<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>madinah-al-hikmah.net &#187; Ahlul Bayt</title>
	<atom:link href="http://madinah-al-hikmah.net/category/ahlul-bayt/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madinah-al-hikmah.net</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 10:46:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>NABI MUHAMMAD SAW, MANUSA SEMPURNA</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/461/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/461/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 00:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[muhamad saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Quraisy
Bangsa Quraisy dipandang sebagai salah satu bangsa yang dihormati dan disegani di antara bangsa-bangsa yang ada di semenanjung Arabia. Quraisy sendiri terbagi ke dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qushai bin Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas sebagai penjaga Ka&#8217;bah.
Di tengah warga Makkah, Hasyim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Bangsa Quraisy</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/muhammad_saw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-464" title="muhammad_saw" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/muhammad_saw-300x290.jpg" alt="" width="240" height="232" /></a>Bangsa Quraisy dipandang sebagai salah satu bangsa yang dihormati dan disegani di antara bangsa-bangsa yang ada di semenanjung Arabia. Quraisy sendiri terbagi ke dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qushai bin Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas sebagai penjaga Ka&#8217;bah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah warga Makkah, Hasyim dikenal sebagai orang yang mulia, bijaksana, dan terhormat. Ia banyak membantu mereka, memulai perniagaan pada musim dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota memberinya julukan &#8220;sayid&#8221; (tuan). Julukan ini secara turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib, kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada masanya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka&#8217;bah, namun berkat pertolongan Allah SWT, Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Gajah. Dan sejak peristiwa itu, nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di kalangan kabilah Arab.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara mereka, Abdullah-lah anak yang paling saleh dan paling dicintainya. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah dengan perempuan mulia bernama Aminah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua bulan setelah Tahun Gajah, Aminah melahirkan seorang anak. Ia memberinya nama Muhammad. Sebelum kelahiran Muhammad, ayahnya Abdullah meninggal dunia. Tak lama setelah melahirkan, sang ibu pun menyusul suaminya kembali ke alam baka. Maka, sejak awal kelahirannya, Muhammad sudah menjalani hidupnya sebagai anak yatim.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang dicintainya, Muhammad diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthalib. Berkat anugerah dan rahmat dari Allah SWT, Muhammad tumbuh menjadi dewasa dengan kesucian jiwa yang terpelihara.</p>
<p style="text-align: justify;">Warga kota Makkah begitu mencintainya, bahkan merelakan barang-barang mereka berada di bawah pengawasan Muhammad. Atas kejujuran dan sifat amanah yang ditunjukkannya, mereka memberinya gelar &#8220;Al-Amin&#8221;, yakni orang yang tepercaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bekal iman yang teguh, Muhammad membantu orang-orang fakir, membela orang-orang yang tertindas, membagikan makanan kepada mereka yang lapar, mendengarkan keluhan-keluhan mereka, dan berusaha memberikan jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika beberapa orang pemuda menggalang sebuah gerakan yang dikenal dengan nama &#8220;Sumpah Pemuda&#8221; (<em>Hilful Fudhul</em>), segera Muhammad pun bergabung bersama mereka, karena gerakan itu sejalan dengan perilaku luhur dan tujuan-tujuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu waktu, Abu Thalib, paman Muhammad, menasehatinya untuk ikut berniaga dengan kafilah dagang Khadijah, seorang wanita Makkah yang kaya dan terhormat. Kemudian, Muhammad pun ditunjuk untuk memimpin kafilah dagang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama bergabung dalam kafilah dagangnya, Khadijah menyaksikan dari dekat kejujuran, keteguhan, dan keutamaan perilaku Muhammad. Tak segan lagi Khadijah melamarnya. Muhammad menerima lamaran itu. Dan tak lama kemudian, mereka pun melangsungkan pernikahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari perhikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Fatimah, yang dari keturunannya lahirlah manusia-manusia suci.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hajar Aswad (Batu Hitam)</h3>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh tahun setelah pernikahan itu, banjir besar melanda kota Makkah yang merusak sebagian besar bangunan Ka&#8217;bah. Warga kota bermaksud untuk memperbaikinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencegah perseturuan yang bakal terjadi, perbaikan itu dilakukan oleh berbagai suku yang ada di kota secara gotong royong. Namun, tatkala perbaikan telah selesai, tibalah saatnya untuk meletakkan Hajar Aswad. Ketika itu, masing-masing bangsa mengaku paling berhak untuk meletakkan batu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang hampir saja terjadi. Tiba-tiba Muhammad muncul memberi sebuah usulan, dengan menanggalkan jubahnya dan meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengahnya, lalu setiap kepala suku memegang tepi jubah itu, lantas membawanya bersama-sama ke tempat asalnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Wahyu Pertama</h3>
<p style="text-align: justify;">Menginjak usia 40 tahun, Muhammad diangkat sebagai nabi. Suatu hari, ketika beliau sedang melakukan ibadah di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril as membawa wahyu dari Allah dan menyapanya, <em>&#8220;Iqra! Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Mahamulia. Dialah yang mengajarkan ilmu dengan pena. Dialah yang telah mengajarkan kepada manusia akan segala yang tidak diketahuinya.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu, Muhammad terpilih untuk mengemban risalah Allah sebagai Rasulullah saw di tengah umat manusia di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di awal-awal kenabian, Rasulullah saw berdakwah secara rahasia. Pada saat itu, hanya beberapa orang saja yang mau menerima Islam. Orang pertama yang mengakui Muhammad sebagai Rasulullah saw ialah istri beliau, Khadijah, kemudian disusul oleh sepupunya, Ali bin Abi Thalib.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga tahun lamanya Islam terus menyebar di kalangan rakyat miskin kota Makkah. Setelah itu, Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw untuk melakukan dakwah secara terang-terangan, mengajak manusia menyembah Tuhan Yang Esa dan memulai perang suci melawan para penyembah berhala.</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas dakwah merupakan tugas yang penuh resiko dan bahaya. Sebab, para pemimpin kabilah telah sekian lama larut dalam kenikmatan berupa kedudukan dan menjadikan orang-orang sebagai budaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka khawatir bahwa dakwah Rasulullah saw akan merongrong kekuasaan mereka. Selain itu, tugas dakwah akan menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya, karena berhala-berhala itu telah lama dijadikan sesembahan oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw tidak mengenal toleransi. Ia memilih untuk memikul tugas ini untuk mengesakan Tuhan dan menegakkan undang-undang Tauhid di muka bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat yang sebelumnya menghormati dan santun terhadap Nabi saw, kini berbalik membenci dan memusuhi dakwah beliau dengan harta. Namun usaha mereka gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, permusuhan mereka berlanjut dengan menyiksa dan menjarah harta-harta milik Nabi saw. Namun, usaha mereka ini pun tidak berhasil untuk menahan laju dakwah suci beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum kafir Makkah tidak pernah lelah untuk mengubah pendirian Rasulullah saw. Mereka meningkatkan permusuhannya dan mengusir beliau beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya keluar dari Makkah, lalu mengurungnya di ladang Abu Thalib hingga sebagian mereka yang bersama Rasul di dalamnya mati kelaparan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka bahkan memperketat pengurungan ladang itu sehingga makanan dan minuman tidak dapat ditemui oleh Nabi beserta pengikutnya yang setia. Beberapa penduduk yang ikut Nabi mempertaruhkan hidupnya untuk menyelundupkan makanan dari kota di kegelapan malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berlalu begitu cepat. Kaum kafir menyerah pada tekad dan kegigihan yang ditunjukkan oleh kaum muslimin. Mereka memutuskan untuk membunuh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, mereka memilih pemuda-pemuda terkuat dari kalangan keluarga dan suku mereka dengan memberikan upah yang tinggi kepada siapa yang berhasil membunuh beliau. Mereka menetapkan untuk menyergap kediaman Nabi saw pada malam hari.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hijrah ke Madinah</h3>
<p style="text-align: justify;">Rencana keji itu diketahui oleh Rasulullah saw melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril as. Beliau memilih sepupunya Ali bin Abi Thalib untuk menggantikannya tidur di atas ranjang beliau dengan mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau hijrah dari Makkah ke Madinah di kegelapan malam. Kaum musyrikin telah berkumpul untuk membunuh Nabi saw. Betapa terkejutnya mereka, tatkala mendapati Ali di atas ranjang Rasul saw. Mereka segera mengejar beliau. Namun pengejaran itu gagal. Mereka pun kembali ke Makkah dengan tangan hampa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Nabi saw tiba di Quba, sebuah tempat di dekat kota Madinah. Penduduk desa menyambut kedatangan beliau. Dengan suka cita beliau berencana membangun tempat salat dan menyusun tugas-tugas dakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan masjid Quba berjalan lancar. Nabi saw turun tangan langsung dalam menyelesaikan pembangunannya. Sesudah itu, beliau melakukan salat Jumat dan berdiri sebagai khatib. Inilah salat Jumat yang pertama kali dilaksanakan oleh beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw menetap di Quba untuk beberapa saat sambil menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Di sana pula beliau menantikan kedatangan Ali yang ditinggalkannya di kota Makkah untuk menunaikan titipan dan amanat kepada pemiliknya masing-masing. Hingga akhirnya Ali pun datang ke Quba bersama kaum wanita keluarga Bani Hasyim.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw memasuki kota Yatsrib, dan sejak saat itu pula nama kota itu berubah menjadi Madinatur-Rasul atau Madinah Al-Munawarah. Penduduk kota menyambut beliau dan sebagian kaum Muhajirin yang menyertainya dengan begitu hangat dan meriah. Setiap penduduk berlomba meminta beliau untuk duduk di rumah mereka. Kepada mereka semua, beliau berkata, &#8220;Berilah jalan kepada untaku ini. Aku akan menjadi tamu orang yang di depan pintunya unta ini berhenti.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Si unta berjalan dan melintasi jalan-jalan kota Madinah, hingga ia menghentikan langkahnya dan bersila di depan pintu rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di rumah itulah Rasulullah saw dijamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di Madinah, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah saw ialah pembangunan masjid sebagai pusat dakwah dan pengajaran. Nabi juga segera menyerukan perdamaian serta persaudaraan antara dua bangsa; Aus dan Khazraj, yang telah berperang selama bertahun-tahun akibat hasutan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka mengikis habis akar-akar pembeda antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah, Rasulullah saw mempersaudarakan mereka satu persatu, sehingga kaum Muhajirin tidak menjadi beban kaum Anshar di kemudian hari dan mereka dapat hidup bersama dengan rukun dan damai.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Yahudi Madinah memandang persaudaraan itu dengan penih kedengkian. Mereka selalu berusaha menyulut semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin. Sementara Rasulullah saw memadamkan api pertikaian, mereka malah giat mengobarkannya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Peralihan Kiblat</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya, Rasulullah saw melakukan salat dan ibadah ke arah Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Itu berlanjut selama 13 tahun di Makkah dan 17 bulan di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum Yahudi pun mengadap masjid Al-Aqsa dalam salat-salat mereka. Karena ini pula mereka selalu mencemooh kaum muslimin, &#8220;Jika benar kami dalam kesesatan, lalu mengapa kalian mengikuti kiblat kami.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga pada suatu hari, turunlah wahyu yang memerintahkan Rasulullah saw agar kaum muslimin menghadap Ka&#8217;bah Masjidil Haram dalam setiap salat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Perintah ini sungguh memukul kaum Yahudi. Mereka bertanya-tanya tentang sebab peralihan kiblat kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa peralihan kiblat ini merupakan ujian bagi kaum muslimin sendiri, sehingga dapat dikenali siapa yang mentaati dengan siapa yang menentang Rasulullah saw.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Peperangan Rasulullah saw.</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>1. Perang Badar</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan kabilah-kabilah tetangga guna melindungi kota Madinah dari segala ancaman makar dan penyerangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Quraisy Makkah melakukan penjarahan atas harta-harta umat Islam di kota itu. Rasulullah saw pun berpikir untuk merebut kembali harta-harta itu dari mereka. Untuk itu, beliau memutuskan untuk menyerang kafilah-kafilah pedagang kafir Quraisy.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah awal meletusnya bentrokan senjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin di suatu tempat dekat sumur Badar. Oleh karena ini, peperangan pertama di antara mereka ini dinamai perang Badar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum muslimin mampu memenangkan peperangan itu secara gemilang. Nama mereka pun mulai terpandang dan disegani di semenanjung Arabia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>2. Perang Uhud</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi kaum musyrik Quraisy, kemenangan kaum muslimin pada perang Badar itu malah membuat hati mereka terbakar kemarahan. Tak ayal lagi, Abu Sufyan mulai mengitung hari untuk melancarkan pembalasan dendam. Bahkan ia melarang perempuan-perempuan Quraisy menangisi korban perang Badar, supaya api dendam tetap membara di dalam jiwa-jiwa mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara di Madinah, kemenangan gemilang kaum muslimin meresahkan kaum Yahudi. Segera mereka mendekati orang-orang Quraisy dan menghasut mereka untuk menuntut dendam atas kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, salah seorang Yahudi bernama Ka&#8217;ab bin Asyraf bertolak ke Makkah. Setibanya di sana ia membacakan syair-syair dan mengulang-ulangnya, hanya untuk membakar emosi kaum Quraisy.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah, dan sepakat dendam mereka untuk menyerang Madinah. Di sana mereka pun menghitung biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran mendatang itu. Biayanya ditaksir mencapai 50.000 Dinar. Sejak itu, mereka mulai mempersiapkan persenjataan dan meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang bermukim di sekitar Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">3000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke Madinah melalui padang sahara. Abu Sufyan menjadi panglima perang dan Khalid bin Walid memimpin pasukan. Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan keislamannya mengirimkan kurir untuk menyampaikan pesan ihwal rencana penyerangan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah saw segera mengadakan musyawarah yang menyepakati untuk menyambut lawan di luar kota.</p>
<p style="text-align: justify;">7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, tepatnya pada hari Sabtu pagi, pasukan kaum muslimin bergerak meninggalkan Madinah menuju gunung Uhud. Atas perintah Rasulullah saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari barisan musuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw menempatkan Abdullah bin Jabir bersama 50 orang lainnya yang dilengkapi busur dan anak panah untuk berada di atas bukit. Beliau memperingatkan mereka untuk tidak beranjak dari puncak bukit itu betapapun resiko yang akan menghadang, apakah menang atau kalah dalam peperangan. Setelah itu, pasukan yang membawa bendera Tauhid dan pasukan yang mengusung bendera Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu dimulai oleh Abu Umair dari Quraisy.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung dengan gagah berani dan membuat tentara kafir hampir kalah. Namun kemudian, keadaan justru berbalik. Pasukan panah yang mengawasi medan perang itu melihat saudara-saudaranya memukul mundur pasukan musuh. Mereka pun turun meninggalkan bukit untuk memungut <em>ghanimah </em>(harta rampasan perang). Mereka lalai terhadap perintah Rasulullah saw untuk tidak beranjak dari posisi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum muslimin. Ia dan pasukannya berbalik mengitari gunung kemudian menyerang kaum muslimin yang sedang sibuk mengumpulkan <em>ghanimah</em> itu dari arah belakang. Banyak pasukan Islam tewas karena ketidaktaatan mereka kepada Rasulullah saw. Ada sekitar 70 pejuang kaum muslimin syahid dan selebihnya ada yang melarikan diri dari medan pertempuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak musuh. Rasulullah saw dapat diselamatkan berkat kesetiaan Ali bin Abi Thalib serta bantuan pasukan muslimin lainnya. Ali beserta pasukan Islam lainnya berhasil mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari penyerbuan kaum kafir itu. Namun demikian, perang Uhud ini telah memberikan pelajaran ketaatan dan kesetiaan yang tak terlupakan oleh kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>3. Perang Khandaq</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah akibat permusuhan dan pengkhianatan mereka sendiri, tidak tinggal diam melihat keadaan kaum muslimin. Pemimpin mereka melakukan pendekatan dengan pemimpin-pemimpin Quraisy di Makkah, sambil melancarkan hasutan supaya mereka mengadakan perlawanan terhadap kaum muslimin. Pemimpin Yahudi itu berjanji untuk menyokong bangsa Quraisy dengan segala kekuatan yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai hasil dari pendekatan ini, berbagai bangsa, suku, dan kelompok bersekutu untuk mengangkat senjata melawan umat Islam. Oleh karena itu, peperangan ini dikenal sebagai perang Ahzab, yaitu perang gabungan beberapa bangsa melawan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan bersenjata mereka terdiri dari kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi, orang-orang munafik, dan pengkhianat Islam dari Madinah. Mereka bertekad bulat untuk menghancurkan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, sebanyak sepuluh ribu pasukan sekutu itu berangkat menuju Madinah. Di depan mereka adalah Abu Sufyan sebagai panglima perang pasukan sekutu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa pasukan berkuda dari kabilah Khuza&#8217;i memasuki kota Madinah dan melaporkan keadaan musuh kepada panglima besar kaum muslimin, Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan para komandan diminta berkumpul untuk memusyawarahkan segala sesuatu yang diperlukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam musyawarah itu, salah seorang sahabat Rasulullah saw yang bernama Salman Al-Farisi mengusulkan untuk menggali parit di sekeliling kota Madinah dan kaum muslimin berlindung di balik galian parit itu. Usulan itu diterima secara mufakat. Maka, sebanyak tiga ribu sukarelawan Islam bekerja siang dan malam untuk menggali parit sedalam lima meter, selebar enam meter, dan sepanjang dua belas ribu meter.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jalur dan jembatan dibuat di atas parit dan beberapa penjaga ditugasi untuk mengawasi kedatangan pasukan musuh. Di balik parit, dibangun pos-pos pertahanan yang di atasnya dijaga oleh pasukan berpanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan kaum musyrikin pun tiba. Mereka melihat galian parit mengelilingi kota yang menyulitkan mereka untuk melintasi dan menyerang orang-orang di seberang parit.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan segera memanggil Huyay bin Ahthab, pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir dan memintanya untuk menemui Ka&#8217;b bin Asad, pemimpin Yahudi dari Bani Quraizhah yang sedang bermukim di Madinah. Ka&#8217;b bin Asad diseru untuk membuka lapang jalan orang-orang Yahudi. Makar ini dimaksudkan untuk melapangkan jalan orang-orang musyrikin menyerang kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara licik Abu Sufyan ini telah diketahui sebelumnya. Rasulullah saw telah mengambil langkah-langkah preventif dengan menugaskan 500 prajurit untuk berpatroli di sekeliling kota. Prajurit itu ditugasi untuk memelihara kota agar stabil dalam keadaan siaga dan waspada. Mereka mewaspadai orang-orang yang datang dan pergi dari kota. Dengan langkah pencegahan ini, persekongkolan warga kota dengan pihak musuh dapat diatasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ancaman bahaya serangan dari dalam kota berhasil digagalkan dan pasukan sekutu itu tetap pada posisi mereka di seberang parit. Mereka tidak berhasil untuk mengecoh kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga tibalah suatu hari, lima orang gagah berani dari pihak musuh melintasi parit. Kelima orang gagah berani itu dipimpin oleh Amr bin Abdi Wud. Di atas kudanya ia berteriak lantang, &#8220;Hai orang-orang yang mengaku penghuni Surga, di mana kalian semua? Majulah, sehingga aku dapat mengirim kalian ke Surga.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak satu pun orang yang menjawab tantangan itu, kecuali Ali bin Abi Thalib. Ia begitu cepat bangkit dan maju mendekati orang itu. Dan setelah saling adu tantangan, Ali mengayunkan pedangnya dengan sekali tebasan ke atas kepala Amr. Setelah Amr tersungkur tewas, Ali mengumandangkan takbir, &#8220;Allahu Akbar!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kawan Amr bin Abdi Wud melarikan diri dan terjatuh ke dalam parit. Ali tidak memberikan kesempatan kepada lawan dan segera menghabisinya. Sedangkan ketiga sahabat Amr yang lain berhasil melarikan diri dari kejaran Ali.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa di atas ini begitu menggugah keimanan dan keberanian umat Islam, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw, &#8220;Sekali tebasan pedang Ali jauh lebih berharga daripada ibadah tujuh puluh tahun seluruh manusia dan jin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Demi menjaga semangat pasukannya, Khalid bin Walid bersama beberapa pasukan berkuda, pada hari berikutnya, mencoba untuk melewati parit. Namun, pasukan muslimin terlalu tangguh untuk mereka hadapi. Mereka hanya berusaha dengan mengepung kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah pengepungan, Nu‘aim bin Mas‘ud yang terkenal dengan kecerdikannya memutuskan untuk masuk Islam. Rasulullah saw menyuruhnya agar merahasiakan keimanannya, hingga ia bisa memperdaya kaum musyrikin dan menebarkan perpecahan dari antara mereka dan kaum Yahudi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama seperti Nu‘aim, Khuzaifah Al-Yamani menyusup di kegelapan malam ke dalam jajaran musuh sampai menembus jantung kekuatan mereka. Di dalamnya ia berusaha mengendurkan tekad perang, hingga berhasil mematahkan semangat juang mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pada suatu malam, badai besar berhembus, belum lagi udara yang semakin dingin menggigilkan. Tak pelak lagi, semangat pasukan musyrikin menjadi luluh lantak. Ditambah perselisihan di antara mereka semakin meluas setelah melihat pengepungan yang tidak membuahkan hasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum terjadi perkembangan pertempuran yang mengecewakan, Abu Sufyan segera meninggalkan medan tempur secara diam-diam di kegelapan malam. Panglima musyrikin itu beserta pasukannya kembali ke Makkah dengan perasaan malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika pasukan muslimin terbangun di pagi hari, mereka menyaksikan laskar kafir telah meninggalkan medan pertempuran. Ketika Rasulullah saw mendengarkan berita tentang kaburnya musuh, beliau memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan pos-pos pertahanan dan kembali ke kota.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Nasib Bani Quraizah</h3>
<p style="text-align: justify;">Setelah meraih kemenangan gemilang pada perang Ahzab, Rasulullah saw membawa pasukannya mendekati benteng pertahanan Bani Quraizah. Pasukan Islam memaksa mereka menyerah, setelah mengepung benteng mereka selama dua puluh lima hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena menderita kekalahan, Bani Quraizhah memohon agar dapat meninggalkan kota Madinah. Akan tetapi Rasulullah saw menolaknya, sebab jika sampai lolos meninggalkan kota, mereka akan membuat persekongkolan lagi dan menciptakan peperangan baru, sebagaimana Bani Nadzir yang memicu untuk meletuskan perang Khandaq.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, orang-orang Yahudi yang licik itu harus kecewa pada keputusan itu. Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;adz menyampaikan maklumat bahwa orang-orang yang berkhianat dan membantu pihak musuh selama pererangan harus dibunuh dan harta kekayaan mereka harus dirampas.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Perjanjian Hudaibiyah</h3>
<p style="text-align: justify;">Derita kekalahan kafir Quraisy dan kedigjayaan kaum Muslimin, khususnya penaklukan Bani Musthaliq sampai menyebabkan mereka masuk agama Islam, telah menggelapkan mata kaum kafir Quraisy.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 Hijriah, Nabi Muhammad saw beserta 14000 laskar Islam bergerak menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepergian Rasulullah saw ke tanah suci tidak hanya untuk keperluan ibadah saja, namun juga untuk kepentingan politik. Haji beliau kali ini bertujuan untuk menjadikan status kewarganegaraan kaum muslimin di semenanjung Arabia menjadi benar-benar diakui. Dengan demikian, kaum muslimin berhak untuk bermukim di sepanjang tanah Arab tanpa harus takut diusir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum kafir Quraisy menerima kabar bahwa Rasulullah saw akan berkunjung ke Baitullah Ka&#8217;bah. Mereka bersumpah di hadapan berhala-berhala untuk tidak membiarkan beliau memasuki kota Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kafir Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta dua ratus pasukan berkuda untuk menghadang Rasulullah saw bersama pasukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu, Rasulullah saw telah sampai di daerah Hudaibiyah melalui jalan berbeda untuk menghindari pertempuran dan peperangan yang mungkin mengintai setiap saat. Segera beliau mengutus salah seorang sahabat untuk mengintai pasukan Quraisy dan meyakinkan mereka bahwa Rasulullah saw beserta kaum muslimin datang hanya untuk menunaikan ibadah haji saja. Sahabat itu ditugaskan untuk meyakinkan para pemimpin Quraisy bahwa kedatangan Rasulullah saw kali ini tidak untuk berperang. Namun, mereka malah berlaku kurang ajar terhadap utusan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw meminta baiat (sumpah setia) kepada sahabat agar tetap setia dan rela berkorban kepada beliau di bawah pohon. Ketika hal ini diketahui oleh kafir Quraisy, mereka sangat geram sekaligus malu, sehingga diutuslah Suhail sebagai wakil mereka untuk berunding.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum kafir Quraisy tidak menghendaki kaum muslimin memasuki kota Makkah dan menunaikan ibadah haji pada tahun ini dan segera pulang ke Madinah. Apabila mereka mau menunaikan haji pada tahun depan, kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Selama masa haji itu, pihak Quraisylah yang bertanggung jawab atas keselamatan, keamanan harta dan jiwa kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjanjian ditandatangani dengan lima butir kesepakatan, meskipun beberapa orang Islam kecewa. Puncak kekecewaan mereka tunjukkan dengan keberatan terhadap keputusan-keputusan Rasulullah saw. Mereka mengira bahwa penandatanganan perjanjian itu adalah suatu aib yang memalukan umat Islam, khususnya pada satu butir kesepakatan yang menyatakan bahwa jika seorang muslim lari dari Makkah lalu sampai di Madinah, maka ia akan dipulangkan ke tempat asalnya. Sebaliknya, orang muslim Madinah yang masuk Makkah tidak boleh kembali ke Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekecewaan itu sebenarnya tidak berdasar. Mereka tidak mengerti bahwa keuntungan perjanjian itu sesungguhnya merupakan awal dari penaklukan kota Makkah kelak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>4. Perang Khaibar</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah saw beserta 1600 kaum muslimin bertolak dari Madinah menuju Khaibar. Laskar Islam di bawah komandan beliau menyerang musuh dengan tiba-tiba dan dengan mudah merebut tanah Raji&#8217; yang terletak di antara Khaibar dan Ghathafan.</p>
<p style="text-align: justify;">Panglima besar laskar Islam, Rasulullah saw menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab Ghathafan tidak dapat saling membantu satu sama yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam hari. Mereka mengambil posisi di tempat strategis yang tersembunyi di balik tanaman palem. Dengan mudah mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam berkorban.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, dua lembah strategis yang menjadi markas kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu mempertahankan benteng mereka mati-matian dengan melepaskan anak-anak panah ke arah pasukan muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar memimpin pasukan tempur, namun tidak berhasil menaklukkan benteng itu. Pada hari kedua, Umar Bin Khatab ditunjuk sebagai komandan tempur, namun ia juga tidak berhasil. Di seberang sana, kaum Yahudi Khaibar terus saja memperolok kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat kegagalan kaum muslimin merebut benteng tersebut, Rasulullah saw bersabda, &#8220;Besok aku akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang hanya kembali bila benteng pertahanan Yahudi itu telah dikuasai.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu. Masing-masing memimpikan menjadi pemegang bendara esok hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada pagi harinya, Rasulullah saw memanggil Ali. Beliau menyerahkan bendera Islam itu kepadanya dan menugaskannya untuk menaklukkan lembah Khaibar. Rasulullah saw berdoa untuk kesuksesan Ali.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua saudara yang gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang pasukan Ali dengan garang sampai tunggang-langgang menyelamatkan dirinya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang kedua bersaudara itu. Dengan kegagahan dan keperkasaannya, ia mampu menghempaskan kedua orang Yahudi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kematian mereka membuat orang-orang Yahudi yang berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik. Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan bersembunyi di baliknya. Pasukan muslimin yang tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat keunggulan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu dan mengangkatnya lepas dari benteng.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara kaum Yahudi tercengang menyaksikan kekuatan dan keberanian Ali hingga mereka menyerah takluk, Ali melemparkan pintu itu ke atas parit untuk dijadikan jembatan yang kemudian dilalui pasukan muslimin. Demikianlah mereka berhasil dengan mudah memasuki dan menduduki Khaibar, benteng kokoh orang-orang Yahudi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama seperti kaum Yahudi, kaum muslimin pun takjub di hadapan kekuatan Ali. Mereka bertanya-tanya satu sama lain, bagaimana Ali bisa melakukannya. Tujuh orang muslim sempat mengangkat pintu itu, namun pintu itu tak bergeser sedikit pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang kekuatannya, Ali menuturkan, &#8220;Aku tidak mampu merobohkan gerbang itu dengan kekuatan manusia biasa. Tapi aku melakukannya dengan kekuatan Allah SWT.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, pasukan muslimin menguasai seluruh benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon kepada Rasulullah saw untuk diperbolehkan tinggal. Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada kaum muslimin. Beliau mengabulkan permohonan itu.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Tanah Fadak</h3>
<p style="text-align: justify;">Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan Rasulullah saw dengan membawa pesan akan perlunya dibuat suatu perjanjian. Mereka lalu menyerahkan separuh wilayah Fadak kepada beliau yang kemudian dihadiahkannya kepada putrinya, Fatimah agar dapat dikelola untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya dan keperluan orang-orang miskin.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah perang Khaibar, Rasulullah saw bertolak menuju <em>Wadi Qura</em> (lembah Qura) yang menjadi pusat pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan muslimin mengepung pemukiman itu dan begitu cepat ditaklukkan. Beliau berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu kepada pemiliknya, dengan syarat bahwa separuh dari hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjanjian ini dilakukan untuk mengaktifkan sektor ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat Islam, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan hartanya jika ada seruan perang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>5. Perang Mu&#8217;tah</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum meletusnya perang Mu&#8217;tah, Rasulullah saw mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Syiria dengan maksud mengajaknya menerima Islam. Namun pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan dan membunuh duta Islam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah peristiwa ini, Rasulullah saw masih mengutus enam belas duta Islam (da&#8217;i) untuk mengajak penguasa Syiria dan rakyatnya kepada Islam. Sayangnya, mereka juga dibunuh. Dari enam belas orang duta itu, hanya satu orang yang mampu meloloskan diri dan kembali ke Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera ia melapor kepada Rasulullah saw. Beliau sangat terpukul mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para duta itu membuat beliau mengeluarkan perintah untuk berjihad. Beliau menghimpun 3000 pasukan pada Jumadil Tsani tahun ke-8 Hijriah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pasukan muslimin meninggalkan Madinah, Rasulullah saw memberikan pengarahan kepada mereka, &#8220;Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah Ja&#8217;far bin Abi Thalib. Jika sesuatu menimpanya, maka tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka Abdullah bin Ruwahah yang menjadi pimpinan kalian. Dan jika Abdullah bin Ruwahah juga menjumpai kesyahidannya, maka pilihlah komandan di antara kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando Ja&#8217;far bin Abi Thalib. Ketika pasukan muslimin sampai di dekat kota Ma&#8217;an, mereka mendapat berita bahwa Kaisar Romawi telah mengirim 100000 pasukannya ditambah 100000 orang Arab yang berada di bawah kekuasaannya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Perang Yang Tak Seimbang</h3>
<p style="text-align: justify;">Laskar musuh yang berjumlah 200000 pasukan itu berhadapan dengan 3000 pasukan muslimin. Setelah berhadap-hadapan, perang pun meletus. Ja&#8217;far bin Abu Talib bertempur dengan gagah berani sampai darah penghabisan. Ia gugur sebagai syahid.</p>
<p style="text-align: justify;">Pucuk pimpinan segera diambil oleh Zaid bin Haritsah. Zaid pun bertempur dengan gagah berani. Namun, ia pun mati syahid. Setelah gugurnya Zaid, Pasukan muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Ruwahah yang juga berakhir dengan kesyahidannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan gugurnya para komandan mereka yang gagah berani itu, kaum muslimin segera memilih Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan. Khalid segera menarik pasukannya dari medan pertempuran dan menyelamatkan prajurit dari medan tempur.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sore harinya, Khalid merencanakan penarikan seluruh pasukan dari medan pertempuran dan memimpin mereka bergerak menuju Madinah.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penaklukan Kota Makkah</h3>
<p style="text-align: justify;">Penarikan mundur pasukan muslimin dari medan pertempuran Mu&#8217;tah telah membuat kafir Quraisy semakin berani dan congkak. Mereka berpikir bahwa kaum muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian Hudaibiyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya, mereka menyerang dan membunuh banyak kaum muslimin yang berasal dari Bani Thaif.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum muslimin tidak akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan mengharap bisa bertemu dengan Rasulullah saw di Madinah dan meminta maaf atas tragedi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih di hadapan Rasulullah saw, Abu Sufyan meminta agar beliau tetap mau memegang perjanjian Hudaibiyah. Akan tetapi, beliau menampik permintaan itu, sehingga Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan kecewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk siaga. Sebanyak 10000 laskar kaum muslimin menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam peperangan selanjutnya. Beliau menugaskan sejumlah prajurit agar berjaga-jaga di sekeliling kota untuk mencegah siapa saja yang hendak meninggalkan kota dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi seorang pengkhianat keji bernama Hathib membocorkannya kepada kaum musyrik Makkah. Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan berita ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi bocoran tentang persiapan kaum muslimin berhasil digeledah. Rasulullah saw memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap Hathib, si pegkhianat Islam itu. Sesungguhnya hukuman boikot itu lebih buruk daripada hukuman mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, Rasulullah saw memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai di kota Makkah dalam waktu satu minggu. Beliau beserta pasukan dan seluruh kaum muslimin yang menyertai beliau mendirikan tenda di dekat kota Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw memberikan komando kepada pasukan muslimin untuk berpencar pada malam hari dan menyalakan api unggun di mana-mana. Pihak musuh berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari Madinah. Musuh pun menjadi ketakutan. Mereka menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan menyerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, gurun di sekeliling kota Makkah menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di mana-mana. Suara riuh dan slogan-slogan kaum muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok Quraisy datang menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan datang menjumpai Abbas bin Abdul Muthalib untuk meminta usulan darinya. Dengan maksud untuk berdamai, Abbas membawanya datang untuk menemui Rasulullah saw, sang panglima tertinggi kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah saw mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah saw, ia bertolak kembali ke Makkah dengan membawa ampunan dari beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di Makkah, Abu Sufyan mengingatkan penduduk kota bahwa kaum muslimin akan datang dengan pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan kaum muslimin memasuki kota Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kota Makkah dapat dikuasai dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Pengampunan Umum</h3>
<p style="text-align: justify;">Sekelompok kaum muslimin, khususnya para pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh Quraisy, berniat menuntut balas terhadap orang-orang Makkah yang menyiksa dan mengusir mereka dari kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, Rasulullah saw mengumumkan &#8220;Pengampunan Umum&#8221; untuk warga makkah, bahkan untuk mereka yang telah melakukan penyiksaan dan pengusiran terhadap kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah merobohkan semua patung dan berhala satu persatu, Rasul saw memerintahkan Bilal untuk menaiki Ka&#8217;bah dan mengumandangkan gema Tauhid: <em>&#8220;Allahu Akbar, La ilaha illallah, Muhammad rasulullah&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>6.Perang Hunain</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejatuhan pusat kekuatan kaum musyrikin oleh kaum muslimin, para penyembah berhala itu tetap diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka&#8217;bah. Mereka merasa malu dan bagitu ketakutan. Oleh karena itu, mereka mengundang kabilah masing-masing untuk berkumpul.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum muslimin, hendaknya mereka bersekutu dalam menghancurkan pasukan muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazin sebagai panglima mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah saw mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai keadaan musuh dan mencari informasi tentang kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan informasi dan segera melaporkannya kepada beliau.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Persiapan Menjelang Perang Hunain</h3>
<p style="text-align: justify;">Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan tersebut, Rasulullah saw tidak tinggal diam. Panglima besar kaum muslimin itu segera memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 H.</p>
<p style="text-align: justify;">Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin. Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk menyergap jika pasukan musuh terlihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak memasuki lembah Hunain pada Shubuh hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Pihak musuh yang telah siaga menyambut kedatangan mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu menyergap dari empat penjuru.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang ditunggangi pasukan muslimin itu membuat kegaduhan. Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2000 muallaf (muslim baru). Para muallaf itu melarikan diri, dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat musuh menjadi tambah semangat untuk menceraiberaikan pasukan muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping Rasulullah saw. Merekalah yang membela beliau dari ancaman pedang musuh. Beliau memerintahkan mereka untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan suara lantang, memanggil sahabat-sahabat yang melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat kembalinya pasukan muslimin yang melarikan diri tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan. Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan tempur mereka. Rasulullah saw memerintahkan beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya. Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi musuh yang bisa melakukan perlawanan militer di kemudian hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil menunaikan tugas mereka. Atas keberhasilan pasukan muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah saw kemudian membagikan harta rampasan perang kepada kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>7. Perang Tabuk</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada bulan Rajab tahun ke-9 H, Rasulullah saw menerima laporan bahwa kaum muslimin yang bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat ancaman dari kekaisaran Romawi dan berniat untuk menyerang wilayah-wilayah Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah saw mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat sebelumnya. Dahulu, beliau merahasiakan niatnya. Kali ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang diperlukan oleh pasukan muslimin. Mereka dengan antusias dan penuh semangat mengorbankan harta, bahkan kaum wanita merelakan simpanan perhiasan mereka untuk digunakan dalam peperangan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Makar Kaum Munafik</h3>
<p style="text-align: justify;">Bersamaan dengan bergeraknya pasukan muslimin, orang-orang munafik mulai menebarkan hasutan, menciptakan semangat anti perang dan menanamkan rasa takut dalam diri pasukan muslimin akan kehebatan pasukan Romawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka melakukan berbagai cara, di antaranya ialah membangun sebuah masjid dengan nama &#8220;Masjid Dhirar&#8221; sebagai pusat penyebaran propaganda anti perang itu. Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian dalam jihad itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah saw berhasil menggagalkan persekongkolan orang-orang munafik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas perintah Rasulullah saw, rumah tempat berkumpulnya orang-orang Yahudi dan kaum munafik itu dibakar oleh massa. Dengan cara demikian ini, persekongkolan yang mereka galang berhasil ditumpas.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Persiapan Perang Tabuk</h3>
<p style="text-align: justify;">Sebanyak 30000 pasukan muslimin meninggalkan kota Madinah. Jumlah pasukan ini adalah yang terbesar dari yang sebelumnya. Rasulullah saw sendiri yang menjadi panglima pasukan itu. Beliau memeriksa persiapan-persiapan pasukannya. Setelah itu, panglima muslimin itu berpidato di depan pasukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai pemimpin di Madinah selama kepergiannya beserta pasukan muslimin ke Tabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tiba di padang Tabuk yang panas membara setelah menempuh perjalanan sejauh 600 kilometer. Namun, mereka terkejut setibanya di tempat itu. Mereka tidak melihat tanda-tanda pasukan Romawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya, pihak musuh telah mengetahui gerakan pasukan muslimin yang penuh semangat untuk mati syahid. Pemimpin Romawi memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dari arah utara.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan muslimin berdiam di Tabuk selama 20 hari sebelum kembali ke Madinah, tanpa terjadi pertempuran apa pun.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Persekongkolan Kaum Munafik</h3>
<p style="text-align: justify;">Sekembalinya dari Tabuk, sekelompok orang munafik memendam niat jahat kepada Rasulullah saw. Mereka bermaksud untuk membunuh panglima orang-orang pencinta kebenaran itu. Kaum munafik yang ikut serta dalam perjalanan ke Tabuk itu hanyalah didorong oleh rasa takut kepada kaum muslimin lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka ingin menakut-nakuti unta tunggangan Rasulullah saw dengan bersembunyi di balik bukit. Bila beliau terjatuh, mereka mudah membunuhnya. Tapi niat keji itu tersingkap dan membuat orang-orang munafik melarikan diri. Pasukan muslimin ingin segera menghabisi hidup kaum munafik itu, namun Rasulullah saw meminta mereka untuk membiarkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk menggusur Masjid Dhirar. Perintah ini beliau sampaikan setelah menerima wahyu dari Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Peperangan Tabuk merupakan unjuk kekuatan pasukan muslimin. Seluruh kaum muslimin mengambil bagian dalam pertempuran ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat kekuatan yang begitu besar, negara-negara tetangga dan orang-orang kafir menjadi enggan terlibat dalam persekongkolan untuk merongrong pemerintahan Islam.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Pembersihan Orang-orang Kafir</h3>
<p style="text-align: justify;">Hingga tahun ke-9 Hijriah, orang-orang kafir masih menunaikan ibadah Haji sesuai dengan kebiasaan nenek moyang mereka. Pada tahun yang sama, surat Al-Bara&#8217;ah atau At-Taubah diturunkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw mempercayakan surat itu kepada Ali dibacakan di hadapan orang-orang kafir Makkah. Beliau memerintahkan Ali untuk menyampaikan, &#8220;Tidak diperbolehkan orang-orang kafir memasuki rumah suci Ka&#8217;bah, terhitung sejak hari ini. Dan mulai hari ini, tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah di sekitar Ka&#8217;bah dengan telanjang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai perintah Rasulullah saw, Ali berangkat menuju Makkah dan membacakan surat Al-Bara&#8217;ah yang baru saja diturunkan, dan ditujukan kepada orang-orang kafir itu agar menghentikan kemusyrikan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah para jemaah haji, Ali menyerukan, &#8220;Wahai sekalian manusia, tidak akan ada orang kafir yang masuk surga, tidak akan ada orang musyrik yang berhaji setelah tahun ini, tidak akan ada orang telanjang yang bertawaf, dan siapa saja yang punya perjanjian damai dengan Rasulullah, maka ia punya kesempatan sampai berakhirnya masa perjanjian itu.&#8221;</p>
<h3 style="text-align: justify;"><em>Mubahalah</em> (Saling Memohon Kutukan dari Allah SWT)</h3>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw mulai mengirimkan surat kepada penguasa-penguasa yang ada di dunia. Beliau mengirimkan surat kepada keuskupan di Najran dan mengajak orang-orang Kristen yang ada di sana untuk memeluk Islam. Bila menolak, mereka diharuskan untuk membayar <em>jizyah</em> (pajak) sebagai bentuk dukungan mereka kepada pemerintahan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang uskup telah membaca ihwal kedatangan seorang nabi baru setelah Isa putra Maryam as. Dia juga mengetahui kedatangannya melalui Kitab Suci Nasrani. Kemudian dia segera mengirimkan utusan ke Madinah untuk mencari tahu kebenaran berita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di Madinah, mereka memulai dialog dengan Rasulullah saw pada kesempatan itu, beliau menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang lurus, sementara mereka menanyakan ihwal Nabi Isa Al-Masih as, “Apakah ia anak Allah ataukah anak Maryam?”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasul saw menjawab, <em>&#8220;Sesungguhnya Isa Al-Masih tidak lain adalah rasul Allah, sama seperti rasul-rasul yang telah mendahuluinya, dan ibunya adalah wanita tepercaya. Mereka berdua memakan makanan.&#8221;</em> (QS. Ali ‘Imran: 59), <em>&#8220;Dan ihwal Isa di sisi Allah seperti Adam yang telah diciptakan Allah dari tanah, lalu berkata kepadanya, &#8216;Jadilah&#8217;, maka terjadilah ia.&#8221;</em> (QS. Ali ‘Imran: 61)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, utusan Najran sebanyak 60 orang itu tetap saja menolak untuk beriman kepada Rasul saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Malaikat Jibril as. turun menyampaikan wahyu dari Yang Maha Kuasa kepada Nabi saw. Dalam wahyu tersebut, Allah menyerukan beliau dan orang-orang Najran untuk bermubahalah, yakni memohon kepada Allah SWT agar mengutuk siapa yang sebenarnya berdusta.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saat mubahalah itu tiba, Rasulullah saw hanya membawa empat orang keluarganya dari Ahlulbait, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Sewaktu orang-orang Nasrani itu melihat beliau datang beserta rombongan pilihannya, pemimpin Nasrani itu berkata, &#8220;Demi Tuhan! Saya meyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memoon kepada Allah untuk menumbangkan sebuah gunung, niscaya gunung itu akan tumbang. Jangan kamu melakukan mubahalah dengan mereka. Jika tidak, kamu semua akan musnah dan tak seorang pun Nasrani yang akan tersisa di muka bumi ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, mereka setuju untuk membayar pajak. Diputuskan bahwa orang-orang Nasrani akan membayar sebanyak 2.000 Hullas (jubah) dan 30 busur panah kepada kaum muslimin.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Haji Wada&#8217; (Perpisahan)</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada bulan Dzulhijah tahun ke-10 Hijriah, Nabi saw mengumumkan akan menunaikan haji tahun itu. Beliau berpesan, bahwa siapa saja yang mau menyertainya segera mempersiapkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Berita ini menciptakan semangat dan kegembiraan di kalangan kaum muslimin. Bersama Nabi saw, mereka mempersiapkan diri menyambut pesan beliau itu. Rasulullah saw menunjuk Abu Dujanah sebagai wakil beliau di Madinah. Beliau beserta sahabat-sahabat lainnya bergegas menuju Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw memulai pelaksanaan rukun ibadah Haji di Dzulhulaifah dan melantunkan Labaik. Dari Dzulhulaifah, Rasulullah saw bertolak menuju Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sepuluh hari tiba di Makkah, beliau memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan rukun-rukun Haji lainnya. Hari berikutnya, beliau menyampaikan pidato di Mina. Beliau bersabda, &#8220;Kita membutuhkan kemapanan dalam pemerintahan Islam.&#8221;</p>
<h3 style="text-align: justify;">Ghadir Khum</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Kamis, 18 Dzulhijah, Nabi saw tiba di dekat ladang Juhfah. Pada saat itu, malaikat Jibril as menyampaikan wahyu dari Tuhan yang harus beliau sampaikan. Rasulullah saw mengumpulkan para sahabat dengan mengatakan bahwa beliau akan mengumumkan suatu pesan yang sangat penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratusan jamaah Haji berkumpul pada pelaksanaan acara pidato Rasulullah saw. Telinga mereka dipasang baik-baik untuk mendengarkan pesan yang akan disampaikan beliau, &#8220;Segala puji dan puja bagi Allah Yang Maha Kuasa. Hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan dan keimanan, Dialah tempat tumpuan hajat manusia. Aku (Muhammad saw) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wahai kaum muslimin! Aku segera meninggalkan kalian semua dan kutinggalkan dua wasiat yang berharga kepada kalian, yaitu Al-Qur&#8217;an dan Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan terpisah satu sama lain sampai kalian menjumpaiku di telaga Kautsar (pada Hari Pengadilan). Oleh karena itu, jagalah mereka dan jangan kalian tinggalkan. Jika kalian tinggalkan wasiat ini, maka kalian akan binasa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau meraih tangan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya seraya bersabda, &#8220;Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpin kalian sepeninggalku. Ya Allah! cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhi Ali. Tolonglah orang-orang yang menolong Ali dan binasakanlah orang-orang yang membinasakan Ali.&#8221;</p>
<h3 style="text-align: justify;">Wafatnya Nabi Saw</h3>
<p style="text-align: justify;">Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu, Rasulullah saw jatuh sakit. Sekelompok orang memanfaatkan keadaan, dan nabi-nabi palsu pun bermunculan. Setelah Rasulullah saw mendengar berita ini, beliau memerintahkan untuk memerangi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, Nabi saw yang dalam keadaan payah dibantu oleh Ali bin Abi Thalib guna berziarah ke kuburan sahabat-sahabatnya yang telah gugur di pekuburan Baqi’. Setelah itu, beliau meminta Imam Ali untuk membawanya pulang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari demi hari berlalu, sakit Nabi saw bertambah serius dan parah, hingga insan kamil itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan Ali. Manusia suci itu telah kembali menghadap kekasihnya Yang Mahakasih pada hari Senin 28 Shafar tahun ke-11 H. Mangkatnya beliau menyebabkan dunia Islam berkabung dan berduka.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Rasulullah Saw</h3>
<p style="text-align: justify;">• &#8220;Seburuk-buruk manusia di hadapan Allah SWT adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu yang dimikinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">• &#8220;Semulia-mulia rumah adalah rumah yang di dalamnya anak-anak yatim disantuni dengan kasih sayang dan cinta.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">• &#8220;Barang siapa beriman pada Allah SWT, hari akhir dan janji-janji Allah SWT, hendaknya menunaikan amanat dan janjinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">• &#8220;Tatapan seorang anak kepada orang tuanya karena kasih sayang adalah ibadah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">• &#8220;Sahabat yang berbudi luhur dan mulia sungguh lebih berharga daripada harta benda.&#8221;</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Rasulullah Saw</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama              : Muhammad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah               : Abdullah bin Abdul Muthalib.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                   : Aminah binti Wahab.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran    : Makkah, Sabtu 17 Rabiul Awal, Tahun Gajah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wafat              : Senin, 28 Safar 11 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam          : Madinah Al-Munawwarah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>sumber al-shia.org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/461/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM AL-MAHDI, JANJI KEADILAN SEDUNIA</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/imam-al-mahdi-janji-keadilan-sedunia/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/imam-al-mahdi-janji-keadilan-sedunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 00:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[imam zaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Al-Mahdi as lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia.
