<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#124; Syi&#039;ah Indonesia &#124; Syiah Indonesia &#124; Syi&#039;ah &#124; Syiah &#124; Syi&#039;ah 12 Imam &#124; Syi&#039;ah Imamiyah Itsna Asyar &#124; Ahlulbait Indonesia &#124; Ahlulbayt Indonesia &#124; Video Ceramah &#124; Video doa &#124; Audio Ceramah &#124; Audio Do&#039;a &#124; Artikel Islam &#187; Akhlaq-Irfan</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/akhlaq-irfan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 03:24:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.2</generator>
		<item>
		<title>Akhlak Pecinta Ahlulbait</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/24/akhlak-pecinta-ahlulbait/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/24/akhlak-pecinta-ahlulbait/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 14:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq-Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bayt AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Shaduq 1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/14masoom.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-553" title="14masoom" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/14masoom-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Oleh: Syaikh Shaduq<br />
<em><br />
1. </em>Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: <em>“Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya,  Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan,  kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang,  anak-anak yatim, jujur, membaca Quran,  menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”.</em> Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw,  kami mengenal  mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. ikh Shâduq (305-381)</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau  bermazhab kepada orang-orang yang hanya mengatakan aku cinta Ali as dan berwali kepadanya, dan jika ada yang mengatakan  aku cinta kepada rasul dan dan Rasulullah lebih baik dari Ali as,  tapi kemudian tidak mengikuti jalannya tidak mengamalkan sunnahnya maka kecintaannya itu tidak bermanfaat sedikitpun. Maka bertakwalah kepada Allah dan beramalah karena Allah,  karena tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapapun.  Hamba yang paling dicintai dan dihormati di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang paling mentaati-NYA.Wahai Jabir seseorang hamba tidak bisa mendekati Tuhannya kecuali dengan mentaati-NYA.  Arti dibebaskan dari Neraka tidak ada artinya dan tidak ada satupun diantara kalian yang menjadi hujjah bagi Allah. Siapa yang ta’at  itulah bagian dari kami dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah maka itu musuh kami, wilayah (kesetian) kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan dan kewara’an.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>2. </em>Imam Shadiq as mengatakan,: <em>“Syiah kami adalah ahli wara’, ahli ijtihad, penunai janji, amanah,  ahli zuhud, ahli ibadah,  suka sholat 51 raka’at sehari semalam, tahajud di malam hari,  shaum di siang hari,  membersihkan harta-harta mereka dan haji ke tanah suci.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>3. </em>Dari Muhammad bin Musa Al-Mutawakil dari Ahmad bin Abdullah dari Abi Abdillah ia mengatakan<em>,:“Tiada lain syiah Ali kecuali yang bersih perut dan kemaluannya,  beramal untuk tuhannya, mengharapkan pahala dan takut kepada siksa-NYA.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>4. </em>Muhammad bin Azlan mengatakan  aku bersama Aba Abdillah, kemudian seseorang masuk dan mengucapkan salam. Ia ditanya bagaimana orang-orang yang engkau tinggalkan.  Si lelaki yang datang tadi memuji-mujinya. Kemudian Aba Abdillah bertanya seberapa sering orang-orang kaya mereka mendatangi orang-orang miskin. Lelaki tadi menjawab sangat jarang. Kemudian ia ditanya lagi sejauhmana orang-orang kayanya menjenguk orang-orang miskin? . Lelaki tadi menjawab, <em>:“Tuan menyebutkan sifat-sifat yang tidak dimiliki mereka.  Abu Abdillah kemudian balik mengatakan,” Kenapa pula engkau menyebut mereka sebagai syiah?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">5.  Semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, Seorang rawi mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Aabadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far<em>,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait, demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-NYA,  Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan,  kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang,  anak-anak yatim, jujur, membaca Quran,  menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”.  Jabir kemudian mengatakan, “Wahai putra Rasulullah saw,  kami mengenal  mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Lalu aku bertanya,”Dimana bisa kutemukan orang-orang seperti itu?” Imam menjawab, “Mereka ada di pinggiran diantara pasar-pasar Itulah mereka yang dimaksud dengan firman </em><em>Allah</em><em> “merendahkan </em><em> hati  terhadap orang-orang mukmin dan berwibawa di depan orang-orang kafir.”</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><em>6. </em>Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Muhammad bin Husan bin Alwalid semoga Allah meridhai mereka dari Mufadhol bin Qais dan Abi Abdillah alaihi as. Beliau mengatakan, <em>: “Berapa syiah kami di Kufah?” Aku menjawab:” lima puluh ribu. Beliau lantas mengatakan: “Saya mengharapkan jumlahnya hanya 20</em>. Kemudian beliau mengatakan: <em>“Demi Allah aku harap di Kufah syiah kami hanya ada 25 orang yang mengetahui urusan kami dan  dan tidak berkata tentang kami kecuali dengan benar.”</em></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><em>7. </em>Meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Muhammad bin Majilwaih dari Abu Abdillah Berkata kepadanya Abu ja’far Ad-Dawaniqi di Hirah dimasa pemerintahan Abi Al-Abbas<em>,: ”Ya Aba Abdillah, bagaimana dengan Syiahmu yang mengeluarkan apa yang ada di dalam  hatinya  dalam satu majlis sehingga diketahui madzhabnya”.</em> Beliau mengatakan,: <em>“Itu karena memiliki kemanisan iman di dadanya dan karena manisnya  menjadi tampak sejelas-jelasnya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">8. Meriwayatkan sebuah hadis  kepadaku Ahmad bin Muhammmad bin Yahya al-‘Athor dari Muhammad bin Sadir  ia mengatakan Bahwa Abu abdillah mengatakan,: <em>“Jika tiba hari kiyamat makhluk-makhluk akan dipanggil dengan ibu-ibu mereka kecuali kami dan syiah kami karena tidak ada hubungan darah diantara kami.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">9. Meriwayatkan sebuah hadis dari  Muhammad bin Majilwaeh meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Umar bin Muhammad bin Abi Qosim dari Harun bin Muslim dari Musidah bin Shodaqo. Ia mengatakan Abu Abdilah ditanya tentang  syiah kami beliau menjawab<em>,:“Syiah kami yang mempelopori kebajikan dan menahan dari keburukan, menunjukkan hal-hal yang indah dan bersegera dalam melakukan perintah Tuhan, karena mengharapkan rahmatnya. Merekalah dari kami kembali kepada kami dan bersama kami dimana saja berada.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">10. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku  ia mengatakan telah meriwayatkan kepadanya Sa’ad bin Abdilllah dari Ali bin Abdul Aziz ia mengatakan Abu Abdillah mengatakan<em>,:“Ya Ali bin Abdil Aziz janganlah kau tertipu dengan tangisan mereka, karena ketakwaan itu adanya di hati.”</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><em>11. </em>Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Abdullah bin ja’far Alhumairi dari Mus’idah bin Shodaqoh dari Ashodiq, Rasulullah saw mengatakan,: <em>“Barang siapa yang   nestapa  karena perbuatan buruk dan memiliki perjalanan hidup yang baik  ialah orang mukmin.” </em></li>
