk pelanggaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menafsir firman Allah: “Orang-orang yang berdosa dikenali melalui tanda-tanda mereka, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki-kaki mereka (untuk ditindak)” (QS 55:41), Imam Ja’far ash-Shadiq as. berkata: “Allah mengenali para durja itu dan memberitahu al-Qaim dan sahabat-sahabatnya tanda-tanda mereka untuk menindak mereka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat itulah terbentang keadilan, kemakmuran, kedamaian, kemerdekaan dalam arti yang hakiki, tanpa penindasan dan perbudakan dalam segala dimensinya. Dan inilah janji Allah seperti termaktub dalam QS surah ke-21 ayat 105; QS ke-24 ayat 55; QS ke-28 ayat ke-5. Mungkin hanya kebetulan saja bahwa ayat-ayat ini semuanya berangka 5, tapi mungkin juga tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://musakazhim.wordpress.com">http://musakazhim.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2009/11/23/mengapa-al-mahdi-harus-gaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Haji</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2007/03/12/rahasia-haji/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2007/03/12/rahasia-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2007 21:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Di musim haji, gema talbiah dari para tamu Allah di tanah wahyu Ilahi yaitu tanah suci Mekah terdengar dan menyentuh hati. Pada hari-hari ini lautan umat Islam meneriakkan ucapan Labbaik Allahumma Labbaik, sebuah ucapan yang dapat melupakan manusia dari hal-hal yang berbau duniawi. Dengan ucapan ini umat Islam dengan hati khusu&#8217; pergi menuju Baitullah, Ka&#8217;bah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-114" title="Kaaba" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Kaaba.jpg" alt="Kaaba" width="447" height="569" />Di musim haji, gema talbiah dari para tamu Allah di tanah wahyu Ilahi yaitu tanah suci Mekah terdengar dan menyentuh hati. Pada hari-hari ini lautan umat Islam meneriakkan ucapan Labbaik Allahumma Labbaik, sebuah ucapan yang dapat melupakan manusia dari hal-hal yang berbau duniawi. Dengan ucapan ini umat Islam dengan hati khusu&#8217; pergi menuju Baitullah, Ka&#8217;bah.</p>
<p>Haji adalah pemisahan dari diri untuk menyatu dengan Yang Esa dan mendaki puncak makrifat. Haji adalah pembebasan jiwa dari berbagai macam noda untuk kemudian menghiasinya dengan logika dan kelembutan-kelembutan ruhani. Oleh sebab itu, beruntung sekali orang-orang yang berhasil mendatangi wilayah malakut di Baitullah, Ka&#8217;bah. Karena itu pada hari-hari haji ini suasana kota Mekah , tanah kelahiran Rasul terakhir, sukar untuk dilukiskan.</p>
<p>Dengan mendengar munajat dan doa-doa para pecinta Allah, dan dengan telah dekatnya musim haji, maka harapan dan keinginan untuk dapat berziarah ke Rumah Allah, menjadi hidup di dalam hati setiap Muslim. Bisa dipastikan bahwa bagi setiap Muslim, perjalanan hati merupakan dambaan hati. Di hari-hari ini, dua kota suci Mekah dan Madinah menyaksikan pentas-pentas cinta yang paling indah dan ungkapan hati para peziarah yang berseru &#8220;labbaik&#8221; menjawab panggilan hak, dan dengan hati yang dipenuhi cinta Ilahi mereka berangkat menuju Rumah Allah.</p>
<p>Haji adalah sebuah perjalanan ruhani ke sebuah tempat suci dan terkenal dengan nama Mekah, yang dilakukan pada bulan Dzul Hijjah dengan tujuan ziarah ke Rumah Allah, Ka&#8217;bah, untuk melaksanakan upacara-upacara khusus, yang disebut &#8220;mansik Haji&#8221;. Perjalanan agung dan mulia ini merupakan kewajiban atas setiap Muslim sekali dalam hidupnya, dengan syarat adanya biaya, kesehatan jasmani dan ruhani, serta tak adanya halangan apapun yang akan mengganggu perjalanan hajinya.</p>
<p>Bisa dikatakan, bahwa disetiap masyarakat manusia, terdapat saat dan tempat-tempat khusus untuk pelaksanaan acara-acara ibadah dan pengamalan ajaran-ajaran maknawi. Ka&#8217;bah adalah Rumah Tauhid dan tempat ibadah paling lama yang dibangun di muka bumi ini. Catatan-catatan sejarah memberikan kesaksian bahwa pada awalnya, Ka&#8217;bah dibangun oleh Nabi Adam Alaihissalam. Kemudian Ka&#8217;bah mengalami kerusakan dalam peristiwa taufan pada masa Nabi Nuh alaihissalam dan diperbaiki oleh Nabi Ibrahim Alihissalam. Sejak saat itu Ka&#8217;bah selalu menjadi pusat perhatian para penyembah Tuhan yang Maha Esa.</p>
<p>Ka&#8217;bah merupakan manifestasi keagungan dan rahmat Allah. Rumah suci ini adalah monumen sejarah hidup nabi-nabi besar seperti Adam Alaihissalam, Ibrahim Alaihissalam dan Rasul Allah Muhammad SAWW, serta perjuangan mereka dalam menyebarkan ajaran-ajaran tauhid kepada seluruh umat manusia. Setiap Mukmin, ketika berada di hadapan Ka&#8217;bah, maka ia akan tenggelam di dalam keagungan dan keindahan yang Maha Agung, dan seluruh wujudnya akan dikuasai oleh semangat dan perasaan-perasaan khusus.</p>
<p>Haji adalah sebuah jalan untuk bertaqarrub kepada Allah dan salah satu syiar terpenting di dalam Islam. Di dalam perjalanan ruhani ini, manusia meninggalkan segala kelezatan jasmani dan menjauhkan diri dari setiap kekotoran. Peziarah Rumah Allah, dengan berseru &#8220;Labbaik Allahumma Labbaik&#8221;, mengungkapakan kerinduan dan kecintaan mereka dari dalam jiwa mereka; lalu mereka menenggelamkan diri ke dalam doa-doa dan munajat menyampaikan segala derita yang ia tanggung selama ini, seraya memohon rahmat dan inayah-Nya. Sesungguhnya, untuk menyatakan penghambaan diri kepada Dzat yang hak, tempat dan saat yang demikian inilah, saat di mana seseorang berada di dalam Rumah Allah dan Haram suci pusat keamanan Ilahi, adalah saat dan tempat yang paling tepat. Karena kapan dan dimana lagi saat dan tempat yang lebih mulia di banding saat dan tempat yang demikian ini?</p>
<p>Pada musim haji, tempat ini menyaksikan kehadiran umat Islam yang sangat besar, para peziarah yang melakukan segala bagian dari ibadah tersebut serba bersama-sama, kompak dan serempak; di dalam pakaian yang sama pula, baik bentuk dan warnanya. Di tempat yang suci dan di dalam suasana ruhani ini, satu hal yang teras lebih nyata daripada selainnya ialah saat-saat manis meraskan curahan rahmat Ilahi, dan kedekatan yang sangat dekat dengan Dzat yang maha Sempurna. Pada saat-saat semacam ini, segala macam titel dan gelar serta kelebihan-kelebihan lahiriyah, seakan musnah tak berbekas. Semua yang ada ialah keikhlasan dan penghambaan diri kepada Dzat yang Maha Agung lagi Maha Mulia.</p>
<p>Di dalam ibadah haji yang bersifat sangat konstruktif ini, segala macam egoisme dan kesombongan manusia, yang merupakan akar berbagai macam kesulitan dan musibah dalam masyarakat tersingkir jauh. Suasana jiwa manusia pun tersiapkan untuk menuju ke arah kesempurnaan. Hati dan jiwa manusia pelaksana ibadah haji, dengan terbukanya rantai-rantai keinginan hawa nafsu yang membelengu, akan memperoleh kekuatan tak terbatas untuk terbang semakin tinggi, menuju kepada kehidupan yang diinginkan, di dalam suatu ufuk yang luas serta di dalam udara yang lebih baik dan lebih mulia.</p>
<p>Ibadah haji adalah sebuah kesempatan, dimana seseorang dapat membebaskan diri dari dirinya sendiri, dan menyatu dengan Dzat yang Mutlak, tempat bergantung segala sesuatu yang maujud. Sesungguhnya haji adalah suatu ibadah yang mengandung segala unsur pernyataan diri sebagai hamba. Hal inilah yang memberikan keagungan kepada ibadah Ilahiyah ini.</p>
<p>Dalam liputan wartawan kami tentang suasana kota suci Mekah di hari-hari sekarang ini melaporkan: &#8220;Ketika kami memasuki kota suci Mekah, di benak kami terlintas gambaran tentang gurun sahara yang tandus dan panas dimana Nabi Ibrahim yang hanya disertai istri dan putranya berada di sisi Baitullah. Namun sekarang kota ini telah menjadi kota yang padat penduduk dan kami melihat betapa doa nabi Ibrahim AS telah dikabulkan Allah. Sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran Surah Ibrahim ayat 37, saat itu nabi Ibrahim berdoa: &#8220;Ya Tuhan sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan (yang sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka (keturunan Nabi Ibrahim) dan berilah rizki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.&#8221;</p>
<p>Sedemikian besar kerinduan kami kepada Baitullah sehingga seolah-oleh degup hati kami terdengar oleh telinga. Dari atas gunung kami menyaksikan Masjidil Haram dan lautan manusia berpakaian serba putih bersama-sama menuju Masjidil Haram. Dari sini kami juga menyaksikan burung-burung merpatai Masjidil Haram beterbangan di sekitarnya dan sama sekali tidak menunjukkan ras takut kepada arus manusia. Seolah-olah mereka juga tahu bahwa di sini adalah lembah yagn diamankan Allah serta temapt berlabuhnya keadilan dan takwa dimana tak seorangpun berhak mengganggu binatang atau tanaman apapun. Di sini tidak ada jenis kesombongan dan egoisme. Apa yang ada hanyalah kehormatan, ketenteraman, persaudaraan dan takwa.</p>
<p>Arus manusia yang datang silih berganti memasuki Masjidil Haram dari berbagai pintu yang terbuka untuk para tamu Allah dan selintas kemudian tatapan kami tertuju pada keindahan Ka&#8217;bah yang memancarkan keagungan dan keteguhan ke langit. Tak lama kemudian kami segera bersujud dan memanjatkan puji syukur atas keagungan dan kebesaranNya.&#8221;</p>
<p>Ka&#8217;bah telah diceritakan sejarah semenjak zaman Nabi Adam AS. Saat nabi Adam turun ke bumi, Allah SWT telah meletakkan kubah di tempat dimana Ka&#8217;bah sekarang berada agar kubah ini dijadikan tempat bertawaf oleh Nabi Adam. Kubah itu terus ada hingga zaman Nabi Nuh AS dan setelah itu tempat tersebut dijadikan tempat tawaf para Nabi. Ketika sampai pada zaman Nabi Ibrahim AS, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim agar membangun Ka&#8217;bah di tempat itu dan sejak itu hingga sekitar 4 ribu tahun tak ada satupun peristiwa yang dapat mengurangi keagungan dan kesucian Baitullah ini. Pada Ka&#8217;bah terdapat pemandangan yang dapat membangkitkan jiwa pengabdian dan kecintaan kepada yang Esa.</p>
<p>Baitullah Ka&#8217;bah adalah pusat segala wujud semesta dan manusia sebagai wujud-wujud yang lain berasal dari Allah SWT dan tak ada orientasi kecuali Allah SWT. Para tamu Allah dengan semangat cinta yang luar biasa di sekitar Baitullah telah mejadi ibarat laron-laron (kalkatu) yang mengelilingi lilin. Dan dengan gelora jiwa yang tak dapat dilukiskan mereka menyampaikan munajatnya kepada Allah SWT.</p>
<p>Dalam hal ini wartawan kami menyatakan sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Hari ini dimana kami menyaksikan Ka&#8217;bah dari tempat yang tertinggi di Masjidil Haram kami mengetahui rahasia diamnya lembaga-lembaga informasi dan mass media untuk tidak merefleksikan ibadah besar haji umat Islam. Di sini, bukanlah tempat atau bangunan yang menjadi tempat mencurahkan cinta. Lautan manusia ini bukanlah karena tradisi atau kebiasaan memutari fokus tauhid melainkan karena dorongan logika akal dan kehendak untuk bertawaf kepada Tuhan Sang Pencipta alam. Seorang pelaksana ibadah haji harus tahu untuk apa mereka mengelilingi Ka&#8217;bah. Dengan kehendaknya, ia harus berdiri di atas kaki sendiri agar ia berada dalam orientasi tauhid dan jika ada desakan orang yang mendorong punggungnya saat tawaf, maka tawafnya akan batal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dewasa ini dimana berbagai negara berusaha membangun istana-istana dan bangunan-bangunan termegah serta dengan kekerasan dan penipuan berusaha memperoleh popularitas dan untuk masalah terkecil pun mereka menggelar konferensi dan seminar, akan tetapi mereka sama sekali tidak melontarkan sedikitpun kata-kata untuk mengungkapkan kesan-kesan ibadah besar haji yang mengandung nuansa pengabdian, politik dan sosial umat Islam ini. Sebab mereka tahu betul betapa dalamnya pengaruh ibadah ini dalam menentukan garis nasib manusia.</p>
<p>&#8220;Rahasia Ka&#8217;bah tidak bisa dilukiskan dengan lidah melainkan dengan hati. Pada saat dimana lautan manusia, baik yang berkulit hitam maupun putih dan memiliki aneka ragam bahasa mendirikan solat di depan Baitullah dan engkau pun dapat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, engkau hanya bisa khusu&#8217; dan merendah diri di depan Sang Pemilik rumah ini, kemudian engaku ambil cahaya yang tertinggi dan bertasbihlah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Keagungan dan kemuliaan Ka&#8217;bah ada pada keagungan dan kebesaran Sang Pencipta dan yang mengatur segala wujud semesta, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Quranul Karim di bagian terakhir surah Al-Hasyr yang artinya: &#8220;Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221;</p>
<p>Imam Khomeini (r.a) berkenaan ibadah haji berkata: &#8220;Berkumpulnya manusia mengelilingi Ka&#8217;bah menunjukkan bahwa selain Allah janganlah kalian berkumpul mengelilinginya. Tawaf memutari Ka&#8217;bah yang menunjukkan cinta kepada Yang Hak, mengajarkan kepada kita untuk membersihkan hati kita dari selain-Nya, dan tidak takut kepada apapun selain-Nya. Sa&#8217;i antara Safa dan Marwa mengajarkan agar kita berusaha menuju ke arah kekasih yang kita cintai, yaitu Allah SWT, dengan ketulusan dan kebersihan hati. Karena dengan menuju dan memperoleh kedekatan kepada-Nya, maka segala macam persoalan duniawi akan hilang sirna. Segala keraguan dan kebimbangan pun akan musnah. Demikian pula segala bentuk ketergantungan kepada hal-hal yang bersifat materi.</p>
<p>Sekali lagi kota Nabi, Madinah al-Munawwarah dipadati oleh umat Islam yang merindukan ziarah ke puasara Rasul. Kota Madinah adalah kota yang menghidupkan kenangan tentang perjuangan, jihad dan pengorbanan umat Islam di sisi Rasul untuk menegakkan Kalimatullah dan keadilan. Kota inilah yang menyimpan kenagan dari perjuangan Rasul dan para sahabatnya seperti Imam Ali bin Abi Talib dan Sayyidina Hamzah. Menyusuri kota madinah, seolah-olah semua penjuru menyampaikan kata-kata dan mengisahkan kepada kita tentang jerih-payah, cobaan dan pengorbanan Rasul serta para pengikutnya untuk mengangkat manusia dari jurang kebodohan dan kesesatan.</p>
<p>Lautan peziarah Baitullah singgah ke kota Madinah untuk mendatangi sebuah tempat dimana tubuh manusia yang paling sempurna dan suci berbaring. Masjidunnabi, dimana pusara Rasul berada, menyaksikan lautan umat yang berada di wilayah suci dan mengenang perjuangan dan ibadah Rasul yang sedemikian ikhlas. Kota madinah sekarang ini tampak ceria menyambut tamu-tamu yang mendambakan kedekatan di sisi Allah. Umat Islam yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk menunaikan ibadah haji di tanah Hijaz senantiasa singgah ke Madinah, baik itu sebelum menunaikan manasik haji atau setelahnya. Sebab tidaklah mungkin seseorang disebut peziarah Baitullah namun tidak berziarah ke utusan Allah yang terakhir, yaitu Nabi Besar Muhammad SAWW.</p>
<p>Setelah munculnya Islam, saat Rasul mendapat penentangan keras orang-orang kafir di Mekah, beliau mengambil keputusan untuk hijrah ke Madinah untuk menunaikan risalahnya. Hijrah Rasul ke Madinah merupakan sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Setelah menetap di Madinah, di bangun sebuah masjid pertama untuk memantapkan posisi dan keberadaan umat Islam. Masjid ini diberi nama Masjid Nabawi. Masjid ini menjadi basis perkembangan Islam serta tempat untuk menyelesaikan urusan agama dan sosial umat Islam.</p>
<p>Para peziarah Baitullah saat singgah di Madinah dan berada disekitar pusara Rasul merasakan seolah-olah Rasul membacakan ayat-ayat Al-Quran yang menyinggung rahmat dan ampunan (maghfirah) Ilahi dan seolah-olah Rasul sedang menyeru mereka agar bertakwa dan menempuh jalan yang lurus. Dan termasuk saat-saat Rasul yang paling indah ialah ketika beliau menebarkan senyum keridhaan dan mengusap-usapkan telapak tangannya di kepala anak-anak yatim. Kota Madinah juga menyimpan kisah-kisah tentang keteguhan dan keberanian Rasul di depan orang-orang kafir dan zalim. Pada saat beliau melihat adanya bahaya atau ancaman musuh, beliau mengeluarkan perintah untuk melakukan perlawanan. Dan dengan terjun langsung ke medan laga, beliau telah menjadi tempat berlindung para mujahidin dalam keadaan yang paling sulit.</p>