Ayah Imam as adalah Imam Hasan Al-Askari as dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as, yaitu Sam’un Ash-Shafa.
Imam Mahdi as adalah Imam terakhir Ahlulbait as. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/al-mahdi1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-458" title="al-mahdi" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/al-mahdi1-300x225.jpg" alt="" width="234" height="175" /></a>Imam Al-Mahdi as lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah Imam as adalah Imam Hasan Al-Askari as dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as, yaitu Sam’un Ash-Shafa.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Mahdi as adalah Imam terakhir Ahlulbait as. Secara khusus, sang datuk, Rasulullah saw telah memberitakan kehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau dikenal dengan panggilan Abul Qasim, dan gelar mulia “Al-Mahdi”. Dengan demikian, beliau membawa nama sekaligus panggilan junjungan kita Muhammad saw, sebagaimana beliau pun membawa risalah agamanya, Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Para penguasa zalim menjadi begitu awas dan senantiasa mengintai kelahiran Imam Mahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang telah dilakukan Fir’aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir. Namun, mereka tidak sadar bahwa Fir’aun, meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa yang dimilikinya sampai membunuh secara massal bayi-bayi yang baru lahir, usahanya itu mengalami kegagalan total.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mu’tamid, Khalifah Abbasiyah—sosok Fir’aun pada masanya—pun ingin melakukan hal yang sama. Ia pun mencoba mengikuti langkah Fir’aun berusaha mencegah kemunculan Sang Pembela Kebenaran yang akan merongrong kekuasaannya. Ia seketat mungkin mengawasi rumah Imam Hasan Al-Askari as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Imam Hasan as diracun, beliau dibawa dalam keadaan lemah dari penjara ke rumahnya. Al-Mu’tamid menugaskan lima orang pengawal pergi menyertai Imam untuk mewaspadai dan berjaga-jaga di sekeliling rumah Imam jika ada peristiwa yang terjadi di rumah itu. Tidak hanya mengutus mata-mata, ia juga mengirim beberapa bidan ke rumah Imam untuk menjaga dan membantu proses kelahiran istri Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Kota Samarra berubah menjadi kota duka atas kematian Imam Hasan Al-Askari. Orang-orang menutup tempat kerja mereka untuk melayat ke rumah Imam. Penduduk kota itu mengusung jenazah suci Imam dengan tangan mereka sendiri dalam upacara penguburan yang kudus, agung, dan akbar.</p>
<p style="text-align: justify;">Khalifah Abbasiyah sangat gusar dan kesal atas kerumunan massa yang datang melayat Imam. Ia berusaha keras untuk menutupi kejahatannya dan mengumumkan bahwa kematian Imam merupakan sebuah kejadian yang wajar dan alamiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mu’tamid mengutus saudaranya untuk menghadiri upacara pemakaman dan bersaksi bahwa tidak ada yang membunuh Imam. Di sisi lain, ia membagi-bagikan harta peninggalan Imam untuk menunjukkan bahwa Imam tidak meninggalkan anak yang dapat menunaikan shalat jenazah dan menjadi pewaris sah atas harta peninggalan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, betapapun usaha untuk menutupi cahaya kebenaran, kehendak Allahlah yang tetap berlaku. Ketika Imam Al-Askari as dibunuh, putra beliau berusia lima tahun. Ia mencapai kedudukan imamah pada usia lima tahun, seperti Nabi Isa yang diangkat sebagai nabi ketika ia masih dalam buaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mereka meletakkan jenazah suci Imam Al-‘Askari as, saudara beliau—yang bukan orang baik-baik—hendak memimpin shalat jenazah. Namun, putra beliau, Imam Al-Mahdi ajf—yang masih belia—mendorongnya ke samping dan beliau sendiri maju ke depan memimpin shalat jenazah tersebut. Setelah selesai shalat jenazah, beliau menghilang dari pandangan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Syiah telah melihat Imam Al-Mahdi di kediaman sang ayah, Imam Hasan Al-‘Askari yang saat itu masih hidup. Di kediaman itu pula mereka mendengarkan nasihat beliau tentang anaknya kepada mereka. Setelah syahadah Imam Hasan as, mereka tetap berhubungan dengan Imam Al-Mahdi hingga beberapa waktu lamanya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Keadaan ketika Imam Al-Mahdi Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;">Hakimah, bibi Imam berkata, “Aku pergi ke rumah anak saudaraku, pada hari Kamis bulan Sya’ban. Ketika aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Imam berkata, ‘Wahai bibi, tinggallah malam ini bersama kami karena putra kami akan segera lahir.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku sangat bergembira dan berbahagia mendengarkan kabar itu dan pergi menjumpai Nargis (Ibunda Imam Al-Mahdi). Namun, aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada diri beliau. Aku terkejut dan bergumam, ‘Tidak melihat tanda-tanda kelahiran bayi padanya.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Pada saat-saat itu, Imam datang padaku dan berkata, ‘Duhai bibi, jangan bersedih. Nargis seperti ibunda Nabi Musa as, dan si bayi seperti Musa yang lahir secara tersembunyi dan tanpa tanda-tanda apa pun yang menyertai kelahirannya. Temuilah Nargis, dia akan segera melahirkan pada Shubuh hari.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku berbahagia menemani Nargis, sambil mengamati apa yang dikatakan oleh Imam bahwa tanda-tanda kelahiran Nargis muncul sebelum matahari terbit di ufuk timur. Seberkas cahaya membentang antara diriku dan dia sehingga aku tidak dapat melihat Nargis lagi. Aku ketakutan dan keluar dari bilik itu untuk menjumpai Imam dan melaporkan apa yang telah terjadi. Beliau tersenyum dan berkata, ‘Kembalilah, beberapa saat lagi engkau akan melihatnya.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku kembali ke kamar dan melihat seorang bayi baru lahir dan tengah melakukan sujud lalu ia mengangkat tangannya ke angkasa sembarai berzikir dan memuji Allah dengan segala kepemurahan-Nya, kebesaran-Nya, dan keesaan-Nya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kisah Ibunda Nargis</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang budak Imam Hadi as, Busyr Al-Anshari menukil sebuah kisah sehubungan dengan kejadian itu:</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, Imam Hadi as memanggilku dan berkata padaku, “Aku ingin memberikan sebuah pekerjaan untukmu. Pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukmu.” Beliau memberikan sebuah surat disertai dengan seikat kantong yang berisi 200 Dinar emas. Beliau berkata, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke Baghdad. Nantikan kapal yang akan berlabuh besok harinya di sungai Furat (Eufrat). Di dalamnya terdapat banyak budak-budak yang dibawa untuk diperjualbelikan. Kebanyakan pembeli dan penjual itu berasal dari Bani Abbas dan beberapa pemuda dari suku bangsa yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Di atas kapal itu, ada seorang wanita yang, ketika ia diminta untuk menampakkan dirinya, enggan memenuhi permintaan itu. Salah seorang pemuda maju ke depan dan berkata kepada tuannya, ‘Aku siap membeli wanita itu dengan harga 200 Dinar emas.’ Tetapi si wanita itu tidak setuju dengan tawaran pemuda itu. Lalu tuannya berkata, ‘Kamu tidak ada pilihan lain kecuali harus dijual. Kamu harus terima tawaran pemuda itu.’ Tapi ia menukas, ‘Tunggu sebentar! Pembeliku akan segera datang.’ Lalu kau maju ke depan berikan surat itu kepadanya, dan katakanlah ‘Jika wanita ini berhasrat kepada orang yang mengirim surat ini, aku akan membelinya.’ Setelah membaca surat yang disodorkan padanya, wanita itu merasa senang. Lalu bayarlah harganya dengan uang ini, dan serahkanlah kepada tuannya. Setelah itu, bawalah wanita itu kemari.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kerjakan apa yang diperintahkan Imam kepadaku. Aku beli wanita itu dari tuannya. Dalam perjalanan, ia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang mengejutkan. Katanya, ‘Aku adalah putri Raja Romawi. Datukku adalah sahabat dekat Nabi Isa. Ayahku menginginkan agar aku menikah dengan keponakannya. Suatu hari, ia mengadakan sebuah pertemuan akbar di istana dan meminta kemenakannya duduk bersanding denganku di singgasana. Seluruh bangsawan Nasrani dan para pengawal kerajaan berkumpul untuk menikahkan aku dengannya. Tiba-tiba istana berguncang, yang membuat segala sesuatunya berserakan hingga saudara sepupuku itu terjatuh dari singgasana. Meski begitu, mereka tetap bersikeras untuk menikahkanku dengannya. Mereka kembali mengadakan pertemuan itu. Namun, kejadian yang sama juga kembali terjadi. Para bangsawan Nasrani menganggapnya sebagai sebuah tanda buruk. Mereka segera meninggalkan istana. Pada malam yang sama, aku tertidur dalam keadaan sedih dan pilu. Aku bermimpi melihat dua orang pria dengan cahaya yang memancar dari tubuhnya datang ke istana. Beberapa orang berkata bahwa pria itu adalah Nabi Isa, dan yang lainnya berkata bahwa pria itu adalah Rasulullah saw. Rasulullah saw berhadapan dengan Nabi Isa as, beliau berkata, ‘Aku meminang cucumu untuk cucuku.’ Nabi Isa as sangat gembira dengan pinangan itu. Beliau menerima pinangan Rasulullah saw. Aku bangkit dari tempat tidurku dan tidak mengungkapkan perihal mimpi itu kepada siapa pun. Hingga suatu hari, aku jatuh sakit dan ayahku memanggil seluruh tabib untuk memeriksa kondisiku. Namun, tidak satu pun dari mereka yang dapat menyembuhkan sakitku. Aku memohon kepada ayahku untuk membebaskan orang-orang muslim yang ada dalam penjara ketika itu. Ia mengabulkan permohonanku. Ia membebaskan tawanan-tawanan muslim. Segera setelah itu aku pun sembuh dari sakitku. Pada malam yang sama, aku sekali lagi bermimpi melihat dua orang wanita yang penuh dengan cahaya. Mereka berkata bahwa wanita itu adalah ibunda Nabi Allah Isa as dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Fatimah maju ke depan dan berkata kepadaku, ‘Jika engkau ingin menjadi istri putraku, engkau harus menjadi muslim.’ Dalam mimpi malam itu, aku menerima Islam melalui tangannya. Lalu, ia membawaku menjumpai anaknya, Imam Hasan Al-Askari. Cintanya menawan hatiku dengan kuat, dan seluruh badanku lemas siang dan malam. Sampai pada suatu malam, aku melihat Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana aku dapat menjadi istrimu?’ Beliau berkata, ‘Ayahmu dalam waktu dekat ini akan mengirim serdadunya untuk berperang melawan serdadu muslim, dan engkau akan berada di barisan belakang serdadu itu. Serdadu muslim akan memenangkan perang itu dan engkau akan ditahan sebagai tawanan perang. Lalu engkau akan dibawa ke Baghdad untuk dijual. Engkau akan dibawa ke Baghdad dengan kapal yang melintasi sungai Furat. Kapal itu akan berlabuh di sungai itu dan mereka akan membawamu keluar dari kapal itu untuk dijual. Para pembeli akan datang untuk membelimu. Namun, tunggulah sampai seseorang (utusan) datang untuk membelimu. Ia akan datang dengan membawa surat dari ayahku. Dialah yang akan menjadi pembelimu dan membawamu pergi.’ Aku terjaga dari mimpi dan merasa gembira. Setelah beberapa waktu berlalu, apa yang diceritakan oleh Imam Hasan Al-‘Askari dalam mimpi itu terjadi. Wahai Busyr! Hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu akan kisah ini dan mengenali aku. Berhati-hatilah, jangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapapun. Simpanlah kisah ini untukmu saja.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Nargis menukilkan kisah itu kepadaku, terasa gemetar sekujur tubuhku. Sejak saat itu, aku menghormatinya dan menemaninya seakan-akan aku ini adalah budaknya. Aku membawa beliau ke hadirat tuanku, Imam Hadi as.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hadi as bertanya kepada wanita itu, bagaimana kisahmu sampai memeluk Islam? Dia menjawab, “Anda bertanya sesuatu yang Anda lebih tahu ketimbang aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau lalu berkata, “Berita gembira untukmu tentang seorang anak yang akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan dan hukum, seorang anak yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, beliau memalingkan wajahnya kepada saudarinya, Hakimah, “Wahai saudariku! Inilah wanita yang kau nanti-nantikan selama ini. Bawalah ia bersamamu dan ajarkan Islam kepadanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hakimah memeluknya erat dan ia membawanya pergi dengan penuh hormat.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Periode Kehidupan Imam Al-Mahdi</h3>
<p style="text-align: justify;">Periode kehidupan Imam Muhammad Al-Mahdi ajf dapat dibagi menjadi tiga bagian:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Pra-imamah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu, sejak lahir hingga syahadah ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Askari as. Periode ini berlangsung selama lima tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama periode ini, Imam Hasan as senantiasa menjaga putranya ini sedemikian rupa hingga tidak ada yang dapat melihatnya kecuali sebagian sahabat-sahabat dan orang-orang yang dekat dengan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Penjagaan ketat ini beliau lakukan lantaran kuatir terhadap penyusupan orang-orang Abbasiyah dan mata-mata mereka yang begitu ketat mengawasi kediaman beliau.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Kegaiban Kecil (<em>Ghaibah Shughra)</em> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Periode ini dimulai pada waktu beliau berusia enam tahun dan terus berlanjut hingga beliau berusia tujuh puluh enam tahun. Selama periode ini, aparat pemerintahan dan agen-agennya tidak dapat bertemu dengan beliau. Akan tetapi, sahabat-sahabat beliau tetap memiliki kesempatan untuk bertemu dengan beliau dan meminta jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama masa Kegaiban Kecil ini, ada empat orang yang menjadi sahabat khusus Imam Al-Mahdi ajf, sekaligus menjadi perantara antara Imam dan pengikutnya. Mereka membawa dan mengirim surat atau pun uang dari umat dan menyampaikannya kepada Imam as, dan juga sebaliknya menyampaikan jawaban Imam kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Empat sahabat Imam Mahdi as itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Utsman bin Sa’id</p>
<p style="text-align: justify;">2. Muhammad bin Utsman</p>
<p style="text-align: justify;">3. Husain bin Ruh</p>
<p style="text-align: justify;">4. Ali bin Muhammad Samuri</p>
<p style="text-align: justify;">Periode ini berakhir dengan wafatnya sahabat keempat Imam pada tahun 329 H. Sebelum wafatnya, beliau telah menyatakan berakhirnya keperantaraan dan kedutaan. Dengan begitu, Imam Al-Mahdi ajf segera memasuki periode baru dalam hidupnya, yaitu Kegaiban Besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Kegaiban Besar (<em>Ghaibah Kubra</em>) </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang periode ini—yang entah sampai kapan, hanya Allah SWT Yang Mahatahu—Imam Muhammad Al-Mahdi ajf menghadiri perhelatan dan acara perkumpulan yang diadakan oleh pengikut beliau. Beliau hadir tanpa diketahui oleh seorang pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada satu orang pun yang mengenali beliau. Mereka menganggapnya sebagai orang asing. Setelah Imam meninggalkan tempat itu, dengan melihat tanda-tanda yang ada, barulah mereka sadar bahwa Imam telah datang ke tempat mereka.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Masa Penantian</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Mahdi ajf tidak menunjukkan dirinya kepada <em>fuqaha </em>(ulama dan pakar hukum Islam) yang handal dalam memecahkan masalah-masalah keagamaan yang mereka hadapi dan masyarakat Islam selama kegaiban beliau. Namun demikian, mereka menyediakan lahan dalam rangka menyongsong revolusi yang akan dicetuskan oleh Imam ma&#8217;shum ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang di masa kini, menantikan kedatangannya. Penantian ini tidak berarti hanya duduk tanpa ada usaha yang berarti sama sekali, pasif, acuh tak acuh, tidak berusaha, dan tidak berupaya membuka jalan bagi kemunculan Imam ajf. Sebaliknya, orang yang menanti adalah orang yang penuh pengharapan, berusaha, bekerja, bergerak, sadar dan giat, memiliki keyakinan yang teguh pada Imam Al-Mahdi, sehingga ia melempangkan jalan bagi kemunculan dan kedatangan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penanti sejati persis ibarat pendaki gunung, yang menantikan waktu untuk menaklukkan puncak gunung dan berjuang untuk mencapai puncak yang ditujunya. Ia senantiasa siap-sedia untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menginjakkan kaki di atas puncak. Tak pelak lagi<em>, </em>ia harus memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai puncak kesuksesan dan sadar, bahwa duduk diam berpangku tangan tidak akan membawanya kepada tujuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, penantian berarti pergerakan, usaha, upaya, pikiran yang teguh, berkarya, dan berkreasi untuk kemaslahatan umat manusia. Jika prinsip dasar ini tidak tertanam secara baik dalam masyarakat, umat manusia akan beku, putus asa dan kecewa, serta tidak lagi berpandangan optimistis dalam menatap masa depan yang gemilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip Penantian (<em>Intizharul Faraj</em>) dalam Islam adalah sebuah prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari agama yang memberikan kabar gembira tentang masa depan yang gemilang dan pelaksanaan segenap keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ia membina dirinya untuk mewujudkan cita-cita luhur ini sebegitu rupa sehingga ia mampu memerangi dan menghilangkan kegelapan<em>, </em>menyingkirkan para sufi gadungan dan kaum yang bersikap permusuhan terhadap Imam Mahdi ajf.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kekuatan pergerakannya yang tak terbendung itu, seorang muslim akan menciptakan sebuah lingkungan yang siap membentuk pemerintahan tunggal alam semesta. Sehingga, ketika tiba masa kemunculan insan yang telah diciptakan Allah SWT dengan pesona kepribadian yang luhur ini, seluruh maksud dan tujuan Islam akan menjadi kenyataan, <em>Insya Allah</em>. Dialah Imam Mahdi ajf.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mukjizat Imam Mahdi</h3>
<p style="text-align: justify;">Dari sekian mukjizat Imam Mahdi ajf, di sini kita akan menyimak dua mukizat saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. Lolos dari Kejaran Penguasa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Thusi menukil riwayat dari seseorang yang bernama Rashiq, yang merupakan antek dari Khalifah Abbasiyah, Mu’tadhid. Ia bercerita, “Suatu hari Mu’tadhid memanggilku dan berkata, &#8216;Aku telah mendengar kabar bahwa di kediaman Hasan Al-&#8217;Askari ada seorang anak.&#8217; Ia menemaniku beserta dua orang anteknya yang lain. Ia berkata, ‘Bergegaslah pergi ke Samarra dan geledah rumah Hasan Al-Askari. Jika engkau temukan seorang anak muda di sana, bunuh dan bawa kepalanya kemari.’&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami pun bergegas menuju ke Samarra. Kami tiba di depan pintu Imam Hasan Al-Askari tanpa menjumpai sedikit pun rintangan di jalan. Kami melihat seorang budak sedang duduk di depan pintu. Kami masuk ke rumah tanpa lagi peduli pada si budak itu. Di sebuah sudut rumah yang indah itu, terdapat sebuah kamar yang menarik perhatian kami. Kami singkap tirai yang menghalangi. Kami temukan sebuah kamar besar yang penuh dengan air dan di kamar itu ada sebuah karpet yang menghampar dan seorang anak muda sedang sibuk mengerjakan salat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Salah seorang dari utusan Khalifah itu mencoba memasuki kamar itu. Namun, dengan seketika ia tenggelam. Kami berusaha dengan susah payah untuk menyelamatkannya. Si utusan itu pingsan akibat ulahnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Utusan yang lainnya juga mencoba memasuki kamar itu, dan seperti utusan yang pertama, ia pun tenggelam dalam air itu. Kami menyeretnya keluar. Ia juga jatuh pingsang. Beberapa saat berlalu, kedua utusan itu siuman. Dalam keadaan gemetar karena takut, kami menunggangi kuda dan beranjak meninggalkan rumah itu menuju istana Khalifah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami menemui Khalifah Mu’tadhid pada tengah malam. Ia dengan sengaja berjaga-jaga dan sedang menantikan kedatangan kami. Kami ceritakan kisah yang baru saja kami alami. Ia pun ikut ketakutan sebagaimana kami. Ia berkata, ‘Tidak seorang pun yang boleh tahu kejadian ini. Simpan baik-baik rahasia ini dan jangan katakan kepada siapa pun. Jika saja aku tahu bahwa kalian membocorkan rahasia ini kepada orang lain, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian.’</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga akhir hayatnya, Mu’tadhid tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk bercerita perihal kejadian itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Jumlah Uang dalam Kantong</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Sinan bercerita, “Sekelompok orang dari Qom berangkat menuju Samarra dengan membawa sejumlah uang untuk menjumpai Imam Hasan Al-Askari. Setibanya di sana, mereka baru tahu bahwa Imam Hasan Al-Askari telah wafat. Mereka tetap tidak percaya dan mulai berpikir tentang apa yang seharusnya dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hingga beberapa waktu, mereka diperkenalkan dengan seseorang yang bernama Ja’far, saudara Imam Hasan Al-Askari as. Ketika mereka menjelaskan maksud kedatangannya, Ja’far berkata, ‘Serahkan uang yang kalian bawa itu kepadaku, karena akulah pengganti Imam Hasan’. Mereka berkata, ‘Kami harus menanyakan kepada Imam jumlah uang yang kami bawa dan pemilik dari setiap kantong uang itu.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Cara demikian itu pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, Ja’far merasa malu dan berkata, ‘Kalian berdusta kalau saudaraku biasa menanyakan hal-hal seperti itu. Karena apa yang kalian tanyakan itu hanya dapat diketahui oleh Allah SWT, Sang Mahatahu, Sang Mahahadir di setiap tempat. Tidak satu pun orang yang dapat mengetahui hal itu selain-Nya.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Kafilah dari Qom itu tetap bersikeras dengan sikap mereka, sehingga membuat Ja’far mengadukan mereka kepada Khalifah. Khalifah memanggil mereka dan memerintahkan untuk menyerahkan uang itu kepada Ja’far. Mereka memohon kepada Khalifah, ‘Uang ini bukan milik kami. Uang itu adalah simpanan umat. Kami tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan uang ini kepada seseorang yang menjadi pengganti Imam Hasan as, dan jika tidak, kami akan mengembalikan uang ini kepada pemiliknya.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Khalifah menerima permohonan mereka dan membiarkan mereka pergi. Ketika kafilah Qom itu memutuskan untuk meninggalkan kota, seorang pemuda datang mendekat dan berkata, ‘Imam memanggil kalian semua untuk berjumpa dengan beliau.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Mendengar undangan itu, mereka sangat bersuka cita dan mengikuti pemuda itu menuju rumah Imam Hasan Al-Askari. Sesampainya di sana, kafilah itu menjumpai seorang pemuda, tanda-tanda dan aura Imamah nampak dari wajahnya. Mereka mengulangi pertanyaan sebagaimana yang telah dilontarkan kepada Ja’far.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam tersenyum dan berkata, &#8216;Duduklah. Aku dapat memberi tahu kepada kalian tentang isi setiap kantong ini berikut pemiliknya.&#8217; Lalu, Imam menyebutkan satu persatu pemilik kantong uang itu dan jumlahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami sangat bergembira melihat kenyataan bahwa kami telah menemukan siapa yang selama ini kami cari. Kami mengambil kantong uang itu dan menyerahkannya kepada Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">“Perjumpaan dengan Imam as adalah sebuah kesempatan emas untuk menanyakan masalah-masalah yang kami hadapi. Kami pun mengutarakan permasalahan-permasalahan dan dijawab oleh beliau dengan gamblang. Beliau memerintahkan kepada kami untuk tidak lagi membawa uang kepada beliau, dan meminta untuk menyerahkannya kepada wakil yang akan ditunjuk oleh beliau. Dan bila kami memiliki pertanyaan, kami mengirimnya kepada beliau dan beliau mengirim jawaban pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami pun pamit dari beliau. Kami bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat dan anugerah yang besar ini; dapat berjumpa dengan beliau.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Orang-orang Yang Bertemu Imam</h3>
<p style="text-align: justify;">Walaupun Imam Muhammad Al-Mahdi ajf tidak menunjukkan diri beliau kepada siapa pun secara langsung dalam masa <em>Ghaibah Kubra </em>ini, namun mereka yang memiliki jiwa yang suci dan bertakwa, sewaktu-waktu dapat berjumpa dan berbicara dengan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini kami akan sebutkan beberapa kejadian yang menceritakan perjumpaan mereka dengan Sang Imam ajf. Mereka itu antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ismail bin Hirqili Syamsuddin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syamsuddin bercerita, “Pernah ayahku berkisah tentang kakinya yang terluka dan kemudian terobati. Ketika masih muda, ayahku menderita luka dan infeksi pada bagian pahanya. Luka itu sungguh membuatnya tidak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Suatu hari ia berkunjung kepada salah seorang sahabatnya, Sayyid Raziuddin Thaus di Hillah, Irak. Sahabat itu membantunya dengan mengumpulkan para tabib untuk memeriksa dan mengobati luka infeksi itu. Akan tetapi, setelah para tabib itu memeriksa luka itu, mereka memberikan jawaban negatif. Mereka berkesimpulan bahwa paha yang terinfeksi karena luka itu harus segera di operasi. Resiko yang dapat terjadi adalah paha ayahku itu diamputasi atau ia akan mati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tahun berikutnya, Sayyid yang baik hati itu mengajak ayahku pergi ke Baghdad dan membawa beliau untuk diperiksa oleh para tabib di kota itu. Jawaban mereka atas pemeriksaan itu sama dengan jawaban tabib sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kesedihan, kekecewaan, dan rasa kecil hati menyelimuti perasaan ayahku ketika itu. Ia datang berziarah ke Haram Imam Al-Askari as di Samarra. Di Haram itu, beliau bermalam dan bertawassul untuk meminta pertolongan kepada Imam Zaman ajf.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tatkala fajar menyingsing, ia pergi ke arah Sungai Dajlah untuk membasuh pakaiannya sekaligus mandi, lalu kembali berziarah ke Haram Imam Al-Askari. Ayahku mengatakan, ‘Pada perjalananku kembali menuju Haram Imam Al-Askari, aku berjumpa dengan dua orang penunggang kuda. Semula, aku pikir mereka itu adalah orang-orang dari suku Badui. Mereka memberikan salam kepadaku. Salah seorang dari mereka berkata, &#8216;Mari mendekat kepadaku.&#8217; Karena aku telah membersihkan pakaianku, aku tidak mendekat kepada mereka. Aku lihat orang-orang Badui Arab itu kotor. Aku khawatir bajuku yang masih basah itu akan ternodai oleh tangan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">‘Selagi aku masih berpikir tentang mereka, tiba-tiba ia menarikku untuk mendekat padanya. Ia menempelkan tangannya pada lukaku yang membuatku mengerang kesakitan. Setelah beberapa saat, ia mengangkat tangannya dari pahaku yang terluka itu seraya berkata, &#8216;Ismail, sekarang engkau telah sembuh. Janganlah engkau bersedih dan berkeluh kesah lagi.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">‘Aku terkejut ketika orang itu memanggil namaku. Ia pergi meninggalkan aku yang masih termangu dan sibuk dengan pikiranku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">‘Aku yakinkan diriku bahwa orang itu adalah Imam Al-Mahdi ajf. Aku membuntuti beliau dan memohon padanya untuk berhenti. Tiba-tiba ia berbalik dan berkata kepadaku, &#8216;Ismail pulanglah.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">‘Aku tidak menghiraukan perkataannya itu. Aku tetap berlari mengejarnya. Orang yang beserta beliau dalam perjalanan itu turut berbicara, &#8216;Wahai Ismail pulanglah. Apakah engkau tidak merasa malu mengabaikan perintah Imam Mahdi?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">‘Mendengar perkataan orang tersebut, dugaanku benar bahwa beliau adalah Imam Mahdi dan Sang Pelindung Umat.</p>
<p style="text-align: justify;">‘Aku pun berhenti dan menatap beliau pergi. Selang beberapa saat kemudian mereka telah menjauh dan menghilang dari pandanganku.’</p>
<p style="text-align: justify;">Syamsuddin menuturkan, “Sejak hari itu ayahku menjadi lebih sering ke Samarra. Namun sayang, beliau tidak melihat Imam lagi hingga akhir hayat beliau dengan asa dan kerinduan untuk bersua lagi dengan Imam Mahdi ajf.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Sayyid Muhammad Jabal Amili</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sayyid Muhammad Jabal Amili menuturkan perjalanannya kepada seorang sahabatnya. Ia berkata, “Setahun aku dalam perjalanan ke Masyhad. Karena tidak memiliki uang yang cukup, aku menjadi sangat susah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hingga pada suatu waktu, sebuah kafilah bergerak. Namun karena aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan, aku pergi berziarah ke Haram (pusara) Imam Ridha di Masyhad dan mengadukan kesulitanku kepada beliau. Dengan perut kosong menahan lapar, aku tetap mengejar kafilah itu. Sebab, jika aku berdiam diri di kampungku pada musim dingin, aku akan mati kedinginan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku berusaha berlari mengejar kafilah itu, tetapi aku justru kehilangan arah. Aku tersesat jalan dan mendapati diriku di tengah padang sahara yang panas membakar. Karena rasa lapar, aku sama sekali tidak lagi kuasa menggerakkan badanku. Aku berusaha mencari tumbuh-tumbuhan sahara dan rerumputan gurun pasir untuk mengganjal perutku yang kosong. Namun aku sama sekali tidak dapat menggerakkan badanku, apalagi untuk menemukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hingga malam pun tiba dan kegelapan menyelimuti padang sahara. Raungan binatang buas, dengungan hewan-hewan padang pasir membuatku tercekam rasa takut. Aku menjerit menangis dan pasrah menanti maut yang sebentar lagi akan datang menjemputku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak lama setelah bulan menampakkan dirinya dan suara bising kawanan hewan-hewan sahara itu berhenti, tiba-tiba aku menangkap bayangan sebuah bukit kecil, tumpukan bukit pasir. Aku berusaha mengangkat kaki menuju tempat itu. Aku melihat ada sumur di sana. Aku menimba air dari sumur itu untuk melepaskan dahagaku dan mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat. Namun aku tak lagi berdaya sama sekali. Aku tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk bergerak karena menahan rasa lapar. Aku merangkak ke tempat itu untuk tidur dan pasrah menantikan ajalku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tiba-tiba, aku melihat seseorang datang menunggang kuda, bergerak ke arahku. Aku berpikir, orang ini barangkali salah seorang dari kawanan rampok padang pasir. Aku tidak memiliki sesuatu apapun sehingga ia akan membunuhku dan membebaskanku dari rasa lapar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ketika orang itu tiba di dekatku, ia menyampaikan salam kepadaku. Aku menjawab salamnya itu. Dan dengan salamnya itu tertepislah dugaanku. Ternyata, ia bukanlah dari kawanan rampok padang pasir.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia bertanya, ‘Apa yang sedang kau cari?’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki. Aku mengatakan bahwa aku lapar dan tersesat jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia berkata, ‘Engkau memiliki buah melon di sampingmu. Mengapa engkau tidak memakannya?’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku yang tadinya mencari kesana-kemari sesuatu yang dapat aku makan, berpikir bahwa ia sedang bercanda. Aku berkata padanya, ‘Anda jangan bergurau. Tinggalkanlah aku sendirian menanti ajal kan tiba.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia berkata, ‘Aku tidak bercanda. Lihat apa yang di sampingmu!’</p>
<p style="text-align: justify;">“Kulihat, ada tiga buah melon tergeletak di sebelahku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia berkata, ‘Makanlah satu dari buah melon itu dan sisanya engkau simpan sebagai bekal perjalananmu dan tempuhlah jalan ini. (Orang itu menunjukkan jalan kepadanya, <em>penj.</em>). Menjelang matahari tenggelam, engkau akan sampai di sebuah kemah. Merekalah yang akan menuntun jalan untukmu sampai pada kafilah yang engkau ingin susul.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Setelah berkata-kata, orang itu pun menghilang. Seketika aku mengerti bahwa orang itu adalah Imam Mahdi ajf.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesuai dengan petunjuknya, aku makan satu dari buah melon itu. Aku merasa sedikit pulih dan kuat untuk melanjutkan perjalanan. Pada hari berikutnya, aku makan lagi satu dari buah melon itu dan kembali melanjutkan perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebagaimana yang beliau katakan, sebelum Maghrib aku berhasil tiba di kemah yang dimaksudkan oleh beliau. Orang-orang yang berada di kemah itu mengajakku masuk ke dalam dan mereka menjamuku dengan ramah. Setelah itu, mereka menunjukkan jalan kepadaku untuk dapat menyusul kafilah.”</p>
<h3 style="text-align: center;">Mungkinkah Berusia Sepanjang Itu?</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, ilmu pengetahuan—seperti Fisiologi—menegaskan ihwal raga manusia yang tersusun dari miliaran sel. Dengan berlalunya waktu, sel-sel tersebut menjadi tua, usang, lalu punah, digantikan oleh sel-sel yang lebih muda. Demikianlah bagaimana daur kehidupan berputar<em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sesuatu yang menjadikan manusia menjadi usang, menghentikan sel-sel itu dari aktifitasnya, dan dapat membawa kematian kepada manusia adalah bakteri dan virus yang berbahaya yang menerobos masuk ke dalam raga manusia dengan berbagai cara dan menyerang sel-sel aktif itu, lalu membinasakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu Kedokteran (pencegahan dan pengobatan penyakit) merupakan bukti yang kuat, bahwa jika manusia menguasai ilmu pengetahuan dengan sempurna, mengenal dengan baik keadaan tubuhnya dan zat-zat yang berbahaya, merawat kesehatannya dan teliti dalam memilih makanan, maka hidupnya di dunia ini akan berlangsung lama. Ia tidak akan segera mengalami ketuaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pandangan para ilmuwan, mereka telah mampu memperpanjang kehidupan beberapa hewan melalui beberapa eksperimen. Dengan cara seperti ini dan berkat manfaat ilmu pengetahuan yang semakin menyebar dan menerapkan pola dan aturan kesahatan yang ketat, manusia dapat hidup lebih lama hingga beberapa abad.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ilmuwan telah sekian tahun berusaha mencari dan menyingkap tirai ilmu pengetahuan, untuk sekedar mengenal sekelumit dari rahasianya. Akan tetapi, Imam Mahdi ajf menerima anugerah seluruh khazanah ilmu pengetahuan itu. Dengan anugerah Ilahi itulah beliau tidak kesulitan untuk melintasi jalan-jalan yang ditempuh oleh para ilmuwan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cara seperti ini, tidak akan menjadi mustahil—dari sudut pandang ilmu pengetahuan—bahwa Imam Mahdi ajf dengan keluasan ilmu yang diberikan Allah SWT kepadanya, dapat menjalani hidupnya untuk ratusan tahun dengan tetap sehat dan muda. Ketuaan dan kerentaan tidak berlaku padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, usia panjang Imam Mahdi tidak begitu ajaib daripada dipadamkannya api Namrud oleh Nabi Ibrahim as, dibelahnya sungai Nil oleh Nabi Musa as dan diubahnya beberapa orang menjadi ular. Semua itu menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkenaan dengan masalah ini, Al-Qur’an dan sejarah umat manusia memberikan teladan dan contoh beberapa nabi yang berusia panjang, dan juga termasuk orang-orang biasa. Sebagai contoh, Nabi Nuh as yang telah hidup selama 950 tahun, atau Lukman as yang telah hidup selama 400 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga Bukht Nashr mampu hidup selama 1507 tahun, Nabi Sulaiman selama 712 tahun, dan Raja India, Firoze Rai selama 537 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Fakta-fakta yang tersebut di atas tadi merupakan bukti bahwa lamanya hidup seseorang di dunia tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Dan ini bisa saja terjadi di setiap zaman.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Bagaimana Imam Al-Mahdi Mengungguli Kekuatan Dunia?</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika para pemikir dan orang-orang pintar dunia sibuk dalam perlombaan senjata-senjata pemusnah massal, tampaknya tidak ada tanda-tanda perdamaian. Dunia ini tetap saja membara dengan peperangan dan ketidakadilan. Kutub-kutub kekuatan dunia terus berambisi untuk meluaskan kekuasaan dan wilayahnya melalui campur tangan perang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan keadaan dan kondisi yang menguatirkan dan mengenaskan ini, kerusakan semakin merejalela dalam kehidupan umat manusia, dan dosa serta kejahatan terus meluas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keadaan seperti ini, medan penyambutan sebuah pemerintahan yang adil dan bebas dari perang serta agresi akan menjadi kenyataan. Seluruh bangsa-bangsa akan merasa jenuh dan muak dengan kezaliman pemerintahan mereka yang hanya memikirkan pengembangan kejahatan dan ketidakadilan yang membuat dunia runtuh. Persis sebagaimana kemunculan bintang cerlang Islam di daerah Hijaz, pun demikian setelah lima abad dalam kubangan tirani Jahiliyyah, adalah sebuah medan yang patut dipersiapkan untuk menyambut kemunculan Nabi Islam Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat yang teraniaya bersiap-siap menerima Islam dan panggilan Tauhid Allah serta Keadilan Nabi saw. Sekelompok manusia menerima Islam sebagai panji pergerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita amati revolusi-revolusi yang meletus di seluruh dunia, kita temukan bahwa keberhasilan para pemimpin mengusung sebuah revolusi adalah landasanguna mewujudkan medan dalam sebuah masyarakat yang menumbuhkan kekecewaan dan kebencian besar mereka terhadap para penguasa zalim akibat pemerintahan mereka yang tidak adil. Medan semacam ini akan mengantarkan para pemimpin sampai kepada tampuk kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan keyakinan itu, revolusi Imam Mahdi akan terlaksana secara alami, yang seiring dengan munculnya medan yang siap dan memadai di tengah masyarakat. Karena, revolusi agung Imam Mahdi akan bersifat global dan tidak terbatas pada suatu tempat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dunia harus bersedia untuk menyongsong revolusi agung itu di tengah keadaan mereka saat itu sesuai dengan apa yang disingkapkan oleh Rasulullah saw, “Kekejaman, kedurjanaan, dan kerusakan akan merajalela di seluruh dunia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tekanan yang hebat dari pemerintahan zalim akan membuat bangsa-bangsa menjadi hulu ledak yang besar, sehingga mereka akan saling bahu-membahu menghadapinya. Dan masyarakat yang selama ini diperlakukan secara tidak adil dan tidak beradab akan memenuhi panggilan nurani mereka. Ibarat buah yang matang di pohonnya, akan jatuh ke tanah hanya dengan sedikit goyangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi seperti ini, seluruh kekuatan dunia, betapapun mereka dilengkapi dengan persenjataan militer yang canggih, tidak akan dapat membendung dan menghentikan kebangkitan dan revolusi agung ini, meskipun dengan cara pembantaian massal.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat dunia menghadapi kekalahan dan kelesuan jiwa, mereka membutuhkan seorang pemimpin yang luar biasa<em>.</em> Yaitu, seorang pemimpin yang lengkap dengan pengetahuan, kesadaran sejarah, mengenal seluruh tingkat kebudayaan manusia dengan baik, dan bergaul aktif secara langsung, serta sanggup mengamati secara cermat akan perubahan-perubahan sejarah dan seluruh kejahatan-kejahatan di masa lampau.</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah yang menjadi hujjah dan penegak amanah Ilahi yang menyerukan janji keadilan dan kemanusiaan di bumi, menghimpun orang-orang yang tertindas di seluruh dunia untuk meruntuhkan pemerintahan-pemerintahan penindas. Daripada meluangkan tenaga demi pemusnahan dan penghancuran satu sama lainnya, mereka menggalang persatuan secara menata, sehingga mendapatkan tenaga dan sumber-sumbernya demi kemakmuran dan kesejahteraan satu sama lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah Imam Al-Mahdi ajf yang akan mewujudkan sebuah dunia yang bebas dari rasa takut, cemas dan memenuhinya dengan berkat dan rahmat.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Al-Mahdi</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama             : Muhammad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar              : Al-Hadi, Al-Mahdi dan Al-Qa&#8217;im.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Julukan       : Abul Qasim.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah               : Imam Hasan Al-Askari as.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                   : Nargis Khatun.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran    : Samarra, 256 Hijriah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>sumber al-shia,org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/imam-al-mahdi-janji-keadilan-sedunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM HASAN AL-‘ASKARI, PEMBINA GENERASI UNGGUL</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/imam-hasan-al-%e2%80%98askari-pembina-generasi-unggul/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/imam-hasan-al-%e2%80%98askari-pembina-generasi-unggul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 23:10:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam hasan al-askari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Hasan Al-‘Askari as adalah imam ke-11 dari 12 silsilah imam Ahlulbait. Beliau dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 232 Hijriah dan meninggal syahid di Samara tahun 260 H.