<li><em>12. </em>Dengan sanad yang sama Abu  Abdilah mengatakan,: <em>“Alangkah jeleknya orang mukmin kalau dihinakan oleh keinginannnya.” </em>[Nano W]</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ket: Disadur dari kitab ‘Shifâtu as- Syiah’ karya Syaikh Shâduq (305-381)</p>
<p style="text-align: justify;">sumber ISLAT</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/24/akhlak-pecinta-ahlulbait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuat Kendi dan Pengrajin Emas</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2007/07/25/pembuat-kendi-dan-pengrajin-emas/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2007/07/25/pembuat-kendi-dan-pengrajin-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 12:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq-Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Dengki]]></category>
		<category><![CDATA[Hasad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota, tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/0638.JPG"><img class="alignleft size-medium wp-image-139" title="Rijal" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/0638-282x300.jpg" alt="" width="282" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota, tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran.</p>
<p>Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar. Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.</p>
<p>Pada salah satu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini.</p>
<p>Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri. Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi ada daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahawa pembuat kendi tidak bersalah. Diapun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.</p>
<p>Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba. Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.</p>
<p>Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya.</p>
<p>Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya. Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas.</p>
<p>Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku.</p>
<p>Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan:</p>
<p>Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawa aku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.</p>
<p>Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini, aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu.</p>
<p>Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi. Si pembuat kendi berkata;</p>
<p>Pada suatu hari Imam Sajad as, berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat hasad pada dirinya. Beliau berkata:</p>
<p>“Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri. Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. Jika metode yang begini engku teruskan dalam hidupmu, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan.</p>
<p>Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. Pengrajin emas berpikir jauh dan lahirlah rasa penyesalan di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.irib.ir/" target="_blank">http://www.irib.ir</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2007/07/25/pembuat-kendi-dan-pengrajin-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia di Mata Imam Ali as</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2007/04/24/manusia-di-mata-imam-ali-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2007/04/24/manusia-di-mata-imam-ali-as/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 21:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq-Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Allamah Al-Qunduzi dalam kitabnya Yanabi’ Al-Mawaddah menukil bahwa pada malam terjadinya pemukulan atas diri beliau oleh Abdurrahman bin Muljam, Imam Ali AS berkali-kali keluar dari rumahnya dan memandang ke arah langit. Berulang kali beliau mengatakan, “Demi Allah aku tidak berbohong dan aku tidak menerima berita yang bohong. Malam ini adalah malam yang dijanjikan untukku.” Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-118" title="Imam_Ali" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Imam_Ali.jpg" alt="Imam_Ali" width="493" height="633" />Allamah Al-Qunduzi dalam kitabnya Yanabi’ Al-Mawaddah menukil bahwa pada malam terjadinya pemukulan atas diri beliau oleh Abdurrahman bin Muljam, Imam Ali AS berkali-kali keluar dari rumahnya dan memandang ke arah langit. Berulang kali beliau mengatakan, “Demi Allah aku tidak berbohong dan aku tidak menerima berita yang bohong. Malam ini adalah malam yang dijanjikan untukku.”</p>
<p>Dengan langkah perlahan Imam Ali berjalan menuju masjid. Saat memasuki Masjid beliau melihat Ibnu Muljam sedang tertidur. Imam Ali membangunkannya lalu berjalan menuju ke mihrab untuk melaksanakan shalat Subuh. Masjid telah dipenuhi oleh jemaah yang berbaris rapi membentuk shaf-shaf. Ali memuji tuhannya dengan mengangkat tangan. Allahu Akbar. Pujian itu diikuti oleh jemaah shalat yang telah siap. Tak lama kemudian Ali ruku lalu meletakkan dahi di atas tanah seraya mengagungkan Tuhannya. Tiba-tiba saat mengangkat kepala dari sujud, pedang Ibnu Muljam yang beracun mendarat tepat di kepalanya. Gema Allahu Akbar yang keluar dari mulut Ali membubarkan barisan shalat. Ibnu Muljam ditangkap massa. Darah segar mengucur dari kepala Ali yang terbelah. Meski demikian, putra Abu Thalib ini sempat melarang massa menghakimi orang yang berniat membunuhnya itu. Beliau meminta Ibnu Muljam dibawa ke hadapannya. Kepadanya beliaau berkata, “Mengapa engkau lakukan ini padaku? Apakah aku pemimpin yang buruk bagimu?” Ali memerintahkan orang-orang untuk membawa Ibnu Muljam namun melarang mereka menyakitinya. Masjid Kufah mendadak tenggelam dalam tangis dan duka.</p>
<p>Untuk mengenang syahadah Imam Ali AS, ada baiknya kita membahas pandangan beliau mengenai hakikat manusia. Imam Ali AS adalah orang yang mendapat gelar pintu kota ilmu dan tahu benar hakikat manusia yang sebenarnya. Mengenai orang-orang zalim dan congkak yang berbuat kerusakan di muka bumi dengan segala kesombongannya Imam Ali AS berkata, “Bukankah manusia adalah mahluk yang pernah Allah tempatkan di kegelapan rahim seorang ibu”</p>
