<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#124; Syi&#039;ah Indonesia &#124; Syiah Indonesia &#124; Syi&#039;ah &#124; Syiah &#124; Syi&#039;ah 12 Imam &#124; Syi&#039;ah Imamiyah Itsna Asyar &#124; Ahlulbait Indonesia &#124; Ahlulbayt Indonesia &#124; Video Ceramah &#124; Video doa &#124; Audio Ceramah &#124; Audio Do&#039;a &#124; Artikel Islam &#187; Filsafat-Teologi</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/filsafat-teologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 03:24:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.2</generator>
		<item>
		<title>Langkah2 Menuju Agama (5): Goncangan dan Pengaduan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/langkah2-menuju-agama-5-goncangan-dan-pengaduan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/langkah2-menuju-agama-5-goncangan-dan-pengaduan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 14:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Sang bapak meninggalkan putranya dalam keadaan goncang dan beranjak ke kamar tidur dimana sang ibu sedang menanti dalam keadaan risau ihwal hasil pertemuan tersebut. Ia bertanya kepada istrinya dengan senyum tersimpul di wajahnya. Nampaknya kau telah mendengarkan pembicaraan kami, iyakan? Si ibu menjawab: “Iya, namun dapatkah ia menghandel kegoncangan ini?” “Aku pikir demikian,” jawabnya, “sebagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/HowallahSobhanah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-598" title="HowallahSobhanah" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/HowallahSobhanah-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sang bapak meninggalkan putranya dalam keadaan goncang dan beranjak ke kamar tidur dimana sang ibu sedang menanti dalam keadaan risau ihwal hasil pertemuan tersebut. Ia bertanya kepada istrinya dengan senyum tersimpul di wajahnya.</p>
<p>Nampaknya kau telah mendengarkan pembicaraan kami, iyakan?</p>
<p>Si ibu menjawab: “Iya, namun dapatkah ia menghandel kegoncangan ini?”</p>
<p>“Aku pikir demikian,” jawabnya, “sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh saudaranya sebelumnya,” ia melanjutkan.</p>
<p>Si ibu mendesah sembari berdoa: “Tuhanku, bimbinglah, tuntunlah ia untuk mentaatiMu dan jadikan ia berkhidmat kepadaMu.” Lalu ia berkata kepada suaminya, “Aku ingat saudaranya ketika ia mencapai usia baligh. Aku sangat risau hari itu ketika engkau berkata bahwa engkau sedang bermain api yang boleh jadi berujung pada tersesatnya anakmu. Namun engkau memberikan jaminan kepadaku dan menjelaskan keharusan proses tersebut. Dan kini kita dapat melihat output dan hasilnya. Ia adalah salah seorang figur terkemuka di Eropa yang mengajak dan membimbing manusia kepada Tuhan. Kejahilan tidak pernah mendekati atau menodai putra kita dan tidak dapat menyesatkannya dari jalan yang benar.</p>
<p>Si bapak tercenung sejenak dan kemudian berkata:<br />
Jika kita tinggalkan ia dengan gaya tradisional beribadah, salat yang tak berkualitas dan ideologi warisan dari rumah dan komunitas, ia boleh jadi tersesat ketika menghadapi beragam ideologi, trend sosial atau tradisi ketika ia tinggal jauh dari kita.</p>
<p>“Anakku sayang! Bagaimana engkau akan melalui malammu?” keluh sang ibu dan melirik ke arah kamar putranya.</p>
<p>Si bapak memandang penuh arti dan berkata, “Bagaimana Ibrahim melalui malamnya tatkala ia dengan penuh pemikiran mendongak ke atas langit dan menatap ke bumi hingga ia beriman. Hal ini hanyalah ketetapan hati ketika ia mengalihkan pandangannya kepada Pencipta tujuh petala langit dan bumi sebagai seoarang Muslim dan muwahhid (insan yang bertauhid).</p>
<p>Setelah sang bapak menutup pintu kamar putranya, sang belia berdiri tegap dalam keadaan goncang, dan tiba-tiba ia merasa pusing lalu melemparkan dirinya ke atas pembaringan. Kondisi kalut dan pikiran terbentur, secara dawam terlintas dalam benaknya, namun ia tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana menghadapinya. Ia merasa seakan-akan kepalanya ingin meledak, namun ia ingat apa yang senantiasa ibunya lakukan tatkala kesusahan; sang ibu duduk di atas sajadah menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya dan berbisik lirih, “Tuhanku, Aku tidak memiliki siapa pun selainMu tempat mengadu dan meminta pertolongan dan tuntunan, tempatkanlah aku pada jalan yang benar.</p>
<p>Terburu-buru, ia berdiri dan pergi ke sink untuk mengambil wudhu dan bersiap-siap untuk mendirikan salat. Dalam kondisi pikiran kalut, takut dan risau, ia berdoa sembari mengingat ucapan bapaknya:<br />
“Apa yang engkau pelajari tentang agama sebelum masa pubertasmu adalah keliru.”<br />
Ia berpikir dalam salatnya dan hampir saja menyelesaikan salatnya, namun ia tetap melanjutkan usahanya fokus pada apa yang telah dikatakan bapaknya kepadanya. Bapaknya mengajarkan kepadanya untuk berkonsentrasi dalam salatnya dan menaruh perhatian pada makna dari ayat-ayat yang dilantunkan. Ucapan bapaknya memotong pikirannya:</p>
<p>“Siapa Tuhan itu?”</p>
<p>Ia goncang, namun mencoba untuk mengendalikan dirinya hingga ia sampai pada qunut. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan menyampaikan kata-kata berikut ini dengan kuat dan penuh makna: “<br />
“Tuhan..pemimpin orang yang kebingunan, penuntun yang tersesat, Mahakasih,Engkau lebih dekat kepadaku daripada urat nadiku sendiri; selamatkanlah aku dari kebingungan dan tuntunlah aku ke jalan yang benar.”</p>
<p>Sejenak ia berhenti. Pikirannya beradu dan hatinya berdegup kencang. Setelah beberapa saat, ia merasa lebih baik ketika mengingat ayat yang senantiasa ia baca di masjid dan tiba-tiba merasa konfiden:<br />
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Qs. al-Baqarah [2]:186) [www.wisdoms4all.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/langkah2-menuju-agama-5-goncangan-dan-pengaduan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah2 Menuju Agama (4): Kewajiban&#8230;Keraguan&#8230;Siapa Tuhan itu?</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/langkah2-menuju-agama-4-kewajiban-keraguan-siapa-tuhan-itu/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/langkah2-menuju-agama-4-kewajiban-keraguan-siapa-tuhan-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 14:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Keraguan]]></category>
		<category><![CDATA[Kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Si anak sedang menyaksikan televisi tatkala bapaknya datang. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin bapak katakan kepadanya. Keluarga itu baru saja selesai menyantap makan malam mereka bersama dan sang bapak meminta si anak untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdekat untuk membicarakan apa yang diinginkan oleh sang bapak. Si Anak sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/Allah_globe_med.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-592" title="Allah_globe_med" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/Allah_globe_med-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Si anak sedang menyaksikan televisi tatkala bapaknya datang. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin bapak katakan kepadanya. Keluarga itu baru saja selesai menyantap makan malam mereka bersama dan sang bapak meminta si anak untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdekat untuk membicarakan apa yang diinginkan oleh sang bapak. Si Anak sangat penasaran gerangan apa yang ingin dibincangkan oleh bapak. (insial D=Dad panggilan akrab si bapak dan S=Son adalah ungkapan yang terkadang digunakan si bapak ketika memanggil putranya).</p>
<p>D        Apakah engkau tahu mengapa aku ingin menjumpaimu malam ini, anakku?</p>
<p>S        Tidak Dad. Tapi saya kira ada sesuatu yang penting.</p>
<p>D        Aku telah lama memikirkan dan merencanakan pertemuan ini.</p>
<p>S        Sejak kapan, Dad?</p>
<p>B        Semenjak engkau menginjak usia baligh, kurang lebih setahun yang lalu. Aku telah mempersiapkan sebuah program khusus untukmu.</p>
<p>S        Program apakah itu? Dan apa hubungannya dengan masa balighku?</p>
<p>D        Usia baligh atau pubertas merupakan masa transisi antara masa belia dan masa dewasa, canda dan keseriusan, kebebasan yang tak terbatas dan tanggung jawab, sebagaimana engkau tahu sendiri. Dalam panrogram ini, aku akan menggelar serangkaian diskusi denganmu tentang agama, keyakinan, iman, manusia, masyarakat, semesta dan banyak hal yang harus engkau ketahui makna yang sebenarnya dari masalah tersebut dan membangun sebuah opini, gagasan dan sikap yang sesuai dengan kondisi kedewasaan dan maturitasmu.</p>
<p>S        Trims Dad, karena telah menaruh kepercayaan kepadaku.</p>
<p>D        Anakku, yang pertama-tama menaruh kepercayaan ini adalah Tuhan. Dan bila engkau tidak memiliki kapasitas dan kemampuan, Dia tidak akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan membebankan tugas dan kewajiban. Merupakan sebuah kehormatan bahwa manusia sendiri, dari seluruh makhluk di bumi persada ini, dipercayakan dengan berbagai tugas dan kewajiban.</p>
<p>S        Benar Dad, apa yang Daddy katakan membuatku merasa bangga, dan bertambah cintaku kepada Tuhan lantaran Dia menugasiku dengan tanggung jawab. Saya berharap dapat menjadi seorang hamba Tuhan, mencintai dan patuh kepada-Nya.</p>
<p>D        Baguslah. Seorang hamba yang benar mencintai Tuhan dan tunduk patuh kepada-Nya. Cinta dan ketundukan merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Seorang pujangga berkata, “Seorang pecinta tunduk patuh kepada yang dicintai.”</p>
<p>S        Menurut hematku, mereka yang membangkan titah Tuhan melakukan hal ini lantaran mereka tidak memendam cinta kepada Tuhan dalam hatinya.</p>
<p>D        Tepat sekali, bahkan bagi mereka yang lemah imanya tidak merasakan cinta kepada Tuhan sehingga ketika mereka melakukan kewajiban dan tugas agama, mereka melakukan hal tersebut dengan enggan, dan ketika mereka mengerjakan shalat, mereka mengerjakannya dengan malas.</p>
<p>S        Kemarin, aku membaca ayat in dalam al-Qur’an: “JIka engkau mencinta Allah, ikutilah aku; Allah akan mencintamu.”</p>
<p>D        Apa yang engkau pahami dari ayat ini?</p>
<p>S        Saya memahaminya bahwa terdapat sebuah cinta yang berbalas (mutual love) antara Tuhan dan Mukmin.</p>
<p>D        Dan bahwa cinta bermakna ketaatan dan memikul beban derita semata-mata demi yang dicinta.</p>
<p>S        Aku senang doa dan munajat yang dibacakan Ibu kemarin, doa yang bersumber dari kitab as-Shahifah as-Sajjadiyah dan aku sedang mencoba untuk menghapalnya.</p>
<p>D     Munajat yang mana, son?<br />
S        Munajat yang berkata, “….Aku memohon cintamu dan cinta orang yang mencintaiMu; cinta yang membuat seluruh bakti membawaku dekat kepadaMu, lebih aku cintai melebihi yang lain, dan membuat cintaku kepadaMu sebagai penuntun ke firdausMu, dan kegemaranku padaMu sebagai penghalang untuk tidak melanggar titahMu.”</p>
<p>D        Munajat ini juga menitikberartkan dan menyoroti pada hubungan cinta dan ketaatan.</p>
<p>S        Tapi Dad, bagaimana kita menemukan cinta Tuhan dalam hati kita?</p>
<p>D        Mudah saja: dengan mengenal-Nya. Jika engkau benar-benar mengenal-Nya, engkau akan menggapai cinta utama.</p>
<p>S    Jadi, langkah pertama adalah mengenal Tuhan.</p>
<p>D        “Pertama-tama dalam beragama adalah makrifat.” Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Nahjul Balagah.   Mengenal Tuhan merupakan perkara pertama dalam beragama, makrifat dan pengenalan ini disyaratkan dengan cinta kepada-Nya. Hal ini adalah persamaan Matematik, nak.</p>
<p>S        Bagaimana?</p>
<p>D        Dalam Matematika, ada sesuatu yang disebut sebagai substitusi ketika berurusan dengan persamaan.</p>
<p>S    Iya, engkau mengingatkanku tentang hal itu. Ketika kita terapkan, kita berkata, Pengetahuan = Agama. Agama = Cinta; dan dengan substitusi kita menemukan bahwa agama adalah cinta, bukankah demikian, Dad?</p>
<p>D        Dan demikianlah apa yang disabdakan oleh Imam Shadiq As.</p>
<p>S        Apa  yang ia sabdakan?!</p>
<p>D        Ia bersabda, “Adakah agama itu selain cinta!” Nak, cinta merupakan sesuatu yang terindah di dunia ini.</p>
<p>S        Allahu Akbar, Anda berbicara denganku dalam bahasa anak muda, bahasa……,</p>
<p>D        Seorang remaja (ABG)?</p>
<p>S        Baiklah, Dad, aku malu untuk berkata itu.</p>
<p>D        Iya, Aku berbicara denganmu menggunakan bahasa ABG, sebagaimana Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk berbicara dengan manusia sesuai dengan cara berpikir mereka. Tuhan mengutus setiap nabi untuk berbicara kepada manusia dengan bahasa mereka sendiri. Lalu mengapa aku tidak berbicara denganmu sebagai seorang ABG?</p>
<p>S        Tepat Dad, hanya dengan bahasanya seseorang akan dapat mengerti. Kalau  tidak, ia tidak ingin berurusan dengan sesuatu. Salah seorang guru kami telah memberikan sebuah buku agama sebagai hadiah. Aku berjuang keras ketika aku hendak membacanya, dan setelah beberapa saat aku menyerah lantaran bahasanya terdengar seperti bahasa moyang kita yang hidup berabad lampau; oleh karena itu, ia tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan kita hari ini.</p>
<p>D        Hal ini merupakan alasan mengapa sebagian anak muda lari dari agama karena mereka mendapatkan adanya representasi bahasa agama yang mereka mengerti. Masa sekarang adalah masa computer dan internet, dan tidak mungkin menyuguhkan Islam melalui kitab-kitab klasik yang telah ditulis beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>S        Alangkah indahnya Anda berbicara, Pak! Aku rasa aku mencintaimu lebih dari sebelumnya dan mencinta Tuhan dan bersyukur kepada-Nya karena telah menganugerahkan kepadaku seorang ayah yang luarbiasa.</p>
<p>D        Dan aku kini lebih mencintai Tuhan karena telah menganugerahkan putra sepertimu.</p>
<p>S        Alhamduillah!</p>
<p>D        Puji Tuhan!</p>
<p>S        Kita telah keluar dari tema utama kita, Dad.</p>
<p>D        Sebaliknya, kita telah sampai kepada inti permasalahan… Cintaku kepadamu dan cintaku kepada Tuhan menuntunku untuk berbicara kepada ihwal agama, kehidupan, Tuhan, umat manusia, dunia dan hari kiamat….Aku ingin engkau mempunyai pandangan komprehensif dari seluruh pemikiran yang berkenaan dengan agama setelah engkau mencapai usia baligh.</p>
<p>S        Tapi Dad, Anda telah berdiskusi denganku hampir seluruh isu-isu agama kita, telah menjelaskan pelbagai problem ideologis, telah menerangkan prinsip-prinsip dan komponen agama dan telah menunjukkan kepada kami jalan petunjuk. Apakah Anda melihat ada kekurangan dalam imanku, atau cela dalam perilakuku?</p>
<p>D        Hal ini tidak ada hubunganya dengan kekurangan dalam iman atau cela, nak. Hal ini merupakan sesuatu yang lain, sangat berbeda dan amat berbahaya. Oleh karena itu, aku ingin engkau bersiap-siap dan mengetahui beberapa isu tanpa harus terkejut.</p>
<p>S        OK, Pak! Apakah hal penting dan berbahaya sehingga harus kuketahui setelah mencapai usia baligh?</p>
<p>D        Aku ingin katakan kepadamu bahwa apa yang engkau telah pelajari dari belajar ihwal agama adalah keliru.</p>
<p>S        I Beg Your Pardon?!  Dad! Apa yang Anda katakan?!</p>
<p>D        Sebagaimana yang telah aku katakan, seluruh yang engkau dengar dariku ihwal agama adalah salah (sama sekali).</p>
<p>S        Dad! Apa yang Anda katakan?! Apa yang Anda maksudkan? Aspek agama yang mana yang salah? Aspek ideologi? Akhlak? Tolong Dad, katakanlah yang benar kepadaku.</p>
<p>D        Aku maksud dasar-dasar agama, ideologi: iman kepada Tuhan, ma’ad (hari kiamat), Nabi dan para rasul dan apa yang telah engkau pelajari adalah salah dan keliru.</p>
<p>S        Astaga. Dad, ada apa denganmu? Maaf Dad karena agak lancang. Bagaimana iman kepada Tuhan, hari kiamat dan para nabi adalah sesuatu yang salah? Aku tidak dapat mempercayai dari apa yang aku dengar.</p>
<p>D        Aku akan menjawab pertanyaan ini besok.</p>
<p>S        Dad! Tolong berterus teranglah dengan apa yang Anda inginkan, karena Anda telah membuatku was-was. Bagaimana Anda dapat meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini? Lalu bagaimana aku menunaikan salat, sementara aku dalam keadaan was-was dan ragu-ragu.</p>
<p>D        Siapa yang menyuruhmu salat?</p>
<p>S        Bukankah Anda yang menyuruhku untuk salat dan mengerjakannya dengan sabar?</p>
<p>D        Kalau begitu salatmu tidak diterima sama sekali.</p>
<p>S        Tidak diterima? Apa maksudnya? Kalau begitu, haruskah aku meninggalkan salat?</p>
<p>D        It is up to you, apakah engkau ingin mengerjakan salat atau tidak.</p>
<p>S        Aneh. Aku bisa jadi gila. Bagaimana bapakku menyuruhku untuk meninggalkan salat? Bagaimana? Bapakku yang mengajarkanku salat, kini menyuruhku untuk meninggalkannya!</p>
<p>D        Aku tidak memintamu utuk meninggalkan salat. Aku berkata bahwa engkau bisa meninggalkannya atau melanjutkannya, sebagaimana yang engkau sukai.</p>
<p>S        Ajib. Tidakkah Anda berkata bahwa salat merupakan tiang agama dan hal pertama yang akan ditanyakan kepadaku kelak di hari kiamat?  Dan Allah berfirman: “Dirikanlah salat secara tetap untuk bersyukur kepadaku.”</p>
<p>D        Aku berkata bahwa apa yang telah engkau dengar dariku selama ini sebelum usia balighmu adalah salah.</p>
<p>S        Dad, haram hukumnya berkata demikian!</p>
<p>D        Apa artinya haram itu??</p>
<p>S        Haram artinya bahwa Tuhan tidak mengizinkan hal tersebut.</p>
<p>D        Tuhan? Siapa Tuhan itu?</p>
<p>S        Ya Tuhan..ini kegilaan!</p>
<p>D        Jangan lekas marah. Aku bertanya kepadamu sebuah pertanyaan; berikan jawaban atau katakan “Aku tidak tahu.”</p>
<p>S        Tapi Anda bertanya “Siapa Tuhan itu?”</p>
<p>D        Ada yang salah dengan pertanyaan itu?</p>
<p>S        Dad, please! What is going on? Apakah engkau benar-benar dirimu, bapakku, apakah Anda tahu apa yang Anda katakan? Saya tidak dapat mempercayai hal ini.</p>
<p>D        Iya, Aku bapakmu yang mengatakan hal ini. Jika aku tidak melakukan hal ini, maka aku bukan bapakmu.</p>
<p>S        Oh..My God! Apa yang telah terjadi?</p>
<p>D        Kita akan lanjutkan diskusi ini besok. Sekarang pergilah tidur. Selamat malam! [www.wisdoms4all.com]</p>
<p>(dedicated to those who has just reached puberty (15th) , congratulation!)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/langkah2-menuju-agama-4-kewajiban-keraguan-siapa-tuhan-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah2 Menuju Agama (3): Dalam Kembara Kalam</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/dalam-kembara-kalam/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/dalam-kembara-kalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 07:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Kembara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[PERSIAPAN SEBELUM PERJALANAN Teritori Kalam terhampar luas di hadapanku. Aku hendak memulai perjalanan dan pengembaraan pada teritori ini, dengan menunggangi kendaraan rasionalitas. Dan engkau di sini, dengan ajakanku, menemaniku pada pengembaraan dan perjalanan ini. Supaya tidak membuatmu lelah dan letih pengembaraan dan pelancongan khusus ini akan berlangsung cepat. Kelak suatu ketika engkau akan menjadi pelancong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/pengembara.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-573" title="pengembara" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/pengembara-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>PERSIAPAN SEBELUM PERJALANAN</strong></p>
<p>Teritori Kalam terhampar luas di hadapanku. Aku hendak memulai perjalanan dan pengembaraan pada teritori ini, dengan menunggangi kendaraan rasionalitas. Dan engkau di sini, dengan ajakanku, menemaniku pada pengembaraan dan perjalanan ini. Supaya tidak membuatmu lelah dan letih pengembaraan dan pelancongan khusus ini akan berlangsung cepat. Kelak suatu ketika engkau akan menjadi pelancong musiman, sehingga kemudian engkau dapat menikmati pelancongan dan pengembaraan jauh.</p>
<p>Kita mulai pelancongan dan pengembaraan ini tanpa adanya prakonsepsi atau prajudis, tapi dengan pikiran terbuka, dengan akal kita sebagai pemandunya.</p>
<p>Dalam memilih pemandu, kita memandang akal kita mampu membedakan dua atau beberapa pilihan, untuk memutuskan yang mana yang benar.</p>
<p><strong>TINGKATAN PERTAMA</strong></p>
<p>Kita memulai pengembaraan ini dengan observasi sederhana. Kita melihat dunia sekeliling kita dan memikirkan sebuah pertanyaan klasik: Bagaimana seluruh hal ini dapat terwujud dan dari mana datangnya? Kita mencari di sana-sini jawaban atas pertanyaan klasik ini. Kita menemukan tidak hanya satu jawaban, tapi banyak jawaban yang tersedia. Kita berikan pilihan untuk memilih bagi akal kita yang mana yang benar di antara jawaban-jawaban tersebut.  Dalam penjelajahan kita, kita menemui sebuah buku yang menghadirkan mata rantai penalaran, yang membimbing kita pada sebuah jawaban atas pertanyaan kita.</p>
<p>Buku tersebut berkata:</p>
<p>Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab.</p>
<p>Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena.</p>
<p>Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat  dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident).</p>
<p>Dasar seluruh investigasi ilmiah menegaskan bahwa tidak akan ada sebab tanpa adanya akibat. Redaksi &#8220;sebab&#8221; merupakan sebuah terma yang berarti sesuatu yang bertanggung jawab bagi wujud dan eksisnya sebuah wujud dan eksisten: dan sebab ini terdiri dari dua bagian, sebab struktural  dan sebab kreatif.</p>
<p>Struktur sebab-sebab merupakan bagian dan komponen akibat-akibat.</p>
<p>Sebab kreatif atau sebab agensial merupakan sebab yang memproduksi dan melahirkan faktor-faktor, yang membawa struktur menjadi ada akan tetapi ia bukan bagian dari struktur.</p>
<p>Sebab struktural terdiri dari dua jenis sebab, material dan form. Sebab material merupakan sesuatu yang terbuat dari luar struktur. Sebab forma merupakan bentuk atau form struktur itu sendiri.</p>