Ayah beliau ialah Imam Ali Al-Hadi as, sedangkan ibu beliau bernama Susan.
Beliau as menjadi imam (pemimpin umat) pada usia 22 tahun dan hidup pada masa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/imam-hasan-al-askari.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-450" title="imam hasan al-askari" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/02/imam-hasan-al-askari.jpg" alt="" width="161" height="188" /></a>Imam Hasan Al-‘Askari as adalah imam ke-11 dari 12 silsilah imam Ahlulbait. Beliau dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 232 Hijriah dan meninggal syahid di Samara tahun 260 H.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah beliau ialah Imam Ali Al-Hadi as, sedangkan ibu beliau bernama Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau as menjadi imam (pemimpin umat) pada usia 22 tahun dan hidup pada masa yang penuh dengan kesulitan dan berbagai macam tipu daya. Setelah sang ayah wafat, Imam as hidup selama 6 tahun, dan sepanjang itulah masa kepemimpinannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa Imam as, khalifah Abbasiyah Al-Mu’taz tewas di tangan orang-orang Turki. Lalu, mereka mengangkat Al-Muhtadi sebagai penggantinya, yang tak lama kemudian juga tewas dibunuh. Seteleh itu, khilafah Abbasiyah jatuh ke tangan Al-Mu’tamid.</p>
<p style="text-align: justify;">Panggilan Imam Hasan as ialah Abu Muhammad. Orang-orang mengenalnya dengan berbagai julukan, seperti Al-Hadi, Az-Zaki, An-Naqi, dan Al-Khalish. Julukan beliau yang paling masyhur adalah Al-‘Askari, karena beliau as tinggal di sebuah tempat yang disebut Al-‘Askar. Selain itu, beliau juga dikenal dengan panggilan Ibn Ar-Ridha.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin Khaqan pernah mengenang baik Imam as, padahal ia termasuk pembenci Ahlulbait as. Katanya, “Aku tidak melihat di antara keluarga Alawiyyin (keturunan Imam Ali as) di Samara seperti Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali Al-Ridha as. Dan aku tidak menemukan orang sebanding dengannya dalam pengorbanan, kesederhanaan, kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kedermawanan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dia juga mengatakan, “Seandainya khilafah ini lepas dari tangan-tangan Bani Abbasiyah, maka tidak ada yang layak menjadi khalifah di antara Bani Hasyim selain Hasan bin Ali as, karena kepribadiaannya yang luhur, akhlaknya yang mulia, dan pikirannya yang brilian.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tersebarnya kerusakan dan kebobrokan di dalam negeri serta pengaruh besar orang-orang Turki di kalangan para pejabat tinggi negara, semua itu menjadi penyebab munculnya pemberontakan masyarakat terhadap pemerintahan Abbasiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, orang-orang Alawiyah tidak tinggal diam. Mereka juga mengadakan pemberontakan di berbagai tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan bin Zaid Al-Alawi telah mengadakan pemberontakan di daerah Tabaristan dan berhasil menguasainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga di Basrah, telah terjadi pemberontakan yang disebut dengan “Tsaurah Zanj” yang pemimpinnya mengaku sebagai salah satu keturunan Ahlulbait. Pemberontakan itu dilakukannya dengan sangat keji, hingga ia membunuh anak-anak dan para wanita. Kemudian Imam Hasan Al-‘Askari as mengumumkan kepada masyarakat luas, bahwa pemimpin pemberontakan “Tsaurah Zanj” itu bukanlah dari keturunan Ahlulbait as.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan Al-‘Askari as menghadapi situasi yang sangat sulit. Seringkali beliau dijebloskan ke dalam penjara. Para khalifah telah menugaskan penjaga-penjaga yang bengis untuk mengawasinya. Tapi dalam tempo yang singkat, banyak dari mereka yang malah terpengaruh oleh akhlak luhur Imam as, hingga mereka menemukan kembali suara fitrahnya yang bersih dan menjadi orang-orang yang saleh.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu waktu, Imam Hasan as dijebloskan ke dalam kandang serigala. Tapi amat mengejutkan! Kawanan serigala itu tampak gembira dengan kehadiran beliau. Mereka memain-mainkan ekornya ke telapak kaki Imam as, dan terkadang mereka sentuhkan badannya dengan kaki beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penganut agama Kristen pernah bertemu Imam Hasan Al-‘Askari as dan ia merasa bahwa Tuhan bersama beliau. Ia pun masuk Islam di hadapan Imam as. Tatkala ditanya alasan keislamannya, ia menjawab, “Aku melihat sifat-sifat Isa Al-Masih as tampak pada dirinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kebanyakan wasiat-wasiat Imam Hasan Al-‘Askari as berkisar pada masalah keadilan, kemuliaan, dan pengorbanan. Beliau senantiasa memperingatkan kaum muslimin akan kezaliman dan penindasan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Keluasan Ilmu Imam</h3>
<p style="text-align: justify;">Mazhab Ahlulbait telah tersebar dengan pesat. Pada masa Imam Hasan Al-‘Askari as, berbagai gerakan ilmiah dan semangat ilmu pengetahuan bermunculan.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as melakukan pengajaran di Kufah, Baghdad, dan Hijaz. Kota Qom merupakan salah satu kota yang masyhur sebagai pusat pengembangan ilmu agama. Ilmu beliau laksana samudera, di mana lebih dari 18000 sarjana yang menimba ilmu kepada beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang dekat khalifah Abbasiyah Al-Mu’taz yang bernama Muhammad bin Mas’ud Asy-Syirazi menuturkan, “Hasan Al-‘Askari telah mencapai ketinggian ilmunya, hingga menjadikan Al-Kindi—guru Al-Farabi—membakar bukunya sendiri setelah beliau melihat dan mengoreksi kandungan-kandungannya yang tidak lagi sesuai dengan ajaran Islam.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Hasan dan Seorang Pendeta</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu masa, kota Samarra pernah dilanda kekeringan. Khalifah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan shalat Istisqa’. Masyarakat menyambutnya dan keluar berbondong-bondong untuk melakukan shalat sampai tiga hari. Akan tetapi, kondisi kota tidak kunjung berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari keempat, Jastliq pergi bersama para pengikutnya, para pendeta, dan orang-orang Kristen ke tengah padang sahara. Salah satu pendeta mengangkat tangannya sambil berdoa. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan sangat lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat kejadian ini, orang-orang menjadi ragu atas kebenaran Islam, padahal ia adalah agama yang paling utama. Sebagian dari mereka berkata, “Sekiranya orang-orang Nasrani itu berada dalam kebatilan, niscaya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa mereka.” Lantas sebagian muslimin berpikir untuk memeluk agama Nasrani.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, Imam Hasan Al-‘Askari as ada dalam penjara. Pengawal khalifah mendatanginya dan berkata, “Temuilah umat kakekmu Muhammad saw, karena mereka telah meragukan agama Allah SWT.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan lain, Jastliq beserta para pendeta dan Imam Hasan as pergi ke tengah padang pasir. Imam as senantiasa mengawasi keadaan mereka dengan baik. Kemudian beliau melihat salah satu dari pendeta tersebut mengangkat tangannya yang kanan. Segera beliau memerintahkan sebagian budaknya untuk memegang tangan pendeta tadi dan melihat apa yang ada di telapaknya. Mereka pun lekas memegang tangan pendeta dan mereka melihat tulang hitam di antara jari-jarinya. Kemudian, Imam as mengambilnya lantas berkata pada pendeta tersebut, “Sekarang berdoalah untuk meminta hujan!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeta itu kembali mengangkat tangannya dan berdoa. Saat itu langit sudah mulai mendung. Tiba-tiba mendung menghilang dan berubah menjadi awan dan matahari yang mulai memancarkan sinarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Khalifah bertanya pada Imam Hasan Al-‘Askari as tentang rahasia tulang tadi. Beliau menjawab, “Pendeta ini pernah melewati salah satu kuburan nabi-nabi terdahulu. Kemudian ia dapati tulang ini, dan hujan lebat akan turun dari langit seketika tulang itu disingkapkannya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Dakwah dan Pendidikan</h3>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan bahwa ada seorang pemuda keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq as tinggal di kota Qom. Ia suka minum khamer. Pada suatu hari, ia pergi ke rumah Ahmad bin Ishak Al-Asy’ari, seorang wakil Imam Hasan Al-‘Askari as. Namun, Ahmad tidak mengizinkan pemuda itu masuk, karena ia telah mengetahui akhlaknya. Pemuda itu kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih atas perlakuannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu saat, Ahmad bin Ishak hendak pergi menunaikan ibadah haji. Tatkala ia sampai di Madinah dan ingin berjumpa dengan Imam Hasan as, ia meminta izin untuk bisa masuk dan bertemu dengan beliau. Akan tetapi, Imam as tidak mengizinkannnya. Ia pun merasa sedih dan bersipuh di depan pintu sehingga Imam as mengizinkannya masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin Ishak bertanya kepada Imam as tentang alasan beliau tidak mengizinkannnya masuk tadi. Imam as menjawab, “Sungguh aku telah memperlakukanmu sebagimana kamu telah memperlakukan anak pamanku. Aku melarangmu sebagaimana kamu melarangnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin Ishak berkata, “Tuanku, sesungguhnya ia suka minum khamer. Aku menolaknya, karena itu aku bermaksud untuk mengingatkannnya agar bertaubat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan Al-‘Askari as menjawab, “Bila kau ingin memberikan pelajaran padanya, tidaklah demikian caranya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Ahmad bin Ishak kembali ke Qom dan orang-orang mengucapkan selamat kepadanya. Tatkala pemuda itu menemuinya, ia pun bangun menyambutnya dan merangkulnya begitu hangat serta mendudukkannya di sampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda yang bernama Abul Hasan itu malah terheran-heran melihat perlakuan Ahmad kali ini. Kemudian ia bertanya tentang sebab penolakannya kemarin dan penyambutannya yang hangat terakhir ini. Maka, Ahmad menceritakan pengalamannya sewaktu hendak menjumpai Imam Hasan Al-‘Askari as di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai cerita itu, Abul Hasan menundukkan kepalanya karena malu. Seketika itu ia bertekad untuk segera bertaubat. Sekembalinya ke rumah, ia pecahkan kendi-kendi khamer, dan senantiasa pergi ke masjid.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Dua Kisah Menarik</h3>
<p style="text-align: justify;">• Sewaktu Imam Hasan Al-‘Askari as berada dalam sebuah penjara yang dikepalai oleh Shaleh bin Washif, Khalifah Abbasiyah memerintahkan agar memperketat pengawasan dan penjagaannnya atas beliau. Shaleh mengeluhkan, “Apalagi yang harus aku lakukan, padahal aku telah menugaskan dua makhluk Allah yang paling untuk menjaganya. Tetapi mereka berdua justru menjadi tekun shalat dan beribadah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ia memanggil kedua penjaga tersebut. Kepada mereka ia bertanya, “Apa yang kalian ketahui tentang laki-laki ini (Imam as)?”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan tentang seseorang yang senantiasa menghabiskan siangnya dengan berpuasa, dan melewatkan malamnya dengan bertahajud. Dia tidak berbicara dan bekerja selain ibadah.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Tatkala orang-orang Turki berhasil menciptakan pengaruh besar di dalam pemerintahan Abbasiyah dan mempermainkan khalifahnya, mereka membunuh setiap orang yang mereka curigai, bahkan mereka dapat menentukan khalifah yang mereka kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Al-Mu’tamid menjadi khalifah, dia berbuat sewenang-wenang, karena dia sendiri tidak tahu berapa lama dia akan memerintah; 3 bulan ataukah lebih. Namun, ia mengetahui betul kedudukan Imam Hasan Al-‘Askari as di sisi Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, pada suatu hari, Al-Mu’tamid menghadap Imam as dan memohon kepadanya supaya Allah memanjangkan umurnya. Imam as pun mendoakannya, sehingga ia pun tetap duduk sebagai khalifah selama lebih dari 20 tahun.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Orang Bijak dari Irak</h3>
<p style="text-align: justify;">Ishak Al-Kindi adalah seorang filsuf Irak yang telah menulis sebuah buku tentang pertentangan antar ayat-ayat Al-Qur’an. Salah seorang muridnya datang menghadap Imam Hasan Al-‘Askari as. Kepadanya beliau bertanya, “Adakah di antara kalian yang berani untuk mengkritik pendapat guru kalian, Al-Kindi tentang sanggahan dan keraguannya terhadap Al-Qur’an?”</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang muridnya mengatakan, “Aku tidak mampu menyanggahnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as berkata, “Katakan kepadanya, bahwa aku punya masalah dan aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Yaitu, bila ada seorang yang membacakan Al-Qur’an di hadapanmu, apakah mungkin maksud ayat-ayat yang dibacanya itu berbeda dengan maksud yang kau dengar darinya? Dia pasti akan mengatakan, ‘Tentu, sangat mungkin itu, karena ia adalah seorang yang dapat memahami apa yang telah ia dengar.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Apabila ia menjawab seperti itu, katakan lagi padanya, ‘Bagaimana Anda bisa memastikan itu, padahal mungkin saja dia memahami maksud yang berbeda dengan yang kau pahami? Dengan begitu, maka kamu telah meletakkan maksud bukan pada tempat yang semestinya.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Si murid menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada gurunya, Al-kindi. Selekas menyimak, ia meminta muridnya untuk mengulang pertanyaan. Sang murid pun mengulangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Al-Kindi malah menundukkan kepala sambil berpikir. Akhirnya ia sadar bahwa hal tersebut memang mungkin terjadi dalam bahasa dan bisa diterima oleh akal. Dengan kesadaran ini, pandangannya tentang Al-Qur’an tampak begitu lemah dan rapuh. Lalu, ia bangkit dan membakar bukunya tersebut.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Surat untuk Seorang Sahabat</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka menasehati para sahabatnya, Imam Hasan Al-‘Askari as banyak menulis surat yang dikirimkan kepada mereka. Di antaranya, surat berikut ini yang dikirimkan kepada Ali bin Husain bin Babaweh Qumi, “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Akibat baik bagi orang-orang yang bertakwa, surga bagi orang-orang yang mengesakannya, dan neraka bagi orang-orang yang mengingkarinya, serta tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang zalim.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tiada Tuhan selain Allah, Dialah sebaik-baik pencipta. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada sebaik-baik mahluk-Nya, Muhammad saw dan keluarganya yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu harus besabar dan menanti kedatangan Al-Mahdi, karena Rasulullah saw telah bersabda,<strong> </strong>‘Amalan umatku yang paling utama adalah menanti kehadiran Al-Mahdi.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Syi’ah kami akan senantiasa dalam kesedihan hingga muncul anakku, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi, bahwa ia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bersabarlah wahai Syi’ahku! Ya Abul Hasan, sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah yang telah diwariskan untuk hambanya yang dikehendaki. Dan akibat yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Salam atasmu dan seluruh Syi’ah kami. Semoga rahmat dan berkah Allah meliputimu dan Syi’ah kami. Akhirnya, semoga Allah SWT merahmati Muhammad dan keluarganya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hari Kesyahidan</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika diboyong oleh sang ayah ke Samarra, Imam Hasan Al-‘Askari as baru berusia 4 tahun. Semenjak itu pula beliau selalu diawasi secara ketat oleh pemerintahan Abbasiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali Imam as dijebloskan dalam penjara, sampai akhirnya beliau diracun dan meninggal syahid pada tanggal 8 Rabiul Awwal 260 H. Beliau dimakamkan di samping ayahnya, Imam Ali Al-Hadi as, di kota Samarra.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan Al-‘Askari as senantiasa berada dalam pengawasan para penguasa, karena adanya riwayat-riwayat dari Nabi saw yang menguatkan, bahwa Al-Mahdi as adalah Imam ke-12 dan dia adalah anak dari Imam Hasan Al-‘Askari. Sebab itulah para penguasa merasa takut akan kemunculannya yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan. Akan tetapi, Imam Hasan Al-‘Askari as telah berhasil merahasiakn putranya itu, betapa pun sulitnya keadaan waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski demikian, saudara Imam Hasan Al-‘Askari as yang bernama Ja’far Al-Kaddzab berusaha untuk menunggu kesempatan guna menyatakan dirinya sebagai imam setelah wafatnya beliau dengan dukungan orang-orang Bani Abbasiyah. Akan tetapi, Allah SWT menggagalkan seluruh makar dan muslihatnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Imam Mahdi as muncul secara tiba-tiba, yang saat itu beliau masih kecil, dan datang untuk menyalati jenazah ayahnya, banyak orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Dengan begitu, mereka mengimani kepemimpinannya. Mereka pun percaya bahwa dialah Imam Al-Mahdi ajf yang dinanti-nantikan.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Imam Hasan Al-‘Askari</h3>
<p style="text-align: justify;">• “Tidak ada kemuliaan bagi orang yang meninggalkan kebenaran, dan tidak ada kehinaan bagi orang yang mengamalkannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih unggul di atas keduanya: iman kepada Allah dan kawan yang bermanfaat.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Keberanian seorang anak terhadap orang tuanya di masa kecil akan mendorongnya kepada kedurhakaan terhadapnya di saat dewasa.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Bukan termasuk kebajikan menampakkan kegembiraan di hadapan seorang yang sedih.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Cukup bagimu sebuah pelajaran yang menjauhkanmu dari segala yang tidak kau sukai dari orang lain.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Seluruh keburukan telah terkumpul dalam satu rumah, dan kuncinya adalah dusta.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Hasan Al-‘Askari</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama             : Hasan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panggilan   : Abu Muhammad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar              : Al-‘Askari.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah              : Imam Ali Al-Hadi as.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                  : Susan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran   : Madinah, 232 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wafat             : 260 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam         : Samarra, Irak.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>sumber al-shia.org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/02/02/imam-hasan-al-%e2%80%98askari-pembina-generasi-unggul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM ALI AL-HADI, TEGUH DI ATAS KEBENARAN</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ali-al-hadi-teguh-di-atas-kebenaran/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ali-al-hadi-teguh-di-atas-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 11:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam ali al-hadi]]></category>
		<category><![CDATA[imam hadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Ali Al-Hadi as dilahirkan pada 15 Dzulhijjah 212 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kesepuluh dari silsilah imam Ahlulbait as.
Ayah beliau ialah Imam Muhammad Al-Jawad as, dan ibu beliau berasal dari Maroko bernama Samanah; seorang wanita yang mulia dan bertakwa.
Ketika sang ayah syahid akibat diracun, Imam Al-Hadi as baru berusia 8 tahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam_hadi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-442" title="imam_hadi" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam_hadi-300x284.jpg" alt="" width="222" height="200" /></a>Imam Ali Al-Hadi as dilahirkan pada 15 Dzulhijjah 212 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kesepuluh dari silsilah imam Ahlulbait as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah beliau ialah Imam Muhammad Al-Jawad as, dan ibu beliau berasal dari Maroko bernama Samanah; seorang wanita yang mulia dan bertakwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sang ayah syahid akibat diracun, Imam Al-Hadi as baru berusia 8 tahun. Pada usia yang masih sangat dini itu pula beliau memegang amanat Imamah (kepemimpinan Ilahi atas umat manusia).</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang memanggil Imam as dengan berbagai julukan, antara lain Al-Murtadha, Al-Hadi, An-Naqi, Al-’Alim, Al-Faqih, Al-Mu’taman, At-Thayyib. Yang paling masyhur di antara semua julukan itu adalah Al-Hadi dan An-Naqi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Akhlak Luhur Imam</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Al-Hadi as senantiasa menjalani kehidupannya dengan zuhud dan ibadah kepada Allah SWT. Di dalam sebuah kamar yang hanya dihiasai oleh selembar tikar kecil, beliau menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menyambut orang-orang begitu ramah, berbelas kasih kepada orang-orang fakir, dan membantu orang-orang yang membutuhkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, Khalifah Al-Mutawakkil mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar kepada beliau. Beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan lain, Al-Mutawakil jatuh sakit sehingga para dokter pribadi khalifah kebingungan bagaimana mengobatinya. Lalu, ibu Al-mutawakil mengutus menterinya ,Al-Fath bin Khaqan untuk menemui Imam Ali as. Beliau segera memberinya obat yang reaksinya sangat cepat sekali, sehingga para dokter khalifah itu tercengang melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas kesembuhan putranya, ibu khalifah mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar sebagai hadiah kepada Imam as, dan beliau pun membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kisah Batu Cincin</h3>
<p style="text-align: justify;">Yunus An-Naqasi masuk datang ke rumah Imam Ali Al-Hadi as. Dalam keadaan gemetar ketakutan, ia berkata kepada beliau, “Wahai tuanku, seseorang dari istana telah datang kepadaku dengan membawa sepotong batu Firuz yang sangat berharga sekali. Ia memintaku untuk mengukirnya. Namun, ketika aku sedang melakukannya, batu tersebut terbelah jadi dua, padahal besok siang aku harus mengembalikannya. Bila dia tahu akan hal itu, pasti dia akan marah padaku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menenangkannya dan berkata, “Jangan kuatir! Tidak akan ada keburukan yang akan menimpamu. Bahkan, dengan izin Allah SWT engkau akan mendapatkan kebaikan darinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari berikutnya, ajudan Khalifah datang dan berkata, “Sungguh aku telah mengubah pandanganku. Kalau sekiranya kamu bisa memotongnya menjadi dua, aku akan menambah upahmu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pengukir tersebut berpura-pura berpikir padahal hatinya sangat bergembira. Kemudian berkata, “Baiklah, akan aku coba pesananmu itu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, pengawal Khalifah berterima kasih pada pengukir tersebut. Dari sana, pengukir itu bergegas menemui Imam Ali as untuk menumpahkan rasa terima kasih kepadanya. Dalam keadaan itu, Imam as berkata kepadanya, “Sungguh aku telah berdoa kepada Allah, semoga Dia memperlihatkan kebaikan khalifah kepadamu dan melindungimu dari kejahatannya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Al-Mutawakkil</h3>
<p style="text-align: justify;">Setelah Khalifah Al-Mu’tashim meninggal, kedudukannya digantikan oleh khalifah Al-Watsiq yang masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun 6 bulan. Setelah itu, pemerintahan jatuh ke tangan Al-Mutawakkil.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, kerusakan dan kezaliman telah mewabah di mana-mana. Pengaruh orang-orang Turki dalam kekhalifahan sangat kuat dan luas sekali, sehingga mereka menjadi pengendali jalannya roda pemerintahan dan khalifah Al-Mutawakkil pun menjadi alat permainan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu, kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar. Ia memerintahkan agar membuat sungai di atas makam Imam Husain as dan melarang kaum muslimin untuk menziarahi makamnya. Bahkan, ia telah membunuh banyak peziarah, sampai digambarkan dalam sebuah syair:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Demi Allah, bila Bani Umayyah telah melakukan pembunuhan </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>terhadap putra dan putri Nabinya secara teraniaya, </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>kini keluarga saudara ayahnya (Bani Abbas) melakukan hal yang sama. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maka esok lusa demi Allah ia akan menghancurkan kuburnya. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mereka menyesal bila seandainya saja tidak ikut serta membunuhnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tak segan lagi, Al-Mutawakkil melakukan pengawasan yang ketat terhadap Imam Ali Al-Hadi as di Madinah. Mata-mata khalifah senantiasa mengintai setiap langkah Imam as, lalu melaporkan padanya setiap gerak dan pembicaraanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mutawakkil merasa kuatir sekali setelah tahu kepribadian dan kedudukan Imam as di tengah-tengah masyarakat. Mereka begitu menghormati dan mencintainya, karena beliau berbuat baik kepada mereka dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mutawakkil mengirim Yahya bin Harsamah sebagai utusan khusus untuk menghadirkan Imam Ali as. Segera ia memasuki kota Madinah. Sementara itu, berita tentang rencana jahat Al-Mutawakkil telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, hingga orang-orang berkumpul di seputar tempat tinggal utusan khusus itu, sebagai bentuk kepedulian dan kekuatiran mereka atas apa yang akan terjadi pada diri Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pengkuannya, Yahya bin Harsamah mengatakan, “Aku sudah berupaya menenangkan mereka, dan bersumpah di hadapan mereka bahwa aku tidak diperintah untuk menyakitinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mutawakkil senantiasa berpikir bagaimana cara menurunkan kedudukan tinggi Imam as di tengah masyarakat. Maka, sebagian penasehatnya mengusulkan untuk menebarkan berita-berita bohong yang dapat menjatuhkan kehormatan beliau, melalui saudaranya, Musa yang terkenal dengan perilakunya yang buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">Usulan tersebut disambut senang oleh Al-Mutawakkil. Segera ia memanggil Musa. Imam Ali as sendiri pernah memperingatkan saudaranya itu dengan ucapan, “Sesungguhnya khalifah menghadirkanmu untuk menghancurkan nama baikmu dan menyodorkan uang yang dapat menguasaimu. Maka, takutlah kepada Allah, wahai saudaraku dan jannganlah melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya!”</p>
<p style="text-align: justify;">Musa tidak mau menghiraukan nasehat Imam as. Ia bertekad bulat untuk melakukannya, dan ternyata Al-mutawakkil justru merendahkannya. Sejak saat itu pula Khalifah itu tidak menyambut Musa lagi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kalimat Hak di Hadapan Orang Zalim</h3>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Sikkit adalah salah seorang ulama besar. Abul Abbas Al-Mubarrad pernah memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah melihat buku karya tulis orang-orang Baghdad yang lebih baik dari buku Ibnu Sikkit tentang Logika.”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mutawakkil meminta kepada Ibnu Sikkit untuk mengajar kedua anaknya; Al-Mu’taz dan Al-Mu’ayyad.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, Al-Mutawakkil bertanya kepada Ibnu Sikkit, “Mana yang paling kau cintai, kedua anakku ini ataukah Hasan dan Husain?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Sikkit menjawab dengan penuh kebencian, “Demi Allah, sesungguhnya pembantu Imam Ali bin Abi Thalib lebih baik dari pada kamu dan kedua anakmu itu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban Ibnu Sikkit tersebut, Al-Mutawakkil terperanjat dan begitu berang. Segera ia memerintahkan algojo Turki untuk mencabut lidahnya sampai mati. Demikianlah, Ibnu Sikkit pun pergi ke hadapan Allah SWT dan menemui kesyahidan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw telah bersabda, “Penghulu para syahid adalah Hamzah dan seorang yang mengatakan kalimat hak di depan penguasa yang zalim.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Politik Al-Mutawakkil</h3>
<p style="text-align: justify;">Al-Mutawakkil telah menghambur-hamburkan kekayaan umat Islam. Hidupnya dipenuhi dengan foya-foya, serbamewah, dan sombong. Umurnya ia habiskan untuk bermabuk-mabukan dan berpesta pora dengan menghamburkan milyaran uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, betapa banyak orang yang hidup dalam kesusahan dan kefakiran, apalagi golongan Alawi (keluarga dan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib as) yang senantiasa menjalani hidup mereka dalam kefakiran yang mencekam. Belum lagi hak-hak mereka dirampas, sampai hal-hal yang sangat tidak bernilai dalam kehidupan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Al-Hadi as bersama putranya dipanggil ke kota Samara. Kemudian mereka diturunkan di sebuah kemah yang di sana sudah berbaris pasukan Al-Mutawakkil. Itu dilakukan supaya beliau berada di bawah pengawalan tentara-tentara yang sangat bengis dan dungu terhadap kedudukan Ahlulbait as.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya, tentara Al-Mutawakkil itu terdiri atas orang-orang Turki yang telah berbuat kejam, dengan membentuk kondisi dan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak lagi mengerti kecuali ketaatan kepada raja-raja dan penguasa.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Beberapa Kisah Menarik</h3>
<p style="text-align: justify;">• Seseorang di antara tentara itu mempunyai anak yang tertimpa penyakit batu ginjal, kemudian seorang dokter menasehati agar anaknya menjalani operasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat operasi sedang berjalan, tiba-tiba anak tersebut mati. Lalu orang-orang mencelanya, “Kau telah membunuh anakmu sendiri, maka engkau pun harus bertanggung jawab atas kematiannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ia mengadu kepada Imam Al-Hadi as. Beliau mengatakan, “Bagi kamu tidak ada tanggung jawab apapun atas apa yang kamu perbuat. Ia meninggal hanya karena pengaruh obat, dan ajal anak tersebut memang sampai di situ.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Suatu hari, seorang anak menyodorkan bunga kepada Imam Ali Al-Hadi as. Lalu Imam as mengambil bnunga itu seraya menciumnya dan meletakkan di atas kedua pelupuk matanya. Kemudian beliau memberikan kepada salah seorang sahabatnya sembari berkata, “Barang siapa mengambil bunga mawar atau selasih kemudian mencium dan meletakkannya di atas kedua pelupuk matanya, lalu membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga sucinya, maka Allah akan menulis untuknya kebaikan sejumlah kerikil-kerikil di padang sahara, dan akan menghapuskan kejelekan-kejelekannya sebanyak itu pula.”</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Hartsamah yang menyertai perjalanan Imam Ali as dari Madinah ke Samara mengatakan, “Kami berjalan sedang langit dalam keadaan cerah. Tiba-tiba Imam as meminta sahabat-sahabatnya untuk mempersiapkan sesuatu yang bisa melindungi mereka dari hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian dari kami merasa heran. Malah sebagian yang lain tertawa meledek. selang beberapa saat, tiba-tiba langit mendung dan hujan pun turun begitu derasnya. Imam as menoleh kepadaku dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingkari hal itu, lalu kau kira bahwa aku mengetahui alam gaib dan hal itu terjadi bukanlah sebagaimana yang kau kira. Akan tetapi, aku hidup di daerah pedalaman. Aku mengetahui angin yang mengiringi hujan dan angin telah berhembus. Aku mencium bau hujan itu, maka aku pun bersiap-siap.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Suatu hari, Al-Mutawakkil menderita sakit. Ia bernazar untuk menyedekahkan uang yang banyak tanpa menentukan berapa jumlahnya. Dan ketika ia hendak menunaikan nazarnya, para fuqaha (ahli hukum) berselisih pendapat tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh Al-Mutawakkil. Mereka pun tidak mendapatkan suatu kesepakatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian mereka mengusulkan untuk menanyakan masalah kepada Imam as. Tatkala ditanya tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan, Imam as menjawab, “Banyak itu adalah delapan puluh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Meresa belum puas. Mereka meminta dalil dari Imam as. Beliau mengatakan, “Allah berfirman<em>, ‘Allah telah menolong kalian dalam berbagai kesempatan. Maka, Kami hitung medan-medan peperangan dalam Islam’. </em>Dan jumlahnya medan peperangan itu adalah delapan puluh.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penggeledahan Rumah</h3>
<p style="text-align: justify;">Meskipun Imam Ali Al-Hadi as dalam tahanan rumah yang ketat, beliau tidak luput dari berbagai fitnah dan tuduhan kosong. Salah seorang di antara mereka melaporkan kepada Al-Mutawakkil, bahwa Imam as mengumpulkan senjata dan uang untuk mengadakan pemberontakan. Maka, Al-Mutawakkil memerintahkan Sa’id, penjaganya untuk memeriksa rumah beliau pada waktu malam, dan mengecek tentang kebenaran berita tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala ia memeriksa rumah Imam, ia dapati Imam as dalam sebuah kamar dan tidak ada sesuatu apapun di dalamnya kecuali sehelai tikar. Di dalamnya beliau sedang melakukan shalat dengan khusyuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia telah memeriksa rumah Imam as dengan awas dan jeli. Akan tetapi, ia tidak menemukan suatu apa pun. Kemudian ia berkata pada Imam, “Maafkan aku tuanku. Aku hanya diperintahkan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab dengan sedih, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kandang Binatang Buas</h3>
<p style="text-align: justify;">Seorang perempuan mengaku, bahwa dirinya adalah Zainab putri Ali bin Abi Thalib as. Ia berkata, bahwa masa mudanya terus berganti setiap 50 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera Al-Mutawakkil mengirimkan utusan dan bertanya kepada Bani Thalib. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab as telah meninggal pada tanggal sekian dan telah dikuburkan. Akan tetapi, perempuan ini tetap saja bersikukuh pada pengakuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menteri Al-Mutawakkil yang bernama Al-Fath bin Khaqan jengkel melihat itu. Ia berkata, “Tidak ada yang bisa mengetahui tentang hal ini kecuali putra Imam Ridha as.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, Al-Mutawakkil mengutus utusan kepada Imam Ali Al-Hadi as dan menanyakan perihal perempuan tersebut padanya. Kemudian Imam as. menjawab, “Sesungguhnya terdapat tanda pada keturunan Ali as. Tanda itu adalah binatang buas tidak akan mengganggu dan menyakitinya. Maka, cobalah kumpulkan perempuan itu bersama binatang buas, dan bila dia tidak diterkam, maka dia benar.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tahan lagi, Al-Mutawakkil ingin sekali menguji kebenaran ucapan Imam as di atas. Beliau pun masuk ke dalam sangkar binatang buas dengan penuh keyakinan. Tiba-tiba binatang buas di dalamnya mengikuti beliau sambil mengebas-kebaskan ekor di telapak kaki beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu Al-Mutawakkil memerintahkan untuk melemparkan wanita tersebut ke dalam sangkar itu. Tatkala binatang buas itu muncul, ia pun menjerit dan segera menarik balik pengakuannya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Di Majelis Al-Mutawakkil</h3>
<p style="text-align: justify;">Di saat sedang mabuk, Al-Mutawakkil memerintahkan para pengawalnnya agar segera mendatangkan Imam Ali Al-Hadi as. Dengan cepat mereka bergegas menuju kediaman beliau. Sesampainya di sana, mereka memasuki rumah Imam as dengan keras dan menyeret beliau sampai di istana khilafah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Imam as berdiri di hadapan Al-Mutawakkil, khalifah yang zalim itu mengambil kendi khamer dan meminumnya sampai mabuk, lalu ia mendekati Imam as dan menyodorkan segelas minuman haram tersebut kepada beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menolak dan berkata, “Demi Allah, darah dagingku tidak bercampur sedikit pun dengan minuman ini.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hari Kesyahidan</h3>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan pada Allah SWT, Imam Ali Al-Hadi as menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Cobaan demi cobaan telah beliau lewati dengan segenap ketabahan. Hingga akhirnya, pada tahun 254 Hijrih beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan syahid akibat racun yang merusak tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu usia Imam as menginjak usia 42 tahun. Beliau dimakamkan di kota Samara yang kini ramai dikunjungi kaum msulimin dari berbagai belahan dunia.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Murid-Murid Imam Ali</h3>
<p style="text-align: justify;">Meskipun Imam as senantiasa hidup di bawah pengawasan yang begitu ketat, namun beliau memiliki murid-murid yang tetap setia kepadanya. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berjumpa dan bertatap muka dengan Imam as. Salah seorang dari mereka adalah Abdul ‘Azhim Al-Hasani.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdul ‘Azhim termasuk ulama besar dan seorang yang amat bertakwa. Dalam berbagai kesempatan, Imam Ali as seringkali memujinya. Ia senantiasa menunjukkan penentangannya terhadap penguasa. Kemudian ia bersembunyi di kota Rey dan meninggal di sana. Hingga sekarang ini, makam beliau masih selalu dipadati oleh para peziarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Murid beliau yang lain adalah Hasan bin Sa’id Al-Ahwazi. Ia juga termasuk sahabat Imam Ali Ar-Ridha as dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ia hidup di Kufah dan Ahwaz, kemudian pindah ke Qom dan meninggal dunia di sana. Hasan menyusun tiga puluh karya tulis di bidang Fiqih dan Akhlak. Di antara jajaran perawi, ia termasuk orang yang <em>tsiqah </em>(terdipercaya) dalam meriwatkan hadis-hadis.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain Abdul ‘Azhim dan Hasan, sahabat setia Imam Ali Al-Hadi as ialah Fadhl bin Syadzan An-Naisyaburi. Ia terkenal sebagai seorang ahli Fiqih besar dan ahli ilmu Kalam terkemuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Fadhl banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ali as. Bahkan, anaknya pun ikut menjadi salah seorang sahabat Imam Hasan Askari as. Imam Ali as sering memujinya. Ia menasehati orang-orang Khurasan untuk merujuk kepada Fadhl dalam berbagai masalah yang mereka hadapi.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Imam Ali Al-Hadi</h3>
<p style="text-align: justify;">• “Barang siapa taat kepada Allah, maka ia tidak akan kuatir terhadap kekecewaan makhluk.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Barang siapa tunduk pada hawa nafsunya, maka ia tidak akan selamat dari kejelekannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Barang siapa rela tunduk terhadap hawa nafsunya, maka akan banyak orang-orang yang tidak suka padanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Kemarahan itu terdapat pada orang-orang yang memiliki kehinaan.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Pelaku kebaikan itu lebih baik daripada kebaikan itu sendiri. Sedang pelaku keburukan itu lebih buruk daripada keburukan itu sendiri.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Cercaan itu lebih baik dari pada kedengkian.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Beliau berkata kepada Al-Mutawakkil, “Janganlah engkau menuntut janji kepada orang yang telah engkau khianati.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Ali Al-Hadi</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama                       : Ali.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar                        : Al-Hadi.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panggilan             : Abul Hasan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah                        : Imam Muhammad Al-Jawad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                            : Samanah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran             : Madinah, 212 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesyahidan         : 254 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Usia                           : 22 tahun.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam                   : Samara, Irak.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>sumber al-shia.org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ali-al-hadi-teguh-di-atas-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM MUHAMMAD AL-JAWAD, SAMUERA ILMU DAN TAKWA</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-muhammad-al-jawad-samuera-ilmu-dan-takwa/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-muhammad-al-jawad-samuera-ilmu-dan-takwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 11:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam jawad]]></category>
		<category><![CDATA[imam muhammad al-jawad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Pada tanggal 10 Rajab tahun 195 Hijriah, Imam Muhammad Al-Jawad as dilahirkan. Ayah beliau adalah Imam Ali Ar-Ridha as. Dan ibu beliau bernama Khaizran, berasal dari bangsa Maria Qibtiah, istri Rasulullah saw.