<p>Menurut Washi dan khalifah Rasul ini, manusia adalah mahluk yang melewati berbagai periode kesempurnaan, yang mana periode terpentingnya adalah pengenalan hakikat. Manusia seperti ini akan sadar dan mengetauhi aib dan cela yang ada padanya, tidak mudah terpengaruh oleh polusi yang ada di sekitarnya, dan dengan keimanan serta tekad yang kuat berhasil melepaskan diri dari sifat sombong.</p>
<p>Beliau lebih lanjut mengarahkan manusia untuk mengenali potensi yang ia miliki. Menurut Imam Ali keselamatan manusia ada pada keseimbangan perkembangaan seluruh potensi yang dimilikinya. Amirul Mukminin Ali menyebutkan menerangkan bahwa pengembangan sifat-sifat mulai hanya bisa dilakukan dengan memperkuat pondasi ilmu dan akal. Karenanya beliau menganjurkan kepada seluruh manusia untuk menghidupkan pelita makrifat di dalam diri mereka dan memanfaatkan potensi akal. Semua itu supaya diri manusia mampu melawan godaan hawa nafsu. Sebab dengan akal dan ilmu, manusia bisa mengekang nafsunya. Beliau berkata, “Carilah jalan kebenaran dengan akalmu dan lawanlah hawa nafsumu tentu engkau akan sukses.”</p>
<p>Hal inilah yang saat ini ramai dibicarakaan oleh para pakaar psikologi. Mereka mengatakan, “Orang yang sehat secara akal akan memiliki psikologi yang sehat.” Pernyataan para psikolog ini hanyalah penemuan yang mereka dapatkan melalui berbagai eksperimen. Namun Imam Ali AS yang mengenal hakikat manusia menerangkan lebih jauh dan mendalam. Beliau menegaskan bahwa kepercayaan akan alam akhirat adalah periode awal yang harus menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dengan kepercayaan ini, orang akan yakin bahwa apa yang dilakukannya di dunia sebelum kematian akan sangat menentukan nasibnya di alam akhirat sana. Keimanan inilah yang mendorong manusia untuk melakukan kebaikan.</p>
<p>Saat ini, kebersihan diri seseorang dilihat dari hubungan sosialnya. Artinya manusia memiliki hubungan erat dengan masyarakat. Selayaknya dia menyintai masyarakatnya dan masyarakat menyintainya. Mengenai hubungan dengan masyarakat Imam Ali AS menekankan bahwa sebelum segala sesuatunya manusia harus menjaga tindak tanduknya di tengah masyarakat dan menghindari perbuatan dosa. Beliau juga menganjurkan hubungan baik dengan keluarga, yang disebutnya sebagai penguat mental dan spiritual. Sayangnya pada zaman ini, manusia telah menjauh dari tujuan asli penciptaan-Nya dan tenggelam dalam krisis etika kemanusiaan.</p>
<p>Imam Ali AS menyebutkan beberapamsifat terpuji yang ada pada insan mulia, diantaranya tanggungjawab, cinta terhadap sesama, tepat janji, dan tidak enggan untuk bermusyawarah dengan orang lain. Tindakan membela diri dan kehormatan masyarakat juga dipandang oleh Ali sebagai sifat terpuji yang dimiliki oleh orang yang sehat di tengah masyarakatnya. Orang semacam ini sudah tentu tidak memiliki sifat congkak, riya’, dan kemunafikan. Sikap mengambil hikmah sejarah masa lalu disebut oleh satu-satunya manusia yang lahir di dalam Kabah ini sebagai faktor yang penting dalam menekan kesalahan bertindak dan bersikap. Hal ini juga disinggung dalam wasiatnya kepada putranya Imam Hasan AS.</p>
<p>Di mata Imam Ali AS, orang yang sukses adalah mereka yang memiliki hubungan baik dengan diri, masyarakat dan Tuhannya. Untuk mengenal diri sendiri hendaknya manusia memahami arti kehidupan dan tujuannya. Karena itu, Imam Ali AS menghimbau semua orang untuk mengenal posisinya di dunia ini dan tidak melakukan perbuatan yang bisa menurunkan derajatnya. Imam Ali AS berkata, “Siapa yang tidak mengenal dirinya maka ia binasa.” Dalam ungkapan lain beliau mengatakan, “Sebaik-baik makrifat adalah pengenalan diri sendiri.”</p>
<p>Satu hal lagi yang dipandang penting pada diri manusia adalah hubungannya dengan Tuhan. Hubungan inilah yang membentuk jatidiri seseorang. Dalam hal ini, Imam Ali AS menyebutkan bahwa Tuhan yang hidup dan kekal ada di semua tempar dan selalu memantau tingkah laku seluruh hamba-Nya. Orang yang mengikat kehidupannya dengan masalah ketuhanan akan mampu menundukkan hawa nafsunya dan bergerak menuju kepada kesempurnaan.</p>
<p>Di mata Imam Ali AS, manusia adalah mahluk yang memiliki kehendak sendiri dan melakukan semua perbuatan dengan kehendaknya. Beliau menghimbau manusia untuk memanfaatkan kehendak ini di jalan yang benar yang dapat menghantarkannya ke dejarat tertinggi kesempurnaan. Ali AS adalah contoh nyata dari manusia sempurna yang berhasil mencapai derajaat tertinggi kesempurnaan dengan iman dan kekuatan tekadnya. Karena itu kata-kata yang beliau ucapkan ketika pedang Ibnu Muljam menghantam kepalanya adalah, “Demi Pemilik Kabah Aku sukses.” Tanggal 21 Ramadhan tahun 40 hijriyyah manusia sempurna ini meninggalkan dunia yang fana.</p>
<p>Sumber : <a href="http://indonesian.irib.ir/" target="_blank">IRIB Bahasa Indonesia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2007/04/24/manusia-di-mata-imam-ali-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan Emosional</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/08/pengetahuan-emosional/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/08/pengetahuan-emosional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2006 12:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq-Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tahalli]]></category>
		<category><![CDATA[Tajalli]]></category>
		<category><![CDATA[Takhalli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin kita sering mendapatkan penjelasan tentang agama, terutama akhlak secara deskriptif, berupa penguraian dan nasehat serta dorongan di majelis-majelis taklim dan pengajian rutin. Tapi ada kalanya kita juga memerlukan penjelasan agama secara analitis dan sistematis. Manusia telah diperlengkapi oleh Allah dengan tiga sarana atau alat untuk mengenal realitas objektif di luar dirinya, yaitu indera, akal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-5" title="0170" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/0170-297x300.jpg" alt="0170" width="297" height="300" />Mungkin kita sering mendapatkan penjelasan tentang agama, terutama akhlak secara deskriptif, berupa penguraian dan nasehat serta dorongan di majelis-majelis taklim dan pengajian rutin. Tapi ada kalanya kita juga memerlukan penjelasan agama secara analitis dan sistematis.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia telah diperlengkapi oleh Allah dengan tiga sarana atau alat untuk mengenal realitas objektif di luar dirinya, yaitu indera, akal dan hati. Kontak manusia (subjek) dengan objek (realitas) itulah yang disebut dengan pengetahuan. Itu berarti ada tiga macam pengetahuan, pengetahuan inderawi (al-ma’rifah al-hissiyah), pengetahuan akali (al-ma’rifah al-‘aqliyah) dan pengetahuan sukmawi (al-ma’rifah al-qalbiyah).</p>