<p>Sebab pengada bermakna bahwa faktor yang memproduksi bagian-bagian dan pengaruh-pengaruh terhadap susunannya. Sebab ini terdiri dari dua model, genetik dan objektif, yang pertama disebut sebagai sebab pertama dan sebab aktif dan yang belakangan disebut sebagai sebab tujuan atau sebab final.</p>
<p>Segala sesuatu atau wujud yang terkomposisi dengan alam merupakan sebuah akibat, artinya eksistensinya tidak berasal dan bersumber darinya, dan sebagaimana bergantung kepada salah satu, setidaknya, bagian dan wujudnya adalah disebabkan oleh mereka. Bagian-bagian sebuah wujud atau wujud-wujud ia tidak dapat berasal dari ketiadaan.</p>
<p>Pertanyaan, kemudian, mengemuka di sini ihwal apakah bagian-bagian tersebut ada dengan sendirinya atau mereka adalah rangkapan, bergantung kepada bagian-bagiannya? Apabila mereka merupakan bagian-bagian rangkapan maka kita harus menelusuri ke belakang proses hingga kita mencapai komponen-komponen terakhir yang akan menuntun kepada kesimpulan bahwa mereka merupakan wujud non-rangkapan ada dengan sendirinya dimana seluruh bangunan besar akibat-akibat dan sebab-sebabnya bertengger.</p>
<p>Akan tetapi, tidak ada wujud dari sebuah tabiat yang memiliki dimensi dapat dihadirkan pada skop ruang dan waktu, dan dapat menjadi sebuah tabiat non-rangkapan sebagai wujud paling sederhana dan paling mikro yang mendiami ruang adalah bersifat dimensional dan dapat dibagi secara geomteris dan berantung kepada bagian-bagiannya.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak ada wujud dimensional yang dapat dipandang sebagai sebuah wujud yang eksis dengan sendirinya (self-existing) dan maka dipandang sebuah Sebab Pertama dan Pemula dalam mata rantai keawalan. Kita harus menerima baik bahwa rantai tersebut bersandar kepada ketiadaan, yang mana hal ini merupakan hal yang absurd atau kita terpaksa keluar dari domain mata rantai material dalam mencari wujud non-rangkapan, non-dimensional dan &#8220;Ada&#8221; dengan sendirinya (self-existing &#8216;Being&#8217;) dan menegaskan bahwa mata rantai sebab dan akibat-akibat berdasarkan kepada Wujud.</p>
<p>Hal ini bermakna bahwa seluruh domain dimensional dapat dihadirkan dalam pentas ruang dan waktu dan waktu merupakan sebuah akibat dan fenomena sebuah Wujud non-dimensional dan non material. Bertolak dari sini, kita harus meninggalkan domain dimensional dan berproses mencari Wujud yang Ada dengan sendirinya (self-existing Being) yang bertanggung jawab atas fenomena mata rantai sebab dan akibat dalam sebuah domain dimana logika dan metode tidak memiliki pendekatan kepadanya sama sekali.</p>
<p>Dengan demikian, Wujud Swa-Ada (Self-Existing Being) haruslah bersifat nirbatas, tidak terangkum dalam pentas ruang dan waktu. Ia harus di luar (beyond) seluruh batasan dimensional dan non-dimensional, dan sebagainya, dan wujud tersebut tidak dapat kecuali ia Esa; lantaran konsep dua wujud swa ada melambangkan adanya batasan-batasan dari keduanya.</p>
<p>Konklusi yang dapat dicapai di sini adalah bahwa Wujud Swa-Ada itu Satu, Unit yang real, yang tidak dapat dibagi sama sekali, dalam artian waktu, dan dalam pandangan bentuk dan setiap aspek imaginable (yang dapat dibayangkan).</p>
<p>Dengan demikian, wujud itu adalah Real Unik, wujud yang serupa dengannya dalam artian apa pun adalah mustahil.</p>
<p>Unit Unik ini yang dengannya wujud-wujud terbatas terbagi dan sebagai sebuah keseluruhan adalah eksis, adalah tidak alpa dan lalai dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia sadar atas dirinya sendiri.</p>
<p>Akal kita mengikuti penalaran yang diberikan dalam buku itu dan tidak ditemukan setitik kesalahan pun di dalamnya. Kita memiliki jawaban atas pertanyaan pertama yang kita ajukan, dan jawaban ini juga membuktikan untuk dapat dijadikan kendaaraan yang membawa kita untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa.</p>
<p>Kita sampai pada kesimpulan bahwa terdapat, sebuah waktu yang nirbatas, Mahakuasa, Entitas Serba Meliputi, Yang Menciptakan segalanya dan kita menyebut-Nya sebagai Tuhan atau Allah.</p>
<p><strong>Kembara Perdana:</strong></p>
<p>Alkisah, seseorang bertanya kepada seorang yang paling bijak bestari dari suatu masa untuk memandu dan membimbingnya kepada Tuhan, ia berkata bahwa ia selama ia kebingungan oleh kalimat polemis yang menyesakkan batinnya.</p>
<p>Sang bijak bestari bertanya: &#8220;Apakah engkau pernah menaiki bahtera mengarungi samudera?&#8221;</p>
<p>Ia menjawab: &#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>Sang bijak bestari berkata: &#8220;Apakah bila bagian badan bahtera itu mengalami kebocoran dan tidak ada seorang pun di tempat itu yang dapat menyelamatkanmu dari karam dalam amukan gelombang ombak samudera?</p>
<p>&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pada saat-saat yang genting tersebut dan asamu putus dari segalanya,  apakah engkau memiliki perasaan bahwa sebuah kekuataan tak terbatas dan mahakuasa yang dapat menyelamatkanmu dari nasib yang mengenaskan itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, begitulah kira-kira.&#8221;</p>
<p>Sang bijak bestari berkata kemudian: &#8220;Dialah Tuhan Yang menjadi sumber andalan dan kepada-Nya setiap insan melabuhkan harapan ketika seluruh pintu-pintu asa tertutup.&#8221;</p>
<p><strong>Kembara Kedua:</strong></p>
<p>Seorang materialis berkebangsaan Mesir bertolak ke Mekkah untuk melakukan perdebatan, dan di tempat itu ia berpapasan dengan seorang bijak bestari yang kita jumpai pada pengembaraan kita sebelumnya dan yang akan kita jumpai kembali pada perjalanan dan pengembaraan berikutnya. (Nama sang bijak bestari dan sumber-sumber bahan-bahan perjalanan ini akan kita ketahui setelah kita sampai pada tingkatan keempat dari perjalanan kita ini, selamat jalan)</p>
<p>Ketika diskusi telah dimulai, sang bijak bestari berkata: &#8220;Apakah Anda menerima bahwa bumi ini memiliki atas dan bawah?&#8221;</p>
<p>Orang Mesir itu berkata: &#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>Lantas bagaimana Anda tahu apa yang ada di bawah bumi?&#8221;</p>
<p>Orang Mesir itu berkata: &#8221; Aku tidak tahu, tapi aku kira tidak ada sesuatu di bawah bumi ini.&#8221;</p>
<p>Sang bijak bestari berkata: &#8220;Berkhayal merupakan simbol ketidakmampuan ketika Anda tidak mendapatkan kepastian. Kini katakan kepadaku, Apakah Anda pernah naik ke atas langit?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. &#8221; Jawab orang Mesir itu pendek.</p>
<p>&#8220;Alangkah anehnya Anda belum pernah ke Timur dan Barat, Anda belum pernah menuruni bawah bumi dan naik ke angkasa, atau melintasinya untuk mengetahui apa saja yang tersimpan dan tertimbun di baliknya akan tetapi Anda mengingkari apa yang ada di situ. Akankah seorang bijak mengingkari realitas yang sebenarnya ia tidak ketahui? Dan Anda mengingkari eksistensi Sang Pencipta lantaran Anda tidak melihat-Nya dengan mata kepala Anda?</p>
<p>Orang Mesir itu berkata: &#8220;Tidak ada seorang pun yang pernah berkata hal ini kepadaku. &#8221;</p>
<p>Sang bijak bestari berkata: &#8220;Jadi, sesungguhnya Anda memiliki keraguan ihwal keberadaan Tuhan; Anda pikir bahwa Dia itu boleh jadi ada atau boleh jadi tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Barangkali demikian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Duhai kisanak, orang yang tidak tahu adalah kosong dan hampa dari segala bukti; orang jahil tidak akan pernah memiliki bukti. Sadarlah bahwa kita tidak pernah memiliki keraguan atau syak akan keberadaan Tuhan. Tidakkah engkau perhatikan matahari dan bulan, siang dan malam yang secara reguler berputar dan mengikuti alurnya yang tetap? Jika mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan atas diri mereka sendiri, biarkanlah mereka keluar dari jalurnya dan tidak kembali. Mengapa mereka secara konstan kembali? Jika mereka bebas dan merdeka dalam rotasi dan perputarannya, mengapa siang tidak menjadi malam dan malam menjadi siang? Aku bersumpah demi Tuhan mereka tidak memiliki pilihan dalam gerakan-gerakan mereka; Dialah yang menyebabkan fenomena ini mengikuti sebuah jalur yang tetap? Dialah yang memerintahkan mereka; dan kepada-Nyalah kembali segala kebesaran dan keagungan.</p>
<p>Orang Mesir itu berkata: &#8220;Anda berkata benar.&#8221;</p>
<p>Sang bijak bestari itu melanjutkan: &#8220;Jika engkau bayangkan bahwa semestalah yang melahirkan manusia, lalu mengapa semesta tidak menariknya? Jika ia menariknya, mengapa ia tidak menghadirkannya? Ketahuilah bahwa tujuh petala langit dan bumi adalah tunduk di bawah kehendak-Nya. Mengapa tujuh petala langit itu tidak jatuh menimpa bumi?  Mengapa lapisan-lapisan bumi tidak terguling dan mengapa mereka tidak berjejal bertumpuk hingga mencapai langit? Mengapa mereka yang menghuni bumi tidak setia kepada satu dengan yang lain? &#8221;</p>
<p>Akhirnya, orang Mesir itu tunduk dan menerima kebenaran, &#8220;Tuhan Dialah Penguasa dan Junjungan tujuh petala langit dan bumi yang melindungi mereka dari kejatuhan dan kerusakan.&#8221;</p>
<p><strong>Kembara Ketiga:</strong></p>
<p>Seorang yang bernama Mufaddhal, yang merupakan salah seorang pengikut sang bijak bestari ini, pernah bertanya: &#8220;Tuanku, beberapa orang berkhayal bahwa keteraturan dan keakuratan dalam sistem semesta yang kita lihat ini merupakan sistem dan mekanisme kerja alam.&#8221;</p>
<p>Sang bijak bestari berkata: &#8220;Tanyakan pada mereka apakah semesta melalukan semua ini dengan segala akurasi yang terhitung berdasarkan ilmu pengetahuan, pemikiran dan kekuasaan dirinya sendiri. Jika mereka berkata bahwa semesta memiliki pengetahuan dan kekuasaan, apa yang menghalangi mereka untuk menegaskan dan membuktikan dzat azali Ilahi dan mengakui keberadaan prinsip yang lebih suprim? Jika, pada sisi lainnya, mereka berkata bahwa semesta mengerjakan tugasnya secara regural dan dengan benar tanpa pengetahuan dan kehendak, maka mekanisme bijak dan akurat ini, hukum-hukum yang serba terhitung dan terkalkulasi merupakan buah cipta, karya dan kerja dari seorang pencipta yang Serba mengetahui dan Mahabijaksana. Apa yang mereka sebut sebagai semesta, sebuah hukum dan kebiasaan yang ditunjuk oleh tangan kekuasan Ilahi untuk mengatur penciptaan.&#8221;</p>
<p><strong>TINGKATAN KEDUA</strong></p>
<p>Pada tingkatan kedua dari perjalanan dan pengembaraan ini, kita berada di persimpangan jalan dan menjumpai dua jalan bercabang.</p>
<p>Satu jalan memandang bahwa keadilan bukan merupakan sifat Tuhan. Tuhan tidak perlu berlaku adil. Asumsi ini tentu saja akan menuntun orang pada chaos, lantaran membuat seluruh kehidupan, termasuk perjalanan yang kita tempuh kali ini sepenuhnya tanpa makna.</p>
<p>Akal kita (dengan kekuatannya untuk membedakan baik dan buruk) memutuskan bahwa ketidakadilan adalah sebuah perbuatan keliru. Dengan kata lain, asumsi ini melambangkan dan menyiratkan ketidaksempurnaan pada Tuhan. Tentu saja akal kita tidak dapat menerima hal ini.</p>
<p>Jalan lain menyatakan adalah bahwa Tuhan senantiasa berlaku dan berbuat adil.</p>
<p>Akal kita menerima dan menempuh jalan ini kemudian, dan menuntun kita untuk mengayunkan langkah ke depan.</p>
<p><strong>TINGKATAN KETIGA</strong></p>
<p>Ketika Keadilan Tuhan diterima sebagai sebuah kenyataan, berikut ini terdapat beberapa konklusi-konklusi logis sebagai berikut:</p>
<p>Penciptaan bukan sebuah fenomena tanpa tujuan;</p>
<p>Ketika penciptaan memiliki tujuan, makhluk-makhluk haruslah dibimbing secara proporsional kepada tujuan tersebut.</p>
<p>Kita jumpai bahwa kita telah sadar bahwa seorang pemandu telah disiapkan pada tujuan kilat ini. Dialah akal kita, yang mampu menuntun kita sejauh ini dalam perjalanan rasional kita ini. Ialah penuntun dan pemandu internal kita.</p>
<p>Adalah akal yang menuntun kita kepada fakta dan realitas bahwa ia sendiri tidak memadai untuk menuntun kita. Akal dapat menyesatkan kita. Terdapat hajat dan kebutuhan terhadap penuntun eksternal yang terang. Dan Tuhan adalah Hakim, hendaknya mengirim panduan ini kepada kita dalam bentuk yang kita dapat pahami dan ikuti.</p>
<p>Hajat dan kebutuhan terhadap panduan dan bimbingan tersebut terus berlanjut. Ia harus tersedia setiap saat.</p>
<p>Kajian sejarah menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang di masa lalu yang menyebutkan bahwa mereka diutus oleh Tuhan untuk memandu dan membimbing manusia. Bimbingan dan panduan ini, selama masa hidup mereka, menunjukkan jalan yang benar kepada umat manusia. Beberapa orang dari mereka meninggalkan naskah-naskah, sehingga umat manusia dapat mengikuti naskah-naskah suci ini setelah para pemandu dan pembimbingnya beranjak dari arena kehidupan ini.</p>
<p>Dituntut juga bahwa pemandu tersebut harus diutus berulang-ulang, setelah seorang pemandu datang dan pergi, terkadang orang-orang lantaran alasan-alasan egois, memanipulasi ajaran-ajaran dan naskah-naskah dan bahkan medistorsinya demi kepentingan personal mereka.</p>
<p>Atas alasan ini, diperlukan untuk mengirim pemandu dan pembimbing secara berulang, memperbaharui naskah-naskah dan maklulmat-maklumat, pada setiap dekade atau abad.</p>
<p>Pada tingkatan ini, kita memiliki tugas untuk mengavaluasi kebenaran, stetement-stetment orang-orang tersebut dalam sejarah, yang menyebutkan dan mengklaim diri mereka sebagai utusan Tuhan.</p>
<p>Untuk setiap bentuk evaluasi, kita memerlukan standar dan kriteria. Sekali lagi, akal kita datang untuk menolong dan menunjukkan beberapa standar dan kriteria kepada kita.</p>
<p>1. Karena orang-orang ini berasal dari sisi Tuhan, mereka harus terbebas dari kesalahan dan perbuatan keliru. Setiap orang yang melakukan setiap kesalahan pada setiap waktu hidupnya tidak akan terbimbing secara benar. Lantaran bagaimana orang yang melakukan kesalahan, mendesak dan menuntut orang lain untuk tidak melakukan kesalahan? Juga, jika seseorang tidak terbebas dari kesalahan, lalu siapa yang akan berkata bahwa bagian mana ajarannya yang benar dan yang salah? Pada sisi lain, mereka haruslah menjadi pemimpin bagi umat manusia dalam kualitas-kualitas dan nilai-nilai.</p>
<p>2. Mereka haruslah tidak pernah mendapatkan pelajaran dari orang lain di dunia ini. Dan lagi mereka haruslah menjadi orang yang paling cendikia di antara seluruh manusia pada masanya. Pengetahuan mereka haruslah nihil dan hampa dari kesalahan dan kekeliruan. Dan yang lain, argumen yang disebutkan di atas, dapat juga diterapkan pada masalah berikut ini: Jika pengetahuan mereka rawan kesalahan, siapa yang dapat berkata bahwa bagian mana dari perintah-perintah dan titah-titah mereka yang benar dan yang keliru dan menyesatkan?</p>
<p>Hal ini akan menyisakan panduan dan bimbingan tanpa integritas, dan oleh karena itu, tiada gunanya. Lantaran pemandu dan pembimbing berasal dari Tuhan, pendidikan dan pengetahuan mereka haruslah berasal dari Sang Pencipta dan bukan berasal sesuatu yang lain dalam penciptaan, karena hanya pengetahuan dari Tuhanlah yang nihil dan kosong dari kesalahan.</p>
<p>3. Ketika diminta, mereka harus mampu menunjukkan kekuatan-kekuatan supranatural (baca: mukjizat) sebagai tanda-tanda dari Tuhan akan kebenaran mereka.</p>
<p>4. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai mereka haruslah tidak berubah dari waktu ke waktu, karena perubahan yang terjadi pada prinsip dan nilai-nilai yang mereka anut menyiratkan ketidaksempurnaan pada satu tingkatan atau pada tingkatan yang lain.</p>
<p>Hal yang lain, indikator-indikator kebenaran seorang utusan Tuhan- mengutus seorang pembimbing, akan tetapi kriteria di atas harus memadai bagi kita untuk mengevaluasi kebenaran yang menyatakan bahwa ia adalah seorang pembimbing yang diutus oleh Tuhan.</p>
<p>Dibekali dengan kriteria di atas, kita selidiki seluruh jalan-jalan sejarah. Kita jumpai beberapa nama yang tidak ragu lagi adalah pembimbing-pembimbing yang merupakan utusan Tuhan. Orang-orang tersebut disebut sebagai para rasul atau nabi-nabi Tuhan. Beberapa nama yang kita jumpai adalah: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa (Semoga Tuhan merahmati mereka seluruhnya)</p>
<p>Kini kita jumpai bahwa beberapa orang berhenti pada nama Musa dan tidak melangkah lebih jauh darinya. Orang-orang yang dalam perjalanan ini melanggeng jauh hingga mencapai nama Isa. Beberapa orang kemudian berhenti di sini dan menolak untuk melangkah lebih jauh.</p>
<p>Kendati demikian, melihat tidak satu pun dari mereka (seperti Musa, Isa dan orang-orang mulia lainnya) yang menyatakan bahwa mereka merupakan utusan terakhir dari Tuhan, beberapa orang dari kita masih mencari dan mengkaji serta mengevaluasi criteria kita, hingga kita sampai pada sebuah nama: Muhammad.</p>
<p>Mari kita amati Nabi Muhamamad Saw berkenaan dengan empat kriteria yang disebutkan di atas:</p>
<p>1. Infallibilitas, bahkan sebelum mendeklarasikan kenabiannya, Muhammad telah digelari sebagai &#8220;Shadiq&#8221; (Orang yang benar) dan &#8220;Amin&#8221; (Orang yang dapat dipercaya), oleh kaum politeis dan musyrik Mekkah. Bahkan setelah orang-orang politeis ini menjadi musuh-musuhnya (setelah deklarasi kenabiannya), tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa di antara kaum musyrik tersebut dapat mencari cela dan cacat pada diri Muhammad Saw.</p>
<p>2. Muhammad Saw, memiliki sebuah kitab yang diwahyukan, Kitab Suci al-Qur&#8217;an. Kitab suci ini merupakan salah satu tanda-tanda terkuat dari kebenaran Muhammad Saw. Ihwal buku ini, seorang ilmuan dewasa ini, Dr Maurice Bucaille dari French Academy of Medicine, menyatakan pandangannya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Objektifitas in toto, dalam pandangan ilmu pengetahuan modern, menuntun kita untuk mengenali kesepakatan antara dua, sebagaimana telah disampaikan pada berbagai kesempatan.  Hal ini membuat kita memandangnya tidak dapat dipikirkan bagi orang-orang pada masa Muhammad  untuk menjadi pengarang atas stetment-stetment semacam itu, mengingat kondisi ilmu pengetahuan hari ini. Pertimbangan-pertimbangan semacam ini adalah bagian dari apa yang menjadikan wahyu Qur&#8217;ani menduduki tempat yang unik dan memaksa ilmuan yang jujur dan netral untuk mengakui ketidakmampuannya untuk menyediakan sebuah penjelasan yang semata-mata bersandar pada penaralan materialistik.</p>
<p>Ia juga mengatakan: &#8220;Sedikit pun perubahan dan distorsi yang terjadi pada al-Qur&#8217;an pasti akan merusak pertalian dan hubungan luar biasa yang menjadi karakterisik al-Qur&#8217;an. Qur&#8217;an merupakan sebuah khutbah yang diperkenalkan kepada manusia melalui pewahyuan yang berlangsung selama dua puluh dua tahun. Pewahyuan ini berlangsung selama dua periode yang sebanding dengan masing-masing sisi gua Hira.&#8221;[1]</p>
<p>Sebagaimana jelas pada sentimen yang diekspresikan Dr Bucaille, hanya Qur&#8217;an merupakan bukti yang banyak atas kriteria kedua, ketiga, dan keempat bagi seorang nabi yang benar, sebagaimana yang disebutkan di atas.</p>
<p>Kini kita perhatikan bahwa Muhammad Saw, memenuhi seluruh kriteria  bagi seorang pembimbing benar dari Tuhan, juga dikatakan bahwa ia merupakan seorang Nabi Allah yang terakhir, dan tidak ada nabi dan rasul lagi yang diutus selepasnya. Orang-orang yang telah mencapai sejauh ini dalam pencarian mereka mencari nabi-nabi Allah, adalah disebut sebagai Muslimin dan jalan yang mereka ikuti disebut sebagai Islam.</p>
<p>Pada poin ini kita hentikan pencarian kita dan menerima Islam sebagai jalan kita. Kita meyakini kebenaran Muhammad Saw, dan Kitab Suci Al-Quran.</p>
<p>Hingga kini, kita telah melakukan perjalanan dengan menggunakan pertolongan akal semata. Pada penghujung tingkatan ini, kini kita harus memiliki dua kendaraan lagi untuk membawa kita melanjutkan perjalanan ini. Kedua kendaraan ini adalah: Ayat-ayat Qur&#8217;an dan sunnah otentik Nabi Saw.</p>
<p>Dan tingkatan ketiga dari perjalanan kita ini berakhir.</p>
<p><strong>Ekskursi:</strong></p>
<p>Sekelompok ulama Kristen dari Najran datang kepada Nabi Saw dan terlibat perdebatan dengannya ihwal keyakinan Kristen melawan keyakinan Islam.</p>
<p>Sebagaimana Kristen meyakini bahwa Yesus Kristus merupakan putra Tuhan memandang bahwa ia lahir tanpat seorang ayah, Kitab Suci Al-Qur&#8217;an pertama kali menolak penalaran mereka dengan logika, &#8220;Sesungguhnya misal (penciptaan) &#8216;Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, &#8220;Jadilah&#8221; (seorang manusia) maka jadilah ia.&#8221; (Qs. Ali Imran [3]: 59)</p>
<p>Ketika ulama Kristen menolak menerima nalar, Tuhan memerintahkan Nabi Saw sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Dan siapa  yang membantahmu tentang kisah &#8216;Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): &#8220;Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.&#8221; (Qs. Ali Imran [3]; 61) (Ayat ini juga kerap disebut sebagai ayat Mubâhalah)</p>
<p>Nabi Saw menyampaikan titah Tuhan kepada para pendeta Kristen itu. Telah disepakati bahwa esok harinya akan menjadi hari yang menentukan.</p>
<p>Esok harinya, Nabi Saw, menjalankan titah Tuhan, membawa cucundanya Hasan As dan Husain As, putri kinasihnya Fatimah As dan saudara sepupu sekaligus menantunya (Ali As) untuk menghadapi para pendeta Kristen itu.</p>
<p>Abu Haris bin Alqama, salah seorang pemimpin kelompok Kristen, menyaksikan prosesi Nabi Saw dan menyampaikah hal tersebut kepada kawan-kawannya.</p>
<p>&#8220;Aku melihat wajah-wajah yang apabila mereka berdoa kepada Tuhan untuk memindahkan gunung, maka Tuhan niscaya mengabulkan doa-doa mereka. Janganlah kalian melawan mereka atau kalian akan binasa.&#8221;</p>
<p>Kemudian, kelompok Kristen itu menerima kekalahan mereka dan menyetujui untuk menyerahkan jizyah (semacam pajak) kepada Nabi Saw.</p>
<p>Peristiwa ini dinukil secara mendetail dalam beberapa kitab-kitab Islam termasuk, &#8220;Shahih Muslim&#8221;, &#8220;Madârij an-Nubuwwah&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p><strong>TINGKATAN KEEMPAT</strong></p>
