<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#187; Kisah Karbala</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/kisah-karbala/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sayyidah Zainab Al-Kubra Simbol Keindahan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 14:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidah zainab]]></category>
		<category><![CDATA[zainab al-kubra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Sayyidah Zainab as lahir tanggal 5 Jumadil Awwal tahun ke-6 Hijriah di kota Madinah. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad saw sedang berada di perjalanan. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/sayyidah-zainab.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-499" title="sayyidah zainab" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/sayyidah-zainab.jpg" alt="" width="180" height="122" /></a>Sayyidah Zainab as lahir tanggal 5 Jumadil Awwal tahun ke-6 Hijriah di kota Madinah. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad saw sedang berada di perjalanan. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah meminta kepada suaminya Imam Ali as untuk memberi nama putri yang baru lahir itu. Namun Imam Ali as memutuskan untuk menanti Nabi Muhammad saw kembali dari perjalanan dan memberinya nama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliu begitu gembira saat dikabarkan kelahiran cucunya ini dan berkata, &#8220;Allah swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya.&#8221; Rasulullah saw kemudian menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, &#8220;Saya mewasiatkan kepada kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip Sayyidah Khadijah as.&#8221; Sejarah menjadi bukti bahwa Sayyidah Zainab as sama seperti Sayyidah Khadijah yang menanggung banyak kesulitan demi memperjuangkan Islam. Dengan kesabaran dan pengorbanannya ia mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan kesempurnaan agama ilahi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as dibesarkan dalam keluarga yang penuh spiritual dan kemuliaan. Karena keluarga ini dihiasi oleh pribadi-pribadi agung seperti Rasulullah saw, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah as. Mereka adalah orang-orang suci dan yang membangun keutamaan manusia. Sayyidah Zainab as sejak kecil punya pemahaman yang dalam dan jiwa yang dipenuhi makrifat. Sayyidah Zainab as sejak kecil telah menghapal khutbah historis ibunya Sayyidah Fathimah as yang penuh dengan pengetahuan Islam, sekaligus sebagai perawi khutbah ini. Setelah dewasa dengan kematangan berpikirnya ia akhirnya dikenal dengan sebutan &#8216;Aqilah yang berarti seorang ilmuwan wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kejadian dan peristiwa besar pernah disaksikannya. Sejak kecil Sayyidah Zainab as telah kehilangan kakeknya Nabi Muhammad saw dan tidak berapa lama beliau harus kehilangan ibu tercintanya Sayyidah Fathimah as. Setelah itu, tanggung jawab pendidikannya berada di pundak ayahnya Imam Ali as. Dalam didikan ayahnya Imam Ali as, beliau mencapai derajat keilmuan yang tinggi dan keutamaan akhlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua posisi itu diraihnya ketika mayoritas wanita dimasa itu buta huruf dan tidak punya kesempatan untuk belajar. Sayyidah Zainab as setelah menimba ilmu dari ayahnya kemudian mulai menyebarkan agama Islam dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dikuasainya kepada kaum hawa waktu itu. Para wanita berduyun-duyun memintanya untuk diperbolehkan hadir dalam majelis pelajaran dan tafsir Al-Quran. Kehadirannya di Madinah dan setelah itu selama tinggal di Kufah berhasil menyampaikan ilmu-ilmu Islam kepada kaum hawa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika Sayyidah Zainab as mencapai usia perkawinan, beliau kemudian menikah dengan Abdullah bin Jakfar saudara misannya. Abdullah dikenal sebagai orang kaya Arab. Namun Sayyidah Zainab as menjadi isterinya bukan karena hartanya. Ketinggian derajatnya membuat beliau tidak membatasi dirinya dalam kehidupan lahiriah. Beliau telah belajar untuk tidak pernah mengorbankan hakikat dalam kondisi apa pun. Itulah mengapa Sayyidah Zainab as senantiasa bersama saudaranya Imam Husein as demi menghidupkan kembali agama dan spiritual manusia serta berusaha untuk memperbaiki masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as sewaktu menikah dengan suaminya Abdullah mensyaratkan untuk bisa tetap bersama saudaranya Imam Husein as. Abdullah menerima syarat tersebut dan menikahi cucu Rasulullah saw ini. Dengan syarat inilah Sayyidah Zainab as dapat mengikuti perjalanan bersejarah Imam Husein as dari kota Madinah hingga Karbala dan bangkit menghadapi Yazid penguasa zalim dan korup.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi paling tepat untuk mengenal lebih jauh kepribadian Sayyidah Zainab as adalah dengan mempelajari sejarah Asyura dan tertawannya keluarga Rasulullah saw. Kondisi paling genting bagi sejarah Islam terjadi dalam peristiwa Asyura di mana pada waktu itu siapa saja dapat menyaksikan keagungan semangat Sayyidah Zainab as. Seorang perempuan yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah Islam. Mengingat Allah dan shalat menjadi penenangnya. Cahaya ilahi begitu menerangi hatinya, sehingga segala penderitaan yang dihadapinya menjadi tidak berarti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepribadian hakiki seseorang oleh sains dan ilmu psikologi disebutkan bakal muncul di saat orang tersebut dalam kondisi marah atau sangat emosional. Sayyidah Zainab as di puncak kesulitan dan penderitaan setelah syahadah saudara dan orang-orang tercintanya masih tetap tegar berkata dan derajat kesabaran, keberanian, dan tawakkalnya kepada Allah yang telah tertanam dalam dirinya didemonstrasikan dengan indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan para pemimpin zalim dan haus darah dinasti Umayyah, Sayyidah Zainab as berdiri dan tanpa takut mengecam sikap mereka serta membela kebenaran Ahlul Bait Nabi Muhammad saw. Beliau menilai Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya sebagai pemenang. Pidatonya yang lugas, fasih dan mematikan di istana Yazid begitu mempengaruhi hadirin yang membuat mereka kembali mengenang ayahnya Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tegas Sayyidah Zainab as berpidato dengan bersandarkan pada ayat-ayat Al-Quran. Kemampuan beliau dalam menjelaskan kebenaran begitu mempesonakan, sehingga pribadi seperti Ibnu Katsir terpengaruh ucapan-ucapan Sayyidah Zainab as. Beliau dengan suara lantang dan dalam kondisi menangis berkata, &#8220;Ayah dan ibuku menjadi tebusan kalian orang-orang tua terbaik di antara mereka yang lanjut usia, anak-anak kecil terbaik di antara mereka yang masih kecil dan wanita-wanita kalian adalah yang terbaik. Generasi kalian lebih tinggi dan lebih baik dari semua generasi yang ada dan kalian tidak pernah terkalahkan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sayyidah Zainab as pernah mendengar dari ayahnya Imam Ali as bahwa &#8220;Manusia tidak akan pernah mampu mengenal hakikat iman tanpa memiliki tiga hal dalam dirinya; pengetahuan akan agama, kesabaran di tengah kesulitan dan pengelolaan yang baik urusan kehidupannya.&#8221; Wanita mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya. Menurut Sayyidah Zainab as, ketegaran di jalan kebenaran dan pengorbanan di jalan Allah senantiasa indah dan selamanya bakal dipuji oleh manusia. Demikianlah setelah peristiwa Asyura Sayyidah Zainab as kepada orang-orang zalim beliau berkata, &#8220;Saya tidak menyaksikan sesuatu kecuali keindahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber : irib</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/27/sayyidah-zainab-al-kubra-simbol-keindahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Hijrahnya Hazrat Sahr Banu as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-hijrahnya-hazrat-sahr-banu-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-hijrahnya-hazrat-sahr-banu-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali Zainal Abidin AS]]></category>
		<category><![CDATA[Sahr Banu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari kelabu tanggal 10 Muharram yang disebut hari Asyura itu, sesuai rencana Imam Husain as dan istrinya, Hazrat Sahr Banu, Dzuljanah sempat menunaikan tugasnya melarikan Shar Banu ke suatu tempat. Dalam sejarah dikisahkan sebagai berikut:
Tatkala Dzuljanah kembali ke perkemahan tanpa tuan yang telah menungganginya, seorang wanita yang mengenakan hijab tertentu turut mendekati Dzuljanah lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-308" title="Karbala-14" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-141-300x206.jpg" alt="Karbala-14" width="300" height="206" />Pada hari kelabu tanggal 10 Muharram yang disebut hari Asyura itu, sesuai rencana Imam Husain as dan istrinya, Hazrat Sahr Banu, Dzuljanah sempat menunaikan tugasnya melarikan Shar Banu ke suatu tempat. Dalam sejarah dikisahkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala Dzuljanah kembali ke perkemahan tanpa tuan yang telah menungganginya, seorang wanita yang mengenakan hijab tertentu turut mendekati Dzuljanah lalu menciuminya sambil meratap dan memeras air mata kesedihan. Wanita itu adalah Sahr Banu as, satu-satunya wanita non-Arab diantara wanita keluarga Imam Husain as yang mengerumuni Dzuljanah yang sudah penuh luka itu. Dia adalah puteri raja Persia yang telah mendapat anugerah Allah untuk menikah dengan cucu Rasul, Imam Husain as, dan setia kepadanya hingga akhir hayatnya sehingga dia tergolong wanita paling mulia. Tentang jatidirinya, ibu para imam suci sesudah Imam Husain ini berkisah sendiri sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di suatu malam aku pernah bermimpi berjumpa dengan Khatamul Anbiya Muhammad AlMustafa saww. Beliau singgah di beranda istanaku yang megah. Beliau bersabda kepadaku: &#8216;Hai puteri raja Persia, aku telah menjodohkan kamu dengan puteraku, Husain.&#8217;  Rasul kemudian pergi meninggalkan istana. Setelah itu aku didatangi oleh seorang wanita mulia, Fatimah Azzahra as yang diiringi oleh para bidadari. Beliau memelukku sambil berkata: &#8216;Kamu adalah calon isteri puteraku. Kamu adalah menantuku. Ketahuilah bahwa tak lama lagi umat Islam akan menaklukkan (kerajaan)-mu sehingga kamu akan menjadi tawanan. Tetapi janganlah kamu risau, karena di Madinah kamu akan berjumpa dengan (calon) suamimu.&#8217;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Benar, tak lama setelah itu terjadilah perang besar antara pasukan Islam dan pasukan imperium Persia. Prajurit Islam berhasil menaklukkan kerajaan besar ini. Sang raja[1] melarikan diri, sementara sebagian dari keluarga istana, termasuk puteri-puteri raja, tertangkap dan menjadi tawanan.  Mereka diboyong ke Madinah. Kedatangan puteri sang raja mengundang perhatian warga Madinah sehingga mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikannya. Saat itu, di dalam masjid khalifah Umar menyakan dimana puteri-puteri raja itu. Orang-orang lantas menunjukkan mereka. Rupanya, satu diantara mereka nampak sangat anggun dan seperti bercahaya. Umar meminta puteri anggun supaya memperlihatkan wajahnya yang tersembunyi di balik cadar. Namun, puteri ketakutan dan menolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Diperlakukan seperti itu, Umar sebagai khalifah tersinggung berat sehingga dia memerintahkan supaya tawanan yang satu ini dihukum mati. Untungnya, diantara hadirin terdapat Imam Ali bin Abi Thalib as. Sepupu Rasul ini bangkit menentang perintah eksekusi itu. &#8220;Dosa apa puteri sehingga kamu akan mengeksekusinya?&#8221;  Kilah Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Orang ajam (non Arab) ini telah menghinaku.&#8221; Jawab Umar.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali as berkata: &#8220;Dia membenci kakeknya, Khusru, dan dia tidaklah seperti para pengeran sehingga kamu pantas memperlakukannya demikian. Bebaskanlah puteri-puteri ini agar mereka bisa mendapatkan jodohnya diantara para pemuda kita.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ide Imam Ali ini kemudian dipenuhi sehingga didatangkanlah para pemuda Muslim Madinah di aula masjid. Imam Ali as meminta kepada puteri-puteri bangsawan itu untuk bangkit dan memilih jodoh yang dikehendakinya diantara para pemuda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab AlKharaij Arrawandi dikisahkan bahwa saat itu puteri raja Persia yang paling anggun itu bangkit dan menatap satu persatu barisan pemuda yang menyatakan siap untuk menikah dengan puteri-puteri raja itu. Sampai pada giliran pemuda Husain bin Ali as, tatapan mata gadis bernama Jahan Syah itu terhenti dan tak berpijak ke arah lain. Setelah merasa yakin dengan pemuda putera Azzahra as itu, dia berkata: “Jika aku memang diberi pilihan, maka aku akan memilih pemuda ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dipilih gadis itu, Imam Husain as yang saat itu berusia 18 tahun memintanya supaya nama Jahan Syah diganti dengan nama Syahrbanu.[2] Imam Ali as kemudian meminta Imam Husain supaya segera membawa menantunya itu pulang. Beliau juga memberitahu Imam Husain bahwa perkawinan ini akan segera dianugerahi dengan kelahiran seorang putera yang sangat agung dan mulia. Putera itu tak lain adalah Ali Zainal Abidin Assajjad as. Putera yang berusia 23 tahun saat ayahandanya dibantai di padang Karbala pada hari Asyura, dan dia sendiri dalam keadaan sakit parah dan ditangisi oleh ibundanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang detik-detik perpisahan dengan suaminya, Imam Husain as, Sahr Banu bersimpuh dengan beliau. “Wahai putera Rasul.”  Ucap Shar Banu. “Demi ibundamu Fatimah Azzahra, pikirkanlah nasibku nanti, karena di sini aku akulah orang yang paling asing. Selama ini aku bernaung di bawahmu dan dengan ini aku menjadi mulia. Namun, katakanlah apa yang aku lakukan nanti setelah kepergianmu? Aku bukanlah orang Arab (‘ajam), dan engkau sendiri tahu besarnya permusuhan antara Arab dan ‘ajam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berlinang air mata, Imam Husain as menjawab: “Janganlah cemas, sebab Allah yang telah mengantarkanmu dari negeri ajam ke negeri Arab mampu mengembalikanmu ke negerimu lagi. Nantikanlah nanti sepeninggalku; Dzuljanah akan datang ke perkemahan. Naikilah Dzuljanah dan pergilah dari sini, dan ketahuilah pasukan musuh tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadapmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa ketika Dzuljanah kembali dalam keadaan tak bertuan, Shar Banu ikut menyambutnya dengan ratap tangis hingga kemudian mengendarainya untuk pergi ke negeri asalknya. Sebelum pergi, beliau sempat ditegur oleh Hazrat Zainab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai menantu Fatimah Azzahra, gerangan yang sedang engkau pikirkan? Adakah engkau akan menambah berat beban kesedihan kami dengan kepergianmu?” Ujar Hazrat Zainab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku harus pergi sesuai perintah suamiku, Husain.” Jawab Sahr Banu kepada adik iparnya itu</p>
