<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#187; Dialog Madzhab</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/dialog-madzhab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ali bin Abi Thalib di Mata Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/25/ali-bin-abi-thalib-di-mata-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/25/ali-bin-abi-thalib-di-mata-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 23:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu taimiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muchtar Luthfi
Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta &#8220;ajaran resmi&#8221; Ahlussunah wal Jamaah. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Oleh: Muchtar Luthfi</p>
<div style="text-align: justify;">Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta &#8220;ajaran resmi&#8221; Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah.</div>
<div style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
ALI BIN ABI THALIB adalah satu sosok sahabat terkemuka Rasulullah saw. Terlampau banyak keutamaan yang disematkan pada diri Ali, baik melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, maupun melalui hadis yang secara langsung disampaikan oleh Rasul. Keutamaan Ali dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Dilihat dari proses kelahiran[2] hingga kesyahidannya.[3] Dari kedekatannya dengan Rasulullah, hingga kecerdasannya dalam menyerap semua ilmu yang diajarkan oleh Rasul kepadanya. Dari situlah akhirnya ia mendapat banyak kepercayaan dari Rasul dalam melaksanakan tugas-tugas ritual maupun sosial keagamaan.</p>
<p>Dengan menilik berbagai keutamaan Ali[4], maka sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin –baik Ahlussunnah, maupun Syiah- bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu khalifah pasca Rasulullah.[5] Walaupun terdapat perbedaan pendapat antara Ahlussunah dan Syiah tentang urutan kekhilafahan pasca Rasul, tetapi yang jelas mereka sepakat bahwa Ali termasuk salah satu jajaran khalifah Rasul.</p>
<p>Pada tulisan ringkas ini akan dibahas perihal pendapat Ibnu Taimiyah tentang keutamaan Ali, yang berlanjut pada pendapatnya tentang kekhalifahan beliau.</p>
<p>Kelemahan Ali di Mata Ibnu Timiyah:</p>
<p>Di sini akan disebutkan beberapa pendapat Ibnu Taimiyah dalam melihat kekurangan pada pribadi Ali:</p>
<p>Disebutkan dalam kitab Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyah, bahwa Ibnu Taimiyah meremehkan kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fikih (hukum agama). Ia mengatakan: “Ali memiliki banyak fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)”. Bahkan Ibnu Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan-segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia mengatakan: “As-Syafi’i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah”[6].</p>
<p>Berkenaan dengan ungkapan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa banyak ungkapan Ali yang bertentangan dengan nash (teks agama), hal itu sangatlah mengherankan, betapa tidak? Apakah mungkin orang yang disebut-sebut sebagai ‘syeikh Islam’ seperti Ibnu Taimiyah tidak mengetahui banyaknya hadis dan ungkapan para salaf saleh yang disebutkan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah sendiri perihal keutamaan Ali dari berbagai sisinya, termasuk sisi keilmuannya. Jika benar bahwa ia tidak tahu, maka layakkah gelar syeikh Islam tadi baginya? Padahal hadis-hadis tentang keutamaan Ali sebegitu banyak jumlahnya. Jika ia tahu, tetapi tetap bersikeras untuk menentangnya-padahal keutamaan Ali banyak tercantum dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah yang memiliki sanad hadis yang begitu kuat sehingga tidak lagi dapat diingkarinya- maka terserah Anda untuk menyikapinya! Lantas, apa kira-kira maksud dibalik pengingkaran tersebut? Karena kebodohan Ibnu Taimiyah? Ataukah karena kebencian Ibnu Taimiyah atas Ali? Ataukah karena kedua-duanya? Bukankah Ali termasuk salah satu Ahlul Bait Nabi,[7] dimana sudah menjadi kesepakatan antara Sunnah-Syiah bahwa pembenci Ahlul-Bait Nabi dapat dikategorikan Nashibi atau Nawashib? Lantas manakah bukti bahwa Ibnu Taimiyah adalah pribadi yang getol menghidupkan kembali ajaran salaf saleh, sedang ungkapannya banyak bertentangan dengan ungkapan salaf saleh?</p>
<p>Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hadis yang membahas tentang keilmuan Ali sesuai dengan pengakuan para salaf saleh yang diakui sebagai panutan oleh Ibnu Taimiyah:</p>
<p>Sabda Rasulullah saw: “Telah kunikahkan engkau –wahai Fathimah- dengan sebaik-baik umatku yang paling tinggi dari sisi keilmuan dan paling utama dari sisi kebijakan…”.[8]</p>
<p>1. Sabda Rasulullah saw: “Ali adalah gerbang ilmuku dan penjelas bagi umatku atas segala hal yang karenanya aku diutus setelahku”.[9]</p>
<p>2. Sabda Rasulullah saw: “Hikmah (pengetahuan) terbagi menjadi sepuluh bagian, maka dianugerahkan kepada Ali sembilan bagian, sedang segenap manusia satu bagian (saja)”.[10]</p>
<p>3. Berkata ummulmukminin Aisyah: “Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah”.[11]</p>
<p>4. Berkata Umar bin Khattab: “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku dalam kesulitan tanpa putera Abi Thalib (di sisiku)”.[12]</p>
<p>5. Berkata Ibnu Abbas: “Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki”.[13] Dalam nukilan kitab lain ia berkata: “Tidaklah ilmuku dan ilmu para sahabat Muhammad saw sebanding dengan ilmu Ali, sebagaimana setetes air dibanding tujuh samudera”.[14]</p>
<p>6. Berkata Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya al-Quran turun dalam tujuh huruf. Tiada satupun dari huruf-huruf tadi kecuali didalamnya terdapat zahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib memiliki ilmu tentang zahir dan batin tersebut”.[15]</p>
<p>7. Berkata ‘Adi bin Hatim: “Demi Allah, jika dilihat dari sisi pengetahuan terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka dia –yaitu Ali- adalah pribadi yang paling mengetahui tentang dua hal tadi. Jika dari sisi keislamannya, maka ia adalah saudara Rasul dan memiliki senioritas dalam keislaman. Jika dari sisi kezuhudan dan ibadah, maka ia adalah pribadi yang paling nampak zuhud dan paling baik ibadahnya”.[16]</p>
<p>8. Berkata al-Hasan: “Telah meninggalkan kalian, pribadi yang kemarin tiada satupun dari pribadi terdahulu dan akan datang yang bisa mengalahi keilmuannya”.[17]<br />
Dan masih banyak lagi hadis-hadis pengakuan Nabi beserta para sahabatnya yang menyatakan akan keluasan ilmu Ali dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah.</p>
<p>Adapun tentang ungkapan Ibnu Taimiyah yang menukil pendapat orang lain perihal Ali tersebut merupakan kebohongan atas pribadi yang dinukil tadi. Karena maksud al-Maruzi yang menulis karya besar tadi, ialah dalam rangka mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Hanifah –pendiri mazhab Hanafi- yang bertentangan dengan pendapat sahabat Ali dan Ibnu Mas’ud. Jadi topik utama pembahasan kitab tersebut adalah fatwa Abu Hanifah dan ungkapan sahabat, yang dalam hal ini berkaitan dengan Ali dan Ibnu Mas’ud. Tampak, betapa terburu-burunya Ibnu Taimiyah dalam membidik Ali dengan menukil pendapat orang lain, tanpa membaca lebih lanjut dan teliti tujuan penulisan buku tersebut. Ini merupakan salah satu contoh pengkhianatan Ibnu Taimiyah atas beberapa pemuka Ahlussunah.</p>
<p>Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah ternyata bukan hanya meragukan akan kemampuan Ali dari sisi keilmuan, bahkan ia juga mengingkari banyak hal yang berkaitan dengan keutamaan Ali.[18] Di sini akan disebutkan beberapa contoh ungkapan Ibnu Taimiyah perihal masalah tersebut:</p>
<p>1. Kebencian terhadap Ali: “Ungkapan yang menyatakan bahwa membenci Ali merupakan kekufuran, adalah sesuatu yang tidak diketahui (asalnya)”.[19]</p>
<p>2. Pengingkaran hadis Rasul: “Hadis ana madinatul ilmi (Aku adalah kota ilmu…) adalah tergolong hadis yang dibikin (maudhu’)”.[20]</p>
<p>3. Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: “Hadis “aqdhakum Ali” (paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum dapat ditetapkan (kebenarannya)”.[21]</p>
<p>4. Keilmuan Ali: “Pernyataan bahwa Ibnu Abbas adalah murid Ali, merupakan ungkapan batil”.[22] Sehingga dari pengingkaran itu ia kembali mengatakan: “Yang lebih terkenal adalah bahwa Ali telah belajar dari Abu Bakar”.[23]</p>
<p>5. Keadilan Ali: “Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)”.[24]</p>
<p>Dari pengingkaran-pengingkaran tersebut akhirnya Ibnu Taimiyah menyatakan: “Adapun Ali, banyak pihak dari pendahulu tidak mengikuti dan membaiatnya. Dan banyak dari sahabat dan tabi’in yang memeranginya”.[25]</p>
<p>Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa’i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: “Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada”.[26]</p>
<p>Dalam masalah kekhilafahan Ali, Ibnu Taimiyah pun dalam beberapa hal meragukan, dan bahkan melecehkannya. Di sini dapat disebutkan contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah tentang kekhalifahan Ali:</p>
<p>1. “Kekhilafahan Ali tidak menjadi rahmat bagi segenap kaum mukmin, tidak seperti (yang terjadi pada) kekhilafahan Abu Bakar dan Umar”.[27]</p>
<p>2. “Ali berperang (bertujuan) untuk ditaati dan untuk menguasai atas umat, juga (karena) harta. Lantas, bagaimana mungkin ia (Ali) menjadikan dasar peperangan tersebut untuk agama? Sedangkan jika ia menghendaki kemuliaan di dunia dan kerusakan (fasad), niscaya tiada akan menjadi pribadi yang mendapat kemuliaan di akherat”.[28]</p>
<p>3. “Adapun peperangan Jamal dan Shiffin telah dinyatakan bahwa, tiada nash dari Rasul.[29] Semua itu hanya didasari oleh pendapat pribadi. Sedangkan mayoritas sahabat tidak menyepakati peperangan itu. Peperangan itu, tidak lebih merupakan peperangan fitnah atas takwil. Peperangan itu tidak masuk kategori jihad yang diwajibkan, ataupun yang disunahkah. Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya banyak pribadi muslim, para penegak shalat, pembayar zakar dan pelaksana puasa”.[30]</p>
<p>Untuk menjawab pernyataan Ibnu Taimiyah tadi, cukuplah dinukil pernyataan beberapa ulama Ahlusunnah saja, guna mempersingkat pembahasan.</p>
<p>Al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir dalam menukil ungkapan al-Jurjani dan al-Qurthubi menyatakan: “Dalam kitab al-Imamah, al-Jurjani mengatakan: “Telah sepakat (ijma’) ulama ahli fikih (faqih) Hijaz dan Iraq, baik dari kelompok ahli hadis maupun ahli ra’yi semisal imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan Auza’i dan mayoritas para teolog (mutakallim) dan kaum muslimin, bahwa Ali dapat dibenarkan dalam peperangannya melawan pasukan (musuhnya dalam) perang jamal. Dan musuhnya (Ali) dapat dikelompokkan sebagai para penentang yang zalim”. Kemudian dalam menukil ungkapan al-Qurthubi, dia mengatakan: “Telah menjadi kejelasan bagi ulama Islam berdasar argumen-argumen agama, bahwa Ali adalah imam. Oleh karenanya, setiap pribadi yang keluar dari (kepemimpinan)-nya, niscaya dihukumi sebagai penentang yang berarti memeranginya adalah suatu kewajiban hingga mereka kembali kepada kebenaran, atau tertolong dengan melakukan perdamaian”.[31]</p>
<p>Jelas bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah dengan mengatasnamakan salaf saleh tidaklah memiliki dasar sedikitpun, apalagi jika ia mengatasnamakan para imam mazhab Ahlusunnah. Lantas, bagaimana mungkin pribadi seperti Ibnu Taimiyah dapat mewakili pemikiran Ahlusunnah, padahal begitu banyak pandangan ulama Ahlusunnah sediri yang secara jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyah? Lebih-lebih pendapat Ibnu Taimiyah tadi hanya sebatas pengakuan saja, tanpa memberikan argumen maupun rujukan yang jelas, baik yang berkaitan dengan hadis (Rasul saw), maupun ungkapan para salaf saleh (dari sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) termasuk nukilan pendapat para imam mazhab empat secara cermat, apalagi bukti ayat al-Quran.</p>
<p>Yang lebih parah lagi, setelah ia meragukan semua keutamaan Ali bin Abi Thalib, dari seluruh ungkapannya tersebut, akhirnya ia pun meragukan Ali sebagai khalifah. Hal itu merupakan konsekuensi dari semua pernyataan yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Mengingat, dalam banyak kesempatan Ibnu Taimiyah selalu meragukan kemampuan Ali dalam memimpin umat. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan pula ia menyebarkan keragu-keraguan atas kekhilafan Ali. Tentu saja, metode yang dipakainya dalam masalah inipun sama sebagaimana yang ia terapkan sebelumnya -seperti yang telah disinggung di atas, yaitu; dengan cara menukil beberapa pendapat yang sangat tidak mendasar, dan tidak jujur sembari mengajukan pendapat pribadinya sebagai pendapat tokoh-tokoh salaf saleh.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah dalam masalah tersebut:</p>
<p>1. “Diriwayatkan dari Syafi’i dan pribadi-pribadi selainnya, bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman”.[32]</p>
<p>2. “Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat bahwa ia (Ali) bukanlah imam, akan tetapi Muawiyah-lah yang menjadi imam. Sebagian lagi menyatakan, bahwa pada zaman itu tidak terdapat imam secara umum, bahkan zaman itu masuk kategori masa (zaman) fitnah”.[33]</p>
<p>3. “Dari mereka terdapat orang-orang yang diam (tidak mengakui) atas (kekhalifahan) Ali, dan tidak mengakuinya sebagai khalifah keempat. Hal itu dikarenakan umat tidak memberikan kesepakatan atasnya. Sedang di Andalus, banyak dari golongan Bani Umayyah yang mengatakan: Tidak ada khalifah. Sesungguhnya khalifah adalah yang mendapat kesepakatan (konsensus) umat manusia. Sedang mereka tidak memberi kesepakatan atas Ali. Sebagian lagi dari mereka menyatakan Muawiyah sebagai khalifah keempat dalam khutbah-khutbah jum’atnya. Jadi, selain mereka menyebutkan ketiga khalifah itu, mereka juga menyebut Muawiyah sebagai (khalifah) keempat, dan tidak menyebut Ali”.[34]</p>
<p>4. “Kita mengetahui bahwa sewaktu Ali memimpin, banyak dari umat manusia yang lebih memilih kepemimpinan Muawiyah, atau kepemimpinan selain keduanya (Ali dan Muawiyah)…maka mayoritas (umat) tidak sepakat dalam ketaatan”.[35]<br />
Jelas sekali di sini bahwa Ibnu Taimiyah selain ia berusaha menyebarkan karaguan atas kekhalifah Ali bin Abi Thalib kepada segenap umat, ia pun menjadi corong dalam menyebarkan kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sedang hal itu jelas-jelas bertentangan dengan akidah Ahlusunnah wal Jama’ah.</p>
<p>Untuk menjawab pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah di atas tadi, mari kita simak beberapa pernyataan pembesar ulama Ahlusunnah tentang kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, dan ungkapan mereka perihal Muawiyah bin Abu Sufyan, termasuk yang bersumber dari kitab-kitab karya imam Ahmad bin Hambal yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dalam pola pikir dan metode (manhaj)-nya.</p>
<p>1. Dinukil dari imam Ahmad bin Hambal: “Barangsiapa yang tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka jangan kalian ajak bicara, dan jangan adakan tali pernikahan dengannya”.[36]</p>
<p>2. Dikatakan bahwa imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan: “Barangsiapa yang tidak menetapkan imamah (kepemimpinan) Ali, maka ia lebih sesat dari Keledai. Adakah Ali dalam menegakkan hukum, mengumpulkan sedekah dan membagikannya tanpa didasari hak? Aku berlindung kepada Allah dari ungkapan semacam ini…akan tetapi ia (Ali) adalah khalifah yang diridhai oleh para sahabat Rasul. Mereka melaksanakan shalat dibelakangnya. Mereka berperang bersamanya. Mereka berjihad dan berhaji bersamanya. Mereka menyebutnya sebagai amirulmukminin. Mereka ridha dan tiada mengingkarinya. Maka kami pun mengikuti mereka”.[37]</p>
<p>3. Dalam kesempatan lain, sewaktu putera imam Ahmad bin Hambal menanyakan kepada ayahnya perihal beberapa orang yang mengingkari kekhalifahan Ali, beliau (imam Ahmad) berkata: “Itu merupakan ungkapan buruk yang hina”[38].</p>
<p>4. Dari Abi Qais al-Audi yang berkata: “Aku melihat umat manusia di mana mereka terdapat tiga tahapan; Para pemilik agama, mereka mencintai Ali. Sedang para pemilik dunia, mereka mencintai Muawiyah, dan Khawarij”.[39]</p>
<p>Adapun riwayat-riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Ali terlampau banyak untuk disampaikan di sini. Untuk mempersingkat pembahasan, kita nukil beberapa contoh riwayat yang khusus berkaitan dengan keilmuan dan kekhilafan Ali dari kitab-kitab standar Ahlusunnah wal Jamaah:</p>
<p>1. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain karya al-Hakim an-Naisaburi dijelaskan dari Hayyan al-Asadi; aku mendengar Ali berkata: Rasul bersabda kepadaku: “Sesungguhnya umat akan meninggalkanmu setelahku (sepeninggalku), sedang engkau hidup di atas ajaranku. Engkau akan terbunuh karena (membela) sunahku. Barangsiapa yang mencintaimu, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang memusuhimu, maka ia telah memusuhiku. Dan ini akan terwarnai hingga ini (yaitu janggut dari kepalanya)”.[40]</p>
<p>2. Dalam Shahih at-Turmudzi yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id, ia berkata: “Kami (kaum Anshar) tiada mengetahui orang-orang munafik kecuali melalui kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib”.[41]</p>
<p>3. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam yang menyebutkan; Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan hidup sebagaimana kehidupanku, dan mati sebagaimana kematianku, dan menempati sorga yang kekal yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, maka hendaknya ia menjadikan Ali sebagai wali (pemimpin/kecintaan). Karena ia tiada akan pernah mengeluarkan kalian dari petunjuk, dan tiada akan menjerumuskan kalian kepada kesesatan”.[42]</p>
<p>4. Dalam kitab Tarikh al-Baghdadi diriwaytkan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasul bersabda: “Di malam sewaktu aku mi’raj ke langit, aku melihat di pintu sorga tertulis: Tiada tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasul Allah, Ali kecintaan Allah, al-Hasan dan al-Husein pilihan Allah, Fathimah pujian Allah, atas pembenci mereka laknat Allah”.[43]</p>
<p>5. Juga dalam kitab Tarikh al-Baghdadi disebutkan sebuah hadis tentang penjelmaan Iblis untuk menggoda Rasul beserta para sahabat sewaktu bertawaf di Ka’bah. Setelah Iblis itu sirna, Rasul bersabda kepada Ali: “Apa yang aku dan engkau miliki wahai putera Abu Thalib. Demi Allah, tiada seseorang yang membencimu kecuali ia (Iblis) telah campur tangan dalam pembentukannya (melalui sperma ayahnya .red).” Lantas Rasul membacakan ayat (64 dari surat al-Isra’): “Wa Syarikhum fil Amwal wal Awlad” (Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak)”.[44]</p>
<p>6. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain disebutkan, diriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasul bersabda: “Aku adalah kota hikmah, sedang Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki hikmah hendaknya melalui pintunya”.[45] Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu hendaknya melalui pintunya”.[46]</p>
<p>7. Dalam kitab Mustadrak as-Shahihain disebutkan, diriwayatkan dari al-Hasan dari Anas bin Malik, ia berkata; Nabi bersabda kepada Ali: “Engkau (Ali) penjelas (atas permasalahan) yang menjadi perselisihan di antara umatku setelahku”.[47]</p>
<p>8. Dalam kitab as-Showa’iq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar disebutkan, sewaktu Rasul sakit lantas beliau mewasiatkan kepada para sahabatnya, seraya bersabda: “Aku meninggalkan kepada kalian Kitab Allah (al-Quran) dan Itrah (keturunan)-ku dari Ahlul Baitku”. Kemudian beliau mengangkat tangan Ali seraya bersabda: “Inilah Ali bersama al-Quran, dan al-Quran bersama Ali. Keduanya tiada akan berpisah sehingga pertemuanku di al-Haudh (akherat) kelak, maka carilah kedua hal tersebut sebagaimana aku telah meninggalkannya”.[48] Dalam hadis lain disebutkan: “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali. Keduanya tiada akan pernah berpisah hingga pertemuanku di Haudh kelak di akherat”.[49]</p>
<p>9. Dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir disebutkan, diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri, ia berkata; Rasul memerintahkan kami untuk memerangi kelompok Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan). Lantas kami berkata: “Wahai Rasulullah, engkau memerintahkan kami memerangi mereka, lantas bersama siapakah kami?”, beliau bersabda: “Bersama Ali bin Abi Thalib, bersamanya akan terbunuh (pula) Ammar bin Yasir”.[50]</p>
<p>Pernyataan Resmi Ahlusunnah Perihal Kekhalifahan Ali:</p>
<p>Lihat, bagaimana Ibnu Taimiyah tidak menyinggung nama Ali dalam masalah kekhalifahan? Dan bagaimana ia berdusta atas nama imam Syafi’i tanpa memberikan dasar argumen yang jelas? Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari Ali, tetapi bahkan memberikan kemungkinan kekhalifahan buat Muawiyah. Padahal tidak ada kelompok Ahlusunnah pun yang meragukan kekhalifahan Ali. Berikut ini akan kita perhatikan pernyataan resmi beberapa ulama Ahlussunah perihal pandangan mazhab mereka berkaitan dengan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib:</p>
<p>1. Dari Abbas ad-Dauri, dari Yahya bin Mu’in, ia mengatakan: “Sebaik-baik umat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar dan Umar, kemudian Usman, lantas Ali. Ini adalah mazhab kami, juga pendapat para imam kami. Sedang Yahya bin Mu’in berpendapat: Abu Bakar, Umar, Ali dan Usman”.[51]</p>
<p>2. Dari Harun bin Ishaq, dari Yahya bin Mu’in: “Barangsiapa yang menyatakan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali (Radhiyallahu anhum) –dan mengakui Ali sebagai pemilik keutamaan, maka ia adalah pemegang as-Sunnah (Shahib as-Sunnah)…lantas kusebutkan baginya oknum-oknum yang hanya menyatakan Abu Bakar, Umar dan Usman, kemudian ia diam (tanpa menyebut Ali .red), lantas ia mengutuk (oknum tadi) mereka dengan ungkapan yang keras”.[52]</p>
<p>3. Berkata Abu Umar –Ibnu Abdul Bar- perihal seseorang yang berpendapat sebagaimana hadis dari Ibnu Umar: “Dahulu, pada zaman Rasul, kita mengatakan: Abu Bakar, kemudian Umar, lantas Usman, lalu kami diam –tanpa melanjutkannya)”. Itulah yang diingkari oleh Ibnu Mu’in dan mengutuknya dengan ungkapan kasar. Karena yang menyatakan hal itu berarti telah bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh Ahlussunah, baik mereka dari pendahulu (as-Salaf), maupun dari yang datang terakhir (al-Khalaf) dari para ulama fikih dan hadis. Sudah menjadi kesepakatan (Ahlussunah) bahwa Ali adalah paling mulianya manusia, setelah Usman. Namun, mereka berselisih pendapat tentang, siapakah yang lebih utama, Ali atau Usman? Para ulama terdahulu (as-Salaf) juga telah berselisih pendapat tentang keutamaan Ali atas Abu Bakar. Namun, telah menjadi kesepakatan bagi semuanya bahwa, sebagaimana yang telah kita sebutkan, semua itu telah menjadi bukti bahwa hadis Ibnu Umar memiliki kesamaran dan kesalahan, dan tidak bisa diartikan semacam itu, walaupun dari sisi sanadnya dapat dibenarkan”.[53]</p>
<p>Jadi jelaslah bahwa menurut para pemuka Ahlussunah, Ali adalah sahabat terkemuka yang termasuk jajaran tokoh para sahabat yang menjadi salah satu khalifah pasca Rasul. Berbeda halnya dengan apa yang diyakini oleh Ibnu Taimiyah, seorang ulama generasi akhir (khalaf) yang mengaku sebagai penghidup pendapat ulama terdahulu (salaf), namun banyak pendapatnya justru berseberangan dengan pendapat salaf saleh.</p>
<p>Pernyataan Ulama Ahlusunnah Perihal Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Ali:</p>
<p>Pada bagian kali ini akan kita nukil beberapa pernyataan ulama Ahlusunnah perihal pernyataan Ibnu Taimiyah yang cenderung melecehkan Ali bin Abi Thalib:</p>
<p>1. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menjelaskan tentang pribadi Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ia terlalu berlebihan dalam menghinakan pendapat rafidhi (Allamah al-Hilli seorang ulama Syiah. red) sehingga terjerumus kedalam penghinaan terhadap pribadi Ali”.[54]</p>
<p>2. Allamah Zahid al-Kautsari mengatakan: “…dari beberapa ungkapannya dapat dengan jelas dilihat kesan-kesan kebencian terhadap Ali”.[55]</p>
<p>3. Syeikh Abdullah Ghumari pernah menyatakan: “Para ulama yang sezaman dengannya menyebutnya (Ibnu Taimiyah) sebagai seorang yang munafik dikarenakan penyimpangannya atas pribadi Ali”.[56]</p>
<p>4. Syeikh Abdullah al-Habsyi berkata: “Ibnu Taimiyah sering melecehkan Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan: Peperangan yang sering dilakukannya (Ali) sangat merugikan kaum muslimin”.[57]</p>
<p>5. Hasan bin Farhan al-Maliki menyatakan: “Dalam diri Ibnu Taimiyah terdapat jiwa ¬nashibi dan permusuhan terhadap Ali”.[58]</p>
<p>6. Hasan bin Ali as-Saqqaf berkata: “Ibnu Taimiyah adalah seorang yang disebut oleh beberapa kalangan sebagai ‘syeikh Islam’, dan segala ungkapannya dijadikan argumen oleh kelompok tersebut (Salafy). Padahal, ia adalah seorang nashibi yang memusuhi Ali dan menyatakan bahwa Fathimah (puteri Rasulullah. red) adalah seorang munafik”.[59]</p>
<p>Dan masih banyak lagi ungkapan ulama Ahlusunnah lain yang menyesalkan atas prilaku pribadi yang terlanjur terkenal dengan sebutan ‘syeikh Islam’ itu. Untuk mempersingkat pembahasan, dalam makalah ini kita cukupkan beberapa ungkapan mereka saja. Namun di sini juga akan dinukil pengakuan salah seorang ahli hadis dari kalangan wahabi (pengikut Ibnu Taimiyah sendiri .red) sendiri dalam mengungkapkan kebingungannya atas prilaku imamnya (Ibnu Taimiyah) yang meragukan beberapa hadis keutamaan Ali bin Abi Thalib. Ahli hadis tersebut bernama Nashiruddin al-Bani. Tentu semua pengikut Salafy (Wahabi) mengenal siapa dia. Seusai ia menganalisa hadis al-wilayah[60] (kepemimpinan) yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib, lantas ia mengatakan: “Anehnya, bagaimana mungkin syeikh Islam Ibnu Taimiyah mengingkari hadis ini, sebagaimana yang telah dia lakukan pada hadis-hadis sebelumnya (tentang Ali), padahal ia memiliki berbagai sanad yang sahih. Hal ini ia lakukan, tidak lain karena kebencian yang berlebihan terhadap kelompok Syiah”.[61]</p>
<p>Dari sini jelas bahwa akibat kebencian terhadap satu kelompok secara berlebihan menyebabkan Ibnu Taimiyah terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kesesatan, sehingga menyebabkan ia telah menyimpang dari ajaran para salaf saleh yang selalu diakuinya sebagai pondasi ajarannya. Bukankah orang yang disebut ‘syeikh Islam’ itu mesti telah membaca hadis yang tercantum dalam Shahih Muslim –kitab yang diakuinya sebagai paling shahihnya kitab- yang menyatakan: “Aku bersumpah atas Dzat Yang menumbuhkan biji-bijian dan Pencipta semesta, Rasul telah berjanji kepadaku (Ali); Tiada yang mencintaiku melainkan seorang mukmin, dan tiada yang membenciku melainkan orang munafik”.[62] Sedang dalam hadis lain, diriwayatkan dari ummulmukminin Ummu Salamah: “Seorang munafik tiada akan mencintai Ali, dan seorang mukmin tiada akan pernah memusuhinya”.[63] Dan dari Abu Said al-Khudri yang mengatakan: “Kami dari kaum Anshar dapat mengenali para munafik melalui kebencian mereka terhadap Ali”.[64]</p>
<p>Jika sebagian ulama Ahlusunnah telah menyatakan, akibat kebencian Ibnu Taimiyah terhadap Ali dengan ungkapan-ungkapannya yang cenderung melecehkan sahabat besar tersebut sehingga ia disebut nashibi, lantas jika dikaitkan dengan tiga hadis di atas tadi yang menyatakan bahwa kebencian terhadap Ali adalah bukti kemunafikan, maka apakah layak bagi seorang munafik yang nashibi digelari ‘Syeikh al-Islam’? ataukah pribadi semacam itu justru lebih layak jika disebut sebagai ‘Syeikh al-Munafikin’? Jawabnya, tergantung pada cara kita dalam mengambil benang merah dari konsekuensi antara ungkapan beberapa ungkapan ulama Ahlusunnah dan beberapa hadis yang telah disebutkan di atas tadi.</p>
<p>Penutup:</p>
<p>Dari sini jelaslah, bahwa para ulama Salaf maupun Khalaf -dari Ahlussunah wal Jamaah- telah mengakui keutamaan Ali, dan mengakui kekhalifahannya. Lantas dari manakah manusia semacam Ibnu Taimiyah yang mengaku sebagai penghidup mazhab salaf saleh namun tidak menyinggung-nyinggung kekhalifahan Ali, bahkan berusaha menghapus Ali dari jajaran kekhilafahan Rasul? Masih layakkah manusia seperti Ibnu Taimiyah dinyatakan sebagai pengikut Ahlusunnah wal Jama’ah, sementara pendapatnya banyak bertentangan dengan kesepakatan ulama salaf maupun khalaf dari Ahlussunah wal Jamaah? Ataukah dia hanya mengaku dan membajak nama besar salaf saleh? Tegasnya, pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah tadi justru lebih layak untuk mewakili kelompok salaf yang dinyatakan oleh kaum muslimin sebagai salaf thaleh (lawan dari kata salaf saleh), seperti Yazid bin Muawiyah beserta gerombolannya.</p>
<p>Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta &#8220;ajaran resmi&#8221; Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah. Sehingga mereka pun berusaha sekuat tenaga agar semua usaha pendekatan, pintu dialog ataupun persatuan antara Sunnah-Syiah harus ditentang, ditutup dan digagalkan. Karena, jika antara Sunnah-Syiah bersatu, maka kedok mereka akan tersingkap, dan hal itu akan mengakibatkan nasib mereka kian tidak menentu.[]</p>
<p>Penulis: Mahasiswa S2 Jurusan Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomeini, Qom-Republik Islam Iran,</p>
<p>Rujukan:<br />
________________________________________</p>
<p>[2] Dalam kitab Mustadrak as-Shohihain Jil:3 Hal:483 karya Hakim an-Naisaburi atau kitab Nuur al-Abshar Hal:69 karya as-Syablanji disebutkan, bahwa Ali adalah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam Baitullah Ka’bah. Maryam ketika hendak melahirkan Isa al-Masih, ia diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi tempat ibadah, sedang Fatimah binti Asad ketika hendak melahirkan Ali, justru diperintahkan masuk ke tempat ibadah, Baitullah Ka’bah. Ini merupakan bukti, bahwa Ali memiliki kemuliaan tersendiri di mata Allah. Oleh karenanya, dalam hadis yang dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:31 dinyatakan, Rasul bersabda: “Engkau (Ali) sebagaimana Ka’bah, didatangi dan tidak mendatangi”.</p>
<p>[3] Pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, dalam banyak kitab disebutkan sebagai paling celakanya manusia di muka bumi. Lihat kitab-kitab semisal Thobaqoot Jil:3 Hal:21 karya Ibnu Sa’ad, Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:135, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:24 karya Ibnu Atsir, Qoshos al-Ambiya’ Hal:100 karya ats-Tsa’labi.</p>
<p>[4] Dalam kitab Fathul-Bari disebutkan bahwa pribadi-pribadi seperti imam Ahmad bin Hambal, imam Nasa’i, imam an-Naisaburi dan sebagainya mengakui bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali lebih banyak dibanding dengan keutamaan para sahabat lainnya.</p>
<p>[5] Lihat Tarikh at-Tabari Jil:2 Hal:62</p>
<p>[6] Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al-Harrani</p>
<p>[7] Lihat Shohih Muslim Kitab: Fadho’il as-Shohabah Bab:Fadhoil Ahlul Bait an-Nabi, Shohih at-Turmudzi Jil:2 Hal:209/319, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirakan surat 33:33 Jil:5 Hal:198-199, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:330 atau Jil:6 Hal:292, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir Jil:2 Hal:20 atau Jil:3 Hal:413, Tarikh al-Baghdadi Jil:10 Hal:278…dsb</p>
<p>[8] Jamii’ al-Jawami’ Jil:6 Hal:398, karya as-Suyuthi</p>
<p>[9] Kanz al-Ummal Jil:6 Hal:156, karya al-Muttaqi al-Hindi</p>
<p>[10] Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65, karya Abu Na’im al-Ishbahani</p>
<p>[11] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi, atau Tarikh al-Khulafa’ Hal:115 karya as-Suyuthi</p>
<p>[12] Tadzkirah al-Khawash Hal:87, karya Sibth Ibn al-Jauzi</p>
<p>[13] al-Istii’ab Jil:3 Hal:40</p>
<p>[14] Al-Ishobah Jil:2 Hal:509, karya Ibnu Hajar al-Asqolani, atau Hilliyah al-Auliya’ Jil:1 Hal:65</p>
<p>[15] Miftah as-Sa’adah, Jil:1 Hal:400</p>
<p>[16] Siar A’lam an-Nubala’ (khulafa’) Hal:239, karya adz-Dzahabi</p>
<p>[17] Al-Bidayah wa an-Nihayah Jil:7 Hal:332</p>
<p>[18] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:511 &amp; 461</p>
<p>[19] Ibid Jil:8 Hal:97</p>
<p>[20] Ibid Jil:7 Hal:515</p>
<p>[21] Ibid Jil:7 Hal:512</p>
<p>[22] Ibid Jil:7 Hal: 535</p>
<p>[23] Ibid Jil:5 Hal:513</p>
<p>[24] Ibid Jil:6 Hal:18</p>
<p>[25] Ibid Jil:8 Hal:234</p>
<p>[26] Dinukil dari Fathul Bari Jil:7 Hal:89 karya Ibnu Hajar al-Asqolani, Tarikh Ibnu Asakir Jil:3 Hal:83, Siar A’lam an-Nubala’ (al-Khulafa’) Hal:239</p>
<p>[27] Minhaj as-Sunnah Jil:4 Hal:485</p>
<p>[28] Ibid Jil:8 Hal:329 atau Jil:4 Hal:500</p>
<p>[29] Pernyataan aneh yang terlontar dari Ibnu Taimiyah. Apakah dia tidak pernah menelaah hadis yang tercantum dalam kitab Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:139 dimana Abu Ayub berkata pada waktu kekhilafahan Umar bin Khatab dengan ungkapan; “Rasulullah telah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memerangi kaum Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan)”. Begitu pula yang tercantum dalam kitabTarikh al-Baghdadi Jil:8 Hal:340, Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir Jil:4 Hal:32, Majma’ az-Zawa’id karya al-Haitsami Jil:9 Hal:235, ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat ke-41 dari surat az-Zukhruf, dsb? Ataukah Ibnu Taimiyah sudah tidak percaya lagi kepada para sahabat yang merawikan hadis tersebut? Bukankah ia telah terlanjur menyatakan bahwa sahabat adalah Salaf Saleh yang ajarannya hendak ia tegakkan?</p>
<p>[30] Ibid Jil:6 Hal:356</p></div>
<div style="text-align: justify;">
[31] Faidh al-Qodir Jil:6 Hal:336</div>
<div style="text-align: justify;">
[32] Minhaj as-Sunnah Jil:2 Hal:404</div>
<div style="text-align: justify;">
[33] Ibid Jil:1 Hal:537</div>
<div style="text-align: justify;">
[34] Ibid Jil:6 Hal:419</div>
<div style="text-align: justify;">
[35] Ibid Jil:4 Hal:682</div>
<div style="text-align: justify;">
[36] Thobaqoot al-Hanabilah Jil:1 Hal:45</div>
<div style="text-align: justify;">
[37] Aimmah al-Fiqh at-Tis’ah Hal:8</div>
<div style="text-align: justify;">
[38] As-Sunnatu Halal Hal:235</div>
<div style="text-align: justify;">
[39] Al-Isti’aab Jil:3 Hal:213</div>
<div style="text-align: justify;">
[40] Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:142. Hadis serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain semisal; Tarikh al-Baghdadi Jil:13 Hal:32, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:383, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:131, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:213, dsb.</div>
<div style="text-align: justify;">
[41] Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:299. Hadis serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab semisal; Shahih Muslim kitab al-Iman, Shahih an-Nasa’I Jil:2 Hal:271, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:84, Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:129, Tarikh al-Baghdadi Jil:3 Hal:153, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:133, dsb.<br />
[42] Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:128. Hadis semacam ini –walau dengan sedikit perbedaan redaksi- juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab semisal; Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:23 atau Jil:6 Hal:101, al-Ishabah karya Ibnu Hajar Jil:3 Bagian ke-1 Hal:20, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:215, Tarikh al-Baghdadi Jil:4 Hal:102, dsb.</p>
<p>[43] Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:259.</p>
<p>[44] Ibid Jil:3 Hal:289-290</p>
<p>[45] Mustadrak as-Shahihain Jil:11 Hal:204. Hadis yang sama dengan sedikit perbedaan redaksi juga dapat ditemukan dalam Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:229.</p>
<p>[46] Ibid Jil:3 Hal:128. Hadis yang sama dapat juga ditemukan dalam kitab lain semacam; as-Showa’iq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar Hal:73, Tarikh al-Baghdadi Jil:2 Hal:377, ar-Riyadh an-Nadhrah Jil:2 Hal:193, Kunuz al-Haqa’iq karya al-Manawi Hal:43, dsb.</p>
<p>[47] Ibdi Jil:3 Hal:122. Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab Hilliyat al-Auliya’ karya Abu Na’im Jil:1 Hal:63.</p>
<p>[48] As-Showa’iq al-Muhriqoh Hal:75. Hadis semacam ini dapat pula dilihat dalam kitab-kitab semisal Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:124, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:134, dsb.</p>
<p>[49] Tarikh al-Baghdadi Jil:14 Hal:321. Hadis serupa juga dapat dijumpai dalam kitab Shahih at-Turmudzi Jil:2 Hal:298, Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:119, Majma’ az-Zawa’id Jil:7 Hal:235, Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi Jil:6 Hal:157, dsb dengan sedikit perbedaan redaksi.</p>
<p>[50] Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:32-33. Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab lain seperti; Mustadrak as-Shahihain Jil:4 Hal:139, Tarikh Baghdadi Jil:8 Hal:340 atau Jil:13 Hal:186, Majma’ az-Zawa’id Jil:9 Hal:235, Tafsir ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat 41 dari surat az-Zukhruf, dsb.</p>
<p>[51] Al-Isti’aab Jil:3 Hal:213</p>
<p>[52] Ibid</p>
<p>[53] Ibid Jil:3 Hal:214</p>
<p>[54] Lisan al-Mizan Jil:6 Hal:319-320</p>
<p>[55] Al-Hawi fi Sirah at-Thahawi Hal:26</p>
<p>[56] Ar-Rasail al-Ghomariyah Hal:120-121</p>
<p>[57] Al-Maqolaat as-Saniyah Hal:200</p>
<p>[58] Dinukil dari kitab Nahwa Inqod at-Tarikh al-Islami karya Sulaiman bin Shaleh al-Khurasyi hal:35</p>
<p>[59] At-Tanbih wa ar-Rad Hal:7</p>
<p>[60] Hadis yang mengatakan: Ali waliyu kulli mukmin min ba’dy (Ali adalah pemimpin setiap mukmin setelahku)</p>
<p>[61] Silsilah al-Ahadis as-Shohihah, Hadis no: 2223</p>
<p>[62] Shohih Muslim Jil:1 Hal:120 Hadis ke-131 Kitab: al-Iman, atau Shohih at-Turmudzi Jil:5 Hal:601</p>
<p>Hadis ke-3736, dan atau Sunan Ibnu Majah Jil:1 Hal:42 Hadis ke-114</p>
<p>[63] Shohih at-Turmudzi Jil:5 Hal:594 Hadis ke-3717</p>
<p>[64] Ibid Hal:593</p></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">sumber ISLAT</div>
<p><!--JOM COMMENT START--></p>
<p style="text-align: justify;"><a id="jc_allComments" name="jc_allComments"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/25/ali-bin-abi-thalib-di-mata-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/12/hadith-hadith-sahih-yang-mewajibkan-ikut-ahlul-bayt-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/12/hadith-hadith-sahih-yang-mewajibkan-ikut-ahlul-bayt-as/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2006 14:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqalain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .
1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)
Bersabda Rasulullah SAWA:&#8221;Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.&#8221;

Sabdanya lagi:&#8221;Utusan Tuhanku tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-33" title="GHADR01" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/GHADR01-300x225.jpg" alt="GHADR01" width="300" height="225" />Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .</p>
<p><strong>1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)</strong></p>
<p align="justify">Bersabda Rasulullah SAWA:&#8221;<em>Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku</em>.&#8221;</p>
<p align="justify"><!--StartFragment --><span id="more-32"></span></p>
<p align="justify">Sabdanya lagi:&#8221;<em>Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini</em>&#8221; <a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#90"><span style="text-decoration: underline;"><span style="color: #0000ff;">[90]</span></span></a>. </p>
<p style="text-align: justify;"><!--more--><br />
Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:&#8221;Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.&#8221;</p>
<p align="justify">Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.</p>
<p align="justify">Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:&#8221;Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku&#8221;<span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#91">[91]</a></span>.</p>
<p align="justify">Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya &#8211; Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:&#8221;Betapa banyak pembaca al-Qur&#8217;an sementara al-Qur&#8217;an sendiri melaknatnya&#8221;. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya &#8211; ikut istilah al-Qur&#8217;an &#8211; dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.</p>
<p align="justify">Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur&#8217;an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.</p>
<p align="justify">Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:&#8221;Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.&#8221;Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.</p>
<p align="justify">Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita &#8220;Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku&#8230;&#8221;<span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#92">[92]</a></span> tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.</p>
<p align="justify">Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda &#8211; sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.</p>
<p align="justify">Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith &#8220;Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah&#8221;.</p>
<p align="justify">Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:&#8221; Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan&#8221; (Al-Qur&#8217;an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah &#8220;Dan Sulaiman telah mewarisi Daud &#8220;(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah &#8220;Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya&#8217;qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai&#8221; (Surah 19:5-6)</p>
<p align="justify">Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.</p>
<p align="justify">Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:&#8221;Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.&#8221;</p>
<p align="justify">Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:&#8221;Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:&#8221;Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah&#8221;<a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#93">[93]</a>. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:&#8221;Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta&#8221;. Atau beliau berkata:&#8221;Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu&#8221;. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:&#8221;Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali&#8221;.</p>
<p align="justify">Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa&#8217;:94:&#8221;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan &#8220;salam&#8221; kepadamu:&#8221;Kamu bukan seorang Mukmin &#8220;(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221;.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.</p>
<p align="justify">Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada&#8217;) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.</p>
<p align="justify">Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.</p>
<p align="justify">Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha&#8217;labah. Suatu hari Tha&#8217;labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma&#8217;at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha&#8217;labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:&#8221;Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:&#8221;Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)&#8221; (At-Taubah: 75-76).</p>
<p align="justify">Setelah turunnya ayat ini: Tha&#8217;labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.</p>
<p align="justify">Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha&#8217;labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai&#8217;ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.</p>
<p align="justify">Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur&#8217;an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:&#8221;Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu&#8221; <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#94">[94]</a></span>. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:&#8221;Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid&#8221;.</p>
<p align="justify">Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran &#8220;Pedang Allah Yang Terhunus!!!&#8221;</p>
<p align="justify">Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu&#8217;; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya <a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#95">[95]</a>.</p>
<p align="justify">Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya <em>as-Sidiq Abu Bakar</em>. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:&#8221;Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.</p>
<p align="justify">Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap &#8211; alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar &#8211; namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai &#8220;Pedang Allah&#8221; dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#96">[96]</a></span>.</p>
<p align="justify">Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga &#8220;kemuliaan&#8221; sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal &#8211; adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur&#8217;an jauh sekali.</p>
<p align="justify">Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:&#8221;Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud &#8220;.</p>
<p align="justify">Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan &#8220;Pedang Allah Yang Terhunus&#8221;.</p>
<p align="justify">Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.</p>
<p align="justify">Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan <em>Aslamna</em> (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: <em>Saba&#8217;na, saba&#8217;na.</em>Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:&#8221;Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid&#8221;, dibacanya dua kali <a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#97">[97].</a> Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid&#8221;.Dibacanya sehingga tiga kali <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#98">[98]</a></span>.</p>
<p align="justify">Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.</p>
<p align="justify">Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?</p>
<p align="justify">Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai &#8220;musuh Allah&#8221;. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.</p>
<p align="justify">Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#99">[99]</a></span>.</p>
<p align="justify">Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:&#8221;Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi <a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#100">[100]</a>. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:&#8221;Ini mesti ulah si A&#8217;saar&#8221;, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.</p>
<p align="justify">Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.</p>
<p align="justify">Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila&#8217; mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:&#8221;Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya&#8221;.</p>
<p align="justify">Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.</p>
<p align="justify">Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila&#8217; mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:&#8221;Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai&#8221;.</p>
<p align="justify"><strong>2. Hadith Bahtera</strong></p>
<p align="justify">Bersabda Nabi SAWA:&#8221;Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam&#8221;<span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#101"> [101]</a></span>.</p>
<p align="justify">&#8220;Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni&#8221;<span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#102">[102]</a></span>.</p>
<p align="justify">Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:&#8221;Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan &#8211; pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis &#8211; dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.&#8221;</p>
<p align="justify">Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:&#8221;Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka&#8221;.</p>
<p align="justify">Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.</p>
<p align="justify">Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:&#8221;Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira&#8217; ini, yakni Aisyah&#8221;.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.</p>
<p align="justify">Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A&#8217;mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.</p>
<p align="justify">Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:<br />
&#8220;Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung&#8221; (Al-Mujadalah: 22).</p>
<p align="justify">FirmanNya lagi:&#8221;Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu&#8221; (Al-Mumtahanah: 1).</p>
<p align="justify"><strong>3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku</strong></p>
<p align="justify">Bersabda Nabi SAWA:&#8221;Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad&#8217;n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila&#8217; walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya&#8221; <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#103">[103]</a></span>.</p>
<p align="justify">Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila&#8217; Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.</p>
<p align="justify">Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:&#8221;Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya&#8217;la al-Muharibi, seorang yang lemah&#8221;. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya&#8217;la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.</p>
<p align="justify">Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul <em>Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan </em><span style="color: #33ccff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#104">[104]</a></span>. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya&#8217;la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta&#8217;dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.</p>
<p align="justify">Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.<br />
 </p>
<p align="justify">Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!</p>
<p align="justify">Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.</p>
<p align="justify">Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#105">[105]</a></span>.</p>
<p align="justify">Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.</p>
<p align="justify">Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#106">[106</a>].</span> Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.</p>
<p align="justify">Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi&#8217;in dan Tabi&#8217; Tabi&#8217;in (generasi selepas sahabat).</p>
<p align="justify">Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya <span style="color: #3333ff;"><a href="http://almawaddah.orgfree.com/tijani/nota_kaki.htm#107">[107]</a></span>, dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.</p>
<p align="justify"><em>Fala Haula Wala Quwwata illa billa al-A&#8217;li al-A&#8217;zim.<br />
</em>Sumber : <a href="http://almawaddah.orgfree.com/">Al-Mawaddah Fil-Qurba</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/12/hadith-hadith-sahih-yang-mewajibkan-ikut-ahlul-bayt-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi&#039;ah</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/08/persamaan-dan-perbedaan-di-antara-ahlul-sunnah-dan-syiah/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/08/persamaan-dan-perbedaan-di-antara-ahlul-sunnah-dan-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2006 16:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlu Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-47" title="sunnah-syiah" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/sunnah-syiah.jpg" alt="sunnah-syiah" width="300" height="225" />Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-46"></span><br />
Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.</p>
<p>Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.</p>
<p>Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.</p>
<p>Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur&#8217;an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,&#8221;Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci&#8221;.</p>
<p>Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,&#8221;Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah&#8221;.</p>
<p>Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,&#8221;Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya&#8221;.</p>
<p>Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 &#8211; Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:&#8221;Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai&#8221;, dan sabdanya lagi:&#8221;Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti&#8221;.</p>
<p>Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur&#8217;an dan Hadith Nabi SAWA.</p>
<p>Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja&#8217;fariyyah dan Zaidiyyah. Mereka diringkaskan sebagai ghulat.</p>
<p>Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja&#8217;far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur&#8217;an dan Hadith.</p>
<p>Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.</p>
<p>Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy&#8217;ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?</p>
<p>Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.</p>
<p>Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.</p>
<p>Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:</p>
<p>Jika mereka bertanya tentang madzhabku,</p>
<p>Aku berdiam diri lebih selamat,</p>
<p>Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,</p>
<p>Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,</p>
<p>Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan &#8216;berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.</p>
<p>Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,</p>
<p>Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.</p>
<p>Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).</p>
<p>Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.</p>
<p>Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali &#8216;penentuan&#8217; itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah &#8216;penentuan&#8217; kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.</p>
<p>Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.</p>
<p>Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).</p>
<p>Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur&#8217;an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.</p>
<p>Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur&#8217;an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.</p>
<p>Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.</p>
<p>Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.</p>
<p>Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!</p>
<p>Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).</p>
<p>Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).</p>
<p>Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:&#8221;Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam&#8221;.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).</p>
<p>Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja&#8217;fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja&#8217;far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.</p>
<p>Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.</p>
<p>Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.</p>
<p>Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.</p>
<p>Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.</p>
<p>Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,&#8221;Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya&#8221;.</p>
<p>Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.</p>
<p>Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.</p>
<p>Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.</p>
<p>Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.</p>
<p>Rasulullah bersabda:&#8221;Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)&#8221; (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).</p>
<p>Rasulullah SAWA bersabda:&#8221;Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam&#8221;, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).</p>
<p>Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.</p>
<p>Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.</p>
<p>Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:&#8221;Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu&#8221;.</p>
<p>Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.</p>
<p>Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:&#8221;Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air&#8221;.</p>
<p>Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:&#8221;Wuduk itu dua basuh dan dua sapu&#8221;, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].</p>
<p>Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya &#8216;ala khayr al-&#8217;amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.</p>
<p>Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.</p>
<p>Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.</p>
<p>Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:&#8221;Sembahyang itu lebih baik dari tidur&#8221;, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.</p>
<p>Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.</p>
<p>Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud&#8221;dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud&#8221; (Sahih Muslim, Bab Mawdi&#8217; as-Salah).</p>
<p>Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.</p>
<p>Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.</p>
<p>Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya&#8217; di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.</p>
<p>Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa &#8220;Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya&#8217; tanpa musafir dan tanpa sebab takut&#8221;,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam&#8217; as-Salah fil-Hadr).</p>
<p>Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:&#8221;Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita&#8221;.</p>
<p>Kemudian melantik Ubay bin Ka&#8217;ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:&#8221;Ini adalah bidaah yang baik&#8221;. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).</p>
<p>Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.</p>
<p>Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan &#8211; sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.</p>
<p>Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)</p>
<p>Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga &#8216;Undang-undang 99 Perak&#8217;, dan &#8216;bersalam&#8217; lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja&#8217;fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.</p>
<p>Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut&#8217;ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:&#8221;Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan&#8221; sehingga terbukti pembatalannya.</p>
<p>Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana &#8216;menghadkan waktu&#8217; dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu&#8217;aqqat.</p>
<p>Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).</p>
<p>Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)</p>
<p>Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut&#8217;ah.</p>
<p>Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur&#8217;an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:&#8221;Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya&#8221;.</p>
<p>Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur&#8217;an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut&#8217;ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa&#8217; (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur&#8217;an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:&#8221;Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)&#8221;.</p>
<p>Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut&#8217;ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut&#8217;ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi&#8217;in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut&#8217;ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:&#8221;Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu&#8221;.</p>
<p>Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.</p>
<p>Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.</p>
<p>Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:&#8221;Ayat mengenai mut&#8217;ah telah diturunkan dalam al-Qur&#8217;an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).</p>
<p>Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:&#8221;Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta&#8217;ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat&#8221; (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut&#8217;ah).</p>
<p>Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma&#8217; binti Abu Bakar secara mut&#8217;ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut&#8217;ah)&#8221;.</p>
<p>Imam Ja&#8217;far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:&#8221;Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut&#8217;ah, dan &#8216;hayya ala khairil amal&#8217; dan ditanya Imam Ja&#8217;far as-Sadiq AS mengenai nikah mut&#8217;ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut&#8217;ah).</p>
<p>Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.</p>
<p>Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.</p>
<p>Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.</p>
<p>Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur&#8217;an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang &#8216;ratusan ribu&#8217; itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur&#8217;an itu ditujukan juga kepada mereka.</p>
<p>Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).</p>
<p>Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.</p>
<p>Mengenai Hadith &#8220;sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit&#8221;, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.</p>
<p>Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)&#8221;.</p>
<p>Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur&#8217;an dan Hadith Nabi SAWA.</p>
<p>Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja&#8217;far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.</p>
<p>Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti &#8216;jemputan&#8217; kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.</p>
<p>Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur&#8217;an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.</p>
<p>Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?</p>
<p>Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan&#8221;Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid&#8221;. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.</p>
<p>Nabi SAWA bersadba:&#8221;Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah &#8217;satu&#8217; (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji&#8217;ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.</p>
<p>Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa&#8217;at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).</p>
<p>Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.</p>
<p>Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai &#8220;Pintu Ilmu&#8221;.</p>
<p>Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:&#8221;Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya&#8221; (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).</p>
<p>Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa&#8217;I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.</p>
<p>Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.</p>
<p>Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.</p>
<p>Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja&#8217;far as-Sadiq AS.</p>
<p>Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz&#8221;Wahai anak Rasulullah&#8221; kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.</p>
<p>Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.</p>
<p>Imam Abu Hanifah berkata:&#8221;Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu&#8217;man&#8221; iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja&#8217;far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.</p>
<p>Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:</p>
<p>Aku adalah Syiah dalam agamaku,</p>
<p>Aku berasal dari Makkah,</p>
<p>Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).</p>
<p>Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.</p>
<p>Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa&#8221;Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli &#8216;ala Muhammad wa alihi Muhammad)</p>
<p>Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.</p>
<p>Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:</p>
<p>&#8220;Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.</p>
<p>Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.</p>
<p>Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya &#8211; yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..&#8221;</p>
<p>Katanya lagi,&#8221;Sesungguhnya Madzhab Ja&#8217;fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna &#8216;Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….&#8221;(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)</p>
<p>Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.</p>
<p>Sumber : <a href="http://almawaddah.orgfree.com/" target="_blank">Al-Mawaddah Fil-Qurba</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/08/persamaan-dan-perbedaan-di-antara-ahlul-sunnah-dan-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Antara Hasan bin Ali a.s dengan Muawiyah dan rekan-rekannya</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/22/dialog-antara-hasan-bin-ali-a-s-dengan-muawiyah-dan-rekan-rekannya/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/22/dialog-antara-hasan-bin-ali-a-s-dengan-muawiyah-dan-rekan-rekannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Nov 2006 12:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan bin Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'awiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Pengenalan
Tuntutan Hasan b. `Ali terhadap jawatan khalifah selepas bapanya amatlah ketara meskipun pada akhirnya beliau terpaksa melepaskan jawatan tersebut demi menjaga dirinya, keluarganya serta Syi`ahnya dari ancaman Mu`awiyah b. Abi Sufyan. Di dalam perbincangan mereka mengenai Imamah/Khilafah, caci mencaci telah berlaku. Sekali pandang ia tidak harus berlaku kerana mereka tergolong di kalangan para sahabat Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-91" title="Imam_Hasan-149x193" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Imam_Hasan-149x193.jpg" alt="Imam_Hasan-149x193" width="149" height="193" />Pengenalan</strong><br />
Tuntutan Hasan b. `Ali terhadap jawatan khalifah selepas bapanya amatlah ketara meskipun pada akhirnya beliau terpaksa melepaskan jawatan tersebut demi menjaga dirinya, keluarganya serta Syi`ahnya dari ancaman Mu`awiyah b. Abi Sufyan. Di dalam perbincangan mereka mengenai Imamah/Khilafah, caci mencaci telah berlaku. Sekali pandang ia tidak harus berlaku kerana mereka tergolong di kalangan para sahabat Rasulullah s.`a.w. Apatah lagi cacian mereka terhadap Hasan b. `Ali di mana beliau dan bapanya merupakan Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.</p>
<p>Mungkin kilauan dunia telah membuat manusia melupai Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w. Semuanya telah berlaku di dalam dunia Islam dan dicatat oleh para ulama dari golongan Ahl al-Sunnah dan Syi`ah. Persoalan yang timbul sekiranya para sahabat boleh mencaci sesama mereka, sementara orang lain yang bukan bertaraf sahabat tidak boleh menyebut dan menulis perbuatan mereka yang menyalahi nas, apakah keistimewaan mereka sehingga mereka diberi laluan yang istimewa sehingga boleh menyalahi Allah dan RasulNya?</p>
<p>Di sini diperturunkan hujah-hujah Hasan b. `Ali khususnya mengenai Imamah/Khilafah terhadap Mu`awiyah dan rakan-rakannya berdasarkan catatan al-`Allamah al-Tabarsi seorang ulama Mazhab Ja`fari abad keenam Hijrah di dalam bukunya al-Ihtijaj.1 Untuk menguatkan hujah, penulis membuat rujukan kepada buku-buku para ulama Ahl al-Sunnah.</p>
<p>Diriwayatkan daripada al-Sya`bi, Abi Mikhnaf dan Yazid b. Habib al-Misri sesungguhnya mereka berkata: Tidak terdapat per­tengkaran dalam Islam satu hari di mana orang ramai berkumpul di satu majlis yang lebih riuh rendah dari majlis yang dihadiri oleh Mu`awiyah b. Abi Sufyan, `Amru b. `Uthman b. `Affan, `Amru b. al-`As, `Atbah b. Abi Sufyan, al-Walid b. `Uqbah b. Abi Mu`it, al-Mughirah b. Syu`bah, semua mempunyai nada yang sama.</p>
<p>Amru b. al-`As berkata kepada Mu`awiyah: Kenapa anda tidak mengutus kepada Hasan b. `Ali supaya tampil ke mari, kerana beliau telah menghidupkan sunnah bapanya. Sepatu digerakkan di belakangnya, jika diperintah akan dipatuhi. Dia berkata: Percaya­lah, dua perkara ini akan mengangkatnya kepada perkara yang lebih besar daripada itu. Sekiranya anda mengutuskan kepadanya, nes­caya kami boleh menghinanya dan bapanya. Kami akan mencacinya dan bapanya. Kami akan memperkecilkannya dan bapanya. Kami boleh terus melakukannya sehingga beliau membenarkan anda menge­nainya.</p>
<p>Mu`awiyah berkata kepada mereka: Aku khuatir kalian akan dibelenggu kehinaan sehingga kalian memasuki kubur. Demi Tuhan, aku melihatnya dengan penuh kebencian. Lantaran itu aku akan memalukannya. Sesungguhnya jika aku mengutuskan kepadanya hanya­lah semata-mata bagi mengajarnya di hadapan kalian.2</p>
<p>`Amru b. al-`As berkata: Adakah anda khuatir kebatilannya mengatasi kebenaran kita, kesakitannya mengatasi kesihatan kita? Dia menjawab: Tidak. Dia berkata: Jikalaulah begitu keadaannya, maka jemputlah beliau kemari.</p>
<p>`Utbah berkata: Aku kurang pasti dengan pendapat ini. Demi Tuhan, kalian tidak akan mampu untuk menghadapinya tetapi beliau mampu untuk menghadapi kalian kerana beliau Ahl al-Bait yang handal berdebat. Lalu mereka menghantar utusan seorang lelaki kepada Hasan.</p>
<p>Apabila utusan itu sampai kepadanya, lantas dia berkata kepada Hasan: Mu`awiyah menjemput anda. Hasan bertanya: siapa bersamanya? Utusan itu menjawab: Di sisinya si polan dan si polan. Dia menyebut nama-nama mereka semua.</p>
<p>Hasan berkata: Malang untuk mereka dan azab akan mendatangi mereka dalam keadaan mereka tidak menyedarinya. Kemudian beliau berkata: Wahai jariah (hamba perempuan) hulurkan kain kepadaku. Kemudian beliau berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya dengan Engkau aku menolak ancaman mereka, aku pohon perlindungan dengan Engkau daripada kejahatan mereka, aku pohon pertolongan dengan Engkau ke atas mereka. Lantaran itu pertahankan aku daripada mereka menurut kehendak Engkau, bilamana Engkau kehendaki dengan</p>
<p>segala kekuatan Engkau ya arhama al-Rahimin.</p>
<p>Beliau berkata kepada utusan itu: Ini adalah doa bagi mem­ohon kejayaan. Manakala mendatangi Mu`awiyah, beliau dialu-alukan oleh Mu`awiyah dan beliau berjabat tangan dengan Mu`awiyah.</p>
<p>Hasan A.S berkata: Sesungguhnya orang yang anda mengalu-alukan kedatangannya adalah satu keselamatan untuknya dan &#8220;berja­bat tangan&#8221; merupakan satu perdamaian. Mu`awiyah berkata: Ya! Mereka mengutuskan anda ke mari supaya anda memperakui bahawa sesungguhnya `Uthman telah dibunuh secara kejam dan sesungguhnya bapa andalah yang membunuhnya. Oleh itu dengarlah kata-kata mereka kemudian berilah jawapannya kepada mereka sebagaimana mereka berkata kepada anda. Walau bagaimanapun kedudukanku tidak menghalang anda dari memberi jawapan kepada mereka.</p>
<p>Hasan berkata: Subhanallah, rumah adalah rumah anda dan keizinan adalah terserah kepada anda! Demi Allah jika aku mem­beri jawapan kepada mereka menurut apa yang mereka kehendaki sesungguhnya aku terasa malu kepada anda untuk menerangkan keja­hatan anda. Dan jika mereka mengalahkan anda menurut apa yang anda kehendaki, sesungguhnya aku terasa malu kepada anda untuk menerangkan kelemahan anda. Justeru itu yang mana satu anda memperakuinya dan yang mana satu anda memohon maaf. Sesungguhnya jika aku mengetahui kedudukan dan pertemuan mereka, nescaya aku datang bersama Bani Hasyim seramai bilangan mereka. Disebabkan aku berkeseorangan, mereka akan lebih bertindak liar terhadapku. sesungguhnya Allah `Azza Wajalla waliku hari ini dan selepasnya. Lantaran itu perintahlah mereka dan biarlah mereka bercakap sesuatu, aku akan mendengarnya. Tidak ada kekuatan melainkan dengan Allah S.W.T.</p>
<p>`Amru b. `Uthman b. `Affan berkata: Kalau boleh aku tidak ingin mendengar seperti hari ini seorang pun daripada Bani `Abdu l-Muttalib selepas pembunuhan `Uthman. Sedangkan dia adalah sepupu mereka, mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam teru­tamanya di sisi Rasulullah (s.`a.w). Justeru itu sejahat-jahat penghormatan Allah terhadap mereka kerana mereka telah menga­lirkan darahnya secara permusuhan dan menabur fitnah, kerana hasad dengki mereka bagi menuntut apa yang bukan menjadi milik mereka. Apatah lagi dia di kalangan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah dan RasulNya. Alangkah hinanya jika Hasan dan seluruh Bani `Abdu l-Muttalib menjadi pembunuh `Uthman! Mereka masih hidup berjalan ke mana mana sedangkan `Uthman mati berlumuran darahnya. Di samping itu kami mempunyai hak bagi menuntut bela di atas sembi­lan belas darah Bani Umaiyyah yang dibunuh di Badr.</p>
<p>Kemudian `Amru b. al-`As berkata: Dia memuji Allah kemudian berkata: Di mana satu anak lelaki Abu Turab yang kami utuskan kepada anda bagi kami meminta pengakuan dari anda bahawa sesung­guhnya bapa andalah yang telah meracuni Abu Bakr al-Siddiq, bersubahat di dalam pembunuhan `Umar al-Faruq dan pembunuhan `Uthman dhi al-Nuraini secara zalim. Beliau menuntut (khalifah) bukan daripada haknya. Dan menabur fitnah mengenainya.</p>