<p>Sebagaimana yang telah kita temukan pada awal-awal tingkatan ketiga ini, terdapat sebuah kebutuhan bagi kemestian tersedianya bimbingan secara berkelanjutan, kalau tidak masyarakat boleh jadi merubah ajaran-ajaran pemandu mereka untuk kepentingan dan kemaslahatan pribadi mereka masing-masing.</p>
<p>Tapi Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi Pamungkas yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing manusia kepada-Nya. Hal ini bermakna bahwa risalah yang ia bawa harus tetap terjaga dari segala bentuk manipulasi dan distorsi setelah ia wafat. Hal dapat dilakukan apabila suksesor Muhammad Saw tetap ada, orang yang dipercaya untuk menunaikan tugas menjaga risalah. Dan akal mendikte bahwa para suksesor ini juga harus terbebas dan terjaga dari dosa dan perbuatan salah, sebagaimana Nabi Saw sendiri.</p>
<p>Kemudian, apakah Muhammad Saw, dalam masa hidupnya menunjuk pengganti dan penjaga risalah selepasnya? Pada poin ini, terdapat dua jalan lagi yang membentang di depan kita.</p>
<p>Pengembara atau pengelana salah satu jalan tersebut mengatakan bahwa tentu saja, Nabi Saw menunjuk seseorang sebagai khalifahnya dan tidak masuk akal untuk mengasumsikan sebaliknya, yaitu mengatakan bahwa Nabi Saw tidak menunjuk seseorang untuk menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Kalau tidak, bagaimana mungkin Nabi Saw menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab meninggalkan agama tanpa seorang penjaga selepasnya? Orang-orang yang memilih dan menempuh jalan ini disebut sebagai &#8220;Syiah.&#8221;</p>
<p>Pengelana yang menempuh jalan yang satunya disebut sebagai &#8220;Sunni.&#8221; Mereka berkata bahwa Nabi secara khusus tidak menunjuk seseorang menjadi pengganti dan khalifahnya. Namun, penjejalahan dan pengembaraan kita mengindikasikan bahwa pengingkaran terhadap adanya penunjukkan merupakan perbuatan keliru dan tidak logis, sebagaimana telah dibuktikan dari Ahlul Kitab yang mengingkari kenyataan ini.</p>
<p>Penjelajahan kita lakukan menyingkap kenyataan-kenyataan berikut ini:</p>
<p>Nabi Saw menyebutkan bahwa jumlah khalifahnya adalah dua belas orang. Hadits ini dinukil dari berbagai sumber dalam sumber-sumber penting Ahlusunnah, termasuk Bukhâri, Muslim, Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Tabarani, Musnad al-Hamidi, Mustadrak al-Hakim dan sebagainya. Beberapa penulis telah menghitung lebih dari dua ratus perawi hadis ini. Hal ini membuat hadis ini tidak tertolak.</p>
<p>Kemudian, siapa keduabelas khalifah Nabi Saw ini?</p>
<p>Tanpa syak lagi, Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah Nabi Saw yang pertama, sebagaimana dijelaskan oleh hadis-hadis sahih, pemimpin dari mereka yang disebutkan pada hadis al-Ghadir sebagai berikut:</p>
<p>Beberapa bulan sebelum wafatnya, Nabi Saw menunaikan ibadah haji yang terakhir. Dalam memenuhi seruan Nabi Saw, ribuan kaum Muslimin dari jauh dan dekat bergabung besertanya menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Nabi Saw beserta kaum Muslimin bertolak menuju Madinah. Mereka belum pergi terlalu jauh, sesuai dengan titah dan perintah Tuhan, Nabi Saw meminta mereka berhenti seluruhnya di sebuah tempat yang disebut sebgai Ghadir Khum.  Di tempat ini, Nabi Saw meminta mimbar dari pelana-pelana unta didirikan. Ketika mimbar telah siap, Nabi Saw naik ke atas mimbar dan menyampaikan khutbahnya. Kemudian, ia mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib di atas tangannya dan berkata:</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawlanya maka Ali adalah mawlanya.&#8221;</p>
<p>Dan kemudian ia mengangkat tangannya ke atas dan berdoa kepada Tuhan, katanya:</p>
<p>&#8220;Wahai Tuhanku! Cintailah orang yang mencintai Ali dan bencilah orang yang membencinya; tolonglah orang yang menolongnya dan tinggalkanlah orang yang meninggalkannya.&#8221;      Dan kemudian, di hadapan ribuan kaum Muslimin, Nabi Saw menunjuk Ali sebagai khalifah dan penggantinya.</p>
<p>Hadis ini dinukil dari sumber-sumber otentik Ahlu Sunnah, di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>·        Muslim: Sahih</p>
<p>·        Ahmad bin Hanbal: Musnad</p>
<p>·         Nisai: Kitâb al-Khasâis</p>
<p>·         Hakim Naisapuri: Mustadrak</p>
<p>·         Hakim Hakani: Syawâhid at-Tanzil</p>
<p>·         Suyuti: Tafsir Durr al-Mantsur</p>
<p>·         Razi: Tafsir Kabir</p>
<p>·         Muhammad Abduh: Tafsir al-Manar</p>
<p>·         Ibn Asakir Shaafa&#8217;i: Târikh Damaskus</p>
<p>·         Ibn Talha Shaafa&#8217;i: Mathâlib as-Suâl</p>
<p>·         Ibn Sabagh Maliki: Fusûl al-Muhimma</p>
<p>·         Sulaiman Qandazi Hanafi: Yanabi&#8217; al-Mawadda</p>
<p>·         Ibn Jurair Tabari: Kitâb al-Wilâyah</p>
<p>·         Badruddin Hanafi: Umdat al-Qari fi Sharh al-Bukhari</p>
<p>·         Abdulwahhab Bukhari: Tafsir al-Qur&#8217;ân</p>
<p>·         Hafiz Abu Na&#8217;eem: Nuzûl al-Qur&#8217;ân</p>
<p>·         Humwaini: Farâidh al-Simtain</p>
<p>Hadis ini telah dinukil secara langsung dari Nabi Saw oleh setidaknya seratus sepuluh sahabat Rasulullah Saw. Untuk lebih detilnya, silahkan rujuk ke kitab Al-Ghadir, karya Allamah Amini Ra.</p>
<p>Khalifah kedua dan ketiga adalah Imam Hasan As dan Imam Husain As, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah As. Hal ini merupakan perkara yang jelas dari Nabi Muhammad Saw, hadis yang menegaskan masalah ini di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Ali adalah saudaraku, pewarisku, khalifahku dan pemimpin kaum Mukminin setelahku; kemudian Hasan; kemudian Husain; kemudian putra-putra Husain: Qur&#8217;an bersama mereka dan mereka bersama Qur&#8217;an. Keduanya tidak akan berpisah satu dengan yang lain hingga keduanya sampai di telaga Kauthar).&#8221; (Humwaini)</p>
<p>Berkenaan dengan sembilan khalifah yang merupakan keturunan Imam Husain, izinkan saya untuk menukil satu lagi hadis (dari sekian hadis): Dalam kitab Sayid Ali Hamadan, Shafai, Akhtab Khawarizm dan sebagainya, dinukil dari Salman Ra bahwa ia pernah melihat Nabi Saw sementara Husain duduk di pangkuannya dan Nabi Saw mengecup matanya dan bibirnya dan bersabda, &#8220;Engkau adalah sayid (tuan) dan putra dari tuan. Engkau adalah imam dan putra dari imam. Engkau adalah hujjah dan ayah dari sembilan hujjah, hujjah yang kesembilan adalah Qa&#8217;im As.&#8221;</p>
<p>Apakah Nabi Saw pernah mengindikasikan seluruh keduabelas khalifanya dan menyebut nama-nama mereka?</p>
<p>Lagi jawabannya adalah: Iya.</p>
<p>Seorang Yahudi bernama Natsal, bertanya kepada Nabi Muhammad Saw beberapa pertanyaan. Dalam pertanyaan itu, ia bertanya ihwal khalifah Nabi Saw. Nabi Saw bersabda: &#8220;Setelahku, khalifahku adalah Ali bin Abi Thalib dan setelahnya kedua putraku, Hasan dan Husain, dan kemudian terdapat sembilan Imam dari keturunan Husain.&#8221; Natsal bertanya perihal nama-nama mereka. Nabi Saw menjawab: &#8220;Ketika Husain telah tiada, putranya Ali akan menjadi khalifah setelahnya; ketika Ali telah tiada, putranya Muhammad akan menjadi khalifah setelahnya; ketika Muhammad telah tiada, putranya Ja&#8217;far akan menggantinya sebagai khalifah; ketika Ja&#8217;far telah tiada, putranya Musa akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Musa telah tiada, putranya Ali akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Ali telah tiada, putranya Muhammad akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Muhammad telah tiada, putranya Ali akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Ali telah tiada, putranya Hasan akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Hasan telah tiada, putranya Al-Mahdi akan menggantikannya sebagai khalifah. Mereka berjumlah dua belas Imam.&#8221; (Qandozi: Yanabi&#8217; al-Mawadda)</p>
<p>Seharusnya tidak ada keraguan ihwal nama-nama kedua belas khalifah Nabi Muhammad Saw.</p>
<p>Bukti yang ada sangat banyak menegaskan kenyataan ini bahwa Rasulullah Saw menunjuk seorang khalifah sebelum wafatnya. Sejatinya, Nabi Saw mengumumkan seluruh jalur khalifahnya, hingga hari Kiamat, tanpa adanya gap yang mengantarainya. Dari hadis-hadis di atas, jelas bahwa seluruh khalifah ini berjumlah dua belas orang; tidak lebih, tidak kurang. Para khalifah ini disebut sebagai &#8220;Imam.&#8221;</p>
<p>Kedua belas Imam ini juga dirujuk sebagai &#8220;Ahlulbait&#8221; (Keluarga Nabi Saw). Kedua ulama baik Syiah dan Sunni menerima fakta ini. (Untuk merujuk pandangan Sunni, silahkan lihat, &#8220;Arjah al-Mathâlib&#8221; karya Ubaidullah Amritsari).</p>
<p>Adapun hadis yang dinukil di sini, dan banyak lagi hadis-hadis yang sejenis dengannya, seluruh ahli hadis (muhaddits) dan ulama serta mayoritas ahli hadis Sunni menerima fakta bahwa Imam Keduabelas merupakan putra Hasan Askari As. Namanya adalah nama Rasulullah Saw dan ia telah dilahirkan kurang lebih dua ribu tahun yang silam, dan ia hidup, kendati gaib dari pandangan kita.</p>
<p>Ia tetap akan berada dalam masa ghaibah hingga masa yang dikehendaki oleh Tuhan, dan kemudian, sesuai dengan titah Tuhan, ia akan menunjukkan dirinya kepada dunia dan menguasai dunia serta memenuhinya dengan keadilan.</p>
<p>Kita hampi mendekati akhir dari perjalanan kita, kita akan melintasi senarai pilihan beberapa referensi Sunni, yang menegaskan fakta yang disebutkan di atas.</p>
<p>Namun, beberapa orang meragukan tentang khalifah terakhir. Mari kita mencoba menjernihkan keraguan-keraguan ini.</p>
<p>Dari sumber-sumber otentik, Imam Keduabelas, yang namanya mirip dengan nama Nabi Saw, dan yang memiliki gelar sebagai &#8220;Al-Mahdi&#8221;, lahir pada tahun 869 M. Imam Hasan al-Askari As syahid pada tahun 874 M. Hal ini berarti bahwa Imam Keduabelas telah menjadi pemimpin umatnya pada usia lima tahun.</p>
<p>Beberapa orang mengajukan keberatan dan bertanya: Bagaimana mungkin seorang bocah lima tahun menjadi pemimpin umat ini? Ada apa sedemikian perkara ini tidak dapat dipercaya? Tidakkah Qur&#8217;an memberikan kita beberapa contoh orang-orang yang menjadi pemimpin sementara usia mereka masih sangat belia? Mari kita lihat beberap contoh:</p>
<p>1. Nabi Isa menjadi nabi dan berbicara dengan orang-orang selagi ia masih seorang bayi dalam ayunan (Qs. Maryam [19]: 29-31).</p>
<p>2. Berkenaan dengan Yahya, Kitab Suci al-Qur&#8217;an berkata: &#8220;Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.&#8221; (Qs. Maryam [19]:12)</p>
<p>3. Nabi Sulaiman ditunjuk oleh Allah sebaga pewaris ayahnya Nabi Daud, dan menjadi raja bagi umatnya padahal ia belum lagi mencapai masa baligh.</p>
<p>Jika Nabi Isa, Yahya, Sulaiman dapat menjadi pemimpin pada masa kecil mereka, lalu mengapa al-Mahdi tidak boleh?</p>
<p>Keraguan yang kedua yang mengemuka bagi sebagian orang adalah ihwal hidup panjang Sang Imam.</p>
<p>Ketika tidak mammpu menghadapi kenyataan ihwal hidup panjang Imam, beberapa orang  meyakini bahwa khalifah keduabelas Nabi Saw tidak hidup sekarang, melainkan akan lahir pada masa mendatang. Asumsi ini tidak memiliki dasar sama sekali dalam hadis-hadis nabawi, lantaran hal ini akan memutus mata rantai para khalifah.</p>
<p>Mari kita lihat beberapa bukti yang menegaskan keberadaan Imam Keduabelas, dari sumber al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis nabawi.</p>
<p>Pada surah ke-13, ayat ke-7, al-Qur&#8217;an menyebutkan: &#8220;(Wahai Muhammad!) Engkau tidak lain seorang pemberi peringatan, pada setiap umat terdapat seorang pemberi petunjuk.&#8221;</p>
<p>Siapakah pembimbing dan pemberi petunjuk hari ini?</p>
<p>Pada surah ke-8, ayat 33, al-Qur&#8217;an menyebutkan: &#8220;Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sementara engkau berada di sisi mereka.&#8221;</p>
<p>Banyak ulama Sunini, termasuk Ahmad bin Hanbal dalam &#8220;Musnad&#8221;, dan Ibnu Hajar dalam bukunya &#8220;Sawâiq al-Muhriqah&#8221;, menukil hadis berikut ini dari Nabi Saw dalam menafsirkan kedua ayat di atas:</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda: &#8220;Bintang gemintang merupakan media rahmat bagi para penduduk langit, dan jika bintang-gemintang itu binasa, maka penduduk langit juga akan binasa. Dan Ahlulbaitku merupakan media rahmat bagi para penduduk semesta, dan jika Ahlulbaitku tiada, para penduduk semesta akan binasa.&#8221;</p>
<p>Ibnu Hajar dalam mengomentari hadis tersebut berkata: &#8220;Ahlulbait merupakan media rahmat bagi para penduduk semesta sebagaimana Rasulullah Saw adalah media rahmat bagi mereka.&#8221; Selanjutnya ia menulis: &#8220;…Allah menciptakan semesta ini untuk Rasulullah, dan membuat keberadaan semesta ini bersyarat kepada eksistensi Ahlulbait lantaran mereka memiliki beberapa keutamaan yang sama dengan Rasulullah Saw, sebagaima yang disebutkan oleh Fakhrurrazi, dan lantaran Rasulullah Saw bersabda tentang keutamaan mereka bahwa: Wahai Allah! Mereka berasal dariku dan Aku berasal dari mereka&#8221;, lantaran mereka merupakan bagian darinya karena ibu mereka, Fatimah adalah bagian darinya. Oleh karena itu mereka juga merupakan amnesti bagi penduduk bumi.&#8221;</p>
<p>Hadis-hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa keberadaan khalifah Rasulullah Saw tidak boleh terputus dan terpotong.</p>
<p>Hal ini bermakna bahwa khalifah keduabelas dan khalifah terakhir Nabi Saw telah dilahirkan dan hidup, kendati sekarang sedang melewati masa ghaibah (tersembunyi dari pandangan kita)</p>
<p>Kembali kepada pertanyaan ihwal masa hidup yang panjang, apakah hal ini sesuatu yang menakjubkan dan sebuah hal yang baru?</p>
<p>Tidak. Bukti-bukti sangat melimpah dalam sejarah umat manusia orang-orang yang memiliki usia panjang. Dan bukti-bukti itu adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Menurut al-Qur&#8217;an (surah ke-29, ayat 14) Nabi Nuh As berdakwah selama 950 tahun. Tentu saja usianya lebih panjang dari bilangan itu.</p>
<p>2. Disepakati oleh seluruh kaum Muslimin bahwa Nabi Khidr As masih hidup hingga saat ini. Al-Qur&#8217;an menyebutkan kisah perjumpaannya dengan Nabi Musa As, dan seterusnya, Khidr kini berusia lebih dari 3000 tahun. Ia juga tersembunyi dari pandangan manusia.</p>
<p>3. Ulama mazhab Hanafi, Sibt Ibn al-Jauzi, dalam kitabnya, &#8220;Tadzkirât al-Khawâs al-Ummah&#8221; membeberkan nama-nama 22 orang yang diyakini oleh kaum Muslimin telah hidup dengan beragam usia semenjak 3000 tahun turun hingga 300 tahun.</p>
<p>4. Bahkan berbicara secara ilmiah, tidak ada persoalan serius untuk menegaskan usia panjang seseorang. Sekelompok ilmuan mengadakan serangkaian eksperimen di Rockefeller Institute di New York pada tahun 1912 pada bagian-bagian tertentu tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Ilmuan ini termasuk Dr. Alex Carl, Dr. Jack Lope, dan Dr. Warren Lewis dan istrinya, dan lain sebagainya. Di antara eksperimen yang dilakukan adalah ekperimen yang secara langsung berkaitan dengan syaraf, otot, hati, kulit dan ginjal manusia.</p>
<p>Organ-organ ini tidak berhubungan dengan raga manusia. Sebagaimana disimpulkan oleh ilmuan ini bahwa bagian-bagian ini atau organ-organ ini dapat berlanjut hidup hampir secara pasti sepanjang dirawat secara proporsional, dan selama organ-organ ini dilindungi dari interaksi-interaksi negatif dengan dunia luar seperti mikroba-mikroba dan penghalang-penghalang lainnnya yang dapat merintangi perkembangan organ-organ ini.</p>
<p>Terlebih, penegasan yang dibuat oleh para ilmuan tersebut bahwa sel-sel dapat tumbuh secara normal di bawah kondisi-kondisi tersebut, dan pertumbuhan tersebut adalah secara langsung berkenaan dengan tersedianya makanan secara proporsional.</p>
<p>Kembali, menjadi tua tidak memiliki pengaruh terhadap organ-organ ini, dan mereka tumbuh setiap tahunnya tanpa ada tanda-tanda ketuaan. Para ilmuan itu menyimpulkan bahwa organ-organ ini akan tetap tumbuh sepanjang kesabaran para ilmuan itu tidak habis, yang menyebabkan mereka meninggalkan proses pemberian makanan.</p>
<p>Akhirnya, lantaran kita telah menerima Tuhan, apakah di luar kekuasaannya untuk tetap menjaga dan memelihara seseorang untuk tetap hidup sesuai dengan kehendak-Nya?</p>
<p>Orang-orang yang ragu terkadang bertanya: &#8220;Apa faidahnya seorang pemimpin yang tidak dapat dilihat?&#8221;</p>
<p>Mari kita jawab pertanyaan ini dengan mengajukan pertanyaan lain: Apakah mesti bagi seseorang harus dilihat untuk dapat menjadi penting dan bermanfaat, atau menerima bimbingan darinya? Dapatkah Anda melihat Tuhan?</p>
<p>&#8220;Dan Allah berfirman bahwa Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.&#8221; (Qs. Al-Baqarah [2]: 142)</p>
<p>Dari hadis-hadis yang dinukil di atas, cukup jelas bahwa keberadaan bumi sendiri bergantung kepada kehadiran seorang Imam di muka bumi. Wujudnya dalam masa ghaibah tidak merubah situasi dan keadaan.</p>
<p>Dunia mengambil manfaat dan keuntungan dari Imam dalam masa ghaibah persis seperti ia mengambil manfaat dari matahari yang tersembunyi di balik gugusan awan.</p>
<p>Sekarang poin yang lain yang perlu dijelaskan dan diterangkan pada tingkatan ini adalah mengapa ghaibah? Mengapa khalifah terakhir dan pamungkas Rasulullah Saw tersembunyi dari pandangan masyarakat dan kapan ia menunjukkan dirinya?</p>
<p>Terdapat banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dan jawaban yang paling sederhana adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Kegaiban Imam merupakan sebuah ujian bagi orang-orang beriman bagi para pengikutnya, sebagaimana Musa gaib selama 40 hari dari para pengikutnya. Kegaiban ini merupakan sebuah ujian bagi para pengikutnya. (silahkan rujuk al-Qur&#8217;an surah ke-7 ayat 42) (Dalam konteks ini, perhatikan bahwa sebuah ujian dari Tuhan sebenarnya kenyataan bagi kita sendiri adalah sebagai saksi, selain dari itu Tuhan memiliki pengetahuan atas segala sesuatu).</p>
<p>2. Kegaiban Imam adalah untuk menjaga mereka dari kejahatan para oppresor dan tiran dunia. Imam al-Mahdi As akan segera datang bilamana masyarakat telah siap sedia untuk menyambut kedatangannya. Masyarakat sepanjang sejarah tidah pernah siap sedia. Mereka membunuh para nabi dan para imam, secara bergiliran satu dengan yang lainnya. Namun, Allah tetap mengirim para nabi hingga akhirnya Dia mengutus Muhammad Saw yang membawa risalah terakhir pada masa akal manusia mencapai masa balighnya dan kemudian Allah membekali mereka dengan agama yang paling lengkap dan pamungkas. Setelahnya tidak ada lagi keperluan untuk mengutusi dan mengirim risalah baru.</p>
<p>Lalu Dia mengutus para penjaga, pembimbing, pemberi petunjuk (para imam) yang memelihara dan menjelaskan risalah kepada masyarakat. Akan tetapi para penindas dan tiran di antara masyarakat tetap membunuh para imam. Situasi dan kondisi ini terus berlanjut hingga pada masa dimana masyarakat menyadari bahwa mereka membutuhkan seorang imam  yang ditunjuk oleh Tuhan yang memerintah mereka.</p>
<p>Ketika keadaan ini terjadi secara universal, dan tatkala orang-orang menjadi frustrasi dan kecewa dari segala jenis dan model &#8220;dosa&#8221; dan mengangkat tangan mereka untuk meminta tolong, kemudian orang-orang akan menjadi siap sedia menyambutnya.</p>
<p>Imam al-Mahdi As akan datang ketika segala jenis ideologi diuji dan gagal. Pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka tidak memiliki solusi sejati untuk mengatasi segala problema yang mereka hadapi, dan mereka akan menerima solusi yang ditawarkan dan diberikan oleh Imam al-Mahdi As.</p>
<p>Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, mayoritas ulama dan ahli hadis Sunni, dalam menimbang hadis-hadis yang melimpah dari Nabi Saw, percaya kepada al-Mahdi persis sebagaimana kepercayaan dan keyakinan Syiah. Jika kita ingin membuat senarai dari para ahli hadis ini, senarai akan menjadi panjang. Kami akan memilih lima dari hadis-hadis tersebut:</p>
<p>·        Sulayman al-Qandozi al-Hanafi, dalam kitabnya, &#8220;Yanabi&#8217; al-Mawaddah&#8221;.</p>
<p>·         Abu Abdullah Muhammad ibn Yusuf Ganji, asy-Syafi&#8217;i, dalam &#8220;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman&#8221; and &#8220;Kifayah al-Talib&#8221;.</p>
<p>·         Shaikh Nuruddin Ali ibn Muhammad ibn Sabbagh al-Maliki, dalam &#8220;Al-Fusûl al- Muhimmah&#8221;.</p>
<p>·         Ibn Arabi (Muhyuddin) al-Hanbali, in his book &#8220;Al-Futûhat al-Makkiyah&#8221;.</p>
<p>·         Sibt ibn al-Jawzi, dalam kitabnya &#8220;Tadzkirat al-Khawwas&#8221;.</p>
<p>Mazhab Sunni memiliki empat mazhab fiqih &#8211; Maliki, Hanafi, Syafi&#8217;i, Hanbali – dinamakan setelah empat imam mereka, Malik, Abu Hanifa, Syafi&#8217;i and Ahmad  bin Hanbal. Perhatikan keseluruh empat mazhab Sunni telah terwakilkan pada kutipan dan nukilan di atas. Hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan terhadap al-Mahdi As adalah bersifat universal di kalangan kaum Muslimin.</p>
<p>Sibt ibn al-Jawzi (yang dikutip di atas) menulis ihwal Imam Keduabelas sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Gelar (Imam al-Mahdi) adalah Abu Abdullah dan Abul Qasim. Ia merupakan khalifah terakhir Nabi Saw. Ia merupakan Imam Pamungkas Ahlulbait. Ia merupakan hujjah (al-Hujjah) Tuhan di muka bumi. Ia merupakan Tuan dari masa (Shâhib az-Zaman). Ia adalah insan yang dinantikan (al-Muntazhar).</p>
<p><strong>Kembara Perdana:</strong></p>
<p>Yunus bin Ya&#8217;qub meriwayatkan:</p>
<p>Aku bersama Abu Abdillah (Imam Ja&#8217;far al-Sadiq As, khalifah keenam Nabi Saw) ketika seorang Suriah datang kepadanya. Ia berkata: &#8220;Aku adalah seorang alim dalam bidang Kalam, Fiqih, dan hukum-hukum waris. Aku datang untuk berdebat dengan para pengikutmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah ilmu Kalam yang engkau miliki adalah berasal dari Nabi Saw atau dari dirimu sendiri? Tanya Abu Abdillah As.</p>
<p>&#8220;Sebagian dari Nabi Saw dan sebagian dari diriku sendiri,&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu engkau adalah mitra Nabi Saw?&#8221; Tanya Abu Abdillah As.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; Jawabnya.</p>
<p>&#8220;Apakah engkau pernah mendengar ilham langsung dari Tuhan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; Jawabnya.</p>