<p style="text-align: justify;">Objek pengetahuan inderawi adalah materi atau realitas terinderakan dengan sifat-sifatnya yang khas seperti berubah, terbatas, bermula, berakhir dan sebagainya. Metode atau cara perolehannya juga disebutkan adalah induksi dan pengalaman. Pengetahuan inderawi ini hanya bisa dinikmati dan diraih oleh sekelompok manusia tertentu, karena sebagian memerlukan sarana laboratorium dan sebagainya. Pengetahuan inderawi tidak mengandung nilai baik dan buruk, benar dan salah, sempurna dan kurang. Ia bebas nilai. Pengetahuan inderawi, karena objeknya sangat terbatas dan paling rendah, adalah pengetahuan manusia yang paling rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Objek pengetahuan akali adalah konsep atau realitas tak terinderakan yang berhubungan dengan materi. Metode atau cara perolehannya adalah deduksi dan penalaran (inferensi). Pengetahuan akali ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Para filsuf dan pemikir adalah kelompok manusia yang sangat kecil di tengah jutaan manusia. Pengetahuan akali, meski mengandung nilai baik dan buruk, benar dan salah, namun ia hanya mampu mengantarkan manusia pada konsep yang merupakan signifikator realitas sejati. Ia tidak dapat mengenalkan manusia (subjek) pada realitas sejati, seperti konsep ketuhanan atau keesaan Tuhan yang tentu bebeda dengan realitas Tuhan itu sendiri. Pengetahuan akali, karena objeknya adalah konsep yang tidak sama dengan realitas yang diekspresikannya, adalah pengetahuan medium yang tentu lebih mulia dari pengetahuan inderawi namun lebih rendah dari pengetahuan sukmawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Objek pengetahuan sukmawi adalah realitas tak terinderakan (al-waqi’ al-mujarrad) yang sama sekali tidak menyAndang sifat-sifat material atau bergantung pada materi. Metodenya adalah at-takhalli atau at-tazakki dan at-tahalli. Pengetahuan sukmawi bisa diraih oleh siapapun, terpelajar maupun awam, miskin maupun kaya, tua maupun muda. Pengetahuan sukmawi, karena objeknya adalah entitas transenden, adalah pengetahuan termulia.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia bisa dianggap berhasil melaksanakan tugas kehambaan apabila telah mencapai iman yang merupakan kesempurnaan esoterik dan amal yang merupakan kesempurnaan eksoterik. Itulah sebabnya mengapa kata ‘iman’ (amanu, aminu) hampir selalu bergandengan dengan amal (amalu, amilu) dalam al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;">Iman, menurut para ahli kalam dan filsafat Islam, kombinasi pengetahuan rasional -yang meniscayakan penerimaan- dan pengetahuan emosional- yang membuahkan cinta (al-wila’) .</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang, yang telah membumihanguskan sentra-sentra keburukan spiritual atau berhasil pula membangun sentra-sentra kebaikan spiritual dalam ranah jiwanya, berpeluang untuk mendapatkan pengetahuan emosional. Realitas abstrak dan transendent (al-haqiqah al-mujarrdah al-muta’aliyah), yang merupakan realitas termulia dan hanya bisa ditangkap dan dimasuki oleh jiwa yang telah dibebaskan dari belenggu materialnya. Tuhan Allah SWT hanya dapat dirasakan kehadiran-Nya oleh orang yang memiliki pengetahuan emosional, sedangkan orang yang cuma mengAndalkan dan berbekal pengetahuan rasional hanya dapat menangkap tAnda-tAnda dan konsep-konsep tentang keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, dengan pengetahuan rasional, seseorang dapat mengenal dan memahami konsep ketuhanan dan agama, sedangkan dengan pengetahuan emosional, seseorang dapat merasakan hakikat Tuhan dan merasakan kehadiran dan penampakan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">I. At-Takhalli</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap manusia yang hendak mendapatkan Al-ma’rifah Al-qalbiyah atau hendak mengenal realitas transenden, terutama Allah, harus membersihkan ruang jiwanya dari keburukan-keburukan. Keburukan-keburukan adalah hijab dhulmani atau penghalang yang gelap. “Beruntunglah sesiapa yang telah menyucikan jiwanya <span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">?? ???? ?? ??????</span></span>. Menyucikan jiwa berbeda dengan berlagak sok suci,</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">??? ?????? ?????? ?? ???? ??? ??? ?? ????? ? ?? ???? ??? ?????</span></span> . Menyucikan jiwa, menurut pada ahli irfan nazhari, dapat dilakukan dengan dua cara; 1- melakukan sweeping terhadap setiap ‘preman’ keburukan yang bercokol di sudut gelap jiwa dengan cara istighfar dan ibadah yang tak pernah putus, 2- mengkonsentrasikan serangan pada sentra-sentra keburukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut para ahli irfan nazhari, ada tiga induk keburukan dalam jiwa, yaitu al-zhulm atau kezaliman, al-kufr atau kekafiran, dan al-fisq atau kefasikan. Bila tiga sentra ini dapat dihancurkan maka rezim hawa nafsu dapat dipastikan tumbang.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Al-zhulm</p>
<p style="text-align: justify;">Kezaliman didefinisikan sebagai ‘meletakkan sesuatu pada selain tempatnya’. Menurut para ahli irfan nazhari, semua keburukan dalam jiwa bermuara pada kezaliman. Mereka membagi kezaliman menjadi dua; kezaliman intelektual dan teoritis dan kezaliman aktual dan praktis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kezaliman intelektual (al-zhulm al-fikri, al-zhulm al-ilmi)</p>
<p style="text-align: justify;">Kezaliman intelektual adalah meletakkan pengetahuan atau pemahaman atau keyakinan pada selain tempatnya. Kezaliman intelektual adalah meyakini atau menganggap sesuatu yang salah sebagai benar, atau meyakini sesuatu yang salah sebagai sesuatu yang benar atau meyakini sesuatu bukan karena kebenarannya namun karena keuntungan atau faktor-faktor sekunder, seperti karena banyak pendukung dan penganutnya atau karena terlanjur diajarkan dan tertanam, atau memberikan kesaksian palsu demi menghindari resiko, mengaburkan posisi kebenaran dalam sengketa antar dua orang demi menjaga hubungan persahabatan keduanya dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang yang masih berlaku zalim secara intelektual dan teoritis akan dengan mudah berlaku zalim secara praktis. Kezaliman teoritis dapat dibagi dua, berdasarkan konsekuensi yang ditimbulkannya;</p>
<p style="text-align: justify;">a). Kezaliman teoritis berupa kesalahan dan kekeliruan (yang disengaja) berkenaan dengan masalah-masalah yang tidak berpengaruh terhadap spiritualitas dan nasib kita di akhirat, seperti kezaliman yang plagiator, pembajak karya ilmiah, provokator dan penipu yang mengAndalkan retorika dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">b). Kezaliman teoritis berkenaan dengan masalah-masalah yang sangat berpengaruh terhadap karir kehambaan, seperti meyakini Tuhan sebagai entitas plural atau menyekutukannya, menolak Nabi dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kezaliman praktis (al-zhulm al-amali)</p>
