IMAM HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB AS.

Ahlul Bayt | suwandi | January 30, 2010 at 7:16 am

Adalah cucu kesayangan Nabi saw. Dia begitu menyerupai sang datuk saw. dalam kelembutan hati, kesabaran, kepribadian, dan kedermawanan. Nabi saw. telah mencurahkan cinta dan kasih sayang kepadanya di di hadapan kaum Muslimin. Banyak hadis yang telah diriwayatkan darinya mengenai kedudukan dan ketinggian kedudukan sang cucunda; Imam Hasan as. ini, antara lain:

* Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Nabi pernah menyambut Hasan dan memeluknya seraya berkata, ‘Ya Allah, ini adalah anakku, sungguh aku mencintainya dan mencintai orang yang mencintainya.”[1]
* Menurut sebuah riwayat, Al-Barâ’ bin ‘Âzib pernah berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah saw., sedang Hasan berada di atas pun-daknya sambil berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah orang yang mencintainya.’”[2]
* Diriwayatkan bahwa Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. datang sambil memanggul Hasan di pundaknya. Seorang laki-laki yang menjumpainya berkata, ‘Hai anak, kamu telah menunggangi tung-gangan yang paling baik.’ Rasulullah pun menimpali, ‘Dan sebaik-baiknya penunggang adalah dia (Hasan).’”[3]
* Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin melihat peng-hulu pemuda ahli surga, maka lihatlah Hasan.”[4]
* Rasulullah saw. bersabda: “Hasan adalah buah hatiku di dunia ini.”[5]
* Menurut sebuah riwayat, Anas bin Malik pernah berkata: “Hasan datang menemui Rasulullah saw. Aku menahannya. Lantas ia ber-kata, ‘Celaka engkau hai Anas! lepaskan anak dan buah hatiku itu. Barang siapa yang menyakitinya, dia telah menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku, ia telah menyakiti Allah.’”[6]
* Ketika Rasulullah saw. sedang mengerjakan salah satu salat Magh-rib atau Isya’, ia memperpanjang sujud. Seusai salam, orang-orang bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Ia menjawab: “Ini (Hasan) adalah anakku. Ia menaikiku dan aku tidak ingin mengusiknya.”[7]
* Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abdurahman bin Zubair ber-kata: “Di antara keluarga Nabi saw. yang paling mirip dengannya dan yang paling dicintai adalah Hasan. Aku melihat Rasulullah saw. sujud dan Hasan menaiki punggungnya. Ia tidak mau menurunkan-nya sampai ia (Hasan) sendiri yang turun. Dan aku melihat Rasulul-lah saw. sedang rukuk lalu merenggangkan jarak kedua kakinya sehingga Hasan dapat keluar dari arah lain.”[8]

Banyak sekali hadis seperti itu yang telah disabdakan oleh Nabi saw. tentang keutamaan cucu kesayangan dan buah hatinya itu. Para perawi menukil sekelompok hadis lain yang menjelaskan keutamaannya, keu-tamaan saudaranya; Imam Husain as. penghulu para syahid, dan keuta-maan Ahlul Bait as. Dan Imam Hasan termasuk salah seorang dari mereka. Hal itu telah kami jelaskan dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.
Masa Pertumbuhan

Nabi saw. mengasuh dan memberikan teladan yang baik kepada Imam Hasan as. Ia mencurahkan seluruh perhatian kepada cucunya yang satu ini. Ayahnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. sebagai pendidik terbaik dalam Islam juga telah mendidiknya dengan baik. Ia telah mena-namkan suri teladan yang mulia dan karakter yang agung di dalam jiwa-nya sehingga Hasan menjadi manifestasi yang sempurna dari seluruh karakter tersebut. Hasan juga dididik oleh penghulu semesta alam, Sayyidah Fatimah Az-Zahrâ’ as. Sang ibu telah menanamkan keimanan yang murni dan kecintaan yang dalam kepada Allah swt.

Imam Hasan as. tumbuh di dalam rumah kenabian, curahan wahyu, dan pusat kendali imâmah. Oleh karena itu, ia pantas menjadi teladan terbaik untuk pendidikan Islam dalam tingkah laku dan kepribadiannya yang agung.
Teladan Yang Agung

Dalam diri Imam Hasan as., tercermin sifat yang luhur dan teladan yang agung, terjelma karakteristik sang kakek dan ayahnya yang telah berhasil menegakkan simbol-simbol kesadaran dan kemuliaan di muka bumi ini.

Imam Hasan as. telah mencapai puncak kemuliaan, kehormatan, pandangan yang dalam, pemikiran yang tinggi, kewarakan, kesabaran yang luas, dan budi pekerti yang luhur. Semua itu adalah butir-butir mu-tiara kemuliaannya.
Imâmah

Sifat utama Imam Hasan as. yang paling menonjol adalah imâmah (kepe-mimpinan), karena ia memiliki keutamaan dan potensi yang tidak dimiliki kecuali oleh orang yang telah dipilih oleh Allah swt. di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah swt. telah menganugerahkan hal itu kepadanya. Nabi saw. pernah menegaskan kepemimpinannya dan saudaranya; Imam Husain as. seraya bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin, baik ketika mereka berkuasa maupun ketika diam.”

Hendaknya kita merenung sejenak untuk memikirkan arti imâmah dan seluruh elemen yang melapisinya. Semua itu dapat mengungkapkan betapa kedudukan dan keagungan Imam Hasan as.
a. Arti Imâmah

Menurut persepsi para teolog, imâmah didefinisikan sebagai kepemim-pinan universal seseorang menyangkut urusan agama dan dunia. Menurut definisi ini, imam adalah pemimpin universal yang wajib ditaati. Ia memi-liki kekuasaan mutlak atas umat manusia dalam semua urusan agama dan dunia.
b. Perlu Kepada Imâmah

Kepemimpinan adalah salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan umat manusia. Dan kebutuhan ini tidak dapat diabaikan dalam kondisi apapun. Dengan imâmah, tatanan dunia dan agama yang bengkok dapat diluruskan. Dengan imâmah, keadilan yang telah dicanangkan oleh Allah akan terealisai di muka bumi ini, stabilitas umum dan ketentraman di tengah umat manusia akan terwujud, berbagai kesulitan dan bencana akan dapat diatasi, dan kezaliman orang yang kuat atas orang yang lemah dapat dicegah.

Faktor paling urgen yang menuntut kehadiran seorang imam adalah menuntun umat manusia kepada penghambaan pada Allah swt., menye-barkan hukum-hukum dan ajaran-Nya, dan menanamkan roh iman dan takwa di dalam diri masyarakat agar mereka dapat menepis kejahatan dan merangkul kebaikan. Seluruh umat manusia wajib mengikutinya dan menjalankan perintahnya agar ia dapat menegakkan pondasi kehidupan mereka dan memberikan petunjuk kepada jalan yang benar.
c. Tugas-Tugas Seorang Imam

Tugas-tugas seorang pemimpin kaum Muslimin adalah sebagai berikut:

* Menjaga agama Islam dari orang-orang yang hendak merongrong nilai-nilai akhlak.
* Menjalankan hukum, menyelesaikan pertikaian di tengah masyara-kat, dan membela orang yang teraniaya.
* Melindungi negara Islam dari serangan musuh, baik berupa sera-ngan militer maupun pemikiran.
* Mengeksekusi sanksi dan hukuman atas seluruh tindak kejahatan yang menyebabkan umat menjadi sengsara.
* Membentengi daerah-daerah perbatasan negara Islam.
* Berjihad.
* Mengumpulkan dan menyalurkan harta negara, seperti zakat, pajak, dan lain sebagainya, sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
* Merekrut orang-orang yang jujur sebagai aparatur negara dan tidak mengangkat seorang pegawai hanya karena ia mencintai atau meng-utamakannya.
* Mengawasi urusan rakyat secara langsung dan tidak menyerahkan-nya kepada orang lain, karena itu merupakan hak rakyat atasnya.[9]
* Mengikis pengangguran, meratakan kesejahteraan sosial sehingga dapat dinikmati oleh lapisan masyarakat, dan mengangkat mereka dari garis kemiskinan.

Ini semua adalah sebagian tugas yang wajib dijalankan oleh seorang imam untuk umatnya. Topik ini telah kami paparkan dalam buku, Ni-zhâm Al-Hukm wa Al-Idârah fi Al-Islam.
d. Karakteristik Imam

Seorang imam harus memiliki syarat-syarat berikut ini:
# Adil dengan seluruh syaratnya; yakni menghindari dosa-dosa besar dan tidak melakukan dosa-dosa kecil secara terus menerus.
# Memiliki pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh bidang dan mengetahui sebab-sebab turun dan hukum Al-Qur’an.
# Indera yang sehat, seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, agar ia dapat melakukan sesuatu yang ia ketahui secara langsung. Begitu pula disyaratkan supaya anggota badannya yang lain sehat.