<p>Kemudian dia berkata: Sesungguhnya kalian wahai Bani Abdu l-Muttalib, Allah tidak mengurniakan al-Mulk (pemerintahan) kepada kalian. Lantas kalian menguasai apa yang tidak halal bagi kalian. Anda wahai Hasan, anda mengatakan bahawa anda adalah Amir al-Mukminin, sedangkan anda tidak mempunyai daya fikir mengenai-nya. Lantaran itu tidak hairanlah jika aku meninggalkan si bodoh berada di kalangan Quraisy. Ini disebabkan perbuatan bapa anda yang jahat. Sesungguhnya kami menjemput anda adalah semata-mata untuk mencaci anda dan bapa anda. Justeru itu anda tidak mampu mencela kami apatah lagi membohongi kami menge­nainya. Tetapi sekiranya anda dapati kami membohongi kalian di dalam sesuatu perkara atau kami mengatakan sesuatu tentang anda dan sesuatu terhadap anda menyala­hi kebenaran, maka cakaplah jika tidak, ketahuilah bahawa sesungguhnya anda dan bapa anda adalah sejahat-jahat makhluk Allah. Adapun mengenai bapa anda memadailah Allah telah membunuhnya dan mengasingkannya. Adapun anda berada di dalam kekuasaan kami, kami boleh membuat pilihan. Demi Allah sekiranya kami membunuh kalian tidaklah (kami) berdosa di sisi Allah dan tidak mendatang­kan keaiban di sisi orang ramai.</p>
<p>Kemudian `Atbah bin Abu Sufyan berkata: Wahai Hasan, sesung­guhnya bapa anda adalah sejahat-jahat Quraisy bagi Quraisy. Dia telah memutuskan silat al-Rahim di kalangan Quraisy dan menga­lirkan darahnya. Sesungguhnya anda adalah di kalangan pembunuh-pembunuh `Uthman. Justeru itu kami berhak membunuh anda kerananya. Sesungguhnya anda wajib membayar ganti rugi sebagaimana disebutkan di dalam kitab Allah Azza Wajalla dan kamilah orang yang memerangi anda mengenainya. Adapun bapa anda, Allah telah membunuhnya dan ia sudah selesai. Adapun harapan anda bagi mendapatkan khilafah, maka anda bukanlah orang yang layak mengenainya di dalam semua segi.</p>
<p>Kemudian al-Walid bin `Uqbah bin Abi Mu`it bercakap lebih kurang kepada para sahabatnya dan dia berkata: Wahai Bani Hasyim! Kalianlah orang pertama yang telah mendedahkan keaiban `Uthman dan mengumpulkan orang ramai bagi menentangnya. Sehingga kalian membunuhnya kerana inginkan al-Mulk (pemerintahan), memutuskan Silat al-Rahim, membinasakan umat, mengalirkan darah mereka kerana mengejar pemerintahan, mengejar dunia yang buruk dan mencintainya, sedangkan `Uthman adalah bapa saudara kalian. Dia adalah ipar kalian dan sebaik-baik ipar. Sesungguhnya ka­lianlah orang pertama yang hasad kepadanya dan mencacinya. Kemudian kalian merencanakan pembunuhannya. Bagaimana pula kalian fikir tentang azab Allah terhadap kalian.</p>
<p>Kemudian Mughirah bin Syu`bah pula berkata: Wahai Hasan! Sesungguhnya `Uthman telah dibunuh secara zalim. Justeru itu bapa anda tidak dapat mengelakkan dirinya dari pembunuhan terse­but. Tetapi kami mengatakan bahawa bapa anda telah melindungi pembunuh-pembunuh `Uthman dengan berbagai cara. Sesungguhnya dia meredhai pembunuhan itu. Demi Allah dia mempunyai pedang dan lidah yang panjang. Dia membunuh orang yang hidup dan mencela orang yang mati.</p>
<p>Bani Umayyah lebih baik daripada Bani Hasyim daripada Bani Hasyim terhadap Umayyah. Mu`awiyah adalah lebih baik untuk anda wahai Hasan daripada anda untuk Mu`awiyah. Bapa anda telah menentang (nasaba) Rasulullah s.`a.w. pada masa hidupnya dan telah</p>
<p>menutupinya sebelum kewafatannya dan ingin membunuhnya. Perkara tersebut diketahui oleh Rasulullah s.`a.w. kemudian dia benci memberi bai`ah kepada Abu Bakr sehingga dia bertindak balas, kemudian meracuninya sehingga mati. Selepas itu dia menentang `Umar sehingga dia berhasrat memotong tengkoknya. Kemudian dia menyokong pembunuhannya. Selepas itu dia mencaci `Uthman sehing­ga dia membunuhnya pula. Lantaran itu dia terlibat di dalam pembunuhan mereka. Manakah kedudukannya di sisi Allah wahai Hasan!</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah menjadikan sultan (pemerintah) sebagai wali kepada orang yang dibunuh di dalam kitabNya. Justeru itu Mu`awiyah adalah wali orang yang dibunuh tanpa hak. Justeru itu adalah wajar jika kami membunuh anda dan saudara lelaki anda. Demi Allah darah `Ali tidaklah lebih berbahaya dari darah `Uth­man. Lantaran itu Allah tidak akan menghimpunkan pada kalian dua perkara wahai Bani `Abdu l-Muttalib, pemerintahan (al-Mulk) dan kenabian (al-Nubuwwah). Kemudian dia berdiam diri.</p>
<p>Lalu Hasan bin `Ali berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayat kepada orang yang awal kalian dengan orang yang awal kami dan orang yang akhir kalian dengan orang yang akhir kami. Salawat dan salam ke atas datukku Muhammad nabi dan keluarganya. Kalian dengarlah jawapanku dan kalian fahamilah baik-baik. Dengan andalah aku mulai wahai Mu`awiyah. Demi Tuhan wahai Azraq (Mu`awiyah) tidak seorang pun mencaciku selain dari­pada anda. Mereka itu tidak mencaciku. Tidak mencelaku selain daripada anda dan mereka itu tidak mencelaku tetapi anda telah mencela dan mencaciku. Itu adalah petanda kejahatan anda dan pendapat anda kerana memusuhi kami dan hasad dengki anda kepada kami serta permusuhan anda terhadap Muhammad s.`a.w. dahulu dan sekarang.</p>
<p>Demi Allah sekiranya aku dan mereka itu wahai Azraq berme­syuarat di Masjid Rasulullah s.`a.w. dan sekitar kami orang-orang Muhajirin dan Ansar, nescaya mereka tidak mampu bercakap sedemi­kian rupa dan mereka tidak mengalu-alukan kedatanganku sebegini. Justeru itu dengarlah daripadaku wahai kumpulan yang menentangku. Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran yang kalian mengeta­huinya. Dan janganlah kalian membenarkan kebatilan sekiranya aku berkata mengenainya. Aku akan mulai percakapanku dengan anda wahai Mu`awiyah dan aku tidak akan berkata sesuatu pun melainkan ia bertepatan dengan anda.</p>
<p>1.Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian mengetahui bahawa lelaki yang kalian telah mencacinya itu adalah orang yang telah melakukan solat di hadapan dua kiblat. Dan anda telah melihat kedua-dua kitab kesesatan menyembah al-Lata dan al-`Uzza?3 Dia juga telah mela­kukan dua bai`ah, bai`ah al-Ridwan dan bai`ah al-Fath sedangkan anda wahai Mu`awiyah, di bai`ah pertama kafir sementara di bai`ah kedua anda menarik balik bai`ah anda (nakithin).4</p>
<p>2. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) telah mengepung Bani Quraidah dan Bani Nadhir kemudian beliau (s.`a.w.) mengutus `Umar b. al-Khattab bersama bendera Muhajirin dan Sa`d b. Mu`adh bersa­ma bendera Ansar. Adapun Sa`d b. Mu`adh pergi ke medan perang dan tercedera. Adapun `Umar telah lari dari medan peperangan. Dia mengatakan bahawa para sahabatnya pengecut tetapi para saha­batnya pula mengatakan dia adalah seorang yang pengecut.5</p>
<p>Lantas Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Besok aku akan mem­beri bendera kepada seorang lelaki di mana dia mencintai Allah dan RasulNya, dan Allah dan RasulNya mencintainya terus mara tanpa lari kemudian terus berjuang sehingga Allah memberi keme­nangan melaluinya&#8221;.6</p>
<p>Abu Bakr, `Umar serta orang-orang Muhajirin dan Ansar kurang senang mengenainya. `Ali pada masa itu mengidap penyakit mata. Rasul (s.`a.w.) menjemputnya lalu meniupkan di matanya lalu dia pun sembuh.7 Kemudian beliau memberikan kepadanya satu bendera.8 Dia pun pergi berjuang sehingga mendapat kemenangan dengan perto­longan Allah S.W.T. Sedangkan anda pada masa itu di Makkah adalah seorang musuh Allah dan RasulNya. Adakah sama di antara lelaki yang mencintai sesuatu kerana Allah dan RasulNya lelaki yang memusuhi Allah dan RasulNya?9 Aku bersumpah dengan nama Allah bahawa hati anda tidak pernah menerima Islam, tetapi lidah anda takut. Oleh itu anda bercakap apa yang tidak ada di hati anda. Lihat umpamanya hadis Nabi s.`a.w. kepada `Ali A.S: &#8221; Tidak akan mencintai anda melainkan dia seorang mukmin, dan tidak membencikan anda melainkan dia seorang munafiq&#8221;.10</p>
<p>3. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa Rasulullah (s.`a.w.) telah melantiknya (`Ali) di Madinah ebelum peperangan Tabuk tanpa memarahi dan bencinya. Lalu orang-orang munafiq bercakap mengenainya. Maka beliau (`Ali) berkata: Janganlah anda meninggalkan aku wahai Rasulullah kerana aku tidak pernah meninggalkan anda di dalam mana-mana peperangan. Lantas Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Anda adalah wasiku, khali­fahku pada keluargaku samalah kedudukan Harun di sisi Musa&#8221;. Kemudian beliau memegang tangan `Ali A.S seraya bersabda: &#8220;Wahai manusia! Siapa yang menjadikan aku wali, maka sesungguhnya dia telah menjadikan Allah wali. Dan siapa yang telah menjadikan `Ali wali maka dia telah menjadikan aku wali. Siapa yang telah mentaati aku, maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan siapa yang mentaati `Ali maka dia mentaati aku. Dan siapa yang mencintaiku, maka dia mencintai Allah. Dan siapa yang mencintai `Ali, maka dia telah mencintaiku&#8221;.11</p>
<p>4. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) bersabda pada Haji Wida`: &#8221; Wahai manusia sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dan kalian tidak akan sesat selepasnya; Kitab Allah dan itrah Ahl l-Baitku. Justeru itu halalkanlah halalnya dan haramkanlah haramnya. Beramallah menurut muhkamnya dan berimanlah menurut mutasyabihahnya.</p>
<p>Dan katakanlah: Kami percaya apa yang telah diturunkan Allah (al-Kitab), cintailah Ahl l-Baitku dan itrahku. Hormatilah orang-orang yang mewalikan mereka. Tolonglah mereka bagi menentang musuh-musuh mereka. Sesungguhnya kedua-duanya akan sentiasa berada pada kalian sehinggalah dikembalikan ke atasku di Haud pada hari kiamat.12</p>
<p>Kemudian beliau menjemput `Ali ketika beliau berdiri di atas mimbar lalu menarik tangannya seraya bersabda: &#8220;Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang mewalikannya, musuhilah orang yang menen­tangnya. Wahai Tuhanku, jangan jadikan di bumi ini tempat duduk penentang-penentang `Ali, dan di langit tidak ada tempat naik serta jadikanlah mereka di neraka yang terkebawah&#8221;.13</p>
<p>5. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Andalah orang yang boleh mencebok haudku di hari kiamat. Anda akan membekalkan air daripadanya sebagaimana seorang daripada kamu membekalkan &#8221; wanita asing &#8221; di tengah untanya&#8221;.14</p>
<p>6. Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian mengetahui bahawa `Ali telah berjumpanya (s.`a.w.) ketika sakit yang membawa kewafatannya, maka Rasulullah (s.`a.w.) menangis. Lalu `Ali berkata: Apakah yang membuat anda menangis wahai Rasulullah? Beliau bersabda: &#8220;Apa yang membuatkan aku menangis adalah kerana keilmuanku bahawa hasad dengki masih membara di hati umat ini, tetapi mereka tidak berani menzahirkannya sehingga aku wafat&#8221;.15</p>
<p>7. Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian mengetahui bahawa Rasulullah (s.`a.w.) ketika hampir wafat, Ahlu l-Baitnya berkumpul dan beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya Ahl al-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang meninggalkannya tenggelam&#8221;.16</p>
<p>8. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa para sahabat Rasulullah (s.`a.w.) telah menerima wilayah `Ali pada masa Rasulullah dan pada masa hidupnya?17</p>
<p>9. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya `Ali adalah orang yang pertama mengharamkan segala keinginan duniawi ke atas dirinya, lantas Allah `Azza Wajalla menurunkan ayat Surah al-Maidah 5: 88-89 &#8220;Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang</p>
<p>yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik daripada apa yang Allah telah rezekikan kepada kamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya&#8221;.</p>
<p>Di sisinya segala jenis ilmu; ilmu mengenai hukum, kefasihan bercakap, keilmuan yang utuh dan sebab-sebab turunnya al-Qur&#8217;an.18 Beliau adalah di kalangan kumpulan di mana kami tidak mengetahui mereka melengkapi sepuluh orang yang telah diberitahukan Allah bahawa mereka adalah Mukminin. Sedangkan kalian di kalangan kumpulan yang hampir bilangan mereka dilaknati Allah di atas lidah Rasulullah (s.`a.w.). Lantaran itu aku menjadi saksi untuk kalian dan menjadi saksi bagi menentang kalian; sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang dilaknati Allah di atas lidah nabi-Nya.19</p>
<p>10. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) mengutus kepada anda supaya anda menulis bagi pihaknya kepada Bani Khuzaimah ketika Khalid b. Walid melakukan angkara terhadap mereka, maka utusan itu berpaling kepadanya (Mu`awiyah) lalu berkata: Dia sedang makan. Maka utusan berpaling kepada anda sebanyak tiga kali. Dan setiap kali dia berpaling kepada anda dia berkata: Dia sedang makan. Maka Rasululullah (s.`a.w.) bersabda: &#8221; Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membuat perutnya terasa kenyang.&#8221; Justeru itu sabda itu adalah untuk anda dan makanan anda sehingga hari kia­mat.</p>
<p>11. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengeta­hui: Sesungguhnya apa yang aku perkatakan itu benar. Sesungguhnya wahai Mu`awiyah anda menarik dengan bapa anda di atas seekor unta merah diterajui oleh saudara anda yang duduk. Ini berlaku di hari al-Ahzab. Maka Rasulullah (s.`a.w.) melaknati pemandu, penunggang dan penarik. Bapa anda adalah penunggang, anda penar­ik dan saudara anda yang duduk adalah pemandu. 20</p>
<p>12. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) telah melaknati Abu Sufyan:</p>
<p>Pertama: Ketika beliau (s.`a.w.) keluar dari Makkah ke Madinah dan Abu Sufyan datang dari Syam. Lantas Abu Sufyan marah lalu mencacinya dan mengancamnya dan berhasrat untuk melakukan keka­saran terhadapnya tetapi Allah memalingkannya dari melaksanakan niat jahatnya.</p>
<p>Kedua: Hari al-`Air (keldai) di mana Abu Sufyan mengusirnya supaya ia tidak menjadi benteng kepada Rasulullah (s.`a.w.).</p>
<p>Ketiga: Hari Uhud di mana Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: &#8221; Allah adalah maula kami sedangkan anda tidak mempunyai maula.&#8221; Abu Sufyan berkata: Kami ada al-`Uzza sedangkan kalian tidak mempun­yainya. Lantaran itu Allah, para MalaikatNya, para RasulNya dan Mukminun melaknatinya.</p>
<p>Keempat: Hari Hunain di mana Abu Sufyan mulai mengumpulkan Qurai­sy dan Hawazin sementara `Uyainah mengumpulkan Ghatafan dan Yahudi. Lalu Allah menentang mereka dengan kemarahan mereka sendiri sehingga mereka tidak dapat mencapai kemenangan.</p>
<p>Ini adalah firman Allah `Azza Wajalla diturunkan di dalam dua surah kedua-duanya mengenai Abu Sufyan dan para sahabatnya sebagai kafir dan anda wahai Mu`awiyah di hari itu seorang musyr­ik menurut pendapat bapa anda di Makkah.21 Sedangkan `Ali di hari itu bersama Rasulullah (s.`a.w.) menurut &#8220;pendapatnya&#8221; dan agamanya.</p>
<p>Kelima: Firman Allah `Azza Wajalla Surah al-Fath 48: 25 &#8220;Dan merekalah orang-orang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjid Haram dan menghalangi haiwan korban sampai ke tempat penyembelihannya&#8221;</p>
<p>Anda, bapa anda dan musyrikin Quraisy menghalang Rasulullah (s.`a.w.). Justeru itu Allah melaknatinya dengan laknat yang meliputinya dan zuriatnya sehingga hari kiamat.22</p>
<p>Keenam: Hari al-Ahzab di mana Abu Sufyan mengumpulkan Quraisy sementara `Uyainah b. Hasin b. Badr mengumpulkan Ghatafan. Lantas Rasulullah (s.`a.w.) melaknati pemandu, pengikut dan penarik.</p>
<p>Ditanya Rasulullah: Adakah di kalangan penunggang itu muk­min? Beliau bersabda: Laknat tidak akan kena mukmin dari kalan­gan penunggang (al-Atba`). Tetapi di kalangan pemandu tidak ada seorang pun daripada mereka mukmin, tidak ada seorang pun yang menyahuti seruan dan tidak seorang pun berjaya.</p>
<p>Ketujuh: Hari Thaniyyah, di mana Rasulullah (s.`a.w.) hampir dibunuh oleh dua belas orang lelaki. Tujuh daripada mereka dari Bani Umayyah, lima daripada semua kabilah Quraisy. Justeru itu Allah dan RasulNya melaknati orang-orang yang memasuki al-Thaniyyah selain daripada Nabi (s.`a.w.). 23</p>
<p>13. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui sesungguhnya Abu Sufyan telah berjumpa `Uthman ketika dia dibai`ah di Masjid Rasulullah (s.`a.w.), dia berkata: Wahai anak saudaraku! Adakah pengintip ke atas kita sekarang? Dia menjawab: Tidak ada. Maka Abu Sufyan berkata: Pusingkanlah jawatan khali­fah wahai pemuda-pemuda Bani Umayyah. Demi orang yang di mana diri Abu Sufyan di tanganNya, tidak ada syurga dan neraka?24</p>
<p>14. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Abu Sufyan memegang tangan Husain ketika `Uthman dibai`ah dan berkata: Wahai anak saudaraku, marilah keluar bersama-samaku ke kubur Baqi`. Lalu beliau pun keluar bersamanya sehinggalah sampai di pertengahan kubur, dia menendang kubur itu dan melaung dengan sekuat-kuatnya: Wahai penghuni kubur! Perkara di mana kalian memerangi kami kerananya sekarang ia berada di tangan kami sedangkan kalian telah menjadi reput. Lantas Husain b. `Ali A.S berkata: Allah menjadikan uban anda sehodoh-hodohnya dan Dia menjadikan muka anda sehodoh-hodohnya. Kemudian beliau melepaskan tangannya lalu meninggalkannya keseor­angan. Sekiranya al-Nu`man b. Basyir tidak memimpin tangannya (Abu Sufyan) dan mengembalikannya ke Madinah, nescaya dia mati di situ.</p>
<p>Ini adalah untuk anda wahai Mu`awiyah. Adakah anda mampu menolak hujah kami dan hujah orang yang anda telah melaknatinya bahawa sesungguhnya bapa anda Abu Sufyan berhasrat untuk menjadi Muslim, tetapi anda telah mengutuskan kepadanya sebuah bait syair yang menonjolkan kelebihan Quraisy dan lain-lain. Justeru itu anda telah menghalangnya dari menerima Islam dan anda telah menghalangnya.25</p>
<p>Di antaranya `Umar b. al-Khattab telah melantik anda menjadi wali (gabenor) di Syam, tetapi anda mengkhianatinya. Kemudian `Uthman melantik anda menjadi wali, tetapi anda hanya menunggu saat kehancurannya. Kemudian lebih daripada itu anda beramai-ramai menentang Allah dan RasulNya. Sesungguhnya anda telah memerangi `Ali A.S sedangkan anda telah mengenalinya sebagai orang yang pertama memeluk Islam, kelebihannya, keilmuannya di dalam segala urusan.26</p>
<p>Malah beliau lebih layak daripada anda dan selain daripada anda di sisi Allah dan RasulNya. Anda telah menegahnya dan membuat orang ramai di dalam kesamaran. Anda telah mengalirkan darah makhluk Allah dengan tipudaya dan kelicikan anda. Perbuatan orang yang tidak beriman dengan hari akhirat dan tidak takutkan pembalasan. Malah apabila sampai ajal, anda akan ber­pindah ke tempat yang paling celaka sedangkan `Ali ke tempat yang paling baik. Dan Allah pasti menunggu anda.27 Ini adalah khusus untuk anda wahai Mu`awiyah. Adapun keai­ban-keaiban anda yang lain aku tidak mahu menyebutkannya kerana aku tidak mahu memanjangkan perkara ini.</p>
<p>Adapun anda wahai `Amru b. `Uthman, jawapanku terhadap anda tidak akan mencapai maksudnya disebabkan kebodohan anda. Sekir­anya anda mengikuti perkara-perkara tersebut, anda akan mengeta­hui bahawa anda sepertilah nyamuk manakala ia berkata kepada lebah: Berpeganglah sekuat-kuatnya kerana aku ingin turun di atas anda. Lalu lebah menjawab: Aku tidak pun menyedari kejatuhan anda di atasku. Bagaimana turunnya anda ke atasku akan menyulit­kanku? Demi Allah sesungguhnya aku tidak merasai bahawa anda secara terang memusuhiku sehingga ia menyulitkanku. Dan aku akan memberi jawapan kepada kata-kata anda: Adakah cacian anda terha­dap `Ali A.S. akan mengurangkan kemuliaannya atau menjauhkannya daripada Rasulullah (s.`a.w.)? Atau ujiannya itu mencacatkan Islam, atau tidak ada keadilan di dalam hukum? Atau cintakan dunia? Sekiranya anda menjawab salah satu daripada soalan-soalan tersebut, maka sesungguhnya anda telah berbohong.</p>
<p>Adapun kata-kata anda: Sesungguhnya bagi kalian pada kami sembilan belas hutang darah musyrikin Bani Umayyah di dalam peperangan Badr, jawapanku bahawa Allah dan RasulNya telah membunuh mereka semua.</p>
<p>Mudah-mudahan kamu akan membunuh di kalangan Bani Hasyim sembilan belas, dan tiga selepas sembilan belas kemudian dibunuh di kalangan Bani Umayyah sembilan belas. Sembilan belas sekaligus selain apa yang telah dibunuh di kalangan Bani Umayyah di mana bilangan mereka sebenar tidak diketahui melainkan Allah. Sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Apabila sampai Bani Umayyah tiga puluh orang lelaki, mereka membahagi-bahagikan harta Allah di kalangan mereka. Mengambil hamba-hambaNya sebagai milik, kitabNya sebagai lambang semata-mata. Apabila mereka meningkat tiga ratus sepuluh orang, mereka berhak dilaknati. Dan apabila mereka meningkat kepada empat ratus tujuh puluh lima, kebinasaan mereka lebih cepat daripada mengunyah sebiji kurma&#8221;. Begitu juga Hakam b. Abi al-`As termasuk di dalam firman dan hadis itu juga. Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Rendahlah suara kalian kerana Bani Umayyah sedang mendengar.</p>
<p>Hal demikian itu berlaku manakala Rasulullah (s.`a.w.) melhat mereka di dalam mimpinya, begitu juga orang-orang yang memiliki urusan khalifah selepasnya. Ia meresahkan Rasulullah (s.`a.w.). Lalu Allah `Azza Wajalla berfirman maksudnya &#8220;Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur&#8217;an&#8221; (Surah al-Isra&#8217; 17: 60) iaitu Bani Umayyah. Allah juga berfirman &#8220;Malam al-Qadar (kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan&#8221; (Surah al-Qadar 97: 3). Aku menja­di saksi untuk kalian dan ke atas kalian bahawa kekuasaan kalian selepas pembunuhan `Ali hanya seribu bulan yang telah ditetapkan oleh Allah `Azza Wajalla di dalam kitabNya.</p>
<p>Adapun anda wahai `Amru b. al-`As yang dilaknati Allah, sesungguhnya anda adalah anjing (ganas). Ibu anda adalah perem­puan jahat. Anda dilahirkan di atas &#8220;hamparan&#8221; yang dikongsikan oleh beberapa lelaki Quraisy seperti Abu Sufyan b. al-Harb, al-Walid b. Mughirah, `Uthman b. al-Harth, al-Nadar b. Kaldah dan al-`As b. Wa&#8217;il. Setiap mereka menyangka bahawa anda adalah anak lelakinya. Kemudian seorang yang paling jahat daripada mereka mendapat kemenangan di atas anda.28</p>
<p>Kemudian anda berkhutbah di dalam keadaan berdiri: Aku membenci Muhammad. Al-`As b. Wa&#8217;il berkata: Sesungguhnya Muham­mad adalah seorang lelaki yang terputus keturunannya. Sekiranya beliau mati nescaya terputuslah keturunannya. Lantas Allah S.W.T. menurunkan ayat Surah al-Kauthar 108: 3 &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus&#8221;.</p>
<p>Ibu anda pernah datang menawarkan dirinya kepada Bani `Abd Qais supaya menidurinya (bughyah), dia mendatangi mereka menurut giliran mereka sama ada di dalam perjalanan ataupun di wadi-wadi mereka. Kemudian anda pada setiap tempat dipersaksikan oleh Rasulullah (s.`a.w.) sebagai musuh yang paling kuat menentangnya dan yang paling pembohong. Kemudian anda adalah di antara penum­pang-penumpang bahtera; orang-orang yang mendatangi Raja Najjasyi bagi membunuh Ja`far b. Abu Talib dan orang-orang Muhajirin lain memohon perlindungan Raja Najjasyi. Tetapi tipudaya tersebut terserlah dan membuat datuk anda berada di bawah (gagal) dan menghancurkan niat jahatnya serta usaha anda yang sia-sia. Dia telah menjadikan kalimah orang-orang kafir di bawah dan kalimah Allah di atas.29</p>
<p>Adapun kata-kata anda tentang `Uthman, maka anda yang tidak mempunyai sifat malu dan keagamaan, anda telah menyalakan api ke atasnya. Kemudian anda telah melarikan diri ke Palestin semata-mata kerana menunggu giliran. Manakala berita pembunuhannya sampai, anda telah menawarkan diri anda kepada Mu`awiyah. Lantas anda menjual agama anda kepadanya dengan dunia orang lain wahai si jahat. Kami tidak mencela anda kerana memarahi kami dan kami tidak juga mengkritik anda kerana cintakan kami. Anda adalah musuh Bani Hasyim pada masa Jahiliyah dan Islam.</p>
<p>Sesungguhnya anda telah menghina Rasulullah (s.`a.w.) di dalam tujuh puluh bait syair. Justeru itu Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Wahai Tuhanku sesungguhnya aku tidak pandai bersyair, lantaran itu aku tidak patut menjawabnya oleh itu wahai Tuhanku laknatilah `Amru b. al-`As pada setiap bait syair seribu laknat&#8221;.30</p>
<p>Kemudian anda wahai `Amru, anda lebih mencintai dunia anda daripada agama anda. Anda telah mengadap Raja Najjasyi dan memberi hadiah kepadanya semasa lawatan anda pada kali pertama dan kedua. Tetapi kesemuanya menemui jalan buntu. Hasrat anda adalah supaya Ja`far dan para sahabatnya dibunuh. Manakala Raja Najjasyi menyalahkan anda mengenainya, lantas anda menghalalkan darah sahabat anda `Ammarah b. al-Walid.31</p>
<p>Adapun anda wahai Walid b. `Uqbah, demi Allah, aku tidak mencela anda memarahi `Ali kerana beliau telah menyebat anda lapan puluh kali sebat.32</p>
<p>Dan beliau telah membunuh bapa anda tanpa bertarung di hari Badr. Atau bagaimana anda mencacinya sedangkan Allah telah menamakannya mukmin di dalam sepuluh ayat al-Qur&#8217;an. Dan Dia telah menamakan anda fasiq sebagaimana fir­manNya dalam Surah al-Sajdah 32: 18 &#8220;Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasiq? Mereka tidak sama&#8221;. Dan firmanNya dalam Surah al-Hujurat 49: 6 &#8220;Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menye­babkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu&#8221;.</p>
<p>Adapun anda dan sebutan anda sebagai Quraisy pada hakikatnya anda bukanlah Quraisy, malah anda adalah anak lelaki kepada seorang yang tidak mengetahui budi bahasa dari keluarga Safuriyah bernama Zakwan.</p>
<p>Adapun sangkaan anda bahawa kami telah membunuh `Uthman, demi Allah, Talhah, Zubair dan `Aisyah sendiri tidak mampu untuk mengaitkannya dengan `Ali b. Abu Talib.33</p>
<p>Bagaimana anda sanggup berkata sedemikian rupa? Sekiranya anda bertanya ibu anda siapa­kah bapa anda ketika dia meninggalkan Zakwan, lalu dia mengaitkan anda dengan `Uqbah b. Abu Mu`it, nescaya dia merasa angkuh dan bermegah dengan apa yang dia lakukan. Sedangkan Allah telah menyediakan bagi anda, bapa anda dan ibu anda kehinaan dan me­nanggung malu di dunia dan di akhirat. Allah tidak akan menza­limi hamba-hambaNya.34</p>
<p>Kemudian anda wahai Walid! Allah lebih besar dari orang yang anda kaitkan namanya. Bagaimana anda mencaci `Ali kerana sekiranya anda bekerja keras nescaya anda dapat mempastikan nasab anda kepada bapa anda yang sebenar dan bukan kepada orang yang dikaitkan namanya dengan anda. Kerana ibu anda sendiri telah mengatakan: Wahai anakku, bapa anda adalah lebih celaka dan jahat daripada `Uqbah.</p>
<p>Adapun anda `Utbah b. Abu Sufyan; Demi Allah anda bukanlah cekap sehingga aku memberi jawapan kepada anda, tidak pula bera­kal sehingga aku mendera anda, kerana tidak ada di sisi anda kebaikan yang diharapkan sekiranya anda mencaci `Ali, tidak ada keaiban baginya terhadap anda. Kerana anda di sisiku tidaklah setanding dengan seorang hamba `Ali b. Abu Talib sehingga aku memberi jawapan kepada anda dan mencela anda, tetapi Allah `Azza Wajalla sedang menunggu anda, bapa anda, ibu anda dan saudara anda. Anda adalah dari zuriat datuk-datuk anda yang disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an, maka Dia berfirman di dalam Surah al-Ghasyiah 88: 3-5 &#8220;Bekerja keras lagi kepayahan (nasibah), memasuki api yang sangat panas, diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas&#8221;.</p>
<p>Adapun ancaman anda untuk membunuhku, kenapa anda tidak membunuh orang yang anda mendapatinya di atas hamparan anda bersama isteri anda. Dia telah mengalahkan anda bagi menguasai kemaluannya (farajnya) dan dia berkongsi dengan anda pula bagi mendapatkan anaknya sehingga dia mengaitkan anak lelaki tersebut dengan anda sedangkan ia bukanlah anak lelaki anda. Celakalah anda! Jikalaulah anda bekerja keras bagi membalas dendam terha­dapnya adalah lebih wajar kerana ia merupakan suatu kebebasan, kerana anda mengancam untuk membunuhku, tetapi aku tidak mencela anda mencaci `Ali kerana beliau telah membunuh saudara anda secara bertarung. Beliau dan Hamzah b. `Abdu l-Muttalib telah berkongsi di dalam pembunuhan datuk anda, sehingga Allah membakar mereka berdua dengan api neraka dan merasakan mereka berdua dengan azab yang pedih. Dan beliaulah yang mengusir bapa saudara anda sebelah ibu dengan perintah Rasulullah (s.`a.w.).</p>
<p>Adapun harapanku untuk menjadi khalifah, demi Allah sekira-nya aku mengharapkannya adalah kerana aku berhak menuntutnya. Sedangkan anda tidak setanding dengan saudara anda dan tingkah laku bapa anda. Kerana saudara anda lebih kuat menentang Allah S.W.T. dan paling kuat tuntutannya bagi mengalirkan darah Muslim­in. Dia juga menuntut apa yang dia tidak layak untuknya dengan menipu orang ramai. Justeru itu Allah memusnahkan tipu dayanya, dan Allah sebaik-baik orang yang mendedahkan tipu daya mereka.</p>
<p>Adapun kata-kata anda: Sesungguhnya `Ali adalah sejahat jahat Quraisy untuk Quraisy. Demi Allah, beliau tidak hina sehingga memerlukan kasihan belas, dan beliau tidak dibunuh secara zalim.</p>
<p>Adapun anda wahai Mughirah b. Syu`bah! Sesungguhnya anda adalah musuh Allah, meninggalkan kitabNya, pembohong terhadap nabiNya.35</p>
<p>Anda adalah penzina dan wajib dilaksanakan hukum rejam ke atas anda, kerana orang-orang yang adil dan baik menjadi saksi terhadap anda. Tetapi rejam anda ditangguhkan lantas kebenaran ditolak dengan kebatilan dan kebenaran dengan kekerasan.36</p>
<p>Justeru itu Allah menyediakan untuk anda azab yang pedih. Kehinaan di dalam kehidupan dunia dan azab di akhirat adalah lebih hina. Andalah orang yang telah memukul Fatimah binti Rasulullah (s.`a.w.) sehingga terkeluar darahnya dan &#8220;tergugur&#8221; kandungannya kerana anda menghina Rasulullah (s.`a.w.) dan menya­lahi perintahnya &#8220;mencabuli&#8221; kemuliaan anak perempuannya kerana Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepadanya: &#8220;Wahai Fatimah! Andalah penghulu wanita syurga&#8221;.37</p>
<p>Dan Allah akan memasukkan anda ke neraka dan anda akan menerima akibat dari kata-kata anda sendiri. Mana satukah di kalangan tiga perkara anda telah mencaci `Ali, adakah kekurangannya pada keturunannya? Atau jauhnya daripada Rasulullah (s.`a.w.)? Atau membawa bencana pada Islam atau kezaliman di dalam hukuman, atau cinta kerana dunia? Sekiranya anda berpendapat sedemikian maka sesungguhnya anda berbohong dan orang ramai akan membohongi anda pula.</p>
<p>Adakah anda menyangka bahawa `Ali A.S. telah membunuh `Uthman secara zalim?! `Ali, demi Allah orang yang paling ber­takwa dan orang yang paling bersih daripada orang yang mencelanya mengenai perkara tersebut. Sekiranya `Ali telah membunuh `Uthman secara zalim, demi Allah anda bukanlah ada kaitan dengannya. Di masa hidupnya anda tidak pernah membantunya dan pada masa matinya anda tidak menerima pusaka daripadanya. Anda masih mengelilingi rumah anda mengejar wanita-wanita jahat, anda menghidupkan amalan jahiliyah, anda mematikan Islam sepertilah di masa lalu.</p>
<p>Adapun penentangan anda terhadap Bani Hasyim dan Bani Umayyah adalah dakyah anda untuk Mu`awiyah.</p>
<p>Adapun pendapat anda mengenai pemerintahan dan pendapat para sahabat anda tentang kerajaan (al-Mulk) yang anda miliki, ia adalah seperti Fir`aun yang telah memerintah Mesir selama empat ratus tahun sedangkan Musa dan Harun adalah nabi yang diutuskan menghadapi penderitaan. Ia adalah milik Allah. Dia memberi­kannya kepada orang yang baik dan jahat. Allah berfirman dalam Surah al-Anbiya&#8217; 21: 111 &#8220;Dan aku tidak mengetahui boleh jadi hal itu cubaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu sahaja&#8221;. Dan firmanNya dalam Surah al-Isra&#8217; 17: 16 &#8220;Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaa­ti Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya&#8221;.</p>
<p>Kemudian Hasan pun berdiri dan menyingkatkan kainnya sambil membaca Surah al-Nur 24: 26: &#8221; Wanita-wanita yang keji bagi lelaki yang keji dan lelaki yang keji bagi wanita-wanita yang keji.&#8221; Mereka wahai Mu`awiyah, demi Allah, adalah anda para sahabat anda dan pengikut-pengikut anda (Syi`ah anda).</p>
<p>Dan lelaki yang baik adalah bagi wanita-wanita yang baik. Mereka itulah bersih daripada tuduhan yang dilemparkan ke atas mereka. Bagi mereka pengampunan dan rezeki yang mulia. Mereka adalah `Ali b. Abi Talib A.S, para sahabatnya dan pengikut-pengi­kutnya (Syi`ahnya).</p>
<p>Kemudian beliau keluar sambil berkata kepada Mu`awiyah: Rasailah akibat apa yang telah dilakukan oleh tangan anda. Se­sungguhnya Allah telah menyediakan bagi anda dan mereka kehinaan di dalam kehidupan dunia dan azab yang pedih di akhirat.</p>
<p>Mu`awiyah berkata kepada para sahabatnya: Rasailah kalian akibat apa yang anda telah lakukannya. Al-Walid b. `Uqbah berkata: Demi Allah, kami tidak merasai melainkan sebagaimana anda merasainya dan kami tidak berani melainkan menentang anda.</p>
<p>Mu`awiyah berkata: Tidakkah aku telah berkata kepada kalian sesungguhnya kalian tidak akan dapat menghina lelaki itu (Hasan). Sekiranya kalian mentaatiku semenjak awal lagi, nescaya kalian beroleh kemenangan menentang lelaki ini apabila beliau mendedah­kan keburukan kalian. Demi Allah, beliau tidak berdiri sehingga beliau menyiksaku seisi rumah. Dan aku bercita-cita untuk men­yerangnya. Lantaran itu tidak ada kebaikan di hari ini dan sele­pasnya.38</p>
<p>Dia berkata: Marwan b. Hakam mendengar tentang perjumpaan Mu`awiyah dan para sahabatnya dengan Hasan b. `Ali A.S. Lalu dia datang berjumpa mereka di sisi Mu`awiyah dan bertanya mereka. Apakah (benar) apa yang telah sampai kepadaku tentang Hasan dan kemarahannya?</p>
<p>Dia menjawab: Beliau (Hassan) memanglah begitu. Marwan berkata kepada mereka: Kenapa kalian tidak menjemputku bersama? Demi Allah, aku akan mencacinya, aku akan mencaci bapanya, Ahlu l-Baitnya dengan cacian sehingga hamba-hamba lelaki dan perempuan aku berpesta dengan penuh kegembiraan.</p>
<p>Hasan berkata: Adapun anda wahai Marwan, bukan aku yang mencaci anda dan bapa anda, tetapi Allah `Azza Wajalla telah melaknati anda, bapa anda, keluarga anda, zuriat anda dan zuriat yang keluar dari keturunan bapa anda sehingga hari kiamat di atas lidah nabiNya Muhammad. Demi Allah, wahai Marwan, anda tidak akan mengingkarinya, begitu juga orang yang datang di dalam majlis ini kerana laknat ini adalah daripada Rasulullah (s.`a.w.) untuk anda dan bapa anda sebelum anda.39 Allah tidak akan menam­bahkan kepada anda apa yang menakutkan anda melainkan kezaliman yang besar. Memang benar Allah dan rasulNya dan Dia berfirman dalam Surah al-Isra&#8217; 17: 60 &#8220;Dan pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur&#8217;an, dan Kami menakuti mereka tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka&#8221;.</p>
<p>Anda Wahai Marwan dan zuriat anda merupakan pohon yang dilaknati Allah di dalam al-Qur&#8217;an. Demikian itu adalah daripada Rasulullah (s.`a.w.) daripada Jibra`il daripada Allah `Azza Wajalla.40</p>
<p>Mu`awiyah melompat, lalu meletakkan tangannya di mulut Hasan seraya berkata: Wahai Abu Muhammad! Aku bukanlah jahat dan ganas.Lalu Hasan A.S membersihkan kainnya, kemudian beliau berdiri dan keluar. Mereka juga keluar dari majlis itu dengan kemarahan dan dukacita serta dengan muka hitam di dunia dan akhirat.</p>
<p>Sebenarnya tuntutan Hasan b. `Ali A.S terhadap Imamah/Khila­fah adalah berdasarkan nas daripada datuknya Rasulullah (s.`a.w.) Beliau begitu yakin bahawa hak Imamah/Khilafah selepas Rasulullah (s.`a.w.) adalah hak `Ali dan kemudian haknya dan seterusnya. Apatah lagi Mu`awiyah b. Abu Sufyan telah menentang bapanya `Ali A.S sebagai imam/khalifah di masa itu secara kekerasan.</p>
<p>Beberapa bulan selepas kewafatan bapanya, beliau telah mengambil alih jawatan khalifah, kemudian beliau pula terpaksa berdamai dengan Mu`awiyah. Perdamaian beliau dengan Mu`awiyah telah ditentang oleh kebanyakan Syi`ahnya sendiri. Namun begitu beliau terpaksa melakukannya demi menjaga dirinya, Ahl al-Baitnya dan Syi`ahnya. Beliau berkata: Demi Allah sekiranya perdamaianku dengan Mu`awiyah berlaku, nescaya aku dapat menjaga darahku dan menyelamatkan keluargaku, maka ia adalah lebih baik daripada mereka membunuhku. Lantaran itu keluargaku akan dibunuh. Demi Allah sekiranya aku memerangi Mu`awiyah, nescaya mereka memotong tengkukku dan membawanya kepada Mu`awiyah. Demi Allah sekiranya aku berdamai dengannya dalam keadaan aku mulia lebih baik dari dia membunuhku dalam keadaan aku menjadi tawanan.41</p>
<p>Kemudian Hasan terus mempertahankan tindakannya, beliau berkata: Demi Allah, aku tidak menyerahkan jawatan khalifah kepadanya melainkan selepas aku dapati tiada pembantu untukku. Sekir­anya aku mendapati pembantu-pembantu, nescaya aku memeranginya malam dan siang sehingga Allah menghukum di antara aku dan dia, tetapi aku mengetahui sikap penduduk-penduduk Kufah dan ujian mereka. Orang yang fasiq tidak sesuai untukku kerana mereka tidak mempunyai kesetiaan, tidak ada tanggungjawab sama ada dari segi kata-kata dan perbuatan. Mereka berselisih di kalangan mereka dan berkata: Sesungguhnya hati kami bersama anda tetapi pedang-pedang mereka ditujukan kepada kami.42</p>