<p>Para peziarah Baitullah, dengan mengingat kancah-kancah ini dan dalam keadaan dirinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran dan keadilan, berjanji kepada Allah untuk menerapkan ajaran Islam dan mengikuti jejak Rasul dan Ahlul Baitnya. Daya tarik perilaku Rasul yang merupakan rahmat bagi penghuni alam semesta sedemikian kuatnya sehingga seseorang, tanpa disadari bisa meminta kepada Allah agar perilakunya diserupakan dengan perilaku Rasul.</p>
<p>Para peziarah makam suci Rasul, ketika berziarah berjanji untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh syariat dan berusaha berbuat baik. Mereka juga berjanji akan berusaha membantu orang yang memerlukan pertolongan dan sebaliknya akan melawan orang-orang zalim dan penindas. Jika ada hak-hak orang yang diinjak-injak, mereka akan berusaha memperjuangkannya. Dengan semangat jiwa seperti ini dan pada saat dadanya terbuka lebar untuk menerima segala kesempurnaan akhlak dan kesucian, mereka datang menuju Baitullah untuk menunaikan manasik-mansik haji dan memperlihatkan kepada Allah manifestasi pengabdian dan ibadahnya dengan bentuk yang terindah.</p>
<p>Para peziarah Baitullah di kota Madinah juga tak akan lupa berziarah ke pemakaman Baqi&#8217; dimana beberapa orang dari Ahlul Bait dan sahabat besar Rasul dibaringkan. Diantara acara ibadah yang paling mengharukan setiap tahun di kota Madinah ialah pembacaan sebuah doa panjang yang kerap dibaca oleh Imam Ali, yaitu Doa Kumail. Sebuah doa yang memuat rintihan, pengaduan, pernyataan berdosa, pujian kepada Allah dan permohonan ampun kepada Allah. Acara ini biasa dilakukan jemaah haji dan peziarah dari Iran yang kemudian dihadiri pula oleh para peziarah dari negara-negara lain.</p>
<p>Mengenai acara-acara ritual pada musim haji tahun ini, wartawan kami antara lain melaporkan sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Pada tahun ini, kota Madinah juga menyaksikan penyelenggaraan acara pembacaan Doa Kumail dalam suasana spiritual dan ruhani yang penuh. Setelah menunaikan solat jamaah dalam saf-saf kebersamaan, para pecinta Rasul dan Ahlul Baitnya telah memarakkan kota Madinah dengan alunan doa dan pujian. Sedemikian maraknya suasana keruhanian di kota Madinah sehingga seolah-olh terdengar suara sayap-sayap para Malaikat yang datang dan pergi menghadap Rasul. Dan yang paling menarik dalam acara-acara ini ialah pembacaan doa dan munajat umat Islam demi pembebasan Al-Quds dan umat Islam Palestina yang teraniaya. Kepekaan umat Islam di saat haji terhadap masalah Palestina dan nasib seluruh umat Islam di Afghanistan, Tajikistan, Bosnia dan berbagai penjuru dunia lainnya merupakan manifestasi dari nuansa politik haji serta menunjukkan adanya rasa tanggungjawab umat Islam terhadap nasib saudara-saudara mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Suasana ikhlas, tulus dan ketertiban para pembaca doa dari Iran ini telah menarik perhatian para peziarah dari negara lain. Nonya Zainah dari Belgia saat menyaksikan acara pembacaan doa Kumail yang sangat mengharukan ini mengungkapkan: &#8220;Sungguh, di sini seseorang akan merasakan kebenaran umat Islam. Acara-acara ini benar-benar menghidupkan semangat pengabdian pada jiwa manusia yang mana inilah tujuan dari haji.&#8221;</p>
<p>Sumber : <a href="http://indonesian.irib.ir/" target="_blank">IRIB Bahasa Indonesia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2007/03/12/rahasia-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertanyaan Hammam Mengenai Sifat-Sifat Mukminin dan Jawaban Ali as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/24/pertanyaan-hammam-mengenai-sifat-sifat-mukminin-dan-jawaban-ali-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/24/pertanyaan-hammam-mengenai-sifat-sifat-mukminin-dan-jawaban-ali-as/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Nov 2006 13:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Hammam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'minin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Daripada Abban bin Abi ‘Iyasy daripada Sulaim berkata: Telah berdirilah seorang lelaki daripada sahabat Amir al-Mukminin a.s. bernama Hammam, seorang ahli ibadah yang gigih lalu berkata: Beritahukan kepadaku sifat-sifat Mukminin seolah-olah aku sedang melihat kepada mereka. Maka Amir al-Mukminin a.s. berasa berat untuk memberikan jawaban kepadanya. Kemudian beliau berkata: Wahai Hammam! Bertakwalah kepada Allah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-18" title="amirul-muminin" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/amirul-muminin.jpg" alt="amirul-muminin" width="400" height="300" />Daripada Abban bin Abi ‘Iyasy daripada Sulaim berkata: Telah berdirilah seorang lelaki daripada sahabat Amir al-Mukminin a.s. bernama Hammam, seorang ahli ibadah yang gigih lalu berkata: Beritahukan kepadaku sifat-sifat Mukminin seolah-olah aku sedang melihat kepada mereka. Maka Amir al-Mukminin a.s. berasa berat untuk memberikan jawaban kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau berkata: Wahai Hammam! Bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah, kerana Allah bersama orang yang bertakwa dan orang yang berbuat baik. Maka Hammam berkata kepadanya: Aku bertanyakan anda dengan Yang telah memuliakan anda, memberi keistimewaan kepada anda, mencintai anda dan memberi kelebihan kepada anda tentang sifat-sifat Mukminin. Maka Amir al-Mukminin a.s. berdiri di atas dua kakinya. Beliau memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta bersalawat ke atas Nabi, dan Ahl Baitnya a.s.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau berkata: Amma ba‘d. Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk dan ketika Dia menciptakannya, ia kaya dengan ketaatan mereka serta aman daripada kemaksiatan mereka, kerana kemaksiatan mereka tidak akan memudaratkan-Nya, begitu juga ketaatan mereka tidak akan memanfaatkan-Nya. Dia telah membahagi-bahagikan di kalangan mereka kehidupan mereka dan meletakkan kedudukan mereka di Dunia. Dia menurunkan Adam ke Dunia adalah sebagai balasan kepada apa yang telah dilakukannya. Allah telah melarangnya, tetapi beliau menyalahinya. Dia telah memerintahkannya, tetapi beliau menderhakai-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantaran itu, Mukminun di Dunia adalah Ahli Kelebihan. Mantiq mereka adalah kebenaran. Pakaian mereka adalah kesederhanaan. Perjalanan mereka adalah tawadhu‘. Mereka tunduk kepada Allah dengan ketaatan. Mereka pergi di dalam keadaan merendahkan pandangan mereka daripada apa yang diharamkan oleh Allah ke atas mereka dan berdiri di dalam keadaan pendengaran mereka tertumpu kepada ilmu. Jiwa mereka di dalam kesusahan seperti jiwa mereka yang di dalam kesenangan meridhai Qadha’ Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya tidak ada ajal yang telah ditulis oleh Allah untuk mereka, nescaya roh-roh mereka tidak akan tinggal pada jasad-jasad mereka walaupun sekejap, kerana syauq kepada pahala, dan takutkan azab. Betapa besarnya Pencipta pada diri mereka dan betapa kecilnya selain daripada-Nya pada pandangan mereka. Mereka dan Syurga seperti mereka telah melihatnya. Maka mereka dikurniakan nikmat. Mereka dan Neraka sepertilah mereka telah melihatnya. Maka mereka padanya diazab.1</p>
<p style="text-align: justify;">Hati mereka bersedih. Batasan mereka adalah dijamin. Badan mereka adalah kurus. Keperluan mereka adalah sedikit. Diri mereka adalah jujur. Pertolongan mereka pada Islam adalah besar. Mereka bersabar pada hari-hari yang pendek, kemudian mereka diikuti kerehatan yang berpanjangan. Satu perniagaan yang menguntungkan dan dipermudahkannya untuk mereka oleh Tuhan Yang Maha Mulia. Dunia menghendaki mereka, tetapi mereka tidak menghendakinya. Ia menuntut mereka, tetapi mereka menolaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun pada waktu malam, mereka membaca al-Qur’an dan bersedih dengannya. Mereka merujuk kepadanya untuk mengubati penyakit mereka. Tangisan dan kesedihan mereka begitu mendalam ke atas dosa-dosa yang dilakukan. Apabila mereka bertemu dengan ayat tasywiq (memberangsangkan), mereka cenderung kepadanya kerana tamakkannya. Air mata mereka berlinang di atas pipi mereka sambil mengharapkan Allah melepaskan mereka daripada Neraka. Apabila mereka bertemu dengan ayat takhwif (menakutkan), hati dan mata mereka tertumpu kepadanya. Kulit mereka menggeletar dan hati mereka menjadi lemah. Mereka menyangka suara Neraka di telinga mereka. Adapun mereka pada siang hari, adalah lemah lembut dan ulama baik yang bertakwa, seakan-akan dikuasai ketakutan.2</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang melihat menyangka bahawa mereka sakit, tetapi mereka bukanlah sakit. Malah mereka dicampur-aduk dengan perkara yang besar. Apabila mereka menyebut kebesaran Allah, kekuasaan-Nya, mengingati kematian dan azab Hari Kiamat, hati mereka menjadi kecut dan akal mereka menjadi lemah. Dan apabila mereka sembuh daripadanya, mereka bersegera kepada Allah dengan amalan yang baik. Mereka tidak meridhai Allah dengan sedikit. Dan mereka tidak membesar-besarkan apa yang mereka lakukan kepada-Nya. Mereka mengambil berat pada diri mereka dan daripada amalan yang dilakukan mereka mengharapkan pahala.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika seseorang daripada mereka dipuji, dia menjadi takut terhadap apa yang mereka perkatakan kepadanya, lalu berkata: Aku lebih mengetahui tentang diriku daripada orang lain, dan Tuhanku lebih mengetahui tentangku selain daripadaku. Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau mengambilku dengan apa yang mereka perkatakan. Jadilah aku kebaikan ke atas apa yang mereka sangkakan. Ampunilah aku di atas apa yang mereka tidak mengetahuinya, kerana Engkau mengetahui perkara yang ghaib dan penutup segala keaiban.3</p>
<p style="text-align: justify;">Anda boleh melihat tanda mereka; pada kekuatan beragama, keimanan pada keyakinan, cintakan ilmu, pandai bersahabat, khusyuk di dalam ibadat, menanggung penderitaan, kesabaran dalam kesusahan, memberi apa yang hak, mencari rezeki yang halal, cergas di dalam petunjuk, menjauhi ketamakan, meneruskan sesuatu di dalam istiqamah, teguh melawan syahwat, tidak terpedaya akan pujian orang yang jahil. Tidak menangguhkan amalan untuk kebaikan dirinya. Matlamatnya adalah kesyukuran, sibuk dengan zikir, bermalam dengan penuh kewaspadaan, dan bergembira pada waktu pagi. Berwaspada pada tempatnya. Bergembira apabila mereka mendapat kelebihan dan rahmat sekalipun dirinya sukar menerimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka mencampurkan sifat lemah-lembut dengan ilmu, dan ilmu dengan akal, anda melihatnya jauh tetapi cita-citanya dekat. Sentiasa meramalkan ajalnya. Hatinya khusyuk, memadai apa yang ada. Kuat mempertahankan agamanya, mati syahwatnya, menahan kemarahannya. Akhlaknya bersih, jirannya berasa aman dengannya, berpuas hati apa yang ditakdirkan terhadapnya. Kesabarannya kukuh, urusannya cekap, setia kepada janjinya, dan tidak menyembunyikan penyaksian musuh. Tidak melakukan sesuatu dengan riak, dan tidak meninggalkan sesuatu kerana malu. Kebaikan daripadanya adalah yang diharapkan dan kejahatan daripadanya adalah dijamin.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka memaafi orang yang telah menzaliminya. Mereka memberi kepada orang yang menegahnya. Mereka menghubungi orang yang memutuskan silaturahim dengannya. Mereka tidak mempercepatkan apa yang disyakinya. Percakapannya lembut dan benar. Perbuatannya adalah baik, menghadapi kebaikan dan membelakangi kejahatan. Mereka adalah tenang di dalam gegaran, sabar di dalam menghadapi perkara yang dibencikannya. Bersyukur ketika senang. Tidak takut orang memarahinya. Tidak berasa bersalah apa yang mereka kasihi. Tidak mendakwa bukan haknya.Begitu juga dia tidak mengingkari haknya ke atasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengakui kebenaran sebelum dipersaksikan ke atasnya. Tidak menghilangkan apa yang dijaganya. Tidak bermegah dengan gelaran. Tidak bersaing dengan sesiapapun. Tidak dikuasai oleh hasad, tidak memudaratkan jiran, dan tidak bergembira dengan musibah yang menimpa orang lain. Menunaikan amanah, bersegera kepada solat, lambat kepada kemungkaran. Menyuruh melakukan kebaikan, melarang kemungkaran. Tidak memasuki sesuatu perkara dengan kejahilan.4 Tidak keluar daripada kebenaran dengan kelemahan. Jika mereka diam, diamnya berfaedah. Dan jika mereka bercakap, mereka tidak akan bercakap perkara yang salah. Jika mereka ketawa, mereka tidak meninggikan suaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memadai apa yang ditakdirkan untuknya. Tidak menimbulkan kemarahan dan tidak dikuasai oleh hawa nafsunya. Tidak kedekut dan tidak pula tamak kepada bukan haknya. Bergaul dengan orang ramai untuk mengetahui dan diam untuk selamat. Bertanya supaya mereka memahaminya. Berniaga untuk mendapat ganjaran. Mereka tidak diam untuk kebaikan bagi meninggikan diri. Tidak bercakap untuk memaksa orang lain. Dirinya di dalam kepenatan sedangkan orang ramai di dalam kerehatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka memenatkan diri untuk akhiratnya dan merehatkan orang ramai daripada dirinya. Jika diserang, mereka bersabar sehingga Allah memberi kemenangan untuknya selepasnya. Sesiapa yang menjauhinya, mereka memaafkannya. Sesiapa yang mendekatinya, mereka berlembut. Jika mereka berjauhan, bukanlah kerana meninggikan diri. Dekatnya bukanlah suatu tipu-daya. Malah kerana mengikuti orang yang terdahulu daripada ahli kebaikan. Dan mereka adalah imam bagi ahli kebaikan dan di belakang mereka5</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau berkata: Hammam telah melaung, kemudian tidak sedarkan diri. Maka Amir al-Mukminin a.s. berkata: Demi Tuhan! Aku telah menduga kekhuatiranku terhadapnya, dan beliau berkata: Begitulah kesan nasihat yang tepat kepada ahlinya. Ada orang berkata kepadanya: Wahai Amir al-Mukminin! Apa gerangan anda wahai Amir al-Mukminin! Beliau berkata: Setiap ajal tidak akan melepasinya. Dan setiap sebab tidak akan melewatinya. Nanti! Janganlah anda melepasinya. Sesungguhnya Syaitan telah menghembuskan nafasnya di atas lidah anda. Kemudian Hammam telah mengangkat kepalanya, kemudian terjatuh, lalu meninggal dunia6 rahimahullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Nota Kaki:</p>
<p style="text-align: justify;">1Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 303-4.</p>
<p style="text-align: justify;">2Ibid.hlm. 303-5.</p>
<p style="text-align: justify;">3Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">4Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 305-6.</p>
<p style="text-align: justify;">5Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">6Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://almawaddah.orgfree.com/" target="_blank">http://almawaddah.orgfree.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/24/pertanyaan-hammam-mengenai-sifat-sifat-mukminin-dan-jawaban-ali-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musyawarah dan Kekhilafahan dalam Islam</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/musyawarah-dan-kekhilafahan-dalam-islam/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/musyawarah-dan-kekhilafahan-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 16:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekhalifanhan]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Musyawarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan Tentang Ayat-ayat Musyawarah Baik dahulu maupun sekarang kaum Muslimin berbeda pendapat di dalam cara bagaimana menentukan imam dan khalifah. Pada jaman dahulu perbedaan pendapat tersebut lebih banyak berwujud dalam tataraan kenyataan praktis dan pencrapaan lapangan dibandingkan pada tingkatan teori dan pemikiran. Adapun pada jaman sckarang perbedaan tersebut hanya terbatas pada tataran pemikiran, tidak melampaui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-78" title="Ghadir Khum" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/250px-Investiture_of_Ali_Edinburgh_codex.jpg" alt="Ghadir Khum" width="250" height="333" />Pembahasan Tentang Ayat-ayat Musyawarah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Baik dahulu maupun sekarang kaum Muslimin berbeda pendapat di dalam cara bagaimana menentukan imam dan khalifah. Pada jaman dahulu perbedaan pendapat tersebut lebih banyak berwujud dalam tataraan kenyataan praktis dan pencrapaan lapangan dibandingkan pada tingkatan teori dan pemikiran. Adapun pada jaman sckarang perbedaan tersebut hanya terbatas pada tataran pemikiran, tidak melampaui tingkat pertengkaran ucapan dan argumentasi teoritis.</p>