<p style="text-align: justify;">Kepergian Hazrat Sahr Banu menuju negeri Persia itu dilepas dengan derai tangis orang-orang yang ditinggalkannya. Saat Dzuljanah sudah siap mengantarkan perjalanan jauh itu, Assajjad berkata lirih kepada ibundanya:</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibunda, bersabarlah hingga aku ucapkan salam perpisahan denganmu.”[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Assajad berusaha bangkit, namun tenaganya yang tersisa tak mendukungnya untuk berbuat itu sehingga sang ibu mendekati sendiri anaknya. Sambil memeluknya erat-erat beliau berucap: “Aku harus pergi dari sini sesuai perintah ayahmu. Aku telah menitipkanmu kepada bibimu, Zainab, karena aku tahu dia lebih penyayang daripada aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibunda Assajjad akhirnya pergi dibawa oleh Dzuljanah. Bebetapa orang pasukan musuh sempat melihat bayangannya dari kejauhan saat beliau bergerak pergi seorang diri. Mereka berusaha mengejarnya, namun mereka terpaksa kembali lagi setelah kecepatan kuda Dzuljanah tak terkejar oleh kuda-kuda pasukan musuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan, Hazrat Sahr Banu sempat berpapasan dengan kafilag yang sedang bergerak menuju Kufah. Orang-orang kafilah berhenti saat menyaksikan seorang wanita bercadar sendirian mengendarai kuda yang penuh luka. Seorang lelaki yang mengetuai kafilah mencegat beliau dan bertanya: “Hai siapa kamu? Mengapa kamu menempuh perjalanan seorang diri di tengah sahara?”</p>
<p style="text-align: justify;">Suara lelaki itu dikenal oleh Sahr Banu. Pria itu ternyata adik beliau dan setelah saling menyadari, beliau balik bertanya: “Adikku, hendak kemanakah kamu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu menjawab: “Aku hendak menemui suamimu. Karena dia telah menuliskan surat kepadaku dan menyatakan bahwa beliau akan berperang dengan sekelompok musuh, dan sekarang aku datang bersama teman-temanku untuk membantunya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sahr Banu menjawab: “Tak usah kamu pergi. Kembalilah karena Husain sudah terbunuh dalam keadaan kehausan, dan inilah kudanya sekarang aku kendarai.”</p>
<p style="text-align: justify;">Berita ini mengejutkan sang adik yang segera jatuh tersimpuh ke pasir. Sahr Banu kemudian melanjutkan perjalanan ke arah tujuan sebagaimana mereka juga melanjutkan perjalanan ke arah tujuan mereka, setidaknya untuk menyaksikan bagaimana nasib keluarga Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan dan perlindungan dari Allah, janda Imam Husain as berdarah bangsawan Persia itu akhirnya tiba di bumi leluhurnya. Beliau menetap di kota Rey dan meninggal di sana. Jasad suci beliau dikebumikan di sebuah gunung di pinggiran kota Teheran. Lokasi makamnya selalu disesaki para peziarah hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Raja itu adalah Yazdgard III. Disebutkan bahwa saat terjadi perang Qadisiah yang menewaskan lima puluh ribu pasukan Persia, Raja Yazdgard terpaksa melarikan diri. Sebelum melarikan diri dia sempat berdiri di beranda istana sambil berseru: &#8220;Selamat tinggal beranda! Ketahuilah bahwa aku akan kembali kepadamu, atau kalau bukan aku, maka yang kembali adalah seorang pria dari keturunanku.&#8221; Sulaiman Addailami pernah bertanya kepada Imam Jakfar Asshadiq as tentang  siapa yang dimaksud oleh Raja Persia itu.  Imam Asshadiq as menjawab: &#8220;Dia adalah Al-Qaim, yaitu salah seorang puteraku dari generasi keenam, dan dia juga termasuk keturunan Yazdgard III. (Kitab Malahim hal.149 menukil dari Ibnu Shar Asyub dalam bab Imamah; Setara-e Dirakhsyan juz 1 hal. 230)</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Arba’in Husaini hal.130</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Jami’ Annurain hal.228</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-hijrahnya-hazrat-sahr-banu-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Dzuljanah Menjadi Tempat Ratapan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-dzuljanah-menjadi-tempat-ratapan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-dzuljanah-menjadi-tempat-ratapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Dzul Jannah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Dzuljanah sudah bebas dari gangguan, secara ajaib kuda tunggangan manusia-manusia mulia itu berucap: “Betapa zalimnya umat yang telah membunuh putera nabisnya sendiri.”[1]
Dzuljanah kemudian kembali ke perkemahan sambil meringkik-ringkik nyaring sehingga kaum wanita Imam Husain as yang mengenal suara itu keluar dari dalam tenda dengan penuh rasa cemas dan tercekam ketakutan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-303" title="Karbala-16" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-16-300x203.jpg" alt="Karbala-16" width="300" height="203" />Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Dzuljanah sudah bebas dari gangguan, secara ajaib kuda tunggangan manusia-manusia mulia itu berucap: “Betapa zalimnya umat yang telah membunuh putera nabisnya sendiri.”[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Dzuljanah kemudian kembali ke perkemahan sambil meringkik-ringkik nyaring sehingga kaum wanita Imam Husain as yang mengenal suara itu keluar dari dalam tenda dengan penuh rasa cemas dan tercekam ketakutan. Di tengah mereka Hazrat Zainab AlKubra as berteriak histeris:</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh saudaraku! Oh junjunganku! Oh Ahlul Bait! Semoga langit ini runtuh menimpa bumi! Semoga gunung-gunung ini dihamburkan dan menimpa pedang sahara.”[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara mereka juga terdapat Ummu Kaltsum. Saat menyaksikan di atas punggung Dzuljanah sudah tidak ada ayahnya lagi, Ummu Kaltsum juga mendadak histeris.</p>
<p style="text-align: justify;">“Demi Allah, AlHusain telah terbunuh!” Jerit Ummu Kaltsum sambil menepuk-nepuk kepala dan merobek kain cadarnya. Sakinah yang tak kalah histerisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh kakekku! Oh Muhammad! Betapa terasingnya AlHusain!”[3] Ratap Sakinah. Sambil beratap dan tersedu-sedu, satu diantara mereka ada yang berucap kepada dzuljanah: “Mengapa engkau lepaskan AlHusain ke tengah-tengah kerumunan musuh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sakinah juga meratap: &#8220;Apa yang terjadi dengan ayahku? Dimana sang pemberi syafaat di hari kiamat itu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayahku tadi pergi dalam keadaan tercekik dahaga.&#8221;[4]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah mereka telah memberi ayahku air, ataukah dia telah gugur dengan bibir yang kering kehausan?&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-304" title="Karbala-14" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-14-300x206.jpg" alt="Karbala-14" width="300" height="206" />Namun demikian, Dzuljanah tetaplah seekor kuda yang tak mampu berbuat apa-apa di depan ratapan puteri-puteri Rasul ini. Disebutkan dalam riwayat bahwa hewan yang ikut membela para keturunan suci Rasul di depan manusia-manusia srigala itu ikut tertimpa stres hingga akhirnya roboh dan mati. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Dzuljanah telah menceburkan diri ke sungai ElFrat lalu hilang entah kemana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Maqtal Khawarizmi juz 2 hal.37</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Alluhuf hal.110</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Sugand Nameh hal. 270-271</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Alwaqayi&#8217; walhawadits juz hal.237</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Sugand Nameh hal.372</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-dzuljanah-menjadi-tempat-ratapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesakralan Syahadah Imam Husain as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kesakralan-syahadah-imam-husain-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kesakralan-syahadah-imam-husain-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Musa AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa tragedi pembantaian keluarga Rasul pimpinan Imam Husain ini  segera disusul dengan berbagai tanda alam dan lain yang menunjukkan kesakaralan syahadah beliau. Diantaranya disebutkan bahwa kematian suci cucu Rasul di tangan manusia-manusia sadis itu segera disusul dengan bertiupnya angin kencang, angkasa tiba-tiba gelap gulita, sehingga orang-orang tak dapat melihat apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-300" title="ashuraaaaa" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ashuraaaaa1-300x225.jpg" alt="ashuraaaaa" width="300" height="225" />Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa tragedi pembantaian keluarga Rasul pimpinan Imam Husain ini  segera disusul dengan berbagai tanda alam dan lain yang menunjukkan kesakaralan syahadah beliau. Diantaranya disebutkan bahwa kematian suci cucu Rasul di tangan manusia-manusia sadis itu segera disusul dengan bertiupnya angin kencang, angkasa tiba-tiba gelap gulita, sehingga orang-orang tak dapat melihat apa yang ada di depannya.[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu Zari’ Al-Asadi, seorang petani yang bercocok tanam di tepian sungai ‘Alqamah dalam kisahnya tentang Imam Husain mengatakan: Pukulan tongkat Nabi Musa as ke batu dapat memancarkan mata airm tetapi musibah Imam Husain telah memancarkan darah dari bebatuan, sebagaimana darah pernah mengucur  dari runtuhan batu-batu di Baitul Maqdis.[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan pula bahwa dari awal malam ke 11 Muharram hingga terbitnya fajar semua bebatuan dan bongkahan-bongkahan tanah mengucurkan darah dibawahnya.[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Periwayat menceritakan: “Hazrat Musa adalah pemilik Yad AlBaidha’ dan sering memancarkan cahaya ketika dia memperlihatkan suatu mukjizat. Namun, dari Imam Husain yang memancarkan cahaya cemerlang adalah dahi dan leher beliau.[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk Nabi Musa as Allah telah membelahkan laut agar Bani Israel dapat menyeberanginya. Namun, untuk Imam Husain as seluruh samudera bergemuruh hebat dan penghunipun meratap, sementara para bidadari juga turun dari alam Firdaus dan mendatangi samudera sambil berucap: “Hai para penghuni lautan, berdukalah atas terbunuhnya putera Rasulullah.” [5]</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Musa as telah menggali liang lahadnya dengan tangannya sendiri. Namun liang lahad Imam Husain as digali oleh Rasulullah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada hari 10 Muharram (Asyura), Ummu Salamah bermimpi menyaksikan Rasulullah bermandi debu dan berucap: “Orang-orang telah membantai dan mengugurkan puteraku. Aku melihatnya jasadnya dan aku sedang sibuk menggalikan lubang kubur untuk Husain dan para sahabatnya.”[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan pula bahwa tujuh hari sepeninggal Imam Husain as langit berwarna merah dari ujung ke ujung. Bahkan kendati tragedi Karbala sudah berlalu 14 abad, hingga kini masih terdapat keajaibaban-keajaiban yang berkaitan dengannya, khususnya pada hari Asyura. Satu diantara keajaiban itu ialah mengalirnya cairan seperti darah dari sebuah pohon di Zarabad, sebuah daerah di Qazwin. Pohon yang tumbuh di dekat benteng Alamut itu setiap tahun pada hari Asyura dikunjungi oleh ribuan orang untuk menyaksikan mengalirnya cairan seperti darah tersebut dari batang pohon yang disebut dengan pohon canar (plane tree) tersebut.[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam doa ziarah Imam AlMahdi as untuk Imam Husain as disebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaiamana aku dapat membayangkan adegan nyata dimana kudamu kembali ke tendamu sambil merundukkan kepala seperti menangis, dan kaum wanita (mu mendapatinya dalam keadaan mengenaskan dan pelananya terbalik sehingga mereka keluar tenda, rambut mereka terurai, wajah mereka dibanjiri air mata, dan tampak jelas, dan ratap tangis mereka terdengar keras, setelah mereka kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Mereka lantas bergegas menuju tempat pembantaianmu di saat Syimir menduduki dadamu sambil menghunus pedangnya di atas lehermu.”[8]</p>