Imam Muhammad as memiliki banyak gelar. Gelar yang paling masyhur adalah At-Taqi dan Al-Jawad.
Saudara perempuan Imam Ridha as, Hakimah mengisahkan, “Pada malam kelahiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam-jawad-as.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-437" title="imam-jawad-as" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam-jawad-as-300x227.png" alt="" width="248" height="187" /></a>Pada tanggal 10 Rajab tahun 195 Hijriah, Imam Muhammad Al-Jawad as dilahirkan. Ayah beliau adalah Imam Ali Ar-Ridha as. Dan ibu beliau bernama Khaizran, berasal dari bangsa Maria Qibtiah, istri Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muhammad as memiliki banyak gelar. Gelar yang paling masyhur adalah At-Taqi dan Al-Jawad.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudara perempuan Imam Ridha as, Hakimah mengisahkan, “Pada malam kelahiran Imam Al-Jawad, saudaraku (Imam Ridha) memintaku untuk berada di sisi istrinya. Ia melahirkan seorang bayi dengan selamat. Ketika lahir, bayi itu menatap ke langit dan bersaksi atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad. Aku yang menyaksikan peristiwa agung ini bergetar dan segera pergi menjumpai saudaraku dan menceritakan semua ini. Saudaraku berkata, ‘Wahai saudariku, jangan engkau heran dengan peristiwa ini. Engkau akan saksikan peristiwa yang lebih menakjubkan lagi.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Kelahiran ini merupakan karunia Ilahi dan berita gembira bagi pengikut Ahlulbait as. Kelahiran ini menjawab segala rasa penasaran, keraguan, kebimbangan, dan kecemasan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Nauf Ali menceritakan, “Ketika Imam Ali Ar-Ridha as melakukan perjalanan ke Khurasan, aku berkata kepadanya, ‘Apakah Anda tidak memiliki perintah untuk aku kerjakan?’ Beliau berkata, ‘Ikutilah anakku setelahku dan tanyakan padanya segala kesulitan-kesulitan yang engkau hadapi.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ridha as berulang kali mengatakan kepada sahabatnya, “Tidak perlu kalian mengajukan pertanyaan kepadaku. Ajukan pertanyaanmu kepada anak kecil ini yang kelak akan menjadi imam setelahku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala beberapa orang sahabat Imam Ar-Ridha menunjukkan keheranan dan keterkejutan mereka, bagaimana mungkin seorang anak diangkat menjadi Imam umat, beliau mengatakan, “Allah telah mengangkat Isa sebagai nabi ketika beliau bahkan lebih muda dari Abu Ja’far (Imam Jawad). Usia seseorang tidak terlibat dalam urusan kenabian dan kepemimpinan (<em>imamah</em>).”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam kesembilan umat ini, Muhammad Al-Jawad as menerima tanggung jawab Imamah pada usia sembilan tahun. Salah seorang sahabat beliau berkata, “Ali bin Ja’far, paman Imam Jawad di Madinah, adalah seseorang yang memiliki pengaruh yang besar. Warga kota di sana menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya. Setiap kali ia berangkat menuju masjid, orang-orang pun segera datang mengerumuninya dan bertanya tentang masalah-masalah yang mereka hadapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, Imam Muhammad Al-Jawad as memasuki masjid tersebut. Ali bin Ja’far yang sudah tua dan sesepuh kota itu, berdiri dari tempatnya dan mencium tangan Imam as lalu berdiri di sisi beliau. Imam berkata, “Paman, duduklah!” Sang paman berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin aku dapat duduk selagi kau masih berdiri?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Ali bin Ja’far kembali ke kerumunan sahabat-sahabatnya, mereka menegurnya dan berkata, “Anda adalah orang tua dan paman anak ini. Mengapa Anda begitu rupa menghormatinya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Ja’far menjawab, “Diamlah, kedudukan Imamah (kepemimpinan Ilahi) merupakan sebuah kedudukan yang telah digariskan oleh Allah. Allah tidak memandang orang tua ini (Abu Ja’far—<em>penj.</em>) akan mampu mengemban Imamah atas umat. Namun, Dia Mahatahu bahwa anak ini layak dengan kedudukan itu. Maka itu, kalian harus mentaati perintahnya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Akhlak Imam Al-Jawad</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika ayahandanya wafat, Imam Muhammad Al-Jawad as masih berusia belia. Namun begitu, beliau sungguh memiliki kepribadian yang matang dan sempurna, yang mendesak setiap orang untuk menumpahkan rasa hormat di hadapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa hari setelah Imam Ali Ar-Ridha wafat, Khalifah Ma’mun pergi berburu bersama pasukan pengawal pribadinya. Tatkala ia memasuki sebuah jalan, beberapa orang anak sedang bermain di jalan itu. Melihat Ma’mun datang, mereka segera bubar dan lari menjauh, hanya seorang anak yang tidak beranjak dari tempat mainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun dan pasukannya berhenti lalu memandangi anak tersebut. Ia bertanya terheran-heran, “Hai bocah, mengapa kau tidak lari seperti anak-anak itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu menjawab, “Jalan ini tidak begitu sempit. Aku tidak menjadi penghalang bagimu untuk lewat. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun sehingga aku harus takut padamu. Aku pikir engkau tidak akan mengganggu seseorang. Dan engkau tidak akan mengejar orang yang tak bersalah. Maka itu, aku tidak lari darimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun terkejut dan heran atas keberanian, kegagahan, dan kecerdasan anak itu. Ia bertanya, “Siapakah namamu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Muhammad bin Ali Ar-Ridha”, jawab anak itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun segera mengungkapkan duka cita atas kewafatan ayahnya. Setelah itu, ia melanjutkan pemburuan bersama para pengawalnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Surat Sang Ayah</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as senantiasa memperlakukan putranya dengan penuh hormat dan selalu memperhatikan pendidikannya. Al-Bazanthi berkata, “Suatu hari, Imam Ridha as menulis surat kepada putranya, Muhammad Al-Jawad, di Madinah. Isi surat tersebut sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai putraku, aku mendengar bahwa para pelayan khalifah tidak memperkenankan orang orang untuk datang mengunjungimu atau sekedar menghubungimu dan mengemukakan kesulitan-kesulitan mereka padamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah, mereka (para pelayan khalifah) itu tidak ingin kebaikan darimu dan tidak ingin melihat engkau bahagia. Kini, aku perintahkan padamu untuk membuka pintu kepada semua orang sehingga mereka dengan bebas dapat berkunjung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka. Bilamana engkau pergi, bawalah uang bersamamu sehingga engkau dengan segera dapat membantu orang-orang yang tertimpa kesulitan dan dan membutuhkan pertolonganmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pikirkanlah orang-orang yang mendapat kesulitan hidup dan bantulah mereka dengan baik. Janganlah lupa untuk senantiasa bersikap murah dan merawat orang-orang yang tertimpa kemalangan.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Keluasan Ilmu Imam Al-Jawad</h3>
<p style="text-align: justify;">Setelah berhasil meracun Imam Ali Ar-Ridha as, Ma’mun berusaha keras untuk menunjukkan bahwa kematian beliau adalah sebuah kejadian yang wajar dan alami. Namun, berangsur-angsur keculasan dan kebusukannya tercium oleh orang-orang ‘Alawiyun (keturunan Imam Ali as) dan kaum Syi’ah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka mengetahui bahwa Ma’mun telah melakukan sebuah tindak kejahatan berupa pembunuhan terhadap Imam Ridha. Oleh karena itu, beragam protes, kecaman, kerusuhan, dan pemberontakan terjadi di berbagai sudut kota. Ma’mun berupaya memadamkan api pemberontakan itu. Ia membawa putra Imam Ar-Ridha itu, Imam Muhammad Al-Jawad as dari Khurasan ke Madinah untuk menikahkannya dengan putrinya sendiri, Ummul Fadhl.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Abbasiyah berusaha untuk menghentikan keinginan Ma’mun itu. Namun, Ma’mun tetap bersikeras pada keputusannya. Mereka mendebatnya, “Dia (Imam Al-Jawad as.) itu masih kecil dan belum mengerti agama. Bersabarlah supaya ia belajar agama terlebih dahulu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun tangkas menjawab, “Kalian tidak mengenalnya. Bagaimana kalian menentangku untuk tidak memilih sebaik-baik ciptaan Tuhan dan sealim-alim manusia untuk aku jadikan menantuku. Kalian dapat mengujinya jika kalian mau.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang Abbasiyah mendekati Yahya bin Aktsam, sang hakim agung, dan memintanya agar menyiapkan beberapa pertanyaan untuk menguji Imam Muhammad Al-Jawad as di hadapan majelis resmi Ma’mun. Yahya mengabulkan permintaan mereka. Mereka mendatangi Ma’mun dan menyampaikan kesediaan Yahya. Ma’mun menentukan hari untuk tanya-jawab tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari yang telah ditentukan, orang-orang Abbasiyah bersama Yahya bin Aktsam memasuki majelis akbar itu. Majelis itu dihadiri oleh orang-orang terhormat, bangsawan, dan para pejabat pemerintahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, datanglah Imam Muhammad Al-Jawad as ke majelis itu. Orang-orang yang hadir di dalam majelis itu berdiri menyambut kedatangan beliau. Imam melangkah ke depan dan mengambil tempat duduk dekat Ma’mun yang tidak berhasrat pada acara tanya-jawab ini, karena ia berpikir Imam tidak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun berkata kepada Imam as, “Yahya bin Aktsam ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia boleh bertanya apa pun yang ia ingin tanyakan”, jawab Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya mulai melontarkan pertanyaannya kepada Imam, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengenakan pakaian Ihram dan berziarah ke Ka’bah, pada saat yang sama ia juga pergi berburu dan membunuh seekor binatang di sana?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Jawad as. bersabda, “Wahai Yahya, kau telah menanyakan sebuah masalah yang masih begitu global. Mana yang sebenarnya ingin kau tanyakan; apakah orang itu berada di dalam Tanah Haram atau di luar? Apakah ia tahu dan mengerti tentang larangan perbuatan itu atau tidak? Apakah dia membunuh binatang itu dengan sengaja atau tidak? Apakah dia itu seorang budak atau seorang merdeka? Apakah pelaku perbuatan itu menyesali perbuatannya atau tidak? Apakah kejadian ini terjadi pada malam atau siang hari? Apakah perbuatannya itu untuk yang pertama kali atau kedua kalinya atau ketiga kalinya? Apakah binatang buruan itu sejenis burung atau bukan? Apakah binatang buruan itu besar atau kecil?</p>
<h3 style="text-align: justify;">Pernikahan</h3>
<p style="text-align: justify;">Yahya kebingungan sekaligus kagum tatkala Imam as mengurai masalah itu dengan sempurna. Dari raut wajahnya terbesit tanda kekalahan dan kegagalan. Mulutnya terkatup. Seluruh hadirin menghaturkan penghargaan dan kekaguman kepada Imam Al-Jawad as setelah menyaksikan keluasan dan kedalaman ilmu beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, Ma’mun mengumumkan acara akad pernikahan putrinya dengan Imam Al-Jawad di majelis itu juga. Imam as bangkit lalu menyampaikan khutbah nikah. Mas kawin yang beliau berikan senilai mas kawin Siti Fatimah Az-Zahra as dan pesta pernikahan pun berlangsung sebegitu meriahnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Maksud di Balik Pernikahan</h3>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Ma’mun menyimpan maksud-maksud tertentu di balik keputusannya menikahkan putrinya dengan Imam Al-Jawad as. Di antaranya:</p>
<h4 style="text-align: justify;">a. Menepis kecaman dan tuduhan orang-orang sekaitan pembunuhannya terhadap Imam Ali Ar-Ridha as dan merebut kembali hati masyarakat.</h4>
<h4 style="text-align: justify;">b. Agar putrinya dapat mengawasi dan memantau Imam Al-Jawad as sedekat mungkin.</h4>
<h4 style="text-align: justify;">c. Membujuk Imam as agar menetap di kota Baghdad yang kehidupannya dipenuhi oleh kemewahan dan kesenangan duniawi.</h4>
<h3 style="text-align: justify;">Kembali ke Madinah</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Muhammad Al-Jawad as telah mengambil keputusan bulat untuk segera kembali ke Madinah. Maksud tersebut beliau lakukan dengan cara berangkat ke Makkah dan menunaikan Haji di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat pun ramai mengantarkan Imam sampai di jalan yang mengarah ke kota Kufah. Di sana, Imam as singgah di sebuah masjid. Ketika waktu shalat telah tiba, Imam as berwudhu di halaman masjid di bawah pohon Nabk. Sungguh Allah SWT telah memberkahi pohon itu sehingga berbuah dengan buah-buah yang manis. Warga Baghdad senantiasa mengenang keberkahan Imam as pada pohon itu.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Beberapa Surat dan Masalah</h3>
<p style="text-align: justify;">• Ada seorang lelaki dari Bani Hanifah yang menyertai Imam Al-Jawad as dalam perjalanan hajinya. Saat duduk bersama di depan hidangan, ia berkata kepada Imam as, “Jiwaku adalah tebusanmu! Sesungguhnya wali kotaku adalah pecintamu Ahlulbait. Ia amat percaya padamu. Dan sekarang ini aku harus membayar pajak kepadanya. Bisakah kau menuliskan surat untuknya agar ia berbelas kasih kepadaku?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Tapi, aku tidak mengenalnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu membalas, “Dia sungguh pecintamu, dan suratmu akan dapat berguna bagiku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Imam as mengambil secarik kertas dan menulis, “<em>Bismillahirrahmaninrrahim</em>. Pembawa suratku ini adalah seorang lelaki yang telah mengenalkanmu sebagai manusia mulia. Dan tidak ada perbuatan yang berguna bagimu kecuali kebaikan yang terdapat di dalamnya. Maka, berbuatbaiklah kepada saudara-saudaramu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu menyerahkan surat tersebut kepada wali kota Naisyabur. Ia menyambutnya, bahkan menciumnya dan melekatkannya di kedua matanya. Lalu berkata kepada lelaki, “Apa keperluanmu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada pajakmu yang aku tanggung”, begitu keluhnya. Mendengar itu, wali kota memerintahkan agar kewajiban pajaknya dihapuskan, dan mengatakan, “Kau tidak usah membayar pajak selagi kau hidup.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Datang sepucuk surat kepada Imam Al-Jawad as dari seorang lelaki yang hendak bermusyawarah dengan beliau berkenaan dengan pernikahan anak-anak perempuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menulis balasan untuknya, “Aku telah mengerti apa-apa yang kau paparkan mengenai anak-anak perempuanmu, dan bahwasanya kau tidak menemukan lelaki yang mirip denganmu. Namun, janganlah terlalu menantikan demikian itu. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya, karena Rasulullah saw telah bersabda, ‘Jika datang kepadamu seseorang yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Bila kamu tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan besar.’”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Nasib Ma’mun</h3>
<p style="text-align: justify;">Warga Mesir bangkit melakukan pemberontakan. Segera Khalifah Ma’mun mempimpin pasukan besar dan memadamkan api pemberontakan itu. Dari sana, ia bertolak ke kawasan Romawi. Maka, terjadilah peperangan yang dahsyat yang akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanannya kembali dari peperangan, Ma’mun melewati “Riqqah”. Tempat itu terasa sejuk dan tenang dengan mata air yang mengalir. Maka, ia memutuskan untuk berkemah beberapa hari di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Riqqah, Ma’mun jatuh sakit. Tak lama kemudian, ia mati dan dikuburkan di tempat itu juga.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kesyahidan Imam Al-Jawad</h3>
<p style="text-align: justify;">Setelah kematian Ma’mun, saudaranya yang bernama Mu’tashim menduduki kekhalifahan. Dia dikenal sebagai orang yang kejam, jahat, dan berperangai buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama yang dilakukan Mu’tashim ialah memanggil Imam Al-Jawad as dari Madinah untuk kembali ke Baghdad. Setelah itu, mulailah dia merencanakan persengkongkolan dengan Ja’far, anak Ma’mun. Dia mendesak Ja’far agar membujuk saudara perempuannya, Ummu Fadhl supaya meracun suaminya sendiri, Imam Al-Jawad as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu Fadhl pun menyanggupi. Maka, ia bubuhkan racun ganas di dalam anggur, seakan-akan ia telah belajar dari ayahnya sendiri yang telah membunuh Imam Ali Ar-Ridha as dengan cara yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian kesyahidan Imam Muhammad Al-Jawad as. Hal itu terjadi pada hari Selasa, 6 Dzulhijjah 220 H, pada usianya yang masih muda, 25 tahun. Jasad beliau yang suci nan kudus dimakamkan di pemakaman Quraisy (kota Kazhimain sekarang) di samping makam datuknya, Imam Musa Al-Kazhim as. Pusara kedua Imam ini merupakan salah satu tempat ziarah kaum muslimin yang datang dari seluruh penjuru dunia.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Imam Al-Jawad</h3>
<p style="text-align: justify;">• “Kehormatan seorang mukmin ialah ketakbergantungannya pada orang lain.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Seorang mukmin senantiasa membutuhkan tiga perkara: taufik dari Allah, penasehat dari dalam dirinya, dan menyambut setiap orang yang menasehatinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Hari Keadilan itu lebih mengerikan bagi orang zalim daripada hari perlakuan zalim terhadap orang teraniaya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Neraca kesempurnaan harga diri seseorang ialah meninggalkan apa saja yang tidak membuat dirinya indah.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Kematian manusia karena dosa-dosanya itu lebih banyak ketimbang kematiannya karena ajalnya, dan seseorang hidup karena kebajikannya itu lebih banyak daripada ia hidup dengan (takdir) umurnya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Al-Jawad</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama                          : Muhammad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar                           : Taqi dan Jawad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panggilan                : Abu Ja’far</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah                           : Imam Ali Ar-Ridha as.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                               : Khaizran.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran                : Tahun 195 Hijriah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa Imamah     : 17 Tahun.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesyahidan            : Tahun 220 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam                      : Kota Kazhimain, Irak.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>sumber al-shia.org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-muhammad-al-jawad-samuera-ilmu-dan-takwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM ALI AR-RIDHA, TELADAN PEJUANG YANG SABAR</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ali-ar-ridha-teladan-pejuang-yang-sabar/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ali-ar-ridha-teladan-pejuang-yang-sabar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 11:13:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam ali ar-ridha]]></category>
		<category><![CDATA[imam ridho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Ali Ar-Ridha as lahir pada 11 Dzulqa’dah 148 H. di Madinah. Ayah beliau adalah Imam Musa Al-Kazim as dan ibunya seorang wanita mukmin nan saleh, bernama Najmah. Imam as menghabiskan masa kanak-kanaknya di sisi sang ayah.
Imam Musa as berwasiat dan memberi isyarat kepada sahabat-sahabatnya mengenai keimamahan putranya, Ali Ar-Ridha.
Ali bin Yaqthin berkata, “Pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam-ridha-as.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-433" title="imam-ridha-as" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam-ridha-as-300x211.png" alt="" width="255" height="179" /></a>Imam Ali Ar-Ridha as lahir pada 11 Dzulqa’dah 148 H. di Madinah. Ayah beliau adalah Imam Musa Al-Kazim as dan ibunya seorang wanita mukmin nan saleh, bernama Najmah. Imam as menghabiskan masa kanak-kanaknya di sisi sang ayah.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa as berwasiat dan memberi isyarat kepada sahabat-sahabatnya mengenai keimamahan putranya, Ali Ar-Ridha.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Yaqthin berkata, “Pernah aku bersama Abdus Saleh (salah satu gelar Imam Musa Kazim—<em>penj</em>.). Tiba-tiba datang Ali Ar-Ridha as, lalu beliau (Imam Musa) berkata, “Wahai Ali bin Yaqthin, dialah penghulu anak-anakku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hisyam menambahkan, “Sesungguhnya aku beritakan kepadamu bahwa dia adalah Imam setelahku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula salah seorang sahabat pernah bertanya tentang imam sepeninggalnya. Imam Musa as memberi isyarat kepada anaknya, Ali Ar-Ridha sembari berkata, “Dialah Imam (pemimpin) setelahku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itu, situasi amat menguatirkan, sehingga Imam Musa as berwasiat kepada para sahabatnya agar merahasiakan keimamahan putranya itu.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Budi Pekerti Yang Agung</h3>
<p style="text-align: justify;">Para Imam Ahlulbait as adalah manusia-manusia pilihan. Mereka dipilih oleh Allah SWT untuk membimbing masyarakat secara benar dan menjadi contoh yang paling unggul untuk mencapai derajat kemanusiaan dan akhlak mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim bin Abbas mengatakan, “Aku tidak pernah mendengar Abul Hasan Ar-Ridha as mengatakan sesuatu yang merusak kehormatan seseorang, juga tidak pernah memotong pembicaraan seseorang hingga ia menuntaskannya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang tatkala dia mampu membantunya. Beliau tidak pernah menjulurkan kakinya ke tengah majelis. Aku tidak pernah melihatnya meludah, tidak pernah terbahak-bahak ketika tertawa, karena tawanya adalah senyum. Di waktu-waktu senggang, beliau menghamparkan suprah dan duduk bersama para pembantu, mulai dari penjaga pintu sampai pejabat pemerintahan. Dan barang siapa yang mengaku pernah melihat keluhuran budi pekerti seseorang seperti beliau, maka janganlah kau percaya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang laki-laki menyertai Imam Ar-Ridha dalam perjalanannya ke Khurasan. Imam mengajaknya duduk dalam sebuah jamuan makan. Beliau mengumpulkan para tuan dan budak untuk menyiapkan makanan dan duduk bersama. Orang itu lalu berkata, “Wahai putra Rasulullah, apakah engkau mengumpulkan mereka dalam satu jamuan makan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Allah SWT adalah satu. Manusia lahir dari satu bapak dan satu ibu. Mereka berbeda-beda dalam amal perbuatan”, demikian jawab Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, tidak ada yang lebih mulia di muka bumi ini selain engkau, wahai Abul Hasan (panggilan Imam Ar-Ridha)!”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawab, “Ketakwaanlah yang memuliakan mereka, wahai saudaraku!”</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang bersumpah dan berkata, “Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik manusia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawabnya, “Janganlah engkau bersumpah seperti itu. Sebab orang yang lebih baik dari aku adalah yang lebih bertakwa kepada Allah. Demi Allah, Dzat yang menorehkan ayat ini, <em>‘Kami ciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa.’</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu saat, Imam Ali Ar-Ridha as berbincang-bincang dengan masyarakat. Mereka bertanya tentang masalah-masalah hukum. Tiba-tiba seorang warga Khurasan masuk dan berkata, “Salam atasmu wahai putra Rasulullah! Aku adalah seorang pengagummu dan pecinta ayahmu serta para datukmu. Aku baru saja kembali dari haji dan aku kehilangan nafkah hidupku. Tak satu harta pun tersisa lagi padaku. Jika engkau sudi membantuku sampai di negeriku, sungguh nikmat besar Allah atasku, dan bila aku telah sampai, aku akan menginfakkan jumlah uang yang kau berikan kepadaku atas namamu, karena aku tidak berhak menerima infak.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan nada lembut, Imam Ar-Ridha as berkata kepadanya, “Duduklah, semoga Allah mengasihanimu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Imam melanjutkan perbincangannya dengan masyarakat sampai mereka bubar. Setelah itu, Imam bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, beliau mengeluarkan tangannya dari balik pintu sambil berkata, “Mana orang Khurasan itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Khurasan itu mendekat dan Imam berkata, “Ini 200 Dinar. Pergunakanlah untuk perjalananmu dan janganlah engkau menafkahkan hartamu atas nama kami.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Khurasan itu mengambilnya dengan penuh rasa syukur, lalu meninggalkan Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Imam keluar dari kamar. Salah seorang sahabat bertanya, “Kenapa engkau menyembunyikan wajahmu dari balik pintu, wahai putra Rasulullah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Agar aku tidak melihat kehinaan pada raut wajah orang yang meminta. Tidakkah kau mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Berbuat baik dengan sembunyi-sembunyi adalah sama seperti tujuh puluh kali ibadah haji, dan orang yang terang-terangan dalam berbuat jahat sungguh terhina, dan orang yang sembunyi dalam melakukannya akan diampuni.’”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Jangan Merasa Bangga!</h3>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Al-Bazanthi adalah salah seorang ulama terkemuka dan seringkali melakukan surat-menyurat dengan Imam Ali Ar-Ridha. Kemudian, ia mengakui kebenaran kedudukan beliau sebagai imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Bazanthi pernah menceritakan pengalamannya berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">“Imam Ar-Ridha as memintaku datang menjumpainya dan mengirimkan keledai kepadaku sebagai kendaraan. Sesampainya di sana, kami duduk dalam sebuah pembahasan. Hingga tiba waktu Isya’, kami melaksanakan shalat. Seusai shalat, Imam meminta kepadaku untuk bermalam. Aku menjawab, ‘Tidak demi jiwaku yang menjadi tebusanmu, aku tidak membawa mantel (selimut) dan pakaian.’</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau berkata kepadaku, ‘Allah akan melewatkan malammu dalam keadaaan sehat dan kami akan tidur di atap rumah.’</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Imam turun, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Sungguh aku telah mendapatkan kemulian dari Imam yang aku tidak temukan pada orang lain. Aku telah tertipu oleh setan.’</p>
<p style="text-align: justify;">Di waktu subuh, Imam membangunkanku sambil memegang tanganku. Kepadaku beliau menuturkan, ‘Suatu hari, Amirul Mukminin Ali as menengok Sha’sa’ah bin Sauhan yang tengah sakit. Ketika dia hendak bangun, Amirul Mukminin berkata kepadanya, ‘Wahai Sha’sa’ah, janganlah engkau merasa bangga terhadap saudara-saudaramu hanya karena aku menjengukmu.’</p>
<p style="text-align: justify;">Seakan-akan Imam membaca apa yang terlintas dalam benak Al-Bazanthi. Beliau menasehatinya dan mengingatkan kakeknya, Imam Ali bin Ali Thalib as bagaimana menjenguk salah seorang sahabatnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Nasihat untuk Saudara</h3>
<p style="text-align: justify;">Zaid adalah saudara Imam Ali Ar-Ridha as. Dia melakukan pemberontakan di kota Bashrah dan membakari rumah orang-orang Abbasiyah, sehingga dia digelari dengan Sang Api.</p>
<p style="text-align: justify;">Khalifah Ma’mun segera mengirim pasukan besar dan terjadilah pertempuran sengit. Di sana, Zaid menyerah dan meminta damai. Namun, akhirnya ia tertangkap dan dipenjara.</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala Imam Ali Ar-Ridha as diangkat oleh Ma’mun sebagai pengganti khalifah, Ma’mun memutuskan untuk mengirimkan Zaid kepada Imam. Imam as sangat marah atas perbuatan saudaranya yang membakar rumah dan merampas harta benda rakyat tanpa hak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada saudaranya Imam as berkata, “Hai Zaid, apa yang membuat engkau tertipu hingga engkau menumpahkan darah dan merampok? Apakah kau tertipu oleh perkataan orang-orang Kufah, bahwa Fatimah as telah disucikan rahimnya sehingga Allah mengharamkan anak keturunannya dari api neraka? Celakalah engkau! Sesungguhnya yang dimaksudkan Rasul saw dari sabda itu bukanlah aku, bukan pula kau. Akan tetapi, Hasan dan Husain. Demi Allah, sesungguhnya keselamatan dari api neraka itu tidak akan didapati kecuali dengan ketaatan kepada Allah SWT. Apakah kau mengira akan masuk surga dengan tetap bermaksiat kepada Allah? Kalau begitu, kau lebih besar daripada Allah dan dari ayahmu, Musa bin Ja’far as!”</p>
<p style="text-align: justify;">Zaid berkata,”Bukankah aku saudaramu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawab, “Ya, kau adalah saudaraku selama kau taat kepada Allah. Bagaimana Nabi Nuh as memohon, <em>‘Tuhanku, sesungguhnya anakku dari keluargaku dan janjimu pasti nyata dan engkau maha pengasih.’</em> Dan bagaimana Allah membalasnya, <em>‘Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah dari keluargamu, karena dia bukan perbuatan saleh.’</em> Demi Allah, wahai Zaid! Tidak seorang pun akan mendapatkan kedudukan di sisi Allah kecuali ketaatan kepada-Nya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Di Majelis Ma’mun</h3>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun mengumpulkan para pemuka agama dan tokoh-tokoh mazhab Islam, lalu memerintahkan mereka untuk berdiskusi dengan Imam Ali Ar-Ridha as. Ma’mun melakukan itu hanya untuk menjatuhkan Imam di hadapan soal-soal mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as bertanya kepada seorang sahabatnya yang bermana Hassan Naufal, “Apakah engkau tahu mengapa Ma’mun mengumpulkan para pemuka agama dan tokoh mazhab itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Naufal menjawab, “Dia ingin sekali mengujimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Senangkah engkau melihat saat-saat Ma’mun menyesali perbuatannya?.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tentu”, jawab Naufal.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Yaitu tatkala dia mendengar jawabanku dari kitab Taurat terhadap penganut Taurat, jawabanku dari kitab Injil tehadap penganut Injil, jawabanku dari kitab Zabur terhadap penganut Zabur, dan jawabanku dari kitab Ibraniyyah terhadap kaum Sabiah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as menyiapkan perjalanannya bersama sahabatnya ke istana Khalifah. Setelah sampai dan istirahat sejenak, diskusi pun dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Jatsliq berkata, “Saya tidak ingin berdiskusi dengan orang yang menggunakan Al-Qur’an sebagai dalilnya, karena aku mengingkarinya, dan juga orang yang menggunakan hadis Nabi Muhammad, karena aku tidak mempercayai kenabiannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ar-Ridha as berkata, “Jika aku berdalil dengan kitab Injil, apakah engkau akan beriman?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tentu, saya akan menerimanya”, begitu tegas Jatsliq.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Imam Ali Ar-Ridha as membacakan beberapa ayat Injil yang di dalamnya Nabi Isa as mengabarkan kedatangan nabi setelahnya, sebagaimana yang juga diberitakan oleh Hawariyyun (sabahat setia Nabi Isa). Imam juga membacakan sebagian ayat dari Injil Yohanes.</p>
<p style="text-align: justify;">Jatsliq dengan penuh keheranan berkata, “Demi kebenaran Isa Al-Masih, aku tidak pernah menyangka bahwa di antara ulama muslim ada orang sepertimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Imam Ali Ar-Ridha berpaling kepada pemuka Yahudi dan berdalil dengan ayat-ayat Taurat dan Zabur.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ketinggalan pula, Imran Ash-Shabi yang ahli dalam ilmu Kalam. Dia bertanya kepada Imam tentang keesaan Tuhan dan masalah-masalah Kalam lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika masuk waktu Zhuhur, Imam as bangkit untuk melaksanakan shalat. Setelah itu, beliau melanjutkan diskusi dengan Imran sampai dia mengakui kebenaran agama Allah yang hak. Lalu dia menghadap Kiblat dan bersujud kepada Allah untuk menyatakan keislamannya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Perjalanan ke Marv</h3>
<p style="text-align: justify;">Tak seorang pun tahu alasan sebenarnya yang mendorong Khalifah Ma’mun untuk meminta Imam Ali Ar-Ridha as menjadi penggantinya kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Imam as tinggal di Madinah Al-Munawwarah, tiba-tiba datang perintah Khalifah kepada beliau untuk melakukan perjalanan ke Marv.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menyiapkan perjalanannya ke Khurasan. Beliau tiba di kota Bashrah, lalu bertolak menuju Baghdad, kemudian singgah di kota Qom yang mendapatkan sambutan begitu hangat dari masyarakat di sana. Kala itu, Imam menjadi tamu salah seorang penduduk, dan semenjak hari itu ditetapkanlah hari berdirinya “Madrasah Ar-Ridhawiyyah.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Di Naisyabur</h3>
<p style="text-align: justify;">Naisyabur merupakan salah satu kota tua dan pusat ilmu pengetahuan, lalu runtuh dan hancur ketika penyerangan bangsa Mongol.</p>
<p style="text-align: justify;">Iring-iringan kafilah Imam Ali Ar-Ridha as dijemput oleh masyarakat di sana dengan penuh suka cita, sementara ratusan ulama dan pelajar berdiri paling depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama dan ahli hadis berkumpul di sekitar para pengiring Imam, sedang di tangan mereka buku dan alat menulis. Mereka menunggu Imam meriwayatkan hadis-hadis dari kakeknya Rasulullah saw, sampai-sampai di antara mereka ada yang memegang tali kekang tunggangan Imam dan berkata, “Demi kebenaran ayahmu yang suci, riwayatkanlah kepada kami hadis sehingga kami dapat mendapatkan ilmu darimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as berkata, “Aku mendengar ayahku Musa bin Ja’far berkat, ‘Aku mendengar Ayahku, Ja’far bin Muhammad berkata, ‘Aku mendengar ayahku Muhammad bin Ali berkata, ‘Aku mendengar ayahku Ali bin Husain berkata, ‘Aku mendengar ayahku Husain bin Ali berkata, ‘Aku mendengar ayahku Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Aku mendengar Jibril berkata, ‘Aku mendengar Allah berfirman, “Kalimat La Ilaha illallah adalah bentengku. Barang siapa masuk ke dalam bentengku, niscaya ia terbebas dari azabku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis ini terkenal dengan Hadis <em>Silsilah Dzahabiyah</em> (Untaian Emas). Sebanyak dua ribu perawi mencatat hadis ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as meninggalkan Naisyabur pada waktu pagi. Di tengah perjalanan masuk waktu Zhuhur, Imam as meminta air untuk berwudhu. Akan tetapi, para pengikutnya sulit mendapatkan air.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menggali tanah. Tiba-tiba muncul mata air. Beliau berwudhu bersama orang-orang yang menyertainya. Hingga sekarang ini, mata air itu masih mengalir.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ar-Ridha as dan rombongan tiba di Sina Abad dan beliau menyandarkan punggungnya ke salah satu batu besar di gunung itu. Masyarakat di sana adalah pengrajin kuali dan periuk untuk keperluan masak. Imam memohon kepada Allah untuk memberkahi mereka dan meminta untuk dibuatkan periuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as masuk ke rumah Hamid bin Qahthabah Ath-Tha’i dan masuk ke qubah yang di dalamnya terdapat kuburan Harun Ar-Rasyid. Di samping kuburan itu, beliau menuliskan sesuatu lalu berkata, “Ini adalah tanahku, dan di sinilah aku akan dikuburkan. Allah akan menjadikannya tempat ziarah bagi pengikutku. Demi Allah, barangsiapa yang menziarahiku, maka wajib baginya ampunan dan rahmat Allah melalui syafaat kami Ahlulbait.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, beliau melakukan shalat dua rakaat dan sujud yang lama sambil bertasbih sebanyak lima ratus kali.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Di Marv</h3>
<p style="text-align: justify;">Sampailah Imam Ali Ar-Ridha as di Marv. Ma’mun berusaha menampakkan rasa hormat dengan cara menyambut beliau dan mengadakan pesta penyambutan. Dia mengharapkan Imam supaya sudi menduduki kursi khalifah. Akan tetapi, beliau menolaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as tahu benar akan maksud yang disembunyikan oleh Ma’mun. Dia telah membunuh saudaranya sendiri, Muhammad Amin, lantaran haus kekuasan dan kekhalifahan. Lalu, bagaimana mungkin dia mau turun tahta?</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun berusaha menarik simpati masyarakat dengan menampakkan kecintaannya kepada Ahlulbait. Dia menetapkan kewajiban menaati Imam sebagai calon penggantinya, walaupun dengan cara-cara paksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan permintaan Ma’mun yang penuh dengan pemaksaan dan bahkan ancaman itu, akhirnya Imam Ridha as menerima untuk dijadikan penggantinya kelak dengan syarat, bahwa beliau tidak ikut campur dalam urusan-urusan pemerintahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kepingan-kepingan uang dicetak dengan nama Imam, dan Ma’mun membiarkan masyarakat memakai pakaian hitam sebagai lambang orang-orang Abbasiyah, dan memakai pakaian hijau sebagai lambang orang-orang Alawiyah (keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as).</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari itu, Ma’mun bahkan menikahkan anak perempuannya dengan Imam Ar-Ridha as dan menikahkan anak perempuannya yang lain dengan putra beliau, yaitu Muhammad Al-Jawad as.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Shalat Hari Raya</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as dibaiat sebagai calon pengganti Khalifah pada 5 Ramadhan 201. Setelah 25 hari, tibalah hari pertama dari bulan Syawal, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Satu hari sebelumnya, Ma’mun memerintahkan Imam Ar-Ridha as untuk menjadi imam shalat hari raya Idul Fitri.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam merasa keberatan. Tetapi Ma’mun bersikeras pada keputusannya, dan mengirim utusan untuk memata-matai gerak-gerik beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menerima dengan satu syarat, yaitu melakukan shalat hari raya sesuai dengan ajaran Rasulullah saw dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun menyetujui syarat itu dan memerintahkan tentaranya untuk bersiap-siap menjemput Imam esok pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat berkerumun di jalan-jalan dan di atap-atap rumah, sementara pasukan berbaris sambil menunggu Imam as keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Matahari terbit menampakkan garis kemilauan emas dan menyelimuti bumi dengan panas dan cahayanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as mandi dan memakai pakaian dan serban putih sambil membiarkan salah satu ujungnya jatuh di depan dadanya dan ujung lainnya terurai di antara kedua bahunya. Beliau memakai wewangian dan memegang tongkat. Beliau memerintahkan orang-orang terdekatnya serta para pembantunya untuk melakukan hal yang sama. Dan, Imam pun keluar bersama mereka tanpa alas kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa langkah kemudian, Imam Ar-Ridha as mengangkat suaranya sambil mengumandangkan takbir; <em>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.</em> Imam muncul dari dalam rumah, sedangkan pasukan istana serta komandannya melihat Imam bersama kelompok besar berjalan di samping kuda-kuda mereka. Mereka pun hanyut dan segera turun dari kuda, lalu melepaskan sepatu-sepatu mereka dan ikut berjalan mengiringi Imam as dengan kaki telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam bertakbir di pintu gerbang. Masyarakat juga ikut bertakbir sehingga gema takbir membahana ke seluruh penjuru kota. Mereka keluar dari rumahnya masing-masing dan tumpah-ruah ke jalan-jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkali-kali masyarakat menghadiri shalat hari raya yang dilaksanakan dengan penuh kemegahan dan kemewahan yang jauh dari dari makna takbir. Kali ini mereka menyaksikan hari raya besar yang penuh dengan semangat Islam yang dibawa oleh Nabi saw dan kini dihidupkan kembali oleh cucunya, Imam Ali Ar-Ridha as.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata-mata yang mengintai gerakan Imam dan masyarakat segera melaporkan hasil pengawasannya kepada Ma’mun. Dia malah kuatir terhadap dampak yang akan muncul apabila Imam melanjutkan perjalanannya untuk melaksanakan shalat hari raya dan menyampaikan khutbah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mun segera mengutus seseorang untuk menemui Imam Ar-Ridha as yang masih dalam perjalanan. Kepada beliau, ia menyampaikan pesan secara lisan, “Sungguh kami telah membuatmu kepayahan, wahai putra Rasulullah. Kami senang bila Anda istirahat. Untuk itu, kembalilah!”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as kembali, sementara masyarakat bertanya-tanya. Sungguh mereka telah terpesona oleh sosok beliau yang mengingatkan mereka akan kerendahan hati ayah dan kakeknya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Tujuan Ma’mun</h3>
<p style="text-align: justify;">Tak seorang pun yang mengingkari kelicikan dan muslihat Ma’mun dalam berpolitik, sebagaimana yang dia lakukan di balik penetapannya atas Imam Ali Ar-Ridha as sebagai pengganti kekhalifahannya. Tentu, ada maksud-maksud tertentu yang disembunyikan Ma’mun, di di antaranya:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Mengharapkan dukungan orang-orang Alawiyah yang ingin membalas dendam kepada pemerintahan Abbasiyah dan bertekad melakukan berbagai pemberontakan dan kerusuhan, yaitu dengan mengangkat Imam as sebagai penganti kekhalifahannya kelak dan mengganti pakaian hitam dengan pakaian hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Merangkul orang-orang Alawiyah dengan cara melibatkan mereka dalam pemerintahan agar masyarakat mengetahui, bahwa pemberontakan yang mereka lakukan hanya karena ingin kekuasaan dan kesenangan, bahwa mereka tidak ingin menegakkan keadilan, tetapi tujuan mereka adalah untuk memperoleh harta kekayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Ma’mun berusaha mengumpulkan tokoh-tokoh Alawiyah di ibu kota negara lalu melakukan penangkapan atas mereka, satu persatu, seperti yang terjadi pada Imam Ar-Ridha as.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentunya, Imam as mengetahui seluruh tipu-daya Ma’mun dan berusaha menggagalkannya dalam banyak kesempatan dan sikap beliau, seperti dalam diskusi dengan para pemuka agama, salat haru raya, dan syarat beliau atas Ma’mun agar tidak ikut campur dalam urusan negara dan politik.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Di’bil Al-Khuza’i</h3>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itu, syair mendapat perhatian khusus dan penghargaan yang tinggi. Syair juga biasa ditempatkan pada surat-surat kabar untuk menyebarluaskan berita, seruan, ataupun maksud-maksud politik. Penguasa memberi dukungan dan imbalan yang besar untuk mengukuhkan pemerintahan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian penyair menolak bujukan pemerintah dan tetap teguh dalam mempertahankan kebenaran, sekalipun dalam keadaan serbakurang dan tertindas, sebagaimana yang dilakukan oleh pujangga Di’bil Al-Khuza’i.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah mencatat pertemuan Di’bil dengan Imam Ali Ar-Ridha. Abu Shalt Al-Hirawi meriwayatkan, “Di’bil menjumpai Imam Ar-Ridha as di Marv dan berkata, ‘Wahai putra Rasulullah, aku telah membuat syair dan aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak membacakan kepada seseorang sebelum engkau mendengarkannya.’</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menyambutnya dan mengucapkan banyak terima kasih, lalu mempersilahkan untuk menyenandungkannya. Di antara bait-bait syair Di’bil ialah:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kediaman-kediaman manusia suci </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>kini telah sunyi dari pengunjung.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rumah wahyu tidak lagi </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>dituruni kabar-kabar langit.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pusara di Kufah dan </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>yang lainnya di Thaibah (Baqi’),</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>pula yang di Fakh</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>senantiasa tercurah salawatku.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan pusara di Baghdad, </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>milik jiwa yang suci</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tercurahkan rahmat Sang Pengasih </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>dalam ruang-ruang kedamaian.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Imam lalu menyambutnya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pusara di Thus betapa besar </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dera nestapa yang menimpanya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Di’bil dengan penuh keheranan bertanya, ‘Aku tidak pernah tahu, siapakah pemilik pusara itu?’</p>
<p style="text-align: justify;">‘Itulah pusaraku, wahai Di’bil,” jawab Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang penyair melanjutkan senandung syairnya yang menyisipkan penderitaan dan musibah yang terus menerus menimpa Ahlulbait. Imam as menangis, dan air matanya berderai menghangatkan pipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam memberikan 100 Dinar sebagai hadiah kepada Di’bil. Namun, ia merasa berat menerimanya, dan meminta dari beliau sehelai kain untuk mendapatkan berkah darinya. Imam menghadiahkan jubah dari bulu yang ditenun sebagai tambahan dari uang 100 Dinar.</p>
<p style="text-align: justify;">Di’bil memohon diri. Dalam perjalanan pulang, ia dan kafilahnya dihadang oleh segerombolan perampok. Seluruh harta benda mereka dirampas. Sambil duduk membagi hasil rampasan, salah seorang perampok melantunkan satu bait puisi:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku melihat mereka membagi-bagi harta rampasan. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Di tangan mereka harta rampasan dari emas.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar bait itu, Di’bil bertanya kepada perampok tersebut, “Siapa yang membuat puisi tadi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini puisi Di’bil”, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akulah Di’bil”, kata Di’bil memperkenalkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Para perampok itu pun segera mengembalikan harta-harta kafilah yang bersamanya dengan penuh hormat, serta meminta maaf kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di’bil dan kafilahnya melanjutkan perjalanan sampai di kota Qom. Di sana, sebagian masyarakat berebut ingin menukar baju Imam dengan seribu Dinar, namun Di’bil menolaknya. Di tengah itu, datanglah sekelompok pemuda dari luar kota Qom menginginkan sepotong (secarik) dari pakaian Imam untuk mengambil berkah dengan imbalan 1000 Dinar. Maka, Di’bil pun merelakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sampai di rumahnya, Di’bil mendapati istrinya menderita sakit di bagian matanya. Ia memeriksakannya, kepada satu tabib ke tabib yang lain. Tapi, mereka semua mengatakan, “Sudah tidak ada gunanya kamu mengobatinya, karena istrimu akan menderita kebutaan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Di’bil merasa sedih sekali. Tiba-tiba ia teringat potongan baju Imam. Kemudian dia melilitkannya di mata sang istri dari awal malam hingga esok harinya. Tatkala istri Di’bil terjaga, ia tidak merasakan sakit sedikit pun berkat keramat Imam Ali Ar-Ridha as.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hari Kesyahidan</h3>
<p style="text-align: justify;">Setelah Ma’mun merasa jenuh dan putus asa membujuk Imam Ali Ar-Ridha as dengan kekuasaan, sementara beliau tetap teguh dan bersih dari kepentingan dunia, Ma’mun senantiasa mencari-cari kesempatan untuk membunuh beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Baghdad, orang-orang Abbasiyah mengumumkan pembangkangannya. Lalu mereka membaiat orang-orang kaya sebagai khalifah pengganti Ma’mun, karena kuatir akan berpindahnya kekuasaan dan kekhalifahan ke tangan orang-orang Alawiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menarik simpati mereka di Baghdad dan tetap mengakuinya sebagai khalifah, Ma’mun merencanakan pembunuhan terhadap Imam. Dia bubuhkan racun ganas di dalam anggur.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as meninggal karena racun itu dan kembali ke haribaan Allah dalam keadaan syahid dan teraniaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali Ar-Ridha as syahid pada tahun 203 H. dan dimakamkan di kota Thus (Masyhad, Iran).</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Ma’mun menampakkan dirinya sedih di hadapan masyarakat dengan tujuan menepis kecurigaan dan tuduhan mereka terhadapnya. Dia pun ikut serta mengantarkan jenazah suci Imam as dan berjalan tanpa alas kaki sambil menangis.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Imam Ali Ar-Ridha</h3>
<p style="text-align: justify;">• “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada orang tuanya, maka dia tidak bersyukur kepada Allah SWT.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Barang siapa yang selalu mengawasi dirinya, niscaya akan beruntung, dan barang siapa melalaikannya, pasti akan merugi.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Sebaik-baik akal adalah kesadaran seseorang akan dirinya sendiri.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Bila seorang mukmin marah, maka kemarahannya tidak akan mengeluarkan dirinya dari bersikap benar. Dan jika ia senang, maka kesenangannya tidak akan menghanyutkannya ke dalam kebatilan. Dan jika ia punya kekuatan, ia tidak akan merebut lebih dari haknya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang menceritakan kejelekan orang dan orang yang mendengarkannya serta orang yang banyak bertanya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Ali Ar-Ridha</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama        : Ali.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar        : Ridha.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panggilan : Abu Hasan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah         : Musa Al-Kazhim as.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu            : Najmah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran : Madinah, 11 Dzulqa’dah 148 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wafat       : 203 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam    : Thus, Masyhad-Iran.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ali-ar-ridha-teladan-pejuang-yang-sabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM MUSA AL-KAZHIM, PELINDUNG KAUM TERTINDAS</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-musa-al-kazhim-pelindung-kaum-tertindas/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-musa-al-kazhim-pelindung-kaum-tertindas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 11:02:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam musa al-kazhim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Musa Al-Kazhim as lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan 7 Shafar tahun 120 Hijriah di sebuah lembah bernama Abwa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Ibunda beliau bernama Hamidah. Imam as mencapai kedudukan Imamah pada usia 21 tahun.