<p>&#8220;Apakah ketaatan kepadamu diharuskan sebagaimana ketaatan kepada Nabi Saw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; jawabnya.</p>
<p>Abu Abdillah memalingkan wajahnya kepadaku dan berkata: &#8220;Yunus bin Ya&#8217;qub, orang ini telah menentang dirinya sendiri sebelum ia memulai (perkara yang sesunguhnya) diskusi. Kemudian ia berkata: &#8220;Yunus, jika engkau ahli dalam ilmu Kalam, engkau harus berdiskusi dengannya.&#8221;</p>
<p>Betapa sedihnya kala itu, karena aku berkata kepadanya: &#8220;Semoga aku menjadi tebusanmu, aku pernah mendengar bahwa Anda melarangku (ikut serta) dalam perdebatan ilmu Kalam dan Anda berkata: Celakalah para teolog yang berkata jalan ini yang benar dan jalan itu yang keliru; hal ini termasuk dan hal itu tidak termasuk; kita menerima hal ini sebagai rasional dan tidak menerima hal itu sebagai rasional.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku hanya berkata,&#8221; tutur Abu Abdillah As,  &#8220;Celakalah mereka, apabila mereka meninggalkan apa yang aku katakana dan memenuhi keinginan mereka sendiri.&#8221; Lalu ia berkata kepadaku: &#8220;Keluarlah dan carilah orang-orang yang pandai ilmu Kalam dan bawa mereka kemari.&#8221;</p>
<p>Aku beranjak keluar dan mendapatkan Humran bin A&#8217;in yang mahir dan ahli dalam ilmu Kalam dan Muhammad bin al-Nu&#8217;man al-Ahwal (juga dikenal sebagai Mu&#8217;min Taq), yang merupakan seorang teolog, dan Hisyam bin Salim dan Qays bin al-Masir, keduanya merupakan teolog. Aku membawa mereka kepadanya. Setelah ia meminta kami duduk dalam majelis – kami berada di dalam kemah Abu Abdillah di puncak sebuah gunung di pinggir kota Mekkah dan pada hari itu adalah hari-hari sebelum hari ziarah haji – Abu Abdilllah mengeluarkan kepalanya dari kemah tersebut. Di luar tiba-tiba muncul seekor unta melenggang berwibawa. Ia berseru, &#8220;Demi Tuhan Ka&#8217;bah, Hisyam!&#8221;</p>
<p>Kami berpikir bahwa orang itu adalah Hisyam, salah seorang putra Aqil, sosok yang sangat mencintainya, namun lihatlah, orang itu adalah Hisyam bin al-Hakam yang datang. Wajahnya masih belum jenggotan. Seluruh orang yang hadir di tempat itu adalah lebih tua darinya. Abu Abdillah As mempersilahkan ia masuk dan berkata: &#8220;(Ini dia) orang yang akan menolong kita dengan hati, lisan dan tangannya.&#8221;</p>
<p>Ia berkata kepada Humran, &#8220;Berdebatlah dengan orang itu.&#8221; – yang dimaksud adalah orang Syam. Humran berdebat dan berhasil mengalahkannya. Lalu Imam berkata, &#8220;Wahai Taqku, berdebatlah dengannya,&#8221; lalu Muhammad bin al-Nu&#8217;man berdebat dengannya dan berhasil mematahkan argumen orang itu. Lalu ia berkata: &#8220;Hisyam bin Salim, berdebatlah dengannya.&#8221; Lalu keduanya adu argumentasi. Abu Abdillah As mulai tersenyum melihat perdebatan mereka berdua lantaran orang Syam itu mencari jalan untuk lari dari perdebatan. Ia berkata kepada orang Syam itu, &#8220;Berdebatlah dengan kacung ini,&#8221; – yang dimaksud adalah Hisyam bin al-Hakam.</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab orang Syam itu dan berkata, &#8220;Wahai kacung, Tanyakanlah ihwal imamah orang ini&#8221; – yang dimaksud adalah Abu Abdillah As.</p>
<p>Hisyam gregetan marah namun kemudian berkata, &#8220;Kisanak, apakah Tuhanmu memelihara makhluk-makhluknya atau mereka sendiri yang mengurus diri mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; jawab orang Syam itu, &#8220;Tuhanku memelihara makhluk-makhluk-Nya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang Dia lakukan untuk memelihara agama mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia memberikan tugas kepada mereka dan membekali mereka dengan hujjah dan bukti atas segala sesuatu yang Dia tanyakan dari mereka. Dia menghilangkan segala kelemahan yang mungkin mereka miliki.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa bukti yang telah Dia ajukan untuk mereka?&#8221; Tanya Hisyam kepadanya.</p>
<p>&#8220;Bukti itu adalah Nabi Saw,&#8221; jawab orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Bukti apa setelah Nabi Saw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kitab dan Sunnah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Kitab Suci dan Sunnah memberikan manfaat kepada ktia dengan segala perbedaan yang ada sehingga ikhtilaf yang ada dapat dihilangkan dan kita mampu mencapai kata sepakat?&#8221; Tanya Hisyam.</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu kami berbeda denganmu.&#8221; Tukas Hisyam, &#8220;sehingga engkau datang dari Syam untuk berdebat dengan kami? Engkau mengklaim penilaian pribadi merupakan metode agama sementara engkau ketahui bahwa penilaian pribadi tidak membawa orang yang berbeda pendapat kepada satu doktrin.&#8221;</p>
<p>Orang Syam itu terdiam sejenak seolah-olah berpikir. Kemudian Abu Abdillah As bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak mendebatnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika aku berkata: Kami tidak berbeda,&#8221; jawabnya, &#8220;Aku hanyalah seorang yang berkepala batu. Jika aku berkata: Kitab Suci dan Sunnah dapat menghilangkan ikhtilaf yang terdapat di antara kita, aku melakukan kesalahan keduanya memuat intepretasi yang berbeda. Namun, aku dapat menggunakan argumen yang sama dalam menyanggahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, bertanyalah kepadanya,&#8221; kata Abu Abdillah kepadanya, &#8220;Engkau akan dapatkan ia sebagai orang yang kompeten. &#8221;</p>
<p>Lalu orang Syam itu bertanya kepada Hisyam, &#8220;Siapa yang memelihara makhluk-makhluk-Nya, Tuhan mereka atau mereka sendiri?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja Tuhan mereka memelihara mereka,&#8221; jawab Hisyam.</p>
<p>&#8220;Apakah Dia mengutus seseorang bagi mereka yang mengharmoniskan doktrin mereka, menghilangkan ikhtilaf yang ada dan menjelaskan yang benar dari yang salah kepada mereka?&#8221; tukas orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab Hisyam.</p>
<p>&#8220;Siapa gerangan dia?&#8221; Tanya orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Pada masa-masa awal diturunkannya syariah, adalah Nabi Saw akan tetapi selepas Nabi Saw, ada orang lain yang menjalankan tugas tersebut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa lagi selain Nabi Saw, yang menggantikan posisinya sebagai hujjah Tuhan di muka bumi?&#8221; Tanya orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Sekarang atau sebelumnya?&#8221; Hisyam bertanya.</p>
<p>&#8220;Pada masa sekarang ini,&#8221; jawab orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Orang yang duduk di sini,&#8221; kata Hisyam – yang dimaksud adalah Abu Abdillah.&#8221; Ia adalah orang yang engkau tuju; ia adalah orang yang mewartakan kepada kita ihwal langit dan merupakan pewaris dari ayah dan datuknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana aku dapat memiliki pengetahuan tersebut?&#8221; Tanya orang Syam itu.</p>
<p>&#8220;Bertanyalah kepadanya apapun yang terlintas dalam benakmu,&#8221; kata Hisyam kepadanya.</p>
<p>&#8220;Engkau telah menyanggah setiap argumenku namun kini aku memiliki sebuah pertanyaan,&#8221; orang Syam itu mengumumkan.</p>
<p>&#8220;Aku akan mengatakan apa yang ingin engkau katakan.&#8221; kata Abu Abdillah As kepadanya. &#8220;Aku akan ceritakan ihwal perjalanan dan muhibahmu. Engkau berangkat pada hari ini dan hari itu. Jalan yang engkau lalui seperti ini dan seperti itu. Engkau melintasi orang ini dan orang itu.&#8221;</p>
<p>Setiap saat ia berkata sesuatu kepadanya tentang dirinya, orang Syam itu akan berkata, &#8220;Benar, demi Allah.&#8221; Lalu orang Syam itu berkata kepadanya, &#8220;pada saat ini aku telah berserah diri (aslamtu) kepada Tuhan. &#8221;</p>
<p>&#8220;Bahkan pada saat ini engkau telah beriman (amanta) kepada  Tuhan,&#8221; kata Abu Abdillah As. Islam (berserah diri kepada Tuhan) adalah sebelum iman (keyakinan kepada Tuhan). Berdasarkan hal yang pertama diatur ihwal warisan dan pernikahan; berdasarkan iman manusia diberi ganjaran. &#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; jawab orang Syam itu, &#8220;Pada saat ini aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau adalah (wasi Tuhan) di antara orang-orang yang dipilih oleh Allah.&#8221;</p>
<p>[Kemudian, Imam mengomentari setiap jenis debat yang diperagakan oleh para pengikutnya]</p>
<p>Ia berkata kepada Hisyam bin al-Hakam, ia berkata, &#8220;Hisyam engkau hampir saja terjatuh, lantaran engkau selitkan pada kakinmu (seperti seekor burung); ketika engkua hendak jatuh, engkau terbang. Oleh karena itu orang sepertimu seyogyanya berdebat dengan masyarakat.</p>
<p><strong>Kembara Kedua:</strong></p>
<p>Hisyam bin Hakam merupakan seorang sahabat utama dari Imam Keenam dan Ketujuh dan mendapatkan perhatian atas kemahirannya berdebat dan berretorika.</p>
<p>Yunus bin Ya&#8217;qub meriwayatkan bahwa pada suatu hari, orang-orang berkumpul di sekeliling Imam Keenam, di antara orang-orang yang berada di samping Imam Keenam adalah Humran bin A&#8217;in, Mu&#8217;min Taq (Muhammad bin Ali bin Nu&#8217;man), Hisyam bin Salim, Hisyam bin Hakam, dan sebagainya.</p>
<p>Imam berpaling kepada Hisyam bin Hakam dan berkata, &#8220;Apa yang engkau katakan kepada Amr bin Ubaid? Pertanyaan-pertanyaan apa yang engkau ajukan?&#8221;</p>
<p>Hisyam berkata, &#8220;Aku merasa malu membicarakannya tentang hal tersebut di depan Anda, lidahku kelu dan membisu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa engkau harus merasa malu ketika Aku sendiri yang memerintahkanmu? Ceritakanlah peristiwa itu.&#8221;</p>
<p>Hisyam memulai: &#8220;Aku mendengar bahwa Amr bin Ubaid membincang permasalahan-permaslahan ilmiah di masjid Basrah. Hari itu adalah hari Jum&#8217;at ketika aku tiba di kota Basrah dan beranjak menuju masjid. Aku melihat Amr bin Ubaid dikerumuni oleh masyarakat sekitar. Aku melangkah maju dan mendekatinya yang tengah dikerumuni oleh orang-orang dan  berkata, &#8220;Wahai orang yang berlimu dan bermakrifat, Aku adalah seorang asing di tempat ini dan datang dari tempat jauh. Izinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan? &#8220;Silahkan,&#8221; ,jawab Amir.&#8221;</p>
<p>Perbincangan tersebut berlangsung seperti demikian:</p>
<p>Hisyam: Apakah engkau memiliki mata?</p>
<p>Amr: Anak muda! Pertanyaan macam apa ini? Bertanyalah sesuatu yang pantas.</p>
<p>Hisyam: Aku hanya akan mengajukan tiga pertanyaan saja.</p>
<p>Amr: Baiklah! Bertanyalah dan aku akan menjawabnya, kendati pertanyaanmu itu adalah pertanyaan konyol.</p>
<p>Hisyam: Apakah engkau memiliki mata?</p>
<p>Amr: Iya.</p>
<p>Hisyam: Apakah kegunaan mata tersebut?</p>
<p>Amr: Gunanya adalah untuk melihat aneka warna dan beragam bentuk.</p>
<p>Hisyam: Apakah engkau memiliki hidung?</p>
<p>Amr: Iya.</p>
<p>Hisyam: Apakah kegunaan hidung tersebut?</p>
<p>Amr: Untuk mencium.</p>
<p>Hisyam: Apakah engkau memiliki mulut?</p>
<p>Amr: Iya.</p>
<p>Hisyam: Apakah kegunaan mulut tersebut?</p>
<p>Amr: Untuk mengecap makanan.</p>
<p>Hisyam: Apakah engkau memiliki akal dan pikiran?</p>
<p>Amr: Iya.</p>
<p>Hisyam: Apakah kegunaan akal dan pikiran?</p>
<p>Amr: Segala sesuatu yang aku rasakan melalui panca indraku (kedua mata, hidung, mulut dan sebagainya) aku mengenalinya melalui akal dan pikiranku.</p>
<p>Hisyam: Apakah panca indramu tidak membuat dirimu terbebas dari akal dan pikiranmu?</p>
<p>Amr: Tidak.</p>
<p>Hisyam: Mengapa, ketika seluruh organmu utuh dan lengkap?</p>
<p>Amr: Tatkala panca indramu menghadapi keraguan, ia merujuk kepada akal untuk menghilangkan keraguan dan menegaskan kebenaran.</p>
<p>Hisyam: Hal ini bermakna bahwa Tuhan telah memberikan kita akal untuk menghilangkan segala keraguan indra kita dan mewartakan kebenaran kepadanya.</p>
<p>Amr: Iya, tentu saja.</p>
<p>Hisyam: Jadi kita bergantung pada akal kita dalam keadaan apapun.</p>
<p>Amr: Iya.</p>
<p>Hisyam: Tuhan tidak membiarkan organ dan indra kita tanpa seorang imam yang dapat menjelaskan dan menerangkan keraguannya, tapi Tuhan yang sama telah meninggalkan makhluknya di tengan keraguan mereka dan tidak menetapkan imam bagi mereka yang dapat menghilangkan segala keraguan dan menegaskan kebenaran?</p>
<p>Amr terdiam beberapa lama, kemudian ia bertanya keapda Hisyam, &#8220;Darimana gerangan engkau datang?</p>
<p>&#8220;Aku berasal dari Kufah,&#8221; kata Hisyam.</p>
<p>&#8220;Barangkali engkau adalah Hisyam?&#8221;</p>
<p>Kemudian ia mendudukkan Hisyam di tempatnya dan selama Hisyam berada di tempat itu, ia menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Setelah beberapa lama Hisyam pergi.</p>
<p>Setelah Hisyam mengisahkan peristiwa ini kepada Imam Ja&#8217;far ash-Sadiq As, Imam tersenyum dan berkata, &#8220;Siapa yang mengajarimu argumen ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak seorang pun, Wahai Putra Rasulullah!&#8221; kata Hisyam. &#8220;Hal itu datang begitu saja dalam benakku.&#8221;</p>
<p>Imam berkata, &#8220;Demi Allah! Argumen ini disebutkan dalam Mushaf Ibrahim dan Musa.&#8221; (Rijal Kishi)</p>
<p><strong>Kembara Ketiga:</strong></p>
<p>Masih ingat tiga pengembaraan yang kita jalani pada tingkatan pertama dari perjalan kita? Kini kita melalui perjalanan ini untuk menyingkap identitas sang bijak bestari yang kita jumpai dalam pengembaraan tersebut. Kita jumpai bahwa sang bijak bestari yang dijadikan sebagai tempat rujukan adalah Ja&#8217;far ash-Shadiq As (702-765 M), khalifah keenam Nabi Muhammad Saw dan Imam Keenam mazhab Syiah. Peristiwa-peristiwa yang diungkapkan dalam pengembaran-pengembaran tersebut adalah bersumber dari kitab &#8220;Bihar al-Anwar&#8221; karya Majlisi, sebagaimana dinukil dalam buku &#8220;God and His Attributes&#8221; karya Sayid Mujtaba Musavi Lari.</p>
<p><strong>TINGKATAN KELIMA</strong></p>
<p>Kita menelusuri langkah-langkah kita hingga tingkatan kedua dari pengembaraan kita ini, Keadilan Tuhan. Dari sudut pandang ini, kita menukik pada etape akhir dari pengembaraan dan perjalanan kita.</p>
<p>Tuhan adalah adil. Keadilan Tuhan adalah sempurna dan tanpa cacat. Keadilan tanpa cacat ini menandaskan bahwa penciptaan kita memiliki sebuah tujuan (sebagaima disebutkan sebelumnya). Petunjuk dan bimbingan telah diutus keatas kita untuk menunjukkan jalan kepada kita bagaimana memenuhi tujuan tersebut, dengan mengenal Sang Pencipta dan menata hidup dan kehidupan kita berdasar dan berasaskan titah dan perintahnya.</p>
<p>Keadilan Tuhan juga menegaskan bahwa seluruh manusia akan disidang dan diadili seadil-adilnya suatu hari kelak, ihwal seberapa jauh makhluk tersebut memenuhi tujuan penciptaannya. Pengadilan akan berakhir dengan mendapatkan jatah ganjaran atau hukuman, berdasarkan niat dan perbuatan setiap manusia.</p>
<p>Camkan baik-baik hal tersebut dalam benak, kini mari kita merenungkan mata rantai sebab dan akibat.</p>
<p>Pikiran-pikiran yang saya pikirkan, atau perbuatan-perbuatan yang saya kerjakan, tidak sepenuhnya berasal dari diriku, mandiri dari segala pengaruh eksternal. Tidak! Terdapat pengaruh-pengaruh eksternal. Ayahku, lingkunganku, teman bermainku, buku yang saya baca, setiap orang – masing-masing dari hal ini telah mempengaruhi cara saya berpikir dan jalan saya bertindak. Sumber-sumber pengaruh ini secara bergilir mendapatkan pengaruh dari faktor-faktor yang lain. Dan demikian seterusnya. Dan tatkala ketika Anda mengarahkan rantai ini ke arah yang lain,  pikiran dan tindakanku telah terpengaruhi, dan boleh jadi akan mempengaruhi beberapa orang lain yang melakukan kontak dan interaksi denganku.</p>
<p>Kemana semua hal ini berujung dan bermuara?</p>
<p>Hal ini menuntun kepada kenyataan bahwa bahkan jika secuil aksi yang dilakukan akan mendapatkan pengadilan dengan tingkat ketelitian dan akurasi yang sangat tinggi, secuil aksi dan perbuatan harus diadili dan disidang landasan apa yang melatari perbuatan tersebut dan terjalin dalam sebuah jaringan sebab dan akibat yang terangkum dalam spektrum ruang dan waktu. Terhimpunnya jaringan ini pada akhirnya akan mencakup seluruh umat manusia, semenjak awal hingga akhir. Kalau hal ini tidak dilakukan, pengadilan dan persidangan yang dijalan ke atas diriku tidak akan berlangsung sempurna dan komplit. Dan keadilan Tuhan adalah sempurna dan komplit.</p>
<p>Dan seluruh hal yang tak terbantahkan ini menunjukkan bahwa Hari Perhitungan harus ada – Hari Perhitungan ketika seluruh insan yang mati bangkit dan seluruh ciptaan Tuhan dikumpulkan bersama dan setiap lembaran jaringan sebab dan akibat mengelilingi mereka ditelusuri seluruhnya, dan dengan demikian persidangan dan mahkamah dijalankan.</p>
<p>Banyak ayat-ayat al-Qur&#8217;an dan Sunnah Nabi Saw berkisah ihwal Hari Kiamat (Ma&#8217;ad).</p>
<p><strong>Kembara Perdana :</strong></p>
<p>Keadilan Tuhan, dan keberadaan Hari Kiamat, yang meyiratkan adanya kebebasan berkehendak di antara seluruh makhluk-Nya (pada kesempatan mendatang kita akan mengulas secara tuntas pembahasan Keadilan Tuhan, Kenabian, Imamah dan Hari Kiamat secara filsofis dan rasional).</p>
<p>Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh beberapa ayat dari al-Qur&#8217;an yang tertuang dalam beberapa ayat berikut ini:</p>
<p>·        &#8220;Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.&#8221; (Qs. al-Zalzalah [99]:7-8)</p>
<p>·        &#8220;Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.&#8221; (Qs. an-Nahl [16]:93)</p>
<p>·        &#8220;Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.&#8221; (Qs. ar-Ra&#8217;ad [13]:11)</p>
<p>·        &#8220;Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.&#8221; (Qs. al-Anfal [8]:53)</p>
<p><strong>DEBRIEFING</strong></p>
<p>Kini kita tiba pada penghujung pengembara Kalam kita ini, yang telah membawa kita kepada lima teritori: Tauhid, Keadilan Ilahi, Kenabian, Imamah dan Hari Kebangkitan (Ma&#8217;ad). Kami berharap bahwa perjalanan ini menarik dan berhasil menstimulir pikiran dan memuaskan akal.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan pada awal-awal pengembaraan ini, pengembaraan ini dikemas menjadi sebuah pengembaraan yang singkat. Apabila Anda seorang pengembara musiman, dan ingin menjelajah dan mengembara yang lebih jauh dan luas, kami menyarankan untuk mengkaji buku-buku pegangan di bawah ini sebagai buku pegangan utama yang akan menemani Anda dalam pengembaran yang lebih jauh dan luas: (seluruh buku ini tersedia dalam bahasa Inggris dan sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia):</p>
<p>1.&#8221;Nahjul Balagha&#8221;, Nahjul Balagha, Penerbit Lentera.</p>
<p>2.&#8221;Fundamentals of Islam&#8221;, karya Haji Mirza Mehdi Pooya.</p>
<p>3.&#8221;God and His Attributes&#8221;, by Sayyid Mujtaba Musavi Lari.</p>
<p>4.&#8221;Some Discourses on Imam al-Mahdi&#8221; by Ayatullah Baqir al-Sadr.</p>
<p>5.&#8221;Then I Was Guided&#8221;, (Akhirnya Kutemukan Kebenaran) karya Dr Muhammad Tijani.</p>
<p>6.&#8221;The Voice of Human Justice&#8221;, (Suara Keadilan), Penerbit Lentera,  karya George Jordac.</p>
<p>[1] . Kutipan di atas diambil dari ucapan Dr Bucaille&#8217;s ihwal &#8220;Qur&#8217;an and Modern Science&#8221;, yang disampaikan di the Commonwealth Institute, London, pada 14 Juni 1978.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/dalam-kembara-kalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah2 Menuju Agama (2): Motivasi Mencari Agama</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/motivasi-mencari-agama/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/motivasi-mencari-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 06:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Agama Sebelum saya menjelaskan tema diatas, perlu saya jelaskan tentang pengertian agama secara singkat dan kata-kata lain yang berhubungan dengannya. Hal itu saya anggap perlu untuk memberikan gambaran yang jelas agar tema di atas dapat dipahami dengan baik dan benar. Agama dalam bahasa Arab disebut al-Din. Secara leksikal, kata din berarti ketaatan dan balasan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/sempurna1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-569" title="sempurna1" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/sempurna1-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Definisi  Agama</strong></p>
<p>Sebelum saya menjelaskan tema diatas, perlu saya jelaskan tentang pengertian agama secara singkat dan kata-kata lain yang berhubungan dengannya. Hal itu saya anggap perlu untuk memberikan gambaran yang jelas agar tema di atas dapat dipahami dengan baik dan benar.</p>
<p>Agama dalam bahasa Arab disebut al-Din. Secara leksikal, kata din berarti ketaatan dan balasan.  Sedangkan secara teknikal,  din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut. Dari sinilah kata al-ladini (orang yang tak beragama) digunakan pada orang yang tidak percaya kepada wujud pencipta alam secara mutlak, walaupun ia meyakini shudfah (kejadian yang tak bersebab-akibat) di alam ini, atau  meyakini bahwa terciptanya alam semesta ini akibat interaksi antar-materi semata. Adapun kata al-mutadayyin (orang yang beragama) secara umum digunakan pada orang yang percaya akan wujud pencipta alam semesta ini, walaupun kepercayaan, perilaku dan ibadahnya bercampur dengan berbagai penyimpangan dan khurafat. Atas dasar inilah agama yang dianut oleh umat manusia terbagi menjadi dua; agama yang hak dan agama yang batil. Agama yang hak merupakan dasar yang meliputi keyakinan-keyakinan yang benar; yang sesuai dengan kenyataan, dan ajaran-ajaran serta hukum-hukumnya dibangun di atas pondasi yang kokoh dan dapat dibuktikan kesahihannya.</p>
<p>Salah satu keistimewaan manusia di atas makhluk lainnya yaitu adanya motivasi fitriyah untuk mengenal hakikat dan mengetahui berbagai realitas. Fitrah ini mulai tampak sejak masa kanak-kanak sampai akhir usianya, yang lebih dikenal juga sebagai rasa ingin tahu (kuriositas). Fitrah ini dapat mendorong seseorang untuk mencari agama yang benar dan memikirkan berbagai persoalan  yang bersangkutan, antara lain:</p>