<p style="text-align: justify;">“(Wahai kakekku), maka aku akan sungguh-sungguh meratapi dirimu setiap dan sore. Bukannya dengan air mata, tetapi dengan darahlah aku menangisinya dan meratapi bencana besar yang telah menimpamu hingga aku meninggal dunia nanti dalam keadaan menanggung beban duka cita.”[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam AlMahdi as juga bertutur kata untuk Imam Husain as:</p>
<p style="text-align: justify;">“Syimir telah duduk diatas dadamu sambil menghunus pedang pedang diatas lehermu dan menarik jenggotmu, lalu menyembelihmu dengan pedangnya. Sejak itu, panca inderamu redup, nafasmu reda, dan kepalamu ditancapkan di atas tombak.”[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ziarahnya untuk kakeknya, Imam Husain as, Imam Al-Mahdi as juga berkata: “Seandainyapun masa ini diakhirkan dan takdirkan telah menghalangiku untuk menolongmu, maka aku akan tetap sunguh-sungguh meratapimu dan menangisimu dengan darah, bukan bukan dengan air mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun salam beliau untuk Imam Husain as ialah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">“Salam atas putera Nabi Putera Terakhir, salam atas putera pemuka para washi, salam atas putera Fatimah  Azzahra, salam atas putera Khatijah Al-Kubra, salam atas putera Sidaratul Muntaha, salam atas putera surga Al-Ma’wa, salam atas putera Zamzam dan Safa, salam atas dia yang telah bermlumuran darah bercampur debu, salam atas dia yang kemahnya telah dihujani anak panah, salam atas orang kelima penghuni Al-Kisa’, salam atas dia,  orang yang paling terasing, salam atas pemuka para syuhada, salam atas manusia yang ditangisi oleh para malaikat di langit, salam atas manusia yang selalu didatangi oleh orang-orang yang menderita. Salam atas bibir-bibir yang kekeringan, salam atas jasad-jasad yang terlucuti, salam atas kepala-kepala yang terpenggal, salam atas wanita-wanita yang tertawan, salam atas hujjah Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas jasad yang bermandikan darah luka-luka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas jasad yang urat-urat jantungnya diputuskan oleh anak panah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas jasad yang tersalib.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas deretan gigi yang ditumbuk oleh tongkat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas bibir yang kering kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atas kepala-kepala yang tertancap di ujung tombak dan pertontonkan di semua tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa setelah Imam Husain as terbunuh, Umar Bin Sa’ad di tengah pasukannya berseru: “Siapa yang siap melumat jasad Husain dengan injakan kaki kuda?!”[11] Dari sekian ribu pasukan yang ikut serta dalam pembantaian Imam Husain itu tak ada yang bersedia berbuat sesuatu sebiadab itu terhadap cucu rasul tersebut kecuali sepuluh orang. Mereka yang konon anak zina itu bergantian menghentak-hentakkan kudanya diatas tubuh Imam hingga tulang belulang jasad beliau yang suci dan mulia remuk. [12]</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka melakukannya sambil terkekeh-kekeh dan penuh kebanggaan seakan dengan perbuatan seperti itu mereka dapat menjatuhkan keagungan Imam Husain. Padahal, perlawanan pantang mundur beliau dan para pengikutnya di depan kezaliman dan pendurjana telah menjadi teladan  bagi umat manusia dan karena itu jutaan manusia di muka bumi telah menjadi pengikut dan atau setidaknya pengagum beliau. Sebaliknya, Muawiah dan Yazid tidak menyisakan bekas apapun kecuali ketercelaan, keterkutukan, dan laknat yang abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, selamat untuk Imam Husain as atas perjuangan dan jihadnya di Karbala yang beliau mulai dengan seruan “Adakah sang penolong yang akan menolongku?!” Kini,  hamba-hamba beriman sedang menantikan kedatangan Imam AlMahdi as untuk kita penuhi seruan firman allah: “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian, dan Dia akan mengokohkan langkah-langkah kalian.”[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Sayidah Fatimah Azzahra as pernah berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Jika kalian hendak membantu puteraku, AlMahdi, maka jadikanlah jiwa kalian seperti jiwa seorang ibu yang telah melepaskan anak salihnya pergi jauh dan tidak apakah hari ini, besok, atau tahun depan akan pulang.”         Imam AlMahdi as sendiri berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pasti akan kembali kepada orang yang paling lemah diantara kalian, agar rahmat Allah yang abadi tercurah kepada kalian.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan datang agar hati yang luka dapat terobati.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pasti datang untuk membebaskan orang-orang yang terbelenggu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pasti akan datang untuk menegakkan agama Muhammad di dunia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa Imam Al-Mahdi as nanti, sedemikian damainya muka bumi ini sehingga kambingpun dapat hidup tentram berdamping dengan srigala. Anakp-anak kecil dapat ebrmain dengan ular dan kalajengking. Dunia saat itu tidak lagi menyisakan keburukan. Yang tinggal hanyalah kebaikan.  Bumi mempersembahkan segala kekayaannya, dan langitpun mencurahkan segala berkahnya. Harta dari perut bumi melimpah, permusuhan reda di hati setiap orang, pintu-pintu kebahagiaan dan keamanan terbuka lebar, seorang wanita dapat bepergian ke mana saja di malam hari seorang diri tanpa ada rasa takut. Wajauh bumi serba hijau dan rindang, dan siapaun tidak akan takut lagi kepada binatang-binatang liar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari itu, Sang Penyelamat manusia-manusia yang teraniaya itu akan menyeret ‘dua berhala Bani Quraish; ke tiang gantungan, dan lalu beliau akan membawakan kisah lagi tentang syahadah kakeknya, Imam Husain as, tentang penyembelihan anak-anak kecil keturunan Rasul saww, dan tentang semua penderitaan dan keteraniayaan Ahlul Bait suci Rasul dan para pengikutnya.[14]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam AlMahdi as akan tampil dan membalas darah datuknya setelah berada di alam kegaiban selama sekian lama. Saat itu dia akan tampil di Mekah diantara Rukn dan Maqam lalu mengumandangkan suara:</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai para penghuni dunia, akulah Imam AlQaim, akulah pedang yang akan melakukan pembalasan.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai para penghuni dunia, sesungguhnya kakekku Husain telah dibunuh dalam keadaan tercekik kehausan.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai para penghuni dunia, sesungguhnya (jasad) kakekku Husain telah mereka gerus dengan injakan kaki-kaki kuda.”</p>
<p style="text-align: justify;">Baginda Nabi Besar Muhammad saww tentang Imam AlMahdi as bersabda: “AlMahdi adalah satu-satunya penyelamat umat manusia kelak dimana kedatangannya akan membawa kedamaian universal.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saww juga bersabda: “Selamat atas kalian dengan kedatangan puteraku, AlMahdi, kelak, karena janji Allah pasti akan terpenuhi. Ketahuilah bahwa AlMahdi dari keluarga Muhammad masih dalam perjalanan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa ketika Imam Husain as menggapai puncak derajat syahadah, kuda beliau, Dzuljanah, melepoti kepala dan lehernya lalu menghentak-hentakkan kakinya ke tanah sambil meringkik keras hingga memantul ke segenap penjuru Karbala. Saat kuda perkasa itu dilihat oleh Umar bin Sa’ad, manusia ambisius berseru kepada komplotannya: “Kuda milik AlMustafa itu serahkan kepadaku.” Sesuai perintah ini, beberapa pasukan penunggang kuda segera memacu kudanya untuk mendekati Dzul janah. Namun, kuda yang sebelumnya ditunggangi oleh Abu Fadhl Abbas itu tinggal diam oleh manusia-manusia kejam yang telah membantai habis tuannya. Dzuljanah tiba-tiba mengamuk dan menerjang siapapun yang mencoba mendekatinya. Beberapa orang tewas diamuk oleh kuda perkasa itu, sampai akhirnya Umar bin Sa’ad meminta anak buahnya membiarkan kuda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Maqtal Khawarizmi hal.201</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Muntakhab AT-Tharihi juz 2 hal.61 – Biharul Anwar juz 45 hal.204-205</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Biharul Anwar juz 2 hal. 209</p>
<p style="text-align: justify;">[4] ibid juz 44 hal.194</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Ibid juz 44 hal.194</p>
<p style="text-align: justify;">[6] ibid juz 45 hal.221</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Idhoh Al-hujjah juz 2 hal.209</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Bihar Al-Anwar juz 101 hal.240</p>
<p style="text-align: justify;">[9] Ibid</p>
<p style="text-align: justify;">[10] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[11] Biharul Anwar juz 45 hal.29</p>
<p style="text-align: justify;">[12] Darighatunnajah hal.155</p>
<p style="text-align: justify;">[13] Q:47:7</p>
<p style="text-align: justify;">[14] Nawaib Adduhur juz 3 hal. 129</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kesakralan-syahadah-imam-husain-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Perjuangan Ksatria Karbala Seorang Diri</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perjuangan-ksatria-karbala-seorang-diri/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perjuangan-ksatria-karbala-seorang-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Syimir]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Sa'ad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana yang sudah disepakati, terjadilah duel satu lawan satu. Singkat cerita, Imam Husain as adalah pendekar yang tak tertandingi oleh musuh-musuhnya dalam pertarungan secara jantan satu lawan satu. Akibatnya, satu persatu lawan-lawan beliau dalam duel bergelimpangan menjadi korban hantaman pedang beliau. Umar bin Sa&#8217;ad pun was-was dan cemas saat melihat sudah banyak pasukannya yang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-294" title="Husein sendiri" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Husein-sendiri-300x213.jpg" alt="Husein sendiri" width="300" height="213" />Sebagaimana yang sudah disepakati, terjadilah duel satu lawan satu. Singkat cerita, Imam Husain as adalah pendekar yang tak tertandingi oleh musuh-musuhnya dalam pertarungan secara jantan satu lawan satu. Akibatnya, satu persatu lawan-lawan beliau dalam duel bergelimpangan menjadi korban hantaman pedang beliau. Umar bin Sa&#8217;ad pun was-was dan cemas saat melihat sudah banyak pasukannya yang tak bernyawa setelah berani menjawab tantangan duel Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kesalnya, Umar bin Sa&#8217;ad menggerutu: &#8220;Keparat, tak ada seorangpun yang mampu bertanding dengan Husain. Jika begini terus, tak akan ada satupun diantara pasukanku yang tersisa nanti.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lantas berteriak kepada pasukannya: &#8220;Tahukah kalian dengan siapakah kalian hendak bertarung?!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Sa&#8217;ad rupanya baru menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan bukan sembarang orang, termasuk untuk urusan. Dia adalah putera pendekar Islam legendaris, Imam Ali bin Abi Thalib as. Dia adalah putera ksatria yang dijuluki dengan Haidar Al-Karrar, Singa Yang Pantang Mundur. Dia adalah putera si pemilik pedang Dzulfikar yang telah banyak menghabisi benggolan-benggolan pendekar kaum kafir dan musyrik. Dia adalah putera yang mewarisi semua kehebatan ayahnya. Karenanya, tak mengherankan jika Imam Husain as tak tertandingi oleh siapapun dalam pertarungan secara ksatria. Oleh sebab itu, begitu beliau tidak bisa dirobohkan dengan cara-cara jantan, pasukan musuh akhirnya mengepung beliau yang sendirian dari segenap penjuru. Mereka sudah siap merenggut nyawa beliau dengan cara mengeroyok habis-habisan. Di saat yang lebih menegangkan itu, beliau tiba-tiba didatangi oleh sehelai surat bertinta emas yang melayang jatuh dari angkasa dan hinggap di atas pelana kuda beliau, Dzul Janah. Surat diraihnya dan tertera sebuah pernyataan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Salam atasmu wahai hamba-Ku yang salih, Husain. Rahmat dan berkat Allah atasmu, wahai Husain. (Ketahuilah bahwa) Kami tidak mewajibkan keterbunuhanmu.&#8221;[1]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika engkau menghendaki kehidupan di dunia, maka kembalilah ke sarangmu, dan urusilah dunia hingga kaum itu binasa.