<p style="text-align: justify;">Keazaliman aktual adalah meletakkan tindakan dan perilaku pada selain tempatnya, seperti meludah di sembarang tempat, membunuh binatang yang tidak menganggu dan merusak lingkungan hidup sebagainya. Menurut para ahli irfan nazhari, pelaku kezaliman adalah setiap pendosa, baik majikan maupun buruh, anak maupun orang tua, penguasa maupun rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kezaliman praktis dapat dibagi dua:</p>
<p style="text-align: justify;">a). Kezaliman subjektif atau kezaliman terhadap diri sendiri (al-zhulm Al-dzati). Yaitu kezaliman berupa perbuatan dosa yang tidak melibatkan pihak lain. Merurut para ahli irfan nazhari, setiap perbuatan dosa adalah kezaliman terhadap diri sendiri. Setiap pelaku maksiat adalah penganiaya diri sendiri. Ia telah menzalimi dirinya sendiri karena semestinya ia meletakkan diri (jiwa)-nya dalam ketaatan dan kebaikan. Ia dianggap zalim terhadap diri sendiri karena memaksa dirinya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan karakteristik jiwanya. Ia menzalimi dirinya karena membawanya ke siksa Allah. Ia telah melakukan harakiri. Ia adalah seorang masochist. Itulah sebabnya kita selalu dianjurkan untuk mengaku telah berbuat zalim terhadap diri sendiri karena perbuatan buruk yang kita lakukan</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">???? ???? ????? ?????? ??? ?? ???? ??? ???????? ?? ????????</span></span><span style="FONT-FAMILY: Arial; FONT-SIZE: 9pt" lang="AR-SA"> </span>(Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami. Andaikan Engkau tiada mengampuni kami, maka niscaya kami menjadi orang-orang yang rugi) atau mengulang-ulang pengakuan <span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">???? ????</span></span>. Bahkan para urafa’ menganggap pengakuan zalim terhadap diri sendiri sebagai salah satu syarat bertaubat.</p>
<p style="text-align: justify;">b). Kezaliman objektif (al-zhulm Al-khariji). Yaitu kezaliman berupa perbuatan yang tidak semestinya terhadap diri sendiri dan pihak di luar dirinya. Kezaliman objektif dapat dibagi tiga: 1) Kezaliman terhadap benda-benda mati, air, udara dan sebagainya melalui pencemaran, pemborosan dan penggunaan yang tidak legal, tidak efisien dan untuk hal-hal yang tidak produktif (perbuatan dosa); 2) Kezaliman terhadap tumbuh-tumbuhan, melalui penggudulan hutan dan penebangan kayu secara membabi buta, dan perusakan cagar alam sebagainya. 3) Kezaliman terhadap hewan, melalui perburuan liar, pemusnahan satwa langka, pembunuhan hewan secara sadis, dan pengkonsumsian hewan secara berlebihan, penggunakan pakaian dari kulit domba dan ular sehingga menimbulkan kesenjangan sosial sebagainya; 4) Kezaliman terhadap sesama manusia atau kezaliman sosial. Kezaliman sosial dilakukan oleh setiap manusia, penguasa terhadap rakyat dan sebaliknya, majikan terhadap buruh dan sebaliknya, anak terhadap orang tua dan sebaliknya, suami terhadap isteri dan sebaliknya. Kezaliman sosial tidak identik dengan kelompok, status maupun strata tertentu dalam masyarakat. Seseorang yang masih berlaku zalim baik berupa pemikiran maupun berupa perbuatan, baik subjektif maupun objektif, tidak akan pernah dapat meraih pengetahuan emosional yang sangat mulia itu, dan sudah tentu tidak akan pernah mengenal Allah SWT dan realitas transenden lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Al-kufr</p>
<p style="text-align: justify;">Sentra kedua keburukan dalam jiwa adalah kekafiran. Al-kufr secara kebahasaan berarti ‘menutupi’ atau ‘menyembunyikan’, dan secara keagamaan diartikan sebagai ‘menolak’ dan ‘menentang’. Berdasarkan definisi yang longgar dan umum ini, kekafiran dapat dibagi dua; kekafiran positif atau terpuji dan kekafiran negatif atau tercela. Kekafiran terpuji adalah segala bentuk penolakan terhadap keburukan dan kebatilan. Allah dalam Al-qur’an memuji orang-orang kafir jenis kedua ini</p>
<p style="text-align: justify;"><span dir="rtl" lang="AR-SA">??? ???? ????? ????? ???????? ??? ?????? ??????? ??????</span> (Dan sesiapa yang beriman pada Allah dan berkufur pada tiran, maka telah berpegangan dengan Al-urwah Al-wutsqa”). Kekafiran negatif adalah penolanan terhadap kesempurnaan, kebaikan dan kebenaran. Yang dimaksud dengan al-kufr di sini adalah kekafiran negatif.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekafiran (negatif) dapat dibagi tiga:</p>
<p style="text-align: justify;">a). Kekafiran sempurna (al-kufr at-tam), yaitu penolakan terhadap kebaikan dan kebenaran dalam jiwa dan raga. Kekufuran sempurna dalam dibagi empat:</p>
<p style="text-align: justify;">1). Kekufuran ateistik (al-kufr al-ilhadi, kufr al-uluhiyah), yaitu penolakan terhadap (bukti-bukti) keberadaan Tuhan; 2) Kekufuran politeistik (al-kufr asy-syirki, Kufr at-tauhid), yaitu penolakan terhadap (bukti-bukti) ke-esaan Tuhan; 3) Kekufuran terhadap agama (al-kufr al-la-dini, kufr al-nubuwah), yaitu penolakan terhadap bukti-bukti kenabian dan universalitas agama tanpa alasan-alasan yang bisa dimaklumi; 4) Kekufuran terhadap Islam (kufr al-Islam), yaitu penolakan terhadap agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW atau penolakan terhadap salah satu prinispnya.</p>
<p style="text-align: justify;">b). Kekafiran lahiriah (al-kufr azh-zhahiri), yaitu semata-mata penolakan secara lahiriah terhadap kebaikan dan kebenaran. Para ahli irfan nazhari memasukkan semua perbuatan dosa (dosa legal dan moral) dalam kekufuran lahiriah. Dalam riwayat disebutkan “Tidak mungkin seseorang yang sedang berzina adalah orang mukmin”. Seseorang yang beriman dan percaya akan adanya Tuhan yang akan mengadili setiap hambaNya tidak mungkin akan berani berbuat dosa. Karena keyakinannya akan hari akhirat masih setengah-setengah, maka seseorang dengan mudah melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah. Para ahli irfan nazhari menyebutkan sejumlah kekufuran lahiriah, antara lain kekafiran dalam anugrah (Kufr Al-ni’mah)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">??? ????? ???????? ???? ????? ?? ????? ?????</span></span>(Bila kalian bersyukur, niscaya Kami tambahkan untuk kalian, namun bila kalian berkufur, maka sesungguhnya siksa amatlah keras),</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA"><span style="font-size: small;">??????? ?? ?????????</span></span> (Bersyukurlah padaku dan janganlah kalin berkufur), kekafiran dalam perbuatan (kufr al-tha’ah), kekafiran dalam ibadah.</p>
<p style="text-align: justify;">c). Kekafiran batiniah (al-kufr al-bathini), yaitu semata-mata penolakan secara batiniah terhadap kebaikan dan kebenaran. Seseorang yang meyembunyikan penolakannya terhadap kebenaran dan menampakkan sebaliknya adalah orang yang layak menyAndang sifat nifaq. Dialah munafiq. Munafik adalah jenis manusia yang sulit untuk memperbaiki diri atau bertaubat, karena ketertutupannya, ia tidak mungkin ditegur atau diingatkan oleh orang lain. Umat Islam sejak zaman Nabi hingga kita selalu disibukkan oleh orang-orang munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Al-fisq</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli irfan nazhari mendefinisikannya sebagai ‘penyimpangan dari jalan yang luar’ atau mungkin lebih pas diartikan ‘ketidakwajaran’. Setiap perbuatan dosa, menurut para ahli irfan nazhari, adalah abnormalitas, karena norma dan hukum yang mestinya diikuti adalah syariah dan akhlaq Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><span dir="rtl" lang="AR-SA">???? ??? ????? ??? ??? ????? ????????</span><span style="FONT-FAMILY: Arial; FONT-SIZE: 9pt" lang="AR-SA"> </span>(apakah orang mukmin seperti orang fasiq, tentu tidaklah sama).</p>