<p style="text-align: justify;">Partisipasi kita di dalam menyelesaikan pertengkaran ini ialah dengan cara kita akan mendiskusikan penunjukkan (dilâlah) ayat-ayat musyawarah (syura) yang terdapat di dalam Al-Qur&#8217;an yang dijadikan sandaran oleh kalangan Ahlus Sunnah di dalam pandangan mereka. Kemudian setelah itu kita akan mengkaji musyawarah dalam tataran kenyataan praktis setelah wafatnya Rasulullah saw dan sekaligus ber-bagai peristwa yang terjadi sesudahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka disebabkan rahmat dan Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkaniah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.&#8221; (QS. Ali Imran: 159)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Danjika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS. al-Baqarah: 233)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. &#8221; (QS. asy-Syura: 38)</p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan Ahlus Sunnah, di dalam masalah kekhilafahan bersandar kepada konsep syura. Mereka mengatakan bahwa kekhilafahan kaum Muslimin tidak dapat ditentukan kecuali melalui musyawarah. Oleh karena itu, mereka mensyahkan kekhilafahan Abu Bakar, yang terpilih melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Sedangkan pandangan kedua, yaitu kalangan Syi&#8217;ah, memandang bahwa masalah kekhilafahan harus ditentukan dan diangkat oleh Allah SWT, karena tidak ada jaminan terpilihnya orang yang paling layak berdasarkan pandangan pertama. Hal itu dikarenakan masalah musyawarah sangat dipengamhi dengan pengaruh-pengaruh emosi dan perasaan manusia, pandangan-pandangan pemikiran dan kejiwaan mereka dan juga afiliasi mereka kepada keyakinan, sosial dan politik tertentu. Di samping itu, musya-warah juga membutuhkan tingkat ketulusan, objektifitas dan keter-bebasan dari berbagai pengaruh yang disadari maupun yang tidak disadari. Oleh karena itu, mereka (kalangan Syi&#8217;ah) mengatakan Rasulullah harus mempunyai wasiat yang jelas di dalam masalah kckhilafahan. Mereka mengatakan Rasulullah saw telah menetapkan khalifah dan bahkan khalifah-khalifah sepeninggalnya. Atas dasar itu, mereka meyakini kekhilafahan Ali bin Abi Thalib as, dan bahwa musyawarah yang disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an hanyalah diperuntukkan bagi beberapa tema permasalahan yang khusus berkaitan dengan pelaksanaan dan penerapan hukum, bukan berkaitan dengan penentuan hakim (pemimpin), yang merupakan kedudukan Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena perbedaan tersebut hanya terbatas di antara dua pandangan ini, maka kebatilan salah satunya akan membuktikan kebenaran yang lainnya, dan sebagai akibatnya membuktikan kebenaran atau kebatilan kekhilafahan khalifah, baik khalifah itu Abu Bakar dan khalifah-khalifah lain yang menggantikannya atau khalifah itu Ali dan para washi yang menggantikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita telah membuktikan pada pasal-pasal sebelumnya, dengan tidak meninggalkan keraguan sedikit pun, akan kebenaran pandangan yang mengatakan lebih berhaknya Ahlul Bait di dalarn kekhilafahan Islam, dan bahkan merupakan hak yang khusus bagi mereka dan tidak bagi selain mereka. Namun, untuk lebih menyempurnakan faidah dan menjelaskan hakikat, mau tidak mau kita harus mcndiskusikan konsep musyawarah sebagai semata-mata sebuah konsep, dan sampai sejauh mana kelayakannya di dalam masalah pemilihan khalifah kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan pendukung konsep musyawarah, di dalam menegakkan pandangannya sangat bersandar kcpada ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang telah kita scbutkan pada awal pembahasan. Ayat-ayat tersebut menjadi pokok pembahasan di dalam bab ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita mengkaji ayat-ayat di atas niscaya akan jelas bagi kita bahwa konsep musyawarah Islam tergambar dalam dua bentuk:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Tema musyawarah yang hendak dimusyawarahkan adalah suatu urusan yang bersifat parsial, di dalam konteks yang sempit dan terbatas, seperti terna penyapihan anak yang masih menyusu, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ayat, &#8220;Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan&#8230;&#8221; Jenis musyawarah ini tidak menjadi bahan pertengkaran, dan oleh karena itu kita tidak perlu mendiskusikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Tema musyawarah yang hendak dimusyawarahkan adalah suatu perkara umum yang mcnjadi perhatian seluruh kaum Muslimin, Seperti mengumumkan perang terhadap musuh atau memilih khalifah kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan, bahwa dalam masalah yang seperti ini kaum Muslimin harus merujuk kepada Rasulullah saw. Karena tidak lah logis sebuah musyawarah terlaksana dengan tidak ada pendapat Rasulullah saw di dalamnya. Bahkan, termasuk buruk dalam pandan-gan umum (&#8216;urf) dan pembangkangan menurut syariat jika sebuah musyawarah dilakukan dengan tanpa merujuk kepada Rasulullah saw atau orang yang menempati kedudukannya, yaitu wali amri. Allah SWT berfirman, &#8220;Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri dari mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).&#8221; (QS. an-Nisa: 83)</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis musyawarah ini berdasarkan ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah&#8230;&#8221; mempunyai tiga rukun:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Adanya orang-orang yang bermusyawarah, sehingga musyawarah terlaksana. Dan ini ditunjukkan oleh kata ganti hum (mereka) di dalam kata &#8220;wa syawirhun&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Adanya materi dan tema yang dimusyawarahkan, sehingga dengan itu musyawarah terlaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">3.Adanya pemimpin yang mengatur musyawarah, dan putusan terakhir bergantung kepada pandangannya. Ini ditunjukkan oleh kata ganti ta mukhaththab (orang kedua) pada kalimat &#8220;faidza &#8216;azamta fatawakkal &#8216;alallah&#8230;&#8221; Tidak diragukan, jika yang menjadi tema adalah urusan umum yang berkaitan dengan seluruh kaum Muslimin maka yang mempunyai hak memutuskan ialah wali amril Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak mungkin musyawarah yang sah dalam bentuknya yang Islami dapat terlaksana dengan tidak adanya salah satu di antara ketiga rukun di atas. Bisa saja wali aniri ada, orang yang bermusyawarah ada, namun tema musyawarah tidak ada, maka di sini musyawarah tidak terselenggara sama sekali. Oleh karena tidak ada permasalahan yang dapat mereka diskusikan dan musyawarahkan. Atau, bisa juga wali amri ada, tema musyawarah ada, namun kumpulan manusia yang akan bermusyawarah tidak ada, maka di sini berubah status dari musyawarah kepada nas atau perintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau juga, kumpulan manusia yang bermusyawarah ada, tema musyawarah ada, namun wali amri tidak ada, maka di sini musyawarah tidak berlangsung dengan bentuknya yang sah sebagaimana yang telah Allah SWT tetapkan di dalam Kitab-Nya, ketika Dia mewajibkan adanya pengawas atas musyawarah, yang menjadi tempat kembalinya urusan, Ketika masing-masing dari mereka mengeluarkan pandangannya, maka dia (wali amr) harus menjadi rujukan seluruh pandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Musyawarah yang tidak sah ini tidak mungkin bisa mengeluarkan keputusan-keputusan yang sah dan mengikat seluruh kaum Muslimin. Karena musyawarah ini bertentangan dengan apa yang telah ditekankan oleh ayat bahwa pada akhirnya urusan bcrgantung kepada wali amri, &#8220;Kemudian apabila kamu telah berketetapan hati, maka bertawakallah kepada Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saja ada orang yang membantah dan berkata bahwa ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan rnereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah&#8230;&#8221; adalah khusus untuk Rasulullah, sehingga tidak mengharuskan adanya wali amri di dalam musyawarah; dan tidak ada halangan musyawarah dilaksanakan dengan tanpa adanya wali amri, berdasarkan petunjuk ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. &#8221; Karena di dalam zahir ayat tidak terdapat kata wali amri yang berketetapan hati dan bertawakal, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Bantahan ini dapat dijawab dengan beberapa jawaban berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Sesungguhnya seluruh yang tertelapkan bagi Rasulullah saw, seperti hak ketaatan, juga tertetapkan bagi wali amri, berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri dari kamu.&#8221; Dengan begitu menjadi jelas bahwa jenis ketaatan kepada wali amri adalah jenis kctaatan yang sama dengan ketaatan kepada Rasulullah saw, disebabkan adanya athaf secara pasti, sebagaimana digunakannya satu kata (yaitu kata &#8220;taatilah&#8221;) untuk keduanya, yaitu &#8220;Taatilah Rasul dan ulil amri dari kamu&#8230; &#8221; Jika seandainya digunakan kata &#8220;athi&#8217;u&#8221; untuk ketiga kalinya bagi ulil amri, maka barulah benar perkataan yang mengatakan di sana terdapat perbedaan di antara dua ketaatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Sesungguhnya tata cara musyawarah yang telah Allah tetapkan dalam urusan-urusan umum yang berhubungan dengan seluruh kaum Muslimin adalah satu, &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudianjika kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah.&#8221; Sehingga penggunaan tata cara lain menuntut adanya dalil syariat yang menghasilkan perkara-perkara syariat, seperti kewajiban taat terhadap apa yang dihasilkan oleh musyawarah ini. Dan berargumentasi dengan ayat &#8220;Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka&#8221; untuk cara yang kedua dari musyawarah tidaklah sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena perkataan ini mendapat bantahan bahwa —tidak diragukan— ayat ini turun kepada Rasulullah saw. Dalam arti, ayat ini turun pada saat Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kaum Muslimin. Akal dan agama tentunya melarang kaum Muslimin bermusyawarah tentang suatu urusan umum yang menyangkut urusan seluruh kaum Muslimin dengan tanpa kehadiran Rasulullah saw di antara niereka dan dengan tanpa merujuk kepada beliau. Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah harus berada di tengah mereka ialah, bahwa kata ganti hum (mereka) di dalam ayat &#8220;Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka &#8221; mencakup Rasulullah saw. Di samping itu, sesungguhnya konteks ayat di atas berbicara tentang sifat-sifat orang Mukmin yang menang, &#8220;Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal Dan (bagl) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi rnaaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka; dan merteka menafkahkan sebagian reieki yang Kami berikan kepada mereka.&#8221; (QS. asy-Syura: 36-38)</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan bahwa seutama-utamanya ekstensi (mishdaq) orang-orang Mukmin adalah Rasulullah saw. Tidak diragukan bahwa Rasulullah saw adalah salah seorang dari mereka. Jika telah terbukti bahwa Rasulullah saw termasuk bagian dari musyawarah ini, maka tentu Anda tahu bahwa urusan musyawarah di dalam ayat ini kembali kepada Rasulullah saw, dan tentunya musyawarah ini tidak akan sempurna kecuali dengan ketetapan hati beliau, &#8220;Kemudian jika kamu telah berbulat hati maka bertawakallah kepada Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, sesungguhnya musyawarah ialah sebagaimana cara yang pertama. Seluruh yang terdapat di dalam ayat &#8220;Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka&#8221; adalah bersifat umum dan mujmal, sedangkan ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apahila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah&#8221; adalah merupakan penjelas dan perinci baginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah saya menjelaskan ini, dengan segera saya menambahkan bahwa kita akan sampai kepada hasil yang terbatas jika kita berpendapat bahwa ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka&#8230;&#8221; ini hanya khusus untuk Rasulullah saw, dan tidak untuk ulil amri. Karena jika demikian musyawarah tidak akan bisa berlangsung kecuali dengan adanya Rasulullah. Dan jika Rasulullah saw meninggal dunia maka tidak ada musyawarah, disebabkan tidak adanya salah satu rukun dasar di dalam musyawarah, yaitu Rasulullah saw. Namun jika kita me-ngatakan ayat ini tidak hanya khusus terbatas bagi Rasulullah saw saja, maka berarti kita mengatakan ayat ini juga mencakup ulil amri, sehingga dengan begitu musyawarah tetap ada dan sah dengan syarat adanya wali amri di dalamnya. Dan wali amri memiliki hak-hak yang dimiliki oleh Rasulullah saw di dalam musyawarah, karena dia menempati tempat Rasulullah. Sehingga dengan demikian, makna &#8220;Dan urusan mereka (diselesaikan) dengan permusyawatan di antara mereka&#8217; ialah mereka tidak dapat menyimpulkan suatu urusan dengan tanpa bermusyawarah kepada Rasulullah saw, di dalam urusan-urusan agama yang mereka perlukan. Sebagaimana firman Allah SWT, &#8220;Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri dari mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka pandangan musyawarah di dalam pengangkatan khalifah menemui jalan buntu, yang berakibat kepada batalnya pandangan tersebut. Berdasarkan pendapat pertama, yaitu yang mengatakan &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu&#8230;&#8221; hanya khusus untuk Rasulullah saw, sebagaimana diketahui bahwa musyawarah yang diselenggarakan untuk mengangkat khalifah pertama itu dilakukan setelah wafatnya Rasuullah saw, sehingga dengan begitu tentunya dia merupakan musyawarah yang tidak sah menurut hukum Islam dan pandangan Al-Qur&#8217;an, dan dengan begitu maka berarti seluruh keputusan yang dihasilkan darinya adalah tidak sah, yang salah satunya adalah pengangkatan khalifah pertama, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab hadis tentang tata cara pengangkatannya, pada sebuah tempat yang mereka namakan dengan Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Adz-Dzahabi telah merekam peristiwa tersebut di dalam kitab sejarahnya. Sebagaimana peristiwa ini direkam juga di dalam Sahih Bukhari, di dalam kitab al-hudud, bab merajam wanita yang mengandung hasil perbuatan zina, dengan riwayat dari Umar bin Khatab. Ibnu Jarir ath-Thabari juga merekam peristiwa ini di dalam kitab sejarahnya tatkala dia menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 11 Hijrah, di dalam jilid 2 dari kitab sejarahnya. Demikian juga Ibnu Atsir, dan Ibnu Qutaibah di dalam kitabnya Tarikh al-Khulafa, jilid 1. Dan begitu juga kitab-kitab referensi sejarah lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun berdasarkan pendapat yang kedua, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka&#8230; &#8221; terlaksana dengan adanya Rasulullah saw atau orang yang menempati kedudukannya, musyawarah yang sah tidak dapat terlaksana kecuali dengan adanya wali amri, dan wali amri tidak dapat diangkat kecuali dengan musyawarah yang sah, maka ini berarti terjadi dawr (berputar), dan dawr itu mustahil. Karena, tidak mungkin musyawarah yang sah dilaksanakan kecuali setelah adanya wali amri, sementara wali amri tidak mungkin ada kecuali setelah dilaksanakannya msuyawarah yang sah. Ini berarti perkara ini bergantung kepada dirinya, sehingga dengan begitu tidak akan mungkin musyawarah yang sah terlaksana untuk selamanya. Kecuali jika dikatakan bahwa di sana ada seorang wali amri yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, yang keberadaannya lebih dulu dibandingkan keberadaan musyawarah. Ini berarti penerimaan terhadap &#8220;pandangan nas&#8221;, yang dikatakan oleh madrasah Ahlul Bait.