* Memiliki wawasan yang luas untuk mengatur rakyat dan kemaslaha-tan umum.
* Berani, tegar, mampu menjaga negara Islam, dan berjuang melawan musuh.
* Seorang imam harus berasal dari keturunan Quraisy.
Syarat-syarat dan karakteristik di atas telah dijelaskan oleh Al-Mâ-wardî dan Ibn Khaldûn.[10]
* ‘Ishmah (keterjagaan dari dosa). Menurut para ahli teologi, definisi ‘ishmah adalah anugerah Ilahi (luthf) yang Dia berikan kepada hamba pilihan. Dengan itu, ia tercegah dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik dosa yang dilakukan dengan sengaja maupun lupa.

Syi‘ah sepakat bahwa seorang imam harus memiliki karakter ‘ishmah. Dalil mereka adalah hadis Tsaqalain. Dalam hadis ini, Nabi saw. telah mendam-pingkan Al-Qur’an dengan ‘Itrah. Sebagaimana Al-Qur’an terjaga dari kesalahan dan kekeliruan, begitu pula ihwal ‘Itrah yang suci. Jika tidak demikian, maka pendampingan dan penyamaan antara kedua pusaka itu tidaklah berarti sebagaimana penjelasan yang sudah dipaparkan.

Seluruh karakter itu tidak dapat terpenuhi kecuali pada diri para imam Ahlul Bait as. sebagai pengayom dan pemelihara Islam serta penuntun jalan kepada keridhaan dan ketaatan kepada Allah swt.

Sejarah dan perilaku para imam Ahlul Bait as. sendiri membuktikan bahwa mereka terjaga dari setiap kesalahan dan penyimpangan. Berbagai peristiwa telah membuktikan realita ini. Lebih dari itu, seluruh peristiwa itu juga menegaskan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi agung yang tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Hal itu lantaran mereka memiliki kemuliaan yang agung, ketakwaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap agama.
e. Penentuan Imam

Syi‘ah percaya bahwa penentuan seorang imam bukan di tangan umat manusia, tidak pula di tangan Ahl Al-Hall wa Al-‘Aqd (badan penentu kemaslahatan dan kesepakatan bersama). Konsep pemilihan untuk meng-angkat seorang imam tidak dapat dibenarkan. Mustahil kita dapat memi-lihnya. Imâmah tak ubahnya dengan kenabian. Sebagaimana kenabian tidak dapat ditentukan oleh umat manusia, demikian pula halnya imâmah, lantaran ‘ishmah sebagai syarat utama dalam imâmah tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah swt. yang mengetahui rahasia setiap jiwa insan.

Hujah Keluarga Muhammad saw. dan Mahdî afs. umat ini telah menjelaskan konsep ini dengan sebuah argumentasi ketika ia berdialog dengan Sa‘d bin Abdillah. Sa‘d pernah bertanya kepadanya tentang sebab mengapa umat manusia tidak boleh memilih imam mereka sendiri. Imam Mahdî afs. menjawab: “Mereka memilih seorang penegak kebaikan ataukah keburukan?”

“Tentu memilih penegak kebaikan”, jawab Sa‘d singkat.

“Mungkinkah pemilihan mereka itu jatuh kepada seorang pelaku keburukan, lantaran tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui apa yang tersirat di dalam hati orang lain; kebaikan ataukah keburukan?”, tukas Imam Mahdî afs.

“Ya, bisa saja terjadi”, jawab Sa‘d pendek.

Imam Mahdî afs. melengkapi: “Itulah penyebabnya. Aku akan men-jelaskan kepadamu dengan dalil yang dapat dipercaya oleh akalmu. Jawablah pertanyaanku ini. Terdapat para rasul yang telah dipilih oleh Allah dan diturunkan kitab kepada mereka, lalu mereka diperkuat dengan wahyu dan ‘ishmah. Karena itu mereka menjadi penuntun umat dan lebih akurat dalam menentukan pilihan, seperti Mûsâ dan Isa. Sekarang dengan kesempurnaan akal dan ilmu mereka berdua, apakah mungkin pilihan mereka jatuh pada seorang munafik, sementara mereka meyakini bahwa dia adalah seorang mukmin?”

“Jelas tidak mungkin”, jawab Sa‘d.

Imam Mahdî afs. menimpali: “Lihatlah Mûsâ. Ia adalah Kalîmullâh. Dengan akalnya yang tinggi, ilmunya yang sempurna, dan wahyu pun turun kepadanya, ia telah memilih orang-orang terkemuka di antara kaumnya dan para pembesar bala tentaranya untuk menjumpai Tuhannya sebanyak 70 orang. Keimanan dan keikhlasan para pembesar pilihan itu tidak diragukan lagi. Tetapi ternyata pilihannya itu jatuh pada orang-orang munafik. Allah swt. berfirman:

‘Dan Mûsâ memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.’[11]

Dalam ayat lain Allah swt. berfirman:

‘Mereka berkata, ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir karena kezaliman mereka.’[12]

“Jika kita melihat bahwa pilihan orang yang telah dipilih Allah swt. untuk tugas kenabian ternyata jatuh pada orang yang korup, bukan pada orang yang baik, tetapi ia menduga bahwa orang itu adalah orang baik, maka kita tahu bahwa pemilihan itu harus berada di tangan Dzat Yang Maha mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada dan jiwa.”[13]

Sesungguhnya kemampuan manusia tidak mampu untuk menge-tahui kemaslahatan yang dapat membawa umat kepada kebahagiaan. Oleh karena itu, pemilihan imam itu tidak mungkin berada di tangan manusia, tetapi di tangan Allah yang mengetahui segala rahasia.

Inilah gambaran global mengenai imâmah. Untuk lebih detailnya, Anda dapat membaca buku-buku teologi.
Keluhuran Akhlak

Imam Hasan as. mewarisi kakeknya yang memiliki keunggulan di atas seluruh nabi dengan ketinggian akhlaknya. Para perawi hadis banyak meriwayatkan berbagai macam keutamaan akhlaknya. Di antaranya kisah berikut ini:

* Pada suatu hari, seseorang datang dari Syam dan melewati Imam Hasan as. Orang itu mencela dan menghina Imam Hasan as. Imam diam dan tidak membalasnya. Seusai orang itu melampiaskan celaannya, Imam as. mendatanginya dengan santun dan senyum yang lebar. Imam as. berkata kepadanya: “Hai Syaikh, aku yakin Anda orang asing di sini. Jika Anda perlu sesuatu dari kami, kami akan penuhi. Jika Anda perlu petunjuk, kami akan beri petunjuk. Jika Anda meminta untuk memikul suatu barang, kami akan pikul. Jika Anda lapar, kami beri makan. Jika Anda perlu suatu hajat, kami akan penuhi. Jika Anda terusir, kami siap melindungi.”

Imam Hasan bersikap lembut kepada orang Syam itu sehingga membuatnya tercengang. Dia tidak mampu menjawab sepatah kata pun dan bingung bagaimana harus meminta maaf kepada Imam as. untuk memaklumi kesalahannya. Akhirnya dia berkata: “Allah lebih mengetahui di manakah Dia meletakkan risalah-Nya.”[14]

* Pada suatu ketika, Imam Hasan as. duduk di suatu tempat. Ketika ia ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seorang fakir datang kepadanya. Imam as. menyambutnya dengan lemah lembut sembari berkata: “Kamu datang ketika kami hendak berdiri. Apakah kamu izinkan aku meninggalkan tempat ini?”