<p style="text-align: justify;">II. At-Tahalli</p>
<p style="text-align: justify;">Tahap kedua yang harus dilewati oleh pencari pengetahuan emosional adalah at-tahalli immaterial sentra-sentra kebaikan spiritual atau melakukan at-tahalli. Jika seseorang keburu melakukan tahhali tanpa lebih dulu melakukan takhalli, maka ia laksana seseorang yang mengisi gelas kotor dengan air bersih. Itulah, sebabnya mengapa seseorang yang hanya berbuat baik namun tidak meninggalkan lawannya, yaitu perbuatan buruk, tak ubahnya tambal sulam atau mirip dengan orang yang mendaur ulang barang bekas, tidak mendapatkan surplus, ia hanya mendapatkan impas.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut para ahli irfan nazhari, ada tiga sentra kebaikan spiritual yang merupakan induk semua kebaikan, yaitu Al-adl, Al-syukr, dan At-ta’ah.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Al-‘adl<br />
Keadilan adalah salah satu syarat ketaqwaan yang merupakan inti iman.</p>
<p style="text-align: justify;"><span dir="rtl">?????? ?? ???? ??????</span><span style="FONT-FAMILY: Arial; FONT-SIZE: 9pt" lang="AR-SA"> </span> (Berlakulah adil, karena ia paling dekat dengan takwa).<br />
Secara kebahasaan al-adl dapat diartikan sebagai keseimbangan. Secara keagamaan ia diartikan sebagai ‘meletakkan sesuatu pada tempatnya’. Kata al-adl dalam fiqh diganti dengan al-‘adalah, yaitu daya psikologis yang menolak perbuatan buruk dan mendorong perbuatan baik. Secara umum, keadilan, sebagai pasangan afirmatif kezaliman, dapat pula dibagi dua; keadilan intelektual (konseptual, teoritis) dan keadilan aktual.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadilan intelektual (al-‘adl al-fikri)</p>
<p style="text-align: justify;">Keadilan intelektual adalah meletakkan keyakinan pada tempat yang benar atau meyakini sesuatu secara proporsional. Seseorang yang berani menyatakan sesuatu sebagai benar karena secara objektif memang benar atau salah secara, bukan karena pertimbangan subjektif dan tendensial lain adalah orang yang berlaku adil secara intelektual.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadilan intelektual dapat pula dibagi, berdasarkan nilai sesuatu yang diyakininya, sebagaimana kezaliman intelektual yang telah disebutkan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadilan aktual (al-‘adl al-‘amali)</p>
<p style="text-align: justify;">Keadilan aktual adalah meletakkan suatu perbuatan pada tempat yang layak. Apabila kita melakukan perbuatan baik atau yang layak dilakukan (fisikal maupun non fisikal), maka berarti kita telah berlaku adil secara faktual dan praktis dan perbuatan kita termasuk keadilan praktis. Keadilan aktual dapat pula dibagi dua, berdasarkan sasarannya:</p>
<p style="text-align: justify;">a). Keadilan subjektif. Yaitu perbuatan sempurna terhadap diri sendiri. Menurut para irfan nazhari, seseorang yang melaksanakan tugas kehambaannya secara utuh adalah orang yang berlaku adil terhadap dirinya sendiri. Ia disebut adil karena memperlakukan dirinya secara proporsional dan baik. Semua perbuatan baik, berdimensi legal dan berdimensi moral, adalah keadilan terhadap diri (pelaku sendiri). Seseorang yang berlaku dan bersikap adil terhadap diri akan berpeluang untuk berlaku adil terhadap selain dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">b). Keadilan objektif. Yaitu perbuatan sempurna terhadap selain diri sendiri. Segala sesuatu di luar subjek atau diri kita masing-masing adalah alam yang dapat dibagi berdasarkan entitas-entitas (maujud-maujud) yang ada di dalamnya. Ia dapat dibagi sebagai berikut: 1) Berlaku adil terhadap benda-benda molekuler, berupa air, batu dan gas atau oksigen, dengan cara tidak mencemari udara, tidak merusak sarana umum, tidak memproduksi peralatan berbahaya, senjata nuklir, kimia, bakteri dan sebagainya; 2) Berlaku adil terhadap benda-benda berkembang, seperti rumput, pohon, buah dan rumput, dengan cara tidak melakukan penebangan liar, penggundulan hutan yang merupakan paku alam, merawat bunga dan sebagainya; 3) Berlaku adil terhadap benda-benda berperasaan, dengan cara tidak melakukan perburuan liar, melindungi satwa langka dari kepunahan, tidak menggunakan alat pembunuh massal seperti bom untuk menangkap ikan, dan tidak membunuh binatang hanya untuk kesenangan dan hobi dan sebagainya sebagainya; 4) Berlaku adil terhadap manusia, yang lazim disebut dengan keadilan sosial, dengan cara setiap anggota masyarakat melaksanakan kewajiban individual serta menjaga hak sesama dengan mematuhi syariat Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya keadilan objektif sosial dapat dibagi berdasarkan tingkatan himpunannya sebagai berikut : 1) Keadilan sosial dalam rumah tangga, seperti antara suami dan isteri, orang tua dan anak, antar orang tua dan antar anak sendiri; 2) Keadilan sosial dalam lingkungan kerja atau pabrik atau perusahaan, seperti antara majikan dan buruh, antara pimpinan dan pegawai, antar atasan dengan yang di bawahnya dan antar pegawai atau buruh sendiri; 3) Keadilan sosial dalam pemerintahan, seperti antara penguasa dan rakyat, antar pejabat tinggi dan yang di bawahnya, antar pejabat tinggi dan antar pegawai pemerintah sendiri, antar sesama individu rakyat sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila kita telah berlaku adil dalam segala dimensinya, maka peluang kita untuk meraih pengetahuan emosional, yang merupakan puncak dari kesuksesan hakiki manusia, makin lebar. Apabila masing-masing dari individu masyarakat tidak berlaku adil, maka ‘keadilan sosial’ hanyalah sebuah jargon yang tidak akan pernah dapat dirasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Al-syukr</p>
<p style="text-align: justify;">Sentra kedua kebaikan spiritual yang merupakan salah satu elemen at-tahalli adalah Al-syukr. Syukr adalah ekspresi penghargaan yang tulus atas pemberian.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-syukr adalah lawan afirmatif dari al-kufr. Allah berfirman</p>