<p>Apakah ada wujud lain yang bersifat nonmateri dan gaib? Jika memang ada, apakah ada hubungan antara alam gaib dengan alam materi ini? Jika benar terdapat relasi di antara keduanya, apakah wujud nonmateri itu sebagai pencipta alam materi ini? Apakah wujud manusia itu terbatas pada  badan fisikal ini saja? Apakah hidupnya terbatas pada kehidupan di dunia ini? Ataukah ada kehidupan lain? Apabila kehidupan lain itu ada, apakah ada hubungan di antara kehidupan duniawi ini dan kehidupan ukhrawi? Apabila hubungan itu ada, persoalan-persoalan duniawi apakah yang dapat menentukan urusan akhirat? Apakah cara untuk mengetahui tata hidup yang benar, yaitu sistem yang dapat menjamin  kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak? Dan yang terakhir, berupa apakah sistem dan undang-undang tersebut?</p>
<p>Dengan demikian, naluri rasa ingin tahu itu merupakan motivasi utama yang mendorong seseorang untuk mencari berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan agama.</p>
<p>Motivasi kedua yang juga begitu kuat membangkitkan keinginan seseorang untuk mengetahui berbagai hakikat adalah rasa ingin memenuhi berbagai kebutuhan yang ada hubungannya dengan satu atau beberapa fitrah selain fitrah rasa ingin tahu. Berbagai kebutuhannya itu tidak dapat terealisasi kecuali dengan memperoleh pengetahuan tertentu.  Oleh karena itu, berbagai kenikmatan dan kesenangan materi duniawi itu baru akan dapat dicapai dengan cara mengerahkan pikiran dan pengetahuan. Sedangkan pengetahuan empirik seseorang akan sangat membantunya untuk memenuhi berbagai kebutuhannya.  Jika agama itu dapat membantu pula untuk memenuhi segala kebutuhannya dan meraih kesenangan dan keuntungan yang diinginkan serta melindungi dirinya dari bahaya yang mengancamnya, tentunya agama itu pun akan menjadi elemen utama di dalam kebutuhan hidupnya. Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa fitrah mencari keuntungan, kebahagiaan dan rasa aman dari marabahaya,   merupakan pendorong bawaan lainnya untuk mencari agama.  Akan tetapi, mengingat pengetahuan yang berhubungan dengan hal ini banyak sekali, belum lagi syarat-syarat untuk mengetahui semua hakikat itu tidak mungkin dapat terpenuhi, maka sangat mungkin seseorang itu akan memilih masalah dan persoalan yang paling mudah untuk dipecahkan, yang paling banyak keuntungan materinya. Untuk itu, ia akan memilih jalan yang paling dekat untuk sampai kepada tujuan yang diinginkannya dan menghindar dari usaha mencari kebenaran agama,  yang ia yakini bahwa hal itu sangat rumit dan sulit untuk dipecahkan, atau ia meyakini bahwa masalah-masalah agama itu tidak akan mebuahkan hasil yang berarti.</p>
<p>Atas dasar itu, kita dapat mengatakan betapa pentingnya pengaruh masalah-masalah agama. Lebih dari itu, mencari masalah apa pun selain agama tidak akan memiliki nilai sebesar nilai yang dikandung oleh masalah-masalah agama. Kita perhatikan bahwa sebagian ahli Psikologi meyakini bahwa beragama dan beribadah kepada Allah  itu sebenarnya satu kecenderungan fitriyah tersendiri, yang basisnya disebut sebagai rasa beragama. Mereka menempatkan rasa beragama sebagai naluri keempat manusia,  di samping naluri rasa ingin tahu (kuriositika), rasa ingin berbuat baik (etika) dan rasa ingin keindahan (estetika).</p>
<p>Selain mengandalkan bukti-bukti sejarah dan data-data arkeologis, para pakar itu pun menemukan bahwa rasa beragama dan beribadah kepada Allah adalah fenomena yang merata dan umum pada setiap generasi manusia sepanjang sejarah. Fenomena ini adalah bukti kuat bahwa ihwal ber-agama merupakan sebuah naluri dan fitrah manusia. Keumuman naluri beragama ini tidak berarti bahwa hal itu senantiasa ada dan hidup dalam diri setiap orang yang lalu mendorongnya secara sadar kepada tujuan-tujuannya. Akan tetapi, sangat mungkin fitrah itu tertimbun di kedalaman jiwanya lantaran faktor-faktor yang melingkupinya dan pendidikan yang tidak benar, atau ia menyimpang dari jalan yang lurus, sebagaimana hal-hal ini pun -sedikit atau banyak- bisa menimpa naluri dan kecenderungan bawaan lainnya. Berdasarkan pandangan ini dapat kita ketahui bahwa mencari agama merupakan naluri tersendiri pada diri setiap manusia sehinggga tidak perlu lagi menetapkan keberadaannya dengan argumentasi. Tetapi, karena naluri dan kecenderungan semacam itu tidak dapat dirasakan secara langsung, sangat mungkin seseorang akan mengingkari keberadaannya dalam dirinya pada saat ia melakukan perdebatan.</p>
<p><strong>Pentingnya  Mencari  Agama</strong></p>
<p>Dari uraian di atas jelaslah bahwa dorongan naluri untuk mengetahui berbagai hakikat dari satu sisi, dan motifasi untuk meraih keuntungan dan  keamanan dari segala bahaya dari sisi lain,  menjadi alasan kuat seseorang untuk memikirkan dan memperoleh berbagai keyakinan.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika seseorang mengetahui ihwal orang-orang besar dalam sejarah yang mengaku bahwa mereka itu diutus oleh Sang Pencipta alam semesta ini untuk menuntun umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, dan mereka telah mengerahkan segala kemampuan untuk menyampaikan risalah Ilahi  dan memberi petunjuk kepada umat manusia, bahkan mereka siap menanggung berbagai tantangan dan kesulitan, hingga mempertaruhkan nyawa mereka demi tujuan mulia ini, tentunya orang itu –dengan dorongan naluri tersebut– akan tergerak hatinya untuk mencari agama dan melihat sejauh mana kebenaran klaim orang-orang besar itu. Apakah mereka membawa argumentasi yang kuat untuk membela klaim tersebut? Terutama ketika ia mengetahui bahwa dakwah dan risalah para nabi itu memberikan janji kebahagiaan  abadi, di samping peringatan akan adanya siksa yang abadi pula.  Artinya, meyakini dakwah mereka itu mengandung kemungkinan diperolehnya kebahagiaan abadi. Begitu pula, menolak dakwah itu akan mendatangkan kemungkinan yang lain, yaitu kerugian dan kesengsaraan yang abadi pula. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi orang ini untuk acuh tak acuh terhadap agama dan enggan mencari kebenarannya.</p>
<p>Ya, mungkin saja sebagian orang tidak tergerak hatinya untuk mencari agama karena merasa malas dan ingin hidup santai serta suka berleha-leha, atau karena meyakini bahwa agama itu akan  menuntut berbagai aturan dan mencegah mereka dari melakukan apa yang mereka inginkan.  Sesungguhnya orang-orang yang mempunyai pemikiran semacam ini akan ditimpa berbagai akibat buruk kemalasan  dan kecongkakannya itu.  Lebih dari itu, mereka pun terancam azab yang abadi. Orang-orang seperti ini lebih dungu dan jahil dari anak kecil yang sakit yang menolak diajak berobat ke dokter lantaran takut untuk minum obat yang pahit, sementara kematian telah mengancam dirinya. Hal ini terjadi karena anak kecil tersebut belum mencapai tingkat kesadaran yang dapat membedakan mana yang berguna dan mana yang berbahaya untuk dirinya. Selain itu, menolak anjuran dokter tidak akan berakibat apa-apa selain kehilangan sejenak rasa senang dalam hidupnya di dunia. Sedangkan orang-orang yang telah  mencapai usia dewasa dan berakal mempunyai kemampuan untuk berfikir dan membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak untuk dirinya, serta dapat menimbang antara kenikmatan temporal dan azab yang abadi.</p>
<p><strong>Sebuah Keraguan</strong></p>
<p>Barangkali ada sebagian orang yang enggan untuk berfikir dan mencari agama dengan alasan sebagai berikut: bahwa sepatutnya energi dan waktu ini dikerahkan untuk mengatasi hal-hal yang mungkin dapat diatasi oleh seseorang dan hasilnya pun dapat diharapkan secara nyata. Harapan dan kemungkinan seperti ini tidak akan didapati dalam upaya mencari agama dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Dengan demikian, alangkah baiknya jika tenaga dan wak-tu ini  dikerahkan untuk usaha-usaha yang dapat memberikan keberhasilan lebih banyak daripada harus mencari dan membahas masalah-masalah agama yang belum jelas hasilnya  itu.</p>
<p><strong>Jawaban atas kritik tersebut adalah</strong></p>
<p>Pertama : Bahwa adanya kemungkinan dan harapan akan teratasinya masalah-masalah agama itu tidak lebih kecil daripada kemungkinan dan harapan akan teratasinya masalah-masalah yang bersifat ilmiah.  Kita telah mengetahui  bahwa  masalah-masalah ilmiah itu baru akan menuai hasil setelah puluhan tahun lamanya; setelah para ilmuwan mengerahkan segala upaya mereka dalam mengatasi  hal ini.</p>
<p>Kedua:  Sesungguhnya nilai sebuah kemungkinan itu tidak diukur oleh satu indikasi saja, yaitu  kuantitas kemungkinan (qordul ihtimal). Tetapi, ada indikasi kemungkinan lain yang patut dipertimbangkan, yaitu kualitas hal yang dimung-kinkan (qodrul muhtamal). Misalnya, jika kemungkinan adanya keuntungan dalam suatu usaha itu sebesar 5 %, sedang  dalam usaha lainya sebesar 10 %, tetapi jumlah keuntungan yang dimungkinkan dan yang bisa diharapkan dari usaha pertama itu sebesar 1000 rupiah, sementara keuntungan dari usaha yang kedua hanya sebesar 100 rupiah saja, maka usaha yang pertama itu lebih menguntungkan lima kali lipat dibandingkan dengan usaha yang kedua tersebut, padahal tingkat kemungkinan usaha yang pertama itu hanya 5 % saja yaitu separuh dari tingkat kemungkinan yang terdapat pada usaha yang kedua.  Hal ini disebabkan pentingnya derajat dan nilai objek yang dimungkinkan.</p>
<p>Mengingat bahwa keuntungan yang dimungkinkan yang dapat diperoleh dari mencari agama itu tidak terbatas besarnya, tetapi -meski  tingkat kemungkinan untuk memperoleh hasilnya itu lebih kecil-  besarnya nilai dan pentingnya sebuah pencarian dan pengerahan tenaga dalam usaha ini jauh mengungguli nilai pencarian usaha-usaha  apapun yang hasilnya sedikit dan terbatas.</p>
<p>Sesungguhnya seseorang itu baru akan menyadari tidak perlunya mencari agama manakala ia merasa yakin bahwa  agama yang dicarinya itu adalah batil dan telah menyimpang, atau ia merasa yakin bahwa masalah-masalah agama itu tidak mungkin dapat diselesaikan. Persoalannya, dari mana keya-kinan terhadap batilnya sebuah agama itu dapat  diperoleh jika tanpa penelitian dan pencarian? [www.wisdoms4all.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/motivasi-mencari-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah2 Menuju Agama (1): Manusia Makhluk Pencari Kesempurnaan</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/manusia-makhluk-pencari-kesempurnaan/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/manusia-makhluk-pencari-kesempurnaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 05:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita amati berbagai motif yang ada dalam jiwa manusia dan kecenderungan-kecenderungannya, kita akan temukan bahwa kebanyakan motif utama tersebut adalah keinginan untuk meraih kesempurnaan dan menghindari berbagai kekurangan. Kita tidak akan menemukan seorang pun yang menyukai kekurangan pada dirinya. Manusia senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan berbagai cela dan cacat yang terdapat pada dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/allah_g.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-564" title="allah_g" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/11/allah_g-300x221.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita amati berbagai motif yang ada dalam jiwa manusia dan kecenderungan-kecenderungannya, kita akan temukan bahwa kebanyakan motif utama tersebut adalah keinginan untuk meraih kesempurnaan dan menghindari berbagai kekurangan. Kita tidak akan menemukan seorang pun yang menyukai kekurangan pada dirinya. Manusia senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan berbagai cela dan cacat yang terdapat pada dirinya sampai ia dapat mencapai kesempurnaan yang diinginkan. Sebelum menghilangkan segala kekurangannya itu, ia berusaha sedapat mungkin untuk menutupinya dari pandangan orang lain. Apabila motif ini berjalan sesuai dengan nalurinya yang sehat, ia akan meningkatkan kesempurnaannya, baik yang bersifat materi maupun maknawi. Namun, bila motif ini menyimpang dari jalannya yang normal –lantaran faktor-faktor dan kondisi tertentu– justru akan melahirkan berbagai sifat buruk seperti congkak, sombong, riya’, dll.</p>
<p>Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa rasa ingin sempurna merupakan faktor yang kuat di dalam jiwa setiap manusia. Tetapi biasanya faktor itu terefleksikan dalam sikap nyata yang dapat menarik perhatian. Kalau saja direnungkan sejenak, kita akan dapat mengetahui bahwa sesungguhnya dasar dan sumber berbagai sikap lahiriah itu adalah cinta kepada kesempurnaan.</p>
<p><strong>Akal sebagai Kesempurnaan Manusia</strong></p>
<p>Sesungguhnya proses perkembangan dan kesempurnaan pada tumbuhan itu bersifat pasti, niscaya dan terpaksa. Karena tumbuhan itu tunduk kepada berbagai faktor dan kondisi yang ada di luar diri mereka. Sebuah pohon tidak tumbuh dengan kehendaknya sendiri, ia tidak menghasilkan buah-buahan sesuai dengan kehendaknya, karena tumbuhan tidak memiliki perasaan dan kehendak. Berbeda halnya dengan binatang; ia mempunyai kehendak dan ikhtiar dalam menempuh kesempurnaannya. Tetapi kehendak dan ikhtiarnya itu timbul dari naluri hewani semata, dimana proses dan aktivitasnya terbatas hanya pada kebutuhan-kebutuhan alamiahnya saja dan atas dasar perasaan yang sempit dan terbatas dengan kadar indra hewaninya.</p>
<p>Lain halnya dengan manusia, di samping memiliki segala kelebihan yang dimiliki tumbuhan dan binatang, ia pun memiliki dua keistimewaan lainnya yang bersifat ruhani. Dari satu sisi, keinginan fitriyahnya tidak dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan alami dan material, dan dari sisi lain ia memiliki kekuatan akal yang dapat memperluas pengetahuannya sampai pada dimensi-dimensi yang tak terbatas. Keistimewaan inilah yang membuat kehendak manusia itu dapat melampaui batasan-batasan materi yang sempit, bahkan ia dapat terus bergerak ke satu tujuan yang tak terbatas.</p>
<p>Sebagaimana kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuhan itu bisa berkembang dengan perantara potensinya yang khas, juga kesempurnaan yang dimiliki oleh binatang itu dapat dicapai dengan kehendaknya yang muncul dari naluri dan pengetahuannya yang bersifat indrawi, demikian pula halnya dengan manusia. Kesempurnaan khas manusia pada hakikatnya terletak pada kesempurnaan ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan-arahan akalnya yang sehat, yaitu akal yang telah mengenal berbagai tujuan dan pandangan yang benar. Ketika ia dihadapkan pada berbagai pilihan, akalnya akan memilih sesuatu yang lebih utama dan lebih penting.</p>
<p>Dari sini dapat kita ketahui bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya dibentuk oleh kehendak yang muncul dari kecenderungan-kecenderngan dan keinginan-keinginan yang hanya dimiliki oleh manusia dan atas dasar pengarahan akal. Adapun perbuatan yang dilakukan karena motif hewani semata-mata adalah perbuatan yang -tentunya- bersifat hewani pula, sebagaimana gerak yang timbul dari kekuatan mekanik dalam tubuh manusia merupakan sebuah gerak fisik semata-mata.</p>
<p><strong>Hukum Praktis merupakan Landasan Teoritis</strong></p>
<p>Perbuatan yang disengaja (ihktiyari) merupakan sarana untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dan nilai hasil yang diharapkan itu bergantung kepada kualitas tujuannya dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kesempurnaan ruh. Begitu pula, jika perbuatan sengaja itu kehilangan sisi kesempurnaan ruhnya, ia akan membuahkan hasil yang negatif.</p>
<p>Dengan demikian, akal baru akan dapat memberikan penilaian terhadap perbuatan sengaja, apabila ia telah mengetahui jenjang-jenjang kesempurnaan manusia, hakikat wujudnya, dimensi-dimensi yang melingkupi kehidupannya dan jenjang kesempurnaan yang mungkin dapat dicapai olehnya. Artinya, akal harus mengetahui dimensi-dimensi wujud manusia dan tujuan penciptaannya. Oleh karena itu, akal tidak dapat menggunakan ideologi yang benar (nilai-nilai moral yang mengatur perbuatan sengaja) dengan baik, kecuali jika ia mempunyai pandangan yang benar mengenai penciptaan alam semesta dan dapat memecahkan berbagai persoalan yang berhubungan dengannya.</p>
<p>Jika akal tidak dapat memecahkan persoalan-persoalan di atas, ia tidak mungkin dapat menentukan nilai perbuatan tersebut secara pasti. Begitupula, jika akal tidak mengetahui tujuan hidup, ia tidak akan dapat menentukan jalan yang semestinya ditempuh demi tujuan tersebut. Jadi, pengetahuan akan dasar-dasar teoritis dari pandangan dunia merupakan landasan utama bagi nilai-nilai moral dan hukum-hukum praktis akal.</p>
<p><strong>Konklusi</strong></p>
<p>Berdasarkan premis-premis di atas tadi, kita dapat membuktikan pentingnya usaha mencari agama dan mengerahkan segenap kemampuan untuk menemukan ideologi dan keyakinan yang benar melalui argumentasi berikut ini:</p>
<p>Bahwa secara fitriyah, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berusaha menemukan kesempurnaan insaninya dengan melakukan berbagai perbuatan. Tetapi, untuk memilih perbuatan-perbuatan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan yang diinginkan, terlebih dahulu ia harus mengetahui puncak kesempurnaannya. Puncak kesempurnaan ini hanya dapat diketahui manakala ia telah mengenal hakikat dirinya, awal dan akhir perjalanan hidup-nya. Kemudian ia pun harus mengetahui adanya hubungan –baik positif maupun negatif– di antara berbagai perbuatan dengan aneka-ragam jenjang kesempurnaan, sehingga ia dapat menemukan jalannya yang tepat. Selama ia belum mengetahui dasar-dasar teoritis pandangan dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan sistem nilai dan ideologi yang benar.</p>
<p>Dengan demikian, betapa pentingnya usaha mencari dan mengenal agama yang hak yang mencakup ideologi dan pandangan dunia yang benar. Karena jika tidak demikian, seseorang tidak akan dapat mencapai kesempurnaannya yang hakiki. Dan setiap perbuatan yang dilakukan tidak atas dasar nilai-nilai moral dan dasar-dasar pengetahuan semacam itu, tidak bisa dianggap sebagai perbuatan insani. Mereka yang malas dan enggan mencari agama yang benar, atau mereka yang mengetahui kebenaran namun mengingkarinya dan membelot dari jalannya dengan cara menentangnya dan tunduk sepenuhnya kepada kepentingan hewani dan kenikmatan duniawi yang semu, pada hakikatnya adalah binatang belaka.[www.wisdoms4all.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/11/13/manusia-makhluk-pencari-kesempurnaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Kosmologi</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 22:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[kosmologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Agama dan Kosmologi Kosmologi yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini bisa dibangun?  Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan masalah-masalah prinsipal kosmologis?  Dimanakah posisi tasawwuf dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?  Artikel  ini akan menjawabnya dengan penjelasan  yang lugas dan sesederhana mungkin. Definisi Agama Bicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Agama dan        Kosmologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/multiverse.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-483" title="multiverse" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/multiverse-300x243.jpg" alt="" width="300" height="243" /></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi        yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan        beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini        bisa dibangun?  Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan        masalah-masalah prinsipal kosmologis?  Dimanakah posisi tasawwuf        dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?  Artikel  ini        akan menjawabnya dengan penjelasan  yang lugas dan sesederhana        mungkin.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Definisi Agama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bicara soal agama, tidak bisa        tidak kita harus memahami terlebih dahulu devinisi agama.  Dalam        bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara bahasa berarti ketataan,        pahala dsb.  Dalam istilah, Din berarti  keyakinan kepada Sang        Pencipta manusia dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesuai        dengan keyakinan ini.  Atas dasar ini orang yang tidak meyakini        adanya Sang Pencita dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai        kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural        disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis).  Sebalik orang         yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang        beragama, sekalipun keyakinannya atau ritus-ritus agamanya mengalami        penyimpangan dan khurafat.  Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak        dan batil.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama        yang hak adalah agama yang mengandung keyakinan yang sesuai dengan        kenyataan serta membawa petunjuk kepada perilaku-perilaku yang memiliki        jaminan yang valid untuk menggapai kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ushul        dan Furu’</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dengan pengertian terminologis agama        tadi jelaslah bahwa agama setidaknya terdiri dari dua elemen.         <em>Pertama</em>, akidah atau keyakinan-keyakinan yang dilandasi dengan        prinsip dan dasar yang valid.   <em>Kedua</em>, hukum atau        perintah-perintah amaliah yang sesuai dengan dasar-dasar        akidah.   Dengan demikian, tepatlah kiranya jika elemen akidah        setiap agama disebut ‘ushul’  (pokok-pokok) sedangkan elemen hukum        amaliahnya disebut furu’ (cabang).  Dua istilah ini oleh para ulama        Islam juga lazim disebut akidah Islam dan hukum Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi dan        Ideologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Istilah kosmologi dan ideologi        artinya tak jauh berbeda satu dengan yang lain.   