Lelaki fakir itu merasa kagum dengan ketinggian akhlak Imam Hasan as. Ia pun memperkenankan Imam as. untuk meninggalkan tempat tersebut.[15]
* Ketika Imam Hasan as. melewati sekelompok orang-orang fakir yang telah meletakkan potongan-potongan kecil roti di atas tanah lantas melahapnya. Mereka mengajak Imam as. untuk duduk makan bersama. Imam pun duduk di tengah-tengah mereka dan makan bersama. Imam as. berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tidak me-nyukai orang-orang sombong.” Kemudian Imam meminta mereka untuk memenuhi undangannya. Tak ayal lagi, mereka pun bergegas pergi bersamanya. Ia memberi makan dan pakaian kepada mereka sampai mereka puas.[16]

Kesabaran yang Luas

Salah satu karakter Imam Hasan as. yang menonjol adalah kesabarannya yang luas. Ia senantiasa membalas setiap orang yang berbuat buruk dan dengki kepadanya dengan kebaikan. Para ahli sejarah telah meriwayatkan banyak kisah mengenai kesabaran Imam as. ini. Di antaranya adalah kisah berikut ini:

* Suatu hari Imam Hasan as. ia melihat kaki kambing miliknya patah. Ia bertanya kepada budaknya: “Siapakah yang melakukan hal itu?” “Saya”, jawab budak itu pendek. “Mengapa kamu lakukan itu?”, tanya Imam as. “Agar Anda merasa sedih”, jawab budak itu. Imam tersenyum seraya berkata: “Aku akan membahagiakanmu.” Selekas itu, Imam as. memberi hadiah kepadanya lalu membebaskannya.[17]
* Seorang musuh bebuyutan Imam Hasan as. adalah Marwân bin Hakam. Marwân telah mengakui luasnya kesabaran Imam Hasan. Marwân menegaskan pengakuannya ketika Imam as. wafat. Saat itu, Marwân segera menepuk jenazahnya. Sang adik, Imam Husain as., terkejut dengan sikap Warwân tersebut seraya bertanya: “Sekarang kau tepuk jenazahnya, padahal kemarin kau membuatnya murka?” Marwân menjawab: “Kulakukan ini kepada orang yang kesabaran-nya laksana gunung.”[18]

Imam Hasan as. adalah seseorang yang berkesabaran tinggi, berakhlak luhur, dan berbudi pekerti agung. Ia dapat menarik hati orang lain de-ngan sifat-sifat mulia seperti ini.

Kedermawanan

Imam Hasan as. adalah orang yang paling murah hati dan paling banyak berbuat baik kepada fakir miskin. Ia tidak pernah menolak pengemis. Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda tidak pernah menolak pengemis?”

Imam as. menjawab: “Aku mengemis kepada Allah dan mencintai-Nya. Aku malu menjadi pengemis kepada Allah sementara aku menolak seorang pengemis. Sesungguhnya Allah senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepadaku. Dan aku berusaha untuk senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut bila kuputus kebiasaan ini Allah akan memutuskan kebiasaan-Nya.” Lalu Imam as. menyenandungkan syair:

Apabila datang kepadaku seorang pengemis, kusambut dia dengan ucapan: “Selamat datang, wahai yang karunianya segera dianugerah-kan kepadaku dengan pasti.”

Dan karunianya adalah karunia bagi setiap pengutama, sebaik-baik hari bagi seseorang adalah ketika ia diminta.[19]

Para utusan orang-orang sengsara dan fakir miskin senantiasa datang berbaris di depan pintu rumah Imam Hasan as. Dengan tangan terbuka dan penuh kasih, Imam memberi santunan kepada mereka, dan mem-perbanyak santunannya.

Para ahli sejarah telah menulis berbagai kisah mengenai kederma-wanan Imam Hasan as. sebagai berikut:

* Seorang Arab Baduwi datang kepada Imam Hasan as. untuk meminta sesuatu. Imam as. berkata: “Berikanlah kepadanya apa yang ada di dalam lemari itu!” Ketika itu, terdapat 10.000 dirham di dalam lemari tersebut. Orang Baduwi berkata: “Bolehkah aku mengutarakan hajatku dan menebarkan pujianku?”

Imam Hasan as. menjawabnya dengan bait-bait puisi:

Kamilah pemilik ladang yang subur, harapan dan cita datang tuk menggembala di sana.

Kamilah pemilik jiwa derma sebelum kau pinta, menjaga kehor-matan orang yang meminta.

Sekiranya laut tahu keutamaan orang yang meminta pada kami, pasti ia kan limpahkan karunianya karena malu.[20]
* Suatu hari, Imam Hasan as. terhenti melihat seorang budak hitam legam yang sedang menggenggam sepotong roti. Satu suapan ia makan dan satu suapan lainnya ia berikan kepada anjing. Imam as. bertanya kepadanya: “Mengapa kamu berbuat seperti itu?” “Aku malu memakannya bila aku tidak memberinya,” demikian budak itu menjawab.

Imam Hasan as. melihat sifat luhur pada diri budak itu. Karena itu ia ingin membalas perbuatan baiknya itu dengan kebaikan pula demi menebarkan keutamaan di tengah-tengah masyarakat. Imam as. berkata kepadanya: “Jangan beranjak dari tempat dudukmu.”

Setelah berkata begitu, Imam Hasan as. pergi dan membeli budak itu dari majikannya. Lebih dari itu, ia juga membeli kebun yang di sana budak itu duduk. Kemudian Imam as. membebaskan budak tersebut dan memberikan kebun itu kepadanya.[21]

1. Suatu hari, Imam Hasan as. melewati sebuah gang kota Madinah. Tiba-tiba ia mendengar seorang lelaki tengah memohon kepada Allah agar diberikan uang 10.000 dirham. Imam segera pulang ke rumahnya dan mengirim uang itu kepadanya.[22]

Inilah sebagian contoh dari kedermawanan Imam Hasan as. Kami telah membawakan berbagai contoh dan kisah kedermawanannya dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1.
Kezuhudan

Buah hati dan cucu Rasulullah saw. yang pertama ini memiliki kezuhudan dalam semua sisi kehidupan. Ia memfokuskan diri kepada Allah swt. dengan segenap jiwa raga dan merasa cukup dengan harta dunia yang sedikit. Ia pernah berkata:

Secuil roti kering dapat mengenyangkan perutku, dan seteguk air putih dapat menghilangkan dahagaku.

Sehelai baju dapat menutupi badanku kala aku hidup, dan kain kafan pun cukup bagiku bila aku mati.

Imam Hasan as. mengukir dua bait syair pada cincinnya yang melukiskan dirinya sebagai orang yang zuhud. Dua bait itu adalah:

Hidangkanlah takwa untuk dirimu sebisamu, sungguh kematian akan datang padamu, hai pemuda.

Di pagi hari engkau bergembira seakan tak melihat para kekasih hatimu hancur luluh di dalam kubur dan hancur.[23]
Adalah cucu kesayangan Nabi saw. Dia begitu menyerupai sang datuk saw. dalam kelembutan hati, kesabaran, kepribadian, dan kedermawanan. Nabi saw. telah mencurahkan cinta dan kasih sayang kepadanya di di hadapan kaum Muslimin. Banyak hadis yang telah diriwayatkan darinya mengenai kedudukan dan ketinggian kedudukan sang cucunda; Imam Hasan as. ini, antara lain:

* Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Nabi pernah menyambut Hasan dan memeluknya seraya berkata, ‘Ya Allah, ini adalah anakku, sungguh aku mencintainya dan mencintai orang yang mencintainya.”[1]
* Menurut sebuah riwayat, Al-Barâ’ bin ‘Âzib pernah berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah saw., sedang Hasan berada di atas pun-daknya sambil berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah orang yang mencintainya.’”[2]
* Diriwayatkan bahwa Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. datang sambil memanggul Hasan di pundaknya. Seorang laki-laki yang menjumpainya berkata, ‘Hai anak, kamu telah menunggangi tung-gangan yang paling baik.’ Rasulullah pun menimpali, ‘Dan sebaik-baiknya penunggang adalah dia (Hasan).’”[3]
* Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin melihat peng-hulu pemuda ahli surga, maka lihatlah Hasan.”[4]
* Rasulullah saw. bersabda: “Hasan adalah buah hatiku di dunia ini.”[5]
* Menurut sebuah riwayat, Anas bin Malik pernah berkata: “Hasan datang menemui Rasulullah saw. Aku menahannya. Lantas ia ber-kata, ‘Celaka engkau hai Anas! lepaskan anak dan buah hatiku itu. Barang siapa yang menyakitinya, dia telah menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku, ia telah menyakiti Allah.’”[6]
* Ketika Rasulullah saw. sedang mengerjakan salah satu salat Magh-rib atau Isya’, ia memperpanjang sujud. Seusai salam, orang-orang bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Ia menjawab: “Ini (Hasan) adalah anakku. Ia menaikiku dan aku tidak ingin mengusiknya.”[7]
* Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abdurahman bin Zubair ber-kata: “Di antara keluarga Nabi saw. yang paling mirip dengannya dan yang paling dicintai adalah Hasan. Aku melihat Rasulullah saw. sujud dan Hasan menaiki punggungnya. Ia tidak mau menurunkan-nya sampai ia (Hasan) sendiri yang turun. Dan aku melihat Rasulul-lah saw. sedang rukuk lalu merenggangkan jarak kedua kakinya sehingga Hasan dapat keluar dari arah lain.”[8]

Banyak sekali hadis seperti itu yang telah disabdakan oleh Nabi saw. tentang keutamaan cucu kesayangan dan buah hatinya itu. Para perawi menukil sekelompok hadis lain yang menjelaskan keutamaannya, keu-tamaan saudaranya; Imam Husain as. penghulu para syahid, dan keuta-maan Ahlul Bait as. Dan Imam Hasan termasuk salah seorang dari mereka. Hal itu telah kami jelaskan dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.
Masa Pertumbuhan

Nabi saw. mengasuh dan memberikan teladan yang baik kepada Imam Hasan as. Ia mencurahkan seluruh perhatian kepada cucunya yang satu ini. Ayahnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. sebagai pendidik terbaik dalam Islam juga telah mendidiknya dengan baik. Ia telah mena-namkan suri teladan yang mulia dan karakter yang agung di dalam jiwa-nya sehingga Hasan menjadi manifestasi yang sempurna dari seluruh karakter tersebut. Hasan juga dididik oleh penghulu semesta alam, Sayyidah Fatimah Az-Zahrâ’ as. Sang ibu telah menanamkan keimanan yang murni dan kecintaan yang dalam kepada Allah swt.

