Sang Pemimpin Para Syuhada

Kisah Karbala, Sejarah-Tokoh | admin | January 2, 2010 at 7:42 pm

Imam-hussain-a-s-in-battleHari ini adalah hari gugur syahidnya sosok mulia yang semangatnya akan selalu mengalir di sepanjang masa. Cinta dan cita-citanya akan mengembangkan kuncup-kuncup yang haus akan kesucian dan kebahagiaan. Ia adalah guru besar umat manusia dan kesyahidan. Dia adalah Husain putra Imam Ali as.

Mufti kota Mosul Irak, Al-Ubaidi mengatakan, “Dalam sejarah, tragedi Karbala merupakan sebuah peristiwa yang sangat langka. Sedikit pula kita temukan dalam sejarah, karakter orang yang mengakibatkan munculnya tragedi Karbala. Imam Husain as menilai pembelaan terhadap hak-hak kaum tertindas dan maslahat masyarakat, sebagai tanggung jawabnya dan dalam hal ini ia tidak pernah melemah. Ia telah mengorbankan nyawanya di padang Karbala. Oleh karena itu Allah swt menyebutnya sebagai penghulu para syuhada dan dalam sejarah ia dikenal sebagai penghulu para pemimpin reformasi.

Sayyid Idris Husaini dari Maroko mengatakan, “Pada suatu hari, seorang kerabat bertanya kepada saya tentang alasan apa yang membuat saya bergabung dengan madzhab Syiah Ahlul Bait. Saya menjawab, “Imam Husain dan kehilangan penuh kesedihan ketika beliau syahid di padang Karbala pada hari Asyura. Karena peristiwa memilukan hari itu serta berbagai perbuatan keji yang dilakukan terhadap Imam Husain as dan keluarganya tidak mungkin terjadi dengan berlandaskan nilai-nilai dan pemikiran yang benar. Aliran darah suci keluarga Rasulullah bukan seperti aliran darah air biasa. Darah itu adalah darah terbaik dan termulia milik seseorang yang telah berulangkali disebutkan oleh Rasulullah. Maka orang seperti ini tidak mungkin berada di jalan kebatilan dan para pembunuhnya juga tidak mungkin benar.”

Imam Husain as sama seperti ayahnya Imam Ali as, yaitu orang yang paling tertindas dalam sejarah umat manusia. Dewasa ini, masyarakat lebih mengetahui arti Imam Husain dan Asyura Husaini. Perhatian ini muncul karena umat manusia senantiasa merasakan penderitaan akibat ketidakadilan, kezaliman keterkekangan, dan perbuatan riya. Adapun di sisi lain, Imam Husain as adalah simbol perlawanan terhadap kezaliman, serta pengibar panji kebebasan. Pada hakikatnya, penyampaian kembali penderitaan dan kemadzluman Imam Husain akan memperkeras seruan perlawanan terhadap kezaliman serta menggoncang arca dan istana-istana para durjana dunia.

Imam Husain as, sosok besar dan penentu sejarah Islam ini hidup selama 57 tahun. Enam tahun berada di bawah naungan Rasulullah saww di Madinah. 30 tahun berikutnya Imam Husain as bersama sang ayah Imam Ali as melalui berbagai rintangan berat sepeninggal Rasulullah saaw. Dan 10 tahun kemudian Imam Husain mendampingi abangnya, Imam Hasan as. Setelah saudaranya gugur syahid, Imam Husain as memimpin umat selama sekitar 10 tahun. Selama itu pula, Imam Husain as menunjukkan keberanian, kemuliaan, ketelitian, dan seruan beliau dalam memperjuangkan hak-hak kaum tertindas. Umat manusia juga dapat menyaksikan betapa indah dan agungnya sosok suci keturunan Rasulullah ini. Namun yang lebih dikenal oleh umat manusia adalah gerakan kebangkitan beliau di masa-masa akhir hidupnya.

Para pahlawan Asyura melalui perjuangan berdarah mereka di padang Karbala telah mempengaruhi seluruh peristiwa penting di dunia. Keyahidan pemimpin para syuhada dunia ini pada hari Asyura dalam memperjuangkan hak dan hakikat, telah menciptakan sebuah cinta yang bergelora dan abadi dalam sejarah. Pengorbanannya telah menjadi ensiklopedia abadi bagi umat manusia.

Menurut logika Imam Husain as, kehidupan yang berdasarkan nilai-nilai kemuliaan insani akan sangat bermakna dan indah. Adapun tujuan hidup yang merupakan anugerah dari Allah swt adalah mencapai kesempurnaan sejati. Namun sarana gerakan manusia untuk menempuh jalan ini adalah keadilan dan kebebasan. Dua elemen tersebut bagi kehidupan manusia sama seperti pentingnya udara agar kita dapat bernafas. Tanpa udara manusia tidak akan dapat hidup, begitu pula dengan keadilan dan kebebasan, tanpa keduanya manusia bagaikan mati. Dalam rangka mendorong umat manusia untuk melakukan pekerjaan yang sangat bernilai dan mengarahkan masyarakat pada keadilan, Imam Husain as menilai penggapaian kehidupan abadi dan kematian secara mulai sebagai sebuah kebahagiaan besar. Imam Husain as adalah pewaris para nabi termasuk Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad saaw. Sama seperti manusia-manusia suci tersebut, Imam Husain as mengkonsentrasikan perhatiannya pada upaya penegakan kebenaran dan penyebarluasan nilai-nilai religi dan insani.