<p style="text-align: right;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA"><span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA"><span style="font-size: small;">???? ????? ????? ???? ???? ????? ??? ????? ?????</span></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;">(Bila kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan buat kalian. Namun bila kalian berkufur, maka sesunguhnya siksa amatlah pedih).</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama akhlaq membagi ekspresi syukur dalam beberapa tingkat sebagai berikut: 1) Syukur lisan. Yaitu penghargaan kepada pemberi melalui pengucapan terima kasih, alhamdulillah. Yang agak menggelikan ialah bahwa pada bulan Ramadhan kata-kata syukr itu telah dijadikan sebagai sarana kaum kapitalis sehingga sering diucapkan oleh para bintang iklan makanan dan lainnya di televisi. Syukr hanya dengan pengucapan tanpa ketulusan hati bukanlah syukur sejati; 2) Syukur tulisan. Yaitu penghargaan melalui tulisan. Yang juga menggelikan ialah bahwa tulisan berisikan kata syukur itu telah menjadi komoditas dagang berupa stiker yang ditempelkan di kaca mobil atau kaigrafi yang kerap dipajang dan dipamerkan di ruang tamu yang mewah seperti <span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">??? ?? ??? ????</span></span><span style="FONT-FAMILY: Arial; FONT-SIZE: 9pt" lang="AR-SA"> </span> (Ini adalah sebagian dari anugerah Tuhanku) atau</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="FONT-FAMILY: Arial" dir="rtl" lang="AR-SA">??? ?????? ???? ???? ????????</span></span>(Bila kau hitung kenikmatan dari Allah, maka kau tidak dapat menjumlahnya). Syukur dengan penulisan tanpa ketulusan hati bukanlah syukur sejati; 3) Syukur badan atau syukur praktis. Yaitu penghargaan melalui perbuatan fisik. Mengungkapkan syukur dengan perbuatan aktual lebih mengesankan bagi pemberi daripada syukur lisan dan tulisan. Syukr ketiga ini lebih mendekati definisi sebagian ulama akhlaq. Mereka mendefinisikan syukr sebagai penghargaan atas pemberian tertentu dengan cara tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak dan karakter pemberi hadiah tersebut sekaligus melakukan perbuatan yang sesuai dengannya. Syukur dengan ekspresi fisik tanpa ketulusan hati bukanlah syukur sejati.</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur praktis dapat dibagi dua, yaitu 1) Syukur praktis aktif. Yaitu melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan dan dianjurkan oleh pemberi anugerah; 2) Syukur praktis pasif. Yaitu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang dan dibenci oleh pemberi anugerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap pencari al-ma’rifah al-qalbiyah harus bersyukur dalam segala dimensinya. Namun yang terpenting ia harus bersyukur secara praktis baik aktif maupun pasif. Jika tidak bersyukur, maka kita tergolong dalam orang-orang yang berkufur. Seseorang yang kafir tidak akan pernah mendapatkan secuilpun pengetahuan emosional.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Al-tha’ah</p>
<p style="text-align: justify;">Lawan afirmatif kefasikan adalah kepatuhan. Ia bisa menjadi positif apabila objeknya berhak ditaati, dan bisa menjadi negatif apabila objeknya tidak berhak ditaati. Allah SWT adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk ditaati secara mutlak. Ketaatan kepada Rasul dan para imam suci adalah turunan dan cabang dari ketaatan kepadaNya. Sedangkan ketaatan kepada sesama manusia, kepada ayah, ibu, suami, majikan, atasan, penguasa, dan sebagainya menjadi positif dan terpuji apabila tidak bertentangan dengan hukum Allah.</p>
<p style="text-align: right;"><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span dir="rtl" lang="AR-SA">?????? ?????? ?? ????? ??????</span><span lang="AR-SA"> </span></span></p>
<p style="text-align: justify;">(dilarang mematuhi manusia apabila perintahnya melanggar hukum Allah).</p>
<p style="text-align: justify;">Kepatuhan positif dapat pula dibagi dua, berdasarkan bidang-bidangnya:</p>
<p style="text-align: justify;">a). Ketaatan legal. Yaitu ketaatan terhadap hukum yang telah ditetapkan oleh Allah melalui wahyu dengan segala rincian tata caranya, seperti shalat, puasa dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">b). Ketaatan moral. Yaitu ketaatan terhadap hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan ditanamkan langsung dalam fitrah manusia, seperti larangan bersikap dengki, sombong dan perintah untuk bersikap berani, optimis, menolong yang lemah dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang yang belum mematuhi hukum-hukum Allah tidak akan pernah mendapatkan pengetahuan emosional. Itu berarti ia tidak akan pernah merasakan kehadiran Tuhannya. Bulan suci Ramadhan adalah kesempatan emas untuk merasakan kehadiranNya dalam diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">III. At-Tajalli</p>
<p style="text-align: justify;">Bila tahap At-tahalli telah dilewati, maka berarti tahap berikutnya, At-tajalli ada di hadapan Anda. Itulah puncak pengembaraan spiritual yang paling indah dan nikmat. Itulah tahap misteri penampakan. Itulah tahap ekstasi spiritual yang tak terlukiskan, Itulah taman indah tempat bermain jiwa-jiwa rebah urafa’.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengertian At-tajalli</p>
<p style="text-align: justify;">Secara kebahasaan At-tajalli adalah penampakan sesuatu bukan karena sebelumnya terhalang. Karena itulah ia berbeda dengan al-kasyf yang berarti ketersingkapan.    <span dir="rtl" lang="AR-SA">? ?????? ??? ?????</span> (Demi siang kala tampak) Para ahli irfan nazhari menggambarkan secara umum tahap tajalli sebagai tahap ketika zat mutlak Allah Al-Haq dan semua kesempurnaan-Nya nampak dan menyeruak. Adapun ilustrasi detail proses penampakan itu, para ahli irfan nazhari, memberikan penguraian yang berbeda-beda. Sebagian menganggap al-hulul sebagai proses penampakan. Sebagian lain menganggap al-ittihad sebagai prosesnya. Sedangkan sebagian lain At-tajafi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembagian At-tajalli</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian ahli irfan membagi At-tajalli dalam beberapa tahap sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">a). At-tajalli al-ilmi al-I’tiqadi. Yaitu tahap penampakan konsep-konsep keyakinan yang terbatas -berupa hijab pikiran-. Ini penampakan tak sejati.</p>
<p style="text-align: justify;">b). At-tajalli asy-syuhudi. Yaitu tahap penampakan Al-haq dalam entitas-entitas subjektif dan objektif –ketika busana selain-Nya telah lebih dulu dilucuti. Sebagian menggambarkannya sebagai tahap penampakan Al-Haq berupa salinan muqayyad (terbatas, relatif) atau mutlak dalam forma (tampilan) segala maujud (entitas). Ini penampakan rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">c). At-tajalli al-wujudi asy-syahadi. Yaitu tahap penampakan Al-Haq yang terefleksikan dalam ketetapan-ketetapan dan pengaruh serta jejak entitas-entitas. Penampakan kedua ini merupakan konsekuensi dari penampakan pertama. Ini penampakan medium.</p>
<p style="text-align: justify;">d). At-tajalli al-‘ilmi al-‘aini. Yaitu Yaitu tahap penampakan Al-Haq dalam forma pengetahuan tentang diri-Nya berupa forma entitas-entitas, potensi dan kapasitas-kapasitas. Kaum sufi menyebutnya dengan Al-faidh Al-Aqdas atau limpahan terkudus.</p>