<p>Oleh itu perdamaian yang dilakukan oleh Hasan adalah kerana terpaksa, tanpa pembantu-pembantu. Walau bagaimanapun beliau tidak berpuas hati terhadap sikap penduduk Kufah yang pengecut untuk berjuang bersamanya menentang Mu`awiyah.</p>
<p>Walau bagaimanapun caci mencaci secara serius telah berlaku di antara Hasan dan Mu`awiyah serta rakan-rakannya tentang Ima­mah/Khilafah. Mu`awiyah bukan sahaja mencaci Hasan malah dia mencaci `Ali b. Abi Talib dengan cacian yang melulu dan penuh dengan fitnah. Hasan menjawabnya dengan hujah yang mantap se­hingga dapat menundukkan mereka semua, kerana jawapan Hasan kepada mereka bukanlah merupakan cacian atau cercaan kerana ia adalah suatu hakikat yang sukar ditolak di mana mereka sendiri mengakuinya. Lantaran itu ia patut dibezakan di antara mencaci, mencerca, mencela dan menerangkan hakikat sesuatu. Apatah lagi jika ia berdasarkan kepada nas. `Ali berkata: Jika seseorang itu memberitahu hal atau keadaan seseorang tertentu menyalahi nas al-Qur&#8217;an dan Sunnah Nabi (s.`a.w.) adalah lebih wajar dan tidak boleh dikatakan pencaci.43</p>
<p>Walau bagaimanapun Mu`awiyah dan pemerintah Bani Umayyah selepasnya terus mencaci `Ali di atas mimbar masjid selama 70 tahun. Hanya semasa pemerintahan `Umar b. `Abd al-`Aziz ia dihentikan.44 Kemudian ia diteruskan kembali oleh pemerintah Bani Umayyah yang lain.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Hasan b. `Ali percaya bahawa hak Imamah/Khilafah selepas datuknya Rasulullah (s.`a.w.) adalah hak Ahl al-Bait Rasulullah (s.`a.w.). Orang lain adalah tidak layak untuk memegang jawatan tersebut berdasarkan nas dan akal. Walau bagaimanapun beliau akhirnya terpaksa menyerahkan jawatan khalifah kepada Mu`awiyah dengan syarat-syarat tertentu demi untuk menjaga dirinya, keluar­ganya dan Syi`ahnya.<br />
Nota Kaki:<br />
1 Al-Tabarsi, Abu `Ali al-Fadil b. al-Hasan, al-Ihtijaj, Beirut 1403 H., I, hlm. 269-279.<br />
2 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas , Tunis 1972 M., hlm. 200.<br />
3 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200; al-Turmudhi, Abu `Isa Muhammad b. `Isa b. Sawrah, Sunan al-Turmudhi, V, hlm. 642; al-Tabari, Abu Ja`far Muhammad b. Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Cairo 1956 M., II, hlm. 310.<br />
4Ibid.<br />
5 Al-Bukhari, Abu `Abdullah Muhammad b. Ismail, Sahih Bukhari, Cairo 1348 H., III, hlm. 46; Al-Hakim al-Nisaburi, Muhammad b. `Abdullah, al-Mustadrak `ala al-Sahihain fi al-Hadith, Cairo, 1969 M., III, hlm. 37; al-Dhahabi, Abu `Abdullah Muhammad b. Ahmad b. `Uthman, al-Talkhis, Hyderabad, 1958 M., III, hlm. 37 dan lain-lain.<br />
6 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, Cairo 1340 H., hlm. 232; Ibn Hajr al-`Asqalani, Lisan al-Mizan, VI, hlm. 237; al-Qunduzi al-Hanafi, Sulayman b. Ibrahim, Yanabi` al-Mawaddah fi Syama`il al-Nabi wa Fada`il Amir al-Mu&#8217;minin `Ali, Iran 1385 H., hlm. 132.<br />
7 Al-Khawarizmi, ibid., hlm. 148.<br />
8 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 81<br />
9 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200-201.<br />
10 Al-Qunduri al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 112.<br />
11 Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, Cairo 1957 M., I, hlm. 422; al-Zamakhsyari, Abu al-Qasim Mahmud b. `Umar, al-Kasysyaf `an Haqa`iq Ghawamid al-Tanzil wa `Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta`wil, Cairo t.t., I, hlm. 422; al-Syablanji, Mu`min b. Hasan Mu`min, Nur al-Absar fi Manaqib al-Bayt al-Nabi al-Mukhtar (s.`a.w.), Cairo 1367 H., hlm. 105; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 117.<br />
12 Muslim, Abu al-Husayn Muslim b. Hajjaj, Sahih Muslim, Cairo, 1311 H., II, hlm. 238; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 17, 26, 59; IV, hlm. 367; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 308.<br />
13Ibn Hajr al-`Asqalani, Abu al-Fadl Ahmad b. `Ali b. Muhammad b. Muhammad, Tahdhib al-Tahdhib, Hyderabad 1327 H., XI, hlm.445; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, Tehran 1404 H., hlm. 116-117.<br />
14 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 143.<br />
15 Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 408; al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Baghdad 1950 M., XII, hlm. 397; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 273.<br />
16 Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 343; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 27.<br />
17 Al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 422; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 105.<br />
18 Abu Nu`aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliya&#8217; wa Tabaqat al-Asfiya&#8217;, Cairo 1956 M., I, hlm. 67; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 208-9.<br />
19 Al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 89; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 172-174.<br />
20 Ibn al-Athir, `Izz al-Din Abu Hasan `Ali b. Muhammad b. `Abd al-Kasim al-Jazari, Usd al-Ghabah fi Ma`rifah al-Sahabah, Baghdad 1349 H., IV, hlm. 385; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 201.<br />
21 Al-Tabari, Tarikh, XI, hlm. 357; Nasr b. Mazahim, Kitab al-Siffin, Baghdad 1950 M., hlm. 247.<br />
22 Lihat umpamanya, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm.91.<br />
23 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 201-202.<br />
24 Lihat umpamanya, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm.91-93; al-Hakim, al-Mustadrak, IV, hlm. 480.<br />
25 Ibn Abi al-Hadid, `Izz al-Din Abu Hamid `Abd al-Hamid b. Abi al-Husayn Hibat Allah, Syarh Nahj al-Balaghah, Cairo 1959 M., II, hlm. 102.<br />
26 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 172-173.<br />
27 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200.<br />
28 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 204-205.<br />
29 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 186.<br />
30 Al-Haithami, Nur al-Din `Ali b. Abi Bakr, al-Majma` al-Zawa`id, Tunis 1375 H., VII, hlm. 348-350.<br />
31 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 186-187.<br />
32 Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 408.<br />
33 Ibn Qutaibah, Abu Muhammad `Abdullah b. Muslim, al-Imamah wa al-Siyasah, Cairo 1332 H., I, hlm. 84.<br />
34 Al-Haithami, al-Majma`, VII, hlm. 247-250.<br />
35 Al-Haithami, al-Majma`, VII, hlm. 247-250.<br />
36 Ibn Hajr al-`Asqalani, Abu al-Fadl Ahmad b. `Ali b. Muhammad b. Muhammad, al-Isabah fi Ma`rifah al-Sahabah, Baghdad 1345, H., III, hlm. 452; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 407; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, III, hlm. 88.<br />
37 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 293; al-Turmudhi, Sahih, VI, hlm. 301.<br />
38 Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200.<br />
39 Al-Tabari, Tafsir, Cairo 1952 M., XXX, hlm. 167; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 170; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 209.<br />
40 Al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 120; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, I, hlm. 252; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 209.<br />
41 Al-`Allamah al-Tabarsi, al-Ihtijaj, II, hlm. 290.<br />
42Ibid., hlm. 291.<br />
43 Syarif al-Radhi, Abu Hasan Muhammad b. al-Hasan al-Musawi, Nahj al-Balaghah, Baghdad 1364 H., hlm. 323.<br />
44 Al-Suyuti, Jalal al-Din `Abd al-Rahman b. Abu Bakr, Tarikh al-Khulafa&#8217;, Cairo 1963 M., hlm. 243.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/22/dialog-antara-hasan-bin-ali-a-s-dengan-muawiyah-dan-rekan-rekannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Amir Al-Mukminin `Ali bin Abi Thalib dengan Khalifah Abu Bakar mengenai Khilafah</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/06/dialog-amir-al-mukminin-ali-bin-abi-thalib-dengan-khalifah-abu-bakar-mengenai-khilafah/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/06/dialog-amir-al-mukminin-ali-bin-abi-thalib-dengan-khalifah-abu-bakar-mengenai-khilafah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Nov 2006 15:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thallib]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Tuntutan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib A.S terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hakikat yang tidak boleh dinafikan kerana ia dicatat di dalam buku-buku muktabar Ahl al-Sunnah dan Syi`ah.
Tuntutan tersebut lebih terserlah di dalam bentuk munasyadah (soal jawab) di mana beliau mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr berdasarkan kepada hadis-hadis Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-93" title="Imam_Ali2-147x193" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Imam_Ali2-147x193.jpg" alt="Imam_Ali2-147x193" width="147" height="193" />Tuntutan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib A.S terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hakikat yang tidak boleh dinafikan kerana ia dicatat di dalam buku-buku muktabar Ahl al-Sunnah dan Syi`ah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuntutan tersebut lebih terserlah di dalam bentuk munasyadah (soal jawab) di mana beliau mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr berdasarkan kepada hadis-hadis Rasulullah s.`a.w mengenai hak dan kelebihan dirinya, di mana orang yang ditanya harus menjawab soalan-soalan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Amir al-Mukminin `Ali A.S, tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hak yang wajib dituntut. Kerana Rasulullah s.`a.w telah melantik beliau dan sebelas anak cucunya daripada Fatimah A.S sebagai Imam/Khalifah. Bagi `Ali, perlantikan beliau adalah daripada Allah S.W.T.melalui rasulNya. Justeru itu orang ramai harus mentaatinya dansebelas para imam selepas beliau satu persatu. Apatah lagi khutbah/hadis Rasulullah s.`a.w di Ghadir Khum pada 18 Dhu l-Hijjah tahun 10 hijrah menjadi asas yang penting di dalam tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah secara langsung selepasRasulullah s.`a.w.</p>
<p style="text-align: justify;">Terjemahan Teks Dialog</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini akan diperturunkan dialog Amir al-Mukminin `Ali A.S yang dikemukakan kepada Khalifah Abu Bakr mengenai Imamah/Khilafah. Di dalam pembentangan ini, penulis mengemukakan terjemahan teks tersebut menurut catatan al-`Allamah al-Tabarsi di dalam al-Ihtijaj(1),. Kemudian penulis membuat rujukan kepada buku-buku Ahl al-Sunnah kita sebagai pengukuhan kepada kesahihan hadis-hadis tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Daripada Ja`far, Imam Ja`far al-Sadiq adalah imam keenam Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.Ja`far b. Muhammad, Imam Muhammad al-Baqir b. `Ali Zain al-Abidin b. Husain b.Ali adalah imam kelima Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.daripada bapanya, daripada datuknya A.S. Beliau berkata: Apabila selesai urusan Abu Bakr dan bai`ah orang ramai kepadanya serta perbuatan mereka terhadap `Ali, Abu Bakr masih mengharapkan bai`ah daripada `Ali, tetapi beliu A.S telah menunjukkan sikap negatif terhadapnya. Abu Bakr menganggapnya sebagai serius lalu beliau ingin berjumpa dengannya dan meminta maaf daripadanya di atas bai`ah orang ramai kepadanya sedangkangkan dia (Abu Bakr) sendiri tidak begitu berhasrat untuk memegang jawatan khalifah kerana kezuhudannya.Dia mengadakan pertemuan empat mata dengan `Ali A.S.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berkata: Wahai Abu l-Hasan! Demi Allah perkara ini bukanlah aku benar-benar mencintainya kerana aku tidak mempunyai keyakinan kepada diriku sendiri terhadap keperluan umat ini. Aku tidak mempunyai harta yang banyak dan keluarga yang ramai. Oleh itu kenapa anda menyembunyikan kepadaku apa yang aku tidak berhak daripada anda. Anda melahirkan kebencian terhadapku(2).</p>
<p style="text-align: justify;">Amir al-Mukminin berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Apakah yang mendorong anda untuk memegang jawatan khalifah sekiranya anda benar-benar tidak menghendakinya dan anda pula kurang yakin kepada diri anda sendiri untuk mengendalikannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr berkata: Sebuah hadis yang aku mendengarnya daripada Rasulullah s.`a.w bermaksud &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan&#8221;. Apabila aku melihat ijmak mereka terhadapku, maka akupun mengikuti sabda Nabi s.`a.w tersebut(3).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan aku tidak terfikir ijmak mereka menyalahi petunjuk. Lantaran itu aku memberi jawapan yang positif. Dan sekiranya aku mengetahui mahupun seorang yang tidak bersetuju di atas perlantikanku nescaya aku menolaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">2. `Ali berkata: Adapun sabda Nabi s.`a.w yang anda menyebutkannya &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan&#8221;, adakah aku daripada umat ataupun tidak?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Tentu sekali anda daripada umat.</p>
<p style="text-align: justify;">3. `Ali berkata: Adakah golongan menentang anda yang terdiri daripada Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dan orang-orang Ansar yang lain bersamanya termasuk di dalam umat?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Semuanya termasuk di dalam umat.</p>
<p style="text-align: justify;">4. `Ali berkata: Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi anda? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Aku tidak mengetahui penentangan mereka melainkan selepas berlaku pemilihan khalifah. Aku khuatir sekiranya aku meninggalkan &#8220;perkara&#8221; tersebut orang ramai akan menjadi murtad dari agama mereka. Lantaran itu perlakuan mereka terhadapku &#8211; sekiranya aku menyahuti seruan mereka &#8211; lebih senang bagikumememberi pertolongan di dalam agama dan mengekalkannya dari permusuhan di kalangan mereka. Justeru itu mereka kembali menjadi kafir. Aku menyedari bahawa anda bukanlah orang yang dapat mengekalkan keadaan mereka dan agama mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">5. `Ali berkata: Ya! Tetapi beritahukan kepadaku tentang orang yang berhak jawatan khalifah dan dengan apakah dia berhak?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Dengan nasihat, kesetiaan, perlakuan yang baik, melahirkan keadilan, alim dengan kitab dan sunnah, percakapan yangtinggi, zuhud di dalam soal keduniaan, tidak terlalu cintakan dunia, menyelamatkan orang yang tertindas dari ditindas,sama ada jauh dan dekat. Kemudian dia (Abu Bakr) diam.</p>
<p style="text-align: justify;">6. `Ali berkata: Orang yang terawal memeluk Islam dan kerabat?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Ya!</p>
<p style="text-align: justify;">7. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah wahai Abu Bakr, adakah sifat-sifat tersebut terdapat pada diri anda atau pada diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Malah pada diri anda wahai Abu l-Hassan(4).</p>
<p style="text-align: justify;">8. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menyahuti dakwah Rasulullah (s.`a.w) dari kaum lelaki atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(5).</p>
<p style="text-align: justify;">9. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku yang mengistiharkan Surah al-Bara&#8217;ah di musim haji akbar di hadapan kaum muslimin atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(6).</p>
<p style="text-align: justify;">10. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, aku telah mempertahankan Rasulullah s.`a.w. dengan diriku di hari al-Ghadiratau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(7).</p>
<p style="text-align: justify;">11. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku maula kepada anda dan semua muslimin melalui hadis Nabi (s.`a.w.) di hari al-Ghadir atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(8).</p>
<p style="text-align: justify;">12. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Wilayah (al-Maidah5:55) daripada Allah bersama Rasul-Nya mengenai zakat dengan sebentuk cincin untuk aku atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Untuk anda(9).</p>
<p style="text-align: justify;">13. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah al-Wazarah (wazir) untukku bersama Rasulullah (s.`a.w.) umpama Harun bersama Musa atau untuk anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Untuk anda(10).</p>
<p style="text-align: justify;">14. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah Rasulullah (s.`a.w.) mempertaruhkan dengan aku, isteriku dan ana- anak lelakiku apabila bermubahalah dengan Musyrikin atau dengan isteri anda dan anak-anak lelaki anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Dengan kalian(11).</p>
<p style="text-align: justify;">15. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Tathir (Surah al-Ahzab 33: 33) untukku, isteriku dan anak-anak lelakiku atau untuk anda, isteri anda dan anak-anak lelaki anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda dan anak isteri anda(12).</p>
<p style="text-align: justify;">16. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku, isteriku dan anak-anak lelakiku yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di hari al-Kisa&#8217; &#8220;Wahai Tuhanku mereka itulah keluargaku kepada Mu dan bukan kepada neraka&#8221; atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda, isteri anda dan anak-anak lelakianda(13).</p>
<p style="text-align: justify;">17. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang dimaksudkan dengan ayat &#8220;Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana&#8221; (Surah al-Insan76:7) atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(14).</p>
<p style="text-align: justify;">18. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikembalikan matahari untuk waktu solat lalu ditunaikan solatnya kemudian ia terbenam atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(15).</p>
<p style="text-align: justify;">19. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah melegakan Rasulullah (s.`a.w.) dan kaum Muslimin dengan pembunuhan `Amru b. `Abd Wuddin atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(16).</p>
<p style="text-align: justify;">20. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diamanahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam perutusannya kepada jin lalu anda menyahutinya atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(17).</p>
<p style="text-align: justify;">21. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang disucikan oleh Allah dari perzinaan semenjak Adam sehinggalah kepada bapanya dengan sabda Rasulullah (s.`a.w.) &#8220;Aku dan anda (`Ali) dari nikah yang sah dan bukan dari perzinaan semenjak Adam hinggalah `Abdu l-Muttalib&#8221; atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(18).</p>
<p style="text-align: justify;">22. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah dipilih oleh Rasulullah dan mengahwinkan aku dengan anak perempuannya Fatimah (`a.s) dan bersabda: &#8220;Allah telah mengahwinkan anda dengan Fatimah di langit&#8221; atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(19).</p>
<p style="text-align: justify;">23. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku bapa Hasan dan Husain manakala beliau bersabda: &#8220;Kedua-duanya pemuda Ahli Syurga dan bapa mereka berdua adalah lebih baik daripada mereka berdua&#8221; atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(20).</p>
<p style="text-align: justify;">24. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah saudara anda yang dihiasi dengan dua sayap terbang di syurga bersama para malaikat atau saudaraku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Saudara anda(21).</p>
<p style="text-align: justify;">25. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menjamin hutang Rasulullah (s.`a.w.) dan mengadakan perisytiharan di musim haji dengan melaksanakan janjinya atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(22).</p>
<p style="text-align: justify;">26. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku orang yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam keadaan burung di sisinya, di mana beliau ingin memakannya. Beliau bersabda: &#8220;Wahai Tuhanku! bawa datanglah kepadaku orang yang paling Engkau cintai selepasku bagi memakan (daging) burung itu bersamaku &#8220;. Maka tidak seorangpun datang selain daripadaku atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(23).</p>
<p style="text-align: justify;">27. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah akukah orang yang telah diberi mandat oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya memerangi al-Nakithin, al-Qasitin, al-Mariqin menurut takwil al-Qur&#8217;an atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(24).</p>
<p style="text-align: justify;">28. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dengan kehakiman dan kefasihan di dalam percakapan dengan sabdanya: &#8220;`Ali adalah orang yang paling alim di dalam ilmu penghakiman&#8221; atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(25).</p>
<p style="text-align: justify;">29. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku di mana Rasulullah (s.`a.w.) memerintahkan para sahabatnya supaya memberi salam kepadanya untuk menjadi ketua pada masa hidupnya atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(26).</p>
<p style="text-align: justify;">30. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang menyaksi percakapan Rasulullah (s.`a.w.) yang terakhir, menguruskan &#8220;mandi&#8221; dan mengkafannya atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(27).</p>
<p style="text-align: justify;">31. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda kerabat Rasulullah (s.`a.w.) atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(28).</p>
<p style="text-align: justify;">32. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikurniakan oleh Allah dengan dinar ketika dia memerlukannya dan Jibra&#8217;il menjualkannya kepada anda dan anda menjadikan Muhammad sebagai tetamu lalu anda memberi makan anaknya atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menangis dan berkata: Anda(29).</p>
<p style="text-align: justify;">33. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diletakkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di atas bahunya bagi menolak dan memecahkan berhala-berhala di atas ka`bah sehingga jika aku kehendaki nescaya aku dapat menyentuhi ketinggianlangit atau anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(30).</p>
<p style="text-align: justify;">34. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang disabdakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) &#8220;Andalah pemilik bendera di dunia dan di akhirat&#8221; atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(31).</p>
<p style="text-align: justify;">35. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang diperintahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya membuka pintu di masjidnya ketika beliau memerintahkan supaya ditutup semua pintu keluarganya dan para sahabatnya dan membenarkan pintu anda dibuka atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(32).</p>
<p style="text-align: justify;">36. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda telah mengeluarkan sadqah apabila anda mengadakan perbicaraan khusus dengan Rasul dikala itu Allah mengkritik satu golongan&#8221;Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) kerana kamu memberi sadqah sebelum pembicaraan dengan Rasul?&#8221; (Surah al-Mujadalah 58:13) atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(33).</p>
<p style="text-align: justify;">37. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dimaksudkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) ketika beliau bersabda kepada Fatimah: &#8220;Aku nikahkan akan anda kepada orang yang pertama beriman kepada Allah&#8221; atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(34).</p>
<p style="text-align: justify;">38. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diberi salam oleh para malaikat tujuh langit di hari al-Qulaib atau aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menjawab: Anda(35).</p>
<p style="text-align: justify;">39. `Ali berkata: Adakah dengan ini dan seumpamanya anda berhak melaksanakan urusan umat Muhammad? Apakah yang membuatkan anda terlanjur jauh dari Allah dan Rasul-Nya sedangkan anda tidak mempunyai sesuatu yang diperlukan oleh penganut agamanya!</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr menangis dan berkata: Memang benar apa yang anda perkatakan wahai Abu l-Hassan. Tunggulah aku hingga berlalunya hariku. Aku akan memikirkan tentang jawatanku sebagai khalifah dan aku tidak akan mendengar lagi percakapan sebegini daripada anda(36).</p>
<p style="text-align: justify;">30. `Ali berkata: Itu terserah kepada anda wahai Abu Bakr. Lantas dia kembali dan jiwanya agak tenang di hari itu dan tidak membenar seorangpun berjumpa dengannya sehingga di malam hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulasan</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam munasyadah di antara Amir al-Mukminin `Ali dan Khalifah Abu Bakr ternyata bahawa Amir al-Mukminin telah mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr khususnya mengenai Imamah/Khilafah di mana beliau berhujah bahawa jawatan Imamah/Khilafah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.) adalah haknya berdasarkan hadis-hadis Rasulullah (s.`a.w.) mengenai perlantikan beliau sebagai imam/khalifah. Ia juga disebut oleh beliau ketika melakukan munasyadah di antara beliau dan Khalifah Abu Bakr di mana Khalifah Abu Bakr kelihatan memperakui hakikat ini dan hampir-hampir menyerah jawatan Khalifah kepada Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib jika tidak dihalang oleh `Umar.(37)</p>
<p style="text-align: justify;">Persoalan yang timbul, jika perlantikan Rasulullah (s.`a.w.) ke atas `Ali sebagai imam/khalifah selepas beliau itu adalah benar &#8211; Ia memang benar berdasarkan hadis-hadis Nabi (s.`a.w.) -kenapa umat mengabaikan tanggungjawab mereka untuk mentaati perlantikan beliau? Atau jika perlantikannya daripada Rasulullah s.`a.w. tidak benar, kenapa `Ali A.S menuntut bukan haknya?</p>
<p style="text-align: justify;">Adakah ini sifat Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w. yang telah disucikan di dalam Surah al-Ahzab 33: 33? Sebenarnya Amir al-Mukminin `Ali telah menerangkan kedudukannya mengenai imamah/khilafah kepada Ibn Qais yang mengemukakan soalan kepadanya. Sulaim b. Qais al-Hilali, meriwayatkan bahawa Ibn Qais bertanya kepada Amir al-Mukminin `Ali A.S: Apakah yang menghalang anda dari menghunus pedang anda untuk menuntut jawatan imamah/khilafah?(38)</p>
<p style="text-align: justify;">Amir al-Mukminin `Ali A.S menjawab: Wahai Ibn Qais! Dengarlah jawapanku: Bukanlah kerana perasaan pengecut dan kebencianku menemui Tuhanku. Aku bukanlah tidak mengetahui bahawa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagiku daripada dunia dan kekal di dalamnya. Tetapi perintah Rasulullah (s.`a.w.) yang telah menghalangku dan janji beliau kepadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa umat akan belot selepasnya(39).</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun begitu aku tidak begitu yakin terhadap apa yang mereka perlakukan di hadapanku kerana aku lebih menyakini sabda Rasulullah (s.`a.w.) daripada apa yang aku melihatnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkata: Wahai Rasulullah! Apakah janji anda kepadaku sekiranya ia berlaku sedemikian? Beliau bersabda: Jika anda dapat mencari pembantu-pembantu, maka tentangilah &#8220;mereka&#8221; dan jika anda tidak dapat pembantu-pembantu, tahanlah tangan anda, peliharalah darah anda sehingga anda mendapati pembantu-pembantu bagi menegakkan agama, kitab Allah dan Sunnahku(40).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa sesungguhnya umat aka menghinaku, membai`ah dan mengikut orang lain selain daripadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa kedudukanku di sisinya sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa dan umat selepasnya seperti kedudukan Harun serta orang yang mengikutnya(41) , dan kedudukan al-`Ajl (anak lembu jantan) serta orang yang mengikutnya kerana Musa berkata kepadanya: &#8220;Wahai Harun, apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku? Harun menjawab: Wahai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan berkata (kepadaku): Kamu telah memecah antara Bani Isra&#8217;il dan kamu tidak memelihara ummatku&#8221; (SurahTaha 20: 92-94).</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dimaksudkan oleh Allah adalah sesungguhnya Musa telah memerintahkan Harun ketika beliau melantiknya ke atas mereka jika mereka sesat dan beliau (Harun) dapat pembantu-pembantunnya, hendaklah beliau menentang mereka dan sekiranya beliau tidak dapat pembantu-pembantu, hendaklah beliau menahan tangannya dan memelihara darahnya dan janganlah beliau melakukan perpecahan di kalangan mereka(42). Dan sesungguhnya aku takut saudaraku Rasulullah (s.`a.w.) akan berkata kepadaku kenapa anda memecahbelahkan mereka dan tidak memelihara ummatku? Sedangkan aku telah menjanjikan anda sesungguhnya jika anda tidak ada pembantu-pembantu, hendaklah anda menahan tangan anda, memelihara darah anda, darah keluarga anda dan Syi`ah anda(43).</p>
<p style="text-align: justify;">Amir al-Mukminin `Ali berkata lagi: Apabila Rasulullah (s.`a.w.) wafat, orang ramai cenderung kepada Abu Bakr lantas mereka memberi bai`ah kepadanya. Sedangkan aku sibuk memandi dan mengkafan jenazah Rasulullah (s.`a.w.). Kemudian aku menghabiskan masaku dengan mengumpulkan al-Qur&#8217;an sehingga aku mengumpulkannya di dalam satu kain. Kemudian aku, Fatimah dan di tangan-nya Hassan dan Husain, menyeru kesemua orang-orang yang terlibat di dalam peperangan Badar dan orang-orang terdahulu memeluk Islam yang terdiri daripada orang-orang Muhajirin dan Ansar, semuanya aku telah mengemukakan hujah-hujahku dengan nama Allah S.W.T.mengenai hakku dan aku telah menyeru mereka supaya membantuku. Tetapi semua mereka tidak menyahut seruanku selain daripada empat orang; al-Zubair, Salman, Abu Dhar dan al-Miqdad(44).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian `Ali meneruskan kata-katanya: Wahai Ibn Qais, sesungguhnya mereka telah memaksaku dan menekanku hampir mereka membunuhku. Jika mereka berkata kepadaku: Kami semata-mata mahu membunuh anda, nescaya aku akan menghalang pembunuhan mereka terhadapku sekalipun aku seorang. Tetapi mereka berkata: Sekiranya anda memberi bai`ah (kepada Abu Bakr) nescaya kami akan melepaskan anda, memuliakan anda, mendampingi anda, menghormati anda. Dan sekiranya anda tidak melakukannya, nescaya kami membunuh anda. Apabila aku tidak dapati seorangpun yang akan membantuku, maka akupun memberi bai`ah kepada mereka. Tetapi bai`ahku terhadap mereka bukanlah membenarkan kebatilan mereka dan tidaklah mewajibkan kebenaran untuk mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian `Ali berkata lagi: Sekiranya aku dapati di hari Abu Bakr dibai`ah empat puluh orang lelaki yang taat, nescaya aku menentang mereka(45).</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau begitu menyesali sikap orang-orang Ansar dan Muhajirin yang tidak membantunya. Beliau mengatakan bahawa mereka telah mencintai Abu Bakr dan `Umar secara membuta tuli. Beliau berkata: Hairan sekali! Hati umat ini telah dimabukkan oleh cinta kepada mereka berdua dan mencintai orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya umat ini berdiri di atas kakinya ke tanah dan meletakkan debu di atas kepala mereka bermunajat kepada Allah, serta menyeru di hari kiamat ke atas orang-orang yang telah menyesat dan menghalang mereka dari jalan Allah; menyeru mereka ke neraka, membentangkan mereka kepada kemurkaan Allah dan mewajibkan azab-Nya ke atas mereka kerana jenayah yang &#8220;mereka&#8221;lakukan ke atas mereka, nescaya mereka tergolong juga dari orang-orang yang cuai (muqassirin) kerana pengkaji yang benar dan alim dengan Allah dan Rasul-Nya merasa takut jika ia mengubah sesuatu sunnah dan bid`ah mereka berdua, orang ramai (umat) akan memusuhinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila dia melakukannya, mereka akan menyulitkan (kehidupan)nya, menentangnya, membersihkan diri daripadanya, menghinanya, merampas haknya. Dan sekiranya ia mengambil sunnah mereka berdua, memperkuinya, memujinya dan menjadikannya agama, nescaya umat mencintainya, memuliakannya dan melebih-lebihkannya.(46)</p>
<p style="text-align: justify;">Demi Allah sekiranya aku menerangkannya kepada askar-askarku segala kebenaran yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi-Nya, dan aku mendedah pentafsirannya menurut apa yang aku dengar dari Nabi Allah `a.s, nescaya sedikit sahaja askar-askarku tinggal bersama ku kerana mereka takut mendengarnya(47).</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya janji Rasulullah (s.`a.w.) tidak ada denganku, nescaya aku melakukannya (menyerang mereka dengan pedang). Tetapi Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepadaku: &#8220;Wahai saudaraku! Apabila seorang hamba itu terpaksa melakukan sesuatu, maka Allah menghalalkannya untuknya dan mengharuskannya untuknya&#8221;. Dan aku mendengar beliau bersabda: &#8220;Taqiyyah adalah dari agama Allah, tidak ada agama (al-Din) bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah untuknya&#8221;(48).</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun begitu `Ali percaya bahawa orang lain selain Ahl al-Bait a.s tidak layak memegang jawatan Imamah. Kerana ia telah dipilih oleh Allah S.W.T. Sulaim b. Qais al-Hilali menulis: `Ali berkata: Demi orang yang telah memuliakan kami Ahl al-Bait dengan &#8220;kenabian&#8221;. Dia telah menjadikan di kalangan kami Muhammad. Dia memuliakan kami selepasnya di mana Dia menjadikan pada kami para imam bagi mukminin, orang lain selain daripada kami tidak boleh mencapainya. Imamah dan Khilafah tidak layak melainkan pada kami(49).</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulan</p>
<p style="text-align: justify;">Amir al-Mukminin `Ali b. Abu Talib yakin bahawa imamah/khilafah adalah haknya dan hak sebelas anak cucunya daripada Fatimah a.s berdasarkan kepada hadis al-Ghadir dan lain-lain. Oleh itu bai`ah beliau terhadap Abu Bakr selepas kewafatan Fatimah al-Zahra adalah secara terpaksa, tanpa pembantu-pembantu. Jika tidak beliau akan menghadapi musibat sebagaimana dihadapi oleh Nabi Harun a.s. Justeru itu janji Rasulullah (s.`a.w.) dengan beliau dipeliharanya demi perpaduan umat Islam sejagat.</p>
<p style="text-align: justify;">Nota Kaki:</p>
<p style="text-align: justify;">1 Al-Ihtijaj, I,hlm.115-129.</p>
<p style="text-align: justify;">2 Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Mas`udi, Muruj al-Dhahab, II, hlm. 302; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127.</p>
<p style="text-align: justify;">3 Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, I, hlm. 9.</p>
<p style="text-align: justify;">4 Ibn Hajr al-`Asqalani, Lisan al-Mizan, VI, hlm. 78; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 7;Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 356.</p>
<p style="text-align: justify;">5 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 91-92.</p>
<p style="text-align: justify;">6 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 156; al-Turmudhi, Sahih,</p>
<p style="text-align: justify;">II, hlm. 461; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 51; Ibn Hajr</p>
<p style="text-align: justify;">al-`Asqalani, al-Isabah, II, hlm. 509; al-Muttaqi al-Hindi,</p>
<p style="text-align: justify;">Kanz al-`Ummal, I, hlm. 246.</p>
<p style="text-align: justify;">7 Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 53-54.</p>
<p style="text-align: justify;">8 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, IV, hlm. 370; al-Wahidi, Asbab al- Nuzul, hlm. 150; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 120; al-Khatib</p>
<p style="text-align: justify;">Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290; al-Syablanji, Nur al-Absar,</p>
<p style="text-align: justify;">hlm. 75; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 32.</p>