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Surat itu dicium oleh Imam Husain as, dan melayangkan kembali ke angkasa bak burung merpati. Beliau kemudian berucap kepada Allah: &#8220;Ya Allah, aku sudah berjanji kepada-Mu untuk memberi syafaat umat kakekku. Lantas bagaimana mungkin aku akan mencabut kembali janji itu, dan Engkaupun juga sudah memberitahuku bahwa sesungguhnya untuk memberikan syafaat itu terdapat suatu derajat mulia yang tak dapat dicapai kecuali dengan syahadah&#8230;&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Perjanjian untuk menggelar pertarungan secara ksatria akhirnya benar-benar diabaikan oleh musuh. Umar bin Sa&#8217;ad memerintahkan seluruh pasukannya untuk ramai-ramai mengerungi dan membantai Imam Husain as sedapat mungkin. Maka, sang Imam pun mulai menjadi bulan-bulan menghadapi sekian banyak manusia-manusia buas itu. Tubuh Imam semakin lemas dalam melakukan perlawanan sehingga saat demi saat tubuh beliau mulai menuai luka dan kucuran darah. Jasad beliau mulai terkoyak-koyak oleh berbagai jenis senjata pedang, tombak, dan panah yang sudah tak sabar untuk menghabisi riwayat Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat-saat Imam dalam posisi yang nyaris tak berdaya itu, beliau melihat seseorang bernama Syimir bin Dzil Jausyan bersama anak buahnya mengendap-mengendap diantara tempat Imam Husain bertahan dan lokasi perkemahan beliau. Di situ beliau berteriak lantang:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Celakalah kalian, hai pengikut keluarga Abu Sufyan! Jika kalian memang sudah tak beragama, tidak takut kepada hari kebangkitan, maka berpesta poralah kalian dengan urusan duniawi kalian!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu bicara apa, hai putera Fatimah!&#8221; Sergah Syimir.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawab: &#8220;Yang berperang adalah aku dan kalian. Jangan kalian ganggu kaum wanita. Janganlah kalian berbuat sesuatu yang sangat melanggar kehormatanku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir menjawab: &#8220;Kami tidak akan melanggar kehormatan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia kejam ini lalu berteriak kepada pasukannya: &#8220;Celakalah kalian! Apa yang kalian pelototi?! Cepat habisi dia!&#8221; Teriakan ini segera disusul dengan keroyokan yang lebih sengit terhadap Imam Husain yang nampak sudah kewalahan itu. Dari sekian pedang yang berebut untuk menghabisi nyawa cucu Rasul dan putera Fatimah itu, satu pedang yang digenggam Soleh bin Wahab berhasil menghunjam keras paha beliau. Hantaman ini menjatuhkan beliau dari atas kuda. Pelipis kanan beliau menghempas pasir Karbala yang panas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau tetap bangkit berdiri dan melanjutkan perlawanan sekuat tenaga. Dalam keadaan seperti itu beliau masih sempat menjatuhkan beberapa pasukan. Saat spirit beliau bertambah beliau selalu mengucap kalimat:</p>
<h2 style="text-align: center;">?? ??? ?????? ??? ????? ????? ??????</h2>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga sempat bersumbar kepada musuh bahwa mati terbunuh lebih baik daripada harus hidup terpedaya oleh kehinaan dan ketercelaan. Terbunuhnya para pengikut beliau seiring dengan jerit tangis anak-anak kecil yang meratap kehausan sama sekali tak menciutkan nyali beliau untuk terus melawan dan pantang mundur. Ketabahan dan tawakkal di depan Allah adalah prinsip yang tak tergoyahkan. Saat itu kepada Tuhannya beliau berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku sabar atas garis yang telah Engkau tentukan, tiada Tuhan Yang Patut Disembah kecuali Engkau, wahai Pelindung orang-orang yang memohon perlindungan.&#8221;[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam doa ziarah untuk beliau disebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan para malaikatpun terkesima menyaksikan kesabaranmu.&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Hati musuh sama sekali sudah buta dan mengenal belas kasih. Dalam perlawanan sekuat tenaga itu, tubuh Imam Husain as terpaksa semakin bermandi darah saat tombak-tombak dan panah musuh ikut menggerogoti daya pertahanan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari arah sana Hazrat Zainab tak kuasa menahan diri menyaksikan kakaknya menjadi sasaran pembantaian seganas itu. Wanita agung menjerit-jerit mengadukan penderitaan kepada kakek, ayah, dan pamannya yang sudah bersemayam di alam keabadian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh Muhammad! Oh Ayah! Oh Ali! Oh Jakfar!&#8221; Ratap Zainab tersedu-sedu. &#8220;Alangkah baiknya seandainya langit ini runtuh menimpa bumi! Alangkah baiknya seandainya gunung-gunung ini berhamburan menimpa sahara.&#8221;[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Puteri Fatimah Azzahra as mencoba mendekati ajang pembantaian kakaknya. Di saat yang sama, manusia biadab Umar bin Sa&#8217;ad dan gerombolannya bergerak menuju perkemahan keluarga dan rombongan Imam Husain as. Di saat tubuh Imam roboh dan nafasnya sudah tersengal-sengal menanti ajal, gerombolan manusia liar itu mengobrak-abrik perkemahan anak keturunan Rasul tersebut. Mereka melakukan aksi pembakaran, merampasi harta benda, dan menangkapi dan menggiring kaum wanita dan anak-anak kecil sebagai tawanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hazrat Zainab yang masih terbayang nasib kakak sekaligus pemimpin sucinya itu berteriak kepada Umar bin Sa&#8217;ad: &#8220;Hai Umar, apakah Abu Abdillah terbunuh dan kamu menyaksikannya sendiri?!&#8221; Entah mengapa, kata-kata wanita pemberani ini tiba-tiba menggedor perasaan putera Sa&#8217;ad itu sehingga tak berani menjawabnya dengan bentakan. Bagai binatang pandir, dia tak berani menjawab atau menatap wajah Zainab. Dia memaling muka.[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Zainab berteriak lagi: &#8220;Adakah seorang Muslim diantara kalian?!&#8221; Tak seorangpun menjawabnya. Saat gerombolan itu dibungkamkan oleh kata-kata Hazrat Zainab, tubuh Imam Husain as yang masih bernafas tiba-tiba bangkit lalu menerjang beberapa pasukan yang ada di dekatnya sehingga mereka mundur. Dengan tubuh yang sudah tercabik-cabik dan sengalan nafas yang masih tersisa itu, beliau berteriak:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai umat yang paling bejat, kalian telah memberikan perlakuan yang terburuk kepada Muhammad dengan menganiaya anak keturanannya. Ketahuilah bahwa setelahku nanti kalian tidak akan mungkin takut (berdosa) lagi dalam membunuh seseorang. Sesudah membunuhku kalian pasti akan gampang sekali berbuat itu. Demi Allah, aku sangat mendambakan kemuliaan dari Allah dengan syahadah, lalu Dia akan menuntut balas darahku dari kalian tanpa kalian sadari.&#8221;[8]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-295" title="10Muharram-08" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/10Muharram-08-300x163.jpg" alt="10Muharram-08" width="300" height="163" />Setelah berusaha melakukan perlawanan sekian lama di depan pesta pembantaian itu, Imam Husain as mencoba menjauh dari pasukan lawan untuk mengatur nafas. Namun, tiba-tiba sebuah batu melayang dari arah musuh dan mengena kepala beliau. Darahpun mengucur deras lagi. Belum selesai beliau mengusap darahnya yang suci itu, dada beliau diterjang sebuah anak panah bermata tiga. Tertembus panah beracun itu, beliau berucap: &#8220;Bismillahi wa billahi wa ‘ala millati rasulillah.&#8221;Beliau menatap langit dan berdesah lagi:&#8221; Ilahi, sesunggungnya Engkau mengetahui mereka telah membunuh seseorang di muka bumi yang tak lain adalah putera Nabi.&#8221;[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat beliau semakin kehabisan tenaga itu, beliau mencabut anak panah itu dari dadanya. Darah kembali menggenang. Sebagian beliau hamburkan ke atas dan sebagian yang lain beliau usapkan ke wajahnya sambil berucap: &#8220;Beginilah aku jadinya hingga aku bertemu dengan kakekku Rasulllah dalam keadaan berlumuran darah lalu aku adukan kepada beliau: fulan, fulan telah membunuhku.&#8221;[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Puas menatap pemandangan seperti ini, balatentara musuh sejenak menghentikan kebrutalannya. Mereka terkekeh-kekeh menyaksikan Imam Husain as berdoa:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Rabbi, aku bersabar atas ketetapan-Mu, tiada Tuhan selain-Mu, wahai Penolong orang-orang yang memohon pertolongan. Tiada Tuhan Pemelihara kami selain-Mu, tiada Tuhan Yang Patut disembah kecuali Engkau. Aku bersabar atas ketentuan (humum)-Mu, wahai Pelindung orang-orang yang tak memiliki perlindungan, wahai Zat Yang Maha Kekal dan Tak Berpenghabisan, wahai Yang Menghidupkan orang yang sudah mati, wahai Zat Yang Menghakimi setiap jiwa sesuai perbuatannya, hakimilah antara aku dan mereka, sesungguhnya Engkau adalah yang terbaik diantara para hakim.&#8221;[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu sempat terjadi keheningan beberapa saat. Untuk sementara waktu masih belum ada seorangpun yang berani tampil sebagai pembunuh utama cucu Rasul itu di depan Allah SWT kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa saat itu pula tiba-tiba Imam Husain as didatangi bayangan ajab wajah kakek dan ayahnya. Wajah-wajah suci itu bertutur kepada beliau: &#8220;Cepatlah kemari, sesungguhnya kami sangat merindukanmu di surga.&#8221;[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Keheningan itu ternyata tak berlangsung lama. Umar bin Sa&#8217;ad kembali buas dan memerintahkan anak buahnya untuk segera menghabisi Imam Husain. Maka tampillah Shabats sebagai orang pertama yang berani mendaratkan mata pedangnya ke kepala Imam Husain as. Namun, saat mata Imam menatap tajam wajah Shabats, tubuh pria kurang ajar ini tiba-tiba gemetaran lalu menggigil keras sehingga pedang yang ditangannya terhempas ke tanah. Dengan wajah pucat pria itu berkata kepada Umar bin Sa&#8217;ad: &#8220;Hai Putera Sa&#8217;ad, kamu tidak mau membunuh sendiri Husain agar nanti akulah yang akan dibalas. Tidak. Aku tidak mau bertanggujawab atas darah Husain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syabats segera ditegur oleh seseorang bernama Sannan bin Anas. &#8220;Kenapa kamu tidak jadi membunuhnya?!&#8221; Tanya Samnan ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">Syabats menjawab: &#8220;Dia menatap wajahku, Sannan! Kedua matanya menyerupai mata Rasulullah. Sungguh, aku segan membunuh seseorang yang mirip dengan Rasul.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sannan dengan congkaknya berkata: &#8220;Berikan kepadaku pedangmu itu, karena akulah yang lebih patut untuk membunuhnya.&#8221; Begitu pedang itu pindah ke tangannya, Sannan segera menenggerkannya di atas kepala beliau. Imam yang sudah tak berdaya itu kembali menatap wajah orang yang berniat menghabisinya itu. Seperti yang dialami, Syabats, tubuh Sannan yang kotor itu tiba-tiba juga menggigil ketakutan setelah ditatap Imam dengan tajam. Sannan mengambil langkah mundur sambil berucap: &#8220;Aku berlindung kepada Tuhannya Husain dari pertemuan dengan-Nya dalam keadaan berlumuran darah Husain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kini tibalah giliran Syimir bin Dziljausan. Pria yang menutupi wajah dan hanya menyisakan celah untuk matanya ini menghampiri Sannan sambil mengumpat. &#8220;Semoga ibumu meratapi kematianmu, kenapa urung membunuhnya!?&#8221; Maki Syimir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sannan menjawab: &#8220;Tatapan matanya mengingatkanku pada keberanian ayahnya. Aku takut. Aku tak berani membunuhnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menyeringai Syimir berseru: &#8220;Berikan pedang itu kepadaku. Demi Allah, tak ada seorangpun yang lebih layak dariku untuk membunuh Husain. Akulah yang akan menghabisinya, walaupun dia mirip Al-Mustafa ataupun Al-Murtadha.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir berpaling ke arah pasukannya lalu membentak: &#8220;Hai, tunggu apa lagi?! Cepat bunuh dia!!&#8221; Tanpa basa-basi lagi, satu anak panah melesat ke arah Imam Husain dari Hissin bin Numair. Sejurus kemudian yang lain ikut ramai-ramai menghajar Imam Husain sehingga tak ada anggota tubuh suci cucu Rasul itu yang luput dari hantaman benda tajam, dan benda tumpul. Batu-batupun bahkan ikut meremukkan tubuh beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir bersumbar lagi: &#8220;Ha, ha, ha, tak ada orang yang lebih patut dariku untuk membunuh Husain&#8221; Dia bergerak mendekati Imam Husain yang terbaring di tanah lalu menduduki dada Imam Husain as yang masih bergerak turun turun naik. Imam mencoba membuka kedua kelompak matanya dan menatap wajah Syimir yang menyeringai di depan wajah beliau, namun tatapan beliau kali ini tak meluluhkan hati Syimir yang sudah sangat membatu. Bukannya ketakutan, dari mulut Syimir yang tertutup kain itu malah keluar kata-kata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku bukanlah seperti mereka yang mengurungkan niat untuk membunuhmu itu. Demi Allah, akulah yang akan menceraikan kepalamu dari jasadmu, walaupun aku tahu kamu adalah orang yang paling mulia karena kakek, ayah, dan ibumu itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai siapa kamu sehingga berani menduduki tubuh yang sering diciumi oleh Rasul ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku Syimir bin Dzil Jausyan!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah kamu tahu siapa aku?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku tahu persis. Ayahmu adalah Ali Al-Murtadha, ibumu Fatimah Azzahra, kakekmu Muhammad al-Mustafa, dan nenekmu Khadijah Al-Kubra.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Alangkah celakanya kamu. Kamu tahu siapa aku, tetapi mengapa akan membunuhku dengan cara seperti ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Supaya aku bisa mendapat imbalan besar dari Yazid bin Muawiah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu lebih menyukai imbalan dari Yazid daripada syafaat kakekku?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah, aku lebih menyukai imbalan Yazid.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Karena tidak ada pilihan lain bagimu kecuali membunuhku, maka berilah aku seteguk air.