<p style="text-align: justify;">Identitas-identitas objek dalam At-tajalli</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian ahli irfan menyebutkan empat tahap (maqam) dalam tajalli sejati sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">a). Maqam al-wahidiyah. Yaitu penampakan zat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya yang merupakan zat-Nya sendiri. Inilah maqam permulaan.</p>
<p style="text-align: justify;">b). Maqam al-inniyah. Yaitu penampakan dan kemanunggalan Al-Haq dalam kesempurnaan-kesempurnaan-Nya. Inilah maqam kedua.</p>
<p style="text-align: justify;">c). Maqam al-huwwiyah. Yaitu penampakan zat al-Haq dengan asma’ dan sifat-sifatNya. Zat Al-Haq dalam maqam ini lebih khusus daripada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">d). Maqam al-ahadiyah. Yaitu penampakan zat Al-Haq semata tanpa sifat maupun asma’Nya. Inilah maqam puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia Tajalli adalah dunia misterius yang amat luas. Ia tak akan pernah diungkap dengan uraian kata atau goresan tinta. Ia harus dimasuki dan dirasakan setelah menghancuran rezim-rezim nafsu dalam diri kita. Karena itu, ‘berlarilah kepada Allah’. Wallalhu a’lam (ML)</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber-sumber:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Mabani Al-Ma’rifah, 34-53,</p>
<p style="text-align: justify;">2. Al-Futuhah al-Makkiyah, juz 3, hal. 440, Al-futuhat Al-makkiyah, juz 1, 289,</p>
<p style="text-align: justify;">3. Fushusuh Al-Hikam, Syarh Al-Qaishari, hal. 175, 276, Fushush Al-Hikam , syarh Al-Afifi, hal. 90,</p>
<p style="text-align: justify;">4. Tajalli wa Zohour dar Erfan, 178-179,</p>
<p style="text-align: justify;">5. Asyi’ah Al-lama’at, hal. 16, 17, 113,</p>
<p style="text-align: justify;">6. Al-Insan Al-Kamil, Al-jili, juz 1, hal. 42, 43, 72, 89-93,</p>
<p style="text-align: justify;">7. Tamhid Al-Qawa’id, hal. 144,</p>
<p style="text-align: justify;">8. Manazil Al-Sa’irin, Al-tilmasani, hal. 510.</p>
<p style="text-align: justify;">9. Akhlaq Ahlil-Bait, 52</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://www.icc-jakarta.com/" target="_blank">ICC Jakarta</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/12/08/pengetahuan-emosional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Lebih Baik dari Dia</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/aku-lebih-baik-dari-dia/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/aku-lebih-baik-dari-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 13:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq-Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Musa]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Musa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, &#8220;Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.&#8221; Nabi Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-26" title="nabi_Musa" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/nabi_Musa-150x150.jpg" alt="nabi_Musa" width="150" height="150" />Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, &#8220;Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.&#8221; Nabi Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, &#8220;Aku lebih baik dari dia.&#8221;</p>
<p><span id="more-25"></span></p>
<p>Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, &#8220;Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia.&#8221; Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.</p>
<p>Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Tuhan bertanya, &#8220;Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?&#8221; Nabi Musa menjawab, &#8220;Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya.&#8221; Tuhan lalu berfirman, &#8220;Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.&#8221;</p>
<p>Kata ana khairun minhu atau &#8220;Aku lebih baik dari dia&#8221; pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, &#8220;Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.&#8221; Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.</p>
<p>Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, &#8220;Aku lebih baik dari dia,&#8221; adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.</p>
<p>Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol. Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#</p>
<p>Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, &#8220;Wahai Imam, mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as?&#8221; Lalu Imam dengan marah menjawab, &#8220;Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy.&#8221;</p>
<p>Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang bukan Rasulullah saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke neraka.</p>
<p>Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, &#8220;Innâ akramakum ‘indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa.&#8221; (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah saw hanya menjawab pendek, &#8220;Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr. Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka.&#8221; Ia masuk neraka karena ketakaburannya.</p>
<p>Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata, &#8220;Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu.&#8221;</p>
<p>Al-Ghazali membagi takabur kepada dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.</p>
<p>Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain.</p>
<p>Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, &#8220;Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya.&#8221; Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw bersabda, &#8220;Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak.&#8221;</p>
<p>Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.</p>
<p>Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, &#8220;Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku.&#8221; Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.</p>
<p>Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga, karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi.&#8221; Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda? Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian? Jika Anda menjawab &#8220;ya&#8221; untuk salah satu dari pertanyaan di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.</p>
<p>Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan.&#8221; Hadis itu saya kira sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.</p>
<p>Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Jika kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi kepada mereka.&#8221;</p>
<p>(Ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 5 September 1999, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung. Dengan beberapa perubahan redaksional, ceramah ini ditranskrip oleh Ilman Fauzi R.)</p>
<p>Artikel ini diambil dari <a href="http://www.al-shia.com/" target="_blank">Al-Shia.Com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2006/10/30/aku-lebih-baik-dari-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