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin ada orang yang mengatakan tidak wajib adanya wali amri di dalam musyawarah, melainkan cukup dengan adanya orang yang bermusyawarah. Jika Anda membantah dengan mengatakan bahwa dhamir pada kata &#8216;azamta menunjukkan hak orang yang bermusyawarah untuk mengambil keputusan, dan ini menunjukkan bahwa dia itu wali amri di dalam musyawarah, maka bantahan ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa kata in &#8216;azamta (apabila kamu berbulat hati) adalah berarti berbulat hati untuk melaksanakan hasil musyawarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya zahir ayat di atas tidak demikian. Karena yang paling tampak dari ayat ini ialah tertetapkannya hak mengambil keputusan padanya. Dengan kata lain, sesungguhnya perkataan di atas baru dikatakan benar jika pendapat orang-orang yang bermusywarah itu satu; akan tetapi jika pendapat orang-orang yang bermusyawarah itu bermacam-macam, bagaimana musyawarah dapat mengambil keputusan?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika orang itu mengatakan harus berdasarkan suara mayoritas, mana dalilnya? Justru Allah SWT sering mengecam kelompok mayorits di dalam banyak ayatnya, &#8220;&#8230; kebanyakan orang yang ada di muka bumi berusaha menyesatkan kamu.&#8221; Bahkan, perkataannya ini bertentangan dengan bunyi ayat yang menyerahkan urusan pengambilan keputusan kepada satu orang yang bermusyawarah manakala terjadi perbedaan pendapat. Jika kita menerima ini, maka berarti orang itu telah keluar dari sifat orang yang bermusyawarah kepada sifat sifat seorang wali di dalam musyawarah. Bahkan, sekali pun orang-orang yang bermusyawarah sepakat atas suatu pendapat, maka orang itu (wali amri) tetap mempunyai hak untuk menetapkan atau tidak menetapkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembahasan di atas menjadi jelas bahwa pandangan musyawarah berada di antara dua jalan buntu:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Musyawarah dapat dilakukan dengan tanpa adanya Rasulullah saw dan ulul amri. Musyawarah yang seperti ini batal dan tidak sah. Dan pendapat yang mengatakan mungkinnya dilakukan musyawarah dengan tanpa adanya Rasulullah saw dan ulil amri memerlukan kepada dalil agama, namun tidak ada dalil agama yang menunjukkan kepada hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Atau, musyawarah dilakukan dengan adanya wali amri yang dijadikan sebagai rujukan. Kemungkinan ini dapat dibayangkan dalam beberapa bentuk:</p>
<p style="text-align: justify;">a. Wali amri sendiri menobatkan dirinya sebagai wali amril Muslimin. Cara yang seperti ini tentunya sesuatu yang tidak dibolehkan oleh agama. Ini merupakan sebuah perampasan tidak sah terhadap hak-hak kaum Muslimin, sehingga bagaimana bisa ketaatan kepadanya menjadi wajib atas seluruh kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Atau, adanya sekelompok kecil orang yang mengurusi urusan kaum Muslimin. Di sini pun kita tetap terperosok ke dalam dua jalan buntu yang telah kita bicarakan. Dalam bentuk ini kita akan tetap jatuh kepada pertanyaan, alasan syariat yang mana yang membenarkan kita mentaati mereka, dan mana dalilnya?!</p>
<p style="text-align: justify;">c. Allah SWT dan Rasul-Nya menetapkan seseorang sebagai wali amri. Maka di sini tidak diperlukan lagi musyawarah, disebabkan tidak mungkin menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. Pandangan ini sendiri adalah pandangan nas atau pandangan wasiat, sehingga dengan begitu ternafikanlah pandangan musyawarah. Dan sebagai konsekwensinya adalah batalnya kekhilafahan pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penjelasan-penjelasan ini menjadi jelas batalnya pandangan musyawarah di dalam menentukan khilafah dari semua segi, sehingga kita layak memalingkan tema musyawarah yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an al-Karim kepada tema-tema selain pengangkatan wali amril Muslimin, seperti musyawarah mengenai cara-cara penerapan hukum, strategi peperangan dan sebagainya, sebagai-mana yang menjadi konteks ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak tersisa lagi pintu bagi mereka, kecuali jika mereka mengklaim bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengangkat dan menetapkan kekhilafahan pertama (kekhilafahan Abu Bakar). Namun, Abu bakar sendiri tidak mengklaim hal itu. Karena jika Abu Bakar mengklaim hal itu, maka tentu dia akan berhujjah dengannya kepada orang-orang Anshar pada saat di Saqifah.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu hal lain yang juga jelas diketahui dari ayat syura ialah bahwa Allah SWT tidak mempercayai mereka dalam masalah strategi perang, yang masih merupakan sesuatu yang berada di dalam ruang lingkup sesuatu yang dapat dimusyawarahkan —sebagaimana yang dapat dipahami dari konteks ayat, dan— apalagi mempercayai mereka dalam sebuah urusan yang lebih besar, yaitu memilih khalifah pengganti Rasulullah saw. Jika Anda tidak mempercayai seseorang untuk mengelola uang seratus dinar, maka bagaimana mungkin Anda mempercayainya untuk mengelola uang seribu dinar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, bagaimana mungkin masuk akal Allah SWT menyerahkan kepada umat untuk memilih sendiri khalifahnya, padahal Allah SWT dan Rasul-Nya saw telah mengetahui akan terjadinya pembelotan langsung setelah wafatnya Rasulullah saw, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)?&#8230;&#8221; Jika Anda memperhatikan ayat ini dengan seksama niscaya akan jelas bagi Anda bahwa orang-orang yang diseru di sini adalah orang-orang Muslim. Karena tidak ada artinya pembelotan orang kafir, dan juga tidak bisa pembelotan ini diterapkan kepada Musailamah al-Kadzdzab, karena pembelotannya terjadi pada masa Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak masuk akal jika Allah SWT dan Rasul-Nya membiarkan urusan ini menjadi sia-sia di tengah-tengah kaum Muslimin, padahal Dia tahu akan terjadi berbagai fitnah di antara kaum Muslimin apabila tidak ditentukan pemimpin yang akan menjadi rujukan mereka. Sejarah menjadi saksi akan hal itu, di mana ketiadaan wali amri telah menyebabkan timbulnya berbagai fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin. Penyimpangan ini terus berlanjut hingga orang-orang yang fasik, orang-orang yang berbuat kerusakan, dan orang-orang yang tidak mempunyai rasa malu, akhlak dan agama, berkuasa atas kaum Muslimin. Untuk menambah keyakinan Anda, silahkan putar balik jarum jam Anda mulai dari empat belas abad yang lalu, lalu silahkan berhenti sejenak pada masa dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbas, yang memerintah manusia selama periode tertentu, supaya Anda dapat mengenal para penguasa mereka dan bagaimana mereka secara terang-terangan meminum khamar, dan bagaimana mereka bermain dengan anjing dan kera, setelah terlebih dahulu binatang-binatang itu dikenakan baju sutera yang halus dan perhiasan emas; dan perbuatan-perbuatan keji lainnya yang dilakukan para penguasa, yang sejarah pun merasa malu untuk mencatatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kejelekan-kejelekan konsep &#8220;pemilihan&#8221; dan sekaligus kemandulan konsep ini sejak dari dasarnya. Karena, orang yang kita pilih hari ini mungkin saja kita benci keesokan harinya, namun kita tidak mampu menurunkannya setelah menempatkan dia sebagai pemimpin. Kaum Muslimin telah berusaha mengerahkan segenap usahanya untuk menurunkan Usman, namun Usman enggan turun dengan mengatakan, &#8220;Saya tidak akan melepaskan pakaian yang telah Allah SWT kenakan kepada saya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kita membuktikan kelemahan dua dalil yang telah dikemukakan kelompok pertama, yang telah menjadikan konsep musyawarah sebagai pilar dasar di dalam memilih khalifah yang akan mengurusi urusan kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah saw, dan setelah jelas bagi kita jauhnya kedua dalil tersebut dari maqam khilafah dan kepemimpinan, kita kembali memejamkan mata dari kenyataan ini dan tetap saja tunduk dan menerima kedua dalil dalam masalah khilafah dan kepemimpinan ini, serta pura-pura tidak tahu akan penyimpangan-penyimpangan yang dimiliki keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah sikap pura-pura tidak tahu dan penerimaan akan kemandulan pandangan ini akan dapat menyelesaikan ketidak-jelasan peraturan di dalam semua hal yang berkaitan dengan cara pelaksanaan kandungannya? Kedua dalil ini tidak dapat meluruskan kebengkokan dan menutupi celah-celah kekurangan konsep ini. Karena konsep ini membutuhkan pembatasan dan perincian akan maknanya. Kedua nas yang diisyaratkan di atas, juga kehilangan ukuran-ukuran musyawarah dan cara-cara pengoreksiannya, di samping konsep ini juga memerlukan alat-alat pelaksanaan di dalam penerapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tidak mendapati di dalam hadis-hadis dan riwayat-riwayat serta di dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw telah mengemukakan konsep ini dan mengharuskan umat untuk melaksanakannya. Jika Rasulullah saw telah melakukan yang demikian, maka tentu kita mendapati Rasulullah saw telah menetapkan petunjuk-petunjuk yang jelas tentang hal itu, atau tentunya telah membiasakan hal itu di tengah-tengah umatnya guna mempersiapkan mereka, baik dari segi pemikiran, kejiwaan dan politik, supaya bisa melaksanakan konsep ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau setidaknya beliau telah mempersiapkan beberapa contoh figur yang cakap untuk memegang kepemimpinan percobaan dan pengawasan terhadap syariat dan pelaksanaannya. Namun, sebagaimana yang telah kita kemukakan, tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan kepada yang demikian itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Musyawarah, Dalam Kenyataan Pelaksanaan</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Musyawarah Dan Saqifah Bani Sa&#8217;idah</strong></p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarahwan menyebutkan bahwa kekhalifahan Abu Bakar diperoleh melalui jalan pencalonan dan pemilihannya di Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Peristiwa Saqifah, pada kenyataannya merupakan pijakan dasar yang dijadikan sandaran oleh Abu Bakar di dalam kekhalifahannya atas kaum Muslimin. Tidak mungkin seorang Muslim berpegang kepada kekhalifahannya kecuali jika dia mempercayai bahwa apa yang terjadi di Saqifah itu benar, dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan untuk bisa menentukan khalifah kaum Muslimin. Oleh karena pada pembahasan yang lalu kita telah membuktikan ketidakbenaran konsep musyawarah sebagai alat untuk mengangkat khalifah kaum Muslimin, maka pada kesempatan ini kita bermaksud ingin mengemukakan peristiwa Saqifah, yang merupakan penerapan lapangan dari konsep musyawarah, sehingga kita dapat menyingkap sampai sejauh mana kelurusan dan kebenaran konsep ini, untuk kemudian kita menyimpulkan apakah akan berpegang kepadanya atau tidak berpegang kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saqifah Di Dalam Kitab Tarikh Thabari</strong></p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Thabari menceritakan peristiwa ini secara rinci di dalam kitab Tarikhnya, jilid 2, terbitan al-Istiqlal Kairo, tahun 1358 Hijrah, atau bertepatan dengan tahun 1939 Masehi. Kita akan menukilkannya secara ringkas, sesuai kebutuhan, dari halaman 455 &#8211; 460 sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Orang-orang Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Mereka meninggalkan jenezah Rasulullah saw yang sedang dimandikan oleh keluarganya. Mereka berkata, &#8216;Kami menyerahkan urusan ini kepada Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah sepeninggal Rasulullah saw. Kemudian mereka menghadirkan Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah ke tengah-tengah mereka yang ketika itu sedang sakit. Maka Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah pun mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, lalu dia menyebutkan kedahuluan mereka di dalam agama, keutamaan-keutamaan mereka di dalam Islam, pemuliaan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabatnya, serta jihad mereka di dalam melawan musuh-musuhnya, sehingga bangsa Arab tegak dan Rasulullah saw meninggal dunia dalam keadaan rida kepada mereka. Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah berkata, &#8216;Maka gengamlah kuat-kuat urusan ini, jangan sampai orang lain yang menggenggamnya.&#8217; Orang-orang Anshar menjawab, &#8216;Sungguh tepat pendapat Anda, dan sungguh benar perkataan Anda. Kami tidak akan melanggar apa yang Anda perintahkan, dan akan kami angkat Anda sebagai pemimpin. Dan kaum Muslimin yang saleh tentu akan menyenangi.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka saling bertukar kata di antara mereka. Sebagian di antara mereka berkata, &#8216;Bagaimana apabila kaum Muhajirin menolak dan berkata, &#8216;Kami adalah kaum Muhajirin dan sahabat-sahabat Rasulullah saw yang pertama, kami adalah keluarganya dan wali-walinya, maka kenapa Anda hendak bertengkar dengan kami mengenai kepemimpinan sesudah Rasulullah saw?&#8217; Lalu sebagian mereka yang lain berkata, &#8216;Jika demikian, maka kita akan menjawab, &#8216;Seorang pemimpin dari kami, dan seorang pemimpin dari kamu. Selain begini, kita sama sekali tidak akan rela. Kita adalah pemberi perumahan, pelindung dan penolong, sementara mereka yang melakukan hijrah. Kita berpegang kepada Al-Qur&#8217;an sebagaimana mereka. Apa pun alasan yang mereka ajukan, kita akan mengajukan dalil yang sama. Kita tidak hendak memonopoli kekuasaan terhadap mereka, maka bagi kita harus ada seorang pemimpin dan bagi mereka seorang pemimpin.&#8217; Maka berkatalah Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah, &#8216;lniah awal kelemahan!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar dan Umar mendengar apa yang tengah dilakukan oleh orang-orang Anshar, maka mereka berdua pun bergegas pergi ke Saqifah dengan ditemani oleh Abu &#8216;Ubaidah bin Jarrah, dan kemudian bergabung bersama mereka Usaid bin Hudhair, &#8216;Awim bin Sa&#8217;idah dan &#8216;Ashim bin &#8216;Adi, dari kalangan Bani &#8216;Ajlan. Kemudian Abu Bakar berbicara, setelah sebelumnya melarang &#8216;Umar berbicara. Pertama-tama Abu Bakar mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, dan kemudian menyebutkan kedahuluan orang-orang Muhajir di dalam membenarkan Rasulullah saw, sebelum seluruh orang Arab yang lain. Abu Bakar berkata, &#8216;Mereka adalah orang-orang yang pertama menyembah Allah SWT di muka bumi dan beriman kepada Rasulullah saw. Mereka itu adalah keluarganya dan wali-walinya, dan manusia yang paling berhak atas urusan ini sepeninggalnya, serta tidak ada yang bertengkar dengan mereka di dalam urusan itu kecuali orang yang zalim.&#8217; Kemudian Abu Bakar menyebutkan keutamaan-keutamaan orang Anshar. Setelah itu dia berkata, &#8216;Setelah orang-orang Muhajir yang pertama tidak ada orang yang mempunyai kedudukan di sisi kita selain orang-orang Anshar. Maka oleh karena itu kami adalah pemimpin sedangkan Anda adalah wazir (pembantu).