<p style="text-align: justify;">9 Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 293; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 417; al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 422; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, I, hlm. 4</p>
<p style="text-align: justify;">10 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 175; al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 117; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm 116; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 301; al-Nasa&#8217;i, al-Khasa&#8217;is,</p>
<p style="text-align: justify;">hlm. 78; Abu Daud, al-Musnad, I, hlm. 28; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 83.</p>
<p style="text-align: justify;">11 al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 482; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 20; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I,hlm. 185; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 38; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 47; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm.101.</p>
<p style="text-align: justify;">12 Al-Tabari, Jami` al-Bayan, XXII, hlm. 502; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 198; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 259; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 251.</p>
<p style="text-align: justify;">13 Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">14 Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 331; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, VIII, hlm. 392; Ibn Hajr al-`Asqalani, al-Isabah, VIII, hlm. 168; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 530; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 102.</p>
<p style="text-align: justify;">15 Ibn Hajr, Lisan al-Mizan, V, hlm. 76; Ibn Kathir,</p>
<p style="text-align: justify;">al-Bidayah wa al-Nihayah, VI, hlm. 80; al-Tahawi, Musykil al-Athar, II,</p>
<p style="text-align: justify;">hlm. 8; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 137.</p>
<p style="text-align: justify;">16 Lihat umpamanya, al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 277.</p>
<p style="text-align: justify;">17 Ibid., hlm. 230-231.</p>
<p style="text-align: justify;">18 Ibid., hlm. 379; al-Haithami, Majma` al-Zawa&#8217;id, IX, hlm. 168.</p>
<p style="text-align: justify;">19 Ibn Hajr al-Makki, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 84-85; Muhibb al-Tabari, Dhakha`ir al-Uqba, hlm. 29; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 298-299.</p>
<p style="text-align: justify;">20 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 204; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 166.</p>
<p style="text-align: justify;">21 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 519.</p>
<p style="text-align: justify;">22 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad,I, hlm. 3; al-Dhahabi, Mizan al-I`tidal, I, hlm. 306; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, III, hlm. 209.</p>
<p style="text-align: justify;">23 Al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 299; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 130; Abu Nu`aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliya&#8217;, VI, hlm. 339; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 30; al-Dhahabi, Muruj al-Dhahab, II, hlm. 49.</p>
<p style="text-align: justify;">24 Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154; Ibn Hajr,Tahdhib al-Tahdhib, III, hlm. 178; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Tahdhib, hlm. 167-168.</p>
<p style="text-align: justify;">25 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 112.</p>
<p style="text-align: justify;">26 Ibn Hajr, al-Isabah, III, hlm. 20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 155; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 128</p>
<p style="text-align: justify;">27 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 60-63.</p>
<p style="text-align: justify;">28 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 90; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 76.</p>
<p style="text-align: justify;">29 Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 530; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 348-349.</p>
<p style="text-align: justify;">30 Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 5.</p>
<p style="text-align: justify;">31 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 81.</p>
<p style="text-align: justify;">32 Al-Nasa&#8217;i, al-Khasa&#8217;is, hlm. 17; al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm. 125; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 301; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 201.</p>
<p style="text-align: justify;">33 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 100.</p>
<p style="text-align: justify;">34 Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha&#8217;ir al-Uqba, hlm. 29; Ibn Hajr, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 85; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 298.</p>
<p style="text-align: justify;">35 Lihat umpamanya, al-Khatib, Tarikh Baghdad, IV, hlm. 403.</p>
<p style="text-align: justify;">36 Lihat umpamanya, Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127-128.</p>
<p style="text-align: justify;">37 Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127.</p>
<p style="text-align: justify;">38 Kitab Sulaim , hlm.127</p>
<p style="text-align: justify;">39 Lihat umpamanya, al-Bukhari, Sahih, IV, hlm. 94-99.</p>
<p style="text-align: justify;">40 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm 128.</p>
<p style="text-align: justify;">41 Muslim, Sahih, II, hlm. 236</p>
<p style="text-align: justify;">42 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim, hal. 127.</p>
<p style="text-align: justify;">43 Ibid., hlm. 127.</p>
<p style="text-align: justify;">44 Ibid.</p>
<p style="text-align: justify;">45 Ibid , hlm. 129.</p>
<p style="text-align: justify;">46 Ibid, hlm.151.</p>
<p style="text-align: justify;">47 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 403.</p>
<p style="text-align: justify;">48 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm.151.</p>
<p style="text-align: justify;">49 Ibid,hlm.120.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/11/06/dialog-amir-al-mukminin-ali-bin-abi-thalib-dengan-khalifah-abu-bakar-mengenai-khilafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musyawarah dan Kekhilafahan dalam Islam</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/musyawarah-dan-kekhilafahan-dalam-islam/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/musyawarah-dan-kekhilafahan-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 16:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekhalifanhan]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Musyawarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan Tentang Ayat-ayat Musyawarah
Baik dahulu maupun sekarang kaum Muslimin berbeda pendapat di dalam cara bagaimana menentukan imam dan khalifah. Pada jaman dahulu perbedaan pendapat tersebut lebih banyak berwujud dalam tataraan kenyataan praktis dan pencrapaan lapangan dibandingkan pada tingkatan teori dan pemikiran. Adapun pada jaman sckarang perbedaan tersebut hanya terbatas pada tataran pemikiran, tidak melampaui tingkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-78" title="Ghadir Khum" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/250px-Investiture_of_Ali_Edinburgh_codex.jpg" alt="Ghadir Khum" width="250" height="333" />Pembahasan Tentang Ayat-ayat Musyawarah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Baik dahulu maupun sekarang kaum Muslimin berbeda pendapat di dalam cara bagaimana menentukan imam dan khalifah. Pada jaman dahulu perbedaan pendapat tersebut lebih banyak berwujud dalam tataraan kenyataan praktis dan pencrapaan lapangan dibandingkan pada tingkatan teori dan pemikiran. Adapun pada jaman sckarang perbedaan tersebut hanya terbatas pada tataran pemikiran, tidak melampaui tingkat pertengkaran ucapan dan argumentasi teoritis.</p>
<p style="text-align: justify;">Partisipasi kita di dalam menyelesaikan pertengkaran ini ialah dengan cara kita akan mendiskusikan penunjukkan (dilâlah) ayat-ayat musyawarah (syura) yang terdapat di dalam Al-Qur&#8217;an yang dijadikan sandaran oleh kalangan Ahlus Sunnah di dalam pandangan mereka. Kemudian setelah itu kita akan mengkaji musyawarah dalam tataran kenyataan praktis setelah wafatnya Rasulullah saw dan sekaligus ber-bagai peristwa yang terjadi sesudahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka disebabkan rahmat dan Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkaniah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.&#8221; (QS. Ali Imran: 159)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Danjika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS. al-Baqarah: 233)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. &#8221; (QS. asy-Syura: 38)</p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan Ahlus Sunnah, di dalam masalah kekhilafahan bersandar kepada konsep syura. Mereka mengatakan bahwa kekhilafahan kaum Muslimin tidak dapat ditentukan kecuali melalui musyawarah. Oleh karena itu, mereka mensyahkan kekhilafahan Abu Bakar, yang terpilih melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Sedangkan pandangan kedua, yaitu kalangan Syi&#8217;ah, memandang bahwa masalah kekhilafahan harus ditentukan dan diangkat oleh Allah SWT, karena tidak ada jaminan terpilihnya orang yang paling layak berdasarkan pandangan pertama. Hal itu dikarenakan masalah musyawarah sangat dipengamhi dengan pengaruh-pengaruh emosi dan perasaan manusia, pandangan-pandangan pemikiran dan kejiwaan mereka dan juga afiliasi mereka kepada keyakinan, sosial dan politik tertentu. Di samping itu, musya-warah juga membutuhkan tingkat ketulusan, objektifitas dan keter-bebasan dari berbagai pengaruh yang disadari maupun yang tidak disadari. Oleh karena itu, mereka (kalangan Syi&#8217;ah) mengatakan Rasulullah harus mempunyai wasiat yang jelas di dalam masalah kckhilafahan. Mereka mengatakan Rasulullah saw telah menetapkan khalifah dan bahkan khalifah-khalifah sepeninggalnya. Atas dasar itu, mereka meyakini kekhilafahan Ali bin Abi Thalib as, dan bahwa musyawarah yang disebutkan di dalam Al-Qur&#8217;an hanyalah diperuntukkan bagi beberapa tema permasalahan yang khusus berkaitan dengan pelaksanaan dan penerapan hukum, bukan berkaitan dengan penentuan hakim (pemimpin), yang merupakan kedudukan Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena perbedaan tersebut hanya terbatas di antara dua pandangan ini, maka kebatilan salah satunya akan membuktikan kebenaran yang lainnya, dan sebagai akibatnya membuktikan kebenaran atau kebatilan kekhilafahan khalifah, baik khalifah itu Abu Bakar dan khalifah-khalifah lain yang menggantikannya atau khalifah itu Ali dan para washi yang menggantikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita telah membuktikan pada pasal-pasal sebelumnya, dengan tidak meninggalkan keraguan sedikit pun, akan kebenaran pandangan yang mengatakan lebih berhaknya Ahlul Bait di dalarn kekhilafahan Islam, dan bahkan merupakan hak yang khusus bagi mereka dan tidak bagi selain mereka. Namun, untuk lebih menyempurnakan faidah dan menjelaskan hakikat, mau tidak mau kita harus mcndiskusikan konsep musyawarah sebagai semata-mata sebuah konsep, dan sampai sejauh mana kelayakannya di dalam masalah pemilihan khalifah kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan pendukung konsep musyawarah, di dalam menegakkan pandangannya sangat bersandar kcpada ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang telah kita scbutkan pada awal pembahasan. Ayat-ayat tersebut menjadi pokok pembahasan di dalam bab ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita mengkaji ayat-ayat di atas niscaya akan jelas bagi kita bahwa konsep musyawarah Islam tergambar dalam dua bentuk:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Tema musyawarah yang hendak dimusyawarahkan adalah suatu urusan yang bersifat parsial, di dalam konteks yang sempit dan terbatas, seperti terna penyapihan anak yang masih menyusu, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ayat, &#8220;Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan&#8230;&#8221; Jenis musyawarah ini tidak menjadi bahan pertengkaran, dan oleh karena itu kita tidak perlu mendiskusikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Tema musyawarah yang hendak dimusyawarahkan adalah suatu perkara umum yang mcnjadi perhatian seluruh kaum Muslimin, Seperti mengumumkan perang terhadap musuh atau memilih khalifah kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan, bahwa dalam masalah yang seperti ini kaum Muslimin harus merujuk kepada Rasulullah saw. Karena tidak lah logis sebuah musyawarah terlaksana dengan tidak ada pendapat Rasulullah saw di dalamnya. Bahkan, termasuk buruk dalam pandan-gan umum (&#8216;urf) dan pembangkangan menurut syariat jika sebuah musyawarah dilakukan dengan tanpa merujuk kepada Rasulullah saw atau orang yang menempati kedudukannya, yaitu wali amri. Allah SWT berfirman, &#8220;Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri dari mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).&#8221; (QS. an-Nisa: 83)</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis musyawarah ini berdasarkan ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah&#8230;&#8221; mempunyai tiga rukun:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Adanya orang-orang yang bermusyawarah, sehingga musyawarah terlaksana. Dan ini ditunjukkan oleh kata ganti hum (mereka) di dalam kata &#8220;wa syawirhun&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Adanya materi dan tema yang dimusyawarahkan, sehingga dengan itu musyawarah terlaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">3.Adanya pemimpin yang mengatur musyawarah, dan putusan terakhir bergantung kepada pandangannya. Ini ditunjukkan oleh kata ganti ta mukhaththab (orang kedua) pada kalimat &#8220;faidza &#8216;azamta fatawakkal &#8216;alallah&#8230;&#8221; Tidak diragukan, jika yang menjadi tema adalah urusan umum yang berkaitan dengan seluruh kaum Muslimin maka yang mempunyai hak memutuskan ialah wali amril Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak mungkin musyawarah yang sah dalam bentuknya yang Islami dapat terlaksana dengan tidak adanya salah satu di antara ketiga rukun di atas. Bisa saja wali aniri ada, orang yang bermusyawarah ada, namun tema musyawarah tidak ada, maka di sini musyawarah tidak terselenggara sama sekali. Oleh karena tidak ada permasalahan yang dapat mereka diskusikan dan musyawarahkan. Atau, bisa juga wali amri ada, tema musyawarah ada, namun kumpulan manusia yang akan bermusyawarah tidak ada, maka di sini berubah status dari musyawarah kepada nas atau perintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau juga, kumpulan manusia yang bermusyawarah ada, tema musyawarah ada, namun wali amri tidak ada, maka di sini musyawarah tidak berlangsung dengan bentuknya yang sah sebagaimana yang telah Allah SWT tetapkan di dalam Kitab-Nya, ketika Dia mewajibkan adanya pengawas atas musyawarah, yang menjadi tempat kembalinya urusan, Ketika masing-masing dari mereka mengeluarkan pandangannya, maka dia (wali amr) harus menjadi rujukan seluruh pandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Musyawarah yang tidak sah ini tidak mungkin bisa mengeluarkan keputusan-keputusan yang sah dan mengikat seluruh kaum Muslimin. Karena musyawarah ini bertentangan dengan apa yang telah ditekankan oleh ayat bahwa pada akhirnya urusan bcrgantung kepada wali amri, &#8220;Kemudian apabila kamu telah berketetapan hati, maka bertawakallah kepada Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saja ada orang yang membantah dan berkata bahwa ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan rnereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah&#8230;&#8221; adalah khusus untuk Rasulullah, sehingga tidak mengharuskan adanya wali amri di dalam musyawarah; dan tidak ada halangan musyawarah dilaksanakan dengan tanpa adanya wali amri, berdasarkan petunjuk ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. &#8221; Karena di dalam zahir ayat tidak terdapat kata wali amri yang berketetapan hati dan bertawakal, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Bantahan ini dapat dijawab dengan beberapa jawaban berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Sesungguhnya seluruh yang tertelapkan bagi Rasulullah saw, seperti hak ketaatan, juga tertetapkan bagi wali amri, berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri dari kamu.&#8221; Dengan begitu menjadi jelas bahwa jenis ketaatan kepada wali amri adalah jenis kctaatan yang sama dengan ketaatan kepada Rasulullah saw, disebabkan adanya athaf secara pasti, sebagaimana digunakannya satu kata (yaitu kata &#8220;taatilah&#8221;) untuk keduanya, yaitu &#8220;Taatilah Rasul dan ulil amri dari kamu&#8230; &#8221; Jika seandainya digunakan kata &#8220;athi&#8217;u&#8221; untuk ketiga kalinya bagi ulil amri, maka barulah benar perkataan yang mengatakan di sana terdapat perbedaan di antara dua ketaatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Sesungguhnya tata cara musyawarah yang telah Allah tetapkan dalam urusan-urusan umum yang berhubungan dengan seluruh kaum Muslimin adalah satu, &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudianjika kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah.&#8221; Sehingga penggunaan tata cara lain menuntut adanya dalil syariat yang menghasilkan perkara-perkara syariat, seperti kewajiban taat terhadap apa yang dihasilkan oleh musyawarah ini. Dan berargumentasi dengan ayat &#8220;Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka&#8221; untuk cara yang kedua dari musyawarah tidaklah sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena perkataan ini mendapat bantahan bahwa —tidak diragukan— ayat ini turun kepada Rasulullah saw. Dalam arti, ayat ini turun pada saat Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kaum Muslimin. Akal dan agama tentunya melarang kaum Muslimin bermusyawarah tentang suatu urusan umum yang menyangkut urusan seluruh kaum Muslimin dengan tanpa kehadiran Rasulullah saw di antara niereka dan dengan tanpa merujuk kepada beliau. Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah harus berada di tengah mereka ialah, bahwa kata ganti hum (mereka) di dalam ayat &#8220;Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka &#8221; mencakup Rasulullah saw. Di samping itu, sesungguhnya konteks ayat di atas berbicara tentang sifat-sifat orang Mukmin yang menang, &#8220;Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal Dan (bagl) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi rnaaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka; dan merteka menafkahkan sebagian reieki yang Kami berikan kepada mereka.&#8221; (QS. asy-Syura: 36-38)</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan bahwa seutama-utamanya ekstensi (mishdaq) orang-orang Mukmin adalah Rasulullah saw. Tidak diragukan bahwa Rasulullah saw adalah salah seorang dari mereka. Jika telah terbukti bahwa Rasulullah saw termasuk bagian dari musyawarah ini, maka tentu Anda tahu bahwa urusan musyawarah di dalam ayat ini kembali kepada Rasulullah saw, dan tentunya musyawarah ini tidak akan sempurna kecuali dengan ketetapan hati beliau, &#8220;Kemudian jika kamu telah berbulat hati maka bertawakallah kepada Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, sesungguhnya musyawarah ialah sebagaimana cara yang pertama. Seluruh yang terdapat di dalam ayat &#8220;Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka&#8221; adalah bersifat umum dan mujmal, sedangkan ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apahila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah&#8221; adalah merupakan penjelas dan perinci baginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah saya menjelaskan ini, dengan segera saya menambahkan bahwa kita akan sampai kepada hasil yang terbatas jika kita berpendapat bahwa ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka&#8230;&#8221; ini hanya khusus untuk Rasulullah saw, dan tidak untuk ulil amri. Karena jika demikian musyawarah tidak akan bisa berlangsung kecuali dengan adanya Rasulullah. Dan jika Rasulullah saw meninggal dunia maka tidak ada musyawarah, disebabkan tidak adanya salah satu rukun dasar di dalam musyawarah, yaitu Rasulullah saw. Namun jika kita me-ngatakan ayat ini tidak hanya khusus terbatas bagi Rasulullah saw saja, maka berarti kita mengatakan ayat ini juga mencakup ulil amri, sehingga dengan begitu musyawarah tetap ada dan sah dengan syarat adanya wali amri di dalamnya. Dan wali amri memiliki hak-hak yang dimiliki oleh Rasulullah saw di dalam musyawarah, karena dia menempati tempat Rasulullah. Sehingga dengan demikian, makna &#8220;Dan urusan mereka (diselesaikan) dengan permusyawatan di antara mereka&#8217; ialah mereka tidak dapat menyimpulkan suatu urusan dengan tanpa bermusyawarah kepada Rasulullah saw, di dalam urusan-urusan agama yang mereka perlukan. Sebagaimana firman Allah SWT, &#8220;Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri dari mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka pandangan musyawarah di dalam pengangkatan khalifah menemui jalan buntu, yang berakibat kepada batalnya pandangan tersebut. Berdasarkan pendapat pertama, yaitu yang mengatakan &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu&#8230;&#8221; hanya khusus untuk Rasulullah saw, sebagaimana diketahui bahwa musyawarah yang diselenggarakan untuk mengangkat khalifah pertama itu dilakukan setelah wafatnya Rasuullah saw, sehingga dengan begitu tentunya dia merupakan musyawarah yang tidak sah menurut hukum Islam dan pandangan Al-Qur&#8217;an, dan dengan begitu maka berarti seluruh keputusan yang dihasilkan darinya adalah tidak sah, yang salah satunya adalah pengangkatan khalifah pertama, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab hadis tentang tata cara pengangkatannya, pada sebuah tempat yang mereka namakan dengan Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Adz-Dzahabi telah merekam peristiwa tersebut di dalam kitab sejarahnya. Sebagaimana peristiwa ini direkam juga di dalam Sahih Bukhari, di dalam kitab al-hudud, bab merajam wanita yang mengandung hasil perbuatan zina, dengan riwayat dari Umar bin Khatab. Ibnu Jarir ath-Thabari juga merekam peristiwa ini di dalam kitab sejarahnya tatkala dia menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 11 Hijrah, di dalam jilid 2 dari kitab sejarahnya. Demikian juga Ibnu Atsir, dan Ibnu Qutaibah di dalam kitabnya Tarikh al-Khulafa, jilid 1. Dan begitu juga kitab-kitab referensi sejarah lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun berdasarkan pendapat yang kedua, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka&#8230; &#8221; terlaksana dengan adanya Rasulullah saw atau orang yang menempati kedudukannya, musyawarah yang sah tidak dapat terlaksana kecuali dengan adanya wali amri, dan wali amri tidak dapat diangkat kecuali dengan musyawarah yang sah, maka ini berarti terjadi dawr (berputar), dan dawr itu mustahil. Karena, tidak mungkin musyawarah yang sah dilaksanakan kecuali setelah adanya wali amri, sementara wali amri tidak mungkin ada kecuali setelah dilaksanakannya msuyawarah yang sah. Ini berarti perkara ini bergantung kepada dirinya, sehingga dengan begitu tidak akan mungkin musyawarah yang sah terlaksana untuk selamanya. Kecuali jika dikatakan bahwa di sana ada seorang wali amri yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, yang keberadaannya lebih dulu dibandingkan keberadaan musyawarah. Ini berarti penerimaan terhadap &#8220;pandangan nas&#8221;, yang dikatakan oleh madrasah Ahlul Bait.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin ada orang yang mengatakan tidak wajib adanya wali amri di dalam musyawarah, melainkan cukup dengan adanya orang yang bermusyawarah. Jika Anda membantah dengan mengatakan bahwa dhamir pada kata &#8216;azamta menunjukkan hak orang yang bermusyawarah untuk mengambil keputusan, dan ini menunjukkan bahwa dia itu wali amri di dalam musyawarah, maka bantahan ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa kata in &#8216;azamta (apabila kamu berbulat hati) adalah berarti berbulat hati untuk melaksanakan hasil musyawarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya zahir ayat di atas tidak demikian. Karena yang paling tampak dari ayat ini ialah tertetapkannya hak mengambil keputusan padanya. Dengan kata lain, sesungguhnya perkataan di atas baru dikatakan benar jika pendapat orang-orang yang bermusywarah itu satu; akan tetapi jika pendapat orang-orang yang bermusyawarah itu bermacam-macam, bagaimana musyawarah dapat mengambil keputusan?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika orang itu mengatakan harus berdasarkan suara mayoritas, mana dalilnya? Justru Allah SWT sering mengecam kelompok mayorits di dalam banyak ayatnya, &#8220;&#8230; kebanyakan orang yang ada di muka bumi berusaha menyesatkan kamu.&#8221; Bahkan, perkataannya ini bertentangan dengan bunyi ayat yang menyerahkan urusan pengambilan keputusan kepada satu orang yang bermusyawarah manakala terjadi perbedaan pendapat. Jika kita menerima ini, maka berarti orang itu telah keluar dari sifat orang yang bermusyawarah kepada sifat sifat seorang wali di dalam musyawarah. Bahkan, sekali pun orang-orang yang bermusyawarah sepakat atas suatu pendapat, maka orang itu (wali amri) tetap mempunyai hak untuk menetapkan atau tidak menetapkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembahasan di atas menjadi jelas bahwa pandangan musyawarah berada di antara dua jalan buntu:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Musyawarah dapat dilakukan dengan tanpa adanya Rasulullah saw dan ulul amri. Musyawarah yang seperti ini batal dan tidak sah. Dan pendapat yang mengatakan mungkinnya dilakukan musyawarah dengan tanpa adanya Rasulullah saw dan ulil amri memerlukan kepada dalil agama, namun tidak ada dalil agama yang menunjukkan kepada hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Atau, musyawarah dilakukan dengan adanya wali amri yang dijadikan sebagai rujukan. Kemungkinan ini dapat dibayangkan dalam beberapa bentuk:</p>
<p style="text-align: justify;">a. Wali amri sendiri menobatkan dirinya sebagai wali amril Muslimin. Cara yang seperti ini tentunya sesuatu yang tidak dibolehkan oleh agama. Ini merupakan sebuah perampasan tidak sah terhadap hak-hak kaum Muslimin, sehingga bagaimana bisa ketaatan kepadanya menjadi wajib atas seluruh kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Atau, adanya sekelompok kecil orang yang mengurusi urusan kaum Muslimin. Di sini pun kita tetap terperosok ke dalam dua jalan buntu yang telah kita bicarakan. Dalam bentuk ini kita akan tetap jatuh kepada pertanyaan, alasan syariat yang mana yang membenarkan kita mentaati mereka, dan mana dalilnya?!</p>
<p style="text-align: justify;">c. Allah SWT dan Rasul-Nya menetapkan seseorang sebagai wali amri. Maka di sini tidak diperlukan lagi musyawarah, disebabkan tidak mungkin menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. Pandangan ini sendiri adalah pandangan nas atau pandangan wasiat, sehingga dengan begitu ternafikanlah pandangan musyawarah. Dan sebagai konsekwensinya adalah batalnya kekhilafahan pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penjelasan-penjelasan ini menjadi jelas batalnya pandangan musyawarah di dalam menentukan khilafah dari semua segi, sehingga kita layak memalingkan tema musyawarah yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an al-Karim kepada tema-tema selain pengangkatan wali amril Muslimin, seperti musyawarah mengenai cara-cara penerapan hukum, strategi peperangan dan sebagainya, sebagai-mana yang menjadi konteks ayat &#8220;Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak tersisa lagi pintu bagi mereka, kecuali jika mereka mengklaim bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengangkat dan menetapkan kekhilafahan pertama (kekhilafahan Abu Bakar). Namun, Abu bakar sendiri tidak mengklaim hal itu. Karena jika Abu Bakar mengklaim hal itu, maka tentu dia akan berhujjah dengannya kepada orang-orang Anshar pada saat di Saqifah.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu hal lain yang juga jelas diketahui dari ayat syura ialah bahwa Allah SWT tidak mempercayai mereka dalam masalah strategi perang, yang masih merupakan sesuatu yang berada di dalam ruang lingkup sesuatu yang dapat dimusyawarahkan —sebagaimana yang dapat dipahami dari konteks ayat, dan— apalagi mempercayai mereka dalam sebuah urusan yang lebih besar, yaitu memilih khalifah pengganti Rasulullah saw. Jika Anda tidak mempercayai seseorang untuk mengelola uang seratus dinar, maka bagaimana mungkin Anda mempercayainya untuk mengelola uang seribu dinar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, bagaimana mungkin masuk akal Allah SWT menyerahkan kepada umat untuk memilih sendiri khalifahnya, padahal Allah SWT dan Rasul-Nya saw telah mengetahui akan terjadinya pembelotan langsung setelah wafatnya Rasulullah saw, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)?&#8230;&#8221; Jika Anda memperhatikan ayat ini dengan seksama niscaya akan jelas bagi Anda bahwa orang-orang yang diseru di sini adalah orang-orang Muslim. Karena tidak ada artinya pembelotan orang kafir, dan juga tidak bisa pembelotan ini diterapkan kepada Musailamah al-Kadzdzab, karena pembelotannya terjadi pada masa Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak masuk akal jika Allah SWT dan Rasul-Nya membiarkan urusan ini menjadi sia-sia di tengah-tengah kaum Muslimin, padahal Dia tahu akan terjadi berbagai fitnah di antara kaum Muslimin apabila tidak ditentukan pemimpin yang akan menjadi rujukan mereka. Sejarah menjadi saksi akan hal itu, di mana ketiadaan wali amri telah menyebabkan timbulnya berbagai fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin. Penyimpangan ini terus berlanjut hingga orang-orang yang fasik, orang-orang yang berbuat kerusakan, dan orang-orang yang tidak mempunyai rasa malu, akhlak dan agama, berkuasa atas kaum Muslimin. Untuk menambah keyakinan Anda, silahkan putar balik jarum jam Anda mulai dari empat belas abad yang lalu, lalu silahkan berhenti sejenak pada masa dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbas, yang memerintah manusia selama periode tertentu, supaya Anda dapat mengenal para penguasa mereka dan bagaimana mereka secara terang-terangan meminum khamar, dan bagaimana mereka bermain dengan anjing dan kera, setelah terlebih dahulu binatang-binatang itu dikenakan baju sutera yang halus dan perhiasan emas; dan perbuatan-perbuatan keji lainnya yang dilakukan para penguasa, yang sejarah pun merasa malu untuk mencatatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kejelekan-kejelekan konsep &#8220;pemilihan&#8221; dan sekaligus kemandulan konsep ini sejak dari dasarnya. Karena, orang yang kita pilih hari ini mungkin saja kita benci keesokan harinya, namun kita tidak mampu menurunkannya setelah menempatkan dia sebagai pemimpin. Kaum Muslimin telah berusaha mengerahkan segenap usahanya untuk menurunkan Usman, namun Usman enggan turun dengan mengatakan, &#8220;Saya tidak akan melepaskan pakaian yang telah Allah SWT kenakan kepada saya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kita membuktikan kelemahan dua dalil yang telah dikemukakan kelompok pertama, yang telah menjadikan konsep musyawarah sebagai pilar dasar di dalam memilih khalifah yang akan mengurusi urusan kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah saw, dan setelah jelas bagi kita jauhnya kedua dalil tersebut dari maqam khilafah dan kepemimpinan, kita kembali memejamkan mata dari kenyataan ini dan tetap saja tunduk dan menerima kedua dalil dalam masalah khilafah dan kepemimpinan ini, serta pura-pura tidak tahu akan penyimpangan-penyimpangan yang dimiliki keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah sikap pura-pura tidak tahu dan penerimaan akan kemandulan pandangan ini akan dapat menyelesaikan ketidak-jelasan peraturan di dalam semua hal yang berkaitan dengan cara pelaksanaan kandungannya? Kedua dalil ini tidak dapat meluruskan kebengkokan dan menutupi celah-celah kekurangan konsep ini. Karena konsep ini membutuhkan pembatasan dan perincian akan maknanya. Kedua nas yang diisyaratkan di atas, juga kehilangan ukuran-ukuran musyawarah dan cara-cara pengoreksiannya, di samping konsep ini juga memerlukan alat-alat pelaksanaan di dalam penerapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tidak mendapati di dalam hadis-hadis dan riwayat-riwayat serta di dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw telah mengemukakan konsep ini dan mengharuskan umat untuk melaksanakannya. Jika Rasulullah saw telah melakukan yang demikian, maka tentu kita mendapati Rasulullah saw telah menetapkan petunjuk-petunjuk yang jelas tentang hal itu, atau tentunya telah membiasakan hal itu di tengah-tengah umatnya guna mempersiapkan mereka, baik dari segi pemikiran, kejiwaan dan politik, supaya bisa melaksanakan konsep ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau setidaknya beliau telah mempersiapkan beberapa contoh figur yang cakap untuk memegang kepemimpinan percobaan dan pengawasan terhadap syariat dan pelaksanaannya. Namun, sebagaimana yang telah kita kemukakan, tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan kepada yang demikian itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Musyawarah, Dalam Kenyataan Pelaksanaan</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Musyawarah Dan Saqifah Bani Sa&#8217;idah</strong></p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarahwan menyebutkan bahwa kekhalifahan Abu Bakar diperoleh melalui jalan pencalonan dan pemilihannya di Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Peristiwa Saqifah, pada kenyataannya merupakan pijakan dasar yang dijadikan sandaran oleh Abu Bakar di dalam kekhalifahannya atas kaum Muslimin. Tidak mungkin seorang Muslim berpegang kepada kekhalifahannya kecuali jika dia mempercayai bahwa apa yang terjadi di Saqifah itu benar, dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan untuk bisa menentukan khalifah kaum Muslimin. Oleh karena pada pembahasan yang lalu kita telah membuktikan ketidakbenaran konsep musyawarah sebagai alat untuk mengangkat khalifah kaum Muslimin, maka pada kesempatan ini kita bermaksud ingin mengemukakan peristiwa Saqifah, yang merupakan penerapan lapangan dari konsep musyawarah, sehingga kita dapat menyingkap sampai sejauh mana kelurusan dan kebenaran konsep ini, untuk kemudian kita menyimpulkan apakah akan berpegang kepadanya atau tidak berpegang kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saqifah Di Dalam Kitab Tarikh Thabari</strong></p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Thabari menceritakan peristiwa ini secara rinci di dalam kitab Tarikhnya, jilid 2, terbitan al-Istiqlal Kairo, tahun 1358 Hijrah, atau bertepatan dengan tahun 1939 Masehi. Kita akan menukilkannya secara ringkas, sesuai kebutuhan, dari halaman 455 &#8211; 460 sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Orang-orang Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Sa&#8217;idah. Mereka meninggalkan jenezah Rasulullah saw yang sedang dimandikan oleh keluarganya. Mereka berkata, &#8216;Kami menyerahkan urusan ini kepada Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah sepeninggal Rasulullah saw. Kemudian mereka menghadirkan Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah ke tengah-tengah mereka yang ketika itu sedang sakit. Maka Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah pun mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, lalu dia menyebutkan kedahuluan mereka di dalam agama, keutamaan-keutamaan mereka di dalam Islam, pemuliaan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabatnya, serta jihad mereka di dalam melawan musuh-musuhnya, sehingga bangsa Arab tegak dan Rasulullah saw meninggal dunia dalam keadaan rida kepada mereka. Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah berkata, &#8216;Maka gengamlah kuat-kuat urusan ini, jangan sampai orang lain yang menggenggamnya.&#8217; Orang-orang Anshar menjawab, &#8216;Sungguh tepat pendapat Anda, dan sungguh benar perkataan Anda. Kami tidak akan melanggar apa yang Anda perintahkan, dan akan kami angkat Anda sebagai pemimpin. Dan kaum Muslimin yang saleh tentu akan menyenangi.