Arti kosmologi        antara lain ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang        tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai        ‘ke-ada-an’ (wujud).  Sedangkan arti ideologi antara lain ialah        serangkaian pandangan universal yang tersistematis mengenai perilaku        manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai        dua pengertian ini bisa dikatakan bahwa rangkaian akidah dan ushul setiap        agama adalah kosmologi agama ini sendiri, sementara sistem universal        hukum-hukum amaliahnya adalah ideologinya, dan keduanya diterapkan sesuai        ushul dan furu’ agama ini.  Patut diingat bahwa istilah ideologi        tidak mencakup hukum-hukum parsial sebagaimana kosmologi juga tidak        mencakup keyakinan-keyakinan parsial.  Selain itu, kata ideologi juga        sering diterapkan pada pengertian umum yang mencakup        kosmologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kosmologi Teisme dan Kosmologi        Materialisme </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Di tengah umat manusia terdapat aneka        ragam kosmologi.  Toh demikian, dengan pertimbangan diterima atau        tidaknya alam immateri atau supranatural semuanya bisa dibagi dalam        dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme.         Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis),        sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Ada banyak paham yang        membidani lahirnya materialisme, dan diantaranya yang paling kesohor ialah        Materialisme Dialektik yang menjadi elemen filosofis ajaran        Marxisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari        keterangan di atas jelas bahwa penerapan istilah kosmologi lebih luas        daripada istilah keyakinan atau akidah agama, karena kosmologi juga        meliputi paham-paham ateisme dan materialisme sedangkan akidah agama tidak        mencakupnya.  Ini serupa dengan istilah ideologi yang sebenarnya        hanya mencakup rangkaian hukum-hukum agama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Agama Samawi dan        Ushulnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Tentang proses munculnya berbagai        agama para ahli sejarah agama dan sosiolog berbeda pendapat.  Namun,        berdasarkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks keislaman (nash), agama        muncul sejak manusia itu ada.  Manusia pertama adalah Nabi Adam as        yang merupakan nabi penyeru Tauhid (monoteisme), sedangkan keberadaan        agama–agama yang mengandung paham-paham syirik (politeisme) tak lain        adalah akibat penyelewengan, distorsi, dan tendensi-tendensi individual        maupun kelompok.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama-agama monoteisme yang merupakan        agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang        kolektif.  <em>Pertama</em>, keyakinan kepada Tuhan Yang Esa.        <em>Kedua</em>, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia        di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika        hidup di alam dunia.  <em>Ketiga</em>, keyakinan kepada        pengutusan  para Nabi oleh Allah SWT untuk menuntun umat manusia        kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga        prinsip ini pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan        fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak yaitu, apa dan siapakah        kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini?  Apakah akhir        dari kehidupan ini?  Dan apakah yang bisa dijadikan sebagai jalur        terbaik untuk menjalani program hidup?  Adapun kandungan program yang        dapat dipelajari dari jalur wahyu yang terjamin kebenarannya tak lain        ialah ideologi religius yang terbangun berlandaskan kosmologi        teisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan-keyakinan prinsipal        memiliki berbagai konsekwensi, korelasi, akses, dan rincian-rincian yang        keseluruhannya membentuk konsetalasi keyakinan religius.         Perselisihan dalam hal-hal inilah yang menumbuh-biakkan berbagai aliran        keagamaan, mazhab, dan sekte.  Perselisihan mengenai status kenabian        sebagian nabi serta penentuan kitab suci yang valid, misalnya, telah        memicu perselisihan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam.         Perselisihan ini kemudian membawa akses berupa perselisihan-perselihan        lain dalam keyakinan dan tradisi yang sebagian diantaranya tidak sejalan        dengan keyakinan-keyakinan prinsipal.  Contohnya adalah keyakinan        trinitas dalam agama Kristen yang jelas-jelas berseberangan dengan paham        monoteisme, walaupun umat Kristiani tetap berusaha mengemas keyakinan        trinitas ini dengan penjelasan-penjelasannya sendiri.  Dalam        Islampun, umat Nabi Besar Muhammad saww juga terpecah menjadi Ahlussunnah        dan Syiah akibat perselisihan mengenai mekanisme penentuan para pengganti        Rasul saww.  Syiah meyakini bahwa yang berhak menentukannya hanyalah        Allah SWT, sementara Ahlussunnah meyakini bahwa yang menentukannya adalah        umat Islam sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil,        Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan adalah keyakinan yang paling        fundamental dan prinsipal dalam semua ajaran agama        samawi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masalah Masalah Prinsipal        Kosmologis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Ketika manusia berniat memecahkan        berbagai persoalan fundamental kosmologis dan mengenal ushuluddin yang        benar, pertanyaan yang pertama kali mencuat ialah apakah jalan pemecahan        masalah-masalah ini?  Bagaimanakah pengetahuan-pengetahuan yang        fundamental bisa diserap dengan benar? Di tengah berbagai metode yang ada,        metode manakah yang valid untuk memperoleh pengatahuan-pengetahuan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua        pertanyaan ini dibahas secara rinci dalam epistemologi, yaitu satu        disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan        metode penalaran manusia dalam memperoleh pengetahuan.  Kita di sini        akan membicarakan masalah ini sekadarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbagai Jenis        Pengetahuan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dari satu aspek tertentu        pengetahuan-pengetahuan manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat        kategori:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, pengetahuan empiris. Pengetahuan        ini diperoleh manusia dengan mengandalkan organ-organ inderawi, kendati        akal juga berperan dalam eksepsi dan generalisasi pengetahuan-pengetahuan        empiris.  Pengetahuan empiris difungsikan dalam ilmu-ilmu empiris        semisal kimia, fisika, dan biologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, pengetahuan rasional.         Pengetahuan ini dibentuk oleh konsepsi-konsepsi yang diserap oleh akal        pikiran.  Dalam pengetahuan ini peranan akal sangat fundamental        kendati adakalanya persepsi-persepsi empiris masih digunakan sebagai        sumber serapan konsepsi atau digunakan sebagai bagian dari premis dalam        silogisme.  Ruang gerak pengetahuan ini meliputi ilmu logika, ilmu        filsafat, dan ilmu matematika.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>,  pengetahuan yang diterima        begitu saja (<em>ta’abbudi)</em>.  Pengetahuan ini memiliki aspek        sekunder dengan pengertian bahwa ilmu ini didapat berdasarkan        pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah dibuktikan sebagai sumber        yang valid dan punya otoritas. Dengan kata lain pengetahuan ini diperoleh        dari berita yang disampaikan oleh pembawa kabar yang terbukti bisa        dipercaya. Contoh kongretnya adalah pengetahuan yang diperoleh para        penganut agama dari pemuka agamanya.  Pengetahuan ini adakalanya        membentuk keyakinan yang jauh lebih kuat daripada keyakinan-keyakinan yang        diperolehnya dari pengalaman-pengalaman empiris.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat,        pengetahuan intuitif (<em>syuhudi</em>).  Tak seperti  tiga        kategori pengetahuan di atas, pengetahuan ini bersentuhan langsung dengan        obyeknya tanpa perantara gambaran subyetif.  Karena itu, ilmu atau        pengetahuan ini tidak mungkin salah.  Namun demikian, biasanya apa        diklaim sebagai ilmu syuhudi atau irfani pada hakikatnya adalah        interpretasi subyektif dari sesuatu yang telah disaksikan.         Interpretasi inilah yang bisa salah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbagai Jenis        Kosmologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Berdasarkan klasifikasi di atas,        kosmologi bisa dibagi dalam empat bagian sebagai  berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, kosmologi ilmiah.  Maksudnya        ialah manusia membangun kosmologi universalnya mengenai alam semesta        berdasarkan hasil-hasil ilmu pengetahuan empiris.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, kosmologi filosofis yang dicapai        melalui proses argumentasi-argumentasi rasional.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, kosmologi yang diperoleh melalui        keimanan kepada para pemimpin agama sehingga semua kata-kata mereka        diyakini sebagai kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>, kosmologi irfani yang diperoleh        melalui jalur intuisi atau <em>mukasyafah, syuhud, dan isyraq</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya sekarang ialah apakah        semua masalah fundamental kosmologis bisa dipecahkan secara seimbang        melalui semua bagian kosmologi di atas?  Ataukah ada satu diantaranya        yang harus diprioritaskan atas yang lain?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Evaluasi dan Tinjauan        Kritis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Seperti diketahui, ruang gerak        pengetahuan empiris hanya terbatas pada fenomena-fenomena alam materi.        Maka dari itu, hasil-hasil ilmu empiris tidak bisa mengenal        fondasi-fondasi kosmologi dan menyelesaikan masalah-masalah kosmologis        yang letaknya berada di luar peta ilmu pengetahuan empiris.  Ilmu        empiris tidak bisa mengisbatkan atau menafikannya. Hasil-hasil riset di        laboratorium, misalnya, tidak akan bisa mengkonfirmasikan atau menolak        keberadaan Tuhan.  Ini tak lain karena pengalaman empiris sama sekali        tidak akan bisa menjangkau alam immateri dan oleh sebab itu pengalaman ini        jelas tidak akan bisa mengisbatkan atau menafikan sesuatu yang berada di        luar zona alam materi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan        demikian, kosmologi empiris lebih menyerupai fatamorgana.  Karenanya,        kata-kata ‘kosmologi’ dalam pengertian yang sebenarnya tidak bisa        diterapkan pada pandangan-pandangan universal empiris.  Kita hanya        bisa menyebutnya sebagai  Ilmu Pengetahuan Alam Materi.  Jadi,        ilmu ini tidak akan bisa menjawab berbagai persoalan prinsipal menyangkut        kosmologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengetahuan-pengetahuan         ta’abbudi juga demikian.  Sebagaimana yang dijelaskan tadi,        pengetahuan ta’abbudi bersifat sekunder dalam pengertian bahwa pengetahuan        ini bisa diyakini setelah sumbernya bisa dibuktikan valid        sebelumnya.  Jadi, sebelumnya harus bisa dibuktikan kenabian        seseorang yang menjadi nara sumber pengetahuan itu.  Sebelum ini pun        harus pula dibuktikan keberadaan Tuhan, Zat yang mengutus nabi untuk        membawa kabar (baca: pengetahuan).  Dan keberadaan Pengutus nabi        serta kenabian orang yang diutus-Nya jelas tidak bisa dibuktikan dengan        pesan (baca: pengetahuan) yang dibawa oleh nabi.  Misalnya,        keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan dengan pernyataan        Al-Quran:“Tuhan itu ada”. Dengan demikian, metode ta’abbudi juga tidak        bisa menyelesaikan masalah-masalah prinsipal kosmologis.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun        berkenaan dengan motode irfani, syuhudi, intiusi, atau yang juga disebut        mistis kita perlu memberikan penjelasan secara agak detail melalui        beberapa poin sbb:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>,  Kosmologi adalah pengetahuan        yang terdiri dari konsepsi-konsepsi subyektif (<em>mafahim dzihniah</em>),        sementara dalam intuisi sama sekali tidak ada <em>mafahim        dzihniah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, untuk menjelaskan dan        menginterpretasi apa yang diketahui seseorang dengan jalan intuisi        sangatlah memerlukan kepiawaian yang besar dalam berpikir, dan ini tidak        akan bisa dicapai kecuali dengan latar belakang jerih payah berpikir dan        analisis-analisis filosofis yang panjang.  Jika tidak, maka seseorang        yang mengalami intuisi akan terjebak pada penggunaan kata-kata yang ambigu        sehingga bisa menjadi penyebab timbulnya kesesatan dan        penyelewenangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, dalam banyak kasus, hakikat yang        diketahui seseorang melalui intuisi bisa mengundang kebingungan bagi orang        ini sendiri manakala dia mencoba memberikan refleksi dan interpretasi        subyektif.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>, diketahuinya hakikat-hakikat yang        setelah diinterpretasikan oleh pikiran bisa kita sebut kosmologi        bergantung kepada proses penempuhan jalan suluk, sedangkan penerimaan        metode suluk ini sendiri juga memerlukan teori-teori dasar dan        masalah-masalah prinsipal dalam kosmologi.  Jadi, masalah-masalah ini        harus terpecahkan terlebih dahulu sebelum dimulai perjalanan suluk,        sedangkan pengetahuan-pengetahuan intiusi berada pada tahap yang paling        akhir. Suluk, irfan, atau yang disebut tasawwuf hanya akan bisa dialami        oleh seseorang jika dia benar-benar ikhlas berusaha menempuh jalan Allah        SWT,  dan usaha ini hanya bisa ditempuh oleh yang orang yang memiliki        pengetahuan sebelumnya tentang Allah dan jalan pengabdian        kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah        semua metode di atas terbukti tidak bisa difungsikan dalam penyelesaian        masalah-masalah prinsipal kosmologis, maka tinggallah satu jalan yang bisa        dijadikan alternatif, dan itu ialah jalan penalaran rasional.  Dengan        begitu, maka kosmologi yang yang valid dan realistis ialah kosmologi        filosofis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguhpun demikian, ini bukan        berarti bahwa untuk menemukan kosmologi  yang benar semua        persoalan-persoalan filosofis harus bisa dipecahkan.  Sebaliknya,        pemecahan beberapa persoalan filosofis yang sederhana dan mendekati        aksiomatis sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang merupakan        masalah yang paling fundamental dalam kosmologi.  Selain itu,        menjadikan metode penalaran rasional (<em>ta’aqqul</em>)  sebagai        satu-satunya alternatif  bukan berarti bahwa  metode-metode lain        tidak bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kosmologis,        karena banyak sekali argumentasi-argumentasi rasional yang bisa        dikemukakan melalui premis-premis yang didapat dari ilmu-ilmu empiris dsb.        (Artikel ini disadur dari buku Amuzashe Aqaid yang ditulis  Ayatullah        Misbah Yazdi untuk para pemula pelajar akidah.)</p>
<p style="text-align: justify;">sumber irib</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/23/agama-dan-kosmologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/22/ilmu/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/22/ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 23:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ibnu Husein al Hadi Sesuai  dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu yang bernama ilmu. Tetapi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Oleh Ibnu Husein al Hadi </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/ilmu2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-476" title="ilmu2" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/ilmu2-300x240.jpg" alt="" width="258" height="206" /></a>Sesuai  dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu yang bernama ilmu. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah ilmu itu sebenarnya? Lebih dalamnya lagi, apakah hakikat ilmu itu sebenarnya? Kemudian bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut? dan apa konsekuensi yang muncul setelah mendapatkan ilmu tersebut? Apa yang akan dicapai manusia dengan ilmu yang telah diperolehnya? dan pertanyaan terakhir adalah, buah ilmu yang sebenarnya itu apa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu dicari jawabannya oleh setiap manusia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ilmu dan hakikat ilmu </strong><br />
Jikalau kita ingin mengetahui sesuatu, maka yang pertama kali harus kita lakukan  adalah menganalisa objek yang ingin kita ketahui tersebut, mulai dari keberadaannya, sifat-sifat yang disandangnya, keistimewaan dan kekurangannya, dan begitu seterusnya sampai pada pertanyaan terakhir apakah buah yang dapat dihasilkan oleh pengetahuan terhadap objek tersebut. Adalah sesuatu yang pasti bahwasanya hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan dapat di lakukan oleh setiap manusia, hanya mereka yang mencintai pengetahuan serta mau berjalan seiring dengan kodrat yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa pada dirinya, dan yang mau menggerakkan fasilitas kodrat tersebut sebagai jalan untuk mencapai hakikat sajalah yang dapat melakukannya, sehingga pada akhirnya proses tersebut dapat mengantarkannya kepada kebahagian dunia dan akhiratnya kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita beranjak dari pertanyaan yang pertama, apakah ilmu itu, dengan kata lain apakah hakikat ilmu itu? Untuk menjawab pertanyaan pertama ini, kita membutuhkan kepada beberapa analisa masalah. Jika kita menengok kembali peradaban manusia mulai dari Nabi Adam as hingga sekarang, maka kita akan menemukan begitu banyak persepektif tentang ilmu dari para ilmuwan yang hidup sepanjang sejarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari siapakah ilmuwan tersebut, sebagian mereka mengungkapkan bahwa ilmu adalah kebisaan seseorang untuk melakukan suatu hal, sebagian yang lain menyatakan bahwa ilmu adalah suatu kekuatan yang dapat mengantarkan manusia pada tujuannya dan sebagian lagi meyakini bahwa ilmu adalah ruh yang dapat menghidupkan manusia. Masih banyak lagi persepektif lainnya tentang definisi ilmu tersebut, sampai pada masa kejayaan Yunani kuno, di mana kejayaan tersebut berhasil menembus dunia Islam yang pada akhirnya melahirkan tokoh-tokoh filosof ternama.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila kita masuk kepada wilayah filosofis, yang mana akar-akar pemikirannya banyak bergantung pada akal murni (Logical Knowledge), maka di situpun kita akan menemukan berbagai persepektif dalam mendefinisikan ilmu yang satu sama lain berbeda. Namun sampai sekarang ini kalau kita kembali merujuk pada buku-buku logika, maka kita akan menemukan definisi yang kurang lebih baku tentang ilmu, definisi tersebut mengatakan ilmu yaitu hadirnya suatu gambaran ke dalam benak manusia, akan tetapi definisi ini masih bisa kita diskusikan dan kita pertanyakan kembali, apakah gambaran yang masuk ke dalam benak manusia itu merupakan hakikat ilmu itu sendiri, atau hanya sekedar bentuk dzhohirinya ilmu saja?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalu kita melihat literatur khazanah Islam, maka di situ kita akan menemukan bahwa Islam itu sendiri membagi ilmu menjadi dua bagian, yaitu ada hakikat (asli), dengan kata lain dzat ilmu itu sendiri, dan ada pula dzohir atupun far&#8217;i (cabang), nah jika yang dimaksud hadirnya gambaran sesuatu di atas tadi adalah hakikat ilmu itu sendiri, maka konsekuensinya adalah gambaran yang masuk ke benak tadi akan membawa manusia tersebut kepada kesempurnaan maknawi, yang mana kesempurnaan tersebut dapat diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan manusia. Akan tetapi kita menemukan begitu banyak maklumat yang masuk ke benak manusia, yang saking  banyaknya sampai-sampai tidak dapat kita hitung dengan angka nominal, tetapi gambaran (ilmu) tersebut tidak bisa mengantarkan manusia kepada kesempurnaan, bahkan sebaliknya gambaran (ilmu) tersebut justru mengantarkan manusia pada jurang kehancuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa gambaran yang masuk ke dalam benak manusia bukanlah hakikat ataupun dzat ilmu,  melainkan bentuk dzohiri ataupun kulit ilmu  itu sendiri, karena Islam menjelaskan bahwa ilmu memiliki jauhar (substansi), dan jauhar tersebutlah yang memberi arti pada ilmu sehingga manusia dengan ilmunya dapat menjadi manusia seutuhnya yang dapat berbakti pada sesama manusia dan meyampaikannya pada puncak kesempurnaan. Apabila jauhar tadi hilang, maka ilmu tersebut tidaklah berarti lagi dan tidak ada bedanya dengan kebodohan, sebagaimana Imam Ali (as) menjelaskan hal ini dalam kata mutiara beliau:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Berapa banyak orang alim, akan tetapi kebodohannya telah membunuhnya dan ilmu yang bersamanya tidaklah bermanfaat sama sekali&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari pernyataan beliau bisa kita ambil kesimpulan bahwa ilmu adalah sesuatu dan hakikat ilmu sesuatu yang lain. Akan tetapi apabila manusia dapat mengaplikasikan kulit atau gambaran ilmu tersebut dengan baik maka melalui sebuah proses maknawiah, manusia tersebut akan sampai kepada hakikat ilmu, sekarang apa sebenarnya hakikat ilmu itu? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah menuntut ilmu puluhan tahun bahkan seumur hidup tapi yang di dapat hanya kulitnya dan sama sekali tidak pernah merasakan intisarinya!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hakikat dan buah ilmu dalam perspektif Islam</strong><br />