Imam Hasan as. tumbuh di dalam rumah kenabian, curahan wahyu, dan pusat kendali imâmah. Oleh karena itu, ia pantas menjadi teladan terbaik untuk pendidikan Islam dalam tingkah laku dan kepribadiannya yang agung.
Teladan Yang Agung

Dalam diri Imam Hasan as., tercermin sifat yang luhur dan teladan yang agung, terjelma karakteristik sang kakek dan ayahnya yang telah berhasil menegakkan simbol-simbol kesadaran dan kemuliaan di muka bumi ini.

Imam Hasan as. telah mencapai puncak kemuliaan, kehormatan, pandangan yang dalam, pemikiran yang tinggi, kewarakan, kesabaran yang luas, dan budi pekerti yang luhur. Semua itu adalah butir-butir mu-tiara kemuliaannya.
Imâmah

Sifat utama Imam Hasan as. yang paling menonjol adalah imâmah (kepe-mimpinan), karena ia memiliki keutamaan dan potensi yang tidak dimiliki kecuali oleh orang yang telah dipilih oleh Allah swt. di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah swt. telah menganugerahkan hal itu kepadanya. Nabi saw. pernah menegaskan kepemimpinannya dan saudaranya; Imam Husain as. seraya bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin, baik ketika mereka berkuasa maupun ketika diam.”

Hendaknya kita merenung sejenak untuk memikirkan arti imâmah dan seluruh elemen yang melapisinya. Semua itu dapat mengungkapkan betapa kedudukan dan keagungan Imam Hasan as.
a. Arti Imâmah

Menurut persepsi para teolog, imâmah didefinisikan sebagai kepemim-pinan universal seseorang menyangkut urusan agama dan dunia. Menurut definisi ini, imam adalah pemimpin universal yang wajib ditaati. Ia memi-liki kekuasaan mutlak atas umat manusia dalam semua urusan agama dan dunia.
b. Perlu Kepada Imâmah

Kepemimpinan adalah salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan umat manusia. Dan kebutuhan ini tidak dapat diabaikan dalam kondisi apapun. Dengan imâmah, tatanan dunia dan agama yang bengkok dapat diluruskan. Dengan imâmah, keadilan yang telah dicanangkan oleh Allah akan terealisai di muka bumi ini, stabilitas umum dan ketentraman di tengah umat manusia akan terwujud, berbagai kesulitan dan bencana akan dapat diatasi, dan kezaliman orang yang kuat atas orang yang lemah dapat dicegah.

Faktor paling urgen yang menuntut kehadiran seorang imam adalah menuntun umat manusia kepada penghambaan pada Allah swt., menye-barkan hukum-hukum dan ajaran-Nya, dan menanamkan roh iman dan takwa di dalam diri masyarakat agar mereka dapat menepis kejahatan dan merangkul kebaikan. Seluruh umat manusia wajib mengikutinya dan menjalankan perintahnya agar ia dapat menegakkan pondasi kehidupan mereka dan memberikan petunjuk kepada jalan yang benar.
c. Tugas-Tugas Seorang Imam

Tugas-tugas seorang pemimpin kaum Muslimin adalah sebagai berikut:

* Menjaga agama Islam dari orang-orang yang hendak merongrong nilai-nilai akhlak.
* Menjalankan hukum, menyelesaikan pertikaian di tengah masyara-kat, dan membela orang yang teraniaya.
* Melindungi negara Islam dari serangan musuh, baik berupa sera-ngan militer maupun pemikiran.
* Mengeksekusi sanksi dan hukuman atas seluruh tindak kejahatan yang menyebabkan umat menjadi sengsara.
* Membentengi daerah-daerah perbatasan negara Islam.
* Berjihad.
* Mengumpulkan dan menyalurkan harta negara, seperti zakat, pajak, dan lain sebagainya, sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
* Merekrut orang-orang yang jujur sebagai aparatur negara dan tidak mengangkat seorang pegawai hanya karena ia mencintai atau meng-utamakannya.
* Mengawasi urusan rakyat secara langsung dan tidak menyerahkan-nya kepada orang lain, karena itu merupakan hak rakyat atasnya.[9]
* Mengikis pengangguran, meratakan kesejahteraan sosial sehingga dapat dinikmati oleh lapisan masyarakat, dan mengangkat mereka dari garis kemiskinan.

Ini semua adalah sebagian tugas yang wajib dijalankan oleh seorang imam untuk umatnya. Topik ini telah kami paparkan dalam buku, Ni-zhâm Al-Hukm wa Al-Idârah fi Al-Islam.
d. Karakteristik Imam

Seorang imam harus memiliki syarat-syarat berikut ini:
# Adil dengan seluruh syaratnya; yakni menghindari dosa-dosa besar dan tidak melakukan dosa-dosa kecil secara terus menerus.
# Memiliki pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh bidang dan mengetahui sebab-sebab turun dan hukum Al-Qur’an.
# Indera yang sehat, seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, agar ia dapat melakukan sesuatu yang ia ketahui secara langsung. Begitu pula disyaratkan supaya anggota badannya yang lain sehat.

* Memiliki wawasan yang luas untuk mengatur rakyat dan kemaslaha-tan umum.
* Berani, tegar, mampu menjaga negara Islam, dan berjuang melawan musuh.
* Seorang imam harus berasal dari keturunan Quraisy.
Syarat-syarat dan karakteristik di atas telah dijelaskan oleh Al-Mâ-wardî dan Ibn Khaldûn.[10]
* ‘Ishmah (keterjagaan dari dosa). Menurut para ahli teologi, definisi ‘ishmah adalah anugerah Ilahi (luthf) yang Dia berikan kepada hamba pilihan. Dengan itu, ia tercegah dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik dosa yang dilakukan dengan sengaja maupun lupa.

Syi‘ah sepakat bahwa seorang imam harus memiliki karakter ‘ishmah. Dalil mereka adalah hadis Tsaqalain. Dalam hadis ini, Nabi saw. telah mendam-pingkan Al-Qur’an dengan ‘Itrah. Sebagaimana Al-Qur’an terjaga dari kesalahan dan kekeliruan, begitu pula ihwal ‘Itrah yang suci. Jika tidak demikian, maka pendampingan dan penyamaan antara kedua pusaka itu tidaklah berarti sebagaimana penjelasan yang sudah dipaparkan.

Seluruh karakter itu tidak dapat terpenuhi kecuali pada diri para imam Ahlul Bait as. sebagai pengayom dan pemelihara Islam serta penuntun jalan kepada keridhaan dan ketaatan kepada Allah swt.

Sejarah dan perilaku para imam Ahlul Bait as. sendiri membuktikan bahwa mereka terjaga dari setiap kesalahan dan penyimpangan. Berbagai peristiwa telah membuktikan realita ini. Lebih dari itu, seluruh peristiwa itu juga menegaskan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi agung yang tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Hal itu lantaran mereka memiliki kemuliaan yang agung, ketakwaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap agama.
e. Penentuan Imam

Syi‘ah percaya bahwa penentuan seorang imam bukan di tangan umat manusia, tidak pula di tangan Ahl Al-Hall wa Al-‘Aqd (badan penentu kemaslahatan dan kesepakatan bersama). Konsep pemilihan untuk meng-angkat seorang imam tidak dapat dibenarkan. Mustahil kita dapat memi-lihnya. Imâmah tak ubahnya dengan kenabian. Sebagaimana kenabian tidak dapat ditentukan oleh umat manusia, demikian pula halnya imâmah, lantaran ‘ishmah sebagai syarat utama dalam imâmah tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah swt. yang mengetahui rahasia setiap jiwa insan.