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh tidak! Itu tidak mungkin, kamu tidak mungkin bisa meneguknya sebelum kamu meneguk kematian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syimir kemudian menyingkap dan melepas kain penutup muka yang hanya menyisakan celah untuk kedua matanya yang juling itu. Maka, nampaklah seluruh wajah Syimir yang buruk, kasar, belang, dan ditumbuhi bulu-bulu keras itu. Mulutnya ditutup oleh penutup seperti penutup mulut anjing supaya tak menggigit. Melihat wajah Syimir, Imam Husain as segera berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apa yang dikatakan kakekmu itu?!&#8221; Tanya Syimir angkuh. &#8220;Kakekku pernah berkata kepada ayahku, Ali: ‘Sesungguhnya puteramu ini akan dibunuh oleh seseorang yang berkulit belang, bermata juling, bertutup mulut seperti anjing, dan berambut keras seperti bulu babi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kakekmu telah menyamakanku dengan anjing?! Demi Allah, aku memisahkan kepalamu dari lehermu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-296" title="10Muharram-09" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/10Muharram-09-300x163.jpg" alt="10Muharram-09" width="300" height="163" />Syimir mencabut pedang dari sarungnya dan tanpa membuang-buang waktu lagi, lelaki bengis mengayunkan pedangnya kuat-kuat ke leher cucu Rasul dan putera Fatimah Azzahra itu. Sekali tebas, kepala manusia mulia terlepas dari badannya. Terpisahnya kepala manusia suci itu disusul dengan suara takbir tiga kali dari liang mulut balatentara Umar bin Sa&#8217;ad yang busuk itu. Kepala yang dulu sering diciumi oleh Rasulullah SAWW itu ditancapkan ke ujung tombak. Dia antara mereka terdengar teriakan keras:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bergembiralah hai Amir! Inilah Syimir yang telah membunuh Husain!&#8221; Langitpun kelabu. Bumi meratap pilu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Anwar Assyahadah hal.52</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Dzari&#8217;at Annajah hal.145</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Biharul Anwar juz 98 hal.24</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Ibid juz 45 hal.54</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Lama&#8217;at AlHusain hal.75</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Ibid hal.358</p>
<p style="text-align: justify;">[9] Anwar Assyahadah hal.196</p>
<p style="text-align: justify;">[10] Biharul Anwar juz 45 hal.53</p>
<p style="text-align: justify;">[11] Maqtal AlHusain hal. 294-297</p>
<p style="text-align: justify;">[12] Anwar Assyahadah hal.190</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perjuangan-ksatria-karbala-seorang-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Perpisahan Terakhir</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perpisahan-terakhir/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perpisahan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali Zainal Abidin]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Sa'ad]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kaltsum]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Detik-detik terakhir kehidupan Imam Husain as telah semakin berdetak keras. Maka, kepada kaum wanita keluarga dan kerabatnya bintang ketiga dari untaian suci Imam Ahlul Bait as yang siap menyongsong kematian sakral itu berkata:
&#8220;Kenakanlah gaun duka cita kalian. Bersiaplah menanggung bencana dan ujian. Namun, ketahuilah bahwa Allah adalah Penjaga dan Pelindung kalian. Dia akan menyelamatkan kalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-290" title="09Muharram-2" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/09Muharram-2-300x163.jpg" alt="09Muharram-2" width="300" height="163" />Detik-detik terakhir kehidupan Imam Husain as telah semakin berdetak keras. Maka, kepada kaum wanita keluarga dan kerabatnya bintang ketiga dari untaian suci Imam Ahlul Bait as yang siap menyongsong kematian sakral itu berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenakanlah gaun duka cita kalian. Bersiaplah menanggung bencana dan ujian. Namun, ketahuilah bahwa Allah adalah Penjaga dan Pelindung kalian. Dia akan menyelamatkan kalian dari keburukan musuh, mendatangkan kebaikan dari persoalan yang kalian hadapi, mengazab musuh dengan berbagai macam siksaan, dan akan mengganti bencana kalian dengan berbagai macam kenikmatan dan kemuliaan. Maka janganlah kalian mengeluh dengan rintihan dan kata-kata yang dapat mengurangi keagungan kalian.&#8221; [1]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menatap wajah puteri-puterinya satu persatu sambil berkata: &#8220;Sakinah, Fatimah, Zainab, Ummu Kaltsum, salamku atas kalian. Inilah akhir pertemuan kita, dan akan segera tiba saatnya kalian dirundung nestapa.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Wajah Imam bersimbah air mata sehingga Hazrat Zainab memberanikan diri untuk bertanya: &#8220;Mengapa engkau menangis?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana aku akan dapat meredam tangis, sedangkan sebentar lagi kalian akan digiring oleh musuh sebagai tawanan?!&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Sakinah juga bertanya: &#8220;Ayahku, apakah engkau akan menyerah kepada kematian?&#8221; [4]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana tidak, sedangkan aku sudah tidak mendapati orang yang akan menolongku?!&#8221; Jawab Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sakinah berkata lagi: &#8220;Kalau begitu, lebih baik pulangkan kami ke tanah suci kakek.&#8221; [5]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain menjawab: &#8220;Mana mungkin aku bisa memulangkan kalian? Andaikan mereka mau melepaskan diriku, tidak mungkin aku akan menjerumuskan diriku kepada kebinasaan..&#8221;Dzariayat Annajah hal.138[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Sejurus kemudian Sang Imam bergerak untuk menjejakkan kakinya seorang diri menuju gerombolan musuh yang sudah haus akan darah beliau itu. Namun, gerakannya tertahan lagi oleh sisa-sisa jerit tangis anak-anak yang menahan dahaga. &#8220;Tak usah kalian menangis, demi kalian jiwaku akan aku korbankan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada adiknya, Hazrat Zainab as, beliau berpesan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku titipkan anak-anak dan kaum wanita ini kepadamu. Jadikanlah kamu sebagai ibu mereka sepeninggalku, dan tak perlu engkau mengurai-uraikan rambutmu (sebagai luapan dukacita) atas kepergianku. Apabila anak-anak yatimku merindukan ayahnya, biarlah putera Ali yang akan tampil sebagai ayah mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suara lirih, beliau akhirnya mengucapkan salam perpisahan: &#8220;Alwidaa&#8217;, alwidaa&#8217;, alfiraaq, alfiraaq.&#8221;[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Putera Ali bin Abi Thalib as itu kemudian mengendarai Dzul Janah, kuda yang sebelum ditunggangi oleh Abul adhl Abbas as. Anak-anak kecil dan kaum wanita tetap tak kuasa menahan ratapan duka lara. Gerakan Imam diiringi raung tangis mereka. Sebagian tersimpuh sambil memeluk kaki Dzul Janah. &#8220;Ayah! Ayah!&#8221; Panggil puteri beliau yang masih berusia tiga tahun. &#8220;Aku haus, aku haus! Mau kemana engkau ayah? Lihatlah aku, ayah. Aku sedang kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hati Sang Imam kembali menjerit. Imam sempat tersedu menahan tangis, tetapi kemudian tetap menarik kendali kudanya menuju laskar iblis kerajaan Bani Umayyah itu. Di situ beliau mencoba untuk mengajukan permohonan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai putera Sa&#8217;ad!&#8221; Seru beliau. &#8220;Aku menginginkan darimu satu diantara tiga pilihan. Pertama, kamu bebaskan aku untuk kembali kembali ke tanah suci kakekku dan menetap di sana.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu tidak mungkin!&#8221; Sergah Ibnu Sa&#8217;ad dengan raut muka yang angkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kedua,&#8221; Lanjut Imam. &#8220;Berilah kami air, karena keluargaku sedang tercekik dahaga.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini juga tidak bisa!&#8221; Teriak panglima pasukan Yazid dari Kufah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata lagi: &#8220;Kalau begitu, kalian tahu aku disini hanya seorang diri. Karenanya, sekarang aku minta satu diantara kalian maju berduel denganku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Sa&#8217;ad menjawab: &#8220;Ini pekerjaan gampang. Saya terima permintaanmu untuk memulai duel.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Jala&#8217; Al&#8217;Uyun hal.213</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Tazkiah Assyahadah hal.307</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Qiyam-e Salare Syahidan hal.214</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Biharul Anwar juz 45 hal.47</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Dzariat Annajaah hal.138</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Tazkiah Assyuhada hal.307</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/03/kisah-karbala-perpisahan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Hujjah Terakhir Imam Husain as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-hujjah-terakhir-imam-husain-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-hujjah-terakhir-imam-husain-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 16:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali Zaenal Abidin AS]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan:
&#8220;Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?&#8221;
&#8220;Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?&#8221;
&#8220;Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-286" title="Karbala-19" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-191-300x193.jpg" alt="Karbala-19" width="300" height="193" />Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?&#8221;[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau berteriak lagi:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali Zainal Abidin Assajjad, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: &#8220;Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.&#8221; Dengan tubuhnya yang lemas Ali Assajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk tubuhnya yang nyaris tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba beranjak menuju gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarnya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. &#8220;Biarkan aku yang akan menolongnya. &#8221; Pinta Assajjad.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada para pengikut kita dan katakan kepada mereka: ayahku berkata; &#8216;Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salam atasmu, wahai Abu Abdillah AlHusain. Salam kami, para pengikutmu, atas engkau yang telah menumpah darah sucimu di jalan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu persatu. Beliau panggil satu persatu anak-anak beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. &#8220;Hai para pelipur hatiku sekalian,&#8221; Tutur Imam Husain as penuh harap, &#8220;Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhiratlah tempat pesinggahan yang abadi.&#8221; Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah) kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as antara lain berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan (kepadamu) sepulangmu dari Karbala.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Imam lalu mendekati adiknya, Zainab AlKubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil berucap: &#8220;Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.&#8221; Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: &#8220;Ya Allah, hanya inilah yang tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan ddijalan-Mu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil berseru:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh biadab, tak seorangpun diantara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati srigala bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat. Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian, lengkaplah penderitaan Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: &#8220;Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya yang sedang sakit, Assajjad as, beliau bertutur:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur seorang diri, maka ratapilah dia.&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Qiyam Salar-e Syahidaan hal.225</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Anwar Assyahadah hal.165</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ma&#8217;aali Asshibthain juz 2 hal.22-23</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-hujjah-terakhir-imam-husain-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Musibah Abul Fadhl Abbas</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-musibah-abul-fadhl-abbas/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-musibah-abul-fadhl-abbas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 16:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Abul Fadhl Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Dalam riwayat disebutkan bahwa Abu Fadhl Abbas[1] as adalah pria yang berperawakan tinggi, tegap, dan kekar. Dadanya bidang dan wajahnya putih berseri. Sedemikian elok dan rupawannya Fisik Abbas sehingga adik Imam Husain as dari lain ibu ini tenar dengan julukan ‘Purnama Bani Hasyim&#8217; (Qamar bani Hasyim).