Imam Husain as mengorbangkan jiwanya yang mulia itu untuk menyelamatkan umat manusia dan kesempurnaannya. Dalam hal ini seorang penyair Arab mengatakan, “Ketika jiwa besar, raga tidak memiliki pilihan kecuali berjalan mengikuti jiwa. Namun ketika jiwa kerdil, ia akan mengikuti raga dan mengingat gerakannya jauh dari akal dan pemikiran, maka ia akan menerima segala bentuk kehinaan dan penderitaan serta bersedia melakukan segala bentuk perbuatan keji.”

Dalam Islam, kesyahidan menjamin kehidupan bangsa-bangsa juga menjadi penjaga cahaya iman. Oleh karena itu, dalam memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan, umat manusia selalu membutuhkan pengorbanan orang-orang yang suci dan gagah berani. Melalui darahnya, seorang syahid telah membersihkan lingkungan sekitar agar orang lain dapat berkembang dan mencapai kebebasan dan keadilan. Oleh karena, penerangan nurani dan mata hati manusia selalu mengikuti kesyahidan. Para syuhada adalah insan-insan berhati terang dan berperangai bersih yang tidak takut atas apapun. Mereka memilih kematian dengan penuh kesadaran.

Imam Husain as adalah simbol kesyahidan. Kecintaan pada Allah swt dan semangat untuk menyelamatkan umat manusia, sedemikian bergelora dalam hatinya sehingga pada hari Asyura, Imam Husain as mampu mengubah medan pertempuran dengan musuh yang telah berbuat berbagai kekejian itu menjadi ajang pengorbanan hakiki. Setelah seluruh sahabatnya gugur syahid, Imam Husain as memilih satu titik di tengah medan. Di sana beliau berdiri dan dari situlah Imam Husain as menyerang barisan musuh. Meski hanya seorang diri, Imam Husain as tampil paling gagah berani dibandingkan musuh-musuh. Setiap kali Imam Husain as menyerang, barisan musuh akan porak-poranda.

Disebutkan dalam riwayat bahwa tidak ada orang yang berani untuk berperang secara duel dengan Imam Husain. Ibn Saad berteriak, “Apa yang kalian lakukan? Ini adalah putra Ali bin Abi Thalib, jiwa Ali ada dalam dirinya, jangan kalian berduel dengannya.” Ketika itulah, metode perang musuh dalam menghadapi Imam Husain as diubah menggunakan tipu daya. Dalam menggambarkan kondisi tersebut, Imam Sajjad as menjelaskan, “Ketika itu situasi telah menyulitkan ayahku. Mereka yang berperang dengan ayahku, menatapnya dan mereka menyadari bahwa Imam Husain tidak sama dengan mereka yang tubuh dan badan mereka bergemetar ketakutan. Namun Husain as dan para sahabatnya, wajah mereka bersinar, tubuh mereka tegak dan jiwa mereka tenang. Kemudian musuh saling berkata, “Lihatlah, Husain sama sekali tidak takut menghadapi kematian.”

Setelah beberapa waktu berperang dalam pertempuran yang tidak imbang di padang yang panas merangas Karbala itu, Imam Husain terdesak karena kehausan dan kelelahan. Untuk sesaat Imam Husain as hanya berdiri. Salah seorang musuh melempar batu dan mengena kepala Imam Husain. Imam Husain as menggunakan sobekan bajunya untuk membalut kepalanya yang berdarah. Saat itulah, seorang berhati batu meluncurkan panah ke arah cucu susi Rasulullah saaw. Panah itu menancap di dada Imam Husain as dan darah pun mengucur. Imam Husain menengadahkan kepala ke langit dan berkata dengan lantang, “Ya Allah, Kau mengetahui bahwa pasukan ini akan membunuh seseorang yang kecuali dia tidak ada lagi putra dari seorang putri Nabi lain di muka bumi ini.”

Imam Husain terjatuh ke tanah dan selama beberapa saat tidak ada satu orang pun yang berani mendekatinya. Hilal bin Nafi’ mengatakan, “Demi Allah aku bersumpah, aku tidak pernah melihat tubuh bergelimangan darah seindah Husain.” Imam Husain, cucu kesayangan Rasulullah itu bergelimangan darah sementara bibirnya mengucap, “Aku ridha atas keridhaan-Mu dan aku bersabar atas titah-Mu. Ya Allah, aku tidak menyembah kecuali-Mu. Wahai Tuhan yang menghukum setiap orang berdasarkan amal perbuatannya, saksikanlah aku dan masyarakat ini, maka hukumilah karena Kau adalah sebaik-baiknya penghukum.”

Rasulullah saat bersabda, “Ketika Husain lahir, Allah swt memerintahkan malaikat Jibril untuk turun kepadaku bersama dengan seribu kelompok malaikat untuk menyampaikan selamat kepadaku atas kelahiran Husain.” Namun ketika Rasulullah menggendong Husain dan menciuminya, tiba-tiba air mata mengalir dari kelopak mata Rasulullah. Ketika ditanya mengapa beliau menangis, Rasulullah menjelaskan bahwa malaikat Jibril memberitahukan beliau bahwa bayi suci ini akan gugur syahid di tangan umat beliau.

Sumber : http://indonesian.irib.ir

Tags: ,

Leave a Reply