Hujah Keluarga Muhammad saw. dan Mahdî afs. umat ini telah menjelaskan konsep ini dengan sebuah argumentasi ketika ia berdialog dengan Sa‘d bin Abdillah. Sa‘d pernah bertanya kepadanya tentang sebab mengapa umat manusia tidak boleh memilih imam mereka sendiri. Imam Mahdî afs. menjawab: “Mereka memilih seorang penegak kebaikan ataukah keburukan?”

“Tentu memilih penegak kebaikan”, jawab Sa‘d singkat.

“Mungkinkah pemilihan mereka itu jatuh kepada seorang pelaku keburukan, lantaran tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui apa yang tersirat di dalam hati orang lain; kebaikan ataukah keburukan?”, tukas Imam Mahdî afs.

“Ya, bisa saja terjadi”, jawab Sa‘d pendek.

Imam Mahdî afs. melengkapi: “Itulah penyebabnya. Aku akan men-jelaskan kepadamu dengan dalil yang dapat dipercaya oleh akalmu. Jawablah pertanyaanku ini. Terdapat para rasul yang telah dipilih oleh Allah dan diturunkan kitab kepada mereka, lalu mereka diperkuat dengan wahyu dan ‘ishmah. Karena itu mereka menjadi penuntun umat dan lebih akurat dalam menentukan pilihan, seperti Mûsâ dan Isa. Sekarang dengan kesempurnaan akal dan ilmu mereka berdua, apakah mungkin pilihan mereka jatuh pada seorang munafik, sementara mereka meyakini bahwa dia adalah seorang mukmin?”

“Jelas tidak mungkin”, jawab Sa‘d.

Imam Mahdî afs. menimpali: “Lihatlah Mûsâ. Ia adalah Kalîmullâh. Dengan akalnya yang tinggi, ilmunya yang sempurna, dan wahyu pun turun kepadanya, ia telah memilih orang-orang terkemuka di antara kaumnya dan para pembesar bala tentaranya untuk menjumpai Tuhannya sebanyak 70 orang. Keimanan dan keikhlasan para pembesar pilihan itu tidak diragukan lagi. Tetapi ternyata pilihannya itu jatuh pada orang-orang munafik. Allah swt. berfirman:

‘Dan Mûsâ memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.’[11]

Dalam ayat lain Allah swt. berfirman:

‘Mereka berkata, ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir karena kezaliman mereka.’[12]

“Jika kita melihat bahwa pilihan orang yang telah dipilih Allah swt. untuk tugas kenabian ternyata jatuh pada orang yang korup, bukan pada orang yang baik, tetapi ia menduga bahwa orang itu adalah orang baik, maka kita tahu bahwa pemilihan itu harus berada di tangan Dzat Yang Maha mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada dan jiwa.”[13]

Sesungguhnya kemampuan manusia tidak mampu untuk menge-tahui kemaslahatan yang dapat membawa umat kepada kebahagiaan. Oleh karena itu, pemilihan imam itu tidak mungkin berada di tangan manusia, tetapi di tangan Allah yang mengetahui segala rahasia.

Inilah gambaran global mengenai imâmah. Untuk lebih detailnya, Anda dapat membaca buku-buku teologi.
Keluhuran Akhlak

Imam Hasan as. mewarisi kakeknya yang memiliki keunggulan di atas seluruh nabi dengan ketinggian akhlaknya. Para perawi hadis banyak meriwayatkan berbagai macam keutamaan akhlaknya. Di antaranya kisah berikut ini:

* Pada suatu hari, seseorang datang dari Syam dan melewati Imam Hasan as. Orang itu mencela dan menghina Imam Hasan as. Imam diam dan tidak membalasnya. Seusai orang itu melampiaskan celaannya, Imam as. mendatanginya dengan santun dan senyum yang lebar. Imam as. berkata kepadanya: “Hai Syaikh, aku yakin Anda orang asing di sini. Jika Anda perlu sesuatu dari kami, kami akan penuhi. Jika Anda perlu petunjuk, kami akan beri petunjuk. Jika Anda meminta untuk memikul suatu barang, kami akan pikul. Jika Anda lapar, kami beri makan. Jika Anda perlu suatu hajat, kami akan penuhi. Jika Anda terusir, kami siap melindungi.”

Imam Hasan bersikap lembut kepada orang Syam itu sehingga membuatnya tercengang. Dia tidak mampu menjawab sepatah kata pun dan bingung bagaimana harus meminta maaf kepada Imam as. untuk memaklumi kesalahannya. Akhirnya dia berkata: “Allah lebih mengetahui di manakah Dia meletakkan risalah-Nya.”[14]

* Pada suatu ketika, Imam Hasan as. duduk di suatu tempat. Ketika ia ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seorang fakir datang kepadanya. Imam as. menyambutnya dengan lemah lembut sembari berkata: “Kamu datang ketika kami hendak berdiri. Apakah kamu izinkan aku meninggalkan tempat ini?”

Lelaki fakir itu merasa kagum dengan ketinggian akhlak Imam Hasan as. Ia pun memperkenankan Imam as. untuk meninggalkan tempat tersebut.[15]
* Ketika Imam Hasan as. melewati sekelompok orang-orang fakir yang telah meletakkan potongan-potongan kecil roti di atas tanah lantas melahapnya. Mereka mengajak Imam as. untuk duduk makan bersama. Imam pun duduk di tengah-tengah mereka dan makan bersama. Imam as. berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tidak me-nyukai orang-orang sombong.” Kemudian Imam meminta mereka untuk memenuhi undangannya. Tak ayal lagi, mereka pun bergegas pergi bersamanya. Ia memberi makan dan pakaian kepada mereka sampai mereka puas.[16]

Kesabaran yang Luas

Salah satu karakter Imam Hasan as. yang menonjol adalah kesabarannya yang luas. Ia senantiasa membalas setiap orang yang berbuat buruk dan dengki kepadanya dengan kebaikan. Para ahli sejarah telah meriwayatkan banyak kisah mengenai kesabaran Imam as. ini. Di antaranya adalah kisah berikut ini:

* Suatu hari Imam Hasan as. ia melihat kaki kambing miliknya patah. Ia bertanya kepada budaknya: “Siapakah yang melakukan hal itu?” “Saya”, jawab budak itu pendek. “Mengapa kamu lakukan itu?”, tanya Imam as. “Agar Anda merasa sedih”, jawab budak itu. Imam tersenyum seraya berkata: “Aku akan membahagiakanmu.” Selekas itu, Imam as. memberi hadiah kepadanya lalu membebaskannya.[17]
* Seorang musuh bebuyutan Imam Hasan as. adalah Marwân bin Hakam. Marwân telah mengakui luasnya kesabaran Imam Hasan. Marwân menegaskan pengakuannya ketika Imam as. wafat. Saat itu, Marwân segera menepuk jenazahnya. Sang adik, Imam Husain as., terkejut dengan sikap Warwân tersebut seraya bertanya: “Sekarang kau tepuk jenazahnya, padahal kemarin kau membuatnya murka?” Marwân menjawab: “Kulakukan ini kepada orang yang kesabaran-nya laksana gunung.”[18]

Imam Hasan as. adalah seseorang yang berkesabaran tinggi, berakhlak luhur, dan berbudi pekerti agung. Ia dapat menarik hati orang lain de-ngan sifat-sifat mulia seperti ini.

Kedermawanan

Imam Hasan as. adalah orang yang paling murah hati dan paling banyak berbuat baik kepada fakir miskin. Ia tidak pernah menolak pengemis. Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda tidak pernah menolak pengemis?”

Imam as. menjawab: “Aku mengemis kepada Allah dan mencintai-Nya. Aku malu menjadi pengemis kepada Allah sementara aku menolak seorang pengemis. Sesungguhnya Allah senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepadaku. Dan aku berusaha untuk senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut bila kuputus kebiasaan ini Allah akan memutuskan kebiasaan-Nya.” Lalu Imam as. menyenandungkan syair:

Apabila datang kepadaku seorang pengemis, kusambut dia dengan ucapan: “Selamat datang, wahai yang karunianya segera dianugerah-kan kepadaku dengan pasti.”

Dan karunianya adalah karunia bagi setiap pengutama, sebaik-baik hari bagi seseorang adalah ketika ia diminta.[19]

Para utusan orang-orang sengsara dan fakir miskin senantiasa datang berbaris di depan pintu rumah Imam Hasan as. Dengan tangan terbuka dan penuh kasih, Imam memberi santunan kepada mereka, dan mem-perbanyak santunannya.