Dalam sejarah Abbas juga dikenal sebagai pemegang panji Karbala. Keberaniann, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-282" title="Karbala-9" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-9-300x204.jpg" alt="Karbala-9" width="300" height="204" />Dalam riwayat disebutkan bahwa Abu Fadhl Abbas[1] as adalah pria yang berperawakan tinggi, tegap, dan kekar. Dadanya bidang dan wajahnya putih berseri. Sedemikian elok dan rupawannya Fisik Abbas sehingga adik Imam Husain as dari lain ibu ini tenar dengan julukan ‘Purnama Bani Hasyim&#8217; (Qamar bani Hasyim).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sejarah Abbas juga dikenal sebagai pemegang panji Karbala. Keberaniann, kehebatan, dan kekuatannya saat itu tak tertandingi oleh siapapun. Sebagai manusia yang tumbuh besar di tengah binaan keluarga suci dan mulia, dia memiliki keteguhan dan kesetiaan yang luar biasa kepada kepemimpinan dalam untaian figur-figur utama Ahlul Bait as. Perjuangan di Karbala telah menyematkan namanya dalam sejarah keislaman dan Ahlul Bait Rasul sebagai salah satu pahlawan yang sangat legendaris.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang ini Imam Ali Zainal Abidin Assajjad as berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sesungguhnya di sisi Allah Abbas memiliki kedudukan (sedemikian tinggi) sehingga seluruh para syuhada cemburu menyaksikannya pada hari kiamat.&#8221;[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Assajad as dalam doanya untuk Abbas as juga berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Allah, rahmatilah pamanku, Abbas. Sesungguhnya dia telah mengorbankan jiwanya untuk saudaranya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam peperangan kedua tangannya telah dipotong oleh musuh sehingga Allah menggantinya dengan sepasang sayap untuk terbang dengan para malaikat di alam surga. Di sisi Allah dia memiliki kedudukan yang sangat agung sehingga membuat para sahabat cemburu melihatnya.[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Purnama Bani Hasyim adalah pria dewasa yang perasaannya dikenal sangat peka. Perasaannya sangat tersayat menakala dia mendengar ratapan kehausan dan tumpahnya darah para pahlawan Karbala. Saat itulah dia semakin merasakan tidak ada gunanya hidup bila tidak dia gunakan untuk berjihad membela junjungan dan pemimpinnya, Imam Husain as. Namun, selama terjadi peperangan yang menggugurkan satu persatu dari sahabat dan kerabatnya, yang bisa dia nantikan hanyalah menanti instruksi Sang Imam. Dan saat dia mendapat instruksi itu, banyak diantara pasukan musuh yang harus bergelimpangan ditangannya untuk kemudian dia kirim ke neraka jahannam dengan harapan dapat membalas kebejatan para musuh itu dengan sekuat tenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam penantian instruksi dari saudara sekaligus pemimpinnya itu, kata-kata yang dia ucapkan kepada beliau adalah: &#8220;Kakakku, sudahkah engkau mengizinkan aku?&#8221; Pernyataan Sang Purnama ini membuat hati Sang Imam luluh sehingga menangis tersedu dan berkata: &#8220;Adikku, engkau adalah pengibar panjiku dan lambang pasukanku.&#8221; [4] Beliau juga mengatakan: &#8220;Engkaulah pemegang panjiku, namun cobalah engkau carikan seteguk air untuk anak-anak itu.&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Hazrat Abbas as lantas mendatangi kelompok Bani Umayyah dan mencoba menasihati mereka kendati Abbas tahu bahwa itu tidak akan mereka dengar. Setelah terbukti nasihat itu sia-sia, dia kembali menghadap Imam Husain as dan mendengar jerit tangis anak-anak kecil yang kehausan meminta dibawakan air. Hati Abbas merintih. Sambil menatap langit, bibirnya berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tuhanku, Junjunganku, aku berharap dapat memenuhi janjiku, aku akan membawakan satu girbah air untuk anak-anak itu.&#8221;[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas kemudian meraih tombak dan memacu kudanya sambil membawa girbah (kantung air dari kulit) menuju sungai Elfrat yang seluruh tepi dijaga oleh sekitar empat ribu pasukan musuh. Begitu Abbas tiba di dekat sungai itu, pasukan musuh itu segera mengepungnya sambil memasang anak panah ke busurnya ke arah adik Imam Husain as tersebut. Pemandangan seperti itu tak membuatnya gentar. Begitu beberapa anak panah melesat, Abbas segera berkelit dan bergerak tangkas menyerang musuh. Sekali terjang, pedang Abbas berhasil membabat nyawa sejumlah pasukan. Kemanapun kuda Abbas bergerak, gerombalan musuh bubar dan porak poranda. Akibatnya, penjagaan sungai ElFrat yang berlapis-lapis akhirnya jebol diterjang pendekar Abbas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menahan letih dan rasa haus yang mencekiknya, Abbas turun ke sungai dengan kudanya. Mula-mula dia berusaha cepat-cepat mengisi girbahnya dengan air. Setelah itu dia meraih air dengan telapak tangannya untuk diminumnya. Namun, belum sempat air itu menyentuh bibirnya, Abbas teringat kepada Imam Husain as dan kerabatnya yang sedang kehausan menantikan kedatangannya. Air di telapak tangannya langsung dia tumpahkan lagi sambil berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Demi Allah aku tidak akan meneguk air sementara junjunganku Husain sedang kehausan.&#8221;[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Hazrat Abbas as kemudian berusaha kembali dengan menempuh jalur lain melalui tanah yang ditumbuhi pohon-pohon kurma agar air yang dibawanya tiba dengan selamat ke tangan Imam. Namun, perjalanan Abbas tetap dihadang musuh. Dia tidak diperkenankan membawa air itu kepada Ahlul Nabi tersebut. Kali ini pasukan Umar bin Sa&#8217;ad semakin garang. Abbas dikepung lagi. Pasukan yang menghadang di depannya adalah pasukan pemanah yang sudah siap melepaskan sekian banyak anak panah untuk mencabik-cabik tubuhnya. Namun, sebelum menjadi sarang benda-benda tajam beracun itu, dengan tangkasnya pedang Abbas menyambar musuh ada di depannya. Sejurus kemudian kepungan musuh kembali porak-poranda diobrak-abrik Abbas.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyaksikan kehebatan Abbas yang tidak bisa dipatahkan dengan berhadapan langsung itu, beberapa pasukan penunggang kuda ahli diperintahkan untuk bekerjasama menghabisi Abbas dengan cara menyelinap dan bersembunyi di balik pepohonan kurma. Saat Abbas lewat, dua pasukan musuh bernama Zaid bin Warqa dan Hakim bin Tufail yang juga bersembunyi di balik pohon segera muncul sambil menghantamkan pedangnya ke tangan Abbas. Tanpa ampun lagi, tangan kanan Abbas putus dan terpisah dari tubuhnya. Tangan kirinya segera menyambar girbah air dan pedangnya. Dengan satu tangan dan sisa-sisa tenaga itu, Abbas masih bisa membalas beberapa orang pasukan hingga tewas. Saat itu dia sempat berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Demi Allah, walaupun tangan kananku telah kalian potong aku tetap akan membela agamaku, membela Imam yang jujur, penuh keyakinan, dan cucu Nabi yang suci dan terpercaya.&#8221;[8]</p>
<p style="text-align: justify;">Hazrat Abbas as tetap berusaha bertahan dan menyerang walaupun badannya sudah lemah akibat pendarahan. Dalam kondisi yang nyaris tak berdaya itu, seseorang bernama Nufail Arzaq tiba-tiba muncul bak siluman dari balik pohon sambil mengayunkan pedangnya ke arah bahu Abbas. Abbas tak sempat menghindar lagi. Satu-satunya tangan yang diharapkan dapat membawakan air untuk anak keturunan Rasul yang sedang kehausan itu akhirnya putus. Dalam keadaan tanpa tangan, adik Imam Husain ini mencoba meraihnya kantung air dengan menggigitnya. Tapi kebrutalan hati musuh tak kunjung reda. Kantung itu dipanah sehingga air yang diharapkan itu tumpah. Air itu pun mengucur habis seiring dengan habisnya harapan Abbas. Aksi pembantaian ini berlanjut dengan tembusnya satu lagi anak panah ke dada Abbas. Tak cukup dengan itu, Hakim bin Tufail datang lagi menghantamkan batangan besi ke ubun-ubun Abbas. Abbas pun terjungkal dari atas kuda sambil mengerang kesakitan dan berteriak : &#8220;Hai kakakku, temuilah aku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sengalan nafas yang masih tersisa Abbas as berucap lagi untuk Imam Husain as: &#8220;Salam atasmu dariku, wahai Abu Abdillah.&#8221;[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Suara dan ratapan Abbas ini secara ajaib terdengar oleh Imam Husain as sehingga beliaupun beranjak ke arahnya sambil berteriak-teriak: &#8220;Dimanakah kamu?&#8221; Imam Husain as tiba-tiba dikejutkan oleh kuda Abu Fadhl Abbas yang diberi nama Dzul Janah itu. Secara ajaib kuda itu dapat berucap berucap: &#8220;Hai junjunganku, adakah engkau tidak melihat ke tanah?&#8221;[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam lantas melihat ke tanah dan tampaklah di depan mata beliau dua pasang tangan tergeletak di atas tanah. Tangan yang dikenalnya segera diraih dan dipeluknya. Tak jauh dari situ pula, Imam melihat tubuh adiknya yang tinggi besar itu tergeletak dalam keadaan penuh luka bersimbah darah. Imam pun tak kuasa menahan duka. Beliau menangis tersedu dan meratap hingga mengiris hati seluruh hamba sejati Allah di langit dan bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kini tulang punggungku sudah patah, daya upayaku sudah menyurut, dan musuhku pun semakin mencaci maki diriku.&#8221; Ratap putera Fatimah itu sambil memeluk Abbas, adiknya dari lain ibu. Di tengah isak tangisnya, Imam juga berucap kepada Abbas: &#8220;Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, adikku. Engkau telah berjuang di jalan Allah dengan sempurna.&#8221;[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Jasad Abbas yang tak bertangan itu ternyata masih bernyawa. Mulutnya bergetar dan kemudian bersuara lirih:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kakakku, tolong jangan engkau bawa aku ke tenda sana. Sebab, selain aku telah gagal memenuhi janjiku untuk membawakan air kepada anak-anak kecil itu, aku adalah pemegang panji sayap tengah. Jika orang-orang di perkemahan sana tahu aku telah terbunuh, maka ketabahan mereka akan menipis.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as kembali mendekap erat-erat kepada adiknya yang bersimbah darah itu. Air mata Abbas yang mengalir beliau usap.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mengapa engkau menangis?&#8221; Tanya Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wahai kakakku, wahai pelipur mataku. Bagaimana aku tidak akan menangis saat aku melihatmu mengangkat kepalaku dari tanah dan merebahkanku dalam pangkuanmu, sementara tak lama lagi tidak akan ada seorangpun yang akan meraih dan mendekap kepalamu, tidak ada seorangpun yang akan membersihkan debu-debu dan tanah di wajahmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata Abbas ini semakin meluluhkan hati Imam Husain as sehingga beliau semakin terbawa derai isak dan tangis haru sambil bersimpuh di sisi adiknya tanpa mempedulikan sengat terik mentari yang membakar. Dengan hati yang pilu Sang Imam mengucapkan salam perpisahan kepada tulang punggung pasukannya yang sudah tak berdaya itu lalu beranjak pergi dengan langkah kaki yang berat. Abbas pun gugur tergeletak bermandi darah, debu, dan air mata di bawah guyuran cahaya panas mentari sahara.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu tiba di tenda tempat beliau tinggal, Imam yang masih tak kuasa membendung derai air mata duka segera disambut dengan pertanyaan dari puterinya, Sakinah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayah, bagaimanakah dengan nasib pamanku? Bukankah dia telah berjanji kepadaku untuk membawakan air, dan bukankah dia tidak mungkin ingkar janji?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan Sakinah nampak sulit untuk dijawab ayahnya. Hanya isak tangis yang segera menjawabnya, sebelum kemudian beliau berkata dengan suara meratap pilu:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Puteriku, sesungguhnya paman sudah terbunuh, tetapi ketahuilah bahwa arwahnya sudah bersemayam di dalam surga.&#8221;[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Berita pilu ini tak urung segera disusul dengan gemuruh tangis dan ratapan pedih Sakinah, Zainab Al-Kubra, dan wanita-wanita lain di sekitarnya. &#8220;Oh Abbas!&#8221; &#8220;Oh, saudaraku!&#8221; &#8220;Habislah sudah sang penolong!&#8221; &#8220;Betapa pedihnya nanti bencana sesudah kepergianmu!&#8221;[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Imam sendiri tetap tak kuasa menahan duka lara kepergian Abbas yang telah menjadi perisai tangguh kelompoknya. &#8220;Oh Abbas, oh adikku, oh buah hatiku, kini kami benar-benar telah kehilangan dirimu. Patah sudah tulang punggungku. Lemah sudah strategiku. Punah sudah harapanku.&#8221;[14]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Ayah Abu Fadhl Abbas adalah Ali bin Abi Thalib as. Ibunya adalah Fatimah AlKilabi, wanita yang lebih dikenal dengan sebutan Ummul Banin. Isterinya adalah Lababah binti Ubaidillah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Lababah mempunyiai empat orang putera bernama Ubaidillah, Fadhl, Hasan, dan Qasim, serta seorang puteri. Abu Fadhl Abbas gugur di Karbala saat masih berusia 34 tahun. (Sardar Karbala hal.341).</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Sardar Karbala hal.240</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Muntaha Al-Amaal hal.279</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Anwar Assyahadah hal.76</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Sardar Karbala hal.287</p>
<p style="text-align: justify;">[6]Anwar Assyahadah hal.78</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Bihar Al-Anwar juz 45 hal.41</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Ramz Al-Mushibah hal.307</p>
<p style="text-align: justify;">[9]Nadhm Azzahra hal.120</p>
<p style="text-align: justify;">[10] Anwar Assyahadah hal.99</p>
<p style="text-align: justify;">[11] Nasikh Attawarikh juz 2 hal.346</p>
<p style="text-align: justify;">[12] Sugand Nameh Ali Muhammad hal.310</p>
<p style="text-align: justify;">[13] Kibrit Al-Ahmar hal.162</p>
<p style="text-align: justify;">[14] Muhayyij Al-Ahzan, Muthabiq Al-Waqayi&#8217; wa Al-hawadits juz 3 hal.19</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-musibah-abul-fadhl-abbas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Musibah Qasim as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-musibah-qasim-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-musibah-qasim-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 16:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Qasim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Pada malam Asyura Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. &#8220;Kalian semua besok akan terbunuh.&#8221; Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as.