&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Hubab bin Mundzir berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, peganglah urusan Anda. Sesungguhnya manusia berada di bawah naungan Anda, dan tidak akan ada seorang pemberani yang berani menentang Anda. Oleh karena itu, janganlah Anda berselisih, sehingga akan merasak pendapat Anda dan menodai urusan Anda. Apabila mereka menolak kecuali sebagaimana yang telah Anda dengar, maka biarlah dari kita seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata, &#8216;Demi Allah, dua pedang tidak akan masuk ke dalam satu sarung. Orang Arab tidak akan menerima kepemimpinan Anda, wahai orang Anshar, karena Nabi bukan berasal dari Anda. Akan tetapi orang Arab tidak akan keberatan dipimpin oleh kaum yang Nabi berasal dari mereka. Tentang ini, kami mempunyai bukti yang jelas. Siapa yang memperselisihkan kami atas kekuasaan Muhammad dan pemerintahannya, padahal kami adalah wali-walinya dan kaum kerabatnya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Hubab bin Mundzir berdiri dan berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, jangan Anda dengarkan orang-orang ini, Umar dan sahabat-sahabatnya. Mereka akan mengambil hak Anda dan merampas kebebasan kalian untuk memilih. Jika mereka tidak setuju, kirim mereka pulang dan biarkan mereka membentuk pemerintahannya sendiri di sana. Demi Allah, Anda lebih berhak menjadi pemimpin dari mereka. Karena dengan perantaraan pedang Anda, orang-orang yang sebelumnya tidak memeluk agama ini menjadi memeluk agama ini.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata, &#8216;Kalau begitu, mudah-mudahan Allah SWT membunuhmu.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Hubab bin Mundzir berdiri, &#8216;Tidak, justru mudah-mudahan kamu yang dibunuh oleh Allah SWT.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu &#8216;Ubaidah berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, Anda adalah yang pertama membela Islam, maka janganlah Anda menjadi orang yang pertama memisahkan diri dan berubah.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka berdirilah Basyir bin Sa&#8217;ad al-Khazraji, ayah Nu&#8217;man bin Basyir berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, kita kaum Anshar telah memerangi kaum kafir dan membela Islam bukanlah untuk kehormatan duniawi, tetapi untuk memperoleh keridaan Allah SWT. Kita tidak mengejar kedudukan. Nabi Muhammad adalah orang Quraisy, dari kaum Muhajirin, dan layaklah sudah apabila seorang dari keluarganya menjadi penggantinya. Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa saya tidak akan melawan mereka. Saya harap Anda sekalian pun demikian.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Abu Bakar berdiri dan berkata, &#8216;lni Umar, dan ini Abu &#8216;Ubaidah, silahkan Anda baiat yang mana saja di antara mereka yang Anda suka.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi keduanya berkata, &#8216;Demi Allah, kami tidak akan mau memegang urusan ini selama Anda masih ada.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Abdurrahman bin &#8216;Auf berdiri dan berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, meskipun Anda berada di atas keutamaan, namun tidak ada di tengah Anda orang seperti Abu Bakar, Umar dan Ali.&#8217; Mendengar itu Mundzir bin Arqam berdiri dan berkata, &#8216;Kami tidak menolak keutamaan orang-orang yang Anda sebutkan, namun di antara mereka ada seseorang yang jika dia menuntut urusan ini maka tidak ada seorang pun yang memperselisihkannya, yaitu Ali bin Abi Thalib.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">(Maka orang-orang Anshar atau sebagian orang Anshar berkata, &#8216;Kami tidak akan membaiat kecuali Ali.&#8217;)</p>
<p style="text-align: justify;">(Umar berkata, &#8216;Suasana menjadi hangat dan suara-suara menjadi keras, dan untuk menghindari perpecahan saya berkata, &#8216;Bentangkan tangan Anda, wahai Abu Bakar, supaya aku membaitmu!&#8217;) Manakala keduanya bangkit hendak membait Abu Bakar, Basyir bin Sa&#8217;ad mendahului keduanya membait Abu Bakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubab bin Mundzir berteriak kepada Basyir bin Sa&#8217;ad, &#8216;Wahai Basyir bin Sa&#8217;ad! Hai orang durhaka, orang tuamu sendiri tidak menyukaimu. Engkau telah menyangkal ikatan keluarga, engkau dengki dan tidak mau melihat saudara sepupumu menjadi pemimpin.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Basyir bin Sa&#8217;ad berkata, &#8216;Tidak, demi Allah, aku tidak mau berselisih dengan satu kaum tentang suatu hak yang telah Allah SWT jadikan untuk mereka.&#8217; Manakala kaum Aus melihat apa yang telah dilakukan Basyir bin Sa&#8217;ad, apa yang diseru oleh kaum Quraisy dan apa yang diminta oleh kaum Khazraj untuk menjadikan Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah sebagai pemimpin, sebagian mereka berkata kepada sebagian mereka yang lain, di antaranya adalah Usaid bin Hudhair, &#8216;Demi Allah, bila kaum Khazraj sekali berkuasa atas dirimu, mereka akan seterasnya mempertahankan keunggulannya atas diri kamu, dan tidak akan pernah membagi kekuasaan itu kepadamu untuk selama-lama-nya; maka berdirilah, dan baiatlah Abu Bakar.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka mereka pun berdiri dan membaiatnya. Dan hancurlah kesepakatan yang telah mereka peroleh atas Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah dan kaum Khazraj. Orang-orang berdatangan dari semua sudut untuk membaiat Abu Bakar, hingga hampir saja mereka menginjak Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para sahabat Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah berkata, &#8216;Hati-hati, jangan sampai menginjak Sa&#8217;ad.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu Umar berkata, &#8216;Bunuh dia, mudah-mudahan Allah membunuhnya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Umar mendekatinya seraya berkata, &#8216;Saya ingin menginjak-injak engkau sampai remuk.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Putra Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah, Qais, menjambak janggut Umar dan berkata kepadanya, &#8216;Bila engkau menyentuh sehelai saja rambutnya, aku akan rontokkan semua gigimu!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar berteriak, &#8216;Tenang Umar! Dalam keadaan seperti ini kita harus tenang.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar pun pergi meninggalkan Sa&#8217;ad, tetapi Sa&#8217;ad berteriak, &#8216;Demi Allah, seandainya aku dapat berdiri, aku akan membuat huru hara di kota Madinah, agar engkau dan teman-temanmu bersembunyi ketakutan. Kemudian aku akan menjadikanmu pelayan, bukan penguasa. Bawa aku dari tempat ini.&#8217; Maka mereka pun membawa Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah dan memasukkannya ke dalam rumahnya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini tidak memerlukan penjelasan dan komentar lagi, dia sendiri dapat menyingkap bagaimana proses terjadinya pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifab&#8230; Sungguh proses tersebut jauh sekali dari proses musyawarah. Musyawarah tidak layak dilakukan di tempat yang tidak tepat ini, di mana Saqifah Bani Sa&#8217;idah terletak di sebuah ladang di luar kota Madinah. Tentunya Mesjid Rasulullah saw lebih utama untuk dijadikan tempat melakukan hal ini. Karena Mesjid Rasulullah saw adalah tempat berkumpulnya kaum Muslimin dan tempat dilakukannya musyawarah untuk membahas urusan-urusan dunia dan urusan-urusan agama. Di samping juga waktunya tidak sesuai, karena jenazah Rasulullah saw masih terbujur dan belum di-makamkan. Bagaimana bisa mereka meninggalkan jenazah Rasulullah saw dalam keadaan seperti ini, untuk memperebutkan urusan kekhalifahan, sementara sahabat-sahabat besar sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada seorang yang berakal yang menamakan peristiwa ini sebagai musyawarah?!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya mereka tidak sedang mencari kekhilafahan Islam yang mendapat petunjuk, yang dengan perantaraannya akan terjaga persatuan dan eksistensi kaum Muslimin. Kata-kata yang mereka ucapkan memberi petunjuk kepada hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata Sa&#8217;ad yang berbunyi, &#8220;Maka genggamlah kuat-kuat urusan ini, jangan sampai orang lain yang menggenggamnya&#8221;, lalu orang-orang Anshar menjawab, &#8220;Sungguh tepat pendapat Anda, dan sungguh benar perkataan Anda. Kami tidak akan melanggar apa yang Anda perintahkan&#8221;, dan begitu juga kata-kata Umar yang berbunyi, &#8220;Siapa yang memperselisihkan kami atas kekuasaan Muhammad dan pemerintahannya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh kata-kata ini menyingkap jati diri mereka. Mereka tidak menginginkan apa-apa kecuali kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping kata-kata kasar yang terjadi di antara para sahabat, padahal Rasulullah saw telah bersusah payah mendidik mereka selama dua puluh tiga tahun. Misalnya perkataan Umar terhadap Hubab, &#8220;Mudah-mudahan Allah membunuhmu&#8221;, dan begitu juga perkataan Hubab terhadap Umar, &#8220;Tidak, justru mudah-mudahan engkau yang dibunuh oleh Allah.&#8221; Atau perkataan Umar kepada Sa&#8217;ad bin Ubadah, &#8220;Bunuhlah dia, mudah-mudahan Allah membunuhnya.&#8221; Atau perkataan Umar yang lain kepada Sa&#8217;ad, &#8220;Saya akan menginjak-injak engkau hingga remuk.&#8221; Atau perkataan Qais bin Sa&#8217;ad kepada Umar sambil menjambak janggutnya, &#8220;Demi Allah, apabila engkau sentuh satu helai saja dari rambutnya, aku akan rontokkan semua gigimu.&#8221; Semua ini memberikan gambaran yang jelas bagi Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata keji yang seperti ini yang dilontarkan di tempat pemilihan yang sangat sensitif ini, hingga sampai tahap ancaman, pemukulan dan ajakkan untuk membunuh, semua ini menunjukkan betapa orang-orang yang berkumpul tersebut dipenuhi dengan rasa kedengkian dan permusuhan terhadap satu sama lain. Bagaimana mungkin kita bisa menerima musyawarah dari orang-orang seperti mereka —itu pun apabila musyawarah itu sah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, lihatlah kata-kata dan argumentasi yang mereka lontarkan terhadap satu sama lain, semua itu adalah argumentasi yang kosong dan jauh dari kebenaran. Sebagai contoh —misalnya— argumentasi Umar, yang merupakan argumentasi yang paling kuat, &#8220;Orang Arab tidak akan menerima kepemimpinan Anda, wahai orang Anshar, karena Nabi bukan berasal dari Anda. Akan tetapi orang Arab akan menerima dipimpin apabila oleh kaum yang Nabi berasal dari mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jika orang Arab tidak menerima kepemimpinan orang yang jauh dari Rasulullah saw, maka tentu mereka akan menerima kepemimpinan orang yang paling dekat hubungannya dengan Rasulullah saw, yaitu Ali bin Abi Thalib as. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as berhujjah, &#8220;Mereka berhujjah dengan pohan kenabian namun mereka meninggalkan buahnya.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn2">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika orang Arab tidak menerima kepemimpinan Ali as, maka tentu mereka lebih tidak menerima lagi kepemimpinan seorang laki-laki yang berasal dari kabilah Tim. Jika ini yang menjadi hujjah mereka, maka tentu hal ini akan menjadi hujjah yang kuat bagi Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar al-Jawahiri berkata tentang argumentasi Ali as, &#8220;Ali berkata, &#8216;Saya adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah.&#8217; Berita itu sampai kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar berkata kepada Ali, &#8216;Berbaiatlah.&#8217; Ali as menjawab, &#8216;Aku lebih berhak dari Anda atas kepemimpinan ini. Aku tidak akan berbaiat kepada Anda, justru Anda yang lebih layak berbaiat kepadaku. Anda telah merebut kepemimpinan ini dari kaum Anshar dengan berhujjah kepada mereka dengan kekerabatan Anda dengan Rasulullah, maka mereka pun menyerahkan kepemimpinan kepada Anda. Dan sekarang saya mengajukan hujjah yang sama dengan hujjah yang Anda ajukan kepada orang-orang Anshar. Maka bersikap adillah kepada kami, jika Anda memang mengkhawatirkan Allah atas diri Anda. Dan berikanlah pengakuan yang serupa kepada kami sebagaimana yang telah diberikan oleh kaum Anshar kepada Anda. Jika tidak, maka berarti Anda telah berlaku zalim dan Anda mengetahuinya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata kepada Ali, &#8216;Anda tidak akan dibiarkan hingga Anda berbaiat.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali menjawab, &#8216;Anda sedang memerah susu untuk Abu Bakar dan diri Anda sendiri. Anda bekerja untuknya hari ini, dan besok dia akan mengangkat Anda menjadi penggantinya. Demi Allah, saya tidak akan menerima kata-kata Anda, dan tidak akan mengikuti Anda.&#8217;&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn3">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan baiat dari Ali, bahkan dengan cara kekerasan sekali pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata, &#8220;Kita mendapat kabar bahwa Ali dan Zubair serta orang-orang yang bersamanya memisahkan diri dari kita dan berkumpul di rumah Fatimah.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn4">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Umar datang beserta rombongannya dengan membawa kayu bakar dan bermaksud membakar rumah Fatimah. Maka Fatimah datang menemui mereka dan berkata, &#8220;Apakah Anda datang dengan maksud hendak membakar rumah kami, wahai Putra Khattab?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar menjawab, &#8220;Ya, atau Anda semua melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh umat.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn5">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab Ansab al-Asyraf disebutkan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fatimah menemui Umar di pintu dan berkata kepadanya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Wahai Putra Khattab, apakah Anda akan tetap membakar rumah sementara aku berada di belakang pintunya?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar menjawab, &#8216;Ya.&#8217;&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn6">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarahwan mencatat orang-orang yang datang menyerbu untuk membakar rumah Fatimah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Umar bin Khattab.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Khalid bin Walid.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Abdurrahman bin &#8216;Auf.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Tsabit bin Qais bin Syammas.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Ziyad bin Labid.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Muhammad bin Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Zaid bin Tsabit.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Salmah bin Salamah bin Waghasy.</p>
<p style="text-align: justify;">9. Salmah bin Aslam.</p>