Para ahli sejarah telah menulis berbagai kisah mengenai kederma-wanan Imam Hasan as. sebagai berikut:

* Seorang Arab Baduwi datang kepada Imam Hasan as. untuk meminta sesuatu. Imam as. berkata: “Berikanlah kepadanya apa yang ada di dalam lemari itu!” Ketika itu, terdapat 10.000 dirham di dalam lemari tersebut. Orang Baduwi berkata: “Bolehkah aku mengutarakan hajatku dan menebarkan pujianku?”

Imam Hasan as. menjawabnya dengan bait-bait puisi:

Kamilah pemilik ladang yang subur, harapan dan cita datang tuk menggembala di sana.

Kamilah pemilik jiwa derma sebelum kau pinta, menjaga kehor-matan orang yang meminta.

Sekiranya laut tahu keutamaan orang yang meminta pada kami, pasti ia kan limpahkan karunianya karena malu.[20]
* Suatu hari, Imam Hasan as. terhenti melihat seorang budak hitam legam yang sedang menggenggam sepotong roti. Satu suapan ia makan dan satu suapan lainnya ia berikan kepada anjing. Imam as. bertanya kepadanya: “Mengapa kamu berbuat seperti itu?” “Aku malu memakannya bila aku tidak memberinya,” demikian budak itu menjawab.

Imam Hasan as. melihat sifat luhur pada diri budak itu. Karena itu ia ingin membalas perbuatan baiknya itu dengan kebaikan pula demi menebarkan keutamaan di tengah-tengah masyarakat. Imam as. berkata kepadanya: “Jangan beranjak dari tempat dudukmu.”

Setelah berkata begitu, Imam Hasan as. pergi dan membeli budak itu dari majikannya. Lebih dari itu, ia juga membeli kebun yang di sana budak itu duduk. Kemudian Imam as. membebaskan budak tersebut dan memberikan kebun itu kepadanya.[21]

1. Suatu hari, Imam Hasan as. melewati sebuah gang kota Madinah. Tiba-tiba ia mendengar seorang lelaki tengah memohon kepada Allah agar diberikan uang 10.000 dirham. Imam segera pulang ke rumahnya dan mengirim uang itu kepadanya.[22]

Inilah sebagian contoh dari kedermawanan Imam Hasan as. Kami telah membawakan berbagai contoh dan kisah kedermawanannya dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1.
Kezuhudan

Buah hati dan cucu Rasulullah saw. yang pertama ini memiliki kezuhudan dalam semua sisi kehidupan. Ia memfokuskan diri kepada Allah swt. dengan segenap jiwa raga dan merasa cukup dengan harta dunia yang sedikit. Ia pernah berkata:

Secuil roti kering dapat mengenyangkan perutku, dan seteguk air putih dapat menghilangkan dahagaku.

Sehelai baju dapat menutupi badanku kala aku hidup, dan kain kafan pun cukup bagiku bila aku mati.

Imam Hasan as. mengukir dua bait syair pada cincinnya yang melukiskan dirinya sebagai orang yang zuhud. Dua bait itu adalah:

Hidangkanlah takwa untuk dirimu sebisamu, sungguh kematian akan datang padamu, hai pemuda.

Di pagi hari engkau bergembira seakan tak melihat para kekasih hatimu hancur luluh di dalam kubur dan hancur.[23]
Muhammad bin Babaweih telah menulis sebuah kitab tentang kezu-hudan Imam Hasan as. dengan judul Zuhd Al-Imam Hasan as.[24] Para pe-nulis biografi juga sepakat bahwa Imam Hasan as. adalah figur manusia terzuhud pada masanya, sebagaimana ayah dan kakeknya yang mulia.
Pengetahuan

Imam Hasan as. adalah sumber ilmu pengetahuan dan hikmah dalam dunia Islam. Ketinggian ilmunya dan ilmu saudaranya, Imam Husain as., telah dijelaskan dalam banyak riwayat. Imam Hasan dan Imam Husain as. adalah penuang ilmu pengetahuan.[25] Imam Hasan as. senantiasa menjadi tempat rujukan kaum Muslimin dalam hukum. Para sahabat Rasulullah saw. datang berduyun-duyun untuk menimba ilmu darinya. Banyak saha-batnya yang meriwayatkan hadis dari Imam Hasan.[26]

Perlu kami ingatkan di sini bahwa Muhammad bin Ahmad ad-Dawlâbî (wafat 32 H.) pernah menulis sebuah musnad yang ia masukkan dalam kitab Adz-Dzurriyyah Ath-Thâhirah. Dalam kitab ini ia menghimpun riwayat-riwayat yang telah diriwayatkannya dari Imam Hasan as. dari kakeknya, Rasululah saw.[27]
Kata Mutiara

* Imam Hasan as. berkata: “Tinggallah di dunia ini dengan badanmu dan di akhirat dengan hatimu.”[28]
* Imam Hasan as. berkata: “Anggaplah apa yang kamu inginkan dari dunia ini tetapi kamu tidak memperolehnya, seakan-akan keinginan itu tidak pernah terbersit di hatimu.”[29]
* Imam Hasan as. berkata: “Yang lebih besar daripada musibah ialah akhlak yang buruk.”[30]
* Imam Hasan as. berpesan: “Jangan menjawab orang yang memulai pembicaraan tanpa salam!”[31]
* Imam Hasan as. berkata kepada seorang laki-laki yang telah sem-buh dari sakitnya: “Sesungguhnya Allah swt. telah mengingatmu, maka ingatlah Dia. Dan Dia telah memaafkanmu, maka bersyu-kurlah kepada-Nya!”[32]
* Imam Hasan as. berpesan: “Nikmat adalah sebuah ujian. Jika kamu bersyukur, nikmat itu laksana harta karun. Dan jika engkau tidak mensyukurinya, nikmat itu akan menjadi bencana.”[33]

Ceramah

Imam Hasan as. adalah seorang orator ulung yang mampu berceramah secara spontanitas dan pandai menyusun rangkaian kata yang indah. Berikut ini sebagian dari ceramahnya:

* Pernah Imam Ali as. menyuruh Imam Hasan as. untuk menyam-paikan ceramah di hadapan khalayak. Ia segera naik mimbar dan menyampaikan ceramah berikut ini:

Wahai manusia, pahamilah ketetapan Tuhan kalian. Sesungguhnya Allah swt. telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imrân di atas semesta alam ini. Mereka adalah keturunan dari seba-gian yang lain. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kamilah anak cucu Adam, keluarga Nuh, pilihan dari keluarga Ibrahim, keturunan Isma’il, dan keluarga Muhamamd saw. Di tengah-tengah kalian, kami bagaikan langit yang tinggi, bumi yang terhampar, matahari yang bersinar, selaksa pohon zaitun (tidak ke barat dan tidak ke timur) yang minyaknya diberkahi. Nabi adalah pokoknya, Ali adalah cabangnya, dan kami adalah buahnya. Barang siapa yang berpegang pada salah satu cabangnya, niscaya ia akan selamat. Dan barang siapa yang meninggalkannya, ia akan terjerumus ke dalam neraka ….”[34]

* Salah satu ceramah Imam Hasan as. yang sangat indah adalah cera-mah yang memaparkan masalah-masalah akhlak dan budi pekerti yang mulia:

Ketahuilah bahwa akal adalah benteng, kesabaran adalah pernik, menepati janji adalah kehormatan, ketergesa-gesaan adalah kebodohan, kebodohan itu adalah kelemahan, berteman dengan pemuja dunia adalah kehinaan, bergaul dengan orang-orang fasik adalah kebinasaan. Barang siapa yang meremehkan saudaranya, rusaklah harga dirinya. Tidak ada yang rusak kecuali orang-orang ragu. Sementara orang-orang yang mendapat petunjuk akan selamat, yaitu mereka yang sedikit pun tidak pernah memprotes Allah tentang ajal mereka tidak pula tentang rezeki mereka. Karena itu, kesucian dan rasa malu mereka sempurna. Mereka sabar sampai rezeki mereka datang sendiri. Mereka sama sekali tidak menjual agama dan kehormatan mereka sedikit pun dengan harta dunia. Mereka pun tidak mencari sedikit pun dari dunia itu dengan jalan bermaksiat kepada Allah. Termasuk kesempurnaan akal dan kehormatan seseorang adalah ia bersegera memenuhi hajat saudara-saudaranya sekalipun mereka tidak mengutarakannya. Akal adalah pemberian Allah yang paling baik untuk hamba-Nya. Karena dengan akal, ia akan selamat di dunia dari mara bahayanya dan akan selamat dari siksa akhirat.