Untuk mendapatkan definisi ilmu yang hakiki, maka kita harus merujuk pada Sohib hakikat yang mengetahui dzohir dan batinnya segala sesuatu, yang ilmunya tidak akan pernah salah dan tidak terbatas, karena jika kita mengkaji ilmu mantiq (logika) kita akan menemukan bahwa sampai saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti, tidak ada satu manusiapun baik ia pakar logika ataupun filosof yang dapat mendefinisikan sesuatu dengan definisi yang hakiki kecuali para manusia suci yang merupakan pengejawantahan ilmu Ilahi. Hal ini tidak lain dikarenakan keterbatasan manusia dalam pengetahuan, oleh karena itulah mereka membuat suatu konsep dengan berbagai penjelasan dan perinciannya yang sesuai dengan daya faham yang mereka miliki dan tidak lebih dari itu! Jika kita kembali pada nas (baik itu ayat ataupun riwayat), maka kita akan menemukan definisi hakiki dari ilmu itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita sering mendengar hadis dari Rasulullah saww yang mana beliau bersabda:  <em>&#8220;Ilmu adalah cahaya yang Allah swt letakkan di hati hamba-Nya yang Ia iginkan.&#8221; </em></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi hakikat ilmu menurut paling sempurnanya manusia di alam jagat raya ini adalah sebuah cahaya dan bukan gambaran sesuatu yang masuk ke dalam benak manusia, sebagimana kita ketahui bahwa cahaya adalah suatu zat yang suci, dan hal yang suci tidak akan bertemu dengan dengan sesuatu yang kotor, oleh karena itu dalam proses penerimaan cahaya diperlukan tata cara yang khusus dan tidak semua orang mempunyai potensi untuk hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun gambaran-gambaran yang masuk ke dalam benak manusia merupakan salah satu perantara untuk menerima cahaya tersebut, yang kemudian gambaran-gambaran tersebut direnungkan dan difahami serta diamalkan dengan baik dan ikhlas sehingga pada akhirnya sampai pada cahaya itu sendiri, jikalau gambaran-gambaran yang masuk ke benak manusia adalah hakikat ilmu itu sendiri maka kita tidak akan menemukan kefasadan (kerusakan) serta kehancuran di muka bumi ini, akan tetapi sangat disayangkan bahwa mayoritas manusia hanya bisa mengambil gambaran ilmu tersebut tanpa bisa merealisasikannya hingga menjadi cahaya kesempurnaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sinilah kita harus bisa menerima realitas dan janganlah kita terkejut jikalau kita menemukan manusia yang bertahun-tahun menuntut ilmu, bahkan sampai orang terkagum-kagum dengan hasil penemuannya, dan mereka mampu menciptakan berbagai teori yang manusia di zamannya tidak dapat mencernanya dengan baik, akan tetapi perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma kemanusian, dengan berbagai macam teori dan konsep yang ia ketahui ia berani melanggar ketetapan-ketetapan agama, bahkan sampai berani mengorbankan status sosialnya hanya karena ingin mencapai tujuan dan manfaat pribadinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi yang lebih memprihatinkan kita adalah, realitas tersebut justru menimpa mereka yang memiliki status sebagai pelajar agama, mereka yang memiliki peran begitu besar untuk membangun kondisi spiritualitas bangsa dan negara, kehadiran mereka sebagai pelita-pelita yang dapat menerangi kegelapan, kemanapun mereka pergi maka di situ akan terpancarkan cahaya sehingga manusia yang ada di sekitarnya tidak lagi merasa kegelapan dan pada akhirnya mereka dapat menyampaikan manusia yang berada di sekelilingnya tersebut pada tujuan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi apa daya dan upaya kita, ternyata realitas berbicara lain, kita melihat dan menemukan dengan mata kepala kita sendiri bahwa begitu banyak orang-orang yang mengaku sebagai pecinta ilmu dan berstatus sebagai pewaris para Nabi dalam menyampaikan misi-misi suci Ilahi, ternyata telah menyelewengkan fungsi ilmu itu sendiri. Mereka mempelajari khazanah ilmu-ilmu Islam akan tetapi mereka tidak mengamalkan apa yang mereka dapatkan selama masa belajarnya. Mereka memperdalam ilmu tapi bukan untuk mencapai keridhoan Ilahi melainkan demi mencapai tujuan dan manfaat pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka pintar dan dapat mengagumkan setiap orang dalam berargumen akan tetapi pada saat yang sama mereka melupakan jati diri mereka, karena kepintaran mereka bukan semata-mata untuk membimbing orang lain menuju ke jalan Allah melainkan mereka ingin mendapatkan posisi yang sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki. Jika Islam mengajarkan untuk tidak memandang kemuliaan manusia hanya dari banyak dan lamanya ia belajar, maka  hari ini realitas itu telah barubah, mereka mengukur kemuliaan manusia hanya dari kuantitas dan lamanya ia belajar, walaupun sering sekali kita menemukan orang-orang yang banyak dan lama belajar cenderung meremehkan orang lain dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa dan menganggap merekalah yang paling bisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tidak lagi memperhatikan ucapan dan garak gerik mereka yang bertentangan dengan akhlak islami, hal inilah yang dari jauh-jauh hari telah diperingatkan oleh Imam Shodiq as:<br />
<em>&#8221; Bukanlah ilmu itu dikarenakan banyaknya belajar, sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang mana Allah swt meletakkannya di dalam hati hamba-Nya yang Ia inginkan&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini merupakan khayalan orang-orang yang menganggap bahwa mereka sudah berilmu, padahal mereka telah lalai akan hakikat dan buahnya ilmu itu sendiri. Ilmu hakiki tidaklah membuahkan sesuatu yang lain kecuali rasa takut pada Allah swt, sebagimana Allah menerangkan dalam Al-qur&#8217;an bahwa buah dari ilmu yang hakiki adalah rasa takut kepada-Nya<br />
<em>&#8221; Sesungguhnya hanya dari hamba-hamba-Nya yang berilmu yang takut kepada-Nya&#8221;</em>(Al-Fathir:28)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika kita merujuk kembali kepada nas, maka di situ makna hakikat ilmu dan siapa saja yang menyandang hakikat tersebut, serta bagaimana kriteria orang-orang yang menyandang ilmu hakiki akan semakin jelas, sehingga kita bisa membedakan mana orang yang benar-benar berilmu dengan orang yang berkhayal bahwa ia berilmu. Wahai para pecinta ilmu! Marilah kita merenungi kembali apa sebenarnya hakikat ilmu itu, sehingga kita ataupun mereka yang mengaku pecinta ilmu dan pecinta kebenaran tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran yang akibat dari semua itu adalah murka Allah swt, Rasul-Nya dan para penerusnya yang di sucikan oleh Allah swt dari segala dosa dan kesalahan.[]</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis adalah kandidat sarjana pada jurusan Ulum al Qur’an Universitas Imam Khomeini Qom Iran</p>
<p style="text-align: justify;">sumber:  ISLAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/22/ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FILSAFAT PENCIPTAAN MANUSIA</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/filsafat-penciptaan-manusia/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/filsafat-penciptaan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 14:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Penciptaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Tujuan dari Penciptaan Manusia? Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini? Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-318" title="av-1336" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/av-1336-300x300.jpg" alt="av-1336" width="300" height="300" />Apakah Tujuan dari Penciptaan Manusia?</h3>
<p style="text-align: justify;">Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, kira-kira bagian alam manakah yang akan rusak? Dan apakah masalah yang akan timbul? Apakah kita perlu untuk mengetahui; mengapa kita datang dan pergi? Dan untuk mengetahui makna dari semua ini, apakah kita punya kemampuan untuk itu? Dan beribu pertanyaan lain sebagai konsekuensi dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memenuhi pikiran manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kali kaum materialis mengutarakan pertanyaan semacam ini, sepertinya belum ada jawaban (yang dapat memuaskan). Karena, alam materi tidak memiliki akal dan perasaan sama sekali sehingga ia dapat memiliki sebuah tujuan. Dengan alasan inilah, mereka telah meloloskan diri dari persoalan ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia melangsungkan hidupnya di seluruh bidang seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila sebagian mereka setelah melakukan perenungan terhadap persoalan ini, merasa puas dengan kehidupan yang nihil dan tanpa tujuan ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, ketika pertanyaan ini dipertanyakan oleh seorang penyembah Tuhan kepada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menemui jalan buntu. Karena dari satu sisi, ia tahu bahwa pencipta dunia ini adalah Mahabijaksana dan pastilah apa yang Dia ciptakan mempunyai sebuah hikmah yang luar biasa, walaupun kita tidak tahu akan hal tersebut. Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa konyol jika kita meyakini kebertujuan semua anggota itu, tetapi keberadaan alam semesta (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan?</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa bodoh jika kita meyakini bahwa setiap bangunan di sebuah kota mempunyai tujuan dan filsafat, akan tetapi bangunan-bangunan itu (secara keseluruhan) tidak tidak memiliki tujuan sama sekali?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah mungkin seorang insinyur membangun sebuah bangunan besar yang seluruh ruangan, koridor, pintu, jendela, kolam, dekor, dan lain sebagainya, masing-masing dirancangnya dengan maksud dan tujuan tertentu, tetapi seluruh bangunan itu (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan sama sekali?</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberikan kepercayaan kepada seorang manusia mukmin bahwa penciptaan dirinya mempunyai tujuan yang sangat agung, yang untuk memahami hal tersebut, ia harus berusaha dan memanfaatkan kekuatan ilmu serta akal.</p>
<p style="text-align: justify;">Ironisnya, para penganut Nihilisme; ketakbermaknaan penciptaan ini malah masuk ke dalam semua bidang ilmu-ilmu alam untuk menginterpretasikan beragam fenomena yang ada untuk mencari suatu tujuan, dan mereka tidak bisa duduk tenang kecuali telah mendapatkan apa yang mereka maksudkan. Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran begitu kecil yang berada dalam bagian badan manusia tanpa mempunyai sebuah aktifitas pun, dan mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini. Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa sebuah kontroversial yang sangat menakjubkan!</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanapun, iman pada hikmah Allah Swt. dari satu sisi, dan beragam filsafat yang terdapat pada setiap bagian dari wujud insan pada sisi lain akan membentuk diri kita menjadi seorang mukmin. Hal ini merupakan sebuah tujuan agung dari penciptaan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini kita harus mencoba mencari apa tujuan tersebut, dan sejauh kemampuan kita akan mencoba menyingkapnya dan setelah itu, kita akan berusaha melangkahkan kaki ke arahnya secara bertahap. Perhatian terhadap satu masalah prinsip akan mampu membentuk pelita yang menerangi jalan yang gelap ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita senantiasa mempunyai tujuan dalam setiap apa yang kita lakukan. Tujuan tersebut biasanya dalam rangka menutupi kekurangan dan kebutuhan yang kita miliki. Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, semua ini pun merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan karena kita sering membandingkan sifat dan perbuatan Ilahi dengan sifat dan perbuatan diri kita, mungkin saja akan memunculkan sebuah pertanyaan; adakah kekurangan yang dimiliki oleh Allah Swt. sehingga menciptakan kita untuk menutupi kekurangan itu? Dan apabila di dalam salah satu ayat Al-Qur’an kita menemukan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk melakukan ibadah dan penghambaan, lalu apa perlunya Dia membutuhkan penghambaan dari kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Cara berpikir yang demikian ini muncul lantaran komparasi sifat Khaliq dengan makhluk, dan antara yang Wajib dengan yang mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Wujud kita adalah sebuah wujud yang terbatas, maka kita harus melakukan usaha untuk menutupi kekurangan yang ada dan semua amalan kita dalam rangka memenuhi kekurangan ini. Akan tetapi, pada sebuah wujud yang tanpa batas, penjelasan ini tidaklah bisa diterima. Kita harus mencari tujuan perbuatan-Nya dari selain wujud-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah Sang Awal dan Sumber kenikmatan. Segenap makhluk berada dalam genggaman kepedulian, perhatian dan pemeliharaan-Nya. Dia membawa mereka dari kekurangan kepada kesempurnaan. Inilah tujuan hakiki dari penghambaan (‘ubûdiyah) kita, dan inilah filsafat dari ibadah dan doa kita; dimana semua itu merupakan rangkaian pendidikan bagi kesempurnaan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk kesempurnaan wujud kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada prinsipnya, penciptaan merupakan satu langkah menuju kesempurnaan yang sangat agung yang akan membuat ketiadaan menjadi sebuah wujud; dari tidak ada menjadi ada, dan dari nol menuju angka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah tuntasnya proses kesempurnaan yang agung ini, tahapan kesempurnaan yang lain akan dimulai dan seluruh program agama dan Ilahi akan berada dalam rute ini.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mengapa Allah tidak Menciptakan Manusia secara sempurna dari Sejak Awal Penciptaannya?</h3>
<p style="text-align: justify;">Dasar pertanyaan muncul dari kelalaian terhadap satu hal, yaitu bahwa asas utama kesempurnaan (takamul) adalah kesempurnaan yang dicapai secara ikhtiyârî. Dengan kata lain, manusia melakukan perjalanannya berdasarkan kehendak, dan keputusannya sendiri. Apabila ia berjalan dengan dituntun atau ditarik paksa, ini bukan merupakan sebuah kebanggaan, bukan pula sebuah kesempurnaan. Apabila manusia menginfakkan satu rupiah dari kekayaannya dengan kesadaran dan kehendaknya sendiri, maka ia telah melangkahkan kakinya ke arah kesempurnaan hakiki. Sementara, apabila orang lain telah dipaksa mengeluarkan berjuta-juta dari kekayaannya untuk diinfakkan, ia tidak akan mengalami kemajuan dalam proses kesempurnaannya, hatta satu langkah sekali pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, berbagai ayat di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa apabila Allah swt. menghendaki keseluruhan manusia untuk beriman secara terpaksa, iman demikian ini tidak akan pernah membawa berguna bagi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang berada di muka bumi ini akan beriman seluruhnya &#8230;.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Tujuan dari Kesempurnaan Manusia</h3>
<p style="text-align: justify;">Sebagian mengatakan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk kesempurnaan manusia. Akan tetapi, apa tujuan dari kesempurnaan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Secara ringkas, jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa kesempurnaan merupakan tujuan akhir, atau dengan ibarat lain, kesempurnaan merupakan tujuan dari segala tujuan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjelasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Apabla kita bertanya dari seorang pelajar, “Untuk apa kamu belajar?”, pasti ia akan segera menjawab, “Karena aku ingin melanjutkan pelajaranku sampai ke perguruan tinggi.” Selanjutnya, apabila kita bertanya, “Untuk apa belajar di perguruan tinggi?”, ia akan menjawab, “Karena (misalnya) aku ingin menjadi seorang dokter, atau insinyur yang andal.” Ketika kita bertanya lagi, “Untuk apa kamu menginginkan gelar dokter atau insinyur tersebut?” Ia akan menjawab, “Supaya aku bisa melakukan aktifitas-aktvitas yang positif dan memperoleh income yang bagus”, Lalu, “Untuk apa kamu menginginkan income yang bagus itu?” Jawabannya adalah, “Untuk mendapatkan kehidupan yang senang dan terhormat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, jika kita bertanya, “Lalu, untuk apa kamu menginginkan kehidupan yang senang dan terhormat tersebut?” Di sini, kita akan melihat bahwa nada suaranya akan menjadi berubah dan menjawab, “Ya &#8230; untuk kehidupan yang senang dan terhormat itu tadi.” Tampak bagaimana ia mengulangi apa yang telah dikatakan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah dalil bahwa ia telah sampai pada jawaban terakhir. Dengan ungkapan lain, ia telah sampai pada sebuah aktifitas di mana ia tidak akan menemukan jawaban lain selain hal tersebut dan membentuk sebuah tujuan terakhir. Semua ini berkenaan dengan kehidupan materi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan maknawi pun masalah akan muncul sebagaimana di atas. Ketika ditanyakan; untuk apakah kehadiran para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, dan kewajiban serta rangkaian pendidikan ini, kita akan mengatakan; untuk kesempurnaan manusia dan taqarrub kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan apabila ditanyakan; untuk apakah kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. itu?, kembali kita akan mengatakan; ya, untuk kedekatan kepada Allah Swt. itu sendiri. Dengan demikian, bisa diketahui bahwa tujuan ini merupakan tujuan akhir dari kesempurnaan manusia. Dengan ungkapan lain, kita menginginkan segala sesuatu yang ada untuk kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. Akan tetapi, kedekatan kepada Allah Swt. adalah tujuan itu sendiri.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Ujian Tuhan Terhadap Manusia</h3>
<p style="text-align: justify;">Terdapat banyak pembahasan tentang masalah ujian Ilahi ini. Pertanyaan pertama yang akan muncul di dalam pikiran adalah bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt. -yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas- masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban atas pertanyaan penting ini (dapat dipecahkan) dengan merenungkan realita bahwa ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah —seperti yang telah dijelaskan di atas— untuk mengenal lebih banyak dan menyingkapkan kejahilan. Akan tetapi, ujian Ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjelasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari dua puluh macam ujian yang telah dinisbahkan kepada Allah Swt. Ini merupakan satu hukum universal dan sunah yang abadi dari Allah Swt. Dia menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak (dan mengubah sesuatu dari wujud potensi [quwwah] menjadi aktual [fi’liyah]) dan —pada akhirnya— untuk mendidik para hamba. Sebagaimana baja harus dimasukkan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan berkualitas baja dan tahan tempa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hakikatnya, ujian dari Allah Swt. ini mirip dengan pekerjaan seorang tukang kebun yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam menebarkan biji-biji yang berpotensi di atas tanah-tanah yang telah siap. Biji-biji ini akan memulai perkembangan dan pertumbuhannya dengan memanfaatkan sumber-sumber alami, dan secara bertahap, ia akan bertahan  melawan kesulitan dan perubahan yang ada di sekitarnya, berdiri tegak ketika berhadapan dengan topan besar, dingin yang mematikan dan panas yang membakar sehingga ia melahirkan bunga-bunga yang cantik, atau berubah menjadi pokok pohon yang rimbun dengan buah yang merumpun yang akan bisa membawanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi segala kesulitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan yang sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat lain, Al-Qur’an menjelaskan hakikat ini: “&#8230; dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)</p>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. memberikan penjelasan yang penuh makna tentang filsafat ujian Ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perrbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai olok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplementasikan ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt. memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila tidak ada ujian dari Allah Swt., potensi ini tidak akan pernah aktual, dan wujud sebuah pohon yang berbentuk seorang manusia tidak akan pernah membuahkan perbuatan yang nyata. Inilah filsafat cobaan Ilahi dalam logika Islam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/filsafat-penciptaan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAWAKAL DAN DOA</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/tawakal-dan-doa/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/tawakal-dan-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 14:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat-Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Hakekat Tawakal Pada dasarnya, tawakal berasal dari akar kata “wakalah” yang berarti memilih wakil. Dan kita mengetahui bahwa kredibilitas seorang wakil yang baik bisa dilihat —paling tidak— dari empat sifat, yaitu pengetahuan yang cukup, terpercaya, mempunyai kemampuan, dan penuh perhatian. Jelas bahwa memilih seorang wakil untuk sebuah pekerjaan dilakukan ketika seseorang tidak mempunyai kemampuan lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-312" title="namaz" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/namaz.jpg" alt="namaz" width="150" height="221" />Hakekat Tawakal</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, tawakal berasal dari akar kata “wakalah” yang berarti memilih wakil. Dan kita mengetahui bahwa kredibilitas seorang wakil yang baik bisa dilihat —paling tidak— dari empat sifat, yaitu pengetahuan yang cukup, terpercaya, mempunyai kemampuan, dan penuh perhatian.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas bahwa memilih seorang wakil untuk sebuah pekerjaan dilakukan ketika seseorang tidak mempunyai kemampuan lagi untuk bertahan sendirian. Pada saat inilah ia bisa mengunakan kekuatan orang lain untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, tawakal kepada Alah swt. tidak mempunyai arti lain kecuali bahwa manusia menjadikan Allah sebagai wakilnya dalam menghadapi persoalan, musibah-musibah kehidupan, musuh, para penentang, dan masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Dan ketika seseorang —biasanya— telah sampai pada jalan buntu dalam upaya mencapai tujuan dan tidak mempunyai kemampuan lagi untuk menyelesaikan dan memecahkan persoalannya, ia akan menyandarkan diri kepada-Nya dengan tanpa menghentikan upayanya. Bahkan, tatkala ia sendiri mempuyai kemampuan untuk melakukan pekerjaannya, ia tetap menganggap bahwa faktor utama semua itu hanyalah Allah Swt., karena menurut pandangan seorang mukmin, sumber segenap kekuatan adalah Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebalikan dari tawakal kepada Allah adalah menyandarkan diri kepada selain-Nya. Yaitu, hidup secara bergantung (seperti sebuah parasit); menggantungkan diri pada orang lain, dan tidak mempunyai kemandirian. Para ulama akhlak berkata, “Tawakal merupakan sikap yang dihasilan secar langsung dari tauhid Fi’liyah Allah Swt., karena —sebagaimana yang telah kami jelaskan— dilihat dari visi seorang mukmin, setiap gerak, usaha dan fenomena yang ada di dunia ini —pada akhirnya— mempunyai keterkaitan dengan penyebab pertama dunia ini, yaitu Allah. Oleh karena itu, manusia mukmin akan menganggap bahwa seluruh kekuatan yang ada berasal dari-Nya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Filsafat Tawakal</h3>