&#8220;Paman,&#8221; Panggil putera Imam Hasan as itu, &#8220;apakah aku juga akan terbunuh?&#8221; Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-278" title="Asyura4" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Asyura4-300x228.jpg" alt="Asyura4" width="300" height="228" />Pada malam Asyura Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. &#8220;Kalian semua besok akan terbunuh.&#8221; Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paman,&#8221; Panggil putera Imam Hasan as itu, &#8220;apakah aku juga akan terbunuh?&#8221; Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu dan segera memeluk erat kemenakannya itu lalu bertanya: &#8220;Bagaimanakah menurutmu kematian itu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Anak yang baru beranjak usia remaja itu menjawab: &#8220;Kematian bagiku adalah lebih manis daripada madu.&#8221;[1] Mendengar jawaban ini, Imam segera memberitahu: &#8220;Kamu akan terbunuh setelah terjadi bencana besar, dan bahkan Ali Asghar pun juga aka terbunuh.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Asyura, saat sudah mempersiapkan diri untuk berperang, Qasim pergi menghadap pamannya untuk mengajukan sebuah permohonan. &#8220;Paman, izin aku untuk ikut berperang.&#8221; Pintanya. Namun Imam menjawab: &#8220;Kamu bagiku adalah cindera mata dari kakakku, [2] maka bagaimana aku dapat merelakan kematianmu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap Imam Husain as ini tidak memudarkan semangat Qasim. Dia tetap memohon lagi agar beliau membiarkannya bertempur melawan musuh. Namun Imam tetap menahan kepergian Qasim. Remaja tampan ini bersedih lalu terduduk seorang diri sambil berenung penuh duka cita. Di saat itu tiba-tiba dia teringat pada pesan ayahnya dulu, Imam Hasan as. Saat masih hidup, kepada Qasim Imam Hasan pernah berpesan: &#8220;Jika nanti suatu penderitaan sedang menimpamu, maka bukalah catatan yang kamu ikatkan dilenganmu, lalu bacalah dan amalkanlah.&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Qasim kemudian berpikir-pikir lagi tentang musibah sedemikian besar yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dari situ dia lantas merasa bahwa sekarang inilah saatnya dia membaca surat wasiat itu. Surat itu dibukanya dan disitu dia mendapatkan pesan ayahnya yang mengatakan:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai Qasim, aku berpesan kepadamu bahwa jika kamu mendapati pamanmu Husain di Karbala dalam keadaan terasing dan kerumuni oleh musuh, maka janganlah kamu tinggalkan jihad, dan jangan sampai kamu enggan mengorbankan jiwamu deminya.&#8221;[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Qasim lalu membawa pesan tertulis itu kepada Imam Husain as. Imam Husain as terharu dan tiba menangis begitu menyaksikan ciri khas tulisan kangan kakak yang amat dicintainya itu, lalu berkata kepada Qasim:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika ayahmu telah berwasiat demikian kepadamu, maka saudaraku Hasan itu juga pernah berwasiat suatu hal kepada sehingga akupun sekarang harus menikahkan puteriku Fatimah denganmu.&#8221; Imam meraih tangan Qasim dan membawanya ke dalam tenda. Beliau bertanya kepada semua orang dan para pemuda yang ada di sekitarnya: &#8220;Adakah pakaian bagus untuk aku kenakan kepada Qasim?&#8221; Semua orang menjawab tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam lalu meminta adiknya, Hazrat Zainab, supaya mengambilkan beberapa potong pakaian peninggalan Imam Hasan as dari sebuah peti. Setelah pakaian itu didatangkan, beliau mengenakan serban dan gamis Imam Hasan itu kepada Qasim lalu mengakad nikahkan Fatimah dengannya. Begitu selesai, Imam berujar kepada Qasim: &#8220;Hai puteraku, adakah sekarang kamu siap melangkah menuju kematian?&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Qasim menjawab: &#8220;Entahlah paman, bagaimana aku harus pergi meninggalkanmu seorang diri tanpa pelindung dan kawan diantara sekian banyak musuh. Yang pasti, jiwaku jiwaku siap berkorban untuk jiwamu, diriku siap melindungi dirimu.[6]&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kembali mengajukan permohonan dengan amat sanga untuk berperang, Imam Husain as akhirnya rela melepaskan Qasim berperang melawan musuh. Beliau menyobek serbannya menjadi dua potong, satu untuk beliau pakai lagi untuk serban, selebihnya beliau kenakan dalam bentuk kain kafan. Setelah menyerahkan sebilah pedang kepada Qasim, Imampun melepaskan kepergiannya ke arah musuh yang tak sabar menanti korban-korban suci selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di medan pertempuran, Qasim sang remaja suci itu menyorot tajam mata Umar bin Sa&#8217;ad kemudian menumbuknya dengan kata-kata: &#8220;Hai Umar, masihkan kamu tidak takut kepada Allah?! Apakah kamu tetap saja mengabaikan hak Rasulullah?! Lantas bagaimana kamu bisa mengaku sebagai seorang Muslim sementara kamu memblokir sungai Elfrat agar putera dan Ahlul Bait Rasul yang berteriak-teriak kehausan itu tidak dapat meneguk airnya?!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan angkuhnya Umar bin Sa&#8217;ad menjawab: &#8220;Aku hanya akan membiarkan kalian meminumnya airnya jika kalian menanggalkan sikap takabur kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh tidak, terima kasih, (kami tidak akan meminumnya).&#8221; Sergah Qasim.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menatap wajah-wajah musuh yang berjajar di depannya, putera Imam Hasan as itu sempat mengucapkan sebuah syair tentang jiwanya yang sudah membaja dan kenal kata gentar itu. Syair itu berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika kalian belum mengenalku, maka ketahuilah bahwa akulah putera AlHasan, cucu Nabi Al-Mustafa, manusia kepercayaan (Allah). Dan ini adalah Husain yang sedang menderita bagai tawanan yang disandera di tengah orang-orang.&#8221;[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Meski usianya masih beliau, Qasim akhirnya mementaskan kehebatan ilmu perang yang dikuasainya di atas gelanggang sejarah heroisme Karbala. Sejumlah musuh jatuh bergelimpangan setelah menikmati kerasnya sabetan pedang Qasim.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Mufid ra dalam kitabnya, Al-Irsyad, meriwayatkan dari Hamid bin Muslim yang berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saat itu aku berada di tengah pasukan Ibnu Sa&#8217;ad. Aku menyaksikan seorang remaja belia yang wajahnya sangat rupawan dan bersinar bagai purnama. Dia mengenakan pakaian dan izar (semacam sarung). Kakinya mengenakan sepasang sendal yang tali satu diantaranya sudah terputus. Menyaksikan remaja itu, Amr bin Sa&#8217;ad Al-Izadi berkata: &#8216; Demi Allah, aku memperlakukannya dengan kasar dan membunuhnya.&#8217;[8]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku berseru: &#8216;Subhanallah! Kehendak macam apakah yang kamu katakan ini?! Orang sebanyak itu dan kini sedang mengelilinginya itu sudah cukup untuk membantainya. Lantas untuk apa kamu mau ikut-ikutan menghabisinya?!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saat aku masih berpikir demikian, seekor kuda tiba-tiba menerjang kemudian disusul dengan hantaman pedang yang mengena bagian kepala anak yang sedang teraniaya itu. Kepalanya terkoyak sehingga Qasim tersungkur ke tanah dan berteriak: &#8216;Oh paman, aku haus, aku dahaga. Beri aku seteguk air minum!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hazrat Husain bin Ali dari jauh mencoba memberinya semangat dan ketabahan hati, sementara pasukan musuh terus mengerubungi sambil menganiayanya secara bertubi-tubi. Saat mereka hendak memenggal kepalanya, remaja belia itu merintih dan meminta diberi kesempatan untuk mengucapkan suatu wasiat kepada seseorang. Namun, saat dia tidak melihat siapapun di dekatnya kecuali kuda tunggangannya. Maka, ditujukan kepada kudanya itu dia berkata: &#8220;Katakanlah kepada puteri pamanku, sesungguhnya aku terbunuh dalam keadaan dahaga seorang diri. Maka, jika kamu meminum air, ingatlah aku dan ratapilah aku, dan jika (di sini) kamu hendak mewarnai kukumu dengan sesuatu, maka warnailah dengan darahku.&#8221;[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keadaan tak berdaya itu, Qasim dipenggal oleh musuh. Kepalanya terpisah dari badan. Menyaksikan pemandangan sedemikian biadab itu, Imam Husain as segera menerjang barisan pasukan musuh. Bagaikan elang yang menukik dari angkasa saat memburu mangsa, Imam Husain as menerobos gerombolan musuh dan mengincar manusia liar yang telah memenggal kepada kepala Qasim. Begitu manusia biadab berama Amr bin Sa&#8217;ad itu terlihat di depan beliau, Imam Husain as segera membabatkan pedangnya ke arah Amr. Amr pun mengerang kesakitan begitu melihat tangannya sudah terpisah dari pangkal lengannya akibat sabetan pedang Imam Husain as. Namun, tanpa ampun lagi, diiringi gelegar suara Imam Husain as yang menggetarkan nyali pasukan musuh yang ada di sekitarnya, Amr bin Sa&#8217;ad mendapat serangan kedua kalinya dari pedang Imam. Manusia sadis terhempas dari kudanya. Dalam keadaan bermandi darah diapun sekarat dan mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Debu yang beterbangan pun reda. Di saat musuh tercengang, Imam mendekati dan meraih kepala Qasim dan memeluknya jasadnya yang tak bernyawa itu. Imam berucap: &#8220;Demi Allah, adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi pamanmu untuk tidak memenuhi panggilanmu jika kamu memanggilnya, atau memenuhinya tetapi tidak berguna untukmu.&#8221;[10]Hai Puteraku, orang-orang kafir telah membunuhmu. Mereka tidak tahu siapa kamu, ayahmu dan kakekmu.&#8221;[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Gugurnya Qasim di medan jihad tak urung disambut dengan jerit tangis histeris isteri yang baru saja dinikahinya. Ratapan histeris juga datang dari ibu Qasim. Mereka melumuri wajah mereka dengan darah suci Qasim sambil menangis tanpa henti hingga kemudian dengan hati pilu Imam Husain as meminta mereka untuk tabah didepan cobaan yang amat besar ini. Beliau kemudian membawa jenazah suci Qasim ke dalam tenda yang khusus untuk dibaringkan di sisi jenazah para syuhada sebelum Qasim. Dengan wajah yang tak dapat membendung luapan duka, beliau menatap ke arah langit dan berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Engkau tahu bahwa orang-orang (Kufah) itu telah mengundangku untuk mendukungku. Namun sekarang mereka telah melepaskan tangan dariku kemudian menjabat tangan musuhku. Mereka membantu musuh dan bangkit memerangiku. Ya Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, binasakanlah mereka, ceri beraikan mereka hingga tidak ada lagi satupun diantara mereka yang tersisa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Laknat Allah atas para pembunuh kalian (para syuhada).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Di Karbala, saat putera-putera ksatria Ali bin Abi Thalib as tidak tersisa lagi kecuali Imam Husain as dan Abu Fadl Abbas, Abbas datang menghampiri kakaknya, Imam Husain as dan berkata:&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Turbunuhya para sahabat dan kerabatku kini telah membuatky tak kuasa lagi menahan rasa sabar. Maka izinkan aku untuk membalas darah mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saudara-saudara Imam Husain as yang sudah maju ke depan dan membawa bendera perlawanan sebelum Abbbas ialah Abdullah, Jakfar, dan Ustman. Mereka sudah gugur mendahului Abbas hingga akhirnya tibalah giliran Abbas sendiri untuk melakukan perlawanan di atas pentas peperangan yang sebenarnya lebih merupakan panggung pembantaian itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Sugand Nameh hal.284</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Ramzul Mushibah juz 2 hal.190</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Anwar Assyahadah hal.126</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Ibid hal 125</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Ramzul Mushibah juz 2 hal.191</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Anwar Assyahadah hal.126</p>
<p style="text-align: justify;">[9] Ibid hal.127</p>
<p style="text-align: justify;">[10]Biharul Anwar juz 45 hal.35</p>
<p style="text-align: justify;">2 Anwar Assyahadah hal.182</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-musibah-qasim-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Karbala: Banjir Darah Hari Asyura</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-banjir-darah-hari-asyura/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-banjir-darah-hari-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 16:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Akbar]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husein AS]]></category>
		<category><![CDATA[Zaenab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Untuk sementara kalangan, hari Asyura saat itu adalah hari jihad, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Namun, untuk kalangan lain, hari itu adalah hari pesta darah, hari perang, dan hari penumpahan ambisi-ambisi duniawi. Akibatnya, terjadilah banjir darah para pahlawan Karbala yang terdiri anak keturunan Rasul dan para pecintanya.