Dikisahkan bahwa para sahabat pernah menceritakan indahnya ibadah seseorang di hadapan Rasulullah saw. Ia pun bersabda: “Lihatlah akalnya! Karena seorang hamba akan diberi pahala pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar akalnya. Budi luhur adalah tanda bahwa akalnya sehat …”[35]
Ibadah

Imam Hasan as. sosok figur yang paling abid pada masanya. Para perawi hadis berkata tentang hal ini: “Kami tidak pernah melihat Imam Hasan pada setiap waktu melainkan ia senantiasa berzikir kepada Allah swt.”[36]

Apabila disebutkan ihwal surga dan neraka, Imam Hasan as. tampak gemetar bagai disengat, kemudian ia memohon surga dan berlindung dari neraka. Apabila disebutkan ihwal kematian dan hal-hal yang mengiri-nginya seperti Kebangkitan dan Hari Mahsyar, ia menangis seperti orang yang takut dan bertobat.[37] Dan apabila disebutkan ihwal dibukanya buku amal di hadapan Allah, ia pingsan sejenak saking takutnya.[38]

Kisah-kisan ini melukiskan betapa ketaatan Imam Hasan as. begitu tingginya dan betapa ia takut kepada Allah swt.
Wudu dan Salat

Apabila Imam Hasan as. ingin berwudu, kondisi fisik dan batinnya beru-bah karena takut kepada Allah swt. sehingga wajahnya tampak pucat pasi dan persendiannya gemetar. Ia pernah ditanya tentang hal itu. “Sudah pasti persendian orang yang berdiri di hadapan Tuhan ‘Arsy merasa gemetar dan wajahnya pucat pasi,” demikian Imam as. menjawab.

Apabila usai berwudu dan hendak memasuki masjid, Imam Hasan as. berkata dengan suara keras: “Ya Tuhanku, kini tamu-Mu berada di ambang pintu-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Baik, telah datang orang yang berbuat buruk. Maka maafkanlah segala keburukan yang ada pada diri kami dengan keindahan anugerah yang ada di sisi-Mu, wahai Yang Maha Mulia!”[39]

Ketika Imam Hasan as. mulai mengerjakan salat, ia tampak takut dan gemetar sehingga seluruh persendian dan anggota tubuhnya bergetar.[40]

Manakala usai mengerjakan salat Subuh, Imam as. tidak berbicara sedikit pun kecuali zikir kepada Allah sampai matahari terbit.[41]
Ibadah Haji

Salah satu manifestasi ibadah dan ketaatan Imam Hasan as. kepada Allah swt. adalah ibadah haji ke Baitullah sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki, sementara unta-unta dituntun di hadapannya.[42]

Imam Hasan as. pernah ditanya mengapa ia sering pergi haji dengan berjalan kaki. Ia menjawab: “Aku merasa malu kepada Tuhanku jika mendatangi rumah-Nya tidak dengan berjalan kaki.”[43]
Sedekah

Imam Hasan as. menyedekahkan harta bendanya yang sangat berharga di jalan Allah demi mencapai ridha dan ketaatan kepada-Nya. Ia pernah menyedekahkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya sebanyak dua kali, bahkan sampai kali ketiga karena Allah, sehingga ia tidak memiliki cara lain untuk bersedekah kecuali dengan menyedekahkan satu sandal-nya dan menahan sandal yang lain untuk dirinya.[44]

Semua keutamaan di atas itu adalah sebagian contoh dari ketaatan Imam Hasan as. kepada Allah swt. Dan ibadahnya ini adalah sekelumit gambaran yang menyingkapkan ibadah dang kakek dan ayahnya, Sayyidul Muttaqîn wal Muwahhidîn.
Menghadapi Tuduhan

Imam Hasan as. dituduh banyak nikah. Menurut sebuah riwayat, ia telah menikah dengan tiga ratus orang wanita.[45] Semua itu hanyalah fitnah yang tidak berfakta. Tuduhan itu semata-mata rekayasa yang dibuat Manshûr Ad-Dawâniqî pada saat keturunan Imam Hasan as. mengadakan perlawanan terhadapnya; gerakan yang hampir saja menggoyahkan dan meruntuhkan dinasti kerajaannya. Manshûr telah berbuat dusta atas Imam Amirul Mukminin as. dan keturunannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.

Seandainya semua riwayat buatan itu benar, tentunya Imam Hasan as. mempunyai anak yang sangat banyak sesuai dengan bilangan istrinya itu. Namun kenyataannya, para ahli nasab berasumsi bahwa putra-putri Imam Hasan as. hanya berjumlah dua puluh dua orang. Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan jumlah wanita yang mereka duga telah dinikahi Imam as.

Selain itu, mereka juga menuduh Imam Hasan as. dengan banyaknya melakukan perceraian. Seandainya tuduhan itu benar, pasti ia telah men-cerai istrinya yang bernama Ja‘dah binti Asy‘ast. Kami telah membuk-tikan kepalsuan semua tuduhan itu dengan argumentasi yang gamblang dalam kitab kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.
Kekhalifahan

Ketika dunia Islam ditimpa musibah dan duka yang mendalam dengan syahadah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., sang pahlawan kea-dilan itu, Imam Hasan as. menduduki kursi kekhalifahan Islam dalam kondisi yang sangat kritis dan labil itu. Bala tentara Imam Hasan as. dikenal sebagai prajurit pembangkang. Mereka ingin hidup santai dan telah jenuh menghadapi peperangan. Sikap seperti itu pernah dilakukan oleh kaum Khawârij yang telah menjatuhkan hukum kafir dan murtad dari Islam ke atas Amirul Mukminin Ali as. Mereka itu bagaikan ulat-ulat dan serangga yang menggerogoti pasukan Imam Hasan as. dan menyeru untuk membelot dan keluar dari wilayah ketaatan dan kepemimpinannya.

Peristiwa yang paling menyakitkan dan menyedihkan Imam Hasan as. adalah pembelotan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh komandan pasukannya, yaitu ‘Ubaidillah bin Abbâs. ‘Ubaidillah adalah komandan pasukan bersenjata. Bersama rekan-rekannya telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum Muslimin. Mereka mengirim surat kepada Mu‘âwiyah dan menyatakan kesetiaan untuk menjalankan segala perintah. Bila Mu‘âwiyah menginginkan, mereka siap membunuh Imam Hasan as. atau menyerahkannya kepada Mu‘âwiyah sebagai tawanan.

‘Ubaidillah bin Abbâs, anak paman Imam Hasan as. itu, telah menerima suap dari Mu‘âwiyah. Pada suatu malam yang gelap gulita, ‘Ubaidillah menyelundup hendak menjumpai Mu‘âwiyah. Secara diam-diam, ia meninggalkan bala tentara Imam Hasan, padahal kondisi mental mereka tengah goncang akibat berbagai fitnah. ‘Ubaidillah telah mem-buka jalan pengkhianatan bagi orang-orang yang berjiwa lemah dan ber-iman rapuh, sehingga dengan mudah mereka membelot dan bergabung dengan pasukan tiran Mu‘âwiyah. Lantaran musibah itu, bumi menjadi sempit bagi Imam Hasan as. Ketika Imam tengah mengerjakan salat dan berdiri di hadapan Allah swt., seorang pembelot dari pasukannya menikam bagian pahanya.

Imam Hasan as. menghadapi berbagai ujian dan fitnah yang berat ini dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Pada saat itu, ia dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan yang tidak ada ketiganya, yaitu:

Pertama, mengadakan perlawanan terhadap Mu‘âwiyah dengan bala tentara yang sudah lemah dan tidak ada harapan untuk menang. Dengan perlawanan ini, Imam Hasan as. tentunya harus rela mengorbankan dirinya, seluruh Bani Hâsyim, dan para pengikut setianya yang selalu siap membela agama dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan yang jelas, apabila Imam as. diserahkan kepada Mu‘âwiyah sebagai tawanan, Mu‘âwiyah pasti akan membebaskannya. Dengan perlakuan semacam itu, Mu‘âwiyah dapat membumihanguskan Imam Hasan dan keluarganya seperti perlakuan Rasulullah saw. terhadap orang-orang yang telah ia bebaskan pada Hari Pembebasan kota Mekah. Dengan demikian, Bani Umaiyyah dapat memperoleh kemenangan gemilang. Sementara pengorbanan Imam Hasan as. di mata masyarakat umum menjadi sia-sia dan tidak berarti, sama sekali.

Kedua, berdamai dengan Mu‘âwiyah, walaupun hal itu bagaikan kotoran yang mengganjal di mata dan segumpal makanan yang tersendat di tenggorokan, dan membiarkan Mu‘âwiyah dengan segala kedurja-naannya, lalu menyingkap segala kedurjanaan itu di hadapan masyarakat Islam. Sebagai akibatnya, kejahatan Mu‘âwiyah terhadap Islam akan ter-ungkap, busana penutup aibnya akan tersingkap, dan kebusukan dan segala tipu dayanya akan terbukti.