<p style="text-align: justify;">Dengan memperhatikan apa yang telah kami sebutkan di atas, maka kita akan bisa mengetahui bahwa:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri kepada sebuah sumber kekuatan yang abdi, dapat meningkatkan ketahanan manusia dalam menghadapi persoalan dan kesulitan hidup. Dengan dalil ini, ketika muslimin yang tengah mengalami pukulan berat di medan perang Uhud, lalu mendengar berita bahwa para musuh yang telah meninggalkan medan perang akan kembali ke medan untuk melakukan pukulan akhir terhadap pasukan muslim, Al-Qur’an mengatakan bahwa orang-orang beriman pada saat-saat yang sangat genting dan berbahaya ini di mana bagian penting kekuatan juang mereka telah hilang, bukannya tidak hanya merasa takut, melainkan rasa tawakal kepada Allah Swt. dan bersandar kepada kekuatan iman telah membuat pertahanan mereka bertambah sehingga para musuh yang hampir menang itu -begitu mendengar berita adanya persiapan ini- segera mengundurkan diri dari siasat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">[Yaitu] orang-orang [yang menaati Allah dan Rasul] yang masyarakat [sekitar] berkata kepada mereka, “Sesungguhnya mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang Kamu. Oleh karena itu, takutlah pada mereka.” Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 173)</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh dari ketangguhan di bawah naungan tawakal kepada-Nya banyak terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Salah satunya adalah sebuah ayat dalam surat Ali ‘Imran yang berfirman, “Ketika dua golongan dari Kamu ingin [mengundurkan diri] karena takut, padahal Allah adalah Penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 122)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu ayat surat Ibrahim disebutkan, “Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Ia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang Kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang bertawakal akan berserah diri.” (QS. Ibrahim [14]: 12)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dalam salah satu ayat surat Ali ‘Imran yang lain disebutkan, “&#8230; kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, Al-Qur’an mengatakan ketika berhadapan dengan godaan setan, orang-orang yang akan mampu bertahan dan bisa keluar dari godaan setan ini hanyalah orang-orang yang beriman dan bertawakal. Ia berfirman, “Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (QS. an-Nahl [16]: 99)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kumpulan ayat-ayat ini bisa diketahui bahwa maksud dari tawakal adalah hendaklah seseorang tidak merasa lemah dalam menghadapi beratnya persoalan kehidupan. Bahkan, dengan bersandar dan menggantungkan diri kepada kekuatan Allah yang tak terbatas, ia menyatakan dirinya selalu menang. Dengan demikian, tawakal merupakan sumber harapan yang akan memberikan kekuatan dan menjadi dasar ketahanan dan kekokohan seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila arti tawakal diinterpretasikan dengan berdiam diri di sudut kamar dengan menengadahkan tangan, ini justru menghilangkan arti segala perjuangan dan jerih payah yang dilakukan oleh manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan apabila terdapat sebagian kelompok yang mengatakan bahwa peduli terhadap alam materi dan faktor-faktor alam tidak ada relevansinya dengan tawakal, sebenarnya mereka berada dalam kesalahan yang sangat besar, karena memisahkan faktor-aktor alam dari kehendak Allah merupakan sebuah kesyirikan. Bukankah komponen-komponen alam apa pun berasal dari-Nya dan seluruhnya berada di bawah kehendak dan perintah-Nya?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya! Apabila kita menganggap faktor-faktor ini sebagai sebuah sistem yang independen dari kehendak dan iradah-Nya, jelas hal ini tidak sejalan dengan substansi tawakal. (Perhatikan baik-baik!).</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana mungkin interpretasi semacam ini dinisbahkan kepada tawakal, sedangkan Rasulullah saw. sendiri sebagai seorang figur yang berada di atas kaum mutawakilin, ketika ingin mencapai tujuannya, beliau tidak pernah lalai dari rencana dan siasat yang jitu, taktik yang cermat dan berbagai peralatan dan sarana perlengkapan eksternal. Semua ini membuktikan bahwa tawakal tidak mempunyai arti negatif sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, bertawakal kepada Allah Swt. dapat menyelamatkan manusia dari segala bentuk ketergantungan yang merupakan sumber kehinaan dan keterkungkungan, serta memberikan kebebasan dan kepercayaan diri kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tawakal dan qanâ’ah (mencukupkan diri dengan apa yang ada) keduanya mempunyai satu akar yang sama. Pada prinsipnya, filsafat dari keduanya mempunyai kemiripan apabila dilihat dari satu sisi. Dan pada saat yang sama, terdapat pula perbedaan di antara keduanya. Di sini, beberapa riwayat tentang masalah tawakal akan kami utarakan sebagai sebuah refleksi dari arti aslinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ash-Shadiq a.s. berkata,  “Sesungguhnya qanâ’ah dan kehormatan diri selalu bergerak. Ketika ia menemukan tempat tawakal, maka di sanalah ia akan menetap.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis ini, tempat tinggal asli qana’ah dan kehormatan diri adalah tawakal.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Malaikat Jibril, penyampai wahyu Allah, “Apakah tawakal itu?” Ia menjawab, “Tawakal adalah yakin pada realita bahwa makhluk bukanlah pembawa keuntungan, bukan pula pembawa kerugian, tidak memberi, tidak pula menghalangi, dan tidak menggantungkan harapan kepada makhluk apapun. Ketika seorang hamba telah yakin demikian, ia tidak melakukan pekerjaan kecuali untuk Allah, dan tidak mempunyai harapan kecuali dari-Nya. Inilah hakikat dari tawakal.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bertanya kepada Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s., “Sebatas manakah tawakal itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau tidak takut kepada siapapun dengan bersandar kepada Allah swt.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Filsafat Doa</h3>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang tidak mengenal hakikat doa dan dampak edukatif dan sikologis yang dihasilkannya akan senantiasa melontarkan berbagai macam sanggahan terhadap masalah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang mereka mengatakan bahwa doa merupakan faktor yang melumpuhkan manusia, karena tatkala mereka seharusnya melakukan usaha, memanfaatkan sains dan tekhnologi, serta mengisi kesuksesan yang dicapai, doa malah membuat orang menengadahkan tangan dan meninggalkan semua usahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang pula mereka mengatakan, “Pada prinsipnya, apakah berdoa bukan berarti ikut campur dalam pekerjaan-pekerjaan Allah? Padahal kita mengetahui bahwa apapun yang menurut Allah baik untuk dilakukan, maka Dia pasti akan melakukannya. Dia mempunyai rasa kasih sayang kepada kita. Dia lebih mengetahui kebaikan untuk diri kita dibanding diri kita sendiri. Oleh karena itu, mengapa kita harus menginginkan sesuatu dari-Nya setiap saat?”</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat lain  mereka mengatakan, “Selain dari semua yang telah tersebut di atas, bukankah doa justru bertentangan dengan  keridhaan dan penyerahan diri pada kehendak Allah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang melontarkan kritikan dan sanggahan semacam ini sebenarnya telah lalai dengan kenyataan sikologis, sosial, budaya, pendidikan, dan aspek spiritual doa dan ibadah. Karena pada dasarnya, untuk meningkatkan kemauan dan menghilangkan segala kegelisahan, manusia membutuhkan kehadiran sebuah tempat yang bisa dijadikan media untuk menyandarkan dan menggantungkan kepercayaannya. Dan doalah yang akan menyalakan pelita harapan ini dalam dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat yang melupakan doa dan ibadah, pastilah akan berhadapan dengan reaksi yang tidak sesuai dengan psikologi sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sebagaimana yang dilontarkan oleh salah satu psikolog terkenal, “Ketidaaan ibadah dan doa di tengah-tengah suatu bangsa sama artinya dengan kehancuran dan keruntuhan bangsa tersebut. Sebuah masyarakat yang telah membunuh rasa butuh kepada doa dan ibadah biasanya tidak akan pernah terlepas dari keruntuhan dan kemaksiatan. Tentu saja, jangan kita lupakan bahwa beribadah hanya di pagi hari dan menjalani sisa waktu yang ada seperti seekor binatang liar yang membunuh sana-sini tidak ada manfaatnya sedikitpun. Ibadah dan doa harus dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan, pada setiap kondisi, dan melakukannya dengan penuh khidmat sehingga manusia tidak akan kehilangan pengaruh kuat dari ibadah dan doa ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang setuju dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh doa, tidak memahami hakikatnya. Karena doa bukanlah berarti kita menyingkirkan dan melepaskan tangan dari segala media eksternal dan faktor-faktor alami, lalu menggantikannya dengan berdoa. Maksud dari doa adalah setelah melakukan segala usaha dalam mengunakan seluruh fasilitas yang ada, lalu ketika kita telah menemukan jalan buntu dan tangan kita tidak memiliki kemampuan lagi, barulah kita berdoa untuk menghidupkan semangat harapan dan gerak dalam diri kita dengan memberikan perhatian dan menyandarkan diri kepada Allah Swt. Lalu kita memohon bantuan dari Sebab Utama Yang Tak Tebatas ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, doa dikhususkan pada persoalan-persoalan yang menemui jalan buntu, bukan sebagai sebuah faktor yang menggantikan faktor-faktor natural.</p>
<p style="text-align: justify;">“Selain akan memberikan ketenangan, doa juga akan menghidupkan gairah batin dalam aktifitas otak manusia, dan terkadang pula akan menggerakkan hakikat kepahlawanan dan keperkasaan. Doa akan menampakkan karakternya dengan indikasi-indikasi yang sangat khas dan terbatas dalam diri setiap orang. Doa akan menampakkan kejernihan pandangan, keteguhan perbuatan, kelapangan dan kebahagiaan batin, wajah yang penuh keyakinan, dan potensi hidayah. Demikian juga, ia menceritakan tentang bagaimana menyambut sebuah peristiwa. Ini semua merupakan wujud sebuah khazanah harta karun yang tersembunyi di kedalaman ruh kita. Dan di bawah kekuatan ini, hatta orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental dan minim bakat sekalipun, akan mampu menggunakan kekuatan akal dan moralnya dan mengambil manfaat yang lebih banyak darinya. Ironisnya, di dunia kita ini sangatlah sedikit orang-orang yang mengenal hakikat doa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dari penjelasan di atas, menjadi jelas pula jawaban atas sanggahan yang mengatakan bahwa doa tidaklah sejalan dengan ridha (kerelaan) dan pasrah kepada kehendak Allah Swt. Karena sebagaimana yang telah kami jelaskan, doa merupakan usaha untuk mencari kemampuan mendapatkan berkah yang lebih banyak dari-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kata lain, dengan perantara doa, manusia akan menemukan perhatian yang lebih banyak untuk memahami berkah Allah Swt. Jelas bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan yang lebih banyak adalah penyerahan diri pada hukum-hukum penciptaan itu sendiri, bukan malah menjadi satu hal yang bertentangan dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu semua, doa merupakan ibadah, kerendahan hati, dan penghambaan. Dengan perantara doa, manusia akan menemukan perhatian baru terhadap Dzat Allah. Sebagaimana seluruh ibadah mempunyai pengaruh yang mendidik, doa pun mempunyai pengaruh yang demikian pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan apabila dipertanyakan, “Doa berarti campur tangan di dalam pekerjaan Allah. Padahal, Allah akan melakukan apapun yang menurut-Nya bermaslahat”, mereka tidak memperhatikan bahwa karunia Ilahi akan berikan berdasarkan kelayakan yang dimiliki oleh setiap orang. Semakin besar kelayakan seseorang, maka ia akan mendapatkan karunia Allah secara lebih banyak pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, kita melihat Imam Ash-Shadiq a.s. dalam salah satu hadis berkata, “Di sisi Allah Swt. terdapat sebuah kedudukan di mana seseorang tidak akan sampai ke sana tanpa melakukan doa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang ilmuwan mengatakan, “Ketika kita melakukan doa, maka –sebenarnya- kita menciptakan hubungan dan interaksi dengan sebuah kekuatan tak terbatas tempat bergantungnya seluruh makhluk.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia melanjutkan, “Saat ini, di dalam psycomedis yang merupakan ilmu modern, segala sesuatu diajarkan sebagaimana para Nabi telah mengajarkannya. Mengapa? Karena di dalam psycomedis ini telah ditemukan bahwa doa, shalat, dan iman yang kuat terhadap agama akan menghilangkan kegelisahan, ketegangan, dan ketakutan-ketakutan yang merupakan penyebab dari separuh kegundahan-kegundahan yang ada.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mengapa Doa Kita Kadang-kadang tidak Dikabulkan?</h3>
<p style="text-align: justify;">Perhatian terhadap kualitas syarat-syarat terkabulnya doa merupakan petunjuk akan realitas lain dari persoalan keterkabulan sebuah doa, dan akan memperjelas dampak positifnya. Dalam literatur-literatur Islam, kita menemukan syarat-syarat terkabulnya sebuah doa, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">a. Sebelum segala sesuatu, hendaknya berusaha mencapai kesucian kalbu dan ruh, bertaubah dari dosa-dosa, membersihkan jiwa, dan menjalani kehidupan dengan mengambil ilham dari kehidupan para pemimpin Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Sh-Shadiq a.s. berkata, “Janganlah salah satu dari kamu meminta kepada Allah Swt. kecuali mengucapkan pujian terhada-Nya terlebih dahulu dan menyampaikan shalawat atas Rasulullah saw. dan keturunan sucinya, kemudian mengakui segala dosa di hadapan-Nya (dan bertaubah), barulah setelah itu memanjatkan doa.”</p>
<p style="text-align: justify;">b. Hendaknya berusaha untuk menyucikan kehidupan dari kekayaan hasil rampasan (ghasab), kezaliman dan kekejian, dan menghindarkan diri dari makanan yang haram.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menginginkan doanya terkabul, maka ia harus menyucikan makanan dan usahanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">c. Hendaknya tidak melepaskan diri dari amar makruf dan nahi munkar, karena orang yang meninggalkan amar makruf dan nahi munkar, doa-doanya tidak akan dikabulkan. Rasulullah saw. bersabda, “Lakukanlah amar makruf dan nahi munkar, karena kalau tidak, maka Allah Swt. akan menempatkan keburukan-keburukan di atas kebaikan-kebaikan yang kamu miliki, dan tidak akan pernah mengabulkan doamu, betapapun kamu sering berdoa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hakikatnya, meninggalkan kewajiban besar (amar makruf dan nahi munkar) ini akan mewujudkan ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang dampaknya adalah tersedianya kesempatan bagi para pembuat kerusakan di dalam masyarakat, dan doa tidak akan mempunyai pengaruh lagi untuk menanggulangi dampak tersebut, karena keadaan ini merupakan akibat yang nyata dari perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">d. Hendaknya mengamalkan perjanjian Ilahi. Iman, amal salih, amanah dan kejujuran merupakan syarat lain dari terkabulnya doa, karena seseorang yang tidak setia terhadap janjinya sendiri di hadapan Allah Swt., tidak selayaknya pula ia menunggu janji keterkabulan doa dari-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang datang kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. untuk mengadukan doanya yang tidak dikabulkan oleh Allah Swt. Ia berkata, “Allah sendiri telah berfirman, ‘Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya.’ Lalu, mengapa Dia tidak mengabulkan doaku padahal aku telah berdoa kepada-Nya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menjawab, “Hati dan pikiran kamu telah mengkhianati delapan hal, (Oleh karena itu, doa kamu tidak dikabulkan):</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu telah mengenal siapa Allah itu, akan tetapi tidak memenuhi hak-Nya. Oleh karena itu, pengenalan semacam ini tidak memberikan manfaat kepadamu.</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu beriman kepada orang yang telah diutus oleh-Nya, akan tetapi kamu bangkit untuk menentang sunahnya. Lalu, ke manakah hasil dari keimananmu?</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu membaca kitab-Nya, akan tetapi kamu tidak mengamalkannya. Kamu mengatakan bahwa kamu mendengar dan menaatinya, akan tetapi kamu bangkit untuk menentangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu mengatakan bahwa kamu takut kepada hukuman dan siksaan Allah, akan tetapi perbuatan-perbuatanmu senantiasa mendekatkan dirimu kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu mengatakan bahwa kamu menyukai pahala Ilahi, akan tetapi perbuatan-perbuatanmu semakin menjauhkanmu dari pahala-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu memakan nikmat Allah, akan tetapi kamu tidak mensyukurinya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Ia memerintahkanku untuk menjadi musuh setan (dan kamu malah menjalin persahabatan dengannya). Kamu mengklaim bahwa kamu memiliki permusuhan dengan setan, akan tetapi pada praktiknya kamu tidak pernah menentangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Kamu selalu memperhatikan cela-cela orang lain, sementara kamu menyembunyikan cela-celamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semua ini, bagaimana kamu menginginkan doamu akan terkabul? Perbaikilah perbuatan-perbuatanmu, lakukanlah amar makruf dan nahi munkar supaya doamu dikabulkan oleh-Nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis yang penuh makna ini menegaskan bahwa janji Allah untuk mengabulkan doamu adalah sebuah janji yang bersyarat, bukan janji yang mutlak. Dan syaratnya adalah pengamalan terhadap janji dan sumpahmu sendiri. Sementara, yang terjadi adalah kamu mengingkari kedelapan janji di atas. Apabila kamu menghentikan penghianatan ini, maka doamu akan menjadi dikabulkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengamalkan kedelapan syarat-syarat di atas -yang pada hakikatnya merupakan syarat-syarat terkabulnya sebuah doa- telah memadai apabila digunakan untuk mendidik manusia dan memanfaatkan kekuatannya dalam satu usaha yang membuahkan hasil.</p>
<p style="text-align: justify;">e. Syarat lain dari terkabulnya doa adalah adanya korelasi antara doa dan usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. pernah berkata, “Orang-orang yang berdoa tanpa amal dan usaha bak orang-orang yang memanah tanpa busur.”</p>
<p style="text-align: justify;">Busur adalah faktor penggerak dan alat untuk melemparkan panah ke arah sasaran. Dengan demikian, peran amal dalam terkabulnya sebuah doa menjadi begitu jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Rangkaian delapan syarat di atas merupakan penjelas dari sebuah realita bahwa doa bukan saja tidak berfungsi sebagai alternatif dari faktor-faktor alami dan syarat-syarat eksternal yang biasa digunakan untuk menghasilkan sebuah tujuan, melainkan untuk terkabulnya sebuah doa, pendoa harus melakukan perubahan total dalam cara hidupnya, menciptakan keadaan baru pada jiwanya dan merenungkan kembali perbuatan yang telah dilakukan pada masa lalu. Bukankah menganggap doa sebagai sesuatu faktor pelumpuh dengan adanya syarat-syarat semacam ini menandakan ketidaktahuan pengklaimnya atau sebuah perbuatan yang tak berdasar?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/06/tawakal-dan-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