Hari itu tanah Karbala sedang diguyur sengatan terik mentari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-275" title="Karbala-17" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-17-300x204.jpg" alt="Karbala-17" width="300" height="204" />Untuk sementara kalangan, hari Asyura saat itu adalah hari jihad, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Namun, untuk kalangan lain, hari itu adalah hari pesta darah, hari perang, dan hari penumpahan ambisi-ambisi duniawi. Akibatnya, terjadilah banjir darah para pahlawan Karbala yang terdiri anak keturunan Rasul dan para pecintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu tanah Karbala sedang diguyur sengatan terik mentari yang mengeringkan tenggorokan para pahlawan Karbala. Hari itu, para pejuang Islam sejati itu satu persatu bergelimpangan meninggalkan sanjungan sejatinya, Husain putera Fatimah binti Muhammad SAWW. Bintang kejora Ahlul Bait Rasul ini akhirnya menatap pemandangan sekelilingnya. Wajah-wajah setia pecinta keluarga suci Nabi itu sudah tiada. Dari para pejuang gagah berani itu yang ada hanyalah onggokan jasad tanpa nyawa. Putera Amirul Mukminin sejati itu melantunkan kata mutiaranya:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akulah putera Ali dari Bani Hasyim, dan cukuplah kiranya ini menjadi kebanggaan bagiku. Fatimah adalah ibundaku, dan Muhammad adalah kakekku. Dengan perantara kamilah Allah menunjukkan kebenaran dari kesesatan. Kamilah pelita-pelita Allah yang menerangi muka bumi. Kamilah pemilik telaga Al-Kautsar yang akan memberi minum para pecinta kami dengan cawan-cawan Rasul. Tak seorangpun dapat mengingkari kedudukan kami ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Para pengikut kami adalah umat yang paling mulia di tengah makhluk, dan musuh-musuh kami adalah orang paling rugi pada hari kiamat. Beruntunglah hamba-hamba yang dapat berkunjung kepada kami di surga setelah kematian, surga yang keindahannya tak kunjung habis untuk disifati.&#8221;[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Asyura adalah hari pementasan duka nestapa Ahlul Bait Rasul, hari rintihan sunyi putera Fatimah, hari keterasingan putera Azzahra, hari kehausan dan jerit tangis anak keturunan Nabi. &#8220;Adakah sang penolong yang akan menolong kami? Adakah sang pelindung yang akan melindungi kami? Adakah sang pembela yang akan menjaga kehormatan Rasulullah?&#8221; Pinta putera Ali bin Abi Thalib as itu kepada umat kakeknya, Muhammad SAWW.[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Rintih pinta cucu Rasul itu tak dijawab kecuali oleh beberapa pemuda Bani Hasyim yaitu keluarga, kaum kerabat dan pengikut beliau yang masih tersisa. Diantara mereka adalah Ali Akbar, putera beliau sendiri. Ali Akbar meminta izin sang ayah untuk maju melawan musuh. Sang ayah mendapati wajah anaknya itu dibinari cahaya spiritual yang amat cemerlang, mengingatkan beliau pada wajah Rasul. Wajah memohon itu direstui tatapan bisu sang ayah. Hanya linangan air mata dan tak sepatah katapun terucap sebagai kata perpisahan untuk pemuda ksatria itu di alam fana. Demi tujuan sebuah yang agung, Imam Husain as itu harus rela mengorbankan jiwa dan raga putera yang sangat dikasihinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, Imam Husain as akhirnya mempersembahkan putera tercintanya, Ali Akbar, sebagai pejuang pertama Bani Hasyim di Karbala. Dalam pertempurannya, Ali Akbar selalu beliau perhatikan dengan seksama dan penuh ketabahan. Dalam keadaan berlinang air mata, imam Husain as berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Allah, saksikanlah seorang remaja yang paras, perangai, dan tutur katanya paling menyerupai rasul-Mu kini telah tampil berjuang melawan kaum itu. Kepada wajah remaha inilah kami memandang jika kami sedang merindukan rasul-Mu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as kemudian berseru kepada Umar bin Sa&#8217;ad:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai putera Sa&#8217;ad semoga Allah memutuskan hubungan kekeluargaanmu sebagaimana kamu telah memutuskan hubungan kekeluargaanku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali Akbar bin Husain as sudah ada di medan laga. Tanpa di duga pasukan musuh, mereka tercengang menyaksikan kepiawaian Ali Akbar dalam berperang. Gerakan dan ketangkasannya dalam bertempur mengingatkan mereka kepada Haidar Al-Karrar alias Ali bin Abi Thalib as yang tenar dengan Singa Allah. Tak sedikit pasukan musuh yang mati menjadi mangsa sambaran pedang Ali Akbar. Namun, saat tenaganya sudah terkuras dan jumlah musuh seakan tak berkurang, Ali Akbar sempat mendatangi sang ayah dan berkata: &#8220;Ayah, aku tercekik kehausan sehingga (senjata) besipun kini memberatkanku&#8230;&#8221;[3]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as menjawab: &#8220;Tabahkan dirimu, hai puteraku tercinta. Sesungguhnya Rasulullah tak lama lagi akan memberimu minum yang akan membuatmu tidak akan pernah lagi merasa kehausan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja berhati baja itu akhirnya kembali lagi ke medan laga. Namun, keadaannya yang sudah nyaris tanpa daya itu segera dimanfaatkan musuh untuk menghabisi riwayatnya. Maka dari itu, kedatangannya disambut dengan hantaman pedang tepat mengena di bagian atas kepala Ali Akbar. Darahnya yang mengucur segera disusul dengan sambaran anak panah yang menusuk tubuhnya secara bertubi-tubi. Dalam kondisi fisik yang mengenaskan itu, bibir Ali Akbar mengucapkan kata-kata yang dimaksudkan kepada ayahnya:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang aku sudah melihat kakekku yang sedang membawa cawan yang beliau persiapkan untukmu.&#8221;[4]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-274" title="Karbala-8" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/Karbala-8-300x193.jpg" alt="Karbala-8" width="300" height="193" />Ali Akbar lalu tergolek di atas kudanya yang berputar-putar ke sana kemari setelah kehilangan kendali di tengah riuhnya suasana perang. Tubunnya yang sudah mengenaskan itu masih sempat dihantam senjata dan dipanah lagi saat kuda yang tak terkendali itu bergerak di sekitar pasukan musuh. Di saat-saat itulah, sambil memanfaatkan sisa-sisa tenaga dan nafasnya, Ali Akbar berucap lagi:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;salam atasmu wahai ayahku, sekarang aku sudah menyaksikan kakekku Rasulullah. Beliau menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: &#8216;Cepatlah datang kepada kami!&#8217;&#8221;[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata yang didengar Imam Husain as ini segera disambut dengan kata-kata lantang beliau: &#8220;Allah akan membinasakan kaum yang telah membunuhmu!&#8221;[6]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai orang-orang Kufah, aku berharap mata kalian kelak akan dipedihkan oleh tangisan, dada kalian akan dibebani rintihan untuk selamanya, dan Allah tidak memberkati kalian, dan Dia akan mencerai beraikan kumpulan kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memekikkan kutukan ini, Imam Husain as maju sendiri ke medan perang menerobos dan membubarkan barisan depan musuh. Beliau mendekati kuda Ali Akbar dan menggiringnya ke tempat yang aman lalu menurunkan tubuh penuh luka dan bermandi darah puteranya itu dari kuda. Tubuh suci direbahkan dalam pelukan hangat beliau. Di situ dada Ali Akbar ternyata masih bergerak. Setelah kelopak matanya terbuka perlahan, bibirnya berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayahku yang mulia, aku sudah melihat pintu-pintu langit terbuka, para bidadari di surga sedang berkumpul sambil membawa cawan-cawan minuman dan memanggil-manggil diriku. Sekarang aku akan pergi ke sana dan membinarkan wajah mereka yang merindukan kedatanganku itu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ruh Ali Akbar melayang setelah jasadnya menghembus nafas terakhir. Kepergiannya ke alam keabadian diantar ayahandanya yang mulia itu dengan kata-kata:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adalah sesuatu yang berat bagi kakekmu, pamanmu, dan ayahmu untuk tidak memenuhi permohonanmu.[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as membawa jasadnya yang penuh luka bacokan dan menjadi sarang anak panah itu ke arah perkemahan. Hazrat Zainab segera keluar dari dalam tenda dan menyambut jasad itu dengan jerit tangis dan ratapan. Jasad itu dipeluknya erat sambil meratap: &#8220;Oh kemenakanku. Oh putera kesayangku.&#8221; Imam Husain as mengantarkan adiknya itu ke dalam kemah orang-orang perempuan lagi lalu kembali memeluk jasad Ali Akbar sambil berucap:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Puteraku, engkau sudah beristirahat dari kegundahan dan kegetiran hidup di dunia. Kini tinggallah ayahmu seorang diri.&#8221;[8]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Husain as lantas memerintahkan para pemuda Bani Hasyim untuk membawa jasad suci yang tercabik-cabik itu ke dalam tenda tempat jasad para syuhada dikumpulkan. Jasad putera kesayangan Imam itu diusung diiringi dengan kata-kata beliau berkali-kali: &#8220;Innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji&#8217;uun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hati pilu putera Ali bin Abi Thalib as ini berkata dengan nada tinggi kepada Umar bin Sa&#8217;ad:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tahukah kamu apa yang akan terjadi nanti denganmu? Allah pasti akan membinasakan keluarga dan keturunanmu sebagaimana kamu membinasakan keluargaku, sebagaimana kamu tidak mengindahkan kekerabatanku dengan Rasulullah. Allah tidak akan memberkahimu. Allah akan menguasakan atasmu seseorang yang akan memenggal kepalamu di atas tempat tidurmu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi diantara ksatria Karbala dari kerabat Rasul yang berdiri teguh melawan badai bencana dengan segala jiwa dan raga ialah Abdullah bin Muslim bin Aqil. Dia termasuk prajurit yang meminta sendiri kepada Imam Husain as untuk angkat pedang melawan musuh. Imam menjawab:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masih belum lama ayahmu Muslim gugur sebagai syahid. Aku akan mengizinkanmu berperang jika kamu membawa ibumu yang sudah tua itu keluar dari suasana pertempuran ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin Muslim menjawab:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ibuku pasti siap berkorban untukmu, dan aku sendiri bukanlah orang yang mengutamakan kehidupan di dunia daripada kehidupan yang abadi di akhirat. Aku memohon restumu untuk mengorban jiwaku di jalanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Imam suci dan agung itupun kemudian merestuinya. Maka, dengan jiwa yang besar dan tak kenal kata gentar, Abdullah maju ke medan laga dengan tatapan yang tajam ke arah musuh yang bergerombol bak srigala kelaparan. Di tengah kerumunan manusia-manusia srigala padang pasir itu, Abdullah bin Muslim mengamuk bak singa sahara. Pedangnya berkelebat-kelebat memangkas nyawa manusia-manusia tak berperasaan dari Kufah itu. Beberapa serdadu bergelimpang diterjang keperkasaan Abdullah yang mewarisi darah kependekaran ayahnya, sebelum kemudian dia sendiri tak berdaya melawan prajurit iblis yang menyemut itu. Putera Muslim bin Aqil ini gugur di tangan Amr bin Sabih Assaidawi dan Asad bin Malik.</p>
<p style="text-align: justify;">Berakhirnya legenda kependekaran Abdullah disusul dengan tampilnya satu lagi putera Muslim, Muhammad. Sebagaimana Abdullah, Muhammad juga meneguk manisnya derajat syahadah di bumi gersang Karbala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan pula dalam sejarah bahwa di hari yang paling na&#8217;as untuk anak keturunan dan kerabat suci Rasul itu, Hazrat Zainab Al-Kubra as sempat mengenakan baju baru kepada kedua puteranya, Muhammad dan &#8216;Aun, sebelum kemudian menyerahkan pedang kepada mereka sambil menahan jerit hati yang pilu di dalam hati. Dengan linangan air mata, wanita suci, pemberani, dan mulia ini meminta restu kepada kakaknya supaya kedua puteranya itu ikut mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan Allah. Imam Husain as tadinya masih ingin menahan keberadaan kedua putera itu. Namun, keinginan itu luluh setelah Hazrat Zainab tetap mendesak beliau supaya mengizinkan kepergian mereka. Imam lantas merestui kepergian kedua kemenakan yang dikasihinya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang maju terlebih dahulu adalah Muhammad bin Abdullah bin Jakfar. Seperti syuhada sebelumnya, Muhammad jatuh dan gugur setelah menghabisi ajal sejumlah serdadu musuh. Setelah itu baru menyusullah &#8216;Aun bin Abdullah bin Jakfar. Dalam keadaan bertahan dan menyerang pasukan musuh, dia mencoba mendekati jasad saudaranya yang sudah tak bernyawa itu lalu berkata: &#8220;Saudaraku, nantikan aku yang tak lama lagi akan menyusulmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Benar, tak setelah itu &#8216;Aun menyusul kepergian saudaranya ke alam keabadian setelah tubuhnya mendapat serangan telak dari seseorang Abdullah bin Qathanah. Arwah kedua putera Hazrat Zainab itu terbang tinggi bak dua merpati menuju kerimbunan taman-taman surgawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan pula bahwa dua kakak beradik dari putera-putera Muslim bin Aqil juga tampil ke medan laga. Mereka adalah Abdurrahman bin Aqil dan Jakfar bin Aqil. Kedua tampil untuk mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan yang hak. Keduanya kemudian disusul lagi oleh Muhammad bin Abi Said bin Aqil yang juga tampil dengan langkah mantap untuk menerjang pasukan iblis hingga titik darah penghabisan, titik darah yang terukir abadi dalam prasasti sejarah heroisme dan duka nestapa perjuangan Ahlul Bait Nabi demi tegaknya agama Muhammad SAWW.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Maqtal Al-Husain hal. 120</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Permintaan Imam Husain as ini tentu saja bukan dalam rangka memelas kepada manusia-manusia buas yang berdiri angkuh di depan beliau, melainkan sebagai itmam alhujjah, sebagai penuntasan hujjah di depan Allah, umat manusia, dan sejarah bahwa beliau benar-benar telah disia-siakan, dianiaya, dan ditelantarkan oleh umat.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Nasikh Attawarikh juz 2 hal.350</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Al-Khasaish Al-Husainiah hal.114</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Bihar Al-Anwar juz 2 hal. 355</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Nasikh Attawarikh juz 2 hal.355</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Sugand Nameh Ali Muhammad hal.227</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Sitaregan-e Dirahsyan hal.164</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/02/kisah-karbala-banjir-darah-hari-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