<p style="text-align: justify;">10. Usaid bin Hudhair.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya&#8217;qubi berkata, &#8220;Mereka datang berkelompok menyerang rumah, hingga pedang Ali patah dan mereka masuk ke dalam rumah.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn7">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Thabari berkata, &#8220;Umar memasuki rumah Ali, sementara di dalam rumah ada Zubair, Thalhah dan beberapa orang dari kaum Muhajir. Kemudian Zubair keluar dengan pedang terhunus, namun dia tergelincir dan pedangnya lepas dari tangannya. Maka mereka pun menangkap dan membawanya.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn8">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Fatimah melihat apa yang dilakukan Umar terhadap keduanya – Ali dan Zubair— maka dia berdiri di samping pintu kamar dan berkata, &#8220;Hai Abu Bakar, alangkah cepatnya Anda menyerang keluarga Rasulullah. Demi Allah, saya tidak akan berbicara dengan Umar sampai saya menemui Allah.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn9">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Karena peristiwa ini dan juga karena peristiwa penahanan warisan yang diterimanya dari Rasulullah saw serta peristiwa-peristiwa lainnya, Fatimah marah kepada Abu Bakar, dan tidak mau berbicara dengannya hingga meninggal dunia. Fatimah az-Zahra hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah saw. Ketika Fatimah az-Zahra wafat, jenazahnya dikuburkan oleh suaminya pada malam hari, dan tidak diizinkan Abu Bakar untuk melihat jenazahnya.<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn10">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebuah riwayat disebutkan bahwa Fatimah az-Zahra berkata kepada Abu Bakar, &#8220;Demi Allah, saya akan mendoakan keburukan bagimu pada setiap salat yang saya kerjakan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn11">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Abu Bakar berkata pada saat hendak meninggal dunia, &#8220;Tidak ada satu pun yang saya sesali dari dunia ini kecuali tiga hal yang telah saya lakukan. Saya sangat berharap tidak melakukannya.&#8221; (Hingga dia mengatakan), &#8220;Adapun ketiga hal yang telah saya lakukan itu: Saya sangat berharap tidak membuka paksa rumah Fatimah, meski pun mereka menguncinya untuk melakukan peperangan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn12">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Tarikh Ya&#8217;qubi disebutkan, &#8220;Oh, seandainya saya tidak membuka paksa rumah Fatimah dan memasukkan orang-orang ke dalamnya meski pun mereka menguncinya untuk melakukan peperangan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn13">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair Mesir, Hafidz Ibrahim, menulis di dalam syairnya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kepada Ali, Umar berkata, &#8216;Rumahmu akan kubakar!<br />
Bila engkau tidak berbaiat kepada Abu Bakar&#8217;<br />
Meski pun Fatimah putri Musthafa ada di dalam<br />
Abu Hafshah tidak segan melawan Ali, pahlawan Adnan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka mengancam akan membunuh Ali. Mereka menyeret Ali dengan paksa keluar dari rumahnya, dan membawanya ke hadapan Abu Bakar. Mereka berkata, &#8220;Berbaiatlah.&#8221; Ali berkata, &#8220;Kalau aku tidak mau, bagaimana?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menjawab, &#8220;Kalau demikian, demi Allah, kami akan penggal kepalamu.&#8221; Ali menjawab, &#8220;Kalau begitu, kamu akan memenggal kepala hamba Allah dan saudara Rasulullah?&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn14">[13]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kekhalifahan yang dimulai dengan pemaksaan dan diakhiri dengan ancaman pembunuhan tidak dapat menjadi bukti bagi konsep musyawarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Abu Bakar dan Umar menyadari keburukan yang telah dilakukannya, mereka datang untuk meminta maaf kepada Fatimah. Namun kesempatan telah terlambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Fatimah berkata kepada mereka, &#8220;Apakah Anda mau mendengar apabila aku katakan kepada Anda suatu perkataan yang berasal dari Rasulullah saw, yang Anda kenal dan Anda telah berjuang untuk beliau?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua menjawab, &#8220;Ya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Fatimah berkata, &#8220;Apakah Anda tidak mendengar Rasulullah saw telah bersabda, &#8216;Keridaan Fatimah adalah keridaanku, dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Barangsiapa yang mencintai Fatimah, Puteriku, maka berarti dia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membuat Fatimah marah, maka berarti dia telah membuatku marah?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua menjawab, &#8220;Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah saw.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Fatimah berkata, &#8220;Saya bersaksi kepada Allah para malaikat-Nya, sesungguhnya Anda berdua telah membuat saya marah dan Anda berdua telah membuat saya tidak rida. Seandainya kelak saya bertemu dengan Nabi saw, saya akan adukan Anda berdua kepada beliau.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Fatimah berkata kepada Abu Bakar, &#8220;&#8230; Demi Allah, saya akan mendoakan keburukan bagimu pada setiap salat yang saya kerjakan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn15">[14]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, Abu Bakar tidak berhak atas kekhalifahan kaum Muslimin melalui syura. Karena musyawarah tersebut tidak sah secara teoritis, dan tidak ada wujudnya dalam tataran kenyataan. Jika kita tetap mengakui bahwa Abu Bakar telah memperoleh kekhalifahan kaum Muslimin melalui syura, dan itu merupakan satu-satunya cara untuk itu, maka yang perlu kita tanyakan ialah, atas hak apa Abu Bakar mengangkat Umar menjadi khalifah sepeninggalnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Abu Bakar dan kekhalifahannya menghadapi dua masalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, musyawarah sebagai jalan yang Allah SWT tetapkan untuk mengangkat seorang khalifah. Maka di sini berarti Abu Bakar telah membangkang perintah Allah SWT dengan mengangkat Umar sebagai khalifah penggantinya, tanpa proses musyawarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, musyawarah bukan merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT. Maka dengan demikian kekhalifahan Abu Bakar tidak sah, karena muncul melalui musyawarah yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga kekhalifahan Umar dan Usman tidak sah, kecuali kekhalifahan Ali as. Seluruh umat sepakat untuk membaiat Ali setelah Usman terbunuh, di samping nas-nas dari Allah dan Rasul-Nya yang menunjukkan kepada kekhalifahan dan keimamahannya. Jika di sana terdapat musyawarah maka kekhalifahan untuk Ali, dan begitu juga jika ditetapkan berdasarkan pengangkatan maka kekhalifahan tetap untuk Ali. Sebagaimana yang diceritakan secara mutawatir oleh riwayat-riwayat.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menyempurnakan pembahasan, marilah kita akhiri pembahasan ini dengan dialog berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Maitsam ditanya, &#8220;Kenapa Ali duduk berdiam diri tidak memerangi mereka?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Maitsam menjawab, &#8220;Sebagaimana duduk berdiam dirinya Harun terhadap Samiri, padahal mereka telah menyembah patung anak sapi. Seperti Harun ketika mengatakan, &#8216;(Harun berkata), &#8216;Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.&#8217; (QS. al-A&#8217;raf: 150) Seperti Nuh tatkala berkata, &#8216;Aku ini orang yang dikalahkan, oleh karena itu menangkanlah (aku).&#8217;(QS. al-Qamar: 10) Seperti Luth tatkala mengatakan, &#8216;Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).&#8217; (QS. Hud: 80) Dan seperti Musa dan Harun tatkala mengatakan, &#8216;Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.&#8217;&#8221; (QS. al-Maidah: 25)]</p>
<p style="text-align: justify;">Makna ini dapat kita ambil dari perkataan Amirul Mukminin as manakala sampai berita kepadanya bahwa dia tidak memerangi dua orang yang pertama. Imam Ali as berkata, &#8220;Saya mempunyai suri teladan dari enam nabi. Yang pertama ialah Ibrahim al-Khalil as, tatkala dia mengatakan, &#8216;Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah.&#8217; (QS. Maryam: 48)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Dia menjauhkan diri dari mereka dengan tanpa ada sesuatu yang tidak disukai&#8217;, maka Anda telah kafir.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Dia menjauhkan diri dari mereka disebabkan dia melihat sesuatu yang tidak disukai&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Luth as, tatkala dia mengatakan, &#8216;Seandainya aku ada mempunyai kekuatan untuk menolakmu atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).&#8217; (QS. Hud: 80)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya Luth mempunyai kekuatan untuk menolak mereka&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya dia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak mereka&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Yusuf as tatkala dia mengatakan, &#8216;Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku.&#8217; (QS. Yusuf: 33)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Nabi Yusuf meminta penjara dengan tanpa adanya sesuatu yang tidak disukai yang dibenci oleh Allah SWT&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya dia diajak kepada sesuatu yang dimurkai Allah&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Musa as, tatkala dia mengatakan, &#8216;Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu.&#8217; (QS. asy-Syu&#8217;ara: 21)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya Nabi Musa as lari dengan tanpa ada sesuatu yang ditakutkan&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya dia lari meninggalkan mereka disebabkan mereka ingin berbuat jahat kepadanya&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Harun, tatkala dia berkata kepada saudaranya, &#8216;Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku.&#8217; (QS. Al-A&#8217;raf: 150)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Mereka tidak menganggap Harun as lemah dan tidak hampir membunuhnya&#8217;, berarti Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Mereka telah menganggap Harun as lemah dan hampir membunuhnya, dan oleh karena itu dia mendiamkan mereka&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah Muhammad saw tatkala dia lari ke gua dan meninggalkan saya di ranjangnya, dan saya mempersembahkan nyawa saya kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Muhammad telah lari dengan tanpa adanya sesuatu yang mengancamnya dari pihak mereka&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Mereka telah mengancamnya, dan tidak ada jalan lain baginya kecuali lari ke gua&#8217;, maka washi dimaafkan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu orang-orang berkata, &#8220;Anda benar, wahai Amirul Mukminin.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn16">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para Sahabat Dan Ayat Inqilâb</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakahjika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&#8221; (QS. Ali Imran: 144)</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya titik berat ayat yang mulia ini berbicara tentang wafatnya Rasulullah saw dan peristiwa pembelotan yang terjadi sesudahnya. Titik berat pembicaraan ayat ini terkumpul di dalam tiga ungkapan, yaitu ungkapan &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul&#8221;, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh&#8221;, dan &#8220;Kamu akan berbalik ke belakang?&#8221; Untuk mendalami ayat ini dan membahasnya secara rinci, mau tidak mau kita harus melontarkan beberapa pertanyaan yang tajam, untuk menggali pemikiran dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Allah SWT tidak cukup hanya dengan mengatakan &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul&#8221;, melainkan melanjutkannya secara langsung dengan kata-kata &#8220;Apakahjika dia wafat atau dibunuh&#8221;, padahal konteks ayat di atas berdiri tegak dengan ungkapan pertama?</p>
<p style="text-align: justify;">Apa perbedaan antara mati dan terbunuh? Huruf &#8220;aw&#8221; athaf (atau) memberikan arti pemisahan antara ma&#8217;thuf dengan ma&#8217;thuf &#8216;alaih, lantas apa perbedaan di antara keduanya? Mengapa pengulangan ini muncul dari Allah SWT, padahal Dia mengetahui bahwa Rasulullah akan mati? Siapa orang yang disinggung di dalam firman-Nya &#8220;Jika kamu berbalik ke belakang&#8221;! Dari apa mereka berbalik ke belakang? Dan apa hubungannya antara pembelotan (berbalik ke belakang) dengan wafatnya Rasulullah saw?</p>
<p style="text-align: justify;">Konteks ayat ini berbicara tentang sikap istiqamah, lantas kenapa ayat ini menggunakan kata-kata &#8220;Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur&#8221;, dan tidak mengatakan &#8220;Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang istiqamah, orang-orang Muslim, atau orang-orang Mukmin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mau tidak mau kita harus menyebutkan dua mukaddimah berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, tentang sebab-sebab turunnya ayat ini. Para mufassir menyebutkan bahwa yang menjadi sebab turunnya ayat ini ialah kekalahan yang diderita oleh kaum Muslimin setelah peperangan Uhud, di mana kaum musyrikin menyebarkan berita bahwa Rasulullah saw telah terbunuh di dalam peperangan. Berita ini telah menciptakan kerapuhan, kemunduran dan keraguan pada sebagian kaum Muslimin. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai teguran terhadap kaum Muslimin atas yang demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, mana yang pokok di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an? Apakah yang pokok ialah bahwa ayat-ayat Al-Qur&#8217;an cocok untuk seluruh jaman, kecuali yang dikecualikan oleh suatu dalil? Atau, apakah justru sebaliknya?</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya ialah, jika ayat-ayat Al-Qur&#8217;an cocok untuk seluruh jaman, maka kita dapat mengumumkan makna ayat di atas kepada jaman-jaman yang lain selain dari jaman yang menjadi sebab-sebab turunnya ayat. Jika tidak, maka berarti kita terikat dengan sebab-sebab yang melatar belakangi turunnya ayat di atas, dan penggenaralisiran ayat di atas kepada jaman-jaman yang lain selain dari jamannya itulah yang memerlukan alasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama Islam, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun Syi&#8217;ah sepakat bahwa pengambilan pelajaran berdasarkan keumuman lafaz, bukan berdasarkan kekhususan sebab. Jika yang menjadi pokok ialah tidak berlakunya ayat-ayat Al-Qur&#8217;an pada setiap jaman, niscaya akan batallah pelaksanaan Al-Qur&#8217;an pada jaman-jaman berikut, atau kita akan meninggalkan sebagian besar ayat Al-Qur&#8217;an di dalam kebekuan dan ketidak-sesuaian dengan jaman. Hal ini jelas tidak sejalan dengan ruh Islam, dan juga tidak sejalan dengan ajaran-ajarannya serta keumumannya. Ini adalah dalil akal. Dan sebagian besar ayat Al-Qur&#8217;an mendukung dalil ini, dimana ayat-ayat tersebut mendorong manusia untuk mau bertadabbur dan mengamalkan Al-Qur&#8217;an, serta mengecam perbuatan sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita membenarkan pendapat yang kedua, niscaya tidak akan ada artinya firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Dan apabila dibacakan Al-Qur&#8217;an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.&#8221; Karena, ayat ini mengisyaratkan kepada seluruh Al-Qur&#8217;an, dan tidak mengkhususkan kepada sebagian dari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, melainkan kita harus berusaha untuk bisa memahami seluruh ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, memperhatikannya dan memetik pelajaran darinya. Hal ini sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita untuk mentadabburinya, &#8220;Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur&#8217;an ataukah hati mereka terkunci?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur&#8217;an al-Karim mengecam orang yang mengimani sebagian Al-Qur&#8217;an dan tidak mengimani sebagian lainnya, &#8220;(Yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur&#8217;an itu terbagi-bagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;(Yaitu) orang-orang beriman kepada sebagian al-Kitab (Al-Qur&#8217;an) dan kafir kepada sebagian yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur&#8217;an ini bermacam-macam perumpamaan.