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka saling bertukar kata di antara mereka. Sebagian di antara mereka berkata, &#8216;Bagaimana apabila kaum Muhajirin menolak dan berkata, &#8216;Kami adalah kaum Muhajirin dan sahabat-sahabat Rasulullah saw yang pertama, kami adalah keluarganya dan wali-walinya, maka kenapa Anda hendak bertengkar dengan kami mengenai kepemimpinan sesudah Rasulullah saw?&#8217; Lalu sebagian mereka yang lain berkata, &#8216;Jika demikian, maka kita akan menjawab, &#8216;Seorang pemimpin dari kami, dan seorang pemimpin dari kamu. Selain begini, kita sama sekali tidak akan rela. Kita adalah pemberi perumahan, pelindung dan penolong, sementara mereka yang melakukan hijrah. Kita berpegang kepada Al-Qur&#8217;an sebagaimana mereka. Apa pun alasan yang mereka ajukan, kita akan mengajukan dalil yang sama. Kita tidak hendak memonopoli kekuasaan terhadap mereka, maka bagi kita harus ada seorang pemimpin dan bagi mereka seorang pemimpin.&#8217; Maka berkatalah Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah, &#8216;lniah awal kelemahan!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar dan Umar mendengar apa yang tengah dilakukan oleh orang-orang Anshar, maka mereka berdua pun bergegas pergi ke Saqifah dengan ditemani oleh Abu &#8216;Ubaidah bin Jarrah, dan kemudian bergabung bersama mereka Usaid bin Hudhair, &#8216;Awim bin Sa&#8217;idah dan &#8216;Ashim bin &#8216;Adi, dari kalangan Bani &#8216;Ajlan. Kemudian Abu Bakar berbicara, setelah sebelumnya melarang &#8216;Umar berbicara. Pertama-tama Abu Bakar mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, dan kemudian menyebutkan kedahuluan orang-orang Muhajir di dalam membenarkan Rasulullah saw, sebelum seluruh orang Arab yang lain. Abu Bakar berkata, &#8216;Mereka adalah orang-orang yang pertama menyembah Allah SWT di muka bumi dan beriman kepada Rasulullah saw. Mereka itu adalah keluarganya dan wali-walinya, dan manusia yang paling berhak atas urusan ini sepeninggalnya, serta tidak ada yang bertengkar dengan mereka di dalam urusan itu kecuali orang yang zalim.&#8217; Kemudian Abu Bakar menyebutkan keutamaan-keutamaan orang Anshar. Setelah itu dia berkata, &#8216;Setelah orang-orang Muhajir yang pertama tidak ada orang yang mempunyai kedudukan di sisi kita selain orang-orang Anshar. Maka oleh karena itu kami adalah pemimpin sedangkan Anda adalah wazir (pembantu).&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Hubab bin Mundzir berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, peganglah urusan Anda. Sesungguhnya manusia berada di bawah naungan Anda, dan tidak akan ada seorang pemberani yang berani menentang Anda. Oleh karena itu, janganlah Anda berselisih, sehingga akan merasak pendapat Anda dan menodai urusan Anda. Apabila mereka menolak kecuali sebagaimana yang telah Anda dengar, maka biarlah dari kita seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata, &#8216;Demi Allah, dua pedang tidak akan masuk ke dalam satu sarung. Orang Arab tidak akan menerima kepemimpinan Anda, wahai orang Anshar, karena Nabi bukan berasal dari Anda. Akan tetapi orang Arab tidak akan keberatan dipimpin oleh kaum yang Nabi berasal dari mereka. Tentang ini, kami mempunyai bukti yang jelas. Siapa yang memperselisihkan kami atas kekuasaan Muhammad dan pemerintahannya, padahal kami adalah wali-walinya dan kaum kerabatnya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Hubab bin Mundzir berdiri dan berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, jangan Anda dengarkan orang-orang ini, Umar dan sahabat-sahabatnya. Mereka akan mengambil hak Anda dan merampas kebebasan kalian untuk memilih. Jika mereka tidak setuju, kirim mereka pulang dan biarkan mereka membentuk pemerintahannya sendiri di sana. Demi Allah, Anda lebih berhak menjadi pemimpin dari mereka. Karena dengan perantaraan pedang Anda, orang-orang yang sebelumnya tidak memeluk agama ini menjadi memeluk agama ini.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata, &#8216;Kalau begitu, mudah-mudahan Allah SWT membunuhmu.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Hubab bin Mundzir berdiri, &#8216;Tidak, justru mudah-mudahan kamu yang dibunuh oleh Allah SWT.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu &#8216;Ubaidah berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, Anda adalah yang pertama membela Islam, maka janganlah Anda menjadi orang yang pertama memisahkan diri dan berubah.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka berdirilah Basyir bin Sa&#8217;ad al-Khazraji, ayah Nu&#8217;man bin Basyir berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, kita kaum Anshar telah memerangi kaum kafir dan membela Islam bukanlah untuk kehormatan duniawi, tetapi untuk memperoleh keridaan Allah SWT. Kita tidak mengejar kedudukan. Nabi Muhammad adalah orang Quraisy, dari kaum Muhajirin, dan layaklah sudah apabila seorang dari keluarganya menjadi penggantinya. Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa saya tidak akan melawan mereka. Saya harap Anda sekalian pun demikian.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Abu Bakar berdiri dan berkata, &#8216;lni Umar, dan ini Abu &#8216;Ubaidah, silahkan Anda baiat yang mana saja di antara mereka yang Anda suka.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi keduanya berkata, &#8216;Demi Allah, kami tidak akan mau memegang urusan ini selama Anda masih ada.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Abdurrahman bin &#8216;Auf berdiri dan berkata, &#8216;Wahai kaum Anshar, meskipun Anda berada di atas keutamaan, namun tidak ada di tengah Anda orang seperti Abu Bakar, Umar dan Ali.&#8217; Mendengar itu Mundzir bin Arqam berdiri dan berkata, &#8216;Kami tidak menolak keutamaan orang-orang yang Anda sebutkan, namun di antara mereka ada seseorang yang jika dia menuntut urusan ini maka tidak ada seorang pun yang memperselisihkannya, yaitu Ali bin Abi Thalib.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">(Maka orang-orang Anshar atau sebagian orang Anshar berkata, &#8216;Kami tidak akan membaiat kecuali Ali.&#8217;)</p>
<p style="text-align: justify;">(Umar berkata, &#8216;Suasana menjadi hangat dan suara-suara menjadi keras, dan untuk menghindari perpecahan saya berkata, &#8216;Bentangkan tangan Anda, wahai Abu Bakar, supaya aku membaitmu!&#8217;) Manakala keduanya bangkit hendak membait Abu Bakar, Basyir bin Sa&#8217;ad mendahului keduanya membait Abu Bakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubab bin Mundzir berteriak kepada Basyir bin Sa&#8217;ad, &#8216;Wahai Basyir bin Sa&#8217;ad! Hai orang durhaka, orang tuamu sendiri tidak menyukaimu. Engkau telah menyangkal ikatan keluarga, engkau dengki dan tidak mau melihat saudara sepupumu menjadi pemimpin.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Basyir bin Sa&#8217;ad berkata, &#8216;Tidak, demi Allah, aku tidak mau berselisih dengan satu kaum tentang suatu hak yang telah Allah SWT jadikan untuk mereka.&#8217; Manakala kaum Aus melihat apa yang telah dilakukan Basyir bin Sa&#8217;ad, apa yang diseru oleh kaum Quraisy dan apa yang diminta oleh kaum Khazraj untuk menjadikan Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah sebagai pemimpin, sebagian mereka berkata kepada sebagian mereka yang lain, di antaranya adalah Usaid bin Hudhair, &#8216;Demi Allah, bila kaum Khazraj sekali berkuasa atas dirimu, mereka akan seterasnya mempertahankan keunggulannya atas diri kamu, dan tidak akan pernah membagi kekuasaan itu kepadamu untuk selama-lama-nya; maka berdirilah, dan baiatlah Abu Bakar.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka mereka pun berdiri dan membaiatnya. Dan hancurlah kesepakatan yang telah mereka peroleh atas Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah dan kaum Khazraj. Orang-orang berdatangan dari semua sudut untuk membaiat Abu Bakar, hingga hampir saja mereka menginjak Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para sahabat Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah berkata, &#8216;Hati-hati, jangan sampai menginjak Sa&#8217;ad.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu Umar berkata, &#8216;Bunuh dia, mudah-mudahan Allah membunuhnya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Umar mendekatinya seraya berkata, &#8216;Saya ingin menginjak-injak engkau sampai remuk.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Putra Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah, Qais, menjambak janggut Umar dan berkata kepadanya, &#8216;Bila engkau menyentuh sehelai saja rambutnya, aku akan rontokkan semua gigimu!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar berteriak, &#8216;Tenang Umar! Dalam keadaan seperti ini kita harus tenang.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar pun pergi meninggalkan Sa&#8217;ad, tetapi Sa&#8217;ad berteriak, &#8216;Demi Allah, seandainya aku dapat berdiri, aku akan membuat huru hara di kota Madinah, agar engkau dan teman-temanmu bersembunyi ketakutan. Kemudian aku akan menjadikanmu pelayan, bukan penguasa. Bawa aku dari tempat ini.&#8217; Maka mereka pun membawa Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah dan memasukkannya ke dalam rumahnya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini tidak memerlukan penjelasan dan komentar lagi, dia sendiri dapat menyingkap bagaimana proses terjadinya pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifab&#8230; Sungguh proses tersebut jauh sekali dari proses musyawarah. Musyawarah tidak layak dilakukan di tempat yang tidak tepat ini, di mana Saqifah Bani Sa&#8217;idah terletak di sebuah ladang di luar kota Madinah. Tentunya Mesjid Rasulullah saw lebih utama untuk dijadikan tempat melakukan hal ini. Karena Mesjid Rasulullah saw adalah tempat berkumpulnya kaum Muslimin dan tempat dilakukannya musyawarah untuk membahas urusan-urusan dunia dan urusan-urusan agama. Di samping juga waktunya tidak sesuai, karena jenazah Rasulullah saw masih terbujur dan belum di-makamkan. Bagaimana bisa mereka meninggalkan jenazah Rasulullah saw dalam keadaan seperti ini, untuk memperebutkan urusan kekhalifahan, sementara sahabat-sahabat besar sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada seorang yang berakal yang menamakan peristiwa ini sebagai musyawarah?!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya mereka tidak sedang mencari kekhilafahan Islam yang mendapat petunjuk, yang dengan perantaraannya akan terjaga persatuan dan eksistensi kaum Muslimin. Kata-kata yang mereka ucapkan memberi petunjuk kepada hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata Sa&#8217;ad yang berbunyi, &#8220;Maka genggamlah kuat-kuat urusan ini, jangan sampai orang lain yang menggenggamnya&#8221;, lalu orang-orang Anshar menjawab, &#8220;Sungguh tepat pendapat Anda, dan sungguh benar perkataan Anda. Kami tidak akan melanggar apa yang Anda perintahkan&#8221;, dan begitu juga kata-kata Umar yang berbunyi, &#8220;Siapa yang memperselisihkan kami atas kekuasaan Muhammad dan pemerintahannya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh kata-kata ini menyingkap jati diri mereka. Mereka tidak menginginkan apa-apa kecuali kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping kata-kata kasar yang terjadi di antara para sahabat, padahal Rasulullah saw telah bersusah payah mendidik mereka selama dua puluh tiga tahun. Misalnya perkataan Umar terhadap Hubab, &#8220;Mudah-mudahan Allah membunuhmu&#8221;, dan begitu juga perkataan Hubab terhadap Umar, &#8220;Tidak, justru mudah-mudahan engkau yang dibunuh oleh Allah.&#8221; Atau perkataan Umar kepada Sa&#8217;ad bin Ubadah, &#8220;Bunuhlah dia, mudah-mudahan Allah membunuhnya.&#8221; Atau perkataan Umar yang lain kepada Sa&#8217;ad, &#8220;Saya akan menginjak-injak engkau hingga remuk.&#8221; Atau perkataan Qais bin Sa&#8217;ad kepada Umar sambil menjambak janggutnya, &#8220;Demi Allah, apabila engkau sentuh satu helai saja dari rambutnya, aku akan rontokkan semua gigimu.&#8221; Semua ini memberikan gambaran yang jelas bagi Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata keji yang seperti ini yang dilontarkan di tempat pemilihan yang sangat sensitif ini, hingga sampai tahap ancaman, pemukulan dan ajakkan untuk membunuh, semua ini menunjukkan betapa orang-orang yang berkumpul tersebut dipenuhi dengan rasa kedengkian dan permusuhan terhadap satu sama lain. Bagaimana mungkin kita bisa menerima musyawarah dari orang-orang seperti mereka —itu pun apabila musyawarah itu sah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, lihatlah kata-kata dan argumentasi yang mereka lontarkan terhadap satu sama lain, semua itu adalah argumentasi yang kosong dan jauh dari kebenaran. Sebagai contoh —misalnya— argumentasi Umar, yang merupakan argumentasi yang paling kuat, &#8220;Orang Arab tidak akan menerima kepemimpinan Anda, wahai orang Anshar, karena Nabi bukan berasal dari Anda. Akan tetapi orang Arab akan menerima dipimpin apabila oleh kaum yang Nabi berasal dari mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jika orang Arab tidak menerima kepemimpinan orang yang jauh dari Rasulullah saw, maka tentu mereka akan menerima kepemimpinan orang yang paling dekat hubungannya dengan Rasulullah saw, yaitu Ali bin Abi Thalib as. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as berhujjah, &#8220;Mereka berhujjah dengan pohan kenabian namun mereka meninggalkan buahnya.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn2">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika orang Arab tidak menerima kepemimpinan Ali as, maka tentu mereka lebih tidak menerima lagi kepemimpinan seorang laki-laki yang berasal dari kabilah Tim. Jika ini yang menjadi hujjah mereka, maka tentu hal ini akan menjadi hujjah yang kuat bagi Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar al-Jawahiri berkata tentang argumentasi Ali as, &#8220;Ali berkata, &#8216;Saya adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah.&#8217; Berita itu sampai kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar berkata kepada Ali, &#8216;Berbaiatlah.&#8217; Ali as menjawab, &#8216;Aku lebih berhak dari Anda atas kepemimpinan ini. Aku tidak akan berbaiat kepada Anda, justru Anda yang lebih layak berbaiat kepadaku. Anda telah merebut kepemimpinan ini dari kaum Anshar dengan berhujjah kepada mereka dengan kekerabatan Anda dengan Rasulullah, maka mereka pun menyerahkan kepemimpinan kepada Anda. Dan sekarang saya mengajukan hujjah yang sama dengan hujjah yang Anda ajukan kepada orang-orang Anshar. Maka bersikap adillah kepada kami, jika Anda memang mengkhawatirkan Allah atas diri Anda. Dan berikanlah pengakuan yang serupa kepada kami sebagaimana yang telah diberikan oleh kaum Anshar kepada Anda. Jika tidak, maka berarti Anda telah berlaku zalim dan Anda mengetahuinya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata kepada Ali, &#8216;Anda tidak akan dibiarkan hingga Anda berbaiat.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali menjawab, &#8216;Anda sedang memerah susu untuk Abu Bakar dan diri Anda sendiri. Anda bekerja untuknya hari ini, dan besok dia akan mengangkat Anda menjadi penggantinya. Demi Allah, saya tidak akan menerima kata-kata Anda, dan tidak akan mengikuti Anda.&#8217;&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn3">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan baiat dari Ali, bahkan dengan cara kekerasan sekali pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar berkata, &#8220;Kita mendapat kabar bahwa Ali dan Zubair serta orang-orang yang bersamanya memisahkan diri dari kita dan berkumpul di rumah Fatimah.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn4">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Umar datang beserta rombongannya dengan membawa kayu bakar dan bermaksud membakar rumah Fatimah. Maka Fatimah datang menemui mereka dan berkata, &#8220;Apakah Anda datang dengan maksud hendak membakar rumah kami, wahai Putra Khattab?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar menjawab, &#8220;Ya, atau Anda semua melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh umat.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn5">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab Ansab al-Asyraf disebutkan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fatimah menemui Umar di pintu dan berkata kepadanya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Wahai Putra Khattab, apakah Anda akan tetap membakar rumah sementara aku berada di belakang pintunya?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar menjawab, &#8216;Ya.&#8217;&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn6">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarahwan mencatat orang-orang yang datang menyerbu untuk membakar rumah Fatimah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Umar bin Khattab.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Khalid bin Walid.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Abdurrahman bin &#8216;Auf.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Tsabit bin Qais bin Syammas.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Ziyad bin Labid.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Muhammad bin Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Zaid bin Tsabit.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Salmah bin Salamah bin Waghasy.</p>
<p style="text-align: justify;">9. Salmah bin Aslam.</p>
<p style="text-align: justify;">10. Usaid bin Hudhair.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya&#8217;qubi berkata, &#8220;Mereka datang berkelompok menyerang rumah, hingga pedang Ali patah dan mereka masuk ke dalam rumah.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn7">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Thabari berkata, &#8220;Umar memasuki rumah Ali, sementara di dalam rumah ada Zubair, Thalhah dan beberapa orang dari kaum Muhajir. Kemudian Zubair keluar dengan pedang terhunus, namun dia tergelincir dan pedangnya lepas dari tangannya. Maka mereka pun menangkap dan membawanya.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn8">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Fatimah melihat apa yang dilakukan Umar terhadap keduanya – Ali dan Zubair— maka dia berdiri di samping pintu kamar dan berkata, &#8220;Hai Abu Bakar, alangkah cepatnya Anda menyerang keluarga Rasulullah. Demi Allah, saya tidak akan berbicara dengan Umar sampai saya menemui Allah.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn9">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Karena peristiwa ini dan juga karena peristiwa penahanan warisan yang diterimanya dari Rasulullah saw serta peristiwa-peristiwa lainnya, Fatimah marah kepada Abu Bakar, dan tidak mau berbicara dengannya hingga meninggal dunia. Fatimah az-Zahra hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah saw. Ketika Fatimah az-Zahra wafat, jenazahnya dikuburkan oleh suaminya pada malam hari, dan tidak diizinkan Abu Bakar untuk melihat jenazahnya.<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn10">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebuah riwayat disebutkan bahwa Fatimah az-Zahra berkata kepada Abu Bakar, &#8220;Demi Allah, saya akan mendoakan keburukan bagimu pada setiap salat yang saya kerjakan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn11">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Abu Bakar berkata pada saat hendak meninggal dunia, &#8220;Tidak ada satu pun yang saya sesali dari dunia ini kecuali tiga hal yang telah saya lakukan. Saya sangat berharap tidak melakukannya.&#8221; (Hingga dia mengatakan), &#8220;Adapun ketiga hal yang telah saya lakukan itu: Saya sangat berharap tidak membuka paksa rumah Fatimah, meski pun mereka menguncinya untuk melakukan peperangan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn12">[11]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Tarikh Ya&#8217;qubi disebutkan, &#8220;Oh, seandainya saya tidak membuka paksa rumah Fatimah dan memasukkan orang-orang ke dalamnya meski pun mereka menguncinya untuk melakukan peperangan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn13">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penyair Mesir, Hafidz Ibrahim, menulis di dalam syairnya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kepada Ali, Umar berkata, &#8216;Rumahmu akan kubakar!<br />
Bila engkau tidak berbaiat kepada Abu Bakar&#8217;<br />
Meski pun Fatimah putri Musthafa ada di dalam<br />
Abu Hafshah tidak segan melawan Ali, pahlawan Adnan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka mengancam akan membunuh Ali. Mereka menyeret Ali dengan paksa keluar dari rumahnya, dan membawanya ke hadapan Abu Bakar. Mereka berkata, &#8220;Berbaiatlah.&#8221; Ali berkata, &#8220;Kalau aku tidak mau, bagaimana?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menjawab, &#8220;Kalau demikian, demi Allah, kami akan penggal kepalamu.&#8221; Ali menjawab, &#8220;Kalau begitu, kamu akan memenggal kepala hamba Allah dan saudara Rasulullah?&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn14">[13]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kekhalifahan yang dimulai dengan pemaksaan dan diakhiri dengan ancaman pembunuhan tidak dapat menjadi bukti bagi konsep musyawarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Abu Bakar dan Umar menyadari keburukan yang telah dilakukannya, mereka datang untuk meminta maaf kepada Fatimah. Namun kesempatan telah terlambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Fatimah berkata kepada mereka, &#8220;Apakah Anda mau mendengar apabila aku katakan kepada Anda suatu perkataan yang berasal dari Rasulullah saw, yang Anda kenal dan Anda telah berjuang untuk beliau?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua menjawab, &#8220;Ya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Fatimah berkata, &#8220;Apakah Anda tidak mendengar Rasulullah saw telah bersabda, &#8216;Keridaan Fatimah adalah keridaanku, dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Barangsiapa yang mencintai Fatimah, Puteriku, maka berarti dia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membuat Fatimah marah, maka berarti dia telah membuatku marah?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua menjawab, &#8220;Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah saw.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Fatimah berkata, &#8220;Saya bersaksi kepada Allah para malaikat-Nya, sesungguhnya Anda berdua telah membuat saya marah dan Anda berdua telah membuat saya tidak rida. Seandainya kelak saya bertemu dengan Nabi saw, saya akan adukan Anda berdua kepada beliau.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Fatimah berkata kepada Abu Bakar, &#8220;&#8230; Demi Allah, saya akan mendoakan keburukan bagimu pada setiap salat yang saya kerjakan.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn15">[14]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, Abu Bakar tidak berhak atas kekhalifahan kaum Muslimin melalui syura. Karena musyawarah tersebut tidak sah secara teoritis, dan tidak ada wujudnya dalam tataran kenyataan. Jika kita tetap mengakui bahwa Abu Bakar telah memperoleh kekhalifahan kaum Muslimin melalui syura, dan itu merupakan satu-satunya cara untuk itu, maka yang perlu kita tanyakan ialah, atas hak apa Abu Bakar mengangkat Umar menjadi khalifah sepeninggalnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Abu Bakar dan kekhalifahannya menghadapi dua masalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, musyawarah sebagai jalan yang Allah SWT tetapkan untuk mengangkat seorang khalifah. Maka di sini berarti Abu Bakar telah membangkang perintah Allah SWT dengan mengangkat Umar sebagai khalifah penggantinya, tanpa proses musyawarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, musyawarah bukan merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT. Maka dengan demikian kekhalifahan Abu Bakar tidak sah, karena muncul melalui musyawarah yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga kekhalifahan Umar dan Usman tidak sah, kecuali kekhalifahan Ali as. Seluruh umat sepakat untuk membaiat Ali setelah Usman terbunuh, di samping nas-nas dari Allah dan Rasul-Nya yang menunjukkan kepada kekhalifahan dan keimamahannya. Jika di sana terdapat musyawarah maka kekhalifahan untuk Ali, dan begitu juga jika ditetapkan berdasarkan pengangkatan maka kekhalifahan tetap untuk Ali. Sebagaimana yang diceritakan secara mutawatir oleh riwayat-riwayat.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menyempurnakan pembahasan, marilah kita akhiri pembahasan ini dengan dialog berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Maitsam ditanya, &#8220;Kenapa Ali duduk berdiam diri tidak memerangi mereka?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Maitsam menjawab, &#8220;Sebagaimana duduk berdiam dirinya Harun terhadap Samiri, padahal mereka telah menyembah patung anak sapi. Seperti Harun ketika mengatakan, &#8216;(Harun berkata), &#8216;Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.&#8217; (QS. al-A&#8217;raf: 150) Seperti Nuh tatkala berkata, &#8216;Aku ini orang yang dikalahkan, oleh karena itu menangkanlah (aku).&#8217;(QS. al-Qamar: 10) Seperti Luth tatkala mengatakan, &#8216;Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).&#8217; (QS. Hud: 80) Dan seperti Musa dan Harun tatkala mengatakan, &#8216;Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.&#8217;&#8221; (QS. al-Maidah: 25)]</p>
<p style="text-align: justify;">Makna ini dapat kita ambil dari perkataan Amirul Mukminin as manakala sampai berita kepadanya bahwa dia tidak memerangi dua orang yang pertama. Imam Ali as berkata, &#8220;Saya mempunyai suri teladan dari enam nabi. Yang pertama ialah Ibrahim al-Khalil as, tatkala dia mengatakan, &#8216;Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah.&#8217; (QS. Maryam: 48)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Dia menjauhkan diri dari mereka dengan tanpa ada sesuatu yang tidak disukai&#8217;, maka Anda telah kafir.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Dia menjauhkan diri dari mereka disebabkan dia melihat sesuatu yang tidak disukai&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Luth as, tatkala dia mengatakan, &#8216;Seandainya aku ada mempunyai kekuatan untuk menolakmu atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).&#8217; (QS. Hud: 80)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya Luth mempunyai kekuatan untuk menolak mereka&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya dia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak mereka&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Yusuf as tatkala dia mengatakan, &#8216;Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku.&#8217; (QS. Yusuf: 33)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Nabi Yusuf meminta penjara dengan tanpa adanya sesuatu yang tidak disukai yang dibenci oleh Allah SWT&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya dia diajak kepada sesuatu yang dimurkai Allah&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Musa as, tatkala dia mengatakan, &#8216;Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu.&#8217; (QS. asy-Syu&#8217;ara: 21)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya Nabi Musa as lari dengan tanpa ada sesuatu yang ditakutkan&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Sesungguhnya dia lari meninggalkan mereka disebabkan mereka ingin berbuat jahat kepadanya&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berikutnya adalah Harun, tatkala dia berkata kepada saudaranya, &#8216;Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku.&#8217; (QS. Al-A&#8217;raf: 150)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Mereka tidak menganggap Harun as lemah dan tidak hampir membunuhnya&#8217;, berarti Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Mereka telah menganggap Harun as lemah dan hampir membunuhnya, dan oleh karena itu dia mendiamkan mereka&#8217;, maka washi dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah Muhammad saw tatkala dia lari ke gua dan meninggalkan saya di ranjangnya, dan saya mempersembahkan nyawa saya kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengatakan, &#8216;Muhammad telah lari dengan tanpa adanya sesuatu yang mengancamnya dari pihak mereka&#8217;, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, &#8216;Mereka telah mengancamnya, dan tidak ada jalan lain baginya kecuali lari ke gua&#8217;, maka washi dimaafkan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu orang-orang berkata, &#8220;Anda benar, wahai Amirul Mukminin.&#8221;<a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_edn16">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para Sahabat Dan Ayat Inqilâb</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakahjika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&#8221; (QS. Ali Imran: 144)</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya titik berat ayat yang mulia ini berbicara tentang wafatnya Rasulullah saw dan peristiwa pembelotan yang terjadi sesudahnya. Titik berat pembicaraan ayat ini terkumpul di dalam tiga ungkapan, yaitu ungkapan &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul&#8221;, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh&#8221;, dan &#8220;Kamu akan berbalik ke belakang?&#8221; Untuk mendalami ayat ini dan membahasnya secara rinci, mau tidak mau kita harus melontarkan beberapa pertanyaan yang tajam, untuk menggali pemikiran dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Allah SWT tidak cukup hanya dengan mengatakan &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul&#8221;, melainkan melanjutkannya secara langsung dengan kata-kata &#8220;Apakahjika dia wafat atau dibunuh&#8221;, padahal konteks ayat di atas berdiri tegak dengan ungkapan pertama?</p>
<p style="text-align: justify;">Apa perbedaan antara mati dan terbunuh? Huruf &#8220;aw&#8221; athaf (atau) memberikan arti pemisahan antara ma&#8217;thuf dengan ma&#8217;thuf &#8216;alaih, lantas apa perbedaan di antara keduanya? Mengapa pengulangan ini muncul dari Allah SWT, padahal Dia mengetahui bahwa Rasulullah akan mati? Siapa orang yang disinggung di dalam firman-Nya &#8220;Jika kamu berbalik ke belakang&#8221;! Dari apa mereka berbalik ke belakang? Dan apa hubungannya antara pembelotan (berbalik ke belakang) dengan wafatnya Rasulullah saw?</p>
<p style="text-align: justify;">Konteks ayat ini berbicara tentang sikap istiqamah, lantas kenapa ayat ini menggunakan kata-kata &#8220;Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur&#8221;, dan tidak mengatakan &#8220;Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang istiqamah, orang-orang Muslim, atau orang-orang Mukmin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mau tidak mau kita harus menyebutkan dua mukaddimah berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, tentang sebab-sebab turunnya ayat ini. Para mufassir menyebutkan bahwa yang menjadi sebab turunnya ayat ini ialah kekalahan yang diderita oleh kaum Muslimin setelah peperangan Uhud, di mana kaum musyrikin menyebarkan berita bahwa Rasulullah saw telah terbunuh di dalam peperangan. Berita ini telah menciptakan kerapuhan, kemunduran dan keraguan pada sebagian kaum Muslimin. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai teguran terhadap kaum Muslimin atas yang demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, mana yang pokok di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an? Apakah yang pokok ialah bahwa ayat-ayat Al-Qur&#8217;an cocok untuk seluruh jaman, kecuali yang dikecualikan oleh suatu dalil? Atau, apakah justru sebaliknya?</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya ialah, jika ayat-ayat Al-Qur&#8217;an cocok untuk seluruh jaman, maka kita dapat mengumumkan makna ayat di atas kepada jaman-jaman yang lain selain dari jaman yang menjadi sebab-sebab turunnya ayat. Jika tidak, maka berarti kita terikat dengan sebab-sebab yang melatar belakangi turunnya ayat di atas, dan penggenaralisiran ayat di atas kepada jaman-jaman yang lain selain dari jamannya itulah yang memerlukan alasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama Islam, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun Syi&#8217;ah sepakat bahwa pengambilan pelajaran berdasarkan keumuman lafaz, bukan berdasarkan kekhususan sebab. Jika yang menjadi pokok ialah tidak berlakunya ayat-ayat Al-Qur&#8217;an pada setiap jaman, niscaya akan batallah pelaksanaan Al-Qur&#8217;an pada jaman-jaman berikut, atau kita akan meninggalkan sebagian besar ayat Al-Qur&#8217;an di dalam kebekuan dan ketidak-sesuaian dengan jaman. Hal ini jelas tidak sejalan dengan ruh Islam, dan juga tidak sejalan dengan ajaran-ajarannya serta keumumannya. Ini adalah dalil akal. Dan sebagian besar ayat Al-Qur&#8217;an mendukung dalil ini, dimana ayat-ayat tersebut mendorong manusia untuk mau bertadabbur dan mengamalkan Al-Qur&#8217;an, serta mengecam perbuatan sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita membenarkan pendapat yang kedua, niscaya tidak akan ada artinya firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Dan apabila dibacakan Al-Qur&#8217;an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.&#8221; Karena, ayat ini mengisyaratkan kepada seluruh Al-Qur&#8217;an, dan tidak mengkhususkan kepada sebagian dari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, melainkan kita harus berusaha untuk bisa memahami seluruh ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, memperhatikannya dan memetik pelajaran darinya. Hal ini sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita untuk mentadabburinya, &#8220;Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur&#8217;an ataukah hati mereka terkunci?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur&#8217;an al-Karim mengecam orang yang mengimani sebagian Al-Qur&#8217;an dan tidak mengimani sebagian lainnya, &#8220;(Yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur&#8217;an itu terbagi-bagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;(Yaitu) orang-orang beriman kepada sebagian al-Kitab (Al-Qur&#8217;an) dan kafir kepada sebagian yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur&#8217;an ini bermacam-macam perumpamaan.&#8221; (QS. al-Kahfi: 54)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur&#8217;an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?&#8221; (QS. al-Qamar: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. &#8221; (QS. Fushshilat: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur&#8217;an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.&#8221; (QS. az-Zukhruf: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat-ayat ini mendorong kita untuk berpegang kepada Al-Qur&#8217;an seluruhnya, tidak sebagiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil, jika kita berpegang kepada pendapat yang kedua, maka tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang menerimanya. Kalau pun seandainya kita berpegang kepada pendapat yang kedua, sesungguhnya ayat yang sedang menjadi pembahasan kita mempunyai dalil-dalil yang membuktikan bahwa dia tidak hanya khusus bagi jaman pada saat dia turun, melainkan dia terus berlaku sepanjang kehidupan Rasulullah saw, dan bahkan sesudahnya. Adapun dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya berita yang tersebar pada saat peperangan Uhud ialah berita terbunuhnya Rasulullah saw. Dan ayat ini berbicara tentang kejadian wafatnya Rasulullah saw, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh&#8230; &#8221; Seandainya ayat ini hanya dikhususkan bagi jaman pada saat dia diturunkan, maka tentu Allah SWT akan berkata, &#8220;Apakah jika dia dibunuh &#8220;. Sepertinya, penyebutan kata &#8220;wafat&#8221; adalah untuk menunjukkan bahwa perbuatan berbalik ke belakang yang terjadi pada peperangan Uhud juga akan terjadi pada saat setelah kematian Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Faidah praktis dari mukaddimah ini dalam pembahasan kita ialah, kita tidak dibebani kewajiban untuk mengemukakan sebuah dalil yang mengumumkan ayat inqilab ini kepada kejadian yang bukan merupakan sebab turunnya ayat ini, jika pendapat pertama yang benar, dan ini adalah pendapat yang benar —sebagaimana yang Anda saksikan. Adapun berdasarkan pendapat yang kedua, mau tidak mau harus ada sebuah dalil khusus untuk membuktikan bahwa ayat ini tidak hanya dikhususkan bagi kejadian tempat dia diturunkan, melainkan berlaku sepanjang kehidupan Rasulullah saw, dan bahkan jaman sepeninggal beliau. Seandainya pendapat yang kedua itu yang benar, maka dalil yang menunjukkan berlakunya ayat ini sepanjang kehidupan Rasulullah saw dan bahkan jaman sepeninggal beliau, terdapat di dalam ayat itu sendiri. Di mana, dan bagaimana?</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun pertanyaan &#8220;di mana&#8221;, maka jawabannya ialah di dalam firman Allah SWT yang berbunyi &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh&#8230;&#8221; Sedangkan pertanyaan &#8220;bagaimana&#8221;, maka jawabannya ialah bahwa berita yang tersebar luas di sekitar dan di dalam kota Madinah pada saat terjadi peperangan Uhud ialah berita terbunuhnya Rasulullah saw, yang menyebabkan sebagian dari para sahabat murtad dan berbalik ke belakang. Jika Allah SWT hendak mengkhususkan ayat ini hanya bagi peperangan Uhud, niscaya Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Apakah jika dia terbunuh&#8230;&#8221; Namun penyebutan kata &#8220;wafat&#8221; oleh Allah SWT di dalam ayat, &#8220;Apakah jika dia wafat atau terbunuh&#8230;&#8221;, memberikan pengertian yang pasti bahwa keadaan yang sama benar-benar akan terulang pada saat Rasulullah saw meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Insya Allah, akan datang penjelasan lebih rinci kepada Anda yang menguatkan bahwa ayat ini tidak hanya terbatas kepada peristiwa perang Uhud, melainkan juga mencakup jaman hingga meninggalnya Rasulullah saw, dan bahkan jaman sesudahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah, sesungguhnya mati mempunyai dua arti: Mati dalam arti umum, yaitu peristiwa dicabutnya ruh,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di mana saja kamu berada, kematian akan mendatangi kamu, meski pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.&#8221; (QS. an-Nisa: 78)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi).&#8221; (QS. al-Hajj: 66)</p>