Abu Bashir menuturkan, “Kami bersama Imam Ja’far melakukan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam-musa-al-kazhim.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-429" title="imam musa al-kazhim" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/imam-musa-al-kazhim.jpg" alt="" width="180" height="140" /></a>Imam Musa Al-Kazhim as lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan 7 Shafar tahun 120 Hijriah di sebuah lembah bernama Abwa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Ibunda beliau bernama Hamidah. Imam as mencapai kedudukan Imamah pada usia 21 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bashir menuturkan, “Kami bersama Imam Ja’far melakukan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak lama setelah tiba di sebuah tempat yang dikenal dengan Abwa’ dan menyantap sarapan pagi di sana, Imam mendapat kabar bahwa Allah SWT telah menganugerahinya seorang putra. Dengan penuh suka-cita, Imam Ja’far segera menemui istrinya, Hamidah. Tidak lama kemudian, beliau kembali dengan wajah berseri dan berkata, “Allah SWT telah memberiku seorang anak. Kelahiran putraku ini merupakan anugerah terbaik dari-Nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibundanya bercerita bahwa ketika putranya lahir, ia merebah sujud dan memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Perbuatan ini merupakan tanda imamah beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tiba di Madinah, Imam Ja’far Ash-Shadiq as menghidangkan jamuan makan selama tiga hari, mengundang orang-orang miskin, dan orang-orang yang tertimpa kesusahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya’qub As-Sarraj menuturkan, “Aku mengunjungi Imam Ash-Shadiq as di Madinah. Aku melihatnya berdiri di dekat ayunan putranya, Musa Al-Kazhim as. Aku mengucapkan salam kepada beliau, dan dengan tatapan yang cerah beliau membalas salamku. Beliau berkata, ‘Mari mendekat kepada Imam dan sampaikan salam padanya.’ Aku mendekatinya dan menyampaikan salam. Imam Ja’far berkata, ‘Allah SWT telah menganugerahimu seorang putri dan engkau telah memberinya nama yang kurang pantas untuknya. Pergilah dan gantilah namanya.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibunda Musa Al-Kazhim as adalah seorang budak yang dibeli oleh Imam Ja’far. Meskipun demikian, ibunda telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja’far as, yang menjadikannya sebagai wanita yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sehingga, terkadang Imam Ja’far meminta para wanita untuk bertanya masalah-masalah agama kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Periode kehidupan Imam Musa Al-Kazhim as dapat dibagi menjadi dua bagian:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, kehidupan beliau bersama ayahandanya di Madinah selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan, dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam as.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Akhlak Imam Musa</h3>
<p style="text-align: justify;">Meskipun postur tubuh Imam Musa Al-Kazhim as kurus, namun beliau memiliki jiwa yang kuat. Baju dalam beliau terbuat dari bahan kain kasar. Beliau kadang-kadang berjalan kaki di tengah keramaian penduduk, menyampaikan salam pada mereka, mencintai keluarganya, dan menghormati mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa Al-Kazhim adalah orang yang sangat peduli pada kehidupan kaum fakir miskin dan orang-orang yang tertimpa musibah. Pada malam hari, beliau memikul makanan di pundaknya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh mereka tentang keberadaan beliau. Bahkan, setiap bulannya, Imam memberikan santunan kepada beberapa orang di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang sahabat Imam bercerita tentang ketabahan dan kesabaran beliau. Ia menuturkan, “Musuh-musuhnya terkadang merasa malu dan berkecil hati atas akhlak luhur yang ditunjukkan oleh Imam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu waktu, seorang warga Madinah melihat Imam Musa. Ia menghadang beliau lalu menyampaikan kata-kata kasar dan makian terhadap beliau. Para sahabat Imam berkata, “Izinkan kami untuk menghajarnya, wahai Imam!”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Biarkanlah, jangan kalian ganggu dia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian, tidak ada berita tentang orang tersebut. Imam menanyakan ihwal kesehatan orang itu. Penduduk kota menjawab, “Ia pergi bercocok tanam di ladangnya yang terletak di luar kota Madinah.” Mendengar kabar tersebut, Imam as segera menunggang kudanya dan bergerak menuju ke ladang orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika orang itu melihat kedatangan Imam as, ia berteriak dengan lantang dari kejauhan, “Jangan sekali-kali kau menginjakkan kakimu di ladangku. Aku adalah musuhmu dan musuh datuk-datukmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, Imam malah mendekatinya, menyampaikan salam, dan menanyakan kesehatan serta keadaan hidupnya. Dengan penuh ramah Imam bertanya, “Berapa Dinar yang Anda habiskan untuk biaya ladangmu ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, “Seratus Dinar.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam bertanya lagi, “Berapa banyak keuntungan yang Anda harapkan dari semua ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang itu menjawab, “Dua ratus Dinar.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban ini, Imam mengambil sekantung uang yang berisi tiga ratus Dinar dan memberikannya pada orang tersebut. Imam berkata, “Ambillah uang ini, dan ladang ini tetap menjadi milikmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang selama ini berlaku kurang ajar dan kasar kepada Imam itu, tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan sesantun itu dari Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika hendak kembali ke Madinah, Imam berpesan, “Lepaskan amarahmu dengan cara seperti ini.” Yakni, tetap menunjukkan akhlak yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Kazhim adalah sebuah gelar yang berarti orang yang mampu mengendalikan amarahnya ketika mendapat gangguan dan membalasnya dengan kebaikan serta penghormatan. Perbuatan mulia ini telah membuat musuh-musuhnya menjadi begitu malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kebiasaan Imam Musa as ialah menunjukkan cinta kasih dan kehangatannya kepada kerabat beliau. Beliau berkata, “Apabila terjadi permusuhan di antara kerabat, lalu mereka saling berjabatan tangan ketika mereka berjumpa, maka permusuhan itu akan pergi dan sesama mereka akan saling mencintai satu sama lainnya dan sama-sama menyambut gembira.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Sikap Pemurah Imam</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa Al-Kazhim as masyhur di antara para penduduk dengan kemurahan dan keramahannya, seperti perbuatan beliau membebaskan seribu budak, atau pun bantuan beliau kepada mereka yang dalam kesulitan dan terhimpit masalah hidup, serta melunasi utang orang-orang yang terlilit utang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Sharashab menukil, “Suatu hari, Khalifah Manshur mengundang Imam Musa ke istananya dan meminta beliau untuk duduk di singgasana khalifah pada hari tahun baru dan membawa pulang hadiah-hadiah yang dihaturkan oleh para tamu. Meskipun Imam tidak begitu tertarik untuk memenuhi undangan itu, namun beliau dengan terpaksa menerimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Beliau duduk di singgasana itu. Atas perintah Khalifah Manshur, para pengawal kerajaan, keluarga istana, dan para pembesar yang ikut dalam acara resmi tersebut menyerahkan hadiah-hadiah mereka kepada Imam. Manshur memerintahkan salah seorang pelayannya untuk mencatat secara detail jumlah hadiah itu dan menyiapkan perlengkapannya untuk dibawa oleh Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Di akhir acara itu, seseorang yang sudah berusia lanjut datang dan berkata, ‘Wahai putra Rasulullah, aku tidak memiliki sesuatu pun untuk aku haturkan kepadamu. Akan tetapi, aku memiliki beberapa syair yang berhubungan dengan duka nestapa yang menimpa datukmu, Imam Husain as. Hanya syair inilah yang dapat kupersembahkan kepadamu.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang itu kemudian melantunkan syairnya di hadapan Imam dan meninggalkan kesan yang luar biasa dalam diri beliau. Beliau meminta pengawal Manshur untuk pergi menjumpai Manshur dan menanyakan tentang apa yang harus dilakukan dengan hadiah-hadiah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pengawal tersebut beranjak menjumpai Manshur, dan setelah kembali ia mengatakan, ‘Khalifah mengatakan bahwa seluruh hadiah itu telah diserahkan kepadamu sepenuhnya. Kau bisa serahkan kepada siapa saja yang kau kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pandangan Imam jatuh kepada orang tua tadi. Kepadanya beliau mengatakan, ‘Demi syair yang telah Anda lantunkan sehubungan dengan bencana yang menimpa datukku, aku anugerahkan hadiah ini untukmu sehingga dengannya Anda bebas dari kemiskinan dan penderitaan.’”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Imam Musa Bekerja</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa Al-Kazhim as bercocok tanam sendiri di ladang yang menjadi kekayaan pribadi beliau. Dari hasil cocok tanam itu, Imam membelanjakannya untuk keperluan hidup sehari-hari. Kadang-kadang, kerja keras di ladang membuat seluruh badan beliau basah kuyup dengan peluh.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, salah seorang sahabat Imam yang bernama Ali Bathaini—yang memiliki hubungan kerja dengan Imam—mendatangi beliau di ladang. Ketika ia melihat Imam dalam kepayahan, ia pun menjadi sedih dan berkata, “Semoga jiwaku menjadi tebusanmu wahai Imam, mengapa Anda tidak membiarkan orang lain untuk melakukan pekerjaan ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawab, “Mengapa aku harus membebankan pekerjaan ini ke pundak orang lain sementara mereka lebih baik dalam melakukan pekerjaan ini daripada aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya, “Siapakah mereka itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Rasulullah saw, Amirul mukminin Ali as, ayahandaku, dan datukku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja dan berpeluh adalah sunah para nabi, para Imam, dan para hamba Allah yang saleh. Mereka ini senantiasa bekerja dan bersusah payah. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan hasil kerja yang mereka usahakan sendiri.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Cara Dakwah Imam Musa</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, Imam melintasi sebuah jalan. Denting suara musik dan dendang lagu terdengar hingga keluar rumah. Pemilik rumah tersebut adalah seorang tuan yang terpandang. Dia telah membangun sebuah tempat untuk bersenang-senang dan membuatnya bergembira ria.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba seorang budak keluar dari rumah itu untuk membuang sampah di sudut jalan. Secara kebetulan, ia melihat Imam dan berdiri terdiam. Lalu, ia memberikan salam kepada Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Imam bertanya padanya, “Apakah pemilik rumah ini adalah seorang hamba atau seorang merdeka?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab , “Seorang yang merdeka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata lagi, “Tentu saja dia seorang yang merdeka. Jika dia seorang hamba, tentu dia memiliki rasa takut kepada Allah SWT dan tidak akan mengerjakan perbuatan sia-sia ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Budak itu kembali masuk rumah. Tatkala tuannya menanyakan keterlambatannya, ia menceritakan perjumpaan dan perbincangannya dengan Imam di luar tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang itu sejenak merenungi perbincangan itu. Ia merasakan perkataan Imam di atas begitu menyentuh hatinya. Segera ia bangkit dari tempat duduknya dan dengan kaki telanjang ia berlari menyusul Imam dari belakang hingga berjumpa dengan beliau. Orang itu memberikan salam kepada Imam dan menyampaikan penyesalannya di hadapan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, ia mengubah pusat hiburan itu menjadi tempat ibadah, dan setiap hari ia berjalan dengan kaki telanjang. Orang ini kemudian dikenal dengan nama “Basyri Al-Hafi”, yang berarti Si Basyri yang berjalan dengan kaki telanjang.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kezuhudan dan Ibadah</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa Al-Kazhim as sangat terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya sehingga di mana pun orang bercerita tentang beliau, mereka pasti berkomentar, “Beliau adalah seorang pecinta ibadah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Mufid menulis tentang Imam as, “Di zaman itu, beliau adalah orang yang paling saleh dan bertakwa. Pada malam harinya, beliau larut dalam shalat. Bilamana melaksanakan sujud, beliau senantiasa memanjangkannya sementara air matanya luruh hingga membasahi janggut beliau.”</p>
<p style="text-align: justify;">Syablanji, seorang ulama Ahlusunah menulis, “Imam Musa Al-Kazhim as adalah orang yang paling bertakwa dan zuhud pada zamannya. Beliau sangat arif, bijaksana, pemurah, dan pengasih kepada siapa saja. Beliau membantu dan merawat orang-orang yang malang. Waktunya banyak dihabiskan untuk mengerjakan ibadah tanpa diketahui oleh orang banyak. Beliau berkata, ‘Ya Allah, mudahkanlah kematianku dan ampuni dosa-dosaku saat aku dihadapkan pada-Mu di Hari Kiamat.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa as merupakan seorang pecinta Tuhan sejati sehingga membuat orang-orang menjadi takjub dan terheran-heran. Sampai-sampai beliau pernah membuat Fadhl, si kepala penjara ikut menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula pelayan wanita khusus Khalifah Harun yang diutus ke penjara untuk menggoda Imam as, dan membuat beliau tertarik kepadanya sehingga Harun menemukan alasan untuk menghukum beliau. Di dalam penjara, pelayan wanita itu malah terpukau oleh perangai Imam, sehingga ia kembali menghadap Harun dalam keadaan menangis, dan menyatakan keberatannya atas keputusan Harun memenjarakan Imam as.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Tragedi Fakh</h3>
<p style="text-align: justify;">Atas perintah Imam Musa Al-Kazhim as, seorang Alawi (keturunan Imam Ali) asal Madinah bernama Husain bin Ali melakukan pemberontakan terhadap Al-Hadi yang menjadi khalifah Dinasti Abbasiyah ketika itu. Beserta dengan tiga ribu pasukan, Husain bangkit melawan pemerintahan Abbasiyah karena kejahatan dan kezaliman mereka terhadap anak keturunan Ali bin Abi Thalib as.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, pasukan Al-Hadi berhasil mengepung mereka di tanah Fakh dan melakukan pembantaian massal di tempat itu, yaitu memenggal kepala mereka, satu persatu. Kepala-kepala yang terpenggal itu dan para tawanan perang dibawa ke hadapan Al-Hadi. Dia memberi perintah kepada algojonya untuk membunuh para tawanan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai tragedi Fakh dan pejuang ‘Alawi itu dikenal dengan “Husain”, Sang Syahid Fakh.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hijrah Pertama ke Baghdad</h3>
<p style="text-align: justify;">Manshur tewas dibunuh pada 158 H. Segera anaknya, Al-Mahdi naik tahta sebagai khalifah yang menggantikan ayahnya, ia memberlakukan siasat-siasat keji atas masyarakat. Ia bertingkah seakan-akan seorang alim yang taat beragama di hadapan khalayak, tetapi di belakang ia justru senantiasa berbuat zalim dan maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika memegang kekuasaan, Khalifah Al-Mahdi membebaskan para tahanan politik, di antaranya Imam Musa as, dan mengembalikan harta yang dirampas dari tangan mereka. Akan tetapi, ia juga memberikan hadiah yang besar kepada para penyair yang memaki dan melaknat keluarga Ali bin Abi Thalib as. Seperti ketika ia memberikan hadiah 70.000 Dirham kepada Busyr bin Burd dan 100.000 Dirham kepada Marwan karena syair-syair mereka berisikan laknat dan makian terhadap keluarga Imam Ali as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menghabiskan harta negara untuk berfoya-foya dan bersenang-senang, seperti ketika ia menghabiskan 59.000.000 Dirham untuk pesta pernikahan anaknya, Harun.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, mata-mata Al-Mahdi melaporkan popularitas Imam dan kecondongan masyarakat kepada beliau. Mendengar berita itu, dia benar-benar geram dan segera memerintahkan orang-orang dekatnya untuk membawa Imam as dari Madinah ke Baghdad dan memenjarakannya di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Khalid berkata, “Suatu hari Imam dikawal oleh pasukan resmi kerajaan tiba di rumahku di Zubala. Dalam waktu yang singkat itu, Imam sempat lepas dari pengawalan pasukan kerajaan itu, dan beliau memintaku untuk membelikan beberapa barang. Aku sangat sedih dan menangis melihat keadaan Imam seperti itu. Kepadaku Imam mengatakan, ‘Jangan risaukan aku, karena aku akan segera kembali, dan nantikan aku hingga hari itu, di tempat itu.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku persembahkan diriku atas apa yang telah Imam perintahkan kepadaku. Kulihat beliau memimpin kafilah tersebut. Dengan gembira Aku maju ke depan dan mencium Imam. Beliau berkata, ‘Wahai Abu Khalid, mereka akan membawaku kembali ke Baghdad dan aku tidak akan kembali dari perjalanan itu.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Ketika aku mencari tahu alasan mengapa Imam dibebaskan, aku menjadi tahu bahwa Al-Mahdi melihat Imam Ali bin Abi Thalib as dalam mimpinya, pada malam yang sama. Dalam mimpinya itu, dia melihat Imam Ali dengan tatapan marah dan memberi peringatan kepadanya. Karena ketakutan, pada pagi harinya dia pun melepaskan Imam dan mengirimnya kembali ke Madinah dengan segenap hormat dan santun.”</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun keadaan yang mencekik dan menyiksa di Madinah, Imam Musa as tetap giat membimbing dan menuntun warga kota. Tidak lama berselang, Al-Mahdi meninggal dunia dan anaknya Al-Hadi naik tahta menggantikannya sebagai khalifah.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan ayahnya, Al-Hadi memulai permusuhan dan penindasannya terhadap anak keturunan Imam Ali as tidak lagi sembunyi-sembunyi, tetapi malah terang-terangan. Perbuatannya yang paling jahat ialah pembantaiannya terhadap anak keturunan Ali as yang kemudian dikenal dengan nama “Tragedi Fakh”, dan oleh ahli sejarah dicatat sebagai tragedi terkejam kedua setelah tragedi Karbala.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Hadi adalah orang yang berlumuran dosa, berperangai jahat, dan sama sekali tidak layak menduduki kursi kekhalifahan. Ia menghabiskan uang sewenang-wenang, hanya untuk berpoya-poya dan bersenang-senang, dan memberikan hadiah yang melimpah kepada mereka yang membacakan syair dan yang mendendangkan lagu untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Hadi meninggal pada tahun 170 H. Lalu Harun menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Ketika itu, Imam telah berusia 42 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dibaiat oleh orang-orang setianya, Harun melantik Yahya Barmaki—berkebangsaan Iran—sebagai menterinya dan memberikan wewenang yang penuh kepadanya. Harun sendiri menyibukkan dirinya menguras kekayaan negara “Baitul Mal” yang ketika itu sedang melimpah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menghabiskan seluruh kekayaan negara itu secara berlebih-lebihan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang. Bahkan untuk pembelanjaan suatu acara makan, dia menghabiskan biaya senilai 4.000 Dirham.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Kecongkakan Harun</h3>
<p style="text-align: justify;">Harun sangat terusik dengan perlawanan anak keturunan Ali as terhadap Dinasti Abasiyah. Ia menggunakan segala cara untuk menjauhkan masyarakat dari keluarga Ali as. Ia pun memberikan uang yang melimpah kepada para pujangga yang mendendangkan syair-syair berisikan makian, hujatan, dan cemoohan terhadap mereka. Oleh karena itu, Harun memberikan izin kepada salah seorang pujangga—yang bait-bait syairnya menghujat keluarga Ali—masuk ke dalam gudang kekayaannya untuk memilih dan mengambil barang sesuka hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Harun mengasingkan anak keturunan Ali as dari Baghdad ke Madinah, dan membunuh banyak di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hamid bin Fathaba, gubernur Khalifah Harun di Khurasan, menukil kepada Abdullah Al-Bazzaz An-Naisyaburi, “Harun memiliki satu taman di Naisyabur yang dikunjunginya setiap tahun. Pada suatu waktu, ia memanggilku di tengah malam dan berkata, ‘Tunjukkan seberapa tinggi imanmu kepadaku?’</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkata, “Aku korbankan hidup dan hartaku untukmu.’</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata, ‘Apa lagi?’</p>
<p style="text-align: justify;">Kujawab, ‘Kehormatanku, istriku, dan anakku, semua itu untukmu.’</p>
<p style="text-align: justify;">Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’</p>
<p style="text-align: justify;">Kukatakan, ‘Agamaku.’</p>
<p style="text-align: justify;">Harun menegakkan kepalanya dan berkata sambil tertawa, ‘Anda telah mengatakan apa yang aku nantikan. Mendekatlah, ambil pedang ini dan laksanakan perintah yang disampaikan budakku kepadamu!’</p>
<p style="text-align: justify;">“Budak Harun itu menuntunku ke sebuah rumah yang menyekap enam puluh orang. Mereka adalah anak-anak muda dan orang-orang tua keluarga Ali as. Kemudian ia menyeret mereka satu persatu dan memerintahkan aku untuk membunuh mereka. Aku dengan setia mematuhi perintah Harun tersebut. Setelah aku mengeksekusi mereka, aku buang mayat-mayat itu ke dalam sebuah sumur yang penuh dengan lumpur di sebuah kampung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Duhai sahabatku! Setiapkali aku mengingat tragedi memilukan ini, tubuhku bergetar dan bulu romaku merinding. Dengan segala kekejian dan kejahatannya, Harun masih memerintahkan aku untuk menggali kuburan Imam Husain as dan menghancurkan pusaranya dengan maksud agar orang-orang tidak dapat menziarahinya lagi.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Ikrar Imam Musa Al-Kazhim</h3>
<p style="text-align: justify;">Sudah jelas mengapa Imam Musa Kazhim as begitu tegasnya menolak untuk bekerja sama dengan pemerintahan zalim dan biadab seperti Dinasti Abasiyah. Beliau tidak dapat berdiam diri di hadapan kezaliman mereka. Oleh karena itu, beliau bangkit memberontak melawan pemerintahan Harun.</p>
<p style="text-align: justify;">Di mana saja tempat yang dianggap perlu, Imam as menyingkapkan kekejaman dan kebejatan perangai Harun kepada masyarakat. Hal ini tentu saja membuat Harun menjadi malu dan tercoreng namanya di hadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, Imam Musa as memerintahkan beberapa sahabatnya untuk menolak segala bentuk kerja sama dan bantuan dari pemerintahan Harun. Misalnya kepada Shafwan, sahabat setia Imam. Kepadanya beliau berkata, “Engkau adalah orang yang berbudi baik dalam segala hal kecuali satu, yaitu engkau telah menyewakan untamu kepada Harun.”</p>
<p style="text-align: justify;">Shafwan menjawab, “Aku menyewakan untaku kepadanya hanya pada musim haji saja, dan aku pun tidak menyertai perjalanannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Hai Sofwan, tidakkah kau akan gembira sampai untamu kembali, dan Harun tetap hidup sehingga kau menerima uang sewa darinya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, “Ya, betul.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata lagi, “Barang siapa yang suka bila seorang zalim tetap hidup, maka ia pun termasuk bagian darinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun Shafwan telah menandatangani perjanjian sewa-menyewa dengan Harun yang mensyaratkan supaya Shafwan menyediakan perlengkapan perjalanan haji kepada Khalifah, namun setelah mendengar ucapan Imam Musa as itu, ia pun menjual seluruh unta yang dimilikinya. Harun kemudian memanggil dan mendesaknya untuk mengatakan alasan apa sehingga menjual seluruh unta itu tanpa sedikit pun memberi kabar kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, Harun mengerti apa yang telah terjadi dan berkata kepada Shafwan, “Sekiranya aku tidak mengingat hubungan persahabatan yang dulu terjalin di antara kita, maka detik ini juga aku perintahkan algojoku untuk memenggal kepalamu. Aku tahu siapa yang memberikan perintah ini kepadamu. Musa bin Ja’far yang telah memerintahkan ini padamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun Imam as tidak membolehkan seorang pun untuk berkerja sama dengan Harun, akan tetapi beliau memerintahkan seseorang yang pandai tentang seluk-beluk pemerintahan untuk menyusup dan membangun pengaruh di dalam pemerintahan Harun Ar-Rasyid, dan membantu sahabat-sahabat Imam yang kesusahan, serta melaporkan informasi, rencana, atau keputusan yang telah diambil oleh pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka ini, beliau memberikan izin kepada Ali bin Yaqthin untuk mengemban tugas ini dan berhasil menjabat sebagai salah satu menteri Harun Ar-Rasyid. Dengan tugas ini, Ali dapat membantu sahabat-sahabatnya dan pengikut-pengikut Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, Imam menulis surat yang isinya meminta Ali bin Yaqtin, “Bila tidak ada orang yang melihatmu, kau dapat mengambil wudhu sesuai dengan ajaran Imam. Namun, bila ada yang menemanimu, maka berwudhulah dengan cara mereka. Terima hadiah-hadiah yang diberikan padamu dan jangan engkau tolak.” Penerimaan hadiah itu adalah  salah satu cara Harun menguji kesetiaan orang-orangnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Dialog Harun dan Imam Musa Al-Kazhim</h3>
<p style="text-align: justify;">Harun senantiasa berusaha bertanya tentang sesuatu yang dapat membuat Imam tidak berkutik menjawabnya. Sehingga dengan siasat ini, dia dapat menjatuhkan citra dan kedudukan Imam di tengah masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu kesempatan, Harun berkata kepada Imam as, “Aku ingin menyampaikan sebuah pertanyaan yang hingga kini aku belum temukan jawabannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam, “Jika aku memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapat, aku akan menjawab pertanyaanmu itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun, “Tentu, Anda bebas menyampaikan pendapat Anda. Katakan padaku, mengapa Anda menganggap bahwa Anda lebih unggul di atasku padahal kita berdua dari satu garis keturunan. Bukankah kita berdua berasal dari Bani Hasyim?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam, “Kami lebih dekat kepada Nabi saw dari pada Anda. Sebab, ayah kami adalah Abu Thalib dan ayah Nabi Muhammad saw adalah dua bersaudara dari ibu dan ayah yang sama. Tetapi ayahmu Abbas hanya memiliki nasab (hubungan) dari pihak ayah saja.”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun, “Sewaktu Nabi wafat, ayahmu, Abu Thalib telah lebih dahulu wafat, tapi ayah kami, Abbas masih tetap hidup. Jelas bahwa selama paman masih hidup, Anda sebagai sepupu tidak dapat menerima warisan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam, “Selama seorang anak masih hidup, paman tidak berhak menerima warisan. Dan ketika itu Fatimah masih hidup, maka ayahmu Abbas tidak memiliki hak untuk menerima warisan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun melontarkan pertanyaan lain, “Mengapa Anda membiarkan orang-orang memanggilmu dengan sebutan putra Rasulullah, sementara Anda ini putra Ali bin Abi Thalib. Karena, nasab setiap orang itu menurut pada garis ayahnya, sedangkan Rasulullah adalah kakekmu tapi dari garis ibu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam, “Jika sekiranya Rasulullah hidup dan meminang putrimu, apakah engkau bersedia untuk menerima pinangan beliau dan memberikan putrimu padanya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun, “Tentu saja, setiap bangsa Arab atau pun Ajam akan menerimanya dengan penuh kebanggan dan kehormatan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam, “Tetapi Rasulullah tidak akan pernah meminang putriku untuk beliau nikahi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun, “Mengapa demikian?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam: “Karena, beliau adalah ayahku walaupun dari pihak ibu, sedangkan beliau bukan ayahmu sama sekali. Dengan demikian, aku menganggap diriku sebagai putra Rasulullah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun duduk diam seribu bahasa setelah mendengarkan jawaban Imam yang seakan-akan meremukkan tubuhnya. Lalu ia mempersilahkan Imam untuk memintanya sesuka hati beliau. Imam berkata, “Aku tidak ingin apa pun darimu. Biarkan saja aku pergi melakukan pekerjaanku.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Pengkhianatan Seorang Kerabat</h3>
<p style="text-align: justify;">Kemenakan Imam yang bernama Ali bin Ismail diundang oleh sahabat Harun untuk menemaninya ke Baghdad guna memberi kabar kepada Harun perihal keadaan Musa bin Ja’far. Ketika Imam diberi tahu tentang undangan itu, beliau memanggil kemenakannya itu dan berkata, “Ke manakah kau hendak pergi?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Ismail menjawab, “Ke Baghdad.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata, “Untuk keperluan apa kau ke sana?.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, “Aku terlilit utang. Barangkali dengan kepergian ini aku mendapatkan uang untuk membayar utangku itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata lagi, “Aku yang akan membayar seluruh utangmu itu dan mencukupi keperluan hidupmu beserta keluargamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Ismail menolak tawaran Imam tersebut dan bersikeras untuk tetap pergi. Kepada Imam ia berkata, “Aku tetap akan pergi dan aku meminta nasihat darimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam berkata padanya, “Aku wasiatkan kepadamu dan ini adalah perintahku. Engkau jangan turut serta dan mengambil andil dalam penumpahan darahku, karena akibatnya akan buruk untukmu kelak.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ismail bertanya, “Apa maksud perkataan Anda ini?” Ia mendesak Imam untuk memberinya nasihat. Imam kembali mengulangi perkataannya kepada Ismail. Ia tidak tahu bahwa Imam mengetahui apa yang akan terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ismail beranjak pergi meninggalkan Imam. Beliau memberikan 300 Dinar kepadanya dan berkata, “Ini untuk anak-anakmu.” Ismail mengambil uang tersebut dan pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kepergian Ismail, Imam menyampaikan pesan kepada orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu. Beliau berkata, “Demi Allah, kemenakanku ini akan turut andil dalam pembunuhanku dan menjadikan anak-anakku yatim.”</p>
<p style="text-align: justify;">Para hadirin bertanya-tanya, “Wahai putra Rasulullah, jika Anda mengetahui dia akan berlaku khianat padamu, lalu mengapa Anda masih saja membantunya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menjawab, “Datukku Rasulullah bersabda, ‘Jika seseorang berbuat baik dan mencintai kerabatnya dan si kerabat itu membalasnya dengan perbuatan jahat, maka Allah akan mengazabnya dan ia tidak akan pernah sampai pada apa yang ditujunya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ismail tiba di Baghdad dan berkunjung ke kediaman Yahya Al-Barmaki. Setelah itu, bersama Yahya ia pergi menjumpai Harun. Ia menyampaikan laporannya kepada Harun. Katanya, “Wahai Harun! Musa bin Ja’far telah memerintah Madinah dan ia memiliki uang yang melimpah yang dikirim oleh orang-orangnya dari berbagai tempat. Ia telah mengambil keputusan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahanmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Harun senang mendapatkan laporan dari Ismail itu dan memberi uang sebanyak dua ratus Dirham kepadanya. Ismail dengan senang hati menerima uang tersebut lalu segera pulang ke rumahnya di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, tiba-tiba rasa sakit menyerang tenggorokannya dan mati seketika di tempat itu pula. Harun memutuskan untuk datang ke Madinah guna menangkap Imam dan menjebloskannya ke dalam penjara.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun yang sama, Harun menulis surat kepada seluruh orang-orangnya untuk menyebar di Makkah dan Madinah. Sepulangnya dari Madinah, ia memerintahkan gubernur Madinah untuk menangkap Imam dan mengirimnya ke Bashrah. Imam as dipenjarakan selama satu tahun di sana. Ketika itu kota Bashrah berada di bawah pemerintahan Gubernur Yahya Al-Barmaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama di penjara, akhlak, budi luhur, dan perilaku Imam meninggalkan kesan yang dalam pada diri Yahya. Kesan itu memaksanya untuk menulis surat kepada Harun, “Wahai Harun, aku tidak melihat sesuatu apa pun pada diri Musa bin Ja’far selama dalam penjara kecuali kebaikan dan ketakwaan. Aku tidak tahan lagi memenjarakannya. Terimalah ia agar kembali atau aku akan bebaskan dia pergi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, Harun memutuskan untuk memindahkan Imam dari Madinah ke Baghdad. Atas perintahnya, beliau dipindahkan ke penjara Baghdad di bawah pengawasan Fadhl. Seperti pengalaman Yahya, Fadhl pun terpesona oleh kepribadian luhur Imam Musa as dan meminta Harun agar ia sendiri yang mengawasi beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, Imam dipindahkan lagi ke penjara Sindi bin Syahik, seorang yang bengis dan kejam.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam melewatkan hari-harinya di penjara itu dengan shalat, puasa, ibadah, dan doa. Semua itu menambah kedekatan diri beliau kepada Allah SWT.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Perlawanan di dalam Penjara</h3>
<p style="text-align: justify;">Harun terus berupaya bagaimana caranya membunuh Imam Musa. Suatu hari, dia mengutus Yahya bin Khalik ke penjara. Tugas yang diemban Yahya adalah meminta Imam untuk tidak menentang Khalifah dan menawarkan pengampunan serta pembebasan kepada beliau. Namun, Imam menolak semua tawaran itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menulis sepucuk surat kepada Harun yang berbunyi, “Setiap hari kulalui dengan kesusahan, sementara kau lalui hari-harimu dengan kesenangan. Lalu, kita akan sama-sama mati. Hingga di suatu hari yang tiada akhirnya, kelak kita diberdirikan di hadapan Mahkamah Ilahi, ketika orang-orang licik hanya akan menjadi pecundang dan terhinakan.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hari Kesyahidan</h3>
<p style="text-align: justify;">Alasan Harun mengapa dia harus memindahkan Imam Musa as dari satu penjara ke penjara lain tidak ada lain adalah karena permintaannya kepada setiap kepala penjara untuk membunuh Imam, namun mereka tidak bersedia untuk memenuhi permintaan tersebut. Hingga akhirnya Sindi yang berhati keras itu bersedia untuk meracun Imam as. Maka, di dalam penjara Sindi-lah beliau meninggal akibat racun yang dibubuhkan ke dalam makanan beliau, tepatnya pada tahun 183 H.</p>
<p style="text-align: justify;">Harun dengan menggunakan saksi-saksi palsu dan orang-orang bayaran mencoba menunjukkan kepada khalayak, bahwa kematian Imam Musa adalah sebuah kematian yang wajar dan alamiah. Siasat licik dan keji ini digunakan untuk menghindari pemberontakan sahabat-sahabat dan orang-orang setia Imam. Namun, segala kelicikan dan siasat Harun sia-sia belaka. Seorang lelaki bernama Sulaiman malah memimpin pemberontakan di Baghdad.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dikeluarkan dari penjara, mayat suci Imam Musa Al-Kazhim as digeletakkan di atas jembatan begitu saja; dalam keadaan sunyi senyap dan jauh dari keluarga serta umatnya. Ketika itu, hanya seorang tabib yang kebetulan melewati jembatan dan menemukan mayat suci itu. Setelah memeriksanya ia mengatakan, “Sesungguhnya Imam telah diracun hingga meninggal oleh seorang pembunuh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kesyahidan Imam as itu membuat kekalutan dan berita besar di kota Baghdad. Sementara bagi pengikut-pengikut Ahlulbait, kesyahidan beliau merupakan kesedihan dan kegetiran di hati-hati mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Musa Al-Kazhim as dikebumikan di pemakaman orang-orang Quraisy di kota Kazhimain.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Sahabat-sahabat Imam Musa Al-Kazhim</h3>
<p style="text-align: justify;">Ketika ayahnya yang mulia, Imam Ja’far Ash-Shadiq as wafat, murid-murid beliau memusatkan perhatian dan kesetiaan mereka kepada putranya, Imam Musa as. Mereka menuntut ilmu kepada Imam as selama tiga puluh tiga tahun. Beberapa murid beliau antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ibnu Abi Umair</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia belajar pada tiga Imam, yaitu Imam Musa Al-Kazhim as, Imam Ali Ar-Ridha as, dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ibnu Abi Umair merupakan salah seorang ulama terkenal pada zamannya. Ia meninggalkan banyak kitab-kitab hadis sebagai tanda jasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang memberi kabar kepada penguasa Abasiyah, bahwa Ibnu Abi Umair adalah orang Syi’ah (pengikut Ahlulbait). Ia ditangkap dan diinterogasi untuk menyebutkan nama-nama orang Syi’ah yang ia kenali. Namun, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk memenuhi paksaan mereka. Ia ditelanjangi dan diikat pada pohon kurma. Mereka mengganjar seratus cambukan kepada murid setia para Imam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Mufid menuturkan, “Sahabat utama Imam ini dipenjarakan selama tujuh puluh tahun. Seluruh harta bendanya dimusnahkan. Walaupun didera dengan cobaan yang berat, ia tetap mengunci mulutnya dan tidak berkata sepatah kata pun untuk memberikan informasi kepada penguasa Abasiyah yang zalim.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Ali bin Yaqthin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia juga adalah salah seorang sahabat Imam Ja’far as. Marwan memata-matainya dan memerintahkan penangkapannya. Akan tetapi, Ali berhasil meloloskan diri dari kejaran Marwan. Ia mengirim istri dan anak-anaknya ke Madinah. Ia kembali ke Kufah menyusul keruntuhan Dinasti Bani Umaiyah di tangan Bani Abbasiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali menjalin hubungan yang dekat dengan orang-orang Abbasiyah dan berhasil menjabat kedudukan-kedudukan penting dalam pemerintahan mereka. Melalui kedudukannya ini, ia banyak membantu pengikut-pengikut Ahlulbait yang tertindas.</p>
<p style="text-align: justify;">Harun Ar-Rasyid mengangkat Ali sebagai menterinya. Sebenarnya ia merupakan seorang utusan Imam Musa as yang menyusup ke dalam pemerintahan Harun. Beberapa kali ia bermaksud mengundurkan diri, namun ia ditahan oleh Imam untuk tetap menjabat kementerian demi melindungi ajaran dan pengikut Ahlulbait as.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Yaqthin wafat ketika Imam Musa as masih berada di dalam penjara.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Mu’min Ath-Thaq</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah seorang sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq as dan Imam Musa Al-Kazhim as. Imam Ja’far mendudukkannya sebagai salah seorang sahabat utama beliau dan memberikan penghormatan khusus kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mu’min amat tangkas dalam diskusi dengan siapa saja. Mengenai hal ini, Imam Ja’far as mengatakan, “Mu’min ibarat seekor elang yang menerkam mangsanya.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Hisyam bin Hakam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah seorang pakar dalam bidang ilmu Logika. Acapkali terdapat sebuah masalah pelik, Imam Ja’far as selalu mengutusnya memecahkan masalah itu. Ia sangat menguasai pembahasan Imamah. Ia merupakan murid jenius Imam dan tangkas dalam memberikan jawaban. Ia juga seorang pakar dalam masalah-masalah Ketuhanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hisyam banyak menulis kitab dan terlibat dalam diskusi-diskusi dengan ulama dari berbagai mazhab dan golongan.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Imam Musa Al-Kazhim</h3>
<p style="text-align: justify;">• “Katakan yang hak, walaupun akan mendatangkan kerugian kepadamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Jika engkau menjadi seorang pemimpin yang bertakwa, maka seharusnya engkau bersyukur kepada Allah atas anugerah ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Bersikaplah tegas dan keras terhadap orang-orang zalim sehingga engkau dapat merebut hak orang-orang mazlum (yang teraniaya) darinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Kebaikan yang utama adalah menolong orang-orang yang tertindas.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Dunia ini berkulit halus dan cantik, ibarat seekor ular. Namun, ia menyimpan racun pembunuh di dalamnya.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Musa Al-Kazhim</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama                         : Musa.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar                          : Al-Kazhim.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panggilan               : Abul Hasan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah                          : Imam Ja’far as.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                              : Hamidah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran               : Abwa’, 7 Safar 120 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa Imamah    : 35 Tahun.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Usia                            : 54 Tahun.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesyahidan          :Tahun 182 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam                    : Kazhimain, Irak.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>sumber al-shia.org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-musa-al-kazhim-pelindung-kaum-tertindas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM JA‘FAR ASH-SHADIQ, PENCETUS UNIVERSITAS ISLAM</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ja%e2%80%98far-ash-shadiq-pencetus-universitas-islam/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ja%e2%80%98far-ash-shadiq-pencetus-universitas-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 10:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam ja'far ash-shadiq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Ja‘far Ash-Shadiq as lahir pada 17 Rabiul Awal 80 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Al-Baqir as dan ibunya bernama Ummu Farrah, putri Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.