Kenyataanya memang demikian. Semua itu terbukti dengan jelas dan tidak ada kesamaran sedikit pun. Setelah menandatangani perdamai-an, Mu‘âwiyah naik ke atas mimbar dan berpidato di hadapan masyarakat Irak. Dia menegaskan: “Hai penduduk Irak! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memerangi kalian agar kalian mengerjakan salat atau menunai-kan zakat, tidak juga agar kalian berpuasa atau menunaikan ibadah haji. Aku memerangi kalian hanya agar aku dapat berkuasa dan memerintah kalian. Allah telah menganugerahkan kekuasaan kepadaku, tetapi kalian tidak menyukainya. Ketahuilah sesungguhnya setiap kesepakatan yang telah kuberikan kepada Hasan bin Ali, kini aku letakkan di bawah kedua tapak kakiku ini.”

Perhatikan Mu‘âwiyah yang busuk ini!. Dia telah menyingkapkan kejahiliyahannya sendiri dan menelanjangi nilai-nilai Islam. Perdamaian dengan Imam Hasan as. tidak memiliki manfaat kecuali terungkapnya kejahiliyahan dan kebusukan hati Mu‘âwiyah; roh Islam dan hidayah tidak berbekas di dalam hatinya sama sekali. Mu‘âwiyah tak ubahnya dengan ayahnya, Abu Sufyân, musuh pertama Rasulullah saw., dan juga ibunya, Hindun yang telah merogoh hati penghulu para syahid, Hamzah, dan mencacahnya dengan keji dan kejam. Permusuhan terhadap Islam dan kedengkiannya kepada Rasulullah saw. telah dia warisi dari kedua orang tuanya itu.

Yang jelas, Imam Hasan as. telah memilih jalan damai yang meru-pakan ketentuan syariat. Sekiranya tidak demikian, tentu umat Islam telah mengalami berbagai petaka yang hanya diketahui oleh Allah swt.

Dalam perdamaian tersebut, Imam Hasan as. mengajukan kepada Mu‘âwiyah beberapa syarat yang telah berhasil menegaskan bahwa dia tidak berhak memegang kekuasaan syar‘î. Di antara syarat-syarat itu, hendaknya dia tidak menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin. Ini ber-arti dia bukan penguasa yang telah mendapatkan legitimasi syar‘î dan bukan pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Dia hanyalah pengu-asa yang zalim dan tiran. Syarat lainnya, dia tidak boleh melangkahi Al-Qur’an dan Sunah sedikit pun, baik dalam urusan politik maupun perilaku sehari-hari.

Seandainya Imam Hasan as. yakin pada keislaman Mu‘âwiyah, tentu ia tidak akan mengajukan syarat-syarat seperti itu. Imam as. juga mele-takkan syarat-syarat lainnya yang bertentangan dengan hawa nafsu Mu‘âwiyah. Nyatanya, Mu‘âwiyah tidak menepati satu pun dari syarat-syarat Imam Hasan itu. Ia telah menginjak-injak semuanya. Hal ini telah kami uraikan dalam kitab kami, Hayâh Al-Imam Hasan as.

Akhirnya, setelah peristiwa perdamaian tersebut, tampak bagaimana wajah politik Mu‘âwiyah yang dengan terang-terangan menentang Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw. Ia membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan orang-orang saleh seperti: Hujr bin ‘Adî, ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î, dan para sahabat yang lain secara zalim. Dia juga merusak kehormatan kaum muslimin, menawan kaum wanita, merampas harta benda, dan mengangkat orang-orang bejad sebagai aparat peme-rintahannya seperti: Ibn ‘Ash, Ibn Syu‘bah, Ibn Arthah, Ibn Hakam, Ibn Marjânah, dan Ibn Sumayyah. Orang terakhir ini telah dipisahkan oleh Mu‘âwiyah dari ayahnya yang sah, yaitu ‘Ubaid Ar-Rûmî, kemudian menisbahkan kepada ayahnya sendiri yang durjana, Abu Sufyân. Dia telah memberikan kekuasaan untuk memerintah penduduk Syi‘ah Irak kepada anak durjana ini. Dengan kekuasaannya itu, Ibn Sumayyah telah membebankan berbagai kesengsaraan kepada rakyat di sana, menyem-belih anak-anak mereka, mempermalukan kaum wanita mereka, memba-kar rumah-rumah mereka, dan merampas harta benda mereka …

Salah satu kejahatan dan kezaliman Mu‘âwiyah yang terbesar ialah usahanya membunuh cucu Rasulullah saw., Imam Hasan as. Dia telah menyusupkan racun untuk Imam Hasan as. melalui tangan istrinya yang bernama Ja‘dah bin Asy‘ats. Dia merayu Ja‘dah dan berjanji akan menikahkannya dengan Yazîd. Ja‘dah terkutuk itu membubuhkan racun sementara Imam Hasan as. sedang berpuasa. Racun itu merobek-robek usus Imam Hasan as. dengan cepat. Tidak lama setelah itu, rohnya yang suci segera kembali ke haribaan Tuhannya dengan membawa berbagai musibah, duka, dan kesedihan yang ditimpakan oleh Mu‘âwiyah. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn!

Mu‘âwiyah melengkapi kejahatan dengan mengangkat anaknya sen-diri, Yazîd, sebagai khalifah Muslimin. Anak ini telah merusak dan meng-hancurkan Islam dan umatnya. Tak ada kejahatan yang disisakannya. Di antara kejahatannya yang terbejat adalah tragedi Thuff di Mekah dan tragedi Harrah, serta berbagai petaka lainnya yang telah mengubah kehidupan Muslimin menjadi neraka Jahanam yang sulit dibayangkan.[]

[1]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/104; Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/176

[2]Shahîh Al-Bukhâri, bab Manâqib Al-Hasan wa Al-Husain, Jil. 3/1370; Shahih At-Tirmidzî, Jil. 2/207; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/34.

[3]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhariqah, hal. 82; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 2/35

[4]Al-Istî‘âb, Jil. 2/369.

[5]Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/35; Fadhâ’il Al-Ashhâb, hal. 165.

[6]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/222.

[7]Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/33.

[8]Al-Ishâbah, Jil. 2/12.

[9]As-Siyâsah Asy-Syar‘iyah, hal. 7.

[10]Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah, hal. 4, mukadimah ke-135.

[11]QS. Al-A‘râf [7]:155.

[12]QS. An-Nisâ’ [4]:153.

[13]Bihâr Al-Anwâr, Jil. 13/127.

[14]Manâqib Ibn Syahri Âsyûb, Jil. 2/149; Al-Kâmil, karya Al-Mubarrad, Jil. 1/190.

[15]Târîkh Al-Khulafâ’, karya As-Suyûthî, hal. 73.

[16]A‘yân Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 24.

[17]Maqtal Al-Husain, karya Al-Khârazmî, Jil. 1/ 47.

[18]Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, Jil. 4/ 5.

[19]Nûr Al-Abshâr, hal. 111.

[20]A‘yân Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 89-90.

[21]Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Jil. 8/ 38.

[22]Ath-Thabaqât Al-Kubrâ, karya Asy-Sya‘rânî, Jil. 1/ 23; Ash-Shabbân, hal. 117.

[23]Târîkh Ibn ‘Asâkir, Jil. 4/ 219.

[24]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 1/ 330.

[25]An-Nihâyah, karya Ibn Atsîr, Jil. 3/ 321.

[26]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 2/ 333.

[27]Ini juga telah kami paparkan pada Jil. ke-2 buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as.

[28]Syarah Nahjul Balûghah, Jil. 18/ 89.

[29]Idem.

[30]Nahj As-Sa‘âdah, Jil. 8/ 280.

[31]Kasyf Al-Ghummah, Jil. 2/ 197.

[32]Bihâr Al-Anwâr, Jil. 75/ 106.

[33]At-Tadzkirah, karya Ibn Hamdûn, hal. 25.

[34]Jalâ’ Al-‘Uyûn, Jil. 1/ 328.

[35]Irsyâd Al-Qulûb, hal. 239.

[36]Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.

[37]A‘yân Asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 11.

[38]Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.

[39]Ibid, hal. 108.

[40]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 1/ 327.

[41]Bihâr Al-Anwâr, Jil. 10/ 93.

[42]Al-Lum‘ah, kitab Al-Hajj,Jil. 2/ 170.

[43]A‘yân asy-Syi‘ah, Jil. 4/ 11.

[44]Usud Al-Ghâbah, Jil. 2/ 12.

[45]Hayâh Al-Imam Hasan as., Jil. 2/ 453.

sumber www.al-shia.org

Tags: ,

Leave a Reply