<p style="text-align: justify;">Juga terdapat mati dalam arti khusus, sebagai lawan dari terbunuh. Yaitu orang yang mati disebabkan telah rusaknya bangunan kehidupannya. Dan ayat mana saja yang menyebutkan kedua kata tersebut secara bersamaan, yaitu kata mati dan terbunuh, maka yang dimaksud dengan mati adalah mati dalam arti khusus. Pengertian ini lebih bertambah kuat lagi manakala digunakan kata aw (atau), yang memberikan arti pemisahan di antara ma&#8217;thuf dan ma&#8217;thuf &#8216;alaih. Contohnya ialah firman Allah SWT yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sungguh kalau kamu terbunuh di jalan Allah atau meninggal dunia, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.&#8221; (QS. Ali Imran: 157)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan sungguh jika kamu meninggal dunia atau terbunuh, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.&#8221; (QS. Ali Imran: 158)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.&#8221; (QS. Ali Imran: 156)</p>
<p style="text-align: justify;">Karena, jika kata &#8220;mati&#8221; di dalam ayat-ayat ini bermakna umum maka tentu tidak diperbolehkan menggunakan kata &#8220;terbunuh&#8221;, karena sudah tercakup di dalamnya. Dan jika hal itu dilakukan, maka ini berarti bertentangan dengan kefasihan bahasa. Dari sini kita dapat membuktikan bahwa yang dimaksud dengan mati di dalam ayat Inqilâb ialah mati dalam arti khusus, yang merupakan lawan dari kata terbunuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa Allah SWT menekankan kepada sifat kerasulan pada diri Rasul-Nya, dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang rasul, sebagaimana telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Untuk tujuan itu sebenarnya Allah SWT cukup dengan hanya mengatakan, &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul&#8221;, namun kenapa Allah SWT melanjutkannya secara langsung dengan mengatakan, &#8220;Apabila dia wafat atau dia dibunuh&#8221;?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terbayang pertama kali di dalam menjawab pertanyaan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian para mufassir, yaitu bahwa Allah SWT hendak menarik perhatian kaum Muslimin kepada sebuah hakikat, bahwasannya Nabi Muhammad saw itu tidak kekal. Dia itu akan mati dan berlalu. Keadaannya persis sebagaimana rasul-rasul yang lain yang telah mati dan berlalu. Makna ini adalah makna yang tampak, namun bukan satu-satunya makna. Karena kalau sekiranya maksud Allah SWT hanya sebatas hendak menetapkan sifat kematian bagi Rasulullah saw, maka tentunya Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang manusia, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang manusia.&#8221; Untuk menekankan kepada kefanaan dan ketidak-langgengan yang sudah merupakan tabiat manusia. Juga terdapat beberapa arti yang lebih luas dan lebih dalam dari arti ini, yang menuntut dikemukakannya dan ditekankannya sifat kerasulan. Yaitu,</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, sebagaimana keberadaan agama tidak digantungkan kepada kehidupan rasul-rasul yang lalu, maka demikian juga keberadaan agama ini tidak digantungkan kepada kehidupan Rasulullah saw. Sebagaimana para nabi terdahulu meninggal dunia dan agama tetap berlangsung sepeninggal mereka, maka demikian pula manakala Rasulullah saw meninggal dunia atau terbunuh, agama akan tetap berlangsung sepeninggalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, ini merupakan arti yang paling dalam dan paling mencakup, yaitu penekanan terhadap hakikat kesesuaiaan sunah-sunah di antara umat sepeninggal rasul-rasulnya. Maka apa yang telah terjadi atas umat-umat tersebut, akan terjadi pula atas umat ini. Al-Qur&#8217;an, sunah Rasulullah saw dan kenyataan menguatkan hakikat ini. Adapun Al-Qur&#8217;an al-Karim mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan ruhul qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akn tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.&#8221; (QS. al-Baqarah: 253)</p>
<p style="text-align: justify;">Dhamir (kata ganti) hum kembali kepada kata ar-rusul (rasul-rasul). Jika yang dikehendaki oleh Allah SWT hanyalah Isa as maka tentu Allah SWT akan menggunakan ungkapan &#8220;min ba&#8217;dih&#8221; (sesudahnya). Juga tidak bisa dikatakan bahwa yang dikehendaki oleh Allah dengan dhamir &#8220;hum&#8221; (mereka) adalah Isa as, sebagai penghormatan. Karena kedudukan dhamir &#8220;hum&#8221; pada kata &#8220;min ba&#8217;dihim&#8221; (sesudah mereka) dengan maksud sebagai pengagungan, itu bertentangan dengan kefasihan. Adapun berkenaan dengan orang yang mengatakan bahwa dhamir &#8220;hum&#8221; hanya merupakan makna majazi (kiasan), maka kita katakan, sesungguhnya jika terjadi keraguan apakah suatu lafaz itu digunakan dalam arti majazi (kiasan) atau hakiki (arti sebenarnya) maka kita berpegang kepada arti hakiki. Pada penggunaan dhamir hum dalam arti hakiki maka dhamir hum kembali kepada &#8220;rasul-rasul itu&#8221;, yang salah satu di antaranya adalah Rasulullah saw, berdasarkan petunjuk ayat sebelumnya yang berbunyi, &#8220;Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.&#8221; Kemudian Allah SWT melanjutkan, &#8220;Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, sesungguhnya perihal kesesuaian sunah-sunah juga ditunjukan oleh banyak riwayat yang masyhur dan sahih, yang disepakati oleh kaum Muslimin. Seperti sabda Rasulullah saw yang berbunyi, &#8220;Niscaya kamu akan mengikuti sunah-sunah orang sebelummu. Bulu anak panah dengan bulu anak panah, dan sandal dengan sandal. Bahkan jika mereka memasuki lubang biawak, niscaya kamu pun akan memasukinya.&#8221; Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah sepeninggalku engkau kembali menjadi orang-orang kafir, yang sebagianmu memenggal sebagian leher yang lain.&#8221; Rasulullah saw juga telah bersabda, &#8220;Orang-orang Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, sementara orang-orang Kristen telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akn berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan darinya berada di dalam neraka, dan hanya satu golongan yang selamat.&#8221; Bahkan, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang menunjukkan kepada fenomena ini. Seperti firman Allah SWT yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali kejadian-kejadian yang sama dengan kejadian-kejadian yang menimpa orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka.&#8221; (QS. Yunus: 102)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, danAllah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan Kitab kepada mereka, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.&#8221; (QS. al-Baqarah: 213)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, &#8216;Kami telah beriman&#8217;, sedang mereka tidak diuji lagi?&#8221; (QS. al-Ankabut: 2)</p>
<p style="text-align: justify;">Sesunggunya dalil terbesar yang menunjukkan kepada kesesuaian di antara sunah-sunah umat terdahulu dan umat kemudian ialah kenyataan yang terjadi pada para sahabat sepeninggal Rasulullah saw, yaitu di mana sebagian mereka mengkafirkan sebagian mereka yang lain, dan masing-masing dari mereka memfasikkan yang lainnya, hingga berakhir dengan terjadinya peperangan yang dahsyat di antara mereka, yang menelan korban lebih dari seratus ribu kaum Muslimin. Inilah ekstensi dari ayat yang berbunyi, &#8220;Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah rasul-rasul itu.&#8221; (QS. al-Baqarah: 253)</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah ini, tidak bisa seseorang mengatakan, bagaimana mungkin para sahabat berbalik ke belakang padahal merekalah yang telah mengorbankan harta dan diri mereka, dan telah memerangi keluarga mereka serta telah berdiri tegar di sisi Rasulullah saw dalam keadaan susah dan lapar, serta mereka telah melihat ayat-ayat dan mukjizat-mukjizatnya!! Karena di samping alasan-alasan yang telah disebutkan di atas, keragu-raguan ini dapat dijawab dengan hal-hal berikut,</p>
<p style="text-align: justify;">a. Sesungguhnya kata ganti orang kedua di dalam ungkapan &#8220;inqalabtum&#8221; (kamu berbalik ke belakang) ditujukan kepada mereka para sahabat. Karena tidak logis jika yang dimaksud adalah orang-orang kafir atau orang-orang munafik, karena mereka adalah orang-orang yang menyimpang atau berbalik ke belakang sejak awal.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Ilmu tidak menjamin pemiliknya untuk lurus. Betapa banyak manusia yang mengetahui bahwa kebenaran berada di suatu tepian, namun disebabkan hawa nafsunya dia justru cenderung kepada tepian yang lain. Bahkan, kebanyakan pembangkangan terjadi setelah datangnya pengetahuan tentang kebenaran. Allah SWT berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.&#8221; (QS. Ali Imran: 19)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang-orang yang telah didatangkan Kitab kepada mereka, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di antara mereka sendiri.&#8221; (QS. al-Baqarah: 213)</p>
<p style="text-align: justify;">Segala sesuatunya terang dan jelas, namun mereka berselisih dan saling berbunuh-bunuhan, &#8220;Dan kalaulah Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan.&#8221; (QS. al-Baqarah: 253)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan kemudian Allah membiarkannya sesat atas ilmunya. &#8221; (QS. al-Jatsiyah: 23)</p>
<p style="text-align: justify;">c.  Sesungguhnya pengorbanan-pengorbanan yang lalu dan kesabaran atas berbagai musibah, tidak menjamin manusia untuk tidak jatuh ke dalam penyimpangan di masa yang akan datang. Pengorbanan dan kesabaran yang mereka (para sahabat) tunjukkan tidak lebih besar dari pengorbanan dan kesabaran yang ditunjukkan oleh Bani Israil manakala Fir&#8217;aun memotong kaki dan tangan mereka, menyalib mereka,  membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan anak-anak perempuan mereka, dan membunuh kaum laki-laki dari mereka, namun mereka tetap sabar berpegang kepada seruan Nabi Musa as, dan mereka melihat dengan jelas mukjizat-mukjizat besar yang ditunjukkan oleh Nabi Musa as, yang mana yang terbesar darinya ialah membelah lautan menjadi dua bagian, sehingga tidak ubahnya menjadi dua buah gunung yang besar. Namun, tatkala Nabi Musa as meninggalkan mereka beberapa hari, mereka kembali menyembah patung anak sapi. Sehingga sepertinya sudah menjadi watak manusia melakukan pelanggaran manakala dia merasa cukup dan aman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.&#8221; (QS. al-&#8217;Alaq: 6)</p>
<p style="text-align: justify;">d. Betapa pun seorang manusia telah tinggi di dalam derajat keimanan, dia tetap tidak dimaksum oleh Allah SWT, sehingga bisa saja dia berbalik ke belakang dan kembali kafir. Tidak ada contoh yang lebih besar dari Bal&#8217;am bin Ba&#8217;ura,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), makajadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesunggunya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.&#8221; (QS. al-A&#8217;raf: 175-178)</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada salah seorang dari sahabat telah mencapai tingkat keimanan yang seperti ini, hingga mencapai tingkat membawa Ism al-A&#8217;zham? Sungguh telah menyimpang orang yang telah mencapai derajat ini, apalagi orang yang ada di bawahnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Timbul pertanyaan di sini, &#8220;Pembelotan (perbuatan berbalik ke belakang) itu terjadi atas apa?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, merupakan tugas kita untuk menanyakan, atas apa pembelotan itu biasanya terjadi?</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ayat Inqilab terdapat unsur-unsur dasar yang dapat menghantarkan kita kepada jawaban pertanyaan ini, dengan melakukan analisa dan penarikan kesimpulan darinya:</p>
<p style="text-align: justify;">a. Ayat Inqilab mempunyai hubungan yang langsung dengan wafatnya Rasulullah saw, &#8220;Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">b. Pembelotan menunjukkan adanya satu dasar yang menjadi tempat terjadinya pembelotan. Yaitu suatu dasar yang dikenal di kalangan seluruh orang yang membelot. Karena jika orang-orang yang membelot itu tidak mengetahui dasar ini, maka tentu tidak dikatakan kepada mereka, &#8220;Kamu berbalik ke belakang.&#8221; Bahkan, sesuatu yang menjadi tempat terjadinya pembelotan adalah sesuatu yang dipegang teguh oleh para pembelot untuk beberapa waktu hingga terjadinya pembelotan.</p>
<p style="text-align: justify;">c.  Sesungguhnya perkara ini mempunyai hubungan yang langsung dengan Allah dan Rasul-Nya saw, dan dari mereka berdualah mereka  membelot.</p>
<p style="text-align: justify;">d. Sesungguhnya bahaya pembelotan ini akan mengenai orang-orang yang membelot, baik di dunia maupun di akhirat, &#8220;Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. &#8220;Allah SWT berfirman sebelumnya, &#8220;Maka dia tidak dapat mendatangkan madharat sedikit pun kepada Allah. &#8221; Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman, &#8220;Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur bagi dirinya sendiri. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT menjelaskan bahwa manfaat syukur kembali kepada hamba itu sendiri, dan demikian juga perbuatan tidak bersyukur madharatnya akan kembali kepada si hamba sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">e. Sesungguhnya pembelotan ini mempunyai kaitan dengan sunah-sunah orang-orang terdahulu. Apa yang orang-orang terdahulu telah membelot darinya maka orang-orang terkemudian pun akan membelot darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">f.  Allah SWT tidak mengatakan, Dia akan memberi balasan kepada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muslim, melainkan Allah SWT mengatakan, &#8220;Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&#8221; Ini memberikan pengertian bahwa orang yang tidak membelot atau berbalik ke belakang sedikit jumlahnya, &#8220;Dan hanya sedikit dari hamba-hamba Kami yang bersyukur. &#8221; Ini dikuatkan dengan perkataan-Nya, &#8220;Kamu berbalik ke belakang&#8221;, yang memberikan pengertian umum dan banyak. Kalau sekiranya orang-orang yang membelot itu sedkit jumlahnya, maka tentu Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Sebagian kamu berbalik ke belakang&#8221;, dan tentunya tidak benar mengecam mayoritas.</p>
<p style="text-align: justify;">g. Pembelotan ini benar-benar terjadi. Ini didasarkan petunjuk &#8220;jawab syarat&#8221; yang memberikan pengertian terlaksana manakala terlaksananya &#8220;syarat&#8221;, dan penggunaan bentuk fi&#8217;il madhi (kata kerja lampau) yang memberikan pengertian terlaksananya sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">h. Sesungguhnya ucapan Allah SWT ini khusus ditujukan kepada kaum Muslimin, dan tidak ditujukan kepada orang-orang kafir, karena mereka adalah orang-orang yang menyimpang sejak awal. Demikian juga ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik saja, karena hal ini bertentangan dengan zahir ayat. Kalaulah yang dimaksud dalam ucapan Allah SWT ini hanyalah orang-orang munafik saja, maka tentu Allah SWT akan mengatakan, &#8220;Kamu menampakkan pembelotanmu&#8221;, padahal pembelotan (perbuatan berbalik ke belakang) itu terjadi pada saat Rasulullah saw meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengetahui esensi pembelotan ini, maka kita harus memperhatikan seluruh unsur dasar ini pada saat melakukan analisa dan menarik kesimpulan, dan hendaknya kesimpulan yang ditarik harus sesuai dengan unsur-unsur dasar ini. Karena jika tidak, maka berarti bukan kesimpulan yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw adalah seorang pemimpin kaum Muslimin, dan setelah beliau wafat terjadi pembelotan&#8230; Lantas kita bertanya, setelah wafatnya seorang pemimpin, atas apa biasanya terjadi pembelotan?! Pada sisi apa Rasulullah saw berperan sebagai katup pengaman bagi umat dari perselisihan, yang jika sekiranya Rasulullah saw tidak ada akan terjadi perselisihan dan pertentangan. Apakah Al-Qur&#8217;an al-Karim menjelaskan hal ini? Al-Qur&#8217;an al-Karim tidak menjelaskan secara jelas perkara yang amat besar ini, yang tidak diterima oleh sebagian besar manusia, dan yang Rasulullah saw sendiri merasa takut menyampaikannya kepada umat, namun Allah SWT memerintahkan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti katnu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga kamu dari (ganguan) manusia.&#8221; (QS. al-Maidah: 67)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memperhatikan secara sekilas ayat di atas kita dapat menyingkap beberapa poin berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Sesungghnya perkara yang wajib disampaikan ini, bobotnya menyamai bobot menyampaikan seluruh risalah. Sehingga jika Rasulullah saw tidak menyampaikannya maka dia sama dengan tidak menyampaikan risalah. Sebaliknya, pengingkaran terhadapnya sama dengan pengingkaran terhadap risalah, dan sikap berbalik ke belakang darinya sama dengan sikap berbalik ke belakang dari risalah.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sesungguhnya perkara ini adalah perkara yang banyak mendapat penentangan dari manusia. Bahkan, Rasulullah saw mengkhawatirkan dirinya dari manusia untuk menyampaikan perkara ini. Oleh karena itu, Allah SWT meyakinkannya, &#8220;Dan Allah menjaga kamu dari (gangguan) manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">3. Perkara ini merupakan penyempurna risalah. Karena jika Rasulullah saw menyampaikan perkara ini maka berarti Rasulullah saw telah menyampaikan risalah dan menyempurnakannya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk katnu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu sebagai agamamu. &#8221; (QS. al-Maidah: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ini sejalan dengan ayat Inqilab yang mengatakan bahwa sikap berbalik ke belakang dari perkara ini adalah berarti sikap berbalik ke belakang dari agama ini seluruhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">4.  &#8220;Allah menjaga kamu dari (gangguan) manusia.&#8221; Ini memberikan arti bahwa sebagian besar manusia tidak menyukai perkara yang Rasulullah saw diperintahkan untuk menyampaikannya? Perkara apakah ini yang Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama-tama, sesungguhnya perkara ini mempunyai kaitan dengan sikap berbalik ke belakang. Dan ini didasarkan kepada beberapa hal:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Karena perkara ini berkaitan dengan risalah, dan berbalik ke belakang darinya adalah berarti berbalik ke belakang dari risalah.</p>
<p style="text-align: justify;">2.Di dalam perkara ini terdapat sikap berbalik ke belakang, disebabkan ketidak-relaan kelompok mayoritas terhadap perkara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">3.Rasulullah saw harus menyampaikan perkara ini disebabkan ajalnya sudah dekat, &#8220;Sudah hampir masanya aku dipanggil oleh Allah dan aku mesti menjawab panggilan-Nya&#8221;, sehingga tidak meninggalkan alasan bagi mereka untuk bisa berbalik ke belakang, dan sekaligus menegakkan hujjah yang sempurna atas mereka. Karena perbuatan berbalik ke belakang mempunyai kaitan dengan wafatnya Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">4.Sesungguhnya perkara yang Allah SWT inginkan Rasulullah saw menyampaikannya ialah satu perkara yang sangat dimungkinkan manusia berpaling darinya. Karena, Rasulullah saw telah menyampaikan seluruh risalah, dengan segenap cabangnya, namun tidak tampak tanda-tanda ketidak-relaan dari kaum Muslimin terhadap seluruh yang telah disampaikan Rasulullah saw, kecuali perkara ini. Rasulullah saw sendiri merasa khawatir untuk menyampaikannya, maka Allah SWT pun memberikan jaminan kepada Rasulullah saw untuk menjaga dan melindunginya dari gangguan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">5.Rasulullah saw berperan sebagai katup pengaman dalam masalah ini. Jika Rasulullah saw meninggal dunia, maka lumpuhlah keamanan, dan manusia akan melakukan yang sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Tidak ada sesuatu yang menjadi objek dari sikap berbalik ke belakang selain dari kekhalifahan yang ditetapkan dari sisi Allah SWT. Kekhalifahan siapa yang Rasulullah saw sampaikan?</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis-hadis mutawatir, dan begitu juga beratus-ratus kitab referensi kaum Muslimin menceritakan peristiwa al-Ghadir dan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah kaum Muslimin, sebagaimana yang telah disebutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini, dan dari beribu-ribu hadis lainnya tampak jelas bahwa Rasulullah saw telah menetapkan Ali sebagai khalifah dan Imam atas seluruh makhluk, namun hal ini tidak mendapat kerelaan dari kaum Muslimin. Manakala Rasulullah meninggalkan dunia yang fana ini, dengan segera mereka pun berbalik ke belakang darinya dan merampas apa yang menjadi haknya. Dan hanya sedikit sekali dari mereka yang tetap berpegang teguh. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT pada bagian akhir ayat Inqilâb, &#8220;&#8230; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&#8221; Dari ayat ini tampak jelas:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, mereka itu sedikit jumlahnya. Dengan alasan,</p>
<p style="text-align: justify;">a. Kata &#8220;ingalabtum &#8221; (kamu berbalik ke belakang), memberikan arti umum dan mayoritas.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Dan hanya sedikit dari hamba-hambaku yang bersyukur.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, syukur di sini sebagai lawan dari kufur, yaitu berbalik ke belakang, &#8220;Maka di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir&#8221;, &#8220;Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus: ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.&#8221; Jalan ini sudah dikenal, berdasarkan beberapa petunjuk berikut,</p>
<p style="text-align: justify;">a. Petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus, &#8220;Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">b. Perbuatan berbalik ke belakang dari jalan yang lurus. Karena ayat di atas mengatakan, &#8220;Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang bersyukur.&#8221; Yaitu mereka yang mengikuti jalan yang luras ini. Sehingga selain dari mereka adalah orang-orang kafir, karena mereka berbalik ke belakang dari jalan yang lurus.</p>
<p style="text-align: justify;">c. Alif lam ta&#8217;rif.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan ini merupakan tempat ujian dan kenikmatan pada waktu yang bersamaan. Yaitu ujian yang dengannya manusia diuji, dan kenikmatan bagi orang yang melaluinya. Biasanya, perbuatan berbalik ke belakang yang menyamai kekufuran adalah perbuatan berbalik ke belakang dari kenikmatan. Manakala kepemimpinan Ali merupakan sebuah kenikmatan, &#8220;Dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku&#8221;, maka perbuatan berbalik ke belakang terjadi atasnya, dan hanya sedikit saja yang menerima kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana yang dikuatkan oleh hadis Rasulullah saw yang bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang aku kenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, &#8216;Mari.&#8217; Aku bertanya, &#8216;Ke mana?&#8217; Dia menjawab, &#8216;Ke neraka, demi Allah.&#8217; Aku bertanya, &#8216;Apa kesalahan mereka?&#8217; Dia men-jawab, &#8216;Mereka telah murtad sepeninggalmu dan telah berbalik dari kebenaran.&#8217; Dan aku tidak melihat yang tersisa kecuali sedikit sekali, seperti sekelompok unta yang tersisih.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis ini menguatkan apa yang dikatakan di dalam ayat inqilab, yaitu hanya sedikit orang yang bersyukur terhadap kenikmatan. Rasulullah saw mengatakan, &#8220;Aku tidak melihat yang tersisa kecuali sedikit sekali, seperti sekelompok unta yang tersisih.&#8221; Sebagaimana kelompok unta yang terpisah dari rombongannya sedikit sekali jumlahnya, maka demikian pula para sahabat yang selamat sedikit sekali jumlahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, &#8220;Aku akan mendahului kamu di telaga. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum, dan siapa yang telah minum dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang aku kenal dan mereka juga mengenalku, datang kepadaku. Kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata, &#8216;Sahabatku, sahabatku.&#8217; Lalu dijawab, &#8216;Engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu.&#8217; Dan aku pun berkata, &#8216;Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah sepeninggalku.&#8217;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw pernah berkata kepada Abu Bakar, manakala Rasulullah meyaksikan para syuhada ahli surga. Rasulullah saw berkata, &#8220;Adapun berkenaan dengan mereka, aku memberikan kesaksian bagi mereka.&#8221; Lalu Abu Bakar berkata, &#8220;Dan juga bagi kami, hai Rasulullah?&#8221; Rasulullah saw menjawab, &#8220;Adapun mengenaimu, aku tidak mengetahui apa yang akan kamu lakukan sepeninggalku. •</p>
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<h5><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref1">*</a> Makalah ini adalah cuplikan dari buku “Kebenaran Yang Hilang”, karya Syeikh Mu’tashim Sayid Ahmad.</h5>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref2">[1]</a> Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jld. 2, hal. 2.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref3">[2]</a> Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jld. 3, hal. 2-5.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref4">[3]</a> Musnad Ahmad, jld. 1, hal. 55; Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 466; Ibnu Atsir, jld. 2, hal. 124; Ibnu Katsir, jld. 5, hal. 246.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref5">[4]</a> Al-&#8217;Iqd al-Farid, jld. 3, hal. 64; Abul Fida, jld. 1, hal. 156.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref6">[5]</a> Ansab al-Asyraf, jld. 1, hal. 586; Kanz al-&#8217;Ummal, jld.3, hal. 140; ar-Riyadh an-<br />
Nadhirah,)\A 1, hal. 167.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref7">[6]</a> Tankh Ya qubi, jld. 2, hal. 126.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref8">[7]</a> Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 443 &#8211; 446.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref9">[8]</a> Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jld. l, hal. 143, dan jld. 2, hal. 2 &#8211; 5.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref10">[9]</a> Sahih Bukhari, jld. 5, hal. 177, dan jld. 4, hal. 96.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref11">[10]</a> Al-Imamah wa as-Siyasah, jld. l, hal. 25.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref12">[11]</a> Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 619; Murur adz-Dzahab, jld. l, hal. 414; al- &#8216;Iqd al-Farid, jld. 3, hal. 69; Kanz al-&#8217;Ummal, jld. 3, hal. 135; al-Imamah wa as-Siyasah, jld. l, hal. 18; Tarikh adz-Dzahabi, jld. 1, hal. 388.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref13">[12]</a> Tarikh Ya&#8217;qubi, jld. 2, hal. 115.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref14">[13]</a> Al-lmamah wa as-Siyasah, jld. 1, hal. 19.</p>
<p><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref15">[14]</a> Al-lmamah wa as-Siyasah, jld. 1, hal. 19.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://edwinharahap.com/madinah/wp-admin/#_ednref16">[15]</a> Munadzarat fi al-Imamah; al-Manaqib, Ibnu Syahrasyub, jld. 1, hal. 270.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/musyawarah-dan-kekhilafahan-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis &quot;Kitab Allah dan ‘Itrah Ahlul Bait&quot; di dalam Referensi-Referensi Ahlus Sunnah</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/hadis-kitab-allah-dan-%e2%80%98itrah-ahlul-bait-di-dalam-referensi-referensi-ahlus-sunnah/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/hadis-kitab-allah-dan-%e2%80%98itrah-ahlul-bait-di-dalam-referensi-referensi-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 15:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlu Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Itrah]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi&#8217;in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-69" title="thaqalayn" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/thaqalayn.jpg" alt="thaqalayn" width="420" height="300" />Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi&#8217;in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab &#8216;Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua.</p>
<p>Sanad Hadis<br />
a. Jumlah Perawi Dari Kalangan Sahabat<br />
Hadis ini telah mencapai derajat mutawâtir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian nama-nama mereka:</p>
<p>1. Zaid bin Arqam.</p>
<p>2. Abu sa&#8217;id al-Khudri.</p>
<p>3. Jabir bin Abdullah.</p>
<p>4. Hudzaifah bin Usaid.</p>
<p>5. Khuzaimah bin Tsabit.</p>
<p>6. Zaid bin Tsabit.</p>
<p>7. Suhail bin Sa&#8217;ad.</p>
<p>8. Dhumair bin al-Asadi,</p>
<p>9. &#8216;Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).</p>
<p>10. Abdurrahman bin &#8216;Auf.</p>
<p>11. Abdullah bin Abbas.</p>
<p>12. Abdullah bin Umar.</p>
<p>13. &#8216;Uday bin Hatim.</p>
<p>14. &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir.</p>
<p>15. Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>16. Abu Dzar al-Ghifari.</p>
<p>17. Abu Rafi&#8217;.</p>
<p>18. Abu Syarih al-Khaza&#8217;i.</p>
<p>19. Abu Qamah al-Anshari.</p>
<p>20. Abu Hurairah.</p>
<p>21. Abu Hatsim bin #SENSOR#han.</p>
<p>22. Ummu Salamah.</p>
<p>23. Ummu Hani binti Abi Thalib.</p>
<p>24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.</p>
<p>b. Jumlah Perawi Dari Kalangan Tâbi&#8217;în<br />
Penukilan hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tâbi&#8217;în, dan inilah sebagian dari para tabi&#8217;in yang menukil hadis &#8220;Kitab Allah dan &#8216;itrahku&#8221;:</p>
<p>1. Abu Thufail &#8216;Amir bin Watsilah.</p>
<p>2. &#8216;Athiyyah bin Sa&#8217;id al-&#8217;Ufi.</p>
<p>3. Huns bin Mu&#8217;tamar.</p>
<p>4. Harits al-Hamadani</p>
<p>5. Hubaib bin Abi Tsabit.</p>
<p>6. Ali bin Rabi&#8217;ah.</p>
<p>7. Qashim bin Hisan.</p>
<p>8. Hushain bin Sabrah.</p>
<p>9. &#8216;Amr bin Muslim.</p>
<p>10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.</p>
<p>11. YahyabinJu&#8217;dah.</p>
<p>12. Ashbagh bin Nabatah.</p>
<p>13. Abdullahbin Abirafi&#8217;.</p>
<p>14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.</p>
<p>15. Abdurrahman bin Abi sa&#8217;id.</p>
<p>16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>18. Hasan bin Hasan bin bin Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.</p>
<p>c. Jumlah Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad<br />
Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi&#8217;in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab &#8216;Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua.</p>
<p>Pada kesempatan ini saya mencukupkan diri dengan hanya menyebutkan jumlah mereka pada setiap tingkatan masa, dari abad kedua hingga abad keempat belas.</p>
<p>• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.</p>
<p>• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.</p>
<p>• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.</p>
<p>• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.</p>
<p>• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.</p>
<p>• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.</p>
<p>• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.</p>
<p>• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.</p>
<p>• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.</p>
<p>• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.</p>
<p>• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.</p>
<p>• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.</p>
<p>• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.</p>
<p>Dengan begitu jumlah para perawi hadis dari abad ketiga hingga abad keempat belas semuanya berjumlah 323 orang. Perhatikanlah ini!</p>
<p>Hadis &#8220;Kitab Dan &#8216;Itrah&#8221; Di Dalam Kitab-kitab Hadis<br />
Adapun mengenai kitab-kitab hadis yang meriwayatkan hadis ini jumlahnya banyak sekali. Kami akan menyebutkan sebagian darinya:</p>
<p>1. Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma&#8217;arif Beirut &#8211; Lebanon.</p>
<p>Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, &#8220;Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, &#8220;Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa&#8217;id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, &#8216;Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, &#8216;Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.&#8217; Zaid (bin Arqam) berkata, &#8216;Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.&#8217; Kemudian Zaid bin Arqam berkata,</p>
<p>&#8216;Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama &#8220;Khum&#8221;, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata,</p>
<p>&#8216;Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.&#8217; Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, &#8216;Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.&#8217; Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), &#8216;Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?&#8217; Zaid bin Arqam menjawab, &#8216;Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepenggal beliau. &#8221; Muslim juga meriwayatkan:</p>
<p>Dari Zuhair bin Harb dan Syuja&#8217; bin Mukhallad, semuanya dari Ibnu &#8216;Uliyyah. Zuhair berkata, &#8220;Telah berkata kepada kami Ismail bin Ibrahim, &#8216;Telah berkata kepada kami Abu Hayan, &#8216;Telah berkata kepada kami Yazid bin Hayan yang berkata, &#8216;Saya pergi&#8230;&#8217; dan kemudian dia menyebutkan hadis di atas.&#8221;</p>
<p>Muslim meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata, &#8220;Telah berkata kepada kami Muhammad bin Fudhail, &#8216;Telah berkata kepada kami Ishaq bin Ibrahim, &#8216;Telah memberitahukan kepada kami Jarir&#8217;, keduanya dari Abi Hayyan &#8230;. kemudian dia menyebutkan hadis.&#8221;</p>
<p>Seluruh riwayat Muslim kembali kepada Abi Hayyan bin Sa&#8217;id at-Tamimi. Adz-Dzahabi telah berkomentar tentangnya,</p>
<p>&#8220;Yahya bin Sa&#8217;id bin Hayyaan Abu Hayyan at-Tamimi adalah seorang pejuang yang diagungkan dan dipercaya. Ahmad bin Abdullah al-&#8217;Ajali berkata tentangnya, &#8216;Dia seorang yang dapat dipercaya, saleh dan unggul sebagai pemilik sunah.&#8221;[1]</p>