Bercerita tentang sang ibu, beliau menuturkan, “Ibundaku adalah wanita beriman, bertakwa, dan senantiasa berbuat baik, karena sesungguhnya Allah SWT mencintai orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/jafar-ash-shodiq.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-425" title="ja'far ash-shodiq" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/jafar-ash-shodiq-300x198.jpg" alt="" width="210" height="138" /></a>Imam Ja‘far Ash-Shadiq as lahir pada 17 Rabiul Awal 80 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Al-Baqir as dan ibunya bernama Ummu Farrah, putri Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.</p>
<p>Bercerita tentang sang ibu, beliau menuturkan, “Ibundaku adalah wanita beriman, bertakwa, dan senantiasa berbuat baik, karena sesungguhnya Allah SWT mencintai orang yang senantiasa berbuat baik.”</p>
<p>Imam Ja‘far Ash-Shadiq as hidup sezaman dengan datuknya, Imam Ali Zainal Abidin as selama 15 tahun dan dengan ayahnya, Imam Muhammad Al-Baqir as selama 34 tahun.</p>
<p>Beliau memiliki beberapa gelar terhormat, di antaranya <em>Ash-Shabir</em> (sang penyabar), <em>Al-Fadhl</em> (sang utama), dan <em>At-Thahir</em> (sang suci). Gelar beliau yang paling masyhur adalah <em>Ash-Shadiq </em>(sang jujur). Seluruh gelar tersebut menunjukkan kemuliaan dan keutamaan akhlak beliau.</p>
<p>Beliau sempat menyaksikan datuknya Imam Husain as. Beliau juga menyaksikan kezaliman Bani Umayyah yang justru meruntuhkan kekuasaan mereka sendiri, sekaligus membukakan jalan bagi Bani Abbasiyah yang mengatasnamakan Ahlulbait untuk mengajak masyarakat bangkit melawan Bani Umayyah. Namun, ketika berhasil meruntuhkan kekuasaan Bani Umayyah, mereka malah lebih menumpahkan kebenciannya kepada Ahlulbait as.</p>
<p>Imam Ja‘far as hidup di bawah pemerintahan zalim Bani Umayyah selama kurang-lebih 40 tahun, dan hidup pada masa permerintahan Abbasiyah selama sekitar 20 tahun. Selama itu, beliau menghindar dari kehidupan politik. Sementara pemikiran syirik dan penyelewengan berkembang pesat, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya pada pengajaran agama, pendidikan akhlak, dan akidah di tengah masyarakat.</p>
<p>Kondisi yang berkembang waktu itu telah menuntut Imam Ja‘far as untuk berjuang melawan pemikiran syirik, sehingga pada masa beliaulah mazhab Ahlulbait sesungguhnya mengalami perkembangan pesat.</p>
<h3>Akhlak Luhur</h3>
<p>Zaid bin Tsa’ari Al-Ma’ruf berkata, “Pada setiap zaman pasti ada seorang dari Ahlulbait Nabi saw di tengah-tengah kita yang menjadi bukti Allah atas segenap makhluk-Nya. Dan bukti Allah di zaman kita ini ialah anak laki-laki dari saudaraku, Ja‘far bin Muhammad yang tidak akan sesat siapa yang mengikutinya dan tidak akan mendapat petunjuk siapa yang menyimpang darinya.”</p>
<p>Malik bin Anas (Imam Malik) berkata, “Demi Allah! Aku tidak pernah melihat seorang pun melebihi kezuhudan, keutamaan, ibadah, dan kewarakan Ja‘far bin Muhammad. Suatu waktu aku mendatanginya dan beliau sangat memuliakanku.”</p>
<p>Bahkan, Abu Hanifah (Imam Hanafi) pernah belajar kepada beliau selama dua tahun. Dia menuturkan pengakuannya, “Seandainya tidak ada dua tahun, maka Nu’man (Abu Hanifah) pasti binasa.”</p>
<p>Salah satu sahabat beliau meriwayatkan, “Pada suatu hari aku bersama Abu Abdillah (Imam Ja‘far) as. Ketika itu, beliau mengendarai keledai menuju Madinah. Tatkala mendekati pasar, Imam turun dari himarnya lalu sujud kepada Allah cukup lama.</p>
<p>“Aku menunggunya, sampai beliau mengangkat kepalanya. Lalu aku berkata kepadanya, ‘Semoga aku menjadi tebusanmu wahai Imam! Aku melihat Anda turun dari keledai lalu sujud.’ Beliau membalas, “Sesungguhnya aku teringat nikmat Allah yang begitu melimpah kepadaku. Maka, aku segera melakukan sujud syukur.’”</p>
<p>Pernah juga sahabat itu berkata, “Aku melihat Ja‘far bin Muhammad as sedang mencangkul di kebunnya. Tampak peluh bercucuran dari tubuhnya yang mulia. Kukatakan kepadanya, ‘Semoga aku menjadi tebusanmu, wahai Imam! Berikanlah cangkul itu kepadaku dan tinggalkanlah pekerjaan ini.’</p>
<p>“Beliau berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya aku senang kepada seseorang yang bersusah payah dan kulitnya terbakar sinar matahari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.’”</p>
<p>Suatu hari Imam Ja‘far as meminta seorang pembantunya untuk suatu keperluan. Ketika ia tak kunjung kembali, beliau keluar mencarinya dan mendapatinya sedang tidur. Imam menghampirinya dan duduk di dekat kepalanya lalu mengipasinya hingga ia terjaga. Imam mengingatkannya dan berkata kepadanya, “Engkau tidur siang dan malam? Bagimu waktu malam dan bagi kami waktu siang.”</p>
<p>Imam Ja‘far as pernah mengupah beberapa orang untuk bekerja di kebunnya. Sebelum mereka selesai dari pekerjaannya, Imam berkata kepada pembantunya, Mu’tab, “Berikanlah upah mereka sebelum kering keringatnya.”</p>
<p>Ketika telah lewat tengah malam, beliau membawa kantong yang berisi roti, daging, dan Dirham (uang perak) yang diletakkan di pundaknya, lalu beliau memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar Madinah, sementara mereka tidak mengetahui siapa yang membagi-bagikan bahan pangan itu. Ketika Imam Ash-Shadiq as wafat, mereka baru tahu bahwa yang membagikan bahan pangan kepada mereka selama ini adalah beliau.</p>
<h3>Imam Ja‘far dan Sufyan Ats-Tsauri</h3>
<p>Suatu hari, Sufyan lewat di Masjidil Haram. Dia melihat Imam Ja‘far as memakai mantel bagus yang berharga mahal. Dia berkata kepada dirinya, “Demi Allah, saya akan peringatkan dia.” Lalu dia mendekati Imam dan berkata kepadanya,” Demi Allah, wahai putra Rasulullah! Aku tidak menjumpai pakaian seperti ini dipakai oleh Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, dan tidak seorang pun dari bapakmu.”</p>
<p>Imam menjawab, “Dahulu, Rasulullah hidup pada zaman yang serba kekurangan, kefakiran, dan kini kita hidup pada zaman kemakmuran, dan orang-orang baiklah yang lebih berhak daripada orang lain atas nikmat Allah.”</p>
<p>Kemudian beliau membacakan firman Allah, “<em>Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan dan makan bersih yang Allah siapkan untuk hambanya</em>.<em>”</em> “Maka, kamilah yang lebih berhak untuk memanfaatkan apa yang diberikan Allah.”</p>
<p>Lalu Imam menyingkap pakaiannya dan tampaklah pakaian dalamnya yang kasar dan kering. Beliau berkata lagi, “Wahai Sufyan, pakaian ini (mantel luar) untuk manusia dan pakaian dalam ini untukku.”</p>
<h3>Imam Ja‘far dan Perniagaan</h3>
<p>Suatu hari Imam as memanggil pelayannya, Musadif dan memberinya 1.000 Dinar untuk modal berniaga. Imam berkata kepadanya, “Bersiap-siaplah pergi ke Mesir untuk berniaga.”</p>
<p>Ketika barang dagangan sudah dikumpulkan, dia bersiap-siap untuk berangkat bersama kafilah dagang ke Mesir. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan kafilah dagang dari Mesir dan mereka menanyakan barang perniagaan dan kebutuhan masyarakat di sana. Mereka mengabarkan bahwa barang yang mereka bawa sekarang tidak ada di Mesir, lalu kafilah dagang itu sepakat untuk mencari keuntungan.</p>
<p>Setibanya di Mesir, mereka menjual barang mereka dengan harga seratus persen keuntungan, kemudian bergegas kembali ke Madinah. Musadif menjumpai Imam Ash-Shadiq as sambil membawa dua kantong uang, masing-masing berisi 1.000 Dinar.</p>
<p>Dia berkata kepada Imam as, “Wahai tuanku, ini modal uang dan ini keuntungannya.”</p>
<p>Imam berkata, “Alangkah banyak keuntunganmu. Bagaimana caranya engkau dapatkan keuntungan sebanyak ini?”</p>
<p>Musadif pun menceritakan bagaimana masyarakat Mesir membutuhkan barang yang mereka bawa, dan bagaimana para pedagang sepakat untuk menarik keuntungan satu kali lipat dari setiap Dinar modal mereka.</p>
<p>Imam as dengan nada heran berkata, “Maha Suci Allah, engkau sepakat untuk menarik keuntungan dari kaum muslimin dan menjual barang kalian dengan keuntungan satu Dinar dari setiap Dinar modal kalian.”</p>
<p>Imam lalu mengambil modalnya saja dan berkata, “Ini adalah harta saya dan aku tidak butuh pada keuntungan ini.”</p>
<p>Kemudian berkata, “Wahai Musadif, tebasan pedang lebih ringan perkaranya daripada mencari harta halal.”</p>
<p>Pada suatu waktu, seorang fakir pernah meminta bantuan kepada Imam Ja‘far as. Lalu beliau berkata kepada pembantunya, “Apa yang ada padamu?” Pembantu itu menjawab, “Kita punya empat ratus Dirham.”</p>
<p>Imam berkata lagi, “Berikanlah uang itu kepadanya!” Orang fakir itu mengambilnya dan pamit dengan segunung rasa syukur.</p>
<p>Imam meminta kepada pembantunya, “Panggil dia kembali!” Si fakir itu berkata keheranan, “Aku meminta kepadamu dan kau memberiku, lalu gerangan apakah Anda memanggilku kembali?”</p>
<p>Imam berkata, “Rasululah saw bersabda, ‘Sebaik-baik sedekah adalah yang membuat orang lain tidak butuh lagi.’ Dan kami belum membuat kamu merasa tidak butuh lagi. Maka, ambillah cincin ini. Harganya 10 ribu dirham. Jika kamu memang memerlukan, juallah cincin ini dengan harga tersebut.”</p>
<h3>Berbakti kepada Ibu</h3>
<p>Seorang pemuda beragama Nasrani (Kristen) yang baru saja masuk Islam menjumpai Imam Ja‘far Ash-Shadiq. Imam memanggilnya dan berkata, “Katakanlah apa yang kau butuhkan?”</p>
<p>Pemuda itu berterus terang, “Sesungguhnya ayah dan ibuku serta seluruh keluargaku beragama Nasrani. Ibuku matanya buta dan aku hidup bersama dengan mereka dan makan dari bejana mereka.”</p>
<p>Imam as berkata, “Apakah mereka makan daging babi?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Tidak.”</p>
<p>Imam as berkata, “Makanlah bersama mereka, dan aku wasiatkan kepadamu untuk tidak merasa berat dalam berbuat baik kepada ibumu, dan penuhilah segala keperluannya.”</p>
<p>Pemuda itu kembali ke Kufah. Setibanya di rumah, sang ibu mendapatinya begitu patuh dan saleh, berbeda dengan kondisi sebelumnya.</p>
<p>Dia berkata, “Wahai anakku, kau tidak pernah melakukan hal seperti ini ketika kau masih memeluk agama Nasrani. Lalu gerangan apakah semua yang kuliat ini semenjak kau berpindah agama dan masuk Islam?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Aku diperintahkan melakukan semua ini oleh seorang laki-laki dari keturunan Nabi Muhammad saw.”</p>
<p>“Apakah dia seorang nabi?”, tanya sang ibu.</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Bukan, ia hanyalah keturunan nabi.”</p>
<p>Akhirnya, sang ibu pun mengakui, “Agamamu sungguh sebaik-baik agama. Ajarkanlah agamamu kepadaku.”</p>
<p>Lalu pemuda itu menyambut permintaannya, hingga ia pun masuk Islam dan menunaikan salat sesuai yang diajarkan anaknya yang saleh itu.</p>
<h3>Imam Ja‘far dan Penimbun Barang</h3>
<p>Imam Ja‘far Ash-Shadiq as berkata, “Masa menimbun barang pada musim subur (panen); yaitu empat puluh hari dan tiga hari pada musim paceklik. Maka, barang siapa yang melampaui empat puluh hari pada musim subur, sungguh ia akan terlaknat, dan barang siapa yang melampaui tiga hari ketika musim paceklik, dia pun akan terlaknat.”</p>
<p>Beliau berkata kepada pembantunya ketika masyarakat dalam keadaan hidup susah, “Belilah biji gandum dan campurlah makanan kami (dengan bahan lain), karena kami dimakruhkan makan makanan yang enak sementara masyarakat makan makanan yang tidak enak.”</p>
<p>Suatu malam, gelap gulita menyelimuti kota Madinah. Mu&#8217;alla bin Khunais melihat Imam Ja‘far as menerobos kegelapan malam di bawah guyuran hujan sambil memikul roti sekarung penuh. Lalu dia mengikuti beliau untuk mengetahui ihwal rota yang dibawanya. Tiba-tiba beberapa potong roti itu jatuh berserakan. Imam as memungutnya dan terus melanjutkan perjalanannya hingga sampai di tempat orang-orang miskin yang sedang tidur. Imam as meletakkan dua potong roti di samping kepala mereka.</p>
<p>Mu’alla mendekati Imam as. Setelah memberi salam, dia bertanya, “Apakah mereka dari pengikut setiamu?” Beliau menjawab, “Bukan.”</p>
<p>Imam Ja‘far as juga banyak menanggung nafkah sejumlah keluarga. Beliau membawakan mereka makanan pada malam hari sementara mereka sendiri tidak mengetahui. Hingga ketika beliau wafat, terputuslah santunan yang biasa datang pada malam hari. Mereka sadar bahwa yang membawa itu ternyata sang Imam as.</p>
<p>Suatu masa, Madinah dilanda musim kemarau. Gandum begitu langka di pasar. Imam Ja‘far as bertanya kepada pembantunya, Mu&#8217;tab tentang persediaan yang dimiliki. Mu&#8217;tab menjawab, “Kita punya cukup persedian untuk beberapa bulan.”</p>
<p>Beliau memerintahkan untuk membawa dan menjualnya di pasar. Mu&#8217;tab heran dan memprotes. Akan tetapi, tidak ada faedahnya.</p>
<p>Basyar Al-Mukkari meriwayatkan, “Aku mendatangi Ja‘far Ash-Shadiq as, sementara beliau tengah memakan kurma yang berada di tangannya. Beliau berkata, ‘Wahai Basyar, kemarilah dan makanlah bersama kami.’</p>
<p>Aku berkata, ‘Semoga Allah membahagiakanmu, nafsu makanku hilang karena aku melihat sebuah kejadian di tengah jalan tadi yang menyakitkan hatiku. Aku melihat tentara memukuli seorang perempuan dan menyeretnya untuk dijebloskan ke penjara. Perempuan itu meratap, ‘Aku memohon perlindungan kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Lalu aku mencari tahu tentang nasib perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa dia tergeletak di jalan. Aku berkata, ‘Semoga Allah melaknat orang yang menzalimimu, duhai Fatimah.’</p>
<p>Imam berhenti makan dan menangis. Air matanya membasahi sapu tangannya. Lalu beliau bangkit dan pergi ke mesjid untuk mendoakan perempuan itu.</p>
<p>Perempuan miskin itu tidak lama tinggal mendekam di penjara. Imam as mengirimkan kepadanya sebuah kantong kecil yang berisi tujuh keping Dinar.</p>
<h3>Universitas Islam</h3>
<p>Dinasti Umayah, yang diikuti oleh Dinasti Abbasiyah, senantiasa berusaha menumpas Ahlulbait as dan mengusir para pengikut mereka di segala penjuru.</p>
<p>Dalam keadaan buruk demikian itu, masyarakat menuntut ilmu dan riwayat dari Ahlulbait dengan sembunyi-sembunyi dan rasa takut.</p>
<p>Ketika keadaan itu berlanjut sampai pada masa Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja‘far Ash-Shadiq as, mereka berdua memusatkan perhatian pada pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat asas keimanan di hati masyarakat.</p>
<p>Pada zaman Imam Ja‘far as, begitu banyak pemikiran dan kepercayaan sesat yang menggoncang keimanan masyarakat, lalu Imam bekerja keras memeranginya.</p>
<p>Dalam rangka itu, beliau mendirikan sebuah universitas Islam besar pertama, dan berhasil melahirkan lebih dari empat ribu sarjana di berbagai bidang ilmu agama, Matematika, Kimia, hingga Kedokteran.</p>
<p>Tengoklah Jabir bin Hayyan, seorang Ahlul Kimia yang termasyhur itu. Ia mengawali pandangan-pandangan ilmiahnya dengan ungkapan, “Tuanku Ja‘far bin Muhammad Ash-Shadiq as telah mengatakan kepadaku ….”</p>
<p>Imam Ja‘far as sangat memuliakan para ilmuwan yang bertakwa, memberikan semangat, dan menjelaskan metodologi penelitian dan dialog yang benar kepada mereka dalam menegakkan agama dan memperkokoh dasar-dasar keimanan.</p>
<p>Beliau merasa sangat sedih tatkala menyaksikan para pemikir yang berusaha mengacaukan keyakinan masyarakat dengan menyebarkan berbagai pemikiran sesat.</p>
<p>Pernah suatu hari, empat pemikir sesat berkumpul di Makkah. Mulailah mereka memperolok para jemaah haji yang sedang bertawaf di seputar Ka’bah.</p>
<p>Selain itu, mereka berempat sepakat untuk menyanggah Al-Qur&#8217;an dengan cara mengarang kitab yang serupa. Mereka pun membagi tugas yang masing-masing pemikir mempelajari seperempat dari Al-Qur&#8217;an untuk disanggah, dan berjanji untuk bertemu lagi pada musim haji tahun depan.</p>
<p>Genap satu tahun kemudian, empat pemikir itu kembali berkumpul di Makkah. Pemikir pertama mengatakan, “Saya telah menghabiskan waktuku selama setahun hanya untuk memikirkan ayat yang berbunyi, <em>‘Maka tatkala mereka putus asa [terhadap hukuman Nabi Yusuf], mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik </em>…<em>.’</em> (QS. Yusuf:80) Sungguh kefasihan ayat ini melumpuhkan pikiranku.”</p>
<p>Pemikir kedua menyahut, “Ya, aku juga memikirkan ayat yang berbunyi, <em>‘Hai manusia, telah diberikan sebuah perumpamaan, maka simaklah dengan seksama, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang kamu sebut selain Allah sama sekali tidak mampu menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.’</em> (QS. Al-Hajj:73). Sungguh Aku tidak sanggup menciptakan seindah ayat ini.”</p>
<p>Tanpa membuang waktu, pemikir ketiga pun menyambungnya, “Aku sudah memikirkan ayat ini, <em>‘Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentulah keduanya hancur….’</em> (QS. Al-Anbiya’:22) Sungguh aku begitu lemah untuk membuat padanannya.”</p>
<p>Akhirnya tibalah giliran pemikir keempat menyatakan pengakuannya, “Sesungguhnya Al-Qur&#8217;an ini bukanlah buatan manusia. Aku telah menghabiskan setahun penuh hanya untuk merenungkan ayat ini, <em>‘Dikatakan, &#8216;Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit [hujan] berhentilah, dan air pun disurutkan, perintahpun terlaksana, dan bahtera itu pun berlabuh di bukit Judi [dekat Armenia daerah Mesopatomia], dan dikatakan binasalah orang-orang Zalim.’</em>” (QS. Hud:44)</p>
<p>Ketika itu, Imam Ja‘far as. lewat di hadapan mereka. Sejenak memandang mereka, beliau membacakan firman Allah, <em>“Seandainya segenap manusia dan jin bersatu untuk membuat padanan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan mampu, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.”</em> (QS. Al-Isra’:88)</p>
<h3>Mazhab Ja‘fariyah</h3>
<p>Mazhab Ahlulbait as berkembang pada masa Imam Ja‘far as, dan pengikutnya terus bertambah pesat, sehingga masyarakat lebih mengenal mazhab Syi‘ah dengan mazhab Ja‘fariyah, yaitu nama yang diambil dari Imam Ja‘far Ash-Shadiq as.</p>
<p>Tentu saja tidak bisa dipungkiri, bahwa mazhab Ja‘fariyah adalah Mazhab Imam Ali bin Abi Thalib as yang telah dikhianati dan dibunuh oleh kaum Khawarij, mazhab yang menyebabkan Imam Hasan as tewas diracun oleh Muawiyah, mazhab yang menyebabkan Imam Husain as mencapai syahadahnya pada Hari Asyura (di padang karbala pada 10 Muharram).</p>
<p>Rasulullah saw telah mewasiatkan kepada kaum muslimin untuk berpegang teguh pada kitab Allah dan keluarga beliau (Ahlulbait as). Sayang sekali, kaum muslimin telah melupakan wasiat tersebut. Ada sebagian yang telah menyimpang jauh sampai merampas hak kepemimpinan mereka dan menyebarkan kerusakan dan kezaliman. Ada pula penguasa-penguasa yang mengasingkan mereka dan para pengikutnya, bahkan tak segan-segan membunuh dan merencanakan kekejian terhadap mereka, seperti yang terjadi di Karbala.</p>
<p>Kaum muslimin mulai menyadari bahwa sikap menyia-nyiakan wasiat Rasulullah saw itu merupakan kerugian besar. Pada saat yang sama, mereka takut terhadap ancaman penguasa, bahkan ada di antara mereka yang menyembunyikan kepercayaan dan kesetiaannya kepada Ahlulbait as demi keselamatan hidupnya.</p>
<h3>Imam Ja‘far dan Manshur Dawaniqi</h3>
<p>Kaum muslimin jenuh dan geram terhadap pemerintahan Bani Umaiyah yang zalim. Dalam keadaan demikian itu, terdapat sekelompok orang yang memanfaatkan kegeraman muslimin itu serta dan keberpihakan mereka kepada Ahlulbait Rasul as demi kepentingan pribadi.</p>
<p>Lantaran hasutan orang-orang itu, kaum muslimin mulai melakukan pembangkangan terhadap Bani Umaiyah dengan membawa-bawa nama Ahlulbait. Sementara itu Bani Abbasiyah segera giat menyalahgunakan kondisi tadi dengan mengajak kaum muslimin agar meneriakkan slogan “Kesetiaan pada Ahlulbait Muhammad.”</p>
<p>Slogan yang digemakan itu sangat membantu menyebarkan siasat Bani Abbasiyah. Pemberontakan mulai meletus di Khurasan yang dengan cepat mendapat gelombang dukungan dari masyarakat luas, hingga mereka bisa menggulingkan pemerintahan Bani Umaiyah.</p>
<p>Maka, terjadilah pergantian kekhalifahan. Bani Abbasiyah mulai melakukan pembagian kekuasaan dengan mitra politiknya dan mulai mengusir—bahkan—keturunan-keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as, di manapun mereka ditemukan. Mereka melakukan kejahatan itu semua dengan sangat hati-hati.</p>
<p>Khalifah pertama Bani Abbasiyah ialah Manshur Dawaniqi. Dia menjalankan pemerintahan tangan besi dan merencanakan pembunuhan atas setiap penentangnya. Dia membunuh Muhammad dan saudaranya, Ibrahim, yang keduanya adalah dari keturunan Imam Hasan as.</p>
<p>Manshur juga menyebarkan mata-matanya di setiap kota. Secara khusus dia memerintahkan gubernur Madinah untuk mewaspadai setiap gerak gerik Imam Ja‘far as.</p>
<p>Pernah suatu kali Manshur mengundang Imam Ja‘far as dan berkata, “Mengapa engkau tidak mengunjungi kami sebagaimana orang-orang mendatangi kami?”</p>
<p>“Tidak ada urusan dunia yang membuat kami kuatir terhadapmu, dan tidak ada pula urusan akhiratmu yang bisa kami harapkan darinya. Begitu pula, tidak ada kenikmatanmu yang bisa kami syukuri, dan tidak pula kesusahanmu yang bisa kami sesalkan”, jawab Imam as.</p>
<p>Dengan liciknya, Manshur menawarkan, “Kalau begitu, jadilah temanku agar engkau bisa menasehatiku?”</p>
<p>Imam as kembali menjawab, “Siapa saja yang menginginkan dunia, ia tidak akan menasehatimu, dan siapa saja yang menginginkan akhirat, ia pun tidak akan menjadi temanmu.”</p>
<p>Manshur memerintahkan gubernurnya di Madinah untuk mengikis habis citra dan pengaruh besar Imam Ali bin Ali Thalib as di sana.</p>
<p>Hingga pada suatu hari, guberbur Madinah naik mimbar dan mulai mencaci maki Imam Ali as serta keluarganya. Tiba-tiba Imam Ja‘far as bangkit dan berkata, “Adapun sanjungan yang telah kau sampaikan, maka kamilah pemiliknya, dan segala hujatan yang telah kau katakan, maka kau dan sahabatmulah (Manshur) yang lebih pantas menjadi sasarannya.”</p>
<p>Lalu Imam as menoleh kepada khalayak sembari berkata, “Aku peringatkan kepada kalian akan orang yang paling ringan timbangan amalnya, yang paling jelas merugi di Hari Kiamat, dan yang paling celaka keadaannya. Yaitu, orang yang menjual akhirat dengan kesenangan duniawi orang lain. Orang itu adalah gubernur yang fasik ini.”</p>
<p>Gubenur itu segera turun dari mimbar sambil menanggung segunung rasa malu dan hina.</p>
<p>Dikisahkan, pada suatu saat di sebuah ruang pertemuan, ada seekor lalat bermain-main di hidung Manshur. Berulang kali dia mengusirnya. Lalat itu tetap saja kembali, sehingga dia merasa kesal dan berang. Ia berpaling kepada Imam Ja‘far as dan berkata, “Untuk apa Allah menciptakan lalat?”</p>
<p>“Untuk menghinakan hidung orang sombong.” Jawab Imam as.</p>
<p>Manshur begitu geram. Dia tak tahan lagi melihat keberadaan Imam as di bawah pemerintahannya. Untuk itu, dia merencanakan pembunuhan atas beliau. Akhirnya, dia pun berhasil meracuni beliau.</p>
<p>Imam Ja‘far as meninggal syahid pada 25 Syawal. Tubuhnya yang suci dikebumikan di pemakaman Baqi‘,Madinah Al-Munawwarah.[]</p>
<h3>Mutiara Hadis Imam Ja‘far as</h3>
<p>• “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu. Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.”</p>
<p>• “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara), manusia yang tidak melakukan ancaman, dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.”</p>
<p>• “Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.”</p>
<p>• Seorang laki-laki seringkali mendatangi Imam Ja‘far as, kemudian dia tidak pernah lagi datang. Tatkala Imam as menanyakan keadaannya, seseorang menjawab dengan nada sinis, “Dia seorang penggali sumur.” Imam as membalasnya, “Hakekat seorang lelaki ada pada akal budinya, kehormatannya ada pada agamanya, kemuliannya ada pada ketakwaannya, dan semua manusia sama-sama sebagai Bani Adam.”</p>
<p>• “Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.”</p>
<p>• “Ulama adalah kepercayaan para rasul. Dan bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka.”</p>
<p>• “Tiga perkara dapat mengeruhkan kehidupan: penguasa zalim, tetangga yang buruk, dan perempuan pencarut. Dan tiga perkara yang tidak akan damai dunia ini tanpanya, yaitu keamanan, keadilan, dan kemakmuran.”</p>
<h3>Riwayat Singkat Imam Ja‘far as</h3>
<p><strong>Nama                       : Ja‘far.</strong></p>
<p><strong>Gelar                        : Ash-Shadiq.</strong></p>
<p><strong>Panggilan             : Abu Abdillah.</strong></p>
<p><strong>Ayah                        : Muhammad bin Ali Al-Baqir as.</strong></p>
<p><strong>Ibu                            : Ummu Farwah.</strong></p>
<p><strong>Kelahiran             : Madinah, 17 Rabiul Awal 80 H.</strong></p>
<p><strong>Kesyahidan         : 25 Dzulhijjah 148 H.</strong></p>
<p><strong>Makam                   : Pemakaman Baqi‘, Madinah.</strong></p>
<p><strong>sumber al-shia.org<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-ja%e2%80%98far-ash-shadiq-pencetus-universitas-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR, PENYINGKAP KHAZANAH ILMU</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-muhammad-al-baqir-penyingkap-khazanah-ilmu/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-muhammad-al-baqir-penyingkap-khazanah-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 10:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[imam muhamad baqir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Hari Lahir
Imam Muhammad Al-Baqir as dilahirkan pada awal bulan Rajab tahun 57 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kelima Ahlulbait as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin as, dan ibunya adalah seorang wanita dari keturunan Imam Hasan as yang bernama Fatimah.
Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir as adalah imam pertama yang memiliki nasab keturunan Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;">Hari Lahir</h3>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/muhamad-baqir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-421" title="muhamad baqir" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/muhamad-baqir.jpg" alt="" width="180" height="140" /></a>Imam Muhammad Al-Baqir as dilahirkan pada awal bulan Rajab tahun 57 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kelima Ahlulbait as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin as, dan ibunya adalah seorang wanita dari keturunan Imam Hasan as yang bernama Fatimah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir as adalah imam pertama yang memiliki nasab keturunan Rasulullah saw dari pihak ayah dan ibu, sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Baqir as mengalami hidup bersama kakeknya, Imam Husain as pada saat tragedi Karbala, yang ketika itu beliau masih berusia empat tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau hidup bersama ayahnya selama 18 tahun dan masa itu adalah masa keimamahan (kepemimpinan)-nya. Beliau mengkhidmatkan masa-masa hidupnya demi menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang memberi beliau gelar <em>Al-Baqir</em> (Sang Jenius), karena beliau telah membongkar ilmu pengetahuan dari khazanah-khazanahnya. Imam as juga memiliki gelar-gelar lain yang menunjukkan sifat dan akhlak agung beliau, seperti <em>Asy-Syakir </em>(yang banyak bersyukur) dan <em>Al-Hadi </em>(pemberi petunjuk).</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu masih berusia belia, Imam Muhammad Al-Baqir as bertemu dengan sebagian besar sahabat utama Nabi, seperti Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Kepada beliau Jabir mengatakan, “Rasulullah mengirimkan salam untukmu.” Salam ini membuat orang-orang yang hadir saat itu menjadi heran.</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir melanjutkan, “Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah, sedangkan Husain as berada di haribaannya. Beliau berkata padaku, ‘Hai Jabir, putraku ini kelak mempunyai seorang anak yang bernama Ali. Dan pada Hari Kiamat, seseorang akan memanggilnya ‘Sayyidul Abidin’. Kemudian melalui Ali, seorang anak yang bernama Muhammad Al-Baqir—yang memiliki keluasan ilmu—akan lahir. Bila engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku kepadanya.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Baqir as memiliki dua kebun yang dikelola oleh beliau sendiri. Beliau melibatkan para petani untuk menuai hasil kebunnya, serta menginfakkan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada zaman itu, beliau dikenal sebagai orang yang paling dermawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinukil dalam kitab-kitab sejarah, bahwa seorang sufi bernama Muhammad bin Al-Munkadir berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Ali bin Husain as yang meninggalkan keturunan yang begitu utama, sampai aku melihat putranya Muhammad as. Aku hendak menasihatinya, ia malah lebih dulu menasihatiku. Pada suatu hari, saat matahari terik menyinari bumi, aku keluar menuju sebuah daerah di luar kota Madinah. Aku bertemu dengan Muhammad bin Ali as yang sedang bersandar pada dua orang budaknya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Orang tua Quraisy di saat seperti ini masih sibuk mencari dunia? Demi Allah, aku akan menasihatinya.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku. Aku melihat dia penuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Aku berkata padanya, ‘Semoga Allah memberikan hidayah-Nya padamu, wahai orang tua Quraisy. Di saat seperti ini kau masih sibuk mencari dunia? Bagaimana kalau sekiranya maut datang menjemputmu sedang kau dalam keadaan seperti ini?’</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia melepaskan kedua tangannya dari sandaran kedua budaknya dan berkata, ‘Demi Allah, jika sekiranya maut datang kepadaku dalam keadaan seperti ini, sungguh ia datang kepadaku sedang aku dalam ketaatan kepada Allah, yang dengannya jiwaku bisa terhindar darimu dan manusia lainnya. Sesungguhnya yang aku takutkan adalah bila kematian itu datang sedang aku dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Mendengar jawabannya, aku membalas kagum, ‘Semoga Allah mengasihimu. Aku sebenarnya ingin menasihatimu, malah kaulah yang menasihatiku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kisah ini, Imam Muhammad Al-Baqir as menunjukkan sikap tegas beliau sehingga orang dapat memahami, bahwa mencari rezeki itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, bukan malah meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan waktunya untuk salat sementara hidupnya menjadi tanggungan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi, seperti Ibn Al-Munkadir dan yang lainnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Keilmuan Imam</h3>
<p style="text-align: justify;">Seorang warga Syam, yang sebelumnya enggan hadir di majlis Imam Muhammad Al-Baqir as, berkata kepada beliau, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripadamu. Kebencian padamu sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski begitu, aku melihatmu begitu sopan, beradab serta bertutur-kata yang santun. Maka ketahuilah, kehadiranku di majlismu ini karena kebaikan budi dan bahasamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam setiap kesempatan, Imam Al-Baqir as selalu mengatakan yang baik. Kepada orang Syam itu Imam as mengatakan, “Tiada sesuatu pun yang tersembunyi di sisi Allah SWT.”</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa hari, orang tersebut tidak pernah kelihatan lagi. Imam as merasa kehilangan. Beliau bertanya kepada orang-orang yang mengenalnya. Kata mereka, orang itu sedang sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as bergegas menjenguknya. Beliau duduk di sisinya sambil bercakap-cakap dan bertanya tentang penyebab sakitnya. Lalu, Imam menganjurkan agar memakan makanan yang dingin dan segar. Setelah itu, Imam as pun meninggalkan orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian, orang itu pulih dari sakitnya. Pertama kali yang dia lakukan ialah pergi ke majelis Imam as. Di sana, dia memohon maaf kepada Imam, dan akhirnya menjadi salah satu sahabat beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang sebuah masalah. Abdullah kebingungan menjawabnya. Ia berkata kepada si penanya, “Pergilah kepada anak itu, dan tanyalah padanya, kemudian beritahukan jawabannya kepadaku.” Anak yang dimaksudkannya itu ialah Imam Muhammad Al-Baqir as.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka orang tersebut datang kepada Imam as. dan bertanya padanya. Selekas itu, ia kembali kepada Abdullah dengan membawa jawaban yang didapatkannya dari beliau. Abdullah berkata, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlul Bait Nabi yang telah diberikan pemahaman tentang segala sesuatu.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Dialog dengan Pendeta</h3>
<p style="text-align: justify;">Imam Ja’far Ash-Shadiq as menceritakan, bahwa suatu ketika beliau berada di Syam bersama ayahnya (Imam Muhammad Al-Baqir as). Keberadaan mereka di Syam karena Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meminta mereka untuk datang ke sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, Imam Al-Baqir as melihat kerumunan orang-orang di sebuah tempat. Semua sedang menantikan seseorang. Beliau menanyakan perihal mereka itu. Dijawab, “Mereka itu sedang menunggu salah seorang pendeta, karena ia hanya muncul setahun sekali. Mereka bertanya dan meminta fatwa darinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as ikut menunggu bersama mereka sampai pendeta tersebut datang. Tatkala pendeta itu melihat Imam, ia menyapa beliau, “Apakah Anda dari golongan kami atau dari umat yang perlu dikasihani ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Aku dari umat ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeta bertanya lagi, “Dari orang awam umat ini atau dari ulamanya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjawab, “Aku bukan dari orang awamnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeta berkata lebih serius, “Aku punya beberapa pertanyaan untuk Anda; dari mana Anda percaya bahwa penghuni surga makan dan minum tapi mereka tidak buang air?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Bukti kami adalah janin yang ada dalam rahim ibunya. Ia makan tapi tidak buang kotoran.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeta itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang setenggat waktu yang tidak terhitung malam juga tidak terhitung siang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Waktu di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban-jawaban Imam as, sang pendeta terkejut. Ia ingin sekali membungkam Imam dengan pertanyaan lain. Ia berkata, “Kabarkan kepadaku tentang dua bayi yang keduanya dilahirkan pada hari yang sama dan meninggal pada hari yang sama juga. Umur bayi yang pertama 50 tahun dan yang kedua 150 tahun.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Uzair dan saudaranya, saat itu usia Uzair 25 tahun. Tatkala melewati suatu desa di Antakia yang ditinggal mati oleh penduduknya, ia merenung, ‘Bagaimana Allah akan menghidupkan penduduk ini setelah kematian mereka?’</p>
<p style="text-align: justify;">“Kemudian Allah SWT mematikan Uzair selama 100 tahun, lalu membangkitkannya lagi dan ia kembali ke rumahnya dalam keadaan muda, sementara saudaranya sudah tua-renta. Uzair hidup bersama saudaranya selama 25 tahun, dan kedua bersaudara itu pun meninggal pada hari yang sama.”</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat keluasan dan ketinggian ilmu Imam Al-Baqir as ini, pendeta itu lagi-lagi takjub. Tak ayal lagi, ia pun menyatakan keislamannya di depan khalayak, dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Di Majelis Hisyam</h3>
<p style="text-align: justify;">Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengundang Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq. Karena itu, keduanya meninggalkan Madinah, bergerak menuju Syam. Tujuan undangan Hisyam sebenarnya hendak menunjukkan kebesaran kerajaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setibanya di Syam, Imam Al-Baqir as memasuki istana, yang ketika itu Hisyam duduk di atas singgasana dengan dikelilingi oleh pengawal bersenjata dan di depannya ada golongan elite yang siap berlomba memanah. Hisyam berkata, “Ya Muhammad! Coba kau bertanding melawan orang-orang ini dan bidikkan panah ke sasaran!”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama meninggalkan permainan memanah. Maafkan aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hisyam menolak alasan Imam, dan memaksanya untuk melakukannya. Ia pun menyuruh seorang tokoh dari Bani Umayyah untuk mengambilkan panah dan busurnya. Akhirnya, Imam as menerimanya dan meletakkan anak panah itu pada busurnya, kemudian ia lesatkan ke sasaran dan tepat mengenai titik pusatnya. Untuk kedua kalinya, beliau membidikkan anak panah, hingga yang kesembilan kali. Semua anak panah itu menancap tepat pada sasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Hisyam pun tercengang melihat kepandaian Imam as dan memujinya sambil berkata, “Alangkah pandainya kau wahai Abu Ja’far. Kau adalah orang yang paling pandai memanah dari kalangan Arab dan Ajam. Beginikah kau katakan, ‘Aku sudah lama meninggalkan permainan memanah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Hisyam menuntun Imam Al-Baqir as dan mendudukkannya di sampingnya. Ia berkata, “Wahai Muhammad! Bangsa Arab dan Ajam akan senantiasa mengikuti orang-orang Quraisy selagi di tengah-tengah mereka ada orang sepertimu. Demi Allah, siapa yang mengajarimu memanah? Dan pada usia berapakah kau mempelajarinya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Aku belajar di masa aku masih kecil, kemudian aku tinggalkan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hisyam berkata, “Aku tidak pernah menyangka bahwa di atas bumi ini masih ada orang yang memanah seperti ini. Apakah Ja’far (putra Imam as) juga dapat memanah seperti ini? Apakah dia juga dapat memanah sebagaimana engkau memanah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Kami Ahlulbait Nabi mewarisi kesempurnaan dan kelengkapan yang keduanya telah Allah SWT turunkan kepada Nabinya saw dalam firmannya, <em>‘Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku lengkapkan nikmatku untukmu serta aku rela Islam sebagai agamamu.’</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban itu, muka Hisyam memerah lantaran marah dan berkata, “Dari mana kau mewarisi ilmu ini, padahal tidak ada nabi setelah Muhammad dan kau sendiri juga bukanlah seorang nabi?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as menjawab, “Kami mewarisinya dari datuk kami Ali bin Abi Thalib as. Beliau pernah berkata, ‘Rasulullah saw telah mengajariku seribu pintu ilmu &#8230; Dari setiap pintunya terbuka seribu ilmu lagi &#8230;.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hisyam pun diam tertunduk sambil berpikir. Lalu ia memerintahkan pengawalnya untuk mengembalikan Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq as ke Madinah secepat mungkin, karena ia takut kehadiran dua Imam ini di Syam akan mengundang simpati warga kota kepada mereka.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mata Uang Islam</h3>
<p style="text-align: justify;">Perebutan batas-batas wilayah yang sangat keras sekali telah terjadi antara negara Islam dan Romawi. Imperium Romawi mengancam Abdul Malik bin Marwan akan memutus mata uang negara Islam bila tidak menyerahkan wilayah-wilayah yang dipersengketakan. Abdul Malik merasa ketakutan dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia kumpulkan pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh umat Islam untuk dimintai pendapatnya, tapi mereka tidak bisa memberikan keputusan apa-apa. Akhirnya, sebagian mereka mengusulkan agar merujuk kepada Imam Muhammad Al-Baqir as.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, Abdul Malik mengutus utusan untuk memanggil Imam as ke Syam. Beliau pun memenuhi panggilan tersebut. Setelah mengetahui duduk persoalan, beliau mengatakan kepada Abdul Malik, “Tidak ada yang perlu ditakutkan. Cepat kirim utusan ke Kaisar Romawi dan mintalah jangka waktu darinya. Di sela-sela itu, kirimlah surat ke gubernur-gubernur daerah, dan perintahkan mereka untuk mengumpulkan emas dan perak, sehingga bila telah sampai jumlah yang cukup, segeralah engkau mencetak mata uang Islam!”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Imam as menentukan timbangan dan bentuknya. Beliau memerintahkan Abdul Malik untuk menuliskan di atas salah satu sisi uang tersebut kalimat “Muhammad Rasulullah.” Bila pekerjaan ini telah selesai, tidak akan terjadi transaksi dengan mata uang Romawi. Ketika itulah Imperium Romawi tidak akan punya kekuatan lagi di hadapan pemerintahan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pekerjaan itu selesai dan mata uang Islam sudah tersebar, Abdul Malik mengeluarkan keputusannya yang terakhir mengenai persengketaan batas-batas wilayah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata, Imperium Romawi tidak mendapatkan cara apapun untuk melancarkan tekanan terhadap ekonomi negara Islam. Maka, dipilihlah jalan militer. Akan tetapi, mereka pun gagal, setelah laskar-laskar muslimin menyerang pasukan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Imam kita, Imam Muhammad Al-Baqir as. Dengan pikiran dan arahannya yang cemerlang, beliau telah menyelamatkan pemerintahan Islam dari ancaman musuh-musuh, sehingga kaum muslimin memiliki mata uang sendiri yang menjadi lambang kebesaran Islam.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Sahabat-Sahabat Imam</h3>
<p style="text-align: justify;">Tatkala orang-orang Bani Umayyah sibuk meredam kekacauan dan kerusuhan massa di sana-sini, Imam Muhammad Al-Baqir as mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, membina kader-kader, dan mengokohkan ajaran-ajaran Ahlulbait as.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman Imam as, telah muncul sebagian murid-murid utama beliau yang memiliki peranan besar dalam penyebaran ajaran-ajaran tersebut. Di antara mereka yang paling menonjol ialah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>1. Aban bin Taghlib</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia pernah hidup sezaman dengan tiga imam Ahlulbait. Ia juga pernah menghadiri majelis Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Namun begitu, ia lebih banyak belajar pada Imam Al-Baqir as.</p>
<p style="text-align: justify;">Aban menonjol di bidang ilmu Fiqh, Hadis, Sastra Arab, Tafsir, dan Nahwu. Imam Al-Baqir as pernah berkata kepadanya, “Duduklah di masjid Madinah dan ajarilah masyarakat, karena sesungguhnya aku lebih suka melihat orang sepertimu di antara pengikutku.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>2. Zurarah bin A’yun</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tentang Zurarah, Imam Ja’far as mengatakan, “Sekiranya tidak ada Zurarah, niscaya hadis-hadis ayahku akan hilang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kesempatan yang lain, Imam as menyatakan, “Semoga Allah mengasihi dan merahmati Zurarah bin A’yun. Seandainya tidak ada Zurarah dan orang-orang sepertinya, tidak akan ada yang tersisa lagi hadis-hadis ayahku.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>3. Muhammad bin Muslim Ats-Tsaqafi</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ja’far Ash-Shadiq as sangat menghormati dan mencintai Muhammad. Dia adalah salah seorang sahabat utama dari empat orang sahabat Imam Ja’far as. Beliau berkata, “Empat orang manusia yang sangat aku cintai, baik mereka masih hidup maupun sesudah meninggal dunia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ja’far as memerintahkan sebagian sahabat-sahabatnya untuk merujuk kepada Muhammad dengan perkataannya, “Ia telah mendengarkan hadis-hadis ayahku, dan dia orang terpandang di sisi ayahku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Muslim sendiri pernah menyatakan, “Aku bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir as tentang tiga puluh ribu hadis.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ja’far as seringkali memuji sahabat-sahabat ayahnya. Beliau mengatakan, “Sekiranya sahabat-sahabatku mendengarkan dan taat kepadaku, niscaya akan aku titipkan kepada mereka apa yang ayahku titipkan pada sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya semua sahabat ayahku menjadi penghias bagi kami, di masa hidupnya maupun matinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara sahabat Imam Muhammad Al-Baqir as yang lain adalah Al-Kumait Al-Asady, seorang pujangga ternama. Setiap kali berjumpa dengannya, Imam Al-Baqir as memanjatkan doa, “Ya Allah! Curahkanlah ampunan-Mu kepada Al-Kumait!”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Hari Kesyahidan</h3>
<p style="text-align: justify;">Meskipun usaha Imam Muhammad Al-Baqir as hanya tercurahkan di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan penyebaran agama, akan tetapi para penguasa Bani Umayyah tidak bisa tenang melihat keberadaannya, khususnya setelah orang-orang mengetahui keutamaan, keluhuran, dan keluasan ilmu beliau. Kepribadian, akhlak, dan rasa kemanusiannnya menyinari mereka. Sebagaimana dari silsilah nasab beliau yang bersambung langsung ke Rasulullah saw, semua itu mengangkat kedudukannya di hati umat Islam menjadi begitu tinggi nan agung.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula bagi Hisyam bin Abdul Malik. Dia senantiasa berpikir untuk membunuh Imam Al-Baqir as. Akhirnya, dia gunakan racun untuk membunuh beliau. Di tangannyalah Imam as syahid pada 7 Dzulhijjah 114 H.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muhammad Al-Baqir as telah menjalani masa hidupnya selama 57 tahun untuk mengabdi sepenuhnya kepada Islam dan kaum muslimin serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan ajaran Ahlulbait as.[]</p>
<h3 style="text-align: justify;">Mutiara Hadis Imam Al-Baqir as</h3>
<p style="text-align: justify;">• “Kesombongan tidak akan masuk ke dalam hati seseorang kecuali akalnya kurang.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya adalah lebih utama dari seribu orang ‘abid (yang tekun ibadah). Demi Allah, kematian seorang alim lebih disukai oleh iblis daripada kematian tujuh puluh orang ‘abid.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Kepada salah seorang anaknya, beliau mengatakan, “Wahai anakku, jauhilah kemalasan dan kebosanan, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Sesungguhnya bila kamu malas, niscaya engkau tidak akan pernah menunaikan tanggung jawabmu, dan bila kamu bosan niscaya engkau tidak akan bersabar dalam melaksanakan tugasmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">• “Cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memandang aib orang lain sementara aibnya sendiri tidak pernah ia lihat. Dan cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memerintahkan orang lain akan suatu yang ia sendiri tidak mampu mengembannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">• Dalam nasihat untuk salah seorang sahabatnya, Imam as mengatakan, “Aku wasiatkan kepadamu lima perkara: bila engkau dianiaya, maka janganlah kau membalasnya, bila engkau dikhianati, maka janganlah kau balas dengan khianat pula, bila kau didustai, maka janganlah kau balas dengan dusta pula, bila engkau dipuji, maka janganlah kau merasa puas, dan bila kau dicela, maka janganlah kau bersedih.”</p>
<h3 style="text-align: justify;">Riwayat Singkat Imam Al-Baqir as</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nama                   : Muhammad.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gelar                    : Al-Baqir.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panggilan         : Abu Ja’far.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayah                    : Ali Zainal Abidin.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibu                        : Fatimah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelahiran         : Madinah, 1 Rajab 57 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesyahidan     : 7 Dzulhijjah 114 H.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makam               : Pemakaman Baqi‘, Madinah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">?sumber al-shia.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/31/imam-muhammad-al-baqir-penyingkap-khazanah-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB AS.</title>
		<link>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/30/imam-hasan-bin-ali-bin-abi-thalib-as/</link>
		<comments>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/30/imam-hasan-bin-ali-bin-abi-thalib-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 00:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[amamah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Hasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madinah-al-hikmah.net/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Adalah cucu kesayangan Nabi saw. Dia begitu menyerupai sang datuk saw. dalam kelembutan hati, kesabaran, kepribadian, dan kedermawanan. Nabi saw. telah mencurahkan cinta dan kasih sayang kepadanya di di hadapan kaum Muslimin. Banyak hadis yang telah diriwayatkan darinya mengenai kedudukan dan ketinggian kedudukan sang cucunda; Imam Hasan as. ini, antara lain:
* Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ahlul_bayt_by_wilayat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-384" title="ahlul_bayt_by_wilayat" src="http://madinah-al-hikmah.net/madinah/wp-content/uploads/2010/01/ahlul_bayt_by_wilayat-300x201.jpg" alt="" width="195" height="130" /></a>Adalah cucu kesayangan Nabi saw. Dia begitu menyerupai sang datuk saw. dalam kelembutan hati, kesabaran, kepribadian, dan kedermawanan. Nabi saw. telah mencurahkan cinta dan kasih sayang kepadanya di di hadapan kaum Muslimin. Banyak hadis yang telah diriwayatkan darinya mengenai kedudukan dan ketinggian kedudukan sang cucunda; Imam Hasan as. ini, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">* Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Nabi pernah menyambut Hasan dan memeluknya seraya berkata, ‘Ya Allah, ini adalah anakku, sungguh aku mencintainya dan mencintai orang yang mencintainya.”[1]<br />
* Menurut sebuah riwayat, Al-Barâ’ bin ‘Âzib pernah berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah saw., sedang Hasan berada di atas pun-daknya sambil berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah orang yang mencintainya.’”[2]<br />
* Diriwayatkan bahwa Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. datang sambil memanggul Hasan di pundaknya. Seorang laki-laki yang menjumpainya berkata, ‘Hai anak, kamu telah menunggangi tung-gangan yang paling baik.’ Rasulullah pun menimpali, ‘Dan sebaik-baiknya penunggang adalah dia (Hasan).’”[3]<br />
* Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin melihat peng-hulu pemuda ahli surga, maka lihatlah Hasan.”[4]<br />
* Rasulullah saw. bersabda: “Hasan adalah buah hatiku di dunia ini.”[5]<br />
* Menurut sebuah riwayat, Anas bin Malik pernah berkata: “Hasan datang menemui Rasulullah saw. Aku menahannya. Lantas ia ber-kata, ‘Celaka engkau hai Anas! lepaskan anak dan buah hatiku itu. Barang siapa yang menyakitinya, dia telah menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku, ia telah menyakiti Allah.’”[6]<br />
* Ketika Rasulullah saw. sedang mengerjakan salah satu salat Magh-rib atau Isya’, ia memperpanjang sujud. Seusai salam, orang-orang bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Ia menjawab: “Ini (Hasan) adalah anakku. Ia menaikiku dan aku tidak ingin mengusiknya.”[7]<br />
* Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abdurahman bin Zubair ber-kata: “Di antara keluarga Nabi saw. yang paling mirip dengannya dan yang paling dicintai adalah Hasan. Aku melihat Rasulullah saw. sujud dan Hasan menaiki punggungnya. Ia tidak mau menurunkan-nya sampai ia (Hasan) sendiri yang turun. Dan aku melihat Rasulul-lah saw. sedang rukuk lalu merenggangkan jarak kedua kakinya sehingga Hasan dapat keluar dari arah lain.”[8]</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis seperti itu yang telah disabdakan oleh Nabi saw. tentang keutamaan cucu kesayangan dan buah hatinya itu. Para perawi menukil sekelompok hadis lain yang menjelaskan keutamaannya, keu-tamaan saudaranya; Imam Husain as. penghulu para syahid, dan keuta-maan Ahlul Bait as. Dan Imam Hasan termasuk salah seorang dari mereka. Hal itu telah kami jelaskan dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.<br />
Masa Pertumbuhan</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mengasuh dan memberikan teladan yang baik kepada Imam Hasan as. Ia mencurahkan seluruh perhatian kepada cucunya yang satu ini. Ayahnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. sebagai pendidik terbaik dalam Islam juga telah mendidiknya dengan baik. Ia telah mena-namkan suri teladan yang mulia dan karakter yang agung di dalam jiwa-nya sehingga Hasan menjadi manifestasi yang sempurna dari seluruh karakter tersebut. Hasan juga dididik oleh penghulu semesta alam, Sayyidah Fatimah Az-Zahrâ’ as. Sang ibu telah menanamkan keimanan yang murni dan kecintaan yang dalam kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. tumbuh di dalam rumah kenabian, curahan wahyu, dan pusat kendali imâmah. Oleh karena itu, ia pantas menjadi teladan terbaik untuk pendidikan Islam dalam tingkah laku dan kepribadiannya yang agung.<br />
Teladan Yang Agung</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam diri Imam Hasan as., tercermin sifat yang luhur dan teladan yang agung, terjelma karakteristik sang kakek dan ayahnya yang telah berhasil menegakkan simbol-simbol kesadaran dan kemuliaan di muka bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. telah mencapai puncak kemuliaan, kehormatan, pandangan yang dalam, pemikiran yang tinggi, kewarakan, kesabaran yang luas, dan budi pekerti yang luhur. Semua itu adalah butir-butir mu-tiara kemuliaannya.<br />
Imâmah</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat utama Imam Hasan as. yang paling menonjol adalah imâmah (kepe-mimpinan), karena ia memiliki keutamaan dan potensi yang tidak dimiliki kecuali oleh orang yang telah dipilih oleh Allah swt. di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah swt. telah menganugerahkan hal itu kepadanya. Nabi saw. pernah menegaskan kepemimpinannya dan saudaranya; Imam Husain as. seraya bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin, baik ketika mereka berkuasa maupun ketika diam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hendaknya kita merenung sejenak untuk memikirkan arti imâmah dan seluruh elemen yang melapisinya. Semua itu dapat mengungkapkan betapa kedudukan dan keagungan Imam Hasan as.<br />
a. Arti Imâmah</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut persepsi para teolog, imâmah didefinisikan sebagai kepemim-pinan universal seseorang menyangkut urusan agama dan dunia. Menurut definisi ini, imam adalah pemimpin universal yang wajib ditaati. Ia memi-liki kekuasaan mutlak atas umat manusia dalam semua urusan agama dan dunia.<br />
b. Perlu Kepada Imâmah</p>
<p style="text-align: justify;">Kepemimpinan adalah salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan umat manusia. Dan kebutuhan ini tidak dapat diabaikan dalam kondisi apapun. Dengan imâmah, tatanan dunia dan agama yang bengkok dapat diluruskan. Dengan imâmah, keadilan yang telah dicanangkan oleh Allah akan terealisai di muka bumi ini, stabilitas umum dan ketentraman di tengah umat manusia akan terwujud, berbagai kesulitan dan bencana akan dapat diatasi, dan kezaliman orang yang kuat atas orang yang lemah dapat dicegah.</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor paling urgen yang menuntut kehadiran seorang imam adalah menuntun umat manusia kepada penghambaan pada Allah swt., menye-barkan hukum-hukum dan ajaran-Nya, dan menanamkan roh iman dan takwa di dalam diri masyarakat agar mereka dapat menepis kejahatan dan merangkul kebaikan. Seluruh umat manusia wajib mengikutinya dan menjalankan perintahnya agar ia dapat menegakkan pondasi kehidupan mereka dan memberikan petunjuk kepada jalan yang benar.<br />
c. Tugas-Tugas Seorang Imam</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas-tugas seorang pemimpin kaum Muslimin adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">* Menjaga agama Islam dari orang-orang yang hendak merongrong nilai-nilai akhlak.<br />
* Menjalankan hukum, menyelesaikan pertikaian di tengah masyara-kat, dan membela orang yang teraniaya.<br />
* Melindungi negara Islam dari serangan musuh, baik berupa sera-ngan militer maupun pemikiran.<br />
* Mengeksekusi sanksi dan hukuman atas seluruh tindak kejahatan yang menyebabkan umat menjadi sengsara.<br />
* Membentengi daerah-daerah perbatasan negara Islam.<br />
* Berjihad.<br />
* Mengumpulkan dan menyalurkan harta negara, seperti zakat, pajak, dan lain sebagainya, sesuai dengan ketentuan syariat Islam.<br />
* Merekrut orang-orang yang jujur sebagai aparatur negara dan tidak mengangkat seorang pegawai hanya karena ia mencintai atau meng-utamakannya.<br />
* Mengawasi urusan rakyat secara langsung dan tidak menyerahkan-nya kepada orang lain, karena itu merupakan hak rakyat atasnya.[9]<br />
* Mengikis pengangguran, meratakan kesejahteraan sosial sehingga dapat dinikmati oleh lapisan masyarakat, dan mengangkat mereka dari garis kemiskinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini semua adalah sebagian tugas yang wajib dijalankan oleh seorang imam untuk umatnya. Topik ini telah kami paparkan dalam buku, Ni-zhâm Al-Hukm wa Al-Idârah fi Al-Islam.<br />
d. Karakteristik Imam</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang imam harus memiliki syarat-syarat berikut ini:<br />
# Adil dengan seluruh syaratnya; yakni menghindari dosa-dosa besar dan tidak melakukan dosa-dosa kecil secara terus menerus.<br />
# Memiliki pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh bidang dan mengetahui sebab-sebab turun dan hukum Al-Qur’an.<br />
# Indera yang sehat, seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, agar ia dapat melakukan sesuatu yang ia ketahui secara langsung. Begitu pula disyaratkan supaya anggota badannya yang lain sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">* Memiliki wawasan yang luas untuk mengatur rakyat dan kemaslaha-tan umum.<br />
* Berani, tegar, mampu menjaga negara Islam, dan berjuang melawan musuh.<br />
* Seorang imam harus berasal dari keturunan Quraisy.<br />
Syarat-syarat dan karakteristik di atas telah dijelaskan oleh Al-Mâ-wardî dan Ibn Khaldûn.[10]<br />
* ‘Ishmah (keterjagaan dari dosa). Menurut para ahli teologi, definisi ‘ishmah adalah anugerah Ilahi (luthf) yang Dia berikan kepada hamba pilihan. Dengan itu, ia tercegah dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik dosa yang dilakukan dengan sengaja maupun lupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Syi‘ah sepakat bahwa seorang imam harus memiliki karakter ‘ishmah. Dalil mereka adalah hadis Tsaqalain. Dalam hadis ini, Nabi saw. telah mendam-pingkan Al-Qur’an dengan ‘Itrah. Sebagaimana Al-Qur’an terjaga dari kesalahan dan kekeliruan, begitu pula ihwal ‘Itrah yang suci. Jika tidak demikian, maka pendampingan dan penyamaan antara kedua pusaka itu tidaklah berarti sebagaimana penjelasan yang sudah dipaparkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh karakter itu tidak dapat terpenuhi kecuali pada diri para imam Ahlul Bait as. sebagai pengayom dan pemelihara Islam serta penuntun jalan kepada keridhaan dan ketaatan kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah dan perilaku para imam Ahlul Bait as. sendiri membuktikan bahwa mereka terjaga dari setiap kesalahan dan penyimpangan. Berbagai peristiwa telah membuktikan realita ini. Lebih dari itu, seluruh peristiwa itu juga menegaskan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi agung yang tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Hal itu lantaran mereka memiliki kemuliaan yang agung, ketakwaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap agama.<br />
e. Penentuan Imam</p>
<p style="text-align: justify;">Syi‘ah percaya bahwa penentuan seorang imam bukan di tangan umat manusia, tidak pula di tangan Ahl Al-Hall wa Al-‘Aqd (badan penentu kemaslahatan dan kesepakatan bersama). Konsep pemilihan untuk meng-angkat seorang imam tidak dapat dibenarkan. Mustahil kita dapat memi-lihnya. Imâmah tak ubahnya dengan kenabian. Sebagaimana kenabian tidak dapat ditentukan oleh umat manusia, demikian pula halnya imâmah, lantaran ‘ishmah sebagai syarat utama dalam imâmah tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah swt. yang mengetahui rahasia setiap jiwa insan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujah Keluarga Muhammad saw. dan Mahdî afs. umat ini telah menjelaskan konsep ini dengan sebuah argumentasi ketika ia berdialog dengan Sa‘d bin Abdillah. Sa‘d pernah bertanya kepadanya tentang sebab mengapa umat manusia tidak boleh memilih imam mereka sendiri. Imam Mahdî afs. menjawab: “Mereka memilih seorang penegak kebaikan ataukah keburukan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tentu memilih penegak kebaikan”, jawab Sa‘d singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkinkah pemilihan mereka itu jatuh kepada seorang pelaku keburukan, lantaran tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui apa yang tersirat di dalam hati orang lain; kebaikan ataukah keburukan?”, tukas Imam Mahdî afs.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, bisa saja terjadi”, jawab Sa‘d pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Mahdî afs. melengkapi: “Itulah penyebabnya. Aku akan men-jelaskan kepadamu dengan dalil yang dapat dipercaya oleh akalmu. Jawablah pertanyaanku ini. Terdapat para rasul yang telah dipilih oleh Allah dan diturunkan kitab kepada mereka, lalu mereka diperkuat dengan wahyu dan ‘ishmah. Karena itu mereka menjadi penuntun umat dan lebih akurat dalam menentukan pilihan, seperti Mûsâ dan Isa. Sekarang dengan kesempurnaan akal dan ilmu mereka berdua, apakah mungkin pilihan mereka jatuh pada seorang munafik, sementara mereka meyakini bahwa dia adalah seorang mukmin?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Jelas tidak mungkin”, jawab Sa‘d.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Mahdî afs. menimpali: “Lihatlah Mûsâ. Ia adalah Kalîmullâh. Dengan akalnya yang tinggi, ilmunya yang sempurna, dan wahyu pun turun kepadanya, ia telah memilih orang-orang terkemuka di antara kaumnya dan para pembesar bala tentaranya untuk menjumpai Tuhannya sebanyak 70 orang. Keimanan dan keikhlasan para pembesar pilihan itu tidak diragukan lagi. Tetapi ternyata pilihannya itu jatuh pada orang-orang munafik. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">‘Dan Mûsâ memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.’[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">‘Mereka berkata, ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir karena kezaliman mereka.’[12]</p>
<p style="text-align: justify;">“Jika kita melihat bahwa pilihan orang yang telah dipilih Allah swt. untuk tugas kenabian ternyata jatuh pada orang yang korup, bukan pada orang yang baik, tetapi ia menduga bahwa orang itu adalah orang baik, maka kita tahu bahwa pemilihan itu harus berada di tangan Dzat Yang Maha mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada dan jiwa.”[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya kemampuan manusia tidak mampu untuk menge-tahui kemaslahatan yang dapat membawa umat kepada kebahagiaan. Oleh karena itu, pemilihan imam itu tidak mungkin berada di tangan manusia, tetapi di tangan Allah yang mengetahui segala rahasia.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah gambaran global mengenai imâmah. Untuk lebih detailnya, Anda dapat membaca buku-buku teologi.<br />
Keluhuran Akhlak</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. mewarisi kakeknya yang memiliki keunggulan di atas seluruh nabi dengan ketinggian akhlaknya. Para perawi hadis banyak meriwayatkan berbagai macam keutamaan akhlaknya. Di antaranya kisah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">* Pada suatu hari, seseorang datang dari Syam dan melewati Imam Hasan as. Orang itu mencela dan menghina Imam Hasan as. Imam diam dan tidak membalasnya. Seusai orang itu melampiaskan celaannya, Imam as. mendatanginya dengan santun dan senyum yang lebar. Imam as. berkata kepadanya: “Hai Syaikh, aku yakin Anda orang asing di sini. Jika Anda perlu sesuatu dari kami, kami akan penuhi. Jika Anda perlu petunjuk, kami akan beri petunjuk. Jika Anda meminta untuk memikul suatu barang, kami akan pikul. Jika Anda lapar, kami beri makan. Jika Anda perlu suatu hajat, kami akan penuhi. Jika Anda terusir, kami siap melindungi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan bersikap lembut kepada orang Syam itu sehingga membuatnya tercengang. Dia tidak mampu menjawab sepatah kata pun dan bingung bagaimana harus meminta maaf kepada Imam as. untuk memaklumi kesalahannya. Akhirnya dia berkata: “Allah lebih mengetahui di manakah Dia meletakkan risalah-Nya.”[14]</p>
<p style="text-align: justify;">* Pada suatu ketika, Imam Hasan as. duduk di suatu tempat. Ketika ia ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seorang fakir datang kepadanya. Imam as. menyambutnya dengan lemah lembut sembari berkata: “Kamu datang ketika kami hendak berdiri. Apakah kamu izinkan aku meninggalkan tempat ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki fakir itu merasa kagum dengan ketinggian akhlak Imam Hasan as. Ia pun memperkenankan Imam as. untuk meninggalkan tempat tersebut.[15]<br />
* Ketika Imam Hasan as. melewati sekelompok orang-orang fakir yang telah meletakkan potongan-potongan kecil roti di atas tanah lantas melahapnya. Mereka mengajak Imam as. untuk duduk makan bersama. Imam pun duduk di tengah-tengah mereka dan makan bersama. Imam as. berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tidak me-nyukai orang-orang sombong.” Kemudian Imam meminta mereka untuk memenuhi undangannya. Tak ayal lagi, mereka pun bergegas pergi bersamanya. Ia memberi makan dan pakaian kepada mereka sampai mereka puas.[16]</p>
<p style="text-align: justify;">Kesabaran yang Luas</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu karakter Imam Hasan as. yang menonjol adalah kesabarannya yang luas. Ia senantiasa membalas setiap orang yang berbuat buruk dan dengki kepadanya dengan kebaikan. Para ahli sejarah telah meriwayatkan banyak kisah mengenai kesabaran Imam as. ini. Di antaranya adalah kisah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">* Suatu hari Imam Hasan as. ia melihat kaki kambing miliknya patah. Ia bertanya kepada budaknya: “Siapakah yang melakukan hal itu?”  “Saya”, jawab budak itu pendek. “Mengapa kamu lakukan itu?”, tanya Imam as. “Agar Anda merasa sedih”, jawab budak itu. Imam tersenyum seraya berkata: “Aku akan membahagiakanmu.” Selekas itu, Imam as. memberi hadiah kepadanya lalu membebaskannya.[17]<br />
* Seorang musuh bebuyutan Imam Hasan as. adalah Marwân bin Hakam. Marwân telah mengakui luasnya kesabaran Imam Hasan. Marwân menegaskan pengakuannya ketika Imam as. wafat. Saat itu, Marwân segera menepuk jenazahnya. Sang adik, Imam Husain as., terkejut dengan sikap Warwân tersebut seraya bertanya: “Sekarang kau tepuk jenazahnya, padahal kemarin kau membuatnya murka?” Marwân menjawab: “Kulakukan ini kepada orang yang kesabaran-nya laksana gunung.”[18]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. adalah seseorang yang berkesabaran tinggi, berakhlak luhur, dan berbudi pekerti agung. Ia dapat menarik hati orang lain de-ngan sifat-sifat mulia seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedermawanan</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. adalah orang yang paling murah hati dan paling banyak berbuat baik kepada fakir miskin. Ia tidak pernah menolak pengemis. Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda tidak pernah menolak pengemis?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as. menjawab: “Aku mengemis kepada Allah dan mencintai-Nya. Aku malu menjadi pengemis kepada Allah sementara aku menolak seorang pengemis. Sesungguhnya Allah senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepadaku. Dan aku berusaha untuk senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut bila kuputus kebiasaan ini Allah akan memutuskan kebiasaan-Nya.” Lalu Imam as. menyenandungkan syair:</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila datang kepadaku seorang pengemis, kusambut dia dengan ucapan: “Selamat datang, wahai yang karunianya segera dianugerah-kan kepadaku dengan pasti.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan karunianya adalah karunia bagi setiap pengutama, sebaik-baik hari bagi seseorang adalah ketika ia diminta.[19]</p>
<p style="text-align: justify;">Para utusan orang-orang sengsara dan fakir miskin senantiasa datang berbaris di depan pintu rumah Imam Hasan as. Dengan tangan terbuka dan penuh kasih, Imam memberi santunan kepada mereka, dan mem-perbanyak santunannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli sejarah telah menulis berbagai kisah mengenai kederma-wanan Imam Hasan as. sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">* Seorang Arab Baduwi datang kepada Imam Hasan as. untuk meminta sesuatu. Imam as. berkata: “Berikanlah kepadanya apa yang ada di dalam lemari itu!” Ketika itu, terdapat 10.000 dirham di dalam lemari tersebut. Orang Baduwi berkata: “Bolehkah aku mengutarakan hajatku dan menebarkan pujianku?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. menjawabnya dengan bait-bait puisi:</p>
<p style="text-align: justify;">Kamilah pemilik ladang yang subur, harapan dan cita datang tuk menggembala di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamilah pemilik jiwa derma sebelum kau pinta, menjaga kehor-matan orang yang meminta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya laut tahu keutamaan orang yang meminta pada kami, pasti ia kan limpahkan karunianya karena malu.[20]<br />
* Suatu hari, Imam Hasan as. terhenti melihat seorang budak hitam legam yang sedang menggenggam sepotong roti. Satu suapan ia makan dan satu suapan lainnya ia berikan kepada anjing. Imam as. bertanya kepadanya: “Mengapa kamu berbuat seperti itu?” “Aku malu memakannya bila aku tidak memberinya,” demikian budak itu menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. melihat sifat luhur pada diri budak itu. Karena itu ia ingin membalas perbuatan baiknya itu dengan kebaikan pula demi menebarkan keutamaan di tengah-tengah masyarakat. Imam as. berkata kepadanya: “Jangan beranjak dari tempat dudukmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkata begitu, Imam Hasan as. pergi dan membeli budak itu dari majikannya. Lebih dari itu, ia juga membeli kebun yang di sana budak itu duduk. Kemudian Imam as. membebaskan budak tersebut dan memberikan kebun itu kepadanya.[21]</p>
<p style="text-align: justify;">1.      Suatu hari, Imam Hasan as. melewati sebuah gang kota Madinah. Tiba-tiba ia mendengar seorang lelaki tengah memohon kepada Allah agar diberikan uang 10.000 dirham. Imam segera pulang ke rumahnya dan mengirim uang itu kepadanya.[22]</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah sebagian contoh dari kedermawanan Imam Hasan as. Kami telah membawakan berbagai contoh dan kisah kedermawanannya dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1.<br />
Kezuhudan</p>
<p style="text-align: justify;">Buah hati dan cucu Rasulullah saw. yang pertama ini memiliki kezuhudan dalam semua sisi kehidupan. Ia memfokuskan diri kepada Allah swt. dengan segenap jiwa raga dan merasa cukup dengan harta dunia yang sedikit. Ia pernah berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Secuil roti kering dapat mengenyangkan perutku, dan seteguk air putih dapat menghilangkan dahagaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehelai baju dapat menutupi badanku kala aku hidup, dan kain kafan pun cukup bagiku bila aku mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. mengukir dua bait syair pada cincinnya yang melukiskan dirinya sebagai orang yang zuhud. Dua bait itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Hidangkanlah takwa untuk dirimu sebisamu, sungguh kematian akan datang padamu, hai pemuda.</p>