&#8221; (QS. al-Kahfi: 54)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur&#8217;an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?&#8221; (QS. al-Qamar: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. &#8221; (QS. Fushshilat: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur&#8217;an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.&#8221; (QS. az-Zukhruf: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat-ayat ini mendorong kita untuk berpegang kepada Al-Qur&#8217;an seluruhnya, tidak sebagiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil, jika kita berpegang kepada pendapat yang kedua, maka tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang menerimanya. Kalau pun seandainya kita berpegang kepada pendapat yang kedua, sesungguhnya ayat yang sedang menjadi pembahasan kita mempunyai dalil-dalil yang membuktikan bahwa dia tidak hanya khusus bagi jaman pada saat dia turun, melainkan dia terus berlaku sepanjang kehidupan Rasulullah saw, dan bahkan sesudahnya. Adapun dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya berita yang tersebar pada saat peperangan Uhud ialah berita terbunuhnya Rasulullah saw. Dan ayat ini berbicara tentang kejadian wafatnya Rasulullah saw, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh&#8230; &#8221; Seandainya ayat ini hanya dikhususkan bagi jaman pada saat dia diturunkan, maka tentu Allah SWT akan berkata, &#8220;Apakah jika dia dibunuh &#8220;. Sepertinya, penyebutan kata &#8220;wafat&#8221; adalah untuk menunjukkan bahwa perbuatan berbalik ke belakang yang terjadi pada peperangan Uhud juga akan terjadi pada saat setelah kematian Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Faidah praktis dari mukaddimah ini dalam pembahasan kita ialah, kita tidak dibebani kewajiban untuk mengemukakan sebuah dalil yang mengumumkan ayat inqilab ini kepada kejadian yang bukan merupakan sebab turunnya ayat ini, jika pendapat pertama yang benar, dan ini adalah pendapat yang benar —sebagaimana yang Anda saksikan. Adapun berdasarkan pendapat yang kedua, mau tidak mau harus ada sebuah dalil khusus untuk membuktikan bahwa ayat ini tidak hanya dikhususkan bagi kejadian tempat dia diturunkan, melainkan berlaku sepanjang kehidupan Rasulullah saw, dan bahkan jaman sepeninggal beliau. Seandainya pendapat yang kedua itu yang benar, maka dalil yang menunjukkan berlakunya ayat ini sepanjang kehidupan Rasulullah saw dan bahkan jaman sepeninggal beliau, terdapat di dalam ayat itu sendiri. Di mana, dan bagaimana?</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun pertanyaan &#8220;di mana&#8221;, maka jawabannya ialah di dalam firman Allah SWT yang berbunyi &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh&#8230;&#8221; Sedangkan pertanyaan &#8220;bagaimana&#8221;, maka jawabannya ialah bahwa berita yang tersebar luas di sekitar dan di dalam kota Madinah pada saat terjadi peperangan Uhud ialah berita terbunuhnya Rasulullah saw, yang menyebabkan sebagian dari para sahabat murtad dan berbalik ke belakang. Jika Allah SWT hendak mengkhususkan ayat ini hanya bagi peperangan Uhud, niscaya Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Apakah jika dia terbunuh&#8230;&#8221; Namun penyebutan kata &#8220;wafat&#8221; oleh Allah SWT di dalam ayat, &#8220;Apakah jika dia wafat atau terbunuh&#8230;&#8221;, memberikan pengertian yang pasti bahwa keadaan yang sama benar-benar akan terulang pada saat Rasulullah saw meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Insya Allah, akan datang penjelasan lebih rinci kepada Anda yang menguatkan bahwa ayat ini tidak hanya terbatas kepada peristiwa perang Uhud, melainkan juga mencakup jaman hingga meninggalnya Rasulullah saw, dan bahkan jaman sesudahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah, sesungguhnya mati mempunyai dua arti: Mati dalam arti umum, yaitu peristiwa dicabutnya ruh,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di mana saja kamu berada, kematian akan mendatangi kamu, meski pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.&#8221; (QS. an-Nisa: 78)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi).&#8221; (QS. al-Hajj: 66)</p>
<p style="text-align: justify;">Juga terdapat mati dalam arti khusus, sebagai lawan dari terbunuh. Yaitu orang yang mati disebabkan telah rusaknya bangunan kehidupannya. Dan ayat mana saja yang menyebutkan kedua kata tersebut secara bersamaan, yaitu kata mati dan terbunuh, maka yang dimaksud dengan mati adalah mati dalam arti khusus. Pengertian ini lebih bertambah kuat lagi manakala digunakan kata aw (atau), yang memberikan arti pemisahan di antara ma&#8217;thuf dan ma&#8217;thuf &#8216;alaih. Contohnya ialah firman Allah SWT yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sungguh kalau kamu terbunuh di jalan Allah atau meninggal dunia, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.&#8221; (QS. Ali Imran: 157)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sungguh jika kamu meninggal dunia atau terbunuh, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.&#8221; (QS. Ali Imran: 158)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.&#8221; (QS. Ali Imran: 156)</p>
<p style="text-align: justify;">Karena, jika kata &#8220;mati&#8221; di dalam ayat-ayat ini bermakna umum maka tentu tidak diperbolehkan menggunakan kata &#8220;terbunuh&#8221;, karena sudah tercakup di dalamnya. Dan jika hal itu dilakukan, maka ini berarti bertentangan dengan kefasihan bahasa. Dari sini kita dapat membuktikan bahwa yang dimaksud dengan mati di dalam ayat Inqilâb ialah mati dalam arti khusus, yang merupakan lawan dari kata terbunuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa Allah SWT menekankan kepada sifat kerasulan pada diri Rasul-Nya, dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang rasul, sebagaimana telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Untuk tujuan itu sebenarnya Allah SWT cukup dengan hanya mengatakan, &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul&#8221;, namun kenapa Allah SWT melanjutkannya secara langsung dengan mengatakan, &#8220;Apabila dia wafat atau dia dibunuh&#8221;?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terbayang pertama kali di dalam menjawab pertanyaan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian para mufassir, yaitu bahwa Allah SWT hendak menarik perhatian kaum Muslimin kepada sebuah hakikat, bahwasannya Nabi Muhammad saw itu tidak kekal. Dia itu akan mati dan berlalu. Keadaannya persis sebagaimana rasul-rasul yang lain yang telah mati dan berlalu. Makna ini adalah makna yang tampak, namun bukan satu-satunya makna. Karena kalau sekiranya maksud Allah SWT hanya sebatas hendak menetapkan sifat kematian bagi Rasulullah saw, maka tentunya Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang manusia, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang manusia.&#8221; Untuk menekankan kepada kefanaan dan ketidak-langgengan yang sudah merupakan tabiat manusia. Juga terdapat beberapa arti yang lebih luas dan lebih dalam dari arti ini, yang menuntut dikemukakannya dan ditekankannya sifat kerasulan. Yaitu,</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, sebagaimana keberadaan agama tidak digantungkan kepada kehidupan rasul-rasul yang lalu, maka demikian juga keberadaan agama ini tidak digantungkan kepada kehidupan Rasulullah saw. Sebagaimana para nabi terdahulu meninggal dunia dan agama tetap berlangsung sepeninggal mereka, maka demikian pula manakala Rasulullah saw meninggal dunia atau terbunuh, agama akan tetap berlangsung sepeninggalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, ini merupakan arti yang paling dalam dan paling mencakup, yaitu penekanan terhadap hakikat kesesuaiaan sunah-sunah di antara umat sepeninggal rasul-rasulnya. Maka apa yang telah terjadi atas umat-umat tersebut, akan terjadi pula atas umat ini. Al-Qur&#8217;an, sunah Rasulullah saw dan kenyataan menguatkan hakikat ini. Adapun Al-Qur&#8217;an al-Karim mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan ruhul qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akn tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.&#8221; (QS. al-Baqarah: 253)</p>
<p style="text-align: justify;">Dhamir (kata ganti) hum kembali kepada kata ar-rusul (rasul-rasul). Jika yang dikehendaki oleh Allah SWT hanyalah Isa as maka tentu Allah SWT akan menggunakan ungkapan &#8220;min ba&#8217;dih&#8221; (sesudahnya). Juga tidak bisa dikatakan bahwa yang dikehendaki oleh Allah dengan dhamir &#8220;hum&#8221; (mereka) adalah Isa as, sebagai penghormatan. Karena kedudukan dhamir &#8220;hum&#8221; pada kata &#8220;min ba&#8217;dihim&#8221; (sesudah mereka) dengan maksud sebagai pengagungan, itu bertentangan dengan kefasihan. Adapun berkenaan dengan orang yang mengatakan bahwa dhamir &#8220;hum&#8221; hanya merupakan makna majazi (kiasan), maka kita katakan, sesungguhnya jika terjadi keraguan apakah suatu lafaz itu digunakan dalam arti majazi (kiasan) atau hakiki (arti sebenarnya) maka kita berpegang kepada arti hakiki. Pada penggunaan dhamir hum dalam arti hakiki maka dhamir hum kembali kepada &#8220;rasul-rasul itu&#8221;, yang salah satu di antaranya adalah Rasulullah saw, berdasarkan petunjuk ayat sebelumnya yang berbunyi, &#8220;Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.&#8221; Kemudian Allah SWT melanjutkan, &#8220;Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, sesungguhnya perihal kesesuaian sunah-sunah juga ditunjukan oleh banyak riwayat yang masyhur dan sahih, yang disepakati oleh kaum Muslimin. Seperti sabda Rasulullah saw yang berbunyi, &#8220;Niscaya kamu akan mengikuti sunah-sunah orang sebelummu. Bulu anak panah dengan bulu anak panah, dan sandal dengan sandal. Bahkan jika mereka memasuki lubang biawak, niscaya kamu pun akan memasukinya.&#8221; Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah sepeninggalku engkau kembali menjadi orang-orang kafir, yang sebagianmu memenggal sebagian leher yang lain.&#8221; Rasulullah saw juga telah bersabda, &#8220;Orang-orang Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, sementara orang-orang Kristen telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akn berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan darinya berada di dalam neraka, dan hanya satu golongan yang selamat.&#8221; Bahkan, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menunjukkan kepada fenomena ini. Seperti firman Allah SWT yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali kejadian-kejadian yang sama dengan kejadian-kejadian yang menimpa orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka.&#8221; (QS. Yunus: 102)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, danAllah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan Kitab kepada mereka, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.&#8221; (QS. al-Baqarah: 213)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, &#8216;Kami telah beriman&#8217;, sedang mereka tidak diuji lagi?&#8221; (QS. al-Ankabut: 2)</p>
<p style="text-align: justify;">Sesunggunya dalil terbesar yang menunjukkan kepada kesesuaian di antara sunah-sunah umat terdahulu dan umat kemudian ialah kenyataan yang terjadi pada para sahabat sepeninggal Rasulullah saw, yaitu di mana sebagian mereka mengkafirkan sebagian mereka yang lain, dan masing-masing dari mereka memfasikkan yang lainnya, hingga berakhir dengan terjadinya peperangan yang dahsyat di antara mereka, yang menelan korban lebih dari seratus ribu kaum Muslimin. Inilah ekstensi dari ayat yang berbunyi, &#8220;Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah rasul-rasul itu.&#8221; (QS. al-Baqarah: 253)</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah ini, tidak bisa seseorang mengatakan, bagaimana mungkin para sahabat berbalik ke belakang padahal merekalah yang telah mengorbankan harta dan diri mereka, dan telah memerangi keluarga mereka serta telah berdiri tegar di sisi Rasulullah saw dalam keadaan susah dan lapar, serta mereka telah melihat ayat-ayat dan mukjizat-mukjizatnya!! Karena di samping alasan-alasan yang telah disebutkan di atas, keragu-raguan ini dapat dijawab dengan hal-hal berikut,</p>
<p style="text-align: justify;">a. Sesungguhnya kata ganti orang kedua di dalam ungkapan &#8220;inqalabtum&#8221; (kamu berbalik ke belakang) ditujukan kepada mereka para sahabat. Karena tidak logis jika yang dimaksud adalah orang-orang kafir atau orang-orang munafik, karena mereka adalah orang-orang yang menyimpang atau berbalik ke belakang sejak awal.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Ilmu tidak menjamin pemiliknya untuk lurus. Betapa banyak manusia yang mengetahui bahwa kebenaran berada di suatu tepian, namun disebabkan hawa nafsunya dia justru cenderung kepada tepian yang lain. Bahkan, kebanyakan pembangkangan terjadi setelah datangnya pengetahuan tentang kebenaran. Allah SWT berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.&#8221; (QS. Ali Imran: 19)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang-orang yang telah didatangkan Kitab kepada mereka, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di antara mereka sendiri.&#8221; (QS. al-Baqarah: 213)</p>
<p style="text-align: justify;">Segala sesuatunya terang dan jelas, namun mereka berselisih dan saling berbunuh-bunuhan, &#8220;Dan kalaulah Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan.&#8221; (QS. al-Baqarah: 253)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan kemudian Allah membiarkannya sesat atas ilmunya. &#8221; (QS. al-Jatsiyah: 23)</p>
<p style="text-align: justify;">c.  Sesungguhnya pengorbanan-pengorbanan yang lalu dan kesabaran atas berbagai musibah, tidak menjamin manusia untuk tidak jatuh ke dalam penyimpangan di masa yang akan datang. Pengorbanan dan kesabaran yang mereka (para sahabat) tunjukkan tidak lebih besar dari pengorbanan dan kesabaran yang ditunjukkan oleh Bani Israil manakala Fir&#8217;aun memotong kaki dan tangan mereka, menyalib mereka,  membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan anak-anak perempuan mereka, dan membunuh kaum laki-laki dari mereka, namun mereka tetap sabar berpegang kepada seruan Nabi Musa as, dan mereka melihat dengan jelas mukjizat-mukjizat besar yang ditunjukkan oleh Nabi Musa as, yang mana yang terbesar darinya ialah membelah lautan menjadi dua bagian, sehingga tidak ubahnya menjadi dua buah gunung yang besar. Namun, tatkala Nabi Musa as meninggalkan mereka beberapa hari, mereka kembali menyembah patung anak sapi. Sehingga sepertinya sudah menjadi watak manusia melakukan pelanggaran manakala dia merasa cukup dan aman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.&#8221; (QS. al-&#8217;Alaq: 6)</p>
<p style="text-align: justify;">d. Betapa pun seorang manusia telah tinggi di dalam derajat keimanan, dia tetap tidak dimaksum oleh Allah SWT, sehingga bisa saja dia berbalik ke belakang dan kembali kafir. Tidak ada contoh yang lebih besar dari Bal&#8217;am bin Ba&#8217;ura,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), makajadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesunggunya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.&#8221; (QS. al-A&#8217;raf: 175-178)</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada salah seorang dari sahabat telah mencapai tingkat keimanan yang seperti ini, hingga mencapai tingkat membawa Ism al-A&#8217;zham? Sungguh telah menyimpang orang yang telah mencapai derajat ini, apalagi orang yang ada di bawahnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Timbul pertanyaan di sini, &#8220;Pembelotan (perbuatan berbalik ke belakang) itu terjadi atas apa?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, merupakan tugas kita untuk menanyakan, atas apa pembelotan itu biasanya terjadi?</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ayat Inqilab terdapat unsur-unsur dasar yang dapat menghantarkan kita kepada jawaban pertanyaan ini, dengan melakukan analisa dan penarikan kesimpulan darinya:</p>