<p>Adz-Dzahabi juga berkata di dalam kitab al- &#8216;lbar, jilid 1, halaman 205, &#8220;Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa&#8217;id at-Tamimi, Mawla Tim ar-Rabbab al-Kufi. Dia itu seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah. Asy-Sya&#8217;bi dan yang lainnya meriwayatkan darinya.</p>
<p>Yafi&#8217;i berkata, &#8220;Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa&#8217;id at-Tamimi al-Kufi. Dia itu seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah.&#8221;[2]</p>
<p>Al-&#8217;Asqalani berkata, &#8220;Abu Hayyan at-Tamimi al-Kufi adalah seorang yang dapat dipercaya, salah seorang ahli ibadah yang enam, dan wafat pada tahun 45 Hijrah.&#8221;[3]</p>
<p>Dan komentar-komentar para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil lainnya tentang Abu Hayyan at-Tamimi.</p>
<p>Sebagaimana diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan ini menunjukkan akan kesasihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk mensahihkan selurah hadis yang diriwayatkannya.</p>
<p>Muslim sendiri dengan tegas telah mengatakan bahwa seluruh hadis yang terdapat di dalam Kitab Sahihnya telah disepakati kesahih-annya. Apalagi dalam pandangannya sudah tentu sahih. Hafidz as-Suyuthi telah berkata, &#8220;Muslim berkata, &#8216;Tidak semua yang sahih saya letakkan di sini, melainkan saya hanya meletakkan yang telah disepakati kesahihannya.&#8217;&#8221; Sebagaimana tertulis di dalam kitab at-Tadrin ar-Rawi.</p>
<p>An-Nawawi berkata di dalam biografi Muslim, &#8220;Muslim telah menyusun banyak kitab di dalam ilmu hadis, dan salah satunya adalah kitab sahih ini, yang telah Allah SWT anugrahkan kepada kaum Muslimin.&#8221;[4]</p>
<p>Dan komentar-komentar yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya.</p>
<p>2. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi &#8216;Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma&#8217;rifah as-Shahabah, terbitan Dar al-Ma&#8217;rifah Beirut – Lebanon.</p>
<p>- Abu &#8216;Awanah meriwayatkan hadis ini dari al-A&#8217;masy Tsana Habib bin Abi Tsabit, dari Abi Laila, dari Zaid bin Arqam yang berkata, &#8220;Tatkala Rasulullah saw kembali dari haji wada&#8217; dan singgah di Ghadir Khum, Rasulullah saw menyuruh para sahabatnya bernaung di bawah pepohonan. Kemudian Rasulullah saw bersabda, &#8216;Aku hampir dipanggil oleh Allah SWT, maka aku harus memenuhi panggilannya. Sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara yang amat berharga, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah dan &#8216;itrah Ahlul Baitku. Maka perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadap keduanya, karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga.&#8217; Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya, &#8216;Sesungguhnya Allah Azza Wajalla adalah pemimpinku, dan aku adalah pemimpin setiap orang Mukmin&#8217;, lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali seraya berkata, &#8216;Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.&#8221;&#8216; Dengan demikian, Rasulullah saw menekankan bahwa yang pertama dari Ahlul Bait dan sekaligus pemimpin mereka yang wajib diikuti ialah Ali as.</p>
<p>Sebagaimana juga diriwayatkan dari dari Hassan bin Ibrahim al-Kirmani Tsana Muhammad bin Salma bin Kuhail, dari ayahnya, dari Abi Thufail, dari Ibnu Watsilah yang berkata bahwa dirinya mendengar Zaid bin Arqam berkata&#8230; (dan dia menyebutkan hadis sebagaimana yang di atas), hanya saja dia menambahkan, &#8216;Kemudian Rasulullah saw bersabda, Tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih berhak atas orang-orang Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri&#8217; sebanyak tiga kali. Mereka menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Rasulullah saw bersabda lagi, &#8216;Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.&#8217;&#8221;</p>
<p>- Al-Hakim juga meriwayatkannya melalui dua jalan yang lain; dan supaya tidak terlalu panjang saya cukupkan dengan hanya mem-buktikan dua jalan.</p>
<p>Dan di antara bukti yang menunjukkan kesahihan dan kemutawatiran hadis ini ialah bahwa al-Hakim telah meriwayatkannya dan telah menetapkan kesahihannya berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.</p>
<p>3. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut &#8211; Lebanon.</p>
<p>Telah berkata kepada kami Abdullah, &#8216;Telah berkata kepada kami Abi Tsana Abu an-Nadzar Tsana Muhammad, yaitu Ibnu Abi Thalhah, dari al-A&#8217;masy, dari &#8216;Athiyyah al-&#8217;Ufi, dari Abi Sa&#8217;id al-Khudri, dari Rasulullah saw yang berkata, &#8220;Aku merasa segera akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan memenuhi panggilan itu. Aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yaitu Kitab Allah Azza Wajalla dan &#8216;itrahku (kerabatku). Kitab Allah, tali penghubung antara langit dan bumi; dan &#8216;itrahku, Ahlul Baitku. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui telah berkata kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga berjumpa kembali denganku di telaga. Oleh karena itu, perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya itu.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan, &#8220;Telah berkata kepada kami Abdullah, &#8216;Telah berkata kepada kami Tsana bin Namir Tsana Abdullah, yaitu Ibnu Abi Sulaiman, dari &#8216;Athiyyah, dari Abi Sa&#8217;id al-Khudri yang berkata, &#8216;Rasulullah saw telah bersabda, &#8216;Aku telah tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang mana salah satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan &#8216;itrah Ahlul Baitku, Ketahuilah, sesungguhnya keduanya tidak akan pernah ber-pisah sehingga datang menemuiku di telaga.&#8217;&#8221; Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkannya dari berbagai jalan, selain jalan-jalan yang di atas.</p>
<p>4. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5, halaman 662 &#8211; 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-&#8217;Arabi.</p>
<p>Telah berkata kepada kami Ali bin Mundzir al-Kufi, &#8220;Telah berkata kepada kami Muhammad bin Fudhail, &#8216;Telah berkata kepada kami al-A&#8217;masy, dari &#8216;Athiyyah, dari Abi Sa&#8217;id dan al-A&#8217;masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Zaid bin Arqam yang berkata, &#8216;Rasulullah saw telah bersabda, &#8216;Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan &#8216;itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.&#8221;&#8216;</p>
<p>5. Sebagaimana juga &#8216;Allamah &#8216;Alauddin Ali al-Muttaqi bin Hisam ad-Din al-Hindi, yang wafat pada tahun 975 H, meriwayatkan hadis ini di dalam kitabnya Kanz al-&#8217;Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af&#8217;al, juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur&#8217;an dan sunah), halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985, yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.</p>
<p>Jika kita berlama-lama di dalam bab ini, untuk menyebutkan seluruh kitab yang meriwayatkan hadis ini, niscaya akan memakan waktu yang lama dan dibutuhkan kitab tersendiri. Sebagai contoh, di sini kami hanya akan menyebutkan sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311. Sebagian dari mereka itu ialah:</p>
<p>1. Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di dalam kitabnya al-Mu &#8216;jam ash-Shaghir.</p>
<p>2. &#8216;Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam kitabnya Dzakha&#8217;ir al-&#8217;Uqba.</p>
<p>3. &#8216;Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara&#8217;id as-Sirnthain.</p>
<p>4. Ibnu Sa&#8217;ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat al-Kubra.</p>
<p>5. Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya al-Mayyit.</p>
<p>6. Al-Hafidz al-&#8217;Asqalani, di dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyyah.</p>
<p>7. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya Majma&#8217; az-zawa&#8217;id.</p>
<p>8. &#8216;Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar al-Muhammadiyyah.</p>
<p>9. Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.</p>
<p>10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.</p>
<p>11. &#8216;Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah.</p>
<p>12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitabnya Tafsir al-Qur&#8217;an.</p>
<p>13. Kitab Jami&#8217; al-Atsir, karya Ibnu Atsir.</p>
<p>14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam kitabnya ash- Shawa&#8217;ig al-Muhriqah fi ar-Radd &#8216;ala Ahlil Bida&#8217; wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun 1965, Perpustakaan Kairo.</p>
<p>Setelah meriwayatkan hadis tsaqalain Ibnu Hajar berkata, &#8220;Ketahuilah bahwa hadis tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Jalan riwayat hadis itu telah disebutkan secara terperinci pada bab kesebelas (dari kitabnya yang bernama ash-Shawa&#8217;iq al-Muhriqah).</p>
<p>Di antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saw di Arafah pada waktu haji wada&#8217;. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat. Tidak dapat dikatakan bahwa riwayat-riwayat itu saling bertentangan, sebab mungkin saja Rasulullah saw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur&#8217;an dan Ahlul Bait yang suci. Pada sebuah riwayat yang berasal dari Thabrani, dari Ibnu Umar yang berkata bahwa perkataan terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah ialah, &#8216;Berbuat baiklah kamu terhadap Ahlul Baitku.&#8217; Sementara pada riwayat lain yang berasal dari Thabrani dan Abi Syeikh disebutkan, &#8216;Allah SWT mempunyai tiga kehormatan. Barangsiapa yang menjaga ketiganya maka Allah akan menjaga agama dan dunianya, dan barangsiapa yang tidak menjaga ketiganya maka Allah tidak akan menjaga dunia dan akhiratnya. Saya bertanya, &#8216;Apa ketiganya itu?&#8217; Rasulullah saw menjawab, &#8216;Kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kerabatku.&#8217; Pada riwayat Bukhari yang berasal dari ash-Shiddiq dikatakan, &#8216;Wahai manusia, apakah Muhammad mencintai Ahlul Baitnya? Artinya, jagalah Rasulullah dengan menjaga Ahlul Baitnya dan dengan tidak menyakitinya. Ibnu Sa&#8217;ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah saw telah bersabda, &#8216;Saya berpesan kepadamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya besok aku akan memusuhimu tentang perihal mereka. Barang siapa yang aku menjadi musuhnya maka aku akan memusuhinya, dan barangsiapa yang aku musuhi maka dia akan masuk ke dalam neraka.&#8217; Juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, &#8216;Barangsiapa yang menjagaku pada Ahlul Baitku maka berarti dia telah mengambil perjanjian di sisi Allah.&#8217; Ibnu Sa&#8217;ad dan Mala meriwayatkan: Yang pertama, hadis yang berbunyi, &#8216;Aku dan Ahlul Baitku adalah sebuah pohon di surga, yang dahan-dahannya menjulur sampai ke dunia, maka barangsiapa yang hendak mengambil jalan menuju Allah maka dia harus berpegang teguh kepada Ahlul Baitku.&#8217; Adapun yang kedua adalah hadis yang berbunyi, &#8216;Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil, dan petakwilan orang-orang yang bodoh.&#8217; Adapun riwayat yang kedua ialah hadis yang berbunyi, &#8216;lngatlah, sesungguhnya pemimpin-pemimpin kamu adalah utusan kamu kepada Allah, maka oleh karena itu perhatikanlah siapa yang kamu jadikan utusan &#8230;&#8217; Kemudian mereka berkata, &#8216;Rasulullah saw menamakan keduanya dengan nama ats-Tsaqalain dikarenakan ats-tsaql ialah segala sesuatu yang berharga, mulia dan terjaga; dan ke-duanya memang demikian. Karena keduanya adalah tambang ilmu-ilmu agama, hikmah dan hukum syariat. Oleh karena itu, Rasulullah saw menganjurkan untuk mengikuti mereka, berpegang teguh kepada mereka dan belajar dari mereka. Rasulullah saw bersabda, &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hikmah Ahlul Bait di tengah-tengah kita.’ Ada pendapat yang mengatakan bahwa keduanya dinamakan dengan ats-Tsaqlain adalah dikarenakan beratnya bobot kewajiban menjaga hak-hak mereka &#8230;&#8221;</p>
<p>Apakah Anda telah menjaga semua ini, wahai Ibnu Hajar, menjaga Rasulullah saw di dalam Ahlul Baitnya, mengikuti mereka dan mengambil agama dari mereka?!</p>
<p>Atau sebaliknya, apakah Anda hanya mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di hati Anda?! &#8220;Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.&#8221;</p>
<p>Sungguh benar Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq as manakala mengatakan, &#8220;Mereka mengklaim mencintai kami namun pada saat yang sama mereka melakukan pembangkangan terhadap kami.&#8221; Ibnu Hajar dan orang-orang yang sepertinya, mereka mengklaim mencintai dan mengikuti Ahlul Bait, namun pada saat yang sama mereka mengambil agama mereka dari orang-orang yang telah menzalimi Ahlul Bait. Dan Ibnu Hajar sendiri, tatkala membuktikan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait dan mengakui kewajiban berpegang teguh kepada mereka, namun pada saat yang sama dia menyerang Syi&#8217;ah di dalam kitabnya ash-Shawa&#8217;iq, memasukkan mereka ke dalam kelompok yang sesat, dan mencaci maki mereka dengan seburuk-buruknya cacian.</p>
<p>Lantas, apa dosa mereka, wahai Ibnu Hajar?! Apakah hanya karena mereka mengikuti Ahlul Bait dan mengambil agama dari kalangan mereka.</p>
<p>Keraguan-raguan Terhadap Hadis Tsaqalain<br />
Di dalam kitabnya yang berjudul al-&#8217;llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah Ibnu al-Jauzi mencela hadits ats-tsaqalain. Dia mengatakan, setelah sebelumnya mengutip hadis ini, &#8220;Hadis ini tidak sahih. Adapun &#8216;Athiyyah telah didhaifkan oleh Ahmad, Yahya dan selain dari mereka berdua. Adapun tentang Abdullah al-Quddus, Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan dia itu seorang rafidhi yang jahat. Sedang mengenai Abdullah bin Dahir, Ahmad dan Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan bukan termasuk manusia yang terdapat kebaikan dalam dirinya.&#8221;</p>
<p>Menolak Keragu-Raguan<br />
1. Sanad hadis tsaqalain tidah hanya terbatas pada sanad ini saja. Hadis tsaqalain telah diriwayatkan melalui berbagai jalan, sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p>2. Muslim telah meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya melalui banyak jalan. Dan, tidak diragukan bahwa riwayat Muslim, meski pun hanya melalui satu jalan sudah cukup untuk membuktikan kesahihannya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak diperselisihkan di kalangan Ahlus Sunnah.</p>
<p>3. Demikian juga Turmudzi telah meriwayatkannya di dalam sahihnya melalui banyak jalan: Dari Jabir, dari Zaid bin Arqam, dari<br />
Abu Dzar, dari Abu Sa&#8217;id dan dari Khudzaifah.</p>
<p>4. Perkataan Ibnu al-Jauzi sendiri di dalam kitabnya al-Mawdhu&#8217;at, jilid 1, halaman 99 yang berbunyi,</p>
<p>&#8220;Manakala Anda melihat sebuah hadis yang tidak terdapat di dalam diwan-diwan Islam (al-Muwaththa, Musnad Ahmad, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi dan sebagainya) maka periksalah. Jika hadis ini mempunyai bandingan di dalam kitab-kitab sahih dan hasan maka tetapkanlah urusannya.&#8221; Dengan demikian berarti dia telah menentang dirinya sendiri, karena hadis ini telah diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis yang dinamakannya sebagai diwan-diwan Islam.</p>
<p>5. Sesungguhnya perkataan Ibnu al-Jauzi yang berkenaan dengan &#8216;Athiyyah itu tertolak disebabkan penguatan yang diberikan oleh Ibnu Sa&#8217;ad terhadapnya. Ibnu Hajar al-&#8217;Asqalani telah berkata, &#8220;Ibnu Sa&#8217;ad telah berkata, &#8220;Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy&#8217;ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan &#8216;Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun &#8216;Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian &#8216;Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. &#8216;Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”[5] Padahal diketahui bahwa Ibnu Sa&#8217;ad adalah termasuk seorang nawasib yang memusuhi Ahlul Bait. Tingkat permusuhannya ter-hadap Ahlul Bait sampai sedemikian rupa sehingga Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq as mendhaifkannya. Maka penguatan yang diberikannya kepada &#8216;Athiyyah cukup menjadi hujjah atas musuh.</p>
<p>6. Sesungguhnya &#8216;Athiyyah termasuk orangnya Ahmad bin Hanbal, dan Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah), sebagaimana yang sudah diketahui. Ahmad telah meriwayatkan banyak riwayat darinya, sehingga penisbahan pendhaifan &#8216;Athiyyah kepada Ahmad adalah sebuah kebohongan yang nyata. Taqi as-Sabaki telah mengatakan, &#8220;Ahmad —semoga Allah merahmatinya— tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah). Musuh (maksudnya Ibnu #SENSOR#miyyah) telah berterus terang tentang hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah sepuluh kitab lainnya. Ibnu #SENSOR#miyyah berkata, &#8216;Sesungguhnya para ulama hadis yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.&#8217;&#8221;[6]</p>
<p>7. Penguatan yang diberilan oleh cucu Ibnu Jauzi kepada &#8216;Athiyyah. Cucu Ibnu Jauzi dengan tegas memberikan penguatan terhadap &#8216;Athiyyah dan menolak pendhaifannya.</p>
<p>8. Adapun usaha Ibnu Jauzi menisbahkan pendhaifan &#8216;Athiyyah kepada Yahya bin Mu&#8217;in itu tertolak, didasarkan kepada penukilan a-Dawri dari Ibnu Mu&#8217;in yang mengatakan bahwa &#8216;Athiyyah adalah seorang yang saleh. Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi &#8216;Athiyyah, &#8220;Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu&#8217;in bahwa &#8216;Athiyyah adalah seorang yang saleh.&#8221;[7] Dengan begitu, gugurlah apa yang telah dinisbahan Ibnu Jauzi kepada Yahya Mu&#8217;in.</p>
<p>Sesuatu yang menunjukkan kebodohan Ibnu Jauzi akan hadis tsaqalain ialah dia mengira bahwa dengan semata-mata mendhaifkan &#8216;Athiyyah berarti dia telah mendhaifkan hadis tsaqalain, padahal sudah diketahui dengan jelas bahwa penguatan atau pendhaifan &#8216;Athiyyah sama sekali tidak mencemarkan hadis tsaqalain. Karena hadis yang telah diriwayatkan oleh &#8216;Athiyyah dari Abi Sa&#8217;id juga telah diriwayatkan dari Abi Sa&#8217;id oleh Abu Thufail, yang termasuk ke dalam kategori sahabat. Dan jika kita melangkah lebih jauh lagi dari itu niscaya kita akan menemukan bahwa kesahihan hadis tsaqalain tidak bergantung kepada riwayat Abi Sa&#8217;id, baik yang melalui jalan &#8216;Athiyyah maupun yang melalui jalan Abu Thufail. Jika seandainya kita menerima ke-dhaifan riwayat Abi Sa&#8217;id dengan semua jalannya, maka yang demikian itu tidak membahayakan sedikit pun terhadap hadis ini, disebabkan banyaknya riwayat dan jalan lain yang dimilikinya.</p>
<p>Jawaban Kepada Ibnu Jauzi Atas Pendhaifannya Terhadap Ibnu Abdul Quddus<br />
1.Adapun celaannya terhadap Abdullah bin Abdul Quddus tertolak dengan penguatan yang diberikan oleh al-Hafidz Muhammad bin Isa terhadap Abdullah bin Abdul Quddus. Al-Hafidz Muhammad bin Isa berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus, &#8220;Ibnu &#8216;Uday telah menceritakan dari Muhammad bin Isa yang mengatakan, &#8216;Dia (Abdullah bin Abdul Quddus) itu dapat dipercaya.&#8221;&#8216;[8]</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar al-&#8217;Asqalani berkata, &#8220;Telah diceritakan bahwa Muhammad bin Isa telah berkata, &#8216;Dia itu dapat dipercaya.&#8217;&#8221;[9]</p>
<p>Adapun tentang Muhammad bin Isa, al-Hafidz adz-Dzahabi telah berkata, &#8220;Abu Hatim telah berkata, &#8216;Dia seorang yang dapat dipecaya. Saya belum pernah melihat dari kalangan muhaddis yang lebih menguasai bab-bab hadis melebihi dia.&#8217; Abu Dawud telah berkata, &#8216;Dia seorang yang dapat dipercaya.&#8217;&#8221;</p>
<p>2. Muhammad bin Hayan memasukkan Abdullah bin Abdul Quddus ke dalam kelompok orang yang dapat dipercaya. Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus, &#8220;Ibnu Hayan telah memasukkannya ke dalam kelompok orang yang dapat dipercaya.&#8221;[10]</p>
<p>3. Al-Haitsami telah menukil di dalam kitabnya Majma&#8217; az-Zawa&#8217;id, &#8220;Bukhari dan Ibnu Hayan telah menguatkannya.&#8221;</p>
<p>4. Al-Hafidz al-&#8217;Asqalani telah berkata tentang biografinya, &#8220;Dia, pada dasarnya adalah seorang yang amat jujur, hanya saja dia meriwayatkan dari kaum-kaum yang dhaif.&#8221;[11]</p>
<p>Kritikan Bukhari terhadap Ibnu Abdul Quddus, setelah sebelumnya dia menguatkannya, bahwa dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah tidaklah tertuju kepada hadis ini. Karena Ibnu Abdul Quddus meriwayatkan hadis tsaqalain —yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi— dari al-A&#8217;masy, dan dia adalah seorang yang dapat dipercaya.</p>
<p>5.Abdulah bin Abdul Quddus adalah termasuk orangnya Bukhari di dalam kitab sahihnya, di dalam bab at-Ta&#8217;liqat. Sebagaimana juga disebutkan di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 5, halaman 303; dan juga kitab Tagrib at-Tahdzib, jilid 1, halaman 430. Kelulusan yang diberikan oleh Bukhari kepadanya, meskipun itu terdapat di dalam bab at-Ta&#8217;liqat merupakan bukti penguatan Bukhari terhadapnya.</p>
<p>Ibnu Hajar al-&#8217;Asqalani, di dalam memberikan jawaban terhadap tuduhan yang dilontarkan kepada orang-orang Bukhari berkata di dalam mukaddimah Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, &#8220;Sebelum menyelami masalah ini, hendaknya setiap orang yang sadar mengetahui bahwa kelulusan yang diberikan oleh pemilik kitab sahih ini —yaitu Bukhari— kepada perawi mana saja, menuntut keadilan perawi tersebut dalam pandangan Bukhari, kebenaran rekamannya dan ketidaklalaiannya. Apalagi mayoritas para imam menamakan kedua kitab ini sebagai dua kitab sahih. Makna ini tidak berlaku bagi orang yang tidak diluluskan di dalam kedua kitab sahih ini.&#8221;</p>
<p>6. Abdullah bin Abdul Quddus termasuk orangnya Turmudzi.</p>
<p>7. Pencemaran terhadap Abdullah bin Abdul Quddus juga tidak membahayakan hadis ini. Bahkan sekali pun dengan riwayat al-A&#8217;masy dari &#8216;Athiyyah, dari Abi Sa&#8217;id, disebabkan tidak hanya Abdullah bin Abdul Quddus sendiri yang meriwayatkan hadis ini dari al- A&#8217;masy. Hadis ini juga telah diriwayatkan dari al-A&#8217;masy oleh Muhammad bin Thalhah bin al-Musharrih al-Yami dan Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan adh-Dhibbi di dalam Musnad Ahmad dan Turmudzi, sebagaimana yang telah dijelaskan kepada Anda. Dan ini merapakan bukti kebenaran riwayat ini. Sebagaimana juga al-A&#8217;masy tidak hanya meriwayatkan hadis ini dari &#8216;Athiyyah, dia juga meriwayatkan hadis ini dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman Masiri al-Ghazrami dan Abi Israil Ismail bin Khalifah al-&#8217;Abasi, sebagaimana disebutkan di dalam Musnad Ahmad, dan juga dari Harun bin Sa&#8217;ad al-&#8217;Ajali dan Katsir bin Ismail at-Timi, sebagaimana terdapat di dalam Mu&#8217;jam ath-Thabrani.</p>
<p>Adapun Pendhaifan Ibnu Jauzi Terhadap Abdullah bin Dahir:</p>
<p>1. Ini bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena tuduhan samar tidak dapat diterima dari siapa pun.</p>
<p>2. Tidak ada sebab yang rasional untuk menuduhnya di dalam riwayat ini, selain karena periwayatannya tentang keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin. Sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi, &#8220;Ibnu &#8216;Adi berkata, &#8216;Kebanyakan riwayat yang diriwayatkannya berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Ali, dan dia menjadi tertuduh karena hal itu.&#8217;&#8221;[12] Sungguh, pendhaifannya karena sebab ini tidak dapat diterima.</p>
<p>3. Dan yang lebih mengherankan dari Ibnu al-Jauzi ialah dia berusaha sedemikian rupa untuk mendhaifkan hadis ini dengan cara memasukkan Abdullah bin Dahir ke dalam sanad hadis ini, padahal dengan jelas diketahui bahwa Abdullah bin Dahir sama sekali tidak termasuk ke dalam sanad hadis ini. Silahkan rujuk kepada riwayat- riwayat yang telah disebutkan dan juga riwayat-riwayat yang belum kami sebutkan, apakah Anda mendapati Abdullah bin Dahir di dalam sanad hadis ini?! Dan saya tidak memahami hal ini selain dari permusuhan kepada Ahlul Bait dan usaha-usaha untuk menghapus hak-hak mereka. Akan tetapi Allah enggan akan hal itu kecuali Dia menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang yang kafir tidak suka.</p>
<p>4. Cucu Ibnu al-Jauzi, setelah menyebutkan hadis tsaqalain dari Musnad Ahmad bin Hambal dia mengatakan, &#8220;Jika dikatakan, &#8216;Kakek Anda telah mengatakan di dalam kitab al-Wahiyah, &#8216;&#8230;. (lalu dia menyebutkan perkataan Ibnu al-Jauzi di dalam mendhaifkan hadis ini, sebagaimana yang telah disebutkan)&#8217;, maka saya katakan, &#8216;Hadis yang kami riwayatkan telah disahkan oleh Ahmad di dalam al-Fadhail, dan tidak ada seorang pun di dalam sanadnya yang didhaifkan oleh kakek saya. Abu Dawud juga telah mensahkannya di dalam sunannya, dan begitu juga Turmudzi dan mayoritas kalangan muhaddis. Razin juga telah menyebutkannya di dalam kitab al-Jam&#8217; Baina ash-Shabah. Sungguh mengherankan bagaimana mungkin hadis yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya dari Zaid bin Arqam dapat tersembunyi dari kakek saya.&#8217;&#8221;[13] Apa yang dikatakan oleh cucu Ibnu al-Jauzi tidak lain merupakan pembenaran bagi Ibnu al-Jauzi. Karena jika tidak maka tentu Ibnu al-Jauzi tidak lalai akan hadis yang dapat disaksikan di dalam referensi-referensi kaum Muslimin ini, dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, namun dia ingin menipu dan membuat makar maka Allah pun membuat makar terhadapnya dan menggagalkan urusannya.</p>
<p>Kritikan Ibnu #SENSOR#miyyah<br />
Adapun kritikan Ibnu #SENSOR#miyyah terhadap hadis tsaqalain di dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah lebih lemah untuk kita diskusikan, namun dengan maksud untuk memaparkannya kita akan tetap menyebutkan pemikiran yang kosong ini, yang tidak mengekspresikan apa-apa kecuali kesalah-pahaman. Ketika Ibnu #SENSOR#miyyah tidak mampu mendhaifkan hadis tsaqalain dari sisi sanad, sebagaimana kebiasaannya di dalam mendhaifkan setiap hadis yang berbicara tentang keutaman Ahlul Bait, dia menggunakan cara lain yang tidak kita temukan pada yang lain selain dia. Dia mengatakan, hadis ini tidak menunjukkan kepada wajibnya berpegang teguh kepada Ahlul Bait melainkan hanya menunjukan kepada wajibnya berpegang teguh kepada Al-Qur&#8217;an saja.</p>
<p>Manusia berakal mana yang menarik kesimpulan dan pemahaman yang seperti ini dari nas yang sedemikian jelas ini?! Zahir hadis memastikan dan menekankan wajibnya berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Kitab dan al-&#8217;Itrah. Karena jika tidak maka apa artinya tsaqalain (dua benda yang sangat berharga)? (Aku tinggalkan padamu dua benda yang sangat berharga). Apa artinya sabda Rasulullah saw yang berbunyi, &#8220;Jika kamu berpegang teguh kepada keduanya&#8221;?! Akan tetapi kefanatikan telah membutakan hati, dan Ibnu #SENSOR#miyyah pun berargumentasi atas hal itu dengan sebuah hadis yang terdapat di dalam sahih Muslim yang berasal dari Jabir, dan kemudian dia melemparkan seluruh hadis yang lain ke dinding atau berpura-pura lalai darinya, meski pun hadis-hadis tersebut banyak riwayatnya dan banyak jalannya. Yaitu sebuah hadis yang dengan jelas tampak cacat bagi orang yang teliti apabila dibandingkan dengan hadis-hadis lain yang ada di dalam bab ini. Hadis yang dijadikan argumentasi oleh Ibnu #SENSOR#miyyah ialah, &#8220;Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sesudahnya, yaitu Kitab Allah.&#8221;</p>
<p>Hadis ini jelas-jelas cacat dan menyimpang. Karena hadis Jabir sendiri terdapat di dalam riwayat Turmudzi, dimana di dalamnya terdapat perintah yang jelas akan wajibnya berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Adapun bunyi nas hadis yang terdapat di dalam riwayat Turmudzi ialah, &#8220;Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan &#8216;ltrah Ahlul Baitku.&#8221;</p>
<p>Kritikan Ibnu #SENSOR#miyyah itu sendiri juga mengenai dirinya. Karena dia mengatakan wajibnya berpegang teguh kepada al-Kitab dan sunah. Tentunya perintah yang datang dari Rasulullah saw itu satu, apakah kewajiban berpegang teguh kepada al-Kitab saja atau kewajiban berpegang teguh kepada al-Kitab dan sunah. Ketika Ibnu #SENSOR#miyyah memilih kewajiban berpegang teguh kepada al-Qur&#8217;an saja, maka tentunya kewajiban berpegang teguh kepada sunah menjadi gugur. Ini jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu #SENSOR#miyyah sendiri, sebagaimana tampakjelas dari mazhabnya—yaitu Ahlus Sunnah, sebagaimanajuga dia menamakan kitab tempat dia menyebutkan hadis ini dengan nama Minhaj as-Sunnah, dan tidak dengan nama Minhaj al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Jika menurut keyakinannya bahwa hadis yang disebutkannya ini tidak membatalkan hadis berpegang teguh kepada al-kitab dan sunah maka tentunya hadis ini pun tidak membatalkan hadis yang mengatakan wajibnya berpegang teguh kepada al-kitab dan &#8216;ltrah Ahlul Bait.</p>
<p>Ibnu #SENSOR#miyyah tidak berhenti sampai disini, dia mengatakan tentang hadis &#8220;&#8230; dan &#8216;ltrah Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemuiku di telaga&#8221;, &#8220;Sesungguhnya hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi. Dan, Ahmad telah ditanya tentang hadis ini, serta tidak hanya seorang dari ahli ilmu yang mendhaifkan hadis ini. Mereka mengatakan bahwa hadis ini tidak sahih.&#8221;</p>
<p>Adapun jawaban terhadap Ibnu #SENSOR#miyyah, Anda dapat merasakan dari perkataan Ibnu #SENSOR#miyyah bahwa nas hadis ini tidak diriwayatkan kecuali oleh Turmudzi, padahal sebagaimana sudah Anda ketahui bahwa hadis ini telah diriwayatkan tidak hanya oleh seorang dari kalangan ulama Ahlus Sunnah dan para hafidz mereka.</p>
<p>Lantas, apa yang dia maksud dengan mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi?!</p>
<p>Apakah dia ingin mengatakan riwayat Turmudzi menunjukkan kedhaifan hadis ini?!</p>
<p>Siapa yang telah bertanya kepada Ahmad?! Dan apa jawaban Ahmadkepadanya?!</p>
<p>Di mana perkataan ini dapat ditemukan?!</p>
<p>Bukankah Ahmad sendiri telah meriwayatkan dan menguatkan hadis ini?!</p>
<p>Dan siapa yang mendhaifkan hadis ini, sehingga Ibnu #SENSOR#miyyah mengatakan tidak hanya seorang?! Kenapa dia tidak menyebutkan nama-nama mereka?!</p>
<p>Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang dapat ditujukan kepada Ibnu #SENSOR#miyyah. Jika dia dapat memberikan jawaban yang kuat tentu kita akan menerima kritikannya terhadap hadis ini. Namun, kita tidak mungkin menerima pembicaraannya yang rancu dan samar.</p>
<p>Namun, inilah kebiasaan Ibnu #SENSOR#miyyah, dia bersedia menyesatkan umat dan menutupi kebenaran.</p>
<p>Inilah keragu-raguan yang paling tampak di dalam bab ini, dan menurut pengkajian saya, saya tidak melihat adanya orang yang mencela hadis tsaqalain, yang telah tertetapkan secara mutawatir dan telah diakui kesahihannya oleh para ulama umat, dari kalangan huffadz dan muhaddis. Tidak ada yang berani mencela hadis tsaqalain ini kecuali orang yang mempunyai hati yang jahat yang dipenuhi dengan ke-bencian kepada Ahlul Bait.</p>
<p>Setelah terbukti dengan jelas kesahihan hadis ini bagi kita, maka kita wajib menyingkap penunjukkan maknanya, untuk kemudian berpegang teguh kepadanya.</p>
<p>Indikasi Hadis Tsaqalain Terhadap Keimamahan Ahlulbayt<br />
Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur&#8217;an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, &#8220;jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat&#8221;. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur&#8217;an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya. Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada &#8216;ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) &#8220;bihima&#8221; kembali kepada al-Kitab dan &#8216;ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur&#8217;an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Karena hal ini merupakan pembahasan berikutnya. Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, &#8220;Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya&#8221;&#8216;, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi &#8220;Aku tinggalkan padamu&#8230;.&#8221; adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka. Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya &#8220;Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku&#8221;. Kekhilafahan Al-Qur&#8217;an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, Kitab Allah dan &#8216;ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, &#8220;Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.&#8221; (QS. Ali &#8216;lmran: 103)</p>
<p>Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.</p>
<p>Sekelompok para mufassir telah mengatakan yang demikian itu. Ibnu Hajar telah menyebut nama-nama mereka di dalam kitabnya ash-Shawa&#8217;iq, di dalam bab &#8220;Apa-Apa Yang Diturunkan Dari Al-Qur&#8217;an Tentang Ahlul Bait&#8221;. Silahkan Anda merujuknya!</p>
<p>Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi&#8217; al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi &#8220;Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah&#8221;, &#8220;Tsa&#8217;labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja&#8217;far ash-Shadiq as yang berkata, &#8216;Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya &#8216;Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.&#8217;&#8221; Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa&#8217;id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, &#8220;Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, &#8216;Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, &#8216;Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah&#8217;, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?&#8217; Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, &#8216;Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.&#8217;&#8221;[14]</p>
<p>Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi &#8220;Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga&#8221;, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:</p>
<p>Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur&#8217;an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.</p>
<p>Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta&#8217;bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi &#8220;Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu&#8221; memperkuat makna ini.</p>
<p>Ketiga, keberadaan &#8216;ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa&#8217;iq, &#8220;Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi &#8216;Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku&#8217;, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[15]</p>
<p>Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, &#8220;Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.&#8221;</p>
<p>Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur&#8217;an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari &#8220;tidak berpisah dari Al-Qur&#8217;an secara perkataan maupun perbuatan&#8221; ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.</p>
<p>Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi&#8217;ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.&#8221; Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, &#8220;Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.&#8221; •</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>* Makalah ini adalah cuplikan dari buku “Kebenaran Yang Hilang”, karya Syeikh Mu’tashim Sayid Ahmad dengan pengeditan seperlunya.</p>
<p>[1] Tahdzîb at-Tahdzîb.</p>
<p>[2] Mir`ât al-Jinân, jld. 1, hal. 301.</p>
<p>[3] Taqrîb at-Tahdzîb, jld. 2, hal. 348.</p>
<p>[4] Tahdzîb al-Asmâ wa al-Lughât, jld. 2, hal. 91.</p>
<p>[5] Tahdzîb at-Tahdzîb, jld. 2, hal. 226.</p>
<p>[6] Syifâ al-Asqâm, jld. 10, hal. 11.</p>
<p>[7] Tahdzîb at-Tahdzîb, jld. 7, hal. 220.</p>
<p>[8] Khulâshah &#8216;Abaqât al-Anwâr, jld. 2, hal. 47.</p>
<p>[9] Tahdzib at-Tahdzib, jld. 5, hal. 303.</p>
<p>[10] Tahdzib at-Tahdzib, jld. 5, hal. 303.</p>
<p>[11] Tahdzib at-Tahdzib, jld. 5, hal. 303.</p>
<p>[12] Mizan al-l’tidal, jld. 2, hal. 417.</p>
<p>[13] Tadzkirah Khawash.</p>
<p>[14] Yanabi&#8217; al-Mawaddah, hal. 118, terbitan Muassasah al-A&#8217;lami Beirut – Lebanon.</p>
<p>[15] Ash-Shawâ&#8217;iq, hal. 151.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/hadis-kitab-allah-dan-%e2%80%98itrah-ahlul-bait-di-dalam-referensi-referensi-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