<p style="text-align: justify;">Di pagi hari engkau bergembira seakan tak melihat para kekasih hatimu hancur luluh di dalam kubur dan hancur.[23]<br />
Adalah cucu kesayangan Nabi saw. Dia begitu menyerupai sang datuk saw. dalam kelembutan hati, kesabaran, kepribadian, dan kedermawanan. Nabi saw. telah mencurahkan cinta dan kasih sayang kepadanya di di hadapan kaum Muslimin. Banyak hadis yang telah diriwayatkan darinya mengenai kedudukan dan ketinggian kedudukan sang cucunda; Imam Hasan as. ini, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">* Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Nabi pernah menyambut Hasan dan memeluknya seraya berkata, ‘Ya Allah, ini adalah anakku, sungguh aku mencintainya dan mencintai orang yang mencintainya.”[1]<br />
* Menurut sebuah riwayat, Al-Barâ’ bin ‘Âzib pernah berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah saw., sedang Hasan berada di atas pun-daknya sambil berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah orang yang mencintainya.’”[2]<br />
* Diriwayatkan bahwa Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. datang sambil memanggul Hasan di pundaknya. Seorang laki-laki yang menjumpainya berkata, ‘Hai anak, kamu telah menunggangi tung-gangan yang paling baik.’ Rasulullah pun menimpali, ‘Dan sebaik-baiknya penunggang adalah dia (Hasan).’”[3]<br />
* Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin melihat peng-hulu pemuda ahli surga, maka lihatlah Hasan.”[4]<br />
* Rasulullah saw. bersabda: “Hasan adalah buah hatiku di dunia ini.”[5]<br />
* Menurut sebuah riwayat, Anas bin Malik pernah berkata: “Hasan datang menemui Rasulullah saw. Aku menahannya. Lantas ia ber-kata, ‘Celaka engkau hai Anas! lepaskan anak dan buah hatiku itu. Barang siapa yang menyakitinya, dia telah menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku, ia telah menyakiti Allah.’”[6]<br />
* Ketika Rasulullah saw. sedang mengerjakan salah satu salat Magh-rib atau Isya’, ia memperpanjang sujud. Seusai salam, orang-orang bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Ia menjawab: “Ini (Hasan) adalah anakku. Ia menaikiku dan aku tidak ingin mengusiknya.”[7]<br />
* Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abdurahman bin Zubair ber-kata: “Di antara keluarga Nabi saw. yang paling mirip dengannya dan yang paling dicintai adalah Hasan. Aku melihat Rasulullah saw. sujud dan Hasan menaiki punggungnya. Ia tidak mau menurunkan-nya sampai ia (Hasan) sendiri yang turun. Dan aku melihat Rasulul-lah saw. sedang rukuk lalu merenggangkan jarak kedua kakinya sehingga Hasan dapat keluar dari arah lain.”[8]</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali hadis seperti itu yang telah disabdakan oleh Nabi saw. tentang keutamaan cucu kesayangan dan buah hatinya itu. Para perawi menukil sekelompok hadis lain yang menjelaskan keutamaannya, keu-tamaan saudaranya; Imam Husain as. penghulu para syahid, dan keuta-maan Ahlul Bait as. Dan Imam Hasan termasuk salah seorang dari mereka. Hal itu telah kami jelaskan dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.<br />
Masa Pertumbuhan</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. mengasuh dan memberikan teladan yang baik kepada Imam Hasan as. Ia mencurahkan seluruh perhatian kepada cucunya yang satu ini. Ayahnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. sebagai pendidik terbaik dalam Islam juga telah mendidiknya dengan baik. Ia telah mena-namkan suri teladan yang mulia dan karakter yang agung di dalam jiwa-nya sehingga Hasan menjadi manifestasi yang sempurna dari seluruh karakter tersebut. Hasan juga dididik oleh penghulu semesta alam, Sayyidah Fatimah Az-Zahrâ’ as. Sang ibu telah menanamkan keimanan yang murni dan kecintaan yang dalam kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. tumbuh di dalam rumah kenabian, curahan wahyu, dan pusat kendali imâmah. Oleh karena itu, ia pantas menjadi teladan terbaik untuk pendidikan Islam dalam tingkah laku dan kepribadiannya yang agung.<br />
Teladan Yang Agung</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam diri Imam Hasan as., tercermin sifat yang luhur dan teladan yang agung, terjelma karakteristik sang kakek dan ayahnya yang telah berhasil menegakkan simbol-simbol kesadaran dan kemuliaan di muka bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. telah mencapai puncak kemuliaan, kehormatan, pandangan yang dalam, pemikiran yang tinggi, kewarakan, kesabaran yang luas, dan budi pekerti yang luhur. Semua itu adalah butir-butir mu-tiara kemuliaannya.<br />
Imâmah</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat utama Imam Hasan as. yang paling menonjol adalah imâmah (kepe-mimpinan), karena ia memiliki keutamaan dan potensi yang tidak dimiliki kecuali oleh orang yang telah dipilih oleh Allah swt. di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah swt. telah menganugerahkan hal itu kepadanya. Nabi saw. pernah menegaskan kepemimpinannya dan saudaranya; Imam Husain as. seraya bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin, baik ketika mereka berkuasa maupun ketika diam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hendaknya kita merenung sejenak untuk memikirkan arti imâmah dan seluruh elemen yang melapisinya. Semua itu dapat mengungkapkan betapa kedudukan dan keagungan Imam Hasan as.<br />
a. Arti Imâmah</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut persepsi para teolog, imâmah didefinisikan sebagai kepemim-pinan universal seseorang menyangkut urusan agama dan dunia. Menurut definisi ini, imam adalah pemimpin universal yang wajib ditaati. Ia memi-liki kekuasaan mutlak atas umat manusia dalam semua urusan agama dan dunia.<br />
b. Perlu Kepada Imâmah</p>
<p style="text-align: justify;">Kepemimpinan adalah salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan umat manusia. Dan kebutuhan ini tidak dapat diabaikan dalam kondisi apapun. Dengan imâmah, tatanan dunia dan agama yang bengkok dapat diluruskan. Dengan imâmah, keadilan yang telah dicanangkan oleh Allah akan terealisai di muka bumi ini, stabilitas umum dan ketentraman di tengah umat manusia akan terwujud, berbagai kesulitan dan bencana akan dapat diatasi, dan kezaliman orang yang kuat atas orang yang lemah dapat dicegah.</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor paling urgen yang menuntut kehadiran seorang imam adalah menuntun umat manusia kepada penghambaan pada Allah swt., menye-barkan hukum-hukum dan ajaran-Nya, dan menanamkan roh iman dan takwa di dalam diri masyarakat agar mereka dapat menepis kejahatan dan merangkul kebaikan. Seluruh umat manusia wajib mengikutinya dan menjalankan perintahnya agar ia dapat menegakkan pondasi kehidupan mereka dan memberikan petunjuk kepada jalan yang benar.<br />
c. Tugas-Tugas Seorang Imam</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas-tugas seorang pemimpin kaum Muslimin adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">* Menjaga agama Islam dari orang-orang yang hendak merongrong nilai-nilai akhlak.<br />
* Menjalankan hukum, menyelesaikan pertikaian di tengah masyara-kat, dan membela orang yang teraniaya.<br />
* Melindungi negara Islam dari serangan musuh, baik berupa sera-ngan militer maupun pemikiran.<br />
* Mengeksekusi sanksi dan hukuman atas seluruh tindak kejahatan yang menyebabkan umat menjadi sengsara.<br />
* Membentengi daerah-daerah perbatasan negara Islam.<br />
* Berjihad.<br />
* Mengumpulkan dan menyalurkan harta negara, seperti zakat, pajak, dan lain sebagainya, sesuai dengan ketentuan syariat Islam.<br />
* Merekrut orang-orang yang jujur sebagai aparatur negara dan tidak mengangkat seorang pegawai hanya karena ia mencintai atau meng-utamakannya.<br />
* Mengawasi urusan rakyat secara langsung dan tidak menyerahkan-nya kepada orang lain, karena itu merupakan hak rakyat atasnya.[9]<br />
* Mengikis pengangguran, meratakan kesejahteraan sosial sehingga dapat dinikmati oleh lapisan masyarakat, dan mengangkat mereka dari garis kemiskinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini semua adalah sebagian tugas yang wajib dijalankan oleh seorang imam untuk umatnya. Topik ini telah kami paparkan dalam buku, Ni-zhâm Al-Hukm wa Al-Idârah fi Al-Islam.<br />
d. Karakteristik Imam</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang imam harus memiliki syarat-syarat berikut ini:<br />
# Adil dengan seluruh syaratnya; yakni menghindari dosa-dosa besar dan tidak melakukan dosa-dosa kecil secara terus menerus.<br />
# Memiliki pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh bidang dan mengetahui sebab-sebab turun dan hukum Al-Qur’an.<br />
# Indera yang sehat, seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, agar ia dapat melakukan sesuatu yang ia ketahui secara langsung. Begitu pula disyaratkan supaya anggota badannya yang lain sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">* Memiliki wawasan yang luas untuk mengatur rakyat dan kemaslaha-tan umum.<br />
* Berani, tegar, mampu menjaga negara Islam, dan berjuang melawan musuh.<br />
* Seorang imam harus berasal dari keturunan Quraisy.<br />
Syarat-syarat dan karakteristik di atas telah dijelaskan oleh Al-Mâ-wardî dan Ibn Khaldûn.[10]<br />
* ‘Ishmah (keterjagaan dari dosa). Menurut para ahli teologi, definisi ‘ishmah adalah anugerah Ilahi (luthf) yang Dia berikan kepada hamba pilihan. Dengan itu, ia tercegah dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik dosa yang dilakukan dengan sengaja maupun lupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Syi‘ah sepakat bahwa seorang imam harus memiliki karakter ‘ishmah. Dalil mereka adalah hadis Tsaqalain. Dalam hadis ini, Nabi saw. telah mendam-pingkan Al-Qur’an dengan ‘Itrah. Sebagaimana Al-Qur’an terjaga dari kesalahan dan kekeliruan, begitu pula ihwal ‘Itrah yang suci. Jika tidak demikian, maka pendampingan dan penyamaan antara kedua pusaka itu tidaklah berarti sebagaimana penjelasan yang sudah dipaparkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh karakter itu tidak dapat terpenuhi kecuali pada diri para imam Ahlul Bait as. sebagai pengayom dan pemelihara Islam serta penuntun jalan kepada keridhaan dan ketaatan kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah dan perilaku para imam Ahlul Bait as. sendiri membuktikan bahwa mereka terjaga dari setiap kesalahan dan penyimpangan. Berbagai peristiwa telah membuktikan realita ini. Lebih dari itu, seluruh peristiwa itu juga menegaskan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi agung yang tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Hal itu lantaran mereka memiliki kemuliaan yang agung, ketakwaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap agama.<br />
e. Penentuan Imam</p>
<p style="text-align: justify;">Syi‘ah percaya bahwa penentuan seorang imam bukan di tangan umat manusia, tidak pula di tangan Ahl Al-Hall wa Al-‘Aqd (badan penentu kemaslahatan dan kesepakatan bersama). Konsep pemilihan untuk meng-angkat seorang imam tidak dapat dibenarkan. Mustahil kita dapat memi-lihnya. Imâmah tak ubahnya dengan kenabian. Sebagaimana kenabian tidak dapat ditentukan oleh umat manusia, demikian pula halnya imâmah, lantaran ‘ishmah sebagai syarat utama dalam imâmah tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah swt. yang mengetahui rahasia setiap jiwa insan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujah Keluarga Muhammad saw. dan Mahdî afs. umat ini telah menjelaskan konsep ini dengan sebuah argumentasi ketika ia berdialog dengan Sa‘d bin Abdillah. Sa‘d pernah bertanya kepadanya tentang sebab mengapa umat manusia tidak boleh memilih imam mereka sendiri. Imam Mahdî afs. menjawab: “Mereka memilih seorang penegak kebaikan ataukah keburukan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tentu memilih penegak kebaikan”, jawab Sa‘d singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkinkah pemilihan mereka itu jatuh kepada seorang pelaku keburukan, lantaran tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui apa yang tersirat di dalam hati orang lain; kebaikan ataukah keburukan?”, tukas Imam Mahdî afs.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, bisa saja terjadi”, jawab Sa‘d pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Mahdî afs. melengkapi: “Itulah penyebabnya. Aku akan men-jelaskan kepadamu dengan dalil yang dapat dipercaya oleh akalmu. Jawablah pertanyaanku ini. Terdapat para rasul yang telah dipilih oleh Allah dan diturunkan kitab kepada mereka, lalu mereka diperkuat dengan wahyu dan ‘ishmah. Karena itu mereka menjadi penuntun umat dan lebih akurat dalam menentukan pilihan, seperti Mûsâ dan Isa. Sekarang dengan kesempurnaan akal dan ilmu mereka berdua, apakah mungkin pilihan mereka jatuh pada seorang munafik, sementara mereka meyakini bahwa dia adalah seorang mukmin?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Jelas tidak mungkin”, jawab Sa‘d.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Mahdî afs. menimpali: “Lihatlah Mûsâ. Ia adalah Kalîmullâh. Dengan akalnya yang tinggi, ilmunya yang sempurna, dan wahyu pun turun kepadanya, ia telah memilih orang-orang terkemuka di antara kaumnya dan para pembesar bala tentaranya untuk menjumpai Tuhannya sebanyak 70 orang. Keimanan dan keikhlasan para pembesar pilihan itu tidak diragukan lagi. Tetapi ternyata pilihannya itu jatuh pada orang-orang munafik. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">‘Dan Mûsâ memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.’[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">‘Mereka berkata, ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir karena kezaliman mereka.’[12]</p>
<p style="text-align: justify;">“Jika kita melihat bahwa pilihan orang yang telah dipilih Allah swt. untuk tugas kenabian ternyata jatuh pada orang yang korup, bukan pada orang yang baik, tetapi ia menduga bahwa orang itu adalah orang baik, maka kita tahu bahwa pemilihan itu harus berada di tangan Dzat Yang Maha mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada dan jiwa.”[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya kemampuan manusia tidak mampu untuk menge-tahui kemaslahatan yang dapat membawa umat kepada kebahagiaan. Oleh karena itu, pemilihan imam itu tidak mungkin berada di tangan manusia, tetapi di tangan Allah yang mengetahui segala rahasia.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah gambaran global mengenai imâmah. Untuk lebih detailnya, Anda dapat membaca buku-buku teologi.<br />
Keluhuran Akhlak</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. mewarisi kakeknya yang memiliki keunggulan di atas seluruh nabi dengan ketinggian akhlaknya. Para perawi hadis banyak meriwayatkan berbagai macam keutamaan akhlaknya. Di antaranya kisah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">* Pada suatu hari, seseorang datang dari Syam dan melewati Imam Hasan as. Orang itu mencela dan menghina Imam Hasan as. Imam diam dan tidak membalasnya. Seusai orang itu melampiaskan celaannya, Imam as. mendatanginya dengan santun dan senyum yang lebar. Imam as. berkata kepadanya: “Hai Syaikh, aku yakin Anda orang asing di sini. Jika Anda perlu sesuatu dari kami, kami akan penuhi. Jika Anda perlu petunjuk, kami akan beri petunjuk. Jika Anda meminta untuk memikul suatu barang, kami akan pikul. Jika Anda lapar, kami beri makan. Jika Anda perlu suatu hajat, kami akan penuhi. Jika Anda terusir, kami siap melindungi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan bersikap lembut kepada orang Syam itu sehingga membuatnya tercengang. Dia tidak mampu menjawab sepatah kata pun dan bingung bagaimana harus meminta maaf kepada Imam as. untuk memaklumi kesalahannya. Akhirnya dia berkata: “Allah lebih mengetahui di manakah Dia meletakkan risalah-Nya.”[14]</p>
<p style="text-align: justify;">* Pada suatu ketika, Imam Hasan as. duduk di suatu tempat. Ketika ia ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seorang fakir datang kepadanya. Imam as. menyambutnya dengan lemah lembut sembari berkata: “Kamu datang ketika kami hendak berdiri. Apakah kamu izinkan aku meninggalkan tempat ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki fakir itu merasa kagum dengan ketinggian akhlak Imam Hasan as. Ia pun memperkenankan Imam as. untuk meninggalkan tempat tersebut.[15]<br />
* Ketika Imam Hasan as. melewati sekelompok orang-orang fakir yang telah meletakkan potongan-potongan kecil roti di atas tanah lantas melahapnya. Mereka mengajak Imam as. untuk duduk makan bersama. Imam pun duduk di tengah-tengah mereka dan makan bersama. Imam as. berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tidak me-nyukai orang-orang sombong.” Kemudian Imam meminta mereka untuk memenuhi undangannya. Tak ayal lagi, mereka pun bergegas pergi bersamanya. Ia memberi makan dan pakaian kepada mereka sampai mereka puas.[16]</p>
<p style="text-align: justify;">Kesabaran yang Luas</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu karakter Imam Hasan as. yang menonjol adalah kesabarannya yang luas. Ia senantiasa membalas setiap orang yang berbuat buruk dan dengki kepadanya dengan kebaikan. Para ahli sejarah telah meriwayatkan banyak kisah mengenai kesabaran Imam as. ini. Di antaranya adalah kisah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">* Suatu hari Imam Hasan as. ia melihat kaki kambing miliknya patah. Ia bertanya kepada budaknya: “Siapakah yang melakukan hal itu?”  “Saya”, jawab budak itu pendek. “Mengapa kamu lakukan itu?”, tanya Imam as. “Agar Anda merasa sedih”, jawab budak itu. Imam tersenyum seraya berkata: “Aku akan membahagiakanmu.” Selekas itu, Imam as. memberi hadiah kepadanya lalu membebaskannya.[17]<br />
* Seorang musuh bebuyutan Imam Hasan as. adalah Marwân bin Hakam. Marwân telah mengakui luasnya kesabaran Imam Hasan. Marwân menegaskan pengakuannya ketika Imam as. wafat. Saat itu, Marwân segera menepuk jenazahnya. Sang adik, Imam Husain as., terkejut dengan sikap Warwân tersebut seraya bertanya: “Sekarang kau tepuk jenazahnya, padahal kemarin kau membuatnya murka?” Marwân menjawab: “Kulakukan ini kepada orang yang kesabaran-nya laksana gunung.”[18]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. adalah seseorang yang berkesabaran tinggi, berakhlak luhur, dan berbudi pekerti agung. Ia dapat menarik hati orang lain de-ngan sifat-sifat mulia seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedermawanan</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. adalah orang yang paling murah hati dan paling banyak berbuat baik kepada fakir miskin. Ia tidak pernah menolak pengemis. Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda tidak pernah menolak pengemis?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as. menjawab: “Aku mengemis kepada Allah dan mencintai-Nya. Aku malu menjadi pengemis kepada Allah sementara aku menolak seorang pengemis. Sesungguhnya Allah senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepadaku. Dan aku berusaha untuk senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut bila kuputus kebiasaan ini Allah akan memutuskan kebiasaan-Nya.” Lalu Imam as. menyenandungkan syair:</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila datang kepadaku seorang pengemis, kusambut dia dengan ucapan: “Selamat datang, wahai yang karunianya segera dianugerah-kan kepadaku dengan pasti.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan karunianya adalah karunia bagi setiap pengutama, sebaik-baik hari bagi seseorang adalah ketika ia diminta.[19]</p>
<p style="text-align: justify;">Para utusan orang-orang sengsara dan fakir miskin senantiasa datang berbaris di depan pintu rumah Imam Hasan as. Dengan tangan terbuka dan penuh kasih, Imam memberi santunan kepada mereka, dan mem-perbanyak santunannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli sejarah telah menulis berbagai kisah mengenai kederma-wanan Imam Hasan as. sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">* Seorang Arab Baduwi datang kepada Imam Hasan as. untuk meminta sesuatu. Imam as. berkata: “Berikanlah kepadanya apa yang ada di dalam lemari itu!” Ketika itu, terdapat 10.000 dirham di dalam lemari tersebut. Orang Baduwi berkata: “Bolehkah aku mengutarakan hajatku dan menebarkan pujianku?”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. menjawabnya dengan bait-bait puisi:</p>
<p style="text-align: justify;">Kamilah pemilik ladang yang subur, harapan dan cita datang tuk menggembala di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamilah pemilik jiwa derma sebelum kau pinta, menjaga kehor-matan orang yang meminta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya laut tahu keutamaan orang yang meminta pada kami, pasti ia kan limpahkan karunianya karena malu.[20]<br />
* Suatu hari, Imam Hasan as. terhenti melihat seorang budak hitam legam yang sedang menggenggam sepotong roti. Satu suapan ia makan dan satu suapan lainnya ia berikan kepada anjing. Imam as. bertanya kepadanya: “Mengapa kamu berbuat seperti itu?” “Aku malu memakannya bila aku tidak memberinya,” demikian budak itu menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. melihat sifat luhur pada diri budak itu. Karena itu ia ingin membalas perbuatan baiknya itu dengan kebaikan pula demi menebarkan keutamaan di tengah-tengah masyarakat. Imam as. berkata kepadanya: “Jangan beranjak dari tempat dudukmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkata begitu, Imam Hasan as. pergi dan membeli budak itu dari majikannya. Lebih dari itu, ia juga membeli kebun yang di sana budak itu duduk. Kemudian Imam as. membebaskan budak tersebut dan memberikan kebun itu kepadanya.[21]</p>
<p style="text-align: justify;">1.      Suatu hari, Imam Hasan as. melewati sebuah gang kota Madinah. Tiba-tiba ia mendengar seorang lelaki tengah memohon kepada Allah agar diberikan uang 10.000 dirham. Imam segera pulang ke rumahnya dan mengirim uang itu kepadanya.[22]</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah sebagian contoh dari kedermawanan Imam Hasan as. Kami telah membawakan berbagai contoh dan kisah kedermawanannya dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1.<br />
Kezuhudan</p>
<p style="text-align: justify;">Buah hati dan cucu Rasulullah saw. yang pertama ini memiliki kezuhudan dalam semua sisi kehidupan. Ia memfokuskan diri kepada Allah swt. dengan segenap jiwa raga dan merasa cukup dengan harta dunia yang sedikit. Ia pernah berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Secuil roti kering dapat mengenyangkan perutku, dan seteguk air putih dapat menghilangkan dahagaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehelai baju dapat menutupi badanku kala aku hidup, dan kain kafan pun cukup bagiku bila aku mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. mengukir dua bait syair pada cincinnya yang melukiskan dirinya sebagai orang yang zuhud. Dua bait itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Hidangkanlah takwa untuk dirimu sebisamu, sungguh kematian akan datang padamu, hai pemuda.</p>
<p style="text-align: justify;">Di pagi hari engkau bergembira seakan tak melihat para kekasih hatimu hancur luluh di dalam kubur dan hancur.[23]<br />
Muhammad bin Babaweih telah menulis sebuah kitab tentang kezu-hudan Imam Hasan as. dengan judul Zuhd Al-Imam Hasan as.[24] Para pe-nulis biografi juga sepakat bahwa Imam Hasan as. adalah figur manusia terzuhud pada masanya, sebagaimana ayah dan kakeknya yang mulia.<br />
Pengetahuan</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. adalah sumber ilmu pengetahuan dan hikmah dalam dunia Islam. Ketinggian ilmunya dan ilmu saudaranya, Imam Husain as., telah dijelaskan dalam banyak riwayat. Imam Hasan dan Imam Husain as. adalah penuang ilmu pengetahuan.[25] Imam Hasan as. senantiasa menjadi tempat rujukan kaum Muslimin dalam hukum. Para sahabat Rasulullah saw. datang berduyun-duyun untuk menimba ilmu darinya. Banyak saha-batnya yang meriwayatkan hadis dari Imam Hasan.[26]</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kami ingatkan di sini bahwa Muhammad bin Ahmad ad-Dawlâbî (wafat 32 H.) pernah menulis sebuah musnad yang ia masukkan dalam kitab Adz-Dzurriyyah Ath-Thâhirah. Dalam kitab ini ia menghimpun riwayat-riwayat yang telah diriwayatkannya dari Imam Hasan as. dari kakeknya, Rasululah saw.[27]<br />
Kata Mutiara</p>
<p style="text-align: justify;">* Imam Hasan as. berkata: “Tinggallah di dunia ini dengan badanmu dan di akhirat dengan hatimu.”[28]<br />
* Imam Hasan as. berkata: “Anggaplah apa yang kamu inginkan dari dunia ini tetapi kamu tidak memperolehnya, seakan-akan keinginan itu tidak pernah terbersit di hatimu.”[29]<br />
* Imam Hasan as. berkata: “Yang lebih besar daripada musibah ialah akhlak yang buruk.”[30]<br />
* Imam Hasan as. berpesan: “Jangan menjawab orang yang memulai pembicaraan tanpa salam!”[31]<br />
* Imam Hasan as. berkata kepada seorang laki-laki yang telah sem-buh dari sakitnya: “Sesungguhnya Allah swt. telah mengingatmu, maka ingatlah Dia. Dan Dia telah memaafkanmu, maka bersyu-kurlah kepada-Nya!”[32]<br />
* Imam Hasan as. berpesan: “Nikmat adalah sebuah ujian. Jika kamu bersyukur, nikmat itu laksana harta karun. Dan jika engkau tidak mensyukurinya, nikmat itu akan menjadi bencana.”[33]</p>
<p style="text-align: justify;">Ceramah</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. adalah seorang orator ulung yang mampu berceramah secara spontanitas dan pandai menyusun rangkaian kata yang indah. Berikut ini sebagian dari ceramahnya:</p>
<p style="text-align: justify;">* Pernah Imam Ali as. menyuruh Imam Hasan as. untuk menyam-paikan ceramah di hadapan khalayak. Ia segera naik mimbar dan menyampaikan ceramah berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai manusia, pahamilah ketetapan Tuhan kalian. Sesungguhnya Allah swt. telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imrân di atas semesta alam ini. Mereka adalah keturunan dari seba-gian yang lain. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kamilah anak cucu Adam, keluarga Nuh, pilihan dari keluarga Ibrahim, keturunan Isma’il, dan keluarga Muhamamd saw. Di tengah-tengah kalian, kami bagaikan langit yang tinggi, bumi yang terhampar, matahari yang bersinar, selaksa pohon zaitun (tidak ke barat dan tidak ke timur) yang minyaknya diberkahi. Nabi adalah pokoknya, Ali adalah cabangnya, dan kami adalah buahnya. Barang siapa yang berpegang pada salah satu cabangnya, niscaya ia akan selamat. Dan barang siapa yang meninggalkannya, ia akan terjerumus ke dalam neraka &#8230;.”[34]</p>
<p style="text-align: justify;">* Salah satu ceramah Imam Hasan as. yang sangat indah adalah cera-mah yang memaparkan masalah-masalah akhlak dan budi pekerti yang mulia:</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah bahwa akal adalah benteng, kesabaran adalah pernik, menepati janji adalah kehormatan, ketergesa-gesaan adalah kebodohan, kebodohan itu adalah kelemahan, berteman dengan pemuja dunia adalah kehinaan, bergaul dengan orang-orang fasik adalah kebinasaan. Barang siapa yang meremehkan saudaranya, rusaklah harga dirinya. Tidak ada yang rusak kecuali orang-orang ragu. Sementara orang-orang yang mendapat petunjuk akan selamat, yaitu mereka yang sedikit pun tidak pernah memprotes Allah tentang ajal mereka tidak pula tentang rezeki mereka. Karena itu, kesucian dan rasa malu mereka sempurna. Mereka sabar sampai rezeki mereka datang sendiri. Mereka sama sekali tidak menjual agama dan kehormatan mereka sedikit pun dengan harta dunia. Mereka pun tidak mencari sedikit pun dari dunia itu dengan jalan bermaksiat kepada Allah. Termasuk kesempurnaan akal dan kehormatan seseorang adalah ia bersegera memenuhi hajat saudara-saudaranya sekalipun mereka tidak mengutarakannya. Akal adalah pemberian Allah yang paling baik untuk hamba-Nya. Karena dengan akal, ia akan selamat di dunia dari mara bahayanya dan akan selamat dari siksa akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan bahwa para sahabat pernah menceritakan indahnya ibadah seseorang di hadapan Rasulullah saw. Ia pun bersabda: “Lihatlah akalnya! Karena seorang hamba akan diberi pahala pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar akalnya. Budi luhur adalah tanda bahwa akalnya sehat &#8230;”[35]<br />
Ibadah</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. sosok figur yang paling abid pada masanya. Para perawi hadis berkata tentang hal ini: “Kami tidak pernah melihat Imam Hasan pada setiap waktu melainkan ia senantiasa berzikir kepada Allah swt.”[36]</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila disebutkan ihwal surga dan neraka, Imam Hasan as. tampak gemetar bagai disengat, kemudian ia memohon surga dan berlindung dari neraka. Apabila disebutkan ihwal kematian dan hal-hal yang mengiri-nginya seperti Kebangkitan dan Hari Mahsyar, ia menangis seperti orang yang takut dan bertobat.[37] Dan apabila disebutkan ihwal dibukanya buku amal di hadapan Allah, ia pingsan sejenak saking takutnya.[38]</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah-kisan ini melukiskan betapa ketaatan Imam Hasan as. begitu tingginya dan betapa ia takut kepada Allah swt.<br />
Wudu dan Salat</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila Imam Hasan as. ingin berwudu, kondisi fisik dan batinnya beru-bah karena takut kepada Allah swt. sehingga wajahnya tampak pucat pasi dan persendiannya gemetar. Ia pernah ditanya tentang hal itu. “Sudah pasti persendian orang yang berdiri di hadapan Tuhan ‘Arsy merasa gemetar dan wajahnya pucat pasi,” demikian Imam as. menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila usai berwudu dan hendak memasuki masjid, Imam Hasan as. berkata dengan suara keras: “Ya Tuhanku, kini tamu-Mu berada di ambang pintu-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Baik, telah datang orang yang berbuat buruk. Maka maafkanlah segala keburukan yang ada pada diri kami dengan keindahan anugerah yang ada di sisi-Mu, wahai Yang Maha Mulia!”[39]</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Imam Hasan as. mulai mengerjakan salat, ia tampak takut dan gemetar sehingga seluruh persendian dan anggota tubuhnya bergetar.[40]</p>
<p style="text-align: justify;">Manakala usai mengerjakan salat Subuh, Imam as. tidak berbicara sedikit pun kecuali zikir kepada Allah sampai matahari terbit.[41]<br />
Ibadah Haji</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu manifestasi ibadah dan ketaatan Imam Hasan as. kepada Allah swt. adalah ibadah haji ke Baitullah sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki, sementara unta-unta dituntun di hadapannya.[42]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. pernah ditanya mengapa ia sering pergi haji dengan berjalan kaki. Ia menjawab: “Aku merasa malu kepada Tuhanku jika mendatangi rumah-Nya tidak dengan berjalan kaki.”[43]<br />
Sedekah</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. menyedekahkan harta bendanya yang sangat berharga di jalan Allah demi mencapai ridha dan ketaatan kepada-Nya. Ia pernah menyedekahkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya sebanyak dua kali, bahkan sampai kali ketiga karena Allah, sehingga ia tidak memiliki cara lain untuk bersedekah kecuali dengan menyedekahkan satu sandal-nya dan menahan sandal yang lain untuk dirinya.[44]</p>
<p style="text-align: justify;">Semua keutamaan di atas itu adalah sebagian contoh dari ketaatan Imam Hasan as. kepada Allah swt. Dan ibadahnya ini adalah sekelumit gambaran yang menyingkapkan ibadah dang kakek dan ayahnya, Sayyidul Muttaqîn wal Muwahhidîn.<br />
Menghadapi Tuduhan</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. dituduh banyak nikah. Menurut sebuah riwayat, ia telah  menikah dengan tiga ratus orang wanita.[45] Semua itu hanyalah fitnah yang tidak berfakta. Tuduhan itu semata-mata rekayasa yang dibuat Manshûr Ad-Dawâniqî pada saat keturunan Imam Hasan as. mengadakan perlawanan terhadapnya; gerakan yang hampir saja menggoyahkan dan meruntuhkan dinasti kerajaannya. Manshûr telah berbuat dusta atas Imam Amirul Mukminin as. dan keturunannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya semua riwayat buatan itu benar, tentunya Imam Hasan as. mempunyai anak yang sangat banyak sesuai dengan bilangan istrinya itu. Namun kenyataannya, para ahli nasab berasumsi bahwa putra-putri Imam Hasan as. hanya berjumlah dua puluh dua orang. Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan jumlah wanita yang mereka duga telah dinikahi Imam as.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, mereka juga menuduh Imam Hasan as. dengan banyaknya melakukan perceraian. Seandainya tuduhan itu benar, pasti ia telah men-cerai istrinya yang bernama Ja‘dah binti Asy‘ast. Kami telah membuk-tikan kepalsuan semua tuduhan itu dengan argumentasi yang gamblang dalam kitab kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.<br />
Kekhalifahan</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dunia Islam ditimpa musibah dan duka yang mendalam dengan syahadah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., sang pahlawan kea-dilan itu, Imam Hasan as. menduduki kursi kekhalifahan Islam dalam kondisi yang sangat kritis dan labil itu. Bala tentara Imam Hasan as. dikenal sebagai prajurit pembangkang. Mereka ingin hidup santai dan telah jenuh menghadapi peperangan. Sikap seperti itu pernah dilakukan oleh kaum Khawârij yang telah menjatuhkan hukum kafir dan murtad dari Islam ke atas Amirul Mukminin Ali as. Mereka itu bagaikan ulat-ulat dan serangga yang menggerogoti pasukan Imam Hasan as. dan menyeru untuk membelot dan keluar dari wilayah ketaatan dan kepemimpinannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa yang paling menyakitkan dan menyedihkan Imam Hasan as. adalah pembelotan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh komandan pasukannya, yaitu ‘Ubaidillah bin Abbâs. ‘Ubaidillah adalah komandan pasukan bersenjata. Bersama rekan-rekannya telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum Muslimin. Mereka mengirim surat kepada Mu‘âwiyah dan menyatakan kesetiaan untuk menjalankan segala perintah. Bila Mu‘âwiyah menginginkan, mereka siap membunuh Imam Hasan as. atau menyerahkannya kepada Mu‘âwiyah sebagai tawanan.</p>
<p style="text-align: justify;">‘Ubaidillah bin Abbâs, anak paman Imam Hasan as. itu, telah menerima suap dari Mu‘âwiyah. Pada suatu malam yang gelap gulita, ‘Ubaidillah menyelundup hendak menjumpai Mu‘âwiyah. Secara diam-diam, ia meninggalkan bala tentara Imam Hasan, padahal kondisi mental mereka tengah goncang akibat berbagai fitnah. ‘Ubaidillah telah mem-buka jalan pengkhianatan bagi orang-orang yang berjiwa lemah dan ber-iman rapuh, sehingga dengan mudah mereka membelot dan bergabung dengan pasukan tiran Mu‘âwiyah. Lantaran musibah itu, bumi menjadi sempit bagi Imam Hasan as. Ketika Imam tengah mengerjakan salat dan berdiri di hadapan Allah swt., seorang pembelot dari pasukannya menikam bagian pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Hasan as. menghadapi berbagai ujian dan fitnah yang berat ini dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Pada saat itu, ia dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan yang tidak ada ketiganya, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, mengadakan perlawanan terhadap Mu‘âwiyah dengan bala tentara yang sudah lemah dan tidak ada harapan untuk menang. Dengan perlawanan ini, Imam Hasan as. tentunya harus rela mengorbankan dirinya, seluruh Bani Hâsyim, dan para pengikut setianya yang selalu siap membela agama dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan yang jelas, apabila Imam as. diserahkan kepada Mu‘âwiyah sebagai tawanan, Mu‘âwiyah pasti akan membebaskannya. Dengan perlakuan semacam itu, Mu‘âwiyah dapat membumihanguskan Imam Hasan dan keluarganya seperti perlakuan Rasulullah saw. terhadap orang-orang yang telah ia bebaskan pada Hari Pembebasan kota Mekah. Dengan demikian, Bani Umaiyyah dapat memperoleh kemenangan gemilang. Sementara pengorbanan Imam Hasan as. di mata masyarakat umum menjadi sia-sia dan tidak berarti, sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, berdamai dengan Mu‘âwiyah, walaupun hal itu bagaikan kotoran yang mengganjal di mata dan segumpal makanan yang tersendat di tenggorokan, dan membiarkan Mu‘âwiyah dengan segala kedurja-naannya, lalu menyingkap segala kedurjanaan itu di hadapan masyarakat Islam. Sebagai akibatnya, kejahatan Mu‘âwiyah terhadap Islam akan ter-ungkap, busana penutup aibnya akan tersingkap, dan kebusukan dan segala tipu dayanya akan terbukti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataanya memang demikian. Semua itu terbukti dengan jelas dan tidak ada kesamaran sedikit pun. Setelah menandatangani perdamai-an, Mu‘âwiyah naik ke atas mimbar dan berpidato di hadapan masyarakat Irak. Dia menegaskan: “Hai penduduk Irak! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memerangi kalian agar kalian mengerjakan salat atau menunai-kan zakat, tidak juga agar kalian berpuasa atau menunaikan ibadah haji. Aku memerangi kalian hanya agar aku dapat berkuasa dan memerintah kalian. Allah telah menganugerahkan kekuasaan kepadaku, tetapi kalian tidak menyukainya. Ketahuilah sesungguhnya setiap kesepakatan yang telah kuberikan kepada Hasan bin Ali, kini aku letakkan di bawah kedua tapak kakiku ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan Mu‘âwiyah yang busuk ini!. Dia telah menyingkapkan kejahiliyahannya sendiri dan menelanjangi nilai-nilai Islam. Perdamaian dengan Imam Hasan as. tidak memiliki manfaat kecuali terungkapnya kejahiliyahan dan kebusukan hati Mu‘âwiyah; roh Islam dan hidayah tidak berbekas di dalam hatinya sama sekali. Mu‘âwiyah tak ubahnya dengan ayahnya, Abu Sufyân, musuh pertama Rasulullah saw., dan juga ibunya, Hindun yang telah merogoh hati penghulu para syahid, Hamzah, dan mencacahnya dengan keji dan kejam. Permusuhan terhadap Islam dan kedengkiannya kepada Rasulullah saw. telah dia warisi dari kedua orang tuanya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang jelas, Imam Hasan as. telah memilih jalan damai yang meru-pakan ketentuan syariat. Sekiranya tidak demikian, tentu umat Islam telah mengalami berbagai petaka yang hanya diketahui oleh Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perdamaian tersebut, Imam Hasan as. mengajukan kepada Mu‘âwiyah beberapa syarat yang telah berhasil menegaskan bahwa dia tidak berhak memegang kekuasaan syar‘î. Di antara syarat-syarat itu,   hendaknya dia tidak menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin. Ini ber-arti dia bukan penguasa yang telah mendapatkan legitimasi syar‘î dan bukan pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Dia hanyalah pengu-asa yang zalim dan tiran. Syarat lainnya, dia tidak boleh melangkahi Al-Qur’an dan Sunah sedikit pun, baik dalam urusan politik maupun perilaku sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya Imam Hasan as. yakin pada keislaman Mu‘âwiyah, tentu ia tidak akan mengajukan syarat-syarat seperti itu. Imam as. juga mele-takkan syarat-syarat lainnya yang bertentangan dengan hawa nafsu Mu‘âwiyah. Nyatanya, Mu‘âwiyah tidak menepati satu pun dari syarat-syarat Imam Hasan itu. Ia telah menginjak-injak semuanya. Hal ini telah kami uraikan dalam kitab kami, Hayâh Al-Imam Hasan as.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, setelah peristiwa perdamaian tersebut, tampak bagaimana wajah politik Mu‘âwiyah yang dengan terang-terangan menentang Al-Qur&#8217;an dan Sunah Rasulullah saw. Ia membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan orang-orang saleh seperti: Hujr bin ‘Adî, ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î, dan para sahabat yang lain secara zalim. Dia juga merusak kehormatan kaum muslimin, menawan kaum wanita, merampas harta benda, dan mengangkat orang-orang bejad sebagai aparat peme-rintahannya seperti: Ibn ‘Ash, Ibn Syu‘bah, Ibn Arthah, Ibn Hakam, Ibn Marjânah, dan Ibn Sumayyah. Orang terakhir ini telah dipisahkan oleh Mu‘âwiyah dari ayahnya yang sah, yaitu ‘Ubaid Ar-Rûmî, kemudian menisbahkan kepada ayahnya sendiri yang durjana, Abu Sufyân. Dia telah memberikan kekuasaan untuk memerintah penduduk Syi‘ah Irak kepada anak durjana ini. Dengan kekuasaannya itu, Ibn Sumayyah telah membebankan berbagai kesengsaraan kepada rakyat di sana, menyem-belih anak-anak mereka, mempermalukan kaum wanita mereka, memba-kar rumah-rumah mereka, dan merampas harta benda mereka &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kejahatan dan kezaliman Mu‘âwiyah yang terbesar ialah usahanya membunuh cucu Rasulullah saw., Imam Hasan as. Dia telah menyusupkan racun untuk Imam Hasan as. melalui tangan istrinya yang bernama Ja‘dah bin Asy‘ats. Dia merayu Ja‘dah dan berjanji akan menikahkannya dengan Yazîd. Ja‘dah terkutuk itu membubuhkan racun sementara Imam Hasan as. sedang berpuasa. Racun itu merobek-robek usus Imam Hasan as. dengan cepat. Tidak lama setelah itu, rohnya yang suci segera kembali ke haribaan Tuhannya dengan membawa berbagai musibah, duka, dan kesedihan yang ditimpakan oleh Mu‘âwiyah. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn!</p>
<p style="text-align: justify;">Mu‘âwiyah melengkapi kejahatan dengan mengangkat anaknya sen-diri, Yazîd, sebagai khalifah Muslimin. Anak ini telah merusak dan meng-hancurkan Islam dan umatnya. Tak ada kejahatan yang disisakannya. Di antara kejahatannya yang terbejat adalah tragedi Thuff di Mekah dan tragedi Harrah, serta berbagai petaka lainnya yang telah mengubah kehidupan Muslimin menjadi neraka Jahanam yang sulit dibayangkan.[]</p>
<p style="text-align: justify;">[1]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/104; Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/176</p>
<p style="text-align: justify;">[2]Shahîh Al-Bukhâri, bab Manâqib Al-Hasan wa Al-Husain,  Jil. 3/1370; Shahih At-Tirmidzî, Jil. 2/207; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/34.</p>
<p style="text-align: justify;">[3]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhariqah, hal. 82; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 2/35</p>
<p style="text-align: justify;">[4]Al-Istî‘âb, Jil. 2/369.</p>
<p style="text-align: justify;">[5]Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/35; Fadhâ’il Al-Ashhâb, hal. 165.</p>
<p style="text-align: justify;">[6]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/222.</p>
<p style="text-align: justify;">[7]Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/33.</p>
<p style="text-align: justify;">[8]Al-Ishâbah, Jil. 2/12.</p>
<p style="text-align: justify;">[9]As-Siyâsah Asy-Syar‘iyah, hal. 7.</p>
<p style="text-align: justify;">[10]Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah, hal. 4, mukadimah ke-135.</p>
<p style="text-align: justify;">[11]QS. Al-A‘râf [7]:155.</p>
<p style="text-align: justify;">[12]QS. An-Nisâ’ [4]:153.</p>
<p style="text-align: justify;">[13]Bihâr Al-Anwâr, Jil. 13/127.</p>
<p style="text-align: justify;">[14]Manâqib Ibn Syahri Âsyûb, Jil. 2/149; Al-Kâmil, karya Al-Mubarrad, Jil. 1/190.</p>
<p style="text-align: justify;">[15]Târîkh Al-Khulafâ’, karya As-Suyûthî, hal. 73.</p>
<p style="text-align: justify;">[16]A‘yân Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 24.</p>
<p style="text-align: justify;">[17]Maqtal Al-Husain, karya Al-Khârazmî, Jil. 1/ 47.</p>
<p style="text-align: justify;">[18]Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, Jil. 4/ 5.</p>
<p style="text-align: justify;">[19]Nûr Al-Abshâr, hal. 111.</p>
<p style="text-align: justify;">[20]A‘yân Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 89-90.</p>
<p style="text-align: justify;">[21]Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/ 38.</p>
<p style="text-align: justify;">[22]Ath-Thabaqât Al-Kubrâ, karya Asy-Sya‘rânî, Jil. 1/ 23; Ash-Shabbân, hal. 117.</p>
<p style="text-align: justify;">[23]Târîkh Ibn ‘Asâkir, Jil. 4/ 219.</p>
<p style="text-align: justify;">[24]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 1/ 330.</p>
<p style="text-align: justify;">[25]An-Nihâyah, karya Ibn Atsîr, Jil. 3/ 321.</p>
<p style="text-align: justify;">[26]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 2/ 333.</p>
<p style="text-align: justify;">[27]Ini juga telah kami paparkan pada Jil. ke-2 buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as.</p>
<p style="text-align: justify;">[28]Syarah Nahjul Balûghah, Jil. 18/ 89.</p>
<p style="text-align: justify;">[29]Idem.</p>
<p style="text-align: justify;">[30]Nahj As-Sa‘âdah, Jil. 8/ 280.</p>
<p style="text-align: justify;">[31]Kasyf Al-Ghummah, Jil. 2/ 197.</p>
<p style="text-align: justify;">[32]Bihâr Al-Anwâr, Jil. 75/ 106.</p>
<p style="text-align: justify;">[33]At-Tadzkirah, karya Ibn Hamdûn, hal. 25.</p>
<p style="text-align: justify;">[34]Jalâ’ Al-‘Uyûn, Jil. 1/ 328.</p>
<p style="text-align: justify;">[35]Irsyâd Al-Qulûb, hal. 239.</p>
<p style="text-align: justify;">[36]Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.</p>
<p style="text-align: justify;">[37]A‘yân Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 11.</p>
<p style="text-align: justify;">[38]Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.</p>
<p style="text-align: justify;">[39]Ibid, hal. 108.</p>
<p style="text-align: justify;">[40]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 1/ 327.</p>
<p style="text-align: justify;">[41]Bihâr Al-Anwâr, Jil. 10/ 93.</p>
<p style="text-align: justify;">[42]Al-Lum‘ah, kitab Al-Hajj,Jil. 2/ 170.</p>
<p style="text-align: justify;">[43]A‘yân asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 11.</p>
<p style="text-align: justify;">[44]Usud Al-Ghâbah, Jil. 2/ 12.</p>
<p style="text-align: justify;">[45]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 2/ 453.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber www.al-shia.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madinah-al-hikmah.net/2010/01/30/imam-hasan-bin-ali-bin-abi-thalib-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