<p style="text-align: justify;">a. Ayat Inqilab mempunyai hubungan yang langsung dengan wafatnya Rasulullah saw, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">b. Pembelotan menunjukkan adanya satu dasar yang menjadi tempat terjadinya pembelotan. Yaitu suatu dasar yang dikenal di kalangan seluruh orang yang membelot. Karena jika orang-orang yang membelot itu tidak mengetahui dasar ini, maka tentu tidak dikatakan kepada mereka, &#8220;Kamu berbalik ke belakang.&#8221; Bahkan, sesuatu yang menjadi tempat terjadinya pembelotan adalah sesuatu yang dipegang teguh oleh para pembelot untuk beberapa waktu hingga terjadinya pembelotan.</p>
<p style="text-align: justify;">c.  Sesungguhnya perkara ini mempunyai hubungan yang langsung dengan Allah dan Rasul-Nya saw, dan dari mereka berdualah mereka  membelot.</p>
<p style="text-align: justify;">d. Sesungguhnya bahaya pembelotan ini akan mengenai orang-orang yang membelot, baik di dunia maupun di akhirat, &#8220;Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. &#8220;Allah SWT berfirman sebelumnya, &#8220;Maka dia tidak dapat mendatangkan madharat sedikit pun kepada Allah. &#8221; Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman, &#8220;Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur bagi dirinya sendiri. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT menjelaskan bahwa manfaat syukur kembali kepada hamba itu sendiri, dan demikian juga perbuatan tidak bersyukur madharatnya akan kembali kepada si hamba sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">e. Sesungguhnya pembelotan ini mempunyai kaitan dengan sunah-sunah orang-orang terdahulu. Apa yang orang-orang terdahulu telah membelot darinya maka orang-orang terkemudian pun akan membelot darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">f.  Allah SWT tidak mengatakan, Dia akan memberi balasan kepada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muslim, melainkan Allah SWT mengatakan, &#8220;Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&#8221; Ini memberikan pengertian bahwa orang yang tidak membelot atau berbalik ke belakang sedikit jumlahnya, &#8220;Dan hanya sedikit dari hamba-hamba Kami yang bersyukur. &#8221; Ini dikuatkan dengan perkataan-Nya, &#8220;Kamu berbalik ke belakang&#8221;, yang memberikan pengertian umum dan banyak. Kalau sekiranya orang-orang yang membelot itu sedkit jumlahnya, maka tentu Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Sebagian kamu berbalik ke belakang&#8221;, dan tentunya tidak benar mengecam mayoritas.</p>
<p style="text-align: justify;">g. Pembelotan ini benar-benar terjadi. Ini didasarkan petunjuk &#8220;jawab syarat&#8221; yang memberikan pengertian terlaksana manakala terlaksananya &#8220;syarat&#8221;, dan penggunaan bentuk fi&#8217;il madhi (kata kerja lampau) yang memberikan pengertian terlaksananya sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">h. Sesungguhnya ucapan Allah SWT ini khusus ditujukan kepada kaum Muslimin, dan tidak ditujukan kepada orang-orang kafir, karena mereka adalah orang-orang yang menyimpang sejak awal. Demikian juga ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik saja, karena hal ini bertentangan dengan zahir ayat. Kalaulah yang dimaksud dalam ucapan Allah SWT ini hanyalah orang-orang munafik saja, maka tentu Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Kamu menampakkan pembelotanmu&#8221;, padahal pembelotan (perbuatan berbalik ke belakang) itu terjadi pada saat Rasulullah saw meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengetahui esensi pembelotan ini, maka kita harus memperhatikan seluruh unsur dasar ini pada saat melakukan analisa dan menarik kesimpulan, dan hendaknya kesimpulan yang ditarik harus sesuai dengan unsur-unsur dasar ini. Karena jika tidak, maka berarti bukan kesimpulan yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw adalah seorang pemimpin kaum Muslimin, dan setelah beliau wafat terjadi pembelotan&#8230; Lantas kita bertanya, setelah wafatnya seorang pemimpin, atas apa biasanya terjadi pembelotan?! Pada sisi apa Rasulullah saw berperan sebagai katup pengaman bagi umat dari perselisihan, yang jika sekiranya Rasulullah saw tidak ada akan terjadi perselisihan dan pertentangan. Apakah Al-Qur&#8217;an al-Karim menjelaskan hal ini? Al-Qur&#8217;an al-Karim tidak menjelaskan secara jelas perkara yang amat besar ini, yang tidak diterima oleh sebagian besar manusia, dan yang Rasulullah saw sendiri merasa takut menyampaikannya kepada umat, namun Allah SWT memerintahkan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti katnu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga kamu dari (ganguan) manusia.&#8221; (QS. al-Maidah: 67)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memperhatikan secara sekilas ayat di atas kita dapat menyingkap beberapa poin berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Sesungghnya perkara yang wajib disampaikan ini, bobotnya menyamai bobot menyampaikan seluruh risalah. Sehingga jika Rasulullah saw tidak menyampaikannya maka dia sama dengan tidak menyampaikan risalah. Sebaliknya, pengingkaran terhadapnya sama dengan pengingkaran terhadap risalah, dan sikap berbalik ke belakang darinya sama dengan sikap berbalik ke belakang dari risalah.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sesungguhnya perkara ini adalah perkara yang banyak mendapat penentangan dari manusia. Bahkan, Rasulullah saw mengkhawatirkan dirinya dari manusia untuk menyampaikan perkara ini. Oleh karena itu, Allah SWT meyakinkannya, &#8220;Dan Allah menjaga kamu dari (gangguan) manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">3. Perkara ini merupakan penyempurna risalah. Karena jika Rasulullah saw menyampaikan perkara ini maka berarti Rasulullah saw telah menyampaikan risalah dan menyempurnakannya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk katnu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu sebagai agamamu. &#8221; (QS. al-Maidah: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ini sejalan dengan ayat Inqilab yang mengatakan bahwa sikap berbalik ke belakang dari perkara ini adalah berarti sikap berbalik ke belakang dari agama ini seluruhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">4.  &#8220;Allah menjaga kamu dari (gangguan) manusia.&#8221; Ini memberikan arti bahwa sebagian besar manusia tidak menyukai perkara yang Rasulullah saw diperintahkan untuk menyampaikannya? Perkara apakah ini yang Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama-tama, sesungguhnya perkara ini mempunyai kaitan dengan sikap berbalik ke belakang. Dan ini didasarkan kepada beberapa hal:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Karena perkara ini berkaitan dengan risalah, dan berbalik ke belakang darinya adalah berarti berbalik ke belakang dari risalah.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Di dalam perkara ini terdapat sikap berbalik ke belakang, disebabkan ketidak-relaan kelompok mayoritas terhadap perkara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">3.Rasulullah saw harus menyampaikan perkara ini disebabkan ajalnya sudah dekat, &#8220;Sudah hampir masanya aku dipanggil oleh Allah dan aku mesti menjawab panggilan-Nya&#8221;, sehingga tidak meninggalkan alasan bagi mereka untuk bisa berbalik ke belakang, dan sekaligus menegakkan hujjah yang sempurna atas mereka. Karena perbuatan berbalik ke belakang mempunyai kaitan dengan wafatnya Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">4.Sesungguhnya perkara yang Allah SWT inginkan Rasulullah saw menyampaikannya ialah satu perkara yang sangat dimungkinkan manusia berpaling darinya. Karena, Rasulullah saw telah menyampaikan seluruh risalah, dengan segenap cabangnya, namun tidak tampak tanda-tanda ketidak-relaan dari kaum Muslimin terhadap seluruh yang telah disampaikan Rasulullah saw, kecuali perkara ini. Rasulullah saw sendiri merasa khawatir untuk menyampaikannya, maka Allah SWT pun memberikan jaminan kepada Rasulullah saw untuk menjaga dan melindunginya dari gangguan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">5.Rasulullah saw berperan sebagai katup pengaman dalam masalah ini. Jika Rasulullah saw meninggal dunia, maka lumpuhlah keamanan, dan manusia akan melakukan yang sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Tidak ada sesuatu yang menjadi objek dari sikap berbalik ke belakang selain dari kekhalifahan yang ditetapkan dari sisi Allah SWT. Kekhalifahan siapa yang Rasulullah saw sampaikan?</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis mutawatir, dan begitu juga beratus-ratus kitab referensi kaum Muslimin menceritakan peristiwa al-Ghadir dan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah kaum Muslimin, sebagaimana yang telah disebutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini, dan dari beribu-ribu hadis lainnya tampak jelas bahwa Rasulullah saw telah menetapkan Ali sebagai khalifah dan Imam atas seluruh makhluk, namun hal ini tidak mendapat kerelaan dari kaum Muslimin. Manakala Rasulullah meninggalkan dunia yang fana ini, dengan segera mereka pun berbalik ke belakang darinya dan merampas apa yang menjadi haknya. Dan hanya sedikit sekali dari mereka yang tetap berpegang teguh. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT pada bagian akhir ayat Inqilâb, &#8220;&#8230; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&#8221; Dari ayat ini tampak jelas:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, mereka itu sedikit jumlahnya. Dengan alasan,</p>
<p style="text-align: justify;">a. Kata &#8220;ingalabtum &#8221; (kamu berbalik ke belakang), memberikan arti umum dan mayoritas.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Dan hanya sedikit dari hamba-hambaku yang bersyukur.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, syukur di sini sebagai lawan dari kufur, yaitu berbalik ke belakang, &#8220;Maka di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir&#8221;, &#8220;Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus: ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.&#8221; Jalan ini sudah dikenal, berdasarkan beberapa petunjuk berikut,</p>
<p style="text-align: justify;">a. Petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus, &#8220;Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">b. Perbuatan berbalik ke belakang dari jalan yang lurus. Karena ayat di atas mengatakan, &#8220;Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang bersyukur.&#8221; Yaitu mereka yang mengikuti jalan yang luras ini. Sehingga selain dari mereka adalah orang-orang kafir, karena mereka berbalik ke belakang dari jalan yang lurus.</p>
<p style="text-align: justify;">c. Alif lam ta&#8217;rif.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan ini merupakan tempat ujian dan kenikmatan pada waktu yang bersamaan. Yaitu ujian yang dengannya manusia diuji, dan kenikmatan bagi orang yang melaluinya. Biasanya, perbuatan berbalik ke belakang yang menyamai kekufuran adalah perbuatan berbalik ke belakang dari kenikmatan. Manakala kepemimpinan Ali merupakan sebuah kenikmatan, &#8220;Dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku&#8221;, maka perbuatan berbalik ke belakang terjadi atasnya, dan hanya sedikit saja yang menerima kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana yang dikuatkan oleh hadis Rasulullah saw yang bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang aku kenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, &#8216;Mari.&#8217; Aku bertanya, &#8216;Ke mana?&#8217; Dia menjawab, &#8216;Ke neraka, demi Allah.&#8217; Aku bertanya, &#8216;Apa kesalahan mereka?&#8217; Dia men-jawab, &#8216;Mereka telah murtad sepeninggalmu dan telah berbalik dari kebenaran.&#8217; Dan aku tidak melihat yang tersisa kecuali sedikit sekali, seperti sekelompok unta yang tersisih.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis ini menguatkan apa yang dikatakan di dalam ayat inqilab, yaitu hanya sedikit orang yang bersyukur terhadap kenikmatan. Rasulullah saw mengatakan, &#8220;Aku tidak melihat yang tersisa kecuali sedikit sekali, seperti sekelompok unta yang tersisih.&#8221; Sebagaimana kelompok unta yang terpisah dari rombongannya sedikit sekali jumlahnya, maka demikian pula para sahabat yang selamat sedikit sekali jumlahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, &#8220;Aku akan mendahului kamu di telaga. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum, dan siapa yang telah minum dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang aku kenal dan mereka juga mengenalku, datang kepadaku. Kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata, &#8216;Sahabatku, sahabatku.&#8217; Lalu dijawab, &#8216;Engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu.&#8217; Dan aku pun berkata, &#8216;Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah sepeninggalku.&#8217;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw pernah berkata kepada Abu Bakar, manakala Rasulullah meyaksikan para syuhada ahli surga. Rasulullah saw berkata, &#8220;Adapun berkenaan dengan mereka, aku memberikan kesaksian bagi mereka.&#8221; Lalu Abu Bakar berkata, &#8220;Dan juga bagi kami, hai Rasulullah?&#8221; Rasulullah saw menjawab, &#8220;Adapun mengenaimu, aku tidak mengetahui apa yang akan kamu lakukan sepeninggalku. •</p>
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<h5><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref1">*</a> Makalah ini adalah cuplikan dari buku “Kebenaran Yang Hilang”, karya Syeikh Mu’tashim Sayid Ahmad.</h5>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref2">[1]</a> Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jld. 2, hal. 2.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref3">[2]</a> Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jld. 3, hal. 2-5.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref4">[3]</a> Musnad Ahmad, jld. 1, hal. 55; Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 466; Ibnu Atsir, jld. 2, hal. 124; Ibnu Katsir, jld. 5, hal. 246.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref5">[4]</a> Al-&#8217;Iqd al-Farid, jld. 3, hal. 64; Abul Fida, jld. 1, hal. 156.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref6">[5]</a> Ansab al-Asyraf, jld. 1, hal. 586; Kanz al-&#8217;Ummal, jld.3, hal. 140; ar-Riyadh an-<br />
Nadhirah,)\A 1, hal. 167.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref7">[6]</a> Tankh Ya qubi, jld. 2, hal. 126.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref8">[7]</a> Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 443 &#8211; 446.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref9">[8]</a> Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jld. l, hal. 143, dan jld. 2, hal. 2 &#8211; 5.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref10">[9]</a> Sahih Bukhari, jld. 5, hal. 177, dan jld. 4, hal. 96.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref11">[10]</a> Al-Imamah wa as-Siyasah, jld. l, hal. 25.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref12">[11]</a> Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 619; Murur adz-Dzahab, jld. l, hal. 414; al- &#8216;Iqd al-Farid, jld. 3, hal. 69; Kanz al-&#8217;Ummal, jld. 3, hal. 135; al-Imamah wa as-Siyasah, jld. l, hal. 18; Tarikh adz-Dzahabi, jld. 1, hal. 388.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref13">[12]</a> Tarikh Ya&#8217;qubi, jld. 2, hal. 115.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref14">[13]</a> Al-lmamah wa as-Siyasah, jld. 1, hal. 19.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref15">[14]</a> Al-lmamah wa as-Siyasah, jld. 1, hal. 19.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref16">[15]</a> Munadzarat fi al-Imamah; al-Manaqib, Ibnu Syahrasyub, jld. 1, hal. 270.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/musyawarah-dan-kekhilafahan-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

